Stupid Anxiety – 4 [Cruelty]

 

37

*Gambar  milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Married Life, Fluff, A slice of Life

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

 

Waktu selepas bulan madu kedua mereka adalah salah satu waktu terbaik dalam kehidupan pernikahan Sera dan Kyuhyun. Berminggu setelah perjalanan itu, akhirnya Kyuhyun menemukan seorang asisten pria yang bisa melaksanakan pekerjaan mengintai untuknya. Hal yang tentu saja berimbas pada penambahan alokasi waktu yang bisa pria itu habiskan bersama dengan istrinya. Keduanya kembali bersikap layaknya remaja sedang kasmaran, melakukan aktivitas anak muda seperti menonton bioskop, berkencan, bahkan pernah satu malam mereka mencoba masuk ke dalam club anak muda di Hongdae—lalu keluar hanya setelah satu gelas bir.

Di siang hari Sera menghabiskan waktu dengan kehiatan positif yang bisa mengalihkan pikirannya dari sang suami dan saat pukul enam, wanita itu akan menunggu suaminya dengan sabar di depan teras, lengkap dengan cengiran lebar di wajahnya.

Pria itu kembali merasakan gejolak cinta yang lama telah ia abikan akibat kesibukannya. Ia menyadari seberapa banyak waktu yang telah ia buang untuk menyia-nyiakan kesetiaan Sera yang hanya meminta waktunya, bahkan Kyuhyun tiba di satu titik di mana ia keheranan sendiri dengan orang-orang yang datang ke kantornya untuk mengurus perceraian—bagaimana mungkin mereka bisa mengorbankan suatu hubungan indah yang pernah mereka ikrarkan. Karena pria itu tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Sera, dan ia percaya, semakin tua usia pernikahan mereka, semakin besar juga rasa cintanya untuk wanita itu.

Satu hal yang Kyuhyun sadari, Sera diam-diam merindukan gestur-gestur kecil yang dulu sering Kyuhyun lakukan sepanjang masa kritisnya. Di mana pria itu selalu ada di sisinya, tanpa lupa membawakan bekal makanan manis yang Sera gemari. Maka malam ini, Kyuhyun ingin melakukan itu kembali.

Makanan penutup pilihannya adalah lemon meringue pie yang dijual di bakery dekat kantornya. Dengan senyum bangga pria itu turun dari mobil sambil menenteng boks kue untuk dipamerkan pada istrinya yang menyambut di pintu depan.

“Kyu, aku merindukanmu.” Sera melebarkan kedua lengannya untuk memeluk Kyuhyun manja.

Pria itu mengecup puncak kepala Sera sambil balas memeluknya, “aku membawakan lemon pie.” Ujarnya sambil menggoyangkan bungkusan yang ia genggam di tangan kiri.

Wajah Sera semakin berseri. “Terima kasih. Hari ini aku masak rotisserie chicken. Ini percobaan pertamaku dan kuharap ayam itu matang sepenuhnya sampai dalam.”

“Tenang saja, kita bisa menggoreng ayam itu kalau masih kurang matang.” Kyuhyun melepas sepatunya dan ganti memakai sendal rumah. “Bagaimana harimu, Sera-ya?”

“Meh, begitu saja. Bagaimana denganmu?”

“Pertikaian panas di pengadilan, klienku masih belum memeperoleh apa yang dituntutnya.” Kyuhyun duduk di meja makan dan segera meneguk segelas air yang Sera siapkan untuknya.

“Pasti menyebalkan sekali.” Wanita itu fokus mengiris ayam buatannya di tengah meja. “Kau mau kentang?”

Pria itu mengangguk. “Sayang, kudengar besok kau akan pergi bersama eomma? Bukankah kau sudah kapok menemani eomma ke acara arisan bulanannya?”

Wanita itu terkekeh. “Besok aku pergi bersama eommoni untuk belanja bulanan, bukan arisan—aku tidak akan menemani eommoni arisan lagi dan ibumu pun melarangku sejak kejadian itu.”

Kyuhyun memotong daging ayam di piring lalu mengunyahnya. “Wah, Han Sera. Ayam ini enak!”

“Benarkah? Tidak keasinan?” Wanita itu ikut memakan ayam buatannya. “Kurasa ayam ini terlalu asin.”

Kyuhyun mengangkat bahu. “Rasanya pas untukku.”

Pria itu menghabiskan porsi pertamanya dengan lahap dan menambah sementara Sera masih berusaha menelan ayam yang terlalu asin baginya. Wanita itu menelan banyak sekali air putih untuk menetralkan indera pengacapnya.

Kyuhyun membantu membereskan piring kotor dan mengosongkan meja sebelum mereka memotong pie yang ia beli sebelumnya. Wanita itu menunggu dengan senang selama Kyuhyun membagi pie dalam ukuran yang seragam dan seketika Kyuhyun menyerahkan jatah potongan Sera, wanita itu tidak menunggu sedetik pun untuk mulai menyantap salah satu hidangan favoritnya.

Wujud pie itu berbanding jauh dengan rasanya ketika Sera mencicipi. Dari permukaan pie itu nampak lembut, dengan warna kekuningan dan aroma lemon menyeruak tajam. Sayangnya saat dimakan, Han Sera justru menmanyunkan wajahnya.

“Kenapa, Sayng? Kau tidak suka?” Kyuhyun terkejut dengan reaksi istrinya.

“Terlalu manis. Apa kau membelinya di tempat biasa?”

Kyuhyun mengangguk. “Tapi memang seharusnya manis, bukan?” Pria itu memotong pie di piring Sera untuk ikut mencicipinya. “Rasanya sama seperti biasa.”

“Benarkah?” Sera mengernyit bingung. “Well, aku berharap pie ini lebih masam alih-alih manis. Namanya saja lemon pie, bukan sugar pie.” Protesnya sambil tetap memakan sisa potongan pie yang ada di piringnya.

