Stupid Anxiety – 5 [Revelation]

38

*Gambar milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Married Life, Fluff, A slice of Life

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

 

 

 

Selepas pertengkaran mereka di meja makan, Sera tidak banyak bicara dan membiarkan Kyuhyun menumpahkan segala kekhawatirannya sekaligus keteguhan hatinya untuk tetap memilih jalan aborsi. Sesungguhnya pria itu membenci dirinya sendiri, ia benci harus bicara seperti itu pada Sera dan ia benci melihat tatapan penuh rasa takut yang Sera berikan padanya—tapi ia harus tegas. Sera terlalu terlena dengan prospek menjadi seorang ibu dan Kyuhyun harus menyadarkan istrinya akan bahaya-bahaya yang mungkin menghadang.

Keduanya pergi tidur dengan hati yang terasa berat dan kepala pening. Namun pagi Kyuhyun ternyata lebih buruk dari malamnya.

Dunia pria itu seakan runtuh saat ia terbangun dan menyadari istrinya tidak ada di rumah. Kyuhyun mengelilingi rumah mereka, memeriksa setiap ruangan bahkan sampai ke halaman belakang—Han Sera tidak ditemukan. Pria itu mencoba mencari istrinya ke taman tempat Sera biasa berolahraga, keliling daerah perumahan mereka dan akhirnya mencari boots dan mantel Sera. Absennya dua atribut itu memunculkan kesimpulan baru dalam benak Kyuhyun.

Han Sera melarikan diri.

Mencoba untuk tetap berpikir tenang, Kyuhyun meraih ponsel untuk menghubungi istrinya, benar saja tebakannya—Ponsel Sera dimatikan. Opsi terakhir bagi pria itu adalah menghubungi ibunya sendiri, nyonya Cho ternyata sama terkejutnya dengan berita Sera menghilang.

Kyuhyun menggaruk rambutnya frustrasi, kepalanya dipaksa bekerja berat untuk mengingat detil perdebatan mereka semalam. Sera memang tidak banyak bicara, wanita itu hanya mengangguk-angguk pasrah sambil menatap nanar pada tembok kamar mereka. Pemandangan itu saja sudah mengganggu Kyuhyun sejak semalam, karena ia tahu, diam-diam Sera pasti sangat marah dan benci pada keputusan yang Kyuhyun paksakan sebelah pihak. Tapi haruskah Sera menghilang? Wanita itu ringkih dan ia sedang mengandung, apapun bisa terjadi pada Sera sekarang dan Kyuhyun bersumpah tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada istri dan janin mereka.

Pria itu kembali ke rumah untuk mencari petunjuk yang mungkin bisa menuntunnya pada keberadaan Sera. Tapi istrinya itu tidak meninggalkan pesan, notes. Bahkan Han Sera lupa membawa dompetnya.

Sempurna. Kemana wanita itu pergi tanpa dompetnya?

Kyuhyun menutup wajah dengan kedua tangannya, terus mengutuk diri sendiri akibat kekejamannya semalam. Ia mengenal Sera sangat baik, dan ia tahu jika Sera melarikan diri, artinya wanita itu memang tidak sanggup dengan tekanan yang Kyuhyun berikan padanya—yang artinya Kyuhyun sama saja buruknya dengan mantan suami Sera, bahkan mungkin lebih buruk.

Kyuhyun meraih dompet Sera yang tergeletak di nakas samping tempat tidur mereka untuk memeriksa apa istrinya membawa kartu identitas atau kartu kreditnya. Setidaknya jika Sera membawa kedua benda itu, Kyuhyun bisa meminta bantuan kawannya untuk melacak Sera. Tapi hatinya mencelos saat melihat seluruh kartu penting Sera bertengger manis dalam dompetnya. Kesimpulan baru terbentuk dalam benak Kyuhyun; Han Sera pergi tanpa mempertimbangkan apapun, wanita itu memiliki waktu sempit untuk pergi dari sisi Kyuhyun dan Sera hanya membawa apa yang melekat pada tubuhnya.

“Sera! Bagaimana kau akan membeli makan tanpa dompetmu!” Hardik Kyuhyun frustrasi. Semakin kesal karena meskipun Sera bertingkah, wanita itu tetap saja ceroboh dan tidak berpikir panjang.

Pria itu hendak meletakkan dompet istrinya kembali saat perhatiannya dicuri oleh sebuah gambar hitam-putih yang terselip dalam dompet Sera. Ia pernah melihat foto semacam itu di televisi sebelumnya dan ia tahu gambar apa yang Sera simpan di sana. Air mata menggenangi pelupuk matanya saat ia mempelajari gambar itu dengan seksama—foto ultrasound calon bayi mereka.

Itu kali pertama Kyuhyun melihatnya, dan di saat itu pula napasnya terasa sesak dan jantungnya seolah diremas erat oleh sebuah tangan raksasa.

Sebuah anugrah sedang tumbuh dalam rahim istrinya dan detik itu pula Kyuhyun semakin sadar sekejam apa tindakan dan ucapannya pada Sera semalam. Perlahan pria itu terduduk di atas lantai, dalam memorinya terputar ulang kenangan saat Sera menceritakan tentang kegugurannya yang dulu ia ceritakan pada Kyuhyun di bangsal rumah sakitnya, ia ingat kepiluan dalam wajah wanita itu, ingat seberapa tertekannya Sera dengan fakta memedihkan yang tidak bisa ia perbaiki, ingat deskripsi Sera tentang rasa penyesalan dan kehilangan yang amat sangat, dan ingat bagaimana hal itu selalu menghantui mimpi buruknya.

Kyuhyun meraung pilu di atas lantai kamar mereka saat ia menyadari bahwa apa yang sudah dilakukan pada istrinya ternyata ribuan kali lebih kejam dari apa yang dilakukan Ok Taecyeon, mantan suami Sera. Setidaknya dulu Taecyeon tidak menyeret Sera ke klinik aborsi untuk menggugurkan buah cinta mereka. Kyuhyun jelas telah melampaui level biadab sampai ia tega memaksakan keputusan yang belum sempat mereka diskusikan matang-matang dan sangat sepihak itu.

Di tengah tangisnya, Kyuhyun mencoba mempelajari foto hitam-putih dalam genggamannya. Pria itu mengerutkan kening kebingungan menelaah bagian-apa-yang-mana dari foto yang terlihat buram.

Spontan tangis pria itu pecah.

