Truth Within – 14 [Allow Me to Say This]

 

 

14 eunbi

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

 

 

 

Lima hari sudah berlalu sejak Eunbi diopname, namun dalam setiap pemeriksaan fisik dilakukan padanya, masih ada saja parameter yang tidak sesuai dengan standar dasar untuk membawanya masuk ke dalam ruang operasi. Hal ini membuat suasana hati gadis itu semakin memburuk setiap harinya, karena ia selalu pergi tidur dengan jutaan rasa takut karena mengantisipasi operasi di keesokan hari lalu dikecewakan oleh kondisi dirinya sendiri. Namun di sisi lain, Eunbi juga merasa lega, karena setiap operasinya ditunda, artinya ia memiliki waktu tambahan untuk membantu Kyuhyun menyusun rencana mereka.

Gadis itu duduk pasrah di tengah ranjang pesakitannya saat Dokter Lee kembali mengundur jadwal operasinya. Menurut pria itu, masih ada kadar hormon Eunbi yang tidak seimbang, yang artinya ia harus kembali melewati malam dan menikmati masa-masa tegang yang memuakkan.

“Jangan merengut seperti itu, Bi-ya.” Nyonya jang mengusap kepala putrinya. “Dokter itu hanya bermaksud baik.”

“Aku tahu, Eomma. Tapi tetap saja kalian bayangkan rasa tegang yang menghantuiku setiap malam, membayangkan keesokan paginya kepalaku akan dibelah. Setiap malam aku selalu berpikir bahwa itu akan menjadi malam terakhir aku hidup dengan tumor ini, tapi di pagi hari pria itu memberitahu ketegangan yang kurasakan tidak ada gunanya.” Sahut Eunbi dengan nada bicara yang terdengar emosi.

“Kami juga sama tegangnya denganmu, Bi-ya. Meskipun memang bukan kami yang harus masuk ke ruang operasi.” Sahut Eunbyeol sedikit jengkel melihat adiknya yang terus-menerus merajuk.

“Jelas saja rasanya tidak sama.” Balas Eunbi sinis. “Beda sekali rasanya, Eonni. Anggap saja aku ini tawanan yang akan dieksekusi mati dan kalian itu penontonnya, pasti beda rasanya. Kalian hanya menonton, aku yang menjalani.”

Aish! Anak ini, kau mulai lagi.” Eunbyeol berdecak sambil mendudukkan diri di atas sofa. Bukan hanya Eunbi yang harus berjuang mengatasi emosi yang meledak-ledak setiap pagi, hormon kehamilan Enbyeol juga membuat gadis itu menjadi lebih tidak sabaran beberapa hari terakhir.

“Benarkah?” Eunbi meminta konfirmasi pada ketiga orang lainnya yang ada di sana. “Apa aku ‘kumat’ lagi pagi ini?”

Tuan Jang hanya mengangkat kedua bahunya lengkap dengan senyum serba salah, nyonya Jang memilih untuk tersenyum hambar, hanya Kyuhyun yang mengangguk dengan semangat di sudut kamar seakan menyetujui pendapat Eunbyeol.

“Bi-ya, kami tahu memang kaulah yang berjuang di dalam, tapi bukan berarti kau boleh mengecilkan rasa peduli kami akan kondisimu.” Sahut Kyuhyun tanpa sungkan. “Hanya karena kau kecewa, bukan berarti kami pantas memperoleh tantrummu—well, aku tidak keberatan, tentu saja—tapi jangan semprot Eommonim dan Eunbyeol seperti itu.”

“Kenapa kau membela mereka?” Tantang Eunbi panas. “Akulah yang tersiksa, Kyu! Setidaknya mereka bisa keluar dan menjalankan aktifitas hidup dengan wajar. Aku? Aku terikat di sini tanpa kepastian. Satu-satunya kepastian yang kumiliki hanyalah tumor ini terus tumbuh dan nyawaku semakin terancam setiap harinya!”

“Kau lupa menambahkan, perilakumu juga semakin menjengkelkan setiap harinya.” Tambah Eunbyeol semakin panas.

Kyuhyun melirik bergantian pada Eunbyeol dan nyonya Jang. Seakan meminta permakluman dari kedua wanita itu untuk membiarkan Eunbi memuntahkan kekesalannya.

“Kau benar-benar pria dengan stok kesabaran paling banyak.” Gumam Eunbyeol kagum.

“Itu sebabnya dia yang mendampingiku sejak awal!” Sosor Eunbi kasar pada pernyataan kakaknya.

“Ah!” Kyuhyun menepukkan tangan lalu melangkah mendekati anggota keluarga yang tengah mengerumuni kekasihnya. “Bagaimana jika kalian mencari sarapan dulu di kafetaria sementara aku bicara dengan Eunbi?”

“Apa yang mau kau bicarakan denganku? Bicarakan saja di depan mereka.” Balas Eunbi galak.

“Aku mau mengomelimu.” Balas Kyuhyun singkat sambil menggiring bahu satu per satu anggota keluarga Jang yang ada di sana.

“Eunbi-ya, eomma harus kembali ke restoran.” Ujar nyonya Jang dengan nada bersalah. “Tapi beritahu aku jika ada perkembangan, aku akan langsung datang ke sini.”

“Ng, pergilah. Aku baik-baik saja.” Balas Eunbi cuek. “Ada dan tiada kalian juga tidak ada bedanya.”

“YA! JANG EUNBI!” Hardik Eunbyeol. “KAU BOLEH SAJA KESAL KARENA OPERASIMU TERUS DIGESER, KAU JUGA BOLEH MENUMPAHKAN EMOSI ITU PADAKU, TAPI JANGAN SAMPAI KAU LUPA SOPAN SANTUN PADA IBUMU!”

