Final Call – 12 [Here You Come Again]

 

fc_12

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Angst, NC-21

Main Cast: Kang Seulri & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

Cerita ini akan memiliki alur maju-mundur, diperuntukkan bagi mereka-mereka yang memiliki kesabaran untuk memahami character development pada karakter-karakter di dalam FF ini (bagi yang kurang sabaran dengan alur seperti ini, disarankan bacanya nanti saja saat seluruh part–24 part–sudah aku publish).

Pada bagian awal yang aku beri warna abu-abu, akan menceritakan MASA SEKARANG. Lalu pada bagian selepas tanda (***) yang akan aku warnai hitam, akan menjelaskan tentang MASA LALU.

 

 

 

Alat T.E.E didorong mendekat pada dokter paruh baya itu dan ia tidak menunda sedetik pun untuk memeriksa status vital Seulri. Ia langsung menganti jalur selang pernapasan Seulri dari tenggorokannya yang tadi disayat oleh tim paramedik untuk ditukar dengan selang pernapasan yang dimasukkan dari arah mulut. Setidaknya tenggorakan wanita itu sudah tidak dipenuhi cairan, sehingga mereka bisa menganti jalur bernapasnya. Kyuhyun membantu dengan menengadahkan leher Seulri menggunakan sebuah alat kecil untuk membuka jalan katup laring sementara dokter kepala menyelipkan selang langsung menuju saluran pernapasan wanita itu.

“Kau akan bernapas lebih lega lagi dengan cara ini.” Kyuhyun menjelaskan saat mata Seulri terus bergerak gelisah. “Alat ini juga penting agar kami bisa menyelipkan alat ultrasound kecil yang berfungsi melihat keadaan ruang jantungmu.”

Wanita itu sudah tidak bisa bicara dan selang pernapasan yang baru dimasukkan lewat mulutnya jelas membuat kegiatan itu semakin msutahil. Tapi setidaknya Kyuhyun benar, ia bisa bernapas lebih lancar sekarang.

“Siapkan pasien untuk T.E.E sekarang.” Perintah doketer kepala.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Seulri dan mengambil selang kecil yang dilengkapi alat ultrasound miskroskopik pada ujungnya ke dalam mulut Seulri.

“Seulri-ya, alat ini akan membuatmu merasa sedikit kurang nyaman.” Ia mengingatkan sebelum memasukkan alat tersebut lebih dalam lagi.

Pria itu menggiring selang tadi lewat mulut Seulri, melewati tenggorokannya dan terus memantau kondisi esophagus Seulri lewat kamera kecil yang tertanam pada ujung selang, sementara dokter kepala fokus pada gambar ultrasound yang terdeteksi dari alat itu.

“Ruang jantung baik-baik saja, tidak ada pendarahan dan kondisi katup juga baik.” Ujar dokter kepala dengan suara lantang agar seluruh dokter dalam ruangan itu tahu perkembangan kondisi pasien.

“Tapi detak jantungnya masih terlalu lemah, aku tidak mengerti apa yang terjadi dalam rongga dadanya.” Kyuhyun mengerutkan kening bingung.

Apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh Seulri, ia sudah mencoba semua teori yang ia pelajari dari buku dan dari apa yang telah diajarkan para sunbae-nya. Tapi mengapa keadaan Kang Seulri terus memburuk dari menit ke menit?

“Tarik selang itu darinya, kita periksa ulang rongga dadanya.” Titah pria paruh baya itu.

Kyuhyun menurut. Perlahan ia menarik selang dan mengulang prosedur itu sekali lagi untuk mencari lebih teliti, sambil sesekali menatap Seulri agar wanita itu merasa lebih tenang.

“Seulri-ya, aku akan mencari titik masalahnya. Kau dengar aku? Aku akan menolongmu, kau akan selamat, aku janji.” Ia menggenggam tangan Seulri sekali lagi.

Baru detik itulah, Kyuhyun menyadari ada yang salah dengan bola mata Seulri.

“Periksa pupil pasien, dokter!” Kyuhyun nyaris teriak. “Pendarahan pada pupil kanan! Sial, kita benar-benar membutuhkan ahli syaraf sekarang!”

