Truth Within – 7 [Countdown]

 

7 eunbi

*Gambar milik Kang Taeri

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

 

 

Typo ampunin aja ya…

Please add my new IG: @s.pinasthika

—————————————–

 

Keduanya tiba di Barcelona dalam suasana hati yang lebih kacau dari sebelumnya. Meskipun keadaan Eunbi sudah lebih baik dari segi fisik, perasaan gadis itu masih terombang-ambing tidak menentu. Sepanjang perjalanan mereka dari Roma menuju Barcelona, Eunbi hanya diam dan melamun, seakan enggan bicara dengan teman seperjalanannya. Gadis itu juga sibuk mengutuk dirinya sendiri yang terlalu cengeng sampai-sampai tidak bisa mendengar penjelasan Kyuhyun setelah ia sibuk menangis semalaman. Kyuhyun sendiri menjadi semakin salah tingkah dengan sikap Eunbi yang terkesan menghindar. Apakah ada yang salah dari kata-katanya? Ia kira ini yang Eunbi inginkan. Ia pikir Eunbi ingin mereka bersama, tapi mengapa saat Kyuhyun mengungkapkan itu justru tangisan keras yang ia peroleh sebagai balasan?

Namun karena mereka adalah individu yang sangat mengenal satu sama lain dengan baik, Kyuhyun dan Eunbi mencoba untuk membiarkan masalah ini bersarang sementara dalam benak mereka masing-masing sebelum diskusi penting ini kembali terangkat. Toh selama ini cara diskusi setelah cooling down adalah metode ampuh bagi mereka—semoga saja kali ini pun demikian.

Suasana hati Eunbi menanjak drastis setiba mereka di Barcelona. Kyuhyun tidak mau membuang waktu mereka lagi, pria itu langsung menyewa taksi untuk membawa mereka ke hotel di daerah Catalunya lalu melaksanakan sisa jadwal perjalanan yang telah disusunnya dengan matang saat Eunbi tertidur kemarin.

“Kuberi kau dua pilihan, mau naik taksi keliling kota atau mau sewa skuter?” Tawar Kyuhyun setelah mereka check-in meletakkan barang-barang mereka di hotel.

“Skuter!” Balas Eunbi antusias. “Tapi apa skuter kuat dibawa menanjak ke Bukit Carmel?”

“Ada jalan umum yang lumayan landai dari sisi timur Parc Güell.” Kyuhyun membentangkan peta yang ia peroleh secara cuma-cuma dari resepsionis hotel.

Eunbi mengangguk dengan senyum lebar. “Jika tidak merepotkan, kurasa skuter pilihan yang lebih menyenangkan.”

Kyuhyun mengangguk setuju. “Kalau begitu tunggu sebentar, ne? Aku harus menjemput skuter itu beberapa blok dari sini. Sementara menunggu kau periksa saja semua kelengkapan kameramu, aku tidak akan lama.”

Gadis itu menuruti instruksi Kyuhyun. Selama pria itu menjemput transportasi mereka, Eunbi mengumpulkan beberapa perangkat kamera dan tali pendek untuk diselipkan di tangannya, alat yang selama ini tidak pernah digunakannya. Akibat tremor di tangannya semakin menjadi-jadi, Eunbi harus menggunakan alat bantu untuk bisa tetap memegang kameranya dengan mantap dan ia juga sudah memprediksikan waktu ketika ia membutuhkan alat ini demi mendapat gambar yang layak untuk dikenang.

Pria itu tiba beberapa saat kemudian dengan sebuah Vespa bewarna biru. Akhirnya Eunbi bisa melihat senyum bahagia Kyuhyun setelah wajah pria itu didominasi raut khawatir sejak kemarin. Gadis itu melambai senang pada Kyuhyun sambil membidik kamera ke arah teman seperjalannya, mencoba efektifitas tali ganggam yang baru ia tempelkan pada kamera besarnya.

“Ini impianmu, Kyu.” Kikik Eunbi senang sambil memperhatikan hasil foto yang baru diambilnya. “Seluruh poster Vespa yang kau pajang di dinding kamarmu itu akhirnya menjadi nyata.”

Pria itu mengangguk setuju. “Salah satu alasan mengapa aku mendalami permesinan sebagai jurusan kuliahku.”

Kyuhyun memberikan helm untuk dikenakan Eunbi dan gadis itu langsung naik ke bagian belakang untuk memulai perjalanan mereka di kota terakhir dalam rangkaian petualangan nekad yang tidak terencanakan matang ini.

“Peluk pinggangku, tarikan skuter ini kurang sensitif, aku hanya takut kau terjatuh kalau aku memutar gas terlalu cepat.” Ujar Kyuhyun dengan senyum iseng.

Eunbi melakukan apa yang pria itu minta. “Cih, bilang saja kau ingin aku memelukmu.”

“Kau memang gadis yang paling mengenalku.”

.

.

.

Tujuan pertama mereka adalah Parc Güell, sebuah taman luas yang dipenuhi dengan patung berlapis mozaik keramik bewarna-warni yang menjadi ciri khas seni dan arsitektur naturalis dari Antoni Gaudí. Memang Eunbi dan Kyuhyun tidak memahami seluk beluk seni maupun arsitektur, tapi mereka paham apa yang terlihat indah untuk dipandang mata—terutama Eunbi yang paham apa yang terlihat menakjubkan di dalam kamera. Sepanjang perjalanan dari area parkir menuju taman itu, keduanya sudah disambut oleh musik khas Spanyol yang dimainkan pengamen-pengamen berkualitas di pinggiran taman. Eunbi mencoba mengambil gambar sejelas mungkin meskipun ia harus berkonsenterasi penuh untuk mengurangi tremor tangannya.

