Truth Within – 13 [Every Step of the Way]

 

 

13 eunbi

*Gambar milik Kang Taeri

 

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

Jang Eunbi terduduk pasrah saat tuan Jang mendorong kursi roda masuk ke dalam kamar rawat yang akan segera menjadi rumahnya dalam beberapa waktu ke depan. Hanya satu minggu setelah pria paruh baya itu membiarkan anak-anaknya berlibur, tuan Jang sudah berhasil mengumpulkan uang muka untuk melanjutkan proses kesembuhan Eunbi.

Meskipun tuan Jang berkata tidak sepatutnya Eunbi memikirkan perkara biaya di saat dirinya harus fokus untuk sembuh, tetap saja gadis itu tidak bisa mengabaikan fakta akan absennya mobil mereka dari garasi. Mungkin untuk uang muka yang harus dibayarkan segera, mobil adalah opsi pertama dan tercepat untuk dijual oleh ayahnya. Membayangkan sisa jumlah biaya yang mereka butuhkan saja sudah cukup membuat Eunbi ciut, ia pun tidak berani berspekulasi mengenai sisa dana yang masih harus dicari pria itu untuk melunasi semuanya.

“Kau memiliki kamar ini seorang diri, jadi appa pastikan privasimu tetap terjaga.” Ujar pria itu kaku.

“Terima kasih karena sudah mempertimbangkan kenyamananku, Appa.”

“Mengapa masih merengut seperti itu? Kau kecewa karena hanya appa yang mengantarmu?” Tebak tuan Jang.

Sejak pagi saat ia memapah Eunbi menuju taksi yang menunggu, putrinya sudah menolehkan kepala ke berbagai penjuru rumah, seakan berharap ada orang lain yang menemaninya ke rumah sakit selain sang ayah. Nyatanya, nyonya Jang harus bekerja lebih keras lagi agar bisa membayar cicilan hasil penggadaian restoran mereka. Eunbyeol harus bekerja, lalu Kyuhyun pun terpaksa tidak bisa ikut serta pagi ini karena harus mengurus masalah mendadak terkait dengan beasiswanya yang sempat ia lupakan beberapa bulan terakhir.

“Aku hanya masih linglung, Appa. Kurasa pindah dari kamarku yang nyaman ke dalam kamar rawat ini membutuhkan sedikit penyesuaian.” Sanggah Eunbi.

Tentu saja ia sedikit kecewa karena semua oknum yang sudah berjanji akan mendampinginya saat ia masuk rumah sakit ternyata mangkir dari janji mereka. Tapi gadis itu juga mengerti kesibukan seluruh anggota keluarganya, ia juga paham bahwa selama ini keadaannya sudah cukup merepotkan tanpa harus menambah bumbu marah-marah hanya karena mereka tidak bisa hadir di sini sekarang.

“Kyuhyun memerintahkanku untuk membawa ini.” Tuan Jang menaruh satu tas olahraga besar di meja dekat ranjang Eunbi. “Katanya kau bisa mati bosan kalau terjebak di sini tanpa buku-buku novel ini.”

Gadis itu mendengus geli. “Kyuhyun memerintahmu?”

Tuan mengangguk cepat.

“Dan appa menurut saja diperintah Kyuhyun?” Lanjut Eunbi dengan kikikan geli.

“Pria itu jelas mengenalmu sangat baik, jauh lebih baik dari aku mengenalmu.” Jawabnya dengan nada tertahan. “Kurasa ada waktunya aku mendengarkan saran kekasihmu itu, meskipun tidak seluruhnya akan kutelan bulat-bulat.”

Eunbi semakin terhibur melihat kelakuan ayahnya yang nampak seperti anjing jantan dipaksa berbagi teritori dengan alpha lain. “Terima kasih, Appa.”

“Untuk apa kau berterima kasih, ini kewajibanku sebagai ayahmu, Bi-ya.” Tuan Jang mengulurkan tangannya untuk membantu Eunbi bangkit dari kursi roda lalu menuntunnya ke atas ranjang. “Seharusnya hal-hal semacam ini sudah kulakukan sejak kau kecil.”

“Ey, kau sudah melakukan yang terbaik, Appa.” Hibur Eunbi dengan cengiran dipaksakan.

Tuan Jang hanya mendengus pelan mendengar kata-kata hiburan Eunbi yang disampaikan setengah hati itu.

