Truth Within – 2 [Koninginnedag]

 

2 eunbi

*Gambar milik Kang Taeri

 

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

 

 

Kyuhyun mengerang pelan ketika membuka mata di pagi hari yang telah mereka nantikan sejak keduanya menginjakkan kaki di Belanda. Dengan keadaan masih setengah mengantuk pria itu mengerjab beberapa kali sebelum menyadari bahwa sepasang mata bulat sedang menatapnya dalam diam.

“Selamat pagi.” Sapa Eunbi dengan senyum manis yang selalu tersungging.

“Sejak jam berapa kau memandangiku seperti itu? Membuatku takut saja.” Pria itu menarik selimut putih yang membungkus tubuhnya lebih erat.

“Belum lama.” Balas Eunbi sambil mendengus geli melihat kelakuan Kyuhyun. “Tidak perlu berlebihan seperti itu, aku tidak melakukan apapun padamu.”

Kyuhyun berdeham untuk menghapus parau suaranya. “Bagaimana keadaanmu? Masih letih?”

“Sejujurnya aku masih jet lag, tapi aku tidak akan membuang-buang waktu hari ini untuk bersantai—Amsterdam menunggu!” Eunbi menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu bangkit. “Kau mau kopi?”

“Ng, boleh juga.” Sahut Kyuhyun sambil menggeliat. “Aku lihat ada kedai snek di dekat sini, kau mau makan di tempat itu saja untuk sarapan? Atau mau mencicipi buffet hotel?”

Eunbi menyalakan ketel pemanas elektronik dalam kamar sebelum menggeser jendela agar terbuka sedikit untuk menyambut udara musim semi Belanda yang masih terhitung dingin. “Aku mau mencoba banyak makanan Belanda, dan beberapa komoditas lain yang hanya legal di sini.”

Kyuhyun terkekeh pada gurauan Eunbi, namun senyum di wajahnya lenyap seketika ia sadar bahwa gadis itu tidak sedang bercanda. “Tidak!”

“Kita lihat saja nanti. Sekarang ayo bersiap dan ganti pakaianmu dengan sesuatu yang bewarna jingga. Belum tentu tahun depan kita bisa berada di sini lagi untuk merayakan Koninginnedag[1].”

“Kita lihat seseru apa pesta rakyat nanti sebelum kita putuskan apakah Belanda layak menjadi acara rutin tahunan kita.” Pria itu hendak menyibak selimutnya saat ponsel Eunbi berdering.

“Kyu, tolong ambilkan ponselku.” Eunbi menunjuk pada nakas di sisi ranjangnya.

Kyuhyun berguling malas untuk meraih ponsel Eunbi, mengintip sekilas pada nama penelpon lalu memberikannya pada gadis itu. “Kakakmu menelpon.”

Eunbi segera meraih ponsel dari tangan Kyuhyun, menekan display hijau pada ponselnya dan berjalan ke luar balkon kamar agar pembicaraannya tidak didengar Kyuhyun.

Eonni! Bagaimana bulan madumu?” Tembang Eunbi senang.

“Menakjubkan!” Balas Eunbyeol dengan kikikan riang. “Aku menerima kado yang kau berikan untuk acara bulan madu ini, tidak kusangka otakmu sekotor itu, Bi-ya!”

Gadis itu tertawa puas mendengar tanggapan kakaknya. “Apa kau mengenakannya di malam pertama kalian? Bagaimana? Apa hadiahku menambah sensasi—”

Aish berhentilah meledekku.” Rengek Eunbyeol. “Wajahku sudah panas sekali sekarang.”

“Ah, aku merindukanmu, Eonni. Sepulang acara bulan madumu, kau harus menginap di rumah, oke? Aku mau tahu cerita lengkap dari pengalamanmu.” Goda Eunbi semakin cekikikan.

Pintu geser ke arah balkon terbuka, Kyuhyun melebarkan jubah kamar berbahan handuk untuk disampirkan pada Eunbi. Gadis itu menghentikan tawanya sejenak karena bingung dengan tindakan Kyuhyun yang aneh.

“Aku khawatir kau akan menggigil kedinginan jika bergosip terlalu lama dengan kakakmu di luar balkon, ini masih musim semi, Bi-ya.” Jelas Kyuhyun menjawab tatapan heran dari Eunbi.

Gadis itu menurut untuk menyelipkan kedua tangannya bergantian ke dalam jubah yang Kyuhyun sampirkan padanya.

Ya! Kau benar-benar berlibur dengan Kyuhyun?” Kali ini gantian Eunbyeol yang terdengar antusias.

“Ng, pria itu setuju untuk melakukan perjalanan ini denganku. Menurut si Cho aku tidak akan sanggup melakukan perjalanan penuh amarah seorang diri.” Terang Eunbi sambil melambaikan tangan agar Kyuhyun kembali ke dalam kamar dan berhenti menguping pembicaraan privat ala wanita dengan kakaknya.

“Kalian tidur sekamar?”

Ne.

Omooooooo…” Pekik Eunbyeol semakin senang. “Apakah terjadi sesuatu di antara kalian? Aish, ceritakan padaku. Ini jauh lebih seru ketimbang kisah bulan maduku.”

“Tidak terjadi apa-apa, Eonni. Pria itu justru ketakutan aku akan menodainya.” Eunbi terkekeh jahil.

“Dia romantis sekali padamu, Bi-ya. Sikapnya selalu terkesan datar, tapi tindakannya kerap kali membawa kejutan-kejutan yang membuat hatimu berdebar.” Balas Eunbyeol senang.

“Tetap saja yang disukai Kyuhyun itu kau, Eonni.”

“Ck, memang dia menyukaiku, tapi dia mencintaimu.” Sahut Eunbyeol. “Si jenius itu sepertinya terhitung tolol dalam urusan perasaan.”

Eunbi terkikik senang menyetujui kata-kata kakaknya.

“Bi-ya, kau sudah bicara pada appa?” Tiba-tiba pembicaraan beralih menjadi lebih serius.