Kyuhyun yang selama ini sibuk merekam perjalanan mereka dengan video ponselnya ikut mengarahkan kamera ke berbagai arah, sambil mengatakan beberapa hal tentang tanggal perjalanan, lokasi, serta apa yang spesial dari tempat yang mereka kunjungi. Jika Eunbi lebih senang menyimpan memorinya dalam bentuk foto, pria itu lebih menikmati video yang bisa ia tonton ulang lengkap dengan atmosfer lokasi pada saat itu.

Mata Eunbi berbinar senang saat mereka tiba di lapangan utama Parc Güell yang lebih luas, apa yang selama ini hanya bisa ia saksikan dalam majalah akhirnya nampak di hadapannya. Sisi samping taman itu dipagari tembok setinggi pinggang yang difungsikan juga sebagai bangku taman panjang dan berkelok-kelok, ditempeli dengan potongan keramik warna-warni yang menempel di sepanjang permukaannya. Terangnya sinar matahari musim panas Spanyol membuat tempat itu terlihat semakin cerah dan indah untuk diabadikan.

parc-guell

*Parc Guell (Sumber: Google Image)

“Kyu! Ini spot wajib untuk foto kita.” Eunbi menarik tangan Kyuhyun ke salah satu tempat yang tidak diduduki turis lain.

Selfie lagi?”

Eunbi mengangguk. “Kau juga bisa mencoret satu lagi daftar di dalam buku itu.”

Kyuhyun terkekeh setuju, pria itu tidak berhenti merekam video meskipun Eunbi mengajaknya berfoto bersama.

“Kau masih merekam?” Tunjuk gadis itu pada ponsel Kyuhyun.

“Ng, suasananya menyenangkan, siapa yang mengira benua Eropa dipenuhi oleh pengamen-pengamen berkualitas yang mampu memainkan alat musik anti-mainstream seperti banjo, saxophone, dan akordion.” Kyuhyun menolehkan kepalanya pada sekelompok pengamen di kejauhan.

“Kalau begitu, tolong fokuskan kameramu pada pengamen yang mengenakan topi fedora itu, si pria berbaju putih yang memainkan bass.” Tunjuk Eunbi.

“Kau sedang cuci mata, Nona Jang?” Sahut Kyuhyun sinis, tapi mengikuti instruksi Eunbi.

“Bagiku pria Spanyol jauh lebih menarik dari pria Italia. Kulit mereka lebih gelap dan fitur wajah mereka tidak sekasar pria Italia, pria Spanyol itu… seksi.” Gadis itu terkikik malu. “Lagipula aku suka musik yang ia mainkan.”

Kyuhyun memutar matanya. “Tidak sekalian kau ajak kenalan saja?”

“Kau cemburu?” Ledek Eunbi.

“Tidak juga, hanya saja ekspresimu saat ini terlihat terlalu konyol dan memalukan. Kapan terakhir kau cekikikan seperti kuda karena melihat pria tampan, ng?” Balas Kyuhyun sambil membidik ekspresi Eunbi dengan ponselnya. “Percayalah, kita akan menonton ulang ini semua dan kau akan menyembunyikan wajah di dalam bantal karena malu.”

Eunbi terkikik setuju. “Biarlah, tidak setiap hari aku dikelilingi pria Spanyol yang tampan.”

“Tidak kusangka tipemu adalah pria Latin.” Kyuhyun menggerutu sambil menggeser kamera ponselnya kembali pada pria berfedora yang menurut Eunbi tampan.

Gadis itu meraih ponsel di tangan Kyuhyun agar merekam wajahnya secara penuh. “Karena pria Korea yang menurutku tampan selalu mengatakan bahwa dia tidak pernah tertarik padaku, jadi sebaiknya aku mulai mencari tipe lain.”

Pria itu terbahak dengan cara konyol Eunbi menyindirnya terang-terangan.

“Ayo kita ke tepian di sebelah sana, seharusnya Sagrada Familia nampak dari tempat ini.” Ajak Eunbi mengacuhkan olokan Kyuhyun.

Pria itu masih mengikuti langkah Eunbi dari belakang, merekam sekeliling mereka sampai pada akhirnya pemandangan yang Eunbi sebutkan tadi juga nampak dalam kamera ponselnya. Barcelona adalah sebuah kota yang tersusun dari blok-blok persegi yang tersusun sangat rapi jika dilihat dari atas. Di antara barisan bangunan yang apik itu, menjulang satu gereja megah rancangan Antoni Gaudí, Sagrada Familia. Gereja ini sudah dibangun sejak tahun 1882 dan sampai detik ini, pembangunan belum juga tuntas dikarenakan rumitnya desain yang dibuat serta keterbatasan teknologi pada masa itu. Namun visi Antoni Gaudí sendiri masih tetap dijalankan secara perlahan dan tidak sulit memahami mengapa gereja itu menjadi ikon utama kota Barcelona—dan mengapa Eunbi memaksakan diri untuk melihat bangunan itu dari dekat.

