Truth Within – 8 [Irony]

 

 

8 eunbi

*Gambar milik Kang Taeri

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

 

 

Keduanya menghirup udara musim panas kota Seoul yang kering dengan perasaan lebih ringan. Perjalanan sinting itu sudah berakhir dan yang menanti di depan mereka saat ini hanya tinggal segudang tanggung jawab untuk menyampaikan alasan utama mereka pergi. Keluarga Eunbi masih percaya bahwa kepergian gadis itu dipicu oleh rangkaian keributan antar Eunbi dan ayahnya yang terus terjadi sepanjang keluarga itu mempersiapkan pernikahan Eunbyeol, tapi nyatanya itu hanya alasan yang Eunbi karang demi mempercepat proses kepergian mereka tiga bulan lalu.

Selama kurun waktu tiga bulan, Eunbi terus mengabarkan keberadaanya pada ibu dan kakaknya, dan dari tiga bulan itu, tuan Jang hanya menghubunginya dua kali. Gadis itu tidak terlalu mempermasalahkan kelakuan tuan Jang yang sudah tertebak, ia justru tercengang pada panggilan terakhir ayahnya beberapa minggu lalu, panggilan yang menyatakan bahwa pria itu menyesal atas ulahnya dan juga ajakan agar Eunbi segera pulang.

Nyatanya memang mereka harus pulang. Selain visa mereka yang sudah habis, seluruh tabungan Eunbi dan Kyuhyun sudah nyaris ludes digunakan selama perjalanan. Tentu saja mereka juga harus cepat pulang untuk menindaklanjuti kondisi Eunbi. Tangan Eunbi tetap tremor sepanjang perjalanan dari bandara menuju rumah, pertama karena memang kondisinya yang sudah memburuk, ditambah faktor tegang yang memperburuk suasana.

“Aku akan bingung sekali saat terbangun besok pagi tanpamu, dan tanpa tujuan yang jelas untuk menjalani hari.” Eunbi menyandarkan kepala di atas bahu Kyuhyun sepanjang perjalanan mereka dari bandara.

“Aku tinggal di samping rumahmu, Bi-ya. Dan jangan bilang kau tidak punya agenda jelas untuk melewati hari. Kau harus segera ke dokter dan berobat.” Kyuhyun mengecup puncak kepala Eunbi.

“Tapi kau akan segera bekerja lagi di bengkel ayahmu, aku juga tidak mau mengganggumu terus. Sebenarnya masih ada beberapa tempat di Seoul yang ingin kufoto, tapi sepertinya tenagaku tidak memadai. Aku akan mencari novel-novel baru untuk mengisi hari. Atau sebaiknya aku belajar masak?” Ujar Eunbi.

“Kita bisa bertemu setelah aku pulang kerja, jika kau membutuhkanku juga tidak sulit mengangkat telepon, bukan? Toh aku masih meminta cuti satu minggu lagi pada appa.”

Eunbi menghela napas panjang. “Aku tidak bisa tenang memikirkan tentang malam ini. Apa tanggapan mereka nanti, Kyu? Aku takut akan dimarahi.”

Kyuhyun mendengus geli. “Atas dasar alasan apa kau dimarahi?”

“Karena aku menyembunyikan ini terlalu lama, karena aku membuang-buang waktu, atau mungkin karena aku menjatuhkan bom di tengah damainya kehidupan mereka.”

“Apapun tanggapan mereka nanti, aku akan menghiburmu. Kau boleh menangis sepuasnya nanti, kau bahkan boleh meminta es krim dariku.” Bujuk Kyuhyun menggunakan bujukan lama yang selalu mempan untuk Eunbi.

Gadis itu mengangguk pasrah. “Biar aku mempersiapkan mental untuk pagi ini dulu, kira-kira aku akan diomeli tidak oleh appa?”

“Sepertinya tidak.”

“Mau bertaruh? Kujamin pria itu akan menyambut kita dengan wajah galaknya.” Kekeh Eunbi. “Aish, aku ketakutan pada sosoknya, tapi di saat bersamaan juga merindukannya.”

Mereka sudah mengabari keluarga masing-masing bahwa hari ini keduanya akan tiba di Seoul. Secara spesifik Eunbi meminta ibunya untuk mengadakan acara makan malam di restorannya dengan dalih akan memberikan buah tangan pada mereka semua. Setidakya ia membutuhkan alasan yang cukup solid untuk mendudukkan seluruh anggota keluarganya dalam satu meja yang sama demi menyampaikan rahasianya. Benak gadis itu masih dipenuhi keraguan, namun ia juga tahu, semakin cepat ia mengatakan ini, semakin cepat pula penyakitnya akan ditangani.

Paling tidak, itu adalah cara idealnya.

Seandainya ayahnya masih tetap menjadi sosok keras kepala yang mengabaikan fakta bahwa anaknya sekarat, dan jika pria paruh baya itu masih mengesampingkan kebutuhan Eunbi akan waktu dan biaya mereka, maka Eunbi akan menempuh jalur asuransi kesehatan untuk melakukan pengobatannya. Jika ayahnya ‘kumat’, Eunbi akan menjadikan pertempuran ini miliknya sendiri dan ia bersumpah akan benar-benar kabur dari rumah setelah sembuh nanti. Kyuhyun pun sudah mencoba untuk berbincang dengan orang tuanya, sekiranya ayah Eunbi kembali berulah. Tapi mereka tidak akan tahu masalah itu saat ini, tidak sampai waktu makan malam tiba.

Kyuhyun mengantar Eunbi sampai ke depan pintu rumahnya, pria itu juga sama resah dengan kekasihnya, apapun bisa terjadi malam ini saat mereka menyampaikan berita buruk itu dan ia masih tetap harus menyiapkan rencana lanjutan seandainya yang terburuk terjadi.

“Di rumahmu tidak ada orang?” Tanya Kyuhyun setelah mereka membunyikan bel tiga kali.

Pertanyaan itu terjawab seketika pintu dibuka. Tanpa mengatakan ‘selamat datang’, sosok kaku dan mengerikan tuan Jang menyambut mereka.

Kedua anak muda itu membungkuk hormat.

“Selamat pagi, Abonim.” Sapa Kyuhyun. “Kami pulang, aku mengantarkan Eunbi.”

