Tetra-logy of Elements – Fire [Prolog]

 

fire pro

*Gambar milik Jinhee

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Romance, NC

Main Cast: Jun Hyunseo & Cho Kyuhyun

 

 

Pria itu membanting kaleng kosong di tangannya ke tanah dengan kesal. Panggilan yang baru ia diterima dari bosnya jelas membuat darahnya mendidih. Semua usaha kerasnya, pengorbanan berminggu-minggu untuk menggali berita tentang penyelewengan dana yayasan pendidikan anak  berkebutuhan khusus di-cancel begitu saja sementara ia telah mengerahkan segala kemampuannya untuk menggali data.

Bukan hal asing tentu saja di dunia kerjanya; saat berita bisa dibeli dan diputar balikkan saat uang berbicara. Tapi haruskah ia terus bungkam sementara apa yang dilihat di luar sana jauh lebih mengerikan dari apa yang ditampilkan dalam berita? Sekilas pekerjaannya terlihat mudah, tapi sesungguhnya sangat beresiko. Ia harus siap dihubungi setiap saat oleh bosnya, ia harus menjalin hubungan baik dengan berbagai pihak demi mempermudah aksesnya ke dalam tempat kejadian, dan tentu saja ia juga harus rela tidak mandi berhari-hari ketika sedang sibuk menguntit satu kasus secara spesifik.

Terdengar seperti pekerjaan di ranah kriminal? Bukan. Cho Kyuhyun adalah seorang wartawan dalam sebuah perusahaan TV dan berita Internasional yang memiliki cabang di banyak negara di dunia. Dalam pekerjaannya ia harus siap dikontak untuk pergi ke sebuah negara tertinggal secara mendadak, bisa juga diminta untuk mengikuti seminar di tempat lain dalam kurun waktu 24 jam. Ia harus siap menerima titah untuk menguntit seorang sosok politikus, tapi bisa juga berubah mengikuti gosip artis dalam negeri yang baginya menjadi terlalu kacangan dan tidak menantang.

Apapun itu, Cho Kyuhyun harus stand-by dengan ponselnya 24 jam.

“Bagaimana, Hyung?” Tanya Jinyeop, cameraman yang ditugaskan bersamanya.

“Batal.” Balas Kyuhyun kesal. Pria itu merogoh ke dalam saku flanelnya untuk mencari sekotak rokok yang biasa ia simpan, meletakkan benda itu di mulutnya sembari menyalakan pematik api.

“Setelah kita mengulasnya tiga hari belakangan?!” Jiyeop membuka pintu mobil untuk memasukkan kamera, lalu meraih kotak rokok Kyuhyun untuk ikut menenangkan sedikit emosinya.

Kyuhyun menghisap putung rokonya dalam-dalam, kepulan asap tebal melayang dari kedua lubang hidungnya. “Kurasa mereka menerima suap dari pihak yayasan—bukan berita baru, bukan?”

“Lalu mau kita apakan footage yang sudah kita kumpulkan? Jual pada pihak lain?” Sahut Jiyeop sarkastis.

“Mauku juga begitu. Tapi itu akan mengancam karir kita dan aku tahu mencari pekerjaan baru itu cukup sulit di masa krisis ekonomi seperti ini, aku tidak mau membahayakan sumber mata pencaharian kita. Ingatlah, Jinyeop-ssi, kau punya istri dan anak bayi yang perlu kau beri makan.” Kyuhyun menepuk bahu Jinyeop santai.

“Memang kehidupan lajangmu mudah?” Sahut Jinyeop menyindir.

Kyuhyun mendengus kasar sambil terkekeh sinis, memilih untuk membiarkan ketenangan malam mengambil alih pembicaraan.

Kedua pria itu menghabiskan batang rokok mereka sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam mobil dinas butut mereka yang sering mogok. Jika liputan mereka dibatalkan, maka Kyuhyun dan Jinyeop bisa pulang dan menikmati rasa nyaman dari kasur yang sudah tiga hari tidak mereka sentuh karena sibuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, mengikuti orang-orang yang mereka yakini punya andil dalam penyelewengan dana yayasan itu. Kyuhyun mengemudikan mobil sampai pada daerah rumah Jinyeop, mengantar cameraman itu pulang baru kemudian melanjutkan perjalanan ke apartemennya.

Baru saja pria itu hendak berbelok ke jalan utama di wilayah apartemen sederhanya saat ponselnya berdering kembali.

