Truth Within – 6 [Open Your Eyes]

 

6 eunbi

*Gambar milik Kang Taeri

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

Typo adalah bumbu pelengkap.

——————————————————-

 

Gadis itu mengerjab sesaat untuk menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk melalui matanya, rasanya temaram sekali di kamar itu dan ia tidak bisa melihat pria yang berbaring di hadapannya dengan jelas. Tapi Eunbi tidak panik, ini sudah menjadi rutinitas pagi beberapa hari belakangan dan yang perlu ia lakukan hanya berkonsenterasi sejenak agar bisa melihat jelas seperti biasa. Gadis itu menarik napas dalam dan beberapa saat kemudian wajah pria itu kembali nampak jelas dalam pandangannya.

“Selamat pagi, bagaimana tidurmu?” Sambut Kyuhyun parau.

“Sudah berapa jam kau menatapku seperti seorang psikopat?” Balas Eunbi dengan senyum tipis. “Kemarin kau yang ketakutan karena kupandangi saat tidur, sekarang kau sendiri yang melakukannya.”

“Itu karena tidurmu rusuh.” Cibir Kyuhyun. “Aku sudah terbangun sejak kau menendangku. Lihatlah! Seberapa luas wilayah kasurmu dan lihat seberapa sempit tempatku di sini.”

Eunbi menoleh ke balik punggungnya dan Kyuhyun benar, gadis itu menyabotase nyaris tiga perempat area ranjang untuk dirinya sendiri.

Bukannya meminta maaf, Eunbi hanya terkikik. “Anggap saja ini ajang latihan untukmu nanti saat berumah tangga. Siapa tahu istrimu kelak juga rusuh dalam tidurnya.”

Kyuhyun tersenyum kecut, entah mengapa sejak pagi suasana hati pria itu sudah buruk dan celoteh asal dari mulut Eunbi bukannya memperbaiki keadaan tapi justru membuatnya merasa sedih.

“Jangan manyun.” Eunbi menggeser tubuhnya. “Ini kukembalikan areamu.”

Kyuhyun menahan tangan Eunbi lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya, lengannya yang kokoh mengunci tubuh gadis itu dengan protektif sementara wajahnya mencari-cari posisi nyaman di antara helaian rambut Eunbi.

“Kyu, kau kenapa?” Eunbi bingung dengan kelakuan acak Kyuhyun yang semakin hari membuat debaran jantungnya semakin kacau. “Kalau kau terus-terusan memperlakukanku seperti ini, bisa-bisa aku kembali terlena dalam pesonamu.”

“Aku ingin memelukmu.” Kyuhyun menenggelamkan hidung mancungnya di sela-sela rambut Eunbi. “Memangnya sekarang pesonaku di matamu sudah luntur?”

“Belum, tapi aku akan bersikap profesional dan mencoba melawan debaran jantungku sendiri.” Canda Eunbi. “Toh aku sudah berjanji untuk tidak mengungkapkan perasaanku lagi padamu—kujamin kau juga sudah bosan mendengarnya.”

“Cih, profesional. Yang benar saja.” Cibir Kyuhyun. “Ke mana kau ingin melangkah hari ini, Bi-ya?”

Eunbi yang masih menikmati perlakuan manis Kyuhyun hanya bisa tersenyum lebar. “Barcelona?”

“Aku belum pesan tiket ke sana.” Balas Kyuhyun sambil memainkan ujung rambut Eunbi. “Kau sudah puas melihat Roma? Kau yakin tidak mau mencoba ke Venezia? Tuscano? Milan? Ada banyak sekali daftar yang kau tulis di Italia dan pizza Spontini yang kau idamkan itu hanya di jual di Milan.”

“Aku akan merelakan Spontini, sebab semua tempat itu terletak berjauhan.” Balas Eunbi. “Waktu kita tidak banyak lagi, aku benar-benar ingin ke Barcelona, aku ingin melihat karya Antoni Gaudí.”

“Sagrada Familia?” Pancing Kyuhyun.

“Dan Parc Güell di Bukit Carmel.” Terang Eunbi. “Pertama-tama aku ingin menyaksikan kemegahan Sagrada Familia dari bukit itu, baru kemudian turun ke tengah kota untuk masuk ke dalamnya. Meskipun letaknya di bukit, aku janji tidak akan merepotkanmu.”

“Cih, janji macam apa itu.” Ledek Kyuhyun. “Sudah kukatakan jangan memaksa—”

“Karena di sepanjang perjalanan menanjak ke Parc Güell, mereka menyediakan eskalator outdoor!” Kikik Eunbi girang. “Aku akan merepotkanmu kalau kita menemukan tangga biasa.”

Pria itu mendengus lega karena Eunbi sudah tidak pernah sungkan meminta bantuan padanya. “Baiklah. Kalau begitu biar aku ke lobi untuk mengurus keperluan perjalanan kita. Jika ada penerbangan sore ini, apa kau mau langsung pindah ke Barcelona?

“Tentu saja.” Eunbi mengangguk cepat. “Kyu, aku melihat ada kedai kopi di samping hotel, mereka menjual minestrone. Tolong belikan itu untukku.”

“Kau lapar?” Senyum di wajah Kyuhyun merekah, jarang sekali Eunbi meminta dibelikan makanan sejak napsu makannya terus merosot akibat alien yang bersarang dalam kepala gadis itu.

“Ng, kau tidak dengar perutku berbunyi nyaring?” Eunbi merengek manja. “Aku kelaparan sejak semalam, tapi susah sekali menelan roti yang kau beli itu.”

“Kau mau makan di sana atau kubawakan saja ke kamar?” Tawar Kyuhyun.

“Wah, kau semakin memanjakanku sekarang Kyuhyun-a.” Eunbi mencubit hidung Kyuhyun gemas. “Aku mau makan di kedai itu saja, siapa tahu seleraku tergugah dengan menu lainnya.”

Gadis itu melepas pelukan Kyuhyun di seputar tubuhnya lalu  mencoba bangkit. Namun sensasi berputar dan menusuk dalam kepalanya membuat Eunbi mengernyit kesakitan dan kembali mengaburkan pandangan gadis itu.