Eunbi mencoba mencari-cari posisi nyaman di atas kasurnya. Sementara tuan Jang mengeluarkan beberapa barang Eunbi dari tas besar, gadis itu sibuk memperhatikan kondisi ruangan yang akan menjadi kamarnya beberapa bulan ke depan. Layaknya semua ruangan rumah sakit, kamar itu putih bersih dan aroma steril selalu menyertai. Di balik punggungnya terdapat panel instrumen yang mungkin akan dihubungkan dengan mesin-mesin aneh yang sebentar lagi akan memantau kondisi fisiknya. Di sisi ranjang pesakitannya terdapat sebuah sofa yang terlihat cukup nyaman untuk ditiduri dan ia sudah melihat satu buah dipan lipat di bawah ranjangnya, yang bisa digunakan sebagai tempat tidur sementara bagi siapa pun yang mau menemaninya melewati malam.

Di seberang ranjang, sebuah televisi kecil terpasang pada tembok, sedikit hiburan yang disediakan pihak rumah sakit untuk pasien yang bosan, dan tentu saja pintu geser yang menyembunyikan kamar mandi di baliknya. Sesungguhnya kamar ini terkesan cukup nyaman bagi Eunbi—tapi senyaman-nyamannya kamar rumah sakit, tetap saja masih membuatnya risih.

“Kau memikirkan apa, ng?” Tuan Jang menarik perhatian Eunbi yang masih memandang berkeliling.

“Menurutmu berapa lama aku harus diam di sini, Appa? Aku tidak mau membebani kalian dengan biaya yang semakin membengkak.” Sahut Eunbi jujur.

“Urusan biaya itu adalah urusan kami, Bi-ya. Kau hanya perlu memikirkan kesembuhanmu.” Pria itu membelakangi Eunbi karena sibuk menyusun buku-buku novel Eunbi di dekat kaca besar dalam kamarnya.

“Kau menjual mobil kesayanganmu untukku.” Lanjut gadis itu murung. “Aku hanya berharap tidak ada hal lain yang harus kau gadaikan demi kepentinganku ini.”

“Hey…”

“Maafkan aku, Appa.” Potong Eunbi sambil menggigit bibir gugup. “Maaf karena aku selalu membuat masalah alih-alih membuatmu bangga. Aku…”

“Eunbi-ya. Dengarkan aku baik-baik.” Tuan Jang mendudukkan diri pada tepian ranjang Eunbi. “Kau tidak membuat masalah, paham? Ini musibah, hal ini bisa terjadi padaku, pada eomma, pada Eunbyol. Aku yakin kami akan melakukan hal yang sama jika musibah ini menimpa salah satu anggota keluarga kita.”

“Tapi ini terjadi padaku.” Sosor Eunbi lirih.

“Dan kami akan melakukan yang terbaik untuk menyembuhkanmu, kau paham?” Tuan Jang mengangkat lengannya untuk mengusap kepala Eunbi lembut.

Gadis itu mengangguk pasrah, di satu sisi ia masih bingung dengan perlakuan ayahnya yang berubah drastis namun di sisi lain ia juga menikmati sisi lembut tuan Jang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. “Appa, sering-seringlah bersikap seperti ini padaku. Meskipun awalnya terasa aneh, aku benar-benar menikmati perlakuan ini.”

“Perlakuan apa?”

“Saat kau memanjakanku.” Kekeh gadis itu.

Tuan Jang mendengus geli. “Kau pasti sudah muak padaku karena aku selalu galak padamu. Kurasa ini bukan waktunya untuk bertindak tegas.”

“Karena kau takut akan menyesal seandainya aku tewas di meja operasi?” Tanya Eunbi tanpa menyaring apa yang muncul dalam benaknya.

Mata pria paruh baya itu membelalak kaget atas pernyataan gadisnya, tapi ia segera mengatasi keadaan. “Ng. Mungkin asumsimu benar.”

Eunbi tersenyum pahit mendengar pengakuan ayahnya sendiri.

“Tapi bukan karena aku takut menyesal, Bi-ya. Jika aku bisa memutar ulang waktu, aku tidak akan merubah pola didikku pada kalian, sebab akuilah, jika aku tidak menempa kalian dengan tangan besi, kalian tidak akan tumbuh menjadi gadis-gadis tegar yang bisa kubanggakan sekarang.” Tuan Jang tersenyum tipis. “Namun aku tidak mau kau datang ke tempat ini masih berpikir bahwa aku membencimu. Sebab aku tidak pernah membencimu, Jang Eunbi.”

Pandangan gadis itu dikaburkan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. “Tapi mengapa aku mendapat kesan bahwa kau selalu jengkel dengan apapun yang kulakukan?”