Dokter kepala berdiri pada posisi atas brankar Seulri, ia mengambil senter dari saku seragamnya, membuka mata kanan Seulri untuk mengecek apa yang diucapkan Kyuhyun barusan. Dokter muda itu benar, seluruh waktu yang sejak tadi mereka pakai untuk mengatasi pendarahan internal pada abdomen pasien terbuang sia-sia, karena luka pada kepala pasien yang menjadi sumber masalah mereka sejak awal.

“Telepon kolegamu lagi, kita harus membuka tengkoraknya segera!”

Kyuhyun mengangguk, siap membawa langkahnya keluar dari ruang operasi. Namun tangan Seulri yang masih digenggamnya menahan Kyuhyun dengan sisa tenaga yang ia miliki, seolah memohon agar pria itu tidak beranjak dari sisinya.

“Seulri-ya, ini penting. Aku harus menelepon sunbae-ku, kau membutuhkan pertolongannya sekarang.” Kyuhyun mencoba menjelaskan.

Seulri bersikeras menahan tangan Kyuhyun, menggenggam pria itu seerat yang ia mampu, pandangan Seulri mulai kabur dan yang ia inginkan saat ini hanya kehadiran Kyuhyun di sisinya. Wanita itu merasa ajalnya semakin dekat, dan ia ingin pria itu mendampingi hingga detik terakhir hidupnya.

Air mata yang mengalir dari sudut mata Seulri membuat hati Kyuhyun semakin mencelos. Pria itu mengeluarkan ponselnya untuk diberikan pada suster yang berjaga di belakang. “Tolonglah aku, teleponlah nomor terakhir yang tadi kuhubungi, aku tidak bisa meninggalkan wanita ini.”

Sang suster mengambil ponsel dari tangan Kyuhyun dan melaksanakan perintahnya. Sementara itu satu per satu dokter dalam ruangan itu mulai mengambil kursi yang tersedia dalam ruang operasi. Mereka tahu pada keadaan itu, hanya kehadiran ahli bedah syaraf yang bisa menolong Seulri—tidak ada lagi tindakan penyelamatan yang bisa mereka lakukan sampai dokter itu tiba.

“Hey, aku masih di sini.” Kyuhyun kembali duduk di samping Seulri, berbisik pada telinga wanita itu sambil terus terisak. “Kurasa aku menemukan masalah yang membuat keadaanmu seperti ini.”

Tentu saja kau menemukannya, kau seorang dokter hebat, oppa. Ia mengedip sekali dan mencoba usaha terbaiknya untuk tersenyum, walaupun hal itu mustahil mengingat selang pernapasan masih menempel pada mulutnya.

“Seulri-ya, kau adalah orang paling tegar yang pernah kukenal seumur hidupku dan aku tahu kau lelah menghadapi perjuangan hidupmu yang tiada akhir. Tapi kumohon, lawan cobaan ini untukku, karena aku hanya bisa membantumu melalui prosedur medis. Ini adalah perang yang harus kau lalui sendiri, tapi aku janji kalau kau melewati ini, aku akan mengikuti ke mana pun kau mau pergi, aku akan menyambut masa depan yang menanti di hadapanmu—di hadapan kita. Jadi kau harus lebih tegar lagi untuk kita berdua sekarang, kau paham?” Kyuhyun menarik tangan Seulri mendekati wajahnya untuk menciumi punggung tanggan wanita itu berkali-kali.

Seulri menggenggam erat tangan Kyuhyun, meremasnya tiga kali dalam gerakan yang lemah tapi pasti, menyampaikan isi hatinya yang terdalam pada Kyuhyun.

Pria itu memahami maksud Seulri, itu adalah cara mereka mengungkapkan perasaan selama ini. Biasanya gestur itu membuat senyum lebar di wajah Kyuhyun muncul, tapi saat ini ia justru takut remasan itu akan menjadi cara Seulri mengucapkan selamat tinggal. Bagaimana pun juga, bukan pertama kali Kyuhyun menyaksikan seorang pasien yang sekarat dalam ruang operasi, bahasa tubuhnya, sorot matanya yang semakin redup, serta kepasrahan yang terpancar jelas dari tatapan yang Seulri berikan padanya—Kyuhyun terlalu paham semua itu.

“Kau sudah berjanji padaku untuk melakukan usaha terbaikmu malam ini, ingat? Kau tidak boleh mengingkari janji itu.” Kyuhyun menekankan nada bicaranya.

