Stupid Anxiety – 6 [Liability]

 

39

*Gambar milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Married Life, Fluff, A slice of Life

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

————————————————————-

Typo mah pasti banyak, nggak usah di-mention aku juga udah tau kok karya ini nggak sempurna (atuhlah, percaya deh udah aku cek berkali-kali, kalau masih nyelip itu pure khilaf, masih mau nyinyir juga?)

80% berisi narasi dan ini panjang.

Tidak disarankan bagi yang tidak kuat (alias tidak sabar) untuk membaca narasi.

————————————————————————————————————————

 

 

Wanita itu tidak tahu berapa banyak jumlah kunjungan dokter kandungan yang telah mereka lalui. Kyuhyun dan Sera berpindah dari satu dokter ke dokter lainnya sekedar untuk mendengar penolakan demi penolakan atas prospek mereka menjaga calon bayi dalam kandungan Sera. Semua kunjungan itu memiliki pola yang sama; pemeriksaan kondisi vital Sera selalu baik, tidak ada yang bermasalah dengan tekanan darahnya, kemudian pada akhir pemeriksaan Sera selalu dikatakan dalam keadaan sehat dan tidak bermasalah untuk melanjutkan kehamilan. Namun saat dokter-dokter itu mulai membuka file riwayat penyakit Sera, ekspresi keraguan selalu muncul dalam raut wajah mereka—seketika itu juga para dokter berubah pikiran dan menyatakan bahwa kondisi Sera bisa jadi beresiko jika kehamilannya dilanjutkan. Vonis itu diperburuk dengan penolakan halus dari dokter-dokter itu untuk mengambil kasus Sera yang masih bersikeras ingin melanjutkan kehamilannya—sebab tidak ada seorang pun yang berani memberi jaminan keselamatan di atas 25% dalam trisemester ketiga masa kehamilan wanita itu kelak.

“Tapi Anda adalah dokter kandungan terbaik di negara ini, Dokter Kang.” Cho Kyuhyun yang sudah muak mendengar penolakan mulai melakukan tawar-menawar. “Dokter lain menyerah pada keadaan istriku saat mereka membaca rekam medisnya, tapi kumohon, tidak bisakah Anda mempertimbangkan kami? Kumohon, bantulah kami untuk bisa mempertahankan janin ini. Aku tidak akan memaksakan kehendak seandainya keselamatan istriku memang terancam, tapi sebelum Anda membuat keputusan untuk menggugurkan kandungan Sera, bisakah Anda mempertimbangkan kembali vonis Anda, Dokter?

“Cho Kyuhyun-ssi, jika yang Anda inginkan adalah jaminan bahwa masa kehamilan istri Anda akan berlangsung aman, maka aku tidak bisa menjanjikan hal itu. Alasannya simpel, tidak ada jaminan bahwa jantung baru yang tertanam dalam tubuh Han Sera-ssi ini tidak bermasalah—bisa jadi jantungnya sangat sehat namun tidak menutup kemungkinan kondisi jantungnya juga tidak sempurna. Selama aku tidak memiliki informasi terkait riwayat kesehatan donor istri Anda, maka keputusanku akan tetap sama, Kyuhyun-ssi.” Terang Dokter Kang lebih spesifik.

“Bagaimana jika Sera berjanji akan bed-rest sepanjang sisa masa kehamilannya?” Tawar Kyuhyun lagi.

“Oh, hal itu pasti harus dilakukan, terutama pada trisemester ketiga. Tapi bukan itu kekhawatiranku yang utama.” Dokter Kang meraih gambar MRI Sera dari riwayat operasi pencangkokan jantung wanita itu. “Seperti yang bisa kita lihat di sini, meskipun organ itu telah menyatu sempurna dan berkordinasi tanpa penolakan dari tubuh resipien, jantung ini masih tetap tercangkok dengan jahitan. Tentu saja jahitan ini lebih rapuh jika dibandingkan dengan kondisi wanita normal tanpa sejarah pencangkokan. Yang kukhawatirkan adalah sambungan ini akan terpengaruh seiring dengan meningkatnya tekanan darah Han Sera-ssi sepanjang sisa masa kehamilannya.” Dokter itu menerangkan dengan sabar.

“Jadi kalau boleh kusimpulkan, tidak peduli sesukses apa transplansi jantungku dulu, yang pasti aku tidak akan pernah bisa mengandung?” Sera menyuarakan kesimpulannya. “Yang Anda katakan adalah apapun yang terjadi, tubuhku memang tidak diciptakan untuk mengandung—selamanya. Begitukah, Dokter Kang?” Suara Sera mulai bergetar. Memang ini bukan penolakan dokter yang pertama, tapi vonis-vonis yang didengarnya selalu saja terasa memilukan.

Dokter Kang mengangguk pelan. “Aku turut menyesal atas keputusan ini, Han Sera-ssi. Aku sungguh-sungguh ingin membantumu, tapi sebagai seorang dokter aku juga telah mengambil sumpah untuk tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan nyawa manusia. Kehamilan mengancam nyawamu dan juga nyawa bayimu kelak—sehingga tindakan yang cepat harus segera dilakukan sebelum keadaan semakin runyam.”

Sera menatap kosong pada layar monitor yang masih menampilkan foto MRI lamanya. Wanita itu tidak mampu memahami perasaannya sendiri sekarang; ia ingin menangis namun terlalu lelah untuk meneteskan air mata, hatinya hancur setiap kali dokter menjelaskan hal yang sama, dan seumur hidup belum pernah Sera membenci dirinya sendiri seperti ini.

“Namun katakan seandainya—seandainya—aku bisa mendapat informasi dan riwayat kesehatan tentang donor istriku, lalu seandainya tidak ada masalah dengan riwayat donor itu dan aku bisa membawa dokter jantung yang mencangkokkan jantung Sera untuk menjamin bahwa jahitannya telah menyatu sempurna dengan organ Sera yang lain, bersediakah Anda membantu kami mempertahankan ini, Dokter Kang?” Kyuhyun masih memutar akal untuk meyakinkan dokter di hadapannya untuk membantu mereka. Sebab pria itu telah berjanji untuk berjuang mempertahankan janin mereka, dan itulah yang sedang dilakukannya sekarang.

“Jika kondisinya demikian, akan kupertimbangkan.” Untuk pertama kali jawaban dokter Kang terdengar lebih positif. “Namun janin ini terus tumbuh, Tuan Cho, waktu kita terbatas—bahkan seharusnya janin ini diangkat minggu ini sebelum tumbuh semakin besar dan membahayakan istri Anda.”

“Aku akan mencari informasi tentang donor Sera segera, Dokter.” Kyuhyun mengangguk paham.

“Menggali informasi tentang pemberi donor bukanlah hal mudah, Kyuhyun-ssi. Biasanya mereka menolak memberikan nama, dan meskipun Anda menemukan nama mereka, belum tentu pihak keluarga bersedia menyerahkan rekam medis dari donor istri Anda. Terlebih untuk donor yang telah meninggal.” Dokter Kang mempertingatkan.

“Kami masih punya waktu empat hari sebelum jadwal aborsi Sera, Dokter.” Kyuhyun mengatupkan rahangnya. “Aku tidak berniat menyerah sekarang. Yang kubutuhkan sekarang hanya lampu hijau dari Anda bahwa kami bisa melakukan ini seandaikan seluruh data yang dibutuhkan berhasil kutemukan.”

