Truth Within – 1 [runaway]

 

1 eunbi

*Gambar milik Kang Taeri

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Friendship, Romance, A Slice of life, Travel

Main Cast: Jang Eunbi & Cho Kyuhyun

Other Cast: Jang Eunbyeol

 

 

Gadis di hadapannya masih menolehkan kepala ke berbagai penjuru Kalver Straat yang ramai sementara pria itu sudah mulai kelelalahan dengan beban dua tas besar mereka yang masih tersampir di bahunya. Kyuhyun sudah tidak tahu hotel keberapa yang menolak mereka dengan alasan kamar penuh dan sejujurnya sekarang ia hanya membutuhkan loker besar untuk menaruh seluruh barang mereka dan tidur di bangku taman saja.

Jang Eunbi sudah terlihat letih, sejak pesawat mereka tiba di kota tujuan yang diimpikan gadis itu, keduanya belum sempat menyentuh makanan sama sekali dan Kyuhyun mulai khawatir pada kondisi teman seperjalanannya.

“Bi-ya! Kita coba saja hotel bintang lima sekalian. Kebanyakan dari turis yang datang untuk acara itu juga pasti backpacker dengan budget pas-pasan seperti kita.”

Eunbi menggeleng tidak setuju. “Kita baru tiba hari ini, Kyuhyun-a. Kalau uang kita dihabiskan untuk akomodasi, aku tidak akan mampu melanjutkan perjalanan ini sampai tuntas.”

“Cih, perjalanan yang kau sendiri belum tahu pasti arah dan tujuannya.” Kyuhyun memutar matanya kesal tapi kakinya tetap menuruti langkah Eunbi. “Hey! Kenapa kau berjalan kembali ke stasiun, ya!

“Sebentar, aku lihat ada hotel tersembunyu di dalam gang itu.” Tunjuk Eunbi. “Tunggu di sini, aku akan mencoba peruntungan kita dalam hotel itu.”

Kyuhyun berdiri di tepi gang dengan gusar sambil menunggu Eunbi melakukan tugasnya. Pria itu menghela napas panjang sambil menatap pada bangunan megah bergaya gothic/renaissance di kejauhan. Di sekitarnya banyak orang berlalu-lalang, orang-orang yang ia yakini juga turis yang datang demi pesta meriah tahunan seperti mereka, dan yang paling mencolok dari kota ini tentu saja populasi sepeda yang di luar kendali. Beberapa kali ia dan Eunbi nyaris tertabrak pengendara sepeda sejak mereka tiba di sini—kondisi yang tidak pernah mereka alami di Seoul.

Sejujurnya pria itu harus memberi penghargaan pada sahabatnya yang memiliki ide brilian ini, meskipun latar belakang munculnya ide perjalanan ini nyatanya sangat menyakitkan. Kyuhyun memeriksa arlojinya yang belum ia sesuaikan dengan jam lokal, otaknya bekerja cepat untuk mengurangi waktu tujuh jam dari waktu di Seoul dan pria itu menyadari sebentar lagi senja akan tiba.

“Kyu.” Eunbi menepuk bahu sahabatnya. “Kurasa mustahil mencari hotel di Amsterdam.”

Pria itu mengalihkan perhatian dari arlojinya. “Maksudmu? Malam ini kita menggelandang di jalan?”

Eunbi menggeleng. “Aku bertanya pada resepsionis di dalam, meminta saran dan rekomendasi hotel—yang terjelek sekalipun—dan pria itu bilang pasti seluruh hotel di kota ini penuh karena pesta besok.”

Kyuhyun berdecak. “Masuk akal, mengingat sejak kita tiba di bandara seluruh dekorasi bewarna jingga sudah menyambut meriah.”

“Tapi kakek tua baik hati itu menyarankan kita pergi ke hotel ini.” Eunbi menyerahkan secarik kartu nama dengan nama hotel yang disarankan kepada Kyuhyun. “Beliau sudah membantuku untuk memesan satu-satunya kamar yang tersisa, sekarang kita hanya perlu naik kereta ke arah Zaandam, hotel ini terletak tepat di depan stasiun jadi kita tidak perlu repot mencarinya.”

“Di mana kota Zan… apa katamu tadi?”

“Sudahlah, aku juga sama bingungnya denganmu. Tapi aku sudah lelah dan lebih baik kita menyingkir sedikit dari lingkar kota Amsterdam sekarang.” Ujar Eunbi pasrah, ia menarik lengan Kyuhyun untuk kembali melangkah ke arah stasiun kereta.

Ungkapan kata lelah dari mulut gadis itu langsung membuat Kyuhyun awas. “Kau kenapa? Apa kau pusing?”

Eunbi menggeleng. “Aku hanya letih, tidurku tidak nyenyak di pesawat dan aku ingin mandi. Aku bisa saja tidur di jalanan tapi saat ini aku benar-benar kesal karena belum bisa membasuh tubuhku yang sudah terasa lengket ini.”

Pria itu terbahak melihat wajah Eunbi yang lebih jengkel karena fakta tidak bisa membasuh tubuh alih-alih tidak bisa tidur. “Aish, dasar wanita. Tidak masalah hidup jorok sesekali, Bi-ya.”