Wanita itu kembali meremas tangan Kyuhyun tiga kali, ia tidak peduli akan apa pun saat ini. Yang ia inginkan hanya pengertian Kyuhyun, bahwa sekacau apa pun hidup Seulri berakhir dan seberapa dalam luka yang ia torehkan padanya, Seulri masih terus mencintainya dengan segenap hati dan ketulusan yang selalu ia jaga.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya frustrasi. “Kumohon, Seulri-ya.”

Wanita itu terus meremas genggaman tangan Kyuhyun tiga kali, dibalas pria itu dengan jumlah remasan yang sama pada tangan Seulri.

“Aku juga mencintaimu, sayang. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Izinkan aku membenahi kekacauan yang kubuat, izinkan aku meniti masa depan bersamamu. Aku akan meninggalkan seluruh yang kumiliki untukmu, Seul, asal kau berjanji untuk terus bernapas. Kumohon, Seul.” Isakan Kyuhyun semakin tidak bisa dikontrol.

Aku sedang berjuang dengan semua usaha terbaikku, oppa. Bisik Seulri dalam hati.

 

 

***

 

Kyuhyun berjalan bolak-balik dalam ruang ganti dokter di rumah sakit tempatnya bekerja, seharusnya siang ini ia mengajak Jinae pergi makan siang bersama, namun benak dokter bedah itu justru dipenuhi oleh sosok lain. Semalam ia baru saja mengantar Kang Seulri—cinta pertamanya—pulang, menggendong wanita itu di atas punggungnya, meniti banyak anak tangga yang menuntunnya pada lantai 5 tempat rumah atap wanita itu berada, memastikan gadisnya tiba dengan selamat.

Namun ada yang mengganjal bagi Kyuhyun, sesuatu yang terlihat janggal di matanya.

Semalam pria itu berharap ayah Seulri akan membukakan pintu untuk anak gadisnya, tapi rumah wanita itu gelap gulita saat mereka tiba, yang artinya hanya satu—Kang Seulri tinggal sendirian. Kalau Seulri memang tinggal sendirian, artinya saat ini tidak ada yang merawatnya, sedangkan Kyuhyun yakin tubuh Seulri pasti dilanda demam tinggi akibat luka yang diperolehnya kemarin.

Kyuhyun duduk di atas bangku panjang yang terletak di tengah ruangan, ia meraih ponselnya, menekan salah satu speed dial yang ia simpan di sana dan menunggu beberapa nada dering sebelum lawan bicaranya mengangkat.

“Ne oppa?”

“Apa kau sibuk sekarang?” Tanyanya tanpa basa-basi.

“Sedang bersiap untuk ke kampus, kenapa?” Suara gadis itu terdengar tergesa-gesa.

“Cho Ahra, kau adalah gadis paling manis sedunia, kau tahu itu, kan?” Ia mencoba merayu adiknya sendiri.

“Apa yang kau inginkan?”

“Tolong aku, bisakah kau naik ke rumah atap di gedung kita?” Tanya Kyuhyun dengan nada manis.

“Kenapa aku harus melakukan itu?” Tanya Ahra curiga.

“Karena kau adalah gadis baik dan seseorang dalam rumah itu kemungkinan besar membutuhkan bantuanmu. Kumohon, aku hanya perlu memastikan keadaannya baik-baik saja. Aku akan mentraktirmu daging kelas A sepuasnya.” Ia bernegosiasi dengan adiknya.

“Jadi rumah atap itu sudah ditempati penghuni baru sekarang?” Suara Ahra membuka pintu depan mereka terdengar jelas bagi Kyuhyun. “Aku tidak tahu tempat itu disewakan, tahu begitu lebih baik aku menyewanya sendiri ketimbang tinggal bersamamu.”

“Ey, kau benar-benar tahu cara menyakiti hati oppa-mu.” Kyuhyun berdecak kesal. “Apa kau sudah tiba?”

“Ng, aku sudah di atas. Apa yang harus kulakukan sekarang?” Cho Ahra terengah.

“Ketuk pintunya dan tunggu sampai penghuninya keluar.”

Cho Ahra melakukan apa yang Kyuhyun minta, beberapa kali ia mencoba untuk terus mengetuk tapi tidak ada seorang pun yang muncul. “Tidak ada orang di rumah ini, oppa.”

“Tidak mungkin, dia pasti di dalam.” Gumam Kyuhyun. “Apa ada jendela yang terbuka?”

