Truth Within – 12 [Embrace This Moment]

 

12 eunbi

*Gambar milik Kang Taeri

 

 

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

Typo itu ibarat kerupuk. Membuat hidangan jadi lebih lengkap!

——————————————————————-

 

Sesuai permintaan tuan Jang, Eunbyeol, kyuhyun, dan Miseok sepakat untuk meluangkan waktu mereka sejenak untuk membawa Eunbi berlibur dari Seoul, dengan pengawasan ekstra ketat dari ketiga pihak itu pastinya. Kyuhyun yang sudah cukup memahami keinginan konstan kekasihnya yang selalu ingin pergi ke pantai di musim panas langsung mengusulkan pantai terdekat dari Seoul dan mengarahkan mobil ayahnya ke arah Sockho. Sepanjang perjalanan tidak terlalu banyak yang mereka diskusikan, karena Eunbi terlalu sibuk mengatur Cappy—anjing kecil mereka—untuk duduk tenang dalam pangkuannya sementara Kyuhyun konsenterasi menyetir. Penumpang di kursi belakang juga tidak berkontribusi banyak pada topik obrolan sepanjang perjalanan karena hormon kehamilan Eunbyeol membuat gadis itu merasa mual terus-menerus, sehingga memejamkan mata dan bersandar pada bahu suaminya adalah keputusan yang lebih bijaksana.

“Seharusnya kalian tidak usah memaksakan diri.” Sosor Eunbi saat Eunbyeol bersandar di atas bahu Minseok dengan wajah pucat.

“Kami pun membutuhkan liburan ini, Bi-ya. Tenanglah, kakakmu berkelakuan seperti ini karena usia kehamilannya memang tengah berada dalam kondisi mudah mual.” Jelas Minseok. “Lebih baik kalian jelaskan apa rencana kita setiba di Sokcho nanti.”

Kyuhyun dan Eunbi bertukar pandang dengan ekspresi bingung, keduanya tidak memiliki rencana matang seperti yang sudah-sudah.

“Tidak ada rencana? Wah, jangan katakan kalian juga bertingkah seperti ini sepanjang perjalanan ke Eropa kemarin.” Tuduh Minseok.

“Lebih buruk lagi, Hyung. Kami bisa merombak rencana yang sudah disusun matang hanya beberapa jam sebelumnya.” Sahut Kyuhyun sambil terkekeh.

“Kami sudah ahli dalam hal membuat rencana mendadak, tenang saja, Oppa.” Eunbi mendukung pernyataan Kyuhyun. “Setidaknya kali ini Kyuhyun sudah memesan villa untuk kita.”

“Aku yang memesan villa!” Sahut Eunbyeol masih sambil memejamkan mata. “Kalau aku tidak melakukannya, pasti kalian tidak tahu akan tidur di mana malam ini.”

“Pasti banyak hotel kosong.” Sahut Eunbi, masih sibuk mengelus puncak kepala Cappy yang sudah mulai bisa diatur di atas pangkuannya.

“Berapa banyak hotel kosong yang mengizinkan binatang peliharaan untuk masuk, ng?” Tantang Eunbyeol dengan nada meledek, ia mengangkat kepalanya dari bahu Minseok untuk bersandar pasrah pada dudukan jok di mobil belakang, mencoba menikmati pemandangan untuk mengurangi mualnya. “Akuilah, kalian membutuhkan seseorang yang terencana kali ini.”

Ne, ne, kami memang membutuhkanmu, Eonni.” Eunbi menganggk setuju. “Lagipula sudah lama sekali sejak kita berlibur bersama. Appa baik sekali karena mengusulkan liburan seperti ini di tengah-tengah kesibukan kalian.”

Kyuhyun melirik pada Eunbyeol melalui kaca spion di tengah mobil, dengan tatapan tajamnya ia meminta gadis itu untuk mengalihkan topik pembicaraan dari keadaan tuan dan nyonya Jang di Seoul.

“Kebetulan saja Minseok Oppa sedang cuti, aku ikut meminta jatah cuti dari kantorku dan mengusulkan ide ini pada appa. Kurasa appa paham bahwa kita memang membutuhkan sedikit refreshing setelah menghabiskan tiga hari penuh untuk saling menangis.” Eunbyeol yang paham bahwa ia tidak bisa membodohi Eunbi mencari cara lain untuk mengalihkan topik obrolan mereka.

“Maaf karena sudah membuat kalian merasa sedih.” Sahut Eunbi.

“Kalau kau memang menyesal, perbaikilah situasi dengan cara menikmati liburan ini baik-baik.” Ledek Eunbyeol. “Meskipun mustahil, tapi bisakah kita bersenang-senang tanpa memikirkan monster itu? Aku ingin menikmati waktu liburan kita bersama, Bi-ya. Cadangan air mataku sudah habis.”

Eunbi terkikik geli. “Aku sudah mengkondisikan pikiranku demikian, Eonni. Sekarang tugas kalian yang harus berhenti memperlakukanku seperti barang pacah belah.”

“Kol!” Sahut Eunbyeol cepat. “Kalian juga harus melakukannya, Oppa, Kyu!”

Minseok mengangguk cepat sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah Eunbi sedangkan Kyuhyun hanya mengacak rambut Eunbi yang menyengir lebar di sisinya.

Mereka memanfaatkankan waktu dengan sangat baik, seakan tidak ingin membuang satu menit pun untuk hal yang tidak membuat keempatnya senang. Setibanya dalam vila sewaan, kedua gadis kembar itu tidak perlu berdiskusi panjang akan pembagian kamar, cukup jelas bahwa Eunbyeol tidak keberatan jika adiknya kembali tidur bersama kekasihnya sendiri. Cappy juga menyesuaikan diri dengan mudahnya di halaman belakang dan mereka hanya istirahat sejenak dari perjalanan beberapa jam itu sebelum mulai berkeliling mencari makan siang.

Sokcho tidak asing bagi mereka karena Eunbi, Eunbyeol, dan Kyuhyun pernah mengunjungi tempat ini untuk acara perpisahan SMA mereka dulu. Tidak banyak yang berubah dari lokasi kecil itu sejak terakhir kali mereka menginjakkan kaki di sana, dan sebuah restoran barbeque langsung menarik perhatian Eunbi di tengah acara jalan-jalan santai mereka.

