Stupid Anxiety – 2 [Insecurity]

35

*Gambar milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Married Life, Fluff, A slice of Life

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

 

Wanita itu sudah menunggu sabar di depan pelataran kantor suaminya selama lebih dari setengah jam, sedangkan pria yang dinantinya masih belum muncul, padahal waktu bekerja sudah selesai lebih dari satu jam yang lalu. Sangat tipikal Cho Kyuhyun. Setiap kali pria itu terlibat dengan kasus yang mengusik rasa penasarannya, ia akan mendedikasikan seluruh perhatian dan waktu sampai jawaban yang ia cari ditemukan. Terkadang sifat itu membuat beberapa hal penting turut terlupakan—dalam kasus hari ini, ia lupa akan kencan makan malam bersama isterinya sendiri.

Bisa saja Sera masuk ke dalam dan mengingatkan Kyuhyun tentang kencan mereka, tapi ia benci melihat wajah jengkel Kyuhyun jika pekerjaannya terusik dan wanita itu mencoba menghindari pertikaian lain yang bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih buruk. Ia memilih untuk menyandar pada tembok vegetasi yang tersedia di depan gedung dan bermain game dalam ponselnya saja.

Cho Kyuhyun melangkah keluar dari balik pintu bundar di gedung perkantoran dan spontan menepuk dahinya sendiri setelah melihat wujud Han Sera menyandar pada tembok di depan gedung kantornya. Isterinya sedang seru menatap ke dalam ponsel, bibirnya dimanyunkan, wajahnya bosan, dan wanita itu tidak menggunakan pakaian yang cukup tebal untuk melindungi diri dari angin musim gugur yang semakin dingin. Kyuhyun sudah cukup merasa seperti suami bajingan akhir-akhir ini, karena waktu yang bisa ia habiskan bersama Sera semakin minim, lalu hari ini ia membuat daftar kesalahan baru dengan melupakan kencan mereka.

“Sera-ya.” Kyuhyun menaruh tas kerjanya di samping lalu menyelimuti tubuh mungil Sera dengan mantel musim gugurnya sendiri. “Sudah berapa lama kau menunggu? Mengapa tidak masuk saja dan memanggilku, ng?”

Sera menengadahkan wajah untuk menatap ke dalam manik mata Kyuhyun dengan pandangan sayu yang sukses menyayat hati pria itu. Kyuhyun tahu persis kalau ia telah berbuat salah, tapi isterinya tetap saja tersenyum manis saat melihatnya. “Aku tidak mau mengganggumu, lagipula aku cukup bersenang-senang.” Ia mengangkat ponsel di tangannya untuk memamerkan level baru yang berhasil ia taklukkan. “Aku berhasil lompat lima stage!” Ujarnya dengan cengiran yang dibuat-buat.

Kyuhyun menghela napas, tidak habis pikir bagaima Sera masih saja berpura-pura sabar seperti itu. “Aku memang salah kali ini.” Balas Kyuhyun dengan senyum pahit. “Ayo kita makan sekarang, pasti kau kelaparan menungguku dalam cuaca dingin ini.”

“Sebagai gantinya, aku mau makan barbeque dan aku mau daging kelas A.” Sera bangkit lalu menyelipkan lengannya pada lekukan siku Kyuhyun.

“Tentu, kita makan di tempat biasa saja kalau begitu. Apakah perlu kita mampir sekalian ke tempat yang menjual apple pie favoritmu itu?”

“Ng!” Sera membelalakkan mata tertarik. “Aku patut dirayu dengan makanan sebanyak itu, karena aku sudah menunggu lama.”

Pria itu melingkarkan lengan di seputar tubuh Sera lalu mengecup pelipis isterinya singkat. “Aku membuatmu kecewa lagi, bukan?”

Sera mendengus geli. “Kau tidak perlu merasa begitu, akulah yang datang terlalu cepat. Jangan mengkhawatirakanku, tadi aku bersenang-senang dengan game itu.” Sera menghindari tatapan Kyuhyun. “Ayo kita bergegas ke restoran, aku nyaris mati kelaparan!”

Wanita itu memilih untuk menghindari perdebatan karena ia ingin menikmati setiap momen kecil yang bisa mereka habiskan bersama, momen yang semakin sulit diperoleh karena kesibukan Kyuhyun yang menjadi-jadi.

Sebenarnya ada hal baik dari keputusan Kyuhyun membuka konsultan pengacara perceraiannya sendiri. Bisnisnya berkembang cepat dari sesuatu yang diawali hanya oleh Kyuhyun dan dua koleganya, kini telah berkembang ketika mereka bisa menampung dua anak magang di kantornya. Masalahnya adalah, karena Kyuhyun masih memegang prinsip ia harus terlibat dalam setiap kasus sampai pada detil terkecil dan karakternya yang tidak mudah percaya pada orang lain, membuat pria itu harus memantau segalanya. Sikap perfeksionis itu yang membuat pria itu kesulitan membagi waktu antara pekerjaan yang semakin menumpuk dengan isterinya yang kesepian di rumah.

Memang Kyuhyun tidak melakukannya dengan sengaja, pria itu pun membenci jadwalnya yang sibuk, ia pun membenci sifat perfeksionis yang melekat dalam dirinya sehingga menuntut ketepatan dari semua kasus yang diambilnya. Yang pasti ia juga benci meninggalkan Sera sendirian di rumah, tapi sampai detik ini, belum ada jalan keluar yang bijaksana perihal pembagian waktu.

Berkali-kali pria itu menyalahkan diri sendiri saat menemukan isterinya sudah tertidur di sofa selama menunggunya pulang, dengan makan malam yang tak tersentuh dan sudah dingin, dan jangan bicarakan kehidupan seksual mereka—pria itu bahkan tidak ingat kapan terakhir kali mereka cukup bergirah untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.

Sebagai seorang pengacara perceraian, Kyuhyun tahu bahwa kondisinya dengan Sera adalah gejala awal dari retaknya sebuah rumah tangga. Pria itu sedang berusaha keras memperbaiki jadwal kerjanya yang semakin menggila, tapi ia juga tak kuasa menolak klien yang berdatangan—karena toh, ia bekerja keras juga untuk memenuhi kebutuhan isterinya.

“Bagaimana harimu, Sayang?” Kyuhyun memecah kesunyian di antara mereka saat memasuki restoran BBQ favorit mereka.

Sera mengangkat bahunya tidak acuh, “Biasa saja. Aku beberes, masak makan siang untukku sendiri, nonton TV, membaca buku. Rutinitas harian yang tidak berubah. Bagaimana dengan harimu?”

