Final Call – 14 [Our Happy Place

 

fc_14

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Angst, NC-21

Main Cast: Kang Seulri & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

Cerita ini akan memiliki alur maju-mundur, diperuntukkan bagi mereka-mereka yang memiliki kesabaran untuk memahami character development pada karakter-karakter di dalam FF ini (bagi yang kurang sabaran dengan alur seperti ini, disarankan bacanya nanti saja saat seluruh part–24 part–sudah aku publish).

Pada bagian awal yang aku beri warna abu-abu, akan menceritakan MASA SEKARANG. Lalu pada bagian selepas tanda (***) yang akan aku warnai hitam, akan menjelaskan tentang MASA LALU.

 

 

Kang Seulri saat ini sedang menahan jutaan rasa nyeri yang ia rasakan pada tubunya. Pria di sisinya telah meneteskan air mata lebih banyak dari yang pernah Seulri ingat dan ia tidak tega harus melihat Kyuhyun tersakiti seperti itu, maka ia harus memperjuangkan tiap hembusan napas dan detak jantungnya demi menghapus air mata pria yang sangat dicintainya. Ia harus tetap bertahan, meskipun harus menahan sensasi pukulan bertubi-tubi yang ia rasakan pada kepalanya, ia harus mengabaikan dorongan tubuhnya untuk kembali memuntahkan darah, dan ia harus tetap terjaga dan membuka kedua matanya tidak peduli seberat apa kelopaknya terasa sekarang.

Ia harus membuktikan pada Kyuhyun bahwa ia bisa menjaga setidaknya satu saja janji yang ia ucapkan—bahwa ia akan baik-baik saja, ia akan terus tersadar, dan ia akan mengizinkan Kyuhyun membenahi serpihan janji mereka yang tercecer. Masa depannya yang terkesan lebih terang sepenuhnya berada dalam genggaman tangannya sendiri, Kyuhyun sudah menjanjikan hal indah itu untuknya, maka kini terserah pada Seulri. Wanita itu hanya perlu berjuang keras untuk tetap hidup, sesuatu yang terdengar sederhana namun sangat sulit direalisasikan sekarang.

Kyuhyun di sampingnya sudah kehabisan kata-kata, pria itu menyerah pada serbuan emosinya sendiri dan membiarkan dirinya menangis histeris untuk meringankan rasa sesak yang melanda hatinya. Seumur hidup, belum pernah Kyuhyun merasa sesakit ini. Belum pernah rasa penyesalan membuatnya kehabisan akal dan juga serbuan kemungkinan ‘what if—bagaimana jika… yang kini membanjiri benaknya.

Bagaimana jika Kyuhyun mendampingi Seulri sore ini seperti yang wanita itu minta?

Bagaimana jika ia menahan diri untuk tidak melakukan sandiwara kejamnya hanya dengan tujuan untuk menyakiti Seulri?

Bagaimana jika ia menjadi pria yang berjiwa besar, menerima kesalahan Seulri dan memaafkan wanita itu?

Bagaimana jika ia tidak menyakiti hati gadisnya melalui rangkaian kata-kata sadis yang ia lontarkan memang untuk menyinggung Seulri?

Mungkin jika Kyuhyun bisa mengesampingkan watak keras kepalanya, keadaan mereka detik ini akan sedikit bebeda. Kang Seulri mungkin akan meringkuk dalam dekapannya di atas ranjang yang nyaman, mungkin mereka akan menangis bersama atas apa yang terjadi pada hidup mereka, mungkin Seulri akan menyembunyikan wajah cantiknya dalam lebukan leher Kyuhyun untuk mencari kenyamanan yang ia butuhkan dan mungkin Kyuhyun akan sibuk menenangkannya sambil membanjiri gadisnya dengan ribuan kecupan sayang.

Kyuhyun tahu ia sedang membayangkan sesuatu yang di luar kendalinya, sesuatu yang tidak akan pernah terjadi karena keputusan gegabahnya beberapa jam yang lalu. Namun menyesali hal itu sekarang jelas tidak ada gunanya, ia harus tetap fokus menjaga Seulri tetap sadar.

Tangis Kyuhyun terhenti saat Seulri kembali menyapukan jemarinya di atas wajah sembab pria itu, ia tahu gadisnya ingin mengungkapkan banyak hal. Terlalu banyak kata-kata tidak terucap diantara mereka dan ia masih butuh penjelasan akan hidup Seulri yang berputar 180 derajat. Dulu ia bilang tidak peduli akan alasannya—karena di matanya Kang Seulri tetap salah—, namun malam ini Kyuhyun lebih memilih mendengarkan pembelaan diri Seulri ketimbang membiarkan beban terus memberatkan hati wanita itu.

“Seulri-ya.” Ia terisak di antara tarikan napasnya. “Bisakah kita memulai ulang? Apa kau mau kita memulai kisah kita dari nol?”

Sorot mata Seulri meredup namun wanita itu mencoba untuk mengangguk—itulah yang ia inginkan. Ia ingin meninggalkan semua kenyataan pahit ini di belakangnya dan memulai ulang hidupnya seolah ada tombol ‘reset’ yang bisa menuntaskan seluruh masalahnya.

“Ayo kita mulai lagi semuanya dari awal, ng? Aku akan mencari akal agar kita bisa terus bersama.” Kyuhyun mengecup punggung tangan Seulri. “Kau bisa kembali sekolah lalu mendapatkan ijazah yang kau inginkan dan aku akan menyisihkan waktu untuk menjadi tutormu, agar kau bisa mengejar ketinggalanmu.”

Seulri meremas tangan Kyuhyun sebagai tanda persetujuan.