Walaupun napsu makan Eunbi semakin hari memang semakin buruk dan jumlah makanan yang dimuntahkan lebih banyak dari pada jumlah yang ia telan, bukan berarti gadis itu sanggup menolak pesona dari harum daging bakar yang muncul dari sebuah restoran di pinggiran pantai. Restoran itu dikunjungi pengunjung yang cukup ramai, namun dengan langkah mantap Eunbi tetap menuntun langkah mereka menuju tempat makan yang sejak awal selalu terlihat enak di matanya.

“Sejak dulu aku sudah penasaran dengan restoran ini.” Tunjuk Eunbi pada restoran yang berdiri di atas papan-papan kayu usang. “Hanya saja dulu kita tidak mampu memesan daging dengan uang jajan kita.”

Eunbyeol terkikik. “Ng, dipikir-pikir dulu appa pelit sekali, hanya membekali kita lima ribu Won untuk acara piknik. Pria itu berencana menyuruh kita makan ramyeon saja selama perpisahan.”

“Kau mau makan ini?” Kyuhyun yang sedikit takjub dengan inisiatif Eunbi untuk memasukkan makanan tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.

“Kalau kalian berminat, tentu saja. Karena aku yakin hanya beberapa suap saja yang masuk ke mulutku. Tapi aku penasaran dengan restoran ini sejak dulu, tidak kusangka tempat ini masih berdiri tegak, melihat wujudnya yang sangat reyot ini.” Gadis itu menjawab dengan mata berbinar.

“Sudah jangan dipikirkan, aku juga jadi lapar karena mencium aroma daging bakar itu.” Minseok menggeser pintu masuk restoran lalu menggiring rombongannya ke meja makan untuk empat orang.

Keempat orang itu memesan porsi daging cukup banyak dan tentu memesan semangkuk sup untuk membantu Eunbi menelan semuanya. Kyuhyun dan Eunbyeol terlihat berusaha sangat keras untuk memilih potongan daging yang paling lunak dan mudah dicerna Eunbi sementara Minseok justru membebaskan Eunbi memesan apapun yang ia inginkan tanpa terlihat khawatir sama sekali. Diam-diam Eunbi sangat berterima kasih atas sikap kakak iparnya yang lebih paham arti kata ‘bersenang-senang’ dibandingkan dua anggota lain yang ikut dalam liburan mereka. Setidaknya karena sikap Minseok yang tidak memperlakukannya seperti barang pecah-belah, Eunbi tidak perlu merasa seperti gadis sekarat yang siap tewas di tempat kapan saja.

“Kita pesan soju sebotol saja, ng?” Minseok menyarankan sambil melirik ke arah Kyuhyun, pria lain yang bisa membantunya menghabiskan sebotol soju bersama. “Kita harus tetap merayakan acara liburan ini.”

Eunbyeol mencubit lengan suaminya pelan namun Eunbi langsung menyahut.

“Pesanlah, Oppa. Ada Kyuhyun yang akan menghabiskan jatahku di sini.” Usulnya dengan cengiran lebar.

“Ini masih siang, kau sudah menyuruhku minum-minum.” Pria itu mengacak rambut kekasihnya gemas. “Nanti kau iri saat melihat aku menikmati minuman itu.”

“Aku tidak akan iri. Aku juga tidak peduli kalau matahari masih bersinar terang saat ini, toh kita sedang berlibur.” Balas Eunbi cuek. “Benar, kan, Oppa?

Minseok mengangguk setuju lalu teriak pada pelayan toko untuk membawakan mereka sebotol soju. “Tenanglah,Kyuhyun-a. Sebotol saja, aku ingin bersulang untuk adik iparku.”

Tidak lama kemudian botol pesanan mereka tiba, Minseok langsung membaginya ke dalam empat gelas kecil lalu menyerahkan gelas-gelas itu pada masing-masing orang yang ada di sana.

Oppa, kau tahu aku tidak boleh minum!” Eunbyeol menjewer telinga suaminya. “Eunbi juga tidak boleh minum!”

“Aku tahu, Sayang. Tapi kita tetap harus bersulang, nanti biar kutelan jatah sojumu dan Kyuhyun bisa melakukan yang sama untuk Eunbi.”

Kyuhyun hanya mengangguk setuju sambil menatap gelas kecil di hadapannya heran.

“Eunbi-ya, aku ingin bersulang untukmu.” Minseok mengangkat gelasnya.

Ketiga orang lainnya mengikuti gerakan Minseok untuk mengangkat gelas mereka ke tengah meja.

“Jang Eunbi, mungkin aku memang tidak terlalu sering terlibat dalam hidupmu, tapi aku menikahi kakakmu jadi kita akan terus memiliki ikatan keluarga ini seterusnya—dan aku bersyukur untuk itu. Karena tanpamu, kurasa aku tidak akan pernah mengetahui celah untuk mendekati Eunbyeol dulu…”

Eunbi langsung terkikik sambil mengangguk setuju, mengenang masa saat Minseok pertama kali menitipkan surat cinta untuk kakaknya dulu saat pria itu masih menjadi sunbae mereka di SMA. “Ya aku setuju, kau payah sekali waktu itu, Oppa.”

“Tanpamu, aku pasti salah membeli bunga untuknya waktu itu dan tanpamu kurasa aku tidak bisa memilih hadiah pernikahan yang sempurna untuk istriku tercinta ini.” Han Minseok terkekeh kecil. “Maka dari itu, aku ingin bersulang untuk merayakan kehadiranmu dalam keluarga ini dan juga bersulang untuk kesehatanmu. Kuharap aku masih terus bisa bersekongkol denganmu dalam misi membahagiakan kekasih hidupku ini, kuharap bukan aku saja yang beruntung karena mendapatkanmu sebagai bagian dari keluargaku, aku sungguh berharap anak-anak kami kelak juga akan bersyukur memiliki bibik sepertimu, aku sungguh berharap hari-hari yang akan kita lalui sebagai keluarga akan terus berlangsung sampai kita tua kelak.”

Susana yang sebelumnya riang mendadak muram, Eunbyeol kembali berkaca-kaca dan Eunbi hanya bisa menggigit bibir gugup.

