Truth Within – 15 [This Is Us]

 

15 eunbi

*photo credits belong to author

 

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

 

Gadis itu terbangun dari tidur siang yang nyenyak saat belaian hangat familiar mengusap lembut sisi wajahnya. Jang Eunbi tetap menutup kedua matanya sejenak sambil menikmati belaian itu lebih lama, karena sejujurnya ia tidak berani menatap ke dalam mata pria itu. Ia takut Kyuhyun masih marah, ia takut melihat ekspresi jengkel pria itu. Baru beberapa saat kemudian, Eunbi memberanikan diri untuk menyambut pria yang dirindukannya itu dengan senyuman sendu terbaik yang ia miliki.

“Kau sudah kembali?” Sambutnya lemah.

Kyuhyun mengangguk pelan dengan ekspresi datar.

“Maafkan aku.” Tambah Eunbi. “Pasti aku sudah membuat kalian semua sangat kesal pagi tadi.”

“Lupakanlah, kami mencoba mengerti…”

“Apa eomma menangis karena kelakuanku?” Tanya Eunbi khawatir. “Wajahnya  nampak sangat terluka saat dia keluar dari ruangan ini.”

Kyuhyun terpaksa berbohong. “Ibumu itu bermental baja, beliau hanya sedikit bingung.”

“Bagaimana dengan eonni?

“Sepertinya kalian benar-benar tidak boleh digabungkan dalam satu ruang sempit dalam waktu yang terlalu lama. Dia masih berjuang melawan serbuan morning sickness dan kau juga sedang berjuang melawan monster dalam kepalamu.” Kyuhyun pura-pura merinding. “Ayahmu saja ketakutan melihat Eunbyeol ngomel-ngomel seperti tadi.”

Gadis itu terkekeh. “Pasti eonni kesal sekali padaku. Ah, kuharap dia bersedia memaafkanku nanti.”

Kyuhyun ingin ikut tersenyum pada Eunbi, tapi hatinya masih terasa berat setiap kali ia mengingat apa yang baru gadis itu lakukan pagi tadi dengan handycam miliknya.

“Apa kau masih marah padaku?” Tanya Eunbi sambil membelai rambut cepak Kyuhyun. “Pasti kau masih marah, wajahmu masih tertekuk seperti ini.”

“Aku tidak marah, hanya mengkhawatirkanmu, Sayang.” Kilah Kyuhyun.

“Sayang?” Eunbi terkikik lalu mencubit pipi Kyuhyun sambil meledek kekasihnya sendiri. “That’s a first!

“Benarkah? Aku belum pernah memanggilmu seperti itu?” Balas Kyuhyun dengan cengiran salah tingkah.

Eunbi menggeleng cepat. “Kau selalu memanggilku dengan namaku. Kita tidak punya pet name untuk satu sama lain—dan kurasa kita tidak perlu menambahkan embel-embel seperti itu.”

“Hm, kurasa melihat tanggapanmu yang justru terkikik konyol seperti ini, lebih baik tidak kulanjutkan panggilan mesra itu.” Akhirnya ketegangan dalam diri Kyuhyun luntur setelah Eunbi bisa lebih rileks.

“Kyu, aku mau memberikan laporan harianku.” Gadis itu menggeser tubuhnya sambil bangkit untuk duduk di atas ranjang.

“Apa yang mau kau laporkan hari ini?” Pria itu bangkit dari kursinya untuk membantu Eunbi, lalu ia ikut duduk di atas ranjang pesakitan gadis itu.

“Aku merenungkan bentakanmu pagi tadi, kurasa kau benar. Aku harus menahan semua obat yang dimasukkan ke dalam sistemku dan juga semua nutrisi yang kubutuhkan agar hormonku stabil.” Jelas Eunbi. “Jadi hari ini, meskipun beberapa kali aku merasa sangat pusing dan mual, aku berhasil tidak memuntahkan apapun.”

Kyuhyun turut bersandar pada headboard ranjang Eunbi sebelum ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Pria itu mengecup kepala botak Eunbi beberapa kali gemas. “Hebat! Itu baru gadisku.”

“Aku juga sudah menyeleksi beberapa foto lama kita, aku butuh bantuanmu untuk menempelkan itu semua ke dalam album.” Eunbi melingkarkan lengannya di seputar pinggang Kyuhyun. “Setelah kulihat ulang foto-foto lama kita dan kutelaah lebih lanjut, ternyata kau memang benar-benar jahat padaku sejak kecil.”

Kyuhyun mendengus geli. “Mana mungkin, aku memang iseng, tapi aku tidak pernah menjahatimu.”

“Kau meninggalkanku dalam piknik sekolah kita di Namsan Village, Kyu!” Eunbi menepuk dada Kyuhyun kesal.

Pria itu mengerutkan kening bingung, seingatnya pada kesempatan piknik sekolah itu, ia terus menggenggam tangan Eunbi sesuai dengan instruksi guru mereka. “Kau yakin tidak salah ingat?”

Eunbi menunjuk pada tumpukan foto yang sudah ia siapkan di nakas samping ranjangnya. “Ambil foto teratas di sana.”

Kyuhyun menuruti permintaan Eunbi, sejurus kemudian ia membela diri dengan nada mengotot. “Lihatlah, dalam gambar ini aku menggenggam tanganmu!”

“Itu sebelum kau meninggalkanku dalam salah satu rumah tradisional di sana.” Eunbi bersikeras. “Aku ingat saat itu sangat penasaran dengan guci-guci yang mengawetkan bumbu masak di bagian belakang rumah—”

“Ah! Kau benar!” Kyuhyun mengangguk semangat. “Ya, ya, aku ingat sekarang. Aku bukan meninggalkanmu, tapi saat itu aku terpana dengan ajusshi yang membuat lampion, sampai-sampai tidak menyadari kalau kau sudah berkelana sendirian.”

See? You were mean to me since we were kids.” Simpul Eunbi sinis.

“Tapi aku juga yang menemukanmu berjongkok sambil menangis ketakutan di salah satu rumah itu, Bi-ya.” Kyuhyun mencubit hidung Eunbi gemas. “Kau tidak tahu saja seperti apa paniknya aku saat itu.”

“Cih, paling-paling kau panik karena sonsengnim mengomelimu gara-gara kau melepaskan genggaman tangan kita.”

“Dan panik karena membayangkan wajah marah ayahmu kalau sampai salah satu putrinya hilang, tentu saja.” Kyuhyun terkikik puas.

Eunbi ikut terkekeh membayangkan Kyuhyun kecil yang berteriak-teriak di seputar Namsan Village untuk mencarinya dulu. Ia ingat persis, setelah menemukan Eunbi yang hilang, pria itu langsung menggenggam tangannya sangat erat, bahkan saat mereka sudah duduk di dalam bus yang membawa kelompok kelas mereka kembali ke sekolah.

