Tetra-logy of Elements – Earth [Prolog]

 

earth

*Gambar milik Ban Seojin (Ban Namgyu)

 

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Romance, NC

Main Cast: Dam Mari & Cho Kyuhyun

 

 

Tidur pria itu terusik dengan puluhan bunyi notifikasi dari ponselnya. Biasanya Cho Kyuhyun paling anti menjawab panggilan pekerjaan di luar jam kerja, namun setelah dering pada ponselnya kerap mengusik, telinga pria itu panas juga.

“Kau mengusik tidurku, Jaksa Dam.” Sahut Kyuhyun parau.

“…”

Yeoboseyo?” Panggil Kyuhyun lagi.

Masih tidak ada jawaban dari panggilannya, tapi pria itu bisa mendengar pekikan wanita yang dilatarbelakangi suara gaduh.

“Ya! Kau di mana?”

Masih tidak ada jawaban dari seberang.

Kyuhyun bangkit dari tidurnya, instingnya mengambil alih saat ia menyadari peneleponnya sedang dalam bahaya. “Dam Mari! Katakan padaku, kau ada di mana?”

Hanya pekikan lain yang bisa ia dengar.

Pria itu menutup matanya rapat-rapat, membayangkan situasi yang mungkin sedang terjadi sekarang. Meskipun terkesan mustahil, wanita itu terdengar sedang terdesak dan dalam keadaan bahaya. Entah mengapa, naluri Kyuhyun mengatakan bahwa Dam Mari saat ini tengah terancam dan tidak bisa bicara. Jika memang demikian, maka ia harus mencari cara lain untuk menebak keberadaannya.

Kyuhyun melayangkan pikiran pada pembicaraan mereka di kantor siang tadi. Seingatnya, Dam Mari, jaksa belia yang ditugaskan bersamanya memang meminta kelonggaran waktu Kyuhyun untuk membantu menyelidiki kasus penyelundupan narkoba yang sedang ia tangani. Tapi Kyuhyun menolak karena ia harus menghadiri upacara hari kematian ayahnya sore tadi.

Suara pekikan kembali terdengar. Kalau menilai dari suara yang ia tangkap, Kyuhyun semakin yakin bahwa mulut wanita itu sedang dibekap. Mungkin panggilan yang Mari lakukan pada Kyuhyun adalah kesempatan terakhir yang ia peroleh sebelum ia tertangkap. Tapi tertangkap siapa? Mengapa seorang jaksa wanita berada dalam situasi seperti ini? Pria itu kembali berpikir keras, mengingat-ingat setiap detil yang mungkin akan membantunya memecahkan lokasi wanita itu.

Kasus apa yang tadi dia bahas denganku? Penjambretan, penodongan di toko kelontong, dan… narkoba! Tunggu, kalau tidak salah kasus itu melibatkan pengiriman truk kontener. Batinnya.

“Dam Mari. Apa kau bisa mendengarku? Teriaklah sekali kalau kau bisa mendengarku!”

Tidak ada jawaban dari seberang.

Kyuhyun langsung mematikan panggilan dari wanita itu. Dengan panik ia segera menghubungi Lee Hyukjae, sekertaris yang bertugas mengetik seluruh laporan penyelidikan dan kasus mereka.

“Kau tahu ini jam berapa, Cho Kyuhyun?” Suara pria itu terdengar berat. “Aku sedang sibuk, pasti kau paham maksudku.” Lanjutnya sambil terkekeh.

Kyuhyun memutar matanya. “Aku punya pertanyaan singkat. Apa kau tahu jika Dam Mari berencana menyelidiki salah satu kasus yang masuk ke ruangan kita seorang diri?”

“Ng? Tidak. Wanita itu tidak bilang apapun padaku.”

Kyuhyun memutus teleponnya kesal, kemudian menekan nomor lain yang mungkin bisa menjawab keresahannya.

“Ne?” Jawab suara seorang pria.

“Lee Sungmin, aku punya pertanyaan singkat. Apa siang tadi Dam Mari meminta bantuanmu untuk mendampinginya dalam penyelidikan kasus?” Sosor Kyuhyun tanpa basa-basi.

“Iya, katanya kau berhalangan karena upacara kematian ayahmu. Tapi aku juga harus menyelidiki kasus dari Jaksa Nam. Jadi aku harus mengutamakan jaksaku terlebih dahulu. Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju Gangwon bersama Jaksa Nam.” Terang Sungmin.

“Apa Mari mengatakan lokasi penyelidikannya?”

“Tidak, tapi seingatku Jaksa Dam mengatakan masalah kasus kartel.”