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Eonni. Ada dan tiada kalian di sampingku tidak memberi pengaruh besar.” Gadis itu membalas dengan wajah datar yang sangat sinis.

“Sudahlah, Bi-ya, minta maaf pada Eomma.” Pinta ayahnya. “Byeor-i, sebaiknya kau pulang saja. Nampaknya menyatukan dua gadis kembar yang sama-sama mengalami gejolak hormon dalam satu kamar bisa membuatku gila.”

“Maafkan aku, Eomma.” Eunbi melirik pada ibunya setengah hati. “Aku hanya mencoba mengatakan yang sejujurnya.”

Ingin rasanya Eunbyeol menjitak Eunbi karena kelakuan adiknya yang kurang ajar, tapi ia harus menahan diri. Kyuhyun sudah memperingatkan mereka berkali-kali bahwa perubahan suasana hati dan prilaku Eunbi terkadang memang memancing emosi.

Nyonya Jang yang sudah belajar menerima kelakuan kasar Eunbi yang sesekali muncul hanya tersenyum tipis, wanita itu mencondongkan tubuh untuk mengecup kepala botak putrinya. “Istirahatlah, kau harus terus mengumpulkan tenaga dan tekad untuk operasi besarmu itu. Aku akan kembali lagi n anti malam setelah menutup restoran.”

“Tidak usah repot-repot, kau juga harus istirahat, Eomma. Hati-hati di jalan.” Balasnya singkat.

Seluruh keluarga Jang saling berpandangan serba salah. Di satu sisi mereka paham bahwa prilaku Eunbi yang menyebalkan itu hanyalah efek samping dari tekanan tumor pada otak bagian frontal lobe-nya yang semakin parah. Namun di sisi lain mereka juga tidak bisa memungkiri bahwa menghadapi kelakuan Eunbi saat ini telah menjadi ujian mental tersendiri—terutama untuk kesabaran mereka.

Kyuhyun mengantarkan ketiga keluarga Jang lain keluar kamar Eunbi, berbincang sebentar sambil mencoba memberi pengertian pada mereka sebelum ia melangkah kembali ke dalam kamar.

“Kau tidak ikut ‘istirahat’?” Tanya Eunbi sambil membentuk tanda kutip dengan kedua tangannya. “Sepertinya kau juga sudah lelah menemaniku.”

Pria itu menarik napas panjang. “Apa yang kau inginkan sekarang, Jang Eunbi?”

“Aku ingin dioperasi.” Jawabnya singkat. “Aku ingin berhenti merasa ketakutan seperti ini, aku ingin semua ini segera tuntas!”

“Kalau begitu cobalah untuk lebih koorperatif dengan langkah-langkah yang dilakukan Dokter Lee!” Bentak Kyuhyun. “Makan semua yang telah diresepkan untukmu dan cobalah untuk tidak memuntahkannya. Berhentilah berulah yang tidak-tidak! Sudah tahu kau sedang sakit, mengapa kau masih bersikeras mendorong kursi rodamu keluar kamar? Kau butuh banyak energi untuk melakukan operasi itu, Jang Eunbi! Dan aku tidak heran jika operasimu terus tertunda karena kau bandel.”

Kedua mata Eunbi  membelalak, dari lima hari yang mereka habiskan dalam rumah sakit, baru pagi ini Kyuhyun benar-benar meledak padanya.

“Aku tidak peduli seperti apa kau memperlakukanku, tapi tidak sepatutnya kau bersikap seperti itu pada keluargamu! Mereka sudah cukup terpukul, Eunbi-ya!” Lanjut Kyuhyun.

“Keluar.”

Ne?!

“Keluar dari kamarku.” Pinta Eunbi dingin. “Jika kau tidak mau berada di sini, tidak perlu memaksakan diri. Aku tidak masalah ditinggal seorang diri, ada banyak suster yang memantau dan aku bisa menekan tombol darurat ini jika terjadi sesuatu.”

Ya! Kau—”

“KUBILANG KELUAR!” Eunbi meninggikan suara sambil menunjuk pada pintu di samping Kyuhyun.

Pria itu mengepalkan tangan di balik punggungnya. Ia tidak menyukai perdebatan dan jelas ia harus mengontrol situasi. Tapi ia juga manusia biasa yang punya batas kesabaran. Kyuhyun tahu, jika ia tetap memaksakan diri untuk diam di kamar itu, mereka akan segera bertengkar dan efeknya akan jauh lebih buruk bagi mental Eunbi yang harus dijaganya.

“KENAPA MASIH BERDIRI DI SANA?! KELUAR!” Pekik Eunbi semakin keras.

Kyuhyun menyeringai sinis lalu mengangguk singkat. “Baiklah, jika itu maumu.”

Pria itu membalik tubuhnya ke arah pintu dan segera enyah dari hadapan kekasihnya yang sangat menjengkelkan. Tanpa sengaja Kyuhyun membanting pintu kamar Eunbi saat ia menggesernya dan sepertinya ia telah memulai daftar keributan baru dengan gadis itu.

Eunbi yang kini tinggal sendirian di dalam kamar mencoba mengatur napasnya yang menderu. Gadis itu berusaha keras menenangkan dirinya sendiri sambil berharap cemas bahwa gertakannya adi berhasil untuk mengusir orang-orang itu keluar. Memang apa yang ia lakukan pagi ini bisa dikategorikan sebagai tindakan ‘memanfaatkan situasi’, tapi ia tidak bisa menundanya lagi. Dengan berat hati ia harus memasang wajah datar dan perilaku menjengkelkan agar mereka jemu padanya, agar mereka meninggalkannya sendiri, agar Eunbi bisa melaksanakan satu hal penting yang terus tertunda.

