Stupid Anxiety – 7 [Agony]

 

 

40

*Gambar milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Married Life, Fluff, A slice of Life

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

 

 

Cho Kyuhyun duduk sabar di ruang tunggu U.G.D sambil mempertimbangkan kata-kata yang akan disampaikannya, pria itu sedang mencoba cara terakhir sebelum ia berani menyatakan ‘menyerah’ dalam memperjuangkan kehadiran bayi mereka. Pria itu sudah menghubungi ibu dan ayahnya untuk meminta tolong mengawasi Sera sementara ia sendiri akan berjuang mencari keluarga dari donor istrinya. Kalau boleh jujur, pria itu pun sudah putus asa. Ia tidak sanggup memandang lama ke dalam manik mata Sera, sebab hanya kehampaan yang bisa ia lihat di sana. Ia tahu jadwal operasi abortus yang dijadwalkan besok akan benar-benar menghancurkan jiwa Sera—dan juga jiwanya. Kyuhyun ingin menjadi sosok yang bisa dijadikan sandaran bagi istrinya, namun ia pun kesulitan menjaga serpihan hatinya yang semakin hancur saat tenggat waktu mereka semakin dekat.

Lampu penanda operasi sedang berlangsung dipadamkan, tidak lama kemudian dokter Song melangkah keluar ruangan. Wanita itu menyambut keluarga pasien yang ditanganinya sejenak, memberitakan bahwa operasi berjalan lancar sekaligus menyampaikan tahap prosedur lanjutan yang harus mereka lalui—sebelum ia menyadari ada seorang pria dengan wajah muram tengah menantinya di sudut ruang tunggu U.G.D. Dokter Song membungkuk sopan pada keluarga pasien lalu berjalan menghampiri Kyuhyun sambil melepas masker operasinya.

“Aku tahu hari ini adalah jadwal piketmu di U.G.D. tapi bisakah aku juga berargumen bahwa masalah ini juga tergolong darurat?” Mohon Kyuhyun tanpa basa-basi.

“Bagaimana kabar Sera?” Dokter Song jelas tidak bisa mengesampingkan kekhawatiran akan pasien kesayangannya itu.

Wanita paruh baya itu telah berjuang bersama Sera sejak ia divonis gagal jantung. Dokter Song paham perjuangan jatuh-bangun pasiennya, dan ia ingin Sera dan Kyuhyun bisa menjalani kehidupan normal yang patut mereka peroleh setelah perjuangan berat itu. Kalau ia boleh bersikap semaunya, dengan senang hati dokter Song akan membatalkan seluruh jadwalnya untuk mencari jalan keluar terakhir agar pasangan manis itu bisa menjaga janin mereka.

“Sera masih mencoba tegar, aborsinya dijadwalkan besok.” Suara pria itu terdengar parau dan kelelahan. “Dokter Song, aku akan berlutut jika harus—aku mohon, ikutlah bersamaku untuk mencari keluarga donor Sera. Aku paham jalannya tidak akan mudah dan aku pun paham bahwa aku bisa kecewa pada hasil yang akan kita temukan. Tapi aku harus melakukan sesuatu, Dokter. Aku tidak bisa duduk di rumah tanpa melakukan apapun selain menunggu waktu sampai calon bayi kami direnggut paksa karena alasan ini.”

“Apa Sera sedang sendirian sekarang?” Dokter Song semakin khawatir jika pasiennya harus melewati masa sulit ini tanpa kehadiran Kyuhyun di sisinya.

“Kedua orang tuaku sedang bersamanya, aku akan berada di sisinya besok—apapun keputusan akhir yang muncul.” Kyuhyun menelan gumpalan yang terasa menyesakkan dalam kerongkongannya. “Tapi kumohon, izinkan aku berjuang sampai detik terakhir. Jika keluarga donor menolak bekerja sama, mungkin aku bisa mempersuasi mereka. Jika mereka sudah pindah dari alamat yang tercatat pada data donor yang ada padamu, maka aku akan menghubungi seluruh koneksiku di kepolisian untuk mencari—aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku, Dokter—tapi kumohon, izinkan kami memperjuangkan ini. Dan aku tidak bisa melakukannya tanpamu sebagai mediator.” Kyuhyun membungkuk dalam sambil perlahan membawa lututnya mendekati lantai untuk berlutut di hadapan dokter Song.

“Kyuhyun-ssi, bangkitlah.” Suara wanita itu bergetar haru.

“Bantu kami sekali lagi, Dokter Song.” Kyuhyun tetap berlutut sambil menatap nanar pada lantai. “Aku tidak bisa melihat istriku depresi karena ini, aku tidak sanggup melihatnya hancur sekali lagi karena kegagalannya menjadi seorang ibu. Aku pun ragu akan kemampuan diriku untuk menenangkan dirinya nanti, sebab aku juga tahu hatiku akan hancur jika kami harus kehilangan calon bayi kami. Jadi kumohon, dampingi aku dalam perjuangan terakhir ini.”

 

*

 

Tidak biasanya Sera dan nyonya Cho sediam ini saat mereka bertemu, biasanya kedua wanita itu sudah sibuk menggosipkan banyak hal mulai dari keseharian Kyuhyun sampai gosip selebriti yang mereka dengar sehari-hari. Namun suasana muram dalam rumah itu memang terlalu menusuk, dari jauh saja nyonya Cho sudah bisa merasakan rasa putus asa Han Sera dan wanita paruh baya itu paham bahwa menantunya sedang tidak ingin diajak bicara.

Dua malam yang lalu Kyuhyun menghubunginya untuk meminta tolong menjaga Sera, supaya pria itu bisa melakukan perjuangan terakhirnya untuk mencari keluarga donor Sera. Kyuhyun juga menyampaikan kondisi Sera yang sudah pasrah demi menguatkan mental ibunya saat ia harus mengawasi garak-gerik Sera seharian.

Nyonya Cho bisa mengkonfirmasi kepasrahan itu. Saat ia dan suaminya mengetuk pintu rumah Kyuhyun pagi tadi, Han Sera hanya mengangguk sopan lalu pergi ke kamarnya untuk menyendiri. Kedua orang tua Kyuhyun menginap di sana untuk menjaga Sera, dan kondisi wanita itu tidak membaik di keesokan pagi saat ia keluar dari kamarnya untuk sarapan. Sera hanya bicara sedikit selama makan bersama mertuanya, lalu kembali menyendiri dalam kesunyian—seakan ia butuh waktu untuk mencerna nasib yang akan menyambutnya sore nanti.

Sera sibuk mengunci diri di kamar. Wanita itu berbaring di atas ranjang dengan pikiran kacau, di tangannya ia menggenggam beberapa lembar foto hitam-putih berisi gambar ultrasound janinnya yang diurutkan dari minggu satu ke minggu lainnya. Wanita itu mengamati perkembangan objek yang terlihat seperti kacang merah itu dengan seksama. Jika diperhatikan, objek itu memang terlihat semakin besar dan Sera bisa melihat wujud yang menyerupai gambar-gambar janin manusia di dalam buku biologi sekolahnya dulu pada gambar ultrasound yang terakhir diambil beberapa hari lalu. Usia kehamilannya sudah nyaris empat bulan sekarang dan ia sadar tingkat bahaya melakukan aborsi di saat kehamilannya sudah setua ini.

Tapi tidak peduli seberapa besar keinginannya untuk menjadi seorang ibu, Sera juga tidak bisa terus memaksakan kehendaknya—tidak di saat nyawanya terancam. Percayalah, Sera tidak takut mati. Ia siap mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk membawa kehidupan baru dalam rumah tangganya bersama Kyuhyun. Yang Sera takutkan adalah kehancuran hidup pria itu seandainya ia pergi, ia tahu seberapa besar cinta Kyuhyun padanya dan ia tahu bahwa separuh jiwa Kyuhyun akan lenyap jika Sera benar-benar meninggalkannya. Pikiran itu saja sudah cukup membuat Sera terjebak dalam dilema berkepanjangan, meskipun pada akhirnya ia mencoba berpikir waras dan mengutamakan keselamatan jiwa dari pria yang tidak pernah berhenti mencintainya.

Sera bangkit dari ranjang menuju armchair yang terletak di dekat jendela kamar, wanita itu mencoba menghapus pikiran-pikiran menyedihkan yang terus mengisi benaknya. Sayangnya, dari posisi duduknya sekarang Sera bisa melihat jelas seluruh sudut ruang tidurnya dan Kyuhyun, tiba-tiba saja semua memori kisah mereka yang terjadi melintas, dan membuat suasana hatinya semakin murung.