“Aku mendapat satu aplikan untuk posisi pegawai magang, sepertinya aku akan melatihnya segera.” Kyuhyun menuang air putih ke dalam dua gelas lalu menyerahkan satu pada Sera. “Berita baiknya, klienku terus bertambah. Jadi aku memang butuh bala bantuan baru dan merekrut karyawanku sendiri.”

“Apa itu artinya kau akan memiliki lebih banyak waktu luang?” Sera mengangkat kedua alisnya. Sarkasme dalam nada bicaranya terdengar kental.

Kyuhyun menatap meja sambil menggeleng. “Aku akan mendapat sedikit waktu luang, tapi dalam waktu dekat aku harus melatih si anak baru ini dan menyelidiki properti klien baruku di Incheon besok.”

“Ah, jadi kau akan pulang telat lagi.” Simpul Sera sinis.

“Sepertinya aku akan menginap di sana.”

Sera menaruh gelasnya agak kasar ke atas meja untuk membuat Kyuhyun menatapnya. “Ya! Cho Kyuhyun! Seberapa jauh Incheon dari sini, hah? Kau bisa menyetir ke sana dan pulang lagi dalam waktu kurang dari dua jam!”

“Aku tahu, tapi ini mengenai kontainer kapal dan aset klienku itu dikirim tengah malam—”

“Kau tahu apa yang harus kau rekrut? Seorang detektif!” Sera menurunkan nada bicaranya saat ahjumma pemilik restoran mengantarkan pesanan mereka. Wanita itu mencapit daging has dalam yang mereka pesan lalu mulai memasaknya di atas bara yang disediakan di tengah meja mereka.

“Aku sedang mempertimbangkan itu, Sera-ya. Tapi untuk saat ini, aku tidak bisa mempercayakan hal ini pada siapapun.” Terang Kyuhyun sabar.

Sera tidak menjawab, wanita itu hanya menyalurkan emosinya pada daging tidak berdosa yang sedang dimasaknya.

“Apa kau marah?” Pertanyaan bodoh keluar dari mulut Kyuhyun.

Sera mengangkat pandangannya dari daging di tengah meja, lalu menyorot Kyuhyun dengan tatapan galak. “Kurasa kau sudah lupa apa profesimu, Kyu. Kau seorang pengacara, bukan Sherlock Holmes.”

“Aku tahu itu… hanya saja—”

Dweso!” Sera mengambil daging yang sudah ia masak pada tingkat kematangan medium dan meletakkannya di atas mangkuknya sendiri, alih-alih memberikannya pada Kyuhyun. “Masak dagingmu sendiri. Aku terlalu lapar untuk mengurus bagianmu.”

Wanita itu mengunyah makanannya dalam marah dan Kyuhyun tahu bahwa itu adalah waktu yang tepat baginya untuk diam saja dan menikmati sikap dingin Sera.

“Ngomong-ngomong, eomma menelponku untuk menanyakan apakah kau bisa menemani beliau ke arisan bulanannya besok.” Kyuhyun mencari topik lain yang muncul dalam benaknya.

“Ng, aku tahu. Eommoni juga menelponku dan aku setuju. Lebih baik menghabiskan waktu dengan ibumu daripada diam seperti orang bodoh di rumah.” Jawaban sinis lain keluar dari mulut Sera.

Kyuhyun tersenyum hambar sambil mengangguk pasrah. “Terima kasih.”

Wanita itu mengangkat bahunya.

“Aku akan memperbaiki kesalahanku padamu.” Lanjut Kyuhyun.

“Jangan membuat janji yang tidak bisa kau tepati, Kyu. Aku benci orang-orang yang mengumbar janji.” Sera kembali menyendok nasinya dengan lahap. “Kita makan saja dalam diam, oke?”

***

 

Hari yang Sera habiskan dengan ibu mertuanya adalah hari yang selalu ia nantikan. Orang tua Kyuhyun memperlakukan Sera layaknya mereka memperlakukan anak sendiri, wanita itu bersyukur karena ia bisa merasakan pancaran dkasih sayang dari kedua orang tua barunya—terutama setelah ia tidak bicara dengan orang tuanya sendiri bertahun-tahun. Hari ini bukan kali pertama Sera menemani Nyonya Cho dalam pertemuan arisan bulanannya, jadi Sera juga sudah mengenal kebanyakan wanita paruh baya yang biasa berkumpul di sana.

Seperti acara arisan lainnya, wanita-wanita itu akan memulai acara dengan topik perbincangan ringan. Beberapa yang suka pamer akan mulai menunjukkan model tas terbaru yang berhasil mereka buru dalam perjalanannya ke luar negeri. Mereka yang menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan akan mengkritik makanan yang mereka pesan sambil berkata ‘waktu aku memakan ini di Itali, rasanya lebih otentik’, dan banyak lagi bualan-bualan khas ahjumma-ahjumma yang senang bergunjing. Biasanya setelah selesai menyantap makanan utama, mereka akan mulai berbicara tentang diri masing-masing. Bagaimana anak-anak mereka, suami mereka, dan tentu saja bagian yang membuat Sera paling risih—bagaimana cucu mereka.

Wanita itu selalu ingin menjadi seorang ibu dan memang ia pernah nyaris merasakan anugerah itu dalam pernikahan pertamanya, hingga ia keguguran yang pada akhirnya menuntun pada kelainan jantung. Bagaimanapun juga, Kyuhyun bersikeras menolak untuk memiliki anak dalam hubungan pernikahan mereka. Pria itu selalu mencoba meyakinkan Sera bahwa hidup keduanya sudah nyaman tanpa perlu menambah keributan dengan masalah kecil seperti anak. Bagi Kyuhyun, memiliki anak artinya menambah kerepotan dan ia tidak suka rumahnya yang rapi berubah berantakan karena ulang seorang manusia kecil. Orang tua Kyuhyun sudah lama tahu bahwa putra mereka tidak ingin memiliki keturunan, bagi mereka itu juga bukan masalah besar asalkan Kyuhyun bahagia. Oleh sebab itu, kedua orang Kyuhyun juga tidak pernah menekan Sera perihal keturunan.

Tapi pandangan sosial tentu berbeda. Pernikahan Kyuhyun dan Sera sudah mengundang cibiran banyak pihak sejak awal. Karena Kyuhyun yang seorang pria lajang dan Sera yang berstatus janda tidak nampak seperti padanan yang cocok. Tapi setelah dua tahun menikah dan belum ada satu bayi pun keluar dari rahim Sera, kelompok arisan nyonya Cho mulai sering mengangkat topik itu.

Hari ini adalah salah satu hari sial Sera.

“Sera-ssi, nyonya Lee saja sudah mendapatkan cucunya yang ketiga. Apa kau tidak mau memberikan ibu mertuamu yang manis itu seorang cucu?” Serbu salah satu ahjumma yang cerewet.

