Truth Within – 3 [Per Te]

 

 

3 eunbi

*Gambar milik Kang Taeri

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

 

Typo berserakan.

—————————

 

 

Tiga minggu sudah berlalu sejak keduanya menghabiskan sisa musim semi di belahan bumi lain. Satu per satu daftar kegiatan yang ditorehkan Eunbi berhasil mereka lakukan, meskipun beberapa kegiatan memang terhitung cukup sulit dan menantang untuk dilaksanakan.

Eunbi dan Kyuhyun menyebrangi perbatasan Belanda setelah keduanya tuntas melakukan aksi skyjumping di dekat kota Amsterdam, pengalaman menguji adrenalin yang terhitung gila itu berhasil ditaklukkan Kyuhyun dan Eunbi yang sebelumnya sempat meragukan nyali satu sama lain. Diperlukan waktu istirahat seharian penuh keesokan hari setelah kegiatan mengerikan itu, sebelum keduanya melanjutkan perjalanan ke arah selatan menggunakan kereta untuk mencicipi wafel otentik Belgia. Eunbi dan Kyuhyun juga berhasil mengumpulkan foto-foto polaroid berlatar gambar kartun Tintin yang tersebar di berbagai penjuru kota Brussels. Puas mencicipi coklat dan hidangan manis ala Belgia, mereka memesan sepasang kursi dalam bus antar kota untuk menyebrang ke dataran Inggris, demi menyaksikan megahnya pemandangan matahari terbit dari balik tebing putih di Dover.

Petualangan mereka dilanjutkan menggunakan bus kota tingkat bewarna merah khas kota London untuk mengunjungi beberapa tempat yang pernah mereka baca dalam buku favorit sepanjang sejarah masa kecil mereka–Harry Potter. Tidak lupa Eunbi juga memaksa Kyuhyun mengunjungi Baker Street untuk masuk ke dalam rumah berpintu gelap dengan angka 221b demi berfoto di ruang tengah Sherlock Holmes yang digemari si kembar Jang sejak kecil.

Sejauh ini belum ada keluhan yang berarti dari pihak Kyuhyun maupun Eunbi, mereka masih menjalani petualangan mereka dengan cara kasual yang santai tanpa terlalu mempedulikan tenggat waktu. Bagaimanapun juga Eunbi adalah seorang pengangguran kelas berat yang batal masuk kuliah dan Kyuhyun adalah pria yang rela menukar waktu kuliah master bergengsi di Harvard untuk menemani sahabat terbaiknya keliling Eropa.

Seandainya saja petualangan ini mereka lakukan tanpa kisah latar belakang yang membuat hati pria itu terisris setiap mengingatnya, mungkin Kyuhyun akan bisa menikmati dengan lebih maksimal. Tapi nyatanya ia harus tetap waspada menjaga gadis lemah yang semakin hari terlihat semakin menyedihkan saja di matanya. Pengalaman indah mereka ini juga terasa mengharukan bagi Kyuhyun setiap kali mata Jang Eunbi berkaca-kaca saat gadis itu menempelkan foto polaroid baru ke dalam buku perjalanan mereka.

‘Ah, satu kegiatan lagi sudah kita lewati. Sebentar lagi perjalanan kita akan segera berakhir.’ Begitu kata Eunbi setiap kali ia menempelkan memori baru di dalam buku mereka.

Setelah puas mengunjungi tempat-tempat yang terhitung wajib dilihat di Inggris, Kyuhyun kembali menenggelamkan diri dalam lembara buku agenda perjalanan mereka, mencari kegiatan berikutnya untuk  dilakukan sebelum visa turis mereka habis. Salah satu agenda yang dituliskan Eunbi dalam bukunya adalah untuk menyaksikan Northern Light di belahan bumi utara, sebuah pengalaman yang nyaris mustahil mereka peroleh di pertengahan bulan Mei tentu saja.

Tapi Kyuhyun tidak ambil pusing, pria itu mencari tiket pesawat murah yang bisa membawa mereka dari Inggris menuju Islandia sebagai usahanya untuk mengabulkan permintaan-permintaan Eunbi. Harapan mereka sudah diciutkan sejak hari pertama mereka menginjakkan kaki di Reykjavik, tapi Kyuhyun tidak bersedia menyerah begitu saja, ia belum siap melihat sorot kekecewaan di wajah Eunbi jika gadis itu tahu bahwa melihat Aurora mungkin mustahil untuk mereka lakukan dalam perjalanan kali ini.

Keduanya tetap menikmati sensasi bertualang di kota baru yang belum pernah mereka jelajahi, meskipun tempat ini terasa lebih dingin dibandingkan dengan suhu Eropa Daratan. Beberapa hari mereka lalui untuk berkeliling pusat kota dengan berjalan kaki sambil menunggu berita baik tentang kemunculan Aurora di langit belah utara. Sayangnya, perkiraan cuaca yang meramalkan kemunculan Aurora Borealis masih belum menunjukkan hasil positif meskipun mereka sudah tinggal di kota itu empat hari lamanya.

.

.

.

Tidur Kyuhyun terusik kerena ia merasa kedinginan dan juga karena terganggu oleh suara gemeletuk gigi disertai igauan yang semakin keras, pria itu mengerjabkan matanya beberapa kali, baru kemudian sadar bahwa suara yang mengganggunya muncul dari Eunbi yang terlelap di sisinya. Gadis itu terpejam, namun posisi tubuhnya meringkuk dan bergetar sementara ia menarik nyaris seluruh permukaan selimut mereka untuk menutupi tubuhnya.

Dengan ragu Kyuhyun mengusapkan telapak tangannya di atas kening Eunbi, sekedar memeriksa apakah sahabatnya sedang demam—tapi suhu tubuh gadis itu normal. Spontan Kyuhyun bangkit dari tidurnya, Ia berjalan ke arah lemari untuk mencari selimut cadangan yang biasanya disimpan pihak hotel, lalu Kyuhyun membawanya untuk menutupi tubuh Eunbi yang masih menggigil. Setelah menutupi tubuh Eunbi dengan selimut tambahan, pria itu berjalan ke arah pemanas ruangan yang terpasang di sisi jendela kamar, menyalakan alat itu pada setelan paling panas dengan harapan suhu ruangan mereka segera naik agar gadis itu berhenti menggigil.

“Eunbi-ya, hey! Kau dengar aku, tidak?” Kyuhyun menggoyangkan tubuh Eunbi panik.

Gadis itu tidak bereaksi, masih tetap menggigil hebat dengan hembusan napas berat.

