My Before-Anyone-Else – 1 [Every Story Has A Beginning]

 

bae 1

*Gambar milik Gong Sooah

 

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, Fluff

Main Cast: Ahn Nara & Cho Kyuhyun

Other Cast: Many supporting casts

 

Busan, 10 tahun yang lalu.

 

Gadis itu benci menjadi perantara, apalagi jika ia harus menjadi seorang pengantar surat cinta dari para sahabatnya pada lelaki yang mereka kagumi. Bukannya tidak ingin membantu, namun berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, biasanya Nara justru dituding menjadi pihak ketiga yang merusak misi kawan-kawannya itu meskipun nyatanya Nara hanya seorang gadis tomboy yang memang mudah akrab dengan pria. Sejak persahabatannya kandas dikarenakan hal konyol semacam ini, Ahn Nara bersumpah tidak akan pernah mau  menjadi tukang pos jadi-jadian lagi, tapi lain ceritanya ketika sahabat karib sejak ia menginjak bangku Taman Kanak-kanak yang meminta bantuan.

Park Inyoung, seorang gadis mungil bermata sipit tidak lelah membujuk Nara selama berhari-hari agar gadis itu mau menyampaikan surat cinta yang sudah dikarangnya untuk sang jagoan lapangan, Cho Kyuhyun. Nara memutar mata dan menolak mentah-mentah permintaan ini, tapi pada akhirnya telinga gadis itu panas mendengar rengekan tiada akhir Inyoung.

“Aku benar-benar tidak paham, kau sudah berkhayal jauh sekali tentang kehidupan masa depanmu dengan si Cho ini, tapi sekedar mengantarkan surat cinta saja tidak berani!” Bentak Nara saat Inyoung mengikutinya menuju loker.

“Tolonglah, setidaknya kau tidak punya urat malu, Ra-ya. Kalau aku yang memberikan ini lalu ditolak, mau ditaruh mana wajahku?” Sahut Inyoung tanpa dosa.

“Lalu kau mengorbankan wajahku untuk dicoreng oleh lelaki yang tidak jelas ini?” Nara menghela napas panjang. “Kita sekelas dengannya, bukan?”

Inyoung mengangguk cepat.

“Lalu mengapa tidak kau selipkan saja surat cinta ini ke dalam tasnya?” Tantang Nara.

“Percayalah, sudah ada lima surat cinta kuselipkan ke dalam sana, tapi sepertinya dia memang tidak pernah menemukannya.” Terang Inyeong. “Dan aku janji akan memberikan jawaban lima PR kimia padamu jika kau bersedia menjadi perantara.”

Ahn Nara mendengus sinis. “Yang benar saja. Kau benar-benar tahu kelemahanku. Aish! Baiklah!”

Inyoung melompat senang sambil memeluk sahabat kecilnya. “Pastikan dia membacanya dan pastikan kau mendapat jawaban darinya.”

“Nah, mari kita buat peraturan tegas dalam transaksi ini, Young-i. Aku hanya tukang pos satu kali jalan, aku tidak akan mau tahu apa yang kau tulis di dalam sana dan aku juga tidak mau menyampaikan jawaban dari pihak penerima surat!” Nara menekankan nada bicaranya agar Inyoung paham kondisi perjanjian mereka.

“Tapi…”

“Kalau kau keberatan, aku tidak akan menyampaikannya sama sekali.” Tegas Nara sambil mengambil buku kimia dari tasnya. “Lebih baik nilai PR kimiaku jelek dibandingkan harus menjadi perantara dalam kisah cintamu ini.”

Pada akhirnya Inyoung terpaksa menyetujui syarat tegas yang Nara berikan. “Tapi tolong sampaikan surat ini sekarang.”

Ya! Sebentar lagi bel masuk berbunyi, aku bisa bertemu dengannya di kelas nanti, atau mungkin sepulang sekolah!”

“Aku dengar dia akan membolos mata pelajaran ini.” Bisik Inyoung. “Tadi aku melihat pria itu pergi membawa tasnya. Kurasa aku tahu dia pergi ke mana.”

“Lalu kau menyuruhku membolos juga?” Tantang Nara.