Tuan Jang mengangguk pelan pada Kyuhyun masih dengan wajah datar, lalu matanya mengamati Eunbi yang berdiri gugup di samping pria itu. Apa yang terjadi selama perjalan mereka? Apakah harga makanan di Eropa sebegitu mahalnya itu sampai-sampai putrinya terlihat sangat kurus? Mengapa putri bungsunya tidak nampak seperti orang yang baru pulang bersenang-senang? Wajahnya sedikit pucat dan sekali melirik saja tuan Jang bisa menyimpulkan putrinya kurang sehat.

“Istirahatlah.” Tuan Jang menepuk bahu Eunbi pelan tanpa kata-kata pembuka lain. “Pasti kau lelah. Eomma sudah memasak sup sebelum dia pergi ke restoran tadi, nanti kau tinggal memanaskan saja.”

Meskipun gadis itu masih bisa merasakan kecanggungan yang kental antara ia dan ayahnya, Eunbi mengangguk patuh lalu melambai pada Kyuhyun. “Sampai nanti malam. Istirahat yang cukup, Kyu.”

Pria itu mengangguk paham. “Hubungi aku jika ada barangmu yang terbawa olehku, ne?” Sahut pria itu sebelum pamit sekali lagi pada tuan Jang.

“Biar appa bawakan tasmu. Tas ini terlihat dua kali lebih besar dari tubuhmu sendiri.” Tuan Jang menarik tas yang dibawa Eunbi ke dalam panggulannya. “Mengapa tidak minta bantuan Kyuhyun membawakannya?”

Eunbi tersenyum kaku. “Sepanjang perjalanan memang Kyuhyun yang membawakannya, Appa. Pria itu bodyguard dan porter yang sempurna.”

“Apa pria itu lupa mengajakmu makan? Kalian berhemat makan? Apakah makanan di sana semahal itu sampai kau seperti ini? Kau kurus sekali.”

Eunbi yang masih terkesima dengan perhatian ayahnya hanya mengerjabkan mata heran.

“Makanlah dulu, baru istirahat. Eomma senang sekali kau pulang, tapi hari ini ada perusahaan yang mem-booking restoran, jadi dia harus ada di sana sampai siang nanti.” Ayahnya seakan paham keheranan di wajah Eunbi yang menolehkan kepalanya ke arah dapur.

Gadis itu menghela napas kecewa. Dia terlalu merindukan ibunya sekarang, ingin rasanya ia menghambur ke dalam pelukan wanita itu sekedar untuk melepas sedikit saja keresahan yang membebaninya selama ini. Tapi apa boleh buat? Sejak tuan Jang pensiun, memang keluarga mereka hanya bergantung pada restoran nyonya Jang yang terletak beberapa blok dari rumah mereka.

“Mengapa kau diam saja? Masih ingat kan di mana letak kamarmu?”

Gadis itu mengangguk cepat. “Ka—kalian tidak marah karena aku pulang lebih lama dari yang seharusnya?”

Pria paruh baya itu menghela napas. “Aku yakin kau masih marah padaku karena aku membentakmu dengan kasar di depan kerabat kita. Kuanggap ini caramu merajuk dan…”

Appa, itu sudah berlalu.” Potong Eunbi. “Bukankah kita sudah menuntaskan drama itu dalam panggilan teleponmu yang terakhir, lupakanlah.”

“Tetap saja, sepertinya aku sudah menyakiti hatimu.” Sahut ayahnya. “Kita memang sering bertengkar, tapi belum pernah pertengkaran kita sampai membuatmu pergi dari rumah berbulan-bulan.”

Eunbi mengerutkan kening semakin bingung. “Appa, apa kau baik-baik saja? Tidak biasanya kau seperti ini.”

“Seperti apa?”

Eunbi menunjuk pada ayahnya dengan alis bertaut. “Seperti ini, tidak biasanya kau bicara sepelan ini pada kami semua.”

“Ah, kemarin aku check-up dan aku dilarang ngomel-ngomel oleh dokterku, darah tinggi seperti biasa.” Jelas tuan Jang.

Mulut Eunbi membentuk hufuf O kecil.

“Selain itu, eomma-mu juga menyuruhku minta maaf, sepertinya memang reaksiku di hari itu berlebihan.” Lanjut ayahnya.

Benang merah dari sikap lembut ayahnya mulai terangkai dalam benak Eunbi. “Ah, ne. lupakanlah, Appa. Itu sudah berbulan-bulan lalu.”

Tuan Jang mengangguk pelan sambil melangkahi tangga menuju kamar putrinya. Pria itu melangkah seperti biasa, namun saat ia melirik ke balik bahunya Eunbi terlihat tengah menopang bobot tubuhnya pada pegangan tangga sebelum perlahan naik. “Eunbi-ya, kau baik-baik saja?”

“Ng, hanya jet lag dan merasa sedikit mual. Aku butuh waktu menaiki tangga ini.” Kekeh Eunbi.

Tuan Jang memutar kenop pintu kamar Eunbi lalu masuk begitu saja untuk menaruh tas carrier putrinya di dekat meja belajar. Eunbi menyusul beberapa saat kemudian dengan wajah semakin pucat.

“Wah, kamarku bersih sekali. Pasti eomma membersihkannya untukku.” Eunbi menyengir senang sambil mengamati isi kamarnya yang tertata rapi.

“Sudah kukatakan ibumu sangat merindukanmu. Saat kau menelpon dan mengatakan akan pulang hari ini, dia langsung belanja berbagai makanan kegemaranmu dan membersihkan kamar ini.” Jelas ayahnya. “Maka dari itu, makanlah sedikti sebelum kau istirahat, hargai usaha eomma.”

Eunbi mengangguk patuh. “Aku mau ganti baju dulu, Appa. Nanti aku turun.”

“Ng, kutunggu di ruang makan.” Simpul ayahnya sambil menutup pintu kamar Eunbi.

Gadis itu langsung menghempaskan tubuh di atas ranjang setelah ayahnya pergi. Aneh sekali kelakuan pria itu, tidak biasanya sang ayah bersikap lembut dan penyanyang–bahkan pada Eunbyeol pun sikap ayahnya tidak selembut ini. Eunbi yang masih kebiingungan langsung meraih ponsel untuk menghubungi Kyuhyun di rumah sebelah. Hanya dalam dua dering pria itu langsung mengangkat panggilannya.

“Kau baik-baik saja? Aku lupa kau harus naik tangga.” Ringis Kyuhyun. “Mungkin setelah kita memberitahu mereka, kau bisa meminta kamarmu dipindahkan di kamar tamu saja, setidaknya kau tidak perlu naik tangga.”