“Ne?” Jawabnya malas.

“Pergilah ke Gangnam. Sedang ada pencidukan kasus narkoba di Club Doosan, beberapa artis terlibat dan belum ada wartawan kita yang meliput.” Titah baru dari bosnya keluar.

Kyuhyun memutar matanya. “Sajangnim, Anda menyuruh saya meliput gosip murahan para artis?”

“Tidak ada wartawan lain yang stand-by. Lakukanlah. Aku yakin, kau bisa mencari bagian mana yang akan menjadi berita utama untuk masuk ke slot berita besok pagi.” Telepon diputuskan sepihak tanpa menunggu konfirmasi dari Kyuhyun.

Pria itu menggeram kesal sambil memukul-mukulkan tangan pada setir. Gila, derajatnya sebagai wartawan serasa baru diinjak-injak. Baru saja ia meng-cover berita yang aktual dan prestisius tentang penyelewengan dana dan sekarang ia harus meliput keonaran artis. Cih!

Tapi Kyuhyun menarik napas dalam-dalam sebelum memutar balik mobilnya ke arah Gangnam. Ia butuh pekerjaan ini, ia butuh penghasilan tetap yang bisa diandalkan keluarga dan adik-adiknya yang hanya bergantung sepenuhnya pada penghasilan Kyuhyun.

Pria itu memarkirkan mobil satu blok sebelum club yang dimaksud, ia mengambil kamera yang ditingalkan Jinyeop dalam tas kamera perusahaan dan melangkah mantap menuju tempat kejadian yang telah diramaikan oleh kerumunan manusia seprofesi dengannya. Pria itu berdecak kesal, kalau begini ceritanya bagaimana mungkin ia bisa meliput dengan baik.

Kyuhyun memutar otaknya, pria itu segera berbalik ke mobil untuk menyetir ke arah kantora kepolisian wilayah Gangnam. Logikanya, mereka yang diciduk itu akan ditahan di kantor polisi untuk sementara sampai keluarga atau pengacara mereka datang menjemput. Setidaknya malam ini Kyuhyun harus bergerak selangkah lebih maju jika mau mendapat footage yang lebih jelas.

Benar dugaannya, tidak lama setelah ia tiba di kantor polisi, beberapa mobil bersirine parkir dengan beberapa oknum terborgol duduk di kursi penumpang belakang.

Kyuhyun menggendong kamera di bahunya dan segera mengambil gambar close-up oknum-oknum yang diciduk dari jarak aman—ia tahu para polisi itu akan mengusirnya kalau cara kerja Kyuhyun terlalu gegabah. Terbukti rekan wartawan lain yang mengekori mobil polisi langsung dihadang dan tidak diperbolehkan masuk ke dalam lahan parkir.

Daebak. Ada beberapa wajah politikus yang kukenali di sini. Batinnya.

Satu per satu tahanan yang digiring keluar dari mobil polisi direkam Kyuhyun dengan seksama. Kalau menilai dari pakaian dan wujud tahanan elit itu, bisa dibilang mereka sedang sangat menikmati momen sebelum diciduk. Terlihat dari baju yang berantakan, riasan yang sudah terhapus pada bagian bibir, dan jejak-jejak pesta nista yang tertebak ke mana arahnya.

Sejauh ini, Kyuhyun sudah menghitung enam oknum; dua oknum politikus, tiga sosialita, dan satu orang yang tidak nampak penting untuk masuk ke dalam beritanya. Lalu mobil polisi terakhir tiba.

Pria itu memfokuskan kamera pada oknum terakhir yang dikeluarkan dari mobil polisi, seketika itu juga matanya membulat. Gadis itu, gadis yang dulu ia idolakan saat wajahnya memenuhi layar kaca. Gadis yang posternya pernah ia pajang di kamar semasa remaja, gadis yang kehidupan pribadinya telah menjadi konsumsi publik sejak ia bisa bisa bicara, serta gadis yang kehilangan segalanya karena ulah onarnya sendiri—Jun Hyunseo.

Dalam benak Kyuhyun langsung terputar jelas semua kasus buruk yang pernah melibatkan gadis itu. Mulai dari video Hyunseo merusak properti umum yang tertangkap CCTV, sikap angkuhnya dalam pemotretan yang menjadi viral, video di media sosial yang berisi curahan hatinya, berita perceraian kedua orang tua gadis itu, dan yang paling hangat belakangan ini adalah foto bugil Jun Hyunseo yang tersebar saat gadis itu sedang bersalin pakaian di ruang ganti sebuah mall.