“Aku serius, Kyu. Aku benar-benar harus pergi ke toilet… dan melakukan bisnis besar di dalam sana.” Balas Eunbi tanpa tahu malu.

“Itu ada toilet umum di stasiun.” Tunjuk Kyuhyun saat langkah mereka semakin mendekati pintu masuk megah Amsterdam Centraal.

“Kutantang kau untuk melakukan bisnismu terlebih dahulu di toilet jorok itu!” Sahut Eunbi. “Kalau kau sanggup melakukannya tanpa berjengit jijik atau muntah, baru aku akan mengikuti jejakmu.”

Kyuhyun tertawa semakin puas. “Aku sudah melakukan bisnisku tadi di bandara, Bi-ya. Makanya ikuti saranku untuk melakukannya di tempat yang masih terjamin kebersihannya, bukannya menahan sampai tiba di tengah kota.”

Eunbi berdecak tidak percaya. Ia memiliki misi untuk membuat Kyuhyun berpaling dan jatuh hati padanya, tapi ironisnya justru pembicaraan tentang buang air besar yang mereka bahas sekarang—sangat jauh dari istilah romantis.

“Ah itu mesin tiketnya, tunggu sebentar.” Eunbi mengabaikan ledekan Kyuhyun.

Pria itu membenarkan letak ransel mereka di atas bahunya sambil memandang keliling pada kedai-kedai kecil di stasiun. Sebuah toko roti menarik perhatiannya dan tanpa berpikir panjang pria itu melangkah ke sana untuk membeli dua roti gandum berisi daging kalkun untuk mengisi perut mereka yang kosong. Salah satu alasan pria itu ikut dengan misi gila sahabatnya adalah untuk mengawasi dari dekat kondisi Eunbi. Tentu saja memastikan gadis itu mendapat asupan gizi yang sesuai sudah menjadi tanggung jawab yang rela ia emban.

“Kyu, keretanya sudah ada di peron 7.” Eunbi membantu Kyuhyun dengan roti yang digenggam pria itu. “Ini untukku?”

“Ng, makanlah. Pasti kau lapar, ini sudah lewat jam makan malam di Seoul. Nanti begitu sampai hotel kau langsung mandi dan istirahat saja, ne? Biar aku yang keluar mencari makanan panas untuk kita.” Pria itu menggigit roti di tangannya dengan lahap.

“Tenanglah, aku akan ikut denganmu—”

“Kau istirahat!” Tekan Kyuhyun.

Ya! Kau sudah janji untuk tidak memperlakukanku seperti—”

“Istirahat malam ini, atau besok kita batal datang ke pesta perayaan itu. Pilihan ada di tanganmu.” Tegas Kyuhyun sambil berjalan melengos ke arah eskalator yang membawa mereka ke peron 7.

Eunbi memanyunkan bibir kesal. “Kau sudah janji untuk tidak memperlakukanku seperti ini.”

“Kau juga janji untuk menuruti kata-kataku dalam keadaan terdesak.” Balas Kyuhyun tidak kalah manyun.

“Tapi keadaan ini tidak mendesak.” Gerutu Eunbi pelan.

“Bagiku ini mendesak.”

Melalui sudut matanya Kyuhyun melihat kereta yang akan mereka naiki akan segera berangkat, alih-alih menjawab protes Eunbi, ia menarik tangan gadis itu untuk mengejar kereta sambil berteriak pada pria berseragam yang meniupkan pluit tanda kereta akan berangkat untuk menunggu sebentar.

Sukses, mereka berhasil masuk ke dalam kereta dalam kondisi terengah-engah.

“Untuk apa kau lari seperti orang kesetanan, ng?” Tantang Eunbi. “Kereta ke Zandaam selalu ada setiap lima belas menit.”

“Sudahlah, jangan ajak aku berdebat. Cari tempat duduk dan duduklah, aku akan berdiri saja di sini dengan tas raksasa kita.” Pria itu menunjuk sebuah kursi lipat kosong di dekat pintu kereta untuk ditempati Eunbi.

.

.

.

Keduanya memandang terkesima ke arah bangunan hijau berbentuk rumah-rumahan khas Belanda yang terkesan seperti ditumpuk satu sama lain. Jelas stasiun tempat mereka menginap adalah lokasi yang jauh lebih sepi dan tenang dibandingkan dengan Amsterdam Centraal, dan sejujurnya Eunbi langsung jatuh cinta dengan suasana kota pinggiran yang lebih tentram. Ia tidak pernah menyangka lima belas menit dari pusat kota bisa membawanya ke tempat seperti ini.

“Kau yakin hotel itu sesuai budget kita?” Tanya Kyuhyun dengan tatapan curiga.

Eunbi mengangguk. “Ng, sesuai jika kita tidur di kamar yang sama dan membagi tagihannya dengan cara backpacker.”

Pria itu mendengus pasrah. “Kau sengaja melakukan ini, ng?”

“Sengaja apa?”

“Memesan satu kamar saja. Jangan-jangan kau punya niatan buruk padaku malam ini.” Kyuhyun pura-pura merinding di samping Eunbi. “Pokoknya kau tidak boleh menyentuhku, Jang Eunbi! Camkan itu!”