Dokter Kang menatap pasangan yang terlihat lelah dan putus asa di hadapannya. Sang suami jelas terlihat sangat keras kepala sampai ia menolak vonis dokter Kang begitu saja. Tekad dalam sorot matanya terpancar jelas dan dokter itu tahu bahwa penolakannya akan terus dilawan dengan sanggahan-sanggahan tak berujung dari pria itu. Sedangkan di sampingnya, sang istri terlihat pasrah. Di saat suaminya berapi-api mencari jalan keluar, wanita itu hanya menatap kosong ke atas pangkuannya, seolah siap menjalani vonis kematian janinnya sendiri—lengkap dengan tatapan putus asa yang membuat raut wajahnya semakin muram. Pasangan itu terlihat sangat manis dan serasi, mereka pasangan yang terlihat sangat ingin memperjuangakan kebahagiaan mereka lewat kehadiran seorang anak, pasangan yang juga sudah lelah mendengar penolakan. Sebagai Dokter yang memiliki hati nurani, mana mungkin dokter Kang tega melenyapkan secercah harapan mereka begitu saja, jelas pria itu juga ingin membantu.

“Baiklah.” Putus dokter Kang. “Seandainya—kutekankan sekali lagi, seandainya—memang Anda bisa menyerahkan rekam medis donor Han Sera yang didukung dengan jaminan dari ahli jantung yang menangani kasus istri Anda, maka aku akan mempertimbangkan ulang keputusanku untuk membantu kalian.”

Kyuhyun melirik pada wanita di sisi kirinya sambil meraih tangan Sera yang terkulai lemah. “Kami akan melakukan usaha terbaik untuk mengumpulkan data itu, Dokter.”

Han Sera menarik sudut bibirnya untuk memaksakan senyum, tapi usaha menyedihkan itu hanya membuat ekspresinya terlihat semakin memilukan. Sejujurnya Sera sangat menghargai usaha mati-matian Kyuhyun untuk mensuport dan terus berusaha untuk membuat kehadiran buah hati mereka menjadi kenyataan, wanita itu pun bersyukur karena akhirnya berhasil menemukan seorang dokter yang rela bersusah payah untuk membantu masa kehamilannya. Tapi empat hari? Empat hari untuk mengumpulkan semua bukti itu? Tidak peduli sebrilian apa Kyuhyun atau seluas apa koneksi pria itu, empat hari adalah waktu yang terlalu pendek.

Sera menghela napas panjang, ia sudah bisa memprediksikan pembicaraan yang akan berlangsung empat hari dari sekarang di ruangan tempat mereka duduk saat ini. Sejak mengetahui dirinya hamil, Sera sudah belajar untuk merelakan kepergian darah dagingnya sendiri, dan sepertinya ia hanya punya sisa waktu empat hari untuk berpura-pura bahagia sebagai seorang calon ibu.

 

*

 

Jika berurusan dengan kondisi jantungnya, Sera dan Kyuhyun pasti akan mencari dua sosok hebat yang mereka jadikan pahlawan dalam kisah cinta mereka—dokter Song dan dokter Kim. Setelah membuat perjanjian dan menunggu jadwal kosong spesialis jantung itu, akhirnya mereka berhasil masuk ke dalam jadwal antrian dokter Song keesokan harinya.

Mengingat pertemuan dengan dokter Song akan dilakukan sore hari, Sera dan Kyuhyun melakukan aktifitas harian mereka seperti biasa.  Dengan berberat hati Kyuhyun tetap harus pergi ke kantor dikarenakan ada sebuah rapat penting dengan mantan bosnya. Sera sendiri lebih memilih untuk menghabiskan harinya di luar rumah, sebab baginya mengurung diri dalam rumah terasa semakin memuakkan dan wanita itu perlu menyibukkan diri agar bisa melupakan kekhawatirannya sejenak.

Sera memulai perjalanan siang itu dengan jalan-jalan santai ke taman di dekat rumah mereka, namun kegelisahan hatinya terus memaksa agar wanita itu pergi sekalian ke pusat perbelanjaan untuk mengalihkan pikiran. Bagaimanapun Sera akan segera disuruh untuk melakukan bed-rest, maka ada baiknya ia memuaskan keinginannya untuk cuci mata sebelum Kyuhyun mengikatnya ke ranjang untuk istirahat total.

Wanita itu berjalan di sepanjang toko-toko yang berjajar di Gangnam, tidak banyak hal yang menarik untuk dilihat, namun perhatian Sera teralihkan saat ia melihat sebuah toko peralatan bayi terletak di salah satu sudut jalanan. Sera sadat bahwa mengunjungi toko itu akan menjadi pedang bermata ganda baginya, dan tidak sepantasnya ia terus tenggelam dalam kesedihannya, tapi sepasang sepatu all-star dengan warna pink fuchsia menyala benar-benar menarik perhatiannya. Dengan hati ragu, Sera mendorong pintu masuk toko itu dan sejenak ia bisa melupakan kenyataan pahit yang sedang dihadapinya saat ia dikelilingi berbagai keperluan bayi.

Dari tempatnya berdiri, Sera mendengar sepasang suami-istri di  sudut toko sedang berargumen mengenai baby bouncer yang diminta istrinya, Sera menyaksikan dua wanita sedang berdiskusi tentang mainan apa yang sebaiknya mereka berikan sebagai hadian kelahiran anak sahabat mereka, Sera juga mengamati boks bayi yang menurut iklannya bisa dipanjang-pendekkan sesuai dengan pertumbuhan bayi. Ada juga pegawai toko yang sedang menjelaskan perbedaan ukuran baju bayi pada kostumer yang terlihat kebingungan.

Ada bagian dari diri Sera yang ingin ikut menghapiri pegawai toko untuk menanyakan produk mana yang terbaik untuk bayinya kelak, ia ingin ikut serta dalam perdebatan suami-istri yang meributkan masalah baby-bouncer untuk menanyakan pentingnya benda itu dalam kesehariannya sebagai seorang ibu kelak, ia ingin tahu sepanjang apa boks bayi di hadapannya bisa ditarik dan ia ingin sekali ikut serta dalam perbincangan dua wanita tadi sekedar untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka.

Tapi Sera tahu diri.

Wanita itu tahu tidak ada gunanya ia mengetahui semua informasi itu jika pada akhirnya ia harus menggugurkan janin yang tumbuh dalam kandungannya. Meskipun ia tahu Kyuhyun sedang berjuang mempertahankan buah hati mereka, Sera juga tahu vonis kejam itu selalu mananti dalam setiap kunjungan dokter kandungan yang mereka lakukan. Nampaknya semua dokter spesialis kandungan sudah memiliki suara bulat tentang nasib Sera, namun mereka berusaha bermurah hati pada Kyuhyun yang masih bersikeras mempertahankan kehamilan Sera—sementara istrinya sendiri sudah berada dalam tahap pasrah.

Pada akhirnya Sera tetap membeli sesuatu di toko itu, wanita itu keluar menenteng sebuah kantung kecil berisi sepasang sepatu bayi bewarna pink fuchsia yang tadi mencuri perhatiannya. Jika wanita itu berniat mengasihani dirinya sendiri, ia tidak mau melakukannya setengah-setengah. Lebih baik Sera hidup sebagai pemeran utama dalam sebuah cerita sedih tersingkat berisi enam kata yang pernah dikarang oleh Earnest Hemingway—’for sale: baby shoes, never worn’ (Dijual: Sepatu bayi, belum pernah dipakai).

