Lovely Youth – Lost

lost

*Gambar milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Romance, Fluff, Friendship

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

 

Author’s note (Ditaro di atas biar dibaca, jadi baca dulu, plis! Don’t skip it):

Buat yang udah follow IG aku dan sempet liat di IG story mungkin udah baca kali ya bahwa aku pengen banget bikin kisah masa lalu couple ini (efek ngedit POR demi Give Away terus jadinya kangen banget sama Kyu-Sera) hahaha… Buat yang belum follow IG aku, boleh loh di-follow (kalau berkenan mendapat update tentang postingan tentu saja) di @s.pinasthika ntar aku follow balik ;p

Jadi, karena dari seluruh couple yang aku pasangin di blog ini aku paling sayang sama Kyu-Sera, rasanya tuh nggak ada habisnya ngayal tentang mereka, aku jadi masih kebayang terus untuk bikin cerita tentang mereka. Aku juga selalu mikir bikin prequel buat kisah Kyu-Sera, supaya jelas gitu loh masa lalu mereka se-sweet apa dan supaya jelas juga kenapa si Kyu jadi sakit hati banget pas ditinggal kawin hahaha.

Mungkin yang eneg sama cerita couple ini banyak, tapi mungkin untuk pertama kali banget, aku bener-bener nggak peduli apa kata pembaca yang bisa saja membawa hawa-hawa negatif buat mood aku karena nggak cocok sama cerita yang aku posting. Bukan gimana-gimana, ada kalanya seseorang harus melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri, and i’m writing this story for myself this time. Kalau tulisan ini bisa menghibur yang lain, alhamdulillah, kalau memang membosankan, ya di close saja window WPnya. Okeh? Kalo nggak cocok, nggak usah rusuh ya…

Buat yang bingung, Kyu-Sera hadir di cerita Piles of Regrets, dilanjutkan dengan sequelnya Stupid Anxiety. Nah, mungkin judul ini hanya akan berisi prequel kisah-kisah pendek mereka aja sih yang timelinenya random dan jelas waktu postingnya juga se-random mood yang muncul hahaha.

 

————————————————————————–

 

Pria itu menggeliat sejenak sebelum mengulurkan lengan untuk meraba-raba nakas kecil di sisi ranjang demi mencari kaca mata tebalnya. Setelah objek penyelamat kecil yang ia cari bertengger mantap di atas hidung, Cho Kyuhyun menyingkap selimut tipis yang membungkus tubuhnya lalu dengan enggan ia mempersiapkan diri untuk mandi.

Tidak perlu usaha banyak, denah kamarnya yang sangat kecil tentu memudahkan pria itu berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya dalam satu langkah, namun hal itulah yang mulai menjadi kendala. Sebagai mahasiswa hukum yang merantau ke Inggris berbekal beasiswa pemerintah, tentu saja Kyuhyun tidak mendapat uang tunjangan cukup besar untuk dihabiskan pada bidang properti. Ia harus membeli banyak buku, ia harus mengisi perut, dan tentu saja bertahan hidup sekurang-kurangnya empat tahun tanpa menemui keluarganya di Seoul. Empat tahun terdengar berlebihan memang, tapi pria ini bukan anak yang hadir dari keluarga dengan harta berlimpah yang mampu membeli tiket bolak-balik London-Seoul berkali-kali dalam setahun.

Ayahnya bekerja sebagai pegawai di perusahaan swasta dan ibunya memberikan kursus menjahit di waktu luang. Mereka tidak kekurangan, tentu saja. Selama ini Kyuhyun bisa hidup nyaman dalam rumahnya di pinggiran kota Seoul, pria itu bisa makan enak, ia bisa melakukan hal-hal yang umum dilakukan anak lulusan SMA seusianya. Tapi ketika ia harus pindah menuntut ilmu ke sebuah negara dengan biaya hidup tinggi, hal itu menjadi tantangan baru untuknya bertahan—sebab layaknya kebanyakan anak lelaki, ia memiliki gengsi besar untuk tidak membebani kedua orang tuanya.