“Belum, tapi aku sudah mengirim pesan pada eomma, mengabarkan bahwa kami sudah tiba dengan selamat di kota ini.” Jelas Eunbi. “Aku masih marah pada appa, Eonni.”

“Karena appa membentakmu seperti itu di pesta pernikahanku?”

“Dan karena dia melakukannya di depan seluruh kerabat kita. Aish, entahlah kekesalanku pada appa sudah menumpuk sejak hari pertunanganmu lima bulan lalu, dan tingkah pria itu semakin menyebalkan semakin mendekati hari pernikahanmu.” Eunbi mencibir kesal. “Jelas puncaknya minggu kemarin saat kau menikah.”

Appa hanya panik mempersiapkan acaraku Bi-ya. Maafkan aku dan maafkan appa yang membuat kalian semua jadi repot.”

“Bukan itu masalahnya, aku hanya tidak suka cara appa memandangku sebelah mata di depan seluruh kerabat kita. Well, setidaknya dia bisa berusaha memasang topeng manis tanpa perlu mengomel seperti itu hanya karena aku lupa membawa karangan bungamu. Memang aku salah, tapi toh aku juga menuntaskan drama itu segera.” Eunbi menghela napas panjang. “Aku sedang menikmati liburan jauh dari pria itu, Eonni. mengapa kau justru mengingatkanku pada pertengkaran kami yang terakhir.”

“Maaf, hanya saja appa juga menelponku dan menanyakan kabarmu. Dia khawatir padamu, Bi-ya. Terlebih kau sedang berkeliling entah di mana bersama Kyuhyun–‘aku tahu Kyuhyun itu pria baik, tapi tetap saja, mereka kan belum menikah’–begitu kata appa.” Balas Eunbyeol.

“Memangnya appa tidak punya nomor teleponku?!” Bentak Eunbi sambil memutar mata kesal. “Kalau memang khawatir, dia bisa langsung menghubungiku sendiri tanpa perantara pihak ketiga.”

“Aku tahu. Kalian berdua sama keras kepalanya dan seperti biasa aku dan eomma harus menjadi penengah.” Eunbyeol menghembuskan napas panjang. “Tapi kau tidak akan benar-benar kabur dari rumah, kan? Kau akan pulang…”

“Tentu saja aku akan pulang.” Potong Eunbi. “Visaku hanya berlaku tiga bulan, Eonni.”

“Aku serius, Bi-ya.”

“Aku juga.” Tegas Eunbi. “Ada beberapa hal yang harus kusampaikan pada kalian sepulangnya aku ke Seoul nanti. Maka dari itu, aku minta kau sisihkan waktu untuk menginap di rumah, ne? Aku rindu tidur di sampingmu…”

“Cih, padahal saat ini kau menikmati tidur di samping Kyuhyun.” Kikik Eunbyeol. “Tidak kusangka kau bisa nakal juga sesekali.”

“Jangan adukan ini pada eomma.” Ancam Eunbi manja. “Aku mengaku bahwa kami tidur di kamar terpisah, tapi kau tahu sendiri aku selalu takut tidur sendiri.”

Kembaran gadis itu terbahak keras. “Rahasiamu aman bersamaku. Ah, aku harus menutup telepon sekarang, oppa memanggilku.”

“Ey! Panggilan semacam apa ini?” Goda Eunbi.

“Makanya cepat rayu Kyuhyun dan ubah pola pikir pria itu, agar kau segera tahu nikmatnya…” Ucapan Enbyeol terpotong sesaat dan Eunbi bisa mendengar kecapan singkat di antara panggilan mereka. “Aku tutup dulu teleponnya, Bi-ya. Berikan salamku pada Kyuhyun.”

“Ne, selamat berbulan madu, Eonni.” Balas Eunbi riang.

Gadis itu melangkah masuk kembali ke dalam kamar mereka masih dengan senyuman lebar yang tersisa dari obrolannya dengan sang kakak.

“Seru sekali nampaknya obrolanmu.” Sambut Kyuhyun sambil memberikan segelas kopi yang akhirnya ia racik sendiri pada Eunbi.

Eonni menitipkan salam padamu.” Eunbi meraih mug yang deberikan Kyuhyun dan menyisipnya.

Pria itu hanya mengangkat kedua alisnya dengan wajah datar. Tanpa memperpanjang bahasan, Kyuhyun meraih ponselnya sendiri untuk mulai browsing mengenai pesta perayaan siang nanti. Karena seluruh transportasi dalam kota Amsterdam akan diberhentikan, Kyuhyun harus tahu pasti jalan yang harus mereka lalui untuk menuju Museumplein, tempat panggung utama dari rangkai acara itu diadakan. Senyuman kecil muncul di wajahnya saat ia melihat nama-nama musisi yang mengisi acara siang nanti, Eunbi pasti akan senang sekali melihat jajaran musisi yang mengisi panggung, meskipun sebagian besar berisi DJ yang tidak mereka kenali namanya, ada beberapa penyanyi yang sedang naik daun turut memeriahkan pesta di Amsterdam, dan penyanyi itu kebetulan penyanyi yang konsernya sangat ingin disaksikan sahabatnya.

“Sepertinya hari ini kita bisa mencoret dua hal sekaligus dari buku perjalanan kita.” Simpul Kyuhyun sambil tersenyum lebar.

“Maksudmu?”

You’ll see.” Pria itu mencari buku saku kecil berukuran A5 yang diberikan Eunbi padanya, membolak-balik halaman untuk mencari daftar kegiatan yang ditorehkan Eunbi di dalam sana dan segera saja pria itu mengangguk mantap. “Ya, kita bisa mencoret dua hal sekaligus hari ini. Cepatlah bersiap! Kita harus ada di panggung utama sebelum pukul 2 siang.”

.

.

.

Sesuai dugaan, seluruh permukaan jalan di Amsterdam bertransformasi menjadi lautan manusia bewarna jingga. Niat Kyuhyun untuk mengikuti jalan yang telah ia pelajari batal karena ia pun sudah tidak bisa membedakan antar jalan satu dan lainnya, mereka hanya mengikuti arus saja, mengikuti turis-turis lain yang berbondong-bondong menuju Museumplein tanpa ambil pusing.