Ia ingat kali pertama menjejakkan kaki ke rumah ini, saat pria itu menjadi pilar penopangnya dalam proses penantian Sera akan donor jantung. Kamar ini telah menjadi saksi perjuangan mereka, telah menyaksikan bayaknya air mata yang mereka teteskan selama Sera berjuang untuk sembuh, telah mendengar jutaan kata cinta yang tidak pernah lupa mereka ucapkan pada satu sama lain, kamar ini juga telah menjadi saksi bisu yang mendengar bisikan impian dan harapan mereka—setiap inci di ruangan itu mengingatkan Sera akan besarnya cinta Kyuhyun yang tidak pernah berhenti mengalir untuknya.

Sera tahu bahwa menggugurkan kandungannya bukanlah akhir dari hidupnya atau akhir dari pernikahannya dengan Kyuhyun—namun rasanya demikian. Wanita itu cukup traumatis dengan ikatan pernikahan yang gagal. Meskipun ia tahu Kyuhyun selalu berkata bahwa semuanya baik-baik saja, dalam lubuk hatinya Sera tahu kenyataannya tidak akan demikian. Tidak akan ada pasangan yang ‘baik-baik saja’ setelah kehilangan calon bayi mereka, dan Sera pernah berada di posisi itu untuk memastikan asumsinya tidak salah.

Sekeras apapun usaha Sera untuk menghapus pikiran buruk akan masa depan rumah tangganya yang terancam hancur, hatinya masih terus meronta saat membayangkan keadaan itu di saat waktunya datang kelak. Ia masih menyimpan memori kelam saat suaminya yang pertama menjauh, dulu Sera berjuang mati-matian untuk sembuh karena ia percaya bahwa hubungannya dengan Taecyeon bisa diselamatkan setelah kondisinya pulih—yang ternyata tidak terlaksana. Tapi kali ini, jika pernikahannya gagal kembali, Sera bukan hanya kehilangan bayinya dan Kyuhyun. Wanita itu juga akan kehilangan pilar hidupnya, ia akan kehilangan sahabat terbaiknya, dan Sera yakin hidupnya akan terasa sangat hampa tanpa sosok pria itu di sisinya. Setidaknya saat kehilangan Taecyeon, Sera masih kuat bertahan karena kehadiran Kyuhyun, namun jika ia harus kehilangan suaminya sekarang, Sera merasa kematian adalah opsi yang lebih baik.

Air mata mengalir di atas wajah cantiknya saat bayangan menjalani hidup tanpa kehadiran Kyuhyun terus melintas. Sera membayangkan tatapan hampa pria itu, ia membayangkan raut wajah kaku khas pria itu saat ia sedang marah, ia membayangkan ekspresi kecewa Kyuhyun kelak setelah masa sulit ini berlalu. Bagaimana cara ia menguatkan dirinya kelak saat pria yang sangat dicintainya berbalik dan bersikap dingin atas kegagalannya yang kedua kali? Memang ini semua hanya asumsi Sera, tapi bukan berarti trauma lama wanita itu tidak mungkin terulang.

Untuk menenangkan hatinya, Sera meraih ponsel dan menghubungi nomor yang sudah ia hafal di luar kepala. Ia ingin mendengar suara suaminya, ia ingin pria itu mengatakan semuanya akan baik-baik saja—tapi panggilan Sera teralihkan pada voice mail. Apakah pria itu terlalu sibuk mencari jalan keluar untuk mereka? Atau pria itu tertekan dengan keadaan mereka sampai-sampai Kyuhyun juga memerlukan waktu untuk menjauh dari Sera sejenak—agar ia bisa mengamuk tanpa perlu menyakiti perasaan Sera? Apapun itu, Sera hanya menghela napas panjang dan kembali menyandarkan punggung pada armchair tempatnya duduk.

Perlahan Sera terangkat untuk membelai perutnya lembut, air mata mengalir semakin deras dan napas Sera semakin tidak beraturan saat ia mencoba bicara dengan calon buah hati mereka yang masih tumbuh dalam rahimnya.

Agi-ya, maafkan eomma.” Sera tersenyum pilu. “Kurasa aku tidak akan pernah bertemu denganmu, maafkan eomma karena tidak mampu memperjuangkan hidupmu. Tidak sepantasnya hidupmu kurenggut jauh sebelum kau dilahirkan, tapi sayangnya eomma akan melakukan hal kejam itu padamu.”

Wanita itu mulai terisak.

“Jangan pernah berpikir bahwa aku melakukan ini karena rasa benci, sebab nyatanya kami—eomma dan appa—sangat mencintaimu. Kau adalah anugrah dari Tuhan untuk kami dan  kau tidak akan bisa membayangkan seberapa besar kerinduan kami untuk menyambutmu dalam dunia kami lalu membesarkanmu.” Raungnya dengan suara semakin tinggi.

Sera mencoba usaha terbaiknya untuk tetap bernapas teratur, meskipun setiap tarikan napasnya benar-benar terasa berat dan menyakitkan.

“Aku percaya, jika kau dilahirkan, pasti kau akan menjadi seorang gadis kecil yang sangat pintar—mewarisi kecerdasan ayahmu yang luar biasa itu—aku sungguh berharap kau membawa banyak gen baik dari ayahmu, sebab ayahmu adalah manusia paling sempurna di mataku.” Sera menggigit bibirnya keras.

Wanita itu sudah tenggelam dalam lautan kesedihannya yang tidak berujung, ia ingin menghentikan ini namun lidahnya terus bicara pada calon bayi yang ada dalam kandungannya.

“Nanti kau akan bertemu dengan oppa-mu di surga. Dulu eomma juga mengecewakan oppa-mu karena tidak bisa menjaganya dengan baik, hanya saja dulu eomma tidak sempat mengucapkan salam perpisahan padanya. Jadi saat kau bertemu dengan oppa-mu, tolong sampaikan apa yang kutitipkan padamu hari ini; bahwa eomma tidak pernah berniat membunuhnya dan aku selalu menyesal karena telah gagal menjaganya. Tolong katakan pada oppa-mu bahwa aku mencintainya sebesar aku mencintaimu—dan maafkanlah ibu kalian yang serba kekurangan ini.” Seluruh tubuh Sera bergetar hebat. “Maafkan aku yang terlalu lemah dan tidak berdaya untuk menjaga kalian.”

Suara ketukan terdengar pelan pada pintu kamarnya, menghentakkan wanita itu dari monolog menyedihkan dengan janin dalam kandungannya sendiri. Sera melirik pada jam dinding di dalam kamar dan ia sadar bahwa waktunya telah tiba. Ini saatnya ia pergi ke rumah sakit untuk melakukan tindakan terkejam yang bisa ia lakukan pada calon bayinya. Wanita itu tidak bisa menunda lebih lama lagi.

Dengan langkah gontai dan wajah sembab Sera melangkah keluar dari kamar, disambut oleh ibu mertuanya yang menatap  balik dengan ekspresi muram yang sama. Nyonya Cho membimbing langkah Sera menuju ruang tengah di mana bapak mertuanya menunggu. Pria itu mencoba memberikan semangat pada Sera lewat sebuah senyum tipis yang gagal terlukis pada wajahnya yang bulat.

“Tenanglah, Nak. Kami akan mendampingimu setiap saat.” Tuan Cho menarik tubuh ringkih Sera ke dalam pelukannya untuk memberikan sedikit kekuatan pada menantunya yang terlihat putus asa.

“Dan Kyuhyun juga berjanji akan menemui kita di rumah sakit, pria itu tahu kapan jadwal operasimu—jadi bersabarlah.” Nyonya Cho menambahkan. Sepertinya bukan hanya Sera yang mencoba menghubungi Kyuhyun dan tidak mendapatkan jawaban dari pria itu.

Sera mengangguk pelan, ia kembali menangis namun yang mengalir dari matanya adalah air mata haru. Ia tidak tahu bagaimana cara mengucapkan terima kasih yang layak pada keluarganya saat ini yang terus mendukung dan membanjirinya dengan cinta tak bersyarat—sebuah perasaan yang juga membuat Sera semakin merasa bersalah karena segala kekurangannya.

“Terima kasih, Aboji. Terima kasih, Eomoni.” Wanita itu menunduk tanpa mampu menatap balik ke dalam mata mertuanya, ia tidak mau melihat sorot iba—atau lebih buruk lagi sorot kecewa—dalam manik mata orang tua Kyuhyun.

Kedua orang tua Kyuhyun menggiring Sera keluar dari rumah ke dalam mobil, mereka membiarkan menantunya duduk diam di kursi belakang. Keduanya paham bahwa Sera membutuhkan sedikit kedamaian sebelum ia harus menghadapi takdir kejamnya, dan mereka juga paham bahwa hanya satu orang yang Sera inginkan untuk berada di sisinya sekarang—suaminya yang masih belum menjawab panggilan telepon mereka seharian penuh.