Kyuhyun pun tidak tahu mengapa pagi itu ia menangis dalam posisi mengenaskan di atas lantai kamar mereka; ia mengkhawatirkan Sera, ia tidak mau membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada wanita yang sangat dicintainya, ia sangat takut akan prospek kesehatan Sera hingga dengan tegas menentukan sikap yang kejam, namun di sisi lain—melihat gambar yang ada dalam tangannya—pria itu juga tidak mau kehilangan anugrah itu. Janin itu adalah anugrah dalam pernikahan mereka dan Kyuhyun seorang pembual ulung kalau ia berkata tidak mengharapkan kehidupan keluarga kecil yang manis bersama Sera.

Sudah cukup lama Kyuhyun hidup dalam penyangkalan. Pria itu terlalu paranoid dengan kemungkinan buruk yang bisa saja kembali menyerang Sera nanti jika wanita itu mengandung, sehingga pria itu membuat garis batas yang jelas sejak awal—tidak perlu ada anak dalam pernikahan mereka.

Tapi melihat gambar dalam tangannya, bagaimana mungkin ia tega menyingkirkannya? Mengapa Kyuhyun justru gencar menyeret Sera ke klinik aborsi alih-alih menemaninya ke dokter kandungan? Mengapa ia tidak menenangkan diri sambil mendiskusikan opsi mereka terlebih dahulu? Mengapa ia tidak mencari tahu dulu kemungkinan dan pilihan lain untuk hidup mereka? Bagaimana mungkin Kyuhyun justru menjadi pria yang tega membunuh darah dagingnya sendiri?

Pria itu meringkuk sambil terus tenggelam dalam pikiran menyakitkan tentang istrinya, diselingi dengan rutukan yang menyalahkan dirinya sendiri. Pria itu menangis semakin keras; karena ketakutannya, karena kekhawatirannya, karena rasa bersalahnya, tapi yang paling utama karena ia malu dengan dirinya sendiri.

Beberapa saat setelah lebih tenang, Pria itu mencoba menelepon istrinya kembali. Setelah puluhan panggilan yang dialihkan, akhirnya Kyuhyun pergi ke rumah kedua orang tuanya, berharap Sera bersembunyi di sana—toh tidak banyak tempat yang bisa Sera datangi tanpa kartu identitas atau uang sepeser pun. Namun saat pintu depan rumahnya dibuka, bukan Sera yang ia temui, melainkan ibunya. Dari ekspresi nyonya Cho, Kyuhyun tahu ia akan segera mendapat cacian.

“APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADANYA, KYUHYUN-A?!” Wanita paruh baya itu langsung memukuli pundak Kyuhyun berkali-kali. “APA KAU MENYURUHNYA UNTUK ABORSI?! TIDAKKAH KAU TAHU BAGAIMANA REAKSINYA SAAT IA MENGETAHUI KEHAMILANNYA?! SERA TIDAK SEMPAT TERSENYUM! DIA BAHKAN TIDAK MEMIKIRKAN DIRINYA DAN LANGSUNG BERTANYA TENTANG PROSEDUR ABORSI! APA YANG TELAH KAU DOKTRIN DALAM KEPALA ISTRIMU ITU, HAH? APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA WANITA MALANG ITU?!”

Kyuhyun berlutut pasrah dan membiarkan sang ibu terus memukulinya, ia menangis dan ibunya pun demikian—keduanya sama-sama khawatir dengan keadaan Sera. Pukulan nyonya Cho baru berhenti saat ia kelelahan, pada akhirnya ibu Kyuhyun ikut terduduk di atas lantai teras rumahnya.

“Maafkan aku, Eomma.” Bisik Kyuhyun dengan suara bergetar. “Aku tidak berpikir sejauh itu.”

Tentu saja ibunya benar. Memang Kyuhyun baru mengetahui fakta kehamilan Sera semalam, tapi pasti tekanan yang Sera rasakan selama menyembunyikan berita itu jauh lebih berat. Belum lagi tatapan ketakutan Sera semalam yang terus membuat Kyuhyun mengutuk dirinya.

“Wanita itu tidak sempat tersenyum bahagia, Kyuhyun-a. Apa yang telah kau lakukan padanya? Mengapa kau tumbuh menjadi pria kejam? Aku tidak pernah mendidikmu untuk menjadi pria seperti ini.” Ujar nyonya Cho di antara tangisnya.

“Aku salah, Eomma. Tapi aku juga tidak bisa mengambil resiko.”

Sebuah tamparan langsung mendarat di atas wajah putih Kyuhyun. “Kau bisa menanyakan pendapatnya terlebih dahulu! Atau kalau kau memang keras kepala, kau bisa menanyakan perasaannya! Kalian bisa mencari opini ke dokter lain! Ada banyak yang bisa kau lakukan, Kyuhyun-a!”

“SERA BISA MATI, EOMMA!” Kyuhyun mengerang frustrasi.

“DAN SIAPA YANG MENYATAKAN KALAU DIA AKAN MATI KALAU MENGANDUNG?! KAU BUKAN TUHAN, CHO KYUHYUN!” Hardik nyonya Cho semakin panas.

Keduanya tertunduk untuk mengatur buncahan emosi masing-masing.

“Aku menemani seluruh konsultasi dokternya, Kyuhyun-a.” Lanjut nyonya Cho lebih tenang. “Meskipun dokter yang menanganinya tidak berani menjamin keselamatan Sera selama mengandung, istrimu ada dalam kondisi prima. Sera dan janinnya sehat, dan wanita itu sangat senang. Kau tahu sakitnya hatiku karena harus melihat menantuku itu menahan rasa bahagianya? Sera bilang padaku kalau dia tidak boleh terlalu senang, karena dia harus mengucapkan selamat tinggal pada janin yang dikandungnya segera.”

Kyuhyun masih menangis, pria itu tidak berani menatap wajah murka ibunya. Ia tahu sikapnya yang seperti bajingan tanpa perlu ditekankan ulang oleh ibu kandungnya sendiri.

Eomma, apakah Sera… apakah Sera benar-benar bahagia?” Bisik Kyuhyun lirih.

Nyonya Cho mengangguk. “Diam-diam aku sering menangkap Sera sedang membelai perutnya sendiri dengan senyuman tipis dan sorot mata sayu. Wajahnya yang berseri ketika melakukan ultrasound pertamanya. Kau bukan hanya menghancurkan hatinya, Nak. Kau merenggut mimpi dan kebahagiaannya.”

“Hentikan, Eomma.” Pinta Kyuhyun, tidak lagi sanggup dihakimi seperti itu oleh ibunya sendiri.