“Kumpulkan dulu tenagamu, aku akan membawa sup itu ke kamar.” Simpul Kyuhyun datar setelah melihat Eunbi yang kembali terbaring di atas kasur pasrah.

.

.

.

Kedai kopi di samping hotel mereka ternyata cukup ramai dikunjungi warga lokal, sebuah indikasi bahwa cita rasa makanan dari tempat ini pasti juga diakui enak oleh orang Italia. Pria itu harus bersabar mengantre pesanannya, sambil menikmati secangkir cappucino. Benak Kyuhyun melayang pada kondisi Eunbi beberapa hari belakangan mereka menghabiskan waktu di Roma. Memang gadis itu semakin cepat lelah, Eunbi mulai sering mengeluh bahwa pandangannya menjadi sering gelap, dan yang paling menyedihkan bagi gadis itu adalah reaksi tremor yang sering muncul tanpa ia duga. Beberapa kali sudah Eunbi menyerahkan kamera pada Kyuhyun, meminta pria itu saja yang mengambilkan gambar karena foto-foto yang diambilnya selalu blur akibat tremor tangannya.

Seringkali Kyuhyun mengangkat perbincangan tentang tindakan yang harus Eunbi lakukan nanti saat mereka tiba di rumah, namun gadis itu masih saja teguh dengan keinginannya untuk mati pelan-pelan dengan cara yang menyakitkan. Berdebat pun kadang terkesan sia-sia karena Kyuhyun merasa ia sedang berargumen dengan tembok. Wajah gadis itu selalu datar dengan sorot sendu yang tak terelakkan. Dari pengalamannya membujuk Eunbi, biasanya Kyuhyun lelah mengutarakan kemungkinan-kemungkinan penyembuhannya, gadis itu kemudian dengan sengaja mengabaikan usul Kyuhyun sebelum ia mengalihkan topik pembicaraan. Kyuhyun sudah berada di ambang batas frustrasinya sekarang, sebab waktu terus bergulir dan Eunbi harus membuat keputusan secepatnya.

Pramusaji berpakaian coklat mengantarkan pesanan minestrone Kyuhyun ke meja, membuyarkan lamunan pria itu seketika. Puas dengan pesanannya yang terbungkus rapi, Kyuhyun bergegas kembali ke hotel untuk mengantarkan sarapan Eunbi sebelum nanti ia mengurus perjalanan mereka, setidaknya lebih baik Eunbi menikmati sup itu dalam keadaan panas. Pria itu melangkah ringan sambil bersenandung, suasana hatinya sedikit membaik karena setidaknya ia tidak perlu membujuk Eunbi untuk memasukkan makanan ke dalam perutnya, akhirnya nafsu makan gadis itu kembali.

“Eunbi-ya… Aku datang.” Sapa Kyuhyun riang. “Dari aroma dan lamanya aku mengantre, bisa kupastikan sup ini nikmat!”

Kyuhyun melangkah masuk ke dalam kamar, meletakkan bungkusan di atas meja lalu menoleh ke arah ranjang.

“Eunbi-ya… kau di mana?” Panggil Kyuhyun.

Sepi tidak ada tanggapan.

“Hey, apa kau di dalam kamar mandi?” Pria itu mengetuk pintu perlahan tapi tetap tidak ada tanggapan dari dalam. “Eunbi-ya!”

Kyuhyun mempertimbangkan sejenak tindakannya, ia tidak mau melangkahi privasi Eunbi. Biasanya gadis itu menyahut, kalaupun ia membutuhkan bantuan, Eunbi biasanya membalas kata-kata Kyuhyun, namun kali ini tidak ada jawaban apapun dari dalam. Pada akhirnya rasa panik membuat pria itu memilih untuk menghapus batasan norma dan membuka pintu kamar mandi begitu saja.

Sekujur tubuh Kyuhyun mendadak lemas melihat pemandangan di dalam sana. Gadis itu terkapar pasrah di atas lantai samping toilet masih mengenakan piyamanya dalam keadaan meringkuk, Kyuhyun melihat bekas muntahan di sudut bibir Eunbi dan bulir keringat besar di dahi gadis itu. Warna di wajah Eunbi yang pagi tadi masih nampak sekarang sirna, digantikan dengan bibir pucat dan ekspresi kesakitan yang kentara. Jika melihat dari kondisinya, sepertinya Eunbi berlutut di depan mulut toilet untuk memuntahkan isi perutnya beberapa saat sebelum ia kehilangan keseimbangan dan merosot ke samping.

“Eunbi-ya…” Kyuhyun meraih handuk di wastafel. “Biar kubantu, ng?”

Gadis itu menghela napas lemah, air mata mengalir begitu saja dari kedua matanya namun ia tidak sanggup berbuat apa-apa. Eunbi membiarkan Kyuhyun mengangkat punggungnya yang terbaring di atas lantai, menginzinkan pria itu menyeka keringat di dahinya, membiarkan Kyuhyun membersihkan sisa muntahan di bibirnya, lalu tanpa perlawanan Eunbi menyandarkan kepala di atas dada pria itu saat Kyuhyun membopongnya kembali ke dalam kamar.

“Kau pusing?” Tanya Kyuhyun tenang. Ini bukan kali pertama gadis itu muntah karena sakit kepala teramat sangat yang ia rasakan, tapi mengatasi hal ini tidak pernah mudah. “Kuambilkan obatmu, ne?”

Eunbi mengangguk lemah.

Kyuhyun merogoh ke dalam ranselnya untuk mencari kontener obat Eunbi yang jumlahnya semakin menipis. Sejak awal gadis itu selalu mencoba menahan rasa sakitnya dan menolak untuk menelan obat penghilang rasa sakit yang diresepkan Dokter Lee untuknya. Namun akhir-akhir ini, ia semakin sering menegak pil-pil putih itu karena tidak lagi sanggup menahan rasa sakit menusuk dalam kepalanya.

“Ini, minumlah.” Kyuhyun membantu Eunbi untuk meminum obatnya sebelum ia kembali membaringkan tubuh Eunbi.