“Aku ingin kita bersulang untuk kesehatanmu. Perjuanganmu akan segera dimulai dan aku ingin kau tahu bahwa kami semua ada di sini untuk mendukungmu! Mungkin yang bisa kami lakukan untukmu berbeda-beda, tapi percayalah bahwa kami bersedia memberikan yang terbaik, kami bersedia memberikan apapun yang kau butuhkan untuk sembuh, dan kami akan selalu mendampingimu melalui semua ini.” Minseok mengangkat gelasnya lebih tinggi lagi. “Untuk Jang Eunbi!”

Keempatnya mengadu gelas kecil mereka bersamaan lalu kedua pria itu meneguk gelas di tangan mereka, disusul dengan gelas kedua milik Eunbi dan Eunbyeol.

“Terima kasih, Oppa untuk semangat yang kau berikan tadi.” Eunbi mengambil botol soju di tengah lalu mulai menuangkan isinya pada empat gelas yang sudah kosong. “Aku tahu kondisiku saat ini pasti mulai merepotkan kalian. Bukan hanya fisik kalian yang diuji untuk menjagaku, namun mental kalian juga pasti sangat terbebani dengan berbagai spekulasi buruk mengenai prospek kesembuhanku. Maka izinkan aku menuangkan minuman ini sebelum kita memulai acara makan siang.”

Keempat orang di meja itu kembali mengangkat gelas mereka ke tengah.

Eunbi berdeham. “Aku janji untuk melakukan yang terbaik. Eonni, aku janji akan berusaha untuk hadir pada hari kelahiran anak pertamamu dan menjadi bibik keren tempatnya berkeluh-kesah tentang kalian kelak. Oppa, aku janji akan terus mencoba menjadi informan dalam usahamu membahagiakan kakakku. Dan Kyuhyun-a, aku janji akan menagihmu untuk melakukan sisa perjalanan kita yang belum tuntas. Aku janji akan melakukan apapun dalam batas kemampuanku untuk menepati janji-janjiku pada kalian. Sekarang angkat gelas kalian dan bersulanglah untuk kita berempat!”

Mereka menuruti keinginan Eunbi.

“Terima kasih, karena sudah membuat hari-hari suramku menjadi lebih bermakna. Untuk kita semua!” Eunbi menyentakkan gelas kecil itu ke tengah dan disambut oleh gelas lainnya.

 

*

 

Selepas makan siang, Eunbyeol merasa lemas karena hormon kehamilannya yang memang selalu berulah di sore hari. Gadis itu memerlukan waktu untuk berbaring dalam kamar sambil menikmati sensasi mual yang semakin memuncak di sore hari. Waktu yang kemudian dimanfaatkan Eunbi dan Kyuhyun untuk mengelilingi Sokcho dengan sepeda sewaan berdua saja bersama Cappy.

Kyuhyun menyewa sepeda dengan keranjang di depannya agar Cappy bisa duduk manis di dalam sana sementara ia dan Eunbi menikmati suasana laut Sokcho lewat jalan khusus sepeda yang tersedia. Seperti yang sudah-sudah, mereka berjalan tanpa tujuan jelas dan hanya mengikuti insting semata untuk berbelok pada lokasi-lokasi yang menurut mereka terlihat menarik. Ekor mata Eunbi menangkap sebuah pasar yang mencuri perhatiannya dan gadis itu langsung menepuk punggung kekasihnya dari belakang agar mereka menepi pada deretan penjual buku bekas.

“Kau mau beli buku? Masih kurang buku-buku novelmu?” Kyuhyun menepikan sepeda, membantu Eunbi turun lalu menggendong Cappy ke dalam pelukannya.

“Aku akan diopname dalam waktu yang lama, kurasa tidak ada salahnya aku membeli buku-buku bekas untuk dibaca. Jangan sampai aku selamat dari tumor, tapi mati bosan karena tidak ada yang bisa kulakukan selama masa pemulihan.” Jawab Eunbi sarkastis.

Kyuhyun mengangguk paham. “Baiklah kalau begitu, ayo kita berburu. Kau mau genre ada kali ini?”

Eunbi mengangkat bahu. “Kalau kau bisa menemukan Harry Potter komplit berbahasa Korea aku akan senang sekali.”

Pria itu memutar mata. “Dasar gadis sombong, kau masih saja membanggakan fakta bahwa kau gadis pertama di sekolah kita yang membaca seri itu sampai tamat dalam Bahasa Inggris.”

“Jangan salahkan kemampuan bahasaku, Kyu. Hanya itu bakat ekstra yang kumiliki.” Kekeh Eunbi. “Katakan saja kau iri karena aku membocorkan spoiler tentang kematian Sirius.”

“Aku masih dongkol masalah itu sampai detik ini.” Kyuhyun mengangguk setuju. “Kau ingat?Aku menolak bicara padamu sebulan penuh!”

Gadis itu tertawa. “Cara yang sangat kekanakan. Awalnya aku ingin menjaga rahasia itu sampai kau membaca sendiri edisi terjemahannya, Kyu. Tapi waktu itu kau baru saja mematahkan hatiku waktu kau mengatakan dengan lantang bahwa gadis yang kau sukai adalah kakakku sendiri. Jadi aku mencari cara lain untuk membalas sakit hati yang kurasakan.”

“Cara yang kau pilih sangat efektif.” Kyuhyun menyeringai kesal. “Aku masih dongkol sampai detik ini karena hal itu.”

Gadis itu mencubit kedua pipi kekasihnya dengan gemas. “Let it go. Kau sudah membacanya puluhan kali bahkan sudah puas menontonnya, masih saja kau permasalahkan.”

“Lihat saja, aku akan melakukan hal yang sama padamu suatu hari nanti.” Ancam Kyuhyun. “Aku akan mencari buku yang kau gemari, membaca kilat sampai tamat lalu membocorkan ending-nya padamu.”

Eunbi terkekeh sambil menarik lengan Kyuhyun melewati kios-kios penjual buku bekas di tempat itu. “Kau tahu? Terkadang aku berharap bisa menghapus memori dari buku atau film yang pernah kunikmati, agar bisa mengalami ulang rasa tegang dan penasaran saat aku tenggelam di dalam cerita mereka. Aku sudah  membaca ulang novel-novel fantasi dan misteri yang kumiliki puluhan kali, dan harus kuakui rasanya tidak sama.”

Pria itu mengangguk setuju. “Aku paham maksudmu. Aku juga ingin merasakan sensasi itu untuk beberapa film seri yang bertemakan detektif.”