Kembali pada ruangan kecil tempatnya bernaung, Cho Kyuhyun sudah tinggal beberapa minggu di tempat ini. Masa orientasi mahasiswa baru sudah dilalui dan kini ia tengah disibukkan dengan masa adaptasi dengan dunia baru perkuliahan yang benar-benar berbeda dari SMA. Pria itu juga harus berjuang untuk mendapatkan seorang teman yang setidaknya bisa diajak bertukar buku catatan, karena sejauh ini, Cho Kyuhyun yang kurang supel itu masih kesulitan bersosialisasi dalam lingkungan yang benar-benar baru.

Tuntas berpakaian, pria itu mengoles butter ke atas roti yang sudah bantet dan memakannya segera, lalu berangkat menuju kelas pagi yang menantinya. Ia harus berangkat jauh lebih pagi dari kawan-kawannya yang lain karena beberapa hal, namun alasan yang paling solid adalah sebab kamar sewaannya terletak di pinggiran kota London bagian timur di dekat bandara, sementara kampusnya terletak di Greenwich. Pria itu harus berganti bus merah dua kali dan jalan kaki cukup jauh sebelum ia bisa mencapai lokasi kampusnya.

.

.

.

Kelas pagi berjalan lancar, namun muncul masalah harian yang selalu ditemui pria itu—makan siang. Memiliki pribadi yang kurang pandai bergaul, disempurnakan dengan uang saku pas-pasan, tentu Kyuhyun selalu mencoba menyingkir sedikit dari lingkungan kampus demi mencari makanan dengan harga bersahabat. Masalah yang ia sendiri akui sebagai dasar mengapa ia semakin kesulitan mencari teman.

Pria itu berjalan menuju gerbang besar yang menuntunnya keluar, tidak biasanya jalan setapak menuju gerbang dipenuhi mahasiswa sebanyak ini, Kyuhyun harus menyelip di antara kerumunan manusia dan langkahnya tertahan karena banyak mahasiswa berkumpul menutupi gerbang bagian depan. Suara gaduh terdengar dan aroma berbagai jenis makanan mengudara di sekitarnya. Pria itu sudah bisa menebak pasti ada event kampus yang menghambat jalan keluarnya.

Karena penasaran, pria itu melongok sedikit untuk melihat acara yang sedang dilangsungkan di sana, ternyata ada sekelompok mahasiswa membuka booth makanan. Entah dari kelas mana mereka datang, yang jelas tempat itu rebut sekali karena setiap kelompok mencoba menjual makanan mereka dengan cara yang berbeda-beda.

“Ah, paling-paling harga makanannya jadi jauh lebih mahal lalu rasanya juga pasti sama saja seperti makanan di toko luar.” Kyuhyun bergumam sejenak.

Pria itu melanjutkan langkahnya sampai tiba-tiba hidungnya menghirup aroma familiar yang langsung membuatnya merasa rindu akan rumah, wangi sup kimchi. Pasti ia berhalusinasi. Pasti ia terlalu merindukan ibunya dan juga terlalu merindukan makanan Korea yang umumnya dijual dengan harga tidak masuk akal di kota ini. Tapi tidak, setelah mengendus ulang beberapa kali, memang apa yang diterima indera penciumannya itu benar.

Kyuhyun mendekati booth-booth mahasiswa itu, sambil memincingkan mata lewat kaca mata pantat botolnya untuk mencari booth mana yang berani menggoda imannya untuk jajan siang ini. Lalu matanya terpaku pada satu sosok mengagumkan yang seketika mencuri hatinya.

Seorang gadis berambut panjang terlihat tengah menyiapkan beberapa porsi sup ke dalam gelas-gelas kecil. Parasnya sempurna, dengan wajah tirus dan kulit berkilau, rambut sebatas pinggang yang tergerai indah di balik punggungnya. Di antara kawan-kawan Kaukasianya yang juga mengisi booth makanan Asia, jelas gadis itu terlihat seperti dewi. Dibalut dengan kaos putih yang jatuh pas pada tubuhnya yang indah dan sebuah rok bermotif bunga-bunga di atas lutut yang terlihat sangat sederhana namun memukau, sukses membuat rahang bawah Cho Kyuhyun terbuka begitu saja.

Gadis itu memasang senyum ramah sambil mengajak banyak orang untuk mencicipi makanan dalam booth-nya. Jika booth-booth saingan mereka menjual dengan cara membuat spanduk atau berteriak-teriak heboh, booth yang dimiliki gadis ini dan beberapa temannya menjual dengan cara yang lebih royal. Mereka membagi-bagikan sampel sup kimchi dalam gelas-gelas kecil, tidak lupa menyajikan banchan yang ditaruh dalam pisin-pisin mungil sebagai pelengkap.