“Karena kita dua individu yang berbeda. Kau lebih mirip dengan eomma, kau gadis dengan jiwa bebas yang menikmati keindahan dunia seperti ibumu, gadis yang bisa tetap menyunggingkan senyum meskipun kau dirundung masalah, gadis yang mencoba mencari keindahan di balik deritamu. Sedangkan aku adalah orang yang kaku, terstruktur, dan menginginkan segala sesuatu terencanakan sempurna—seperti Eunbyeol.” Tuan Jang menjelaskan. “Aku tidak pernah ingin membeda-bedakan kalian, Bi-ya. Meskipun mungkin apa yang kau tangkap dari sikapku selama ini sangat bertentangan dengan tujuanku itu.”

Gadis itu mengangguk paham namun mulutnya tidak bisa berhenti bicara. “Appa, aku ingin sekali saja membuatmu bangga. Satu kali saja aku ingin bisa menjadi sosok yang kau pamerkan pada rekan-rekanmu, aku ingin kau menatapku seperti kau menatap eonni.”

“Bi-ya…”

“Aku memang bukan gadis pintar, tapi kau harus mengakui bahwa aku cukup berbakat pada bidang lainnya. Aku jagoan nomor satu di tim basket putri sejak usia sekolah dasar, aku menjuarai banyak kontes spelling bee, aku banyak memenangkan kontes fotografi internasional, bahkan aku berhasil mendapatkan beasiswa untuk masuk kampus impianku.” Lanjut gadis itu dengan suara semakin parau. “Memang peringkatku di kelas payah, memang aku tidak membawa pulang piagam pernghargaan lulusan terbaik, dan jelas aku membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa diterima ke dalam sebuah universitas. Tapi apa karena prestasiku tidak terukur dengan angka yang valid, maka kau tidak pernah menghargai jerih payahku?”

Tuan Jang terdiam, tidak ada satu pun yang bisa ia katakan untuk membela diri sekarang.

“Aku mengatakan itu bukan untuk menghakimu, Appa. Aku sudah lelah menghabiskan masa remajaku untuk menghakimi dan membencimu. Aku mengatakan itu semua karena aku ingin kau paham bahwa aku pun mencoba.” Air mata Eunbi  mulai menetes perlahan pada kedua pipinya. “Dan sebelum aku masuk ke ruang operasi, aku ingin kau tahu bahwa aku ingin keluar dari ruangan mengerikan itu dalam keadaan utuh, selamat, sehat, dan pulih secepatnya. Tentu saja ini akan menjadi prestasi lain yang tidak terukur dengan angka dan mungkin saja tidak ada artinya untukmu, tapi aku…”

“Hentikanlah, Bi-ya.” Potong tuan Jang.

“Tidak. Aku harus menyampaikan ini selagi kita memiliki waktu untuk melakukannya.” Sergah Eunbi. “Aku harus menegaskan bahwa apapun hasil operasiku nanti, kau harus percaya bahwa aku sudah melakukan yang terbaik di dalam sana. Aku tidak mau mengecewakan kalian, terlebih setelah usaha mati-matian Appa untuk membiayai pengobatanku. Kau harus tahu, Appa, bahkan dalam keadaan sekaratku, aku hanya ingin membuatmu bangga. Karena bukan hanya kau yang muak melihat kegagalanku, Appa, aku pun muak terus menerus menyaksikan sorot hampa dalam matamu setiap kali kau memandangku.”

Kalau boleh jujur, tuan Jang sudah siap meninggikan suaranya, pria itu sudah siap mendebat dan menyuruh gadis itu untuk diam dan berhenti menekannya. Tapi apa daya? Apa yang gadis itu katakan memang tepat sasaran dan ia pun merasa pantas dihakimi oleh putri bungsunya. Terlebih mereka belum pernah terjebak dalam sebuah pembicaraan serius dan terbuka seperti ini sebelumnya.

“Aku harap kau tidak menyesal karena sudah menggadaikan asset-asetmu demi kepentingan ini.” Eunbi semakin terisak. “Sungguh, Appa, aku tidak mau menyulitkanmu. Jika aku bisa melakukan ini seorang diri, aku akan melakukannya. Jika aku tidak takut akan mati kesepian, mungkin aku akan membiarkan monster ini membunuhku perlahan. Tapi aku takut, Appa. Aku takut.”

Tuan Jang menggeser duduknya untuk menarik Eunbi ke dalam pelukannya. Belum pernah ia merasa segagal ini sebagai orang tua. Sudah sepatutnya ia mencoba menjadi sosok yang bisa diandalkan putrinya. Seharusnya ia bisa menjadi tempat Eunbi bersandar dan berkeluh kesah. Sepantasnya ia menjadi sosok yang dihormati putrinya, bukan sosok yang ditakuti. Namun semua konfirmasi yang keluar dari mulut Eunbi hanyalah penegasan bahwa ia memang telah berkali-kali mengecewakan putri bungsunya hingga Eunbi selalu  menjadi gadis skeptis yang terus-menerus meragukannya.