“Maaf.”

Pria itu menggeleng sambil memaksakan senyum lebar. “Aku yang seharusnya minta maaf, karena tidak ada di sampingmu saat kau membutuhkanku.”

Eunbi menghela napas berat. “Kita… harus bergerak lebih… cepat. Aku takut… kehabisan waktu…”

Tenggorokan Kyuhyun kembali tercekat. “Kita masih punya banyak waktu, tapi jika kau ingin pulang, aku akan langsung memesankan tiket…”

“Aku ingin ke Barcelona.” Rengek Eunbi lemah. “Kumohon, satu kota lagi. Kumohon antar aku ke sana, Kyu.”

“Kau benar-benar keras kepala, Eunbi-ya.” Kyuhyun menengadahkan wajahnya sambil berdecak kesal. Pria itu harus berpikir cepat demi kebaikan sahabatnya yang terlihat semakin kesakitan.

“Kyu…”

“Dengarkan aku.” Paksa pria itu. “Hari ini kita akan beristirahat penuh di hotel, pulihkan dulu tenagamu. Besok kita terbang ke Barcelona, lalu kita akan melakukan apa yang kau inginkan di sana, arraseo? Aku akan mewujudkan ini untukmu, Bi-ya. Kau ingin sekali mengambil gambar kota itu, maka aku akan mengantarmu. Tapi habis itu kau harus janji untuk pulang, ne? Aku bisa terus berjuang bersamamu, tapi obatmu sudah menipis dan aku tidak tega melihatmu terus kesakitan seperti ini.”

Eunbi mengangguk lemah. “Aku janji… setelah Barcelona, kita pulang.”

“Aku mengerti.” Kyuhyun mengangguk cepat. “Aku akan memesan tiket pulang ke Seoul dari sana.”

 

*

 

Setelah Eunbi kembali tertidur pulas, Kyuhyun melakukan tugas sampingannya sejak ia setuju untuk pergi mendampingi Eunbi, yaitu membereskan jejak derita Eunbi. Seperti yang sudah-sudah, pria itu membersihkan sisa muntahan yang ada pada permukaan dudukan toilet dan juga lantai dengan sabar. Sudah beberapa kali hal ini terjadi, tapi frekuensinya semakin hari semakin sering, dan yang lebih menyedihkan adalah fakta bahwa sekarang lebih banyak yang dimuntahkan Eunbi dibandingkan dengan apa yang dimakannya. Pria itu mengepel lantai dengan serius sampai tidak menyadari air mata yang menetes tanpa henti dari wajahnya.

Boleh saja ia memasang topeng di depan Eunbi; bahwa ia tegar, bahwa ia bisa menyikapi ini dengan tenang, sekaligus menunjukkan pada gadis itu bahwa ia tidak ketakutan apalagi jijik dengan segala efek samping dari penyakit yang diderita sahabatnya. Tapi semakin hari, pertahan Kyuhyun semakin rapuh dan ia tidak sanggup melihat gadis yang sangat ia cintai semakin melemah di hadapannya. Jika keadaannya terus seperti ini, Kyuhyun tidak yakin ia bisa terus kukuh dengan pendiriannya. Jika ini terus terjadi, bisa jadi pria itu segera menyerah pada akal sehatnya untuk berlutut dan menarik tangan gadis itu ke altar demi menciptakan sebuah kenangan indah yang bisa dibawa gadis itu untuk selamanya.

Tapi sanggupkah Kyuhyun melakukannya? Sanggupkah ia menanggung kehampaan teramat sangat setelah gadis itu tenang nanti? Sebab ia tahu, tidak akan ada sosok yang bisa menggantikan Eunbi dalam hatinya. Memikirkan itu saja selalu membuat Kyuhyun terduduk lemas. Di satu sisi ia ingin membahagiakan Eunbi–dan ia tahu caranya–di sisi lain ia takut gadis itu langsung menyerah setelah Kyuhyun bertekuk lutut di hadapannya.

Ingin rasanya Kyuhyun mengangkat kembali diskusi tentang operasi yang menjadi opsi pertama Eunbi, karena ia bisa melihat bahwa gadis itu tidak lagi memikirkan kelangsungan hidupnya di kemudian hari. Dari cara Eunbi melakukan banyak hal saat ini, Kyuhyun tahu yang dipikirkan gadis itu hanyalah memenuhi hidupnya dengan petualangan seru sebelum bom waktu itu meledak.

Dan sejujurnya semua ini begitu menyakitkan untuk Kyuhyun. Ia ingin Eunbi berjuang lebih keras untuk hidupnya—untuk mereka. Sebab pria itu tahu ia akan sangat kehilangan, ia tahu hidupnya tanpa kehadiran Jang Eunbi akan terasa sangat hampa dan ia akan merindukan gadis itu dalam setiap tarikan napasnya.

Selesai merapikan kamar mandi, Kyuhyun kembali memeriksa kondisi Eunbi yang tengah terpejam. Ia mengusap lembut pipi gadis itu, mengajaknya bicara dalam bisikan sekedar memastikan bahwa gadis itu memang sudah tertidur, lalu setelah memberikan kecupan ringan pada puncak kepala Eunbi, Kyuhyun membawa langkahnya keluar kamar untuk mengurus itinerary terakhir dari perjalanan mereka.

Pikiran pria itu masih dipenuhi hal-hal menyedihkan dan Kyuhyun tahu hanya ada satu orang yang bisa diajaknya bicara perihal ini semua. Setelah beres mengurus keperluan perjalanan mereka, Kyuhyun mencari lokasi sepi di kolam renang hotel lalu menghubungi ayahnya.

Appa, apa kabarmu?” Sapa Kyuhyun saat ayahnya menjawab.

“Tidak seindah perjalanmu keliling Eropa, tentu saja. Aku menerima email-email dan foto kalian… wah… kalian seperti tengah berbulan madu saja.” Kekeh tuan Cho. “Kalian tidak macam-macam, kan?”

