Final Call – 13 [Everything I Have]

fc_13

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Angst, NC-21

Main Cast: Kang Seulri & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

Cerita ini akan memiliki alur maju-mundur, diperuntukkan bagi mereka-mereka yang memiliki kesabaran untuk memahami character development pada karakter-karakter di dalam FF ini (bagi yang kurang sabaran dengan alur seperti ini, disarankan bacanya nanti saja saat seluruh part–24 part–sudah aku publish).

Pada bagian awal yang aku beri warna abu-abu, akan menceritakan MASA SEKARANG. Lalu pada bagian selepas tanda (***) yang akan aku warnai hitam, akan menjelaskan tentang MASA LALU.

Ok Taecyeon bukanlah seseorang yang religius, ia tidak pernah percaya dengan satu kekuatan misterius yang mengendalikan seluruh umat manusia dan ia juga orang yang tidak percaya pada karma. Baginya kebaikan dan keburukan dalam hidup seseorang terjadi sepenuhnya akibat dari setiap tindakan dan keputusan yang dipilih orang tersebut. Bagaimanapun juga, malam ini ia berubah pikiran. Pria itu membawa langkahnya menuju kapel kecil yang tersedia di dalam rumah sakit. Ia sudah kehabisan akal tentang cara menyelamatkan Seulri dan hanya metode ini yang belum ia lakukan—berdoa. Pria itu percaya bahwa dokter-dokter hebat di dalam ruang operasi sedang mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk menyelamatkan Seulri, tapi ia merasa perlu menyuport usaha mereka dengan kekuatan Sang Maha Kuasa yang dulu selalu ia remehkan.

Pria itu menengadahkan kerdua tangannya di depan dada dan berlutut, mengikuti tahapan yang biasa ia lihat setiap kali ada orang yang berdoa. Ia tidak tahu harus memulai ritualnya dari mana, haruskah ia memohon saja? Haruskah ia memuja Tuhan terlebih dahulu sebelum menyatakan keinginannya? Yang ia tahu hanya mulutnya tidak bisa berhenti membisikkan harapan untuk wanita yang sangat dicintainya.

“Maafkan aku sebelumnya, karena aku adalah pria yang tidak mempercayai eksistensiMu.” Ia memulai. “Tapi aku punya alasan di balik sikapku itu, contoh konkretnya saja aku selalu mempertanyakan kekejamanMu terhadap takdir wanita itu. Seulri hanya seorang gadis polos yang lugu, lalu Kau memaksanya untuk terus berjuang dalam sebuah pertarungan tiada akhir yang kejam. Kalau itu belum cukup menghiburMu, Kau juga memberinya pilihan yang sedikit sekali untuk bertahan—hingga gadis polos itu sekarang terjebak dalam hidupnya yang kelam.”

Taecyeon berdeham sejenak, ia tidak yakin apakah sekarang ia sedang berdoa atau protes pada Tuhan.

“Apa kesalahannya? Dia manusia dengan hati paling indah dan pemahamannya akan cinta begitu tulus, meskipun yang ia lakukan untuk menafkahi dirinya sendiri bertolak belakan dengan itu semua. Dia hanya meminta satu pria itu untuk ada di sisinya, mengapa Kau tidak bisa menjadi sutradara yang baik saja dan membiarkan keduanya bersama, hah? Kau kan Yang Maha Kuasa, kasihanilah gadis lugu itu dan izinkan dia menjalani hidup yang ia impikan, jauhkan dia dari orang-orang judgemental dan biarkan dia bersatu dengan pria yang dicintainya.”

Pria itu menghapus air mata yang mengalir deras di kedua pipinya. Mengapa ia selalu merasa tidak berdaya seperti ini setiap kali berurusan dengan Kang Seulri? Perasaan tulus semacam apa yang sebenarnya ia miliki untuk seorang wanita yang telah menghangatkan hatinya yang beku?

Look, aku tahu kalau aku ini memang orang bejat tapi aku tidak berlutut di sini demi kepentinganku sendiri.” Ia mengatupkan rahangnya keras untuk menahan gemetar tangisnya. “Aku memohon padaMu di sini untuk memberinya kesempatan. Kalau Kau memang Maha Kuasa, kumohon berilah para dokter di dalam sana kemudahan untuk menolongnya. Kalau Kau bisa melimpahkannya dengan berbagai cobaan, maka Engkau juga yang bisa menghapuskan semua deritanya, jadi kumohon selamatkanlah Kang Seulri. Aku bahkan tidak memintaMu untuk membukakan hatinya untukku, aku hanya ingin melihat senyum bahagia yang ia sunggingkan setiap kali ia membicarakan pria itu, aku hanya ingin Seulri bahagia dengan pria yang ia cintai. Jadi kumohon, kabulkanlah doa ini, tolonglah Seulri.”

