After A Long, Long While – 9

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chapter, a slice of life

Cast: Aeri & Ok Taecyeon,

Supporting Cast: Cho Kyuhyun

 

Dari semua waktu yang ada, mengapa harus detik itu juga pria itu dihubungi oleh orang tua dari seorang muridnya. Ok Taecyeon sedang gelisah sekarang karena harus mengawasi seorang anak lelaki yang cedera akibat pertandingan sepak bola, sementara ia harus meninggalkan Aeri yang masih kalut.

Entah apa keputusnnya untuk pergi ke rumah sakit, mengawasi anak ini akan berdampak buruk bagi Aeri, ia hanya ingin tanggung jawabnya untuk melaporkan cedera-cedera yang diterima tim juniornya segera selesai agar ia bisa kembali berada di sisi wanita itu. Karena ia mengenal wanita yang telah tenggelam dalam masa depresinya cukup lama, ia yakin bahwa meninggalkan Aeri sendirian malam ini bukanlah keputusan yang bijaksana.

Dan berbagai pikiran melintasi benaknya.

Pertama-tama, jelas ia terkejut dengan apa yang baru Aeri katakan sore tadi. Saat Aeri mengungkapkan kepedihannya yang terdalam, Taecyeon bagai ditarik masuk ke dalam sebuah mesin pemutar film yang memainkan fragmen-fragmen memorinya. Wajah wanita itu saat mereka pertama bertemu, kehampaan dalam tatapannya yang selalu menyertai beberapa bulan awal mereka bersama, air mata yang tidak berhenti mengalir setiap kali wanita itu duduk terdiam, usaha-usaha tanpa henti wanita itu untuk mengakhiri hidup, dan kata-kata tanpa harapan yang selalu diucapkannya saat meracau ketika ia mabuk.

Hal kedua yang kini membebani pikirannya adalah, apakah ia akan baik-baik saja dengan kondisi Aeri? Memang ia mencintai wanita itu, ia telah lama meninggalkan kehidupan saat ia menjadi seorang lelaki playboy sejak bertemu dengan Aeri yang rapuh, dan Taecyeon pun telah berjanji untuk tetap berada di samping wanita itu. Tapi dengan kekurangannya, bisakah perasaannya pada Aeri tetap terjaga seperti sekarang? Karena tentu saja ia memiliki mimpi untuk membangun keluarga kecil bersama wanita yang ia cintai. Jika keadaannya seperti ini, ia pun bingung keputusan semacam apa yang harus diambilnya.

Melihat seberapa terguncang Aeri sore tadi membuat Taecyeon merasa serba salah. Ia ingin menenangkannya, mendekap wanita itu dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja—bahwa ia tidak terpengaruh dari informasi yang harus dicernanya dengan cepat. Tapi mampukah ia menutupi kegundahan hatinya sendiri? Bisakah ia menyembunyikan tatapan penuh keraguan yang terpancar jelas di matanya?

Hal terakhir yang mengganggunya adalah, apa yang akan Aeri lakukan sekarang? Wanita itu punya track record depresi, usaha-usaha gila untuk bunuh diri juga sudah berkali-kali ia lakukan, Taecyeon sudah melihatnya dalam kondisi yang terburuk. Pria itu sadar bahwa kegiatan menunggu yang dilakukannya sekarang ini hanya akan memberi Aeri waktu lebih banyak untuk menyakiti dirinya sendiri.

Baru beberapa jam kemudian kedua orang tua dari anak yang cedera itu datang, hari sudah terlalu larut untuk mengunjungi Aeri sekarang, tapi kekhawatiran Taecyeon lebih kuat dibandingkan norma tata karma bertamu yang wajar. Pria itu tiba di rumah atap Aeri lewat tengah malam, ia menekan bel beberapa kali, mengetuk dengan kasar sambil menyerukan nama wanita itu, dan terakhir ia akhirnya memilih untuk menggunakan kunci cadangan yang Aeri selipkan di bawah pot tanaman dan dengan lancang masuk kek dalam rumah wanita tersebut.

Kekhawatiran pria itu semakin memuncak saat wanita yang dicari tidak ditemukan di sudut mana pun dari kamarnya. Ia mencoba semua ruangan namun Aeri tetap tidak nampak. Pria itu mencoba menelponnya hanya untuk mendengar ponsel Aeri yang tertinggal di nakas samping ranjang berdering.

Aeri menghilang dan Ok Taecyeon punya beberapa opsi ke mana wanita itu pergi.

Adrenalin mengaliri aliran darahnya, ia memacu langkahnya semakin kencang untuk mencari ke beberapa tempat yang mungkin dikunjungi wanita itu. Tempat yang pertama kali terbesit olehnya jelas jembatan ketika mereka pertama bertemu, tapi Aeri tidak ada di situ. Ia mencari ke wilayah sekitar rumah Aeri, ke taman tempatnya terkadang suka ber-jogging, kembali ke sekolahan, ia menelpon beberapa rumah sakit sekedar memastikan wanita itu tidak ada dalam bangsal darurat mereka. Sekeras apa pun usahanya, jejak Aeri benar-benar hilang dari pandangannya.

