Truth Within – 5 [How It All Began]

 

5 eunbi

*Gambar milik Kang Taeri

 

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

 

Typo adalah hal yang manusiawi.

—————————————————————

 

Kyuhyun memandangi sosok yang tertidur lelap di sisinya dengan senyum simpul, ia merasa lega karena telah berhasil memenuhi sebagian dari harapan Jang Eunbi yang ditorehkan gadis itu dalam buku keramat mereka. Tidak pernah ia sangka tindakan spontan yang ia lakukan di tengah kepanikan dan rasa ketakutan empat bulan yang lalu bisa menuntun langkah keduanya sejauh ini.

Pria itu jelas boleh berbangga hati karena telah berhasil menumbuhkan sedikit semangat juang dalam diri sahabatnya. Jika menilik ke belakang, cara Eunbi menyikapi penyakit yang bersarang dalam tubuhnya sudah berbeda dan jauh lebih positif ketimbang hari pertama vonis keramat itu dijatuhkan, meskipun sampai detik ini Jang Eunbi belum mengatakan apapun perihal keputusan pengobatan yang akan ia lalui setibanya mereka di Seoul.

Masih inginkah Eunbi berjuang? Atau gadis itu bersikeras bertahan pada pendiriannya yang menyedihkan itu? Kyuhyun bisa mengerti pertimbangan Eunbi, tapi pria itu juga rasanya ikut sekarat jika harus diam saja sementara gadis yang ia cintai mati perlahan dalam pengawasannya.

Kyuhyun membaringkan tubuh di samping Eunbi sambil sesekali membelai anak rambut yang menutupi wajah tirus gadis itu, sampai detik ini benak Kyuhyun selalu melayang pada hari-hari kelam yang merubah hidupnya tanpa ia duga setiap kali ia hendak menutup mata. Bagaimana mungkin semua ini berubah begitu cepat, bagaimana satu kejadian bisa menjungkir-balikkan dunia Kyuhyun, serta bagaimana tatapan rapuh Eunbi bisa membuat pria itu sungguh-sungguh menyadari makna kehadiran Eunbi dalam hidupnya.

 

*

 

Cengiran bangga di wajah pria itu tidak bisa dipungkiri, ia mendapat predikat lulusan terbaik dari kampus bergengsi di Seoul, mengalahkan ratusan kawan seperjuangannya yang lain. Sebuah pencapaian yang patut dirayakan dengan acara minum-minum sampai teler bersama seluruh teman seangkatannya. Pria itu sudah menghabiskan porsi botol soju ketiga saat ponselnya berdering. Ia melirik sekilas lalu menghiraukan panggilan yang dianggapnya tidak darurat itu, paling-paling hanya Jang Eunbi ingin memberikan ucapan selamat padanya.

Ponselnya terus berdering beberapa kali. Jengkel karena acara perayaannya diusik, akhirnya pria itu menghela napas panjang sambil pamit sejenak pada kawan-kawannya untuk bicara di lokasi yang lebih tenang, toh ia hanya perlu menjelaskan pada Eunbi untuk berhenti mengusik pestanya.

“Ne, Eunbi-ya. Aku me-reject panggilanmu karena…”

“Kyu… kau di mana?” Tanya suara di seberang telepon lirih.

“Myeongdong.”

Terdengar suara rintihan ringan dari Eunbi. “Ah, benar juga. Kau sedang merayakan pesta kelulusan. Aku lupa.”

“Ada apa dengan suaramu? Apa kau baik-baik saja?” Tanya pria itu basa-basi.

“Entahlah, aku baru jatuh dari tangga dan sejujurnya saat ini aku masih cukup linglung.” Kekeh Eunbi.

“Ne? Ya! Kau di rumah? Kau tidak apa-apa?” Sahut Kyuhyun dengan nada khawatir yang nyata.

“Ng, yang lainnya sedang pergi merayakan kelulusan eonni. Aku sedang tidak enak badan dan bervolentir untuk menjaga rumah. Aku pun tidak tahu mengapa aku menghubungimu dan bukan menghubungi eomma.” Balas Eunbi. “Kembalilah ke pestamu, maaf sudah mengganggu.”

“Bi-ya, kau benar-benar tidak apa-apa? Nanti aku akan mampir ke rumahmu, oke?” Putus Kyuhyun.

“Ng, selamat bersenang-senang.” Balas Eunbi dengan nada riang yang dibuat-buat.

Tentu saja acara bersenang-senang Kyuhyun buyar setelah panggilan telepon itu berakhir. Meskipun pria itu masih mencoba duduk manis sambil berpesta, pikirannya terus melayang pada gadis itu. Jatuh dari tangga? Aish, apakah gadis itu terluka? Mengapa Eunbi meneleponnya? Jangan-jangan gadis itu terkilir dan tidak bisa bangkit, kebetulan tidak ada orang lain di sana dan ia menghubungi Kyuhyun untuk minta bantuan… ah, apapun itu yang jelas pikiran Kyuhyun sudah melayang ke rumah tetangganya dan pria itu memutuskan untuk menyudahi saja acara perayaan yang sudah tidak menarik lagi untuknya.

Kyuhyun memanggil taksi untuk mengantarnya segera ke rumah keluarga Jang, tidak perlu bersusah payah, ia memasukkan kode di pintu rumah tetangganya yang sudah dihafal baik setelah membunyikan bel satu kali sambil memanggil-manggil nama Eunbi. Pria itu melangkah ke arah tangga di tengah rumah dan menemukan sahabatnya sedang terisak pasrah di landasan tangga terbawah.

“Ya! Kau kenapa?” Pria itu berjongkok di samping Eunbi dengan wajah khawatir.

Gadis itu tetap meringis meskipun wajahnya mencibir sinis. “Matahari masih tinggi di langit dan kau sudah bau alkohol.”

“Aish, hiraukan itu. Di mana yang sakit? Kenapa kau diam saja di sini?” Kyuhyun mengamati pergelangan kaki kurus Eunbi yang terlihat sedikit membengkak. “Kau terkilir?”

Eunbi mengangguk pasrah.

“Bisa bangun?”

Pertanyaan itu dibalas dengan gelengan pelan. “Aku duduk di sini menunggu mereka pulang, karena beberapa kali aku mencoba bangun tapi nyeri sekali.”

“Ayo ke rumah sakit.” Putus Kyuhyun. Pria itu bengkit lalu tanpa perlu bersusah payah langsung membopong tubuh Eunbi dalam gendongannya.

Gadis itu praktis melingkarkan lengan di seputar leher Kyuhyun. “Memangnya kau tidak merasa mabuk?”

“Tidak, bagaimana mungkin aku bisa bermabukan kalau tahu kau merintih kesakitan di rumah.” Jawab Kyuhyun dingin sambil berjalan menuju pintu depan. “Mudah-mudahan di jalan raya ada taksi yang lewat, aku tidak mungkin menyetir mobil appa sekarang.”

Keberuntungan masih berpihak pada Eunbi, tetangga mereka baru saja turun dari taksi dan Kyuhyun langsung mengambil alih taksi itu untuk pergi ke rumah sakit terdekat.

Tidak ada yang salah dari kejadian itu. Eunbi hanya terjatuh dari tangga dan kakinya terkilir, tapi sepertinya dokter yang memeriksa gadis itu tidak terlalu puas dengan keterangan Eunbi.