Semua kepala menoleh menatap Sera dan suasana sunyi yang mendadak menyergap jelas mengindikasikan ketertarikan semua wanita di meja besar itu.

“Aish, suaminya sibuk, mungkin mereka tidak punya waktu untuk bermesraan.” Sahut wanita yang lain.

“Ey! Tidak mungkin! Mereka masih muda dan bergairah, pasti mereka melakukannya setiap hari.” Wanita lainnya ikut nimbrung lengkap dengan tawa genit yang dibuat-buat.

Sera tersenyum kikuk. Yang benar saja! Pria itu sudah tidak menyentuhku berminggu-minggu. Sahutnya dalam hati.

“Anakku sedang menikmati masa-masa awal dalam dunia pernikahan mereka, biarkan saja. Aku juga tidak menuntut cucu secepatnya.” Nyonya Cho mengusap bahu Sera lembut untuk menenangkan menantunya. “Mendapatkan anggota baru dalam keluargaku dalam wujud Sera saja sudah anugerah, padahal dulu anakku tidak mau menikah.” Lanjut nyonya Cho untuk mengalihkan perhatian.

“Nyonya Cho, bahkan anakku langsung hamil selepas malam pertama mereka! Sekarang buktinya aku sudah punya tiga cucu. Mungkin menantu dan anakmu harus berusaha lebih keras.” Sahut nyonya Lee sambil mencibir sinis ke arah Sera.

Sera mengalihkan amarah pada serbet yang tergeletak di atas pangkuannya. Wanita itu benci topik pembicaraan macam ini, pembicaraan yang muncul atas dasar rasa ingin ikut campur yang besar atas hidup orang lain. Hari ini Sera adalah sasaran empuk dan ia tidak bisa membela diri dengan dalih apapun. Mungkin kalau mertuanya tidak di sana, ia akan memilih untuk bangkit saja dan meninggalkan ruangan.

“Nyonya Lee, mungkin visi hidup putrimu berbeda dengan rencana yang dimiliki Sera dan anakku—”

“Tapi kau juga tidak bekerja, kan, Sera-ssi?” Nyonya Lee memotong pembelaan ibu Kyuhyun untuk Sera. “Aku jadi membayangkan seperti apa keseharianmu, hanya duduk santai di rumah menunggu suamimu pulang. Tidak ada pekerjaan, tidak ada anak, tidak ada kesibukan. Wah, aku paham sekarang mengapa kau memilih tidak cepat-cepat punya anak—pasti enak sekali bersantai saja sambil menghabiskan uang suamimu.”

“CUKUP NYONYA LEE! KAU HARUS MINTA MAAF PADA MENANTUKU! APA YANG KAU KATAKAN TELAH MENYAKITI—”

Sera meraih tangan nyonya Cho yang terkepal erat, mencoba menghentikan ibu mertuanya dari acara adu mulut yang sia-sia.

Gwenchana, Eommoni. Aku yakin memang seperti itulah kelihatannya.” Sera berjuang keras untuk menahan air matanya agar tidak tergenang. Karena meskipun ia terluka, Sera tidak sudi menangis di depan ahjumma menyebalkan itu.

“Sera-ya…”

“TIdak apa-apa, Eommoni.” Sera tersenyum miris. “Kyuhyun dan aku masih berusaha sebaik mungkin, mohon doa kalian agar kami juga bisa segera dianugerahi keturunan.” Sera menundukkan kepalanya ke kerumunan teman nyonya Cho sopan.

.

.

.

Dua wanita itu sekarang duduk di dalam kedai kopi dekat restoran yang sebelumnya. Setelah komentar-komentar pedas dari salah satu kawan arisannya, nyonya Cho memilih untuk mengajak Sera keluar dari tempat yang membuat mereka tidak nyaman.

“Maafkan aku, mulai sekarang aku tidak akan mengajakmu berkumpul dengan wanita-wanita haus gosip itu.” Nyonya Cho mengusap tangan Sera di atas meja.

“Tidak apa-apa, Eommoni. Aku memang tidak mungkin mendeklarasikan bahwa Kyuhyun tidak mau memiliki anak dariku, bukan?” Balas Sera dengan ekspresi datar.

“Tapi aku benci mendengar orang-orang itu seolah menyalahkanmu. Aku juga ibu rumah tangga, Sera-ya. Aku tahu persis sekasar apa ucapan nyonya Lee tadi. Cih, hanya diam saja di rumah dan menghabiskan uang suamimu. Seolah rumah itu bisa bersih dengan sendirinya kalau kita tidak di sana!” Nyonya Cho mulai mengomel.

“Ne.” Sera terkekeh. “Mungkin dia kira tumpukan cucian juga akan melipat dirinya sendiri, dan makanan secara ajaib muncul dari kulkas.”

Nyonya Cho tertawa kecil mendengar usaha Sera untuk berkelakar demi menghibur dirinya sendiri.

“Apa kau benar-benar tidak masalah? Dengan pendirian dan keputusan Kyuhyun tentang kehadiran anak dalam rumah tangga kalian?”

Sera menyesap tehnya sambil memikirkan jawaban yang paling tepat tanpa harus membohongi dirinya sendiri.

“Sebagai wanita, aku yakin Eommoni pasti paham seberapa besar keinginanku menjadi seorang ibu.” Sera berdeham. “Tapi di sisi lain, aku juga menikmati waktu kami berdua saja. Aku sudah gagal dalam pernikahan pertamaku, Eommoni. Aku tidak mau berbuat ulah atas sesuatu yang sudah kami sepakati bersama jauh sebelum kami menikah. Kalau memang kami berdua sudah cukup untuk membuat Kyuhyun bahagia, maka aku akan mengusakan itu. Selama pria itu tetap di sisiku.” Pandangan hampa di mata Sera jelas menunjukkan seberapa besar usaha wanita itu menahan perasaannya.

Nyonya Cho meminum tehnya lalu mencondongkan tubuh untuk menepuk bahu Sera yang duduk di seberangnya. “Aku sungguh beruntung mendapatkanmu sebagai pendamping anakku. Bocah bodoh itu pasti akan mengurus berkas perceraiannya sendiri kalau ia menikah dengan wanita lain.”

Sera memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku mencintainya, Eommoni.”

“Aku tahu, untuk itu aku sangat berterima kasih.” Wanita paruh baya itu meremas tangan Sera. “Aku hanya berharap dia bisa melenyapkan ketakutannya bahwa kau akan anfal kembali jika mengandung.”

Ne?

Nyonya Cho cepat-cepat membungkam mulutnya, ia baru saja keceplosan mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya Sera dengar.

“Tadi Eommoni bilang apa?”

“Lupakan saja.”