Tangis Eunbi semakin keras. Gadis itu yakin bahwa ia telah menggores luka di atas hati ayahnya, dan ia merasa bersalah karena tidak kuasa menahan luapan emosi yang menguasai dirinya pagi ini. Tapi pria paruh baya itu benar-benar tidak marah, pria itu justru memeluk tubuh mungil Eunbi ke dalam dekapannya.

“Maafkan aku, Bi-ya.” Bisik tuan Jang. “Aku telah gagal menjadi ayah yang baik bagimu.”

Gadis itu menggelng cepat dalam pelukan ayahnya.

“Tapi aku juga ingin kau tahu, bahwa aku akan mencoba memperbaiki ini. Aku akan mencoba memperbaiki apa yang telah kuhancurkan dengan tangan besiku. Meskipun terdengar mustahil, bolehkah aku mencoba menyusun kembali hatimu yang telah kusakiti jutaan kali? Bolehkah aku mencoba menjadi sosok ayah yang bisa kau jadikan tempat bersandar?” Suara pria itu semakin parau. “Tidak ada gunanya jika aku menyesali tindakanku, tapi aku yakin hubungan kita masih bisa diperbaiki. Karena kita keluarga, Bi-ya. Kita terikat darah yang kental dan aku ingin memperbaikinya.”

Eunbi terus terisak dalam pelukan tuan Jang, tidak sanggup menjawab keinginan ayahnya.

“Kau mau memaafkanku, kan?” Pinta tuan Jang lirih.

Gadis itu hanya sanggup mengangguk lemah sambil terus terisak menyampaikan sisa-sisa kegundahan hatinya yang tersimpan rapat.

 

*

 

Kyuhyun menggeser pintu kamar rawat Eunbi menggunakan kaki karena kedua tangan pria itu penuh membawa beberapa barang tambahan untuk menemani kekasihnya selama gadis itu dirawat di sana. Pria itu membanting sebuah boneka besar ke atas sofa dan satu dus berujuran sedang yang dipenuhi kumpulan foto yang disimpan Eunbi sejak dulu. Mereka harus melanjutkan rencana yang gadis itu susun secepatnya sebelum ia masuk ke dalam ruang operasi.

“Bi-ya! Kau di mana?” Kyuhyun menolehkan kepalanya ke berbagai arah namun gadis yang ia cari tidak ada di sana.

Ia sudah mendapat lampu hijau dari tuan Jang sejak kemarin saat mereka sepakat bahwa hari ini akan menjadi hari pertama Eunbi diopname. Pria paruh baya itu mengizinkan Kyuhyun menginap untuk menjaga putrinya, karena ia pun sadar bahwa Eunbi akan merasa lebih nyaman ditemani kekasihnya sendiri ketimbang dijaga ayahnya yang kerap kali membuatnya merasa sedih.

“Eunbi-ya…” Kyuhyun mencoba memanggil kekasihnya sekali lagi, sebelum mencoba menghubungi ponsel Eunbi. Tidak lama kemudian terdengar bunyi panggilan, ponsel gadis itu ditaruh di atas nakas kecil di sisi ranjangnya.

Pria itu mengabaikan sejenak fakta kalau Eunbi tidak ada di sana, sebab menurut tuan Jang, Eunbi dibawa oleh suster ke salah satu ruang pemeriksaan saat pria itu hendak pamit. Karena Kyuhyun sempat bertemu dengan pria itu di lobi bawah beberapa menit sebelumnya, ia yakin bahwa kekasihnya masih dalam penanganan saat ini. Sementara menunggu Eunbi kembali, Kyuhyun mengeluarkan laptop dari ranselnya, ia kembali menyiapkan susunan video seperti yang diminta kekasihnya.

Kyuhyun memulai kegiatannya dengan mengurutkan satu per satu file foto yang ia butuhkan. Pria itu menyiapkan narasi yang akan ia rekam dan masukkan ke dalam video final nanti, ia juga membandingkan daftar yang dituliskan Eunbi dengan stok foto yang selama ini disimpan baik-baik oleh gadis itu di dalam kotak besar. Beberapa kali senyum pria itu mengembang ketika ia menemukan foto-foto mereka saat masih tergabung dalam tim basket sekolah dulu. Bahkan ada lagi foto-foto saat mereka masih lebih kecil. Tawa Kyuhyun lepas saat ia mendapatkan satu buah foto yang diambil saat ia sedang menjambak kunciran rambut Eunbi dengan wajah marah. Banyak sekali yang sudah mereka lalui sejak kecil, dan sepertinya ia harus memberi penghargaan pada kekasihnya karena berhasil menyimpan foto-foto kenangan mereka dengan rapi seperti ini.