“Kau seharusnya sadar!”

“Aku sadar, Eomma. Aku tahu persis apa yang kulakukan dan aku melakukan ini untuknya.” Kyuhyun tetap keras kepala.

“Berhentilah menentukan apa yang baik dan buruk bagi Sera! Istrimu itu bukan anak kecil dan dia punya hak untuk menyuarakan pendapatnya, Kyuhyun-a! Seandainya kau memang tidak mau membiarkannya mengandung, setidaknya kau bisa mendukungnya!” Nyonya Cho kembali panas. “Wanita itu tahu kehamilannya akan sulit dan mungkin mustahil untuk dilanjutkan, tapi kau bisa menghiburnya alih-alih memaksanya aborsi segera setelah kau mendengar berita itu!”

“Apakah…” Kyuhyun menarik napas sambil mengatur napasnya. “Apakah memang mustahil, Eomma? Apa para dokter juga berkata demikian?” Tanyanya pilu. Berasumsi bahwa kehamilan akan beresiko pada Sera memang sudah menjadi kesehariannya, tapi ketika hal itu terjadi dan dikonfirmasi oleh para ahli, jelas membuat hatinya hancur.

“Maksudmu?”

“Apakah kami benar-benar tidak bisa menyimpan anugrah ini?” Tangis Kyuhyun pecah.

Nyonya Cho tidak memberikan jawaban, namun dari cara ibunya yang hanya menundukkan kepala, Kyuhyun paham bahwa kekhawatirannya baru saja terjawab.

Eomma, aku tidak pernah berniat menyakitinya. Aku hanya ingin melindungi Sera.” Bisik Kyuhyun lemah.

“Lalu mengapa Sera menghilang sekarang, Kyuhyun-a? Mengapa ia justru berlari darimu?” Balas Nyonya Cho sarkastis.

Pria itu bungkam. Ia sudah cukup sadar posisinya yang terkesan seperti pemeran antagonis dalam hidup Sera. Pria yang bersikeras memaksa untuk membunuh darah dagingnya sendiri lalu membuat istrinya ketakutan dan lari darinya. Tapi seandainya saja Kyuhyun bisa berbagi kepedihannya, seandainya ada yang paham bahwa ia pun terluka melakukan semua itu. Seandainya orang lain memahami landasan keputusan kejam Kyuhyun yang semata ada karena ia tidak sanggup hidup tanpa Sera.

 

***

 

Wanita itu tidak percaya bahwa password ke dalam tempat yang dulu ia jadikan rumah itu masih sama. Dengan langkah ringan, Han Sera melangkah masuk ke dalam tempat persembunyiannya. Aroma, suasana, warna, dan ambience yang tercipta dari tempat itu masih sama—anehnya, kali ini tidak ada lagi memori melankoli yang menyerangnya. Sera meniti langkahnya menuju ruang tengah, menyibakkan kain penutup sofa yang sudah berdebu dan perlahan mulai merapikan tempat yang dulu ia tinggali bersama Ok Taecyeon semasa pernikahan mereka.

Semalam Sera dan Kyuhyun baru bertengkar hebat. Well, mungkin lebih tepatnya Kyuhyun berteriak-teriak seperti orang kesetanan semalaman sementara istrinya hanya terduduk pasrah menerima semua omelan dari mulut suaminya–lengkap dengan kalimat-kalimat yang sudah tidak lagi disaring demi  menjaga perasaan Sera. Seumur mengenal Kyuhyun, baru semalam Sera melihat sisi lain dari pria itu—sisi iblis yang selama ini tersembunyi dibalik sikapnya yang tenang. Untuk pertama kalinya juga, Sera merasa terancam dan ketakutan pada pria yang selama ini telah mendedikasikan cinta untuknya.

Wanita itu menarik napas dalam, mengelus perutnya yang masih rata, lalu mendudukkan diri di atas sofa ruang tengah yang nyaman.

Agi-ya, tenang saja, eomma akan terus mencoba melindungimu, ne?” Senyum tipis terlukis di wajah Sera.

Awalnya, ia kira akan mudah menuruti ego Kyuhyun dan pasrah saja membiarkan pria itu menyeret langkahnya menuju klinik aborsi. Bahkan Sera sempat berharap Kyuhyun akan melunak saat tahu bahwa ia mengandung, bahwa darah daging mereka sedang tumbuh dalam rahimnya. Ada bagian kecil dalam hati Sera percaya bahwa Kyuhyun juga menginginkan ini—keluarga kecil indah mereka yang dilengkapi dengan kehadiran seorang anak. Namun setelah melihat reaksi Kyuhyun semalam, Sera tidak bisa memikirkan hal lain selain bertindak untuk menyelamatkan nyawa calon bayi mereka dalam kandungannya. Menyelamatkan janin itu dari ego ayahnya sendiri.

Yang membuat Sera semakin sedih sebenarnya karena kekhawatiran Kyuhyun dikonfirmasi oleh dokter kandungannya. Dokter yang dirujukkan pada Sera terlihat seperti dokter yang tidak mau mengambil resiko dan sejak awal sudah memperingatkan bahwa kehamilan berpotensi mempengaruhi tekanan darah Sera dan dikhawatirkan akan mempengaruhi kerja fisik Sera selama beberapa bulan ke depan. Setelah tiga pertemuan ke Ob/Gyn itu, sang dokter menyarankan pasienya untuk tidak melanjutkan kehamilan sambil memberikan beberapa opsi prosedur abortus bagi wanita itu.

Sera sudah cukup terpukul dengan keputusan dokter kandungan yang di matanya terkesan tidak mau repot itu, dan reaksi suaminya hanya memperburuk keadaan. Rasanya Sera ingin berteriak pada orang-orang yang meragukan kemampuannya. Ia paham bahwa mereka memang lebih ahli dalam bidang mereka, namun hanya Sera yang paling mengerti kondisi tubuhnya—dan wanita itu merasa sehat.

Percayalah, Sera pernah sekarat, ia tahu sensasi ketika nyawanya hanya bergantung pada mesin yang memompa jantungnya. Ia pernah divonis nyaris mati beberapa tahun lalu, dan kondisinya saat ini jelas jauh di atas itu. Tapi di sisi lain, ia juga harus mengakui bahwa ia takut. Ia takut jika kehamilannya dipaksakan dan ternyata berakhir buruk, Kyuhyun akan hancur.