Matahari pagi sudah terbit ketika ia tiba di gedung apartemennya, ia sudah melaporkan Aeri ke kantor polisi terdekat—dan polisi baru akan memberikan berita hilang setelah 24 jam. Dadanya sesak. Bukan karena ia kelelahan berlari, bukan karena tenaga sudah habis tak bersisa untuk mencari wanita itu, tapi karena rasa penyesalan yang menikamnya. Kalau saja ia tidak harus ke rumah sakit sore kemarin, kalau saja ia mengajak Aeri bersamanya, kalau saja ia tidak meninggalkan wanita itu begitu saja tanpa penjelasan.

Kalau saja ia menyadari bahwa keberadaan wanita itu lebih penting daripada kekurangannya.

Langkah Taecyeon terhenti saat ia melihat sosok yang sangat dikenalnya sedang duduk memeluk lututnya sendiri di depan pintu apartemennya. Rasa syukur langsung terucap dari mulut pria itu sebelum ia mengerahkan sisa-sisa energinya untuk lari mendekati Aeri.

Wanita itu setengah tertidur dalam posisi duduk meringkuk, hanya dibalut dengan baju lengan panjang dan rok selututnya, tanpa jaket dan tanpa mantel yang bisa melindungi tubuhnya dari suhu dingin lorong apartemen Taecyeon. Wajahnya sembab, tidak perlu orang jenius untuk menyimpulkan berapa banyak air mata yang mengalir atas rasa sakitnya, bibir wanita itu pucat dan kepasrahan yang terpancar dari sosoknya benar-benar membuat hati pria itu serasa diremukkan dengan kasar.

 

h2

gambar milik Haneul

 

“Aeri-ya.” Sapa Taecyeon lembut.

Wanita itu mengedip pelan, tatapan hampa itu telah kembali ke bola matanya, wajahnya pucat dan tubuhnya bergetar kedingingan.

“Mengapa kau duduk di sini? Kau tahu password ke apartemenku, mengapa kau tidak menunggu di dalam?” Tanyanya heran.

Aeri mengangkat wajahnya, pandangan wanita itu terpaku pada sosok pria yang menatapnya balik dengan khawatir.

“Taec.” Sapanya serak, “maafkan aku.”

Pria itu melepas mantelnya untuk menyelimuti tubuh Aeri yang masih gemetar. “Apa yang kau bicarakan, ayo kita masuk ke dalam.”

“Maafkan aku.” Bisiknya lirih. “Kumohon jangan benci aku.”

Taecyeon membantunya bangkit, memapah kedua lengan Aeri untuk menuntunnya ke dalam apartemen. Namun belum sempat pria itu memasukkan kode pintu, Aeri justru memeluk tubuh Taecyeon sangat erat.

“Aeri-ya, aku tidak marah padamu.” Pria itu memeluk balik sambil mengecupi puncak kepalanya.

“Kumohon, tetaplah jadi temanku.” Bisiknya lirih lengkap dengan isakan yang telah kembali. “Kau tidak perlu melakukan banyak hal, aku hanya memohon agar kau tetap menjadi temanku.”

Taecyeon membuka pintunya, membopong tubuh mungil Aeri ke dalam tanpa perlawanan dari wanita itu. “Kau bicara apa, hm? Aku tidak akan kemana-mana.” Ujarnya sambil mendudukkan Aeri di sofa. “Sebentar, biar kuambilkan selimut, suhu tubuhmu tinggi karena insiatif bodohmu untuk menungguku di lorong, sudah tahu ini musim dingin.”

Wanita itu hanya menghela napas panjang, masih bingung apa yang akan ia katakan pada Taecyeon.

Semalam setelah pria itu mengantarnya pulang, perasaan Aeri kacau-balau. Di satu sisi ia merasa lega karena telah mengungkapkan kejujuran akan kecacatannya, namun di sisi lain ia marah pada dirinya sendiri. Karena lagi-lagi ia menyabotase kebahagiaannya sendiri di saat pria itu memancarkan kehangatan dalam hidupnya yang kelam.

Sejak malam kemarin, Aeri mencari berbagai cara untuk menenangkan dirinya, ia mencoba menghindari pikiran-pikiran buruk untuk mengakhiri hidupnya seperti yang selama ini selalu terlintas, ia mencoba untuk tidur, namun sebuah perasaan kuat menahannya—ia tidak ingin kehilangan sosok pria itu dari hidupnya.

Aeri bisa belajar menerima fakta bahwa Taecyeon akan mundur perlahan dari hidupnya, ia sudah mempersiapkan diri untuk ditinggalkan orang terdekatnya yang kedua kali. Tapi sanggupkah ia menghadapi keterpurukan ini kembali? Dengan berbagai pertimbangan, wanita itu akhirnya memutuskan utuk menghadapi rasa takutnya, tanpa persiapan ia membawa dirinya menuju apartemen pria itu. Tapi keberaniannya berhenti sampai di situ, ia tidak berani melangkah ke dalam untuk menemui pria yang bisa menjawab seluruh kegundahannya.