Taecyeon membutuhkan sedikit waktu untuk menumpahkan seluruh sesak dalam hatinya. Pria itu menyandar pada pagar pembatas di depan untuk menopang seluruh bobot tubuhnya sementara ia menumpahkan seluruh tangisnya.

Ia rela melepaskan wanita itu jika pria brengsek yang menyakitinya berubah pikiran, ia rela melakukan apa pun yang bisa menyelamatkan Seulri—baik dari kesakitan yang sedang melandanya, maupun dari kekacauan hidupnya. Taecyeon bahkan bersedia menukarkan nyawanya jika itu bisa menggantikan kebahagiaan Seulri. Karena seumur hidupnya, hanya wanita itu yang bisa melihat Taecyeom sebagai dirinya sendiri, wanita yang menerima berbagai kekurangan dan kelebihannya, wanita yang tidak berhenti memberikan support moral pada pria yang juga tidak bisa berhenti melakukan hal yang serupa pada Seulri.

Ok Taecyeon bangkit dari kapel kecil itu, tidak yakin doanya barusan bisa berpengaruh apa pun terhadap keadaan Seulri sekarang—namun sepertinya Tuhan akan segera membuktikan bahwa kebesaranNya memang nyata.

Saat pria itu kembali terduduk di ruang tunggu, seorang dokter dan suster berlari tergesa-gesa ke dalam. Sang suster sibuk menjelaskan status pasien dalam bahasa kedokteran yang tidak bisa dipahami Taecyeon, tapi ia tahu bahwa pasien yang dibicarakan mereka adalah Kang Seulri, karena suster mengungkap kalimat ‘tabrakan mobil’. Pria itu sempat diberitahu sebelumnya bahwa proses tindakan Seulri membutuhkan bantuan dari dokter ahli bedah syaraf dari rumah sakit lain, sepertinya dokter yang berlari ke dalam ruang operasi itu adalah orang yang akan segera menyelamatkan nyawa wanita itu.

Taecyeon menghela napas lega sambil tersenyum tipis. “Terima kasih, karena Kau langsung menunjukkan padaku kebesaranMu. Sekarang kumohon, selamatkanlah Kang Seulri lewat tangan dokter-dokter berbakat itu.” Bisiknya sambil kembali menutup mata, melanjutkan usahanya untuk berdoa.

***

Taecyeon membuka pintu penthouse-nya hanya beberapa detik setelah Seulri menekan bel. Seperti biasa, ia menyewa Seulri untuk menghabiskan malam bersamanya. Wanita itu datang dengan senyuman yang berbeda. Biasanya Taecyeon melihat senyuman cantik tersungging pada bibirnya saja dan emosi itu tidak akan menggapai sorot mata sang wanita penghibur—tapi malam itu berbeda, Kang Seulri tersenyum dalam artian yang sesungguhnya. Tanpa canggung Seulri melangkah masuk ke dalam penthouse Taecyeon, membuka mantelnnya untuk menunjukkan gaun ketat yang memeluk tubuh indahnya dengan sempurna, membuat imajinasi Taecyeon meliar untuk sesaat.

“Selamat malam, V.” Ia mengecup kedua pipi Seulri. “Kau terlihat menakjubkan seperti biasa. Aku harus meminjamkan kimono tidur lagi padamu sepertinya agar aku bisa menahan diri.”

Seulri terkekeh. “Hanya melakukan pekerjaanku, Taec.”

Taecyeon yang tidak pernah melihat suasana hati Seulri sebaik itu justru keheranan, Kang Seulri benar-benar terlihat berbeda malam itu, lebih ceria dan hangat.

“Apa ada berita baik? Kau terlihat senang malam ini.” Pria itu menyengir lebar sambil menarik tangan Seulri ke dalam ruang tengahnya. “Aku menyiapkan Shiraz favoritmu.”

“Minum-minum santai lagi?” Balas Seulri. “Jadi kau tidak akan menyetubuhiku malam ini?”