“Ah! Sepertinya paman itu menjual buku-buku novel!” Eunbi menunjuk pada satu kios di sudut jalan.

Kyuhyun menurunkan Cappy dari gendongannya, lalu menggiring anjing mereka menggunakan tali kekang saja sementara sebelah tangannya menggenggam tangan Eunbi erat. “Mari berburu.”

Mata Eunbi langsung membulat bahagia saat ia melihat tumpukan cerita anak-anak karya Enid Blyton dan Road Dahl. “Matilda! Kau tahu? Ini adalah judul buku berbahasa inggris pertama yang pernah kubaca. Buku impor yang terselip di perpustakaan sekolah kita dan buku yang membuatku sadar akan kemampuan ekstraku itu.”

“Kau memulai dengan buku ini? Kukira Harry Potter adalah buku pertamamu.” Sanggah Kyuhyun.

“Harry Potter adalah buku pertama yang kubaca dengan lancar tanpa bantuan kamus.” Eunbi membenarkan dengan cengiran bangga.

Kyuhyun hanya menyegir lebar saat kekasihnya mulai sibuk memilih-milih judul buku bekas yang ia timbun  selama menghabiskan waktu opnamenya di rumah sakit nanti. Di tengah kegundahan yang melanda mereka, Kyuhyun bersyukur akrena Eunbi bisa mencoba terlihat positif dan optimis melalui tindakan-tindakan kecil seperti ini—meskipun ia juga tahu, jauh dalam permukaan riang itu Eunbi masih ketakutan.

Keduanya menghabiskan waktu satu jam penuh di kios itu untuk menggali ke dalam seluruh judul yang dimiliki ajjushi penimbun buku bekas. Eunbi yang sudah mulai lelah memilih akhirnya hanya menyebutkan judul-judul novel yang ingin ia baca dan membiarkan sang ajjushi mencarikan judul yang dimaksud untuknya. Saat semuanya selesai, gadis itu pulang membawa tiga ikat tumpukan novel untuk dibacanya nanti.

“Cappy, kau akan duduk dengan eomma di belakang saja.” Eunbi meraih anjing kecil mereka dari aspal. “Agar buku-buku eomma cukup dimasukkan ke dalam keranjang.”

Anjing itu menjilat-jilat tangan Eunbi antusias, menurut saja saat Eunbi memeluknya erat di atas pangkuannya sementara Kyuhyun kembali mengemudikan sepeda.

“Kau anjing pintar, nanti kuberikan treat lagi, ne?” Bujuk Eunbi sambil menggaruk telinga Cappy gemas.

“Kau terlalu memanjakannya, Bi-ya.” Kyuhyun menyuarakan protesnya. “Aku jarang memberinya treat karena ingin melatih anjing kita agar lebih patuh pada perintahku. Tapi kau justru menghamburkan treat setiap kali mencoba membujuknya untuk mematuhimu. Kalau begitu ceritanya, pasti Cappy akan lebih suka menghabiskan waktu denganmu.”

“Kau iri karena anjing kita lebih suka padaku? Cih!” Ledek EUnbi. “Aku hanya punya waktu sebentar untuk mengakrabkan diri dengannya, Kyu. Nanti saat aku diopname, kau yang akan menghabiskan banyak waktu dengannya—saat itu, aku akan sangat iri padamu!”

Pria itu terkekeh. “Seandainya kita diizinkan membawa anjing masuk ke rumah sakit.”

Ng, sandainya. Aku yakin penyembuhan pasien akan lebih efektif kalau mereka mengizinkan hewan peliharaan masuk.” Usul Eunbi.

“Kau mau cari  masalah?! Jelas-jelas binatang tidak bisa dipastikan kebersihannya.” Sosor Kyuhyun. “Bisa jadi kasus baru kalau tingkat steril rumah sakit hancur karena ada kutu anjing.”

“Aku kan hanya berharap, Kyu.” Eunbi memanyunkan bibirnya manja. “Karena aku akan sangat merindukan anjing kecil ini.”

“Kalau begitu berusahalah untuk pulih lebih cepat, dengan demikian kau bisa lebih cepat bertemu Cappy.” Bujuk Kyuhyun.

Gadis itu tidak menyahut, ia hanya sibuk mengeratkan pelukannya di seputar tubuh mungil Cappy sambil mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya dengan memeluk pinggang Kyuhyun di depan.

“Kau mau pergi kemana lagi?” Tawar Kyuhyun. “Masih mau bersepeda atau mau pulang ke villa untuk istirahat?”

Gadis itu menggelengkan kepala protes. “Ayo ke pantai saja, kita bisa duduk di sana dan membiarkan Cappy mengejar ombak.”

Pria itu menuruti keinginan kekasihnya, ia mengarahkan sepeda sewaan mereka ke arah pantai lalu mencari posisi yang terlihat paling nyaman setibanya di sana.

“Sayang sekali kita tidak bisa menonton matahari terbenam di sini.” Kyuhyun mendudukkan diri di samping Eunbi yang sudah memilih posisi nyamannya.

“Kita bisa menonton matahari terbit.” Hibur Eunbi, “aku mau melihat matahari terbit besok.”

“Kau mau bangun pagi-pagi sekali untuk meakukan itu?” Kyuhyun menaikkan sebelah alisnya seolah menantang Eunbi.

“Tentu saja, kapan lagi aku bisa menyaksikan matahari terbit di Sokcho bersama kekasihku.” Gadis itu menyandarkan kepalanya ke atas bahu Kyuhyun. “Kurasa hal itu juga kutulis di buku keramat kita.”

Spontan Kyuhyun merogoh kantung belakang celananya untuk mengeluarkan buku keramat mereka yang sudah beberapa saat tidak mereka tengok. Pria itu mencari-cari di antara lembaran tulisan tangan Eunbi untuk mencari momen yang dimaksud.

“Ah, kau benar. Kau ingin menyaksikan matahari terbit.” Kyuhyun mengangguk setuju. “Kukira kau ingin menyaksikannya dari atas puncak gunung.”

“Kau tahu persis aku seorang gadis pantai, bukan gadis gunung.” Eunbi merengek manja. “Ini tempat yang sempurna untuk sebuah liburan tambahan sebelum masa opnameku, terima kasih, Kyu. Karena kau kembali meluangkan waktumu untuk melakukan ini bersama kami.”