Beberapa kali Eunbi tertinggal di belakang pria itu karena tubuh mungilnya terus terhalang oleh orang-orang Belanda yang bertubuh tinggi, berkali-kali pula langkah gadis itu terhenti karena ia disapa oleh turis asing yang di mata Kyuhyun terkesan kelewat ramah. Jengkel dengan kelakuan Eunbi yang kurang waspada, akhirnya Kyuhyun menggandeng erat tangan Eunbi agar gadis itu tidak melangkah sesuka hatinya dan tersesat di tengah Amsterdam.

Kyuhyun tidak tahu bagaimana ceritanya mereka bisa berdiri manis di depan panggung utama, dengan sekaleng bir di tangan mereka yang didapatkan Eunbi secara gratis dari sekelompok pria Belanda yang membawa sekardus bir dalam perjalanan singkat mereka dari stasiun ke lapangan itu. Gadis itu terlihat tengah bersenang-senang dan Kyuhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuan Eunbi yang kekanakan.

“Ini keren sekali, Kyu!” Teriak Eunbi di tengah hingar-bingar musik. “Bukan musik favoritku, tapi boleh juga sekali-sekali kita pesta seperti ini.”

“Jangan minum terlalu banyak, toilet yang bersih jauh!” Balas Kyuhyun sambil terkekeh, mengingatkan Eunbi akan bir yang sedang diteguk gadis itu.

Gadis itu membulatkan mata, sadar kata-kata Kyuhyun memang benar. “Satu kaleng saja, ng? Aku janji satu kaleng saja.”

Kyuhyun memeriksa arlojinya senjenak, lalu ia kembali menarik tangan Eunbi menuju ke bagian depan panggung. Sebentar lagi musisi itu akan naik ke atas dan Kyuhyun ingin sahabatnya mendapatkan posisi terbaik untuk menyaksikan musisi yang sedang ia gandrungi itu. “Kau sudah siapkan kameramu?”

Eunbi mengangkat kamera polaroid yang melingkar di lehernya dan kamera kecil lain yang ia jadikan back-up jika film polaroidnya habis sebelum ia puas mengabadikan kenangan yang ia ingin ingat selamanya. “Ada cadangan film polaroid dalam ranselmu.”

“Bagus. Sebab aku yakin kau akan segera menghabiskan satu kotak film polaroid pertama untuk ini.” Wajah pria itu tersenyum cerah.

“Untuk apa? Kita sudah foto bersama tadi di tengah lautan manusia ini.” Balas Eunbi masih berteriak di tengah hingar bingar suasana.

Sebuah intro gitar diiringi dentuman drum ala Irlandia membuat Eunbi langsung berjinjit untuk melihat jelas siapa yang tengah mengisi panggung sekarang. Gadis itu langsung berteriak histeris saat melihat pria berambut merah akan segera bernyanyi.

“Untuk mengabadikan ini.” Tunjuk Kyuhyun ke arah panggung dengan senyum puas. “Mau kugendong agar kau bisa menontonnya tanpa terhalang kerumunan manusia tinggi?”

“Kau tahu dia akan bernyanyi di sini?” Eunbi menganga tidak percaya.

Pria itu berjongkok untuk membiarkan Eunbi duduk di antara kedua bahunya, bukan hal yang sulit bagi Kyuhyun untuk menopang bobot tubuh gadis itu, terutama setelah penurunah berat badan yang cukup signifikan yang dialami Eunbi.

“Kau tidak perlu menunggu bulan Desember untuk menontonnya di Seoul.” Tambah Kyuhyun senang.

Kata-kata pria itu tidak didengar Eunbi sebab gadis itu sudah sibuk ikut menyanyikan lirik lagu yang ia hafal di luar kepala dengan riang. Kyuhyun mengeratkan genggamannya di seputar kaki Eunbi yang menggantung dari bahunya sekarang. Ia sanggup melakukan ini sepanjang hari, ia sanggup menopang Eunbi seterusnya jika harus, ia sanggup mengikuti langkah gadis itu ke manapun Eunbi ingin pergi. Selama gadis itu tetap ada di dekatnya, dalam jangkauannya, sambil terus menyunggingkan senyuman lebar yang kini tengah terlukis pada wajahnya.

 

*

 

Semakin sore, pesta rakyat itu semakin meriah dan tentu saja juga semakin liar. Eunbi yang mulai merasa pening akan lagu-lagu clubbing yang memuakkan mengajak Kyuhyun untuk beralih dari panggung utama menuju pelataran Rijksmuseum saja, di mana suasana terlihat sedikit lebih tenang dan Eunbi bisa duduk di pelataran taman belakang museum yang luas.

Kyuhyun bersikap seperti bodyguard Eunbi di belakang, sementara gadis itu sibuk mengambil gambar suasana rakyat Belanda yang sedang mabuk masal dalam kameranya. Berkali-kali pula Eunbi mengambil fotonya bersama Kyuhyun yang tengah menikmati pesta dan tidak lupa gadis itu mengambil foto polaroid untuk mereka tempelkan dalam buku mereka.

Buku perjalanan, begitu Eunbi dan Kyuhyun menyebutnya. Sebuah buku keramat yang menggagasi perjalan nekad mereka ke tempat ini dan meninggalkan segala yang mereka tahu di Seoul. Buku yang Kyuhyun gunakan sebagai media penyemangat untuk mengalihkan kepedihan Eunbi saat gadis itu terpuruk dalam berita buruk yang terus datang dalam hidupnya.

Dalam buku itu tertera hal-hal yang ingin Eunbi lakukan, tiap lembarnya ia isi dengan keinginan yang berbeda. Sesuai perjanjiannya dengan Kyuhyun, mereka akan mencoba melakukan semua hal yang Eunbi tulis di dalam buku itu dan menempelkan foto polaroid pada tiap kegiatan yang sudah berhasil mereka lakukan. Foto pertama yang mengisi buku itu jelas selfie Eunbi dan Kyuhyun di depan bandara Schiphol lengkap dengan tas besar dan cengiran lebar mereka—foto yang mereka tempel dalam lembaran bertuliskan ‘runaway’.