Aish, mana aku berani macam-macam dengan gadis keluarga Jang. Kita sama-sama tahu semengerikan apa ayah mereka.” Kyuhyun mendengus.

“Kau baik-baik saja, Kyuhyun-a?” Tanya ayahnya dengan nada khawatir. “Tidak biasanya kau menghubungiku.”

“Ng, semua berjalan mulus sesuai rencana.” Kilah Kyuhyun.

“Kau tidak terlalu pandai berbohong, Kyuhyun-a.” Cecar tuan Cho.

“Kau bicara seakan kau orang yang paling mengenalku.” Kyuhyun memaksakan tawa, tapi keriangan semu itu perlahan pudar.

“Cho Kyuhyun?”

“Sejujurnya… aku… tidak baik-baik saja, Appa.” Aku Kyuhyun lemas.

“Ceritakanlah. Apakah kondisinya semakin buruk?” Pancing tuan Cho, ia tidak perlu menebak-nebak alasan dibalik kemurungan putranya.

“Ng.” Tenggorokan Kyuhyun kembali tercekat. “Sejujurnya aku sangat ketakutan.”

Pembicaraan Kyuhyun dan ayahnya terhenti saat isak tangis pria itu pecah. Selama ini ia menuntut dirinya untuk menjadi sosok yang tegar bagi Eunbi, namun kejadian pagi tadi telah meruntuhkan segalanya.

Tuan Cho mendengarkan isakan tangis putranya dengan sabar. Sejak Kyuhyun mengatakan alasan di balik keputusannya menunda kuliah master sejenak, ia dan istrinya sudah merelakan anak mereka untuk melakukan sebuah tugas mulia untuk mengantar gadis yang dicintainya keliling dunia, dan ia sudah mencoba sebisa mungkin untuk tidak membocorkan rahasia sakral Eunbi pada keluarga gadis itu. Namun menjaga rahasia sebesar ini juga bukan perkara mudah, terutama saat ia tahu gadis itu semakin melemah.

“Apa yang kau takutkan, Nak?” Tanya tuan Cho setelah napas Kyuhyun lebih teratur.

“Semuanya.” Jawab Kyuhyun terbata-bata. “Aku takut waktu kami semakin berkurang, aku takut perjalanan ini masih tidak akan merubah keputusan konyolnya, aku takut tidak bisa bertindak cukup tegar untuk mendampinginya, aku takut… aku takut kehilangan Eunbi, Appa.”

“Kau punya kesempatan untuk meyakinkannya, Kyu.” Tuan Cho menarik napas dalam. “Kurasa belum terlambat untuk melakukan itu.”

“Tapi gadis itu… dia terlihat seperti manusia yang sudah kehilangan semangat hidup.” Balas Kyuhyun. “Aku sudah memutar otak untuk merubah pikirannya, tapi…”

“Karena kau terlalu menggunakan nalarmu. Jika kau memang mencintainya, berhentilah menggunakan otakmu, gunakan hatimu.” Potong tuan Cho yang sudah gemas melihat anaknya yang selalu jual mahal pada Jang Eunbi. “Mungkin yang dibutuhkan Eunbi bukan pemikiran-pemikiran penuh dengan logika dan strategi konyol seperti yang kau katakan padaku malam itu, Kyuhyun-a. Mungkin memang hanya hatimu yang dia harapkan untuk terus berjuang.”

“Aku tidak paham, Appa.” Sahut Kyuhyun bingung.

“Mungkin… ini perkiraanku saja…” Tuan Cho berdeham. “Mungkin Eunbi masih keras kepala tentang operasi itu karena ia merasa tidak ada yang patut diperjuangkan.”

“Hidup Eunbi masih panjang, Appa. Masih banyak yang harus dia perjuangkan…”

“Contohnya?”

“Masa depannya. Keluarganya.” Kyuhyun menghela napas panjang. “Aku.”

Tuan Cho terkekeh kecil. “Kau ini cerdas, tapi kadang juga seperti orang idiot, Nak. Berani-beraninya kau menjadikan dirimu alasan untuknya berjuang, padahal selama ini kau selalu menekankan bahwa kalian hanya sepasang sahabat.”

“Kau terlalu sering bergosip dengan eomma.”

“Aku bicara fakta, Kyuhyun-a.” Balas tuan Cho datar. “Apa pernah kau membalas perlakuan manis gadis itu? Sejak dulu Eunbi selalu mengikutimu, tapi kau mematahkan hatinya dengan bilang bahwa gadis yang mengisi hatimu adalah kakaknya. Gadis mana yang tidak dongkol diperlakukan begitu.”

“Aish, eomma menceritakan itu semua padamu?” Kesedihan Kyuhyun sedikit sirna akibat cemooh geli dari ayahnya.

“Aku mengorek segalanya dari eomma-mu karena aku harus tahu alasan mengapa kaca kamarmu dipecahkan dengan batu oleh gadis itu, tapi saat oemma menceritakan latar belakangnya, kurasa itu wajar. Jika aku dalam posisi Eunbi, aku pasti memecahkan lebih dari sekedar jendela kamar.” Ledek tuan Cho sambil terkikik puas.

“Pantas saja kau menyuruhku mengganti kaca itu dengan uang jajanku sendiri dan tidak mengadu pada Tuan Jang.” Kyuhyun memutar matanya sambil mendengus geli.

“Karena alasan itu, dan karena gadis itu bisa habis diomeli ayahnya jika aku meminta ganti rugi pada mereka.” Kekeh tuan Cho. “Intinya, kau harus berhenti memperlakukannya seperti itu, Kyuhyun-a. Tidak peduli seberapa besar cintanya padamu, pasti akan ada titik di mana Eunbi akan menyerah, kuharap kau tidak akan menyesal saat itu terjadi.”

Kyuhyun menggigit bibirnya bingung. “Aku memiliki banyak pertimbangan, Appa. Tapi yang paling utama, sejak dulu aku tidak ingin hubungan kami retak karena sebuah ikatan yang rapuh.”