“Kita bisa pindah dan tinggal di ‘Tempat Bahagia’ kita, aku akan mencari pekerjaan pada klinik lokal di sana dan kau bisa melanjutkan studimu ke jenjang perkuliahan, atau kau bisa menjadi ibu rumah tangga yang merawat anak-anak kita kelak—kau bisa melakukan apa pun yang kau inginkan dan kita bisa membahas detilnya nanti setelah kau sembuh. Apa kau mau melakukan itu semua denganku? Bisakah kau memberiku kesempatan untuk mewujudkan mimpi kita yang sudah lama terkubur?” Kyuhyun lanjut memohon pada Seulri, sebuah permohonan yang muncul dari lubuk hatinya yang terdalam.

Air mata Seulri kembali menetes, gabungan antara air mata bahagia dan juga kepiluan yang masih bersarang dalam hatinya.

“Tapi kita hanya bisa… melakukan itu… jika…” Napas Kyuhyun kembali tercekat di antara isak tangisnya. “Jika… kau terus… ada di sisiku…”

Seulri kembali menghapus air mata yang mengalir dari pelupuk Kyuhyun.

“Jadi…” Kyuhyun melanjutkan. “Mari kita… berjuang melawan ini… bersama… aku tidak akan pergi… aku janji…”

Wanita itu meremas tangan Kyuhyun tiga kali, layaknya yang ia lakukan beberapa menit belakangan ini.

“Aku juga mencintaimu.” Ia menjawab. “Aku ingin menghabiskan… sisa hidupku bersamamu… aku tidak peduli… akan masa lalumu… kumohon, maafkan aku… dan tinggallah di sini untukku…”

Permohonan Kyuhyun terusik oleh suara pintu geser ruang operasi yang terbuka, seorang dokter datang mendekatinya lalu dengan cepat mencengkram bahu Kyuhyun dari belakang.

“Apa status pasien?” Tanya sunbae yang sejak tadi dinantikan kehadirannya.

Kyuhyun masih sibuk mengatur napas dan tanginnya.

“TIDAK ADA WAKTU UNTUK MENANGIS, CHO KYUHYUN! BERITAHU AKU STATUS PASIEN!”

Blunt force trauma pada kepala, keretakan tengkorak. Empat unit darah sudah diberikan. Saat pasien dibawa masuk, MVDnya buruk.” Kyuhyun menjawab cepat. “Pasien kehilangan kemampuan verbal, pupil kanan berdarah dan kemungkinan besar pendarahan pada otak.”

Dokter-dokter lain dalam ruangan itu bangkit untuk menyambut dan membungkuk pada dokter ahli bedah syaraf yang baru tiba.

Sunbae Kyuhyun segera menyematkan masker untuk menutupi mulutnya, mengenakan lampu sorot yang ia pasangkan di atas kepalanya sendiri dan menyiapkan kacamata khusus untuk memperjelas pengelihatannya akan simpul-simpul syaraf kecil yang akan segera dihadapinya. “Siapa nama pasien?”

“Kang Seulri.” Jawab Kyuhyun.

“Kang Seulri-ssi, apa kau bisa mendengarku?” Tanya sang dokter yang kini berdiri pada bagian kepala brankar Seulri.

Wanita itu mengedip sekali sambil meremas tangan Kyuhyun yang masih digenggamnya.

“Dia bisa mendengarmu, dokter. Gerakan taktil masih berfungsi.” Jawab Kyuhyun lagi.

“Bagus.” Dokter itu menatap Seulri. “Seulri-ssi, sekarang aku akan membedah kepalamu untuk memperbaiki fungsi otak yang terganggu dan menyebabkan kebisuan sementara itu, aku akan mengebaskan permukaan kulit di sekitar kepalamu dengan obat bius lokal, tapi kau harus terus sadar. Karena aku harus terus memantau reaksimu dari impuls-impuls yang akan kuberikan nanti. Bisakah kau melakukan itu untukku?” Tanya sunbae Kyuhyun dengan nada suara menenangkan.

Seulri mengedip kembali.

Kyuhyun dan sunbae-nya saling bertatapan dan dengan sebuah anggukan pelan, mereka berdua siap menyembuhkan Seulri.

“Sekarang berikan padaku craniotomy tray[1]! Kita sudah menghabiskan banyak waktu krusial untuk menyelamatkannya, wanita ini masih punya kesempatan!” Dokter syaraf itu mengeluarkan titahnya.

 

***

 

Seulri melirik pada jam dindingnya, waktu menunjukkan pukul 4 sore dan ia hafal jadwal Kyuhyun di hari Kamis itu—pria itu biasanya menuntaskan shift-nya pada jam 3 sore dan tiba di rumah sekitar pukul 4. Dengan gelisah Seulri mencari baju yang terlihat bagus namun santai dan duduk menunggu kehadiran Kyuhyun di atas anak tangga gedung mereka. Sementara matanya lincah mencari-cari kemunculan mobil Kyuhyun, pikirannya berkelana memikirkan alasan apa lagi yang membuat obsesinya untuk bertemu Kyuhyun terlihat wajar sore itu. Ia tidak mau nampak seperti seorang penguntit mengerikan, atau mantan kekasih yang terobsesi dengan pria itu, tapi ia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat Kyuhyun sehari saja.

Wanita itu memutuskan bahwa kegiatan memakan es krim di tangga gedung terlihat seperti sesuatu yang cukup wajar untuk ia lakukan. Ia menoleh gusar dan hatinya bersorak senang saat mobil Kyuhyun akhirnya terparkir di jalanan depan gedung mereka. Seperti biasa, Cho Kyuhyun melangkah keluar dari mobilnya pada pukul 4 sore di hari Kamis. Pria itu menunduk menatap jalanan sementara ia melangkah mendekati gerbang tempat tinggalnya.