Reflek Kyuhyun kembali waspada saat segerombolan pria asing menghapiri Eunbi yang masih sibuk mengambil gambar. Pria itu melangkah mendekati mereka, bersiap bersikap tegas tapi nyatanya Eunbi justru berbincang ramah dengan segerombolan pria Belanda itu.

Where are you guys coming from?” Tanya salah satu pria yang tengah difoto Eunbi.

South Korea.

“Having a great time today?” Tanya pria kaukasia bermata biru ramah.

“We had a blast!” Balas Eunbi tidak kalah berbinar. “You guys really know how to party!”

“Well, Asian tourists, here’s a welcome gift from us the Dutchmen! To help you light up this party even more!” Seorang pria mengulurkan tangan pada Eunbi, menyelipkan sesuatu di antara jabatan mereka sebelum gerombolan itu melanjutkan perjalanan ke arah panggung utama.

Kyuhyun mendengus kasar. “Kau kelewat ramah!”

“Kau terlalu tegang.” Balas Eunbi sambil memutar mata, kemudian gadis itu melihat apa yang diselipkan pria Belanda tadi ke tangannya. “Omo! Daebak! Sepertinya mereka membagikan segalanya secara gratis hari ini.”

“Memberikan apa?” Kyuhyun meraih dua buah lintingan putih dari tangan Eunbi. Tidak perlu mempelajarinya lebih lanjut pria itu sudah tahu apa yang sedang ia ganggam.

“Ayo kita bakar, Kyu.” Ajak Eunbi senang.

“Tidak.”

“Ey, ayolah… di sini legal dan sejak tadi semua orang juga sibuk menghisapnya.” Rengek Eunbi.

“Tidak!” Pria itu meninggikan suaranya.

“Kita bisa mencoret tiga hal sekaligus dari buku itu.” Eunbi menaik-naikkan alisnya, masih mencoba membujuk sahabatnya untuk berpesta.

“Kau sungguh-sungguh ingin mencobanya?” Tanya Kyuhyun heran. “Kau menuliskan itu dalam buku perjalan kita?”

Eunbi mengangguk. “Periksa saja kalau tidak percaya.”

Aish, Jang Eunbi… kau ini.”

“Sekali-sekali, Kyu.”

“Tidak. Itu bukan ide yang bagus, percayalah. Efeknya bisa membuat tubuhmu lemas di kemudian hari.” Terang Kyuhyun.

“Bagaimana mungkin aku tahu efeknya seperti apa kalau aku belum pernah mencoba.” Eunbi melangkah ke dalam area taman museum tapi gadis itu berbalik menghadap Kyuhyun saat ia menyadari sesuatu yang janggal dari kata-katanya. “Tunggu, kau bisa menyimpukan efeknya seperti itu, apa kau pernah mencobanya?”

Pria itu hanya mengangkat bahu.

“Wah, tidak kusangka…”

“Pesta di kampus bisa berubah liar, kau tahu?”

Eunbi mendengus sinis. “Bagaimana mungkin aku tahu, aku kan tidak punya kampus.”

Sontak Kyuhyun menyesali kata-katanya yang masih terlalu sensitif untuk didengar Eunbi. “Maaf.”

Gadis itu memaksakan senyum simpul. “Kalau kau memang menyesal, izinkan aku mencobanya, ne? Kau janji mau mengabulkan seluruh permintaanku selama aku menuliskannya di dalam buku kita. Aku sudah menuliskan hal itu di sana—sebab aku tahu kita akan pergi ke kota ini.”

“Aku tidak yakin efeknya akan—”

“Salah satu efek yang dikenal dari tanaman itu adalah sebagai penawar rasa sakit.” Potong Eunbi. “Jadi alasanmu kutolak.”

Pria itu menghela napas panjang, sadar bahwa ia akan kalah meskipun perdebatan ini dilanjutkan. Dengan penuh keraguan Kyuhyun mencari seseorang yang sedang merokok untuk meminjam pematik, pria itu menempelkan lintingan yang baru mereka terima dari kawan baru Eunbi tadi, mematikkan api di hadapan wajahnya, lalu menghisap lintingan itu dalam-dalam agar bara yang disulutnya tidak mati. Pemandangan Kyuhyun menyalakan lintingan putih itu dengan fasih jelas membuat rahang Eunbi menganga lebar.

“Wah, seliar apa pesta di kampusmu, Cho Kyuhyun-ssi?” Gadis itu membelalak tidak percaya saat kawannya menghisap mariyuana dengan santai.

“Kau tidak mau tahu.” Balas Kyuhyun terkekeh. “Hanya satu linting saja yang kuizinkan untuk kita bakar, oke? Aku akan menyimpan yang satu lagi.”

Eunbi menarik tangan Kyuhyun menuju salah satu bangku taman, gadis itu segera duduk dengan gelisah sambil menatap ke lintingan asing yang masih dipegang Kyuhyun. “Berikan itu padaku.”

“Kau tahu cara merokok?” Tantang Kyuhyun.

Aish, berikan saja padaku.” Eunbi merebut lintingan putih dari tangan Kyuhyun. “Seharusnya tidak sulit.”

Dengan percaya diri gadis itu menempelkan unjung lancip lintingan putih yang sebelumnya dihisap Kyuhyun. Sedikit ragu, Eunbi menghisap udara lewat lintingan itu dan praktis ia terbatuk karena tenggorokannya tidak siap dengan serbuan asap yang terasa menusuk.

Kyuhyun terbahak puas di samping Eunbi, baginya kepolosan Eunbi terlihat semakin kentara dan menggelikan.

“Air.” Eunbi masih terus terbatuk tidak nyaman.