“Jang Eunbi, hey! Bangunlah!” Kyuhyun menggoyang tubuh Eunbi sampai gadis itu merespon.

“Dingin…” Bisik Eunbi lirih.

“Aku tahu.” Balas pria itu dengan senyum yang dipaksakan. “Aku sudah menambah selimut untukmu dan pemanas juga sudah kunyalakan. Apa kau demam? Tapi suhu tubuhmu tidak tinggi.”

Gadis itu tidak membalas percakapan mereka, ia hanya mencoba meredakan gemetar tubuhnya setelah beberapa usaha darurat yang dilakukan Kyuhyun untuk membuatnya merasa lebih hangat. Tidak berhasil. Gadis itu benar-benar merasakan sensasi dingin menusuk pada sekujur tubuhnya tanpa ampun, padahal Eunbi tahu bahwa suhu di kamar mereka terhitung normal.

“Bi-ya, apa yang bisa kulakukan agar kau merasa lebih baik?” Kyuhyun yang semakin kebingungan hanya bisa menatap bingung pada kawan seperjalanannya.

“Nanti akan reda dengan sendirinya.” Balas Eunbi lemah. “Aku baik-baik saja.”

“Sedingin itukah rasanya untukmu sekarang?” Tanya Kyuhyun seperti orang bodoh.

Eunbi mencoba untuk memasang cengiran jahil di tengah deritanya. “Rasanya seperti saat kita camping pada musim dingin di tengah Gunung Seorak dulu, kau ingat?”

Kyuhyun bisa membayangkan rasa dingin yang dialami Eunbi saat ini dan sejujurnya pria itu masih memutar otak untuk membuat sahabatnya merasa lebih baik. Untungnya naluri Kyuhyun untuk melindungi Eunbi bergerak lebih cepat ketimbang nalarnya. Pria itu kembali pada sisi ranjangnya, ia ikut masuk ke dalam selimut yang digunakan Eunbi, lalu tanpa keraguan Kyuhyun menarik tubuh mungil gadis itu ke dalam dekapannya.

Meskipun tindakan Kyuhyun terhitung tiba-tiba, Jang Eunbi tidak protes maupun merasa canggung saat ia berada dalam posisi sedekat ini dengan pria yang dicintainya. Eunbi hanya mencari-cari posisi yang nyaman dalam pelukan Kyuhyun sambil meringkuk mencari kehangatan dari tubuh pria itu.

“Kuharap kau akan merasa sedikit lebih hangat.” Bisik Kyuhyun di dekat telinga Eunbi.

“Pelukanmu sudah membuatku merasa lebih baik.” Goda Eunbi di tengah gemeletuk giginya. “Jika setiap kali aku menggigil akan dihadiahi pelukan mesra seperti ini, aku tidak keberatan.”

“Jangan bercanda dulu, Bi-ya. Aku benar-benar khawatir.”

Eunbi menghembuskan napas panjang sambil melingkarkan lengannya di seputar pinggang Kyuhyun. “Sedikit pesan sponsor dariku, aku tidak sedang mencuri kesempatan untuk merayumu. Aku benar-benar menggigil kedinginan.”

“Aku tahu.”

“Kau terdengar kecewa.” Ledek Eunbi lagi.

“Aku bukan kecewa, aku khawatir.” Secara refleks Kyuhyun mengeratkan pelukannya di seputar tubuh Eunbi. “Kau yakin belum mau pulang sekarang? Kurasa Aurora tidak akan muncul di musim semi, Bi-ya. Langit selalu terang di musim ini, tentu saja tirai cahaya itu tidak akan muncul.”

“Tapi aku ingin melihatnya, Kyu.” Bisik Eunbi lemah.

“Bagaimana kalau kita pindah ke kota yang lebih hangat? Kita bisa kembali ke tempat ini nanti pada musimnya, lalu kau boleh menonton Aurora sampai puas.” Bujuk Kyuhyun.

“Yang benar saja.” Balas Eunbi dengan nada sarkastis. “Kau tahu itu nyaris mustahil.”

“Aku akan mengantarmu.” Tawar Kyuhyun. “Aku janji akan mengantarmu untuk menoton Aurora jika musimnya sudah tiba, tapi saat ini kita kembali saja ke Eropa Daratan yang suhunya lebih hangat, ng?”

Eunbi menggeleng pelan. “Masih banyak yang belum kita lakukan.”

“Cih, sudah banyak sekali agenda yang kita coret dari daftar perjalananmu, Bi-ya.”

Gadis itu menengadahkan wajah sekials untuk menatap Kyuhyun lengkap dengan tatapan sendu yang tidak berhasil disembunyikan olehnya.

“Ada apa dengan wajahku?” Tantang Kyuhyun. “Mangapa menatapku seperti ini, ng?”

“Kyu, apa kau sudah lelah?”

“Kita istirahat terus di kamar, bagaimana mungkin aku lelah…”

“Maksudku, apakah kau sudah lelah menemaniku?” Tegas Eunbi lirih.

Rahang Kyuhyun terkatup, pria itu menggelengkan kepalanya cepat.

“Karena sepertinya kau sangat tidak sabar untuk menyudahi perjalanan kita dan pulang ke Seoul. Kau selalu terlihat gusar setiap kali ada ide baru muncul dari mulutku dan kau tidak pernah berhenti memeriksa buku perjalanan kita untuk bisa menuntaskan seluruh agenda yang kutulis di sana secepat mungkin.” Balas Eunbi. “ Kau kira aku tidak menyadarinya? Pasti perjalanan ini memuakkan sekali untukmu.”

“Bukan, bukan itu. Aku hanya khawatir.”

“Kau boleh pulang duluan, Kyu.” Balas Eunbi dingin. “Aku akan melanjutkan sisa perjalanan ini seorang diri.”

“Jangan ajak aku berdebat.” Sahut Kyuhyun sinis.

“Sejak awal aku sudah bilang bahwa aku tidak mau merepotkanmu.”

Pria itu menggeser sedikit posisi tubuhnya agar bisa menatap Eunbi lebih leluasa tanpa melonggarkan pelukannya di seputar tubuh gadis itu. “Dan sejak awal aku katakan bahwa aku akan melakukan ini bersamamu. Aku bisa melakukan ini berbulan-bulan lamanya, Bi-ya. Aku bisa mengikuti langkahmu ke mana saja kau mau. Tapi sanggupkah kau melakukan itu?”

“Aku sedang mencoba.”

Pria itu meringis. “Berjanjilah untuk tidak memaksakan diri.”