Tanpa sadar langkah Kyuhyun berjalan mendekati booth itu, perhatiannya tidak lagi tertuju pada sup-sup kimchi yang sebelumnya terlihat menggiurkan, namun pada gadis yang sedang membagikan sampel pada siapa pun yang lewat di depan sana.

Would you like to try some also? I made it myself, I’m a Korean girl myself. Trust me, it tastes as original as it should!” Sambut gadis itu dengan mata berbinar-binar pada Kyuhyun.

Dengan ekspresi bodoh, pria itu menyambut gelas kecil berisi sampel sup kimchi lalu menyeruputnya tanpa melepas tatapan dari sosok indah yang tengah memperhatikannya baik-baik.

“Wah! Jeongmal masisseoyo!!” Bisik pria itu.

“Ng? Kau orang Korea?” Gadis itu menunjuk wajah Kyuhyun dengan mata terbelalak senang. “Maaf aku tidak menyadarinya karena terlalu ramai.”

Kyuhyun mengangguk canggung, kepalanya kosong karena ia terlalu terpana diajak biacara oleh gadis secantik itu.

“Kenalkan, namaku Sera. Han Sera. Aku mahasiswi angkatan 2006, fakultas bisnis dengan jurusan marketing.” Lanjut gadis itu ramah.

Kyuhyun menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal salah-tingkah. “Ah… ki—kita seangkatan kalau begitu. Aku juga mahasiswa baru.”

Mereka terdiam sejenak, gadis itu mengangkat kedua alisnya bingung karena menunggu pria kikuk di hadapannya untuk memperkenalkan diri, tapi nampaknya pria itu masih tetap melamun. “Maaf, namamu…”

“Ah! Aku Cho Kyuhyun.” Pria itu membungkuk cepat. “Aku di fakultas hukum.”

Gadis itu tersenyum lebar sambil sedikit membungkuk. “Senang bertemu denganmu, Kyuhyun-ssi. Kukira aku satu-satunya orang asing di sini.”

Pria itu menggigit bibirnya bingung, matanya terlalu sibuk mengagumi sosok Sera sementara otaknya memaksa untuk berpikir kerasa agar obrolan mereka terus berlangsung.

“Kau mau membeli sup kimchi ini?” Tawar Sera polos. Memang ia senang bertemu teman satu negara di tempat asing ini. Tapi ia tidak boleh melupakan tugas dari profesor mereka untuk mencari profit dari praktik jualan kecil-kecilannya yang pertama.

“Ng, berapa harganya?”

“Dua setengah pound.” Balas Sera dengan senyum lebar.

Pria itu menghela napas, itu biaya yang ia budgetkan untuk makan siang dan malam di sana. Tapi kapan lagi ia bisa menikmati sup kimchi otentik dengan gadis jelita seperti ini. Tanpa ragu, pria itu merogoh ke dalam kantung jinsnya yang kebesaran, mencari tiga keeping koin untuk diserahkan pada Sera.

“Kemarilah, kau bisa duduk di belakang booth kami.” Sera mengarahkan tangannya pada hamparan tikar di belakang booth mereka. “Sebentar, biar kuambilkan.”

Kyuhyun menurut saja, matanya tidak lepas dari sosok Sera yang tengah mengambil satu porsi sup kimchi untuknya. Sementara menunggu, pria itu lalu melihat satu lagi barang langka yang jarang ia temui pada restoran-restoran terjangkau di London—nasi. Sebuah rice cooker berukuran sedang terpajang di sana, namun di atas rice cooker itu juga ada label harga yang cukup membuat dompet pria itu menjerit.

“Ini makananmu.” Han Sera datang mendekat sambil menyajikan semangkuk besar sup kimchi dan beberapa pilihan banchan. “Dan ini, makanlah nasi ini. Anggap sebagai hadiah perkenalan dariku.”

Mulut Kyuhyun ternganga kagum, apa gadis ini baru membaca pikirannya?

“Jangan melamun, Kyuhyun-ssi. Makanlah, jangan ragu jika kau ingin tambah.” Kikik Sera, lalu gadis itu mendekat agar bisa sedikit berbisik di dekat telinga kyuhyun. “Pastikan kawan-kawanku tidak tahu bahwa aku memberi servis khusus padamu karena aku menemukan teman sebangsa di sini.”