Eommoni, ayolah. Aku mendengarmu.” Sera menatap tajam pada mertuanya sendiri dengan tatapan paling mengintimidasi yang ia miliki, berharap nyonya Cho akan bicara kalau ia menerornya terus seperti itu.

Aish! Seharusnya aku tidak bicara!” Nyonya Cho memukul bibirnya sendiri.

Eommoni?” Tekan Sera.

Wanita paruh baya itu menghela napas pasrah, ia tidak akan sanggup membodohi Han Sera seterusnya.

***

 

Tidak biasanya Kyuhyun pulang ke dalam rumah yang kosong. Biasanya Han Sera akan menyambutnya sambil mengumumkan menu makan malam mereka. Hari ini Kyuhyun membatalkan rencananya untuk pergi ke Incheon dan memasang alarmnya pada pukul 5 tepat agar ia bisa tiba di rumah tepat waktu. Pria itu sedang berusaha memperbaiki situasi canggung akibat pertengakaran mereka di restoran kemarin. Tapi karena Sera belum tiba di rumah, akhirnya ia putuskan untuk menelpon isterinya.

“Ng, Kyu?” Jawab Sera yang terdengar kehabisan napas.

“Kau baik-baik saja? Suaramu…”

“Aku sedang jogging.” Jawabnya. “Aku di taman dekat rumah kita, apa kau sudah tiba di rumah? Aish, maafkan aku. Aku akan pulang sekarang.”

“Ani, tidak apa-apa. Aku akan menjemputmu.” Balas Kyuhyun, membalik tubuhnya untuk keluar rumah.

“Benarkah?”

“Ng, lagipula aku ingin mencari udara segar. Apa perlu kubawakan sesuatu?” Tawar Kyuhyun sebelum menutup pintu rumahnya.

“Hm… sepertinya aku butuh mantel, aku lupa bawa tadi saat keluar.” Kekeh wanita itu kaku.

“Ceroboh seperti biasa, Han Sera.” Kyuhyun memutar matanya. “Baiklah, tunggu aku.”

Beberapa menit kemudian pria itu tiba di taman sementara Sera sedang sibuk menggunakan salah satu alat yang bisa ia gunakan untuk merenggangkan otot. Kalau melihat dari ekspresi di wajah isterinya, sepertinya suasan hati Sera sudah membaik. Wanita itu juga melambaikan tangan dengan riang ke arah Kyuhyun yang mendekatinya.

“Aku berani bertaruh kalau kau juga lupa membawa handuk kecil dan minuman.” Kyuhyun menyerahkan dua benda ekstra yang dibawanya.

Wanita itu tersenyum lebar. “Apa aku semudah itu untuk kau tebak?”

“Tidak, tapi kau memang seceroboh itu.” Kyuhyun menyapukan handuk kecil untuk menghapus keringat di wajah Sera. “Kau tidak berolahraga berlebihan, kan?”

“Tidak, hanya jogging dan merenggangkan otot dengan alat itu. Di rumah rasanya menjemukan sekali.” Sera menunjuk pada bangku taman untuk mereka duduki. “Maaf aku tidak masak hari ini, kukira kau menginap di Icheon.”

“Tidak masalah, kita bisa makan di luar.” Kyuhyun menyelimuti tubuh isterinya dengan mantel yang ia bawa dari rumah. “Sebenarnya tadi aku ingin mengejutkanmu dengan pulang cepat.”

Sera tersenyum lebar, meskipun emosi itu tidak sampai pada matanya. Jelas saja, wanita itu masih kesal dengan fakta yang baru ia dengar dari ibu Kyuhyun siang tadi. Wanita itu ber-jogging bukan untuk menjaga kesehatan, melainkan melepaskan amarahnya. Sera tidak habis pikir, karena setelah bertahun-tahun kesehatannya membaik, Cho Kyuhyun masih saja meragukannya.

“Bagaimana arisan bersama eomma?” Kyuhyun memilih topik pertama yang muncul dalam benaknya—topik yang salah.

Sera meneguk air dari botol minum dengan kesal. “Biasa saja.”

“Ada cerita yang ingin kau bagi?”

“Tidak.” Jawab Sera singkat.

Pria itu mengangguk, bisa merasakan ada yang aneh dengan sikap Sera yang janggal.

“Lihat itu.” Sera menunjuk pada sekelompok balita yang bermain di atas perosotan yang ada di taman. “Mereka lucu sekali, bermain sesuka hati mereka seperti tidak ada hari esok sementara ibu mereka mengawasi dari sana.”

Wanita itu jelas memancing perdebatan dengan memulai topik yang sensitif bagi mereka. Tapi Sera tidak peduli, ia terlalu kesal dengan Kyuhyun untuk berhati-hati hari ini. Sera kesal dengan apa yang ia dengar dari nyonya Cho siang tadi, dan ia ingin konfirmasi dari suaminya sendiri.

Kyuhyun melirik enggan ke arah yang ditunjuk Sera, lalu ia mendengus pelan. “Apa kita akan membicarakan topik ini lagi?”

“Bisakah kita bahas topik ini?”

“Aku tidak mau anak.” Titahnya. “Kukira kita sudah mencapai kesepakatan yang sama.”

Sera menarik napas dalam sambil melipat kedua lengannya di depan dada. “Kesepakatan yang mana? Tolong ingatkan aku lagi.”

“Bahwa hidup kita hanya akan terdiri dari kau dan aku.” Balas Kyuhyun datar.

“Ingatkan aku lagi, mengapa kau tidak mau punya anak?”

“Mereka berisik, menyebalkan, kau tidak bisa melepas perhatianmu dari mereka sedetik saja kecuali kau mau rumahmu langsung berantakan. Aku benci anak kecil. Bahkan saat aku masih kecil, aku sudah membenci anak kecil!” Kyuhyun mencondongkan tubuhnya ke arah Sera untuk menatap isterinya lekat. “Mengapa kita mendiskusikan ini lagi, Sera-ya?”

“Karena aku ingin memiliki anak.” Wanita itu memanyunkan bibirnya. “Aku kesepian, di rumah aku hanya seorang diri menunggumu pulang, Kyu. Aku mau—“

Andwe!

“Ya!”

“Tidak, Han Sera!”

Wanita itu bangkit dari duduknya dan menghentakkan kaki ke tanah seperti anak kecil. “Kenapa?”

“AKU TIDAK MAU!” Kyuhyun menaikkan nada bicaranya.

“TAPI MENGAPA?” Rengek wanita itu dengan nada tidak kalah tinggi.

“KARENA AKU BENCI ANAK KECIL!”

“KAU YAKIN BUKAN KARENA TAKUT KEHADIRAN SEORANG BAYI AKAN MEMBUNUHKU?!” Todong Sera semakin panas.