Pria itu mengeluarkan sebotol air mineral dari ransel kecilnya lalu merebut lintingan putih yang menjadi sumber ketidaknyamanan Eunbi kembali ke tangannya.

“Aku tidak paham mengapa orang-orang suka merokok.” Simpul Eunbi setelah tenggorokannya kembali normal.

Bukannya mematikan lintingan mariyuana itu, Kyuhyun justru kembali menghisap pemberian kawan baru mereka tadi dengan leluasa. “Sejujurnya, kadang ini terasa nyaman.”

“Cih, jelas itu tidak nyaman untuk tenggorokanku.”

Kyuhyun menyengir lebar, ia mendapat ide baru. “Bi-ya, kau ingin merasakan efek dari marijuana ini, bukan? Katamu kau sudah menuliskannya di buku, maka aku harus menepati janjiku untuk mengabulkannya.”

“Dan aku sudah bisa menyimpulkan—”

Kyuhyun menggeser duduknya semakin dekat pada Eunbi, wajah pria itu ditundukkan dan dicondongkan pada Eunbi. “Kemarilah, biar kusuntikkan ini melalui hidungmu.”

Ne?!

“Tangkupkan tanganmu di antara wajah kita untuk menghalau udara yang berhembus, mendekatlah padaku, dan tutup salah satu lubang hidungmu. Aku akan menyuntikkannya—itu istilah yang kadang kami gunakan—padamu dan kau hanya perlu menyedotnya lewat salah satu lubang hidungmu.” Pria itu tidak menjelaskan lebih banyak. Kyuhyun memutar arah lintingan marijuana hingga sisi yang menyala bara berada dalam mulutnya, dengan jemarinya ia mengisyaratkan Eunbi untuk mendekat. “Praktikkan saja, sulit menjelaskan hal ini.”

Jarak wajah mereka hanya terbatas beberapa senti saja saat Kyuhyun menghembuskan udara dari dalam mulutnya melalui lintingan mariyuana di bibirnya, asap putih yang pekat keluar dari ujung yang menghadap Eunbi dan gadis itu perlahan paham apa yang harus ia lakukan. Dengan ragu Eunbi menutup sebelah lubang hidungnya dan menghirup asap pekat yang Kyuhyun hembuskan padanya.

Sensasi yang pertama ia rasakan mungkin sama rasanya dengan istilah brain freeze yang biasa disebabkan karena memakan es krim terlalu cepat, gadis itu meringis sejenak untuk menyesuaikan diri sebelum perlahan ia merasa badannya terasa lebih rileks hanya setelah beebrapa ‘suntikan’ yang Kyuhyun berikan.

“Bagaimana?” Tanya Kyuhyun dengan cengiran jahil.

“Aku lebih suka menghirupnya dengan cara tadi, setidaknya tenggorokanku tidak sakit.”

“Kemarilah, biar kusuntikkan lagi.” Kyuhyun menahan tengkuk Eunbi dan mendekatkan wajah mereka sekali lagi.

Eunbi terkikik jahil. “Kyu, kalau aku sedang tidak waras, bisa-bisa aku menganggap ini cara mulusmu untuk mencuri ciuman pertamaku.”

Pria itu menyentil kening Eunbi. “Jangan berhayal macam-macam.”

“Cepat sutikkan itu lagi padaku.” Pinta Eunbi menghiraukan tanggapan Kyuhyun.

Pria itu menurut untuk melakukan apa yang sahabatnya minta. Setidaknya saat ini hanya hal-hal kecil semacam ini yang bisa ia lakukan untuk tetap melukis senyum indah di wajah Eunbi.

“Kyu… apa ini yang selalu kau lakukan di pesta kampus?” Tanya Eunbi penasaran.

Kyuhyun kembali menghisap lintingan di mulutnya dengan cara wajar. “Tidak selalu, hanya saja pernah beberapa kali seniorku yang bandel menyelundupkan ini dan kami semua menikmatinya.”

Eunbi terkekeh. “Sudah kuduga kau memang bukan tipe mahasiswa teladan.”

“Ey, aku ini memang bandel, tapi aku cerdas.” Bela Kyuhyun.

“Aku tahu. Beri aku suntikan lain.” Eunbi mencondongkan wajah pada Kyuhyun. “Kau memang cerdas tapi kelakuanmu kadang membuatku heran.”

Kyuhyun lagi-lagi memberikan apa yang Eunbi minta tanpa ragu, sepertinya efek mariyuana juga telah merasuki aliran darahnya dengan cepat. “Apa yang membuatmu heran?”

“Keputusanmu. Apakah abonim dan eommonim tidak marah karena kau menunda kuliah ke Amerika? Maksuku kau dapat beasiswa, Kyu! Gila saja kalau kau menundanya.” Eunbi menarik napas dalam sambil memejamkan mata. “Kalau mereka orang tuaku, pasti mereka sudah mengomel jika tahu aku menyia-nyiakan satu tahun untuk menemani seorang gadis menyedihkan jalan-jalan.”

Pria itu terkikik. “Kupikir juga begitu, tapi saat aku meminta izin mereka dan menjelaskan alasannya, mereka paham. Justru mereka menyuruhku untuk mendampingimu terus sampai…”

“Mereka tahu?” Tanya Eunbi panik.

Kyuhyun mengangguk. “Tenanglah, mereka akan tetap menjaga rahasiamu sampai kau memutuskan untuk bicara pada orang tuamu.”

“Kau yakin mau mendampingiku sampai akhir perjalanan ini?” Cengiran di wajah Eunbi memudar. “Aku sendiri tidak tahu sepanjang apa jalan yang harus kulalui, Kyu. Di depanku nampak seperti jalan panjang yang gelap dan hanya tulisan-tulisan di buku keramat kita itu yang menuntun langkahku dari hari ke hari.”

Kyuhyun tersenyum sendu, pria itu kembali menghisap marijuana di tangannya beberapa kali sebelum menjawab Eunbi. “Seandainya kondisi kita dibalik, bukankah kau akan melakukan hal yang sama untukku?”