 

*

 

Sera memeriksa ponselnya untuk kesekian kali, masih menati balasan atau kabar berita dari Kyuhyun. Di waktu yang semakin sempit ini, ia tidak lagi mengharapkan berita baik, Sera hanya ingin mendengar suara Kyuhyun. Calon bayi mereka akan segera direnggut dalam kurun waktu satu jam dari sekarang dan yang Sera butuhkan hanyalah kehadiran Kyuhyun di sisinya—untuk merengkuh Sera dalam kehancurannya dan juga untuk memberikan sedikit rasa nyaman.

Wanita itu menyibukkan diri demi mengalihkan fokus dari prosedur yang akan segera dijalaninya, ia membeli banyak majalah untuk menghabiskan waktu, ia bermain game dalam ponselnya, bahkan Sera mengunjungi lantai pediatrik untuk bermain lego yang disediakan di ruang tunggu mereka—yang membuatnya merasa lebih buruk lagi, karena Sera bermain sambil dikelilingi anak-anak kecil yang menggemaskan.

Semakin keras usaha Sera untuk menenangkan diri, semakin gelisah pula suasana hatinya.

Saat waktu menuju aborsinya hanya tinggal tiga puluh menit lagi, Sera menyerah untuk berpura-pura tenang. Wanita itu kembali mencoba menghubungi Kyuhyun yang masih mengalihkan panggilan pada voice mail. Wanita itu mengerang geram, ia tahu Kyuhyun sedang berjuang menyelamatkan nasib mereka tapi bohong saja kalau Sera tidak khawatir karena Kyuhyun tidak memberinya kabar apapun sejak semalam. Ada suara kecil dalam hati Sera yang mengatakan bahwa Kyuhyun menyingkir darinya saat ini karena pria itu tidak sanggup melihat keterpurukan Sera—pikiran yang membuat Sera terus menampar dirinya sendiri demi menghapus dugaan jahat itu jauh-jauh.

Ah, seandainya pria itu tidak pernah jatuh cinta padanya. Pasti Kyuhyun tidak perlu berjuang terus-menerus untuk memperjuangkan hidup Sera. Sera muak karena terus-terusan menjadi sosok lemah dalam hidup Kyuhyun, ia ingin menjadi wanita yang sehat seperti dulu, ia ingin menjadi wanita yang tidak selalu merepotkan suaminya sendiri dan ia ingin menjalani kehidupan rumah tangga dengan Kyuhyun tanpa selalu merasa bersalah pada pria itu.

Sera kembali melirik pada arloji kecil di tangannya, lima belas menit lagi. Wanita itu butuh privasi sekarang, ia harus menjauh sejenak dari keramaian dan juga menjauh dari kedua mertuanya yang terus mengawasi gerak-gerik Sera yang semakin resah. Wanita itu melangkah ke dalam kamar mandi untuk pasien disable, mengunci pintunya dari dalam, menurunkan dudukan kloset dan akhirnya duduk di sana sambil kembali menelepon Kyuhyun.

Kali ini ia berniat meninggalkan voice mail untuk suaminya.

“Kyu, ini aku.” Ujarnya pelan. “Sebentar lagi aku akan melakukan prosedur mengerikan itu.”

Sera menarik napas dalam-dalam untuk mencegah tangis histeris yang siap pecah dari dalam dirinya.

“Aku tahu kau mencoba yang terbaik sampai detik terakhir. Untuk itu, aku minta maaf. Maafkan aku, karena ketidakmampuanku, anugrah indah yang tumbuh dalam rahimku kini tidak akan pernah hadir dalam hidup kita. Aku akan mengabdikan seluruh sisa hidupku padamu jika kau bisa mengampuni ketidaksempurnaanku—tapi lagi-lagi aku harus minta maaf karena hanya kehidupan semacam ini yang bisa keberikan untukmu. Kuharap hidup kita akan tetap bahagia meskipun hanya kita habiskan berdua saja.” Sera menyedot hidungnya yang berair dengan kasar. “Seperti kata-katamu dulu, kita selalu bisa memelihara anjing untuk menghapus rasa sepi kita—kurasa itu bukan ide yang buruk. Tolong diingat, aku ingin anjing jenis Beagle nanti, Kyu.” Wanita itu mencoba terkekeh tapi justru isakannya yang semakin keras.

Sera membungkam mulut dan hidungnya untuk menyamarkan isakannya yang semakin menjadi. Wanita itu terus memaksakan diri untuk bicara pada voice mail ponsel suaminya demi menyalurkan segala kegundahan yang menumpuk dalam dirinya sekarang.

“Kyuhyun-a, terima kasihku tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan rasa bersyukurku atas kehadiranmu. Aku tidak pernah berminpi untuk memiliki seorang sahabat yang mendedikasikan dirinya untuk mendampingiku melalui semua ini, aku tidak pernah merasa pantas memperoleh hadiah sehebat itu, tapi kau membuktikan dugaanku salah. Sejak kau kembali dalam hidupku, hanya kebahagiaan yang kurasakan dan tidak akan pernah cukup upayaku untuk membalas budi padamu.” Sera menepuk-nepuk dadanya sejenak untuk mengatur deru napasnya.

Wanita itu menggigit bibirnya keras sambil mencoba mencari kata-kata yang tidak membuatnya hancur, sebab apa yang akan disampaikannya sekarang adalah bagian paling penting dari pesannya.

“Kyu, sebentar lagi namaku akan dipanggil. Aku akan melakukan yang terbaik dalam ruang operasi, kau tidak perlu khawatir, aku sudah terbiasa dengan ruangan mengerikan itu. Tapi aku takut, Kyu, aku takut cintamu akan berubah saat prosedur itu berakhir. Sebab aku pernah berada dalam posisi ini, dan aku pernah dipaksa berjuang melawan kegetiranku seorang diri saat kehilangan bayiku dulu.” Sera menengadahkan wajahnya ke atas untuk menahan aliran air mata. “Aku tidak akan menyalahkanmu jika itu terulang. Tapi kalau boleh aku memohon, tolong berpura-puralah bahwa hubungan kita baik-baik saja di bulan pertama, ne? ini permintaanku yang terakhir padamu.”

Kedua bahu Sera bergetar semakin hebat, ia tidak bisa membohongi dirinya lagi akan kehancuran hatinya sekarang.

“Berjanjilah kau akan berpura-pura bahwa keadaan kita baik-baik saja, pura-puralah untuk tetap mencintaiku seperti saat ini sebelum kau mencampakkanku nanti. Jika kau ingin berlari jauh dariku, lakukanlah secara bertahap, Kyu. Karena aku tahu, aku tidak akan sanggup hidup jika kau bersikap dingin dan meninggalkanku selepas prosedur ini dilaksanakan. Kumohon dampingi aku sejenak sementara aku mencoba mengumpulkan jiwaku yang hancur. Tolong, kabulkan permintaan terakhirku yang tidak tahu diri ini. Maaf karena aku masih egois dan menuntut kemurahan hatimu di saat genting seperti ini.”

Kini Sera membungkuk di atas dudukan toilet, melepaskan sisa tangisannya yang sejak tadi tertahan. Rasanya lega karena ia telah menyampaikan harapan terakhirnya pada Kyuhyun, namun juga menyakitkan baginya saat membayangkan hari di saat pria itu berlari menjauh darinya.

“Waktuku telah tiba, Kyu. Hati-hatilah dalam perjalananmu, ng? Kita bertemu nanti setelah aborsi ini selesai.” Sera mengakhiri pesannya pada voice mail Kyuhyun.

Sera menekan display merah pada ponselnya sebelum ia meraung untuk melepas sisa tangisnya yang tertahan. Wanita itu akan segera kehilangan hal berharga dalam hidupnya dan ia memiliki keyakinan jika ia kehilangan bayi mereka, maka ia akan kehilangan suaminya juga cepat atau lambat. Ironis, karena pada kesempatan kedua untuk menjalani kehidupan rumah tangga, Sera masih bisa mengacaukannya untuk masalah yang sama.

Tangis Sera terhenti karena pintu bilik toiletnya terbuka. Nyonya Cho sudah mengikuti gerak-gerik Sera sejak tadi dan ia pun mengawasi saat menantunya memilih sembunyi dalam bilik toilet disable. Wanita paruh baya itu memanggil petugas kebersihan untuk membuka paksa pintunya dari luar, karena ia pun sudah tidak kuat menahan kesedihan mendengar raungan Sera yang tertahan dari dalam bilik.

“Sera-ya, cukup sudah kau mengunci diri. Biarkan aku mendampingimu.” Nyonya Cho mengetuk pintu sejenak sambil membawa dirinya masuk ke dalam.

“Aku butuh waktu, Eomoni. Maaf.” Balas Sera tanpa menatap pada mertuanya. “Beri aku waktu sedikit lagi.”