“Tidak, aku memintamu bergerak cepat! Karena aku butuh jawaban secepatnya.” Inyoung menyerahkan secarik amplop bewarna hijau pada Nara lalu dengan senyum penuh harapan, ia mendorong sahabatnya untuk pergi ke lapangan baseball di belakang sekolah mereka.

Dengan wajah ditekuk, Ahn Nara membawa langkahnya ke bagian barat sekolah mereka yang luas untuk mencari sosok yang sahabatnya percaya sedang beristirahat di atas kursi penonton yang berjajar di pinggir lapangan. Gadis itu berdecak kagum pada radar stalking Inyoung yang benar-benar jitu, karena sesuai perkiraan, pria yang dicarinya memang sedang berselonjor di atas kursi penonton, menggunakan kedua lengannya sebagai bantal sambil menutupi wajah menggunakan topi tim baseball sekolah mereka.

“Ng, Cho Kyuhyun?” Tanya Nara ragu sambil menyingkirkan topi baseball yang menutupi wajah pria itu.

Kyuhyun mengernyit jengkel sebelum membuka kedua mata untuk menyorot tajam seorang gadis yang berani mengusik waktu tidur siangnya.

“Maaf, kukira kau hanya pura-pura tidur.” Seru Nara datar. “Begini, aku harus mengantarkan ini untukmu, temanku  menitipkannya. Tolong terima dan bacalah, aku tidak punya banyak waktu karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.”

Kyuhyun mengamati Nara sejenak sebelum ia menggeliatdan duduk dengan benar. “Apa itu surat cinta? Aku tidak tertarik.”

“Terima saja. Aku benar-benar harus kembali ke kelas sebentar lagi.” Nara meletakkan amplop Inyoung di samping Kyuhyun.

Baru tiga langkah diambil gadis itu saat amplop surat Inyoung mendarat di atas tanah tepat di samping kirinya. Nara berbalik untuk melihat pria itu dengan tatapan bingung.

“Aku tidak tertarik.” Ulang Kyuhyun. “Bawa surat itu kembali pada temanmu.”

Nara menarik napas dalam sambil memungut surat Inyoung lalu membawanya kembali pada Kyuhyun. “Demi Tuhan, apa susahnya hanya membaca surat ini? Temanku sudah meluangkan waktu untuk menulisnya.” Paksa Nara.

“Aku sudah bisa menebak isinya. Kalau menilai dari tulisan tangan yang ada di situ, pasti surat yang kau sampaikan ini ditulis Park Inyoung.” Kyuhyun membenarkan letak topinya.

“Wah, hebat! Kau mengenali tulisan tangannya?”

“Karena itu bukan surat pertama yang gadis itu berikan untukku.” Kyuhyun mengangkat bahunya cuek. “Bagaimana kalau kita buat perjanjian, Ahn Nara-ssi?”

“Kau tahu namaku.” Simpul Nara.

“Kita sekelas, wajar saja aku tahu namamu. Meskipun memang kita tidak pernah berbincang sekali pun.” Dengus Kyuhyun.

“Kupikir hanya ragamu saja yang ada di kelas itu, sebab kau lebih sering dihukum akibat  tertidur di dalam kelas.” Sahut Nara sinis.

Kyuhyun terkekeh. “Ya, aku tidak menyalahkan asumsimu. Tapi kembali pada perjanjian kita, bagaimana jika kita buat sebuah win-win solution dari ketidaknyamanan yang kau timbulkan di waktu tidur siangku ini?”

“Perjanjian?”

“Kau bolos mata pelajaran selanjutnya dan temani aku di sini, tunggu aku tuntas membaca surat dari temanmu itu. Dengan demikian kita sama-sama diuntungkan. Kau menyampaikan amanah Inyoung dan aku mendapat kawan untuk membolos.” Kyuhyun mengangkat alisnya sambil tersenyum nakal.

Gadis itu terlihat ragu, membolos satu  mata pelajaran bukan keonaran yang biasa ia lakukan.