“Wah, bangunan itu benar-benar bangunan yang paling tinggi sepertinya. Kemarin aku membaca sejarahnya selama kau tertidur, lalu aku melihat gubahan digital dari grand plan gereja itu—menara yang ada sekarang hanya menara support, Bi-ya. Arsitek gila itu merencanakan sebuah menara tinggi di tengah-tengah konstruksi layaknya kubah di gereja-gereja Italia—hanya saja ini menara. Kurasa mereka butuh dua abad lagi untuk benar-benar menuntaskan itu semua.” Kyuhyun berdecak kagum.

“Kau paham kan sekarang mengapa aku bersikeras ingin melihatnya.” Eunbi memincingkan matanya untuk mencoba mengamati apa yang Kyuhyun tunjuk, tapi bayangan hitam gelap yang memenuhi pandangannya membuat Eunbi tidak bisa menikmati apa yang Kyuhyun tunjuk.

Pria itu kembali merekam gambar lewat kamera ponsel andalannya, decak kagum terus terucap dari mulutnya.

“Kyu, tolong ambilkan gambar Sagrada Familia itu dengan kameraku.” Eunbi menyerahkan kamera yang terselip di tangannya. “Aku tidak melihat bangunan yang kau tunjuk itu.”

“Ne? Bangunan itu ada di hadapanmu, masa kau tidak melihatnya.” Tunjuk Kyuhyun yang masih fokus dengan fitur zoom-in pada ponselnya. “Lihat ke arah tenggara, Bi-ya. Dengan langit secerah ini empat menara yang menjulang…”

“Aku tidak bisa melihatnya.” Sahut Eunbi jujur dengan nada datar. “Yang nampak di hadapanku hanya hamparan kelabu kota ini.”

Spontan Kyuhyun mematikan videonya. Pria itu menoleh ke arah Eunbi dan rasa penyesalan langsung menghampiri hatinya saat ia melihat raut murung di wajah gadis itu telah kembali.

“Tolonglah, ambilkan gambar Sagrada Familia dari sini.” Eunbi menyerahkan kamera besarnya pada Kyuhyun. “Kalu sudah, jangan lupa tolong ambil selfie kita berdua dengan polaroid ini.” Tambah Eunbi melepas tali polaroid dari lehernya.

Kyuhyun mengangguk patuh lalu melakukan apa yang gadis itu minta.

“Dari sini kita ke mana, Kyu?” Tanya Eunbi sambil memanyunkan bibirnya, masih kesal karena impiannya untuk menyaksikan kemegahan Sagrada Familia dari Parc Güell ternyata sudah tidak memungkinkan untuknya.

“Tempat yang kau inginkan, Sagrada Familia.” Jawab Kyuhyun singkat. “Kau sudah puas berfoto di sini?”

“Waktu kita tidak banyak, sebaiknya kita bergegas.” Eunbi mendengus lemah. “Kuharap aku bisa melihat gereja itu dari jarak dekat dan menikmati detil pahatannya seperti orang normal.”

 

*

 

Sisa hari di Barcelona dilalui sesuai rencana, meskipun suasana hati Eunbi terlihat murung sejak gadis itu menyadari bahwa kemampuan melihatnya semakin hari semakin buruk. Kyuhyun pun merasa ingin menampar mulutnya sendiri karena bicara seenaknya tanpa berpikir terlebih dahulu. Seharusnya pria itu semakin peka dengan perubahan-perubahan Eunbi, ia toh berada di sisi gadis itu setiap hari dan ia juga sudah menyadari kesulitan yang dihadapi Eunbi dalam menjalankan aktifitas harian.

Pria itu memarkirkan skuter sewaannya di sebuah bangunan parkir dekat jalan Las Rambla yang terkenal dan dipenuhi oleh banyak tempat makan khas Spanyol di sisi kanan-kirinya. Masih dengan sisa rasa bersalah yang kental, Kyuhyun mencoba menghibur Eunbi dengan mentraktir beberapa tapas yang sebenarnya masuk ke dalam daftar di buku gadis itu. Namun dari sekian banyak tapas yang mereka pesan, hanya tapas berlapis tomat dan basil saja yang berhasil ditelan Eunbi, sisanya tentu menjadi tugas Kyuhyun untuk menghabiskannya.

“Kau tidak mau mencoba sangria, Kyu?” Bujuk Eunbi sambil menunjuk pada minuman yang dipesan pasangan di meja sebelah.

“Kau tidak boleh minum alkohol.” Tekan Kyuhyun. “Selama tidak membahayakan, aku pasti akan mewujudkannya untukmu, Bi-ya. Tapi alkohol sekarang menjadi komoditas off-limit untukmu.”

“Kau saja yang pesan, lalu ceritakan padaku bagaimana rasanya.” Rengek Eunbi.

“Nanti kau iri.”

“Pasti.” Sahut Eunbi. “Dan pasti aku akan menyicip satu teguk saja.”

Kyuhyun mendengus geli. “Baiklah, aku akan memesan segelas dan hanya akan menceritakan rasanya padamu.”

Pria itu memesan minuman khas Spanyol yang dibuat dari anggur merah dan diisi dengan buah-buahan segar musim panas. Dengan wajah berseri ia mengangkat gelasnya ke arah Eunbi yang hanya bisa memandang iri lalu menegak minuman itu bagai orang kehausan.