“Sejak dulu aku sudah menjagamu, Bi-ya. Bedanya dulu aku sangat teledor karena perhatianku masih mudah teralihkan oleh hal-hal trivial yang menggugah rasa ingin tahuku.” Kyuhyun kembali  menciumi puncak kepala Eunbi. “Tapi aku selalu berinisiatif untuk berdiri di sisimu setiap kali kita harus berpasangan, sejak dulu jiwaku sudah terpanggil untuk melindungimu.”

Rona kemerahan muncul pada wajah tirus Eunbi. “Kau tahu? Aku mulai suka padamu sejak aku hilang di Namsan itu.”

“Benarkah?”

Gadis itu mengangguk cepat. “Aku tidak yakin kau masih ingat kata-kata yang waktu itu kau ucapkan, tapi…”

Kau nyaris membuatku terlibat dalam masalah, mulai detik ini genggam terus tanganku! Beritahu aku kemana kau akan melangkah agar aku bisa mengikutimu. Sebab aku harus menjagamu, itu tanggung jawabku.” Potong Kyuhyun, pria itu ingat persis apa yang ia katakan pada Eunbi saat mereka masih kecil dulu.

“Wah, daebak! Kau masih ingat.” Eunbi menatap Kyuhyun dengan pandangan kagum. “Kata-katamu itu terdengar sangat keren dan dewasa untuk seorang bocah berusia delapan tahun, Kyu. Sejak hari itu aku melihatmu sebagai sosok yang berbeda.”

Kyuhyun tersenyum sendu. “Tapi aku memang serius dengan kata-kataku, Bi-ya.”

“Aku tahu, kau sudah membuktikan itu sepanjang hidup kita.” Gadis itu menyengir senang. “Tapi Aku jadi penasaran, jika sepanjang masa remajamu dihabiskan untuk mengagumi Eunbyeol, kapan kau mulai menaruh hati padaku?”

Pria itu terenyak sesaat. Kapan ia mulai menaruh hati pada Eunbi? Sejak awal? Hanya saja ia terlalu bodoh untuk menyadari apa yang ia miliki untuk gadis dalam dekapannya. “Entahlah.”

“Cih, kau tidak romantis.” Eunbi berdecak kesal.

“Kau mengharapkan aku menjawab seperti apa, ng? Mana aku tahu sejak kapan aku menaruh hati padamu jika sejak awal aku sudah menyayangimu.” Bela Kyuhyun. “Tidak ada momen spesifik yang bisa kuingat dengan pasti, tapi yang jelas aku kesal sekali waktu Kim Hanbo mengajakmu pulang di belakang sepedanya.”

Eunbi tertawa puas. “Ng? Senior itu? Ah, dia tampan dan keren sekali, Kyu. Aku ingat dulu dia kapten tim basket putra, bisa kupastikan banyak gadis yang mengelu-elukan pesonanya.”

“Termasuk dirimu.” Simpul Kyuhyun jengkel.

Eunbi mengangguk sekilas. “Sebenarnya yang kurasakan cenderung rasa kagum. Karena pria, itu tim kalian bisa maju ke kejuaraan nasional. Dan pria itu juga yang memoles skill lay-up-ku hingga gerakan itu menjadi signature move yang kuandalkan dalam setiap pertandingan basket.”

“Aku juga bisa mengajarimu.” Kyuhyun memanyunkan bibir sambil memutar mata.

“Nyatanya saat itu kau terlalu sibuk tenggelam dalam buku-buku pelajaran demi menyeimbangi nilai Eunbyeol.” Balas Eunbi tidak kalah jengkel. “Setiap aku mengajakmu one-on-one sepulang sekolah, kau selalu menolak karena ingin belajar. Lama kelamaan jelas saja aku jadi malas mengajakmu.”

“Kau cemburu?”

Tanpa sungkan gadis itu mengangguk. “Meskipun senior tertampan mencoba merayuku, mataku hanya terpaku padamu. Tapi kau tidak mengubrisku, bayangkan saja seperti apa perasaanku saat itu. Terlebih karena aku tahu persis siapa yang kau kagumi.”

“Maafkan aku.” Ujar pria itu pelan. “Maafkan kebodohanku.”

Eunbi mengangkat kedua bahunya cuek.

“Aku mencintaimu, Bi-ya.” Kyuhyun kembali mengecupi sekujur wajah Eunbi gemas. “Argh! Kenapa aku bodoh sekali tidak pernah menyadari ini.”

Gadis itu hanya terkikik geli. “Jadi kapan kau mulai menyimpulkan bahwa yang kau rasakan bukan sekedar rasa sayang pada sahabat kecilmu? Sejak kau merasa cemburu pada Kim sunbae?

“Kau ingat tidak? Saat pengumuman ujian masuk universitas diumumkan?” Pancing Kyuhyun.

“Bagaimana mungkin aku melupakan hari terburuk sepanjang sejarah itu.” Eunbi menghela napas panjang.

Pria itu tersenyum pahit. “Aku ingat hari itu aku dan Eunbyeol melompat-lompat senang karena kami berhasil masuk dalam kampus terbaik di negara ini. Beberapa saat setelah lonjakan kebahagiaan itu berlalu, kami menoleh padamu—seperti biasa kau menyunggingkan senyum lebar khas Eunbi yang menyedihkan itu. Ekspresimu saat itu, aku tidak bisa menghapusnya dari memoriku sampai detik ini. Tatapan matamu yang kosong, kekhawatiran dalam wajahmu, kegelisahan dari caramu berdiri, dan caramu bertutur lirih bahwa kau tidak diterima di manapun. Aku benar-benar tidak bisa melupakan itu.”

“Aku pun masih ingat rasa kecewa yang menghantui diriku sejak hari itu.” Eunbi menambahkan.

“Sore itu kita bertiga pulang bersama, tapi kau bilang ingin pergi sebentar ke toko kelontong untuk membeli pembalut, sehingga aku dan Eunbyeol bisa pulang lebih dahulu tanpamu. Tapi seperti biasa, aku diam-diam mengawasimu dan kau tidak pergi ke toko kelontong, malainkan ke taman bermain di dekat rumah. Kau duduk pada landasan perosotan sebelum tangismu pecah.” Kyuhyun meringis mengingat momen keterpurukan Eunbi yang pertama kali dilihatnya. “Kau menangis lama sekali, aku ingat saat itu aku hanya ingin ikut duduk di sisimu, memelukmu, menenangkanmu, lalu menghiburmu. Tapi entah mengapa alih-alih melakukan itu, aku hanya terus menonton aksimu dari kejauhan.”