 

*

 

Ibu Kyuhyun menjemput Sera keesokan pagi selepas Sera merapikan rumah. Wanita paruh baya itu selalu senang menghabiskan waktu bersama dengan menantunya, setidaknya ia merasa punya teman yang bisa diajak bergosip tentang keseharian putranya yang terlalu sibuk itu. Nyonya Cho juga sangat bersyukur pada fakta bahwa ada seorang wanita yang mau menghabiskan hidupnya untuk mengurus anak lelakinya yang keras kepala dan menyebalkan, apalagi Sera juga merawat Kyuhyun dengan baik dan membanjiri pria itu dengan cinta yang pantas diperolehnya.

Hal lain yang disukai nyonya Cho tentang Sera adalah ikatan emosional antara seorang ibu dan anak putri yang tidak pernah ia miliki. Karena suaminya sama saja dengan putranya yang cuek dan mengutamakan pekerjaan. Sehingga kehadiran Sera telah membawa kenyamanan baru baginya, mengurangi rasa sepi dan juga membuatnya terlibat dalam interaksi sosial menyenangkan yang  ia butuhkan.

Siang itu, kedua wanita bpenting dalam hidup Kyuhyun menghabiskan waktu di sebuah restoran Italia yang terletak di samping supermarket tempat mereka belanja sebelumnya.

“Jadi prilaku Kyuhyun berubah setelah pulang dari bulan madu kedua kalian?” Nyonya Cho bertanya dengan mata berbinar, senang karena kehidupan pernihakan putranya membaik.

Sera mengangguk semangat. “Perlakuannya hampir sama seperti saat aku sekarat, Eommoni. Pria itu pulang tepat waktu dan selalu membawa kue untukku.”

“Ey, aku jadi iri.” Goda nyonya Cho. “Tapi aku senang mendengarnya.”

“Memangnya Kyuhyun tidak cerita apapun pada Eommoni?”

“Yang benar saja! Kalau bukan karenamu, aku tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dalam hidupnya.” Nyonya Cho menyisip teh dari gelas di sampingnya. “Lalu bagaimana dengan masalah itu? Apa dia berubah pikiran?” Lanjut nyonya Cho mengangkat topik yang tabu.

Yang ditanya hanya menggigit bibir sambil menggeleng lemah. “Nampaknya tidak mungkin, Eommoni. Sepertinya lebih baik aku mengadopsi seekor anjing saja, setidaknya aku tidak terlalu kesepian kalau Kyuhyun kerja.”

“Ey, kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti ini setiap hati kalau kau kesepian. Kau hanya perlu meneleponku dan aku pasti datang menjemputmu.” Hibur ibu Kyuhyun sambil mengusap tangan Sera.

“Kau baik sekali, Eommoni. Terima kasih, akan kuingat tawaranmu ini baik-baik.” Balas Sera sambil tersenyum jahil. “Lagipula aku sudah sepakat untuk tidak mengungkit kembali masalah itu dengannya, Eommoni. Perlahan, kurasa aku bisa belajar menerima keputusannya.”

Pesanan mereka tiba, keduanya segera fokus pada hidangan yang mereka pilih masing-masing dan sibuk mengacak-acak pasta dalam piring mereka.

“Hm, seenak rekomendasi yang kubaca.” Nyonya Cho memebelalakkan mata kagum setelah menyuap spaghetti pesanannya.

Sera menyuap sepotong lasagna ke dalam mulutnya, lalu ia segera mengeryit dan meneguk air banyak-banyak.

“Kau baik-baik saja, Sera-ya?”

“Ne, tapi rasa lasagna ini aneh untukku.” Sera kembali meneguk airnya.

“Tidak biasanya kau memesan pasta bewarna. Selama aku makan bersamamu, kau pasti memilih pasta dengan saus krim.” Nyonya Cho menyahut heran.

“Kukira tomatnya akan terasa lebih segar, tapi tidak! Pilihanku salah.” Sera menggeser piringnya menjauh.

Nyonya Cho yang penasaran justru memotong lasagna di piring Sera dan mencicipinya. Tidak ada yang salah, pasta itu enak sekali dan rasanya pas. “Bagiku rasanya enak, Sera-ya. Tapi kalau kau tidak suka, pesanlah sesuatu yang lain.” Wanita paruh baya itu mengangkat lengannya untuk memanggil pelayan.

“Apa yang bisa saya bantu, Nyonya? Apa ada masalah dengan pasta Anda?” Tanya pelayan sopan.

“Tidak, pastanya baik-baik saja.” Sergah Sera canggung. “Tapi bolehkah aku memesan salad buah saja?”

Beberapa saat kemudian pesanan baru Sera tiba dan ia menghabiskannya dengan lahap. Sera merelakan lasagna pesanannya teronggok begitu saja, lalu ia langsung melompat pada hidangan manis seusai ia menghabiskan salad buah pesanannya—dan juga kecewa karena kue itu terasa terlalu manis dalam indera pengecapnya.

Nyonya Cho diam-diam menyadari ada yang aneh dengan kelakuan menantunya yang biasanya gila makan. Tapi ia tidak mau berspekulasi, terutama karena ia tahu pasti putranya cukup berhati-hati untuk mencegah suatu hal lain tumbuh dalam tubuh Sera. Wanita paruh baya itu menganggap perilaku Sera yang aneh terjadi semata karena menantunya sedang tidak berselera makan.

*

Minggu berikutnya, nyonya Cho mendapat telepon dari Sera. Wanita itu minta ditemani mencari bahan kain di Dongdaemun, karena Sera semakin mahir dengan proyek quilting yang ia lakukan untuk mengahpus rasa bosannya di rumah. Mertuanya tentu setuju dan langsung menjemput Sera kurang dari satu jam kemudian dan segera mengarahkan mobilnya ke pusat perbelanjaan kain.

Sera dan nyonya Cho memasuki gedung putih yang padat dengan pedagang kain, segera saja aroma khas kain dan cat sablon menyambut indera penciumannya. Wanita itu menuntun langkah mereka langsung pada lantai empat, di mana toko favoritnya berada. Sementara Sera berjalan santai, nyonya Cho mengikuti menantunya sabar sambil ikut cuci mata melihat pilihan kain yang tersedia.