Bagi pria itu, bagian terbaik dari harinya adalah saat ia pulang. Karena ia tahu Seulri menunggunya diam-diam dan Kyuhyun pun selalu mencari-cari alasan konyol untuk bisa melihat gadisnya. Kyuhyun senang atas perhatian kecil yang Seulri berikan padanya, dan biasanya senyum wanita itu sudah cukup untuk menghibur hari-hari beratnya di ruang emergensi—namun hari itu berbeda, karena Cho Kyuhyun baru melewati hari terburuk sepanjang sejarah residensinya.

Pria itu melewati pintu rumahnya di lantai empat dan lanjut menapaki anak tangga menuju rumah atap Seulri, ia tersenyum kecil saat mendapati wanita yang dicarinya sudah duduk manis di atas anak tangga lengkap dengan sebuah es krim di tangannya.

“Ini musim gugur, Seulri-ya.” Kyuhyun menyapa Seulri sambil melepas mantelnya.

“Kau yang dulu mengajariku untuk makan es krim demi menyamakan suhu tubuh dengan suhu udara di luar.” Balas Seulri dengan senyum lebar.

Pria itu melangkah lebih dekat untuk menyelimuti kaki Seulri yang terbuka dengan mantelnya. “Maksudku bajumu, memangnya kau tidak kedinginan?”

Seulri menggeleng cepat, lebih penasaran dengan wajah Kyuhyun yang terlihat sangat muram. “Oppa, apa sesuatu yang buruk terjadi di rumah sakit?”

Kyuhyun menghelas napas panjang sembari menyandarkan punggungnya pada tembok. “Seorang pasien meninggal di tanganku hari ini.”

Seulri menjauhkan es krim yang sedang dinikmatinya. “Aku turut berduka…”

“Tidak apa-apa. Maksudku pasienku itu memang sudah sangat berumur dan beliau memang telah lama mengidap kanker rahim stadium akhir. Beliau sudah siap dengan segala kemungkinan yang terburuk.” Kyuhyun menundukkan kepala lesu sebelum ikut duduk di atas anak tangga bersama Seulri.

“Tapi wajahmu sekarang murung sekali, oppa.” Seulri menghabiskan es krimnya sebelum mengamati wajah Kyuhyun lebih dekat. “Apa kau mau kubelikan es krim, demi menghibumu?”

Kyuhyun menggeleng tapi terkekeh kecil. “Aku tidak butuh es krim, aku butuh mengobrol denganmu saja.”

“Oke, bicaralah.” Ia menopang dagunya dengan telapak tangan, membiarkan Kyuhyun berbagi tentang harinya yang buruk.

“Jadi pasienku ini adalah seorang wanita paruh baya yang hanya didampingi oleh suaminya yang tidak kalah berumur. Beliau tahu akan kemungkinan sembuhnya yang minim dan memohon pada kami para dokter untuk tidak menyampaikan perihal penyakitnya pada sang suami, karena takut suaminya akan sedih dan hancur jika tahu tentang penyakitnya itu. Di sisi lain, sang suami sebenarnya tahu vonis yang kami berikan pada sang isteri dan beliau justru meminta kami untuk tidak menyampaikan hasil pemeriksaan terakhir isterinya, karena takut wanita itu akan ketakutan dan menyerah untuk memperjuangkan hidupnya.” Jelas Kyuhyun.

Seulri mengerutkan keningnya keheranan, tapi tidak berkata apa pun.

“Yang membuat hatiku tersayat-sayat adalah detik-detik terakhir mereka. Suaminya duduk di sisi beliau, menggenggam tangannya erat sambil membisikkan kata-kata perpisahan—mengizinkan isterinya untuk pergi ke tempat yang lebih tenang. Ketika akhirnya pasienku meninggal, kami harus mencabut seluruh mesin penyokong hidup yang terhubung padanya dan yang terakhir terhubung padanya adalah alat bantu bernapas yang masih membuat denyut jantungnya terdeteksi. Jadi wanita itu sebenarnya sudah tiada, namun mesin itu masih membuatnya terkesan hidup, kau paham?”

Seulri mengangguk paham sambil terus memperhatikan.

“Saat kami mematikan mesin yang memompa jantungnya itu, sang suami perlahan bangkit untuk memompa jantung isterinya secara manual, sehingga monitor jantung terus berdetak dan tidak berbunyi nyaring.” Kerongkongan Kyuhyun terasa tercekat membayangkan ulang kejadian yang baru disaksikannya tadi. “Aku harus mengambil alih untuk pria itu, karena beliau terus berbisik ‘aku tidak bisa membiarkan kekasih hidupku meninggal begitu saja di tanganku’. Jadi aku harus menjadi orang yang mengambil alih, memompa jantung wanita itu secara manual beberapa kali sebelum aku berhenti dan menyatakan waktu kematiannya.” Air mata Kyuhyun tiba-tiba mengalir begitu saja.

“Oppa…” Seulri memberanikan diri untuk mengusap punggung Kyuhyun. “Kau sudah melakukan yang terbaik, jangan salahkan dirimu.”

“Aku tahu, aku hanya tidak bisa membayangkan rasanya menjadi pria itu.” Isaknya. “Rasanya mencintai seseorang sedalam itu, sampai tidak sanggup membiarkannya pergi. Ya Tuhan, aku belum pernah terpengaruh seburuk ini atas kematian seorang pasien.”

Seulri tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan pada situasi ini. Jelas menghibur Kyuhyun dengan kata-kata penyemangat tidak akan memperbaiki keadaan, pria itu baru kehilangan pasiennya dan hal itu masih membuatnya sedih.