“Aku takut pulang hari itu, Kyu. Meskipun aku sudah terbiasa dengan prestasi akademis eonni yang bertolak belakang denganku, malam itu aku tahu bahwa ayahku akan sangat murka karena dari tiga universitas tempatku mendaftar, tidak ada satu pun yang sudi menerimaku. Aku takut karena tidak tahu apa yang harus kulakukan sementara kalian pergi kuliah, aku takut karena aku yakin di antara banyak kegagalanku, surat penerimaan universitas yang tidak pernah kuterima itu adalah klimaks dari seluruh kebodohanku di mata appa.” Eunbi menjelaskan sudut pandangnya.

“Aku tahu. Sebab aku mengikutimu, aku menyaksikan sendiri kau terus berputar-putar di depan pagar rumah karena takut pulang, kau melangkah masuk melewati pagar, lalu keluar lagi, kau terus melakukan itu nyaris satu jam lamanya.” Jawab Kyuhyun.

Well, sisanya kau tahu sendiri. Sikap appa benar-benar jadi semakin dingin padaku sejak hari itu.” Tambah Eunbi dengan senyum pahit. “Tapi mengapa kau menganggap momen itulah yang merubah kesimpulanmu tentangku?”

“Karena sejak saat itu aku hanya ingin menjagamu. Aku tidak mau melihatmu menangis seperti itu lagi, dan sekalipun kau menangis, aku ingin kau mengadu padaku. Aku tidak rela jika kau menunpahkan air mata itu di hadapan pria lain, dan aku hanya ingin kau bersandar padaku.” Simpul Kyuhyun. “Egois sekali, bukan? Seakan aku mengikatmu tapi juga tidak menyatakan apa-apa untuk memperjelas hubungan kita.”

Eunbi terkikik setuju. “Syukurlah kau sadar.”

Kyuhyun menggigit bibirnya sambil menahan senyum salah tingkah.

“Aku mencintaimu, Kyu. Sejak lama aku sudah memendam perasaan itu.” Eunbi mengusap wajah Kyuhyun lembut. “Kini aku sungguh berharap kita akan memiliki waktu yang sangat panjang untuk tetap saling mencintai seperti ini.”

Pria itu meraih tangan Eunbi yang membelai wajahnya, lalu mengecupi buku-buku jari gadis itu dengan sayang. “Aku punya beberapa kejutan menanti untukmu malam ini. Apa kau mau melihatnya?”

“Kejutan lagi?” Balasnya dengan mata berbinar. “Aku suka kejutan.”

“Kita tunggu pemeriksaan malammu selesai dulu, ng? Nanti setelah jam kunjungan dokter berakhir, akan kuberikan kejutanmu.” Ujar Kyuhyun mantap.

 

*

 

Kyuhyun menggiring kursi roda Eunbi menuju atap rumah sakit, tidak banyak yang disiapkan oleh pria itu namun ia merasa ingin membawa gadis itu keluar sejenak dari dalam kamarnya yang menjemukan. Eunbi tidak tahu persis kejutan semacam apa yang Kyuhyun siapkan untuknya, tapi senyum dalam wajahnya langsung merekah saat ia melihat seekor anjing kecil menggoyang-goyangkan buntutnya dengan bahagia di kejauhan.

“Kau diizinkan membawa Cappy ke sini?” Eunbi melonjak riang dalam kursi rodanya.

“Sst! Aku menyelundupkan Cappy ke sini.” Kyuhyun berbisik panik. “Untung tubuhnya mungil, jadi bisa kuselipkan ke dalam tas olahraga. Aku harap anjing kita tidak menggonggong terlalu keras sampai menimbulkan kecurigaan.”

Eunbi meremas tangan Kyuhyun yang mendorong kursinya. “Terima kasih, Kyu. Aku memang sangat merindukan Cappy. Tapi kenapa kau ikat dia ke tiang lampu itu?”

“Kau mau rumah sakit ini dihebohkan karena ada anjing berkeliaran secara tidak sengaja?” Balas Kyuhyun sinis.

Omo, apa ini juga bagian dari kejutanku?” Tunjuk Eunbi pada tikar yang sudah Kyuhyun siapkan untuk piknik. Di atas tikar itu Kyuhyun menyiapkan beberapa bantal kecil, sebuah selimut, dan beberapa boks kotak berwarna coklat yang Eunbi tebak sebagai makanan. Tidak jauh dari tikar itu juga ada ‘layar tancap’ dadakan yang Kyuhyun buat dari bentangan sprey putih di antara dua tiang lampu.

“Ng.”

“Bioskop outdoor dadakan?” Tebaknya.

Kyuhyun membungkukkan badan untuk mengecup puncak kepala Eunbi, lalu berbisik di sisi wajahnya. “Bagus kan ideku? TV di dalam kamarmu terlalu kecil untuk menonton film.”

“Apa tidak ada yang marah jika kita memakai tempat ini?” Gadis itu bertanya bingung.

“Aku sudah minta izin, meskipun Cappy memang tidak termasuk ke dalam izin itu.” Terang Kyuhyun, ia menghentikan kursi roda Eunbi di dekat tikar lalu berpindah ke sisi gadis itu untuk menggendongnya.

“Sakti sekali izinmu.” Simpul Eunbi.

“Kau tahu sendiri kekasihmu ini paling pandai melobi dan membelokkan regulasi.” Balasnya dengan cengiran jahil.

Gadis itu mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi, memudahkan Kyuhyun untuk menggendong tubuhnya yang semakin menciut dan mendudukkan Eunbi ke atas tikar. Tidak lama kemudian tali kekang Cappy dilepas oleh Kyuhyun dan anjing kecil itu segera menghambur ke dalam pelukan Eunbi.

“Hai Cappy! Aku juga merindukanmu, Sayang.” Eunbi bicara dengan nada sok imut. “Kau pasti sangat merindukan eomma. Apa kau tidak menyadari ada yang berubah dariku, ng?”

Kyuhyun tersenyum puas, sejauh ini kejutannya berhasil.

“Kau tidak takut melihat kepala plontosku ini?” Tanya Eunbi lagi pada Cappy.

“Ey, kau tahu kan anjing tidak peduli akan hal itu, selama aromamu masih tetap sama dia akan selalu mengenalimu.” Kyuhyun membentangkan selimut tipis di atas paha Eunbi sebelum ikut duduk di sisi kekasihnya. “Cappy, ini makananmu, makanlah. Jangan ganggu kami.”

Gadis itu menjitak kepala Kyuhyun kesal. “Aku sedang melepas rindu padanya, Kyu!”

“Tenanglah, kita biarkan dia makan agar dia tidak berisik.” Kyuhyun mengeluarkan bungkusan dari dalam sebuah tas piknik yang agak besar. “Sementara Cappy makan, kita juga harus makan.”