Taecyeon tertawa lepas lalu mengecup puncak kepala Seulri gemas. “Memang aku pernah melakukan itu lagi padamu sejak yang pertama, ng? Bisa-bisa kau menangis ketakutan lagi seperti dulu.”

Seulri mengangkat kedua bahunya tidak acuh. “Memang kau tidak pernah menyentuhku seperti itu lagi. tapi aku masih tidak mengerti, kau membayarku sama mahalnya hanya untuk kegiatan kencan seperti ini.”

Well, kau menolak ideku agar kita berkencan secara resmi, kau juga masih menolak memberitahuku nama aslimu, jadi hanya ini cara yang bisa kulakukan untuk mendapatkan waktu eksklusif bersamamu, bukan?”

Seulri mendengus meledek. “Kau butuh kekasih, Taec.”

“Tidak, aku butuh isteri. Sayangnya wanita yang kulamar masih terus menolakku.” Ia membiarkan Seulri duduk di atas sofanya yang nyaman, tidak lupa melemparkan selimut agar imannya tidak tergoda lewat pakaian Seulri yang menantang.

Wanita itu memutar matanya, namun cengiran lebar pada wajahnya tetap sama. “Kau itu pria terhormat, sudah sewajarnya kau mencari wanita dari kalangan terhormat juga—bukannya dengan pelacur sepertiku.”

“Ey! Jaga mulutmu. Kau bukan pelacur.” Pria itu duduk di samping Seulri dengan segelas anggur merah yang diberikan pada wanita itu.

Seulri tersenyum simpul. “Terima kasih, tapi ada alasan lain aku terus menolakmu, Taec. Hatiku dimiliki pria lain.”

“Hm, aku tahu.” Pria itu  menyisip minumannya.

“Malam ini, aku punya berita baik sekaligus merangkap berita buruk untukmu.” Seulri lanjut bicara.

“Aku tahu berita yang akan kau sampaikan. Hyukjae susah menginformasikan padaku, itu sebabnya aku bersikeras memintamu ke sini malam ini.” Taecyeon meraih tangan Seulri lalu menyelipkan jemari mereka bersama. “Aku turut bahagia, V. Karena kau akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan ini.”

Wanita itu mengangguk dengan senyum lebar.

“Bolehkah aku tahu alasan dibalik keputusanmu? Kukira bulan lalu kau bilang belum bisa berhenti karena masih ada sisa hutang 3 juta won pada rentenir itu.” Tanya Taecyeon penasaran.

Wanita itu menggigit bibirnya gugup tapi rona pada wajahnya yang mendadak muncul tidak bisa ia sembunyikan. “Aku menemukannya.”

“Cinta pertamamu?” Taecyeon terbelalak kaget.

Well, kami tidak menjalin hubungan spesial atau apa pun. Pria itu punya kekasih, dia punya pekerjaan hebat di rumah sakit, masa depan cerah jelas ia genggam dengan mantap—aku hanya akan menjadi serpihan abu di tengah semesta megahnya, terlebih mengingat pekerjaanku. Tapi pria itu ada di dekatku, aku bisa melihat sosoknya setiap hari meskipun harus sembunyi-sembunyi, namun hal itu cukup membuatku bahagia.”

“Ketranganmu menjelaskan lebarnya senyuman di wajah cantik itu.” Taecyeon mengangguk paham. “You’re glowing.”

I’m in love.” Seulri mengoreksi.

Taecyeon memaksakan senyumnya. “Kalau begitu aku akan berusaha berbahagia untukmu.”

Wanita itu mendekatkan gelas wine-nya untuk menyesap cairan merah yang ia sukai. “Terima kasih, Taec. Untuk semua yang sudah kau lakukan untukku.” Ia menepuk bahu Taecyeon pelan. “Kau sudah menyelamatkan harga diriku yang ternoda lewat surat kontrak itu, menyewaku secara ekslusif dan mencegahku melayani pria lain selain dirimu di ranjang—walaupun kenyataannya kau bahkan tidak pernah memanfaatkan kesempatan itu lagi. Aku merasa sedikit lebih terhormat karena aku tidak perlu melakukan tindakan kotor itu lagi dan hanya perlu fokus menjadi penari erotis saja.”

“Hanya itu yang bisa kulakukan, V. Karena kau selalu menolak bantuanku yang lain.” Pria itu membelai wajah Seulri dengan punggung tangannya. “Lagipula aku tidak rela pria lain mencicipi tubuhmu seperti itu, jadi anggap saja aku ini hanya bajingan egois yang bisa meyakinkan mucikarimu lewat sebuah kontrak busuk hanya demi bisa berkencan seperti ini.”