“Apakah kondisinya gelap?” Tanya dokter jaga yang tengah melilit perban di seputar pergelangan kaki Eunbi.

“Terang benderang.” Jawab Kyuhyun. “Lokasi kamar gadis ini memang di lantai atas dan seharusnya dia sudah hafal denah rumahnya sendiri bahkan dalam keadaan terpejam sekalipun.”

Eunbi mengangguk membenarkan. “Seharusnya. Tapi seingatku tadi lampu meredup beberapa saat dan aku kehilangan keseimbangan. Kau pikir aku dengan suka rela terjun bebas dari tangga rumahku sendiri, ng? Itu juga konyol sekali bagiku.”

“Lampu dari mana? Jelas-jelas masih siang, memangnya matahari bisa dipadamkan!?” Sosor Kyuhyun jengkel.

Dokter jaga itu mengerutkan kening. “Apa ada keluhan lain sebelum Anda jatuh?”

“Dokter, aku hanya sedang ceroboh saja.” Tukas Eunbi. “Kebetulan hari ini aku sedang kurang enak badan dan sakit kepala.”

“Mumpung kita di sini, lebih baik kau ceritakan semua rasa sakitmu, biar disembuhkan sekaligus.” Bisik Kyuhyun gusar.

“Kawan Anda benar, sebaiknya Anda ceritakan semua keluhan yang Anda rasakan dari awal.” Saran sang dokter sambil mengambil map dengan rekam medis Eunbi.

“Aish, aku hanya terkilir, kenapa kalian jadi berlebihan.” Gerutu gadis itu jengkel. “Baiklah, aku ceritakan. Hari ini aku merasa pusing teramat sangat sejak bangun tidur sampai-sampai rasanya perutku ikut mual karena menahan sakit kepala, seharusnya kami pergi merayakan kelulusan eonni-ku tapi karena semakin siang sakit kepalaku semakin menjadi, aku memutuskan untuk tinggal saja di rumah. Setelah pusingku mereda, aku merasa lapar dan ingin mencari makanan ke dapur bawah, aku berjalan seperti biasa tapi sepertinya kordinasi langkahku agak mengacau karena aku masih pusing, ditambah dengan lorong tangga meredup sejenak—lalu aku terjatuh. Kurang lebih seperti itu kejadiannya.”

“Kau masih sakit kepala?” Sahut Kyuhyun. “Sudah berapa hari ini sakit kepalamu tidak sembuh-sembuh, bukan?”

“Mengapa kau mengambil alih pekerjaan dokter ini?” Balas Eunbi sinis.

“Anda memiliki keluhan sakit kepala sampai berhari-hari? Apakah keluhan sakit kepala ini sudah berlangsung lama?” Tanya dokter itu serius.

Eunbi mengangguk pelan. “Tapi hanya sakit kepala biasa, Dokter. Mungkin karena pergantian cuaca, dan karena aku lebih sering begadang akhir-akhir ini.”

Dokter yang memeriksa Eunbi mengangguk-angguk sambil menuliskan keluhan Eunbi ke dalam mapnya. “Coba berbaring dulu, Nona Jang. Aku akan melakukan beberapa pemeriksaan lanjutan.”

“Ng? Aku baik-baik saja, kan?” Tanya Eunbi bingung.

“Nanti kusimpulkan setelah aku memeriksa Anda.” Balas dokter itu ramah.

Dari pemeriksaan standar, Eunbi dan Kyuhyun diminta untuk menunggu beberapa saat sebelum mereka dirujuk pada seorang dokter spesialis. Awalnya Kyuhyun masih bingung mengapa kaki terkilir bisa berakhir pada bagian neurologi, tapi karena ia yang meminta pemeriksaan lengkap untuk gadis itu, dengan sabar Kyuhyun menemaninya. Tidak ada tindakan yang mencurigakan atau prosedur yang terlihat berbahaya bagi Eunbi. Gadis itu hanya dimintai beberapa keterangan tentang keluhannya, diminta melakukan beberapa pemeriksaan fisik lanjutan sebelum diizinkan pulang. Malam itu Kyuhyun terpaksa menemani Eunbi untuk menjadi pengawal pribadi yang rela diminta ini-itu sementara gadis itu duduk di ruang tengah dengan kakinya yang terkilir, sambil menunggu keluarga Jang pulang. 

Beberapa hari setelah kaki Eunbi pulih, keadaan mereka berjalan seperti biasa dan tidak ada yang mencurigakan, sampai Kyuhyun mendapat panggilan dari nomor asing. Suatu siang saat pria itu sedang menunggu surat penerimaan beasiswa master yang seharusnya sudah ia peroleh, pria itu mendapat panggilan dari kantor polisi. Kawannya tersesat di llsan dan Eunbi tidak ingat bagaimana ceritanya ia bisa tiba di tempat itu. Karena kondisi Eunbi yang nampak linglung, polisi mencoba menghubungi nomor terakhir yang dihubungi gadis itu—dan Kyuhyun adalah orang itu.

Pria itu membawa mobil ayahnya untuk menjemput Eunbi yang saat itu terlihat bingung dan pucat. Seingatnya, gadis itu ingin pergi ke daerah Incheon tapi mengapa ia berakhir di kota lain? Ia mencoba menyelidiki tiket kereta yang Eunbi beli, ternyata memang sejak awal gadis itu sudah salah memesan tiket. Belum memiliki kecurigaan berat, Kyuhyun mengantar Eunbi pulang sambil mengolok-olok kebodohan yang dilakukan sahabatnya.

Kejadian itu mereka anggap sebagai kekonyolan belaka dan perhatian mereka segera teralihkan dari kasus ‘Eunbi tersasar’ saat surat yang dinantikan Kyuhyun datang. Pria itu terlihat gugup saat menatap amplop dengan kop emblem khas universitas yang ia impikan, dengan tarikan napas panjang Kyuhyun merobek ampop dan memberanikan diri untuk membaca isinya. Saat pria itu melompat-lompat seperti bocah, Eunbi tahu bahwa impian seorang Cho Kyuhyun baru saja terwujud.

Keesokan harinya Eunbi dan Kyuhyun merencanakan perayaan kecil-kecilan untuk penerimaan beasiswa Kyuhyun berdua saja. Sesuai janji, Kyuhyun mentraktir segala yang ingin dimakan gadis itu. Namun di tengah perjalanan, Eunbi tiba-tiba tidak sadarkan diri dan baru pada gejala itu Kyuhyun berubah panik dan kembali melarikan gadis itu ke rumah sakit. Keduanya bertemu lagi dengan dokter jaga yang menangani Eunbi minggu sebelumnya, Kyuhyun menceritakan beberapa kejanggalan yang terjadi pada sahabatnya dan lagi-lagi mereka dirujuk pada neurologis. Kali ini pemeriksaan yang lebih seksama dilakukan dengan pemindaian mesin MRI.

Tentu saja apa yang mereka dengar berikutnya terdengar bagai petir di siang bolong.