Eunbi tersenyum sendu sambil mengusap wajah Kyuhyun lembut, senyum lirih kembali menghias wajah tirusnya. “Aku harus memaksakan diri, sebab hanya ini kesempatanku. Seperti yang kukatakan saat itu, Kyu—aku tidak mau menyesali apa yang tidak sempat kulakukan.”

Tanpa disadari, remasan tangan Kyuhyun pada bahu Eunbi mengerat. “Kau ingin membuatku menangis, ng?”

Gadis itu terkekeh pelan. “Aku ingin kau melunak dan memberiku kesempatan untuk melaksanakan beberapa hal yang sebenarnya bisa kau bantu coret dari buku itu. Anggap saja itu kartu As yang akan kupakai dalam keadaan terdesak.”

“Seperti memberikan ciuman pertamamu, maksudmu?” Sahut Kyuhyun dengan nada meledek.

Eunbi menyengir lebar sambil memanyunkan bibirnya. “Apa kau bersedia? Ayolah, berikan ciuman pertamaku.”

Bukannya mengecup Eunbi, Kyuhyun justru mencubit gemas bibir gadis itu. “Ey, lupakanlah! Seharusnya ciuman pertamamu itu dilakukan dengan cara yang romantis, bukan seperti ini.”

“Kalau begitu ciptakan suasana romantis dalam perjalanan kita dan berikan ciuman pertamaku.” Tuntut Eunbi semakin manja, getaran dalam suaranya berangsur hilang karena gadis itu sudah merasa semakin hangat.

“Cih, permintaan macam apa itu.” Kyuhyun memutar mata.

“Aku jadi penasaran, apakah ciuman pertamamu berlangsung romantis?” Tanya Eunbi.

Kyuhyun berdecak pelan. “Tidak juga, ciuman pertamaku cenderung kaku.”

“Siapa gadis yang beruntung itu? Si teman kuliahmu yang dulu pernah kau kenalkan padaku?”

Pria itu mengangguk.

“Ah, aku iri padanya.” Eunbi menurunkan pandangannya dari wajah Kyuhyun dan kembali mencari kenyamanan dalam ceruk leher pria itu. “Pasti rasanya indah sekali bisa menjadi kekasihmu.”

Kyuhyun terkikik jahil. “Kalau indah, pasti hubungan kami tidak kandas, Bi-ya. Kau tahu sendiri seperti apa akhir kisahku dengannya.”

“Itukah alasanmu takut komitmen? Karena gadis itu mengkhianatimu?” Tanya Eunbi penasaran.

“Tidak sesederhana itu.” Terang Kyuhyun. “Aku bukan hanya kehilangan seorang kekasih, tapi kehilangan teman diskusi yang menarik, kehilangan rekan satu timku, dan pada akhirnya kehilangan olahraga basket yang kugemari karena aku tidak tahan melihat kebersamaan mereka di lapangan.”

“Sehancur itukah hatimu?”

“Patah hati itu bisa disembuhkan seiring berjalannya waktu, tapi sosok seseorang yang pernah mengisi hidupmu tidak bisa tergantikan ketika orang itu memutuskan untuk pergi meninggalkanmu.” Pria itu menolehkan kepala dan tanpa sadar menanamkan hidung di antara helaian rambut Eunbi untuk menghirup aroma manis dari gadis dalam dekapannya.

“Itukah sebab mengapa kau tidak mau menjadikanku kekasihmu? Karena sosokku tidak tergantikan seandainya aku mengacau dan mematahkan hatimu?” Pancing Eunbi dengan nada bergurau.

“Ng, itu salah satu alasannya.”

“Benarkah? Jadi kau akan terus melajang seumur hidup?”

“Tidak. Nanti saat waktunya tepat aku akan mencari wanita yang sepadan denganku. Wanita yang kucintai dan mencintaiku, wanita yang bersedia menghabiskan masa tua hidupnya bersamaku, dan rela kuikuti terus-menerus sampai kami sama-sama ringkih dan keriput.” Balas Kyuhyun dengan tenggorokan tercekat. “Aku akan menikah dengan seorang wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya bersamaku.”

Pandangan Eunbi perlahan kabur oleh air mata yang menggenang. “Ah, baiklah. Sekarang aku mengerti mengapa aku tidak masuk dalam daftar pilihanmu.”

 

*

 

Pria itu tengah sibuk menuliskan beberapa keterangan tentang foto yang ia tempelkan dalam buku saku berisi agenda perjalanan mereka saat Eunbi mengintip melalui bahunya.

“Apa yang bisa kita lakukan hari ini?” Tanya Eunbi.

Kyuhyun membolak-balik halaman sejenak untuk mencari satu di antara sekian banyak daftar kegiatan yang Eunbi tulisakan. “Kita bisa keliling kota saja dan tidak melakukan satu pun dari list ini.”

“Kegiatan yang sudah bosan kulakukan sejak kita tiba di sini. Aish, jika ada upacara memanggil hujan, mengapa tidak ada upacara memanggil Aurora.” Gerutu Eunbi kesal. “Apakah permintaanku untuk melihat Aurora terlalu muluk-muluk, kan tidak!”

“Tidak muluk-muluk kalau kita melakukannya di musim dingin.” Balas Kyuhyun cuek. “Aku sudah coba cari segala info yang berkaitan dengan menonton Aurora di Islandia dan semua situs sepakat bahwa waktu yang tepat untuk melakukannya adalah sejak awal Agustus sampai Akhir April—dan ini sudah akhir Mei!”

Eunbi menghela napas pasrah.

“Ah! Kita bisa melakukan ini!” Tunjuk Kyuhyun tiba-tiba sambil menyocokkan jadwal dari sebuah situs yang ia temukan dalam ponselnya. “Kau mau menonton pertunjukkan ballet, bukan?”

Eunbi mengangguk cepat. “Apa ada jadwalnya?”

“Malam nanti.” Kyuhyun membaca cepat keterangan yang ia peroleh dari salah satu situs resmi gedung pertujukan Harpa Reykjavik. “Pertunjukan ballet dengan musik opera yang dinyanyikan langsung.”

“Harga tiketnya mahal sekali, Kyu.” Sahut Eunbi saat melihat harga tiket yang tertera.

“Aku traktir kau nonton ballet!” Balas Kyuhyun cepat. “Jangan pikirkan harganya, seperti yang kau katakan, yang penting pengalamannya. Film polaroidmu masih banyak, bukan? Bawalah, kita juga harus mengabadikan momen ini.”

Eunbi mengangguk antusias.