“Berhentilah berkhayal, Kyuhyun-a. Perasaanku padamu memang bertepuk sebelah tangan, tapi aku juga tidak se-gatal itu sampai memanipulasi seluruh hotel di Amsterdam ke dalam status full-booked dan memilih satu hotel yang memiliki sisa satu kamar saja.” Gadis itu memutar matanya kesal.

Kyuhyun tertawa geli melihat kejengkelan di wajah Eunbi yang semakin menjadi.

“Lagipula, dulu kita sering tidur siang bersama saat kecil, pada piknik keluarga kita tahun lalu juga kita tidur di tenda yang sama dan kau tidak protes.  Stop flattering yourself and don’t sweat the small stuff!” Bentak Eunbi sambil mendorong pintu masuk ke dalam hotel.

 

*

 

Kyuhyun memutar kenop pintu kamar mereka perlahan, takut menganggu ketenangan gadis itu. Saat ia melangkah ke dalam, kondisi kamar sudah temaram, hanya lampu tidur di sisi ranjangnya saja yang menyala sementara Jang Eunbi sudah terlelap di balik selimut putih hotel dengan wajah yang damai. Pria itu mendengus pelan sambil menatap kantung makanan di tangannya, sepertinya ia harus makan sendiri malam ini.

Setelah memilah-milah makanan yang ia beli, Kyuhyun mendudukkan diri pada armchair yang terletak di sudut ruangan dan mulai mengacak-acak sup tomat hangat yang dibelinya dari kedai dekat hotel. Tangan Kyuhyun terus menyendok kuah sup sementara matanya menatap teduh pada sosok Eunbi. Sepanjang hari gadis itu memamerkan senyum lebar, ia terus tertawa pada lelucon Kyuhyun yang cenderung garing, dan gadis itu terus-terusan berceloteh tanpa akhir tentang agenda apa saja yang harus mereka lakukan.

Namun dalam kondisi tertidur lelap seperti ini, ekspresi sesungguhnya dari Jang Eunbi nampak.

Gadis itu lelah, tentu saja tapi bukan lelah akibat perjalanan mereka ke belahan barat Eropa. Eunbi lelah menghadapi kenyataan-kenyataan yang terus mendesaknya di Seoul, ia lelah berselisih dengan ayahnya, ia lelah mengalah, dan yang jelas ia sudah lelah berjuang mencari alasan. Kyuhyun ada di sana menyaksikan satu per satu pertahanan Eunbi dirobohkan, dan malam ini memori pria itu melayang pada salah satu momen yang mulai merubah Jang Eunbi.

 

*

 

Perhatian ptia itu sepenuhnya terpaku pada televisi layar lebar di dalam kamar tidurnya saat Jang Eunbi mengetuk pintu dan masuk sebelum diizinkan. Bagaimana cara ia bisa membedakan bahwa gadis yang menghampiri adalah Eunbi dan bukan kembarannya masih misteri bagi pria itu sendiri. Fitur wajah keduanya sama, tidak ada pembeda berupa tahi lalat atau tanda lahir, potongan rambut mereka sama, bahkan gaya berpakaian keduanya serupa—tapi Kyuhyun bisa membedakan keduanya setiap saat dari kejauhan.

Eunbi melangkah masuk ke dalam kamar Kyuhyun tanpa sungkan dan langsung ikut duduk di tepi tempaat tidur pria itu, sejenak mengalihkan perhatian Kyuhyun dari film yang sedang ditontonnya. Dengan wajah berseri gadis itu mengangkat sebuah amplop putih dan spontan Kyuhyun bisa menebak isi dari surat yang baru ia terima.

“Kau diterima?” Pria itu memutuskan untuk mengecilkan volume televisinya.

Eunbi mengangguk senang.

“Ey! Kau hebat sekali, Bi-ya.” Kyuhyun mengacak rambut Eunbi gemas. “Biar kubaca.”

Mata Kyuhyun bergerak cepat di atas surat penerimaan Eunbi dalam kampus yang ia impikan. Pria itu bersyukur karena pada akhirnya Jang Eunbi memutuskan untuk kuliah setelah gadis itu tertinggal 4 tahun dari Kyuhyun dan Eunbyeol yang seumuran. Mereka tumbuh besar bersama sebagai tetangga samping rumah dan tentu saja Kyuhyun sangat mengenal sepak terjang kedua gadis kembar itu dalam hal prestasi sekolah.

Jika Eunbyeol sering pulang ke rumah dengan wajah berseri sambil membawa hasil ujian dengan nilai sempurna, Eunbi lebih sering menghabiskan sore hari di sekolah untuk mengikuti kelas tambahan sekaligus memperbaiki nilainya. Kyuhyun sering menyaksikan bagaimana keluarga Jang kerap kali menghadiahkan Eunbyeol dengan banyak hal sementara Eunbi harus berbesar hati menerima bahwa memang prestasinya tidak layak diberi hadiah. Namun dari semua kesenjangan antar dua gadis kembar itu, Kyuhyun merasa yang menjadi titik balik Eunbi untuk berusaha lebih keras adalah saat Eunbyeol diberikan izin untuk membawa mobil kedua orang tua mereka saat gadis itu diterima kuliah di perguruan tinggi paling bergengsi di Korea. Tidak mudah mendapatkan surat masuk ke dalam perguruan tinggi dan tahun ini adalah percobaan keempat Jang Eunbi—yang pada akhirnya menerima tanggapan positif.