Eunbi memanyunkan bibirnya, nafsu makan gadis itu sudah lenyap entah kemana karena menahan mual setiap saat. Berani-beraninya Kyuhyun mengusulkan ide makan. Tapi pikiran skeptis itu lenyap seketika ia melihat bungkusan yang Kyuhyun keluarkan. “Kau dapat itu di mana?”

“Temanku ada yang baru pulang dari Tokyo.” Jelas Kyuhyun sambil menyerahkan sekotak pizza pada Eunbi. “Aku tahu ini bukan Spontini di Milan, tapi mereka juga punya cabang di Tokyo. Menurut review yang kubaca, rasanya tetap mirip.”

Eunbi membuka kotak pizza yang sudah lama ingin ia cicipi dengan semangat. Meskipun pizza yang terpampang di dalam sana sudah terlihat dingin, gadis itu tidak peduli.

Well, pizza ini sudah melalui perjalanan panjang dari Tokyo, maaf kalau wujudnya tidak terlalu menggugah selera.” Kekeh Kyuhyun.

“Aku tidak peduli.” Balas Eunbi dengan mata berbinar. “Kau… wah! Kau lagi-lagi membuatku terpana, Kyu. Terima kasih, karenamu aku mendapat kesempatan mencicipi Spontini.”

Kyuhyun tersenyum nakal sambil menunjuk-nunjuk bibirnya. “Itu saja caramu berterima kasih?”

Sontak wajah gadis itu memerah, tapi ia paham maksud Kyuhyun. Tanpa keraguan, Eunbi mencondongkan wajah untuk mengecup bibir Kyuhyun. “Terima kasih, Kyu.”

“Makanlah, kau tidak perlu menghabiskannya. Aku tahu porsinya terlalu besar untukmu.” Pria itu membalas kecupan bibir Eunbi lalu memotongkan roti pizza menjadi potongan-potongan kecil yang sanggup dilahap kekasihnya.

Kedua mata Eunbi membelalak kagum saat potongan pizza pertama berhasil ia kunyah. “Wah kejunya benar-benar banyak dan pinggirannya benar-benar renyah! Padahal dia sudah berjalan jauh sekali dari Tokyo.”

Pria itu ikut mencicipi bagiannya. “Hm, kau benar. Sekarang aku paham mengapa kau menuliskan pizza ini ke dalam buku perjalanan kita.”

Eunbi tidak menanggapi kata-kata Kyuhyun karena gadis itu sibuk menikmati suapan berikut dari pizza yang tengah dinikmatinya.

“Makan pelan-pelan, Bi-ya. Aku beli dua boks.” Terang Kyuhyun yang senang karena melihat nafsu makan Eunbi setidaknya lebih baik dari biasa. “Seharusnya aku membelikan ini sejak lama agar kau tidak punya masalah dengan pola makanmu.”

Tiba-tiba Eunbi teringat sesuatu. “Polaroidku…”

“Aku membawanya.” Kyuhyun mengeluarkan benda yang Eunbi maksud dari dalam tas ransel yang ia sampirkan di belakang kursi roda Eunbi.

“Ayo abadikan ini, momen ini bisa dimasukkan ke dalam buku perjalan kita.” Usul Eunbi. “Memang bukan yang di jalan Spontini, tapi karena kuhargai kreatifitasmu, maka kuperbolehkan momen ini menggantikan pizza Spontini di Milan.”

Kyuhyun mengangguk cepat, ia turut mengeluarkan buku perjalan mereka untuk ditulisi nanti. Sejauh ini semua masih berjalan sesuai dengan rencananya.

“Cappy! Kemarilah! Ayo foto bersama eomma!” Panggil Eunbi pada anjing mereka. Gadis itu menyodorkan pizza yang belum dipotong-potong Kyuhyun ke arah kamera lalu ia memasang senyum lebarnya.

Mereka menunggu beberapa saat sampai filamen foto polaroid menunjukkan gambar yang jelas. Dalam foto itu terlihat secara jelas secercah kebahagiaan yang menghiasi wajah mereka, meskipun dari foto itu juga terlihat jelas bahwa kondisi kesehatan Eunbi sudah menurun drastis.

“Jarang sekali aku melihat foto seseorang yang terpaksa membotaki kepala mereka dengan senyum selebar ini.” Simpul Eunbi. “Terima kasih, Kyu. Karenamu, aku masih bisa tersenyum bahkan di saat-saat menegangkan ini.”

Kyuhyun hanya tersenyum kecil. “Sesungguhnya, Masih ada beberapa hal yang bisa kita coret malam ini.”

“Oh ya? Apa lagi?”

Kyuhyun menunjuk ke atas langit. “Hari ini ada gerhana bulan.”

“Kau serius?” Kedua mata Eunbi membulat, gadis itu menyandarkan punggung pada tembok atap, dengan tumpukan bantal-bantal di belakangnya.

“Hanya parsial, tapi ya, diramalkan akan terjadi sekitar pukul sebelas malam nanti.” Pria itu mencari-cari artikel yang menguatkan informasinya dalam ponsel. “Aku tahu yang kau mau lihat sebenarnya gerhana matahari total, tapi sepertinya mustahil membawamu ke Amerika di pertengahan bulan ini.”

Eunbi mengangguk setuju. “Gerhana bulan sudah cukup untukku.”

“Kau tahu bahwa gerhana bukan bintang jatuh, kan? Kau tidak berniat memejamkan mata dan memohon sesuatu yang kekanakan, bukan?” Tuduh Kyuhyun dengan wajah meledek.

“Cih, kau pikir aku bodoh.” Eunbi memutar mata sambil terus mengunyah pizza enak yang dibelikan Kyuhyun.

“Lalu selama menunggu pukul sebelas, aku juga sudah mempersiapkan ini.” Kyuhyun mengeluarkan laptopnya.

“Untuk menyusun video-video kita?”

“Bukan, kita akan menonton film. Aku berhasil mengunduh film itu.” Sahut Kyuhyun bangga. “Ingat waktu kita berjanji untuk menontonnya bersama, tapi jadwal kita terus bentrok hingga pada akhirnya kita tidak sempat menontonnya sama sekali?”

“Beauty and the Beast?” Tebak Eunbi. “Kudengar film itu ternyata overated. Mungkin itu alasan aku tidak jadi ngomel padamu karena kita gagal nonton berkali-kali.”

“Aku sudah mengunduhnya, jadi kita nikmati saja, ng?” Paksa Kyuhyun.

“Ng, baiklah.” Gadis itu lanjut mengunyah makanan yang dibelikan Kyuhyun dengan lahap. “Tunggu, kau tidak bermaksud menjadikan ini sebagai momen ‘menonton bioskop terbuka di pinggir pantai Bali’ yang kutuliskan, kan?”