“Ayolah, aku yakin kau pasti juga sangat ingin bolos kelas kimia. Sesekali kau harus mencoba berbuat onar, biar aku yang menjadi pemandumu dalam tingkah onar pertama yang kau lakukan di sekolah ini.” Kyuhyun terkekeh sambil meraih surat yang masih dipegang Nara. “Sebagai gantinya, aku akan membaca surat ini, lalu merobeknya sampai tidak bersisa. Dengan demikian Park Inyoung tidak akan merasa malu dengan jawaban yang sudah kuberikan padanya berkali-kali. Bagaimana?”

“Kenapa kau mengira aku belum pernah membolos sebelumnya?” Nara bertanya dengan nada kesal. “Jangan berucap seakan kau mengenalku.”

“Karena kau gadis itu. Gadis yang duduk pada baris kedua dari meja guru, gadis yang memiliki semangat tinggi dalam kelas Inggris, Sejarah, dan Biologi; tapi juga gadis yang tidak berhenti menatap jam dinding saat pelajaran Kimia dan Matematika datang.” Kyuhyun menyengir senang. “Kita sekalas, Nara-ssi. Jelas saja aku memperhatikan tingkah kawan-kawanku.”

Mulut Nara membentuk huruf o kecil, diam-diam gadis itu takjub dengan pengamatan Kyuhyun yang tidak tercermin dari tingkah lakunya yang tidak acuh.

“Kemarilah, duduk di sini dan temani aku membaca surat cinta kesekian dari Park Inyoung.” Kyuhyun menepuk tempat kosong di sampingnya.

Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi dan Nara tahu bahwa ia tidak akan sempat berlari menuju gedung sekolah dan mencapai kelasnya dengan tepat waktu sekarang.

“Kau tetap akan terlambat jika memaksakan masuk sekarang.” Ujar Kyuhyun seakan membaca pikiran Nara. “Lagipula kau benci guru Kimia kita, tidak ada salahnya membolos sesekali. Toh kau juga tidak berniat kuliah menjadi apoteker, kan?”

Nara memutar matanya. “Baiklah, tapi kau janji untuk membaca baik-baik surat yang sudah Inyoung tulis untukmu!”

Kyuhyun mengangguk dan mulai membuka amplop dalam genggamannya. “Tapi janjiku hanya sampai di situ. Aku tidak akan membalas surat ini dan juga tidak akan menerima perasaannya. Aku tidak menyukainya.”

“Kau kan bisa mencoba dulu.” Sosor Nara setelah ia ikut duduk di samping Kyuhyun.

Pria itu menggeleng sambil tertawa sinis. “Jika aku menerima perasaannya hanya sebagai cara agar harga diri Inyoung tidak tercoreng, maka aku akan menjadi pria yang jahat sekali. Sebab bagiku, tidak ada sebuah hubungan yang pantas diawali dengan istilah ‘kasihan’ atau ‘aku ingin iseng saja’. Tidakkah kau setuju?”

Nara mengernyitkan dahi. “Mengapa tidak? Setidaknya kau bisa berpura-pura membuatnya bahagia untuk sesaat.”

Kyuhyun terkekeh, pria itu terhibur dengan tanggapan Nara yang apa-adanya. “Baiklah, biar kutempatkan posisimu dalam posisinya. Apakah kau punya kekasih?”

“Pertanyaanmu tidak relevan.”

“Punya atau tidak?” Tekan Kyuhyun. “Kujamin pertanyaan ini ada hubungannya dengan keterangan lanjutan dariku.”

Nara mengangguk. “Tapi kekasihku sekolah di tempat lain, dia sekolah di Seoul.”

“Wah, hubungan jarak jauh. Jarak Busan ke Seoul sepertinya memakan beberapa jam perjalanan dengan kereta api. Kau yakin masih menjalin hubungan harmonis dengannya?” Ledek Kyuhyun.

“Bukan urusanmu.” Balas Nara singkat.

“Tapi tidak apa-apa, aku bertanya bukan untuk merayumu, tapi untuk memberikan sebuah perspektif baru.”

“Aku masih menanti korelasi dari aku punya kekasih dengan jawabanmu untuk Inyoung.” Nara menyilakan kedua lengannya di depan dada dengan gusar.