“Ng? Sekolah fotografi? Kampus swasta?” Kyuhyun mengerutkan kening bingung.

“Kau yang bilang bahwa aku harus mengejar mimpiku jika memang ingin menikmati hidup, bukan?” Senyum di wajah Eunbi memudar. “Aku tahu ini tidak sekeren jurusan teknik mesin yang kau ambil, tidak juga sehebat jurusan hubungan internasional seperti eonni. Tapi ini passion-ku, Kyu.”

“Bukan itu masalahnya, Bi-ya. Aku tidak pernah mempermasalahkan jurusan yang hendak kau ambil, yang kupermasalahkan adalah fakta bahwa ini kampus swasta…”

“Aku mendapat beasiswa.” Potong Eunbi. “Bacalah surat itu sampai tuntas.”

Kyuhyun menggigit bibirnya sambil lanjut menuntaskan sisa surat penerimaan Eunbi. Sebuah perasaan bangga muncul dalam hati Kyuhyun, memang sahabatnya ini luar biasa. Meskipun Eunbi bergerak lambat, tapi sekalinya gadis itu menetapkan pilihan, ia langsung mendapatkan beasiswa. “Wah, kau hebat sekali. Besiswa 50-50 di kampus ini, bukankah itu sulit sekali?”

“Well, sepertinya mereka memang menyukai portofolio yang kuberikan dan sepertinya sesi interview-ku kemarin berjalan lancar.” Jawab Eunbi dengan senyuman bangga.

“Kau mau kuberikan hadiah apa, ng?”

“Hm, aku belum tahu. Untuk saat ini sejujurnya aku hanya membutuhkan dukunganmu.” Balas Eunbi sambil memainkan ujung kaosnya. “Aku harus menyampaikan berita ini pada eomma dan appa.”

“Mereka pasti akan langsung mendukungmu, Bi-ya.” Sahut Kyuhyun yakin.

Gadis itu mengangkat bahunya pasrah. “Kondisi kami sedang agak sulit, Kyu. Aku memang memiliki tabungan untuk membayar biaya masuk dan biaya kuliah tahun pertama, tapi seluruh tabungan itu saja kukumpulkan dari kerja sambilanku empat tahun belakangan…”

“Maksudmu? Kau kan mendapat beasiswa, Bi-ya. mengapa masih mengkhawatirkan biaya kuliah?” Tegas Kyuhyun sambil mengangkat surat penerimaan Eunbi.

“Tetap saja, jika ditotal seluruh biayanya masih terlalu tinggi. Aku hanya khawatir bahwa aku sanggup membayar biaya masuk, namun tidak akan pernah sanggup menuntaskan kuliahku karena tersangkut masalah biaya.” Gadis itu menghela napas panjang. “Kau tahu sendiri appa sudah pensiun sekarang. Itu sebabnya mereka mendorongku dan eonni untuk langsung kuliah selepas SMU, agar beliau masih sanggup membiayai kami… tapi baru usaha di tahun keempat yang membuahkan hasil untukku, dan aku bingung.”

“Aku bisa membantumu.” Tawar Kyuhyun. “Aku bisa ikut membayar—”

“Andwe! Bukan itu yang kumaksud dengan dukunganmu.” Eunbi melambaikan tangan di hadapan Kyuhyun. “Aku harus bicara pada mereka perihal surat penerimaan ini, dan aku gugup.”

Kyuhyun mengerutkan kening bingung.

“Bagi mereka, fotografi hanyalah sebuah hobi yang kumiliki sejak kecil, bukan suatu hal yang patut dijalani dalam ranah perkuliahan. Aku takut mereka akan menolak kesempatan ini mentah-mentah.” Gumam Eunbi.

“Kapan kau berniat bicara dengan mereka? Ayo, aku temani.” Kyuhyun meraih tangan Eunbi dan meremasnya pelan. “Jangn khawatir, aku akan meyakinkan mereka bahwa pilihanmu tidak salah.”

.

.

.

Pria itu melihat dengan jelas bagaimana binar di wajah Eunbi memudar seketika harapannya dipatahkan jauh sebelum gadis itu sempat mengungkapkan apapun. Malam itu, seperti malam di akhir pekan lainnya, nyonya Jang membuat perjamuan makan kecil-kecilan di restoran kecil yang dikelolanya. Sejak kecil Kyuhyun sudah terbiasa ikut menjadi bagian dari acara ini dan kehadirannya selalu dinantikan oleh keluarga itu. Hanya saja ada yang berbeda malam itu. Biasanya saat Kyuhyun tiba, semua makanan telah tersaji di atas meja dan mereka hanya perlu menghabiskan apa yang telah dimasak nyonya Jang, namun malam itu, meja masih dalam keadaan kosong.

Eunbi dan Kyuhyun datang bersama, mereka tidak membuat banyak suara saat menggeser pintu masuk dan suasana tegang yang menyambut mereka juga dirasakan oleh Eunbi. Tapi berita bahagia yang akan ia sampaikan membuat keduanya menghiraukan kejanggalan itu dan lanjut masuk ke dalam restoran, kedatangan mereka tidak disadari oleh tuan dan nyonya Jang, tapi dari tempat mereka berdiri pembicaraan privat sepasang paruh baya itu terdengar cukup jelas.