“Aku sungguh berharap kau membawa setidaknya satu gaun yang layak untuk menghadiri acara dalam gedung mewah ini.” Kyuhyun menunjukkan gambar dalam ponselnya.

“Aku membawa satu gaun yang cukup layak untuk acara resmi—meskipun awalnya itu kuniatkan untuk menonton musikal di Wina.” Sahut Eunbi riang. “Kau bawa jas?”

“Selalu. Tapi akan kukirim dulu jas itu ke laundry hotel untuk disetrika.” Pria itu menutup buku perjalanan mereka dengan senyum puas. “Baiklah, agenda malam ini berarti menonton ballet. Sepertinya kita akan ‘berkencan’ malam ini.” Tambah Kyuhyun sambil mengutip kata berkencan menggunakan jemarinya.

“Tidak usah memberikan gestur itu, aku tahu ini bukan kencan sungguhan.” Eunbi memutar mata kesal sambil mencibir pada Kyuhyun yang masih menyengir puas.

 

*

 

Pertunjukan ballet ternyata sangat membosankan bagi Kyuhyun. Pertunjukan yang mereka hadiri merupakan pentas yang diselenggarakan oleh sekelompok seniman asal Italia yang sedang melakukan tur keliling Eropa. Cerita yang dibawakan jelas tidak jauh-jauh dari kisah cinta antar pria dan wanita yang ingin bersatu namun terhalang karena keadaan masing-masing yang menuntut keduanya untuk menjalani sebuah perjalanan penuh drama demi memperjuangakan akhir indah cerita mereka—kisah generik yang masih dinikmati Eunbi sampai detik ini dan kisah yang membuat Kyuhyun memutar mata bosan.

Pria itu sudah menguap beberapa kali, sudah nyaris tertidur saat lantunan penyanyi opera mulai mendayu-dayu, dan sejujurnya ia ingin keluar saja dari gedung konser itu. Tapi ia tidak sampai hati menarik tangan Eunbi keluar dari gedung konser karena gadis di sampingnya terlihat sangat menikmati pertunjukan.

“Kau mengerti apa yang mereka ucapkan?” Bisik Kyuhyun saat mata Eunbi terlihat berkaca-kaca karena tarian yang sedang dimainkan.  “Seingatku kau tidak sefasih itu dengan bahasa Italia, kau kan hanya mempelajarinya sebentar untuk membantu pertunjukan drama musikal sekolah dulu.”

“Ey, kau tahu sendiri aku ini jenius dalam urusan bahasa asing. Hanya nilai bahasa Inggrisku yang melampaui nilaimu dan eonni, sisa mata pelajaran lainnya memang kacau-balau.” Bisik Eunbi gusar, tidak suka konsenterasinya diusik Kyuhyun. “Lagipula tanpa memahami setiap kata yang terucap oleh sang penyanyi opera, tarian kedua balerina itu terlihat menymilukan—seakan ini tarian perpisahan mereka.”

Kyuhyun kembali melihat ke arah panggung, mengamati sekaligus merenungkan pengamatan Eunbi tadi saat sebuah intro piano dan harpa yang familiar berkumandang mengiringi tarian berikutnya. “Sepertinya aku pernah mendengar lagu ini.”

“Josh Groban.” Eunbi membenarkan. “Ini lagu yang pernah kuajarkan untuk peranmu di drama musikal sekolah dulu.”

“Ah, benar! Saat kau dengan sok tahunya mengguruiku tentang lagu berbahasa asing.” Kyuhyun tiba-tiba ingat masa di saat ia dan gadis itu berlatih nyaris setiap hari untuk melafalkan kata-kata asing yang tidak mereka pahami demi kelangsungan drama sekolah mereka di tingkat menengah.

“Bukan aku, tapi Im Sonseng yang memerintahkan kita semua untuk mementaskan drama musikal Romeo dan Juliet dengan latar lokasi Verona, sesuai dengan karya original Shakespeare.”

“Cih, tapi nyatanya lagu yang kita hafalkan untuk musikal itu tidak seotentik musikal yang mereka lakukan di New York selama ini.” Balas Kyuhyun sinis.

“Sst! Diam, tariannya dimulai.” Eunbi melambaikan tangan dengan tidak sabar ke arah Kyuhyun agar pria itu menutup mulut.

Pandangan Kyuhyun kembali terpaku pada sepasang balerina yang tengah berdansa lincah di atas panggung, susana sendu yang tercipta melalui lantunan lagu yang berkumandang mulai membuat pria itu ikut masuk ke dalam tarian indah di hadapannya. Rasa bosan yang menghantui Kyuhyun mendadak lenyap ketika ia mejamkan mata sejenak untuk menghayati lirik indah dari lagu yang pernah ia pelajari dengan sungguh-sungguh beberapa tahun silam.

“Ya Tuhan, aku suka sekali lagu ini.” Bisik Eunbi, air mata yang menggenang sebelumnya kini sukses membasahi wajahnya. “Dulu aku pernah menyuruhmu untuk memahami terjemahannya, apa kau ingat?”

“Tidak.” Balas Kyuhyun cepat. “Untuk apa aku memperhatikan lagu picisan seperti ini.”

“Aish, lupakanlah. Aku mau menikmati pertunjukan tanpa mendengar suara protesmu.” Eunbi menampik bahu Kyuhyun yang bersinggungan dengan bahunya, seakan ingin pria itu menjauh.

Kyuhyun tersenyum kecut lalu kembali memperhatikan panggung, ikut menikmati lantunan lagu berbahasa Italia yang memang pernah dipelajarinya atas paksaan Eunbi. Boleh saja ia terlihat tidak acuh, namun nyatanya hati pria itu terasa bertambah sesak dalam setiap bait yang terucap oleh penyanyi yang mengiringi tarian pilu dari sepasang balerina di atas panggung. Pria itu baru saja berbohong pada Eunbi, mengatakan bahwa ia tidak mengingat lagu ini sama sekali meski kenyataannya ia juga menghafal tiap lirik lagu berbahasa asing itu di luar kepala.

Bagaimana tidak? Eunbi sudah mencekoki Kyuhyun dengan lagu-lagu berbahasa asing sejak gadis itu mengenal radio. Di saat remaja seusia mereka menggandrungi penyanyi besar lokal pada zaman itu, Eunbi lebih memilih untuk mendengarkan musik dari Amerika, di mana penyanyi Josh Groban juga termasuk di dalamnya. Selain itu, lagu ini kebetulan terpilih sebagai salah satu lagu yang ditampilkan dalam drama musikal sekolah mereka di saat itu.