Tempat itu sempit dan sumpek, belum lagi dengan para pedagang yang memajang kain dagangan mereka sampai keluar dari etalase mereka, membuat suasana terasa lebih menyesakkan dan membuat kepala Sera pening. Kondisi tidak nyaman itu diperburuk karena mereka tiba pada jam makan siang, di saat pedagang mulai memesan makanan untuk diantarkan pada toko mereka. Sera sedang sibuk memilih kain-kain yang ingin dibelinya saat seorang petugas delivery melintas mengantarkan pesanan sup kimci yang masih berasap lewat di belakangnya. Uap dari sup itu mengisi setiap relung indera penciumannya dan bau itu langsung menciptakan sensasi mual pada perut Sera. Wanita itu menangkup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan untuk menahan dorongan untuk muntah dan ia harus mengatur napas sampai bau sup kimchi itu berkurang.

“Sera-ya, kau baik-baik saja?” Nyonya Cho mengusap punggung Sera, kaget dengan reaksi menantunya pada semangkuk sup kimchi.

Sera mengangguk tapi tidak melepaskan tangan dari mulutnya, keringat mulai muncul pada pelipisnya dan tiba-tiba saja ia merasa lemas. “Aku bayar ini dulu, Eommoni.” Ia berbalik pada paman penjual kain dan menuntaskan urusan belanjanya.

“Berikan bungkusan itu padaku, biar aku bawakan.” Nyonya Cho meraih kantung kresek di tangan Sera. “Kau terlihat seperti orang yang siap pingsan.”

“Aku butuh udara segar.” Sera mengangguk setuju.

Nyonya Cho menggandeng tangan Sera sambil membuka jalan di antara display kain yang sempit. Wanita paruh baya itu ingin mencari pintu keluar terdekat, tapi ia juga harus menghindari tangga karena Kyuhyun berkali-kali menekankan ibunya untuk tidak membuat Sera kelelahan. Jadi mereka harus berkutat agak lama untuk mencari eskalator sebelum berhasil keluar dari gedung itu.

Warna di wajah Sera sudah lenyap saat mereka tiba di luar. Nyonya Cho menyuruh Sera untuk duduk di bangku yang tersedia di trotoar sementara ia pergi ke toko kelontong untuk membeli air minum.

“Terima kasih, Eommoni.” Sera meneguk air putih yang diberikan banyak-banyak.

“Apa kau sakit? Ada apa denganmu, Sera-ya? Aku belum pernah melihatmu sepucat ini. Kita ke dokter saja, ne? Kondisimu membuatku khawatir.” Nyonya Cho mengeluarkan sapu tangan kecil dari tasnya untuk menghapus keringat pada pelipis menantunya.

Sera menggeleng cepat. “Aku baik-baik saja, Eommoni. Hanya saja di dalam terlalu pengap dan kurang oksigen. Aku tidak apa-apa, tidak perlu ke dokter—aku benci rumah sakit.”

“Aku akan mengabari Kyuhyun…”

“Jangan!” Sahut Sera cepat. “Jangan beritahu Kyuhyun tentang ini. Pria itu akan kembali paranoid dan ketakutan. Kalau itu terjadi, dia akan menyeretku ke rumah sakit dan memperlakukanku kembali seperti wanita yang sedang sekarat.”

Nyonya Cho menghela napas panjang. “Baiklah, kali ini kubiarkan. Tapi janji padaku, Sera-ya, jika kau merasa tidak enak badan atau lemas seperti ini lagi, hubungi aku, ne? Hanya kalau kau berjanji baru aku bersedia merahasiakan ini dari Kyuhyun.” Ancam ibu mertuanya.

Sera memaksakan senyum sambil mengangguk. “Terima kasih atas kerjasamanya, Eommoni.”

“Bagaimana kalau kita mencari makan siang?” Tawar nyonya Cho.

“Ng, aku ingin makan tumis sayuran, Eommoni.” Sahut Sera cepat.

“Baiklah, kita cari restoran Cina saja.”

 

*

 

Sera dan Nyonya Cho duduk dengan wajah tercengang saat mendengar hasil pemeriksaan kesehatan Sera.

Pagi tadi setelah menyiapkan seluruh keperluan Kyuhyun, Sera tiba-tiba kembali merasa lemah dan nyaris kehilangan keseimbangannya. Wanita itu bersusah payah mencari ponsel guna menghubungi ibu mertuanya untuk mengabari kondisinya yang tidak nyaman. Karena Sera telah berjanji akan menghubungi nyonya Cho jika ia merasa tidak enak badan—yang jelas lebih efektif karena nyonya Cho tidak bereaksi sepanik Kyuhyun jika ada berita buruk tentang Sera.

Ibu Kyuhyun tiba di rumah mereka segera, ia cukup tercengang melihat menantunya yang pucat pasi dan kali ini wanita paruh baya itu memaksa Sera untuk ke rumah sakit. Sera melalui rangkaian tes standard berupa pengambilan darah dan tes urin sebelum dokter memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan ultrasound pada Sera. Keduanya diam-diam takut bahwa penyakit lama Sera kambuh kembali, karena terakhir Sera mengalami gagal jantung, gejalanya pun sama—napas yang terasa pendek, sakit kepala berhari-hari, kehilangan tenaga, dan mual. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit tadi, Sera memohon pada nyonya Cho untuk tidak mengadukannya terlebih dahulu pada Kyuhyun sampai mereka mendapat diagnosa.

Beberapa jam kemudian diagnosa Sera keluar, dan hasil itu sukses memutar balikkan dunianya seketika.

“Han Sera-ssi, apa yang Anda rasakan itu wajar dalam tahap awal.” Terang dokter yang duduk sambil menggeser monitor di mejanya ke arah Sera.

Sera dan nyonya Cho mencondongkan badan untuk mengamati monitor dokter itu lebih dekat.

“Saya paham bahwa Anda memiliki masalah dengan jantung Anda di masa lalu dan dari rekam medis Anda, dinyatakan bahwa Anda seorang resepien donor—tentu membuat Anda masuk dalam kategori ‘beresiko’.” Lanjut dokter itu. “Jadi saya akan menulis surat rujukan pada Ob/Gyn, karena saya bukan dokter spesialis dan tidak bisa memberi banyak saran perihal kehamilan Anda.”