“Omong kosong.” Balas tuan Cho. “Berhentilah membohongi dirimu sendiri. Aku pun tidak tahu apa yang kau pikirkan sampai tega menggantungkan harapan anak gadis orang lain seperti itu, tapi sedikit nasihat dariku, wanita butuh kepastian. Dalam kasus ini, kau juga membutuhkannya, Kyuhyun-a. Berhentilah menghindar.”

Kyuhyun meresapi kata-kata ayahnya, memang benar apa yang disampaikan tuan Cho–ia terlalu sibuk menghindar dan membohongi perasaannya sendiri berlandaskan ketakutan konyol yang mendarah daging. Bahkan untuk itu semua ia tega bersikap dingin pada gadis itu dan menyakitinya berkali-kali.

“Jangan berani-berani menjadikan dirimu alasan untuknya terus bertahan hidup seandainya kau belum memberikan kepastian apapun pada Eunbi, Kyuhyun-a.” Tambah tuan Cho bijak.

Appa, hubungan kami lebih dekat dari status konyol yang rapuh itu.”

“Itu menurutmu, sekarang tanyakan itu dari sisi Eunbi. Apakah menurutnya hubungan kalian lebih kokoh? Aku berani bertaruh jawabannya berlawanan dengan jawabanmu.” Sosor ayahnya. “Gadis itu sekarat, Kyuhyun-a. Tidak ada kata ‘mungkin’ atau ‘masa depan’ atau ‘kita lihat nanti’ dalam kamusnya sekarang. Aku tidak akan memberikan wejangan yang aneh-aneh, tapi aku akan berpesan satu hal padamu: jangan sampai kau menyesali apa yang tidak sempat kau lakukan untuk membuatnya bahagia.”

Air mata Kyuhyun kembali mengalir. “Aku takut, Appa. Aku takut begitu ia mengetahui hatiku, ia akan menyerah.”

“Bagaimana jika sebaliknya?” Tantang tuan Cho. “Bagaimana jika kehadiranmu, jika janjimu justru menjadi alasannya untuk berjuang?”

Kyuhyun tertegun dengan pertanyaan ayahnya yang terdengar masuk akal.

“Bagaimanapun juga, kita ini pria, Kyuhyun-a. Kita tidak boleh sombong dan merasa kita sanggup menerka isi kepala dan isi hati wanita yang kita cintai. Percayalah, sampai detik ini aku masih sering tidak habis pikir dengan jalan pikiran eomma-mu padahal kami sudah menikah puluhan tahun.” Tuan Cho berdecak. “Renungkanlah, aku yakin kau tahu yang lebih baik bagi kalian.”

“Jika keputusanku ternyata tidak merubah keadaan?” Tantang Kyuhyun.

“Jika itu yang terjadi, ingatlah, setidaknya kau sudah jujur pada hatimu sendiri dan kau telah melakukan satu hal yang membuatnya bahagia.” Jawab tuan Cho bijak. “Tidak ada yang lebih bermakna dari itu, Kyuhyun-a.”

 

*

 

Kyuhyun telah kembali di sisi Eunbi saat gadis itu terbangun. Obrolan siang tadi dengan ayahnya masih terus terulang dalam benak pria itu dan sejujurnya Kyuhyun tengah mempertimbangkan wejangan ayahnya sungguh-sungguh. Segala yang dikatakan tuan Cho terdengar masuk akal dan realistis. Yang menghalanginya sekarang hanya pendirian konyol yang masih sulit digoyahkan.

“Kyu…”

Pria itu menoleh ke sisi kanannya untuk menanggapi panggilan Eunbi. “Bagaimana sakit kepalamu?”

“Lebih baik.” Balas Eunbi tenang. “Maaf merepotkanmu.”

“Lupakanlah, itu salah satu fungsi aku menemanimu.” Balas Kyuhyun dengan senyum dipaksakan.

Eunbi bergerak-gerak di balik selimut untuk mencari posisi yang nyaman. “Tidakkah kau lelah menemaniku? Dengan keadaanku yang semakin memburuk seperti ini?”

“Tidak.”

“Bohong.” Sahut Eunbi cepat. “Aku melihat sendiri ekspresi ketakutan itu di wajahmu, Kyu. Saat kau menemukanku tergeletak tak berdaya di lantai kamar mandi tadi pagi.”

“Ketakutan, tentu saja. Tapi aku tidak lelah, Bi-ya.” Kyuhyun meletakkan buku yang sedang dibacanya ke nakas samping lalu ia berbaring menyamping menggunakan siku untuk menopang kepalanya. “Jika kau di posisiku, tidakkah kau juga akan ketakutan?”

“Tentu saja.” Jawab gadis itu singkat. “Dan aku pasti akan panik karena tidak punya cukup tenaga untuk memindahkan tubuhmu yang terkapar.”

Pria itu mengacak rambut Eunbi gemas.

Secara spontan jemari Eunbi mengusap wajah Kyuhyun yang terlihat sembab. “Kau habis menangis?”

Kyuhyun menggeleng pelan.

“Kau tidak pandai berbohong.” Ledek Eunbi.

Pria itu justru terkekeh. “Sesungguhnya, aku cukup pandai berbohong. Aku berhasil mengelabui beberapa dosen di kampusku dulu, aku berhasil membohongi eomma saat tiba di rumah terlalu malam sepulangnya kita dari bar di Gangnam dulu, aku bahkan berhasil membohongi orang tuamu tentang perjalanan ini.”

“Tapi kau tidak pandai berbohong padaku.” Tambah gadis itu. “Aku selalu tahu setiap kau berbohong, cuping hidungmu melebar dan matamu langsung menatap ke bawah.”

Kyuhyun tertawa. “Benarkah? Kau memperhatikan sedetil itu?”

Eunbi mengangguk. “Apa lagi yang kuperhatikan darimu ya? Hm… ah, jika kau kebingungan, kau sering membentak. Jika kau kelaparan, kau semakin mudah merajuk. Kau memainkan kukumu setiap kali merasa bosan, sebaliknya di saat kau gugup, kau justru terlihat sangat galak.”

Rasa sedih kembali merayapi hati Kyuhyun. Kata-kata Eunbi baru saja menjadi bukti bahwa tidak ada seorang pun yang mengenal pribadinya lebih baik lagi.