“Kau mau menyuruhku menjadi maling, Cho Kyuhyun-ssi?!”

“Periksa saja, aku semakin khawatir sekarang.” Balas Kyuhyun gusar.

“Sejak kapan kau menjadi penguntit yang mengerikan?” Ahra memutar matanya tapi menuruti kemauan Kyuhyun yang tidak masuk akal. Gadis itu memutari rumah atap untuk mencari sedikit celah yang bisa membantunya melihat ke dalam. “Ini hari keberuntunganmu, ada jendela yang terbuka.”

“Mengintiplah, atau kalau kau merasa itu tidak etis, teriaklah. Mungkin saja orang itu sedang tertidur makanya ketukanmu tidak terdengar.”

“Ya Tuhan, oppa! Aku melihat seseorang tergeletak di atas lantai kamar mandi!” Ahra memekik panik.

Pria itu bangkit dari duduknya, ia berjalan dalam lingkaran tanpa tujuan yang jelas untuk menyalurkan rasa panik yang semakin kental. “Bisakah kau menyelinap lewat jendela itu, Ahra?”

“Kurasa tubuhku muat melewatinya, tapi bukankah itu akan menjadikanku seorang penyelinap ke rumah orang asing?” Gadis itu ragu.

“Atau kau bisa menjadi penyelinap yang menyelamatkan nyawa seseorang, masuklah aku akan segera menyusul.” Kyuhyun mengambil tas kerjanya dari dalam loker dan segera berlari ke mobilnya—acara makan siang dengan kekasihnya jelas sudah ia lupakan. Kyuhyun memasukkan persneling dan langsung mengarahkan mobilnya pulang ke gedung mereka.

Baru semalam ia tahu bahwa Kang Seulri, gadis yang telah ia rindukan selama enam tahun ternyata tinggal dalam satu gedung yang sama dengannya. Ia ingat induk semangnya memang memberikan pengumuman tentang penghuni baru yang akan menyewa rumah atap seminggu sebelumnya, tapi ia tidak pernah menyangka akan bertemu Seulri lagi dengan kebetulan seindah itu—bahkan dalam pikiran terliar sekalipun, Cho Kyuhyun tidak pernah berani mengkhayalkan nasibnya dan Seulri-nya bisa semanis itu.

Seulri-nya. Kyuhyun mendengus pada pikiran itu, setelah sekian lama gadis itu pergi, ia masih tetap menempati tahta tertinggi di hatinya—bagi Kyuhyun setidaknya, Seulri masih kekasihnya.

Kang Seulri memang sudah melakukan tindakan kejam pada Kyuhyun. Dengan lugu ia memasuki setiap relung hati pria itu, membuat Kyuhyun tergila-gila padanya, membuat pria itu bertekuk lutut atas sebuah perasaan yang disebut cinta, lalu saat pria itu merindukannya Seulri justru menghilang, menghancurkan hati Kyuhyun yang dicampakkan tanpa penjelasan.

Perjalanan dari rumah sakit semalam didominasi dengan kesunyian yang canggung. Dalam hati terdalam, Kyuhyun berharap Seulri akan langsung memohon pengampunannya, ia selalu mengira kalimat pertama yang akan keluar dari bibir gadisnya akan berupa penjelasan mengapa ia meninggalkan Kyuhyun. Tapi wanita itu tetap bungkam sepanjang perjalanan dan Kyuhyun juga tidak mau terlihat seperti pria menyedihkan yang putus asa di hadapan Seulri, jadi ia pun ikut membisu.

Baru lima belas menit kemudian Kyuhyun tiba di area tepat tinggal mereka, pria itu keluar dari mobil, berlari menaiki lima lantai anak tangga dan segera menggedor pintu rumah Seulri.

Suara langkah cepat terdengar dari dalam, tak lama kemudian pintu terbuka dan wajah adiknya menyambut dengan ekspresi khawatir. “Cepat sekali kau sudah sampai.” Ujarnya kagum.

Kyuhyun membawa langkahnya masuk ke dalam rumah Seulri, mengikuti arah yang ditunjukkan Ahra ke kamar mandi.