“Enak?”

Kyuhyun mengangguk. “Segar.”

Eunbi semakin memanyunkan mulutnya. “Seteguk Kyu…”

“Tidak.”

Gadis itu menghela napas pasrah, tapi tidak lama kemudian Kyuhyun menyodorkan sepotong nanas dari dalam ramuan sangrianya.

“Ini, cicipi sedikit dari nanas ini saja.” Kyuhyun menyuapi nanas itu pada Eunbi yang langsung membuka mulutnya senang. “Sudah, itu saja yang berani kuberikan padamu.”

Eunbi mengunyah buah itu sambil menyesapi sedikit wine yang sempat meresap ke dalam buah itu dengan mata berbinar. “Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih.”

Puas dengan acara makan sore mereka, Kyuhyun berinisiatif untuk mencoba mengabulkan satu lagi daftar yang Eunbi buat. Ia menyewa sepeda turis yang tersebar di penjuru kota, lalu membonceng Eunbi ke arah pantai yang nampak di ujung jalan. Pria itu tidak bisa melihat wajah Eunbi, namun dari eratnya pelukan gadis itu di seputar pinggangnya, juga bagaimana gadis itu menyandarkan kepala pada punggung lebarnya, Kyuhyun tahu Eunbi sedang meresapi sisa-sisa perjalanan mereka dengan beban yang semakin berat di atas pundaknya.

Di musim panas seperti ini, jelas pantai Montgat Nord dipenuhi oleh turis-turis yang berjemur untuk menikmati panasnya matahari mediteran yang panas. Kyuhyun mengayuh sepdea sewaan mereka agak sedikit jauh dari spot yang dipenuhi turis, ia menurunkan Eunbi saat mereka mencapai bagian berpasir dan meminta gadis itu untuk jalan mengikuti langkahnya sampai mereka duduk di pinggir pantai.

“Pergi ke pantai di musim panas.” Kyuhyun mengumumkan kegiatan mereka setelah memarkirkan sepeda di tempat yang tersedia. “Kurasa ada satu hal lagi yang bisa kita coret dari daftarmu.”

Eunbi mengangguk lemah sambil membidik foto Kyuhyun yang menyengir bangga dengan kamera polaroidnya. “Tidak kusangka pantai musim panasku adalah Montgat Nord, kukira aku akan mendapat Sokcho.”

Kyuhyun terkekeh, ia menunjuk pada tepian pantai agar mereka duduk nyaman. Dari dalam ranselnya, Kyuhyun mengeluarkan kain segi empat untuk dihamparkan di atas pasir, agar mereka bisa duduk nyaman tanpa sengatan panas yang masih tersimpan di dalam pasir itu. “Kalau kau masih mau ke Sokcho, nanti kuantarkan.”

Eunbi tersenyum kecut lalu duduk di tengah-tengah kain, gadis itu melebarkan kedua tangannya sambil memekik, menyampaikan rasa leganya karena sudah berhasil melakukan perjalanan sejauh ini. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih pada teman seperjalanan yang sudah setia menemani setiap langkahnya, sebab tanpa Kyuhyun, Eunbi yakin ia akan menjadi sosok turis asing yang masuk koran lokal karena ditemukan dalam keadaan tewas di suatu tempat.

“Jadi ini akhir perjalanan kita?” Tanya Eunbi. “Kau benar-benar memesan tiket pulang untuk besok malam?”

Kyuhyun mengangguk mantap. “Aku tidak bisa menunda lagi, Bi-ya.”

“Ng, aku paham.” Gadis itu meraih kembali kameranya lalu mencoba membidik suasana pantai yang nyaman.

Keduanya terdiam sejenak, dipenuhi dengan pikiran masing-masing. Ada terlalu banyak yang harus diungkapkan, dibicarakan, didiskusikan, dan diputuskan oleh mereka. Namun baik Eunbi maupun Kyuhyun takut sebuah diskusi kecil akan merusak suasana.

Untuk mengalihkan pikiran, Kyuhyun kembali mengeluarkan buku perjalanan mereka. Ia menyolek Eunbi untuk melengkapi tulisan mereka dengan foto polaroid yang sudah gadis itu ambil. Eunbi menyengir paham lalu mengeluarkan album polaroid dari dalam tas selempang kecilnya, mencari foto yang terlihat bagus untuk ditempel ke dalam buku itu dan meminta Kyuhyun saja yang menuliskan memori perjalanan mereka, sebab tulisan Eunbi sudah mulai tidak terbaca akibat tremor konstan yang dialaminya.

“Ah, ini kubah Vatikan. Tempel ini di bagian ‘berdoa dalam St. Peter Basilica’.” Eunbi menyerahkan selembar foto.

“Kau yakin yang ini lebih bagus? Kurasa yang menunjukkan tiga garis cahaya lebih terlihat magis.” Sahut Kyuhyun.

“Kita tempel saja keduanya kalau begitu, jangan lupa tulis ‘menurut Eunbi kubah lebih keren, tapi bagi Kyuhyun, cahaya surgawi lebih menarik’.” Canda Eunbi.

Pria itu tersenyum tipis, menyetujui usul sahabatnya dan melakukan persis apa yang Eunbi minta. “Swiss Guard?

Eunbi mencari foto mereka dengan latar belakang sang pengawal Paus Agung, lalu menyerahkan pada Kyuhyun.