Sera lanjut berjalan di sepanjang trotoar dengan pikiran kosong. Ironis baginya karena saat ini ia merasa kesepian, padahal ia dikelilingi banyak orang di sepanjang perjalannya di Gangnam. Entah apa yang ia butuhkan saat ini, teman bicara? Sepertinya tidak. Ia tidak ingin berinteraksi dengan banyak orang selama menyelami kesedihannya seorang diri. Mungkin Sera membutuhkan kehadiran Kyuhyun di sisinya, namun ia pun tidak sampai hati menunjukkan kegundahan hatinya yang terdalam pada pria yang tidak kenal lelah dalam mendukung dan mencintainya. Sera tahu suaminya juga lelah, ia paham kesedihan Kyuhyun dan ia menyadari kepasrahan yang mulai merayapi hati pria itu—dan seperti biasa Cho Kyuhyun berusaha menutupi itu semua dan bersikap tegar demi menguatkan hati Sera.

Wanita itu juga menyalahkan dirinya; seandainya Sera tidak keras kepala, seandainya wanita itu menggugurkan kandungannya segera setelah ia mengetahui kehadiran calon buah hatinya, mungkin keadaan tidak akan serunyam ini. Mungkin hanya Sera sendiri yang tersakiti, mungkin Kyuhyun tidak akan pernah kerepotan dengan berbagai kunjungan dokter yang tiada akhir. Meskipun terdengar kejam, kadang Sera mengutuk dirinya sendiri yang tidak mau mendengar kata-kata Kyuhyun dulu.

Pikiran kosong Sera teralihkan oleh diplay lain dari sebuah toko kue. Wanita itu melangkah masuk ke dalam café dengan mata membulat yang fokus pada sepotong key-lime pie yang terdisplay indah dalam etalase. Wanita itu memesan kue dan untuk sementara memutuskan untuk menghabiskan sore harinya dengan duduk di pinggir jendela untuk mengawasi orang yang berlalu-lalang.

Meskipun indera pengecap Sera terpengaruh oleh hormon kehamilan dan membuatnya menjadi lebih kritis perihal makanan, wanita itu masih tetap sanggup menghabisan kue dengan lahap—walaupun pilihan Sera kini berkisar pada kue yang asam. Dalam tiap suapan key-lime pie pesanannya, Sera menikmati sedikit ketenangan yang bisa ia nikmati. Sejenak ia merasa kesedihannya menguap begitu saja, seperti biasa, makanan manis memang bisa mengangkat suasana hati wanita itu dalam waktu tersuram sekalipun.

Sera nyaris menghabiskan kuenya saat ia menangkap sosok pasangan yang tidak ingin ditemuinya saat ini. Di luar kafe, mantan suami Sera berjalan santai dengan nyonya Ok yang baru sambil tertawa lepas pada satu objek yang terletak beberapa meter di depan mereka.

Tuhan sedang bercanda denganku hari ini. Batinnya.

Sera mengikuti arah pandangan pasangan itu dan ia melihatnya—seorang gadis kecil sedang berjongkok penasaran mengamati tutup gorong-gorong jalanan. Sera tidak mampu melepas pandangan dari gadis kecil itu saat Ok Taecyeon menggendong tubuh mungil anak itu ke dalam pelukannya.

Wanita itu terpana dalam posisinya, tidak yakin dengan perasaannya sendiri. Waktu yang berlalu sejak perceraian mereka sudah lama sekali dan keduanya memang sudah melanjutkan kehidupan masing-masing. Tapi bukan faktor itu yang membuat hatinya terasa nyeri saat ini, melainkan fakta bahwa Ok Taecyeon pada akhirnya berhasil menjalani sebuah kehidupan yang seharusnya mereka miliki dulu—sebuah kehidupan yang sampai detik ini pun tidak mampu Sera berikan pada Kyuhyun.

Pasangan yang sejak tadi ia awasi justru melangkah masuk menuju café tempatnya berada dan wanita itu harus segera sembunyi. Hari Sera sudah cukup buruk tanpa ditambah dengan acara pertemuan canggung dengan mantan suaminya, terlebih saat ia terlihat berantakan dan menyedihkan seperti saat ini, tanpa Kyuhyun di sisinya. Kondisi tidak berpihak pada Sera, wanita itu tidak punya waktu untuk mengasihani diri sendiri sebab ia harus bertindak cepat karena Semesta belum puas mengolok-olok dirinya hari ini.

Sera meraih tas dan kantung belanjaannya untuk pindah ke tempat duduk yang tersembunyi oleh partisi cafe sambil berharap dalam hati bahwa Taecyeon dan Yoona akan memilih tepat duduk sejauh mungkin dari lokasi persembunyiannya saat ini.

Sesuai harapan, Taecyeon dan Yoona duduk pada posisi yang cukup jauh dari tempat Sera berada, sehingga Sera bisa menghindari pertemuan canggung di antara mereka. Tapi ada efek buruk lainnya dari keadaan ini—Sera harus duduk manis di tempatnya sampai pasangan itu selesai menikmati kue pesanan mereka—dan Sera tidak punya pilihan lain selain mengamati keluarga kecil itu dalam diam.

Sepertinya pernikahan Taecyeon dan Yoona pada akhirnya berjalan mulus meskipun Sera pernah secara tidak sengaja mengacaukan hari sakral pernikahan mereka. Senyum kecil terlukis pada wajah Sera saat ia mengamati raut tenang dan jahil telah kembali pada wajah Taecyeon—ekspresi yang ia ingat dari pertemuan mereka dulu sekali. Ditambah lagi kehadiran gadis kecil yang duduk di samping Taecyeon terus berceloteh bawel. Sera mendengus geli melihat cara mantan suaminya memperlakukan gadis kecil itu layaknya orang dewasa, dan Sera bisa mengamati besarnya tingkat kemiripan gadis itu dengan ibunya yang cantik jelita. Mungkin bertahun-tahun lalu, seandainya Sera tidak pernah mengalami keguguran, ialah yang akan duduk di posisi Yoona. Mungkin mereka yang akan menghabiskan waktu sore dengan putra kecil mereka, dan mungkin Sera akan memiliki keluarga kecil manis yang selama ini diimpikannya.

Namun Sera cepat-cepat menghapus pikiran melankolis itu. Ia sangat bersyukur dengan kehidupannya bersama Kyuhyun. Bagi Sera, pria itu adalah kesempatan kedua dan juga hadiah terindah untuk kehidupan barunya yang diberikan Tuhan—dan selamanya ia akan terus bersyukur karena memiliki seorang sahabat yang ia cintai untuk mendampingi hidup selamanya. Tidak, Sera tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi dalam hidupnya, ia tidak pernah meratapi kisahnya dengan Taecyeon, ia tidak pernah mengandai jika pria itu tidak pernah meninggalkannya—sebab Sera berpegang teguh pada kenyataan bahwa ia bisa menjalani kehidupannya yang sempurna sekarang sebagai sebab-akibat dari masa lalunya yang menyedihkan.

Sera tidak pernah membandingkan hidupnya sebelum dan sesudah kehadiran Kyuhyun, sebab ia tidak merasa itu adalah hal yang patut dilakukan. Suaminya adalah pria terbaik dalam semesta Sera dan wanita itu tidak bisa menggambarkan besar rasa terima kasihnya pada sosok pria yang kini mengisi setiap relung hatinya.