“Tentu saja.” Eunbi kembali menginstruksikan Kyuhyun untuk menyuntikkan asap ke dalam hidungnya. “Tapi tindakanku pasti tidak mengherankan karena kau tahu aku memang mencintaimu. Sedangkan kau… kau tidak merasakan apa yang kurasakan…”

“Kau sok tahu.” Balas Kyuhyun.

Eunbi menggigit bibir sambil menatap Kyuhyun lekat-lekat.

“Aku mencintaimu, Jang Eunbi. Cinta semacam apa yang kumiliki untukmu, sejujurnya aku pun tidak paham—yang jelas apa yang kurasakan padamu dan apa yang kurasakan pada Eunbyeol sedikit berbeda. Aku tidak masalah jika gadis itu pergi dari hidupku, tapi jika aku harus melewati hari sepi tanpa gurauanmu, sepertinya akan ada yang hilang dari diriku.” Pria itu menghisap lintingan yang semakin pendek sebelum membuangnya ke tanah.

“Wah, kau benar-benar jatuh cinta padaku.” Simpul Eunbi.

“Mungkin.” Kyuhyun mengangkat bahu. “Yang pasti aku tahu bahwa aku akan sangat menyesal jika aku tidak melakukan ini denganmu, aku akan sangat sedih jika harus membayangkan kau melakukan semua ini seorang diri, dan… aku akan sangat terluka membayangkan rangkaian ujian yang akan kau hadapi segera seorang diri.”

Kedua bola mata Eunbi mulai dikaburkan air mata haru, pria di hadapannya memang bukan sosok paling romantis yang pernah ia kenal, tapi Cho Kyuhyun adalah manusia paling tulus dalam hidup Eunbi—nilai inilah yang membuat gadis itu jatuh cinta pada pria itu. “Terima kasih. Karena sudah menjaga rahasiaku sejauh ini.”

“Begitu kita kembali dari perjalanan ini, kau harus bicara pada keluargamu, ne?” Secara otomatis Kyuhyun mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Eunbi.

“Aku takut.”

“Aku akan mendampingimu.” Tenggorokan pria itu kembali terasa sakit karena menahan tangis. “Memang itu bukan berita yang mudah untuk mereka cerna, tapi aku akan mendampingimu.”

Gadis itu mengusap lembut tangan Kyuhyun yang menyentuh wajahnya.

“Aku percaya keluargamu sangat mencintaimu, dan aku percaya mereka akan mendampingimu seperti saat ini aku menjagamu.” Suara Kyuhyun mulai bergetar. “Kau hanya perlu janji satu hal padaku…”

“Aku tidak bisa.” Sergah Eunbi cepat sambil terisak.

“Bisa. Kau bisa menjanjikan itu, Bi-ya.” Suara Kyuhyun semakin serak.

Gadis itu hanya tersenyum lemah. “Untuk saat ini, aku berjanji akan menjalani perjalanan spektakuler kita dengan hati ringan. Lalu aku berjanji akan menemanimu pulang ke Seoul, dan aku berjanji akan memberitahu keluargaku.”

“Yang kuinginkan, kau harus janji untuk menungguku pulang dari Amerika kelak. Ani, bahkan kau harus berjanji untuk hadir pada hari pelantikan gelar masterku nanti.” Air mata Kyuhyun mulai mengalir. “Aku akan mengajakmu keliling Boston nanti, kau mau ke mana lagi? Kulihat kau menuliskan New York di dalam buku kita, ng? Ayo kita ke sana. Orlando juga dekat, hanya di tempat itu kau bisa menjelajahi dunia sihir Harry Potter yang sejak dulu sama-sama kita kagumi—ayolah, kau pasti ingin mencicipi butterbeer.”

Isakan Eunbi berubah menjadi semakin kerncang. “Jangan… minta aku…”

“Aku akan memintamu berulang kali sampai kau setuju.” Tegas Kyuhyun.

Eunbi mengatur deru napasnya sejenak. “Kau memintaku melakukan semua itu seakan rela menghabiskan hidup denganku, tapi untuk menjadikanku kekasihmu saja kau tidak bersedia.”

Pria itu mencubit kedua pipi Eunbi gemas. “Sekarang biar kutanya padamu, apa perbedaan mendasar dari sepasang sahabat yang saling mencintai dengan sepasang kekasih? Kurasa hubungan kita jauh lebih manis dari cinta monyet belaka.”

“Bedanya adalah tidak ada jaminan.” Jawab Eunbi cepat.

Kyuhyun terkekeh sambil menghapus air matanya sendiri. “Jaminan katamu? Ya! Orang yang sudah menikah bertahun-tahun saja bisa bercerai, padahal Tuhan yang menjamin hubungan mereka.”

“Bilang saja kau takut komitmen.” Eunbi memutar matanya kesal. “Ah, tapi tidak juga, kalau kau takut komitmen, pasti kau tidak akan menyatakan perasaan pada eonni.”

“Aku mengagumi kakakmu.” Potong Kyuhyun. “Sebagai seorang pria yang dilahirkan dengan jiwa ambisius, kakamu jelas menjadi patokan sempurna. Aku terus berusaha menyainginya dan well… lama-lama aku menjadi penasaran apakah aku bisa menaklukkan hatinya.”

Eunbi mengangguk lemah. “Seharusnya aku juga jual mahal padamu kalau begitu, supaya kau penasaran.”

Pria itu tertawa renyah. “Kau selalu menganggap aku masih mengejar Eunbyeol, padahal itu sudah terjadi lima tahun yang lalu, Bi-ya. Aku bahkan pernah menjalin hubungan dengan salah satu gadis di kampusku setelah kami kuliah.”

“Tapi tatapanmu saat tahu eonni bertunangan tidak bisa menipuku, Kyu. Kau terluka.” Pancing Eunbi.

“Benar, aku tidak akan menyangkal itu.” Aku Kyuhyun. “Tapi aku baik-baik saja. Kurasa saat itu aku hanya tercengang sebab cinta pertamaku secara resmi dinyatakan kandas.”