Dengan berbagai pikiran yang melintas acak dalam benaknya, Sera memutuskan yang ia butuhkan adalah ketenangan untuk merenung. Ia kabur dari rumah untuk mencari secercah kedamaian dalam hidupnya sekaligus sebagai cara Sera untuk menghukum Kyuhyun karena sudah menjadi bajingan menyebalkan. Wanita itu bisa membayangkan tingkat kepanikan yang akan menyerang suaminya sendiri pagi ini saat terbangun dan tidak menemukan Sera di sisinya,. Tapi kalau Kyuhyun bisa menjadi seorang bajingan, Sera pun bisa menjadi wanita licik. Bagaimanapun juga ia mengenal pria itu sangat baik, ia tahu cara ini akan memberi pelajaran penting bagi suaminya untuk merenungkan kembali seluruh kejadian semalam.

Karena Sera tidak memiliki banyak teman dan jelas ia tidak punya tempat lain untuk melarikan diri, akhirnya sebuah ide brilian muncul dalam benak Sera pagi tadi. Demi kewarasannya, Sera bangun pagi-pagi sekali dan pergi meninggalkan suaminya yang masih mendengkur tanpa membawa apapun selain ponsel dan mantelnya. Apa memikirkan perasaan Kyuhyun sekarang penting? Tidak. Jika pria itu masih tetap keras kepala dengan keputusannya, Sera rela melarikan diri dari suaminya berbulan-bulan—bahkan mungkin selamanya. Karena bagaimanapun juga, Sera memang punya keahlian dalam hal melarikan diri dari masalah, wanita itu pernah melarikan diri dari suaminya yang pertama. Tidak sulit melakukannya lagi jika hal itu bisa menyelamatkan eksistensi darah daginya nanti.

.

.

.

Sepanjang hari dihabiskan Sera untuk membaca buku dan majalah lama yang masih tersimpan di apartemen itu, baru saat jam makan siang wanita itu menyadari bahwa ia meninggalkan dompetnya di rumah dan tidak bisa membeli makanan. Han Sera mengutuk dirinya sendiri yang ceroboh tapi segera mengatasi rasa laparnya dengan tidur siang.

Saat terbangun di sore hari, perut Sera semakin berisik protes meminta untuk diisi dan ia pun tahu bahwa ia harus memberikan nutrisi yang layak bagi janin yang tumbuh di dalamnya. Karena ia hanya membawa ponsel bersamanya saat keluar dari rumah, Han Sera memutuskan untuk menyalakan ponsel lalu menghubungi ibu peri pribadinya.

Kurang dari satu jam kemudian, bel apartemen Sera diketuk dan sebuah wajah familiar yang ramah menyambut di baliknya.

Eommoni.” Sera menyambut senang sambil melingkarkan kedua lengan di seputar bahu mertuanya.

“Aku membawakan apa yang kau pesan, dan beberapa makanan tambahan. Pasti kau sangat kelaparan.” Balas Nyonya Cho.

Sore tadi di tengah kekhawatirannya, Nyonya Cho mendapat telepon dari menantunya yang mengemis iba minta dibawakan makanan ke lokasi persembunyiannya. Jelas ia lega karena tahu Sera baik-baik saja, dan karena nyonya Cho juga ingin memberi pelajaran pada putranya, ia berangkat ke tempat Sera tanpa mengabari Kyuhyun.

“Masuklah. Eommoni tidak bilang pada Kyuhyun kalau aku di sini, kan?” Todong Sera.

Wanita paruh baya itu menggeleng. “Tadi pagi anak itu datang ke rumahku untuk mencarimu, tapi karena kau memang belum berkata apapun perihal keberadaanmu, aku pun tidak bisa membantunya. Jadi secara teknis, aku tidak berbohong padanya.” Kekeh Nyonya Cho.

Sera mengangguk hampa. “Terima kasih, karena Eommoni bersedia membantuku.”

Mertua Sera langsung mengeluarkan makanan yang diminta Sera, menuangkan sayuran pada piring saji dan mengeluarkan buah-buahan yang sempat ia beli sebelum tiba di apartemen menantunya. “Ini, makanlah! Kau pasti kelaparan seharian. Kau butuh tenaga ekstra untuk menghadapi Kyuhyun nanti.”

Gomawo, Eommoni.” Sera tersenyum tipis. “Apa suamiku masih berwujud Iblis Kyuhyun, atau sudah kembali menjadi Kyuhyun manis yang penyanyang.”

“Iblis Kyuhyun.” Nyonya Cho berdecak sebal. “Tapi kalau tujuanmu kabur dari rumah adalah untuk mengacaukan hatinya, maka kau sukses besar, Sera.”

“Bukan itu tujuanku, Eommoni. Sesungguhnya aku pun sedih memikirkan kondisinya yang pasti sangat berantakan sekarang. Tapi hanya dengan cara ini aku bisa memaksanya untuk berpikir dan mencari solusi yang tidak membuatku ingin kabur darinya.”

Sera menyuap sayuran yang dibelikan mertuanya dan sekejap itu juga ia lupa untuk bicara. Ternyata ia terlalu lapar sampai makanan terasa sekian kali lebih nikmat dari biasanya.

“Ini, jangan lupa minum ini. Ginseng baik untuk wanita hamil.” Nyonya Cho menyodorkan segelas teh pada Sera yang masih lahap dengan makanannya.

Lalu mata Sera membelalak senang melihat bungkusan puding manga yang nyonya Cho belikan juga sebagai makanan penutupnya. “Eommoni, kau benar-benar Ibu Periku.” Sera menyambar puding itu dan menghabiskannya dalam sekajap sebelum menambah pada bungkusan kedua.

“Seharusnya kau meneleponku lebih awal, kita bisa makan siang bersama dan kau tidak harus menahan lapar seperti ini.” Nyonya Cho terkikik geli menyaksikan kerakusan Sera di depannya.

Eommoni, biarkan piring itu di sana.” Sera menahan tangan Nyonya Cho yang mulai mengumpulkan piring kotor. “Aku akan mencucinya setelah makan.”

“Ey! Tadi kau yang bilang aku ini Ibu Perimu.” Nyonya Cho mengabaikan perintah Sera. “Duduk dan makanlah sampai puas, biar aku menjagamu malam ini.”

Sera mengangguk sopan dan kembali berterima kasih. Ternyata masih ada kelembutan sosok seorang ibu yang mau menjaganya di tengah kemelut rumah tangga Sera dan Kyuhyun sekarang.

Ah, ngomong-ngomong tentang Kyuhyun, Sera kembali memikirkan suaminya yang keras kepala itu.