 

 

*

 

Dengan sedikit usaha gadis itu berhasil turun dari ranjang pesakitannya. Jang Eunbi meniti langkahnya perlahan menuju tepian jendela besar yang ada di kamarnya, menggali ke dalam tas besar yang Kyuhyun bawakan untuk mencari satu perangkat yang harus ia siapkan demi melakukan misinya.

Hal pertama yang paling penting sudah berhasil ia lakukan—mengusir seluruh orang dari dalam kamarnya. Kini ia hanya perlu memanfaatkan waktu luang yang tersedia untuk meneruskan misi yang telah direncanakan diam-diam tanpa sepengetahuan Kyuhyun.

Eunbi mendudukkan diri di atas kursi roda setelah ia menyalakan handycam kecil milik kekasihnya, ia memastikan posisi dan jumlah cahaya yang masuk sesuai melalui layar kecil di sisi handycam sebelum mulai melaksanakan rencana terakhirnya.

“Selamat pagi, ini adalah hari kelima aku dirawat di sini. Kebetulan hari ini aku berhasil mengusir kalian semua dari kamarku. Sebelumnya aku minta maaf karena sudah bertindak sejauh itu untuk membuat kalian jengkel, namun jika kalian terus menjagaku, aku tidak akan mendapatkan celah untuk melakukan ini.” Buka Eunbi pada handycam yang merekamnya. “Aku meminta bantuan suster untuk mendapatkan memory card demi merekam video ini, dan aku juga akan meminta bantuannya untuk menyampaikan rekaman ini pada kalian. Sekali lagi, aku sungguh menyesal karena terpaksa melakukan ini.”

Gadis itu menarik napas dalam-dalam lalu berdeham keras sebelum melanjutkan misinya.

“Jika kalian menerima rekaman ini, artinya operasiku gagal. Artinya aku tidak cukup kuat untuk bertahan di dalam sana, dan artinya aku telah membuat kalian semua berjuang untuk sesuatu yang sia-sia. Kurasa tidak adil jika aku pergi tanpa meninggalkan pesan apapun, tapi di sisi lain, akuilah, kalian juga tidak pernah memberiku kesempatan untuk mengucapkan kata perpisahan.” Gadis itu tersenyum getir. “Setiap kali aku mulai membicarakan kemungkinan yang terburuk, kalian langsung membanjiriku dengan kata-kata positif dan semangat yang menggebu-gebu. Tentu saja aku tidak sampai hati membuat kalian sedih, maka aku mencoba untuk ikut berpikir positif. Tapi ada kalanya kita bermimpi, dan ada kalanya kita kembali menjejak ke bumi dan berpikir realistis. Nyatanya, inilah realita yang kujalani.”

Eunbi memerlukan beberapa detik untuk mengumpulkan kata-kata berikutnya.

“Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Bahwa aku takut, aku takut akan pergi tanpa pernah diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal pada kalian. Tanpa pernah sanggup mengungkapkan besarnya rasa syukur dan terima kasihku akan dukungan kalian. Sesungguhnya aku bisa saja menulis surat, tapi… seperti yang sudah kalian ketahui, aku sudah tidak bisa memengang pinsil, apalagi menulis. Jadi cara paling masuk akal untuk kulakukan adalah merekam video ini, maaf karena untuk melakukannya, aku harus menjadi sosok paling menjengkelkan agar kalian muak dan keluar dari kamarku. Sungguh, aku tidak bermaksud membuat kalian gila karena ulahku—dan ketahuilah, aku sangat sadar bahwa apa yang kukatan pagi tadi benar-benar menyakitkan hati kalian. Sekali lagi, tolong maafkan aku.”

Kedua mata gadis itu mulai berkaca-kaca, tapi ia mencoba menahan diri untuk tidak menangis.

“Aku akan mulai rekaman wasiatku ini untuk pria yang telah berjuang keras untuk membuatku sembuh kembali, untuk pria yang tengah berusaha sebaik mungkin manjaga emosinya sendiri yang selalu meledak-ledak, pria yang beberapa hari lalu meminta kesempatan dariku untuk memperbaiki diri.” Gadis itu tersenyum sendu sambil menatap lekat pada lensa. “Appa, jika kau menonton ini, artinya sekali lagi—dan untungnya yang terakhir—aku telah mengecewakanmu.”

Gadis itu mengatur napasnya beberapa saat untuk melawan rasa tercekat dalam kerongkongannya.

“Aku pernah berjanji untuk melakukan yang terbaik, aku pernah meminta padamu untuk menghargai usahaku yang akan berjuang sebaik mungkin dalam meja operasi nanti. Namun takdirku berkata lain. Ternyata aku terlalu payah. Aku sudah menyulitkanmu dengan berbagai drama yang kuciptakan sejak penyakit ini muncul, kau pun telah berjuang mati-matian untuk mengumpulkan biaya yang tidak sedikit demi kesembuhanku, tapi pada akhirnya aku kembali mengecewakanmu.”

Eunbi  mengalihkan tatapannya sejenak dari handycam untuk menahan laju air mata yang sudah mulai menggenang.