“Itu Seulri eonni, bukan?” Ahra bergumam di samping Kyuhyun saat pria itu mengamati tubuh gadisnya yang terbaring pingsan dia tas lantai kamar mandi yang basah. “Akhirnya kau menemukannya, oppa. Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Kyuhyun menatap Ahra sekilas sambil tersenyum kecil. “Aku juga baru bertemu dengannya semalam, takdir mempertemukan kami kembali saat Seulri menjadi pasienku.”

Ahra mengangguk paham, menepuk punggung kakaknya pelan. “Aku turut senang untukmu, oppa. Masalahnya demam eonni tinggi sekali dan aku tidak kuat mengangkat tubuhnya. Kau perlu bantuanku?”

“Tidak apa-apa, bukankah kau harus ke kampus tadi? Aku akan memindahkan tubuhnya dan merawat gadisku.” Kyuhyun tersenyum kecil pada kata-katanya sendiri, ia menepuk bahu Ahra. “Terima kasih karena kau sudah menemaninya sementara aku menyetir ugal-ugalan tadi.”

Ahra memberikan senyum penuh arti pada Kyuhyun sebelum ia pamit untuk pergi ke kampusnya, meninggalkan Kyuhyun dan Seulri berdua saja.

Cho Kyuhyun menarik napas dalam, sekilas saja ia bisa menyimpulkan alasan tubuh Seulri terbaring di atas lantai kamar mandi yang basah dan dingin. Wanita itu menggunakan kruknya di dalam, pasti Seulri salah perhitungan tentang posisi kruknya di atas lantai licin, membuatnya terpeleset dan terjatuh. Ditambah dengan nyeri dan demam yang ia rasakan, pasti sudah cukup menjadi dasar mengapa ia pingsan sekarang.

Kyuhyun berjongkok di sisinya, meletakkan satu tangannya di balik punggung Seulri dan sebelah lagi di balik lipatan lututnya sebelum ia membopong Seulri keluar dari kamar mandi. Pria itu meletakkan tubuh ringkih Seulri di atas ranjang dengan hati-hati, tidak lupa ia memeriksa kaos Seulri yang basah kuyup karena air yang diserap dari lantai barusan.

“Kau dapat ide cerdas dari mana untuk memakai krukmu di dalam kamar mandi yang basah, Seul?” Kyuhyun bergumam sendiri sambil mencari-cari posisi lemari pakaian Seulri.

Pria itu menemukan apa yang dicarinya, sebuah lemari kecil di samping pintu kamar mandi. Kyuhyun membuka laci itu untuk mencari sehelai pakaian kering, membawa baju itu ke arah Seulri. Dengan gesit ia melepas baju basah yang melekat pada tubuh Seulri, mengeringkan tubuh lembab wanita itu dengan handuk, sebelum ia kembali memakaikan baju kering dan hangat untuk gadisnya. Tidak ada rasa sungkan maupun janggal bagi Kyuhyun untuk melakukan semua itu, karena baginya Kang Seulri adalah kekasihnya dan selamanya akan terus seperti itu—bertolak belakang dengan perilakunya terhadap Oh Jinae, yang untuk menggenggam tangannya saja Kyuhyun harus berpikir ribuan kali—bagi Kyuhyun interaksinya dengan Seulri adalah hal natural.

Setelah mengeringkan tubuh Seulri, Kyuhyun mencari sebuah baskom kecil untuk diisi air hangat. Pria itu kembali duduk di tepi ranjang Seulri sembari mengompres dahi wanita itu dengan handuk. Tangan Kyuhyun bergerak secara otomatis saat ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah wanita itu untuk diselipkan ke balik telinganya, membelai pipi Seulri yang memerah akibat demamnya, juga tanpa sadar membelai lembut kepala Seulri yang masih terpejam tidak berdaya.

“Aku bilang kemarin, seseorang harus merawatmu.” Bisiknya gusar. “Kau kan bisa bilang padaku bahwa kau tinggal sendirian, aish Kang Seulri! Kau masih tidak berubah.”

Lalu Kyuhyun teringat alasan utama mengapa Seulri demam, pria itu menyingkap selimut yang menutupi kaki kanan Seulri untuk memastikan lukanya aman. Ia boleh bernapas lega karena setidaknya Seulri mendengar perintah Kyuhyun untuk menutupi luka itu dengan kantung kresek saat ia ke kamar mandi. Pria itu membuka kantung kresek yang terikat pada kaki Seulri, memeriksa lilitan kain kasa yang ia ikatkan semalam, memastikan kondisinya tetap steril sebelum perhatian kembali pada wajah Seulri yang masih memerah akibat demam.