Wanita paruh baya itu berlutut di sisi Sera, dengan lengannya ia merangkul punggung Sera yang bergetar, wanita itu mencoba menenangkan menantunya yang kalut, tapi air mata justru ikut mengalir deras dari matanya.

Mianhae, Eommoni. Aku tidak akan pernah bisa memberimu cucu.” Bisik Sera di antara isakannya.

“Jangan pikirkan itu, Sera-ya. Itu tidak masalah. Bagiku, memilikimu menjadi bagian keluargaku sudah menjadi anugrah. Jangan salahkan dirimu atas sesuatu yang di luar kuasamu.” Hibur nyonya Cho.

“Aku takut.” Aku Sera. “Aku merasa takut untuk janinku, aku takut untuk Kyuhyun, aku takut untuk…”

“Kau harus bersikap egois saat ini, pikirkan kesehatanmu dulu, Sayang. Kyuhyun akan mengatasi kesedihannya nanti, aku percaya sebab anak itu memiliki hati sekuat baja dan kau tidak perlu meragukannya sekarang. Kyuhyun akan datang mendampingimu, mungkin dia terjebak kemacetan saat ini, tapi aku mengenal anakku sendiri dan aku yakin pria itu pasti sedang berjuang agar bisa tiba di sisimu tepat waktu.” Nyonya Cho meremas tangan Sera erat. “Percayalah, kami tidak akan pergi meninggalkanmu, kami mencintaimu dan kita adalah keluarga—ingat itu.”

“Aku telah mengecewakanmu…” Sera mencoba bicara, tapi tangisnya kembali mengambil alih.

“Kau tidak mengecewakan kami, jangan pernah berpikir seperti itu.” Nyonya Cho bangkit dari posisinya lalu menarik paksa tangan Sera untuk ikut berdiri. “Pandang aku. Percayalah kita akan melalui ini bersama dan kita akan melanjutkan hidup kita seperti biasa. Kau tidak perlu khawatir, apalagi takut karena kami tidak akan beranjak dari sisimu, Sera-ya.”

Wanita itu tidak bisa menjawab, karena Sera sangat tersentuh dengan kebaikan hati keluarga Kyuhyun. Di tengah tangis mereka, Sera melangkah mendekati ibu mertuanya, melingkarkan lengannya di seputar bahu wanita paruh baya itu dan memeluknya erat. Baru setelah keduanya merasa lebih tenang, Sera mau digiring nyonya Cho menuju ruang operasi.

“Kami akan menunggu di sini, Nak. Kuatkan dirimu.” Tuan Cho menyambut dengan pelukan hangat saat Sera dan istrinya kembali dari tempat persembunyian.

Jika atmosfer di ruangan itu  belum cukup muram, keadaan terasa semakin buruk saat suster memanggil nama Sera ke dalam ruang operasi kecil untuk melakukan prosedur abortusnya. Sera diizinkan untuk mengajak satu orang untuk mendampinginya, namun ia memilih untuk melakukannya seorang diri. Ia tidak mau menciptakan memori traumatis pada mertuanya dan ia merasa hal ini lebih mudah dilakukan jika Sera hanya seorang diri di sana. Wanita itu membungkuk pamit setelah memeluk erat kedua orang tua Kyuhyun dan membiarkan suster mendorong kursi rodanya ke dalam ruang operasi.

Ini hanya operasi lain dalam hidupmu, Han Sera. Batinnya demi menguatkan diri sendiri.

Sera diminta mengganti dress putihnya dengan gaun pasien hijau milik rumah sakit, suster kemudian kembali mendorong kursi roda Sera ke dalam ruang tindakan di mana dokter Kang sudah menunggunya. Pria itu tersenyum lemah pada pasiennya, ia memberi perintah agar sang suster menyiapkan kebutuhan Sera sementara ia akan bicara sejenak pada pasiennya.

“Sera-ssi, maafkan aku. Prosedur ini tidak boleh ditunda lebih lama lagi.” Dokter Kang menarik kursi beroda dan duduk dalam posisi mata sejajar dengan Sera.

Wanita itu hanya mengangguk lemah, terlalu lelah untuk bicara.

“Aku akan menjelaskan prosedur abortus pada Anda, Sera-ssi.” Dokter Kang membuka rekam medis Sera di atas pangkuan wanita itu. “Anda akan dibius lokal, jadi apa yang terjadi di bagian abdomen dan cervix Anda tidak akan terasa. Dokter Ahn akan berlaku sebagai dokter anastesi dalam prosedur abortus ini dan dokter Lee akan menjadi dokter magang yang terus memantau kondisi vital Anda selama prosedur berlangsung.” Dokter Kang menunjuk dua dokter lain yang ada dalam ruangan itu.

Sera mengangguk lagi, berharap obrolan ini segera berakhir.

“Karena usia kandungan Anda masih di bawah 20 minggu, aku akan melakukan prosedur abortus lewat cervix dan tidak akan membedah rahim Anda seperti operasi c-section yang dulu pernah Anda lakukan. Anda tidak akan merasa sakit selama prosedur berlangsung, namun setelah obat bius memudar, Anda akan merasakan nyeri yang terasa seperti nyeri haid bulanan—dengan kram perut yang lebih intens. Tapi tenanglah, kami akan menuliskan resep untuk mengatasi nyeri itu. Apakah Anda memiliki pertanyaan tentang prosedur kita sore ini, Sera-ssi?”

Sera menarik napas dalam sebelum mengutarakan permohonannya. “Aku tidak memiliki pertanyaan, tapi aku punya satu permintaan.”

Dokter Kang menaikkan kedua alisnya, tapi mengangguk pelan untuk mempersilakan Sera bicara.

“Bisakah Anda  memberiku bius total? Sebab aku akan mendengar seluruh prosedur operasi jika dibius lokal dan sejujurnya perasaanku sangat hancur saat ini, Dokter. Aku khawatir akan kehilangan kewarasanku jika aku berada dalam kondisi sadar saat Anda mengeluarkan janin ini dari rahimku.” Air mata Sera kembali mengalir. “Semua ini sangat berat untukku, maka kumohon, kabulkanlah permintaanku ini. Izinkan aku tidur tenang agar aku tidak perlu menjalani sisa hidupku dengan bayangan prosedur ini terulang dalam setiap mimpi burukku. Aku akan mencoba mengatasi kesedihanku nanti setelah sadar dari bius, tapi selama prosedur itu berlangsung, kumohon… izinkan aku tidur dengan tenang.” Sera menggigit bibirnya keras.

Dokter Kang bangkit dari duduknya untuk berdiskusi sejenak dengan dokter Ahn untuk perubahan detil prosedur mereka, tidak perlu waktu lama sampai kedua dokter itu mencapai sebuah kesepakatan.

“Sera-ssi, kami mengabulkan permintaan Anda.” Dokter Kang mengangguk pelan padanya. “Maafkan aku, karena hanya ini yang bisa kulakukan untuk membantu.”

Sera menyedot hidungnya yang berair sambil tersenyum pahit. “Gwenchana, apa yang Anda lakukan sudah lebih dari cukup. Mari kita lakukan prosedur ini, apa aku harus duduk di sana?” Tunjuk Sera pada kursi tindakan yang sudah menantinya di tengah ruangan.

Suster membantu Sera bangkit dan memposisikan kaki Sera pada sandaran yang dibuat khusus untuk memudahkan kerja dokter kandungan dalam prosedur abortus. Dokter anastesi memposisikan diri pada sisi kiri Sera dengan sebuah masker plastik yang sudah diuapi obat bius, dokter itu meminta Sera untuk bernapas secara teratur dan membiarkan obat bius melumpuhkan kesadarannya perlahan. Wanita itu sudah sering melewati prosedur operasi, ia merasa familiar dengan aroma steril dan aroma obat bius yang mulai memenuhi indera penciumannya. Di antara kesadarannya yang mulai lenyap, Han Sera kembali membisikkan kata maaf yang terakhir pada janinnya, lalu hal terakhir yang bisa diingatnya adalah dokter Ahn yang meminta Sera menghitung mundur dari angka 30.

 

*

 

Satu-satunya hal yang bisa Sera rasakan melalui inderanya hanyalah udara dingin menusuk pada tempatnya berbaring, sepertinya ia menggigil dalam tidurnya. Hal yang ia tangkap kemudian adalah kesunyian mencekam yang mengelilinginya. Ini kali pertama Sera tersadar dari anastesi tanpa ada bunyi mesin pendeteksi detak jantung berbunyi konstan di sisinya. Otot-ototnya mulai bereaksi dan Sera berhasil menggerakkan beberapa jarinya sebelum ia bergumam kecil dan pada akhirnya membuka mata.