Kyuhyun meneguk air mineral dari botol plastik dalam tasnya sejenak sebelum ia lanjut bicara. “Sekarang bayangkan. Kau sangat mencintai kekasihmu ini, kau merasakan sensasi berbunga-bunga setiap pria itu akan mengunjungimu, bahkan melihat namanya muncul pada layar ponselmu bisa membuat senyummu merekah.”

Nara mengangguk paham, tidak sulit membayangkannya sebab seperti itulah yang ia rasakan pada Kim Chul.

“Nah, sekarang bagaimana perasaanmu jika suatu hari kau mengetahui bahwa kekasihmu itu ternyata menjalani hubungan kalian atas dasar keterpaksaan. Bagaimana jika ternyata pria itu melakukan semua hal yang membatmu berbunga-bunga hanya atas alasan kasihan. Tidakkah lebih menyakitkan? Ketika kau mengetahui alasan seseorang berada di sisimu hanya berlandaskan rasa iba?”

“Sangat menyakitkan.” Nara mengangguk setuju. “Sebab jika memang dia tidak tertarik padaku sejak awal, seharusnya dia tidak perlu memulai apapun.”

“Tepat sekali!” Kyuhyun menepuk kedua tangannya di depan wajah Nara. “Setelah membayangkan posisi menyedihkan itu, apa kau bisa mengerti alasan mengapa aku tidak pernah bisa menerima perasaan temanmu ini?”

Nara menggigit bibirnya. “Boleh kutanya alasannya?”

“Maksudmu?”

“Alasan mengapa kau tidak bisa menerimanya. Sebab berdasarkan gossip yang beredar, kau belum punya kekasih. Artinya tidak ada yang keberatan jika kau meluangkan sedikit waktu untuk mencoba berteman dulu dengannya.” Tekan Nara. “Maksudku, kau bahkan belum memberinya kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.”

“Gosip yang beredar.” Kyuhyun tertawa puas. “Memang benar aku tidak punya kekasih, tapi tidak kusangka kau juga mengikuti gosip yang beredar tentangku.”

Well, aku punya telinga dan kebetulan sahabatku itu penggemar beratmu.” Balas Nara dengan seringai jahil. “Bantu aku untuk memahami alasan mengapa kau tidak…”

“Karena dia gadis manja, posesif, dan cengeng.” Kyuhyun menjawab cepat. “Aku bisa menilai bahwa dia manja dari caranya bicara. Tidak perlu kujabarkan bagaimana posesifnya Park Inyoung, surat-surat cinta dan pesan teks yang dia kirimkan padaku sudah cukup menguatkan asumsiku. Dan setiap kali aku membalas dengan tegas bahwa aku tidak tertarik padanya, gadis itu muncul di sekolah keesokan harinya dengan mata sebesar bola golf.”

Dalam hati Nara membenarkan asumsi Kyuhyun, namun gadis itu tetap memasang wajah netral demi menjaga harga diri Inyoung yang secara tidak langsung sedang diinjak-injak oleh Kyuhyun.

“Kau tahu? Inyoung mengirimiku pesan setiap malam. Selamat tidur dan sebagainya. Kadang dia juga mengirimkan pesan yang panjang tentang harapannya akan hubungan kami. Menakutkan sekali, bukan?” Kyuhyun pura-pura merinding. “Maksudku, gadis itu bahkan tidak mengenalku, kami tidak pernah mengobrol sama sekali—percayalah obrolan kita ini masih lebih panjang dari seluruh pembicaraanku dengannya. Lucu, kan? Bagaimana Inyoung bisa menyatakan bahwa dia mencintaiku, sementara yang dilakukannya selama ini hanya mengamatiku dari jauh.”

“Kau tahu kan masih ada istilah semacam ‘cinta pada pandangan pertama’, ‘soulmate’, dan lain sebagainya yang tidak akan kulanjutkan karena ekpresi wajahmu sudah cukup menyampaikan rasa muak.” Nara terkekeh. “Baiklah, aku bisa menerima alasanmu.”

“Mengapa kita tidak pernah mengobrol sebelumnya?” Kyuhyun bertanya heran. “Kau ternyata teman diskusi yang cukup menghibur.”