Nyonya Cho tersikap sambil membungkam mulutnya sendiri saat mendengar pernyataan dokter tadi, sementara menantunya masih menatap bingung ke dalam monitor. Sepertinya Sera perlu waktu lebih lama untuk mengolah berita yang ia dengar.

“Tadi Anda bilang aku apa, Dokter?” Sera bertanya lemah.

“Anda sedang mengandung, Sera-ssi. Usia kandungan Anda sudah 8 minggu.” Dokter itu menunjuk pada foto ultrasound Sera di monitornya. “Selamat!” Tambah pria itu.

Nyonya Cho tidak sanggup membendung rasa bahagianya, wanita paruh baya itu nyaris melompat dari kursinya kalau saja ia tidak tersentak dengan reaksi Sera yang justru datar.

“Tapi Dokter, saya meminum pil kontrasepsi.” Sahut Sera masih kebingungan.

“Ya, benar. Dalam rekam medis Anda juga tertulis demikian.” Dokter itu mengangguk setuju. “Tapi seperti pesan yang selalu kami tekankan pada wanita yang memilih menggunakan pil kontrasepsi untuk menunda kehamilan, pil itu harus diminum setiap hati tanpa terlewat. Apakah Anda lalai mengkonsumsinya, Han Sera-ssi?”

Sera menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, ingat bahwa ia terlewat mengkonsumsi pil-pil itu selama bulan madu kedua mereka. Tas obatnya tertinggal dan Sera yakin itulah yang menuntunnya pada diagnosa di ruang praktik dokter ini.

Wanita itu sejujurnya bingung dengan perasaannya sendiri; ia ingin melompat bahagia seperti yang dilakukan banyak wanita yang tahu bahwa mereka sedang berbadan dua, tapi di saat bersamaan ia tahu dirinya dalam masalah besar. Kyuhyun tidak mau anak—pria itu sudah menekankan berkali-kali dengan alasan yang bisa Sera terima dengan nalarnya.

“Dokter, maaf kalau aku bertanya tentang ini…” Sera menelan gumpalan menyesakkan dalam kerongkongannya. “Bagaimana jika… jika aku ingin menggugurkannya?” Tubuh Sera langsung bergetar seusai menuntaskan pertanyaannya, air mata wanita itu langsung mengalir turun tanpa mampu ia bendung. Menyakitkan sekali, di saat ia menerima berita indah yang diharapkannya sejak lama, Sera justru harus berpikir tentang cara menyingkirkan anugerah itu segera.

Nyonya Cho meraih tangan Sera yang terletak di atas pangkuannya, mencoba menenangkan sedikit kekalutan menantunya. Ia paham bahwa tidak seharusnya mereka berpesta akan berita bahagia ini, karena putranya yang keras kepala pasti tidak akan merubah pendiriannya.

“Apakah Anda mempertimbangkan aborsi, Sera-ssi?” Dokter di hadapannya mengerutkan alis bingung. “Mungkin sebaiknya Anda diskusikan dulu dengan suami Anda.”

“Itulah sebabnya aku bertanya, Doketer. Suamiku tidak menginginkan anak.” Sera mengahpus air matanya sekilas. “Apa Anda tahu tahapan yang harus kulalui untuk menggugurkan kandunganku?”

“Sekali lagi, maaf, ini bukan keahlian saya. Akan saya tulis surat rujukan ke Ob/Gyn untuk konsultasi dengan spesialis yang lebih profesional mengenai kehamilan…”

“Saya pasti akan menemui Ob/Gyn yang Anda rujukkan, tapi saya percaya bahwa Anda tahu prosedur umum dari tindakan aborsi, bukan?” Nada bicara Sera semakin memaksa, ia ingin jawaban, ia perlu tahu apa yang harus segera dilaluinya nanti.

Dokter itu berdeham, menarik napas dalam sebelum akhirnya menyerah untuk menjabarkan tahapan yang mungkin akan Sera lakukan jika pasiennya sungguh-sungguh ingin menggugurkan janin yang baru berusia 8 minggu itu.

“Kandungan Anda masih muda, jadi aborsi bisa dilakukan dengan meminum pil peluruh. Anda pasti harus istirahat selama beberapa hari akibat pendarahan yang akan menyertai dan rasanya akan sangat tidak nyaman—tapi resep pain killer pasti juga diberikan bersamaan dengan pil aborsi itu.”

Sera mencoba menjaga ekspresi wajahnya tetap datar sementara mendengarkan baik-baik keterangan dokter.

“Hanya saja, saya tidak memiliki otoritas untuk menuliskan resep itu. Itu sebabnya Anda harus menghadap pada Ob/Gyn. Prosesnya pun bertahap, Anda harus melewati rangkaian pemeriksaan terlebih dahulu untuk mempertimbangkan resiko. Kemungkinannya, janin Anda akan terlalu tua untuk diluruhkan dengan pil sehingga harus dilakukan dengan proses vakum.”

Sera langsung teringat akan rasa sakit yang harus ia lalui saat ia kehilangan janinnya betahun-tahun lalu, salah satu rasa sakit terhebat yang pernah dialaminya—bahkan lebih menyakitkan dari semua prosedur operasi jantungnya—karena wanita itu bukan hanya berjuang melawan kesakitan fisik, ia juga harus melawan rasa sakit akibat rasa kehilangan secara mental.

“Sera-ssi, memang saya tidak punya wewenang apapun dalam keputusan yang akan Anda ambil. Tapi sebagai seorang dokter, saya menyarankan Anda untuk memikirkan ini baik-baik sebelum melanjutkan proses aborsi. Anda masih punya waktu untuk—”

“Berapa lama waktu yang saya miliki untuk merenung?” Potong Sera setengah berbisik.

“Bedasarkan hukum yang berlaku di Korea Selatan, aborsi hanya diperbolehkan dan legal sampai usia 15 minggu kehamilan, karena jika lebih jauh dari itu, embrio berkembang semakin kompleks dan semakin berbahaya bagi sang ibu.”

“Jadi aku masih punya waktu 7 minggu untuk memikirkan ini.” Bisik Sera pada dirinya sendiri.