Detik saat kedua matanya terbuka adalah saat di mana Sera merasa hancur. Wanita itu tahu bahwa sadarnya ia dari pengaruh obat bius saat ini berarti satu hal—aborsinya telah selesai dan ia sedang dalam ruang pemulihan. Air mata kembali mengalir dari sudut mata Sera saat kenyataan itu memenuhi benaknya. Buah hatinya telah pergi sekarang, Sera tidak lagi berbadan dua dan ia sendirian. Isakan Sera yang semakin keras menarik perhatian dokter magang yang menjaganya, pria itu bangkit dari posisi duduknya dan langsung memeriksa vital Sera sebelum memanggil dokter Kang masuk.

Han Sera belum mampu menyusun kata-kata karena pikirannya masih kacau, tubuhnya masih lemah akibat efek obat bius dan ia belum bisa bicara dengan jelas. Tapi seandainya ia bisa bicara lantang, Sera akan membentak siapapun yang ada di dekatnya, ia akan menghajar siapapun yang mencoba mendekatinya, sebab hanya amarah yang menguasi dirinya sekarang—amarah pada dirinya sendiri. Namun karena tubuhnya masih lemah, Sera hanya sanggup mengalihkan emosinya lewat air mata.

Tidak lama setelah dokter magang keluar, dokter Kang masuk ke ruang pemulihan Sera dengan ekspresi datar di wajahnya. Tapi yang membuat wanita itu ingin meledak adalah sosok yang mengikuti langkah dokter Kang di belakangnya—Cho Kyuhyun.

Ini bukan pertama kalinya Kyuhyun memeriksa keadaan Sera dalam ruang pemulihan, tapi ini kali pertama Sera berharap suaminya pergi saja. Ia belum tuntas berdamai dengan emosinya sendiri sekarang, Sera belum puas meratap, ia belum selesai berkabung atas rasa kehilangannya, dan ia tidak membutuhkan keberadaan Kyuhyun sekarang—karena ia hanya akan semakin membenci dirinya sendiri jika pria itu di sana. Sera belum siap bertemu Kyuhyun, belum siap menatap sorot kecewa dalam wajah pria itu, belum siap mengatakan pada suaminya bahwa buah hati mereka sudah tidak lagi tumbuh dalam rahimnya.

“Han Sera-ssi, sesuatu terjadi saat pelaksanaan prosedur dan kurasa lebih baik suamimu yang menyampaikan berita ini.” Dokter Song berkata singkat setelah mengkonfirmasi seluruh kondisi vital Sera.

“Terima kasih, Dokter Kang.” Kyuhyun membungkuk sopan sebelum dokter itu meninggalkan mereka berdua saja.

Hati Sera mencelos saat ia mendengar suara serak Kyuhyun. Pria itu terdengar sangat lelah dan lemas, pasti Kyuhyun telah mengerahkan segala kemampuannya untuk menjaga janin mereka, meskipun kenyataannya benar-benar di luar kuasa mereka.

Kyuhyun menarik kursi beroda yang ada di dekatnya, mendudukkan diri di sisi brankar Sera. Perlahan pria itu meraih tangan Sera yang beku, menggosok-gosoknya pelan agar Sera merasa lebih hangat. Wanita itu sendiri tidak sanggup menatap suaminya, ia tidak punya nyali yang cukup besar untuk menghadapi kekecewaan Kyuhyun.

“Maafkan aku karena aku terlambat mendampingi prosedurmu.” Pria itu mulai bicara.

Bulir air mata kembali mengalir dari sudut mata Sera yang masih menghindari tatapan Kyuhyun. Wanita itu tidak sanggup membuka mulut untuk meminta maaf—sebab kata maaf tidak akan pernah cukup.

“Aku memang terlambat mengantarmu ke dalam, tapi tidak sepenuhnya terlambat.” Kyuhyun menghapus air matanya sendiri dengan seragam hijau ICU yang harus dipakainya. “Aku masih tidak percaya, jika aku terlambat satu menit saja untuk menerobos ke dalam ruang tindakan, kita akan kehilanagn buah hati kita selamanya. Aku masih merinding mengingat kejadian tadi, Sera-ya.”

Sera tidak terlalu mendengar jelas kata-kata Kyuhyun karena ia sendiri masih sibuk menangis. Yang terdengar jelas dalam telinganya hanya bagian ‘kita kehilangan buah hati kita selamanya’ dan kalimat itu membuat tangis Sera semakin menjadi.

Kyuhyun bangkit dari duduknya untuk mengamati keadaan Sera lebih dekat. Perlahan pria itu menghapus air mata yang membanjiri wajah istrinya dengan lembut sambil memaksa agar Sera menatapnya. “Sayang, mengapa kau menangis?”

Sera menggigit bibirnya keras, ia tidak bisa mengatakannya dengan lantang—permohonan maaf karena telah kehilangan buah hati mereka.

“Sera, tatap aku. Kumohon tatap aku, ayo kita sama-sama menenangkan diri. Aku ini memang sulit dicerna, tapi kumohon, tenanglah sejenak.” Kyuhyun membingkai wajah Sera sambil terus memaksa wanita itu untuk menatapnya.

Perlu waktu beberapa menit bagi Sera untuk menenangkan diri. Setelah napasnya teratur, Sera memberanikan diri untuk menatap suaminya. Apa yang Sera lihat kemudian terlalu memilukan untuk ia ingat. Kantung mata gelap yang menunjukkan kelelahan pria itu menggantung di bawah mata elangnya, ia melihat sisa air mata di wajah sembab Kyuhyun dan penampilan pria itu yang sangat berantakan.

“Apa kau sudah bisa kuajak bicara sekarang?” Kyuhyun mencoba memastikan Sera sudah bisa fokus padanya.

Wanita itu mengangguk pelan.

“Bagus, sebab aku membutuhkan atensimu saat aku menyampaikan berita ini.” Pria itu menarik tangan kanannya dari wajah Sera, lalu membawanya ke atas perut istrinya untuk mengusap lembut tonjolan yang masih ada di sana. “Anak kita masih di sini, Sera-ya… kita—”

Kyuhyun tidak sanggup menuntaskan kata-katanya, tangis pria itu pecah akibat seluruh rangkaian emosi yang menyerangnya dua hari penuh.

Mata Sera membulat, apakah ia salah dengar? Ia harap apa yang ia dengar tadi benar adanya.

Kyuhyun mencoba mengatur napasnya, mencoba menghentikan tangisnya sendiri karena ia harus menyampaikan berita baik ini dengan jelas agar istrinya tidak salah paham dan berhenti menyalahkan diri sendiri.

“Aku menemukan keluarga donormu.” Lanjutnya. “Mereka ada di luar, menunggu kondisimu pulih sepenuhnya. Mereka setuju untuk membantu kita, Sayang. Keluarga donormu memberikan rekam medis dan sejarah genetis mereka yang tersimpan baik di rumah sakit dekat tempat mereka tinggal.”

“Ne?” Sera hanya sanggup menyuarakan kebingungannya dengan kata itu.

“Kita boleh menjaga janin kita, Sayang.” Air mata bahagia mengalir dari mata Kyuhyun. “Buah hati kita masih ada di sini.” Kyuhyun kembali membelai perut Sera dengan buncahan emosi semakin menjadi-jadi.

Untuk pertama kali sejak ia mengetahui kehamilannya, Han Sera benar-benar merasa lega. Bagi wanita itu, rasanya beban berat yang selama ini menggantung pada bahunya terangkat dan akhirnya ia bisa tersenyum pada suaminya.

Jinjja? Aku benar-benar diperbolehkan untuk terus mengandung anak kita?” Bisik Sera lemah.

Pria itu mengangguk cepat sebelum mebanjiri wajah istrinya dengan ciuman. “Kita akan segera menjadi ayah dan ibu, Sera-ya. Akan ada versi kecil dari diri kita tidak lama lagi, kita akan bertemu dengannya lima bulan dari sekarang.” Kyuhyun berbisik mesra pada telinga Sera sambil perlahan membawa kecupannya pada bibir wanita itu.

Sera menyambut sapuan lembut bibir Kyuhyun dengan buncahan rasa bahagia, untuk pertama kali, akhirnya Sera berani memimpikan sebuah kehidupan sempurna untuk keluarga kecil mereka.

 

*

 

Berjam-jam setelah kesadaran Sera pulih sempurna, wanita itu akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan. Dokter Kang masih meminta Sera untuk dirawat selama dua hari agar kondisi wanita itu bisa terus dipantaunya. Kedua orang tua Kyuhyun ikut menjaga Sera sampai kondisi wanita itu benar-benar dinyatakan pulih oleh dokter Kang—baru saat itu mereka berani pulang ke rumah untuk beristirahat sejenak.