Aeri tidak berani menekan bel untuk membangunkan pria itu, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan saat mereka bertatap muka lagi, ia tidak punya nyali untuk mengemis belas kasihan Taecyeon, namun di sisi lain ia sangat membutuhkannya—bukan sebagai pria yang harus menerima kekurangannya, melainkan sebagai sahabat yang selama ini bersedia meminjamkan bahu sebagai tempatnya berkeluh-kesah, sebagai sosok yang membuat seluruh rasa kesepian Aeri sirna.

Rasa takut itulah yang membuat Aeri terduduk pasrah di depan pintu apartmen Taecyeon, tanpa mengetahui fakta yang sesungguhnya bahwa Ok Taecyeon nyaris gila mencarinya keliling Seoul semalam suntuk.

“Ini, minumlah teh ini untuk menghangatkan tubuhmu.” Taecyeon datang dengan dua cangkir teh panas.

Aeri mengambil cangkir yang diberikan untuknya tapi tidak melakukan apa pun. “Maafkan aku, Taec.”

“Sampai kapan kau akan minta maaf, ng?” Ia mengacak rambut Aeri salah tingkah. “Tidak ada yang perlu dimaafkan Aeri-ya.”

“Pasti kau merasa telah kutipu selama ini.” Balas Aeri lirih. “Aku tidak pernah bermaksud…”

“Bisa kah kita tidak membahasnya pagi ini?” Potong Taecyeon. Kepala pria itu baru saja dipenuhi spekulasi buruk tentang Aeri dan ia tidak siap jika topik berat itu kembali diangkat. “Yang kutahu, sekarang aku hanya ingin menjagamu, melindungimu, dan aku ingin menghapus kemurungan di wajahmu.”

Wanita itu ingin membalas perkataan Taecyeon, namun ia pun tidak tahu apa ada kata-kata lain selain permohonan maaf yang bisa membuat situasi menjadi lebih baik.

“Aeri-ya, kukira kau sudah… aku—aku mencarimu keliling Seoul semalaman, aku masuk ke dalam rumahmu dengan lancang, aku benar-benar nyaris frustrasi mencarimu.” Terang Taecyeon. “Kukira kau—”

“Aku sudah berjanji padamu untuk tidak melakukan hal bodoh lagi, bukan? Kurasa itu hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu.” Air mata kembali mengalir di wajahnya.

“Terima kasih.” Pria itu merengkuh Aeri ke dalam pelukannya. “Terima aksih karena kau masih di sini, Aeri-ya.”

Wanita itu meletakkan mug yang digenggamnya, memilih untuk meringkuk ke dalam pelukan hangat Taecyeon yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Tidak perlu ada masa depan bagi mereka, tidak perlu pria itu menjanjikan kesetiaannya, tidak perlu Aeri mendengar pengorbanan dari seorang pria yang jelas-jelas memimpikan keutuhan sebuah keluarga—asalakan Taecyeon tidak membencinya, semua cukup.

“Aeri-ya, aku ingin kau tahu bahwa apa yang kau utarakan kemarin, tidak merubah perasaanku padamu.” Tegas Taecyeon sambil mengusap punggung Aeri yang demam lembut. “Aku mencintaimu, saat kau jatuh cinta ada beberapa hal yang bisa kau kesampingkan…”

“Sampai cinta itu memudar.” Aeri memotong perkataan Taecyeon. “Atau sampai kau tersadar dari sensasi fana yang diciptakan oleh kata ‘cinta’ itu sendiri. Taec, aku tahu apa yang akan kau katakan. Tapi biar kutegaskan, aku tidak keberatan jika kau mundur—hanya saja kumohon tetaplah menjadi temanku.”

“Aku tidak akan mundur, Aeri-ya.” Pria itu menengadahkan dagu Aeri untuk menatapnya.

Wanita itu tersenyum kecut, masih terus mengalirkan air mata sendu. “Aku pernah mendengar itu sebelumnya, Taec. ‘kita akan baik-baik saja’, ‘aku tetap mencintaimu’, ‘selama kita bersama, maka semua kesulitan bisa kita hadapi’, ‘kita kan bisa mengadopsi’, dan masih banyak lagi. Tapi ego orang tuanya yang menuntut darah daging dari anak lelaki kebanggaannya tentu menjadi tekanan yang tidak berujung dalam rumah tangga kami.”

Taecyeon siap membuka mulut untuk bicara tapi Aeri mengusapkan telunjuknya pada bibir pria itu, menatap dengan pandangan memohon agar ia diberi kesempatan menuntaskan kalimatnya.

“Di hari kami menerima vonis menyakitkan itu, dia memelukku sepanjang malam. Kami menangis bersama, kami menolak untuk percaya bahwa takdir bisa berbuat begitu kejam pada hidup kami. Dia berjanji akan terus berusaha mencari jalan keluar, entah dengan usaha bayi tabung atau mencari surrogate mother, atau adopsi—yang jelas ditolak oleh ibunya.” Wanita itu mendengus pelan. “Banyak sekali pilihan yang bisa kami lalui, tapi pada akhirnya hanya surat tuntutan cerai yang kuperoleh. Bukan karena dia berhenti mencintaiku, tapi karena pada akhirnya dia harus mensortir skala prioritas hidupnya, ia harus mengabulkan permintaan ibunya—sekaligus bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat.”