“Dalam kesempatan ini, kesempatan terakhirku, aku ingin mengungkapkan semua yang kurasakan padamu. Appa, memang kita sering cekcok dan aku sering berkata bahwa aku membencimu, tapi ketahuilah bahwa itu semua hanya racauan penuh amarah yang tidak bermakna. Kau ayahku dan selamanya kau akan tetap menjadi pahlawanku. Tidak semua momen kita lalui dengan kisah buruk, aku masih ingat jerih payahmu mengajariku untuk berenang dulu, aku masih ingat masa saat kau menggandeng tanganku masuk ke dalam kelas pertamaku, aku masih ingat saat kau membelikanku sepeda sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-5 dulu, dan tentu saja usahamu yang berlari mengejarku dan eonni dari belakang untuk menjaga kami agar tidak jatuh. Kau sosok ayah yang hebat, jangan pernah meragukan itu. Kebetulan saja kita dua individu yang berbeda—seperti yang kau katakan kemarin. Ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu, Appa. Terima kasih atas segala upayamu untuk mendidikku menjadi sosok gadis cengeng bermental baja seperti sekarang. Sekali lagi, aku minta maaf karena telah gagal dalam misi terakhirku untuk membuatmu bangga—aku yakin kau akan memaafkanku, karena aku tahu di balik sikap kerasmu, kau sangat mencintaiku.”

Eunbi menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk menghapus rasa sesak dalam hatinya. Ini baru ucapan perpisahan pertama, tapi rasanya sudah sulit untuk ia lanjutkan.

“Selanjutnya, Eomma. Eomma, maafkan aku. Aku tahu kau juga sangat terpukul dengan kepergianku. Ikatan batin kita dimulai jauh sebelum aku terlahir di dunia, aku tahu kau selalu mencintaiku tanpa syarat dan aku pun tahu kau akan merindukan momen-momen yang selalu kita lakukan setiap malam sebelum tidur—mengobrol panjang-lebar tentang apapun yang melintas dalam benak kita. Sepertinya aku tidak akan pernah tahu ending dari drama yang kita tonton bersama itu, kuharap prediksi kita benar bahwa si wanita keren itu akan meninggalkan pria brengsek yang selalu memanfaatkannya.”

Gadis itu mencoba terkikik untuk menyamarkan serak suaranya.

Eomma, kau pasti akan berkata ‘kami baik-baik saja, Eunbi-ya. Kami paham bahwa kau sudah mencoba yang terbaik, kami paham kau lelah dan mungkin ini adalah yang terbaik untukmu.’ Sebab seperti itulah sosokmu, Eomma. Seperti aku, kau selalu mencoba mencari sisi positif dari kesedihan kita. Aku sudah meminta maaf pada appa karena telah mengecewakannya lagi untuk yang terakhir kali, tapi aku belum meminta maaf padamu karena telah pergi meninggalkan segudang tanggung jawab baru padamu. Tanggung jawab yang kau pikul karena penyakitku ini.”

Gadis itu menghela napas panjang sambil mengumpulkan kata-kata yang telah ia siapkan.

“Aku tidak tahu persis dari mana kalian mengumpulkan biaya pengobatanku, tapi aku juga bisa menebak-nebak sisa aset berharga yang dimiliki keluarga kita. Eomma, kumohon apapun yang terjadi, jangan pernah jual restoranmu, bukan karena hanya itu satu-satunya sumber penghasilan kita, tapi karena aku tahu kau sangat mencintai apa yang kau lakukan. Masakanmu adalah makanan ternikmat yang pernah kumakan—percayalah, aku sudah keliling dunia mencoba masakan lain—dan kurasa sudah sepantasnya kau terus membagi kenikmatan itu dengan orang lain yang juga menikmatinya.”

Eunbi menggigit bibirnya sejenak, masih banyak yang ingin ia katakan pada ibunya namun pikirannya kosong.

Eomma, kau harus tabah, ng? Aku tahu tidak ada orang tua yang harus menyaksikan anak mereka pergi lebih dahulu, tapi aku sudah melanggar hukum itu. Aku telah menorehkan sebuah kepedihan yang sangat mendalam pada hatimu, aku tahu kau terluka, dan aku tahu kau tengah merasa hampa karena aku tidak lagi ada di sisimu untuk menemani harimu. Tapi ketahuilah, detik ini, detik kata-kata ini terucap dari mulutku, aku sudah merindukanmu. Aku benar-benar merindukanmu, Eomma. Maafkan aku yang terlalu egois dan telah menyakiti hatimu tadi. Aku terpaksa melakukannya, karena jika tidak, kalian akan tetap berada di sini dan aku tidak akan pernah bisa merekam video ini.”

Eunbi kembali mengatur napasnya yang menderu hebat.

“Ucapan terima kasih tidak akan pernah cukup untuk mengungkapkan besarnya rasa syukurku akan kehadiranmu, Eomma. Kaulah yang selalu menghapus air mataku saat aku yang cengeng ini menangis setiap menghadapi kegagalan. Kau yang mendengarkan segala keluh-kesahku sejak aku mulai berceloteh. Kau yang memelukku saat aku disakiti. Kau yang melindungiku saat aku terancam. Kau juga yang membelaku setiap kali appa memarahiku. Jelas aku tidak bisa mendeskripsikan satu per satu tindakan mulia yang sudah kau lakukan demi kewarasanku sepanjang hidup ini, tapi ketahuilah, kau adalah ibu terbaik yang bisa didapatkan anak manapun. Aku sangat bersyukur karena Tuhan mempertemukanku denganmu sejak awal. Aku sangat mencintaimu, Eomma. Aku tidak mau melihatmu menangis, jadi hapuslah air mata itu dari matamu sekarang. Kau harus mencari sisi positif dari ini semua dan bantulah keluarga Jang lainnya untuk bangkit dari kesedihan mereka. Sebab hanya kita yang ahli dalam melakukan itu dan sayangnya, hanya kau yang bisa melakukannya sekarang.”

Eunbi mencoba menambahkan senyum selebar-lebarnya ke arah kamera sebagai usaha untuk menghibur diri.