Jika pagi tadi Sera meninggalkan rumah dalam kondisi murka pada pria itu, maka malam ini ia justru khawatir. Pasti pria itu sedang mengerahkan segala cara dan koneksi yang ia tahu untuk mencari Sera. Apakah Kyuhyun sudah makan? Apa pria itu sehat? Sudah pulangkah Kyuhyun dari kantor? Atau mungkin pria itu tidak pergi ke kantor karena mencari istrinya yang menghilang? Hati Sera mencelos membayangkan wujud Kyuhyun yang pastinya berantakan.

Eommoni… apa Kyuhyun baik-baik saja?” Tanya Sera pelan setelah ia menghabiskan pudingnya.

“Aish, kau masih mengkhawtirkan pria itu setelah apa yang ia lakukan padamu?”

Sera mengangguk lemah. “Dia suamiku, Eommoni.”

“Kalau kau khawatir, hubungilah dia. Pulanglah. Berhenti menjadikanku pihak penengah di antara kalian. Aish, aku terlalu tua untuk ikut sibuk dalam pertengkaran kalian, Sera-ya.” Ujar Nyonya Cho jengkel.

“Maafkan aku.”

Mertua Sera mematikan keran wastafel lalu duduk di hadapannya. “Tapi kurasa Kyuhyun sedang mempertimbangkan untuk melanjutkan ini.” Terang Nyonya Cho.

Mata Sera membelalak lebar dengan rahang terbuka tidak percaya, “Benarkah? Apa Kyuhyun menyatakan itu padamu, Eommoni?”

Nyonya Cho Menggeleng. “Pagi tadi saat Kyuhyun ke rumah, aku memakinya. Aku sangat marah sampai akhirnya tanpa sengaja berkata padanya bahwa para dokter pun meragukan kemampuanmu untuk terus mengandung. Ekspresi terpukul di wajahnya… aku mengenal anak itu, Sera-ya. Kyuhyun sama terpukulnya denganmu saat tahu kekhawatirannya memang nyata.”

“Tapi bisa saja dia hanya terpukul karena kekhawatirannya dikonfirmasi dokter spesialis.” Sera menjawab pesimis sambil kembali mengelus perutnya. “Aku takut, Eommoni. Bagaimana jika Kyuhyun benar-benar marah padaku? Aku takut besok dia sungguh-sungguh akan menyeretku ke klinik aborsi.”

“Apa yang akan kau lakukan sementara ini, Sera-ya?”

Wanita itu mengangkat kedua bahunya. “Kurasa aku akan menginap di sini. Aku pun butuh merenungkan semua fakta yang sudah kupelajari.”

“Aku setuju, kau lebih baik menginap di sini semalam. Aku bisa menemanimu.” Tawar Nyonya Cho.

Sera menggeleng sopan. “Aku sudah sangat merepotkanmu, Eommoni. Aku mengenal tempat ini sangat baik, tenanglah.”

“Bagaimana perasaanmu sekarang, Sera?”

“Buruk. Sangat buruk.” Jawab Sera jujur. “Aku tidak habis pikir bagaimana mungkin aku bisa mencintai namun juga membenci pria itu dalam waktu bersamaan. Maksudku, aku masih mengkhawatirkan keadaannya, tapi juga takut pulang padanya untuk menghadapi keputusan buruk yang ia tetapkan untuk kami. Aku tahu aborsi itu adalah sesuatu yang sudah kupahami dan aku sudah menyiapkan mental untuk itu. Tapi jika Eommoni di posisiku, bisakah kau melakukannya?” Air mata Sera kembali mengalir bebas.

Nyonya Cho memindahkan posisi duduknya ke samping Sera untuk mengusap lembut punggung menantunya.

“Aku mengerti landasan berpikirnya, Eommoni. Sungguh, aku mengerti. Tapi sebagian kecil dari hatiku merasa bahwa aku pantas mendapat kesempatan ini, aku pantas menjadi seorang ibu, kan, Eommoni? Aku tahu pasti kondisiku akan melemah, tapi kalau aku didukung oleh keluargaku, oleh dokter-dokter yang rela repot demi menjaga kondisiku dan kandunganku tetap sehat, kurasa aku akan baik-baik saja, bukan? bagaimanapun juga, yang sakit itu jantung bawaanku, bukan jantung donor ini.” Sera menangis pilu. “Aku pantas mendapatkan kehidupan kedua yang kuimpikan, bukan?”

“Kau ingin opiniku, atau sekedar ingin meluapkan rasa frustrasimu, hm?” Sahut Nyonya Cho tenang.

“Keduanya.”

“Baiklah. Menurutku, sebaiknya kau diskusikan ini dengan Kyuhyun—tidak malam ini, karena jelas putraku butuh waktu merenung juga—hanya saja kau harus ingat bahwa waktu kalian juga terbatas. Saranku, menginaplah semalam di sini, lalu pulang padanya besok. Kalian harus bicara. Minta Kyuhyun untuk benar-benar mendengarkan pemaparanmu, kau juga harus menceritakan semua hasil pemeriksaan yang kita lalui dengan dokter kandungan itu. Baru kemudian kalian bisa berdiskusi. Aku yakin Kyuhyun akan mengerti, memang anak itu keras kepala tapi dia sangat mencintaimu.”

“Aku bahkan tidak tahu perasaanku, Eommoni.” Sera menopang dagunya di atas meja. “Karena sejujurnya, aku juga menakutkan hal yang sama dengan Kyuhyun—bagaimana jika tubuhku memang tidak kuat mengandung? Aku juga takut, Eommoni. Terlebih setelah dokter kandungan menyatakan bahwa aku pasien dengan resiko tinggi.”

Nyonya Cho mengangguk paham. “Bagaimana jika kau mencari opini dari dokter kandungan lain? Belum terlambat untuk mencari dokter baru, kan? Di Seoul, dokter kandungan bukan hanya wanita dengan wajah judes yang menyebalkan itu. Jangan menyerah dulu, Sera-ya.”

“Nampaknya kau benar-benar menginginkan cucu, Eommoni.” Ledek Sera mencoba menghibur diri.

“Tentu saja aku menginginkan cucu, tapi yang terpenting adalah kebahagiaan kalian. Jika seluruh dokter kandungan di negara ini angkat tangan, maka kau harus berbesar hati, Sera-ya. Tapi selama harapan itu masih ada, tidak sepatutnya kau menyerah sekarang.” Jelas Nyonya Cho.

“Mencari dokter kandungan baru. Kurasa ide itu bisa kuterima.” Sera menghapus sisa air mata di wajahnya.