“Karena kau terlalu sibuk tidur di kelas atau kabur pada jam pelajaran yang tidak menyenangkan.” Simpul Nara.

Kyuhyun mengangguk setuju. “Ada bagusnya kau membolos hari ini, bukan?”

“Bacalah surat itu.” Nara menunjuk surat yang masih dipegang Kyuhyun pada tangannya. “Aku sudah mengorbankan satu absen di pelajaran Kimia agar kau membacanya. Yang jelas untuk terakhir kalinya aku masih mencoba mempersuasimu; mungkin Inyoung memang tidak pandai dalam membuat surat cinta, tapi siapa tahu dia ternyata jodoh hidupmu.”

Nope. No way. Kurasa itu tidak akan terjadi.” Jawab Kyuhyun sambil mulai membaca surat di tangannya.

“Bacalah perlahan. Siapa tahu kau akan berubah pikiran.” Nara bersandar pada dudukan di balik punggungnya sambil mengarahkan pandangan menuju lapangan pasir bewarna coklat di hadapannya. Diam-diam ia harus berterima kasih karena sudah dipaksa membolos, sebab ternyata berdiam diri dalam sebuah kesunyian yang nyaman memang jauh lebih baik daripada menghafal tabel periodik.

“Aku selesai.” Kyuhyun menyentak kesunyian di antara mereka setelah ia tuntas membaca semua isi tulisan Inyoung. “Kau mau membacanya?”

Nara menggeleng cepat. “Itu privasinya. Pasti Inyoung sudah malu karena kau tidak memberikan jawaban yang dia harapkan. Aku tidak perlu mencoreng mukanya lebih jauh lagi dengan membaca surat itu.”

“Kalau begitu aku akan merobeknya, oke?” Kyuhyun mulai merobek lembaran surat menjadi serpihan kecil. “Wah, ternyata kau memang teman yang baik. Tapi jujurlah, kau tidak penasaran dengan isi suratnya?”

“Jelas saja aku penasaran, tapi bukan dengan isi suratnya. Melainkan dengan alasan mengapa dia menyimpan perasaan itu padamu. Aku sering bertanya dalam hati, bagaimana mungkin gadis itu bisa tergila-gila padamu sementara dia tidak pernah berbincang denganmu—tapi kalau kupikir lagi, kau memang benar-benar tipenya jadi mungkin itu landasan kekaguman Inyoung padamu.” Nara menyeringai puas sambil melirik Kyuhyun.

“Tipenya?”

“Pria kekar dengan tubuh tegap yang nampak sanggup mengahajar preman pasar dalam sekali tebas.” Kikik Nara geli. “Well, kau tergabung dalam tim baseball sekolah, wajar saja kalau tubuhmu atletis, bukan?”

Pria itu menghela napas panjang. “Tidak, yang benar adalah; Inyoung menciptakan image sempurna tentangku dalam kepalanya.” Pria itu mengeluarkan sebatang coklat dari tasnya lalu menawarkan pada Nara.

“Maksudmu?” Tanpa rasa sungkan Nara meraih coklat yang diberikan Kyuhyun dan merobek pembungkusnya.

“Hm, begini. Apakah menurutmu aku tampan? Jawab sejujur-jujurnya.”

Tawa Nara pecah dan tanpa sengaja gadis itu justru melontarkan coklat yang sempat digigitnya.

Alih-alih jijik, Kyuhyun justru mengeluarkan sapu tangan segi empat kecil dari balik saku seragamnya untuk diberikan pada gadis itu. “Puas sekali kau tertawa. Aku serius, Ahn Nara, pertanyaan ini lagi-lagi akan menuntun pada penjelasan berikutnya; mengapa aku tidak bisa menerima Inyoung.”

Nara melirik pada Kyuhyun setengah tidak percaya dengan tingkat percaya diri yang melekat pada pria itu. Tapi sejauh ini pembicaraan mereka mengalir lancar dan Nara rasa tidak ada ruginya ia memberikan penilaian jujur. Gadis itu menggeser posisi duduk agar bisa mengamati fitur wajah Kyuhyun dengan seksama. Pria itu memiliki pesona khas badboy yang melekat erat padanya, kedua mata yang tajam jelas menjadi hal pertama yang disadari setiap orang yang melihatnya. Hidung mancung dan bibirnya terpatri sempurna dalam wajah lonjong yang dimiliki pria itu. Kemudian fitur-fitur indah itu dibungkus rapi dengan garis rahang tegas yang memberikan karisma tersendiri pada sosoknya.