Pria itu membalik halaman-halaman berikutnya yang disusul Eunbi dengan foto polaroid yang mewakilkan pengalaman mereka di tempat itu. Keduanya bisa bebas cekikikan mengenang perjalanan yang tidak akan pernah terulang, sampai tangan Kyuhyun membuka lembaran keramat yang pernah menimbulkan keributan besar di antara mereka—merayakan hari jadi 100 hari dengan kekasihku.

Gadis itu mengalihkan pandangan segera dari buku kecil yang digenggam Kyuhyun. Dalam hati berdoa ini tidak akan menjadi topik diskusi mereka, tapi sepertinya harapannya tidak terkabul.

“Eunbi-ya… kita tidak bisa terus menghindari pembicaraan ini.” Buka Kyuhyun.

“Kau melakukannya dengan sangat baik selama bertahun-tahun, Kyu. Kita bisa menghindari pembicaraan ini.” Balas Eunbi sambil menatap kosong pada air laut di kejauhan. “Tidak ada gunanya kita membahas ini sekarang. Kau sudah menyampaikan syaratmu dengan jelas, dan kita sama-sama paham bahwa apa yang kau minta itu mustahil.”

Kyuhyun menghelas napas panjang. “Tidak ada yang mustahil, Bi-ya. Kau masih punya waktu.”

Eunbi mendengus sinis. “Waktu? Waktu yang sudah kuhabiskan percuma untuk meratapi nasib, waktu yang kuhabiskan untuk marah pada Tuhan, dan waktu indah yang kuhabiskan bersamamu sekarang. Kau di sana saat Dokter Lee mengutarakan ‘waktuku’, Kyu. Kurasa kita sama-sama paham akhir cerita ini seperti apa.”

“KALAU BEGITU BERHENTILAH MENYALAHKAN KEADAAN! GUNAKAN WAKTU YANG TERSISA UNTUK SEMBUH!” Bentak Kyuhyun yang semakin jengkel dengan kelakuan Eunbi.

Gadis itu menunduk menatap kuku jarinya. “Apa gunanya aku sembuh kalau aku kehilangan jati diriku, ng?”

“Maksudmu?”

Eunbi menelan gumpalan yang membuat tenggorokannya tercekat. “Lupakanlah, aku memiliki alasanku sendiri, Kyu.”

“Kalau begitu bantu aku untuk mengerti, mengapa kau bersikeras melewati sisa harimu penuh dengan siksaan, padahal kau punya kesempatan. Kumohon, bantu aku untuk memahami jalan pikiranmu, Bi-ya, sebab bagiku saat ini kau terlihat seperti gadis bodoh yang sedang bunuh diri pelan-pelan—dan aku tidak bisa hanya berdiri di sisimu tanpa melakukan apa-apa.” Balas Kyuhyun lirih.

Gadis itu menarik napas dalam beberapa kali, sambil memilah-milah kata agar kekhawatiran dalam hatinya bisa tersampaikan dengan baik.

“Bi-ya, aku masih menunggu penjelasanmu.” Tekan Kyuhyun.

“Aku punya pilihan; untuk mati dengan segala yang kumiliki atau hidup dengan resiko akan kehilangan beberapa hal yang membentuk diriku.” Suara gadis itu bergetar. “Operasi mungkin hanya tahap mengerikan pertama yang harus kulalui, tapi bukan itu yang membuatku ciut, Kyu. Aku takut… aku takut terbangun dalam keadaan gelap gulita karena efek samping yang diprediksikan Dokter Lee. Aku takut akan menjadi sosok yang tidak bisa melakukan gerakan apapun dan harus menunggu bantuan orang lain untuk bergerak…”

Mulut Kyuhyun terbuka, tiba-tiba ia memperoleh pencerahan dari segala kebingungan yang menghantuinya selama ini. Jadi Eunbi takut menghadapi resiko dari pembedahan di kepalanya, bukan takut pada operasinya.

“Anggaplah itu hanya efek minor dari operasi pengangkatan tumorku.” Lanjut Eunbi. “Anggap saja meskipun itu sangat buruk, aku masih memiliki kepribadianku sendiri, dan aku masih bisa melihat ke belakang mengenang semua memori indah yang pernah kujalani sebelum mimpi buruk ini berlangsung.” Eunbi menggigit bibirnya untuk meredakan tangis yang siap tumpah dari matanya. “Tapi bagaimana jika aku terbangun dalam keadaan terburuk? Bagaimana jika aku terbangun sebagai gadis buta yang tidak bisa mengingat apapun tentang masa laluku? Bagaimana jika aku terbangun dan aku bukan lagi pribadiku yang selama ini kita kenal? Bagaimana jika aku terbangun untuk melihatmu di sana, tapi aku tidak bisa mengenalimu?”

Air mata Kyuhyun perlahan menggenang di pelupuk matanya. “Lalu bagaimana denganku?”

Eunbi mulai terisak di sisi Kyuhyun, tidak bisa berkata-kata.