“Jika merasa terancam, kau akan bersembunyi sampai aku menenangkanmu–sering sekali terjadi dalam pertandingan basket dulu.” Tambah Eunbi. “Jika kau sedih, kau memilih mendengarkan genre musik metal yang tidak karuan itu. Apa lagi kira-kira kelakuan konyolmu? Ah! Jika kau berbuat ulah, kau akan membuat ulah lain yang lebih ringan untuk menutupi ulah sebelumnya…”

Kata-kata Eunbi terdengar mengambang karena benak Kyuhyun tiba-tiba kosong. Hanya debaran jantungnya yang semakin menjadi dan rasanya Kyuhyun siap menukar apapun yang ia miliki untuk kesembuhan gadis itu. Sebab menatap Jang Eunbi dalam posisi ini, sambil mendiskusikan kebiasan-kebiasaan yang ia sendiri tidak pernah sadari menjadi momen yang membuka mata hatinya.

Benar kata ayahnya, mungkin bukan nalarnya yang harus ia pakai sekarang. Mungkin Eunbi tidak membutuhkan logika cerdas pria itu. Mungkin yang dibutuhkan gadis itu hanya ketulusan hatinya yang tersampaikan lantang. Mungkin Eunbi akan merubah pikirannya jika ia tahu seberapa besar cinta yang disimpan Kyuhyun untuknya. Dan sekalipun Kyuhyun tidak berhasil merubah pendirian Eunbi, mungkin ia bisa memberikan kenangan terbaik yang dimiliki gadis itu sepanjang hidupnya.

“Kyu… kau melamun.” Eunbi mencubit pipi Kyuhyun gemas. “Ah, biasanya kau melamun seperti ini kalau sedang mengalami perang bat–”

Kata-kata Eunbi terbungkam oleh sapuan lembut bibir Kyuhyun yang menekan bibirnya. Gadis itu terkejut sejenak namun reflek tubuhnya mengambil alih, Eunbi menutup kedua matanya rapat-rapat dan menikmati gerakan lembut bibir Kyuhyun yang mengecup bibir atas dan bibir bawah Eunbi bergantian. Ciuman pria itu begitu lembut, tidak penuh gairah seperti yang biasa ia saksikan dalam film-film romantis, tapi ada satu yang membuat hati gadis itu terenyuh. Ciuman lembut Kyuhyun terasa manis, namun juga menyakitkan pada saat bersamaan. Cara pria itu merengkuhnya lebih dekat, dari getaran gugup pada bibir Kyuhyun, serta dari cara Kyuhyun menahan tengkuk Eunbi dengan protektif, telah memberitahu Eunbi satu hal yang selama ini luput dari perhatiannya–bahwa Cho Kyuhyun memang mencintainya.

Kyuhyun melepaskan sapuannya pada bibir Eunbi sambil terus menempelkan kening mereka. Wajah pucat gadis itu kini memerah dan Kyuhyun nyaris ingin tertawa melihat ekspresi Eunbi yang masih terpejam dengan dahi mengernyit bingung.

“Jang Eunbi, jangan lupa bernapas.” Goda Kyuhyun.

Eunbi mendadak sadar bahwa paru-parunya memang membutuhkan asupan oksigen segar. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum memberanikan diri untuk mengintip ekspresi Kyuhyun di hadapannya. Apakah pria yang dicintainya baru menghadiahkan Eunbi ciuman pertamanya? Hati Eunbi terasa nyaman saat melihat sorot penuh ketulusan terpancar dari mata teduh pria itu.

“Kau tahu? Meskipun kau tidak pernah gagal memperhatikan kebiasaanku, kau selalu menjadi orang yang paling mudah kubohongi.” Bisik Kyuhyun lirih. “Sebab kau selalu percaya setiap kali kukatakan bahwa aku tidak menginginkanmu. Padahal itu adalah kebohongan terbesar yang terus kusampaikan padamu.”

“Kyu…”

Pria itu kembali mengecup bibir Eunbi singkat. “Aku tidak pernah merasa senyaman ini dengan orang lain. Kenyamanan ini membuatku takut kehilanganmu, Jang Eunbi. Oleh karena itu kupikir lebih baik aku tidak pernah memilikimu, dengan demikian kau tidak akan pernah menjadi masa laluku.”

Mata gadis itu berkaca-kaca, apa maksud kata-kata Kyuhyun? Mengapa pria itu terlalu pandai berkelit sampai Eunbi harus selalu berpikir keras memecahkan teka-teki dari ucapannya?

“Kumohon, jangan tinggalkan aku.” Tambah Kyuhyun. “Hanya jika kau berjanji untuk tetap berada di sisiku…”

Air mata Eunbi mengalir, ia sudah tidak bisa mendengar lanjutan kalimat Kyuhyun. Pria itu mengatakan hal yang manis namun detik berikutnya ia kembali menabur garam di atas luka Eunbi. Bagaimana mungkin Eunbi sanggup menjanjikan itu pada Kyuhyun? Di saat ia harus memperjuangkan setiap hembusan napasnya. Di saat bom waktu dalam kepalanya hanya tinggal menunggu saat yang tepat untuk meledak. Di saat ia ingin langsung menyetujui syarat dari Kyuhyun, namun di saat bersamaan juga langsung menyadari bahwa kisah mereka tidak akan pernah dimulai.

Sebab mustahil baginya untuk menjanjikan apa yang Kyuhyun minta, semuanya telah terlambat.

 

tbc…

 

 

Advertisements

97 thoughts on “Truth Within – 6 [Open Your Eyes]

  1. msallets says:

    Makanya jadi anak muda jangan asal ambil keputusan begini, kan yang harusnya bisa sembuh jadi ga keurus gini..

    Haish

    Aku jadi sebel deh sama couple ini karena egois dan teledor.