Aish! Sialan!” Kyuhyun bangkit dari kasurnya, sambil menutup telepon. Dengan gesit ia memakai jins, kemeja flannel dan mantel musim dinginnya. Sebuah properti yang sudah menjadi teman andalannya ia selipkan pada kaitan samping pinggangnya, tidak lupa lencana yang harus selalu ia kenakan saat bertugas—meskipun saat ini bukan jam kerjanya.

Sambil berlari, pria itu menuju parkiran gedung tempat tinggalnya, mengeluakan motor dan segera menancap gas untuk pergi ke satu tempat yang ia perkirakan sebagai lokasi Dam Mari berada.

Benaknya dipenuhi berbagai spekulasi dan amarah. Tidak seharusnya wanita itu bertindak gegabah tanpa pengawalannya. Kalau memang Kyuhyun berhalangan untuk hadir, seharusnya Mari mencari back-up lain, seharusnya wanita itu mengajak detektif dari departemen sebelah, atau setidaknya mengabari rekan detektif Kyuhyun yang lain ke mana ia akan pergi. Wanita itu seharusnya menginformasikan kepala departemen mereka jika memang ia memutuskan untuk menyelidiki kasus kartel ini di malam hari.

Tidak, bahkan sesungguhnya penyelidikan ini bukanlah porsi Dam Mari. Tugas wanita itu semata membaca baik-baik laporan yang terletak di atas mejanya, mempertimbangkan pasal-pasal yang akan dituntutkan pada para terdakwa, menyusun semua bukti yang memberatkan terdakwa dari hasil penyelidikan yang Kyuhyun lakukan—bukan justru terlibat dalam penyelidikannya juga.

Kurang dari satu jam, Cho Kyuhyun memarkirkan motornya asal di perlabuhan Incheon. Pria itu memilih untuk percaya dengan instingnya untuk pergi ke tempat ini, karena seingatnya, Mari memang pernah membulatkan beberapa point dalam berkas penyelidikan yang mereka ulas bersama—berkas yang mengidikasikan lokasi ini. Pria itu berlari menelusuri lorong-lorong yang dipenuhi dengan kontainer-kontainer yang ditumpuk di perlabuhan, menolehkan kepalanya ke semua arah untuk mencari indikasi keberadaan jaksanya sambil terus menghubungi ponsel Dam Mari.

Sepuluh menit berlalu dan Kyuhyun belum melihat batang hidung Dam Mari sama sekali, padahal ia telah mengelilingi seluruh lahan parkir kontainer di sana. Pria itu kembali menghubungi ponsel Dam Mari, berharap bunyi panggilannya bisa terdengar dan ia hanya perlu mengikuti arah datangnya suara.

Sepertinya pria itu beruntung. Ia bisa mendengar nada dering menyebalkan yang biasanya mengusik dalam ruang kantor mereka yang sempit dari ponsel wanita itu. Kyuhyun berlari mendekat ke area luar parkiran kontainer, menuju sebuah lapangan rumput di pinggir dermaga yang tertutup banyak besi rongsokan. Pria itu menajamkan telinganya, matanya dipicingkan dan otomatis tangannya meraih pistol kecil yang ia selipkan sebelum berangkat tadi, posisi siaga.

Di sana wanita itu, dikelilingi tiga pria bertubuh besar yang sibuk menyekapnya. Satu pria sedang mencoba melepas sesuatu dari tubuh Mari, satu pria menahan kedua lengan wanita itu dan yang satu lagi membantu untuk terus menghajar tubuh ringkih yang sudah nampak lunglai.

Pria itu berusaha tetap tenang. Pertama-tama ia memanggil bala bantuan dari kepolisian setempat lengkap dengan lokasi mereka serta kondisi daruratnya, baru kemudian Kyuhyun mengarahkan pistolnya ke langit, memberikan sebuah tembakan peringatan pada ketiga pria itu.

Sukses, perhatian mereka teralihkan. Tapi sekarang Kyuhyun adalah sasaran baru mereka.

“Tiga pria melawan satu wanita, carilah lawan yang lebih sepadan.” Tantang Kyuhyun pada tiga pria yang melangkah mendekatinya.

Tidak ada perbincangan di antara mereka, karena jelas penyelesaian dari kondisi ini adalah adegan adu jotos yang harus Kyuhyun lakukan sebelum bala bantuannya tiba. Kyuhyun harus membuat ketiga pria itu sibuk sampai polisi datang dan kalau boleh jujur, ia sebenarnya ingin sekali menembakkan pistolnya pada betis masing-masing preman yang langkahnya semakin dekat, tapi bukan seperti itu protokolnya. Ia tidak boleh melepas tembakan kecuali kondisi benar-benar mengancam nyawa.