Hanya satu yang disesalkan Sera, yaitu kenyataan bahwa Cho Kyuhyun jatuh cinta kepadanya.

Karena jika Kyuhyun tidak memilih Sera, tidak akan ada beban hidup Sera yang harus ikut dipikulnya, tidak akan ada kesulitan dan kesedihan Sera yang harus Kyuhyun bagi bersamanya dan pria itu bisa hidup lebih bahagia dengan wanita lain yang lebih sehat dari Sera. Jika Kyuhyun memilih kehidupan itu, mungkin ia sudah dikaruniai anak dari istinya yang sehat, alih-alih mendapatkan seorang wanita penyakitan yang rapuh seperti Sera.

Wanita itu menghirup napas dalam-dalam untuk menahan tangisnya. Hari ini adalah salah satu hari di mana Sera merasa sedang mendapatkan hukuman dari Semesta atas kesalahan yang tidak bisa ia pahami. Jika banyak orang berkata karma itu berlaku, maka kejahatan macam apa yang telah Sera lakukan hingga ia pantas menerima semua hukuman ini? Ia adalah seorang anak manis yang berbakti pada kedua orang tuanya sejak kecil, ia juga mendedikasikan hidupnya sebagai istri yang patuh selama menikah dengan Taecyeon, Sera tidak pernah berbuat jahat pada orang lain, bahkan di saat malaikat maut berdiri di hadapannya dulu, Sera tetap berjuang mempertahankan hidupnya dan tidak memilih jalan pintas untuk mengakhirinya—wanita itu sungguh tidak menemukan satu alasan yang bisa menjadi penjelasan bahwa apa yang dijalaninya saat ini adalah ‘karma’. Ironisnya, hidup Sera terus diuji dan sejujurnya wanita itu sudah kehabisan daya untuk bertahan.

Sera kembali menghembuskan napas panjang setelah puas mengamati keluarga kecil mantan suaminya. Sementara menunggu Taecyeon dan Yoona menghabiskan kue mereka, Sera memutuskan untuk bersandar pada kursinya dan memejamkan mata sejenak. Secara otomatis tangannya terangkat untuk membelai perutnya yang mulai sedikit menonjol, senyum pilu kembali terukir di wajahnya.

Sera tahu bahwa selama ini Kyuhyun dan dirinya hanya membohongi diri sendiri, ia paham bahwa sebentar lagi mereka harus merelakan janinnya pergi, sebentar lagi dunia Sera benar-benar akan runtuh, namun di saat bersamaan ia harus tetap tegar agar Kyuhyun tidak ikut hancur bersamanya. Kini Sera mengerti mengapa Kyuhyun memilih untuk tidak memiliki anak sejak awal—karena dipaksa untuk melenyapkan calon bayi mereka dengan cara ini jauh lebih menyakitkan ketimbang tidak melakukannya sama sekali.

Seandainya ia tidak keras kepala. Seandainya ia patuh saja dengan titah Kyuhyun yang dulu terdengar kejam. Seandainya.

Berbagai pikiran buruk mulai melayang dalam benaknya, ia takut Kyuhyun akan marah karena keteguhan Sera untuk memaksakan kehendaknya, ia takut Kyuhun akan bersikap dingin padanya seperti yang dulu pernah dilakukan Taecyeon saat Sera kehilangan bayi mereka, dan Sera benar-benar takut pria itu akan membencinya. Wanita itu bisa memikirkan jutaan alasan bagi Kyuhyun untuk membencinya, dan ia hanya berharap ada satu saja alasan yang membuat pria itu tetap bertahan.

 

*

 

Satu jam kemudian Sera akhirnya tiba di kantor Kyuhyun. Meskipun perjanjian awalnya Kyuhyun akan menjemput Sera di rumah, wanita itu merasa lebih baik ia menghampiri suaminya karena Sera juga telah berkeliaran seharian di wilayah kantor Kyuhyun.

Setibanya di kantor pria itu, Sera berbelok ke toilet terlebih dahulu. Hormon kehamilannya telah membuatnya terus bolak-balik buang air kecil lebih sering dari biasanya. Tuntas dengan urusannya, wanita itu mencuci tangan dan membuka pintu toilet. Saat pintu baru terbuka sedikit, ia menangkap sosok suaminya sedang berjalan berdampingan dengan pria paruh baya yang ia kenali sebagai mantan bos Kyuhyun. Wanita itu siap keluar untuk menyambut mereka, tapi niatnya langsung diurungkan saat sang bos menyebut nama Sera dalam pembicaraannya dengan Kyuhyun.

“Jadi kau menolak tawaran baikku ini karena Han Sera? Lagi?” Suara pria itu terdengar jelas meskipun Sera telah menutup pintu toilet di balik punggungnya.

Bagus! Sekarang aku menguping pembicaraan privat dan konfidensial suamiku sendiri. Hardik Sera dalam hati.

“Wanita itu membutuhkanku, Sajang-nim. Aku sangat tertarik dengan tawaran kerjasama yang kau tawarkan, tapi aku tidak yakin punya keleluasaan waktu saat ini.” Kyuhyun menolak sopan.

“Baiklah, aku paham.” Pria itu berdeham. “Tapi bakat brilianmu itu sangat tersia-siakan, Kyuhyun-ssi. Dulu kau juga mengundurkan diri dari firmaku karena Han Sera, kali ini tawaranku kau tolak karena alasan yang sama.”

“Itu keputusanku, Sajang-nim. Lagipula aku tidak membawa kerugian apapun pada bisnismu, kan?” Kyuhyun menjawab dingin.

“Memang tidak, tapi kau tetap karyawan terbaik yang pernah kurekrut. Maaf kalau aku bicara blak-blakan, tapi menurutku kemampuan yang kau miliki terlalu tinggi untuk sekedar mengatasi kasus-kasus perceraian sederhana seperti ini. Seingatku, dulu kau pernah menjadi pria ambisius yang juga ingin menangani kasus pidana selain menjadi pengacara perceraian. Kau menjadi sosok yang berbeda sejak wanita itu datang dalam hidupmu.”

“Sebab wanita itu adalah hidupku, Sajang-nim. Aku keberatan jika kau bicara tentang istriku dengan pandangan seperti ini.” Sahut Kyuhyun tajam.

“Maafkan aku, aku sungguh-sungguh minta maaf jika menyinggungmu. Hanya saja, aku berharap setelah nyonya Cho pulih, kau bisa bersantai sedikit dan menjalani hidup penuh ambisimu, seperti saat kau pertama kali interview di kantorku.” Pria itu terkekeh. “Ingatkah kau saat mimpimu adalah menjalani pekerjaan sepenuh hati tanpa membiarkan orang lain menghalangi antara kau dan kebenaran? Kau memimpikan hidup yang bisa kau atur sesuka hatimu tanpa dibebani orang lain.”

Sera menggigit bibirnya gugup. Benarkah itu mimpi Kyuhyun? Mengapa ia tidak pernah tahu?

Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan pada hidup suamiku? Bisiknya dalam hati.

“Itu impianku sebelum bertemu kembali dengannya, Sajang-nim.” Balas Kyuhyun sopan. “Dengan segala kerendahan hati, kuharap kau bisa menghentikan obrolan tentang kehidupan pribadiku.”

“Ng, baiklah. Aku paham. Tapi ingatlah, tawaranku ini masih terus berlaku untukmu. Kau bisa mempertimbangkannya setelah kesehatan istrimu membaik. Sampaikan salamku padanya.” Putus pria paruh baya itu.