Pandangan Kyuhyun ikut berkaca-kaca saat lagu Per Te dinyanyikan semakin jauh ke dalam bagian favoritnya, bagian yang berhasil menyentil sedikit sisi melankolis dari pria itu. Ah, seandainya saja Eunbi tahu debaran jantungnya saat ini, seandainya gadis itu tahu seberapa perihnya hati Kyuhyun menahan semua ini seorang diri, dan seandainya gadis itu tahu bahwa kisah dua balerina yang sedang mereka saksikan tidak terlalu jauh berbeda dengan kisah mereka.

 

‘Dimmi che tu già il futuro lo sai

(Katakan padaku bahwa kau tahu masa depan yang menanti untuk kisah kita)
Dimmi che questo non finirà mai

(Katakan padaku, tidak akan ada yang berubah)
Senza di te, non voglio esistere

(Tanpamu, Aku tidak ingin melanjutkan hidup)

 

Per te, per te vivrò

(Untukmu, untukmu, aku akan terus hidup)
L’amore vincerà

(Sebab cinta akan selalu menang)
Con te, con te avrò

(Denganmu, bersamamu, aku akan memiliki)
Mille giorni di felicità

(Ribuan hari penuh kebahagiaan)
Mille notti di serenità

(Ribuan malam penuh ketentraman)
Farò quello che mi chiederai

(Aku akan melakukan apapun yang kau minta)
Andrò sempre dovunque tu andrai

(Aku akan mengikuti kemanapun kau melangkah)

 

Darò tutto l’amore che ho, per te

(Aku akan memberikan seluruh cinta yang kurasakan, untukmu)
Non devo dirtelo ormai già lo sai

(Tidak seharusnya kukatakan ini padamu, tapi sebaiknya kau tahu)
Che morirei senza di te

(Jiwaku akan mati tanpa kehadiranmu)

 

 

Kyuhyun bisa mendengar isakan lembut dari gadis yang duduk di sisinya, Jang Eunbi menangkupkan tangan di depan mulutnya untuk meredam tangis seorang diri sementara Kyuhyun juga tidak kalah sibuk menjaga emosinya agar tidak ikut terbawa suasana. Pria itu harus menahan semua ini demi mereka, ia harus menjadi sosok kuat yang bisa menopang seluruh beban yang diemban gadis itu, dan ia tidak boleh cengeng setiap kali hatinya terasa sesak seperti ini.

Di tengah isakannya, sebelah tangan Eunbi bergerak mencari tangan Kyuhyun, gadis itu menyelipkan jemari mereka dan pria itu membalasnya dengan sebuah remasan erat sebelum ia membiarkan kepala gadis itu bersandar di atas bahu lebarnya—sepertinya makna lagu itu tidak hanya berarti dalam bagi Kyuhyun seorang.

 

 

*

 

Pertunjukan ballet telah berakhir, namun kesenduan di wajah Eunbi belum hilang. Kyuhyun tahu persis titik balik yang membuat acara ‘kencan’ mereka malam ini menjadi sebuah pertunjukan penuh air mata, namun ia masih mencoba mengendalikan situasi dengan bersikap (sok) tenang.

“Kau masih tersentuh dengan lagu Per Te itu?” Tanya Kyuhyun sambil mengacak rambut Eunbi gemas.

“Kau masih ingat judul lagu itu?”

Pria itu mengangguk singkat. “Tidak sulit ditebak, mengingat dua kata itu yang paling sering dilontarkan.”

“Cih, akui saja kau ingat lagu itu.” Ledek Eunbi sambil mencubit lengan Kyuhyun pelan.

“Ng, aku ingat. Aku ingat semua lagu aneh yang kau nyanyikan di kamarku dulu, sampai bosan aku mendengar satu kaset Josh Groban kau mainkan tanpa henti selama kita belajar. Belum lagi drama musikal yang menuntutku untuk menghafal kata per kata dari lagu itu.” Jawab Kyuhyun sambil pura-pura merinding.

“Itu salah satu performance yang membuat pertujukan drama kita menang dalam perlombaan drama antar kelas, Kyu. Akuilah, ideku untuk memasukkan lagu itu ke tengah naskah Romeo dan Juliet memang brilian.” Sahut Eunbi.

“Aku mengakui idemu patut diberi acungan jempol.” Pria itu menarik tangan Eunbi untuk mengajaknya keluar dari area gedung konser. “Bagaimana pengalaman menonton ballet yang pertama?”

“Aku sangat menyukainya, terima kasih.” Sahut Eunbi tulus. “Maaf kalau pertunjukan tadi membuatmu bosan, tapi aku sungguh-sungguh menikmatinya. Terima kasih karena sudah menahan kantukmu untuk menonton itu denganku.”

Kyuhyun terkekeh sembari melepas jasnya untuk disampirkan menutupi tubuh Eunbi yang hanya dibalut gaun tipis. “Kau mau pergi ke mana setelah ini?”

“Aurora.”

Kyuhyun memutar mata kesal. “Ya! Lupakanlah yang satu itu untuk sementara.”

“Aku tidak punya ide lain. Berikan buku perjalanan kita, siapa tahu ada yang bisa kita lakukan di Reykjavik sementara kita menanti keajaiban Aurora di bulan Mei.” Eunbi mengulurkan tangan untuk meminta buku kecil mereka.

“Buku itu ada di dalam saku jas.” Tunjuk Kyuhyun pada saku kanan jas yang Eunbi tengah kenakan.

Gadis itu merogoh ke dalam saku lalu menunjuk kursi kosong di pelataran gedung konser. “Ayo kita coba cari kegiatan lain untuk dilakukan besok.”

Kyuhyun menuruti perintah Eunbi dan ikut menyimak ke dalam buku perjalanan mereka yang semakin tebal. Setiap kali mereka berhasil melakukan kegiatan yang Eunbi tulis, keduanya akan menempelkan foto polaroid mereka ke dalam halaman itu, disertai dengan tulisan yang sengaja ditambahkan sebagai keterangan lanjutan akan pengalaman mereka dalam menjalani petualangan yang bagi keduanya mungkin tidak akan pernah terulang.

Eunbi terus membolak-balik halaman untuk mencari alternatif kegiatan, lalu matanya terpaku pada halaman kedua dari terakhir yang selama ini diam-diam selalu Kyuhyun lewati. Sejenak gadis itu terpaku pada tulisan tangannya sendiri, perlahan senyuman sendu terlukis di wajahnya. “Kyu, kau tidak berniat mengabulkan ini?”