Kyuhyun menangkis tinju pertama dengan cekatan, ia menundukkan tubuhnya untuk menghindar tinju dari pria berikutnya dan dengan lincah kakinya dilayangkan pada lekukan di balik lutut salah satu pria berbadan besar itu untuk menumbangkannya. Tapi tunggu, mengapa lawan Kyuhyun hanya dua orang? Konsenterasi pria itu terpecah saat melihat pria yang satu lagi telah kembali ke atas tubuh Dam Mari untuk terus mencoba menarik sesuatu dari tubuh wanita yang mulutnya masih terbungkam oleh sapu tangan. Dam Mari terlihat berusaha keras untuk mempertahankan sesuatu yang dilindunginya.

Rasa pening teramat-sangat menyerang pria itu saat sebuah bogem mentah mendarat di sisi wajahnya. Konsenterasinya yang teralih sudah membuat Kyuhyun lengah dan salah satu pria bertubuh besar itu sukses menghajarnya. Satu pukulan yang membuatnya linglung menjadi kesempatan lain bagi lawan Kyuhyun untuk mulai melancarkan pukulan bertubi-tubi padanya.

Tapi pria itu mencoba berpikir cepat.

Memang dalam pelatihannya, Kyuhyun tidak dituntut untuk bisa melakukan aksi bela diri yang melampaui batas. Bagaimana pun juga, ia adalah seorang detektif Departemen Hukum Negara, bukan agen. Tapi tetap saja, insting bertahan hidupnya mengambil alih saat ia terancam, terlebih lagi malam ini ada dua nyawa yang harus ia lindungi.

Di tengah rentetan pukulan yang ia terima pada perutnya, Kyuhyun bereaksi cepat untuk memukulkan kepala pistol yang ia genggam pada salah satu pria yang menyerangnya. Momen itu kemudian ia manfaatkan untuk bangkit dan berlari sejenak ke arah Mari yang masih meringkuk di atas tanah. Kyuhyun melompat ke atas punggung pria yang sedang mencoba melucuti pakaian Mari, melingkarkan lengannya di seputar leher pria itu untuk menghabat aliran udara pada tenggorokannya, demi bisa melumpuhkan pria itu sejenak sampai bala bantuan tiba. Tapi tetap saja tiga lawan satu bukan komposisi yang seimbang.

Di posisi terdesak, Kyuhyun membalikkan tubuhnya agar ia berada di antara para penyerang dan Dam Mari. Setidaknya ia harus melindungi wanita itu sekarang, prioritas Kyuhyun bukan lagi menangkap preman-preman itu, tapi sekedar untuk bertahan hidup.

Salah seorang pria besar yang menyerang mereka mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, menyentakkan benda itu dan dari pantulan lampu temaram di dekat mereka, Kyuhyun bisa melihat sebuah pisau lipat tajam sudah diarahkan padanya.

Pertarungan kembali dilanjutkan, salah seorang preman itu mencoba menyerang Kyuhyun dan seorang lagi tetap menarik Mari yang sudah semakin lemah. Preman yang menggenggam pisau melangkah menuju Kyuhyun dengan langkap mantap dan tangan terkepal di seputar gagang pisau yang terlihat semakin dekat di mata Kyuhyun.

Teriakan Mari yang tertahan mengalihkan perhatian Kyuhyun dari pria itu, preman yang berurusan dengan wanita itu berhasil merobek pakaian Mari dan seketika itu juga Kyuhyun langsung paham apa yang mereka incar—alat penyadap yang Mari ikatkan pada tubuhnya.

Sejurus kemudian, Kyuhyun merasakan sensasi panas dan nyeri secara bersamaan pada bahu kiri bagian belakang. Ia menoleh ke arah penyerangnya dan benar saja, pisau lipat yang tadi diarahkan padanya sudah bersarang indah dalam dagingnya. Baiklah, kalau sudah terjadi ancaman berbahaya seperti ini, protokol yang harus ia ambil cukup jelas. Kyuhyun mengangkat tangan kanannya yang masih  menggenggam pinstol dan dengan senang hati menembakkan benda itu ke arah paha pria yang baru menorehkan luka di atas bahunya. Tembakan kedua ia berikan pada pria yang menindih tubuh Dam Mari dan tembakan terakhir berhasil ia tahan karena akhirnya, bala bantuan yang dinanti tiba.

Dengan kasar, Kyuhyun menarik pisau yang masih menancap pada kulitnya, melemparnya asal ke tanah, lalu berlari menghampiri Dam Mari. Ia menendang pria yang berhasil ia lumpuhkan dengan sebutir peluru yang kini bersarang di paha preman itu, lalu meraih tubuh Mari yang terlentang pasrah sambil memeluk tubuh bagian atasnya sendiri di atas lapangan rumput yang dingin.

“Polisi sudah tiba, tenanglah sejenak.” Bisik Kyuhyun gusar.