Perhatian Nara selanjutnya pindah pada postur tubuh Kyuhyun. Tubuh pria itu tidak terlalu berotot namun cukup kekar untuk seorang lelaki berusia enam belas tahun. Kalau boleh Nara mengambil kesimpulan, sesungguhnya yang membuat sosok Kyuhyun lebih menonjol dibandingkan kawan-kawan seangkatan mereka adalah karena kedua bahunya yang lebar dan tubuh tegap yang membuatnya terlihat gagah dan menjulang di antara lelaki lain yang juga masih dalam masa pertumbuhan.

“Sudah puas memandang wajahku?” Ledek Kyuhyun.

“Kau oke. Dalam artian kau memang masuk ke dalam kategori tampan.” Jawab Nara jujur. “Tapi untungnya kau bukan tipeku. Aku kurang suka pria kekar dan berotot. Berbanding terbalik dengan selera Inyoung, gadis itu menganggap tubuh The Rock sebagai patokan ideal tubuh pria.

Kyuhyun tersenyum puas. “Artinya kita setuju bahwa aku masuk ke dalam kategori ‘pria idaman’ Park Inyoung. Gadis itu mengagumi kemasan luarku tanpa mengetahui isi jiwaku. Selama ini—dari surat-surat yang dia kirim—Park Inyoung menciptakan sosok Cho Kyuhyun yang sempurna dalam imajinasinya saja. Sosok pria idaman yang lembut dan penyayang, pria yang akan berkelahi untuk membelanya, tapi juga pria romantis yang bisa memetik gitar sambil bersenandung untuknya.”

“Tolong hentikan, aku mual mendengarnya.” Potong Nara sambil berjengit geli.

“Kau mual karena dari pembicaraan ini saja kau bisa menyimpulkan bahwa aku bukan pria idaman yang dia impikan.” Kyuhyun menyengir lebar. “Jadi itulah alasanku.”

Ne?” Nara semakin bingung. Mengapa pria ini tidak bisa bicara lugas saja dan harus mengajaknya berputar-putar dulu sebelum mengatakan intisari pembicaraannya.

“Alasan mengapa aku tidak akan pernah tertarik pada Inyoung. Pertama karena secara fisik dia bukan tipeku. Kedua karena aku tidak mau memulai sebuah hubungan atas dasar pura-pura. Dan terakhir, karena aku bukan pria ideal yang dia ciptakan dalam imajinasinya. Gadis itu terlalu dibutakan oleh fantasinya sendiri sampai tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku sudah menolak perasaannya berkali-kali. Sejujurnya, aku muak berurusan dengan gadis seperti itu.” Jawab Kyuhyun tegas.

“Kalau begitu, cobalah untuk bersikap jantan.” Tantang Nara. “Katakan langsung padanya secara lugas, tanpa berbelit, bahwa kau memang tidak tertarik. Aku yakin Inyoung akan sangat tersakiti, tapi setidaknya dia bisa berhenti menggantungkan harapannya padamu.”

“Begitu menurutmu?”

“Jika aku ada dalam posisinya, pasti aku akan membecimu sampai ke ubun-ubun. Dan aku pasti berhenti memandangimu dari jauh.” Sahut Nara. “Masih banyak pria lain di luar sana yang tahu cara menghargai perhatian Park Inyoung.”

“Baiklah, aku akan melakukan apa yang kau sarankan. Kali ini aku akan menolaknya dengan tegas, tidak lagi dengan kata-kata tersirat yang ternyata tidak dapat dipahaminya.” Angguk Kyuhyun.

“Benarkah?”