Seulri terkikik geli. “Apa pun alasanmu, aku masih tetap berterima kasih. Kau membayar mahal hanya untuk minum-minum santai seperti ini dan kau bahkan menutupi tubuhku dengan selimut ini sekarang. Sebagai pelacur pribadimu seharusnya aku merasa tersinggung, tapi sebagai wanita aku merasa tersanjung dengan tindakan manismu.”

Pria itu menyentil dahi Seulri. “Aku tidak suka caramu menyebut dirimu! Jangan rendahkan martabatmu seperti itu, V. Ingat, kau bukan pelacur—aku tahu kau tidak seperti itu dan aku tahu alasanmu.”

“Tapi dunia memandangku berbeda.” Ia menggigit bibirnya dan menunduk. “Seandainya dia tahu apa yang kulakuan untuk bertahan hidup, apa menurutmu dia masih mau mengenalku?”

“Kau bertanya hanya karena penasaran atau memang ingin jawaban jujur dariku?”

“Aku mau mendapat perspektifmu.” Seulri menatap mata Taecyeon tajam. “Kau juga seorang pria, aku yakin kau lebih paham cara kaummu berpikir dan bertindak.”

Taecyeon berdeham lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa, memikirkan kata-kata yang bisa menjawab rasa penasaran Seulri tanpa terkesan menggurui.

“Pria itu sama rumitnya dengan wanita, kau tahu?” Taecyeon memulai.

“Bagaimana mungkin?”

“Saat seorang pria jatuh cinta ia akan mencintaimu melalui jutaan cara, dan saat ia mencintaimu, tidak ada kata ‘mundur’ akan pernah terlintas. Kau akan menjadi hal pertama yang muncul dalam benaknya setiap ia terbangun, sepanjang hari ia akan mengingatmu dan kau juga menjadi hal terakhir yang ia pikirkan sebelum matanya terpejam setiap malam. Pria yang jatuh cinta tidaklah sederhana, karena dia akan menjadi pribadi yang sulit diterka. Ia akan menjadi pria yang konsisten sekaligus keras kepala. Lalu ia akan melakukan apa pun untuk memenangkan hatimu, bahkan jika ia harus menggendongmu dari satu ujung dunia ke ujung lainnya, ia pasti akan melakukannya. Ia akan menunjukkan padamu cara untuk melihat keindahan dunia melalui ribuan cara dan ia juga akan mengungkapkan caranya menghargai kecantikan hatimu lewat jutaan cara lainnya.”

Seulri memperhatikan baik-baik perkataan Taecyeon, karena sikap pria yang sekarang terkesan melankolis itu tidak sering terjadi. Dan kata-kata yang Taecyeon ungkapkan sungguh membuat Seulri berpikir, apakah memang seperti itu yang terjadi dalam pikiran seorang pria yang jatuh cinta.

“V, kalau aku di posisinya, jelas aku akan mengamuk saat tahu kenyataan pahit itu. Tapi cepat atau lambat ia pasti akan tahu dan aku yakin ia memilih mengetahuinya dari mulutmu sendiri ketimbang dari orang lain.” Taecyeon menggunakan jemarinya untuk membelai lengan Seulri. “Namun, jika pria itu mencintaimu sebesar rasa cinta yang kau miliki untuknya, maka dia akan mengesampingkan masalah ini. Tentu saja pikirannya akan kacau untuk sementara, mungkin dia akan membencimu sejenak. Tapi kalau pun dia melakukan itu, kurasa bukan karena dia murka padamu, namun karena amarahnya pada semesta yang telah menghancurkan hidup gadis yang dicintainya. Kemudian jika dia memang mencintaimu, pasti dia akan kembali, setelah puas melampiaskan amarahnya.”

Seulri menggigit bibirnya gugup, hatinya sudah mencelos terlebih dahulu sebelum ia berani menanyakan hal berikutnya. “Bagaimana jika dia tidak pernah kembali? Bagaimana jika dia hanya berhenti pada proses membenciku dan selamanya justru membenci pribadiku, keputusanku, dan jati diriku yang sekarang?”

“Maka dia tidak mencintaimu sebesar itu, dia tidak mencintaimu untuk kekuranganmu.” Jawab Taecyeon singkat.