“Karena sejujurnya, aku benci dokter kandunganmu itu. Wajahnya yang tidak bersahabat, sikapnya yang dingin. Cih! Dokter macam apa yang langsung menyarankan kau menggugurkan kandungan pada pertemuan ketiga.” Hardik Nyonya Cho.

Sera mengangguk cepat. “Ng, aku juga tidak suka dengan wanita itu.”

“Aku akan menyanyakan beberapa kenalanku perihal dokter kandungan yang bisa mereka rekomendasikan. Sementara ini, jagalah kesehatanmu serta janinmu, ne?” Nyonya Cho merangkul Sera sambil meremas bahunya perlahan.

“Terima kasih, Eommoni.”

 

***

 

Ini adalah hari kedua Sera menghilang. Pria itu sudah mengerahkan segala daya dan upaya yang bisa ia lakukan untuk mencari istrinya. Kyuhyun menghubungi semua orang yang mereka kenal, ia mendatangai setiap hotel dan sauna, ia bahkan menghubungi kawannya yang bekerja di imigrasi sekedar memastikan istrinya tidak kabur ke luar negeri. Han Sera yang menghilang sudah cukup membuat Kyuhyun pening, ditambah dengan faktor ketelodoran wanita itu yang tidak membawa kartu pengenal dan dompetnya jelas membuat Kyuhyun semakin frustrasi. Di ujung keputusasaannya, Kyuhyun bahkan menghubungi Ok Taecyeon sekedar menyanyakan kemungkinan Sera yang bersembunyi dalam salah satu properti milik mantan suaminya itu—dan jelas Taecyeon tidak tahu apa-apa.

Setelah dua hari ia habiskan di jalan, Kyuhyun mulai kehilangan akal. Pria itu kembali menghubungi ponsel Sera berkali-kali untuk meninggalkan voice message. Kyuhyun hendak mengulang pencariannya ke hotel-hotel sekali lagi saat tindakannya itu terhenti oleh sebuah panggilan dari nomor ibunya. Pesan Nyonya Cho singkat, wanita paruh baya itu hanya menyarankan Kyuhyun untuk berhenti mencari Sera dan pulang, seolah ibunya itu tahu bahwa Sera telah menunggunya di rumah. Kali ini Kyuhyun memilih untuk mendengar saran sang ibu dan memutar balik arah mobilnya untuk pulang.

Pria itu memarkirkan mobil di perkarangan rumah dan segera membawa langkahnya masuk. Benda pertama yang Kyuhyun lihat adalah mantel Sera yang sudah tergantung di balik pintu dan boots wanita itu juga terpampang di rak sepatu. Sera telah pulang.

Kyuhyun berlari mencari istrinya ke dalam rumah, ia membuka pintu kamar tergesa-gesa dan akhirnya bisa bernapas lega karena wanita yang dicarinya ada di sana. Han Sera menyandarkan punggungnya pada permukaan tembok yang dingin. Meskipun terlihat murung, wanita itu nampak sehat dan tidak kurang satu apapun.

Pria itu bergegas mendekati istrinya, tanpa bicara Kyuhyun ikut duduk di samping Sera untuk merengkuh tubuh wanita itu ke dalam dekapannya, lengkap dengan tangisan penuh kelegaan sambil membubuhkan ciuman-ciuman kecil pada setiap pemukaan kepala Sera yang bisa diraihnya.

“Han Sera, maafkan aku.” Erang Kyuhyun frustrasi.” Maafkan aku. Aku sangat kejam padamu, bukan? Aku tidak berpikir panjang, kau pasti tersakiti oleh sikap dan kata-kataku. Ya Tuhan, maafkan aku Sera-ya. Kumohon, jangan pergi dari hidupku. Kumohon maafkan aku.”

Wanita itu mengangkat tangannya untuk mengusap punggung Kyuhyun lembut. Mencoba menenangkan kekalutan suaminya akibat tindak pemberontakan yang ia lakukan sejak kemarin.

“Maafkan aku, Sera-ya.” Kyuhyun memeluk istrinya semakin erat. “Aku tidak berniat untuk berbuat sekejam itu, aku tahu bahwa aku sudah kelewat batas.”

Sera tidak menjawab, masih mengusap lembut punggung Kyuhyun.

“Kukira aku kehilanganmu, Sayang. Kukira kau meninggalkanku. Maafkan aku, Sera. Aku telah membuat kesalahan besar, kumohon maafkan aku.” Ujar Kyuhyun di tengah isakan tangisnya.

Perlahan Sera pun merasa emosional menyaksikan suaminya mengemis kata maaf seperti ini. Wanita itu mendorong tubuh Kyuhyun dengan lembut, menghapus air mata yang membanjiri wajah tampan pria itu, lalu menangkupkan kedua tangannya untuk menatap Kyuhyun lekat.

Wajah tampan suaminya terlihat kacau, sosoknya yang gagah juga terlihat lelah. Sera memikirkan kapan terakhir kali pria itu menyentuh makanan dalam dua hari terakhir. Pria itu sangat pucat dan warna yang paling menonjol dalam wajahnya adalah dua kantung mata gelap yang menggantung di bawah mata tajamnya. Seluruh pakaian Kyuhyun terlihat lusuh, rambutnya sudah tidak teratur. Pria itu sedang menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di pusat perbelanjaan, dari mulutnya ia tidak berhenti meminta maaf pada wanita yang telah dikecewakannya.

“Kyu, jangan menangis.” Sera mendekap kepala Kyuhyun di atas dadanya. “Aku hanya perlu menenangkan diri sejenak darimu, maafkan aku.”

“Tidak, aku yang salah. Aku tidak memberimu kesempatan sedikit pun, aku membuat keputusan sepihak tanpa memikirkan perasaanmu.” Kyuhyun menenggelamkan wajah pada ceruk leher Sera. “Aku berubah menjadi monster yang membuatmu ketakutan, bukan?”

Sera mengangguk sambil menyisir rambut Kyuhyun dengan jemarinya. “Aku percaya bahwa aku sanggup membencimu, Kyu.”

“Dan kau memiliki hak untuk membenciku.”

“Tapi aku juga khawatir padamu. Aku tahu persis bahwa kau akan menjadi sekacau ini.” Sera memeluk tubuh Kyuhyun lebih erat. “Sebagian diriku ingin memberimu pelajaran agar tidak macam-macam denganku, tapi sebagian lagi justru sangat mengkhawatirakan keadaanmu.”