Pria itu mencoba bungkam dan menjadi pendengar yang baik. Seumur mereka saling mengenal, dua hari terakhir ini mungkin menjadi saat di mana Aeri bisa bicara sangat terbuka padanya. Ia tidak mau memadamkan keinginan wanita itu untuk berbagi, karena mungkin Aeri tidak akan pernah bicara seterbuka ini untuk kedua kali.

“Mulutnya yang manis berujar bahwa dia bisa menerima kekuranganku, tapi pada akhirnya tekanan yang datang dari keluarnya juga menjadi alasannya yang membuatnya pergi dari hidupku.” Aeri kembali terisak. “Aku hanya membutuhkan kehadirannya, aku hanya butuh seorang teman untuk memelukku selama aku sibuk menyalahkan diriku sendiri, aku ingin mendengar kata-kata manisnya yang bisa menenagkan pikiranku yang kalut—tapi justru berita lebih buruk kuterima. Ia pindah ke luar negeri bersama wanita yang baru ia nikahi sebulan setelah perceraian kami, wanita yang tengah mengandung darah dagingnya.”

Taecyeon merasakan kedua matanya memanas, pria itu mencoba membayangkan dirinya dalam posisi Aeri yang kalut, kebingungan dan sebatang kara.

“Malam itu rasanya aku tidak bisa berpikir, aku tidak bisa meredakan sesak dalam dadaku, dan aku ingin berhenti bernapas. Aku ingin mengakhiri hidupku karena aku tidak kuat menahan serbuan penyesalan dan rasa sakit yang harus kutanggung seorang diri.” Aeri menenggelamkan wajahnya di atas dada bidang Taecyeon. “Dan aku tidak sanggup kalau harus melalui itu lagi, Taec. Jadi kumohon, kau tidak perlu menghiburku sejenak hanya karena kau pikir aku ingin mendengar kata-kata itu.”

“Aeri-ya…”

“Aku butuh kehadiranmu, aku menikmati hangatnya pelukanmu, dan sudah lama sekali sejak aku merasa aman berada dalam dekapan seorang pria yang kusayangi. Tapi kau tidak perlu menjanjikan apapun untukku—selain bahwa kau tidak akan membenciku.” Pinta wanita itu dengan suara semakin parau.

“Bisakah aku bicara sekarang?” Potong Taecyeon.

Aeri mengangguk lemah.

“Siapa yang bilang aku akan meninggalkanmu? Aku juga tidak menjanjikanmu apapun, bukan?” Pria itu mengahapus air matanya sendiri. “Kuhargai kejujuranmu, kekhawatiranmu, dan juga usahamu untuk menepati janji padaku agar kau tidak menyakiti dirimu lagi. Tapi kumohon, izinkan kita mencobanya Aeri-ya. Biarkan hubungan kita berjalan sewajarnya, biarkan aku mencintaimu tanpa perlu menahan diri akan batasan-batasan, sekali-sekali hiduplah pada masa sekarang—tanpa perlu mengkhawatirkan masa lalu dan masa depan kita. Karena yang kuinginkan hanya berada di sisimu.”

“Lalu seandainya hubungan kita berlanjut, suatu hari kau…” Aeri kembali terisak. “Suatu hari kau pergi karena alasan… yang kita sudah ketahui jauh sebelum masa itu… aku—aku bisa benar-benar hancur, Taec. Aku tidak mau membebanimu dengan pikiran semacam itu… itulah sebabnya aku jujur sejak awal, karena aku lelah melihat tatapan kecewa yang orang berikan padaku, aku tidak perlu melihat tatapan itu terefleksi dari matamu juga–karena aku sudah cukup membenci diriku sendiri.”

Taecyeon terdiam, dalam hati mengakui kekhawatiran Aeri memang berdasar dan sangat masuk akal. Tapi bukan itu pencerahan yang ia peroleh semalam suntuk selama mencari Aeri, bukan bagaimana cara menghindari hidup dekat wanita itu, melainkan sebaliknya.

“Kau tahu, semalam suntuk aku keliling Seoul. Kutelepon semua rumah sakit, jantungku seolah meloncat setiap kudengar mobil ambulans mendekat—semua karena satu kekhawatiran terbesarku, yaitu kita tidak akan bertemu lagi.” Pria itu kembali memeluk Aeri erat ke dalam dekapannya. “Kau tahu? Aku adalah lulusan terbaik di kampusku dulu, banyak kesempatan ditawarkan agar aku bisa mengembangkan diriku, tapi aku memilih untuk menjadi guru olahraga Sekolah Dasar. Aku pernah dijodohkan dengan seseorang yang sekarang sudah sukses menjadi model papan atas di negara kita, tapi kutolak karena aku tidak menyukai caranya bicara. Bahkan sebelum kita bertemu, aku pernah ditawarkan menjadi kepala sekolah di sekolah kita, tapi aku juga tidak mengambil kesempatan itu.”

“Karena kau selalu memolak nasib baik yang menghampirimu?” Tanya Aeri sinis.

Taecyeon terkekeh. “Karena aku selalu mengikuti kata hatiku. Aku tipe pria yang memilih melakukan hal yang kusukai ketimbang hal-hal yang membebani dan membuatku stress. Kau juga termasuk ke dalam pilihan yang itu—hal yang dipilih hatiku.”