“Apakah ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu merasa lebih baik, oppa?” Tanya Seulri.

Pria itu menyandarkan kepalanya pada tembok lalu menarik napas dalam-dalam. “Entahlah, berapa banyak waktu luang yang kau miliki sekarang?”

Free as a bird.” Jawabnya. Seulri baru saja menjadi pengangguran setelah ia keluar dari Gentelmen’s Club dan ia masih menunggu kabar baik dari beberapa restoran tempatnya mengirimkan lamaran pekerjaan.

Kyuhyun menyeringan nakal. “Kalau begitu siapkan tas menginapmu, Seul. Ayo kita liburan.”

“Ne?”

“Kau bertanya barusan kalau-kalau ada yang bisa kau lakukan untuk menghiburku, bukan? Aku butuh liburan untuk menenangkan pikiran, lagipula aku libur besok.” Pria itu memaksakan cengiran lebar pada wajahnya. “Jangan kecewakan aku.”

“Kau mau liburan ke mana?”

Our happy place.” Balas Kyuhyun singkat.

“Sekarang?”

“Sekarang!” Pria itu bangkit dan menarik tangan Seulri untuk ikut bangkit bersamanya. “Siapkan pakaianmu, kutunggu di bawah dalam lima belas menit.”

.

.

.

Setelah menyetir 3 jam ditambah satu perjalanan ekstra menaiki kapal feri, akhirnya mereka tiba pada pulau kecil di wilayah barat Korea Selatan, sebuah desa nelayan yang dulu pernah mereka kunjungi dalam kunjungan wisata sekolah— ‘Tempat Bahagia’ mereka. Hari itu mungkin menjadi langkah pertama di mana Kyuhyun nekat meninggalkan seluruh kehidupan nyatanya sejenak demi menghabiskan waktu dengan seseorang yang hatinya rindukan. Tiga bulan sudah berlalu sejak ia dan Seulri bertemu kembali dan dalam kurun waktu itu juga Kyuhyun dihadapkan pada peperangan batin yang tidak akhir.

Satu hal yang pasti mereka ketahui adalah fakta bahwa Kyuhyun sudah memiliki kekasih baru. Pria itu tidak pernah menyebut nama Jinae pada obrolan-obrolan ringan seadanya pada Seulri, ia pun tidak mencoba memperkenalkan kedua wanita itu setiap kali Jinae berkunjung ke rumah Kyuhyun. Jinae hanya mengenal Seulri sebagai tetangga Kyuhyun semata. Seolah ada sebuah perjanjian tidak tertulis antara Kyuhyun dan Seulri untuk berpura-pura tidak saling mengenal jika mereka berjumpa di hadapan Jinae.

Dalam tiga bulan itu, belum banyak kesempatan bagi mereka untuk berbincang, untuk menelaah ke belakang tentang apa yang terjadi pada hidup mereka selama berpisah, atau saling berterus terang tentang perasaan masing-masing. Karena sempitnya waktu yang mereka miliki, kecanggungan yang belum bisa mereka hilangkan satu sama lain, dan juga karena Seulri masih sering menghindar jika permbicaraan mereka sudah menyinggung ke arah masa lalu mereka—wanita itu belum siap untuk jujur.

Kyuhyun juga mempelajari beberapa hal dari kehidupan Seulri yang diamatinya diam-diam.

Wanita itu bekerja di malam hari, Seulri berdalih ia hanya memliki waktu di malam hari untuk bekerja karena ia harus kuliah di siang harinya. Pria itu juga merasa lega karena kekhawatirannya terjawab saat Seulri menceritakan bahwa orang tuanya kembali ke kota kecil tempat mereka berasal sebelumnya, menjelaskan mengapa Seulri tinggal sendirian. Saat Kyuhyun mengkonfrontasi Seulri tentang dirinya yang dikeluarkan dari sekolah, wanita itu juga mengakui kondisinya. Untuk menjawab pertanyaan itu, Seulri berdusta bahwa ia harus mengulang tahun terakhir sekolahnya di kota lain karena orang tuanya memutuskan untuk pindah dari Seoul.

Seluruh kebohongan disusun sangat rapi oleh wanita itu, hanya demi memiliki waktu tambahan sedikit lagi dengan Kyuhyun sebelum pria itu murka akibat kenyataan yang melekat erat pada diri Seulri. Wanita itu tidak suka berbohong, tapi kalau pilihannya terletak antara berbohong demi memiliki waktu lebih lama di dekat Kyuhyun dengan mengatakan kejujuran yang akan beresiko buruk terhadap reaksi pria itu, Seulri akan selalu memilih pilihan pertama.

Karena ia terlalu merindukan Kyuhyun.

Alasan lain mengapa Seulri terus mengungkapkan kebohongan adalah karena ia suka cara Kyuhyun menatapnya. Ia tidak ingat kapan seseorang menatapnya dengan kekaguman tulus seperti yang Kyuhyun tunjukkan. Karena ia tahu Cho Kyuhyun bukan jatuh cinta pada kecantikannya, bukan terpana dengan tubuh maupun tarian erotisnya—Kyuhyun mencintai hati Seulri dan itu berpengaruh pada suasana hati wanita itu setiap kali mereka bertemu.

“Seul, sejujurnya aku tidak punya rencana matang tentang apa yang akan kita lakukan setibanya di Chungcheon. Ia berjalan di samping Seulri lengkap dengan dua tas mereka yang tergantung pada kedua pundaknya.

“Tidak apa-apa, kita bisa mencari tempat menginap terlebih dahulu. Atau kita bisa camping di pantai!” Seulri menahan diri untuk tidak melompat kesenangan.