    Kalau sakit apalagi parah, yaaaa berobat dong ahhh. Bzzzzz

    Semoga bisa sembuh jadi bisa bersama walau kemungkinan tipis

    Hwaitingg dearr, aku enjoy walau rada gedek baca bocah2 ga pakai pikir panjang ahahhaa

    Good nite xx

    Liked by 1 person

  2. richa says:

    Pengakuan itu lah yang harus kyuhyun lakukan .. kenapa enggak dari dulu sihh..
    sekarang mah aku enggak bisa banyangin ending ya gmna.. terserah kak aja. tp klo seandainya sad ending jangan sedih sedib ya kak enggak kuat bentung air matanya.. ini aja baca udah ser seran nahan kepehan hehehehe

    Semangat terus dalam berkarya

    Liked by 1 person

  3. lyeoja says:

    Huaaaaaaa… 😘😘😘😘 i lop yu dah tuan cho, cho ahjussi, cho appa… hihihi
    Keren keren, akhirnya bis ngebuka mata htinya kyukyu…
    Adegannya so cwiiitttttt, tp ad paitnya dikit… huhuhu

    Kyukyu bakal ditinggal lagi…???

    Liked by 1 person

  4. kimkim says:

    akhirnya kyuhyun jujur jg sma eunbi mudah2an kyuhyun g terlambat n mudah2an eunbi smkn semangat mnghadapi penyakitnya….pokoknya part ini kayak permen nanonano ad manisnya ada asemnya 😀

    Liked by 1 person

  5. Lovecho says:

    Knpa gk dri dlu coba kyuhyun bilang ke eunbi tntang prsaanya.. klo bilang dri dlu kan psti eunbi pnya alasan dan motivasi untk berobat..
    Skrg jdi tmbh parah pnyakit eunbi..
    Satu sisi senang satu sisi pngen mewek baca part ini
    Next partnya di tunggu kak

    Liked by 1 person

  6. dayanaelf says:

    Lega, seneng, Sedih nangis mewek…
    Lega dan seneng karna akhirnya kyuhyun jujur ttg perasaannya ke eunbi, tapi sedih bgt tau keadaan eunbi makin drop, dan jengkel karna keras kepala nya eunbi yg lbh milih mati perlahan2,
    Semoga pernyataan cinta Kyuhyun bs ngubah pendirian tu cewek, paleng gak dia mau berobat demi Kyuhyun,

    Jadi keinget ff mu yg piles of regrets, itu juga menguras emosi dan aer mata, heheheh

    Liked by 1 person

  7. Chichikade says:

    Mewek lagi mewek terus mewek selalu😭😭😭😭

    Kyuhyun akhirnya yaampun greget pen gigit😍😍😍😍
    So sweet bgt njirrr cara nyampein perasaannya😂😂😂

    “Sebab kau selalu percaya setiap kali ku katakan bahwa aku tidak menginginkanmu. Padahal itu adalah kebohongan terbesar yang terus kusampaikan padamu” 😆😆😆😆😆😚😚🙈🙈🙈

    Gigit nih gigit😂😂😂

    Ini berkat kyu-Appa kyuhyun jdi tobat😂😂 kyu-Appa bijak bgt smpe buat kyuhyun jdi sadar kalo perspektif dia sama eunbi itu beda😆😆😆😂😂

    Author-nim keep 화이팅!!!😍😍😍😝😝😝😝😘😘😘😘😘

    Liked by 1 person

  8. mbul says:

    favorit bgt :))))
    suka sama hubungan mereka, suka sama cara kyuhyun nemenin dan perhatian ke eunbi. aah tpi jga gak bisa gak mewek tiap kali scene sedih mereka terbyang dikepala 😥 fighting ka ! dan salam kenal hehe

    Liked by 1 person

  9. mbul says:

    favorit bgt :)))
    aku suka bgt sama kata2 yg dipakai dan cara penyampaian yg nyess (?) bgt :))
    daaan ini cerita bener2 bikin baper tiap part. best !
    suka bgt sama karakter kyuhyun yg sampe segitunya sama eunbi. Manis banget tapi, sedih juga karena cobaan yg mereka hadapi bakal gak mudah. Yah semoga dikuatkan yaa kyu eunbi.
    btw, kyuhyun appa juga best bgt !
    fighting kak dan salam kenal :)))

    Liked by 1 person

  10. imgyu says:

    setelah tau apa penyakitnya eunbi rasanya ga setuju mereka habisin waktu buat berkeliling dunia disaat kesehatan eunbi lebih penting ketimbang muasin hasrat. Bukannya semakin cepat bertindak semakin bagus? Nunda hanya buat bikin berdebar dan gak karuan, semoga kyuhyun bisa maksa eunbi buat bertahan bukan sebaliknya

    Liked by 1 person

  11. lhealee says:

    Akhirnya ngaku yes. Part ini antara sedih tp bikin senyum2 jg😂Semoga dgn pengakuan Kyu *yang agak telat* bisa menjadi alasan Eunbi u/lebih kuat dan bisa bertahan. Btw makasih Cho appa udah ngeyakinin Kyu u/ngaku ttg perasaan nya😆cieee Eunbi udah dapet first kiss nya😆😂

    Hwaiting unnie!!!

    Liked by 1 person

  12. haoika says:

    kok aku pen Liat keluarga Eunbi nyesel senyeselnya ya karena kelakuannya Dengan Eunbi … moga aja eunbi Sembuh dan kyuhyun akhirnya lawan egonya ngakuin perasaannya ke eunbi ‘-‘

    Liked by 1 person

  13. diah sulistia says:

    Jebol sudah mewek juga jadinya……
    Kyuhyun kamu itu bodoh, nyebelin, ngga peka, perhatian, romantis juga bikin baper….. Astaga….
    Bener kata Appa Cho ngga semua harus pake otak saja karena hati juga harus ikut andil
    mungkin dg kyu terbuka ttg perasaannya yg sebenarnya pasti eunbi punya semangat buat sembuh dan lakuin ‘ritual’ operasi itu…

    But eunbi malah ngerasa gitu deh diasaat dia udah sekarat kyu wujud in apa yg dia mau terbuka ttg perasaannya dan balas perasaannya.. Bingung jg jd posisi kyuhyun dan eunbi…
    Astaga… Ini bener” bikin baper parah.. Alur yg keren. Bahasa yg mudah dipahami dan konsep cerita yg klik bgt bagi aku.. Emang tema udah mainstream sih tapi kakak kemas dg beda bgt dari yg lain beda jauh malah ahhhh beda… Keren pokoknya
    dan tadi ada kata ‘itinerary’ wkwkw jadi ngingetin pelajaran disekolah itu agenda perjalanan dinas pimpinan kekekek elahhh liburan ingat lagi sama pelajaran :v :v
    btw overall sampai part ini puas…. Keren…. Great lah….