“Wah, kasus narkoba bisa jadi pelengkap dari perjalananmu menuju kehancuran.” Bisik Kyuhyun sambil mengendap-endap mengikuti langkah polisi terakhir yang menggiring Jun Hyunseo. “Baiklah, nampaknya headline berita besok akan indah jika tertulis ‘Mantan Artis Cilik Tertangkap Sedang Pesta Narkoba Bersama Politikus Terkenal’.”

Pria itu menurunkan kameranya dan menunggu dalam mobil, menunggu rentetan mobil lain yang ia tahu akan segera tiba—segerombolan pengacara yang akan membela para oknum di dalam sana.

Kyuhyun mengamati dengan sabar, ditemani laptop dan rokoknya yang entah sudah berapa banyak ia bakar, mengetik laporan peliputan untuk dikirimkan pada pihak redaksi sebelum berita pagi ditayangkan, mentransfer data video yang masih harus disunting pihak editor dengan kilat. Sesekali pria itu mengamati pintu utama kantor polisi, mengitung baik-baik oknum yang sudah dijemput oleh pihak keluarga atau pengacara mereka. Enam oknum telah dijemput, yang artinya hanya tersisa satu oknum yang tidak bisa menelepon siapa-siapa dalam posisi terdesak—gadis itu.

Ponselnya berdering kembali.

“Sedang saya kirim file-nya. Harap bersabar Sajangnim, saya bekerja sendiri.” Sembur Kyuhyun pada peneleponnya.

“Aku sudah membaca laporan singkat yang kau kirim, fokuskan pada artis cilik itu saja.” Perintah bosnya.

“Tapi ada elit politik terlibat—”

“Mereka pasti didampingi pengacara yang akan menuntut kita balik kalau sampai ini terkspos!” Tukas Bosnya. “Fokuskan pada sosialita dan Jun Hyunseo. Kita sudah cukup punya banyak bahan bakar untuk menambah kobaran api pada reputasinya yang semakin buruk itu.”

Sajangnim…”

“Aku akan mempercayai instingmu kali ini, Cho Kyuhyun-ssi. Ambil gambar yang banyak, gali informasi ke dalam kantor itu kalau perlu. Berita good girl gone bad akan kita angkat untuk sesi berita ringan sebelum Morning Show berakhir. Kau punya waktu satu jam untuk menuntaskan semuanya.”

Lagi-lagi panggilan telepon diputus sebelah pihak.

Pria itu membuang putung rokok kesekian ke atas parkiran aspal, merapikan sedikit penampilannya untuk melakukan misi berikutnya. Ia mengeluarkan kacamata khusus yang sudah dilengkapi kamera dari dalam laci di dashboard mobil perusahaan itu, sebuah alat yang biasa mereka gunakan untuk pengambilan gambar di tempat-tempat yang tidak boleh diakses kamera. Lalu setelah penampilannya lebih rapi, ia berjalan ke teras depan dengan langkah mantap. Polisi yang piket di depan menanyakan kepentingannya dan pria itu berdalih ingin membuat laporan kehilangan barang, sehingga ia dipersilakan untuk menuju ke ruang pelaporan. Tanpa ragu ia melangkah ke ruangan yang ditunjuk, ia tahu bahwa tahanan sementara selalu diinapkan di balik jeruji besi kecil dalam ruangan besar itu.

Kyuhyun mengayunkan daun pintu perlahan, melayangkan pandangannya ke sekitar meja-meja polisi yang kosong, mungkin semua orang sedang disibukkan dengan kegiatannya masing-masing di ruangan lain hingga tidak ada yang peduli bahwa seorang wartawan baru saja masuk ke dalam sana. Kyuhyun melayangkan pandangan pada ruang penahanan kecil yang berjeruji di bagian belakang ruangan itu, sesuai dugaannya, hanya satu orang yang belum dijemput siapapun—Jun Hyunseo.