Kyuhyun tercengang dengan kata-kata yang dituturkan isterinya. Pria itu bangkit dari posisinya untuk berdiri di hadapan wanita itu.

“Kau takut kejadian serupa akan terulang, bukan? bahwa ventrikelku akan terluka kembali jika aku mengandung? Apa itu alasan kau menolak memiliki anak denganku?” Suara Sera semakin bergetar.

“Han Sera…”

“Aku sudah dinyatakan sembuh, Kyu! Kau juga duduk di sana saat dokter Song mengatakan itu. Memang kita tidak disarankan untuk langsung punya anak, tapi beliau juga tidak melarang!” Wanita itu semakin merengek.

Pria itu kehilangan kata-kata, benaknya mencoba mengolah pembicaraan mereka sambil mencari alasan yang tepat untuk menangkis kecurigaan Sera yang benar adanya. Mengapa Sera mengangkat topik ini tiba-tiba? Keduanya sudah sepakat mengubur pembicaraan masalah keturunan sebelum mereka menikah, lalu topik ini muncul kembali ke permukaan. Apa yang terjadi?

“Kau bekerja sepanjang waktu! Kau bilang akan meluangkan waktu untukku, tapi itu hanya terjadi sesekali. Lalu apa hakku untuk melarangmu bekerja, saat aku tahu kau membanting tulang memang untuk menghidupiku. Tapi aku merasa tidak berguna, Kyu! Yang kulakukan selama kau bekerja hanya bersantai, membersihkan rumah, dan memasak. Membosankan!”

“LANTAS MENURUTMU MEMBAWA SEORANG ANAK DALAM KEHIDUPAN KITA AKAN MEMPERBAIKI KEADAAN?!” Tanpa sadar Kyuhyun mulai membentak. “BENAR! AKU TIDAK MAU ANAK KARENA AKU TIDAK MAU KAU MENGANDUNG! AKU TIDAK MAU MEMBAHAYAKANMU, HAN SERA! KAU PIKIR AKU SANGGUP JIKA KITA HARUS MELEWATI SERANGKAIAN PROSES MENGERIKAN ITU SEKALI LAGI? TIDAK!! AKU BAHKAN TIDAK MAMPU MEMBELIKAN JANTUNG BARU UNTUKMU! JADI MAAF SAJA KALAU AKU TIDAK MAU MENARUH HIDUPMU DALAM RESIKO ITU HANYA SEKEDAR UNTUK MEMILIKI ANAK!”

Kyuhyun jarang sekali marah, tapi setiap kali itu terjadi, Han Sera akan kewalahan sendiri menghadapinya.

“AKU BERSUMPAH HAN SERA, JANGAN MENGUJI BATAS KESABARANKU PERIHAL INI! AKU BISA BERNEGOSIASI DENGANMU, KECUALI TENTANG INI! TIDAK SAAT NYAWAMU HARUS DIPERTARUHKAN DI DALAMNYA!”

“JADI AKU HANYA MENJADI TROPHY WIFE UNTUKMU? JADI AKU HANYA PERLU MENUNGGUMU PULANG KERJA—ITU JUGA KALAU KAU PULANG—DAN MENJADI ISTERI MANIS YANG MEMASAK SETIAP MALAM—”

“AKU TIDAK PERNAH MINTA KAU MEMASAK TIAP MALAM!”

Sera sudah merasa buruk seharian itu, tapi mendengar suaminya sendiri membentak sambil menyatakan bahwa ia tidak memerlukan semua yang telah Sera lakukan untuknya sebagai usaha untuk menjadi isteri yang baik praktis melukai hati wanita itu. Kata-kata Kyuhyun seolah menyatakan bahwa apa yang Sera lakukan untuknya selama ini tidak bermakna, tidak ada pengaruhnya dalam hidup Kyuhyun—seolah jika ia tidak di sana, tidak ada yang berbeda.

Air mata yang tidak terbendung mulai mengaliri wajah Sera, tubuh wanita itu bergetar atas amarah yang memuncak.

Melihat cairan bening itu menghiasi wajah jelita isterinya, Kyuhyun langsung terpaku. Rasanya seolah ada yang menancapkan belati tepat ke jantung Kyuhyun. Han Sera terluka karenanya, pria itu bukan lagi sosok yang melindungi Sera, ialah sumber kesakitan Sera sekarang.

“Sera-ya… maafkan aku. A—aku—”

“Aku mau pulang.” Sera mengambil langkah ke arah gerbang taman, namun Kyuhyun menahan tangannya.

“Aku salah, Sera-ya… maafkan aku.”

“Lupakanlah, Kyu. Aku benar-benar ingin pulang.” Sera menyingkirkan tangan kYuhyun yang menggenggamnya. “Aku tidak mau menangis di tempat umum, ini memalukan.” Sera berjalan menjauh.

***

 

Lebih dari tiga puluh menit telah dihabiskan Sera di dalam kamar mandi dan Kyuhyun tahu bahwa isterinya bukan sedang sibuk membasuh tubuh. Ia tahu kata-katanya tadi memang kelewat batas dan telah menyinggung perasaan Sera. Pria itu telah menampar harga diri Sera saat ia menekankan keputusannya untuk tidak memiliki anak sekaligus menyatakan bahwa apa yang sudah Sera lakukan selama ini seolah tidak berarti untuknya.

Pria itu hanya sanggup bersandar di depan pintu kamar mandi sambil menahan tangisnya sendiri. Tidak pernah ia mengira akan menyakiti hati Sera dengan cara seperti ini. Kyuhyun harus memperbaiki ini, rumah tangga mereka yang renggang tidak perlu diperburuk dengan pertengkaran hebat yang bisa berujung panjang.

Setelah ia menenangkan diri sejenak, Kyuhyun bangkit dan mengetuk pintu kamar mandi, memohon agar isterinya keluar—masih tidak ada jawaban dari dalam. “Kalau kau tidak keluar, aku akan masuk, oke?” Pria itu memutar kenop pintu tanpa kunci lalu melangkah masuk.

Air masih mengucur dari pancuran dan Han Sera terduduk di atas lantai dengan kedua lutut yang ditekuk di depan dadanya, kedua lengan wanita itu memeluk lututnya lengkap dengan wajah yang Sera sembunyikan di antara lipatan lengannya. Kyuhyun segera meraih handuk kering, mematikan keran dan berlutut untuk menyelimuti tubuh polos isterinya dengan handuk.

“Kau bisa flu kalau seperti ini.” Pria itu meraih handuk lain untuk mengeringkan rambut Sera. “Ayo keluar, kita hangatkan tubuhmu, ne?”

Perlahan Kyuhyun menarik tubuh Sera bangkit dan menuntun wanita itu ke dalam kamar kereka. Pria itu menyelimuti Sera dengan jubah handuk dan ia membantu mengeringkan helaian rambut Sera yang tergerai basah di atas bahunya.