“Terima kasih.”

“Aku undur diri, Kyuhyun-ssi.” Pamit pria itu.

Iye, hati-hati di jalan, Sajang-nim.”

Sera bisa mendengar jelas suara dentingan khas elevator yang terletak di dekat pintu kamar mandi berbunyi. Ia terus menunggu dalam diam di dalam sana sambil memperhatikan baik-baik bunyi langkah Kyuhyun yang menjauh kembali ke dalam ruang kantornya.

Wanita itu menarik napas dalam untuk menenangkan diri, apa yang baru ia dengar tadi hanya menambah kepedihan dalam hatinya. Sera bersusah payah melawan keinginannya untuk menangis, untuk mengalihkan rasa pilu itu Sera memilih untuk memeriksa bayangannya sendiri di depan cermin. Wajahnya terlihat muram dan keruh, bukan pemandangan yang bisa menipu Kyuhyun saat ini. Untuk menutupi kemuramannya, Sera memoleskan pemerah pipi pada wajahnya, menambah lip-tint untuk menutupi bibirnya yang pucat sambil mencoba tersenyum lebar pada bayangannya di cermin.

Harapan Sera dan Kyuhyun terletak sepenuhnya pada tangan dokter Song sore nanti, baru saat dokter itu berkata bahwa kehamilan Sera mustahil, mereka akan menyerah. Sebab Sera telah berusaha sebisa mungkin untuk tetap terlihat cerita dan optimis seolah vonis dokter yang terus menciutkan harapan mereka tidak berpengaruh pada semangatnya. Sejauh ini Sera berhasil menipu Kyuhyun dan ia belum boleh hancur sekarang—tidak saat pria itu masih berjuang mati-matian untuk mereka.

Setelah wanita itu merasa wajahnya lebih cerah, Sera melangkah keluar dari toilet tempatnya bersembunyi tadi.

Dengan senyum lebar yang dipaksakan, Han Sera mengetuk pintu kantor Kyuhyun. Wanita itu melangkah ringan lengkap dengan dua tangan terbuka lebar yang segera ia lingkarkan di seputar pinggang Kyuhyun.

“Aku baru saja hendak pulang untuk menjemputmu, Sayang.” Kyuhyun mengecup puncak kepala Sera sambil membalas pelukan istrinya.

“Aku bosan di rumah, jadi aku shopping di pertokoan dekat sini.” Sera menyandarkan diri pada tepian meja kerja Kyuhyun. “Lagipula lebih mudah begini, bukan?”

Kyuhyun tersenyum, pria itu lega karena istrinya masih nampak optimis dengan konsultasi dokter mereka hari ini. “Ayo kita berangkat sekarang.”

“Kau sudah selesai bekerja?”

Pria itu mengangguk. “Aku sedang merapikan tasku saat kau mengetuk tadi. Ayo, kita tidak boleh terlambat untuk pertemuan penting ini.”

Kyuhyun meraih mantel sebelum mengulurkan tangan untuk menggandeng Sera ke mobilnya yang terparkir di basement gedung. Wanita itu bersandar manja di atas bahu Kyuhyun, berpura-pura tidak gelisah dengan kemungkinan buruk yang siap menanti mereka.

Perjalanan dari kantor Kyuhyun menuju rumah sakit diisi dengan kesunyian yang janggal, sepertinya Kyuhyun dan Sera sama-sama disibukkan dengan pikiran masing-masing dan tidak berniat berbincang sama sekali. Mereka tiba di Seoul Hospital setengah jam kemudian dan hanya menunggu beberapa saat sebelum seorang suster memanggil nama Sera dari dalam ruang praktik dokter Song.

“Kumohon, katakan padaku semua baik-baik saja. Bulu kudukku berdiri saat melihat namamu dalam list pasien hari ini.” Dokter Song menyambut Sera dengan pelukan hangat.

“Kunjungan kami tidak ada sangkut-pautnya dengan kondisi jantungku, Dokter.” Balas Sera dengan senyum lebar. “Mungkin belum.”

“Duduklah.” Tawar dokter Song.

Kyuhyun dan Sera mencoba bersikap wajar, tapi pria itu tidak berniat membuang waktu berharga yang tersisa untuk menyampaikan tujuan kunjungan mereka. “Dokter Song, aku paham antrian pasienmu panjang, jadi aku akan langsung ke pokok permasalahan.” Pria itu mengeluarkan file rekam medis Sera dari dalam tas kerjanya untuk diserahkan pada dokter Song.

Wanita paruh baya itu membolak-balik file Sera dan membacanya seksama.

“Aku hamil, Dokter.” Sera tidak sabar menyampaikan berita baik itu. “Dan sejujurnya kami takut kehamilan ini akan berpengaruh padaku seperti kehamilanku yang dulu.”

Dokter Song mengangkat matanya dari file Sera lengkap dengan cengiran lebar dan mata berbinar bahagia. “Benarkah? Selamat! Ya Tuhan, aku benar-benar bahagia mendengar berita ini.”

Kyuhyun dan Sera bertukar pandang heran.

“Jadi kehamilan ini tidak akan berakibat fatal?” Kyuhyun mengerutkan alis bingung.

Senyum di wajah dokter Song mendadak lenyap, kebahagiaan yang tadi terpancar hilang begitu saja saat wanita itu menyadari pokok masalah pasangan yang duduk di hadapannya. “Apa kalian sudah berkonsultasi dengan spesialis kandungan?”

“Percayalah, kami sudah mengunjungi lebih dari dua belas dokter.” Sosor Sera. “Jawaban mereka semua sama…”

“Bahwa kau tidak disarankan untuk melanjutkan kehamilan ini?” Tebak dokter Song.

Wanita itu mengangguk lemah.

“Tapi dokter ini, dokter Kang Dongmin—mungkin kau pernah mendengar nama beliau—berjanji akan menangani kasus Sera seandainya kami bisa memberikan rekam medis donor Sera dan membuktikan bahwa tidak ada kelainan genetis pada jantung yang sekarang berdetak dalam tubuh istriku.” Kyuhyun memperjelas keadaan mereka.

Dokter Song mengalihkan pandangannya kembali ke dalam file Sera. “Seberapa yakin dokter Kang dengan prospek keselamatanmu, Sera-ssi?”

“25 persen.” Jawab Sera cepat. “Dari pertemuan kami yang terakhir, dokter Kang mengkhawatirkan dua hal: pertama tentang ada-tidaknya kelainan genetis pada donorku dan hal kedua yang beliau khawatirkan adalah jahitan operasiku—beliau khawatir tekanan darahku yang akan semakin tinggi akan menekan sambungan itu lalu membuatnya bocor.”

Well, secara profesional aku setuju dengan pertimbangan dokter Kang.” Dokter Song mengangguk paham. “Tapi dari dua kekhawatiran itu, aku bisa menjamin bahwa kebocoran dari jahitanmu tidak beresiko—sebab operasimu telah dilakukan lebih dari dua tuhun yang lalu. Jaringan di sekitarnya sudah menyatu dan jika kau tidak beraktivitas berat, tekanan darahmu tidak akan berada dalam tahap ‘beresiko’ seperti yang beliau khawatirkan.”

“Jadi kehamilan Sera tidak beresiko?” Simpul Kyuhyun.