Camping?” Kyuhyun mendengus kecil lalu mengacak rambut Seulri gemas. “Memang umurmu berapa tahun, ng? Sudah dewasa seperti ini masih saja berpikir untuk camping.”

“Kan itu menyenangkan. Keluar dari rutinitas sejenak untuk melakukan apa yang kita inginkan, lagipula tidak ada yang tahu kita di sini.” Seulri termenung sejenak. “Tidak ada yang tahu kita di sini, bukan? Apa kau mengabari eonni?” Tentu saja yang Seulri maksud di sini adalah Jinae.

Kyuhyun menarik tangan Seulri ke arah guesthouse yang nampak di ujung jalan setapak yang mereka lalui. “Kita menginap di sini saja.”

“Kau menghindari pertanyaanku.” Balas Seulri sambil memanyunkan bibirnya.

“Tidak ada yang tahu keberadaan kita, Ahra pun tidak tahu. Aku mematikan ponselku.” Kyuhyun mengkonfirmasi. “Kenapa pernyataanku justru terdengar seolah aku sedang berselingkuh denganmu.” Pria itu terkekeh untuk menyembunyikan kegugupannya.

“Kita tidak sedang berselingkuh. Yang terjadi adalah kau mengalami hari buruk dan aku kebetulan sedang memiliki banyak waktu luang untuk menemanimu. Aku hanya menjadi seorang teman yang baik.” Seulri membenarkan kelakuan mereka.

Kyuhyun mengetuk pintu depan dari guesthouse yang mereka hampiri, bicara sebentar dengan pemilik rumah dan tidak lama kemudian diberikan sebuah kunci untuk mengakses kamar yang tersedia. Ia memberi kode pada Seulri untuk mengikuti langkahnya, wanita itu mengikuti Kyuhyun masih dengan senyuman lebar.

“Kurasa, aku memang sedang berselingkuh.” Kyuhyun melanjutkan pembicaraan mereka yang terpotong. Pria itu menghela napas panjang sembari menyelipkan kunci kamar untuk membuka pintu. “Contoh konkretnya adalah kamar ini. Ada beberapa kamar tersedia malam ini, tapi aku hanya menyewa satu kamar untuk kita berdua.”

Wajah Seulri sontak memerah akibat cara Kyuhyun yang menuturkan pernyataan itu tanpa beban, membuat pria itu terlihat ribuan kali lebih dingin sekaligus sexy di mata Seulri. Mengapa Cho Kyuhyun selalu bisa membuat Seulri merasa seperti seorang gadis lugu yang harus ia jaga dan dalam waktu bersamaan juga membuat Seulri merasa ingin menyerahkan seluruh dirinya pada Kyuhyun.

“Jadi kau selingkuh malam ini?” Tanya Seulri canggung. “Hanya satu kamar?”

Kyuhyun mencubit pipi Seulri yang sudah merah padam. “Kalau kau tidak keberatan.”

“A—aku—”

“Aku tidak akan macam-macam padamu, tidak akan merayumu untuk melakukan apa-apa, tenang saja.” Kyuhyun menaruh tas mereka di sudut ruangan, kemudian mebuka alas tidur mereka di atas lantai rumah tradisional tempat mereka menginap. “Kau bisa tidur di sini, lalu aku akan tidur di sudut sana.” Tunjuknya.

Seulri terpana dengan gestur sederhana Kyuhyun sekaligus kecewa pada saat bersamaan. Mengapa ia harus selalu menjadi pihak yang menginginkan pria itu dan tidak pernah sebaliknya?

“Oke.” Seulri mengangguk pasrah.

“Kau terlihat kecewa.” Goda Kyuhyun.

“Aku baik-baik saja.” Seulri meraih tasnya dan membanting benda itu di atas alas tidurnya. “Kita toh tidak datang ke sini jauh-jauh untuk tidur.”

“Kau punya ide akan kegiatan yang bisa kita lakukan?”

“Mengelilingi pulau ini, aku rindu pada pantainya. Aku tidak ingat kapan terakhir kali bisa pergi liburan.” Ia menjawab jujur.

Kyuhyun mengeluarkan satu mantel ekstra yang ia bawa dan memberikannya pada Seulri, khawatir kalau acara jalan-jalan mereka ternyata berlangsung lama dan membuat gadisnya kedinginan nanti.

Keduanya berjalan dalam diam dari guesthouse menuju pantai, terlalu disibukkan dengan pikiran masing-masing dan juga terlalu bingung untuk memulai pembicaraan yang tidak canggung—karena sejak mereka bertemu, baru saat itulah mereka memiliki waktu berdua saja dalam jangka yang cukup lama.

Meskipun mereka sudah terbiasa dengan kehadiran satu sama lain, Seulri dan Kyuhyun masih tidak bisa mengabaikan kejanggalan yang sering menghantui mereka. Seolah ada tembok tinggi yang tidak terlihat membatasi keduanya, tembok yang belum berhasil mereka runtuhkan setelah terpisah selama enam tahun. Keduanya masih terlalu berhati-hati dalam berucap, menghindari pembicaraan intens tentang hidup mereka, takut kalau-kalau mereka akan menyinggung perasaan satu sama lain jika ada pertanyaan yang salah, sehingga pembicaraan canggung mereka selama ini hanya berkisar pada kegiatan sehari-hari yang tidak lebih dari level basa-basi.

Seulri mengeratkan mantel yang dipinjamkan Kyuhyun padanya saat angin laut berhembut kencang ke arah mereka, wanita itu menunjuk satu lokasi di atas pantai untuk mereka duduk. Kyuhyun menyuruh Seulri menunggu sementara ia membeli kudapan ringan untuk menemani mereka.