Mendadak konsenterasi Kyuhyun terusik oleh suara isak tangis lembut yang berkumandang di dekat tempatnya duduk. Awalnya pria itu merinding ketakutan karena ia hanya sendirian di ruangan itu dan suara lirih yang didengarnya cukup menambah sensasi horor dalam pikirannya, namun setelah ia mencoba menenangkan diri sejenak dan berpikir logis, Kyuhyun menyimpulkan bahwa suara itu muncul dari dalam kamar mandi.

Pria itu bangkit dengan sigap, ia segera mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan sumber suara. Ketukannya hanya dibalas dengan isakan tangis yang semakin keras. Apa sejak tadi Eunbi ada di dalam? Mengapa gadis itu tidak menjawab panggilannya?

“Eunbi-ya, apa kau di dalam?” Kyuhyun mengetuk pintu panik. “Hey, apakah kau baik-baik saja? Bolehkah aku masuk?”

Eunbi tidak menjawab, namun suara tangisannya masih terdengar.

Kyuhyun mencoba menggeser pintu kamar mandi yang tidak terkunci. “Pintunya tidak kau kunci, aku akan masuk sekarang, ne?”

Dengan sedikit ragu pria itu menggeser pintu, ia menundukkan kepalanya untuk mencegah melihat kekasihnya yang mungkin sedang tidak terbalut pakaian, tapi bukan itu yang ia lihat. Yang ia lihat jauh lebih memilukan.

Hati Kyuhyun mencelos dan seketika tubuh pria itu terasa lemas saat melihat Eunbi tengah berdiri di depan wastafel, menatap cermin di hadapannya dengan rambut setengah terpangkas berantakan, di tangan kanan gadis itu tergenggam mesin pemotong rambut yang ia pegang dengan tangannya yang bergetar. Di lantai, nampak banyak tumpukan rambut yang sudah dipangkas asal oleh Eunbi sebelumnya.

Tangis Eunbi pecah saat Kyuhyun melangkah mendekatinya. Pria itu mengamankan mesin cukur rambut dari tangan Eunbi lalu meletakkannya di atas wastafel. Dengan sigap Kyuhyun merangkul bahu Eunbi yang bergetar ketakutan lalu pria itu tidak perlu berpikir lagi untuk mendekap kekasihnya yang sedang kalut. Eunbi yang awalnya masih menangis kini mulai meraung pilu. Kyuhyun tidak perlu menebak-nebak sumber kesedihan kekasihnya, ia tahu persis bahwa Eunbi pasti tengah mengalami perang batin yang sangat hebat.

“Hey, tidak apa-apa, Bi-ya.” Bisik Kyuhyun di tengah kekalutan gadis itu. “Tidak apa-apa, kau boleh menangis sepuasnya sekarang.”

Eunbi melingkarkan kedua lengannya di seputar punggung Kyuhyun, seluruh wajahnya ia benamkan di atas dada pria itu, dan sisa tenaga yang ia miliki disalurkan lewat tangisan pilu yang semakin menjadi-jadi.

Sejujurnya Kyuhyun tahu tidak ada satu hal pun yang bisa menghibur Eunbi saat ini. Ini adalah momen di saat pertahanan kekasihnya runtuh, momen di mana Eunbi benar-benar harus mempersiapkan bukan hanya fisiknya untuk masuk ke dalam ruang operasi, namun juga mentalnya untuk menghadapi rangkaian prosedur yang akan datang. Menggunduli kepalanya hanyalah tahapan kecil dari seluruh rangkaian itu, namun Kyuhyun paham makna simbolik yang sangat menyakitkan bagi gadisnya di balik itu semua.

“Mengapa kau melakukan ini sendirian, ng? Kau bisa minta bantuan kami.” Ujar Kyuhyun dengan nada menenangkan, pria itu terus mengusap punggung kekasihnya dengan sabar.

Eunbi menggeleng cepat di atas dada Kyuhyun. “Aku malu.”

Pria itu mengecup pelipis Eunbi sekilas. “Apa yang membuatmu malu, ng?”

“Aku… aku harus menghilangkan rambutku.” Tangis Eunbi kembali pecah.