Dengan hati-hati Kyuhyun mendekati ruang jeruji untuk melihat kondisi gadis itu lebih dekat, memastikan ia mendapat gambar yang sangat jelas untuk ditampilkan pada Morning News nanti. Sempurna sekali, gadis seksi itu sedang menyandarkan kepala ke sisi tembok dingin, kedua matanya terpejam, lengannya memeluk dirinya sendiri seakan ia kedinginan berada di dalam sana. Di musim gugur ini, Jun Hyunseo hanya menggunakan gaun yang nyaris nampak seperti gaun tidur tipis, dan para petugas polisi tidak terlihat iba untuk meminjamkan jaket atau selimut untuk disampirkan pada tubuh kecil itu.

“Jackpot!” Bisik Kyuhyun. “Inilah tampilan dari sosokmu yang dulu terlihat hebat dan mengagumkan. Sendirian, berantakan, dan terbuang. Siapa sangka ketenaranmu menjadi bumerang untukmu sendiri, ckckck.”

Gadis itu membuka kedua matanya, mengernyit sejenak untuk menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk ke dalam retinanya, sejurus kemudian ia pun menatap pada pria yang berbalik menatapnya tajam. Detik itu pula Hyunseo bisa mengenali aura wartawan dari pria gagah yang berdiri di luar jeruji tempatnya ditahan sementara.

“Siapa kau?” Tanyanya dengan suara bergetar karena tubuhnya menggigil kedinginan.

Kyuhyun tidak menjawab. Jantungnya sedang berdetak keras karena beberapa faktor sekaligus. Ia tertangkap basah oleh objek buruannya, gadis yang dulu ia idolakan bicara langsung padanya, dan tatapan itu… tatapan yang terlihat sangat menyedihkan di mata Kyuhyun.

“Aku berani bertaruh… ada alat penyadap di salah satu aksesoris yang kau kenakan.” Lanjut Hyunseo. “Kau wartawan, bukan?”

Pria itu bergeming.

Jun Hyunseo menghela napas pasrah, sebulir air mata jatuh dari pelupuknya. “Kau mau menghancurkanku, ng? Silakan. Ambillah gambar sebanyak-banyak yang kau inginkan. Semua sudah tidak ada artinya.”

Baru saja ia hendak menjawab saat tangannya ditarik kasar ke belakang. Petugas polisi yang seharusnya piket telah kembali dari kamar mandi dan menyadari ada orang asing yang mengeinterupsi tahanannya.

“Kau pengacara atau keluarga dari wanita ini? Hanya dia yang belum dijemput.” Tanya petugas itu.

“A—aku…”

“Sudah kukatakan sejak semalam… tidak akan ada yang menjemputku.” Sahut Hyunseo lemah pada petugas polisi yang mengabaikannya.

Kyuhyun menoleh untuk melihat keadaan gadis yang terlihat semakin pucat dan menyedihkan, memastikan semua kata-kata tadi serta footage wajah pasrah Jun Hyunseo terekam baik-baik dalam kamera di kacamatanya. Gadis itu menatapnya kembali, dengan seulas senyum kecil yang sangat dipaksakan sembari menghela napas panjang.

“Sudah puas dengan apa yang kau rekam?” Tantang gadis itu. “Kau menggenggam sisa hidupku di tanganmu, Tuan. Kalau aku masih boleh memohon… perlakukanlah kuasa itu dengan bijaksana.”

 

 

Tbc…

 


 

Element lain dari tetralogi (prolog 2 elemen lain menyusul)… Kali ini terinspirasi dari nama-nama besar macam Miley Cyrus, Britney Spears, bahkan Marshanda. Nggak tau kenapa kalau bacain berita mereka, kadang lebih ngerasa kasian dan miris… karena aku yakin ada trigger dari kehancuran yang mereka ciptain…

Anyways, nanti setelah 4 prolog publish, akan aku minta reader untuk voting yang mana duluan yang dilanjutin.

Terakhir, kalau ada yang keberatan dengan kata-kata aku yang terkesan kasar dan gamblang, aku mohon maaf sebelumnya, memang ada satu value buruk yang nampaknya aku share sama abang Kyu, yaitu mulut aku pun tidak ada filternya. Aku pun berhak merasa tertekan dan annoyed, bukan? Tapi sudahlah, aku nggak mau debat di sini, walaupun kalau ditanggepin, sampai puas juga bisa aku lawan. Ini Blog yang aku pakai untuk melepas stress, bukan nyiptain stress baru. Makasih atas pengertiannya.

 

 

Advertisements

55 thoughts on “Tetra-logy of Elements – Fire [Prolog]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s