“Aku sudah mendarat dengan selamat di ranjangku. Dan aku terlalu mencintai kamar ini, aku tidak mau pindah ke kamar tamu.” Canda Eunbi. “Rumahmu kosong?”

“Ne, appa dan eomma baru kembali nanti sore.”

Aish, kalau begitu kita geser saja pengumuman ini untuk besok. Pasti orang tuamu masih ingin menghabiskan makan malam bersamamu.” Usul Eunbi. “Aku sudah mengambil waktumu selama nyaris tiga bulan penuh, pasti mereka jengkel padaku jika aku masih memintamu menemaniku di malam pertama kau tiba di Seoul.”

“Tidak. Tidak boleh ditunda lagi, Bi-ya. Kita sudah menunda ini terlalu lama.” Balas Kyuhyun tegas. “Lagipula orang tuaku tahu apa yang akan kita lakukan nanti malam, mereka juga mendukungku untuk melakukan ini segera.”

“Kyu… orang tuamu tidak mengatakan apa-apa pada orang tuaku, kan?” Tany Eunbi ragu.

“Tidak, mereka berjanji akan membiarkanmu menyampaikan itu sendiri.” Balas Kyuhyun lugu. “Memangnya kenapa?”

“Perlakuan appa agak janggal.” Balas Eunbi. “Pria itu membawakan tasku, mengantarku ke kamar, bertutur lembut padaku, dan dia menungguku untuk sarapan bersama di bawah sekarang. Aku belum pernah melihatnya seperti ini, bahkan perlakuannya pada eonni tidak pernah selembut ini.”

Kyuhyun terkekeh. “Sudah kukatakan beliau mencintaimu, Bi-ya. Gengsi pria itu saja yang terlalu besar untuk mengungkapkannya. Mungkin cara bercakap ramah denganmu adalah cara paling ‘wajar’ bagi beliau untuk menunjukkan perasaannya.”

“Tetap saja membingungkan.”

“Kau tidak istirahat?” Tanya Kyuhyun sambil membuka jendela kamarnya, dari jendela itu ia bisa melihat sosok Eunbi yang duduk di tengah ranjang. “Mengapa duduk saja di sana? Berbaringlah.”

Eunbi menoleh ke arah jendelanya yang terbuka, lalu melambai lemah pada kekasihnya. “Aku sudah merindukanmu. Biasanya kita berebut sisi ranjang yang paling jauh dari pintu, sekarang aku memiliki ranjang ini seorang diri.”

Kyuhyun terkekeh. “Aku bisa memanjat talang air lalu masuk melalui jendela kamarmu. Kau mau aku melakukan tindak kriminal itu?”

Eunbi tertawa renyah. “Mungkin kau bisa melakukannya tiap malam.”

“Kau kan tidur bersama eommonim, bisa-bisa aku dihajar habis oleh beliau.”

“Hhh… aku sangat merindukan eomma, tapi kurasa aku harus mulai belajar tidur sendiri.” Ujar Eunbi manja. “Gejala tremorku semakin menjadi dan aku tidak mau mengganggu tidurnya.”

“Kau tidak takut?”

Eunbi terkekeh. “Kalau dulu aku takut ada hantu di kamarku, sekarang aku justru takut mati dalam tidurku. Tapi aku harus melawan ketakutan itu, bukan?”

“Kurasa setelah kau mengatakan yang sesungguhnya, bahkan abonim pun akan tidur bersamamu.” Sahut Kyuhyun. “Terlebih prilaku ayahmu sudah jauh lebih lembut hari ini. Tadinya kupikir beliau akan memarahiku habis-habisan karena sudah pergi bersamamu berbulan-bulan.”

“Sepertinya dia merasa bersalah atas tragedi pembentakan di pernikahan eonni. Pria itu masih menyangka alasan kita jalan-jalan adalah karena aku ingin kabur darinya.” Jelas Eunbi. “Dan eomma menyuruhnya minta maaf padaku. Pantas saja dia—”

“Ayahmu merindukanmu.” Simpul Kyuhyun.

“Cih, yang benar saja. Biasanya saat aku berkeliaran di rumah justru diomeli, mengapa sekarang dia—”

“Ikatan batin, Jang Eunbi. Sepertinya ayahmu menyadari ada yang salah denganmu. Setidaknya begitu menurutku.”

“Kau sok tahu.”

“Cara beliau memandangmu dengan raut khawatir, kurasa ayahmu juga menyadari perubahan bentuk tubuhmu. Mungkin tadi beliau belum berniat mengomeliku karena kita baru sampai. Mungkin malam nanti ceritanya akan berbeda.” Terang Kyuhyun.

Aish, aku tidak mau kau terlibat masalah dengannya hanya karena nafsu makanku yang berkurang.”

“Jang Eunbi, kita sama-sama tahu bukan itu alasan utamanya.” Tegas Kyuhyun. “Tidurlah, pulihkan tenagamu. Nanti sore aku akan ke sana lalu kita berangkat bersama menuju restoran ibumu, setuju?”

“Ng. Aku mau makan dulu, appa menungguku di bawah.”

“Cobalah untuk memasukkan minimal lima suap nasi pagi ini tanpa memuntahkannya.” Balas Kyuhyun khawatir. “Habiskan supmu juga, pasti eommonim memasakkan sup kesukaanmu, kan?”

“Ng, akan kucoba.” Balas Eunbi sambil mengangguk pada Kyuhyun di jendela seberang.

“Tutup teleponnya.”

“Aku mencintaimu.” Bisik Eunbi dengan wajah yang tiba-tiba terasa panas.

“Aku juga mencintaimu.” Balas Kyuhyun tulus.

 

*

 

Sesuai janji, di sore hari pria itu muncul di pintu kamar Eunbi dengan wajah lebih tegang dari pagi tadi. Ia sudah mendapat sedikit perlakuan dingin dari tuan Jang di lantai bawah dan ia tahu malam nanti ia akan menjadi sasaran empuk pria paruh baya itu setelah mereka menyampaikan keadaan Eunbi. Sebab jika Kyuhyun ada dalam posisi tuan Jang, ia pasti akan menghajar habis pria yang berani mengikuti keinginan putrinya untuk keliling dunia dalam keadaan sekarat.