“Taec—”

“Ey, tunggu dulu. Biarkan aku bicara.” Taecyeon mencubit hidung Aeri gemas. “Aku tidak bilang langkah kita akan mudah, tapi bisa kupastikan keluargaku tidak semenyebalkan keluarga mantan suamimu.”

“Lalu kau bisa menerima fakta bahwa aku tidak akan pernah bisa memberimu anak?” Tembak Aeri.

Pria itu mengangguk. “Aku akan belajar menerimanya, Aeri-ya. Hal itu memang bukan perkara yang bisa kau tuntaskan dalam satu malam, tapi bukan berarti tidak ada jalan keluarnya…”

“Lalu keluargamu? Apa kata keluargamu nanti kalau tahu kau mengencani seorang janda yang tidak bisa memberikan keturunan? Kau mau dicap membuang-buang waktu? Atau—”

Pria itu menyapukan bibir mereka lembut, sebelah tangannya menahan tengkuk Aeri sementara lengannya yang kokoh masih terus memeluk tubuh ringkih wanita itu. Taecyeon menikmati setiap sapuan lembut dari bibir mereka yang beradu, meresapi hangatnya napas Aeri pada wajahnya, menyesapi sisa-sisa air mata yang melekat pada permukaan wajah wanita itu, sebelum ia melepas kontak bibir mereka.

“Kau kurang menyimak nampaknya. Sudah kubilang tadi aku pria yang mengikuti kata hatiku. Kalau aku sudah meyakini sesuatu, maka aku akan memperjuangkannya dengan segenap kemampuanku.” Ia mengusap wajah Aeri lagi. “Aku akan memperjuangkanmu, sayang. Karena aku adalah seorang pria yang percaya pada adanya jawaban atas permintaan doa, karma, dan juga keadilan semesta.”

“Ng?”

“Tidak selamanya rodamu aka nada di bawah, Aeri-ya.” Jelas Taecyeon lebih singkat. “Izinkan aku menjadi sosok yang membantu menggulirkan roda itu sekarang, lalu izinkan dirimu untuk memilih apa yang kau inginkan.”

“Kau semakin melantur, Taec.”

Pria itu menyentil dahi Aeri gemas. “Biar kupersingkat, apakah kau menginginkanku dalam hidupmu?”

Aeri menarik napas dalam, hendak berpikir tapi pria di depannya justru menepuk kedua telapak tangan di depan wajahnya, memberikan efek kejut bagi Aeri.

“Jangan berpikir! Jawab saja. Apa kau menginginkanku dalam hidupmu?”

Wanitaitu mengangguk.

Taecyeon kembali merengkuh wajah Aeri mendekat untuk mengecup bibir pucat wanita itu. “Kalau begitu, aku sudah membuat keputusan. Aku akan terus berjalan di sisimu, tapi aku tidak mau menjadi sahabatmu saja—aku harus naik level.”

Aeri tersenyum kecil, matanya masih dipenuhi sorot keraguan. “Kau yakin mau naik level? Statusku ini janda kembang, Taec.”

“Justru itu lebih sexy lagi.” Pria itu memeluk Aeri erat. “Sekarang istirahatlah, sayang. Ganti bajumu dengan kaosku yang lebih kering, bergulunglah di balik selimutku yang hangat dan biarkan aku memelukmu erat. Demammu belum turun dan kita sama-sama kelelahan semalam suntuk saling mencari satu sama lain.”

“Salahmu yang tidak langsung pulang.” Sergah Aeri yang sibuk melepaskan diri dari kungkungan tangan Taecyeon.

“Siapa yang bodoh dan memilih duduk di selasar, padahal kau tahu kode apartemenku?” Tantang Taecyeon balik.

Wanita itu pasrah memeluk leher Taecyeon saat tubuhnya dibopong ke atas kasur. Masih banyak ketidak-pastian akan hubungan mereka, terlebih masa depan mereka, namun yang penting bagi Aeri pagi itu adalah kehadiran pria yang sedang sibuk memaksanya istirahat. Setidaknya, kali ini Aeri tahu ia tidak sendirian—tidak lagi sebatang kara saat harus menghadapi kenyataan terkejam dalam hidupnya sebagai seorang wanita.

 

 

tbc…

 


author’s note:

Rasanya ngumpulin mood, niat, dan keberanian buat posting ini susaaaaaaahhhh banget. Dan aku berterima kasih banget sama kalian yang mensuport, ngomen positif, bahkan beberapa ada yang secara personal email ke aku untuk menanyakan kelanjutan FF ini. Terima kasih banget, somehow yang kalian lakukan itu menjadi langkah awal aku untuk buka file AALLW lagi. :’)

Bukan karena aku nggak tahu ceritanya mau dibawa ke mana (karena cerita ini sudah tamat di aff, walaupun karena itu tulisan perdana, masih kacau banget! Makanya yang versi Inggris nggak aku post di sini). Bukan juga karena aku males lanjutin, atau karena terlalu seru ngerjain project on-going lainnya. Tapi karena semangatku diruntuhin melalui sebuah komen yang nusuk banget (aku apus komennya, nggak usah dicari).