“Aku mencurigai hal ini sejak Anda menyampaikan keluhan yang pertama, hanya saja gejalanya terlalu general untuk dilakukan tindakan MRI. Namun karena kejanggalan terus terjadi, kuputuskan untuk memindai ke dalam otak Anda.” Dokter Lee menunjukkan hasil pindaian kepala Eunbi dalam monitornya. “Dari pemindaian awal yang kucocokkan dengan gejala dan besarnya pertumbuhan sel abnormal, diagnosis sementara menyimpulkan bahwa ada tumor yang tumbuh dalam otak Anda. Dalam istilah kedokteran kami menyebutnya astrocytic tumor, namun ini baru bedasarkan hasil pindaian awal. Dibutuhkan beberapa tes dan juga biopsi untuk menyimpulkan kategori tumor ini, baru setelah pemeriksaan lengkap dilakukan, aku bisa mengambil langkah berikutnya untuk mengatasinya.”

Eunbi menatap nanar ke dalam layar monitor, matanya terfokus pada gumpalan putih sebesar bola pingpong yang nampak dalam gambar MRI otaknya. Kata-kata dokter Lee terdengar bagaikan bahasa alien baginya. Kyuhyun yang juga sama tercengang hanya bisa menatap kosong ke arah layar.

“Aku paham bahwa ini bukan berita yang mudah untuk diterima, tapi hal pertama yang akan kusarankan adalah mari kita sikapi ini dengan tenang. Masih ada beberapa tahapan yang harus kita lalui sebelum menyimpulkan apakah tumor ini berbahaya atau tidak. Cara penanganannya juga beragam. Tapi dari pemindaian awal, bisa dipastikan bahwa Anda akan melalui beberapa rangkaian tes lanjutan, Jang Eunbi-ssi.” Terang sang dokter.

“Di—dia bisa disembuhkan, kan?” Tanya Kyuhyun, menyuarakan kata hati Eunbi yang semakin pucat pasi di sisinya.

“Aku belum bisa berkata banyak untuk saat ini karena data yang kita miliki masih terbatas. Jika memungkinkan, aku akan segera menjadwalkan pemindaian lanjutan dan juga biopsi. Gunanya untuk mengetahui jenis tumor yang bersarang dalam otak Jang Eunbi dan dari pemeriksaan itu kita bisa mengetahui jenis dan stadium tumor ini.” Terang dokter itu sabar.

Keduanya pulang dangan perasaan kacau-balau, terutama Eunbi. Siapa yang menyangka kelalaiannya menuruni tangga bisa mengantarkan pada diagnosis sementara yang terdengar sangat menakutkan baginya.

“Kyu, janji jangan beritahu eomma dan appa.” Bisik Eunbi lirih.

“Kau sudah gila? Beritahu mereka segera! Semakin cepat penyakit ini ditindak, semakin cepat proses penyembuhanmu.” Bentak Kyuhyun.

“Aku tahu.” Eunbi mengangguk setuju. “Aku akan memberitahu mereka, tapi nanti saat vonis yang tepat sudah keluar. Aku tidak mau membuat mereka khawatir untuk sesuatu yang belum pasti, kumohon bekerja samalah denganku.”

“Tidak.”

“Ayolah… tidak sulit membungkam mulutmu.”

“Kau sinting. Kau dengar sendiri tadi dokter itu bilang bahwa kau harus diopname beberapa hari untuk biopsi!” Sahut Kyuhyun gusar. “Aku tidak akan bisa berbohong menutupi jejakmu jika kau pergi dari rumah beberapa hari, Bi-ya.”

“Aku akan mencari alasan yang masuk akal. Menginap di suatu tempat mungkin? Ah, entahlah, nanti kupikirkan. Saat ini aku ingin kau berjanji untuk tidak membocorkan dan menciptakan kepanikan yang tidak perlu. Tolonglah, aku masih butuh waktu untuk mencerna ini. Aku tidak mau melihat eomma, appa, dan eonni menangis sedih padahal tingkat bahaya dari tumor ini saja belum terdeteksi.”

“Kau terlalu tenang untuk seseorang yang baru mendapat berita buruk.” Simpul Kyuhyun.

“Aku harus tenang, Kyu. Cukup kau saja yang panik untuk kita berdua, jika aku ikut panik, bisa-bisa aku ketakutan menjalani pemeriksaan lanjutannya.” Terang Eunbi sambil meraih tangan Kyuhyun. “Hey, kau baik-baik saja kan, Kyu?”

Raut wajah pria itu sulit ditebak, tapi Kyuhyun membalas remasan tangan Eunbi sedikit lebih erat dari yang seharusnya. “Aku akan menjaga rahasiamu untuk sementara, tapi dengan satu syarat.”

“Apa syaratmu?”

“Libatkan aku.” Kyuhyun menelan gumpalan dalam kerongkongannya. “Apapun yang harus kau jalani, libatkan aku. Jangan tutupi apapun dariku dan biarkan aku menjadi sandaranmu, paham? Hubungi aku setiap kali kau merasakan keluhan janggal dan beritahu aku seluruh—”

“Hey, jangan menangis.” Eunbi mengusap punggung sahabatnya khawatir saat air mata pria itu mengalir tanpa bisa ia tahan. “Hey, aku tidak apa-apa, Kyu. Kau harus berpikiran positif untukku, oke? Ini baru pemeriksaan awal, kita belum tahu diagnosa resminya—ayolah, tidak mungkin aku sakit separah itu tanpa kusadari. Pasti ini hanya sesuatu yang perlu dioperasi dan aku akan segera sembuh dalam waktu singkat.”

“Ya, Jang Eunbi!”

“Sstt… tenanglah. Aku yang diberi berita buruk mengapa kau yang menangis seperti bocah.” Eunbi mencoba menunjukkan serangkaian gigi putihnya untuk menghibur Kyuhyun. “Berhentilah menangis, Kyuhyun-a… nanti aku ikut menangis.”

.

.

.

Sikap positif mereka tidak berlangsung lama. Setelah Eunbi mengelabui keluarganya dengan alasan harus mengikuti kompetisi fotografi di Jeju, mereka melalui rangkaian prosedur yang disarankan dokter berbekal kartu asuransi yang Eunbi miliki. Keduanya masih terlalu muda dan tidak tahu apa-apa untuk melewati serangkaian proses rumah sakit yang bertahap, selain itu mereka juga ditempatkan dalam posisi membingungkan dan menakutkan.

Pengalaman Eunbi mungkin akan menjadi ribuan kali lebih buruk jika Kyuhyun tidak mendampinginya. Masuk ke dalam mesin MRI yang sempit saja sudah cukup menakutkan bagi Eunbi yang sedikit claustrophobic, tapi perlahan ia belajar untuk menelan rasa takutnya karena ia tidak memiliki pilihan lain meskipun setiap tahap pemeriksaan yang ia lakukan semakin terdengar mengerikan, terutama tahap biopsi.

Sepertinya sudah menjadi prosedur standar bagi para dokter untuk menjelaskan tahapan operasi yang harus dilalui pasien, begitu pula dengan operasi kecil Eunbi. Dokter Lee mengatakan bahwa untuk mengambil sample jaringan tumor dalam kepala Eunbi, ia harus menggunakan alat bor kecil untuk membuka tempurung otak Eunbi sebelum ia memasukkan alat kecil yang fungsinya menarik sample jaringan. Jelas warna di wajah gadis itu lenyap saat ia membayangkan sebuah alat berat akan menembus tempurung kepalanya, tapi setelah diyakinkan oleh Kyuhyun yang sejujurnya juga ketakutan, ia menurut dan menegarkan diri untuk melalui operasi kecil itu.