“Kita sudah mempersiapkan untuk hal ini, bukan? Kurasa sudah sepatutnya pesta anak itu dibuat besar-besaran.” Suara serak tuan Jang terdengar.

“Tapi kita memiliki dua anak, Yeobo. Bagaimana jika nanti giliran Eunbi yang melangsungkan ini.” Nona Jang terdengar tidak setuju.

“Aku tahu, tapi kurasa kita bisa mengumpulkan uang lagi nanti. Bukannya aku ingin membedakan kedua putri kita, hanya saja secara realistis Eunbi juga belum memiliki kekasih. Sedangkan masalah ini sudah ada di depan mata. Mau ditaruh di mana wajahku nanti jika upacara pernikahan Eunbyeol kita lakukan seadanya.” Sergah tuan Jang.

Eunbi dan Kyuhyun membatu di tempat masing-masing, keduanya tercengang untuk alasan yang berbeda.

Bagi Eunbi, ia tidak percaya bahwa saudari kembarnya tidak menyampaikan berita bahagia itu padanya terlebih dahulu. Ia tercengang karena ada sebagian kecil dari dirinya yang merasa dilangkahi, dan kalau ia boleh jujur, ada sedikit perasaan iri yang terbersit dalam hatinya. Iri karena jalan hidup gadis yang hanya berusia lima menit lebih tua darinya berjalan begitu mulus dan sempurna.

Kyuhyun sendiri tertegun dengan apa yang ia dengar karena berita itu adalah pertanda bahwa ia memang harus berhenti berusaha mengejar Eunbyeol. Pria itu sudah terpesona dengan kembaran gadis yang berdiri di sisinya sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar, ia juga telah melakukan segala upaya untuk menarik perhatian Eunbyeol, namun ternyata memang sampai perjuangannya yang terakhir, gadis itu tidak akan pernah membalas perasaannya.

Perbincangan tuan dan nona Jang berhenti saat wanita paruh baya itu menyadari kehadiran Eunbi dan Kyuhyun. Seolah ada kesepakatan tidak tertulis, tuan Jang mengakhiri perdebatan mereka tanpa perlu dikomando sambil menyambut kehadiran putrinya ramah.

“Kenapa kalian diam saja? Seharusnya tadi kau teriak.” Sapa ayah Eunbi. “Eomma masak banyak hari ini, bantulah eomma di dalam.”

“Eonni akan menikah?” Sosor Eunbi yang masih penasaran.

“Ng, kakakmu akan segera dipinang dan malam ini kita akan merayakannya.” Jawab tuan Jang dengan wajah berseri. “Bantulah eomma di dapur, banyak sekali makanan yang harus dibawa ke depan.”

Eunbi mengangguk patuh, meninggalkan Kyuhyun dan tuan Jang berduaan saja.

“Ayo angkat gelasmu, Kyuhyun-a. Kita harus berpesta malam ini.” Tawar tuan Jang sambil membuka botol soju dan menawarkan pada Kyuhyun.

Yang ditawari menurut saja, membuka gelas, menerimanya dengan sopan lalu menegak isi gelasnya ke arah samping sebelum ia menuangkan balik segelas soju pada pria paruh baya di hadapannya. \

“Apa yang akan kita rayakan, Abonim?” Tanya Kyuhyun basa-basi.

Tuan Jang terkekeh. “Sebuah pertunangan.”

Kyuhyun memaksakan senyum lebar. “Kujamin bukan Eunbi yang bertunangan.”

“Tentu saja bukan.” Kikik tuan Jang. “Hah… kuharap gadis itu bisa segera meluruskan jalan hidupnya dan menemukan pria yang tepat untuk mendampinginya, seperti Eunbyeol yang sudah menemukan pria impiannya.”

Kyuhyun tersenyum kecut. “Tenanglah, Abonim. Meskipun agak terlambat, Eunbi juga memiliki berita baik untukmu malam ini.”

“Benarkah? Berita baik semacam apa?” Sambar nona Jang yang sedang menaruh sepiring sayur-sayuran di tengah meja, disusul Eunbi di belakangnya yang membawa sepiring kimbab.

“Bukan berita apa-apa, Eomma.” Sahut Eunbi, gadis itu langsung menyorot Kyuhyun tajam sambil membelalakkan mata seakan memberi isyarat agar pria itu tutup mulut.

“Ey, beritahu kami. Apa kalian juga memutuskan untuk menikah?” Nyonya Jang tiba-tiba memekik senang.

“Jelas bukan berita itu.” Jawab Kyuhyun cepat.

“Bukan itu, Eomma.” Eunbi menegaskan sanggahan Kyuhyun yang diam-diam kembali menorehkan luka dalam hatinya. “Beritaku tidak sama spektakulernya dengan berita eonni.”

Nyonya Jang mengusap bahu putrinya lembut, wanita itu menyuruh Eunbi untuk duduk di samping Kyuhyun sementara ia pun mengambil kursi di samping suaminya. “Berita apapun itu pasti sama pentingnya, Eunbi-ya. Apa yang harus kau sampaikan?”