Pria itu tersenyum hangat. “Teman?”

“Ah, maaf. Bukan maksudku lancang. Maksudku, kita kan…”

“Kau mau jadi temanku?” Tanya Kyuhyun tanpa berpikir lebih jauh.

Mata coklat Sera berbinar senang. “Tentu saja. Aku rindu sekali bicara dalam Bahasa ini. Memang baru beberapa minggu aku pindah ke tempat ini, tapi rasanya lelah sekali selalu bicara dengan bahasa Inggris pada semua orang yang kutemui.”

Kyuhyun terkekeh. “Aku tahu persis perasaan itu.”

“Benarkah? Apa kau juga satu-satunya orang Korea di fakutasmu? Di fakultasku ada satu gadis dari Jepang dan satu pria dari Thailand, banyak orang mengira kami semua sebangsa–karena sama-sama dari Asia.” Sera memutar matanya kesal. “Tapi kau tahu persis satu ras bukan berarti kita saling mengerti bahasa satu sama lain, bukan?”

“Ng, di kelasku ada seorang pria dari Hongkong. Tapi sama seperti kasusmu, stereotipe bahwa semua orang Asia berbahasa sama juga menyerangku.” Balas Kyuhyun antusias.

“Ah, aku senang sekali bertemu denganmu hari ini.” Gadis itu menggosok-gosokkan kedua tangannya karena terlalu senang. “Kau tinggal di asrama mana, Kyuhyun-ssi?”

“Panggi aku Kyuhyun saja.” Sahut Kyuhyun. “Aku tinggal di dekat bandara.”

Kedua mata Sera membelalak lebar. “Bandara? Heathrow?”

Pria itu menggeleng. “London City Airport.”

“Tetap saja itu jauh dari kampus ini. Mengapa kau tinggal jauh sekali?” Tanyanya heran sekaligus prihatin.

“Aku belum sempat mencari tempat tinggal yang lebih dekat.” Kilah Kyuhyun. “Aku baru tiba beberapa hari sebelum masa orientasi dimulai.”

“Ah…”

“Kau tinggal di asrama?” Pria itu mencoba mencari topik obrolan yang sangat terdengar seperti basa-basi.

Sera mengangguk. “Asrama putri di bagian barat kampus ini.”

Pria itu mengangguk-angguk tanpa tahu harus menanyakan hal apa lagi agar pembicaraan mereka tetap berlangsung dua arah.

“ Kyuhyun-ssi, aku harus membantu kawan-kawanku. Makanlah, kau bisa tetap duduk-duduk di sini jika sudah selesai atau mau menghabiskan waktu untuk menunggu kelas berikutnya.” Sera menepuk pelan bahu Kyuhyun. “Cheoncheonhi mogo, ne?

“Terima kasih, Han Sera.”

.

.

.

Makanan Kyuhyun sudah habis (bahkan sudah ditambah diam-diam oleh Sera yang salut dengan kecepatan Kyuhyun menghabiskan porsi nasi pertamanya), tapi pria itu tidak beranjak dari tempat itu. Ada bagian dalam dirinya yang merasa bahwa ia harus tinggal sambil mengamati gadis itu dalam diam. Sebagian dirinya percaya, jika ia melepas pandangannya dari gadis itu, mereka tidak akan bertemu lagi dan Kyuhyun tidak mau itu terjadi.

“Kau mau porsi sup terakhir ini?” Tawar Sera yang sudah selesai berberes saat matahari terbenam.

Pria itu menggeleng. “Kau saja yang habiskan, seperti kau terllau sibuk berjualan sampai tidak sempat makan.”

Gadis itu mengangguk sekilas lalu mulai menyesap sup kimchi dalam mangkuk yang ia pegang. Kyuhyun mencoba untuk tidak membuat Sera risih, pria itu mencoba mengalihkan pandangannya pada sebuah buku catatan tebal yang sejak tadi ia pelajari.

“Kyuhyun-ssi, apa kau kerasan di sini?” Tanya Sera tiba-tiba.

“Sejujurnya, belum.” Balas Kyuhyun jujur. “Semuanya bergerak terlalu cepat untukku.”