Suasana pantai sore itu sangat mendukung melankoli kisah mereka. Tidak banyak pengunjung yang menghabiskan sore hari mereka di sana, kumpulan manusia yang semula berpusat di bibir pantai perlahan mulai pulang mencari tempat makan, membuat kondisi pantai lebih nyaman untuk dinikmati keduanya. Tidak jauh dari posisi mereka duduk, sebuah pondok pinggir pantai membesarkan volume musik hingga kyuhyun dan Eunbi menikmati hiburan gratis dari kejauhan.

“Kau kenal musik yang mereka mainkan?” Tanya Kyuhyun.

“Tentu saja, dia penyanyi favoritku saat ini.” Kekeh Eunbi. “Kita bahkan menonton konser dadakan gratisnya saat di Amsterdam kemarin.”

“Waktu itu lagunya memang cocok untuk berpesta, tapi lagu ini sepertinya lebih pelan. Kau mau berdansa denganku?” Tawar Kyuhyun.

Spontan gadis itu tertawa. “Apakah ini sisi romantismu yang belum pernah kulihat?”

“Bukan, aku hanya ingin menikmati sore hari bersama kekasihku, tapi justru gadis itu mentertawakan inisiatifku. Lupakanlah!” Pria itu berjengit jengkel.

Aigoo… baiklah, ayo kita berdansa.”

“Tidak mau.”

“Kyuhyu-a…”

“Tidak!” Tegas Kyuhyun dengan nada merajuk. “Sudah kita duduk saja sambil mendengarkan dalam diam.”

“Tapi kau belum pernah mengajakku berdansa.” Rengek Eunbi, gadis itu mengangkat tubuh lalu mencoba mengerahkan tenaganya untuk menarik Kyuhyun.

Pria itu tentu saja tidak tega membiarkan eunbi menarik tubuhnya yang berat, maka dengan perasaan setengah dongkol ia bangkit untuk mengikuti kemauan Eunbi.

“Bagaimana cara berdansa? Kau tahu?” Tanya Eunbi dengan wajah merona.

Pria itu menggeleng masih dengan mulut dimanyunkan.

“Berhentilah merajuk, kau kan bukan anak kecil lagi.” Eunbi menyentakkan kakinya kesal. “Aku minta maaf karena sudah mentertawakan idemu. Sekarang bolehkah aku memintamu untuk menghapus rengutan jelek itu dari wajahmu, lalu berdansa denganku?”

Kyuhyun menghela napas panjang tapi secara otomatis ia menarik tubuh mungil Eunbi ke dalam dekapannya. “Aku tidak tahu cara berdansa, tapi kita bisa berpelukan seperti ini saja sambil menikmati musik.”

Eunbi mengeratkan pelukannya di seputar tubuh peria itu, kekhidmatan mereka diusik oleh Cappy yang mulai berjalan mengitari kaki Eunbi dan Kyuhyun yang berdiri berdekatan. “Baiklah, aku sudah idemu. Aku bisa memelukmu sepanjang hari.”

Pria itu mendengus pasrah atas kelakuan kekasihnya yang selalu kekanakan. “Dengarkan baik-baik lagu ini. Suatu hari, kau akan berjalan menuju altar dengan lagu ini sebagai pengiringnya.”

“Selama kau menjadi pria yang menunggu di ujung altar itu, aku rela berjalan tanpa iringan musik apapun.” Balas Eunbi manja.

“Aku akan berdiri di ujung altar itu, dan lagu ini tetap akan mengirimu.” Tegas Kyuhyun tanpa keraguan dalam kalimatnya.

Eunbi tersenyum lebar pada cara tersirat Kyuhyun untuk merayunya. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di atas dada kekasihnya, menghirup aroma maskulin yang selalu membuatnya tenang sambil mendengarkan baik-baik lagu yang berkumandang dari pondok di kejauhan.

I found a love for me (Aku menemukan cinta untukku)

Darling, just dive right in and follow my lead (Sayang, kemarilah dan ikuti langkahku)
Well, I found a girl, beautiful and sweet (Aku menemukan seorang gadis, yang cantik dan manis)
Oh, I never knew you were the someone waiting for me (Oh, aku tidak pernah tahu bahwa kaulah seseorang yang selama ini menantiku)

‘Cause we were just kids when we fell in love (Karena kita masih sangat kecil saat kita jatuh cinta)
Not knowing what it was (Hingga tidak memahami apa yang kita rasakan)
I will not give you up this time (Kali ini aku tidak akan melepaskanmu)
But darling, just kiss me slow, (Tapi sayang, cumbu aku perlahan)
Your heart is all I own (Hanya hatimu yang kumiliki)
And in your eyes you’re holding mine (Dan dalam sorot matamu, kau sudah menggenggam hatiku)

Baby, I’m dancing in the dark (Sayang, aku menari dalam gelap)
With you between my arms (dengan dirimu dalam dekapanku)
Barefoot on the grass, (sambil bertelanjang kaki di atas rumput)
Listening to our favorite song (mendengarkan lagu kegemaran kita)
When you said you looked a mess, (saat kau menyatakan dirimu terlihat berantakan)
I whispered underneath my breath (aku membisikan dalam helaan napas)
But you heard it, Darling, you look perfect tonight (tapi kau mendengarnya, Sayang, kau terlihat sempurna malam ini)

Well, I found a woman, (Aku menemukan seorang wanita)

stronger than anyone I know (sosok yang paling tegar dari seluruh orang yang pernah kukenal)
She shares my dreams, (Dia memahami mimpi-mimpiku)

I hope that someday I’ll share her home (kuharap suatu hari aku pun berbagi kehangatan rumah bersamanya)
I found a lover to carry more than just my secrets (aku menemukan kekasih yang bukan hanya akan menjaga rahasiaku)
To carry love, to carry children of our own (tapi juga menjaga cinta, dan menjaga anak-anak kami kelak)

We are still kids but we’re so in love (Kita masih muda, tapi kita sangat dimabuk cinta)

Fighting against all odds (Melawan segala kejanggalan)
I know we’ll be alright this time (Aku yakin kita akan baik-baik saja kali ini)
Darling, just hold my hand (Sayang, genggamlah tanganku)
Be my girl, I’ll be your man (Jadi gadisku, dan aku akan menjadi priamu)
I see my future in your eyes (Aku bisa melihat masa depanku dalam matamu)