“Ng. Sejujurnya, terima kasih. Jarang sekali aku menemukan teman mengobrol yang sangat jujur sepertimu.” Balas Kyuhyun. “Biasanya wanita selalu memiliki arti tersembunyi di balik kata-kata mereka, hingga semua yang keluar dari mulut wanita terdengar manis meskipun nyatanya menyakitkan. Kau, tidak mencoba memanis-maniskan kata-katamu. Aku suka itu.”

Nara terkekeh geli. “Biasanya aku justru menyakiti hati orang yang tidak berdosa lewat kata-kataku yang terlalu jujur.”

“Jangan pernah saring kata-katamu padaku.” Kyuhyun menggeleng dengan cengiran lebar. “Hey, aku menyukai pribadimu. Bolehkah aku menjadi temanmu mulai sekarang?”

“Apa yang membuatmu merasa harus menanyakan pertanyaan aneh semacam itu?” Nara semakin heran dengan sosok aneh di hadapannya. “Jika kau mau berteman denganku, kau tidak perlu meminta izin terlebih dahulu.”

“Entahlah, hanya memastikan.” Jawab Kyuhyun cuek. “Sebab para wanita seringkali salah paham.”

“Ahh.” Nara mengangguk paham. “Kau takut aku akan mengira kau berniat mendekatiku jika tujuanmu tidak kau tegaskan sejak awal.”

“Kau bukan hanya menarik, tapi juga cerdas.” Kyuhyun menepuk bahu Nara santai.

Nara memandang kembali pada lapangan baseball di depan mereka. “Ng, tentu saja. Sebab aku baru tahu bahwa ternyata kau sosok yang sangat menyenangkan untuk diajak bicara.”

“Senang berkenalan secara resmi denganmu, Ra-ya.” Kyuhyun melenyapkan formalitas antara mereka.

Likewise, Kyuhyun-a.

 

.

.

.

tbc…

 


Author’s note:

Yang nebak-nebak kalau ini cerita sedih kayaknya sotoy sih. hahaha. Ini bukan cerita sedih, tapi cerita realistis. Intinya hanya karena friendzone, bukan berarti cerita ini jadi sedih, kan? Toh cara menjalin hubungan sama satu orang nggak selalu harus ditekankan dengan status. (Ini pola pikir si Kyu di Truth Within banget ya? hahaha). Aku masih ga paham sih kenapa orang menganggap friendzone itu pasti langsung sedih, padahal ada juga yang justru bersyukur karena terjebak dalam friendzone—si Nara ini salah satunya.

Ini cerita tentang persahabatan sih sebenarnya. Plotnya juga sederhana banget, beda lah sama cerita-cerita aku yang lain, so don’t expect too much drama. Ini tuh semacam cerita fluff tentang persahabatan dan unconditional love sih. Kalau mau drama, nantikan sequelnya aja (iya, sequelnya malah udah aku siapin hahaha).

Dari seluruh cerita yang pernah aku bikin, ini adalah cerita yang aku buat dari ending dulu baru runut balik ke awal. Jadi yang berharap akan ada perubahan nasib Nara-Kyu yang di prolog, ya…. aku sudah bilang dari awal ya, bahwa itu endingnya. Dan cerita berikutnya adalah hal-hal yang terjadi sepanjang hidup mereka sampai menuntun pada hari pernikahan Kyuhyun itu.

btw, yang punya wattpad, add aku yaaa~~ @ssihobitt makasiiihh ^^

 

Advertisements

66 thoughts on “My Before-Anyone-Else – 1 [Every Story Has A Beginning]

  1. kaililaa says:

    Pas prolog aku bilang konfliknya bakal menantang hihi. Setelah baca part 1, yaa emang ‘menantang’ hahaha gaje, ya, kak. Keseluruhan oke kak, mulai dari gaya bahasa, penggambaran karakter, alur pun. Kak, kayaknya kalo yang ini dicetak tambah seruuu hahaha. Semangat ya, kak. Makasih udah bikin cerita baru kakak^^

    Liked by 1 person

  2. Eun Chan says:

    Hai Kak Ssihobit, apa kabar? Udah lama banget aku ga mampir disini.
    Friendzone, entah kenapa menurutku nyesek sih ya kak. Aku baca di prolognya udah nyesek kan ya, tapi pandangan orang beda sih ya. Sebenernya aku ga suka sama yg namanya sad end tapi kehidupan nyata kan ga selalu happy end.
    Btw kak, kalo di prolog itu endingnya gimana nasih Nara? Nyeeeesss banget ditinggal orang yg dicintai nikah. Sangat suka sama gaya tulisan kakak. Next part sangat ditunggu kak