Kyuhyun mengalihkan pandangan dari halaman bertuliskan ‘merayakan hari jadi 100 hari dengan pria yang kucintai’ layaknya orang yang salah tingkah.

“Bolehkah aku menjadikan hari pertama kita menjejakkan kaki di Eropa sebagai hari pertama kita? Jika demikian saat ini kita sudah ada pada hari ke-24.” Rengek Eunbi. “Kita bisa segera merayakan peringatan 100 hari kita nanti setibanya di Seoul.”

“Lupakanlah.” Balas Kyuhyun dingin. “Aku bukan kekasihmu.”

Boleh saja senyum jahil tetap tersungging di wajah gadis itu, namun hati Eunbi lagi-lagi tergores oleh penolakan lantang Kyuhyun. “Kau kan janji mau mengabulkan semua yang kutulis di sini.”

“Selama permintaanmu realistis, pasti akan kukabulkan.” Pria itu menghindari tatapan Eunbi.

Ya! Ini bahkan lebih realistis dari melihat Aurora di bulan Mei!”

“Tidak, itu tidak realistis, Jang Eunbi. Setidaknya bagiku itu tidak realistis!” Bentak Kyuhyun. “Kecuali kau mau bersabar sementara aku mencarikan pria yang tepat untukmu!”

“Aku mau merayakannya bersamamu.” Sahut Eunbi tidak kalah keras. Hati gadis itu kembali teriris, namun ia sudah semakin kebal dengan rasa sakit ini.

“Kau tidak bisa merayakan itu secara sepihak.”

“Sudah kukatakan bahwa aku mau merayakan ini bersamamu.” Suara Eunbi mulai bergetar. “Kyu, aku akan menggunakan kartu As yang kumiliki dan mengemis rasa iba darimu untuk memberiku kesempatan ini, Kyu. Kumohon, aku se—”

“Tidak!” Tegas Kyuhyun lagi. “Kartu As-mu tidak berlaku untukku.”

Ternyata rasa pedih dari penolakan itu masih sama menyakitkan seperti puluhan penolakan yang pernah pria itu lantangkan untuknya.

“Apakah menghabiskan 100 hari menjadi kekasihku terdengar seburuk itu untukmu?” Suara Eunbi semakin parau.

“Ng.” Balas Kyuhyun dengan rahang terkatup rapat.

Eunbi memerlukan beberapa saat untuk mengatur deru napasnya yang berhembus cepat seiring ia mencoba untuk menenangkan diri. “Pasti kau menganggap aku kelewat bodoh, karena berani mengharapkan cintamu di tengah cobaan yang kujalani.”

“Kau bodoh karena mengharapkan rasa iba dariku.” Balas Kyuhyun datar, seakan ia belum puas menyakiti perasaan Eunbi.

“Kau akan menyesal.” Gadis itu membanting buku kecil mereka ke atas permukaan bata di dekat kaki Kyuhyun, lalu ia bangkit untuk berjalan menjauh.

“Apa kau sedang merajuk?” Tantang Kyuhyun.

“Tidak.”

Ya! Jang Eunbi!”

“Kalau begitu anggaplah aku ini cinta pertamamu, ng?” Seakan belum puas mempermalukan dirinya sendiri, Eunbi kembali membalik tubuhnya untuk menghadap Kyuhyun. “Apa sulitnya menganggap bahwa aku ini Eunbyeol, ng? Wajah kami sama! Kau bisa pura-pura menjalin kasih dengannya saja, kau bisa memasang senyum tulusmu sejenak saja, kau…”

“Aish, ini tidak ada sangkut-pautnya denagn Eunbyeol. Bi-ya, hentikanlah… kita menjadi pusat perhatian pejalan kaki sekitar kalau kau terus merengek di pinggir jalan seperti ini.” Kyuhyun menoleh canggung pada beberapa pejalan kaki yang memperhatikan mereka.

“Seratus hari, Kyu. Kurasa jumlah hari itu tidak signifikan dengan seluruh sisa hidupmu, bukan? Aku tidak memintamu untuk menikahiku, aku tidak memintamu untuk tumbuh tua bersamaku, aku tidak memintamu untuk mengabulkan permohonan yang kutulis di lembar terakhir buku itu—aku hanya ingin merasakan cintaku berbalas…”

“Jang Eun—”

“AKU HANYA INGIN KAU BERPURA-PURA MENCINTAIKU!” Jerit Eunbi histeris.

Kedua tangan Kyuhyun mengepal di sisi tubuhnya, dikonfrontasi seperti ini oleh gadis itu jelas bukan cara ideal untuk mengakhiri kencan mereka. Kalau boleh jujur, Kyuhyun marah. Pria itu marah karena Eunbi telah merendahkan harga dirinya seperti itu, ia marah karena gadis itu sudah mengemis cintanya, ia marah karena Eunbi lagi-lagi menegaskan bahwa yang perlu Kyuhyun lakukan hanyalah berpura-pura menciptakan kebahagiaan semu bagi gadis itu. Kalau segala urusan perasaan bisa dituntaskan semudah itu, Kyuhyun pasti sudah melakukannya sejak dulu!

“Kyu, jawab aku.”

Melihat tanggapan Kyuhyun yang hanya balas menatapnya dengan sorot tajam membuat deru napas Eunbi semakin menjadi-jadi, tangisannya tidak lagi sanggup ia bendung, seolah drama yang ia ciptakan malam itu belum cukup, perlahan Eunbi berjongkok sambil melampiaskan sisa tangisannya yang tertahan.

Kyuhyun memungut buku agenda perjalanan mereka sebelum ia melangkah menghampiri Eunbi, pria itu ikut berjongkok tanpa mengatakan sepatah kata pun.

“Kumohon, Kyu.” Pinta Eunbi serak. “Ini kali terakhir aku akan memintamu, kumohon… pasanglah topeng itu dan berpura-puralah untuk kebahagiaanku.”

Tenggorokan pria itu terasa tercekat. “Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak akan pernah bisa berpura-pura untukmu, Eunbi-ya.”

Jang Eunbi menggigit bibirnya keras-keras sampai ia bisa merasakan cairan asin dalam indera pengecapnya. Inikah jawaban akhir Kyuhyun? Bahkan setelah ia mengemis dan merendahkan dirinya menjadi seorang gadis tanpa harga diri seperti sekarang, tidak bisakan hati pria itu tergerak sedikit saja untuknya?

 

 

tbc…

 


P.S: Bingung? nikmati saja dulu yaa hahaha…

JANGAN TAGIH WATER!