Selama menunggu hasil biopsi Kyuhyun tetap menemani gadis itu. Kyuhyun sudah memberikan alasan pada kedua orang tuanya bahwa ia akan pergi camping bersama teman-teman kuliahnya agar mereka tidak curiga. Pria itu tidak menyia-nyiakan waktu menunggu begitu saja, masih banyak persyaratan beasiswa yang harus ia lengkapi dan biasanya Kyuhyun akan mengetik paper penelitian awalnya saat gadis itu beristirahat. Eunbi dan Kyuhyun sama-sama berusaha bersikap netral dengan keyakinan bahwa diagnosa awal dokter Lee salah besar.

Harapan mereka terkabul, diagnosa dokter itu meleset. Tapi bukan untuk alasan yang lebih baik.

Pada hari kedua setelah biopsi, dokter Lee masuk ke dalam kamar Eunbi dengan wajah murung. Pria itu menarik perangkat lampu terawang yang tersedia di kamar setiap pasien dan membawanya mendekat ke ranjang Eunbi. Pria itu mengeluarkan hasil MRI, menyelipkannya pada lampu terawang itu sambil meminta Kyuhyun untuk duduk.

“Aku akan menyampaikan diagnosa finalku, Jang Eunbi-ssi.” Dokter Lee menunjukkan dua gambar pembanding antara MRI pertama Eunbi dengan MRI lanjutannya. “Seperti yang bisa Anda lihat, dalam waktu dua minggu ukuran bidang putih dalam otak Anda sudah bertambah. Skalanya memang tidak terlalu nampak jika tidak diperbesar seperti ini, namun pertumbuhan ini terhitung cepat.”

Kedua anak muda itu masih menatap heran pada gambar yang ditunjukkan Dokter Lee.

“Astrositoma, salah satu bentuk umum dari tumor otak. Ada dua tipe astrositoma, dan sayangnya dalam kasus Anda, sel abnormal yang terus berkembang dikategorikan invasif. Dari pemeriksaan tahap kedua yang sudah kita lalui, aku mengkategorikan ke dalam anaplastic astrocytoma yang artinya harus segera ditangani.” Terang dokter Lee.

Lahi-lagi ruangan itu dipenuhi kesunyian yang mencekam.

“Ada beberapa alternatif yang bisa kita lakukan untuk menindaki perkembangan tumor ini. Operasi, radiasi, kemoterapi, dan masih banyak lagi. Semua tergantung bagaimana tubuh pasien bereaksi pada pengobatan yang akan kami berikan.” Lanjut dokter Lee. “Karena tumor ini sudah dalam kategori stadium 3, Jang Eunbi akan segera kurujuk pada beberapa ahli syaraf, sepesialis neuropatologi, dan mungkin juga dengan psikolog—sebab bukan hanya fisik Anda yang akan terpengaruh, sering ditemukan perubahan sikap dan kepribadian pada kasus tumor dan kanker otak yang diakibatkan karena invasi sel pada bagian otak yang mengatur kepribadian.”

“Kalau begitu kapan kita bisa melakukan operasi pengangkatan?” Tanya Kyuhyun yang semakin lama semakin tidak mengerti kata-kata dokter Lee.

Dokter Lee melepas kaca mata kotaknya lalu mengusap wajah gusar. “Itu yang harus kita diskusikan.”

“Karena?”

“Lokasi tumor ini terlalu dalam.” Dokter Lee mengganti gambar di layar dengan potongan menyamping pindaian otak Eunbi. “Ini disebut dengan cerebral hemisphere, lokasi yang menjadi tempat otak melakukan sebagian proses mengolah informasi. Bicara, melihat, mendengar, motorik, kognitif, menyimpan memori, kepribadian, dan masih banyak lagi. Seluruh kordinasi tubuh manusia dikendalikan dalam otak dan untuk saat ini, ‘ruang kemudi’ Jang Eunbi sedang diserang.”

“Lalu jika lokasi tumor ini terlalu dalam, aku harus apa? Apakah tindakan operasi terlalu beresiko?” Akhirnya Eunbi menemukan suaranya.

Dokter Lee mengangguk. “Tidak mustahil, hanya saja ada beberapa kemungkinan atau efek samping yang bisa terjadi.”

“Kemungkinan seperti apa, Dokter?” Tanya Kyuhyun semakin bingung.

“Karena letak tumor berada dalam ganglia dasar yaitu bagian dalam otak yang bewarna putih, ada beberapa kemungkinan. Yang paling ringan adalah kemungkinan hilang atau berkurangnya gerak motorik. Melihat posisinya, syaraf optik Nona Jang juga bisa terpengaruh—yang sepertinya sudah terjadi jika melihat laporan pertama saat kalian datang ke sini saat Nona Jang terkilir. Jika tumor ini ternyata menyerang Broca’s area, ada kemungkinan kemampuan bicara Nona Jang terancam, masih ada kemungkinan hilangnya memori baik parsial maupun keseluruhan, dan perubahan kepribadian juga pernah ditemukan dalam beberapa kasus.” Terang dokter Lee. “Otak adalah pusat yang mengendalikan seluruh kordinasi tubuh–baik gerak sadar maupun gerak tidak sadar–, maka segala yang berurusan dengan organ ini menjadi krusial.”

Eunbi sudah tidak fokus pada apa pembicaraan Dokter Lee dan Kyuhyun. Pria itu masih berusaha bersikap tenang sambil menanyakan hal-hal yang lebih mendetil perihal tumor yang baru mereka ketahui, sementara gadis itu seakan tengah melihat akhir hidupnya. Tumornya tidak ganas tapi tumbuh cepat? Cara menghilangkannya adalah operasi, tapi operasi sangat beresiko? Apa maksud dari kata-kata dokternya? Apakah pria itu menyarankan Eunbi untuk pasrah saja sampai tubuhnya menyerah? Atau pria itu sedang menyiapkan mental Eunbi seandainya satu dari sekian banyak fungsi tubuhnya berangsur padam? Apa arti semua ini?

“Dokter, apakah aku akan mati?” Eunbi memotong pembicaraan Kyuhyun dan dokter Lee dengan mata berkaca-kaca. “Berapa lama lagi umurku akan…”

“Tidak seperti itu, Jang Eunbi-ssi. Seperti yang tadi kujelaskan pada Kyuhyun-ssi, ada beberapa alternatif yang bisa Anda pilih. Pertama tentu saja operasi pengangkatan dengan resiko yang sudah kujelaskan, setelah operasi kami akan melakukan pamantauan dan terapi sesuai dengan hasil yang muncul.” Jelas dokter Lee. “Namun dikarenakan tumor ini memiliki pertumbuhan yang cukup cepat, Anda juga harus mengambil keputusan dengan segera agar semua bisa ditindak sebagaimana semestinya.”