Salah ya kalau aku mau ganti posisi sekali-sekali Kyu yang jadi antagonis terselubung sekaligus supporting cast? Salah aku angkat Taecyeon di sini? Kalau iya, bukannya itu hak aku sebagai penulis ya, untuk menuliskan apa yang ada di kepalaku?

Aku nggak pernah nodong orang untuk baca, nggak nuntut apa-apa juga dari para reader, dikomen alhamdulillah, nggak dikomen yaudah–nggak semua reader punya kuota berlimpah, atau kesabaran buat isi box komen WP yang memang rada menguji iman kadang-kadang, atau bisa ekspresif berkomentar–aku nggak rese juga kan sama kalian? Terus apa yang bikin beberapa reader merasa mereka pantas ngomel, ngehujat dan berkata kasar ya? Kritik yang bersifat membangun selalu aku terima, itu jadi acuan aku menulis supaya bisa improvisasi, tapi kalau kritiknya nyampah cuman karena nggak sesuai sama keinginan hati reader? Atuhlah! Karang saja cerita idealmu sendiri, say.

 

 

 

 

Advertisements

33 thoughts on “After A Long, Long While – 9

  1. graciakim says:

    Hallo kak obitt,
    Abaikan saja mereka yg komen nyinyir
    Masih banyak kita2 yg selalu nunggu karya kakak
    Tetep semangat ya kak,
    Kakak itu udh punya ciri khas, cara kakak menyapaikan emosi itu selalu dapet dan kelebihan kakak itu selalu bisa mendiskripsikan secara detail cerita yg kakak buat. Total bgt kalo menurut aku yg cuma sekedar reader. Selalu bawa cerita yg berbeda dan aku paling suka sama diksi kakak, enak bgt di bacanya. Dan yg paling penting selalu minim typo, itu udh cukup bukti kalo kakak amat teliti.

    Dan review buat AALLW ini, mau cast nya kyu atau taec aku gk peduli udh jatuh cinta sama ceritanya duluan soalnya wkwkk

    Salam…

    Liked by 1 person

  2. Khashika says:

    Ok Taecyeon kerennya kamu… mau nerima kenyataan yang ada…
    kyu oppa terlalu apa ya…
    bodoh mungkin
    hehehe…

    tau lah mau komen gimana lagi…
    intinya cerita ini keren aku suka…

    lebih banyakan percakapannya lagi… aku suka…

    semangat bikin ceritanya…

    Liked by 1 person

  3. allresehae says:

    akhirnya entah uda berapa lama nungguin aallw posting .. aku sih suka2 aja mau taec yg jadi cast utama atau second lead yg penting sih ceritanya nggak kacangan. dan enak buat di baca
    jujur deh aku lebih suka fanfic yg di buat kaka ssihobitt adi jangan patah semangat cuma karna komen yg “ITU” karna masih BANYAK kok yg suka dan nungguin cerita ini termasuk aku

    Liked by 1 person

  4. kaililaa says:

    Ya Lord, ini ultra berkah! Kak aku seneng banget cerita ini dilanjutin 😂😂😂😂😂😂😂Rasanya, rasanyaaaa kayak dapet harta karun. Pas baca post kakak tentang biodata (kak, aku lupa judul post itu, maaf), gak nyangka aja ada yang komen gitu, gak sopan banget, serius. Dan aku bersyukur kakak menganjutin ini. Pokoknya terus maju kak, semangat berkaryaaa. Kami cinta kakak ❤💋💋

    Liked by 1 person

  5. arisa57 says:

    .sebenernya masih ada kemungkinan aeri hamil kan kak?? yaa walaupun kemungkinan kecil siih
    .soal cast, bener lah itu terserah author, tantanglah diri sendiri buat bisa membangun feel buat selain cho kyuhyun..kalo blm bisa mungkin belajarlah dikitdikit 😊
    .tetep semangat buat kak ssihobitt ✊✊✊

    Liked by 1 person

  6. fshiho says:

    Akhir nya diterusin juga setelah lama nunggu nya. Suka sm karakter taec di sini. Dan seperti biasa ga pernah ga mewek kalo baca postingan ff nya. Tentang komentar yang jelek abaikan aja. Kalau ga suka ya ga usah dibaca atau kalau merasa mampu suruh bikin ff sendiri yang sesuai dengan kemauan dia.
    Tetap semangat ya…

    Liked by 1 person

  7. gaemaker says:

    This type of reader simply unfortunate- the fact that they can’t benefit, learn and enjoy just from your writings, I think it’s their loss. No one, especially you, deserve mean comments from readers who read your hardwork for free.
    Still can’t believe myself of your anxiety and insecurity due to your strong appearance being confident..