 

 

 

Advertisements

98 thoughts on “Truth Within – 3 [Per Te]

  1. ayass3424_ says:

    udahh part 3 tapi masihhh bingungg juga kak😔😔
    sedihh liatt eunbi😭
    apaa diaa sakitt kerasakahh??
    ditunggu kelanjutan dari cerita ini kak😊😊

    Liked by 1 person

  2. lyeoja says:

    Oalahhhhh…. aku slalu nyari2 kalimat yg bisa ngasih kode2an klo kyu itu jg suka sama eunbi,
    aku malah jd bingung sendiri… 😂😂😂
    Bentar2 aku mikir, kyu pasti cinta nih sama eunbi (ini krn arti dr lagi itu)
    Ehhhh baca makin kebawah, si kyu malah keukeh sama kata Tidaknya…. 😥😥😥

    Liked by 1 person

  3. syalala says:

    iya kak bingung hahahaha tp aku tetep baca sangkimg keponya itu mereka kenapa sihhhh asli!!! kyuhyun kenapa begitu eunbi juga kenapa ngekeuh begitu, apa ada sesuatu yg tidak terucap di antara mereka apa gimana soalnya ini sesungguhnya masalah ada di mereka aja udah sebelum mereka balik ke seoul dimana eunbi harus ketemu bapaknya… wah paraaaahhhhhhh gemes bgt ini tbcnya pas mereka berantem begitu hhhhh

    Liked by 1 person

  4. Sparkhana says:

    Yang aku suka dari ff ini adalah part ketika dijelasin perjalanan mereka, serasa lagi beneran baca buku perjalanan hehe masih ngawang antara kyuhyun pura pura gitu biar ga php atau emang kyu kaya gitu 😭Semangat terus kak nulisnya 👍🏻👍🏻

    Liked by 1 person

  5. Utusiiyoonaddict says:

    Scene terakhir scene terakhir.pengen jambak kyu ampe gundul. Scene terakhir scene terakhir bikin aku mewek yg d awal scene aku mesem” tpi pas d akhir tak dapat terbendung lagi ini air mata asiik haha. Iya aku bingung, bingung musti nebak begimana lgi dan aku penasaran apa yg eunbi tulis dan inginkan d list keinginan atau list perjalanan eunbi yg tidak akan mungkin kyu kabulkan lg seperti permohonan yg tdi .. Eunbi sampe menghancurkan harga dirinya demi kyuhyun demi mengemis cintanya terbalaskan walaupun hanya kepura puraan kyuhyun perasaanmu dimana kyuh ya ampuuuun, udah sana pulang aja deh pulang jangan nemenin eunbi lg sana daripada eunbi bertambah sakit huuuh, masalahnya bertubi tubi dateng kek hidup aku aja hahahahahahah

    Liked by 1 person

  6. ByunSoo says:

    Adeh….ff ini aku banget 😂😂😂😂😂
    Emang siapa si y nagih water mulu ama kakak???
    Tolong readers jadilh readers y baik y sllu menerima apapun y authornya suguhkan.. 😠😠😠
    mereka juga manusia kale…
    aduh jdi esmosi kn.
    kembali ke truth within.
    adeh…..gimana yah….bingung juga sm jln pikirannya kyu mah….
    padahal eunbi cuma mau hal sepele,cuma bgi kyu itu ga mudah atau apa yah???
    please jawab kyu???
    Soalnya itu pertanyaan semua org.. 😊😊😊😊

    Semangat trus kak…
    abaika aj dah y sllu nagih water ma kakak,toh kalo mereka g ngecek blog in lg,mreka juga y RUGI BESAR…

    JGN HILANG MOOD LG DONG KAK…
    KAN SEDIH KALO KAK LITYA G UNGEPOST SEKALI SEHARI…
    SEPI DUNIAKU 😇😇😇😇

    Liked by 1 person

  7. Balloon25 says:

    astaga kak….. baca ini mata berkaca-kaca. tampaknya aku tau kenapa kyuhyun kaya gitu tapi aku belum berani berspekulasi. yang masih bikin penasaran ada apa dengan eunbi?? sakit parah kah???
    ini baper loh baper hhahahha. ah anyway baca story ini berasa ikut travell bareng mereka!^^ you always did great job, kak!^^

    Liked by 1 person

  8. mfit says:

    Slam kenal kak,aku reader baru disini.
    Aku sudah baca part 2 nya kemarin,tapi aku bingung sama ceritanya.terus sekarang aku baca part 3 nya,eh malah tambah bingung sendiri kak,sebenarnya apa yang terjadi sma eumbi dan bagaimana perasaann kyu yang sebenarnya kepada eumbi?

    Liked by 1 person

  9. ddianshi says:

    Bodoh kau jang eunbi kenapa masih mengemis dan merendahkan harga dirimu hanya untuk kyuhyun? apa alasan kyuhyun tidak menyukai eunbi? 😥 😥

    Liked by 1 person

  10. omiwirjh says:

    Part 3 masih berisi teka teku dan pertanyaan besar ada apa dengan hidup eunbi? Papaun itu yang terpenting aku menikmati setiap kalimatnya. Kyuhyun ga mau berbihing karena mungkin kyuhyun mau cuptain kebahagiaan yg tulus buat eunbi, bukan sebuah oanggung sandiwara belaka. Next lanjut baca

    Liked by 1 person

  11. liviyhyun says:

    Syedihhh 😭😭😭😭 kenapaa mesti gitu kyuuu kenapa kalau emang ga cinta mesti pertahanin sikap baik dan perhatian gituuu gimana eunbi ga suka kalau punya sahabat baik kaya gituu 😭

    Liked by 1 person

  12. Lee yan says:

    Emang bingung tapi aku suka. Yang lebih menarik kyu disini antar manis dan krjam. Tapi keren. Btw kita emang lagi nunggu”in WATER nih udah haus. Kalo bisa cepatlah ya…. Maaf ya kalo rada” maksa gini abisnya bikin aku mati penasaran sama WATER. Tulisannya menginspiras banyak orang. Makasih

    Like

  13. arakyuu says:

    Part ini mendadak jadi bikin aku gesrek gegara pas bagian mereka nonton pertunjukan balet, ada lirik lagu itu, seketika langsung kebayang ama drama turki yg ada di tiviwan :’v dan itu bikin ngakak padahal adegannya lg melo, i’m going crazy 😀 oke, abaikan itu._.