“Jika aku tidak melakukan operasi, apakah aku akan bertahan?” Cicit Eunbi. “Kemarin Anda baru memasukkan alat berat ke dalam kepalaku dan aku sudah ketakutan setengah mati, Dokter. Jika kali ini aku harus digunduli dan dibedah, aku…”

Kyuhyun meraih tangan Eunbi yang tergeletak di atas pengkuan gadis itu, tindakan sia-sia untuk menenangkan sahabatnya. Sebab ia sendiri juga sama takutnya dengan Eunbi. “Eunbi-ya… Kita tetap harus bersikap positif.”

“Kyuhyun-ssi benar. Anda masih memiliki cukup waktu untuk mempertimbangkan keputusan—”

“Jika aku tidak mau dioperasi…” Suara Eunbi semakin tercekat. “Jika aku menolak melakukan itu, apa yang akan terjadi padaku, Dokter?”

Dokter Lee menghela napas panjang. Ini bukan kali pertama ia menghadapi pasien yang tengah terguncang, namun tetap saja sulit menjelaskan perkara ajal seseorang.

“Sebagai orang yang mempelajari medis, aku akan menyarankan Anda untuk melakukan operasi—tentu saja dengan resiko yang sudah kujabarkan.” Dokter Lee berdeham. “Sebab sebagai dokter aku sudah mengambil sumpah untuk menyelamatkan nyawa manusia. Namun sebagai dokter, aku pun tidak berhak memaksa seorang pasien untuk melakukan suatu prosedur jika pasien—”

“Jangan berkelit! Apa yang akan terjadi padaku? Katakan langsung!” Bentak Eunbi histeris.

“Tubuh Anda akan menyerah dengan sendirinya, perlahan, saat satu per satu indera Anda terpengaruh. Jika dibiarkan, tumor bisa terus berkembang dan menyerang bagian otak yang mengatur bagian keseimbangan, refleks, dan pada akhirnya gerak jaringan dan organ lain yang dikendalikan otot polos.” Jelas dokter Lee.

“Jadi berapa lama waktuku?” Sebulir air mata jatuh dari pelupuk mata Eunbi. “Tanpa operasi itu, berapa lama waktuku?”

Dokter Lee melirik pada Kyuhyun, seolah mencari dukungan agar pria yang mendampingi pasiennya mau diajak bekerja sama untuk menyakinkan Eunbi agar memilih jalan operasi. Tapi Kyuhyun menatap dokter itu dengan mata merah yang sama sembabnya dengan Eunbi.

“Delapan bulan sampai satu tahun.” Jawab Dokter Lee.

Tangis Eunbi pecah. Ini tidak adil, masih banyak sekali yang belum sempat ia lakukan dalam hidupnya. Masih terlalu banyak pengalaman yang belum pernah ia cicipi, ia belum tahu rasanya menjadi bagian dari satu komunitas di kampus, ia belum tahu ada apa di dunia luar selain Korea Selatan, ia belum berhasil membahagiakan keluarganya, ia belum pernah merasakan memiliki seorang kekasih, ia tidak tahu sensasi mendapatkan ciuman pertama—kemungkinan besar ia tidak akan pernah mengalami itu semua. Terlalu lama sudah ia hanya membuang-buang waktu berusaha menjadi anak yang bisa dibanggakan ayahnya, dan selama ia sibuk melakukan itu, diam-diam ia sekarat. Ini tidak adil.

Dokter Lee dan Kyuhyun masih melanjutkan diskusi mereka sejenak sebelum pria paruh baya itu undur diri untuk menyampaikan berita buruk pada pasien lainnya. Detik pintu kamar Eunbi ditutup, menjadi momen yang merubah Kyuhyun untuk seterusnya.

.

.

.

Kyuhyun duduk di sisi ranjang opname Eunbi, menghadap gadis yang masih menghayati sisa-sisa tangisnya yang mulai reda. Ini adalah malam terakhir gadis itu akan menginap di rumah sakit dan suasana yang menyelimuti mereka terlalu sunyi dan dipenuhi duka.

“Bi-ya, aku tahu pertanyaanku bodoh, tapi apakah ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu merasa lebih baik?” Tanya Kyuhyun.

Gadis itu menggeleng lemah. “Aku masih merasa berita siang tadi adalah mimpi, Kyu. Mimpi buruk yang membuatku ingin terbangun segera.”

“Aku juga ingin terbagun dari mimpi buruk ini, Bi-ya. Maafkan aku, aku sedang mencoba bersikap tegar untuk kita berdua, tapi sepertinya aku gagal.” Isakan tangis Kyuhyun semakin menjadi-jadi. “Kita buat perjanjian, kita hanya boleh menangis sepuasnya hari ini lalu mulai besok kita akan melawan alien di kepalamu itu dengan tegar, ne?”

Eunbi mencoba terkekeh, tapi rasa sedihnya kembali muncul.

“Kita adalah tim yang sempurna, aku akan mencari tahu tentang alien di kepalamu itu dan aku akan menemanimu mencari dokter yang terbaik seandainya kau belum puas dengan diagnosa yang diberikan Dokter Lee. Sementara aku mencari tahu tentang tumor itu, kau harus tetap semangat, setuju? Kau harus tetap menghadapi mimpi buruk ini dengan mental ‘tahan banting’ yang selalu menempel dalam pribadimu.” Suara Kyuhyun terputus-putus pada setiap tarikan napasnya. “Yang penting kita harus melawan ini bersama.”

Eunbi mengangguk pelan. “Aku akan memberikan usaha terbaikku, Kyu.”

Pria itu merengkuh tubuh Eunbi ke dalam pelukannya, Kyuhyun menyembunyikan wajah pada ceruk leher Eunbi untuk menghabiskan sisa tangisannya yang belum puas ia keluarkan.

“Apa yang kau pikirkan, ng?” Eunbi mengusap punggung Kyuhyun sabar. “Apa kau sedang menangis untukku?”

“Kapan kau akan memberitahu orang tuamu?” Kyuhyun melepas pelukannya agar bisa menatap wajah Eunbi.

“Entahlah.”

“Ya! Kau sudah berjanji!”

“Sebentar lagi eonni akan menikah. Aku tidak mau menjadi party pooper yang menyampaikan berita buruk di tengah persiapan—”

“Jang Eunbi, nyawamu lebih penting!” Hardik Kyuhyun dengan suara lantang. “Kau janji padaku kemarin, jika diagnosa final sudah keluar kau akan memberitahu mereka!”

“Begitu menurutmu?” Gadis itu mendengus kasar. “Kau tahu apa yang melintas dalam benakku saat Dokter Lee memberi vonis itu?”

Kyuhyun menggeleng sambil menyeka air matanya sendiri.

“Bahwa berita ini sangat tidak adil. Banyak sekali yang belum kulakukan, Kyu.” Bisik Eunbi lirih. “Bulan lalu aku marah besar pada appa karena tidak mau membantu biaya kuliahku, tapi sepertinya sekarang aku bisa mengambil hikmahnya. Sepertinya aku akan lebih sedih jika aku hanya bisa mencicipi dunia kampus kurang dari satu tahun lamanya.”

“Apa kau sedang mengasihani diri sendiri?” Kyuhyun mendesisis sinis. “Cara itu tidak mempan untukku, Bi-ya.”

Eunbi mengangkat kedua bahunya. “Kau tahu apa lagi yang belum kulakukan? Belajar menyetir mobil, menonton musikal, pergi ke luar negeri, merasakan ciuman pertama…” Tangis Eunbi kembali pecah.