    Liked by 1 person

  3. Catty07 says:

    Jujur dari ff ini aku baru tau arti dari kata “bae” itu sendiri 😅 tapi menurut aku ff ini bagus xD aku suka persahabatan antara kyuhyun sama nara xD jadi pengen punya sahabat kaya kyuhyun wkwk tetep semangat eon~

    Liked by 1 person

  4. Afwi says:

    Berarti ceritanya alur mundur. Kyu-nara mereka saling tertarik satu sama lain, ngobrolnya seru. Aku yakin cerita ni bakal seru, apalagi cerita sahabatan gini, pasti bakal ada hal2 gila tntg petualangan mereka. Aku sng kak ssihobit tegas gtu sama ceritanya, kadang kan ada author yg bisa ubah jalan cerita krna by request oleh reader, hehe. 👍👍

    Liked by 1 person

  5. Lovecho says:

    Suka sama prsahbatan kyuhyun dan nara.. awal yg baik untuk mereka berdua.. cuma aku agak khawatir sama reaksi inyoung nnti.. tkutnya dia malah ngira klo nara yg buat kyuhyun nolak dia..
    Semoga aja deh inyoung ngerti klo kyuhyun emng gk suka sama dia bkn krena pengaruh nara..

    Liked by 1 person

  6. Indri says:

    Mereka cocok jadi tmn tp lebih cocok jdi kekasih,,, hahaha,,
    Nara teman yg enak d ajak bicara, trz jujur juga, kyuhyun kaya yg cuek tp perhatian sama tmn sekelasny, jd mereka cocok

    Liked by 1 person

  7. You are my Sunshine says:

    Friend zone ya..
    💛
    Aku percaya Kok sama kak Ssihobitt, kalau cerita ini bakal dibawa kemana

    Dasarny, dari cerita yang lain.. alurny itu realistic plus endingny konsisten

    Liked by 1 person

  8. mdchodr says:

    friendzone hikss :”3 . Di part ini yg plng bikin nyesek adalah ini “..Jadi yang berharap akan ada perubahan nasib Nara-Kyu yang di prolog, ya…. aku sudah bilang dari awal ya, bahwa itu endingnya. Dan cerita berikutnya adalah hal-hal yang terjadi sepanjang hidup mereka sampai menuntun pada hari pernikahan Kyuhyun itu.” hweeeeee…. Betul sih kata authornim frienzone nggak pasti berakhir sedih.. Ntah nnti akhirnya.. ntah nnti tiba2 kyu sama istrinya cerai trs kyu nikah lagi sama nara, atau kyu hidup dgn bahagia sama istrinya dan nara punya pengganti laki2 lain, hanya autor yg tau wkwkwk… Tp semoga mereka bisa bahagia pd akhirnya walau nnti ada yg tersakiti.. 🙏🙏

    Liked by 1 person

  9. gaerriszrye says:

    Halo kak, maaf ini sudah lama tidak main kemari^^
    .
    Oh kakak sayang!!!!! Mengapa dirimu sangat cerdas buat aku baper maksimal!!!
    Tau gak sih? Apakah hanya aku yang pada akhirnya searching di google ..
    Cara melepaskan diri dari friendzone
    .
    Huhuhuhuuuu sakiiit banget! Kesepian dong pasti! Seperti yang diucapkan kyuhyun, bahwa ini adalah akhir dari peradaban .. Bahwa segalanya akan berubah ..
    .
    Tentunya ada risiko yang harus diambil ketika kamu mencoba mengubah persahabatan menjadi hubungan percintaan.

    Like

  10. eci says:

    Fikiran ku melayang2 😂..
    Emang aga sedih sih kalau denger kata friendzone .. Tapi aku percaya sama kk kelanjutan ceritany bakal lebih asyik buat deg2an. Semangat ya lanjutinnya 😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s