Kecanggungan Kyuhyun tidak bisa ditutupi, ia tidak berani menatap ke dalam mata Sera karena tidak siap melihat kesenduan yang terpancar akibat ulahnya. Sementara itu Sera hanya menatap kosong pada tembok di kamar mereka, wanita itu sudah berhenti menangis, tapi kekosongan di matanya juga tidak membuat keadaan lebih baik.

“Kau boleh menghukumku semaumu, Sayang. Aku pantas mendapatkannya.” Akhirnya Kyuhyun bicara.

Sera tetap bungkam, air mata terus lolos menuruni wajah cantiknya.

Kyuhyun menghapus air mata itu dengan ibu jarinya sambil mengutuk dirinya sendiri karena telah membiarkan rasa takutnya menuntun tindakannya sejauh ini. tentu saja Kyuhyun ingin memiliki anak dengan Sera, ia ingin membangun keluarga kecil bersama dengan wanita impiannya, bahkan meskipun ia tidak terlalu suka dengan anak kecil, Kyuhyun percaya darah dagingnya akan berbeda—karena anak itu adalah anak mereka.

Tapi pria itu juga paham keterbatasan Sera. Wanita itu mengalami gagal jantung sebagai akibat dari kehamilannya yang pertama dan siapa yang bisa menjamin hal itu tidak akan terulang? Kyuhyun jelas memilih untuk menghabiskan hidup berdua saja daripada mengambil resiko itu dan hidup sendiri tanpa Sera. Pria itu terlalu mencintai isterinya, dan itu membuat Kyuhyun egois. Kyuhyun rela menghadang siapa pun yang mengancam kebahagiaan hidupnya dengan Sera, sekalipun penghadang itu datang dalam wujud darah daging mereka sendiri.

“Maafkan aku, Kyu.” Sera berbisik lirih.

“Aku yang seharusnya minta maaf, Sayang.”

“Maafkan aku karena tidak mampu menjadi isteri yang lebih baik untukmu.” Wanita itu menggigit bibirnya untuk mengalihkan pilu dalam hati yang semakin terasa.

“Sera, kumohon jangan katakan itu.” Kyuhyun memindahkan posisinya dari ranjang untuk berlutut di hadapan Sera. “Kumohon jangan ucapkan itu. Kau hebat, Sera-ya. Aku tidak bisa membayangkan menjalani pernikahan ini dengan wanita lain. Kumohon…”

“Pasti aku selalu membebanimu selama ini, benar kan?” Lanjut Sera.

“Sera…”

“Kalau tidak, kau tidak mungkin meledak seperti tadi, Kyu.” Tubuh wanita itu kembali bergetar akibat tangis. “Maafkan aku, Kyu… aku mencoba yang terbaik, percayalah.”

“Aku tahu. Aku tahu kau melakukan yang terbaik untuk kita dan aku sangat berterima kasih untuk itu.” Suara Kyuhyun semakin parau, air mata pria itu akhirnya ikut mengalir. “Aku sangat frustrasi dengan bayangan kau mengandung, maka dari itu aku membentakmu seperti tadi. Aku telah melukaimu dan aku tahu kalau aku tidak patut mendapatkan pengampunanmu.”

“Apa memiliki anak denganku merupakan ide yang sangat buruk? Apa kau takut aku akan mati saat mengandung anak kita? Atau kau takut aku akan keguguran lagi? Atau karena ada kemungkinan aku mewariskan gen buruk pada anak kita?”

Kyuhyunmenggelengkan kepalanya. Bukan, ia tidak pernah berpikir sejauh itu, Kyuhyun hanya ingin Sera tetap sehat dan dalam pemikirannya, Sera bisa terus sehat jika tidak mengandung.

Han Sera menghapus air mata di wajah suaminya, meskipun wanita itu sedang tersakiti, ia juga tidak tega melihat Kyuhyun perlahan hancur di hadapannya. Karena wanita itu tahu bahwa Kyuhyun juga terluka. Sera tahu Kyuhyun sangat mencintainya, kebetulan saja pria itu menunjukkannya dengan cara yang salah hari ini.

“Tidak apa-apa, Kyu. Hanya saja sejujurnya aku mulai frustrasi dengan kehidupan kita akhir-akhir ini…”

“Aku sedang mencoba membenahinya, Sera-ya.”

“Biarkan aku menjelaskan, ng?” Sera menangkup wajah Kyuhyun dengan telapak tangannya. “Jadwalmu, akuilah jam kerjamu itu mulai di luar batas wajar dan aku jengkel karena kau masih tidak mau mencari asisten untuk membantumu. Sepanjang hari aku hanya sendirian di rumah dan kadang itu terasa menjemukan. Setiap hari kau pulang terlambat, kita semakin jarang berkomunikasi. Akui juga bahwa kehidupan seks kita sudah lebih kering dibanding Gurun Shara. Pada tahap ini kurasa kau tidak perlu khawatir akan menghamiliku, karena kita toh tidak pernah bercinta lagi.”

Kyuhyun mengangguk, sadar semua yang dipaparkan Sera memang benar adanya.

“Tapi hari ini, kesabaranku diuji oleh sekelompok ahjumma haus gosip. Aku tahu seharusnya kuabaikan saja kata-kata mereka, tapi aku pun punya telinga dan aku bisa mendengar jelas apa yang mereka katakan tentangku, Kyu—dan itu menyakitkan.” Sera menyedot kasar hidungnya yang berair lalu menghapus sisa air mata di wajahnya dengan lengannya.

Pria itu menunduk dalam diam.

“Kau tahu mengapa menyakitkan mendengar kata-kata mereka? Karena apa yang mereka katakan memang benar dan aku tidak bisa membela diriku. Aku tidak sanggup mengatakan dengan lantang bahwa suamiku tidak mau memiliki anak dariku…”

“Aku tidak mau anak secara umum, Sera.”

“Tetap saja.” Wanita itu terisak kembali. “Eommoni berjuang untukku hari ini, beliau menyelamatkan harga diriku dan aku sangat bersyukur ibumu di sana tadi. Tapi, aku pun tidak tahu apakah aku masih memiliki harga diri sebagai wanita di hadapanmu, sementara semua yang kulakukan tidak ada maknanya bagimu.”

Kyuhyun sangat ingin menghajar dirinya sendiri sekarang. Ini bukan pertama kali kata-kata tajam yang tidak disaring dari mulutnya menyakiti seseorang, tapi isterinya jelas bukan pihak yang harus ia serang. Ia rasa berapa banyak kata maaf yang disampaikan pun tidak akan berguna, seberapa besar usahanya menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud menyakiti Sera juga akan sia-sia. Karena luka yang ia torehkan sangat dalam dan tepat sasaran.