Kyuhyun hanya bisa ikut menangis mendengar penjabaran Eunbi akan hal-hal yang sebenarnya sangat sederhana, tapi memang belum sempat dicicipi gadis itu.

“Aku terlalu sibuk membenahi diri menjadi putri yang layak bagi kedua orang tuaku, terlalu sibuk bersembunyi di balik bayangan eonni, bahkan terlalu sibuk mengikuti langkahmu yang tidak pernah menatapku.” Gadis itu tersenyum miris. “Sampai aku lupa menjalani hidup untuk diriku sendiri. Argh! Bodoh sekali, bukan? Sekarang ada bom waktu dalam kepalaku dan aku… setidaknya aku ingin melakukan beberapa hal sebelum bom itu meledak, Kyu. Hanya dengan cara itu, aku akan merasa semesta bertindak adil padaku.”

Pria itu terisak semakin keras menyaksikan pertahan sahabatnya perlahan runtuh. Sejak dulu Kyuhyun sudah menjadi saksi bisu akan ketidakadilan yang menyertai hidup si kembar Jang, namun tidak pernah ia sangka kejamnya keputusan semesta pada takdir Jang Eunbi bisa seburuk ini. Padahal yang diinginkan gadis itu sederhana, ia hanya ingin bahagia sambil membahagiakan orang-orang yang dicintainya.

“Hey, jangan menangis… nanti aku akan menangis lagi. Kan tidak lucu kalau kita berdua pulang dengan mata bengkak besok.” Eunbi menghapus air mata Kyuhyun dengan jemarinya.

“Bi-ya, aku punya ide.” Ujar Kyuhyun di tengah kesenduan mereka.

“Kalau kau bicara operasi lagi, aku akan mengusirmu dari kamar ini.” Sahut Eunbi sinis.

“Diskusi kita tentang tindak penanganmu boleh ditunda sementara saja. Aku tidak akan menyerah menyuruhmu melakukan operasi itu. Tapi ada yang lebih penting sekarang.” Pria itu bangkit dari ranjang Eunbi, merogoh ke dalam tas ranselnya untuk mencari-cari notes kosong yang sebenarnya ia siapkan untuk mencatatan kebutuhan kuliahnya kelak.

“Kenapa kau memberikanku buku dan pulpen?” Tanya Eunbi bingung.

“Kau pernah dengan istilah ‘bucket list’?” 

Gadis itu mengangguk, seketika paham dengan jalan pikiran Kyuhyun.

“Pada akhirnya kita akan menyesali apa yang tidak sempat kita jalani.” Lanjut Kyuhyun. “Tulislah semua yang ingin kau lakukan tapi belum sempat melakukannya. Perlu kutekankan, ini bukan caraku untuk membantumu menyerah pada keadaan, namun untuk membuatmu sadar bahwa masih banyak hal yang tidak akan cukup kau lakukan dalam kurun waktu yang diprediksikan. Kuharap perlahan matamu terbuka dan kau mau mempertimbangkan opsi yang disebutkan Dokter Lee tadi.”

Eunbi tersenyum kecut. “Lalu apa efeknya? Kau menyuruhku menuliskan impian-impianku hanya untuk membuatku sadar bahwa selama ini aku hanya seorang pecundang yang tidak pernah melakukan apa-apa.”

“Aku akan mencoba mewujudkannya untukmu.” Air mata pria itu kembali mengalir. “Sebagai gantinya aku minta kau tidak keras kepala dan mempertimbangakan berbagai opsi penanganan tumor itu.”

“Kyu, aku masih shock sekarang.” Eunbi  mencoba bicara dengan tenang. “Yang melintas dalam benakku saat ini hanya ‘aku akan mati’, dan kepalaku penuh dengan pikiran buruk itu. Jangankan memikirkan opsi menangani ini, aku saja masih harus memilah kata untuk mengabari keluargaku perihal ini dan saat ini kepalaku rasanya buntu.”

“Aku paham.” Kyuhyun tersenyum kecut. “Aku akan memberimu waktu dan aku akan membantumu untuk menyampaikan masalah ini pada keluargamu. Besok kita…”

“Tidak, tidak besok.” Eunbi menggeleng cepat. “Tolong beri aku kesempatan untuk mengolah semua ini matang-matang, ne?”

“KITA HARUS BERTINDAK CEPAT!”

“AKU TIDAK MAU BERTINDAK CEPAT!” Bentak Eunbi tidak kalah panas. “Kau dengar apa kata Dokter Lee tadi, jika sesuatu terjadi selama operasi dan terjadi hal-hal yang tidak diprediksikan, ada beberpa hal vital yang terkena imbasnya. Kyu, aku tidak siap jika harus kehilangan pengelihatanku tiba-tiba, atau jika aku menjadi orang yang hanya bisa diam di atas ranjang, atau tiba-tiba menjadi lumpuh, lebih buruk lagi, aku tidak mau kepribadianku berubah mendadak apalagi sampai kehilangan memoriku! Aku tahu mungkin saat ini di kepalamu yang utama adalah kesembuhanku, tapi aku pun tidak bisa dengan gegabah membuat keputusan begitu saja. Beri aku waktu!”

“Berapa lama aku harus memberimu waktu, ng? Satu minggu?”

“Tidak, biar aku yang menentukan tenggat waktuku sendiri.”

“YA!”

Eunbi mengangkat buku notes kecil yang tadi Kyuhyun berikan padanya. “Bagaimana jika kita membuat kesepakatan? Aku akan menuliskan bucket list-ku di sini, aku akan mencoba mewujudkannya, setelah semua selesai baru kuberikan keputusanku.”

Kyuhyun menatap sahabatnya dengan tatapan tajam. Gadis gila! Dalam keadaan seperti ini Eunbi masih berani menantang maut dengan bertingkah kekanakan.

“Kau keberatan nampaknya.” Sahut Eunbi kecewa.

“Baiklah. Kita akan mencoba untuk mewujudkan semuanya.” Putus Kyuhyun. “Tapi kau hanya kuberi waktu lima belas menit untuk menuliskan segalanya.”

“Ya! Buku ini tebal! Lima belas menit tidak akan cukup–“

“Lima. Belas. Menit.” Kyuhyun mengeluarkan ponselnya untuk mencari timer. “Dimulai dari sekarang.”

 

 

tbc…

 

 

 


Cara halus nggak mempan, jadi jangan protes kalo gue (see? udah nggak formal ini) meledak dan jadi sangat kasar sekarang ya, abis cara yang baik-baik masih nggak mempan untuk beberapa oknum (maaf sebelumnya, kalau yang nggak berdosa ikutan kena imbas baca notes ini).

Serius deh, kalo masih ada yang nagih Water, gue apus juga tu FF. Nagih kok kaya gue yang ngutang kerjaan. Punya jempol tuh dipake yang bener, jangan asal komen! Lo kata nulis gampang? Kalo gampang, gih tulis sendiri sana, bikin ending yang lo kehendakin sendiri, ketimbang nunggu mood gue yang semakin dikejar-kejar semakin lenyap. Blog juga blog gue kenapa lo yang rese, sih?! Kalo nggak suka sama apa yang gue posting, ya nggak usah dibaca, gampang kan? Idup udah ribet, nggak usah nambah drama. Tolonglah, kerjasama yang baik. Gue butuh reader untuk mereview memang, tapi nggak berarti reader bisa seenaknya juga, kan? Saling menghargai itu tidak susah loh!