“Kau memang cerdas.” Kyuhyun mencubit ujung hidung Eunbi jahil. “Aku harus improvisasi. Nyatanya Bali itu juga jauh dan tidak mungkin kita ke sana sekarang.”

Gadis itu lagi-lagi hanya tersenyum hambar. Ia paham apa yang sedang Kyuhyun lakukan, pria itu mencoba memenuhi beberapa halaman kosong buku perjalan mereka dengan eksekusi seadanya demi tetap mengabulkan permintaan Eunbi. Sepertinya bukan hanya Eunbi yang merasa sedang dikejar waktu saat ini.

Kyuhyun selesai menyiapkan bioskop outdoor dadakan mereka, pria itu ikut bersandar pada tembok, lalu ia membiarkan Eunbi bersandar padanya.

Sepanjang film diputar, Eunbi hanya menatap datar pada sprey putih yang Kyuhyun jadikan layar, sebab tidak banyak elemen kejutan dari film itu yang belum diketahuinya. Bagaimanapun, film itu hanya sebuah film lama yang dibuat ulang dengan sinematografi lebih realistis. Tapi semakin dalam mereka masuk ke dalam cerita, semakin Eunbi bisa menghargai usaha penulis lagu yang menambahkan satu lagu baru yang terdengar cukup sendu dalam telinganya.

Tidak berhenti di sana, film yang seharusnya sudah terprediksi akhir indahnya ternyata sukses membuat gadis itu menangis haru. Detik saat karakter Beast menyanyikan lagu Evermore yang menyayat hati membuat gadis itu tercekat seketika dan sepertinya ia tahu bahwa Kyuhyun juga sedang menahan diri untuk tidak terlalu terbawa emosi—namun karena kepala Eunbi bersandar di atas dada Kyuhyun, ia bisa mendengar jelas debaran jantung pria itu semakin menjadi.

Dalam lagu itu tergambarkan derita seorang pria yang ditinggalkan seseorang yang sangat dicintainya. Tentang bagaimana pria itu merasa bahwa wanita yang ia cintai masih tetap berada di sekelilingnya meskipun wanita itu sudah pergi. Bagaimana wanita itu tetap menjadi bagian dari kesehariannya dan juga bagaimana pria itu selalu menantikan wanita itu untuk datang kembali padanya.

“Jangan jadikan lagu ini soundtrack hidupmu, Kyu.” Simpul Eunbi di tengah film.

“Kalau begitu hiduplah dengan baik, agar lagu ini tidak menjadi soundtrack hidupku.” Balas pria itu datar.

“Entah mengapa cara Beast menyanyikan lagu ini terdengar sangat memilukan.” Eunbi mengusap air mata dari wajahnya. “Ah padahal dalam versi kartunnya aku biasa saja.”

Kyuhyun terkekeh pelan. “Mungkin karena sekarang kita lebih paham maknanya. Bahwa ini bukan lagi sekedar kartun, tapi kisah romansa.”

Eunbi hanya  mengangguk pelan, entah setuju atau tidak dengan pernyataan Kyuhyun. Mereka lanjut menyaksikan film yang ending-nya sudah tertebak itu dengan seksama, tapi lagi-lagi Eunbi dikejutkan dengan gubahan lagu terbaru Alan Menken yang sukses membuatnya meleleh.

“Demi Tuhan, aku berharap pria ini berumur panjang agar seluruh anak di dunia bisa menikmati gubahan lagu-lagunya yang spektakuler.” Gadis itu menghapus sisa-sisa air mata yang menempel pada pelupuk matanya. “Dan kuharap aku pun berumur panjang untuk mendengar lagu-lagu lain yang akan beliau ciptakan.”

How does a moment last forever? How can a story never die? It is love we must hold onto, never easy, but we try. Sometimes our happiness is captured. Somehow our time and place stand still. Love lives on inside our hearts and always will.” Kyuhyun menyenandungkan lirik yang Eunbi maksud. “But when all else has been forgotten, still our song lives on.”

“Rekamlah suaramu itu, lalu sertakan di dalam video kita.” Usul Eunbi. “Kau bisa sekalian menambahkan foto di sudut atap rumah sakit yang sudah kau sulap ini.”

“Ha! Kau yakin mau ada suaraku bernyanyi dalam video itu?” Tanya Kyuhyun heran.

“Suaramu merdu, jadi tidak ada salahnya. Siapa tahu memori jiwaku terpanggil dan aku akan menangis seperti saat ini.” Sahut Eunbi mantap.

“Baiklah kalau itu maumu.” Pria itu mengangguk setuju. “Tunggu, biar kufoto dulu momen ini. Kita bisa menempelkannya nanti.”

Eunbi mengatur Cappy yang sejak tadi terduduk diam di atas pangkuannya agar anjing itu menghadap kamera.

“Ngomong-ngomong, dua jam sudah berlalu, sebentar lagi gerhananya muncul.” Kyuhyun melirik arlojinya sekilas. “Ayo kita berbaring.”

Pria itu meraih Cappy dari pangkuan Eunbi lalu meletakkan anjing itu di atas perutnya, sementara ia berbaring terlentang dan membiarkan Eunbi membaringkan kepala di atas dadanya.

“Aku tidak melihat apa-apa.” Gerutu Eunbi setelah mereka menatap bulan beberapa saat.

“Ingat, Jang Eunbi, gerhana parsial.” Tekan Kyuhyun.

“Baiklah, aku akan menurunkan level ekspektasiku.” Seru gadis itu.

Memang dari tempat mereka berada, gerhana yang  nampak hanya sedikit sekali, tapi perlahan keduanya bisa melihat perbedaan wujud bulan purnama yang tengah bersinar di atas langit kota Seoul. Gerhana itu hanya berlangsung kurang dari lima belas menit, tapi Kyuhyun tetap mengabadikan momen itu ke dalam polaroid Eunbi.

“Kau mau merangkum apa yang kita lakukan malam ini ke dalam buku?” Ajak Kyuhyun.

Eunbi mengangguk lalu bangkit dari posisinya, bersiap untuk menempelkan foto-foto baru ke dalam buku keramat mereka. Gadis itu membolak-balik halaman dengan cekatan, ia sudah hafal letak permintaan satu dan yang lainnya ada di mana. Kyuhyun di sampingnya bertugas sebagai pihak yang menorehkan notes kecil akan kegiatan itu, karena tremor tangan Eunbi tidak memungkinkan gadis itu untuk melakukannya.

“Kau tidak mau memeriksa semua kegiatan yang pernah kita lakukan?” Tawar Kyuhyun, pria itu diam-diam menyalakan handycam dan meletakkannya agak jauh dari tempat mereka ‘piknik’ selama Eunbi sibuk memperhatikan buku perjalan yang semakin tebal itu.