Gadis itu mengangguk setuju. “Aku tidak tahu apa yang kupikirkan sampai ingin kuliah di luar negeri. Kukira akan seru, ternyata menahan rasa rindu pada orang tuamu menyiksa sekali.”

“Aku setuju.” Jawab Kyuhyun canggung. “Aku juga mulai merindukan masakan ibuku.”

Sera tersenyum tipis, sambil menyerahkan sekaleng termos yang sudah disiapkannya untuk Kyuhyun. “Ini, bawalah. Aku membekalkan seporsi sup kimchi untuk kau bawa pulang.”

Pria itu memandang tidak percaya pada termos berukuran sedang yang Sera berikan padanya. “Kau tidak perlu…”

“Aku juga mahasiswi perantau, Kyuhyun-ssi. Aku tahu persis seperti apa rasanya tersiksa menahan rindu pada hal-hal yang familiar.” Sera juga meletakkan sebuah kotak bekal di samping termosnya. “Jangan lupa habiskan nasimu, pasti kau lupa membawa rice cooker dari Korea, kan? Seharusnya benda itu adalah benda pertama yang kau bawa setelah pasport!”

Kyuhyun tertawa. “Apa kau membawanya?”

“Ng, tentu saja. Ayahku mencarikan rice cooker berukuran sedang yang masuk ke dalam koperku saat aku pindahan.” Sahut Sera senang. “Dan jika kau rindu makanan Korea, aku bisa memasakkan beberapa untukmu. Hanya sedikit resep yang kutahu, tapi sepertinya lumayan untuk sekedar melepas rindu akan makanan rumah.”

Sejak hari kedatangannya di London, mungkin hari itu adalah hari terbaik untuk Cho Kyuhyun. Belum pernah hatinya terasa sehangat ini. “Kau baik sekali, Han Sera.”

Gadis itu mengangkat kedua bahunya. “Kau terlihat seperti pria baik yang kehilangan arah, sama sepertiku. Sesungguhnya sikap baikku padamu terhitung pamrih.”

“Karena?”

“Karena aku berharap kau sungguh-sungguh mau menjadi temanku.” Balas Sera dengan kekehan riang.

“Tentu saja, aku juga duduk di tempat ini sampai kau selesai dengan harapan bisa berbincang lagi denganmu setelah kau tidak sibuk.” Kyuhyun mengejutkan dirinya sendiri karena berkata terlalu jujur.

Tawa Sera pecah. “Kukira kau duduk di sini mengharapkan porsi sup lainnya.”

“Itu hanya bonus.” Balas Kyuhyun dengan cegiran lebar.

“Baiklah, senang berkenalan denganmu, Cho Kyuhyun.” Sera mengulurkan tangan untuk menjabat Kyuhyun santai. “Kuharap pertemanan kita akan bertahan selamanya.”

Kyuhyun menjabat balik tangan Sera lengkap dengan senyum canggung pada wajahnya. “Aku pun berharap demikian, Han Sera.”

 

***

 

*not sure if ‘tbc’ fits into this. Because it will be series of short stories, not something continuing like any other stories of mine. ;p

Advertisements

57 thoughts on “Lovely Youth – Lost

  1. kaililaa says:

    Pantes Kyu suka banget sama Sera, orang lagi rindu-rindunya sama hal-hal berbau Korea, eh orang Korea beneran yang nongol hahahaa. Baru sempat baca setelah sekian lama, kak. Oyaaa semoga ada series lainnya (setelah 2 series yang udah di post), ya, kak. Semangat!!

    Liked by 1 person

  2. gaerriszrye says:

    Aih! Saya jadi ingat perkataan kyuhyun diacara apa ya? Masak dia bilang gini ..
    Aku selalu risau dan gelisah saat ditempat umum, saat menyebrang jalan, saat naik transportasi umum, .. Bisa saja saya sedang bertemu takdirku pada saat itu .. Memikirkannya mebuat hatiku berdebar ..
    .
    Nah! Ada yang ingat kyuhyun ngomong begini diacara apa???
    Heeem .. Kakak jagonya bikin saya baper!
    Emang dasarnya baperan kali ya!
    .
    Kyu-Sera sukaaaa banget! Apalagi pas kehidupan mereka setelah menikah^^
    Eh, ternytaaaaaa kehidupan setelah berkenalan jauuuh menjadi kesukaanku nih sekarang^^
    I Love You Kakak!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s