Kyuhyun memeluk Eunbi lebih erat, membiarkan gadis itu meluapkan sisa-sisa ganjalan dalam hatinya sebelum ia mengambil alih situasi. “Kau tahu bahwa rambutmu bisa tumbuh lagi, kan?”

Gadis itu mengangguk lemah.

“Kalau begitu tenanglah, ini hanya sementara.” Bujuk Kyuhyun.

“Aku… aku akan terlihat jelek…”

Kyuhyun melonggarkan pelukannya di seputar tubuh Eunbi, lalu mencubit pipi kekasihnya gemas. “Siapa yang berani mengatakan itu padamu? Biar kuberi pelajaran pada orang itu!”

“Jangan coba untuk melucu, Kyu. Aku benar-benar terguncang saat ini.” Ujar Eunbi lemah.

“Aku tahu, ini memang sulit dan aku bisa memaklumi air mata yang kau teteskan sekarang. Tapi aku juga ingin kau tahu bahwa apa yang kau khawatirkan itu tidak lebih penting dari kesembuhanmu, Eunbi-ya.” Sahut Kyuhyun jujur. “Rambutmu akan tumbuh kembali perlahan, kau tidak perlu takut terlihat tidak menarik—memangnya kau mau mencoba merayu siapa?”

“Merayu kekasihku.” Balas Eunbi polos.

Kyuhyun tersenyum simpul. “Bagiku kau terlihat menarik…”

“Jangan beri aku omong kosong itu.” Eunbi menyedot hidungnya yang berair dengan kasar. “Jangan beri aku rayuan murahan itu.”

Kyuhyun terkekeh kecil. “Dengarkan aku, kau selalu terlihat menarik di mataku karena pribadimu. Karena hatimu. Fakta bahwa kau dikaruniani wajah yang cantik adalah nilai tambah dari hal-hal yang membuatku tertarik padamu.”

Gadis itu memutar matanya yang masih basah dengan kesal.

“Lagipula wanita cantik tidak perlu takut botak.” Lanjut Kyuhyun dengan cengiran semakin lebar. “Kau lihat Natalie Portman atau Cara Delavigne, memangnya mereka terlihat tidak menarik dengan kepala botak?”

“Mereka sudah keren dari lahir, Kyu. Jangan bandingkan aku dengan model papan atas…”

“Kau juga sama cantik dan sama kerennya, Bi-ya. Jika mereka bisa mendedikasikan rambut demi karir mereka, kujamin kau bisa merelakan rambutmu untuk masa depanmu yang lebih baik. Demi kesehatanmu kelak.” Pria itu menghapus sisa-sisa air mata di wajah Eunbi dengan jemarinya. “Lagipula tidak sulit melakukan ini.”

Eunbi siap protes pada pernyataan Kyuhyun, tapi kata-katanya tertahan saat ia melihat pria itu mengambil mesin cukur rambut yang sebelumnya ia letakkan di atas wastafel.

“Biar kucontohkan untukmu.” Pria itu menyengir lebar sebelum menyalakan mesin lalu membawa pisau cukur menuju kepalanya sendiri.

“Kyu! Apa yang kau lakukan?!” Bentak Eunbi kaget saat melihat potongan rambut Kyuhyun ikut menutupi lantai.

Kyuhyun menghentikan kegiatannya sesaat, lalu ia menatap lekat ke dalam mata Eunbi dengan sorot mata teduh yang menenangkan batin gadis itu. “Kau ingat aku pernah bilang apa di hari vonis itu keluar?”

Every step of the way.” Jawab Eunbi lancar.

“Tepat sekali.” Kyuhyun meraih tangan Eunbi lalu meremasnya pelan.

“Kau tidak perlu melakukan sejauh ini, Kyu.” Balas Eunbi lirih. “Kau…”

Every step of the way, Jang Eunbi.” Kyuhyun menundukkan wajah untuk mengecup bibir Eunbi yang masih lembab karena sisa-sisa tangisnya. “Aku ini pria sejati yang konsisten dengan ucapanku. Apapun yang harus kau lalui, kita akan melaluinya bersama. Kau sudah janji untuk melibatkanku sejak awal, maka biarkan aku melakukan bagianku untuk mendukungmu, ne?”

Gadis itu hanya bisa berdiri mematung menyaksikan pria di hadapannya kembali menyisirkan mesin pencukur rambut melalui rambutnya sendiri. Sejak dulu ia sering berharap melihat pria itu memotong rambutnya dengan potongan cepak ala tentara, namun Kyuhyun selalu menjaga rambutnya dengan potongan berantakan yang agak panjang. Tapi kali ini, Kyuhyun benar-benar memangkas habis rambutnya sendiri untuk mendukung Eunbi.