.

.

.

Sekali lagi, untuk kalian yang tidak berdosa tapi kena imbas baca notes yang kelewat kasar ini, maaf ya… Aku udah sampe ubun-ubun banget nih. Dan mohon maaf, untuk SEMENTARA, Water akan aku private. Aku cape ditagihin. Nanti aku buka public lagi kalau memang udah ada update dan udah nemu mood-nya yaaa… sekali lagi, maaf.

 

 

Advertisements

89 thoughts on “Truth Within – 5 [How It All Began]

  1. Devi ra says:

    Tumor, Dan itu tumor di otak, otak man pusat tubuh kita, bner kta eunbi klo dia merasa ga adil, tpi mungkin ini juga Jalan buat dia mendapatkan kebahagiannya nanti. Kyuhyun jaga eunbi trus yah.

    Liked by 1 person

  2. Lee yan says:

    Mian.
    Cuma mau bilang cerita sedih banget pas tau eunbi sakit dan ternyata parah. Gimana ya? Mereka kembar kog bisa dibedain gitu? Cam… Kyu kalo emang suka ya bilang suka dong! Kenapa harus diam diam? Jujur ceritanya bagus bamget baper sahabat tapi cinta. Moga aja kyu bisa ngabulin permintaannya eunbi. Semoga. Buat yang nulis semangat! Dan mengenai yang yang nagih sebenarnya bukan nagih sih tapi lebih tepatnya ketagihan, anggap aja gitu. Karena ff diblog ini tuh bagus banget, ngena banget, kalo akusih cerita apapun yang disugihin pasti aku baca dan jujur buat ninggalin jejak kadang susah banget buat ngetik kayak gini mesti berulang” karena signL ditempT Ku kuranv bagus.sekali lagi yang sabar, semoga blog ini makin berjaya! Banyak yang mencintai dan banyak yg mendoakan sukses! Amin!!!!

    Liked by 1 person

  3. thessawd says:

    Tebakan yg meleset aku kira eunbi parkinson ternyata lebih parah dari dugaan aku.. Benar” takdir yg begitu memilukan unt eunbi semoga tuhan masih berbesar hati memberikan kebahagiaan unt eunbi

    Liked by 1 person

  4. funniekhunnie says:

    nangis mewek
    kasian eunbi
    tpi dia beruntung punya sahabat spt kyuhyun yg slalu ada saat dia sangat membutuhkan dukungan
    😭😭😭😭😭

    Liked by 1 person

  5. ByunSoo says:

    Adeh…..apa sih salahnya menikmati apa y disuguhkan penulis…
    Komen terkadang cuma “lanjut thor” doang aj,mlh minta lbh lg dr penulisnya 😠😠😠😠😠
    Dikira nulias gampang apah

    Yang sabar ya eon..
    Sekali-kali reader ky gitu emang harus dikasarin eon.
    Okay kembali ke Truth Within.
    Kalo ini kejadian didunia nyata si so sweet plus mengerikan yah..
    Adeh…kyu…ternyata direlung hatimu sebegitu berartinya EUNBI bagimu 😍😍😍.
    Jdi…cuma emak bapaknya kyu aj y tau kalo eunbi sakit..
    Adeh….segitu ga pedulinya yah emak bapaknya eunbi???

    Semangat trus eon,apapun ff y eon post akan tp jdi ff favoritku kok.
    Cintaku padamu eon 😙😙😙😙

    Liked by 1 person

  6. chixxxx678 says:

    Kalo cerita macem begini kejadian di dunia nyata, varokah bener hidup eunbi punya sahabat macem kyuhyun. Temen tapi demen. Errrrrrr so sweet kayanya #merindingsendiri 😝
    Tapi aku ga bisa bayangin kyuhyun nangis kejer gitu lebih manusiawi/? dan berperasaan 😃
    Eunbi pasti bisa selamat koooo #berharap happy ending
    Semangat terus eonni buat nulis~~ aku selalu berdoa semoga selalu diberikan mood yg bagus buat lanjutin ceritanyaaa (*apalagi water 🙊 #kabur sebelum dilepar author)

    Liked by 1 person

  7. Vikyu says:

    Denger penjelasan dokter lee diatas kok aku jdi takut sendiri ya
    Klau bilang tuhab ga adil buat eunbi ga mungkin juga ya kan, tuhan itu selalu adil,hanya saja cara adilnya itu berbeda2 benr kan ?😂
    Semoga aja eunbi pilih keputusan yg baik untuk dia dan orng2 yg menyayanginya

    Liked by 1 person

  8. richiron says:

    Haha masih greget aja baca ini. Dan masih penasaran nanti keluarganya eunbi bakal bereaksi seperti apa. Kadang hidup itu menurut kita ga adil, tapi Tuhan sudah menentukan semuanya. Masalah adil ga adil itu presepsi kita sendiri *halaah ngomong apah 😂 ditunggu next’nya eonn

    Liked by 1 person

  9. sparkhana says:

    Aaah kenapa kesannya emang semua ga adil banget buat eunbi, yang adil cuma perhatian kyuhyun yang bikin melting. Ditunggu untuk next chapter nya kak 😬😬
    Wah padahal udah jelas ya jangan nagih itu d Part kemarin tapi ternyata msh ada yg bandel. Semangat terus kak, aku mendukungmu ✊️✊️✊️

    Liked by 1 person

  10. Kwon Lee Nam/Southnam says:

    Wah, you always make me cry with ur story TT but I love ur story so much. Eunbiii please bertahaaann hiks. I’m really curious where you get ur inspiration? Ceritamu selalu bikin baper, feelnya dpt bgt. Makasih ya udh berbagi cerita for free. Always waiting next chapter, I’m good with waiting >.< make urself comfortable just ignore that person. Fighting!!

    Liked by 1 person

  11. lyeoja says:

    Tumor otak ternyata ? Udh divonis 8 bulan – setahun si eunbi masih mo mnta tenggat waktu… aku ngeri sendiri… tiba2 pulang berlibur dan tambah parah gimana…? Secara udh 4 bulan ya… (aku bener gak ya)😀

    Si kyukyu cintanya dalem ya…( menurut aku gitu) hehehe
    Fightin for next chap eonni…

    Liked by 1 person

  12. Hunsoo says:

    Jadi keinget satu film korea yg punya penyakit kayak Jang Eunbi, sebelum dia operasi dia kayak orang kebingungan mau ngapa2in. Sampe2 bng air kecil aja enggak sadar. Tapi untung nya suaminya sangat teramat mencintai dia jadi dia bisa sembuh setelah operasi dan segala macem metode pengobatan juga dengan dukungan sang suami.
    Semoga Jang Eunbi juga bisa sembuh kayak cerita di film itu, dengan dukungan kyuhyun.