Sera bersyukur atas kehadiran keluarga Kyuhyun yang tidak berhenti mensuportnya, namun hari ini ia juga harus mempersiapkan diri untuk menemui keluarga baru yang tidak sabar ingin berjumpa dengannya.

Dalam usahanya mencari keluarga donor Sera, Kyuhyun pada akhirnya membawa keluarga itu untuk bertemu dengan istrinya. Pria itu mencoba meyakinkan kesediaan Sera untuk bertemu dengan orang tua dari wanita yang mendonorkan jantungnya untuk Sera, meskipun tegang, Sera setuju untuk menemui mereka—karena hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membalas budi pada keluarga yang telah menyambung kembali hidupnya yang dulu terancam.

Saat membawa keluarga donor Sera ke dalam ruang rawat, Kyuhyun mengulurkan tangannya ke arah Sera dan juga pada sosok ayah dari wanita yang mendonorkan jantungnya pada Sera dengan sopan. Meskipun tenaga Sera belum pulih sepenuhnya, wanita itu mencoba duduk tegak lalu membungkuk sedalam mungkin pada tiga orang asing yang masuk ke dalam kamarnya.

“Sera-ya, perkenakan ini keluarga Kim. Mereka membantu kita dengan cara memberikan seluruh rekam medis yang mereka miliki pada dokter Kang untuk membuktikan bahwa tidak ada kelainan genetis dalam keluarga mereka.” Jelas Kyuhyun.

Kemudian Kyuhyun dan keluarga donor Sera mulai menceritakan kronologis perjalanan mereka pagi tadi. Dari perbincangan itu, Sera baru tahu bahwa donornya meninggal karena sebuah kecelakaan mobil dan usia donornya baru 25 tahun saat kejadian itu berlangsung. Sera juga baru menyadari bahwa lagi-lagi dokter Song bertindak sebagai penyelamat hidupnya saat wanita itu mencoba mencari dokter pengganti untuk meng-cover jadwal piketnya di U.G.D. agar ia bisa menemani Kyuhyun mencari keluarga donor Sera. Kebetulan juga keberuntungan masih berpihak pada Kyuhyun dan Dokter Song karena keluarga itu masih tinggal pada alamat yang tercatat pada biodata donor.

Keluarga Kim berinisiatif mengikuti Kyuhyun ke Seoul, mereka berpendapat bahwa kehadiran mereka bersama dengan Kyuhyun dan dokter Song mungkin bisa memperkuat keyakinan dokter kandungan Sera untuk mengurungkan tindakan abortus yang telah dijadwalkan.

Sera membungkuk berkali-kali pada keluarga Kim, rasa syukur dan terima kasih yang ada dalam dirinya pada mereka tidak akan bisa dijabarkan dengan kata-kata. Beberapa tahun lalu, berita duka bagi keluarga Kim atas kematian anak gadis mereka menjadi berita baik untuk Sera yang mendapatkan donor jantung. Jika itu belum cukup mulia, keluarga itu kembali membantu Sera untuk menjaga kandungannya.

Bagi Sera, malaikat tidak harus turun dari langit dengan sayap mereka yang indah. Keluarga Kim yang menatapnya dengan sorot tak tertebak adalah bukti bahwa malaikat dapat menjelma dalam wujud manusia berhati mulia.

“Rasa terima kasihku tidak akan pernah cukup untuk pengorbanan keluarga Anda.” Sera membungkuk sekali lagi sambil menangis bahagia. “Aku turut berduka atas kehilangan kalian, dan terima kasih karena sudah memberiku kesempatan untuk terus hidup.”

Nyonya Kim mendekat pada sera, wanita dengan rambut putih itu meletakkan kedua tangannya di atas bahu Sera yang bergetar sambil mendorong agar Sera kembali duduk tegak. Sebab nyonya Kim ingin menatap Sera, ia ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa kematian putrinya tidak sia-sia, karena kematian Kim Ahyeon telah membawa kehidupan baru pada wanita di hadapannya.

“Bolehkah aku…” Nyonya Kim mencoba mengatur napasnya. “Bolehkan aku mendengar detak jantungnya?”

Sera mengangguk sigap sambil melebarkan kedua tangannya untuk mengizinkan nyonya Kim menyandarkan kepala di atas dada kirinya. Detak teratur yang didengar wanita paruh baya itu berhasil menenangkannya, kini ia percaya bahwa ada bagian kecil dari putrinya yang masih hidup dalam tubuh wanita lain. Nyonya Kim memejamkan mata seambil terus mendengarkan detak jantung dalam rongga dada Sera, pikirannya melayang pada rangkaian kejadian yang dihadapinya pagi tadi.

 

Nyonya Kim baru saja terbangun saat ia mendengar ketukan pada pintu depan rumahnya. Ia segera membangunkan suaminya agar pria itu memeriksa tamu yang muncul di saat matahari belum beranjak jauh dari ufuk timur. Dua sosok asing berdiri di depan pintu mereka, keduanya terlihat lelah dan putus asa, tapi keanehan pagi itu tidak berhenti di sana. Sang wanita asing memperkenalkan diri sebagai dokter Song—yaitu dokter yang bertanggung jawab menangani transplansi jantung putri keluarga Kim yang telah wafat dan pria di sampingnya diperkenalkan sebagai suami dari penerima transplan.

Bukan cara yang baik untuk memulai hari mereka tentu saja, saat keluarga Kim terpaksa diingatkan kembali akan kejadian menyedihkan yang terus membuat luka hati mereka menganga saat membahas Kim Ahyeon yang telah meninggalkan mereka di usianya yang masih sangat belia. Nyonya dan tuan Kim saling berpandangan dan tanpa bersuara mereka sepakat untuk menutup pintu dan mengabaikan dua tamu mereka yang telah membuka luka lama akan kenangan pahit tentang putri mereka.

Namun pria yang berdiri di balik pintu langsung berlutut beberapa saat sebelum daun pintu diayunkan padanya, pria gagah itu bersujud dengan wajah bersimbah air mata dan tangis pilu, pria itu memohon di tengah isak tangisnya agar diberi kesempatan untuk menjelaskan maksud kedatangan mereka. Kegigihan yang tercermin dari sikap pria itu telah menggugah rasa iba pasangan Kim dan pada akhirnya suami-istri itu mengizinkan kedua tamu mereka masuk ke dalam rumah.

Dengan napas tersenggal-senggal, pria itu menjelaskan maksud kunjungan mereka. Berkali-kali pula ujung hidung pria itu nyaris menyentuh lantai karena ia sibuk bersujud, memohon dengan gigih akan bantuan yang ia tahu sangat sulit untuk dikabulkan. Awalnya pria itu masih tenang saat mengucapkan rasa terima kasih atas kemurahan hati keluarga Kim yang telah bersedia mendengarkan kisahnya, berterima kasih atas kesempatan kedua untuk menyambung nyawa istrinya yang diperoleh dalam bentuk donor jantung yang dicangkok dari putri pertama keluarga Kim, baru pada akhirnya ia menjelaskan maksud kedatangannya berkaitan dengan kehamilan sang istri.

Pria itu terus memohon dan memohon untuk diberi kesempatan membahagiakan istrinya, memohon kesempatan untuk membangun keluarga kecil yang mereka impikan, dan pria itu akhirnya menjelaskan kaitan dari kunjungannya dengan nasib yang menanti istrinya di Seoul—bahwa ia membutuhkan rekam medis dan sejarah kelainan genetis dari keluarga donor.

Keluarga Kim awalnya enggan membantu, bukan karena mereka tidak memiliki rasa kemanusiaan, namun karena hal ini hanya membuka luka lama yang coba mereka pendam tentang memori kepergian putri mereka. Namun saat pria itu terus memohon tanpa lelah, seakan hidupnya bergantung pada kemurahan hati keluarga Kim, akhirnya rasa iba meluluhkan pertahanan mereka. Tuan Kim teringat akan tindakan mulia yang dilakukan putrinya atas nama kemanusiaan, bahwa putrinya terdaftar sebagai pendonor organ dengan tujuan yang baik dan tidak sepatutnya hal itu disia-siakan.

Akhirnya mereka setuju untuk mengumpulkan rekam medis keluarga dari rumah sakit lokal, dengan keyakinan bahwa apa yang mereka lakukan saat itu hanyalah meneruskan tindakan mulia yang telah dilakukan Kim Ahyeon saat gadis itu meninggal, bahwa pengorbanan putri mereka masih terus membawa berkah dan kebahagiaan bagi manusia lain dalam wujud yang berbeda.