Kyuhyun menyenggol kaki Eunbi dengan kakinya, memerintahkan gadis itu untuk segera menyampaikan berita baik yang telah dinantikan keluarga itu selama empat tahun lamanya.

“Aku… aku diterima di universitas.” Jelas Eunbi.

Tuan Jang bertepuk tangan senang dan istrinya ikut memekik girang.

“Tapi… kampus swasta.” Tambah Eunbi.

Atmosfer bahagia tadi langsung lenyap.

“Aku dapat beasiswa, Appa.” Terang Eunbi untuk meyakinkan. “Tapi aku tetap harus membayar setengah dari total biaya kuliah yang—”

“Berapa kali aku katakan bahwa aku tidak akan sanggup menyekolahkanmu di kampus swasta, Jang Eunbi.” Sahut ayahnya parau. “Kita bukan orang kaya yang memiliki uang melimpah, aku sudah pensiun dan sebentar lagi aku harus melakukan sebuah pesta pernikahan. Alokasi dana pensiunku juga sudah di…”

“Yeobo, mungkin jika aku menyisihkan uang dari profit restoran ini, kita bisa membantu Eunbi.” Nyonya Jang mencoba bernegosiasi dengan suaminya.

Kyuhyun menyerahkan amplop berisi surat penerimaan Eunbi di universitas pada tuan Jang, dengan harapan berita itu bisa merubah sanggahan yang menunjukkan keberatannya—tapi tanggapan yang diberikan justru bertolak belakang.

“Fotografi?” Tuan Jang mengerutkan kening. “Tidak. Aku tidak akan menghamburkan uang untuk ini.”

Jang Eunbi mengedipkan mata beberapa kali, tidak percaya dengan penolakan lantang yang bahkan tidak perlu melalui tahap pertimbangan dari ayahnya.

“Abonim, fotografi adalah keahlian Eunbi. Kampus tempatnya mendaftar adalah kampus terbaik yang memfasilitasi jurusan itu dan tidak semua yang mendaftar bisa diterima.” Jelas Kyuhyun mengambil alih persuasi. “Lebih hebatnya lagi, Eunbi memperoleh beasiswa karena pihak kampus menyukai portofolionya. Ini kesempatan sekali seumur hidup, Abonim…”

“Kalau beasiswa yang diperolehnya 100% aku akan membiarkan anak ini membuang-buang waktu demi mendapatkan ijazah, Kyuhyun-a. Tapi jika kami harus ikut membayar agar hobi Eunbi terfasilitasi dalam lingkup pendidikan, kurasa aku tidak perlu berpikir dua kali.” Balas tuan Jang tegas.

“Yeobo…”

“Lagipula, untuk apa kau mendaftar ke kampus swata? Sudah kutekankan dari awal bahwa kita bukan keluarga kaya yang bisa menghamburkan uang untuk ini.” Tuan Jang membentak Eunbi yang masih menatapnya balik dengan pandangan tidak percaya. “Lihat Eunbyeol, anak itu bisa diterima di perguruan tinggi negeri bergengsi dengan beasiswa! Aku tidak menuntutmu untuk menyamai kehebatannya, tapi setidaknya cobalah untuk tidak berbuat ulah dengan hal-hal mengejutkan seperti ini.”

“Yeobo!” Nyonya Jang memukulkan tangannya ke atas meja. Suaminya mulai meracau dan wanita paruh baya itu bisa melihat tatapan terluka yang terpancar jelas dari wajah putrinya. “Eunbi hanya mencoba melakukan yang terbaik untuk kita, bukankah kita juga selalu mendorongnya untuk mendaftar ke universitas?”

“Tapi bukan kampus glamor seperti ini! Apa aku harus menjual ginjal terlebih dahulu agar hobi anak ini dihadiahi ijazah?! Tidak perlu susah-susah kuliah fotografi, toh Eunbi sudah membawa kamera kemana-mana sejak kecil.” Tuan Jang tidak kalah panas.

Pandanagn Eunbi dikaburkan dengan air mata yang menggenang pada pelupuknya, hatinya remuk. Ia kira hatinya sudah sangat sakit saat Kyuhyun menolak perasaannya, atau saat kampus-kampus tempatnya mendaftar terus mengirimkan surat penolakan, tapi ternyata sikap pilih kasih ayahnya yang kentara jauh lebih menyakitkan dari segala penolakan yang pernah ia peroleh.

Di bawah meja, tangan Kyuhyun mencari-cari tangan Eunbi untuk ia genggang, sedikit usaha dari priaitu untuk menenangkan sahabatnya. Namun saat pria itu baru menyentuhnya, Eunbi berdiri dan menghambur keluar restoran.

“Ya! Aku belum selesai bicara! Siapa yang menyuruhmu keluar?!” Bentak Tuan Jang.

“Yeobo, sudahlah! Kau sudah menyakiti hati Eunbi!” Nyonya Jang tidak kalah panas.

“Seharusnya malam ini menjadi malam yang indah karena kita merayakan pertunangan Enbyeol, mengapa bocah itu selalu saja—”

“Aku akan menenangkan Eunbi, Eomonim.” Kyuhyun bangkit dan segera menyusul Eunbi, tidak mau terjebak lebih lama lagi di meja itu.