Baby, I’m dancing in the dark (Sayang, Aku menari dalam gelap)
With you between my arms (Denganmu dalam dekapanku)
Barefoot on the grass (Bertelanjang kaki di atas rumput)
Listening to our favorite song (Sambil mendengarkan lagu favorit kita)
When I saw you in that dress (Saat kulihat kau dalam balutan gaun itu)
Looking so beautiful (Terlihat sangat mempesona)
I don’t deserve this (Aku tidak pantas mendapatkan keberuntungan ini)
Darling, you look perfect tonight (Karena kau terlihat sangat sempurna malam ini, Sayang)

Baby, I’m dancing in the dark (Sayang, aku menari dalam gelap)
With you between my arms (Denganmu dalam dekapanku)
Barefoot on the grass (Bertelanjang kaki di atas rumput)
Listening to our favorite song (Sambil mendengarkan lagu favorit kita)
I have faith in what I see (Aku yakin pada apa yang kulihat)
Now I know I have met an angel in person (Aku percaya telah bertemu seorang malaikat secara langsung)
And she looks perfect, (Dan malaikat itu terlihat sempurna)
I don’t deserve it (Aku tidak pantas mendapatkan keberuntungan ini)
You look perfect tonight (Kau terlihat sempurna malam ini)

-Perfect – Ed Sheeran

Eunbi hanya sanggup memeluk pria yang tengah mendekapnya seerat mungkin. Dalam hati ia sangat bersyukur dan berterima kasih karena di tengah keputusasaannya ia masih diberi kesempatan untuk merasakan sensasi bahagia dan berbunga-bunga yang tengah menyerangnya.

“Oke, aku setuju.” Bisik Eunbi di tengah pelukan mereka.

“Ne? Setuju untuk?”

“Lagu ini boleh menjadi musik yang mengiriku berjalan melewati altar menuju tempatmu berdiri nanti.” Gumam Eunbi dengan senyum lebar.

Kyuhyun mengecup gemas puncak kepala Eunbi beberapa kali sebelum mendorong kedua bahu kekasihnya, agar ia bisa menatap ke dalam mata gadis itu. “Secara tidak langsung, kau baru saja setuju untuk menjadi tunanganku.”

Eunbi melongo bingung. “Kapan kau melamarku?”

Well, baru saja.” Kyuhyun mengangkat kedua bahunya. “Dan kau juga baru mengatakan setuju.”

“Mana cincinku?” Tantang Eunbi.

Kyuhyun cengar-cengir salah tingkah. “Belum kusiapkan.”

“Cih, kalau begitu artinya aku belum menjadi tunanganmu.” Gadis itu tersenyum meledek lalu kembali mencari posisi duduk yang nyaman di atas pasir. “Ini hanya pembicaraan kasual yang tidak diikat oleh apapun.”

Pria itu tertawa lepas melihat sahabat terbaiknya sedang menuntut sebuah cincin untuk mengikat persetujuan mereka. Kyuhyun ikut duduk di sampingnya, masih dengan senyuman salah tingkah. “Kau mau cincin seperti apa?”

“Hmm… cincin yang cukup nyaman bertengger di jatas jemari kurusku ini. Cincin yang sederhana tapi memiliki makna dalam, sebuah artefak yang menyampaikan kisah kita di dalamnya.”

Kyuhyun mengernyitkan dahi bingung. “Wah, aku harus berpikir keras nampaknya.”

Gadis itu mengangguk setuju. “Kau punya waktu cukup banyak untuk memikirkannya.”

Pria itu menghela napas lega, seluruh kata-kata Eunbi terdengar bagai harapan dan optimisme tinggi yang mereka butuhkan saat ini. Jelas ia lebih suka berkhayal tentang kehidupan masa depan mereka dibandingkan dengan pembicaraan pilu tentang prospek kesembuhan kekasihnya. Dan diam-diam pria itu sangat menghargai usaha Eunbi untuk tetap terlihat tegar melalui masa-masa sulit hidupnya yang di ujung tanduk.

Kyuhyun menoleh sekilas pada kekasihnya, otomatis lengannya meraih ponsel untuk merekam momen kebersamaan mereka. Gadis yang sangat sadar kamera itu langsung melambai pada ponsel Kyuhyun sambil menggendong Cappy dan menyodorkan wajah lugu anjing mereka mendekati ponsel Kyuhyun. “Hai! Saat ini kita sedang duduk santai di pantai Sokcho. And this is Cappy’s first outing!

“Nikmati momen ini, Cappy. Lusa kita kembali lagi ke Seoul.” Sahut Kyuhyun dari balik ponselnya.

Eunbi memanyunkan bibir sekilas sebelum memeluk anjing kecil dalam genggamannya gemas. “Kau harus semakin mengakrabkan diri dengan appa, karena sebentar lagi eomma harus masuk rumah sakit, ne? Jangan merepotkan appa dan pastikan kau melakukan bisnis kotormu itu di dalam boks yang sudah kami belikan, paham?”

Jelas anjing itu tidak bereaksi apa-apa, tapi kata-kata Eunbi kembali menghangatkan hati Kyuhyun. Lagi-lagi sikap positif yang ditunjukkan gadis itu.

“Kyu, boleh tolong ambilkan sesuatu?”

“Sebut saja.”

“Di antara tumpukan buku yang kubeli tadi, ada satu buku dengan sampul warna toska, tolong ambilkan.” Pinta Eunbi.

Kyuhyun mematikan rekaman video, bangkit sejenak menghampiri sepeda mereka, mencari buku yang dimaksud kekasihnya, lalu menyerahkannya pada Eunbi yang sudah menyiapkan sebuah pulpen dari tas kecilnya.

“Aku pernah berkata bahwa akan tiba hari kau harus menuliskan keinginanmu, lalu aku akan mencoba semampuku untuk mengabulkannya.” Buka Eunbi. “Kini tiba waktumu untuk menuliskannya. Peraturannya sama, aku hanya akan memberimu waktu lima belas menit saja.”

Pria itu menatap kekasihnya dengan tatapan sulit ditebak.

“Kenapa kau melamun? Aku memintamu untuk menuliskan mimpi-mimpimu di dalam sini.” Eunbi membuka lembaran kosong buku yang ikut ia beli di toko buku bekas tadi.