“Ng, coba kita mulai dari lembaran pertama.” Eunbi membalik buku itu ke halaman terdepan. “Runaway! Kita melakukan ini dengan sangat keren.”

Kyuhyun mengangguk setuju. Pria itu ikut melihat gambar keduanya yang masih jet lag di depan Schipol Airport dengan dua tas besar bertengger di balik punggung mereka. “Pergi ke Eropa juga bisa kita coret dan kita punya banyak sekali foto yang membuktikan ini.”

Eunbi membalik pada halaman-halaman berikutnya. Perasaan campur-aduk menyerang emosi gadis itu seketika. Melihat kegiatan mereka beberapa bulan yang lalu jelas membuat Eunbi kembali merindukan petualangan gilanya dengan Kyuhyun. Ia merindukan masa-masa terakhir saat ia bisa bebas melakukan banyak hal sesuai dengan keinginannya. Ia merindukan pria itu bahkan sebelum mereka mengucapkan selamat tinggal.

“Ingat kau masih punya janji untuk merayakan seratus-hari hari jadi kita denganku.” Kyuhyun membalik buku pada lembar-lembar belakang.

Eunbi hanya tersenyum kecut. Bisakah ia menepati janjinya? Eunbi mengusap lembaran kosong yang belum tertempel foto perayaan seratus hari mereka, namun perhatian gadis itu teralihkan seketika. Menyembul dari halaman di balik lembaran itu, terlihat ada benda yang menonjol. Dengan ragu Eunbi membalik pada halaman paling terakhir dan seketika itu juga hatinya mencelos.

“Kyu, aku tidak bisa.”

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Kalau begitu jelaskan apa fungsi cincin ini?” Tunjuk Eunbi pada halaman terakhir bukunya yang bertuliskan ‘menjadi pasangan hidup Kyuhyun’.

Pria itu menggigit bibirnya gugup, kini waktunya ia menuntaskan rencana yang disusun secara mendadak dengan bantuan ayah Eunbi pagi tadi.

Honestly, I’m flattered, Kyu. But I can’t.” Tegas Eunbi. “Aku tidak bisa menempatkanmu di posisi itu, Kyu. Aku akan sangat kejam jika kisah kita…”

Dengan lembut Kyuhyun menyentil kening Eunbi. “Apa yang melintas dalam pikiranmu,ng?”

“Kau berniat menikahiku?” Todong eunbi dengan wajah bingung.

Pria itu menghela  napas panjang. “Berapa kali kukatakan padamu bahwa aku bukan pria romantis, tapi pria realistis, Eunbi-ya?”

“Maksudmu?”

“Aku berniat menagih janjimu.” Ujar Kyuhyun dengan jantung yang rasanya siap meledak keluar dari rongga dadanya.

Ne?

“Ingat apa yang kita diskusikan saat kita pergi ke Sokcho? Aku tidak perlu memintamu untuk menikahiku karena kau sudah setuju sejak awal; bahwa kau akan berjalan menuju altar, selama akulah pria yang menunggu di ujung sana. Jadi kita bisa melewatkan pertanyaan canggung dan picisan itu, serta langsung menuju pada kesimpulan bahwa kita sudah sepakat untuk menghabiskan sisa hidup kita bersama, benar?”

Eunbi yang masih bingung hanya mengangguk ragu.

“Kau juga bilang bahwa perjanjian itu tidak valid karena aku tidak membawa cincin. Malam ini aku datang dengan cincin untuk mengikatmu—untuk mengikat dirimu dan untuk mengunci janjimu.” Terang kyuhyun sambil mengambil cincin emas putih sederhana dari atas buku itu. “Kau memberiku tugas untuk mencari cincin yang merangkum kisah kita, maka inilah cincin yang kupilihkan untukmu. Sebuah cincin emas putih tanpa hiasan apapun.”

“Karena hubungan kita sehambar itu?” Sahut Eunbi dengan dahi berkerut.

Kyuhyun tertawa kecil. “Karena kesederhanaan cinta kita yang tulus. Karena kisah kita yang bewarna itu terangkum sepenuhnya dalam cincin emas putih ini. Tapi kalau bagimu cincin ini terlihat hambar, biar aku tukar nanti dengan yang sesuai dengan seleramu.”

“Aku suka cincin ini.” Sahut Eunbi cepat. “Tapi aku tetap tidak bisa menerimanya.”

“Karena?”

“Karena kau akan hancur jika aku…” Kata-kata Eunbi tertahan, ia tidak mau menangis lagi malam ini.

“Kalau begitu berjanjilah untuk kembali.” Balas Kyuhyun lirih. “Aku tahu kau akan berusaha semampumu, dan aku ingin memberimu alasan lain untuk bertahan.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan? Apa kau akan menikahiku malam ini?” Sosor Eunbi.

Lagi-lagi Kyuhyun tersenyum lebar karena sedikit terhibur dengan tebakan polos yang keluar dari mulut Eunbi.

“Tunggu, biar aku menebak.” Eunbi mengangkat tangannya untuk menutup mulut Kyuhyun. “Kau berencana membawaku ke kapel di bawah, di sana keluargaku sudah menunggu dengan wajah berlinang air mata, lalu kita akan mengucapkan sumpah sehidup-semati sebelum operasiku berlangsung.”

Pria itu hanya tertawa geli menyaksikan kekasihnya yang asik sendiri menebak-nebak tindakan mereka berikutnya.

“Jangan tertawa! Aku serius, Cho Kyuhyun! Aku tidak akan menikahimu malam ini.”

“Kau pikir aku mau menikahimu malam ini?” Balas Kyuhyun dengan kikikan semakin menjadi. “Ingat, aku pria realistis.”

Beban dalam dada eunbi sedikit melonggar.

“Lagipula tidak adil untukmu jika aku memaksa untuk menikahimu malam ini.” Lanjut Kyuhyun. “Aku ingat pernikahan semacam apa yang dulu kau impikan. Aku masih ingat gaun model empire waist dengan pita perak yang bisa membuat tubuh mungilmu terlihat lebih tinggi. Aku ingat tatanan rambut yang menurutmu sempurna, bahkan aku ingat misimu untuk memanjangkan rambut sebatas sepinggang agar sanggulmu tertata sesuai gambar yang sudah kau simpan dalam scrap book-mu dulu.”

Mulut Eunbi ternganga, ia memang pernah menjabarkan sebuah pesta pernikahan impiannya pada Kyuhyun, tapi itu sudah lama sekali. Bagaimana mungkin pria itu masih mengingatnya.