Seulri mengangguk sambil menghela napas panjang. “Itu yang kutakutkan. Aku tidak berani berkhayal akan kesempatan kedua dengannya. Maksudku, aku juga tidak mau dia menjalin hubungan lagi denganku, karena aku sangat tidak pantas untuknya. Hidupku ternggelam di kubangan kelam yang dia pun tidak tahu eksistensinya.”

Pria itu menyimak kata-kata Seulri, seperti biasa ia menjadi pendengar yang baik setiap kali wanita itu mengungkapkan pikirannya.

“Tapi aku ingin ada di dekatnya, kau paham? Menontonnya dari jauh, menjaganya dengan caraku sendiri dan menikmati indah senyum di wajahnya sesekali meskipun senyum itu tidak ditujukan untukku. Kehadirannya saja sudah cukup untukku, tapi aku takut dia akan menghilang selamanya kalau fakta tentang hidupku terungkap.” Seulri memanyunkan bibirnya. “Aku egois sekali, bukan?”

Taecyeon menggeleng lengkap dengan seringai menyebalkan di wajahnya. “Wow, kau baru saja mendeskripsikan dengan tepat perasaan yang kumiliki untukmu, V.”

“Maafkan aku. Pasti hal itu menyakitimu sama seperti hal ini menyakitiku sekarang.” Seulri meletakkan gelasnya di atas meja sebelum ikut menyandarkan punggungnya pada sofa. “Tapi dalam kasusmu, kau bisa mendapatkan wanita mana pun yang kau mau, Taec. Apa juga yang kau lihat dariku? Aku jauh lebih muda darimu, aku wanita yang rusak, hisupku berantakan, dan aku mencintai pria lain.”

“Tapi hatiku memilihmu.” Pria itu terkekeh, mencoba usaha menyedihkan untuk terlihat santai di hadapan Seulri. “Hatiku tidak memiliki mata untuk melihat ketidaksempurnaanmu, tidak punya telinga untuk mendengar kata-kata menyakitkan yang baru kau ungkapkan, dan juga tidak memiliki otak untuk berpikir secara logis. Hatiku hanya merasa, dan hatiku selalu gelisah dan bahagia setiap kali kau di dekatku.”

Seulri terenyuh dengan kata-katanya. Kalau ada seseorang yang bisa membuat hidup menyedihkannya terasa sedikit ringan, maka pria itu adalah Ok Taecyeon. Ia tidak akan lupa cara pria itu membantu Seulri bangkit dari keterpurukannya bertahun-tahun lalu, pria itu mendengarkan setiap kisah memilukan yang Seulri simpan seorang diri dan ia juga membantu Seulri berurusan dengan para rentenir yang mengejarnya—dengan cara yang Seulri pilih tentu saja.

Enam tahun yang lalu, Ok Taecyeon membuat kontrak perjanjian dengan Hyukjae. Isi perjanjian itu adalah Seulri diperbolehkan untuk menari erotis pada semua kostumernya, tapi tidak boleh ada seorang pun yang diizinkan untuk menyewanya dalam sesi ‘kencan ekslusif’. Hanya Taecyeon yang boleh menyewanya dan ia mengikat Hyukjae serta Seulri lewat sebuah kontrak. Hyukjae mendapat banyak uang dari kontrak itu dan Seulri mendapatkan jaminan untuk tidak melakukan kegiatan yang ia benci itu kembali.

Sejak saat itu Taecyeon sering meminta Seulri untuk datang dan menemaninya, menginap di penthouse-nya untuk menghibur Taecyeon lewat kisah dan celotehan asal yang sering keluar dari mulut Seulri—dan pria itu tidak pernah menuntutnya melakukan apa pun. Taecyeon hanya meminta Seulri berbaring di sampingnya agar ia bisa mendekap wanita itu lebih erat dan mereka akan terbangun dengan pakaian masih lengkap keesokan harinya, karena pria itu tidak pernah lupa tangis pilu Seulri saat ia menyetubuhinya dulu.

Taecyeon perlahan tahu alasan Seulri melakukan pekerjaan kotor itu, ia perlahan juga paham kalau ia berhubungan dengan gadis di bawah umur, dan ia sempat marah karena Seulri mempertaruhkan masa depannya begitu saja demi sesuatu yang jalan keluarnya masih bisa ia pilih. Tapi kepasrahan pada mata Seulri saat ia mencaci wanita itu kembali melumerkan amarahnya. Selanjutnya Taecyeon menawarkan bantuan finansial agar masalah Seulri teratasi, agar wanita itu bisa keluar dari pekerjaan yang dibencinya dan agar Seulri bisa merajut ulang masa depannya yang terputus di tengah jalan. Namun wanita keras kepala itu menolak, karena ia tidak mau merasa berhutang budi pada siapa pun.