“Ob/Gyn yang Anda rujukkkan, kapan kami bisa bertemu dengan beliau?” Tanya nyonya Cho, mengambil alih pertanyaan krusial karena menantunya terlihat semakin kebingungan. “Bisakah kami membuat jadwal perjanjian?”

“Bisa, akan segera saya tuliskan rekomendasinya, dan Ob/Gyn ini bisa kalian temui lima hari dari sekarang. Apakah Sera-ssi ingin kumasukkan ke dalam jadwalnya?”

Nyonya Cho mengangguk. “Terima kasih atas waktu Anda, Dokter. Kami akan mempertimbangkan keputusan ini baik-baik.” Nyonya Cho mengusap punggung Sera sejenak sebelum keduanya bangkit berdiri.

Sera berpegangan sepenuhnya pada nyonya Cho dalam perjalanan mereka dari ruang dokter menuju parkiran. Pikirannya penuh dengan spekulasi dan ia ketakutan.

Tangis Sera pecah setibanya mereka dalam mobil, rasanya Sera ingin mengoyak jantungnya saja saat ini akibat rasa sesak yang menyerangnya. Tidak mungkin, tidak mungkin hidup berlaku begini kejam padanya. Mungkin mudah baginya untuk setuju tidak memiliki anak dalam pernikahannya dengan Kyuhyun, tapi hal itu menjadi sulit ketika anak yang tidak diharapkan suaminya itu sudah mulai tumbuh dalam tubuhnya. Ia tidak mau melakukan itu, ia tidak mau membunuh janinnya sendiri—tidak, cukup sekali ia kehilangan calon bayi. Sera tidak setangguh itu untuk menanggung rasa sakit yang sama dua kali.

Wanita itu kehilangan janinnya dulu, dan rasa sakit serta sesal masih menyertai mimpi buruknya hingga detik ini. Perasaan tidak berdaya, perasaan lemah, rasa bersalah dan penyesalan saat ia kehilangan janinnya dulu masih terbayang. Dan sekarang ia menghadapi prospek untuk membunuh darah dagingnya sendiri karena sang suami tidak ingin Sera hamil.

“Sera-ya, kumohon tenangkan dirimu. Jangan mengangis terus seperti ini.” Nyonya Cho yang juga sudah bersimbah air mata mencoba menenangkan menantunya.

Eommoni…” Sera menyandarkan tubuh sepenuhnya dalam pelukan nyonya Cho. “Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa… aku tidak bisa bertindak sekejam itu.”

“Mungkin kau harus membicarakan ini baik-baik dengan Kyuhyun.” Saran nyonya Cho sambil menepuk punggung Sera.

Wanita itu langsung menggeleng cepat. “Tidak mungkin, Eommoni. Kau tahu sendiri wataknya, dia tidak akan merubah keputusan. Aku tahu untuk masalah ini Kyuhyun akan tetap teguh pada pendiriannya.” Sera menangis semakin keras. “Argh! Kenapa harus menjadi sepelik ini? Aku tidak kuat, Eommoni… aku tidak bisa…”

Nyonya Cho memeluk tubuh Sera lebih erat lagi, mencoba menjadi sandaran bagi menantunya yang sedang kalut. Jelas ibu Kyuhyun paham kepedihan yang Sera rasakan, ia pun seorang wanita. Ia tahu ikatan batin antar anak dan ibu, dan ia mengerti sakitnya Sera yang tidak boleh menikmati koneksi itu. Han Sera bahkan tidak sempat tersenyum saat mendengar berita kehamilannya, wanita itu terlalu takut akan reaksi Kyuhyun hingga ia lupa untuk bahagia—dan memang nyatanya Sera tidak boleh bahagia, ia harus segera menggugurkan kandungannya sendiri.

Kedua wanita itu menangis lama dalam mobil yang masih terparkir sampai mereka merasa cukup tenang. Han Sera terlihat kacau dan ibu Kyuhyun juga tidak jauh berbeda dengannya.

“Sera-ya, aku masih bingung. Bagaimana kau bisa mengandung sementara kalian rutin ke klinik perencanaan keluarga?” Tanya nyonya Cho parau.

“Aku lupa meminum pil kontrasepsi seminggu penuh, Eommoni.” Balas Sera lemah.

Wanita paruh baya itu mengangguk paham. “Mungkin kalau kau berdiskusi dengan Kyuhyun sambil memberi argumen yang tepat…”

“Aku pernah bertanya padanya, seandainya suatu hari aku hamil.” Suara Sera kembali tercekat. “Kata Kyuhyun… dia sendiri yang akan menyeretku ke klinik aborsi, Eommoni.”

Nyonya Cho membelai rambut panjang Sera sayang. “Tapi kau tetap harus mendiskusikan ini, Sera-ya.”

Hati Sera terasa sakit membayangkan jenis argumen yang akan dilaluinya nanti dengan Kyuhyun, karena ia tahu jawaban final suaminya jauh sebelum perdebatan itu dimulai.

Eommoni, kau dengar kata dokter tadi, aku masih punya waktu untuk memikirkan keputusanku.” Sera berbisik di tengah isakannya. “Kumohon, berjanjilah… janji kau akan merahasiakan ini dari Kyuhyun, ne? Tidak akan lama, aku hanya perlu waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum mendiskusikan ini dengannya. Karena begitu kami bicara, aku yakin, aku bisa gila.”

Nyonya Cho mengangguk setuju. “Aku juga tidak berhak memberitahunya, Sera-ya. Tentu saja aku percaya bahwa kau bisa mengatasi ini dengan caramu sendiri.” Nyonya Cho memeluk Sera kembali. “Tapi kau juga harus berjanji, jika mengalami kesulitan dalam kehamilanmu, jangan ragu-ragu untuk menghubungiku, ne?”

“Terima kasih.” Sera kembali menyandar pada mertuanya sambil terus terisak pilu.