“Aku… mengapa aku kurang menyukai idemu ini.” Aku Kyuhyun. “Aku tidak mau kau mencoba mengabulkan impianku dan lupa bahwa kesehatanmu lebih utama sekarang, lalu…”

“Aku akan melakukannya nanti setelah aku sembuh, bukan sekarang. Percayalah, aku pun tahu kemampuanku ada di batas mana, Kyu.” Gadis itu memaksakan senyum lebar di wajahnya. “Anggap saja ini janji yang mengikatku, agar aku tetap kembali kepadamu—apapun yang terjadi dalam ruang operasi nanti.”

Hati Kyuhyun nkembali terasa sesak, obrolan seperti ini selalu membuatnya tidak nyaman namun di saat bersamaan ia mulai mengerti tujuan Eunbi yang sebenarnya cukup positif.

“Aku akan pergi ke medan perang, Kyu. Medan perang mengerikan yang aku pun tidak tahu seperti apa kondisinya. Mungkin kalian pikir aku bodoh dan tidak memahami situasi saat ini, tapi aku tahu persis kalau appa menyuruhmu dan Eunbyeol untuk membawaku menjauh dari rumah, karena pria itu ingin mengumpulkan dana operasiku tanpa membuatku khawatir.” Gadis itu tersenyum miris. “Aku tahu kami tidak memiliki biaya sebanyak itu, dan aku tahu mereka benar-benar berusaha untuk mendapatkannya demi menyelamatkan nyawaku. Oleh sebab itu, aku akan menganggap ini sebagai tahap ujian, sebuah tahap yang harus kulalui dan aku harus lulus dengan skor terbaik? Kau tahu kenapa? Karena aku bosan mengecewakan mereka terus-menerus.”

“Kau tidak mengecewakan mereka, Bi-ya. Berhentilah berasumsi yang tidak-tidak.” Pria itu mengusap punggung Eunbi sabar.

Eunbi tersenyum sinis. “Intinya, aku ingin kau tahu bahwa saat ini aku tengah menenggelamkan pikiranku dalam energi positif yang mengatakan bahwa aku akan sembuh total. Aku ingin percaya bahwa jerih payah orang tuaku untuk mencari biaya yang besar itu tidak akan sia-sia, aku ingin meyakinkan diriku bahwa usaha kalian semua yang mendampingiku akan terbayarkan dengan kesembuhanku.”

Pria itu tersenyum tipis lalu sebelum mencondongkan tubuh untuk mengecup pelipis kekasihnya. “Aku senang kalau kau bisa mengumpulkan energi positif sebelum kau masuk ke dalam ruang operasi.”

“Bantu aku lagi, Kyu. Bantu aku untuk menuliskan mimpi-mimpimu ke dalam buku itu. Agar aku punya tujuan hidup setelah dokter menyatakan aku sembuh. Tuliskan harapan-harapanmu, agar aku tahu bagaimana harus melanjutkan hubungan kita nanti. Dan kalau boleh, tolong beri beberapa deskripsi singkat tentang hubungan kita di sana, dari sudut pandangmu.” Eunbi menggigit bibir gugup. “Sebab aku juga harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan buruk.”

Ya!

“Bukan kemungkinan buruk bahwa aku meninggal, Kyu.” Eunbi mencubit hidung mancung kekasihnya gemas. “Itu kemungkinan terburuk, tapi aku membicarakan tentang kemungkinan buruk jenis lain di sini.”

“Beberapa menit lalu kau baru berkata ingin masuk ruang operasi dengan pikiran positif.” Sindir Kyuhyun jengkel.

“Benar, memang itu benar.” Eunbi mengangguk setuju. “Tapi aku punya satu permintaan yang hanya bisa dilakukan olehmu—sekiranya kemungkinan buruk terjadi.”

“Aku tidak megerti maksudmu.”

“Anggaplah aku selamat, tapi ada masalah kecil setuntas operasiku.” Eunbi berdeham untuk menghapus sensasi tercekat di kerongkongannya. “Anggap saja aku tetap hidup, tapi efek samping yang ditakutkan Dokter Lee terjadi. Maka aku harus mempersiapkan rencana untuk melawan takdir itu.”

Kyuhyun mengernyit bingung, pria itu paham maksud perkataan Eunbi tapi ia tidak bisa membayangkan rencana semacam apa yang kekasihnya maksud.

“Tentu saja aku akan mengutarakan rencanaku padamu hanya jika kau setuju melakukannya.”

“Apa yang kau rencanakan, Bi-ya?” Cecar Kyuhyun tidak sabar.

“Banyak. Aku punya tiga rencana sejauh ini, mungkin kau bisa menambahkan ide-ide brilianmu setelah mendengar rencana awalku.” Sebut Eunbi. “Rencana ini hanya akan kita lakukan jika aku terbangun dari ruang operasi itu dengan komplikasi lain. Hanya jika aku terbangun dalam keadaan buta, atau lumpuh, atau hilang ingatan, atau seandainya tiba-tiba aku memiliki masalah psikologis kepribadian yang mengganggu—well, setidaknya sejauh ini baru itu saja yang dikhawatirkan Dokter Lee. Seandainya aku terbangun sebagai Eunbi yang kau kenal, Eunbi yang mengenalimu, Eunbi yang bisa melihat wajah tampanmu dengan jelas, dan Eunbi yang bisa melangkah ke dalam dekapanmu, maka kita jadikan rencana ini sebagai kenang-kenangan kekompakan kita sebagai sepasang sahabat sekaligus sepasang kekasih.”

Kyuhyun menarik napas dalam. Pada saat ini ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, mendukung ide miris Eunbi atau menolaknya mentah-mentah. Tapi jika ia boleh jujur, sebenarnya ide Eunbi tidak terdengar buruk. “Apa rencanamu?”

Gadis itu tersenyum lebar. “Pertama-tama, aku harus memastikan bahwa kau akan menjaga komitmen rencana ini.”

“Aku akan melaksanakan rencanamu susuai dengan apa yang kau inginkan.” Janji Kyuhyun.

Eunbi mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Kyuhyun lalu menyatukan ibu jari mereka. Gadis itu menghela napas panjang sebelum mengutarakan rencana yang telah disusunnya matang-matang dengan seksama, memastikan Kyuhyun memang menangkap gagasan utama dari masing-masing rencana yang telah ia siapkan untuk kelanjutan hidupnya kelak.