Kyuhyun menarik napas dalam, beberapa kali ia mengganti handuk untuk mengompres dahi Seulri sampai dinilainya usaha sementara untuk menurunkan demam Seulri sudah efektif—yang perlu dilakukannya sekarang adalah menunggu hingga wanita itu siuman. Kyuhyun berjalan menuju dapur Seulri untuk menyiapkan segelas air agar wanita itu bisa segera meminum obatnya saat ia sadar, tapi dapur Seulri yang sangat kosong membuatnya semakin heran—bagaimana mungkin seorang wanita tinggal tanpa perabot dapur yang memadai. Kyuhyun juga hanya terkekeh pelan melihat isi kulkas Seulri yang kosong melompong, sebelum ia putuskan untuk turun ke kamarnya dan mengambil beberapa bahan makanan untuk dimakan Seulri nanti.

Sekembalinya dari kamar, Kyuhyun sudah mengisi kulkas Seulri dengan beberapa buah-buahan, bungkusan ramyeon dan sekotak kimchi buatan ibunya, tidak lupa beberapa bungkus nasi instan yang bisa segera dinikmati wanita itu. Selesai dengan kekhawatiran akan isi perut Seulri, pria itu duduk di atas lantai sembari menyandarkan punggungnya pada tepian ranjang, matanya mulai menjelajahi isi rumah atap Seulri yang sederhana.

Wanita itu tinggal dalam rumah atap kecil yang sebenarnya cukup menampung dua orang, kebanyakan barangnya masih berada dalam boks yang ditumpuk di sudut ruangan, sepertinya ia memang baru pindah beberapa hari yang lalu. Kyuhyun yakin Seulri tidak terlalu sering menggunakan dapurnya, karena yang tersedia di tempat itu hanya sebuah mug kecil dan seperangkat alat makan seadanya.

Pria itu menolehkan lehernya pada rak buku pendek di samping jendela dan perhatiannya tercuri sepenuhnya pada apa yang Seulri letakkan di atasnya—tumpukan koleksi boneka-boneka yang dulu Kyuhyun menangkan untuknya dari claw machine.

Mata Kyuhyun berpindah dari satu boneka ke boneka lain, masing-masing boneka yang dilihatnya membawa pria itu ke dalam mesin waktu yang memainkan adegan-adegan manis mereka dulu, tatapan bahagia Seulri yang selalu ia ingat, senyum lebar gadisnya yang kegirangan mendapat boneka baru, serta kecupan manis yang Seulri berikan setiap kali Kyuhyun berhasil mendapatkan apa yang ia minta. Kyuhyun ingat, seberapa besar usahanya dulu untuk membuat Seulri kagum padanya, seberapa besar rasa bangga yang ia peroleh setiap Seulri tersenyum lebar sambil memeluk boneka-boneka yang ia peroleh untuknya.

Pria itu bisa merasakan deru napasnya semakin cepat dan matanya memanas. Entah serbuan emosi macam apa lagi yang menyerangnya sekarang, entah berapa lama sudah ia merindukan wanita yang masih terbaring tak berdaya di belakangnya, dan entah sudah berapa lama ia tidak merasa sepilu ini hanya karena mengenang memori indah mereka.

Kyuhyun mengintip keadaan Seulri melalui bahunya, kedua mata Seulri masih terpejam tapi ada satu hal yang kembali menarik perhatiannya, sebuah pigura berfoto di atas nakas kecil Seulri. Tanpa permisi Kyuhyun meraih pigura itu untuk mempelajari gambar di dalamnya lebih dekat lagi, setengah tidak percaya denagn apa yang ia lihat—foto Seulri dan Kyuhyun yang diambil pada ulang tahun pria itu tujuh tahun yang lalu, ulang tahun dengan kado terindah yang pernah Kyuhyun terima.

Pria itu tersenyum samar, ingatannya kembali melayang pada hari di saat Kang Seulri menyerahkan diri pada Kyuhyun sepenuhnya. Ia ingat janji yang mereka ucapkan, jalan hidup yang mereka rencankan, serta masa depan yang terasa sangat dekat dengan jangkauan mereka. Namun di sinilah mereka, Kyuhyun dengan hidupnya yang sempurna dan Kang Seulri yang nampak sangat berbeda dari gadis yang ia ingat dulu.