“Jang Eunbyeol, berikutnya giliranmu. Petama-tama aku minta maaf karena terpaksa harus mengingkari janjiku untuk hadir pada hari kelahiran anakmu yang pertama. Jika kau menonton video ini, artinya kau harus mencari kandidat lain sebagai ibu baptis anakmu dan aku sungguh menyesal, karena tidak bisa melihat wujud keponakanku. Byeor-i, maaf karena aku telah mendahuluimu. Aku tahu jika posisi kita ditukar, aku akan sangat marah dengan keadaan ini dan aku akan sangat sedih karena kehilangan sahabat yang telah berbagi banyak hal sejak kita masih di alam rahim. Masih banyak yang bisa kita lakukan sebagai si kembar Jang, namun sayangnya aku yang terlalu lemah ini terpaksa menyerah.”

Eunbi menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan raut wajahnya yang semakin muram. Perlu waktu beberapa saat sebelum ia kembali memaksakan wajah ceria untuk ditampilkan di depan kamera.

Eonni, kau adalah kembaran terbaik yang bisa kudapatkan. Anak-anak lain harus tumbuh seorang diri sampai kakak atau adik mereka datang, tapi aku sangat beruntung karena bisa berbagi semua cerita kita bersama. Kau adalah sahabat terbaik untuk melewati masa kecil yang menyenangkan, masa remaja yang sedikit menjengkelkan, dan masa dewasa tanggung yang ternyata sedikit sulit untuk dihadapi. Tapi aku harus meminta maaf karena peranku berhenti sampai di sini. Aku tidak bisa mendampingimu melewati masa dewasa yang sesungguhnya, aku tidak bisa membantu menjaga anakmu kelak, aku tidak bisa menjadi bibik keren tempat anakmu berkeluh-kesah kelak, dan aku tidak bisa berbagi masa tua kita bersama.”

Air mata Eunbi menumpuk semakin banyak pada pelupuk matanya, namun gadis itu masih berusaha keras untuk tidak menangis.

“Secara tidak langsung aku telah membebanimu untuk mengobati luka eomma dan appa akan kepergianku, dan aku minta maaf untuk itu. Aku tidak bermaksud egois, namun percayalah seandainya aku bisa melawan takdir, aku pasti akan melakukannya. Eonni, aku sangat mencintaimu. Banyak orang menyangka aku iri dan sirik padamu tapi kau tahu persis aku tidak merasa demikian. Tentu saja hal itu juga pengaruh dari eomma yang selalu berkata bahwa setiap anak memiliki bakat berbeda, tapi sungguh Eonni, satu-satunya hal yang membuatku iri padamu adalah fakta bahwa kau cinta pertama kekasihku. Tapi pria itu sudah menyatakan perasaannya padaku, dan kurasa segala alasan yang membuatku iri padamu telah lenyap.”

Gadis itu terkekeh pada kata-katanya sendiri yang ia anggap konyol.

“Namun jika kupikir ulang, kini aku kembali merasa iri padamu. Karena kau masih ada di sana untuk mereka. Karena kau masih mendapat kesempatan untuk membahagiakan mereka. Maka dari itu, maafkan keegoisanku yang terakhir, karena aku akan memintamu untuk terus menjaga eomma dan appa. Aku harus membebanimu dengan permintaan ini, bahwa kau harus kuat menahan kesedihanmu dan kau harus menghibur orang tua kita. Entahlah jika wajah kita yang sangat identik ini akan membuat hati mereka lebih perih atau sebaliknya, yang jelas kali ini aku memintamu untuk saling mendampingi di masa sulit ini. Tolong jangan lupakan Kyuhyun, pria itu boleh saja terlihat tegar tapi mungkin jika kau mengintip ke dalam jendela kamarnya, ia sedang menangis akibat rasa kehilangan yang teramat sangat. Ohana means family, family means nobody left behind or forgotten. Aku selalu ingat kata-kata dari kartun itu, jadi kumohon kau adalah lem perekat yang bisa menyatukan mereka semua, jagalah mereka. Maaf karena aku meninggalkan beban seberat ini padamu.”

Air mata yang menggenang pada pelupuk matanya terasa semakin berat, namun masih ada dua oknum lain yang harus ia sapa dalam video perpisahannya ini. Eunbi mengabil waktu sejenak untuk mengatur napas, berkali-kali gadis itu menatap langit-langit kamarnya agar air mata yang sudah menggenang tadi kembali tertahan.

“Minseok Oppa! Kau tidak mengira aku akan melupakanmu dalam video ini, kan? Aku tidak mungkin melewatkanmu, karena tanpa kau sadari, sesungguhnya aku sangat berterima kasih padamu. Di saat semua orang memperlakukanku seperti porselen ringkih, kau tetap membuatku merasa ‘normal’ dengan sikapmu. Aku tahu kau khawatir, tapi kau lebih memilih untuk bersikap wajar dan membuatku melupakan penyakitku sejenak.”

Eunbi mengangkat keua ibu jarinya ke arah kamera sambil menyengir lebar.

“Maaf sebelumnya karena aku juga harus mengingkari janjiku padamu. Aku tidak lagi bisa menjadi informan gelap yang sering kau jadikan tempat konsultasi untuk membahagiakan Eunbyeol, tapi biar kuberi sedikit bcoran, kakakku itu adalah gadis paling melankolis yang pernah kukenal. Kau tonton saja refrensi dari banyak drama dan film romantis, semua yang dilakukan di sana pasti membuatnya luluh.”