    Mau bilang sabar tapi udah terlanjur meledak hihi. Oke kak simpen aja dulu daripada mereka tambah bikin kk jengkel

    Liked by 1 person

  13. kimkim says:

    ahhh mewek deh bca nih ff nasibnya eunbi jelek banget sih, untung msh ad kyuhyun yg selalu ad buat dia…kyuhyun eunbi kpn kalian jadian ???:-D

    Liked by 1 person

  14. blue cat says:

    Ternyata tumor otak… Lg penasaran kira2 terminal illness apa yg akan jd “pemeran utama” dicerita km Kali ini 😊

    As usual it’s all wrapped good, though u might in bad mood atmosphere. Hang on!
    Anjing menggonggong, kafilah berlaku. Fokus dg yg bs ksh km good vibe aja… The rest are just wild rat.

    Semangat!

    Liked by 1 person

  15. Lovecho says:

    Aduh.. udh mikir sad ending nih.. mudah2an nggak ya😆
    Tumor oh tumor, kok kejam bngt sih.. ksihan eunbi nya😢
    Itu yg nagih trs gk mikir apa ya.. dia kata nulis gampang.. bener tuh kak, itu yg sering nagih2 suruh aja buat cerita sndiri, buat ending sndiri plus baca sndiri biar tau gimana rasanya..

    Liked by 1 person

  16. imgyu says:

    hah tumor di otak? otak salah satu organ terpenting, dia pengendali tubuh buat melakukan apapun. Kalo sampe rusak gimana bisa terkendali dengan benar. Bahkan berdiri lurus buat imbang juga butuh peran otak, gimana kalo otaknya sampe sakit begitu. Eunbi malang banget, bahkan keluarganya gaada yang sadar satupun, yang sadar malah tetangganya. Kalo jadi keluarganya eunbi rasanya mau naruh muka dimana

    Liked by 1 person

  17. diah sulistia says:

    Omg… Gw kira parkinson :v *suka diagnosa ngawur*
    wehhh parah bgt ya tumor otaknya dari penjelasan kakak diatas astaga merinding sendiri.. Kalau engga ditangani ya tinggal tunggu waktu nya, tp kalau di tangani juga efek sampingnya parah juga.. Dan kebanyakan bagi yg udah kena efek sampingnya itu pasti mental jadi down… Ya Tuhan emang enak an jadi orang sehat aja… Astaga…
    Sekarang aku tahu kisah travelling mereka bermula ckckckckc~ penuh kejutan ff ini…

    Btw.. Bener juga kata kakak yang : “Nagih kok kaya gue yang ngutang
    kerjaan.” padahal kita itu udah baca gratis ngga dipungut biaya.. Tp suka seenaknya sendiri.. Padahal authornya jg punya hidup sendiri di dunia nyata ngga cuman ngurusin readers”
    astaga…. Sabar kakak~ orang sabar diasayang Tuhan, 😀 😀

    Liked by 1 person

  18. liyahseull says:

    Wahhh 😂 pantes yg tadi kok berasa ketinggalan cerita… kyk ada yg kelewat. Ternyata part ini belum dibaca 😅 ternyata ga main2 sakitnya :’ sedih. Otaknya Eunbi ya ampun.

    Reader yg nagih2 mulu pengangguran bgt kali ya =_=

    Liked by 1 person

  19. choika says:

    aku udah duga itu tumor .. soalnya pernah nonton film jepang dan gejala awal tumor kayak gitu..sediih kasian eunbi..dan was was ni ff bakal sad ending??? huaaa
    semangat kak \^0^/

    Liked by 1 person

  20. ladybook123 says:

    Ternyata tumor otak yg bikin hidup eunbi begitu…. tp klo jd org2 di sekelilingnya pasti bakalan geregetan buat suruh dia operasi secepatnya…

    Masalahnya, biaya operasi n pengobatannya gmn? Secara babe nya dia pelit n pilih kasih…

    Btw, itu yg nagih cerita water kerja sambilannya jd tukang tagih kali y? Kekeh amat sih… please be a wise reader…

    Liked by 1 person

  21. miran yang says:

    Uuwuuuuwuuuwuuuuuw.. disini baru jelas sakit nya eunbi apa.. untuk ukuran flashback, ini ga begitu panjang, jelas, padat, dan bikin sedih juga..
    Ohya, kyuhyun nya disini diceritain bener bener sahabat yang baik banget yah, mau aja ngikutin semua yang eunji mau, cuma aku penasaran apa nanti di part yang berikut berikut nya apa ada kyuhyun yang jadi berbeda dari yang sekarang? Hehehehe.. cuma penasaran aja sii..
    Hwaiting eonni ^^

    Liked by 1 person

  22. Dyana says:

    Nyeseekk nya… Jd Eunbi beneran sakit, sakitnya parah lagi…
    Duh ni anak knp gak ngomong sm ortu’nya, malah keliling dunia… Ah Eunbi… Apa nanti bisa sembuh ya? Aku tau ini trlalu dini, tp gak pengen sad ending aku… Kyuhyun mah disini jelas bukan hanya sahabat, dia lebih menyayangi Eunbi ketimbang dirinya sendiri ini…

    Aku kaget main kesini dan disuguhin 3 part… Ah… Ini yg paling aku suka dr Authornim… Semoga mood ff ini terus ngalir, dan semoga mood ff sblumnya yg di hancurin sm bbrpa komen gak penting gak berimbas pd ff ini… Semoga…
    Semangat Authornim…

    Liked by 1 person

  23. Seo HaYeon says:

    Banjir banjir kak…. nangisku ud tgelam sama suara hujan yg deres banget!! Ah kenapa disudut semstaku juga mendukung acara menangisku hahaha… 😂😂😂😂😂 tuuh kan… seriua banget sakitnya eunbi…. oh jadi sprti inikah kepedihan dibalik kisah eunbi… jjur pas bca prolog cerita ini aku ga menyangka kalo ceritanya bakalan jadi kaya gini kak… huaaaa…. tambah serru dan mengharu biru!! Ayolah kak… tak ada seorin Eunbipun jadi!! Hahahaha…. duh gimana cara nyampein terimakasih bwt kakal yg sll bkin crita hebat… 😄😄 smntara readers diluar sana yang ga peka mlah ga pernah ngehargain n sll ngelewatin note-kakak yg ud ditulis berulang3. Iya kak.. alhmdulillah kakak ud private itu… aku dukung kak.. krn aku sll percaya dg kombinasi jari2 kakak yg belerjasama dengan saraf motorik utk mengetik cerita kakak yg sueer bkin ketagihan… #efekDicekokinBahasaDokterLee 😂😂😂😂 lobe lobe kakak… 😄😄😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😘😘😘😍😍😍😍😍

    Liked by 1 person

  24. missluck says:

    Okey sekarang udah jelas.
    Bener yg Eunbi bilang.
    Ada BOM d otak’a yg siap meledak jk tidak segera d jinakkan.
    Dan kali nie q lebih salut lg sama pasangan nie.
    Saling menguatkan, Tu kunci’a.

    Liked by 1 person

  25. yoongdictasticgorjes says:

    Bnran sakit parah ya,, ya ampun ini brasa gk adil bgt buat eunbi,,kapan bhagianya,??
    Mski nnti sembuh pun bakal bnyak bgt resiko yg diambil, dan itu sala satu ktakutan trbesarnya yg hrus dilewati..
    Smoga ajh ada keajaiban bwt eunbi bsa smbuh tnpa hrus khilangan ini itu,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s