Eunbi mencoba tersenyum lebar namun air mata mengalir lebih banyak dari sudut matanya. “Aku tidak pernah iri pada eonni meskipun dia mendapatkan banyak perhatian dari appa dan eomma—karena aku tahu memang eonni bekerja keras untuk itu semua dan usahaku terhitung payah kalau dibandingkan dengan usahanya.”

Kyuhyun menyadari gadis di hadapannya mulai menggigil meskipun cuaca malam itu terhitung gerah. Pria itu melepas flannel kotak-kotaknya untuk disampirkan pada kedua bahu mungil Eunbi sambil terus mendengar baik-baik racauan gadis itu.

“Tapi aku benar-benar iri karena dia mendapatkan ini.” Perlahan tangan Eunbi diletakkan di atas dada Kyuhyun. “Kyu, kalau hatimu adalah salah satu hal yang kutulis dalam buku keramat yang kau kantungi itu, akankah kau berubah pikiran?”

“Kau tidak boleh menuliskannya sekarang, peraturan kita cukup jelas—kau tulis semua yang kau inginkan dalam kurun waktu lima belas menit dan aku akan mencoba mengabulkan semuanya.” Balas Kyuhyun lemah.

Gadis itu kembali menarik tangannya menjauh dari dada Kyuhyun, bahkan dalam kondisi menyedihkan seperti ini saja hati pria itu tidak tergerak untuknya.

“Kau tudak perlu iri, Bi-ya.” Pria itu bangkit sambil mengulurkan tangan pada sahabatnya untuk membantu gadis itu bangkit. “Sebab kau memiliki tempat terdalam di hatiku.”

Eunbi menatap Kyuhyun dengan tatapan penuh tanya. “Lalu mengapa kita masih berteman saja?”

“Kembali pada pertanyaanku, apa bedanya sepasang sahabat dan sepasang kekasih?” Tanya Kyuhyun sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

“Aku bisa memeluk kekasihku sepuas hati, aku bisa menandai teritori jelas pada gadis lain yang mencoba mencuri kekasihku, aku bisa melakukan banyak hal romantis, aku bisa mencumbu kekasihku… banyak hal yang berbeda.”

Kyuhyun terkekeh jahil mendengar jawaban polos Eunbi. “Jadi kalau kusimpukan, perbedaannya hanya terbatas pada kontak fisik, teritori, dan komitmen?”

Eunbi mengangkat kedua bahu bingung.

“Kalau aku, aku percaya bahwa persahabatan kita jauh lebih indah tanpa dinodai bumbu picisan seperti itu. Komitmen membuatmu memiliki rasa kepemilikan, yang pada akhirnya membuatmu menuntut ini-itu. Teritori bukan hal yang penting menurutku, sebab jika kau mencintai seseorang, tidak diperlukan teritori untuk menjaga sikapmu pada godaan lain yang datang. Lalu kontak fisik, well, untuk itu aku setuju. Memang hanya itu yang membedakan sepasang sahabat dan sepasang kekasih—setidaknya bedasarkan teori.” Balas Kyuhyun santai, pria itu berjongkok di hadapan Eunbi yang masih duduk di bangku taman. “Tapi apakah tindakanku ini akan membawa hubungan kita pada level yang berbeda?”

“Maksudmu?”

Pria itu tersenyum tipis saat ia mendekatkan wajahnya pada Eunbi. Dengan sebuah sapuan lembut, Kyuhyun mengecup kening Eunbi, lalu pria itu membiarkan kening mereka beradu sejenak. “Sadarlah, Eunbi-ya. Bahwa apa yang kita miliki jauh lebih bermakna dari sebuah komitmen konyol yang rapuh.”

Napas gadis itu tercekat saat merasakan hembusan napas hangat Kyuhyun menyapu wajahnya, apa pria itu baru saja mengecup keningnya?

“Dan aku berjanji, kau boleh memelukku kapanpun kau mau. Sebab bagiku, status hanya membuat sebuah hubungan menjadi rapuh dan hubungan kita bukanlah satu hal yang ingin kupertaruhkan untuk urusan dangkal seperti itu.”

.

.

.

tbc…


footnote:

[1] Pesta rakyat di Belanda. Sampai tahun 2013, rakyat Belanda merayakan hari jadi ratu mereka setiap tanggal 30 April. Semua rakyat berpesta di lapangan besar di Museumplein, Amsterdam sambil mengenakan atribut bewarna oranye. Sekarang hari perayaan begeser menjadi 27 April karena ratu yang sebelumnya lengser dan digantikan putranya yang berulang tahun pada tanggal 27 April.

 


P.S: MAKIN WATER DITAGIH BUAT DIUPDATE, MAKIN ILANG MOOD AKU BUAT NULIS JUDUL ITU. SO JUST ENJOY WHATEVER I CHOOSE TO POST, PLEASE. IF YOU DON’T LIKE IT, YOU DON’T HAVE TO READ IT.

 

 

 

Advertisements

84 thoughts on “Truth Within – 2 [Koninginnedag]

  1. Annealbarn says:

    Hai author salam kenal..aku dah sering main ke blog ini tapi baru sekarang berani kasih koment hehe maafkan…rasanya gatel gk ngasih komen untuk cerita sekeren ini,suka cara auhor menggambarkan persahabatan mereka(sahabat rasa pacar)padahal belum ada unsur sedih2 nya tapi perasaan dah gk enak nih..kuharap ini happy ending

    Liked by 1 person

  2. kaililaa says:

    Mereka mah more than friendship less than relationship. Aku setuju sama Kyu, karena terkadang pacaran itu ga sesuai ekspetasi bahkan sahabatan lebih baik hahaha. Kakak emang beneran bisa buat karakter Kyuhyun jadi cool banget, tindakan bahkan pikiran euh! Dabest laah, semangat buat selanjut-selanjutnyaaa ^^

    Liked by 1 person

  3. voreverv says:

    Apa yg harus eunbi bilang sama orang tuanya? Knp kyuhyun nangis saat mau ngajak eunbi keliling dunia? Eunbi sakit kah?… Aku penasaran..
    Next chap eonni. Keep writing and fighting!!!!