“Kebocoran jahitannya tidak beresiko.” Tegas dokter Song. “Tapi jelas kau harus lebih tegas tentang apa yang kau konsumsi dan aktivitas yang kau lakukan agar tidak memaksa kerja jantung yang berlebihan selama kehamilanmu.”

Untuk pertama kali sejak Sera hamil, wanita itu akhirnya bisa bernapas lega. Jika kekhawatiran besar yang mengintai mereka diloloskan oleh sang ahli, maka kesempatan Sera dan Kyuhyun untuk memiliki anak semakin besar.

“Tapi, kekhawatiran dokter Kang yang pertama memang benar—kita tidak bisa menempatkanmu dalam resiko yang sama tanpa mengetahui sejarah genetis donormu.” Lanjut dokter Song.

Kata-kata itu kembali membanting harapan Sera.

“Karena kau pernah memiliki sejarah gagal jantung, maka tindakan pencegahan ini memang harus dilakukan. Kami sebagai doktermu harus memastikan bahwa kejadian serupa tidak akan terjadi lagi dan salah satu caranya adalah dengan melihat rekam medis donormu.” Dokter Song lanjut menjelaskan.

“Bisakah kita melakukan itu?” Kyuhyun menggeser duduknya semakin dekat ke tepi meja. “Bisakah kita menyelidiki rekam medis donor Sera, Dokter Song?”

Wanita paruh baya itu melirik pada kalendernya lalu mengangguk. “Dua minggu dari sekarang, aku punya waktu untuk menyelidiki itu bersama kalian.”

“Masalahnya, kami tidak punya waktu dua minggu.” Kyuhyun menunjuk angka usia kehamilan pada foto ultrasound Sera yang terbaru. “Kami hanya punya waktu sampai akhir minggu ini, Dokter Song. Sebab jika kami tunda lagi, mungkin aborsi juga menjadi berbahaya bagi Sera.”

“Demi Tuhan, usia kandunganmu sudah lima belas minggu! Mengapa kalian menunda selama ini? Apa kalian paham tingkat bahaya melakukan aborsi saat fetus sudah tumbuh sebesar ini?” Dokter Song membentak Kyuhyun. “Mengapa kalian baru datang menghadapku sekarang?!”

“Karena kami kira aka nada spesialis kandungan di Seoul yang bisa membantu kami tanpa perlu menggali ke dalam riwayat penyakit Sera.” Balas Kyuhyun lemah.

Dokter Song berdecak kesal lalu kembali melihat schedule-nya untuk minggu itu agar ia bisa meluangkan waktu untuk membantu Sera. “Aku punya jadwal open-heart surgery malam ini, besok juga mustahil karena ada tindakan bypass surgery dan juga jadwal piketku di U.G.D. Aku baru punya waktu lusa.”

Sera menggigit bibirnya keras untuk melawan kepiluan dalam hatinya. “Aborsiku dijadwalkan dua hari lagi, Dokter Song.” Jelasnya tenang. “Kami sudah menunda aborsi ini satu minggu dari jadwal yang seharusnya… kami…”

“Tidak bisakah kau mencari waktu sebelum lusa?” Kyuhyun menekan nada bicaranya.

“Kyuhyun-ssi, meskipun aku bisa menyelipkan kalian di tengah jadwalku, pencarian kita tidak akan semudah yang kau kira. Yang kumiliki hanyalah biodata donor dan rekam medis yang diperlukan selama prosedur cangkok, bukan sejarah genetis keluarganya. Sekalipun kita menemukannya, belum tentu keluarga donor bersedia berbagi informasi pribadi seperti itu. Proses ini mungkin akan memakan waktu beberapa hari dan aku tidak mau melambungkan harapan kalian tinggi-tinggi hanya untuk melenyapkannya nanti. Sebab urusan dengan keluarga pemberi donor memang selalu sensitif.” Terang dokter Song dengan suara parau.

“Tapi—”

“Kyu, jangan paksa dokter Song.” Sera meraih tangan Kyuhyun ke atas pangkuannya. “Aku yakin dokter Song sedang mencoba menolong kita seperti yang selama ini selalu dilakukannya.”

“Han Sera-ssi, aku sungguh ingin membantumu, kumohon jangan salah paham. Hanya saja waktunya terlalu sempit dan mendadak—”

“Bagaimana jika kau beri informasi dan biodata donor Sera, aku akan mencari keluarganya dengan caraku.” Kyuhyun belum mau menyerah.

Dokter Song menggelengkan kepalanya lemah. “Maaf, aku bersumpah untuk melindungi kerahasiaan pasienku dan hal-hal yang terkait dengan mereka. Karena donor Han Sera terdaftar sebagai anynomus, kalian tetap membutuhkan dokter yang mengangani pasien sebagai mediator. Aku sungguh menyesal.”

“Aku paham, Dokter.” Sera memasang senyum lebar di wajanya. “Kumohon, jangan langgar norma-norma keprofesian yang akan menaruh karirmu dalam resiko besar. Akan banyak pasien yang merugi jika kau kehilangan izin praktikmu. Aku tahu persis bahwa aku tidak akan ada di sini tanpa jasamu dan aku yakin semua pasienmu juga merasa demikian, jadi jangan pertaruhkan nama dan karirmu untuk ini.”

“Bagaimana dengan dokter Kim? Beliau juga terlibat dalam penanganan kasus Sera.” Kyuhyun terus memutar otak untuk mencari jalan keluar dari masalah mereka.

“Dokter Kim sedang mengambil studi spesialis lanjutan di Belanda, Kyuhyun-ssi. Beliau tidak akan pulang ke Seoul sampai musim panas tahun depan.” Terang dokter Song dengan wajah semakin muram. “Aku benar-benar ingin membantu kalian…”

Kyuhyun siap mengatakan sesuatu tapi Sera meremas tangannya keras, memberi tanda agar pria itu berhenti tawar-menawar dengan dokter Song yang sudah terlihat serba-salah di hadapan mereka. Sera sadar bahwa ini kesalahan mereka yang terus menunda sampai minggu terakhir untuk berkonsultasi dengan dokter Song—dan penyesalan bukan resep yang tepat untuk ditambahkan dalam kemelut masalah mereka.

Sera berinisiatif untuk merapikan file yang terbuka di atas meja dokter Song, lalu terdiam sejenak saat ia memasukkan foto ultrasound-nya yang terakhir. Wanita itu tersenyum sendu sebelum menutup file dan meyerahkannya pada Kyuhyun untuk disimpan kembali ke dalam tas kerja pria itu. “Terima kasih banyak atas waktumu, Dokter Song.” Sera bangkit lalu membungkuk penuh hormat pada wanita paruh baya itu.

“Han Sera-ssi, aku sungguh-sungguh menyesal.” Dokter Song bangkit dari kursinya untuk memeluk Sera. “Aku sangat ingin membantu kalian.”

Sera menepuk punggung dokternya pelan. “Kau telah melakukan lebih dari cukup, Dokter Song. Kumohon, jangan jadikan ini bebanmu.”

Kyuhyun memandang bingung pada istrinya yang terlihat pasrah dan tidak berusaha untuk meyakinkan dokternya. Ia paham bahwa wanita itu sudah lelah mencari jalan keluar dari masalah meraka. Tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berhenti memperjuangkan calon bayi mereka.

Sera mengaitkan lengannya pada siku Kyuhyun sambil menarik paksa suaminya untuk keluar dari ruang praktik dokter Song. Sekali pandang saja Kyuhyun paham bahwa Sera tidak ingin membicarakan apapun yang baru terjadi di ruangan itu dan Han Sera kerap memandang lantai dengan pandangan kosong sepanjang perjalanan menuju mobil mereka.