Rasa sedih Eunbi sedikit berkurang karena ia merasa bisa berbincang santai dengan sosok yang memperlakukannya paling netral di antara anggota keluarga lain. Eunbi seringkali menangkap raut khawatir dari Han Minseok, namun ia lebih menghargai cara pria itu memperlakukannya dengan wajar ketimbang seperti gadis pesakitan.

Oppa, sepertinya bebanmu akan sedikit berat selepas kepergianku. Karena aku sudah meminta eonni untuk menguatkan kedua orang tua kami, maka tugasmu lebih berat lagi—kau harus menguatkan Eunbyeol. Meskipun tidak secengeng aku, Eunbyeol terhitung cukup lemah dalam hal menahan air mata. Jika kakakku terlihat murung beberapa saat, cobalah untuk mencari kegiatan yang bisa menghiburnya. Eunbyeol baru kehilangan kembarannya, sosok yang ia yakini akan terus berbagi pengalaman hidup bersamanya, maka kumohon pengertian dan kesabaranmu. Sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa menepati janjiku, aku mencintaimu sebagai kakak ipar yang sangat koorperatif, dan terima kasih karena sudah menjadi bagian dari keluarga kami yang sedikit sakit jiwa ini.”

Eunbi kembali menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan pesan perpisahannya untuk sosok terpenting dalam hidupnya. Jika sejak tadi ia berhasil menahan air mata, kali ini kedua pipinya sudah basah bahkan sebelum kata-katanya dimulai.

“Kyuhyun-a. Sejujurnya aku tidak tahu apakah baterai handycam ini cukup, apakah memori yang tersemat di dalamnya akan cukup mereka segala pesan yang ingin kutinggalkan untukmu. Sebab banyak sekali yang ingin kuungkapkan padamu, masih banyak hal yang belum tersampaikan, dan rasanya aku bisa mengobrol sampai puas denganmu. Namun dari seluruh hal yang ingin kuutarakan, aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih atas kehadiranmu dalam hidupku, terima kasih atas pengertianmu, terima kasih atas kesabaranmu, terima kasih atas pengorbananmu, dan terima kasih atas hatimu. Seperti kehadiran Eunbyeol, kau juga sudah mengisi hariku sejak kedua ibu kita menghabiskan sore hari mereka berbincang sementara kita bertiga dibiarkan berlarian di taman.”

Gadis itu mengusap hidungnya yang berair cepat sebelum melanjutkan.

“Sejak kecil aku sudah mengikuti langkahmu, sejak kecil aku sudah menyimpan kekaguman padamu meskipun kau selalu jahil padaku. Kau adalah anak lelaki iseng yang sering meledekku. Kau mengolokku sampai puas waktu sepedaku masih dipasangi roda bantu, sementara kau dan Eunbyeol sudah bisa mengemudikan sepeda dengan dua roda, tapi kau juga orang pertama yang menolong dan mengobati lukaku saat aku terjatuh dari sepeda itu. Kau selalu menemukan bahan untuk meledekku, tapi kaulah orang yang membelaku jika ada anak lain mencoba menjahiliku. Seharusnya sejak dulu aku menyadari bahwa kau sangat protektif padaku, tapi kita masih terlalu kecil untuk memahami perasaan itu.”

Eunbi mengangkat sebuah foto yang sudah ia siapkan untuk pesannya pada Kyuhyun.

“Ingat gambar ini? Kau menyuruh Eunbyeol dan aku mengejarmu, tapi hanya aku yang benar-benar mengerahkan tenaga untuk pergi ke taman dan menangkapmu. Hari itu kita pulang terlalu malam, kau dimarahi ibumu dan aku dihukum ayahku di depan rumah. Tapi karena kita merasa senasib, kita hanya terkikik geli sampai kita dipanggil masuk untuk makan malam. Ah, bertapa aku merindukan kepolosan itu. Aku pun ingat, meskipun kau selalu mengagumi Eunbyeol dari jauh, kau juga tetap menjagaku dalam diam. Di saat seorang lelaki di sekolah kita menawariku untuk naik sepedanya demi mengantar pulang, kau langsung menarik tanganku dan memboncengku di balik sepedamu. Seharusnya kita tahu, sejak dulu batin kita memang telah terikat.”

Lagi-lagi air mata mengalir bebas di atas pipi Eunbi.

“Maafkan aku, karena dari seluruh rencana yang kusampaikan padamu, aku tetap merahasiakan rencana terakhir ini. Aku tidak akan pernah bisa melakukan rekaman ini jika kau mengawasiku, aku pun yakin kau tidak akan membiarkanku merekam kata perpisahan ini, karena kau ingin percaya bahwa operasiku akan sukses. Tapi tetap saja, Kyu, aku harus mempersiapkan yang terburuk—maaf karena aku terpaksa mengusirmu dari kamar ini dengan kasar.”

Tanpa sadar Eunbi sudah terisak hebat, kata-kata yang ia ucapkan semakin tidak terdengar jelas seiring pesan terakhirnya untuk Kyuhyun disampaikan. Gadis itu mencoba menenangkan diri sejenak, mencoba mengatur kembali napasnya agar apa yang ia katakan bisa diterima jelas oleh pria itu.

“Rasanya tidak adil jika aku harus mengucapkan selamat tinggal padamu di saat kisah indah kita baru dimulai. Kau memang bukan pria paling romantis, tapi kau pria terbaik yang bisa kudapatkan. Kurasa aku punya keahlian lain yang tersembunyi selama ini, yaitu aku bisa membaca karakter orang dengan baik. Kurasa itu alasan mengapa aku selalu menmbuntutimu, mengapa aku pantang menyerah mendekatimu, dan mengapa aku bersikeras terus berada di sisimu. Kyu, maaf karena aku tidak bisa memenuhi janji-janiku, maaf karena banyak dari halaman buku keramat kita akan tetap kosong selamanya, maaf karena aku tidak sempat meyaksikan kelulusanmu, maaf karena aku tidak akan pernah bisa mengantarkanmu masuk wajib militer nanti, dan maaf karena aku tidak bisa turut membesarkan Cappy bersamamu.”