Penasaran dengan sosok wanita yang menerima jantung putri mereka, akhirnya keluarga Kim memutuskan untuk ikut serta dengan pria menyedihkan itu dan dokter yang mendampinginya ke Seoul. Dengan kesedihan yang kembali terkuak, keluarga Kim mencoba berpikir bahwa kepergian Kim Ahyeon tidak pernah sia-sia—gadis itu pernah menyelamatkan satu nyawa dan kini mereka akan menyelamatkan nyawa lain yang tumbuh dalam rahim resipiennya.

 

Pertemuan nyonya Kim dengan sosok Sera yang masih membiarkannya mendengar detak jantung Kim Ahyeon segera berubah menjadi reuni yang sangat emosional, baik bagi Sera maupun ibu dari donornya. Kedua wanita itu kembali terisak atas rasa haru yang menyatu dengan rasa terima kasih yang tidak bisa digambarkan. Sera selalu bersyukur atas kesempatan kedua yang diberikan Tuhan untuk hidupnya, namun baru hari ini ia paham menagpa dokter melarang dengan tegas agar pasien tidak bertemu dengan keluarga pendonor—hal itu bisa mengantarkan pada rasa bersalah yang besar dan kesedihan yang luar biasa bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Kau mengingatkanku akan sosoknya.” Nyonya Kim menarik kepalanya menjauh dari dada Sera, kemudian wanita paruh baya itu menghapus air mata di wajah Sera dengan tangannya. “Putriku juga cantik dan sangat ramah, senyumnya sama manis dengan senyum yang kau miliki. Aku benar-benar bersyukur bahwa penerima donor anakku adalah kau, Han Sera-ssi.”

“Terima kasih banyak, Eomoni—bolehkah aku memanggimu demikian?” Sera kembali membungkuk sopan. “Aku mendapat kesempatan untuk menjalani hidup yang kedua kali karena putrimu, aku turut berduka atas kehilangan kalian, namun di saat yang bersamaan, aku sangat berterima kasih—terima kasih untuk kesempatan hidupku yang kedua.”

Nyonya Kim menggelengkan kepala sambil mengusap bahu Sera. “Putriku meninggal karena benturan langsung pada kepalanya—dokter yang menanganinya dulu berkata, jika seseorang meninggal karena sebab itu, tidak ada rasa sakit yang ia rasakan karena semua terjadi dengan cepat—setidaknya putriku tidak perlu menderita saat ajal menjemputnya. Malam itu adalah malam terburuk dalam hidupku dan rasanya lebih baik aku mati dan ikut bersamanya, sebab kau tahu, tidak sepantasnya anak meninggalkan orang tua mereka lebih dahulu.”

Kini gantian Sera yang mengusap bahu nyonya Kim untuk menenangkan wanita paruh baya itu.

“Tapi putriku selalu memiliki cara untuk mengejutkan kami, salah satu cara yang ia lakukan adalah mendaftar sebagai donor organ. Bagi kami keputusannya itu tidak masuk akal, dan aku masih memegang teguh pendapat itu sampai malam ini, saat aku mendengar detak jantungnya dalam tubuhmu. Kini aku paham, bahwa ini adalah cara yang dipilih Ahyeon untuk tetap hidup—jadi terima kasih, Han Sera-ssi. Terima kasih karena kau telah menjaga baik-baik jantung ini, terima kasih karena kau telah melanjutkan hidup yang baik untuk menghormati apa yang tersisa dari putriku.”

Sera membungkuk sekali lagi pada nyonya Kim dan dua keluarga Kim lainnya yang masih berada di kamar bersamanya.

Pertemuan mereka terusik oleh seorang suster yang masuk untuk mengingatkan bahwa jam besuk sudah berakhir. Sera masih harus istirahat dan wanita itu punya sederet perjanjian dengan dokter Kang terkait dengan daftar aktifitas yang boleh dan tidak boleh dilakukan semasa hamil, perjanjian yang harus Sera dipenuhi jika mau diizinkan terus melanjutkan kehamilannya—salah satu janji Sera adalah banyak beristirahat.

“Baiklah kami akan pamit.” Nyonya Kim mengangguk paham pada suster yang mengingatkannya.

“Han Sera-ssi, Cho Kyuhyun-ssi, apakah boleh kami mengunjungi kalian lagi besok? Atau di lain waktu saat kau sudah pulih?” Tuan Kim akhirnya bersuara. “Aku paham bahwa istrimu butuh banyak istirahat.”

“Tentu saja, dengan senang hati.” Sera mengangguk cepat pada suami nyonya Kim. “Kalian boleh datang kapan saja, Abonim.”

“Terima kasih, Sera-ssi.”

Kyuhyun menawarkan tumpangan pada keluarga Kim untuk mengantar ke hotel yang dengan senang hati akan Kyuhyun carikan dan akomodasi untuk memfasilitasi mereka, tapi keluarga itu menolak dengan dalih kerabat mereka akan menjemput dan mengantar mereka selama keluarga Kim ada di Seoul. Tuan Kim bahkan memaksa Kyuhyun untuk segera kembali ke kamar Sera untuk mendampingi istrinya, sebab Kyuhyun sudah meninggalkan Sera cukup lama kemarin dan tidak sepatutnya wanita itu bersedih seorang diri—usul yang tidak mungkin Kyuhyun lawan karena ia pun sudah cukup merasa bersalah karena meninggalkan Sera seharian penuh dalam kondisi kalut.

Setelah memastikan keluarga Kim memang dijemput oleh kerabat mereka, pria itu menuntun langkahnya kembali ke kamar Sera. Istrinya masih sibuk menghapus sisa air mata pada wajahnya saat Kyuhyun masuk ke dalam kamar. Pria itu melangkah mendekati ranjang dan Sera otomatis menggeser posisinya agar Kyuhyun bisa ikut berbaring di ranjang pasien bersamanya. Pria itu tersenyum kecil sambil melepas sepatu, ia naik ke atas ranjang sesuai permintaan Sera sebelum melingkarkan lengannya di seputar tubuh Sera sambil membanjiri wajah istrinya dengan kecupan mesra.

Sera menyembunyikan wajah di atas dada Kyuhyun, menghirup aroma maskulin suaminya yang selalu berhasil menenangkan segala keresahan dalam hatinya, bagi Sera semua yang terjadi hari ini berlangsung sangat cepat dan ia masih bingung dengan kronologis kejadiannya.

“Apa yang kau pikirkan, ng?” Kyuhyun mengecup puncak kepala Sera yang masih terdiam sambil memeluknya erat.

“Kyu… apakah aku benar-benar diperbolehkan mengandung?” Sera bertanya sekali lagi untuk memastikan berita baik yang ia dengar tidak salah.

“Ng, dokter Song memeriksa rekam medis keluarga Kim dalam perjalan dari Gangwon menuju Seoul. Keluarga itu tidak memiliki penyakit mematikan dan tidak ada dalam keluarga mereka yang punya riwayat penyakit jantung.” Jelas Kyuhyun tenang.

“Berapa lama kau harus menyetir untuk mendapatkan dokumen yang kita butuhkan? Maafkan aku yang lagi-lagi sudah merepotkanmu.” Gumam Sera pelan.

“Berhenti meminta maaf mulai sekarang, ne? Aku tidak mau mendengar permohonan maafmu lagi.” Pria itu mengacak rambut Sera, “tapi mumpung konteks pembicaraan kita masih dalam ranah meminta maaf, maka aku juga ingin meminta maaf padamu. Aku sungguh mencoba untuk menyetir secepat mungkin ke Seoul, tapi jalanan sangat padat pada jam pulang kerja. Maaf karena aku terus mengalihkan panggilanmu, aku perlu berkonsenterasi saat sibuk menyetir seperti orang gila hari ini.”

“Tidak apa-apa. Akan lebih sulit bagiku jika kau di ruangan itu.” Sera mengangkat wajahnya sekilas untuk mengecup pipi Kyuhyun.

“Dan pesan macam apa yang kau tinggalkan dalam voice mail ponselku, ng?” Kyuhyun mencubit hidung Sera gemas. “Kau pikir perasaanku untukmu secetek itu? Cih, ‘pura-puralah untuk mencintaiku sebelum kau mencampakkanku nanti’—aish Han Sera! Aku tersinggung!”

“Ne?”

“Karena kau memandangku sebagai pria yang akan lari darimu saat keadaan kita sulit.” Kyuhyun memanyunkan bibirnya manja. “Padahal nyatanya kau tahu bahwa hatiku ini sekuat baja untuk menghadapi segala tingkah onarmu.”

“Tetap saja…”

“Jangan pernah meninggalkan pesan konyol seperti itu lagi, ng?” Ancam Kyuhyun sambil menyandarkan kepala pada bantal di belakangnya. “Satu lagi yang harus kusampaikan.”

“Yaitu?”

“Aku ingin kau camkan ini dalam benakmu: meskipun kita telah diberi lampu hijau untuk melanjutkan kehamilanmu, bukan berarti kau boleh lengah dan tidak memperhatikan kondisi kesehatanmu.” Ancam Kyuhyun

“Aku tahu.”