Jadi cara lain Taecyeon membantunya adalah dengan sering menyewa Seulri, membayarnya mahal lengkap dengan tip yang jauh dari jumlah wajar sementara mereka hanya menghabiskan malam dengan acara makan atau minum-minum sambil mengobrol. Setidaknya dengan cara itu Seulri tidak perlu merasa terlalu berhutang budi atas bantuan Taecyeon untuknya.

Mengapa pria itu rela memutar otak demi membantu Seulri? Karena ia mencintainya. Sesuatu dalam keputusasaan Seulri serta ketidak-berdayaannya telah mengetuk relung hatinya yang beku.

“Taec, aku masih tetap berterima kasih atas semua yang kau lakukan untukku.” Seulri tersenyum tulus pada pria yang menatapnya sendu. “Kau membuat hidupku terasa lebih mudah.”

Pria itu menarik tangan Seulri kemudian menyandarkan kepala wanita itu di atas bahunya. “Ingatlah, aku akan tetap menunggumu di sini kalau kenyataan yang kau impikan tidak terlaksana.”

“Aku bahkan tidak akan berusaha mewujudkan mimpiku, Taec. Aku tidak akan menguji keberuntunganku sejauh itu.” Seulri terkekeh. “Seperti yang tadi kubilang, selama ia ada di dekatku, aku sudah bahagia.”

“Kau yakin?” Tanyanya tajam.

“Kenapa tidak?” Seulri menatap wajah Taecyeon dari bahunya, membuat jarak wajah mereka semakin dekat.

“Karena kau bukan orang suci.” Pria itu mengalihkan pandangannya dari Seulri, menahan diri untuk tidak melumat bibir Seulri yang menggiurkan. “Awalnya kau akan merasa melihatnya saja sudah cukup, lalu kau ingin lebih dekat lagi dan sebelum kau menyadarinya, kau akan mulai menyusun rencana masa depan bersamanya.”

Seulri terdiam sementara ia merenungkan kata-kata Taecyeon, karena pria itu benar. Sejak pertemuannya dengan Kyuhyun, ia merasa cukup hanya dengan melihat sosok pria itu pada awalnya. Perlahan Seulri ingin menghabiskan waktunya dengan pria itu lewat hal-hal kecil yang terkesan konyol. Dan Seulri jelas membohongi dirinya sendiri kalau ia bilang tidak cemburu dengan kekasih Kyuhyun yang sempurna itu.

“Tapi aku tidak boleh serakah, Taec.” Seulri menyimpulkan.

“Kau boleh serakah, itu wajar. Karena kau hanyalah manusia yang memiliki angan-angan, V.” Pria itu membelasi rambut Seulri lembut.

“Tidak, aku tidak boleh serakah. Karena aku tidak pantas mendapatkannya.” Seulri menelan kenyataan pahit itu, ia menyembunyikan wajahnya pada lekukan bahu Taecyeon untuk mencari secercah kenyamanan semu. “Hidup kami berbeda jauh sekarang.”

Pria itu kehabisan kata-kata, jadi ia membiarkan Seulri bersandar padanya, mengizinkan wanita itu mendengar debaran jantungnya yang tak karuan setiap wanita itu berada di dekatnya. Mungkin ini akan menjadi hari terakhir Taecyeon bisa mendekapnya seperti ini, karena wanita itu akhirnya berhenti dari pekerjaan kotornya—sejujurnya Taecyeon bersyukur dengan keputusan Seulri.

“Ngomong-ngomong, karena ini malam terakhir kita, kurasa aku harus menutup pertemuan kita dengan cara spektakuler.” Taecyeon mengusap punggung Seulri lembut.

“Kumohon, jangan lamar aku lagi. Aku tidak tega terus-terusan menolakmu.” Mohon Seulri setengah bercanda.

Taecyeon tertawa dan mencubit kedua pipi Seulri gemas. “Kan sudah kubilang, aku akan melamarmu lagi nanti setelah aku tahu nama aslimu. Konyol sekali rasanya berlutut di hadapanmu dan berkata ‘V, menikahlah denganku’, iya kan?”

Seulri mengangguk setuju sambil tertawa.