 

*

 

Ada yang janggal dengan sikap Sera dan Kyuhyun menyadari perubahan sikap istrinya beberapa minggu belakangan. Wajahnya penuh senyum namun emosi bahagia tidak tersampaikan lewat sorot matanya, Sera berlagak senang setiap kali Kyuhyun di dekatnya namun di saat bersamaan juga menghidari kedekatan mereka. Kyuhyun juga sering menangkap istrinya melamun menatap halaman mereka dengan tatapan hampa. Apa ada yang salah dengan sikapnya akhir-akhir ini? Mungkinkah Sera sedang marah padanya? Tapi Kyuhyun tidak merasa melakukan kesalahan apapun pada wanita itu.

Hal lain yang Kyuhyun sadari adalah Sera sering keluar dari rumah selepas makan malam dengan alasan mencari udara segar, dan setiap Kyuhyun menawarkan diri untuk menemaninya, Sera selalu mencari alasan agar Kyuhyun tetap tinggal di rumah saja. Kyuhyun tidak mau menjadi pria yang mencurigai istrinya sendiri, tapi karena kelakuan janggal Sera, akhirnya insting Kyuhyun bertindak.

Pria itu merutuk dirinya sendiri pagi ini, saat ia memutuskan untuk memantau kegiatan istrinya diam-diam. Kata Sera, hari ini ia akan menghabiskan waktu bersama ibunya. Biasanya Kyuhyun percaya-percaya saja, tapi karena Sera sudah menggunakan alasan itu terlalu sering sebulan terakhir, akhirnya kecurigaan pun muncul. Berbekal insting yang kuat, Kyuhyun pamit pada Sera pagi tadi, namun alih-alih pergi ke kantor, ia hanya memarkirkan mobilnya di balik tembok tetangga untuk memantau kegiatan Sera.

Kecurigaan Kyuhyun memudar saat ia mengenali mobil sedan yang menjemput Sera, benar memang ibunya yang menghabiskan waktu dengan wanita itu. Tapi kecemasan dalam hatinya berbicara lain, entah mengapa insting Kyuhyun mengatakan sebaiknya ia mengikuti kemana dua wanita itu pergi. Seperti penguntit ulung, ia mengikuti perjalanan sedan ibunya dari belakang. Tidak ada yang salah dengan rute yang diambil sang ibu, sampai pria itu menyadari rute lama yang dulu dijalaninya setiap hari.

Hati Kyuhyun mencelos saat melihat mobil sedan itu berbelok ke dalam parkiran rumah sakit tempat dulu istrinya dirawat. Dengan sigap Kyuhyun hendak ikut berbelok, namun ponselnya berdering.

“Ada apa? Aku sibuk!” Hardiknya pada asisten yang meneleponnya.

“Pengacara Cho, kurasa Anda harus ke kantor segera. Darurat.” Jawab suara di seberang dengan panik.

Apa ada yang lebih darurat dari ibu dan istriku ke rumah sakit sekarang?!

“Apa yang terjadi?” Balas Kyuhyun, mengesampingkan kejengkelannya.

“Apa Anda ingat tuan Oh yang kalah dalam persidangan alimentasi dengan mantan istrinya? Pria itu di sini sekarang mengobrak-abrik kantor kita. Beliau datang dengan pengacara lain, siap menuntut Anda, Pengacara Cho.”

“Apa?”

“Kumohon, datanglah ke kantor segera. Kami sibuk menahannya agar tidak merusak segala barang di atas meja.” Jelas asistennya semakin bingung.

Kyuhyun membuang napasnya kasar sembari meremas gagang setir keras-keras untuk menyalurkan emosinya. Dua hal yang terpampang di depannya sama-sama darurat, dan ia harus menentukan skala prioritas. Dalam desakan itu, Kyuhyun berpikir bahwa setidaknya sementara ini Sera akan aman bersama ibunya, maka ia mengambil keputusan untuk pergi ke kantor dan menghadapi cacian kliennya.

.

.

.

Saat pria itu tiba di rumah, ia sudah kelewat lelah akibat berurusan dengan mantan klien gila yang kasusnya gagal ia menangkan dulu. Tuan Oh menuntut ganti rugi pada Kyuhyun karena ia tidak suka memberikan alimentasi bulanan yang besar pada mantan istrinya. Kyuhyun terpaksa menghabiskan sisa hari untuk mendebat balik pria itu dengan berbagai bukti tuntutan yang ia simpan rapi dalam lemari filenya.

Mood Kyuhyun semakin buruk karena Sera menyambutnya pulang dengan senyuman lebar yang hampa seperti biasa. Wanita itu melakukan gestur hariannya saat Kyuhyun datang, melebarkan kedua lengannya lalu memeluk suaminya, lalu menyiapkan kebutuhan makan malam Kyuhyun segera. Lalu wanita itu kembali termenung bahkan saat mereka masih mengunyah makanan.

“Hentikan ini, Sera-ya.” Kyuhyun meletakkan gelasnya dengan kasar ke atas meja, membangunkan Sera dari lamunannya.

Wanita itu mengangkat wajahnya perlahan, ia tidak terlalu terkejut dengan tempramen suaminya malam ini—seakan Sera memang menanti Kyuhyun untuk memulai perdebatan yang ia nanti.

“Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu, dan aku ingin kau mengungkapkan itu.” Ujar Kyuhyun dingin.

Sera menggigit bibirnya, tubuhnya kembali bergetar ketakutan. Ia tahu hari ini akan tiba, hari di saat ia harus membeberkan kenyataan yang telah ia sembunyikan sebulan terakhir dari Kyuhyun.

“Han Sera, bicaralah! Aku tahu pasti sesuatu terjadi padamu, sekarang waktunya kau jujur! Bicaralah atau aku akan terus menekanmu sampai kau bicara!” Pria itu membentak Sera lengkap dengan tatapan tajamnya.

“Aku tidak mengerti…”

“Jangan. Coba. Bodohi. Aku.” Ancam Kyuhyun, mengucapkan kata per kata dengan penekanan.

“Aku tidak—”

“Apa yang kau lakukan dengan eomma siang tadi?” Cecar Kyuhyun.

“Belanja.”

“BOHONG!”