“Bagaimana jika aku terbangun mendengar berita buruk bahwa kau sudah tidak ada lagi untukku? Menurutmu bagaimana perasaanku jika kau pergi sementara aku tenggelam dalam kenangan indah kita? Apa kau pernah mempertimbangkan besarnya rasa hampa yang akan kurasakan sepanjang sisa hidupku? Atau bagaimana perasaan bersalah yang bersarang dalam benakku karena sejak awal menyetujui aksi gilamu yang memilih untuk jalan-jalan dan bukan berobat? Apa kau pernah memikirkan bagaimana aku harus menjelaskan pada keluargamu ‘ya, aku tahu Eunbi sekarat’ di saat semuanya sudah terlambat?” Nada bicara pria itu semakin tinggi. “Aku tahu semua yang kukatakan ini terdengar sangat egois sekarang, Bi-ya. Tapi ketahuilah bahwa yang kuinginkan… yang kuinginkan hanyalah kehadiranmu dalam hidupku—selamanya.”

Gadis itu memeluk lututnya sendiri sambil menangis ke dalam lipatan tangannya. Memang Kyuhyun terdengar sangat egois sekarang, tapi ia bisa membayangkan beban yang tanpa sadar telah ia limpahkan ke atas pundak Kyuhyun.

“Kumohon, Eunbi-ya. Aku punya rencana, aku punya ide cemerlang untuk mengatasi kekhawatiran-kekhawatiranmu. Yakinlah padaku, kita masih punya waktu untuk menyusun ulang strategi melawan alien dalam kepalamu. Kita bisa buat rencana A sampai Z dengan berbagai contoh kasus. Aku janji, jika rencana A gagal, aku tidak akan menyerah untuk mencintaimu. Aku janji, jika kau mau berjuang untuk kita, maka sisa perjuangan itu akan kutuntaskan.” Air mata pria itu akhirnya mengalir jatuh. “Tapi aku tidak mungkin berjuang jika kau tidak mengambil langkah pertama untuk sembuh.”

“Kyu… aku…”

“Aku tahu banyak yang kau takutkan.” Tegas Kyuhyun. “Itu fungsiku, itu fungsi keluargamu. Aku yakin keluargamu akan segera paham dan mendukung kesembuhanmu, Bi-ya.”

Gadis itu menyeka air matanya kasar. “Bagaimana mungkin mereka akan paham jika aku saja masih belum tahu bagaimana cara menyampaikan berita ini pada mereka.”

“Kita sampaikan bersama-sama.” Kyuhyun menggeser duduknya ke sisi Eunbi, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Seperti janjiku sejak awal—every step of the way. Yang kuminta darimu sekarang adalah: berhenti berlari dan lakukanlah yang terbaik untuk tetap hidup di sisiku. Sebab aku tidak bisa membayangkan duniaku tanpamu, Jang Eunbi, si gadis rewel yang tidak pernah lelah mengikuti sejak dulu.”

Eunbi menyandarkan kepala ke atas bahu Kyuhyun, tanpa keraguan ia melingkarkan tangannya di seputar pinggang pria itu, lalu menumpahkasn sisa tangisnya sampai  rasa sesak dalam dadanya berkurang.

Kyuhyun merengkuh tubuh mungil Eunbi dengan kedua tangannya. Masih banyak yang ingin dikatakan pria itu, namun Eunbi bukan satu-satunya orang yang ingin melampiaskan kegundahannya dengan tangis, Kyuhyun pun sudah kehabisan cara untuk tetap menjaga emosinya yang semakin kacau.

“Kau takut kehilangan penggemar setia nampaknya.” Ledek Eunbi saat napasnya mulai tenang.

“Kau masih mencoba bercanda di saat seperti ini?” Tantang Kyuhyun sambil menghapus air mata di wajah Eunbi.

Gadis itu menyembunyikan wajahnya dalam ceruk leher Kyuhyun, menumpahkan sisa-sisa tangis yang menyampaikan segala kesedihan pada pria yang telah ia percayakan seluruh eksistensi hidupnya. Kyuhyun sendiri hanya bisa memeluk Eunbi erat-erat, mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya, sambil membisikkan bahwa segalanya akan baik-baik saja yang tidak terdengar meyakinkan karena kata-katanya juga ditelan tangisnya sendiri, saat ini Kyuhyu sadar bahwa ia sudah gagal menjadi batu sandaran yang kokoh untuk sahabatnya.

Matahari sudah mulai redup saat tangis Eunbi mereda. Gadis itu tidak tahu apa maksud dari rencana yang Kyuhyun miliki, atau strategi perang semacam apa yang Kyuhyun susun, yang ia tahu hanyalah ia ingin kehangatan ini berlangsung selamanya. Ia ingin mendengar ide brilian Kyuhyun, namun di satu sisi ia pun takut melambungkan harapan terlalu tinggi pada prospek kesembuhannya. Ia memang sudah terbiasa kecewa dan mengecewakan orang lain, tapi Kyuhyun bukanlah sosok yang ingin ia kecewakan.

“Bi-ya…”

“Ng?”

“Hari ini kuhitung sebagai hari pertama kita, arraseo?” Tanpa peringatan pria itu mengecup kening Eunbi. “Siapkan dirimu untuk seratus hari ke depan, karena aku akan merencakan perayaan paling picisan yang bisa kau bayangkan.” Janji Kyuhyun.

Napas Eunbi tercekat. “Kukira kau cerdas, seratus hari dari sekarang menandakan sepuluh bulan sejak aku menerima diagnosa itu, Kyu.”

Kyuhyun mengangkat dagu Eunbi agar gadis itu menatap lekat-lekat ke dalam matanya. “Kukira kita sudah sepakat, bahwa kita akan menjalani hidup panjang bersama.”