“Bagaimana keadaanmu?” Sambut Kyuhyun saat melihat Eunbi.

“Pusing seperti biasa. Aku sudah mencoba menelan lima sendok nasi sesuai instruksimu, tapi tekanan dalam otakku tetap membuatku merasa mual sepanjang hari. Singkat kata, aku memuntahkannya.” Balas Eunbi datar. “Tapi aku sudah meminum obatku, agar sakit kepalaku tidak mengganggu acara kita malam ini.”

Kyuhyun menghela napas gusar.

“Apa aku sudah terlihat cantik?” Sambut Eunbi dengan cengiran dipaksakan.

Kyuhyun mengengok ke arah tangga sejenak, memastikan tuan Jang tidak sedang mengawasi mereka, lalu mengecup kening Eunbi lembut. “Kau selalu terlihat menarik di mataku.”

“Ternyata kau memang tidak pandai menggombal.” Simpul Eunbi sambil terkikik senang.

“Sudah kukatakan, aku bukan tipe pria romantis.” Dengus Kyuhyun geli.

“Itu ranselnya, Kyu.” Tunjuk Eunbi pada ransel yang berisi buah tangan untuk keluarganya.

“Ng, biar kubawakan.” Pria itu menyampirkan tali ransel pada tubuh bagian depannya, kemudian berjongkok di depan Eunbi agar gadis itu naik ke atas punggungnya. “Ayo, abonim sudah menunggu di bawah.”

Gadis itu tersenyum sendu. Memang kekasih merangkap sahabatnya ini bukan pria romantis, tapi Kyuhyun sesungguhnya jauh lebih manis dari pria manapun yang pernah Eunbi kenal. Perlahan gadis itu melingkarkan lengan kurusnya di seputar leher Kyuhyun, lalu menempelkan tubuhnya pada punggung pria itu. Sisanya seperti biasa, menjadi tugas Kyuhyun untuk membawanya turun.

“Sampai kapan kau akan melakukan ini, ng?” Bisik Eunbi lirih.

“Sampai kau sembuh.” Balas Kyuhyun singkat.

Entah mendapat keberanian dari mana, Eunbi mendekatkan wajahnya pada wajah Kyuhyun lalu mengecup pipi pria itu singkat. “Terima kasih, Cho Kyuhyun. Aku tidak bisa membayangkan akan jadi apa hidupku saat ini tanpamu.”

Pria itu menolehkan kepalanya sekilas untuk melirik Eunbi. “Kalau kau memang ingin berterima kasih dengan cara yang benar, sembuhlah terlebih dahulu. Nanti akan kupirkirkan metode terbaik untuk membalas budiku.”

“Cih, kau pamrih.” Ledek Eunbi sambil mengeratkan lengannya lebih erat lagi. “Tapi aku jadi mendapat ide brilian.”

“Apakah idemu lebih penting dari pengumuman hari ini?” Todong Kyuhyun sambil menurunkan Eunbi dari gendongannya saat mereka tiba di lantai bawah. “Fokuskan dulu pada hal itu, baru kita pikirkan bagaimana menjalani hubungan baru kita seperti pasangan yang kasmaran.”

Gadis itu terbahak. “Baiklah, seandainya nanti aku lupa tentang ide yang melintas tadi, tolong ingatkan kata ‘sequel’ mudah-mudahan ide itu belum lenyap saat kita membahasnya nanti.”

.

.

.

Perjalanan menuju restoran terasa sangat canggung karena ketiga orang yang duduk di dalam mobil itu tidak menemukan topik pembicaraan yang cocok untuk mereka. Suasana tegang antara Kyuhyun dan ayah Eunbi semakin menjadi tanpa alasan yang dipahami pria itu, yang jelas ia menyadari bahwa tuan jang berkali-kali melirik ke arahnya dengan tatapan jengkel.

Untuk mengurangi kecanggungan, Eunbi memilih untuk menghubungi Eunbyeol dan menyalakan fitur loud speaker pada ponselnya. Kembaran gadis itu menjawab tidak lama kemudian.

“Bi-ya! Kau sudah berangkat?” Tanya Eunbyeol senang.

“Sudah, appa sedang menyetir. Kami bertiga di sini. Eonni… aku rindu sekali padamu.” Sahut Eunbi manja.

“Aku juga sudah tidak sabar bertemu denganmu, aku sudah di restoran. Saat ini kami sedang membantu eomma menyiapkan lauk untuk makan malam kita.” Terang Eunbyeol. “Seharusnya kau istirahat dulu, Bi-ya. pasti kau masih jet lag.”

“Memang, tapi biarlah. Aku terlalu merindukan kalian, lagipula aku punya agenda penting untuk disampaikan pada kalian.” Terang Eunbi dengan nada sok riang. “Sebentar lagi kami tiba, bersiaplah di depan restoran untuk menyambutku!”

“Sebaiknya kau langsung ke dapur saja, eomma terlihat stress karena ayam yang dimasaknya tidak matang-matang.” Kekeh Eunbyeol.

“Ayam?”

Samgyetang, kau suka sup itu, bukan?”

Bayangan satu buah ayam utuh dilumuri kuah ginseng langsung melintas dalam benak Eunbi. Biasanya gadis itu bersorak senang setiap kali ibunya memasak makanan itu, karena memang Eunbi penggemar sup. Tapi kali ini, sepertinya monster dalam kepalanya menangkap sinyal lain. Tanpa sadar ia langsung menutup mulutnya untuk menahan reflek ingin muntah.

“Bi-ya?”

Tuan Jang melirik melalui kaca spion tengah pada kelakuan putrinya yang aneh, tidak biasanya Eunbi bereaksi seperti itu pada samgyetang buatan istrinya.

“Ne, aku sangat menyukai sup itu.” Eunbi menarik napas dalam untuk menahan rasa mualnya. “Aku tidak sabar mencicipinya.”

“Kalau begitu minta appa untuk mengemudi lebih cepat, kami menunggumu di sini.” Sahut Eunbyeol tanpa curiga.

“Ne, kututup dulu teleponnya, Eonni.”

Beberapa saat kemudian mereka tiba di restoran nyonya Jang. Tuan Jang sibuk merapikan posisi parkir sementara Eunbi berjalan ke dalam restoran yang sudah diberi label ‘tutup’ di pintu depannya. Gadis itu melangkah cepat melewati deretan meja makan dan langsung pergi ke dapur di bagian belakang. Senyum lebar menghiasi wajahnya saat sosok gempal yang ia rindukan nampak sedang mengaduk sesuatu dalam kuali besar.