“Sera, kurasa kita harus bicara.” Kyuhyun membuka pembicaraan saat keduanya sudah duduk nyaman dalam mobil.

Wanita itu menggeleng lemah. “Bisakah kau bawa aku ke sebuah tempat yang tenang? Kumohon…” Suara Sera bergetar dan ia menghindari kontak mata dengan pria itu.

“Bagaimana dengan Sungai Han?” Usul Kyuhyun.

Sera mengangguk cepat lalu menyandarkan kepala pada sandaran kursi sambil terus mengindari tatapan Kyuhyun.

Pria itu mengemudikan mobil tanpa menyadari kondisi di sekitarnya, kepalanya terlalu penuh dengan berbagai kemungkinan. Mereka hanya memiliki waktu sedikit untuk bisa mempertahankan kehamilan Sera dan ia percaya bahwa kesempatan mereka masih terbuka. Ia yakin ada satu keajaiban yang memungkinkan kehadiran seorang anak dalam kehidupan mereka yang sempurna dan saat ini pria itu sedang mencari ide untuk membuat harapan mereka menjadi kenyataan.

Kyuhyun juga tidak tertipu dengan sikap Sera yang berusaha menutupi kesedihannya. Ia tahu bahwa istrinya sudah lelah dan kehilangan harapan, jelas Kyuhyun tidak bisa menyalahkan Sera perihal masalah ini, sebab ia tahu bahwa beban menal Sera pasti lebih berat dari apa yang Kyuhyun kira. Pria itu sudah mulai menyadari kepasrahan Sera saat istrinya berhenti berargumen dengan dokter-dokter yang mereka temui, pria itu sadar bahwa Han Sera terus berlagak ceria di hadapannya untuk menutupi keruh perasaannya seorang diri, dan cara wanita itu menghindari kontak mata dengannya telah membulatkan kesimpulan Kyuhyun—bahwa istrinya sudah putus asa.

Setibanya di tepian sungai, Sera langsung membuka pintu mobil dan melangkah keluar sebelum Kyuhyun sempat mematikan mesin. Wanita itu berjalan ke bagian depan mobil untuk bersandar pada bumper sambil menarik napas dalam demi memasukkan oksigen sebanyak mungkin ke dalam paru-parunya. Ia harus menenangkan diri dan sepertinya cara ini sudah tidak lagi mempan karena ia tetap merasa sesak.

Kyuhyun mengikuti Sera ke bagian depan mobil, pria itu melepas mantelnya untuk disampirkan di atas bahu istrinya yang terlihat kalut. Baru saja Kyuhyun hendak menarik tubuh Sera ke dalam dekapannya saat wanita itu menepis kasar tangan Kyuhyun yang menyentuhnya. Han Sera mengambil dua langkah menjauh dari Kyuhyun, lalu apa yang dilakukan wanita itu berikutnya terjadi sangat cepat.

Sera menundukkan kepalanya dalam-dalam, perlahan ia menekuk lututnya untuk membawa seluruh tubuhnya mendekat pada aspal. Setelah wanita itu berlutut di hadapan suaminya, Sera membungkukkan punggung sambil mensuport tubuhnya dengan telapak tangan yang ia taruh sejajar dengan lututnya—untuk bersujud pada Kyuhyun.

“SERA! APA YANG KAU LAKUKAN?!” Kyuhyun berlutut di hadapan Sera sambil menarik kedua bahu istrinya untuk membantunya bangkit.

Pria itu bisa merasakan seluruh tubuh Sera bergetar hebat, sementara wanita itu bersusah payah bernapas di antara tangis histerisnya. Beberapa kali Kyuhyun mencoba mengangkat tubuh Sera, tapi wanita itu bersikeras menjaga posisi sujudnya.

“Ma—maaf.” Satu kata terlontar di antara tangisan Sera.

“Sera, angkat tubuhmu sekarang juga! Aku tidak perlu gestur ini darimu, kumohon, bagun Han Sera!” Kyuhyun terus mencoba mengangakat bahu Sera agar wanita itu berhenti membungkukkan punggungnya seperti itu.

Ada banyak yang ingin Sera katakan pada Kyuhyun. Tentang besar rasa bersalahnya, tentang bagaimana ia tidak mau terus-menerus menjadi beban dalam kehidupan pria itu, Sera ingin Kyuhyun tahu bahwa ia tidak pernah berniat untuk menarik pria itu ke dalam ujian hidupnya, Sera ingin Kyuhyun mengerti bahwa yang ia inginkan hanyalah kebahagiaan untuk pria itu—yang ironisnya selalu Sera persulit dengan berbagai kemelut hidupnya. Permintaan maaf saja tidak akan pernah cukup untuk merangkum apa yang ingin Sera katakan dan pengampunan pun tidak akan pernah setimpal dengan segala pengorbanan yang telah Kyuhyun lakukan untuknya.

Sebab Sera tahu pria itu bukan hanya telah mengorbankan waktu dan pikirannya saja. Kyuhyun mengorbankan mimpinya, pria itu mengorbankan terlalu banyak kepentingan hidupnya sendiri demi mensuport Sera dan wanita itu tidak sanggup jika harus menjadi penghalang bagi masa depan pria yang dicintainya. Cho Kyuhyun pantas mendapatkan lebih, pria itu pantas mendapatkan yang terbaik, tapi mengapa ia justru memilih untuk jatuh cinta pada Sera? Mengapa dengan bodohnya pria itu bersuka rela membagi kepedihan hidup Sera bersamanya?

“Sera-ya, ayolah.” Mohon Kyuhyun dengan suara parau. “Jangan lakukan ini, bangkitlah. Mari kita bicara, jangan seperti ini, Sayang.”

Wanita itu meraung dengan mulut yang terus termegap, ia mencoba mencari kata-kata yang bisa menyampaikan isi hatinya. Ada banyak sekali yang ingin ia katakan namun lidahnya kelu. Ia tahu Kyuhyun ingin mereka bicara baik-baik, namun wanita itu tidak sanggup mengatakan hal paling krusial yang ingin disampaikannya—bahwa ia tidak mau Kyuhyun terjebak dalam derita hidupnya lebih lama lagi.

“Sera… Ayolah.” Pinta pria itu dengan suara yang terdengar lelah.

“Kyu…” Akhirnya satu kata terlontar. “Maaf.”

“Jangan minta maaf padaku, itu tidak penting. Lihat aku, Sera! Tatap aku!” Pria itu membingkai wajah istrinya, ia memaksa Sera untuk menatapnya—tatapan putus asa yang membuat hati pria itu menjerit.

“Kau… selalu mendukungku…” Wanita itu lanjut termegap. “Melalui seluruh… kesulitan hidupku… dulu… dan sekarang…”

“Hey!”

“Kau pantas mendapatkan… yang lebih baik.” Nada bicara Sera semakin tinggi akibat tangisnya yang semakin jadi.

“Aku tidak mau yang lebih baik, Sayang.”

“Aku adalah… sumber masalah dalam hidupmu…” wanita itu menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk menghapus rasa sesak yang terbelenggu di sana. “Kau bisa… menjalani hidup… yang lebih spektakuler… tanpaku…”

“Han Sera!”