Pria itu segera melepas mantelnya, berlutut di samping Mari sembari membantu wanita itu untuk duduk, menyelimutkan mantelnya di seputar tubuh bagian atas Mari yang sudah setengah terekspos karena pakaiannya dirobek paksa, baru kemudian ia melepas ikatan sapu tangan di seputar mulut Mari.

Wanita itu merintih, meraung dan menangis ketakutan. Seluruh tubuhnya bergetar hebat dan di tengah kekalutan itu, ia masih mencoba memeriksa apakan alat penyadapnya tetap bekerja sesuai harapan. Seolah lupa bahwa nyawanya baru saja terancam akibat aksi sok heroik yang tidak pada tempatnya itu.

“Lihat aku, Mari-ssi!” Kyuhyun menggoyangkan bahu wanita itu.

“Rekamannya… kasetnya hilang.” Mari meraung pilu. “Yang kulakukan…”

“YANG KAU LAKUKAN ITU SALAH! KAU SEHARUSNYA MENGABARI SALAH SEORANG DARI KAMI UNTUK MENDAMPINGIMU!” Bentak Kyuhyun panik.

“Tapi transaksinya hari ini… tadi siang aku—”

“KAU BERUNTUNG KARENA AKU PUNYA INSTING UNTUK MENGHAMPIRIMU KE SINI! KALAU TIDAK, KAU AKAN MATI KONYOL SETELAH MEREKA PUAS MELUCUTI BUKTI SEKALIGUS MEMPERKOSAMU!” Lanjut pria itu.

Kata-kata pria itu sontak membuat Dam Mari tercengang. Sebuah memori buruk akan masa lalunya melintas tanpa bisa ia hindari. Semua adegan, seluruh histeria dan situasi yang kerap menghantui mimpi buruknya terulang dalam benak wanita itu. Tiba-tiba ia sadar bahwa situasi yang baru ia alami sama persis dengan apa yang dialaminya enam tahun lalu. Pria bertubuh kekar yang menindihnya, napas berat pria yang tadi sibuk mencoba melucuti pakaiannya, bunyi robekan kain yang ditarik kasar, dan rasa pasrah saat dirinya terekspos polos di luar kehendak dan kuasanya.

Semua ini hanya mengulang trauma masa lalu yang ingin ia lupakan.

Aliran adrenalin dalam tubuh wanita itu sudah lenyap dan rasa takut benar-benar mengambil alih. Di hadapan Kyuhyun, wanita itu mendadak merapatkan mantel pria itu rapat-rapat ke tubuhnya, lututnya menekuk protektif dan tangisnya pecah.

 

tbc…

 


 

Kalau ini, prolognya terispirasi dari drakor-drakor bertema hukum macem prosecutor princess dan i hear your voice.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

40 thoughts on “Tetra-logy of Elements – Earth [Prolog]

  1. Seo HaYeon says:

    Nice lah kak pokoknya……. sukkka sukkaa…… !! 😅😆😆😆😆 tapi lebih suka fire samaa…. ahh. . Aku komen di vote lah… wkwkwkwk 😅😅😅

    Liked by 1 person

  2. nazaki says:

    Gregetan sama tindakan mari,,,lo kyu g keburu dateng gimana coba??? Padahal dia punya trauma insiden serupa,terlalu gegabah….✌✌✌✌

    Liked by 1 person

  3. hyun says:

    Bayangin Oppa, stylenya entah rambut atau segala halnya tentang si Oppa, aku bayangin nya dia ada di Mamacita, sexy matang dan panas..

    Kkkk, lets see, gimana jadinya ff ini

    Liked by 1 person

  4. amel chomb says:

    Semua bagus kakak,bingung jdinya,yg ini action,tp klau boleh yg kemarin. Yg cas nya tuna rungu trimakasih

    Like

  5. ona kyu says:

    gimana ya ternyata yang ini juga seru dan ada adegan actionnya. apalagi Kyu jadi detektif dan Mari jadi jaksa perpaduan yang seru sepertinya.👍👍🎉

    Liked by 1 person

  6. dfhcsw says:

    aaaah yang ini juga bagus coba. seru banget kayaknya baca ff macem begini. kyuhyunnya jadi detektif coba ya ampun bisa gila aku bayanginnya 😍😍😍😍

    Liked by 1 person

  7. ddianshi says:

    benar2 bikin greget sama nih ff :-* mari kenapa ceroboh banget sih? kenapa pergi tanpa didampingi seseorang huh untung saja kyuhyun datang 🙂 damri punya masalalu?? apakah itu??? ditunggu full chapnya eonni semangat ❤

    Liked by 1 person

  8. fitrihajizah says:

    Hallo ka salam kenal, aku readers baru hehehe
    Tau blog ini karena rekomen dari seseorang.
    Ini baru prolog loohhh, tapi ahsudahlahhh hahaha
    Selalu suka cerita dengan genre action yuhuuuuuu

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s