Pria itu menoleh ke berbagai arah sambil berlari mencari sahabatnya, ia tahu persis apa yang sedang Eunbi rasakan dan sejujurnya hatinya pun terasa sakit mendengar penyataan tuan Jang yang terhitung kasar. Pencarian Kyuhyun berakhir di taman dekat restoran, Jang Eunbi tengah duduk di landasan perosotan sambil memeluk lutut. Wajahnya ia senbunyikan dalam lipatan lengannya dan kedua bahu mungil gadis itu bergetar hebat.

“Bi-ya…” Kyuhyun ikut berjongkok di hadapan Eunbi, sambil mengusap lembut punggung gadis itu. “Bi-ya… maafkan aku.”

Eunbi tidak menjawab, ia hanya terus terisak.

“Hey, kita akan mencari jalan keluar dari masalah ini, oke? Seperti yang kukatakan kemarin, aku bersedia membantumu. Kau juga bisa mengajuka beasiswa tambahan pada perusahaan besar, ada banyak perusahaan besar yang bersedia mendanai biaya kuliah—”

“DIAM!” Bentak Eunbi.

Spontan pria itu menutup mulutnya.

“Biarkan aku seperti ini, eoh? Tidak perlu menghiburku.” Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya yang basah untuk menatap Kyuhyun. “Izinkan saja aku menangis dan temani aku di sini, ng?”

“Tapi…”

Isakan lembut yang terus muncul dari bibir gadis itu membuat kata-kata yang telah tersusun dalam benak Kyuhyun lenyap. Saat ini Eunbi hanya membutuhkan sandaran dalam melampiaskan kepedihannya dan pria itu bersedia melakukannya.

Kyuhyun ikut duduk di landasan perosotan yang sempit, dengan sebelah lengannya ia merangkul bahu Eunbi sambil membiarkan gadis itu memeluk pinggangnya erat.

“Pembicaraan kita belum tuntas, oke? Tapi untuk sementara kuizinkan kau menangis sepuasnya.” Ujar Kyuhyun yang disahut dengan raungan Eunbi yang semakin menjadi.

 

 *

 

Perhatian Kyuhyun kembali pada sosok yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Tanpa ia sadari, pandangannya mulai dikaburkan oleh air mata yang menggenang akibat salah satu kenangan memedihkan Jang Eunbi yang pernah disaksikannya langsung. Pria itu tumbuh bersama kedua gadis kembar menggemaskan di sebelah rumahnya sejak mereka masih sama-sama memakai popok, tidak ada pria yang mengenal si kembar Jang sebaik Kyuhyun, dan tidak ada seorang pun yang menyadari kesenjangan yang tercipta di antara kedua gadis kembar itu.

Eunbi selalu menyangkal bahwa ayahnya cenderung memihak pada Eunbyeol. Setiap kali Kyuhyun berargumen, gadis itu akan bilang bahwa tindakan ayahnya hanyalah wujud dari keadilan yang sudah ditanamankan sejak awal di keluarga mereka. Tuan Jang penganut keras paham memberikan hadiah bagi anaknya yang berprestasi, jika kedua putrinya pulang ke rumah dengan rapor memuaskan, pria itu akan mengabulkan permintaan gadis-gadis kecilnya. Sebaliknya, jika rapor yang diperoleh jelek, hukuman yang diperoleh juga setimpal.

Sayangnya Jang Eunbi memang bukan tipe gadis yang gemar duduk di dalam kelas untuk mencerna pelajaran memuakkan, dan hal itu berpengaruh pada rapor akhirnya—yang ujung-ujungnya berpengaruh pada cara tuan Jang memperlakukannya.

Memang Eunbi adalah gadis paling murah senyum dan paling ceria yang pernah Kyuhyun kenal, tapi semua itu hanya topeng yang ia pasang untuk menutupi kepedihan hatinya. Kepedihan yang semakin hari nampak semakin menjadi-jadi.

Lamunan Kyuhyun terusik saat gadis yang terlelap itu memanggil namanya pelan.

“Hey…” Eunbi menyapa parau. “Kau sudah kembali. Kenapa tidak membangunkanku?”

“Kau butuh istirahat.” Kyuhyun berdeham keras untuk menyamarkan suaranya yang serak.

“Tapi aku juga butuh makan.” Eunbi hendak bangkit dari ranjang, tapi pria itu bergerak cepat menghampirinya dengan semangkuk sup tomat yang masih cukup hangat.

“Ini makanlah, aku akan membasuh diri lalu tidur.”

“Kau akan berbaring di sampingku, kan?” Goda Eunbi dengan wajah jahil.

Pria itu mengangguk lemah. “Jangan macam-macam denganku.”

Eunbi terkikik. “Aku tidak akan berani melakukannya. Aku hanya takut tidur sendiri, Kyu. Kau tahu selama ini aku selalu berbagi kamar dengan eonni. Sejak eonni pindah ke apartemen pun aku tidur denagn eomma.” Terangnya manja.

Pria itu mengangguk.

“Dan aku takut hal terburuk terjadi di dalam tidurku.”

Mendadak tenggorokan Kyuhyun kembali tercekat. Pria itu berdeham keras sekali lagi sambil mencubit hidung Eunbi gemas. “Selama aku berbaring di sisimu, kupastikan itu tidak akan terjadi.”