“Kurasa lebih baik kita tidak mendiskusikan ini sekarang, Kyu.” Sera menghela napas panjang. “Karena ini akan menjadi argumen melelahkan di mana kita berdua akan menangis dan saling meminta maaf, tapi tidak akan mencapai kesepakatan—sebuah lingkaran setan yang tidak akan berakhir.”

Kyuhyun mengangguk lagi, setuju dengan Sera perihal itu. Tidak ada gunanya mereka berdiskusi jika hati dan pikiran mereka masih sama-sama kacau.

“Hey, kita belum makan malam, kau mau kubuatkan sesuatu? Atau kita pesan delivery?” Sera mencoba membuat suaranya terdengar lebih riang. Wanita itu bangkit dari duduknya dan membiarkan Kyuhyun tetap dalam posisi berlutut.

Kyuhyun ikut bangkit, pria itu menarik lengan Sera untuk merengkuh tubuh wanita itu ke dalam dekapannya. Ia memerangkap tubuh isterinya erat, menundukkan kepalanya untuk mencari kenyamanan di antara ceruk leher dan bahu Sera.

“Aku tidak bermaksud menyakitimu, dan aku tidak bermaksud mengungkapkannya seperti itu.” Bisik Kyuhyun kembali terisak. “Karena bagiku, kau sempurna dan aku tidak mau merubah apapun dalam hubungan kita. Kau harus tahu itu, Sera-ya. Aku tidak mau kau merendahkan dirimu lagi seperti tadi sebagai imbas karena aku gagal menjaga emosiku. Aku yang seharusnya merasa buruk sekarang, bukan kau. Akulah yang tidak bisa menjaga janjiku untuk membuatmu bahagia.”

Sera perlahan melingkarkan lengannya di seputar pinggang Kyuhyun, sesekali mengusap punggung suaminya. “Aku tahu, Kyu. Aku tahu kau tidak bermaksud menyakitiku.”

“Apa yang sudah kulakukan sampai aku seberuntung ini, mendapatkan wanita sebaik ini untuk mendampingi hidupku.” Pria itu mengecupi pelipis Sera berkali-kali sambil mengeratkan pelukannya. “Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh menyesal.”

“Kyu, kumohon, kita bicarakan ini lain kali saja, ne? Aku benar-benar lelah dan aku merasa sangat buruk seharian karena ahjumma-ahjumma sialan itu.” Sera mencubit kedua pipi Kyuhyun untuk menghibur suaminya. “Aku ingin bersantai dan melupakan kekesalan yang kurasakan seharian dengan cara lain. Kita bisa mencari makan, atau menonton film, atau istirahat—apapun selain membicarakan ini. Kumohon, kita bicarakan lain kali saja, ne?”

Kyuhyun membelai helaian rambut Sera lembut. “Aku berhutang besar padamu, bukan? Untuk menebus kesalahanku hari ini?”

Sera menyengir lebar sambil mengangguk. “Hutangmu sangat besar!”

“Ada saran bagaimana aku bisa membuatmu merasa lebih baik?”

Wanita itu menarik napas dalam, tidak yakin idenya bisa dibilang bagus bagi Kyuhyun. “Bisakah kau ambil cuti beberapa hari, Kyu?”

Pria itu balik menatap Sera dengan ekspresi bodoh. Baru saja ia menyakiti hati wanita yang sangat dicintainya, tapi yang diminta wanita itu justru hanya sedikit waktu untuk dihabiskan bersama. Bukti konkret bahwa waktu mereka untuk berkomunikasi semakin minim.

“Apakah permintaanku berlebihan?” Suara Sera kembali lirih.

“Tidak.” Kyuhyun mengecup dahi isterinya. “Aku bisa melakukan itu, aku setuju. kita bisa pergi berlibur kalau kau mau. Bagaiman dengan bulan madu kedua?”

“Benarkah?” Sera membulatkan matanya dan kegundahan yang tersimpan di sana sedikit memudar.

“Ng, aku akan menggeser waktu dan mencari hari untuk itu. Aku akan membenahi ini, Sayang.” Kyuhyun memeluk tubuh Sera kembali dengan erat. “Aku tahu kata-kataku tidak bisa kutarik lagi, tapi aku akan memperbaiki diri dan berusaha mengobati hatimu yang telah kulukai.”

 

tbc…


author’s note:

akhirnya UTS dan sidang-sidangan selesai! Doakan manajemen waktu aku lebih baik ya biar lebih cepet update hahaha… so excited seeing tanggal merah berjejer di kalender! Dan bazaar buku Big Bad Wolf yang bakal segera datang ke Serpong! ^^

 

 

 

Advertisements

83 thoughts on “Stupid Anxiety – 2 [Insecurity]

  1. ona kyu says:

    duh Kyu mulutnya g pake rem sepertinya ngomong g dipikir dulu. Sera itu kesepian karena Kyu yang sibuk kerja. emang sih karena terlalu cinta Kyu jadi takut kalau Sera hamil akan membahayakan dirinya. konflik mulai muncul dipernikahan mereka

    Liked by 1 person

  2. Devi ra says:

    Kasian sera,pasti dia sebenarnya sedikit tertekan dengan kyuhyun larang dia buat hamil,tpi kyuhyun kayak gitu juga buat kebaikan sera juga sih.mungkin ga pa2 dicoba aja dulu sera buat hamil

    Liked by 1 person

  3. faridha says:

    waaahhh gak bisa ngomong lagi niihh speechless……
    saya rasa kakak author kedua yang paling aku sukai setelah kak okky , aku tipe orang yg suka baca apapun itu tp srmenjak kenal dunia ff aku jadi suka baca tapi ttp aku saring bacaan yang bermutu gak asal baca atau cetita ecek ecek…thanks kak, bikin orang ini jadi suka baca hhhha

    Liked by 1 person

  4. yoongdictasticgorjes says:

    Kyuhyun kalo lagi kebawa emosi suka gk prnah kesaring omongannya tajem tapi nyelekit kyu,,,emg pnting bgt si komunikasi dlm brumah tangga walaupun kyu sibuk dgn kerjaan demi memenuhi kbtuhan istrinya tapi stidaknya dia juga harus memahami keadaan istrinya dirumah, ditambah blum ada anak diantara mreka krna dia sendiri yg gk mau trjadi apa2 kalo sera hamil,,smoga ajh kedepannya kyu bisa brubah fikiran soal punya anak dan dibicarain baik2 and gk perlu pake urat ya kyu..