Lima menit kemudian pria itu kembali dengan kantung kresek berisi bir, soda, es krim dan makanan ringan. “Aku tidak tahu kau mau yang mana, jadi kubeli saja ini.”

“Aku mau es krimnya.” Seulri merogoh ke dalam kantung.

Kyuhyun mengeluarkan sekaleng bir untuk dirinya sendiri, membuka pinnya dan segera meneguk cairan pahit itu banyak-banyak.

“Bagaimana perasaanmu sekarang, oppa?” Seulri bertanya setelah Kyuhyun menghabiskan kaleng pertamanya cepat.

“Lebih baik.” Pria itu mengeluarkan kaleng kedua dan membukanya. “Aku berada di antah-berantah bersamamu, tidak ada yang mengetahui keberadaan kita dan kita bebas dari dunia nyata sejenak. Mana mungkin hariku bisa lebih baik lagi.” Balasnya dengan seringai sinis.

Bagi orang lain, mungkin tindakan Kyuhyun terlihat sinis, tapi bagi Seulri yang mengenalnya, ia tahu masih banyak lapisan emosi lain yang tersembunyi di balik seringai menyebalkan Kyuhyun.

“Apa kau baik-baik saja, oppa? Maksudku secara garis besar, bukan hanya hari ini.” Wanita itu memeluk lututnya sendiri. “Kau terlihat tidak bahagia.”

“Lantas bagaimana dengamu seindiri, apa kau bahagia?” Kyuhyun meneguk birnya lagi sebelum menawarkan Seulri minumannya. “Apa kau bahagia, Seul?”

Tatapan Cho Kyuhyun seolah menembus ke dalam jiwa Seulri, malam itu Kyuhyun sudah lelah bicara berhati-hati dengan gadisnya—sudah waktunya mereka bertengkar atas hal yang mereka pendam selama ini.

“Aku bahagia.” Seulri mengambil kaleng bir dari tangan Kyuhyun dan meletakkannya di samping agar Kyuhyun berhenti minum. “Kau boleh saja mengira aku sedang berdusta, tapi aku benar-benar bahagia.”

“Lalu mengapa kau terkesan sangat merana dalam pandanganku?” Kyuhyun mengangkat tangannya untuk menyelipkan rambut Seulri ke balik telinga wanita itu, jemarinya membelai lembut permukaan kulit Seulri dan hal itu sukses membuat jantungnya berdebar. “Bagiku, kau terlihat seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu atau menghindari sesuatu. Kau tidak lagi terlihat bahagia.”

“Kau terlalu yakin dengan pendapatmu.” Seulri menghindari tatapan Kyuhyun.

Well, mari kita permudah pembicaraan ini.” Pria itu menepukkan tangannya sendiri. “Aku akan bilang padamu mengapa aku tidak bahagia lalu kau bisa bilang padaku mengapa kau tidak bahagia. An eye for an eye, satu kisah busuk untuk kisah busuk lainnya, bagaimana? Dengan demikian kita bisa meratap bersama.”

Seulri menggigit bibirnya gugup, tidak yakin dengan ide Kyuhyun yang bisa menjadi pedang bermata ganda baginya.

“Aku akan mulai.” Kyuhyun mencondongkan tubuh lebih dekat pada Seulri untuk meraih kaleng bir yang desembunyikan wanita itu di balik tubuhnya, membuat detak jantung Seulri semakin kacau. “Aku membenci hidupku yang sekarang.” Tembak Kyuhyun.

Wanita itu membelalak kaget pada pengakuan Kyuhyun. Di matanya, pria itu sedang menjalani hidup yang ia impikan, berkutat dengan profesi yang ia sukai, melakukan hal yang selalu menjadi cita-citanya dan lebih bagus lagi, ia juga memiliki seorang kekasih yang memiliki derajat setara dengannya. Bagaimana mungkin Cho Kyuhyun membenci hidupnya sendiri?

“Aku mencintai profesiku, tapi aku benci segala tetek-bengek yang menyertainya.” Pria itu meneguk birnya kembali. “Aku ingin menjadi dokter karena ingin menolong orang lain, tapi aku justru terjebak di tengah politik rumah sakit, dan hal itu sangat menjengkelkan.”

“Mengapa?” Seulri menarik kaleng bir dari Kyuhyun dan ikut meneguk habis bir di dalamnya. “Cukup minumnya, kita harus berbincang dalam keadaan sadar.” Tuntut Seulri.

Kyuhyun mengangguk setuju.

“Lanjutkan ceritamu, oppa.” Ujar Seulri penasaran. “Ada apa dengan politik rumah sakit?”

“Aku ditawarkan posisi yang lebih tinggi, yang artinya lebih banyak tanggung jawab dan juga aku harus belajar menjilat para pemegang saham di rumah sakit itu. Para pemegang saham hanya mencari profit, bukan menyelamatkan nyawa. Aku benci sekali saat disuruh melakukan pengecekan latar belakang pasien sebelum kami menyelamatkan mereka, kami harus memastikan mereka memiliki asuransi sebelum melakukan tindakan—maksudku, untuk apa aku belajar susah-susah kalau pada akhirnya pasienku meninggal hanya karena mereka tidak memiliki asuransi, bukan karena mereka tidak bisa diselamatkan, namun karena mereka tidak mampu membayar fasilitas penyelamatan?!”

Seulri menggeser duduknya agar bisa menatap Kyuhyun lebih nyaman.