 

 

tbc…

 

Advertisements

75 thoughts on “Truth Within – 1 [runaway]

  1. dayanaelf says:

    Gak tau kenapa… Jadi ikutan nangis karna kenangan flashback nya eunbi …
    Kyuhyun cuma gak bsa membedakan mana mencintai dgn tulus dan mencintai krna nafsu…
    Hehehehe….
    Pasti berat bgt hidup eunbi krna sll diperlakukan berbeda, padahal mereka kembar ,

    Thanks

    Liked by 1 person

  2. wienfa says:

    waduh..baru read nih..
    ya ampun khdupn eunbi kok miris banget deh..knpa orang tua ska memilah mmilih jga sih?klo ke anak tiri ya wajar..ini anak sndri..apa kbar?
    jangan bilang nnt d klnjtnny eunbi itu emng hamil kya teka teki d preview ny wkt itu..klo iya..berat bnget hdup dy! andwee..
    kak ssihobitt tlong rubah hati kyu jd cinta bkn sbgai shbt k eunbi..

    Liked by 1 person

  3. voreverv says:

    Ayahnya eunbi keras banget yak… Kan tiap orang pny passion dan kmampuan sndiri2..
    Eung.. Masih bingung jg pas baca prolog, knp eunbi tubuhnya berubah,? Berubah krn ada something kah,?..
    Next chap eonni. Keep writing and fighting!!!!

    Liked by 1 person

  4. yayuareum says:

    ah betapa keselnya aku ..bisa baca tp engga bisa komen karna ya taulah hp jadul..uh mian…..selalu suka apapun yg tertuluis disini karena benar benar daebak dan sangat membuat kt ikut dalam suasana yg ada di tulisan ini.

    Liked by 1 person

  5. diah sulistia says:

    huhuhu… eunbi udah di nomor dua kan ayahnya. kyuhyun jg yg notaben nya cowok yg disukainya jg hanya menganggap dia sahabat ngga lebih.
    parah lg kyuhyun suka sama eunbyeol kembaran eunbi.. lengkap sudah eunbi-ah..

    Liked by 1 person

  6. ddianshi says:

    Kehidupan eunbi sangat2 menyedihkan 😦 kenapa tuan jang pilih kasih? kan eunbi juga anak kandungnya 😥 terlepas eunbi kurang pintar dll 😥 😥 dan sekarang kyuhyun pun sama menyakiti eunbi 😥

    Liked by 1 person

  7. ladybook123 says:

    Kasian eun bi… rasanya pasti sedih bgt dpt perlakuan ga adil gini..
    Baru part 1 aja mata uda berkaca2….
    Gimana part berikut2nya… bengkak lg deh as usual 😂

    Liked by 1 person

  8. Vikyu says:

    Ayah eunbi keras banget, sangking kerasanya sampai nyakiti hati anak nya
    Part pertama aja udh buat penasaran abis
    Banyak teka tekinya
    Di prolog juga ada nyinggunh tentang kondisi eunbi yg ga diketahui orng tuanya
    Emang eunbi sakit ya ? Penasaran bnget

    Liked by 1 person

  9. imgyu says:

    dinomor duakan walaupun nyatanya anak ke dua itu rasanya euwhh sekali. Susah-susah usaha pas hasilnya memuaskan malah ga dihargai, eunnbi malah kali nasibmu

    Liked by 1 person

  10. miran yang says:

    Baru nyempatin baca dan komen sekarang, dan ternyata cerita nya kali ini juga ga kalah menarik dengan yang lain.. cuma udah muncul sinyal sinyal konflik nya dari mana mana aja sepertinya yah, soal keluarga nya eunbi, dan sakit nya juga (tebakan aku) yah..
    Okay, sekarang aku lanjut baca lagi yah
    hwaiting for next part yaa ^^

    Liked by 1 person

  11. Seo HaYeon says:

    Di chapter awal aku sudah banyak meniikkan airmata 😢 haaa…. sediiih…. Eunbi pasti sakit hati banget.. tega banget bapaknya bilang gitu.. well.. semua org memiliki kelebihan n kekurangan dri masing2, ah aku ga tau harus ngmong apa lagi.. cuma bisa lgsg nangis bacanya huaa…. kereenn! Crita kakak sll sukses dlm mnyampaikan emosi. Tiap part itu dijamin pasti sudah punya plot yg bagus! Kalimatnya pun enak sekali mengalir kaya air.. 😄😄😄

    Liked by 1 person

  12. missluck says:

    Sebenar’a jauh d lubuk hati’a Kyuhyun q yakin p yg dia rasa terhadap Eunbi tu sebenar’a Cinta.
    Terlihat sekali dr sikap dan perhatian’a selama nie.
    Maaf sebelum’a mendadak q inget sm ff yg punya main cast kembar ky gn,
    Yg memiliki kesenjangan sifat karakter n cara mereka d perlakukan.
    Dan mereka kebanyakan menggambarkan salah satu d antara mereka menjadi sosok yg antagonis.
    Harapan q moga j ff nie bawa angin baru dalam kisah yg ky gini.
    Jujur j q suka bgt sm ff2 km sbelum2’a yg pernah q baca d sini.
    Semua’a lain dr yg lain
    Dan moga j kali niepun bgt.
    SEMANGAT!!!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s