    So far, i really enjoyed this story luuuuuvvv bgt! Apa cuma aku yg gak bingung ama ceritanya? Wkwk aku gak bingung karna aku menikmati alurnya *eak :v so, keep write yak authornim karna ceritamu selalu ditunggu :*

    Liked by 1 person

  14. Hunsoo says:

    Pasti ada alasannya kenapa kyuhyun bersikap kayak gitu ke eunbi. Hati2 Cho, siapa tau kata2 Eunbi blal kejadian. Kamu bakal nyesel.
    Nyesel enggak baca dari awal di posting. Gegara parno hihi.

    Liked by 1 person

  15. imgyu says:

    ikut ngerasain nuansa sendu pas mereka nonton balet. Sesedih itu ToT miris banget eunbi itu, bahkan sampe ngemis gitu tp kalo diposisi kyuhyun juga ga mungkinlah ngabulin permintaan eunbi, apalagi harus bohongin perasaannya sendiri

    Liked by 1 person

  16. diah sulistia says:

    ini yg menyebabkan kyuhyun berkali kali nolak eunbi sampai sebegitu keukeuh nya itu apa sih??
    masih zonk ngga bisa nebak apa” ini gimana skenario kakak… wkwkwkw keren bikin penasaran aja… trus ada makna apa dari perjalanan mereka?
    trus kenapa kyu itu disini kan dia peduli bgt sama eunbi layaknya sama orang yg dicintai, tp kenpa dia nolak mentah” eunbi yg padahal sudah mengemis cinta kaya gitu? aishhh serius deh… gw bingung, kepo.. dan yg bikin sebel lg ngga bisa nebak jalan ceritanya…

    oh fiks gw ketinggalan ternyata udah update sampe part 6 aja.. :v
    pke fiks lanjut baca kakak 😀

    Liked by 1 person

  17. ladybook123 says:

    Bagian terakhir sedih ya… uda ngemis2 minta cinta tp ttp ditolak…

    Anyway, aku mo bahas 1 hal.. ttg lagu italy itu… Per Te…. ini dia salah satu yg bikin aku kagum n suka sama ssihobitt… menurutku author 1 ini type cewe smart n pengetahuannya luas bgt… aku selalu dpt hal baru yg bs dipelajari tiap baca cerita2nya…

    Klo org lain mgkn hnya akan masukin lirik lagu2 yg lg hits or memang mendunia…

    Pokoknya aku kagum bgt ama ssihobitt 😍😍😍

    Liked by 1 person

  18. miran yang says:

    Mmmmmm, dari part 2 dan sekarang yang ke 3, aku ngerasa ceritanya kaya’ segmen per segmen gitu, ga terlalu banyak yang di bahas dan di ceritakan panjang lebar, tapi tetep bikin aku masuk ke cerita nya.. kalo aku mungkin lebih ke penasaran bakalan gimana akhir nya dan nanti cerita nya bakalan jelas dengan sendiri nya, dibandingkan dengan bingung.. karena, disini ceritanya kaya’ bagian bagian lain yang ga dimasukkan di ff lain lainnya.. (khayalan aku aja yaa)
    Hwaiting eonni ^^

    Liked by 1 person

  19. Seo HaYeon says:

    Iya iya… spertinya aku sudah mulai mngerti kepelikan antara Eunbi dan Kyu! Kyu emg keras kepala banget.. ga mau luluh n ngehianatin prinsip yg dy pegang.. smntara Eunbi juga keukeuh ga mau nyerah utk berkehendak smpai2 dy rela memohon sebegitunya sama kyu, hiks 😢😢😢 ooh.. mengapa jadi begini pdhl td q menikmati prtunjukan balletnya hahaha 😂 Per Te oh Per Te… jadi kisahnya Eunbi expert dlm penguasaan bahasa asing yah.. tuh kan… kemampuan Eunbi ga main2!! 😄😄 JUJUR aku lgsg heboh pas mreka nnton prtunjukan opera deh kak.. duuh… kisah KyuBi remaja yg berlatih utk drama disekolahnya bkin aku juga muter balik kisahku di bangku kuliah dlu yg juga kekeuh berlatih n ngehapal dialog drma The Phantom Of The Opera! Nah itu bnr2 brkesan bgt krn kelompok kami juga jadi klmpok terbaik yg mmerankan drama..Memory indahku… #JadiCurhat haha… lgsg kaget pas lihat tulisan bold merah 😂😂😂😂

    Liked by 1 person

  20. missluck says:

    Nie kenapa eunbi kaya d kejar sm waktu z?
    Seolah2 Eunbi g bisa lg ngelakuin semua keinginan’a d waktu yg akan datang.
    P jangan2 Eunbi lg sakit parah z?
    Low bener gt, Pantes j Kyuhyun selalu sedih bahkan smp nangi low inget alasan dia mau trs ngikutin Eunbi.

    Liked by 1 person

  21. Angel CHO says:

    Boleh nggak aku lempar Kyuhyun ke kali ciliwung kak? Sumpah demi apapun aku gemess sama dia..
    Tapi gak tau kenapa aku yakin kalau Kyuhyun sebenernya udah cinta sama eunbi
    Entahlah…
    Tapi jangan bilang kalau eunbi itu sakit kak.. Kan kasian😭😭😭

    Liked by 1 person

  22. Clee says:

    Kyuhyun kenapa gak bisa berkomitmen sih?, sampai eunbi segitu mohonya..
    Padahal kayaknya kyu juga suka sama eunbi.
    Iya juga sedikit bingung, apalagi dengan sakit yg diderita eunbi. Penasaran..

    Liked by 1 person

  23. Lovecho says:

    Eunbi udah mohon2 gitu kyu..
    Tlonglah walaupun cuma pura2 mencintai eunbi..
    Terjebak di friendzone itu gak enak bnget..
    Kyuhyun hrusnya belajar move on dri masa lalu.. jgn karena masa lalu dia jadi gak mau mencoba untuk berkomitmen sama hubungan lagi..
    Kan gk semua hubungan berakhir dgn skit hti..
    #curhathehe

    Liked by 1 person

  24. trinoviwulandari says:

    Entah kyuhyun emang cinta tapi ga mau mengungkap kan
    Atau emang kyuhyun.punya alasan lain untuk menolak cintanya eunbi

    Tapi kan kasian eunbi juga ya
    Entahlah apa yg terjadi sma mereka bedua

    Liked by 1 person

  25. ammy5217 says:

    Sakit bgt perasaan eubi tidak pernah terbalas meski dengan mengemis pada kyu.

    Gak pernah bosen baca karya2 sihobit. Selain ceritanya bagus, kita jg bisa di ajak bagaimana menjelajahi luar negri hehe..good

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s