Matahari sudah tenggelam sempurna saat Eunbi tuntas menyampaikan seluruh gagasan untuk mengantisipasi hidupnya yang akan segera berubah. Gadis itu menahan serbuan emosinya saat mendeskripsikan satu per satu cara yang bisa mereka lakukan untuk melawan takdir, ia mencoba menyampaikan pada Kyuhyun kesungguhannya untuk sembuh, gadis itu mencoba memaksakan kehendaknya untuk melawan jalan Tuhan. Sesuatu yang mustahil untuk dilawan, namun bagi Eunbi bisa dicari jalan keluar lain dari masalahnya.

Kyuhyun mendengarkan dengan seksama, megangguk setiap kali gagasan kekasihnya diutarakan. Dalam hati pria itu harus mengakui bahwa apa yang Eunbi pikirkan tentang hidupnya memang sangatlah matang. Malam itu ia percaya bahwa kekasihnya memang memiliki keinginan besar untuk hidup, dan malam itu Kyuhyun meyakinkan dirinya sendiri bahwa ada banyak cara untuk menghadapi ujian besar hidup Eunbi saat ini. Kyuhyun juga sadar bahwa hanya dirinya yang mampu melaksanakan rencana-rencana Eunbi sekiranya memang ada dampak buruk dari operasi gadis itu.

“Kau sudah mendengar semuanya, sekarang katakan padaku, apakah menurutmu aku sinting karena mencoba melawan takdir seperti itu?” Tanya Eunbi dengan suara parau.

Pria itu mengangguk. “Sinting, tapi juga masuk akal di saat yang bersamaan.”

“Tentu saja kau kuizinkan untuk menyerah kapan saja, Kyu.” Lanjut Eunbi tanpa menatap kekasihnya, gadis itu sibuk menggaruk bagian belakang telinga Cappy yang sudah bosan bermain dengan riak ombak.

“Aku tidak akan menyerah, Bi-ya.” Sergah Kyuhyun. “Akan kupikul tanggung jawab itu baik-baik, akan kulaksanakan rencanamu jika memang rencana A yang sempurna tidak terlaksana. Sebab aku memilih untuk menjalankan semua rencana sintingmu itu ketimbang menghabiskan sisa hidupku tanpa kehadiranmu.”

Gadis itu tersenyum sambil melingkarkan kedua lengannya erat di seputar tubuh Kyuhyun. “Tapi kau harus berjanji padaku, untuk menyerah jika keadaanku sudah membebanimu. Jika kondisiku sudah membuatmu lelah, jika keberadaanku dalam hidupmu sudah tidak lagi membuatmu bahagia.”

“Ey, kau mulai lagi!” Kyuhyun mendorong tubuh Eunbi menjauh darinya.

“Aku serius.” Sisa senyum dalam wajah gadis itu sudah lenyap, digantikan kemuraman yang selama ini berhasil ditutupinya rapat-rapat. “Aku sangat mencintaimu, Kyu. Selama kehadiranku memang membuatmu bahagia, maka aku akan melakukan apapun untuk tetap mengorbit di sisimu. Namun jika aku tidak lagi menjadi sumber kebahagiaanmu, maka aku akan mudur dengan lapang dada, selama kau berjanji bisa menemukan gadis yang jauh lebih baik dariku.”

Kyuhyun memutar matanya kesal. “Kalau begitu kata-kata tadi juga kukembalikan untukmu. Selama aku mampu membahagiakanmu, aku akan terus mendampingimu, Jang Eunbi.”

 

 

 

tbc…

 

 

 

Advertisements

59 thoughts on “Truth Within – 12 [Embrace This Moment]

  1. rise73 says:

    Kira kira apa rencana eunbi buat melawan takdir yah .. double double penasaran …
    Baca part ini kepikirannya eunbi bakal sembuh cuman dengan efek samping .. tapi ntahlah cuman bisa nebak nebak doang .. apapun hasilnya cman kaka yg twu ..😁😁

    Liked by 1 person

  2. lyeoja says:

    Eunbi ternyata tau rencana appanya…

    Eunbi yg kek giniii yg disukai kyukyu,,, eunbi yg slalu berpikiran positif..
    Selalu lope2 sm pasngan inii..

    Rencana sinting (?) Apa yg direncanakan eunbi…???

    Eunbi bakalan sembuh gak ya…???

    Final call ternyata bikin trauma ,,, mikirnya si eunbi bakalan *itu lagi*. heheheee
    Air mata terkuras bangt,,,

    Ttp semangat kaka nulisnya
    💪💪💪

    Liked by 1 person

  3. kaililaa says:

    Pas liat update di ig-mu, kak, aku kegirangan. Padahal baru sempet baca sekarang hihihihi, aku telaattt -_-
    Aku sebagai pembaca ikut mendoakan kesembuhanmu, Eunbi-yaa (even it’s fiction) soalnya aku jatuh cinta sama karakter Eunbi yang bener-bener strong. Kak, semangat yaaa^^ Aku juga mau naca prolog cerita barumu, kak.

    Ps : Kak, maaf ga bales reply kakak di komen aku pas ‘blabla’ sebelumnya. Ga ada notip masuk soalnyaa, baru tau barusan ajaa, beuh parah.

    Liked by 1 person

  4. Christellee says:

    Embrace this moment. Ya setidaknya eunbi harus melupakan sesaat ttng keadaanya, dengan menikmati setiap momentnya sama keluarga dan kyu jg, sebelum diopname. Mungkin dia bakalan tertekan banget nanti..
    Suka deh sama eunbi yang sekara mulai positif, semoga aja dia bisa sembuh.

    Liked by 1 person

  5. OngkiAnaknyaHan says:

    ya itu , resiko pasca operasinya yg bikin kawatir
    mudah2an gak terjadi apapun sama eunbi
    biar eunbi cepet sembuh dan bahagia

    lanjut part selanjutnya

    Liked by 1 person

  6. Lovecho says:

    Kadang bahagia klo mereka lgi merencanakan masa dpan selepas eunbi operasi, snang rasanya klo mereka jdi keluarga mereka psti akan mnjadi keluarga bhagia dgn cappy dan anak2 mereka nanti.. tpi klo mereka udh blik lgi ke topik dimana eunbi mngkin gak akan selamat atau mgkn eunbi akan sembuh dgn efek smping yg mengerikan itu aku jdi sdih lagi huhuhu

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s