Eunbi menghampiri wanita paruh baya itu kemudian melingkarkan lengannya di seputar tubuh nyonya Jang. “Eommaaaaa… aku rindu sekali padamu.”

Nyonya Jang langsung meraih tangan Eunbi yang melingkar di bahunya, membalik tubuh, lalu memeluk gadis itu lebih erat. “Bi-ya! Anak nakal! Kau bilang hanya pergi dua bulan! Kau tidak tahu bertapa tersiksanya aku setiap malam pulang ke rumah yang sepi tanpa celotehmu, ng?!”

Eunbi menggoyang-goyangkan tubuh mereka sambil terus memeluk ibunya. “Maafkan aku, banyak sekali yang ingin kulihat. Aku juga merindukanmu, Eomma. Aku rindu masakanmu.”

Eunbyeol yang berada dalam dapur itu ikut mendekati adik dan ibunya, gadis itu melebakan lengannya untuk memeluk dua wanita favoritnya erat-erat. “Caramu memberi shock therapy pada appa patut kita acungi jempol!”

Nyonya Jang tertawa renyah. “Dia sudah minta maaf padamu, kan? Aku memaksa ayahmu untuk menelan gengsi besarnya dengan dalih kau tidak akan pulang jika dia belum minta maaf.”

“Ah! Itu alasan di balik sikap lembutnya hari ini.” Kikik Eunbi. “Kukira appa keracunan sesuatu sampai-sampai berubah ramah seperti itu.”

Eunbi melepas pelukan dari ibunya, lalu menggeser pelukannya pada Eunbyeol. Di satu sisi gadis itu sangat bahagia bisa berkumpul lagi dengan keluarganya yang hangat, namun di lain sisi Eunbi tahu keriangan ini akan segera berakhir ketika ia menjatuhkan bom mengerikan yang selama ini ia simpan baik-baik-baik.

Aigoo, aku akan mengomeli Cho Kyuhyun sekarang! Di mana anak itu?” Tanya Nyonya Jang.

“Di depan, Eomma. Kurasa dia sedang berbincang dengan Minseok oppa.” Terang Eunbi sambil masih memeluk erat kembarannya.

Nyonya Jang berjalan cepat ke dalam restoran untuk mencari sosok pria yang telah mendampingi putrinya tiga bulan terakhir. “Ya! Cho Kyuhyun!”

Yang dipanggil namanya langsung berhenti berbincang dengan suami Eunbyeol lalu membungkuk hormat. “Anyeonghaseyo, Eommonim.”

Nyonya Jang memukul bahu Kyuhyun pelan. “Anakku tidak kau beri makan, ng? Mengapa Eunbi sekurus itu?”

Kyuhyun hanya bisa menyengir salah tingkah. “Sepertinya dia kurang cocok dengan makanan di sana. Tidak ada yang mengalahkan nikmatnya masakan Eommonim.”

Aish, masih saja kau berusaha merayuku.” Nyonya Jang terkekeh ramah. “Ayo bantu kami membawa lauk-lauk dari belakang. Kau juga, Minseog-a.”

Ne!” Jawab dua pria itu bersamaan.

Tidak perlu waktu lama sampai seluruh makanan yang disiapkan nyonya Jang terhidang rapi di atas meja. Sepertinya wanita paruh baya itu benar-benar tahu cara menjamu anaknya yang baru pulang dari perjalanan jauh. Seluruh masakan favorit Eunbi dibuatnya, bahkan menu-menu yang tidak biasanya ada untuk musim panas disiapkan untuk Eunbi.

Eomma, ini banyak sekali.” Eunbi berdecak kagum sambil duduk di salah di salah satu kursi.

“Syukurlah aku masak sebanyak ini. Kau perlu makan banyak! Melihat tubuhmu yang nampak seperti tulang berbalut kulit membuatku merinding.” Ledek nyonya Jang.

Eunbi hanya tersenyum tipis. Matanya sangat tergoda melihat sup ayam favoritnya, tapi rasa mual itu masih terus menghantui kondisinya saat ini.

“Jadi, bagaimana perjalanan kalian?” Tanya Han Minseok, suami Eunbyeol.

“Perjalanan kami melelahkan, tapi kurasa itu terbayar dengan jutaan pengalaman baru yang tidak pernah kutemui di sini.” Balas Eunbi antusias.

“Ayo mengobrol sambil mencicipi makananku.” Nyonya Jang mengambilkan potongan ayam terbesar lalu menyerahkannya untuk Eunbi. “Khusus kubuatkan untukmu.”

“Terima kasih, Eomma.” Eunbi meraih sendoknya dengan tangan bergetar, lalu demi kesopanan, ia menyendok kuah samgyetang itu dan mencicipinya sekilas. Kedua matanya membulat senang. “Omo! Kurasa aku memang paling cocok dengan masakanmu, Eomma. Ini enak sekali.”

“Habiskanlah.” Sahut Nyonya Jang sambil mengambilkan porsi berikutnya untuk suaminya. “Lanjutkan cerita kalian.”

Kyuhyun sibuk memperhatikan Eunbi yang sedikit kesulitan menggunakan sumpit untuk menggali isian ayamnya, pria itu mengambil sumpit di tangan Eunbi lalu mengangguk pelan, memberi sinyal bahwa ia akan membantu Eunbi mengeluarkan isian ayamnya sementara gadis itu bisa bebas bercerita.

“Jadi kami tidak memiliki agenda spesifik untuk pergi ke mana dari hari ke hari, sehingga setiap harinya kami harus berdiskusi apakah akan pindah kota atau tidak. Dengan metode itu kami berhasil mengunjungi lima belas negara, dan puluhan kota.” Terang Eunbi dengan mata berbinar. “Seluruh film polaroidku habis dan memori kamera digitalku juga sudah teriak karena terlalu penuh. Nanti setelah aku memindahkan seluruh data, akan kutunjukkan pada kalian tempat-tempat yang menurutku paling indah.”

“Apa dia merepotkanmu, Kyuhyun-a?” Tanya tuan Jang sambil memperhatikan tangan Kyuhyun yang sedang ‘membongkar’ ayam Eunbi.

Pria itu menggeleng cepat. “Sejujurnya aku tidak menyangka Eunbi bisa semandiri itu. Mengingat tingkahnya yang selalu manja dan merengek.”