“Terima kasih karena kau lebih memihak pada sisi yang kedua.” Kyuhyun mengangkat wajahnya untuk mengecup pipi Sera.

Sera menarik napas dalam, cukup sudah basa-basi dan acara meminta maaf. Wanita itu tahu bahwa mereka harus segera mendiskusikan pokok masalah mereka. Sera ingin pembahasan itu segera tuntas, karena ia pun tidak sanggup menahan beban batin yang terus menyertainya.

“Kyu, tentang tindak aborsi itu…” Sera menggigit bibirnya, tidak percaya bahwa ia bisa bicara tentang hal menyakitkan itu setenang ini. “Bolehkah… maksudku, bisakah kita mencari beberapa opini profesional terlebih dahulu?”

Kyuhyun mengangkat tubuhnya dari Sera. “Ng, kita memang harus mendiskusikan itu. Tapi sebelum kita mulai berdebat lagi, bolehkan aku menceritakan sebuah pencerahan yang kuperoleh selama kau menghilang?”

“Apa aku akan menyukai ceritamu?”

“Aku tidak yakin. Tapi aku janji, pencerahanku tidak akan menyakitimu seperti kemarin.” Kyuhyun mengangkat kedua alisnya untuk meyakinkan Sera.

“Ng, baiklah. Katakan pencerahan macam apa yang kau peroleh.”

Kyuhyun merogoh ke balik celananya untuk meraih dompetnya, mengambil secarik foto hitam-putih yang ia simpan di dalam sana. “Aku menemukan gambar ini di dompetmu kemarin. Tapi aku terlalu bodoh untuk mencerna, bagian mana dari gambar ini yang menunjukkan buah hati kita?”

Sera terkekeh lemah lalu meraih gambar itu dari tangan Kyuhyun, kemudian menunjuk pada gambar di tengah yang nampak seperti kacang merah kecil. “Ini calon anak kita, Kyu. Gambar ini diambil tiga hari yang lalu. Saat ini usia kandunganku sudah dua belas minggu—itu nyaris tiga bulan.”

Kyuhyun tersenyum sambil mengangguk lemah. Dengan ragu pria itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Sera. Wanita itu paham gestur yang hendak Kyuhyun lakukan, maka ia menuntun tangan Kyuhyun untuk ditaruh tepat di atas rahimnya.

“Tubuhku belum banyak berubah secara fisik.” Jelas Sera.

“Kau terlalu kurus untuk seorang wanita yang sedang hamil.” Kyuhyun kembali bersandar di atas bahu Sera, tanpa melepaskan tangan dari perut istrinya. “Aku ingin kau tahu, bahwa aku mau melakukan ini, Sera-ya.”

Ne?

“Aku ingin menjadi ayah dari anak ini, aku ingin berjumpa dengan buah hati kita. Aku ingin membangun keluarga kecil yang manis bersama wanita yang kucintai.” Ujar Kyuhyun parau.

“Meskipun kau sangat membenci anak kecil?” Tantang Sera sinis.

“Aku yakin, anak kita akan berbeda.” Kyuhyun terkekeh. “Tapi aku juga punya pertimbangan.”

“Bahwa kita tidak bisa mempertaruhkan kesehatanku.” Sera mengangguk paham.

“Tepat.”

Sera bernapas tenang. “Seandainya aku bisa menemukan seorang dokter yang berani menjamin kesehatanku selama kehamilan dan pasca kelahiran nanti, apa kau mau mensuportku, Kyu?”

“Dengan catatan dokter itu menjamin kesehatan dan keselamatanmu 100%.” Sahut Kyuhyun mantap.

“Mustahil. Bahkan seorang wanita yang sehat masih tetap memiliki resiko saat melahirkan. Bagaimana kalau dokter menjaminnya 50-50?” Tawar Sera.

Kyuhyun menggeleng. “90%.”

“75%!” Sera mulai merengek. “Ayolah, 75% itu angka yang cukup besar.”

Pria itu menghela napas panjang. “Apa yang doktermu katakan sejauh ini?” Tanya Kyuhyun yang menyadari bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang kehamilan istrinya sendiri.

“Kau pasti senang, karena dokter kandunganku sama menyebalkannya denganmu. Katanya kehamilan ini beresiko dan dia menyarankan aborsi demi mengurangi berbagai kerepotan yang akan terjadi jika aku terus mengandung.” Rahang Sera mengencang seiring amarahnya meluap. “Kata dokter itu, resiko terbesar adalah saat usia kehamilan semakin tua sampai pada proses melahirkan nanti. Karena tekanan darahku akan semakin meningkat dan mungkin saja menimbulkan kebocoran pada sambungan operasi cangkok jantungku dulu. Sepertinya harapanmu terkabul, Kyu.”

Kyuhyun mendesah lemah. Rasa kecewa menyerangnya begitu saja karena keterangan Sera. “Kau sungguh mengira aku tidak menginginkan ini, ng? Kau sungguh mengira aku mampu menjadi bajingan kejam yang membunuh darah dagingku sendiri.” Simpul Kyuhyun.

“Karena kata-kata yang kau lontarkan kemarin memang demikian.” Sera menundukkan kepala, menghindari tatapan tajam Kyuhyun yang mengintimidasi.

“Aku sama bahagianya denganmu, Sayang.” Kyuhyun kembali mengelus perut Sera. “Tapi aku menunjukkan dengan cara yang salah, karena hatiku dihantui rasa takut kehilanganmu. Untuk sikapku malam kemarin, aku sungguh minta maaf.”

“Kau mengatakan ini untuk menghiburku? Hanya agar aku tidak kabur lagi?” Todong Sera sinis.

Kyuhyun justru terkekeh melihat wajah Sera yang semakin mengkerut. “Tuduhanmu tidak berdasar.”

“Oh ya?”

“Ng!” Pria itu mencubit hidung Sera gemas. “Kau perlu tahu bahwa kehadiranmu sudah mengubah banyak sekali prinsip hidupku. Dulu aku tidak mau menikah, sekarang cincin dengan ukiran namamu justru melingkar di jari manisku. Aku memang tidak suka anak kecil, tapi gambar ultrasound calon anak kita yang kau simpan dalam dompetmu jelas telah mengubah sudut pandangku. Versi mini dari kita sedang tumbuh dalam rahimmu, tentu saja aku tidak sabar ingin bertemu dengan putraku segera.”

“Putri. Aku ingin anak perempuan agar biasa kudandani sampai puas. Lalu saat dia tumbuh remaja, aku bisa menjadi sahabatnya.” Sahut Sera.