    Liked by 1 person

  5. syalala says:

    hah kyuhyun bener2 dah… aku ga nyangka dia sampe hati bisa neriakin sera kaya gitu haha aku pikir sangking cintanya dia ke sera sampe yah dia selalu ngikutin apa yg sera mau kecuali perihal anak ya karena itu emg ga main2. ketakutan kyuhyun sebenernya beralasan sih yaaa bener jelas dia pasti takut secara dia witness dari segala proses penyembuhan sera kmrn jd ya wajar aja kalo dia takut begitu.. sedih tp huhuhuhu

    Liked by 1 person

  6. WiniSparkyu says:

    Sera pasti tertekan tpi dia juga ngerti keinginan Kyuhyun. Mereka yg menjelekan hanya melihat dari luar saja.
    Yaa ampun Kyu, kata2 mu bener menyakitkan. Untung Sera yg selalu mengerti dan Kyuhyun ada keinginan memperbaiki.

    Liked by 1 person

  7. Putrikimcho says:

    Yaa ampun kyu masih takut aja coba aja berkonsultasi lagi ama dokter song ..

    Kak mau nanya kalo hamil bisa mengakibatkan gagal jantung kak ?
    Makasih 😊😊

    Liked by 1 person

    • ssihobitt says:

      nggak sih, tapi dalam beberapa kasus (seriusan ini, beberapa kasus–hubungannya dengan genetis dll–aku udah research dulu sebelum nulis/ngarang ini) memang ada kasus kaya Sera, meskipun memang nggak semuanya sampai tahap separah Sera.

      Like

  8. Goldilovelocks says:

    Kalo di part satu ngejelasin gimana gelisahnya Sera sama pekerjaan Kyu disini Kyu yg dibuat gelisah dengan topik anak. Stupid Anxiety versi kedua dimulaaaaaiii…. 😂😂😂 sedih sih kalo inget Sera pernah gagal jantung, tapi kan dia sekarang udah sembuh Kyuuuuuu~~~ dan astaga apa tadi??? Jelas lah Sera nangis, lah harga dirinya sbg istri dicoreng gitu aja! Untung aja Sera itu tipetipe orang yg gak suka masalah berlanjut” dan gampang mengondisikan sesuatu jadi pertengkaran kalian gak berlanjut >< ya ampuuun. Aku suka banget sama karakter Sera kak! Bisa ngasih pengertian walau hatinya nyesek 😢 beda sama Kyu yang emang dasarnya orang perfeksionis jadi selalu menyingkirkan risiko terburuk. Termasuk anak–yg mungkin bisa aja ngerenggut kebahagiaannya sama Sera sekarang.. Hhhh…

    Liked by 1 person

  9. KartikaApriya says:

    Jujur aga gimna gitu sama sifat kyuhyun jadi lebih milih pekerjaannya dibanding sera dan ga tanggung2 smpe komunikasi pun jarang dan dia tau sendiri klo itu emng salah karena dia tau itu ambang2 keretakan dan untungnya aja dia mau memperbaiki keadaan dia sekarang….
    Kasian sera udah dihakimin sama ibu2 haus gosip kyuhyunnya gamau punya anak cuma karena takut sera kambuh aduhh semngat seraaa

    Liked by 1 person

  10. Alea says:

    Uh Sera hebat, walaupun dia ingin selalu sama Cho tapi disisi lain bisa memahami dan minta maaf. Kalau sudah gak kuat baru emosinya meledak. Iya gitu ya ka? Kasihan juga Sera yang ingin punya anak karena sakit

    Liked by 1 person

  11. Hana Choi says:

    Uhhh lagi” kyuhyun ngelupain sera untung aja sera bisa ngejaga emosinya dia jadi keduanya ga harus bertengkar. Kenapa sih kyuhyun begitu sibuk nyampe lupa waktu jarang ada istri yg kaya sera aku sih pengennya mereka tetep adem ayem jangan sampe ada penghambat bisa’ kyuhyun yg ngurusin perceraian mereka sendiri

    Like

  12. KYU says:

    Bener2 sakit kalo diposisi Sera 😭
    Kata2nya Kyuhyun kejam banget seakan2 yang Sera lakukan selama ini ga ada artinya,
    Takut di next story nya mereka ga bertahan, bagaimana ini Kak mau lanjut baca takut baper ga lanjut penasaran banger huhuhu

    Liked by 1 person

  13. acih says:

    Salam kenal buat penulisnyaaa,,huahhh,,suka bgt sm crita2nyaaa,,dan sllu bs mnguras emosi crita2 nyaaa,,,kerenn,,baca ini aja smpe nangis2,,hahhh,,masih banyakkah batu krikil yg bakal mreka lewatin?? Ga sabar mau lanjt baca next part nyaaa..gomawoyo,,

    Liked by 1 person

  14. missluck says:

    Tuh bener p yg q pikir selama nie,
    Kyuhyun pst g asal ngomong low dia g pengen punya anak oz dia g suka.
    Bener kn low tu cmn alasan j.
    Dan ternyata dia bener bener bener cinta pake banget sm Sera.

    Liked by 1 person

  15. novi says:

    Kasihan sbnernya sma sera, dia pngen pnya anak, tp kyuhyun sllu mnolak krna alasan ksehatan sera. Tp msa iya ga mau pnya anak slmnya kn ga mnungkin.
    Trus kyuhyun juga jrng ada waktu buat sera, ksiankn sera nya ksepian trus.

    Liked by 1 person

  16. Dyana says:

    Konflik rumah tangga ini di mulai, sebenarnya sebagai wanita Sera pantas merasa kecewa akan sikap Kyu, di tambah olok-olok Ahjumma tukang gosip, itu sangat buruk. Tp Kyuhyun tidak bisa di salahkan seratus persen, dia hanya khawatir akan keadaan Sera jika dia menghamilinya, gak kebayang kalau masa lalu itu terulang kembali…
    Huh… Cukup emosi baca part ini, apalagi pas di pertengkaran mereka, syukur di akhir keduanya bisa menenangkan hati atas dasar cinta.

    Liked by 1 person

  17. melisayoonhaeharuoneday says:

    Landasan cinta yg kuat saja krg kuat menghadapi konflik2 rumah tangga. Butuh tambahan sperti pengertian dan kepercayaan. Di bayanganku kalau cerita piles of regrets ada sequelnya maka hidup cast d dalamnya akan bahagia. Tp setelah baca prolog sequelnya,, kurasa konflik2 berat akan muncul setelah ini. Aku berharap cinta mereka yg tulus bisa mengalahkan ego dan godaan yg ada d sekeliling mereka. Makin gak sabar baca next part…

    Liked by 1 person

  18. Christellee says:

    Huh! Ngeselin dasar para ahjumma, suka gosip ga tau keadaan sebenarnya.
    Konfliknya mulai muncul, takut juga kalau kehawatiran kyu akan kehamilan sera itu bisa bahayain jantungnya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s