Eunbyeol terkekeh, memang benar adiknya itu selalu bersikap manja pada Kyuhyun dan dirinya. “Jadi kalau disimpulkan, perjalanan ini seperti pra-bulan madu, begitu maksudmu?”

Eunbi menginjak kaki Eunbyeol yang duduk di sampingnya, tidak perlu orang tua mereka tahu bahwa ia dan Kyuhyun berbagi ranjang yang sama selama tiga bulan.

“Karena perjalan kami terhitung spektakuler, sudah sepantasnya kami berbagi lebih dari sekedar cerita dan foto. Jadi biar kami berikan sedikit buah tangan dari perjalanan kami.” Eunbi mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk pada ransel yang Kyuhyun bawa bersamanya sore tadi.

“Seharusnya kalian tidak usah repot-repot.” Eunbyeol menggelengkan kepala takjub. “Pasti berat membawa barang tambahan ekstra.”

“Tenanglah, tidak ada yang terlalu besar dan merepotkan.” Kyuhyun menjawab dengan senyum lebar. “Ini yang pertama kami siapkan untuk Eommonim tentu saja.”

Omo… apa yang kau belikan untukku, Kyuhyun-a?” Nyonya Jang mengulurkan tangan dengan cengiran lebar.

“Eunbi bilang Eommonim mengoleksi sendok teh, kami membelikan satu dari masing-masing kota yang kami datangi.” Kyuhyun memberikan satu kotak penuh berisi sendok kecil dengan emblem kota yang berbeda-beda. “Satu sendok untuk setiap kota yang kami kunjungi.”

Eomma suka, tidak? Kau bisa memajangnya di dapur atau di restoran ini. Aku akan mencarikan rak atau pigura yang tepat agar seluruh koleksimu nampak menonjol.” Tambah Eunbi.

Nyonya Jang bangkit dari kursinya untuk memeluk Eunbi dan Kyuhyun bergantian. “Kalian ini manis sekali. Terima kasih banyak.”

“Nah, sekarang untuk Appa.” Sahut Eunbi riang. “Appa, aku tahu kau suka memancing, sehingga oleh-olehmu tidak jauh-jauh dari kegiatan itu. Waktu di Islandia, kami menemukan satu toko yang sangat besar berisi berbagai kebutuhan memancing.”

“Lebih besar dari toko langgananku?” Sahut tuan Jang antusias.

“Wah, jika dibandingkan dengan toko yang ada di sana, toko langgananmu itu jadi seperti warung kecil.” Kikik Eunbi. “Di dalamnya lengkap sekali, Appa. Aku benar-benar ingin membawamu ke sana suatu hari nanti. Pasti kau bisa menghabiskan waktu dua hari penuh dalam toko itu.”

Tuan Jang tersenyum lebar sambil memperhatikan sebuah silinder seukuran payung kecil yang digenggam Eunbi.

“Ini pancingan lipat portable. Aku tahu pasti Appa akan mengira ini ringkih, tapi percayalah, kami sudah menyaksikan alat ini dipraktikkan langsung di atas perahu untuk memancing ikan trout berukuran sedang.” Eunbi menyodorkan alat pancing lipat pada tuan Jang. “Aku akan membantumu mengoperasikannya nanti, ne?”

Tuan Jang bangkit untuk memeluk Eunbi sambil mengecup puncak kepala putrinya penuh terima kasih. Ada rasa haru yang terpanggil dalam diri pria itu, sebab meskipun ia sudah menyakiti hati gadisnya berkali-kali, Eunbi masih tetap putri kecilnya yang manis dan sangat perhatian padanya. “Terima kasih.”

“Ini pelengkap dariku, Abonim.” Kyuhyun memberikan sekotak umpan silikon bewarna warni dan seperangkat benang pancing. “Siapa tahu umpan silikon ini lebih ampuh daripada cacing yang biasa Anda gunakan.”

Aish, cukup manusia saja yang tertarik dengan silikon. Kalau ikan ikut-ikutan tertarik pada bahan yang tidak alami, aku tidak tahu harus berbuat apa tentang hobiku yang satu ini.” Balas tuan Jang dengan senyum hangat, pria itu berjalan menuju tempat Kyuhyun untuk memeluk pria itu. “Dan aku belum mengucapkan terima kasih karena sudah menjaga putriku.”

Kyuhyun menepuk punggung tuan jang kaku. “Ne, Abonim. Dengan senang hati aku akan terus mengawasinya untukmu.”

Eonni!” Eunbi memekik sambil mengambil sesuatu dari dalam ransel. “Aku mendapatkan buah tangan paling sempurna untukmu.”

“Yaitu?” Balas Eunbyeol sama senangnya dengan Eunbi.

“Saat kami ke Paris, kami menyempatkan pergi ke Disneyland…” Eunbi mengakat alisnya untuk memancing Eunbyeol. “Tebak apa yang kubelikan untukmu.”

“Ya Tuhan, kalian ke sana?!” Kembaran Eunbi memekik histeris! “Aish, aku iri padamu sekarang!”

“Tidak, kami tidak masuk ke dalam, harganya terlalu mahal dan budget kami tidak memungkinkan untuk bermain di dalam.” Sahut Kyuhyun dengan tawa renyah. “Tapi kami bisa mengakses toko suvenir yang terletak di luar loket tiket.”

“Eunbi-ya… jangan bilang yang kau belikan untukku ada hubungannya dengan Winnie the Pooh!” Eunbyeol semakin memekik.

“Tentu saja aku membelikan segala yang berhubungan dengan Winnie the Pooh, Eonni!” Pekik Eunbi sambil sedikit melompat. Gadis itu mengeluarkan kotak yang paling besar di antara kotak lain, lalu membuka isinya dengan bangga. “Kubelikan boneka-boneka kecil Pooh, Tigger, Eeyore, dan Piglet. Lalu kubelikan bandana handuk berbentuk kuping Pooh untuk kau pakai membasuh wajah setiap malam. Dan ini mug pasangan untuk kalian.” Terang Eunbi sambil menyodorkan dua mug pada Eunbyeol dan Han Minseok.

“Kau memang kembaran terbaik!” Eunbyeol menghambur ke dalam pelukan Eunbi lalu kedua gadis kembar itu berputar senang di tempat.