“Aku serius, Sera-ya!” Kyuhyun mencubit hidung Sera kembali sambil membelalakkan matanya. “Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu, kau tidak boleh ceroboh lagi dan kau harus belajar bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kau tidak boleh lupa meminum vitaminmu, kau tidak boleh mangkir dari jadwal pertemuan dokter, dan kau harus rela untuk tidak banyak bergerak saat kandunganmu semakin besar. Saat kau merasa kehamilanmu mulai sulit, jangan ragu untuk meminta bantuanku atau kedua orang tuaku. Kami akan selalu mendampingimu. Lalu saat waktu untuk melahirkan anak kita telah tiba, dengarkan apapun yang diperintahkan dokter Kang! Jangan membantah.”

Sera mengangguk-angguk ringan sambil tersenyum, tanggapan yang membuat Kyuhyun semakin jengkel karena sepertinya hanya ia yang kelewat khawatir akan kondisi Sera—seperti yang sudah-sudah.

“Jangan tersenyum konyol seperti itu, Han Sera! Aku serius dengan kata-kataku. Kau benar-benar tidak boleh ceroboh kali ini.” Rengek Kyuhyun kesal.

“Aku tahu, Kyu. Tapi aku tersenyum karena kata-katamu membuatku merasa sangat bahagia dan senyum ini tidak bisa kuhapuskan dari wajahku sekarang.” Sera menengadahkan wajah untuk menyapukan bibirnya ke atas bibir Kyuhyun. “Tadi kau bilang aku akan segera menjadi seorang ibu—tidak pernah kubayangkan keajaiban itu akan terjadi dalam hidupku, Kyu. Terima kasih.”

Kyuhyun terenyuh oleh kata-kata sederhana Sera yang disampaikan dengan segenap rasa syukur. Pria itu tersenyum lebar sambil mengusap tonjolan kecil pada perut istrinya, dengan nada jahil Kyuhyun berbisik, “Dan aku akan segera menjadi seorang ayah—ugh, menakutkan sekali, bukan?”

 

tbc…

 

 

Advertisements

77 thoughts on “Stupid Anxiety – 7 [Agony]

  1. imgyu says:

    aku gagal faham selama ini, aku fikir dokternya itu laki-laki ternyata dokter song ibu-ibu xD dua pasangan ini tuh bener-bener bikin iri. Mereka nggak akan jera berharap selama ada waktu {} semoga fetus di rahin sera bisa sehat sampai bulan ke sembilan

    Liked by 1 person

  2. wienfa says:

    pengen nangis..tapi takut batal puasa nya.huaaa..di tahan aja.
    ya ampun..gk kbyang kalau d posisi sera kya gmna hncur ny.dan ya tuhan sebuah ke ajaiban bgt klo sera d blehkn mngndung dn dy gk jadi abortus..aku ikut bahagia.tp ttp aja baper..
    buat kyuhyun..km super duper suami idaman tersabar..salut sm peran nya. smoga d part selanjutnya..indah pda waktu ny akan tiba. semangat kak ssihobitt

    Liked by 1 person

  3. Putrikimcho says:

    Huaaaa akhirnya mereka ada harapan untuk bahagia 🙏🙏🙏 semoga bayinya selamat sampe lahirr… Setelah sekian lama sera menderita akhirnya dia bisa berharap bisa bahagia.. Huaaa senengnya…

    Nexttt kakk semangatt 💪💪

    Liked by 1 person

  4. Hana Choi says:

    Ah lega banget pada akhirnya keajaiban datang sekali lagi dalam hidup sera, dan aku berharap semoga aja keajaiban akan terus datang dalam hidup sera dan kyuhyun sampai akhir nanti. Semoga aja ff ini happy ending karena aku bener” pengen keluarga mereka bahagia banget

    Liked by 1 person

  5. Alea says:

    Akhirnya Sera boleh mengandung juga. Gak sia-sia perjuangan Cho nyari keluarga pendoror jantung Sera. Dan lagi dokter Song yang jadi pahlawan. Kasian Sera yang kelewat sedih waktu nunggu saat-saat aborsi, orangtua Cho juga sedih lihat menantunya kayak gitu.

    Liked by 1 person

  6. CHONONA says:

    Hahaa geli sendiri waktu Kyuhyun yang sibuk dengan kebawelan nya untuk mengingatkan Sera, sementara Sera hanya senyum. Gak kebayang gimana Kyuhyun yang selalu kaya emak emak bawel setiap kali Sera ceroboh dan bertindak sesuka hati. Ahhh plooooongggggggg sekali rasanya, selamat buat calon orangtua –Kyuhyun dan Sera–

    Liked by 1 person

  7. nae.ratna says:

    alhamdulillah akhir.a dapet kabar baik juga nih
    sumpah baca.a ikut nangis huhuhu
    perjuangan.a gila2an ini mah…
    salut buat kyuhyun n sera tetep semangat menantikan buah hati.a^^

    Liked by 1 person

  8. ByunSoo says:

    Hwa…😭😭😭😭😭😭😭😭 aku ga tau mewekku in awalnya karna sedih krna kata2 sera buat kyu y begitu menyakitkn.
    Dan aku juga mewek krena sera dan kyu bisa punya bayi …..
    😢😢😢😢😢 Ya Allah…..sumpah ini part bikin ngaduk emosi abis……
    Ya Ampun….baik sekali hati anaknya keluarga KIM itu …..
    Kyu jdi over kn….sera sih….
    Hah….😧😧😧😧😧 senengnya deh bisa ngeliat sera ama kyu jdi senyum lg,2 art eh slh 1/5 part aj bc mereka y lg galau2nya ceritany aj udah bikin hati jdi ikutan remuk…lah ap lg kalau aborsi itu bkln dilaksanakn beneran coba….
    Maaf ngoceh aj…
    Semangat kak litya buat ngelanjutinnya.

    Liked by 1 person

  9. dayanaelf says:

    Omooooo…. Sumpah.. Banjir air mata , tisu mana tisu woooi…

    Menegangkan, bikin kalut , mengharukan, jd seolah2 saya yg cewek jg ikut ngerasain apa yg sera rasain dan itu….ugh, amit2 deh , jgn sampe yaah,,
    Perjuangan si kyuhyun ampun2an dah disini, detail bgt dan beraaat bgt ,
    Pokoknya ff ini TOP bgt !!
    Speechless niih mo ngmong apa lg ,

    Thanks bgt !!

    Liked by 1 person

  10. novi says:

    Syukurlah akhirnya sera bsa ttp hamil.
    Perjuangan kyuhyun utk mnemui kel.pndonor tdak sia2.
    Bca part ini sngt emosional, campur aduk. Mau nangis rasanya.

    Liked by 1 person

  11. lyeoja says:

    Aku udh sesegukann bacanyaaaa,,, baca kata2 perkata, mana degdegan lagiii…
    Dan akhirnya jeng jeng jeng….
    Gak jadi aborsiii….

    Kok aku yg lega ya… hiihihi
    Ngaduk2 emosi bangt

    Liked by 1 person

  12. yoongdictasticgorjes says:

    Dari awal udh dibuat mewek sama nih ff smpe mlm2 nyariin tysu,,tapi syukurlah keajaiban itu msh ada buat mreka mskipun harus mlewati masa2 sulit dulu karna mreka memang pantas bhagia ,.
    trakhir thanx bwt authornya yg udh bikin ff keren kaya gini ff kedua favorit aku setelah One Last Shoot..

    Liked by 1 person

  13. Ddeulgi says:

    Yey akhirnya kyu sama sera punya kesempatan bisa jadi ortu 😊
    Perjuangan kyuhyun emang bener2 wow sekali. Tapi serius jadi pengen punya suami kayak kyuhyun. Dan pasti susah
    Sera beruntung banget dapetin kyuhyun

    Liked by 1 person

  14. melisayoonhaeharuoneday says:

    Trimakasih karna sudah membuat air mataku mengalir lancar author… Trimakasih jg karna membuatku berpikiran bahwa sera akan menjalani aborsi,,dan kenyataannya tahap itu hanya sampai bius total. Jujur,,aku sangat2 tersentuh dengan keajaiban itu. Detik terakhir keajaiban datang dan siap untuk membawa perubahan yg berdampak positif dlm kehidupan rumah tangga mereka. Salut untuk kyu yg tidak pernah lelah berjuang untuk istrinya, salut juga untuk dokter song dan jg keluarga kim yang tidak segan membantu. Waaah…..part ini dikelilingi banyak orang2 baik…termasuk jg kedua orang tua Kyu.. mereka menerima menantu mereka tanpa syarat. Keren…..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s