    Liked by 1 person

  14. Dewi N says:

    Ah, Tremor ya,
    Gue suka jadi penghancur wefie, karena sering blur 😂😂

    Oh My…
    Ini manis banget. I mean, akhirnya mereka jujur satu sama lain. Akhirnya Kyuhyun bilang i love you. Akhirnya keinginan eunbi terkabul.
    Akhirnya… Ini TBC..

    😎😏

    Liked by 1 person

  15. Putrikimcho says:

    Kakak tau ga??? Kakak tuh jahat!!! Jahat!!! Bikin aku nangis terus!!! Di setiap ff kakak pasti selalu bikin nangis!! Tapi suka! Tapi kakak jahat bikin mata aku bengkak T_T T_T

    Untung aku bacanya malem, kalo siang mah udah malu banget ini pasti :”

    Ohh iya kakak mengingatkan aku sama sahabat aku 😢 waktu smp temen aku ada yang kena tumor juga tapi ga nanya jenisnya apa dan temem sma yang ga ketolong dia tumornya jenisnya astrositoma kalo ga salah dan sedih di ff ini kalo sampe eunbi telat pertolongannya karna temen aku awalnya ga ngasih tau keluhannya ke orang tuanya…

    Nexxtt kak semangatt💪💪💪

    Liked by 1 person

  16. Dyana says:

    Mimpi apakah Kyu akhirnya ngakuin perasaannya? Mimpi ketemu aku pasti hahaha…
    Ya ampun aku seneng dan nyesek disaat bersamaan… Ini pasangan bikin greget dech ya ampun… Gak rela kalau harus terpisah…
    Semoga aja ada jalan untuk Eunbi sembuh, meskipun nanti dia lupa sm kyuhyun karena efek operasi misalkan, tp setidaknya dia bisa hidup… Ah… Ini ff bikin deg deg’an…

    Liked by 1 person

  17. miran yang says:

    Akhirnya kyuhyun ngaku juga.. huuuaaaaah.. semoga next part eunbi nya mau berjuang untuk terus hidup deh yaaaaah..
    Sempet bertanya tanya tadi di pertengahan tentang kyuhyun yang cinta eunbi, apa itu cinta sebagai teman ato sebagai seorang wanita, dan diakhir ketahuan sudah gimana nya..
    Cant wait for next part..
    Hwaiting eonni ^^

    Liked by 1 person

  18. Seo HaYeon says:

    Loh kok pas ya? Q lg dgerin ost phantom jdul All I Ask Of You.. lah ternyata ngena bgt dgn ceritanya… 😂 aah aku lega kyu udh mengaku sama Eunbi.. weeh sweet sekali mereka…… dan sakit hati bersamaan dg fakta Eunbi yg ga bisa janjiin bisa dampibgin Kyu selamanya.. 😭😭😭😭😭😭😭😭😭 Kyu kamu sungguh terlambat…! Hoho..😭😭😭 Eunbi sayang… yang kuat ya.. habis ini kamu harus berjuang utk sembuh…. ne…. SEMANGAT!! 💪💪💪💪

    Liked by 1 person

  19. missluck says:

    Akhir’a Kyuhyun mengutarakan cinta’a
    Bahkan dia langsung mencoret salah satu daftar list keinginan Eunbi
    “ciuman pertama Eunbi”
    Z meskipun msh d selimuti suasana sedih setelah menurun’a kondisi Eunbi.
    Paling tidak kedepan’a langkah Kyuhyun dalam mendampingi Eunbi berjuang untuk hidup jd lebih ringan.

    Liked by 1 person

  20. OngkiAnaknyaHan says:

    sudah ?
    lega kan kalo udah diungkapin ?
    tidak ada yang salah dan tidak ada yang terlambat disini
    mungkin terlihat kekanakan alasan kyuhyun kenpa gak ngungkapin perasaan ke eunbi
    tapi kyuhyun juga gak salah , kyuhyun cuma takut kehilangan eunbi
    tapi ya sudahlah yang penting mereka udah saling jujur dan bersatu itu udah indah banged

    Liked by 1 person

  21. trinoviwulandari says:

    Ya tuhan
    Akhirnya kyuhyun mengungkapkan perasaannya ke eunbi setelah di beri pengarahan sama appanya
    Semoga eunbi juga terus berjuang sama penyakitnya

    Liked by 1 person

  22. melisayoonhaeharuoneday says:

    Eunbi….km jangan menyerah. Setidaknya harus coba jalani perawatan dan operasi. Jangan kalah sbelum berperang… Dan di saat genting,, kyu akhirnya mau mengalahkan nalarnya. Big thx buat appa kyu,, kalau beliau gak nasehatin gitu si kyu pasti tetap aja sembunyiin perasaannya. Moga setelah ada ungkapan cinta kyu , eunbi jadi lebih semangat untuk perjuangkan hidupnya.

    Liked by 1 person

  23. Kyuhyunsfan says:

    Salut sama appanya kyu jarang ada orang tua yg menyetujui jika anaknya berhubungan dgn seseorang yg Punya penyakit tapi disini justru sebaliknya sangat mendukung, memberi semangat dan akhirnya kyu bisa menyampaikan perasaan nya ke eunbi.

    Liked by 1 person

  24. enji276 says:

    Siapa yg iris bawang merah. 😭😭😭😭😭😭

    Akhirya kyu mengungkapkan perasaannya juga. Ya Ampun nyesek baca nih cerita, perasaan campur aduk. Minnn kau berhasil membuat bendugan ait mata ini roboh jugaa.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s