Beberapa saat kemudian seluruh rambut yang tumbuh di atas kepala pria itu lenyap, digantikan dengan penampilan baru Kyuhyun yang nampak lebih serius.

“Bagaimana penampilanku?” Tanya Kyuhyun pada gadis yang menatapnya dengan mulut menganga. “Hey! Jangan melamun, bagaimana penampilanku?”

“Kau jauh lebih tampan dan jauh lebih macho seperti ini.” Sahut Eunbi jujur. “Seharusnya kau memilih gaya rambut ini sejak dulu.”

Kyuhyun terkekeh puas mendengar tanggapan positif dari Eunbi. Ia meraih tubuh kekasihnya mendekat lalu membanjiri gadis itu dengan kecupan di seluruh wajah tirusnya. “Sekarang giliranmu. Biar kubantu, ne? Karena rambutmu lebih panjang, sepertinya aku harus mengguntingnya terlebih dahulu.”

Eunbi melangkah mundur dari posisinya, kedua tangannya menggenggam sisa rambut yang ia miliki dengan protektif.

“Kau butuh waktu?” Tanya Kyuhyun bijaksana.

“Bo—bolehkah kita mengabadikan momen ini juga dengan video, Kyu? Untuk rencana D tentu saja.” Usul Eunbi.

Pria itu tersenyum kecut. “Tentu. Tunggu sebentar, biar kuambil handycam kecilku untuk merekam ini.”

“Polaroidku…”

Ne, Semua sudah kusiapkan di kamar.” Pria itu mengangguk cepat sebelum meraih semua peralatan yang mereka butuhkan demi kelancaran rencana mereka kelak.

Eunbi membantu Kyuhyun untuk mencari letak paling sempurna yang bisa merekam kegiatan mereka dengan jelas, lalu sejenak sebelum rekaman dimulai, ia meminta kyuhyun untuk mengambil gambar polaroid mereka untuk disusun segera sesuai rencana.

“Kau siap?” Tanya Kyuhyun setelah seluruh persiapan selesai.

Meskipun masih ragu, gadis itu mengangguk lemah.

“Baiklah, kunyalakan handycam-nya sekarang.” Ujar Kyuhyun sambil menyalakan gadget yang dimaksud.

Eunbi menatap ke arah lensa kamera dengan mata berkaca-kaca, gadis itu menarik napas dalam sebelum memulai. “Hai, saat ini pertengahan bulan Agustus yang panas. Ini juga hari pertama aku diopname untuk menunggu prosedur operasi yang akan dilaksanakan begitu kondisi fisikku dianggap sempurna.”

Kyuhyun tidak ikut bicara, pria itu hanya memandang Eunbi lekat-lekat dari samping dengan perasaan yang tidak bisa ia deskripsikan.

“Hari ini aku akan menggunduli kepalaku. Kebetulan aku payah sekali dalam menahan emosi, maka jangan heran jika kau melihatku bergelimang air mata seperti ini.” Gadis itu kembali terisak lemah. “Tapi ini adalah tahap yang harus kulalui, agar kau bisa menonton ini di kemudian hari dengan kondisi yang jauh lebih prima dari kondisiku saat ini. Sedikit hiburan untukmu, pria ini, Cho Kyuhyun, dia baru saja mengguduli kepalanya sendiri.”

Kyuhyun menyengir lebar ke arah kamera sambil mengusap kepalanya yang botak dengan bangga.

“Jika kau tidak bisa mengingatnya, setidaknya ketahuilah bahwa pria ini telah mendedikasikan dirinya untuk membantuku—dan membantumu—untuk melewati ini semua dengan lebih mudah. Kau harus tahu besarnya cinta pria ini dan besar dedikasinya untuk mendampingiku melawati semua ini. Mottonya adalah ‘every step of the way’ dan dengan sigap ia membuktikan bahwa kata-katanya bukan hanya kalimat hiburan semata. Untuk itu, kau harus bersyukur jika pria ini masih di sisimu saat kau menyaksikan ini.” Napas Eunbi semakin tidak teratur karena emosinya yang juga mulai tidak terkendali.

Pria itu merangkul pundak Eunbi sekilas sambil meremas bahu kecilnya. Ia kembali mengecup pelipis Eunbi berkali-kali sebagai usahanya untuk menenangkan serbuan emosi Eunbi yang meningkat.

“Aku tidak bisa melanjutkannya, Kyu.” Bisik Eunbi di tengah isakannya. “Aku tidak bisa bicara lagi ke dalam kamera itu.”