“Aku akan memainkan satu lagu untukmu.” Ia bangkit dari sofa untuk melangkah mendekati pianonya di ruang bermain.

Seulri bangkit dan mengikuti langkah Taecyeon, duduk di samping pria itu.

“Kau tahu aku bukan seorang pria yang romantis, bukan? Jadi anggap saja ini usaha terakhirku untuk membuatmu terkesan.” Ujar Taecyeon dengan seringai iseng.

Seulri terbahak. “Kau justru membuatku takut sekarang, Taec. Kumohon, jangan mainkan lagu yang cengeng.”

“Terlambat. Aku sudah latihan memainkan lagu cengeng.” Serganya.

Pria itu meletakkan kedua tangannya di atas tuts hitam-putih dan mulai memainkan intro lagu sebelum ia bersenandung pelan:

“I feel like I never measured up to who you see,

Sometimes I think I can’t give you all the love you need,

You keep changing every day, amazing me in every way.”

(Aku merasa bahwa diriku tidak akan pernah memenuhi anganmu akan pria yang sempurna,

Kadang ku berpikir bahwa aku tidak mampu memberikan cinta yang kau butuhkan,

Kau terus berubah setiap saat, membuatku terpana lewat ribuan cara.)

 

“If I could be the perfect man in your eyes,

I would give all I’m worth to be a part of your life.

I could promise the world but it’s out of my hands,

I can only give you everything I have.”

(Jika aku bisa menjadi pria yang sempurna di matamu,

Aku akan menyerahkan seluruh eksistensiku untuk menjadi bagian dalam hidupmu,

Aku bisa saja menjanjikan dunia namun itu pun di luar kendaliku,

Aku hanya mampu memberikan segala yang kumiliki untukmu)

 

“I never dreamed I could ever feel the way I do,

I hope and pray I will always be enough for you,

I can only do my best, I have to trust you with the rest.”

(Aku tidak pernah bermimpi bisa merasakan debaran ini,

Aku berharap dan berdoa agar keberadaanku cukup untuk mengisi harimu,

Aku hanya bisa melakukan usaha terbaik, lalu mempercayakan kisah kita sepenuhnya pada keputusanmu.)

 

“If I could be the perfect man in your eyes,

I would give all I’m worth to be a part of your life.

I could promise the world but it’s out of my hands,

I can only give you everything I have.”

(Jika aku bisa menjadi pria yang sempurna di matamu,

Aku akan menyerahkan seluruh eksistensiku untuk menjadi bagian dalam hidupmu,

Aku bisa saja menjanjikan dunia namun itu pun di luar kendaliku,

Aku hanya mampu memberikan segala yang kumiliki untukmu)

 

 

“I promise I’ll hold you through the changes and fears,

when life seems unclear

And when I can’t be right there with you,

I know there’s angels by your side.”

(Aku berjanji untuk mendampingimu malalui berbagai perubahan dan rasa takut di saat hidup nampak tidak menentu,

Dan kala datang waktu aku tidak bisa berada di sisimu, aku yakin para malaikat akan menjagamu untukku.)

If I could be the perfect man in your eyes,

I would give all I’m worth to be a part of your life.

I could promise the world but it’s out of my hands,

I can only give you everything I have.

(Jika aku bisa menjadi pria yang sempurna di matamu,

Aku akan menyerahkan seluruh eksistensiku untuk menjadi bagian dalam hidupmu,

Aku bisa saja menjanjikan dunia namun itu pun di luar kendaliku,

Aku hanya mampu memberikan segala yang kumiliki untukmu)

 

Everything I Have – Clay Aiken

Seulri meletakkan kedua tangannya di atas dada, menyimak kata demi kata yang terlontar lewat lantunan lagu sendu yang keluar dari mulut Taecyeon. Mungkin pria di sampingnya mencintai Seulri melebihi pria mana pun di dunia, mungkin pria itu adalah jawaban dari seluruh masalah Seulri, yang perlu Seulri lakukan hanya menerima lamaran pria itu dan ia tahu hidupnya akan terjamin dan baik-baik daja.

Tapi bukan cara itu yang ingin Seulri ambil untuk melanjutkan hidupnya. Karena keputusan itu tidak akan adil bagi Taecyeon dan juga dirinya sendiri.

“Taec, lagu itu lebih bermakna dari sekedar lamaran.” Akhirnya Seulri bicara setelah tuts piano terakhir ditekan Taecyeon.