Tangis Eunbi mendadak pecah. Kelebat bayangan akan hal-hal penting yang harus ia lewatkan karena alasan takdir terasa begitu menyakitkan baginya.

“Ya Tuhan, aku sudah sangat merindukan Cappy, padahal aku baru tidak bertemu dengannya selama lima hari.” Tambah Eunbi.

Ia menikmati rasa pedihnya sejenak dan menyalurkannya lewat tangis yang semakin jadi.

“Kyu, aku sangat mencintaimu. Kurasa aku lebih mencintaimu daripada aku mencintai diriku sendiri. Aku rela megorbankan banyak hal untukmu, aku rela disakiti olehmu, namun ironisnya, justru saat ini aku yang melakukan itu padamu. Jika posisi kita dibalik, aku yakin saat ini aku akan tenggelam dalam kepedihanku. Aku percaya akan sulit sekali mengangkat tubuhku untuk bangkit di setiap pagi untuk menyambut hari baru. Aku tahu persis bahwa setiap malamku akan dihabiskan dengan tangisan panjang sampai aku tertidur dan memimpikanmu. Aku pun tahu, mungkin hal itulah yang sedang terjadi padamu. Untuk kekacauan yang kutimbulkan dalam hidupmu, aku sungguh minta maaf.”

Gadis itu mengusap air mata di atas wajahnya dengan kasar, sadar bahwa durasi baterai handycam itu mungkin akan segera habis.

“Terima kasih, Cho Kyuhyun. Untuk segalanya. Maafkah aku yang tidak mampu membalas budi baikmu, maafkan aku yang terus mengingkari janji kita, maafkan aku yang terlalu lemah untuk bertahan. Ketahuilah, setiap detik yang kuhabiskan bersamamu adalah momen terbaik dalam hidupku. Kuharap kau tidak akan tenggelam terlampau lama dalam kesedihanmu, kuharap kau akan melanjutkan studimu sesuai dengan cita-citamu, dan meskipun sangat sulit bagiku mengatakan ini, kuharap suatu hari akan datang wanita hebat yang mampu memenuhi seluruh mimpi-mimpi yang kau tuliskan dalam buku keramat edisi kedua kita. Maaf karena belum ada satu hal pun yang sanggup kukabulkan untukmu.”

Jang Eunbi menengadahkan kepalanya kembali ke langit-langit, air mata mengalir bebas dari sudut matanya dan ia tidak kuasa menahan emosi pilu yang menyerangnya.

“Pada akhirnya aku minta maaf karena kalian semua terpaksa menyaksikan ini. Terima kasih karena sudah mendampingiku, terima kasih atas cinta yang kalian limpahkan dalam masa tersulitku, terima kasih atas segala kesabaran yang terus tercurah meskipun aku sudah menjadi sosok menjengkelkan. Maaf karena aku mengecewakan kalian, aku sungguh menyesal.”

Gadis itu menghabiskan beberapa saat untuk menumpahkan tangis yang terus tumpah tanpa bisa dikendalikan. Memang berat rasanya ditinggalkan orang yang kita cintai, namun ternyata menjadi orang yang akan meninggalkan mereka tidak kalah beratnya.

“Aku akan mematikan rekaman ini, ng? Sekali lagi, maafkan aku. Aku sanagt mencintai kalian.” Eunbi mengulurkan lenganya untuk menekan tombol on/off dalam handycam itu. Cukup sudah ia mengutarakan salam perpisahannya. Ia tidak lagi sanggup menghabiskan waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang yang terlalu dicintainya.

.

.

.

Tanpa sepengetahuannya, Cho Kyuhyun juga tengah membekap mulutnya sendiri dari balik pintu kamar rawat Eunbi yang ia buka perlahan. Pria itu harus menggigit bibirnya puluhan kali untuk menahan tangisnya sendiri, namun ia pun tidak sanggup menahan kesedihannya. Kyuhyun hanya keluar sejenak untuk menenangkan diri dari tantrum kekasihnya, tidak pernah ia sangka bahwa kelakuan menjengkelkan Eunbi yang kelewat batas pagi ini memang disengaja agar mereka semua pergi. Tidak pernah pria itu mengira Eunbi berniat merahasiakan rencana terburuk ini seorang diri.

Inikah alasan Eunbi bersikap aneh beberapa hari belakangan? Karena gadis itu berusaha keras untuk menyingkirkan seluruh anggota keluarganya? Demi merekam kata perpisahan terakhirnya? Sebagai rencana pamungkas kala seluruh usahanya gagal?

Dengan sisa tekad yang masih melekat dalam dirinya, Kyuhyun menyingkir dari tempat itu. Ia tahu persis kemana langkahnya menuju, pria itu sudah mempertimbangkan tindakan yang akan ia lakukan berkali-kali. Seperti biasa, Kyuhyun sudah memiliki rencana matang untuk masa depan mereka, namun lagi-lagi Tuhan mempermainkan takdir keduanya. Jika Eunbi ingin mencurangi rencana Tuhan, maka Kyuhyun akan mencoba melakukan hal yang sama, dengan caranya sendiri.

Pria itu tiba di rumah kekasihnya kurang dari satu jam kemudian, ia tahu sosok yang ia cari pasti ada di dalam dan kemungkinan besar sedang memeras otak untuk mengumpulkan dana tambahan demi operasi putrinya. Tapi bukan itu yang Kyuhyun pikirkan, ada yang lebih sakral bagi dirinya dan Eunbi.