Pria itu mengangguk paham, lalu ia menatap ke arah lensa. “Perjuangan Eunbi telah dimulai sejak lama, namun hari ini adalah hari pertama ia masuk ke medan perang. Aku bisa memahami mengapa ia sangat terguncang. Kami merekam ini sebagai upaya untuk melawan takdir Tuhan, dan kuharap saat kau menyaksikan ini, kau bisa belajar tentang besarnya cinta yang kita miliki, Eunbi-ya. Faktanya memang kita sangat kekanakan, namun apa yang kita miliki untuk satu sama lain adalah bentuk cinta tanpa syarat tertulus yang pernah kumiliki.”

Eunbi mengangguk lemah di atas bahu Kyuhyun.

“Kau sudah siap?” Pria itu menolehkan wajah untuk bicara pada Eunbi yang nampak semakin ciut menatap mesin cukur yang tergeletak di atas wastafel.

Ne, aku siap, Kyu. Lakukanlah.” Putus Eunbi pasrah.

“Ng, baiklah.” Pria itu mengangguk paham.

Kyuhyun meraih gunting yang disiapkan Eunbi sebelumnya, dengan tangan kirinya ia meraup sejumput rambut pendek Eunbi lalu dengan tangan kanannya pria itu mulai menggunting helaian rambut kekasihnya. Hal itu terus ia lakukan sampai rambut Eunbi cukup pendek untuk bisa ia cukur dengan mesih pencukur rambut pria yang telah ia gunakan sebelumnya.

Apakah mudah melakukan ini? Tidak. Tidak pernah mudah bagi Kyuhyun untuk menyaksikan kerapuhan Eunbi yang terus terisak setiap bunyi mesin memangkas bagian baru dari kepalanya. Tidak mudah menggenggam mesin itu dengan tangan bergetar ketakutan. Tidak mudah baginya untuk menahan air mata yang ingin menetes karena melihat sahabat terbaiknya benar-benar akan berjuang memperjuangkan nyawanya di dalam sebuah pertempuran yang tidak bisa mereka terka akhirnya.

Tapi ia harus melakukannya. Ia sudah berjanji pada gadis itu untuk memikul tanggung jawab ini, ia sudah merelakan diri menjadi pilar penopang Eunbi yang rapuh, dan ia yakin seluruh perjuangan mereka akan dibalas dengan hadiah manis dari Tuhan. Sebab pria itu tahu, hidup dan jiwanya akan hancur jika Tuhan memilih untuk menjemput kekasihnya pergi untuk selamanya.

 

 

tbc…

Advertisements

58 thoughts on “Truth Within – 13 [Every Step of the Way]

  1. imgyu says:

    salut banget ke kyuhyun, sampe mau motong rambutnya sendiri demi eunbi. Aku jadi kepikiran gimana kalo posisinya diganti? Kak sesekali posisi-in kyuhyun yang penyakitan dan wanitanya yang nguatin :3

    Liked by 1 person

  2. Christellee says:

    Huuuu.. Momen dimana eunbi sama ayahnnya itu sangat menyentuh.
    Kyu manis banget.. Sekarang eunbi bisa melawan penyakitnya bersama orang2 yang dia sayang.
    I love this story.. Fighting! Eonni

    Liked by 1 person

  3. lyeoja says:

    Tuhh kannnnn, beneran ad yg kelewat… 😥😥😥
    Jangan2 malah banyak part yg kelewat…
    (Aku ngomong sendiri) 😂😂

    Moment appa + eunbi
    Moment kyu_eunbi cukur2an…
    Salut euiiihhh sm penggambaran karakter kyuu… 😍😍😍

    Liked by 1 person

  4. OngkiAnaknyaHan says:

    duh momentnya bikin baper banjir T.T
    moment anak-bapak
    moment kyu-bi
    manis manis tapi bikin nangis

    ini coba kalo difilm.in ya thor yang nonton duh , ngabisin tissue pasti
    gak rela lho kalo sad end , gak rela pokoknya

    Liked by 1 person

  5. Lovecho says:

    Pembicaraan ayah dan anak itu membuatku trharu.. selama ini ayah eunbi mgkin hnya melihat prjuangan anaknya melalui nilai yg membanggakan, sharusnya ayah eunbi melihat dan mengapresiasi usaha eunbi untk membanggakan ayahnya.. salut sama kyuhyun
    Dukungan dri kyuhyun dan org2 di skitarnya psti bisa membuat eunbi lbih smangat lgi mnghadapi pengobatannya.. wlaupun botaknya rambut blm seberapa dibnding perjuangan yg hrus eunbi lewati dalam prosedur pengobatannya nanti..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s