Oppa, kami membelikan topi khas tentara Jerman di masa perang dunia kedua lengkap dengan emblem lama negara itu.” Eunbi bicara pada Minseok di tengah pelukannya dengan Eunbyeol. “Kau sangat menggemari film perang dan juga kolektor barang tentara, jadi sepertinya oleh-oleh itu cocok untukmu.”

Kyuhyun menyerahkan barang terakhir dalam tasnya pada Minseok.

“Terima kasih, Eunbi-ya, Kyuhyun-a.” Ujarnya sambil mengamati topi di tangannya baik-baik. “Apa kalian tahu emblem ini sudah menjadi barang langka sekarang?”

“Kami beli itu di pasar loak.” Jawab Kyuhyun jujur. “Toko-toko konvensional tidak menjual yang asli, tapi salah satu toko di pasar loak itu menjual souvenir kuno. Aku sudah memeriksa baik-baik, kujamin emblem itu asli.”

“Kalian mencari di tempat yang tepat! Pasar loak adalah tempat belanja paling menarik.” Minseok menepuk bahu Kyuhyun dengan senyum lebar. “Terima kasih.”

“Apa kalian suka dengan hadiah kalian?” Tanya Eunbi kembali ke tempat duduknya dengan senyuman lebar.

Semua yang duduk di sana mengangguk-angguk sambil mengamati barang yang diberikan Eunbi dan Kyuhyun pada mereka.

“Kalian benar-benar mengunjungi semua kota yang ada di sendokku ini?” Nyonya Jang berdecak kagum. “Tabunganmu pasti habis sekarang, Eunbi-ya.”

“Biarlah, aku membuat investasi memori yang paling baik dalam hidupku. Tidak akan ada yang bisa menggantikan pengalaman itu.” Sahut Eunbi dengan senyum sendu.

“Sebenarnya masih banyak yang belum sempat kami kunjungi.” Jawab Kyuhyun. “Mungkin lain kali, setelah kami menabung mati-matian beberapa tahun ke depan.”

“Lain kali jangan berani-berani ajak gadisku keliling dunia jika belum ada cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.” Sahut tuan Jang dingin.

Kyuhyun yang tidak menyangka akan diserang perihal itu langsung membungkuk salah tingkah.

“Ayo kita mulai makan, nanti supnya dingin.” Ajak nyonya Jang.

Eunbi meraih sendok di sisi kanan mangkuk supnya, menyendok cepat sesuap nasi ke dalam mulutnya lalu menelan makanan itu dengan bantuan kuah sup yang dimasakkan ibunya. Selain ayam di dalam mangkuknya, nyonya Jang juga memasakkan daging saus pedas kesukaan Eunbi, namun gadis itu tidak bisa meraihnya. Memegang sendok saja sudah menjadi tantangan sendiri baginya sekarang, dan tremor tangannya akan sangat kentara jika ia mencoba meraih makanan dengan sumpit. Tapi pria di sisinya dengan sigap mengambil potongan daging, mengguntingnya ke dalam porsi sekali suap lalu meletakkan daging itu di atas sendok Eunbi.

“Makanlah. Pasti kau rindu masakan Eommonim.” Ujarnya pelan.

Eumbi tersenyum singkat lalu mencoba memasukkan suapan daging itu ke dalam mulutnya, tidak menyadari ada empat pasang mata yang mengawasi kemesraan mereka yang tidak biasa.

Omo! Apakah kalian resmi menjalin hubungan sekarang?” Sosor Eunbyeol tanpa basa-basi.

Kyuhyun mengalihkan tatapannya dari wajah Eunbi pada wajah kembarannya. Belum sempat ia menjawab, tuan Jang memukulkan tangan ke atas meja.

“Demi Tuhan, katakan tidak terjadi yang aneh-aneh dengan kalian.” Tegas tuan Jang sambil menyorot Kyuhyun dengan tatapan curiga.

Eunbi meletakkan sendoknya, ia segera melambai ke arah empat orang lain yang ada di sana. “Tidak ada apa-apa di an—”

Ne, kami berkencan.” Balas Kyuhyun singkat. “Tapi kupastikan padamu Abonim, aku tidak menyentuh Eunbi seperti yang Anda curigai.”

Hanya tuan Jang saja yang terlihat jengkel, sementara nyonya Jang diam-diam mengangkat sloki sojunya ke arah Eunbi dan Eunbyeol langsung memeluk kembarannya dari samping.

“Jadi kau berhasil merayunya?” Bisik Eunbyeol dengan kikikan iseng.

“Menginaplah di rumah, aku punya segudang cerita untukmu, Eonni.” Balas Eunbi jahil.

“Tadi di mobil kau bilang ada yang harus kau sampaikan pada kami, apakah ini berita yang harus kau sampaikan?” Todong tuan Jang masih dengan wajah tertekuk jengkel.

“Ng…”

“Ey, mari kita bersulang dulu untuk ini. Akhirnya mereka berhenti bersikap bodoh dan memutuskan untuk bersama.” Nyonya Jang menengahkan sambil menuang soju pada masing-masing sloki di atas meja.

Eunbi langsung menatap Kyuhyun dengan awas, jelas ia tidak diizinkan meminum alkohol sekarang. Reaksi tubuhnya semakin memburuk pada zat itu dan karena ia mengkonsumsi obat secara rutin, konsumsi alkohol menjadi dua kali lebih berbahaya baginya.

“Ayo angkat gelas kalian.”

“Sebenarnya…” Eunbi mencoba membuka pembicaraan, tapi suaranya terlalu pelan dan terkalahkan oleh suara Eunbyeol yang sudah terlanjur menyahut.

“Tahan gelas kalian. Aku dan Minseok Oppa juga punya berita untuk dirayakan.” Buka Eunbyeol dengan senyum berseri, gadis itu menggeser gelas sojunya ke arah Minseok. “Aku tidak boleh minum-minum…”

Suasanya ricuh yang sebelumnya mengisi restoran itu langsung lenyap, semua mata di sana menatap Eunbyeol.

“Aku hamil.” Terangnya singkat. “Usia kandunganku sudah enam minggu sekarang.”

Kesunyian tadi praktis berubah meriah setelah mereka mencerna baik-baik berita baik dari Eunbyeol. Sekejap nyonya Jang berteriak histeris dan tuan Jang langsung memekik senang atas prospeknya menjadi seorang kakek. Sementara itu Eunbi hanya terduduk bingung dengan berita yang baru di terimanya.