“Kyuhyun-ssi? Mengapa kau di sini?” Sambut pria paruh baya yang membuka pintu rumah.

Abonim, aku… Aku punya sebuah permintaan untukmu.” Pria itu menatap ke dalam mata tuan Jang dengan tekad bulat.

“Katakanlah.”

 

 

tbc…


author’s note:

Bagi yang bingung apa urusan tumor otak sampai ngerubah kepribadian, silakan baca ini ya… https://biau.org/about-brain-injuries/cognitive-skills-of-the-brain/ (bagian frontal lobe). Kalau malas baca, ya logika aja deh, semua yang ada dalam tubuh kita dikendalikan di mana saudara-saudara? Nah, jawab aja sendiri ya, yang jelas banyak organ yang bisa dicangkok, tapi pengcangkokan otak belum ada (well, baru mau dicoba lebih tepatnya tapi belum dilaksanakan) hahaha… Bagi anak IPA, udah paham ya fungsi otak kanan-kiri, otak besar, otak kecil, medula oblongata, dll. Buat yang bukan anak IPA, ya dibaca aja linknya biar aku nggak harus jelasin apa yang bisa di-google dengan cepat, jangan males baca kalau memang penasaran. *Jiwa dosen yang males (dan jengkel) ditanyain tentang sesuatu yang obvious terpanggil nih ;p

 

Advertisements

71 thoughts on “Truth Within – 14 [Allow Me to Say This]

  1. Seo HaYeon says:

    Kok kayanya Kyu dtg kerumah ortunya Eunbi mw mnt izin bwy nikahin eunbi??? Omooo……. hatiku linu bacanya kak hohoho…. pesannya eunbi pnjg bgt, smpai2 q bnr2 ga bisa bca dg betul klo g pelan2.. hukz hukz sedh bener ini eommaa….. tp gpp ql kyu emg mw nikahin eunbi q nya setuju aja lah … 😄😄😄😄😄

    Liked by 1 person

  2. Devi ra says:

    Permintaan apa kyuhyun ,jangan2 minta restu lagi buat bsa menikah sma eunbi.nyesek baca rekaman perpisahan eunbi,gak mau bca tpi penasaran,akhirnya kya ada yg nyangkut di tenggorokan.

    Liked by 1 person

  3. OngkiAnaknyaHan says:

    yakin
    kyuhyun datengin rumahnya eunbi mo nikahin eunbi
    kalo iya jangan dibikin sad end
    jangan sad end !!!!

    iya juga sih , sempet mikir kek gitu juga
    kenapa tumor otak bisa mempengaruhi emosi
    ternyata ya memang semua dijalankan otak

    Liked by 1 person

  4. ladybook123 says:

    Kata2 perpisahan itu plg susah buat di ucapin…. eunbi bs selesaiin rekaman itu. Memang dia gadis yg tangguh…

    Hmmm seems like ada yg mo minta restu nih.. benarkah?

    Liked by 1 person

  5. Kyuyang says:

    Kira kira kyuhyun mw ngomong apa ya sma cho abonim
    Apa mw nikahin eunbi?
    Apa mw bawa cappy ke eunbi?
    Masih banyak kemungkinan yg bakal terjadi, eunbi ah kuat dong
    Yakin pasti operasi nya berjalan dengan lancar

    Liked by 1 person

  6. rise73 says:

    Mungkinkan rencana kyuhyun buat melawan takdir .. nikahin eunbi, dia nemuin appa nya eunbi buat minta restu gitu yah ..
    Ikutan tegang nunggu operasinya ..

    Liked by 1 person

  7. kaililaa says:

    Setelah sekian lamaa, akhirnya aku bisa bacaaa yeay! Pas kakak post di ig aku bilang langsung ke blog, emang lngsung meluncur sih, tp belom sempat baca. Setelah bacaa. Gak mengecewakan seperti biasanyaa, bener-bener puas setelah tau sisi lain dari Jang Eunbi. Karena selama ini Eunbi bener-bener tegar dan sekarang ternyata bener setiap orang itu memang punya sisi sebtimental hihihi. Ditunggu kelanjutannya kak, semangatt!! I rock youuu full

    Liked by 1 person

  8. Utusiiyoonddict says:

    Aku udah ngira kyu bakal liat tanpa sepengetahuan eunbi duuh nyess bgt da. Apakah kyu minta rwstu /ijin buat nikahin eunbi???. Aah penaaaran ama next part nya bu

    Liked by 1 person

  9. miran yang says:

    Aku udah baca, tapi belum sempat komen seperti nya di chapter ini.. daaaann uuuuh mewek aampun laa pokoknya.. entah karena disini beneran full ceritain si eunbi nya buat video tentang pesan nya nanti, makanya jadi fokus banget baca nya tentang itu, ato karena memang cara nya eunbi itu makanya jadi bener bener kerasa sedihnya, dan sukses yang baca pada mewek yak.. hehehehe sukses deh kakak yaah..
    Hwaiting ^^

    Liked by 1 person

  10. Lovecho says:

    Berlinang air mata aku baca part ini wkwkwk
    Dengan perjuangan yg sulit dan dgn keegoisan yg sengaja eunbi munculkan dia berusaha keras untk buat rekaman video itu..
    Rekaman perpisahan yg menyayat hati.. rekaman yg eunbi harap bisa membuat mreka yg menyayanginya berbesar hati seandainya eunbi tidak keluar dlam keadaan selamat atau mngkin keluar dgn bnyak keadaan dan efek smping yg mgkin sulit di terima keluarganya.. asli mewek baca part ini

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s