Eunbi tersenyum pahit, serbuan emosi menyerang dirinya dan sejujurnya ia ingin membentak Kyuhyun agar pria itu berhenti membuatnya bingung. “Aku tidak ingat kau pernah mengatakan itu dan aku tidak ingat pernah sepakat dengan agan-angan itu…”

“Biar kuingatkan padamu.” Pria itu menundukkan wajahnya untuk menempelkan bibir mereka. Tangan Kyuhyun bergerak menahan tengkuk Eunbi sementara ia memperdalam ciumannya. Ciuman pria itu berbeda dengan ciuman pertama mereka yang cenderung penuh kehati-hatian. Kali ini Kyuhyun berani melumat bibir Eunbi dan menjelajah lebih ke dalam rongga mulut gadis itu.

Sedikit kaget dengan gerakan Kyuhyun di atas bibirnya, Eunbi mencoba menyesuaikan diri. Ia harus belajar cepat untuk menyeimbangi gerakan bibir Kyuhyun, tapi saat ia hendak membalas, pria itu justru menarik wajahnya menjauh.

“Eunbi-ya…”

Eunbi menggigit bibirnya gugup, wajahnya terasa sangat panas dan ia tidak menyangka lumatan singkat penuh gairah dari pria itu sukses membuatnya merasa sedih, senang, dan marah sekaligus.

“Bi-ya, maaf aku–”

“Mengapa sekarang, Kyu?” Kewarasan Eunbi kembali, gadis itu ingat apa yang ingin ia konfrontasi sejak kemarin pada pria itu. “Mengapa baru se—”

Kyuhyun kembali mengecup bibir Eunbi, tapi gadis itu mendorongnya.

“Tidak! Jangan alihkan pembicaraan ini! Aku berhak mendapat jawaban, Kyuhyun-a!” Bentak Eunbi gusar. “Aku sudah mengikutimu seperti orang bodoh sejak dulu, mengapa baru sekarang kau melakukan ini? Mengapa kau melakukan ini di saat aku tidak lagi bisa menjanjikan apa yang kau inginkan? Karena rasa iba? Karena kau dihantui perasaan bersalah? Karena kau ingin berbuat amal sebelum ajalku datang?”

Pria itu tersenyum pahit. “Sudah kuduga itu yang akan melintas dalam kepalamu.”

Eunbi tertawa getir. “Apa itu sebuah konfirmasi, Cho Kyuhyun?”

“Jang Eunbi, aku tahu isi kepalamu memang tidak terlalu brilian, tapi kurasa kau tidak cukup bodoh untuk tiba pada kesimpulan menyedihkan itu…”

“Begitu menurutmu? Kau menolak perasaanku entah untuk keberapa kalinya! Kau selalu mengatakan aku bukan tipemu! Kau selalu berdalih bahwa meskipun kita saling menyayangi, dunia kita berbeda! Sekarang kau berani mengatakan aku yang terlalu bodoh karena menganggap perubahan sikapmu—”

“APA SIKAPKU BERUBAH?” Bentak Kyuhyun. “BERITAHU AKU! DI BAGIAN MANA SIKAPKU BERUBAH?”

Eunbi tertegun. Kyuhyun benar, sikap pria itu memang tidak pernah berubah.

“Aku selalu memperlakukanmu seperti ini, Jang Eunbi. Aku selalu menjagamu, aku selalu mengawasi setiap tindakanmu, aku selalu menjadi sandaranmu, dan aku selalu mencintaimu dengan hati yang utuh.” Pria itu mengalihkan wajah kembali menatap lautan. “Kebodohanku hanyalah membiarkanmu menanti terlalu lama. Aku membiarkanmu percaya semua bualanku hanya karena aku terlalu pengecut, hanya karena aku tidak mau kehilanganmu.”

Gadis itu bisa merasakan punggung Kyuhyun bergetar hebat saat ia mencoba menjelaskan pikiran yang selama ini hanya dipahami olehnya sendiri.

“Tapi aku tidak sanggup lagi menahan diri, Jang Eunbi. Apapun keputusanmu, aku akan menghargainya dan akan mencoba untuk berbesar hati menerima keputusanmu. Tapi izinkan aku tetap di sisimu, izinkan aku untuk mencintaimu, izinkan aku untuk menjalankan kisah kita sebagaimana mestinya, dan jika kau berkenan, izinkan aku untuk hidup lebih lama lagi bersamamu.” Tatapan Kyuhyun kembali terkunci pada wajah Eunbi yang semakin basah holeh air mata haru. “Aku sangat mencintaimu. Kau bukan hanya gadis yang kusayangi, kau juga sahabatku. Kau satu-satu manusia yang mengenalku lebih baik dari aku mengenal diriku sendiri, dan kau—”

Entah keberanian dari mana yang merasuki gadis itu, Eunbi menarik wajah Kyuhyun lalu menyapukan bibirnya gugup di atas bibirnya. Saat ini ia tidak mau lagi mendengar penjelasan Kyuhyun, ia sudah lelah mencari alasan dan pembenaran. Jika mereka terus berdebat seperti ini, waktu mereka yang berharga akan segera lenyap dan Eunbi tidak ingin itu terjadi. Sebab ia pun ingin hidup selama mungkin di sisi Kyuhyun, perasaan tulus Eunbi pada pria itu tidak pernah berubah.