“Dan tentang Jinae.” Kyuhyun mengatupkan rahangnya keras-keras saat menyebut nama kekasihnya. “Dia adalah wanita yang dinilai sempurna oleh kedua orang tuaku, karena kami memiliki latar belakang keluarga yang serupa. Orang tuaku—terutama eomma—berpikir mereka bisa membangun dinasti dokter yang kuat kalau kami menikah. Tapi wanita itu, dia—” Kyuhyun berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Dia terlalu membosankan dan sangat mudah ditebak. Aku tidak merasakan getaran apa pun saat bersama dengannya dan aku tidak tahu berapa lama lagi harus menunggu percikan asmara di antara kami.”

Seulri semakin bingung harus bereaksi seperti apa, jadi ia hanya menggigit bibirnya sambil memainkan ujung mantel Kyuhyun yang ia kenakan.

“Tapi mereka sudah merencanakan ini untukku dan aku dituntut untuk mengikuti rencana mereka. Hidup juga menyebalkan untuk Ahra.” Tambahnya. “Adikku ingin menjadi dokter hewan, tapi kedua orang tuaku menentang, karena bagi mereka menyelamatkan nyawa binatang tidak sama prestisnya dengan menyelamatkan nyawa manusia.” Nada bicara Kyuhyun semakin kental dengan sarkasme.

Seulri tidak lagi berpikir saat tangannya bergerak otomatis untuk membelai lengan Kyuhyun, ia hanya ingin menenangkan amarah pria di hadapannya. Ia tidak suka pandangan penuh derita yang Kyuhyun simpan dalam sorot matanya dan wanita itu hanya ingin menghapus kegundahan hati pria yang dicintainya.

“Aku tidak tahu bagaimana cara menghiburmu, oppa.” Bisiknya. “Tapi aku sedih melihatmu memendam ini seorang diri.”

“Beritahu aku tentangmu, Seul.” Kyuhyun meraih tangan Seulri yang membelainya lalu mengaitkan jemari mereka bersama.

“Apa yang ingin kau ketahui?”

“Bagaimana hidupmu selama ini?” Ia mencoba mencari manik mata Seulri.

Wanita itu menghelas napas pasrah dan memutuskan untuk menyampaikan sebagian dari hidupnya yang bisa ia beberkan. “Aku belum memberitahumu tentang ini, tapi kurasa aku harus meminta maaf sebelumnya.”

Kyuhyun mengangkat kedua alisnya, mendorong Seulri untuk terus bicara.

“Alasan mengapa aku meninggalkanmu.” Seulri menelan ketakutannya bulat-bulat. “Hidupku jauh dari kata baik, terutama enam tahun yang lalu. Saat itu kau sedang wajib militer dan aku seorang diri saat menerima berita buruk yang merubah hidupku. Kedua orang tuaku terlibat dalam kecelakaan lalu lintas dan eomma meninggal.”

Hati Kyuhyun mencelos, lidahnya kelu dan ia tidak bisa bereaksi atas pengakuan Seulri. Mengapa wanita itu tidak pernah bilang tentang hal ini dan berpura-pura kedua orang tuanya masih lengkap dan hidup damai di kota kecil ketika Kyuhyun menanyakan kabar mereka?

“Aku harus membantu ayahku untuk menghidupi kami berdua sejak saat itu, itu alasan aku dikeluarkan dari sekolah. Saat itu aku sibuk bekerja dua pekerjaan paruh waktu sementara ayahku masih harus dirawat akibat kecelakaan itu.” Seulri menunduk untuk menghindari tatapan Kyuhyun. “Maafkan aku, karena menomor-duakanmu saat itu.”

Kyuhyun menggeser duduknya mendekati Seulri, pria itu melingkarkan lengannya diseputar tubuh Seulri yang kurus lalu menarik wanita itu ke dalam dekapannya. “Kenapa kau baru bilang sekarang, Seul?”

“Entahlah, kurasa lebih mudah mengelak ketimbang menjelaskan padamu kalau eomma sudah meninggal lalu membuatku kembali teringat akan kejadian itu.” Sergah Seulri jujur. “Maaf, aku tidak bermaksud berbohong masalah eomma. Hanya saja…”

“Kau menjadi sedih saat membicarakannya.” Kyuhyun mengangguk paham.

“Tapi aku baik-baik saja, jadi kau tidak perlu merasa tidak enak hati padaku, oppa.” Wanita itu mamaksakan suaranya tetap terdengar ceria.

“Kau kan bisa memberitahuku.” Balas Kyuhyun. “Pasti aku akan mendampingi dan membantumu Seul.”

“Aku tahu, tapi saat itu semua terjadi begitu cepat dan aku bingung. Aku baru berusia 17 tahun saat itu terjadi, tahu apa aku tentang pilihan yang baik untukku dan appa?!” Seulri menyembunyikan wajahnya ke dalam hangatnya pelukan Kyuhyun. “Maaf, karena aku telah mengambil keputusan yang sangat buruk bagi kisah kita.”

“Dan sementara kau berjuang dengan hidupmu, aku justru sibuk mencerca dan membencimu.” Simpul Kyuhyun parau. “Maafkan aku, Seul.”

Wanita itu menggeleng pelan. “Kalau ada dalam posisimu, aku pun akan membenci diriku.”

“Aku berhenti membencimu pada malam kau muncul di bangsal emergensiku.” Kyuhyun berbisik lembut sambil mengusap punggung Seulri.

Wanita itu tersenyum lemah. “Kukira aku sedang berhalusinasi saat aku melihatmu hari itu, oppa. Kau tidak tahu seberapa besar rasa rinduku padamu.”