“Kau bisa… mendapatkan… istri yang sehat…” Sera menggigit bibir untuk menyalurkan rasa frustrasinya. “Kau bisa… mencari wanita yang mampu… mengandung anakmu… kau bisa meraih mimpimu… tanpaku menjadi bebanmu.”

“HENTIKAN INI! BERHENTI MENGASIHANI DIRIMU SENDIRI! BERHENTI MEMANDANG RENDAH DIRIMU SENDIRI!” Pada akhirnya pria itu membentak akibat rasa putus asa melihat istrinya masih masih bersikeras sujud padanya. “AKU MEMILIHMU! TIDAK AKAN ADA PILIHAN YANG LEBIH BAIK UNTUKKU SELAIN DIRIMU, HAN SERA! LEBIH BAIK AKU HIDUP SENDIRI DARIPADA HIDUP TANPAMU, JADI HENTIKANLAH KEKONYOLAN INI!”

Sera masih terus terisak di hadapan Kyuhyun, rangkaian kejadian yang dilihatnya hari ini sudah cukup membuatnya merasa sangat bersalah—terutama karena ia tidak bisa memberikan kehidupan yang nyaman dan tenang untuk suaminya. “Kau pantas… mendapatkan yang… lebih baik, Kyu. Aku hanya… sumber masalah… dan akan terus seperti itu.”

Pria itu mengerahkan segenap tenaga yang tersisa dalam tubuhnya untuk menarik Sera bangkit dari posisi sujud menyedihkan itu. Kyuhyun menarik paksa kedua bahu Sera, menahan bobot tubuh wanita itu sambil memaksanya berdiri tegak.

“Aku tidak suka melihatmu seperti ini, Sera-ya.” Suara pria itu semakin parau. “Aku telah memilihmu dan tidak pernah sedetik pun aku menyesali pilihan itu.”

Sera menunduk, menghindari tatapan Kyuhyun. Wanita itu tahu ia akan hancur jika ia melihat sorot kecewa dari balik mata tajam suaminya.

“Kumohon, Sera.” Kyuhyun meletakkan tangannya pada wajah Sera untuk menghapus air mata yang menggenang. “Kita hanya memiliki satu sama lain untuk saling bergantung. Selama ini kita terus berbagi kebahagiaan dan kesedihan kita bersama, dan kuakui mungkin saat ini adalah saat-saat tersulit untuk kita—tapi kita masih saling memiliki, aku ingin kau ingat itu.”

Sera meremas pergelangan tangan Kyuhyun yang membingkai wajahnya keras-keras, seolah ia sedang mencari secercah kekuatan untuk bisa terus berdiri tegak di hadapan pria itu. “Maaf.”

Kyuhyun menarik tubuh istrinya, ia memerangkap Sera ke dalam pelukannya, membiarkan wanita itu menyandarkan seluruh tubuhnya pada dada Kyuhyun sementara pria itu membanjiri puncak kepala Sera dengan kecupan. “Kau dengar itu?”

“Ng?”

“Detak jantungku.” Kyuhyun menekan kepala Sera yang bersandar pada dada kirinya lebih dekat. “Debaran jantungku masih sama seperti dulu, karena memang tidak ada yang berubah, Sera. Jangan salahkan dirimu untuk sebuah keputusan yang kita ambil bersama. Aku memilih untuk mencintaimu, aku juga memintamu untuk menjadi teman hidupku selamanya, lalu kita sepakat untuk melanjutkan persahabatan kita dalam jenjang pernikahan—semua itu adalah keputusan yang kita ambil bersama.”

Sera masih terisak dalam dekapan suaminya, namun napasnya mulai teratur.

“Kita juga sama-sama sepakat untuk mencoba yang terbaik demi mempertahankan calon bayi kita—ini bukan keinginanmu semata, sebab aku pun ingin membangun keluarga kecil yang manis bersamamu.” Suara Kyuhyun semakin tercekat. “Aku paham saat ini kau sudah putus asa dan kau menyerah. Aku tahu kau sudah letih, Sayang. Maka biarkan sisa pertempuran ini menjadi perjuanganku, ne? Biarkan aku memperjuangkan sisa perjuangan kita ini—aku akan mengerahkan seluruh upaya dan akan mencoba menghubungi seluruh koneksi yang kumiliki—yang perlu kau lakukan hanyalah percaya padaku. Karena aku sepakat bahwa kita hanya akan mengugurkan darah daging kita sendiri jika tidak ada lagi jalan keluar yang tersisa untuk kita.”

“Kau tidak perlu melakukan itu, Kyu.” Bisik Sera serak. “Aku tidak mau kau hancur saat harapan itu tidak—”

Kyuhyun mengeratkan pelukannya di seputar tubuh Sera. “Ini berakhir di saat tenggat waktu kita habis, Sera. Kita masih memiliki waktu, kumohon biarkan aku berjuang untuk anak kita.”

Wanita itu terdiam, Sera tahu apapun yang ia katakan tidak akan ada gunanya. Sebab Sera paham watak Kyuhyun saat pria itu sudah membuat keputusan bulat—Kyuhyun akan berjuang sampai detik terakhir yang mereka miliki.

“Maafkan aku, Kyu.” Sera mengeratkan pelukannya di seputar pinggang Kyuhyun, menenggelamkan kepala di atas dada suaminya untuk mencari kenyaman yang selalu menunggunya di sana.

“Sudah cukup permohonan maafnya.” Kyuhyun mengusap punggung Sera lembut sambil terus mengecup puncak kepala istrinya. “Kita ada dalam pertempuran yang sama dan aku tahu kau sudah lelah—bersandarlah padaku sekarang, ne?”

“Aku selalu bersandar padamu, Kyu. Karena kau sumber kekuatanku.” Gumam Sera lemah di antara isakan lembutnya.

 

 

tbc…

Advertisements

65 thoughts on “Stupid Anxiety – 6 [Liability]

  1. Hana Choi says:

    Pasti berat banget kalau jadi sera ayolah ada keajaiban lagi semoga aja ada keajaiban dimana sera dan kyuhyun bisa mertahanin janin sera bisa mertahanin kehamilan sera. Pokoknya aku salut sama sera sama kyuhyun mereka figur calon orangtua yg baik dan keluarga yg menurutku harmonis

    Liked by 1 person

  2. Rihyunnie says:

    Seperti biasa, cerita author selalu emosional 😍
    Nyesek liat perjuangan mrk demi janin mereka sampai kayak gitu
    Parent’s long last love, even parents never meet their child yet.

    Liked by 1 person

  3. Kyuyang says:

    Beruntung nya sera dapet suami yg sayangnya dan cintanya besar bgt dN perjuangkan apa yg di mau semampunya yg dia bisa love bgt lah sma kyuhyun ❤️😘😘

    Liked by 1 person

  4. Dyana says:

    Nyesekkk… Nyesss…
    aku ikutan nangis saat Sera berlutut di hadapan Kyuhyun…
    Authornim, feelnya dapet banget…
    Ya allah, kasihan pasangan ini… Bisakah mereka melalui masalah ini dengan mudah… Mereka berhak bahagia setelah perjuangan yang panjang, dan semoga bayi itu tidak perlu di aborsi, kasihan sera…

    Liked by 1 person

  5. ammy5217 says:

    Sedih…terharu bgt dangan cinta yg kyu miliki buat sera. Bukan hanya dibahagia tapi dikesedihan kyu selalu ada disamping sera. Berharap ada keajaiban tanpa harus aborsi yg akan menghancurkan harapan keduanya 😢😢😢😢

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s