“Ng, sakit…” Seulri mengigau dalam tidurnya.

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya pada wanita yang mulai mengerjapkan matanya sambil merintih. “Kau sudah siuman?” Pria itu meletakkan kembali pigura yang dipegangnya lalu duduk di tepian ranjang Seulri, tangannya otomatis menyentuh dahi wanita itu untuk memastikan.

Seulri mengerjap sekali, dua kali, dan beberapa kali berikutnya sekedar untuk memperjelas apa yang sedang dilihatnya. Pasti ia bermimpi, semalam ia bermimpi indah tentang Kyuhyun yang menggendong Seulri di atas punggung hangatnya, lalu sekarang pria itu kembali muncul di hadapannya—lengkap dengan wajah khawatir dan tatapan hangat yang selalu Seulri ingat.

Wanita itu mengangkat tangannya, dengan ujung jemarinya ia menyentuh dahi Kyuhyun dan perlahan menelusuri lekuk wajah pria itu hingga pada tulang rahangnya yang kokoh. Lalu Seulri tersenyum, sebuah senyuman yang tulus muncul karena rasa bahagia dalam hatinya, bukan senyuman yang hanya membuat wajahnya terlihat semakin cantik.

“Aku bermimpi tentangmu lagi kemarin, oppa.” Bisik Seulri lirih sementara Kyuhyun hanya bisa menatap nanar. “Kau menggendongku di punggungmu saat mengantarku pulang, sekarang aku bermimpi lagi, kau ada di sisiku saat ku membuka mata. Kenapa mimpiku terasa sangat nyata?”

Kyuhyun terlalu bingung, ia tidak bisa membalas kata-kata Seulri yang terdengar seperti orang yang melantur. Tapi pria itu lebih heran karena kata-kata yang terdengar sangat pilu diucapkan oleh gadisnya. Mengapa Seulri berujar seakan Kyuhyun yang meninggalkannya? Mengapa kesannya wanita itu sudah mencari Kyuhyun keliling dunia dan seolah pria itu yang memilih menjauh, sementara kenyataannya justru bertolak belakang.

“Kurasa aku mulai gila.” Lanjut Seulri sambil mendengus pelan. “Atau jangan-jangan karena aku sedang demam, makanya aku berhalusinasi seperti ini?” Seulri membelai lembut wajah Kyuhyun yang masih dalam jangkauan tangannya.

Mata Kyuhyun terasa semakin panas hanya karena kata-kata lirih wanita itu. Mengapa kalimat Seulri terdengar sangat menyakitkan di telinga Kyuhyun?

“Aku merindukanmu.” Bisik Seulri lagi sambil tersenyum. “Kurasa itu alasan mengapa aku sampai berhalusinasi seperti ini.”

Kyuhyun meraih tangan Seulri yang membelai wajahnya sementara tangan satunya membelai wajah Seulri yang memerah. Bagaimana mungkin seluruh amarah yang meradang dalam hati pria itu musnah hanya karena senyuman polos yang Seulri sunggingkan pada wajahnya? Lagi-lagi ini terjadi, debaran jantungnya yang menggila setiap kali ia memandang ke dalam sepasang bola mata indah itu. Bilang saja Kyuhyun bodoh, tapi memang kenyataannya Kang Seulri hanya perlu tersenyum manis seperti itu dan Kyuhyun akan kembali padanya kapan pun tanpa perlawanan, layaknya setiap kata yang tertulis dalam bait lagu lawas yang dinyanyikan oleh Dolly Parton—Here You Come Again.

“Bagaimana perasaanmu Seulri-ya?” Suara Kyuhyun terdengar parau akibat tangis yang ditahannya.

Seulri menarik napas dalam sebelum ia mencoba bangkit sambil menopang tubuhnya dengan siku. Kyuhyun membantu Seulri untuk mendudukan wanita itu pada headboard ranjangnya, menumpukkan beberapa bantal di balik punggung gadisnya agar Seulri tetap nyaman.

“Aku kemarin bilang apa, Seul? Kau belum meminum obatmu hari ini, bukan? Buktinya jumlah pilnya masih sama.” Pria itu menyobek alumunium pembungkus obat-obatan Seulri, menyerahkannya pada wanita itu lengkap dengan segelas air yang sudah disiapkan. “Minumlah satu per satu.”