“Aku ingin kau menjadi pengantin wanita paling bahagia dalam hari pernikahan kita kelak. Bukan pengantin dengan tatapan sayu karena mengkhawatirkan operasi yang akan kau hadapi. Aku ingin kau merasa sebagai wanita paling cantik di dunia saat meniti langkahmu menuju altar nanti, dan aku bisa mengerti bahwa saat ini mungkin kau tidak sedang merasa dalam kondisi terbaikmu. Aku ingin pernikahan kita nanti menjadi sesuatu yang berkesan, sesuatu yang natural, dan sesuatu yang akan kita kenang sepanjang hidup kita.” Jelas Kyuhyun. “Jelas memaksakannya malam ini memang terkesan spontan dan romantis, tapi juga tidak masuk akal. Dan kurasa kita sudah sama-sama dewasa untuk berpikir rasional. Maaf karena gesturku tidak terlalu memukaumu malam ini… tapi yang kumak—”

Eunbi memberanikan diri untuk melabuhkan ciumannya di atas bibir Kyuhyun tanpa diminta. Biasanya gadis itu hanya menjadi pihak penerima, karena ia masih tidak mempercayai fakta menakjubkan bahwa pria ini benar-benar miliknya. Namun saat sahabat terbaiknya sanggup mengingat detil pernikahan ideal yang pernah Eunbi ucapkan dengan asal dulu, saat pria itu memberanikan diri untuk melawan akal sehatnya, bagaimana mungkin gadis itu tidak jatuh semakin dalam pada pesona Kyuhyun.

“Eunbi-ya.” Bisik Kyuhyun pelan setelah Eunbi melepas tautan bibir mereka. “Aku sangat mencintaimu dan aku sungguh-sungguh ingin menghabiskan sisa hidup kita bersama. Aku… Aish, aku benar-benar payah dalam hal-hal seperti ini.”

Eunbi terkikik senang melihat kegugupan Kyuhyun. “Lanjutkan, akan kuberi kau waktu untuk menyusun pidatomu.”

“Intinya, ini janjiku padamu.” Pria itu mengangkat cincin ke hadapan wajah Eunbi. “Bahwa aku akan menikahimu dengan sayarat dan ketentuan yang berlaku.”

“Oh wow, kau benar-benar tidak romantis.” Sahut Eunbi dengan dengusan sinis.

“Syarat pertama tentu saja kau harus bertahan, kau harus sembuh terlebih dahulu agar pesta pernikahan impianmu bisa kuwujudkan. Kedua, kau harus menungguku.”

“Menunggumu?”

Pria itu mengangguk. “Aku harus menuntaskan studiku, agar aku mendapat pekerjaan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan hidupmu dan anak-anak kita kelak. Itu juga alasan lain mengapa aku tidak mau gegabah menarik tanganmu ke kapel di lantai bawah, karena aku bukan hanya ingin mengikatmu dalam sebuah pernikahan, Bi-ya, aku ingin menjalaninya bersamamu—dan kita sama-sama tahu bahwa tidak ada dalam dunia ini yang berlangsung secara instan.”

Entah mengapa alih-alih tersinggung, gadis itu justru semakin terhibur dengan pidato Kyuhyun yang lebih terkesan seperti kontrak perjanjian. Ia merasa lega karena Kyuhyun tidak melakukan gestur yang akan membuatnya merasa terbebani. Gadis itu merasa lebih rileks karena setidaknya apa yang diminta Kyuhyun terdengar cukup serius untuk masa depan mereka, namun juga sangat realistis jika mempertimbangkan segala kondisi mereka saat ini.

“Beri aku waktu, ng? Untuk sementara, izinkan aku menyematkan cincin sederhana ini pada jemarimu. Kuharap bobotnya cukup berat untuk menahan jiwamu di tempat ini, dan kuharap torehan grafir namaku di dalamnya juga cukup untuk mengingatkanmu, bahwa aku selalu menantimu di sini–apapun yang terjadi nanti.” Pria itu menyelipkan cincin emas putih itu ke dalam jari manis tangan kiri Eunbi. “Temani aku sampai kita tua, beruban, dan keriput nanti, ng?”

Eunbi hanya sanggup menggigit bibirnya keras-keras demi menghalau rasa sesak, rasa terharu, rasa sedih, dan juga rasa bahagia yang menyerangnya dalam waktu bersamaan.

Kyuhyun tidak membutuhkan jawaban dari gadis itu, mereka sama-sama paham apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka. Ia tahu, meskipun Eunbi terlihat berpikir keras, semua itu tidak ada hubungannya dengan hati gadis itu. Karena Eunbi sudah meyakinkan berkali-kali, bahwa hanya kyuhyun yang memiliki hatinya.

Pria itu mengangkat tatapannya dari jemari tangan Eunbi, dengan senyum kecil tersungging pada wajahnya, Kyuhyun mencondongkan tubuh untuk mengukuhkan perjanjian mereka dengan sebuah ciuman manis.

You’ll do great in there. I know you will.” Pria itu meyakinkan Eunbi di antara ciuman mereka.

 

 

tbc…

 


author’s note:

TETOT! Jangan kecewa ya pemirsah, kan masnya realistis, bukan romantis! ;’D

 

Advertisements

80 thoughts on “Truth Within – 15 [This Is Us]

  1. 신혀라 says:

    Dari part sebelum-belumnya maaf tidak meninggalkan jejak… Tapi dipart ini bikin ngilu..😭😭 padahal ada part yang lebih dari ini… Tapi yang bikin terenyuh tindakan kyu yang realitis… Keep writing kakak😘😘

    Liked by 1 person

  2. lhealee says:

    Unnie,, Unnie,, Unnie,, Unnie th gmn manisnya gula? Ah aku pikir part ini lebih manis dari gula sekali pun lol

    Ok2 si mas-nya gak romantis tp dia realistis. Iya realistis dgn cara yg super romantis aakkkk thank u pisan unnie udah muasin dahaga aku akan ‘romantis nya si realistis’ kkkk kirimkan aku satu pria seperti Kyuhyun ke dlm dunia nyata unnie, aduh si mas nya buat aku ngayal malem2 gini😂Eunbi yg di kasih surprise aku yg kembang kempis saking bahagia nya haha

    Btw itu kejadian nya diatap RS kan? Ah apa aku harus ke atap RS dl biar bisa dapetin cowok kyk Kyu wkwk klau di DOTS ada si mas kapten Yoo Si Jin diatap RS disini ada Kyu lalu aku hrs nyari atap RS mana akkkkk wkwkwkwk

    Hwaiting unnie!!!