“Tidak, kau yang tidak tahu seberapa besar rasa rinduku padamu.” Kyuhyun mengikuti kata hatinya, seperti yang selalu ia lakukan ketika Seulri terlibat dalam tiap tindakan dan keputusannya. Pria itu mengeratkan pelukannya di sekitar tubuh Seulri dan mulai mengecupi puncak kepala gadisnya. Bagi Kyuhyun, perpisahan enam tahun itu tidak lagi berarti asalkan ia bisa kembali mendekap Seulri seperti itu.

“Dan kurasa, aku perlahan bertranformasi menjadi wanita yang tidak baik, oppa.” Bisik Seulri lirih.

“Bagaimana mungkin?” Kyuhyun mengecup dahi Seulri. “Seulri-ku yang manis tidak mungkin bisa menjadi wanita yang tidak baik, aku yakin itu.”

Hati Seulri terasa sesak akibat kata-kata Kyuhyun yang manis. Ia tahu itu adalah pertanda baginya untuk berhenti mengutarakan kenyataan pahit yang menghadang hidupnya. Meskipun terkesan egois, Seulri ingin memberikan dirinya waktu sedikit lebih lama untuk bisa menikmati dekapan pria yang sangat dirindukannya—mumpung Kyuhyun masih memandanganya sebagai gadisnya yang manis.

“Contoh konkretnya, aku membiarkan seorang pria yang memiliki kekasih untuk mendekapku seperti ini tanpa memiliki rasa bersalah apa pun pada wanita yang malang itu.” Balas Seulri dengan penyangkalan yang baru ia temukan.

Kyuhyun terkekeh, bukannya mendorong Seulri menjauh, ia malah memeluk gadisnya semakin erat. “Kalau begitu aku sama buruknya denganmu. Dia memiliki status sebagai kekasihku namun hanya kau yang menggenggam hatiku di tanganmu, sayang. Bagiku, aku justru merasa sedang berselingkuh darimu setiap kali kau mendapati dia di rumahku. Karena selamanya, kau akan tetap menjadi kekasihku.”

Seulri melingkarkan kedua lengannya di seputar tubuh Kyuhyun lalu memberanikan diri untuk mengecup pipi kekasih hatinya. “Kalau begitu biarlah kita menjadi manusia jahat sesekali. Toh tidak ada yang tahu kita di sini.”

“Kau tahu? Pergi ke pulau ini bersamamu sekarang bisa jadi ide terjenius yang kumiliki seumur hidup.” Kyuhyun terkekeh, menyetujui ide gila Seulri. “Apa kau bahagia sekarang, Seul?” Pria itu mengusap lembut wajah Seulri sebelum mencubit wajahnya yang memerah.

“Aku bahagia sekali sekarang, oppa.” Ia tersenyum sambil menghindari tatapan Kyuhyun. “Aku ada dalam pelukan pria yang kucintai, bagaimana mungkin aku bisa lebih bahagia dari ini?”

Kyuhyun tidak lagi sanggup menahan luapan kebahagiaannya, ia terlalu senang karena mereka berhasil mengungkapkan kejujuran yang tertunda selama ini. Ia bahagia karena Seulri kembali ke dalam dekapannya, ia juga menghargai pengertian yang mereka miliki satu sama lain. Tapi pria itu sangat bersyukur karena gadisnya masih tetap sama, Seulri masih tetap gadis manis nan lugu yang memiliki pemahaman sederhana akan cinta, yang mengungkapkan perasaannya dengan cara paling menakjubkan di mata Kyuhyun.

Pria itu membelai rambut Seulri, perlahan tangannya mencari tangan wanita itu untuk ia genggam, dengan yakin Kyuhyun meremas tangan Seulri dalam genggamannya tiga kali seiring pria itu perlahan menghapus jarak di antara mereka. Dengan hati-hati Kyuhyun mendekatkan wajahnya, merasakan kehangatan napas Seulri di atas wajahnya sebelum bibirnya menyapu lembut bibir Seulri yang lama ia rindukan. Kang Seulri membalas ciuman Kyuhyun tanpa perlawanan, ia membiarkan pria itu melumat bibirnya, menyampaikan segenap rasa rindu dan cinta yang selama ini terpaksa dikuburnya.

“Aku mencintaimu, Seulri-ya. Selama akan terus seperti itu.” Bisik Kyuhyun di tengah ciuman mereka yang semakin memanas.

“Aku mencintaimu lebih dari itu.” Balas Seulri.

Ada banyak kesempatan bagi mereka untuk saling jujur sejak awal pertemuan mereka kembali tiga bulan lalu, tapi malam itu menjadi sebuah malam yang sempurna bagi mereka untuk saling mengenang apa yang telah direnggut dari mereka enam tahun lamanya.

 

 

tbc…


footnote:

[1] Alat operasi berupa gergaji untuk membuka tengkorak pasien.

 

 

 

Advertisements

63 thoughts on “Final Call – 14 [Our Happy Place

  1. Hana choi says:

    Semoga aja apa yg dijanjikan kyuhyun ketika seulri sembuh nanti memang bener, so sweet kisah mereka bener” bikin terharu meskipun masih ada hal yg di sembunyiin dari seulri tapi mungkin seulri bisa jelasin hal yg lain ke kyuhyun dengan pelan”. Seharusnya kalau kyuhyun emang masih Cinta sama seulri dia harusnya bisa mutusin kekasihnya kan kasian juga disisi lain seulri keliatan kaya PHO dan kekasih kyuhyun juga kasian dia jadi berharap banyak dan nanti kedua jadi sakit hati kan

    Liked by 1 person

  2. Cho Sarang says:

    Semoga janji kyuhyun pada seulri untuk memulai hubungan mereka yang baru dan melupakan masa lalu kelam seulri bukan hanya sekedar janji manis di mulut

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s