    Liked by 1 person

  8. ByunSoo says:

    wah…..AALLW COME BACK,cukkae,seneng plus kaget,dipikir tdi Eng Final Call y dipost,ga papalh Authornim,iya betul banget udah tindakan Unnie itu,Kangen banget juga deh sama jalan crita ff ini,Oh……….Jdi ad y nge email khusus,wah jeongmal gumawo ya read y lain krna sudah mensuport Authornim kita selain di kolom komen ya,aku juga lupa kyakx buat ngesuport Unnie,(kok jdi makin ngelantur kya gini si)

    Biam,Bian

    Liked by 1 person

  9. de15 says:

    Selalu suka dg cerita2 author ssihobitt… Mau siapapun itu castnya… Karena ceritanya ngena d hati, persoalan cast jd gak masalah…
    Gak sabar dg kelanjutannya.. Semoga Taec gak omdo yah, jangan kaya mantan suaminya.. Yg jelas aeri harus udah nemuin kebahagiannya.. Biar tuh sang mantan nyesel udah ninggalin..
    Semangat thor…

    Liked by 1 person

  10. Vianna Cho says:

    Seneng deh akhirnya ff ini lanjut jga dah lama ku tunggu updateannya loh
    mending ga usah di urusin tuh komen2 yg bisanya cuma jatuhin q masih suka ko sama ff ini walau cast utamanya bukan kyuhyun
    tetep semangat yah di tunggu part selanjutnya

    Liked by 1 person

  11. Seo HaYeon says:

    Wheleh.. wheleh… AKHIRNYA!!! SO EXCITED…!! 😀 haha lama buaaaanget rasanya ga ketemu dua couple paling beda inih! hahaha… Ah sneng bgt Kakak update crita ini lg_ huhu sbnrnya punya niatan bwt ngerayu kakak buat ngelanjutin ini, tp g berani takut ql kakaknya syibuk wihihi… Jd ngikut alur jdwl update aja! hoho Alhmdulillah pemirsa ini ud dilnjut! ud fix soalx trll sukka dg ALL of YOUR STORIES! 😉 Heran msih ad kh reader nyinyir?ah bgus itu ql ud didelete komennya kak,soalx jg bkin aku ikut rese 😛

    Liked by 1 person

  12. dewishae says:

    OMG…ternyata akhirnya di lanjut nie ff…

    Aku klo liat taec kykx nie so sweet bangetnya jd orang mau nerima aerin yg apa adanya..

    Mudah2an si kyu nyesel senyeselnya

    Liked by 1 person

  13. may says:

    Akhrny authorny pny smgat lg bt post AALLW, abaikan komen2 yg nyinyir,mreka aj blm tentu bs bt ff yg fillny sll mnusuk2 ky gini. Mo cast utamanya spa yg penting crtany bgs bikin baper, Dr pd gr2 reader yg maksa cast utama hrs sesuai sm keinginan mreka yg ujg2 crtany maksa n ga jls endny,byk sy nemuin ff yg gini.
    Jd hrs sll semangat Krn di balik reader yg nyinyir msh ada reader yg sll setia menunggu karya2mu

    Liked by 1 person

  14. Yuni says:

    Semoga kaka mood nya bgus trus. Biar bisa lanjut ff ini. Aku reader yang simple kak cerita bgus ku baca cerita krang srek ya diemin aja. Buat yg nyinyir abaikan saja

    Liked by 1 person

  15. may says:

    Gr2 fokus bhs reader nyinyir smpe lupa bhs crtany 😀. Spa pun cewek kl d posi2 aerin psti hancur, kl tae te2p mo nrima aerin brarti dia cowok luar bsa ga ky mantan yg cinta tp nyakitin BgT.
    Skali post stelah skian lama te2p sll racun crtany bikin nyesek….sek…

    Liked by 1 person

  16. Mikha Yadifa says:

    Taecyeon ❤ Beruntungnya Aeri dapetin Taec yg mau terima apa adanya 🙂 Berharap Kyuhyun dapet balasannya!! ehh wkwkwk Semakin penasaran buat baca next part 😀

    Buatku, siapapun castnya gak masalah. Yg terpenting sih ceritanya, jalan ceritanya itu sendiri, dan ngena dihati. Gak semua orang bisa buat cerita seperti itu. Semangat terus kak 🙂

    Liked by 1 person

  17. sri susilowati says:

    hah……….. senangnya hati akhirnya AALLW dilanjut jg, jujur aja y aq blum sempet baca final call keseluruhan krn kufikir nunggu sampe end aja,soalnya ceritanya yg flashback itu kdang rada lupa smpe nunggu part selanjutnya. tpi setelah iseng2 liat updetan terbaru dan ada ff part ini aq langsung cuzzz…buat baca. semangat y kak author buat lanjutin ff nya,ini ff bagus bget. castnya gak harus kyuhyun jg lebih dominan kan………???? ini blog kak author,ini ide dan tulisan jg milik author. jd suka2 author wkwkwk………. walaupun q fans nya kyuhyun,tapi klo tulisan bagus yg menjadikannya supporting cast jg gak masalah kok. yg penting bawa happy dan slow aja. aq harap ff ini trus lanjut smpe end