Beginikah jalannya? Eunbyeol si gadis pintar dan Eunbi si pemalas yang tidak menonjol di kelas. Enbyeol si anak emas dan Eunbi bayangan redup yang mengikutinya. Eunbyeol yang jalan hidupnya mulus sesuai rencana dan Eunbi yang harus mencari jalan keluar dari banyak kesulitannya. Eunbyeol yang mendapatkan anugrah berupa bayi dan Eunbi yang mendapat tumor.

Setitik air mata mengalir begitu saja dari pelupuk mata Eunbi tanpa bisa dicegahnya, hatinya pedih. Ia tidak ingin menjadi saudara jahat yang tidak bisa ikut berbahagia untuk kakaknya sendiri, tapi mengapa rasanya sekarang ia ingin menangis sekeras mungkin?

“Eunbi-ya… kenapa kau menangis?” Suara nyonya Jang menyadarkan Eunbi kembali.

Kyuhyun di sisi Eunbi meremas tangan kekasihnya singkat sekedar untuk menyadarkan Eunbi bahwa ia masih harus mengucapkan selamat pada kakaknya sebelum mereka lanjut memberitahu berita buruk itu.

Eonni, aku bahagia untukmu. Selamat, Eunbyeor-i! Selamat, Oppa! Maafkan tangisanku, aku hanya benar-benar bahagia.” Dalihnya. “Ya Tuhan, sebentar lagi akan ada versi kecil dari kalian yang memanggilku Imo.”

Melihat kembarannya menangis, air mata Eunbyeol pun ikut mengalir. “Aku bahagia sekali, Bi-ya. Walaupun sebentar lagi aku akan menjadi gendut dan tidak menarik lagi, aku bahagia sekali.”

“Aku tahu, Eonni.” Eunbi melebarkan lengan untuk memeluk Eunbyeol yang duduk di sampingnya. “Demi Tuhan, aku benar-benar bahagia untukmu.”

“Selamat, Eunbyeor-i.” Kyuhyun memaksakan senyum pada wajahnya. “Selamat, Hyung.”

“Ayo kita bersulang untuk Eunbyeol dan Eunbi!” Minseok mengangkat gelas sojunya. “Untuk si kembar Jang!”

Masih dirasuki perasaan bahagia berlebihan, tuan dan nyonya Jang mengangkat gelas mereka. Kyuhyun mengikuti demi formalitas, dan Eunbi pun terpaksa mengangkat gelasnya. Mereka mendentingkan gelas ke tengah meja lalu meneguk seluruh isi gelas dengan cepat.

Awalnya Kyuhyun berniat menukar gelasnya dengan gelas Eunbi, agar kesannya gadis itu juga ikut meminum soju dan tidak menimbulkan kecurigaan, tapi pria itu hanya bisa melotot kaget saat gelas kecil di tangan gadis itu sudah kosong. Gadis itu nekad menegak alkohol di tangannya.

Kyuhyun manangkap tangan Eunbi dengan sorot panik, dari matanya yang membelalak pria itu seakan menyampaikan bahwa apa yang baru dilakukan Eunbi tadi adalah tindakan bodoh. Tapi sorot putus asa di dalam wajah kekasihnya membuat Kyuhyun terdiam.

Eunbi menggeleng pelan pada Kyuhyun, sebuah senyum miris terlukis di wajahnya. “Lain kali, tidak malam ini.” Tambahnya dalam bisikan lirih yang hanya terdengar Kyuhyun.

 

 

tbc…

 


Next update bakal agak lama, karena aku mau refreshing dulu~~~ hahaha

Kindly add me on IG: @s.pinasthika i’ll follow you back 😁

Advertisements

64 thoughts on “Truth Within – 8 [Irony]

  1. lhealee says:

    Momen nya memang kurang pas sih klau nyampein skrng, disatu sisi keluarga Jang lagi bahagia krn Eunbi udah balik dan disisi lain jg mrka makin bahagia dgn brta kehamilan Eunbyul nah apa jadinya klau tbtb Eunbi jatuhin bom itu skrng. Hm-mm tp semakin ditunda semakin bahaya jg u/Eunbi😩moga semua akan baik2 sajalah, kasian Eunbi hidupnya susah terus😥

    Btw happy refreshing unnie😆

    Hwaiting unnie!!!

    Liked by 1 person

  2. Devi ra says:

    Emang sih ga baik juga klo eunbi ngomong klo di lagi sakit,keluarga mereka bner2 sedang bahagia.aku faham sma tuan jang bukannya dia ga sayang dan pilih kasih trhdp kedua putrinya.tpi setiap orang tua memang ga selalu sma dlm kasih perhatian keanak2 nya,eunbi hrus sembuh yah,semoga keluarganya mendukung eunbi.

    Liked by 1 person

  3. diah sulistia says:

    Ya Tuhan sampai kapan eunbi harus nutupin ini dari keluarga nya??
    tn. jang bakalan nyesel deh nantinya setelah dengar kbar dari eunbi ini huftttt kyuhyun semangat y buat jaga dan setia sama eunbi 🙂

    Liked by 1 person

  4. lyeoja says:

    Lain kali jangan berani-berani ajak gadisku keliling dunia jika belum ada cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.”
    Suka bangt sm katanya tuan jang, brasa ad mnis2nya gtu…

    Ikut sdih breng eunbi…
    😥😥😥
    Untung aja ad si kyukyu

    Liked by 1 person

  5. arakyuu says:

    Greget jadi Eunbi ya, sekarang dia pasti serbasalah.. Mau ngasih pengumumannya kapan dong T_T semakin ditunda kan semakin bahaya. Belum lg reaksi ortunya eunbi gimana nanti kalo tau eunbi nyembunyiin penyakit berbulan-bulan :”

    Liked by 1 person

  6. ladybook123 says:

    Yah ke pending lg deh beritanya….
    Kpn keluarganya bakalan tau nih….
    Klo gini jd makin lama penanganannya…

    Btw happy holiday.. semoga abis ini bakalan ada cerita baru dgn latar kota2 di jepang. Hehe…
    Have fun sis 😁

    Liked by 1 person

  7. ddianshi says:

    Ah kenapa sih hidupnya eunbi selalu menyesmdihkan? kenapa selalu eunbyeol yang selalu unggul dalam segala sesuatu??? ini benar2 tidak adil 😥 eunbi sampai kapan kamu tidak memberitahu penyakitmu?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s