Kyuhyun mengecup pelipis Sera. “Sebelum kita berdebat masalah gender, masih ada masalah yang lebih krusial di hadapan kita, Sera-ya. Kau mendapatkan dukunganku, tapi bagaimana dengan dokter kandunganmu?”

“Aku berdiskusi dengan eommoni. Kami sepakat bahwa dokter kandungan di Korea Selatan bukan hanya wanita berwajah galak itu. Wanita itu memiliki reputasi almost-zero-failure yang harus dijaganya, wajar saja dia tidak mau berurusan dengan pasien beresiko sepertiku.”

“Karena memang tidak ada resiko yang harus dipertaruhkan saat berurusan dengan nyawamu, Sayang.” Kyuhyun mengecupi wajah istrinya. “Lihatlah aku sekarang! Lihat sekacau apa diriku hanya karena kau minggat 2 hari. Jangan lakukan itu lagi! Caramu tidak kreatif dan aku benci itu.”

Sera tersenyum sendu, perlahan air mata yang ditahannya tumpah juga. “Tiga minggu, Kyu. Aku punya waktu tiga minggu sebelum harus melakukan aborsi. Kyu, kumohon, biarkan aku mencari seorang dokter yang bersedia membantu kehamilan ini. Aku akan mencari opini kedua, ketiga, bahkan keseribu sekalipun demi mempertahankan calon bayi kita. Hanya saat aku tidak punya pilihan lain, baru aku menyerah untuk membunuh darah dagingku sendiri.” Tangis Sera pecah seusai mengucapkan kalimat itu.

Kyuhyun menarik Sera ke dalam pelukannya, mencoba menenangkan kekalutan istrinya yang semakin menjadi. “Baiklah, mari kita mulai pencarian dokter hebat itu, Sera-ya. Aku akan mendukung setiap langkah yang harus kau ambil—seperti yang selama ini kulakukan untukmu. Tapi aku juga takut, aku takut hatimu akan terluka seandainya hanya pilihan terburuk tersisa untuk kita nanti.”

Wanita itu memeluk tubuh Kyuhyun semakin erat. “Aku juga takut, Kyu. Aku tidak sengaja membunuh janinku dulu, dan aku tidak sanggup melakukannya lagi untuk yang kedua kalinya. Tapi aku takut. Aku takut untukmu, dan aku juga takut akan sangat terpukul jika aborsi adalah keputusan akhir dari kisah ini. Ini terlalu menyakitkan, Kyu… aku tidak…” Kata-kata Sera tertelan isak tangisnya sendiri.

“Kita masih punya waktu, Sera-ya. Tiga minggu. Aku akan berjuang bersamamu, jika kita harus mencari ribuan opini lain demi mepertahankan calon anak kita, maka aku akan melakukannya—jika kau ingin melakukan ini, maka aku akan mendukungmu, aku janji. Percayalah padaku, bersadarlah padaku sekarang, ng?” Kyuhyun mendekap tubuh Sera lebih erat lagi, mencoba menyalurkan sedikit kekuatan pada istrinya yang sudah mulai pesimis dengan pilihan mereka.

 

tbc…

Advertisements

69 thoughts on “Stupid Anxiety – 5 [Revelation]

  1. Goldilovelocks says:

    Aduuuuuhh setelah sebelumnya dibikin ikut emosi disink berasa dpt angin segar. Ini tuh…. apa ya?? Em…. tipetipe rumah tangga idaman. Yeaaa sesekali pertengkaran emang ada, tapo cara mereka nyeleseinnya itu lho yg bikkn baperrrrr huhuhu sweeeeetttt. Dan usulan Nyonya Cho sepikiran bgt lah sama aku! Cari dokter lain karena di Seoul maupun Korsel bahkan dunia, dokter gak kek si muka judes itu wkwkwk 😂 dan semoga aja Sera sama Kyu bisa ngerasain hadirnya buah hati yaaaaa :’)

    Liked by 1 person

  2. Putrikimcho says:

    Aku tau kalo kyu juga pasti ga pengen aborsi cuman kyu itu terlalu parno sama keadaan sera. Kyu percayalah ga akan terjadi apa² *semoga aja* semoga sera bisa hamil

    Nexttt kak semangatt 💪💪

    Liked by 1 person

  3. KartikaApriya says:

    Setelah dibuat khwatir bakal aborsi akhirnya kyuhyun luluh jugaaa
    Semoga aja mereka nemu dokter yg bagus yg bisa ngasih kehidupan sera dan bayinya entar….

    Liked by 1 person

  4. jungsoo says:

    setelh di buat emosi akan kptsn spihak kyuhyun di part selanjutny
    akhrn ada ttik terng dmn kyuhyun dkung penuh sera untuk calon ank mereka
    grget ama tingkh dua kopel ini dlm mnghdp mslh sllu sjha bkin gmesssss
    mngkn itu dokter judes nksir kyuhyun mknny judes bngt kkkkk
    smga smuany berjln lncarrrrrr

    Liked by 1 person

  5. Alea says:

    Sera kabur dari rumah. Akhirnya Cho sadar juga kalau dia jahat sama Sera. Tapi kasihan juga Cho dimarahin ibunya. Dan mereka semua berencana mencari dokter yang yakin kalau Sera bisa hamil tanpa ada penyangkalan tentang jantung Sera

    Liked by 1 person

  6. Hana Choi says:

    Part ini bikin terharu semoga aja ada opsi lain sehingga sera bisa mengandung dan jadi seorang ibu, kyuhyun keren dia calon ayah yg baik meskipun sebelumnya bikin jengkel dan kesel tapi untung aja dia sadar. Pengen deh ngeliat keluarga mereka bener” bahagia

    Liked by 1 person

  7. Rihyunnie says:

    Hmm knp gak dilacak lewat nomer HP aja? Hehe… Sera kan bawa HP .-.
    Tapi… ntar gak seru kalo ketemu Seranya :/
    Ah nurut authornya aja lah 😂

    Liked by 1 person

  8. novi says:

    Untung kyuhyun berubah pikiran.
    Memang hrus sprti ini, brjuang bersama, sling dukung. Dn seneng bgt ny.cho sllu ada buat sera. Mertua idaman banget 😀

    Liked by 1 person

  9. Dyana says:

    Setidaknya setelah Kyuhyun berubah pikiran, mereka akan mencari jalan bersama tanpa ada yg di sembunyikan lagi, saling mendukung seperti saat sera sakit dulu…
    Semoga mereka menemukan dokter yg tepat dan resiko untuk sera bisa di perkecil…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s