    Liked by 1 person

  18. utusiiyoonaddict says:

    yeeey akhirnya ibu dosen mau lanjutin ini,
    nah gtu dong ka kita harus bangkit jgn terpuruk ama nyinyiran itu emang si menyayat ati dan nyakitin mata tp toh ini hasil karya, ide dri imajinasi kka trserah kka mau pake okcat kek, top kek kyuhyun kek donghae kek siwon kek, orang ide“nya kka emang dia yg ngasih ide (knapa aku smgat gni), aku jg brterimakash loh kkak udah mau lanjutin ini ff, aku jg brtermaksh ama (mood) yg udah muncul dan bangkit d benak kka yg akhrnya nongolin klnjutan ff nya,
    trus brkarya bu dosen, fighting nulisnya, love you :-*

    btw typo nangkring tp gak masalah deng

    Liked by 1 person

  19. Kayleigh17 says:

    Maafkan dakuh kak yang komen cuma part 1-2 langsung loncat ke part 9 karena gatal ini mata pengen next terus sampe part 9. Karakter Aeri jadi mengingatkan aku sama karakternya Kang Seulri di Final Call, sejak kecil udah nerima beban hidup yang berat belum lagi masalah yang bertubi tubi datang, dan lagi lagi untungnya di ‘After a Long, Long While’ ada Taecyeon yang jadi sandaran buat Aeri. Aku sebenernya berharap kak Sihobit masih terusin ini cerita. Masih mau ngikutin perjalan Taecyeon menaklukan hati Aeri~~ :|:x Ngomong ngomong ini si Cho bahagia gak sih sama pasangannya, ngeganggu Aeri mulu perasaan :> dibilang gak bahagia tapi anak mau dua *eh haha :p

    Liked by 1 person

  20. waramaput says:

    Kakkk aku selalu re-read2 ff yang belum dilanjutin dan aku ga pernab bosennnn. Yg ini dilanjut lagi ya kak ya ampun baru tau ternyata baca ff yg cast nya taecyeon jg ga kalah keren sm kyuhyun. Aaaaa

    Liked by 1 person

  21. Dyana says:

    Aku suka ff ini Authornim, bacanya sangat emosional banget, aku gak perduli main cast’nya Taec atau Kyu, yang pasti ni cerita ngena banget.

    Sbnrnya aku juga ngalamin hal yg sama kayaq Aeri, aku udah nikah 5tn dan belum dpt keturunan (aku nikah muda)
    Hanya beda’nya kedua keluarga gak ada yg nuntut mereka mah slow aja, dan Dokter pun gak sampai menjatuhkan vonis sesadis itu… Hanya blon waktunya.
    Jdi itulah alasannya kenapa ni cerita membuat aku sangat emosional…
    Aku sengaja curhat biar Authornim semangat buat lanjutin ff ini, karena sungguh aku ingin tahu akhir dari cerita Aeri, seandainya pun dia harus sebatang kara di akhir cerita aku harap dia akan merasa bahagia…
    Semoga Authornim memikirkan curhatanku ini…
    Fighting kak! Fighting Authornim…

    Liked by 1 person

    • ssihobitt says:

      thanks so much for sharing… 🙂 i’m facing the same insecurities myself, walaupun usia pernikahan aku baru 2 tahun, tapi yaaa pertanyaan orang-orang kepo mulai bikin aku pengen jerit kalau lagu lama itu mulai dimaikan (dan bentar lagi lebaran, aku harus siap mental dengan basa-basi busuk itu)

      di saat mood datang, aku pasti akan lanjutin kok, tapi memang paling susah dapet mood untuk nulis yang ini, hehehe padahal aslinya (yang bahasa inggris) udah kelar, karena ini adalah FF pertama aku seumur hidup… please be patient with me 🙂

      Like

      • Dyana says:

        Sama2 Authornim.
        Tentu saja terkadang Lebaran (kumpul keluarga/sahabat/tetangga) bisa jadi momok yg nyebelin emang, tp karena udah trlalu sering denger basa basi itu aku jd kebal sendiri hehe…

        Semangat aja terus, jgn jadikan pandangan orang sebagai alasan buat ngehancurin mood kita, karena terkadang mereka yg terlihat sempurna tak lebih bahagia dari kita (ini kebanyakan ada di sekitarku) Memikirkan itu aku jd merasa sedikit lega…

        Aku akan menunggu mood Author membaik untuk melanjutkan ff ini, semoga itu tidak akan lama.
        semangat…

        Liked by 1 person

  22. aqis says:

    hi !!! aku reader baru disini👼 maapin yah thor aku baru ninggalin jejak di chapter ini, soalnya aku baca part 1 terus langsung ke part 9 karena penasaran kkkkkk dan di part ini aku tau kalo hidupnya aeri pasti hancur banget:( daaan aku mau baca part awalnya. yg pasti alurnya bagus banget ini, feelnya dapet, penggunaan katakatanya keren💖 aku ijin baca dari awal yah thor^^ semogaaa aeri ga diphpin ama taec ya, kalo sampe iya pasti aku nangis darah baca ini nanti. ditunggu kelanjutannya ya thor! hwaitinggg👏

    Liked by 1 person

  23. Nina says:

    Cerita ini bagus kok…
    Aku suka alurnya..
    Emh emh..
    Aku suka smua cerita yg kamu bikin… 😄
    Ini keren jg kok sayang kalo ga di lanjut…
    Ga masalah bukan kyuhyun main castnya…
    Aku suka karakter taecyeon disini..
    Kereeeennn…
    Ga harus slalu kyuhyun , biar sesekali dia jd jahat it’s good..
    Choa choa hehehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s