Pria itu menggeser sedikit duduknya untuk menatap Seulri. “V, bolehkah aku meminta satu hal darimu?” Bisiknya lirih.

“Tentu, apa yang bisa kulakukan untukmu?”

“Beritahu aku namamu.” Mohonnya. “Biar namamu menjadi kado perpisahan untuk hubungan aneh yang kita miliki ini.”

Wanita itu mengangkat kedua tangannya untuk menangkup wajah Taecyeon. “Kau ini keras kepala sekali, ng?”

“Siapa tahu nanti aku bisa melamarmu lagi dengan manyebut nama aslimu.” Kekehnya bercanda.

Wanita itu menyeringai. “Namaku Seulri. Kang Seulri.”

Taecyeon menggigit bibirnya gugup dan perlahan sebuah senyuman muncul pada wajahnya. “Nama yang cantik, sangat sesuai untukmu. Well, Kang Seulri, izinkan aku melakukan satu hal egois terakhir sebelum kita mengucap selamat tinggal.”

“Yaitu?”

Pria itu mencondongkan wajahnya mendekati Seuri, mengusap wajah wanita itu menggunakan jemarinya sebelum menempelkan bibir mereka dengan lembut. “Ini ciuman perpisahan untukmu.” Bisiknya di atas bibir Seulri. “Aku mencintaimu, Kang Seulri.”

tbc…

Advertisements

67 thoughts on “Final Call – 13 [Everything I Have]

  1. ona kyu says:

    oh my god Taec begitu romantis dalam mengungkapkan perasaannya. tapi sayang Seulri hanya mencintai Kyu hatinya tidak pernah berubah sedikitpun. wow sungguh tulus perasaan Taec yang selalu ada untuk Seulri. akhirnya Seulri memilih berhenti dari pekerjaannya. dan melakukan perpisahan manis dengan, Taec.😍😍😍😭😭😭

    Liked by 1 person

  2. wienfa says:

    terharu bgt sm kata yg d smpaikan taecyeon saat brdoa untk seulri,taecyeon bnar2 dlam prasaan cinta nya k seulri.tp aku sbgai slah stu readers pgn kyu seulri kmbli brsm n mwjudkn angan smpai k altar nnti.syukrlah it sunbae ny kyu udh tiba,,
    akhirny seulri brhnti d dunia gmrlap ny,waah aku trharu,,1001 d dunia in cwo yg kya taecyeon.

    Liked by 1 person

  3. MarooKyu88 says:

    Seulri dicintai segitu besarnya oleh dua cowok hebat dan mengagumkan.
    Itulah hal yg hrus seulri syukurii, ditengah hidupnya yg penuh segala cobaan dan keputusasaan didalamnya.

    Cara taec mencintai seulri hebat sekali.
    Cinta yang tulus itu emang seperti itu, kurasa. Mencintai tak hrus memiliki. Seulri bahagia raec ikut bahagia.

    Liked by 1 person

  4. BaisahChoi says:

    KANG SEULRI so tragic but too lucky
    Di cintai sama orang orang Yg begitu sulit di depskripsikan hati Nya

    Taec oppa THE BEST … TERIMAKASIH sudah mencintai tapi tak memaksa untuk memiliki “Tears” 😭😭😭😭😭😭😘

    Liked by 1 person

  5. Hana choi says:

    Kasian juga sih sama taecyeon tapi mau gimana lagi seulri masih Cinta sama kyuhyun dan aku juga pengennya seulri sama kyuhyun balikan lagi meskipun harus ada orang yg disakitin. Makin seru!!!!

    Liked by 1 person

  6. Cho Sarang says:

    Taecyeon adalah pria yang tepat buat seulri, dia akan mencintai, menjaga dan menerima seulri apa adanya. Membahagiakannya dan menjauhkan seulri dari kesedihan dan takkan pernah menyakiti apalagi membuatnya menangis. Harusnya seulri menerima lamarannya taecyeon. Tapi kembali lagi pada masalah hati, hati tak bisa di paksakan. Sayangnya Seulri mencintai kyuhyun bukannya taecyeon.

    Aku sech setuju seulri dengan taecyeon, kalo tak ada perasaan cinta setidaknya seulri bisa belajar mencintai taecyeon yang mencintainya. Karena aku percaya cinta datang dengan seiringnya waktu berlalu. Lebih baik belajar mencintai orang yang mencintai kita dibandingkan mengharapkan cinta orang yang belum tentu mencintai kita

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s