Sera tidak merasa ingin membela argumennya, ia sudah tahu Kyuhyun perlahan akan curiga dengan sikapnya dan memang hanya perlu menunggu waktu hingga pria itu memperlakukan Sera seperti salah satu terdakwa yang biasa pria itu hadapi.

“Kutanya sekali lagi, apa yang kau lakukan dengan eomma siang tadi?”

Sera menurunkan kedua tangannya dari atas meja, tidak ingin Kyuhyun menyaksikan tubuhnya yang semakin bergetar ketakutan. “Aku… kami…”

“Apa yang kau lakukan di rumah sakit?” Tembak Kyuhyun tepat sasaran.

“Menjenguk teman eommoni—”

Kyuhyun bangkit dari kursinya dengan gusar, ia kemudian menarik kursi lain di samping Sera agar bisa menatap istrinya lebih dekat lagi. “Apa kau kira aku ini bisa dibodohi? Bahkan detik ini kau tidak berani menatap mataku, Han Sera!”

Tubuh Sera semakin menegang. Wanita itu sangat ketakutan dengan amarah Kyuhyun yang terbendung, serta prospek perbincangan mereka yang ia tahu akan menyakitkan.

“Apa kau sakit?” Kyuhyun terus menyecar Sera. “HENTIKAN KEBISUANMU! KATAKAN PADAKU APA YANG SEBENARNYA TERJADI!”

Air mata meluncur turun dari pelupuk mata wanita itu. Sera ingin memberitahu Kyuhyun apa yang terjadi, ia ingin menyampaikan berita indah itu pada suaminya. Tapi Sera pun tahu, detik Kyuhyun mengetahui perihal kehamilannya, adalah detik saat darah daging mereka terpaksa disingkirkan.

“Maafkan aku, Kyu…” Bisik Sera di antara isakannya. “Aku tidak tahu harus cerita dari mana.”

“Han Sera, kalau kau sakit, akulah orang pertama yang harus tahu! Bukan ibuku! Aku bertanggungjawab atas hidupmu, dan lebih cepat aku tahu, maka lebih cepat pula kita mendapatkan solusinya!”

“Tapi…”

“Berhenti berkilah!” Bentak Kyuhyun lagi. “Kau membuatku frustrasi, Han Sera!”

Sera menarik napas dalam sambil mempersiapkan mental. “Aku tidak sakit, Kyu. Aku bersumpah. Aku tidak sakit.”

“Lalu apa yang kau lakukan di rumah sakit? Apakah eomma sakit?” Kyuhyun merendahkan suaranya saat menyadari bahwa ada prospek lain dari tuduhannya pada Sera.

Wanita itu menggeleng. “Eommoni sehat, Kyu.”

“Lalu? Mengapa kalian pergi ke rumah sakit? Bulan ini belum jadwal medical check-up-mu, Sera.”

“Karena aku melakukan kesalahan besar.” Jawab Sera pasrah.

Pria itu menjambak rambutnya sendiri untuk menyalurkan rasa kesalnya. “Sera, jangan berkelit, katakan padaku apa yang terjadi.”

Wanita itu menarik napas dalam. “Aku hamil, Kyu.”

Seketika itu juga tangis Sera pecah. Baginya, jujur pada Kyuhyun seperti menggenggam pedang bermata ganda, di satu sisi ia lega karena tidak lagi perlu menutupi fakta kehamilannya, namun di sisi lain ia tidak siap dengan reaksi suaminya.

Kyuhyun sendiri merasa bagai diguyur dengan seember air es. Tidak mungkin, Tidak mungkin istrinya mengandung. Karena mereka rutin mendatangi klinik perencanaan keluarga untuk mengambil pil kontrasepsi. Pil-pil itu sudah melakukan fungsinya dengan baik selama lebih dari dua tahun, lalu mengapa saat ini justru gagal?

“Ba—bagaimana mungkin?” Tanggap pria itu ragu. Hanya kata itu yang muncul dari mulutnya karena Kyuhyun terlalu terguncang sampai ia tidak sanggup menenangkan Sera yang menangis semakin keras.

Wanita itu mengatur napasnya beberapa saat, mencoba bicara di tengah sengguk tangisnya. “Aku lupa membawa pil kontrasepsi saat kita ke Venezia.”

Kyuhyun memukul permukaan meja dengan telapak tangannya keras untuk melepaskan emosi atas kebodohan yang muncul akibat kecerobohan Sera. Perbincangan ini tidak akan terjadi kalau saja istrinya berhenti bertindak seenaknya. Reaksi pria itu sesuai dengan apa yang Sera perhitungkan, tapi tetap saja hatinya pilu menyaksikan kemarahan Kyuhyun di hadapannya.

“Maafkan aku, Kyu.”

“Sudah berapa lama kau tutupi ini dariku?” Suara Kyuhyun semakin bergetar karena amarah.

Sera menunduk sambil menggigit bibirnya.

“HAN SERA! JAWAB PERTANYAANKU! SUDAH BERAPA LAMA KAU MENUTUPI INI DARIKU?!” Kyuhyun meremas kedua bahu Sera sambil menggoyangkan tubuh ringkih istrinya.

“Sebulan.”

“Apa kau sudah menindaklanjutinya?”

Sera menggeleng cepat sambil terus menarik napas dalam. “Kumohon, Kyu… kumohon jangan paksa aku melenyapkannya. Kumohon, bisakah kita—”

“TIDAK.”

Jawaban pria itu pendek dan sukses menghujam perasaan Sera layaknya pisau belati yang dingin. Kyuhyun melepas tangannya dari bahu Sera, berjalan mengelilingi dapur mereka dengan gelisah sambil mencoba memikirkan tindakan berikutnya. Bagaimana mungkin ini terjadi pada mereka? Ia tidak mau menjadi bajingan yang menyeret istrinya sendiri ke klinik aborsi untuk menggugurkan darah daging mereka. Ada secercah perasaan bahagia dalam dirinya saat mendengar pengakuan Sera, karena tentu saja, ia pun ingin menjadi ayah dari anak-anak mereka. Tapi pria itu kerap diingatkan pada resiko buruk yang mengintai nyawa wanita yang sangat dicintainya. Ia masih ingat jelas penderitaan Sera, kesakitan wanita itu, perjuangannya untuk terus hidup. Jika pilihannya terletak pada kemungkinan yang akan membahayakan nyawa Sera kembali, maka Kyuhyun tidak perlu pikir panjang untuk menetapkan keputusannya.