    Liked by 1 person

  4. rainlovegyu says:

    “Dan aku berjanji, kau boleh memelukku kapanpun kau mau. Sebab bagiku, status hanya membuat sebuah hubungan menjadi rapuh dan hubungan kita bukanlah satu hal yang ingin kupertaruhkan untuk urusan dangkal seperti itu.”
    Ada kah pria sebijak kyuhyun di dunia ini ?? Ohmegatttt
    Manis bangettttttttttttytt

    Liked by 1 person

  5. Deer_Autumn says:

    Meleleh aku kalo punya sahabat macem Kyuhyun,sahabat rasa pacar. Kukira Kyuhyun yg gak peka,teryata ada alasan tersendiri Kyuhyun gak mau jadiin Eunbi pacarnya,dan alasannya itu menurutku dewasa. Cara Kyuhyun menyikapinya itu mature banget.cocok gitu sama Eunbi yg imagenya polos. Penasaran sama rahasia yg disembuyikan itu

    Like

  6. sila says:

    Suka Banget ama kata-kata kyu Di akhir.

    Kog perasaan ku ga enak yah pas kyu minta eunbi buat nunggu pulang dari amerika, semoga engga berakhir sad ending yah kak.

    Liked by 1 person

  7. arisa57 says:

    .tuh kan dari eunbyeol aja udah bisa menebak kalo kyu itu cinta sama eunbi, merekanya berdua aja yang rada tidak peka..uuh ketidakpastian gitu bikin gemes deh wkwk

    Liked by 1 person

  8. lyeoja says:

    Omgggggggg… si kyukyuuu… dpt pencerahan dr mana…? Kata2nya ya ampun bikin melelehh…. 😂😂😁

    Ini si eonni bikin ceritanya sambil naburin gula ya… manis manis manis + nyelekit dikit…

    Liked by 1 person

  9. diah sulistia says:

    marijuana itu yg seperti dikonsumsi TOP itu kan?

    wehhhh secara tidak lngsung itu mah kyuhyun cinta sama eunbi dan dia emang ngga mau hubungan mereka terikat cukup dibiarkan mengalir aja…
    tuh dia atas kyu udah ngode kalu eunbi harus nunggu kyu pulang dari amerika.. *kode keras* apa stlh balik dari AS dia bakal nikahin eunbi kkkkkkk~ *maybe*

    Liked by 1 person

  10. ladybook123 says:

    Kok aku #gagalfokus ya. Malahan lbh merhatiin mariyuananya 😂😂😂

    Temen atau pacar ya? Status doank sih.. tp bnr kata eun bi rasanya penting buat jd penanda komitmen, teritori n fisik.. hehe setidaknya itu menurut pendapat pribadiku…

    Liked by 1 person

  11. ddianshi says:

    Ah tidak suka sama pemikiran kyuhyun 😦 wajar dong kalo eunbi menginginkan kepastian kyuhyun yang mau membawa hubungan pertemannya ke tahap apa? kalo gtu kyu sama saja ngephpin eunbi 😥 sebenarnya eunbi sakit apa? semoga eunbi bisa sembuh 🙂 dan kenapa tidak mencoba membuka hati untuk orang lain saja 😥 😥

    Liked by 1 person

  12. Vikyu says:

    Kayanya eunbi sakit keras deh
    Darinkata kata kyu yg hrus nunggu dia dan dtang ke acara wisuda masternya
    Bener kata kyu, hubungan mereka ga akan kandas kalau ga adanya kometmen
    Dan bener kadang orng yg memiliki status aja bisa kehilangan

    Liked by 1 person

  13. Hunsoo says:

    Jadi intinya apa perasaanmu ke eunbi, jangan bikin penasaran.
    Eunbi sakit apa ya? Bisa sampe meninggalkah? Tapi semoga dengan adanya kyuhyun disamping eunbi bisa jadi motivasi tersendiri buat sembuh

    Liked by 1 person

  14. imgyu says:

    aku rada ilfeel pas baca bagian mereka nyesep apa yang kayak rokok itu (maaf ya kak) jadi kebayang orang-orang yang ga sadar diluaran sana. Konsumsi barang haram yang ngrusak tubuh dan ngrusak akhlaknya juga hih beruntung bukan golongan seperti mereka. Kyuhyun sampe mau berjuang segitunya nemenin eunbi apa beneran gaada perasaan sesuatu?

    Liked by 1 person

  15. miran yang says:

    Uhuhuhuhuhu.. So sweet.. kirain cerita nya bakal kaya’ “final call”, yang ada porsi flashback nya gitu, eee rupanya di part ini ga.. hmmm tapi dari ceritanya kok sepertinya bakalan sedih sedih juga? Iya ga ya?
    Aaa makin penasaran jadi nya..
    Hwaiting eonni ^^

    Liked by 1 person

  16. Seo HaYeon says:

    Kalo dsni aku banyak senyum-semyum! Haha.. ckckck.. jadi Kyu… kamu mmg ga suka berkomitmen! Okelah.. tapi segala sikap n perbuatanmu it lbih menggambarkan kalo Eunbi memang sgt berarti buat kyu! Ihh gemes bgt bacanya!! Pdhl mreka berdua tingkahnya mmg bnr2 sprti psangan yg lagi menghabiskan waktu berdua… elaaah bner kya Eunbyeol, Kyu nya payah dlm mengerti perasaannya sndiri tp btw cerita ini!Jjang bgt kak!!!! Thousand love lah pokok’e.. 😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍

    Liked by 1 person

  17. missluck says:

    Oh GOD
    thank’s wat penulis’a….
    Ini bener2 BEDA
    Br part 2 j dah dh mengharukan, Menyentuh bgt.
    Tiap kata2’a bener2 kena.
    Meski da beberapa kata yg wat q bingung.
    Tiap baca kalimat demi kalimat wat q deg2n deh..
    Salam Kecup wat author’a z 😘

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s