    Liked by 1 person

  3. putri wahyuni says:

    ya ampun kyu, gak romantis aja begini,gimana kalo romantisnya coba..
    padahal yg dilamar kan eunbi,lah malah aku yg kesenengan 😁😁😁,,
    semoga,apa yg diharapkan oleh kyu dan eunbi,bisa terwujud ya eonn
    inget janji nya eonni, eonni gaboleh sadis ama kyu 😂😂

    Liked by 1 person

  4. Dewi N says:

    Sesuju sama Kyuhyun!!! Nikah itu gk cukup cinta doang. Realistis ya Pak… Suka deh sama Kyuhyun di part ini. Manly banget!!!

    “Temani aku sampai kita tua, beruban, dan keriput nanti, ng?”
    Bagi gue ini kata kata paling romantis. 😘

    Mau lah satu yang kayak tokoh Kyuhyun gini, eonni, klo open PO aku omor satu yaa 😂

    Liked by 1 person

  5. Nam Nam says:

    Ini lebih romantis ketimbang Kyu langsung nikahin Eunbi tpi disaat yg sama sangat realistis. Sukaaaaaaaa bgt soalnya alurnya tambah bikin penasaran. Kereeeen

    Liked by 1 person

  6. Kyuyang says:

    Huhhhh ga kuat bacanya tolong salyojuseo kyuhyun kata katamu itu lohhhh astaga bikin aku meleleh dari es jdi air
    Eunbi semangat semangat semangat ayookkk kuat eunbi ada kyuhyun dan keluarga kmu yg ikut berjuang sama kamu ☺️💝

    Liked by 1 person

  7. Seo HaYeon says:

    Hwee………… aku terhura hura bacanya eomoo…… 😂😂😂 aah Kyu kamu emg bneran pria realistis … ternyata ga lgsg nikah ya… hahahah 😂😂😂 wuuu….. ini critanya detail bgt kak… aku cuma bisa menggulirkan bolamata buat baca partnya… 😂😂😂😂 kuatkan Eunbi ya Kyu… trhru bgt dg kata2 Kyu smoga cincinnya mmpu mengikat n mmberi kekuatan bwt Eunbi.. Suksrs utk operasinya ya Eunbi…. tetaplah kuat dan bertahan.. ne… 😊😊😊

    Liked by 1 person

  8. Richa says:

    Siapa bilang kyuhyun eg romantis, buktinya setiap tindakan n ucapannya bikin hati bergetar n meleleh.. kyuhyun emang realistis tp juga romantis..

    Semangat terus dalam berkarya kak

    Liked by 1 person

  9. ladybook123 says:

    Bagian awalnya menurutku sweet bgt.. si kecil kyu yg kata2nya pas msh kecil aja bs berhasil mbuat seorg gadis kecil jatuh cinta..

    Trs yg bagian kyu ngawasin eunbi krn dia khawatir sama keadaan eunbi yg ha diterima di universitas manapun…

    Bagian lamaran ini memang ga romantis.. sangat teramat realistis… but still sweet… bcoz sometimes realistic is better than romantic that only for temporary moment

    Liked by 1 person

  10. Dyana says:

    Finally…
    Bisa baca juga… 😄😄

    Part ini dari awal hingga akhir bikin senyum senyum gak jelas… Manisnya kyuhyun dan eungi… 😘😘 jd berasa lupa kalau eungi harus menghadapi betapa menakutkannya ruang operasi…

    Semoga eungi bisa melaluinya dan apa yang diimpikan kedua anak ini bisa terwujud di akhir cerita…

    Fighting Authornim untuk lanjutannya, makin greget aja ni ff 😉😘

    Liked by 1 person

  11. Dyana says:

    Ya ampun aku typo nama Authornim… Eunbi maksudku… Bukan eungi… Ya ampun apa aku kepikiran GA ya, knp jd eungi itu kan karakter di One Last Shoot… 😂😂😂 maafkan aku… 😘😘😘😍

    Liked by 1 person

  12. Christellee says:

    Kenangan masa kecil mereka manis banget…

    Aku ikutan terharu sama kejutan kyu, lamarannya memang realistis tapi tetap ga kalah manis, apa lagi sama setiap ucapan kyuhyun yg bikin iri jadi eunbi.

    Kuharap operasi eunbi itu lancar, dan kalau ada efek akibat operasi itu yaa.. Setidaknya dia bisa kembali ke kyuhyun.

    Eonni… Part ini dari awal sampai akhir moment mereka tu dijelasainya detail banget, inilah yang aku suka dari tulisan eonni selalu ngena dihati, nyentuh banget..

    Liked by 1 person

  13. lyeoja says:

    Aduhhh mamas kyukyuu…
    Emang manis_an yg realistis sih ketimbang yg romantis… 😂😂😂

    Makanya kemaren2 aku gak berharap klo mereka bakal nikahh deket2 ini,
    Soalnya, ceritanya kaka pan slalu gak ketebakk… hihihi
    Nebak yg ini malah jadinya yg ituu… 😂😂😂

    Aku jg suka sm kejutannya ” hihihi

    Liked by 1 person

  14. Levi says:

    Huuwwaaaa kerenn…
    Ceritanya bikin senyum2 sendiri sampe nangis bombay..
    Berharap nanti akhir ceritanya bahagia, itu cuma harapan aku aja sih.. 😆😆😆
    Yg jelas aku yakin kaka author pasti udah nyiapin ending yg keren terlepas itu sad/happy ending..
    Can’t wait to read the next chapter 😍😍😍😍

    Liked by 1 person

  15. ddianshi says:

    Kyuhyun romantis tapi gak romantis 😀 maksudnya apa? kkk kyu tipe cowo yang kalo udah sayang sama satu cewe ya tetep sayang dan memperjuangkan semuanya 🙂 semoga eunbi bisa sembuh,menikah dengan kyuhyun,hidup bahagia,banyak anak,dan bisa tertawa seperti biasanya lagi ❤

    Liked by 1 person

  16. kaililaa says:

    Gak kecewa kakakkk. Sama kerealistisan Kyuhyun ga kecewa, karena realistis lebih memukau daripada romantis. Sama alurnya juga ga kecewaaa, alurnya ideal buat kondisi si Eunbi, bener-bener logis. Salah satu yang bikin demen sama cerita kakak. Hahaha baru sempat baca sekarang kak, tapi meski part selanjutnya udah publish tetap mau bilang semangat buat berimajinasi dan berkarya lagi kakak ^^

    Liked by 1 person

  17. Lovecho says:

    Lamaran yg benar2 realistis ala cho kyuhyun haha
    Tpi kyaknya itu udah diusahakan kyuhyun seromantis mgkin wkwkwk.. senyum2 sendiri sama lamarannya uuhhh.. semoga apa yg sdah kyuhyun lakukan bisa membuat eunbi lbih optimis dan lbih semangat menghadapi prtempurannya di meja operasi nanti..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s