Pria itu kembali duduk di hadapan Sera, ia menarik wanita itu erat ke dalam pelukan hangatnya. Mencoba menenangkan tangisan Sera yang semakin menjadi. Ia tahu keputusannya tadi sudah menyakiti hati Sera—dalam skala fatal—dan pria itu akan kembali menyakiti Sera dengan kata-kata penegasan yang akan disampaikannya.

“Sera-ya, kapan kau dijadwalkan untuk bertemu lagi dengan dokter kandungan?” Pria itu berusaha terdengar tenang meskipun ia juga mulai kalut.

“Lusa.” Jawabnya pasrah.

“Maafkan aku. Aku akan menjadi bajingan itu, Sera-ya.” Isakan Kyuhyun lolos dari mulutnya. “Kita akan membereskan masalah ini segera. Aku tidak bisa membiarkanmu terus mengandung anak itu.”

Anak itu. Anak itu adalah anakmu sendiri, bodoh. Batin Sera dengan perasaan yang semakin kacau.

Tapi Sera merasa tidak ada gunanya melanjutkan perdebatan ini. Ia mengenal watak suaminya sangat baik, dan ia terlalu lelah untuk terus berdebat dengan Kyuhyun yang sudah teguh dengan pendiriannya. Wanita itu hanya menyandarkan tubuh dalam dekapan suaminya, pria yang sangat ia percaya akan menjaganya, namun juga pria yang baru menghancurkan seluruh kepingan hatinya yang tersisa.

“Maafkan aku, Sayang.” Bisik Kyuhyun lagi.

“Tidak, Kyu.” Balas Sera lemah. “Maafkan aku.”

 

 

Tbc…

 

Advertisements

73 thoughts on “Stupid Anxiety – 4 [Cruelty]

  1. yoongdictasticgorjes says:

    Asli kyu kamu kejam bgt seandainya aborsi itu terjadi,,mski itu bisa mengancam nyawa sera stidaknya konsultasi dulu lah sama dokter kndungan bgaimana jalan kluarnya..dasar mulut petir klo ngomong gk pernah disaring dulu pikirin juga dong prasaan sera..

    Liked by 1 person

  2. WiniSparkyu says:

    Sera pasti terluka bgt kalau sampe dia kehilangan bayinya untuk yg kedua kali.
    Kyuhyun jga gak ambil resiko, gmna kalau kejadian dulu bisa terulang lagi? Tapiii, kan setidaknya Kyuhyun bisa konsul dulu sama dokter. Tega bgt kalau Kyuhyun ngebunuh anaknya sendiri.

    Liked by 1 person

  3. syalala says:

    kaaaannn kaaannn hamil juga kannnnn!!! ah parah sih kyuhyun kalo tetep nyurus aborsi sumpah kenapa sih dia ga percaya sama sera aja itu anak lu kyuuuuuu hahhh kesel plus sedih huhuhu

    Liked by 1 person

  4. Goldilovelocks says:

    Kakaaaaaaaaaaaaakkkkkk 😤😤😤😤 kaka kenapa bisa banget bikin aku diserang emosi gini sih? INI GILA! GILA! GILAAAAA!!! Ya ampuuuun dari pas Kyuhyun ngebentak pegawainya di telepom sampai dia marah-marah sama Sera aku udah mengkeret ketakutan huhuhi dia tega bangeeeeetttt kenapa harus begini sih Cho?? HA? KENAPA?! WAEEEEEE??? Anak itu = anakmu. Ya tuhaaaan…. plis Sera perjuangin plis… jangan mau kalah sama ketakutan Kyuhyun. Cinta boleh tapi gak kayak gini caranya! Aku yakin kamu udah sembuh! Kyuuuuu aku masih merinding lho sama bentakan kamu buat Sera. Huhuhu jahat bangeeeet 😭😭😭😭

    Liked by 1 person

  5. KartikaApriya says:

    Yaampun ga tega sesayang2nya kyuhyun ke sera masa klo hamil bakal langsung diaborsi…
    Kasian sera dia mau bnget punya anak sekalinya punya disuruh diaborsi kasian😢😢

    Liked by 1 person

  6. Alea says:

    Kan iya, Sera hamil. Ibunya Cho seneng banget, tapi lihat Sera jadi sedih karena Sera gak ada ekspresi senang sama sekali. Apa begitu sakitnya Sera sampai gak ada rasa bahagia? Atau Sera sangat takut ama Cho? Nyesek banget jadi Sera ka. Cho jangan bentak bentak Sera, kasian dia

    Liked by 1 person

  7. Hana Choi says:

    Kyuhyun kejam banget padahal pasti ada solusi lain dari masalah mereka, mungkin aja resiko sera kembali buruk ga bakalan terjadi kalau seandainya mereka melakukan hal yg disarankan sama dokter, semoga aja kyuhyun ga bener” buat aborsi sera semoga aja ada secercah cahaya yg datng buat kyuhyun kasian sera pasti dia juga pengen jadi seorang ibu

    Liked by 1 person

  8. novi says:

    Knpa kyuhyun ttp mnginginkn aborsi sih, apa dia tdk berpikir klo aborsi itu mmiliki resiko.y tinggi juga. Hrus.y dia bri ksmptan sera buat hamil, siapa yg taukn nti sera dn bayi.y sehat.

    Liked by 1 person

  9. Dyana says:

    Dan… Sera beneran hamil.
    Ini bnr2 berat buat Kyuhyun, satu sisi dia tidak ingin Sera sakit lagi, satu sisi dia jg pasti mengharapkan juga tu anak…
    Kira2 apa Kyuhyun beneran akan membawa Sera aborsi??

    Liked by 1 person

  10. Ddeulgi says:

    Plis jangan diaborsii. Coba jah padahal konsul dulu ke dokter bisa ga sera hamil trs ngelahirin. Kan jadi ribet gini. Padahal dihati masing2 mereka pengen punya anak

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s