“Berhentilah menangis, Kyu.” Bisik Eunbi dengan wajah merah padam. “Kata-katamu semakin tidak jelas saat kau menangis. Ini sisi baru dirimu yang jarang kulihat, setahuku kau bukan pria yang cengeng.”

Pria itu menyapukan ibu jarinya pada wajah Eunbi yang sama basah dengan wajahnya. “Bi-ya… kumohon…”

Gadis itu mengangguk cepat. “Oke, aku setuju.”

“Ne?”

“Bahwa hari ini dihitung sebagai hari pertama kita.” Gadis itu tersenyum lebar. “Aku akan melakukan yang terbaik untuk bisa tetap bernapas saat kita merayakan seratus hari hubungan kita.”

“Tidak, aku ingin merayakan lebih dari itu!” Rengek Kyuhyun.

“Akan banyak tahapan yang harus kulalui untuk mengabulkan permohonan menyedihkanmu ini.” Eunbi mencubit pipi Kyuhyun gemas. “Tapi langkah yang paling pasti adalah kita harus pulang dan menghadapi keluargaku. Bantu aku menyusun pidatoku, Kyu. Ini bukan berita yang mudah diterima untuk siapapun.”

Pria itu menarik Eunbi semakin erat ke dalam dekapannya, mengecup puncak kepala sahabat—merangkap kekasih barunya— gemas, sambil mengusap punggung kurus Eunbi. “Every step of the way, Eunbi-ya. As promised.”

 

 

tbc…

 


please kindly add my new IG: @s.pinasthika

makasiih.. 🙂

Advertisements

67 thoughts on “Truth Within – 7 [Countdown]

  1. lyeoja says:

    Uoahhhhh…. aku fokus ke penjelasan kaka mengenai kota2 / t4_2 dibarcelona, detail bangt… kerennnn… 😍😍😍
    Ini pasti perjuangan bangt ya ka…
    Klo baca karya kaka pasti ad pengetahuan yg nyangkut…

    Semangat ka buat karya2 slanjutnya,

    Liked by 1 person

  2. syalala says:

    ugh ugh ughhhhhhhh besok pulaaaaaaaannggg!!!! ga sabar pg mereka balik ke seoul dan menerima kenyataaan pasti lebih tegang lagi nanti huhuhu gimana proses penyembuhan eunbi bakal mau gak oprasi dll huhuhu

    Liked by 1 person

  3. miran yang says:

    Aaaaaa.. so sweeet.. kalo menurut aku, ff ini ga full mewek mewek semua siih, lagi sedih sedih ada bagian eunbi nya bercanda juga, jadi bacanya ga yang sediiiih amat juga..
    Aaaa penasaran sama gimana perjuangan mereka berdua pas udah dikorea..
    Hwaiting eonni ^^

    Liked by 1 person

  4. kaililaa says:

    Abis pulang barangkali bakal tambah rumit, ya? Tapi aku nunggu banget, karena cara kakak membuat (?) dan menyesaikan masalah itu bener2 kereeen. Semangat untuk yang selanjutnya kakak ^^

    Liked by 1 person

  5. Seo HaYeon says:

    Weh…… mereka kelewat romantis… alamak dipadang pantai yg chayanya mulai menguning.. bnr2 suasana pas utk menggambarkan kebahagiaan, cinta, dan kesedihan… 😢 akhirnya dg lantang kyu berani ungkapin kalo dia syang sma Eunbi.. oh KyuBi… akupun sayang pada kalian… 😚😚😚😙😙😙😘 aah spertinya stlh ini hrs bersiap2 dg segala resiko yg sudh terbentang dihadapan…. siap2 menarik nafas panjang utk mebghadapi pelik dan haru yg semakin menjadi…! Siiip!!! 👍👍👍 😄😄😄😄

    Liked by 1 person

  6. putri wahyuni says:

    Eonni,,, mata aku udah berkaca kaca baca part ini. Udah gatau lagi mau nulis apaan. Akhirnya mereka jadian 😊, dan eunbi juga udah mengungkapkan ketakutan dia selama ini, bahwa dia lebih takut ke efek setelah operasi, bukan pada saat operasi nya (aku juga udah mengira hal ini). Semangat terus buat bikin lanjutannya ya eonn, aku adalah satu dari banyaknya orang yg menunggu kelanjutan ceritamu,, hwaiting 😁

    Liked by 1 person

  7. missluck says:

    Kaya’a yg baca d part nie pasti setuju low q bilang “part nie wat kita nangis jama’ah”
    😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

    Liked by 1 person

  8. Richa says:

    Akhirnya kyuhyun jujur sma eunbin. Kan enak klo udah pada terbuka gni.. walau penuh dengan air mata, setidaknya kan tdak ada yg ditutupin..
    Semoga ini awal semangat untuk kesembuhan eunbi yg kelak mendapat hasil baik,walau aku nyakin itu tidak mudah.. tetep semangat eunbi n kyuhyun

    Semangat terus dalam berkarya

    Liked by 1 person

  9. ddianshi says:

    Terharu mendengar pengakuan cinta kyuhyun untuk eun bi 🙂 akhirnya mereka bisa bersama menjadi sepasang kekasih ❤ semoga eun bi tetap berjuang untuk kesembuhannya sendiri 😦

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s