Seulri masih setengah percaya dengan apa yang terjadi, tapi ia menuruti perintah Kyuhyun begitu saja.

“Apakah kau tinggal sendirian?” Kyuhyun menanyakan salah satu hal yang membuatnya penasaran.

Seulri mengangguk.

“Orang tuamu ke mana? Apa kau tidak punya kerabat lain, teman, atau entahlah kekasih mungkin untuk dihubungi untuk merawatmu sementara kakimu dalam pemulihan?” Kyuhyun meringis kesal pada pertanyaan terselubung yang membuatnya terdengar kekanakan, pertanyaan yang ia sendiri tidak siap mendengar jawabannya.

“Oppa…” Seulri mengangkat tangannya kembali untuk menyentuh wajah Kyuhyun. “Apa kau nyata?”

Pria itu terkekeh lalu mengacak rambut Seulri gemas. “Aku nyata, Seul.”

“Bagaimana mungkin?”

“Aku mengantarmu pulang semalam, ingat?” Senyum pria itu semakin lebar, terhibur melihat kebingungan pada wajah polos Seulri. “Apa dosis obat bius yang kuberikan kemarin terlalu banyak?”

Seulri merasa detak jantungnya semakin menjadi-jadi akibat wajah Kyuhyun yang semakin dekat dengan wajahnya. “Tapi kenapa kau di sini? Semalam sikapmu dingin sekali, tapi sekarang kau terdengar sangat ramah. Kukira kau marah sekali padaku dan membenciku.”

Kyuhyun menggigit bibirnya dan mengangguk. “Kukira juga begitu. Tapi kondisimu sekarang sangat lemah, kau tinggal sendirian, bagaimana mungkin aku mengomel padamu sekarang? Istirahatlah, aku memberimu obat yang membuat ngantuk—kita bisa bertengkar setelah kau sembuh nanti.” Kyuhyun menarik selimut untuk menutupi bahu Seulri. “Lain kali, jangan gunakan kruk saat kau masuk ke kamar mandi yang basah. Kau beruntung karena Ahra melihatmu terjatuh di kamar mandi. Aku pun harus minta maaf sebelumnya, karena tadi pakaianmu basah dan aku terpaksa menggantinya—maaf karena aku lancang.”

Seulri ternganga bingung. Pria di hadapannya tidak terlihat seperti menyimpan amarah maupun dendam padanya. Semalam Kyuhyun bersikap dingin dalam ruang emergensi, lalu dengan santainya ia mengantar Seulri pulang. Hari ini pria itu kembali dengan senyuman tulus dan tindakan manis untuk merawatnya.

Namun yang paling membuat wanita itu terenyuh adalah cara Kyuhyun memohon maaf atas kelancangannya menggantikan baju Seulri. Kyuhyun adalah satu-satunya pria yang berhak atas tubuh dan jiwa Seulri, tapi ia juga satu-satunya pria yang masih memperlakukannya seolah Seulri seorang wanita yang memiliki harga diri utuh—harga diri yang telah lama ia lupakan.

“Kenapa kau memandangiku seperti itu, Seul?” Kyuhyun mencubit pipi Seulri gemas. “Pejamkan matamu dan istirahatlah.”

Wanita itu membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, tapi Kyuhyun berujar lebih cepat.

“Aku tidak akan beranjak. Saat kau terbangun nanti, aku akan tetap di sini. Istirahatlah sejenak, nanti kupesankan makanan untuk makan malam, ne?” Kyuhyun kembali mengacak rambut Seulri seolah sedang membujuk anak kecil untuk tidur.

Seulri menutup kedua matanya sejenak, tapi kembali membelalak tidak lama kemudian, hanya sekedar memastikan Kyuhyun memang masih di sisinya. Pria itu masih tetap pada posisinya, dengan mata yang kini kembali terpaku pada pigura yang ada di atas nakas Seulri, wanita itu bisa menyimpulkan kebingungan pada raut wajahnya yang ditekuk.

“Aku meletakkan itu di sisi ranjangku agar aku bisa selalu memandang wajahmu setiap aku membuka mata.” Bisik Seulri pelan, menjawab pertanyaan terpendam Kyuhyun.

Lagi-lagi pria itu merasa hatinya bagai disayat, rasanya sangat indah dan memilukan dalam waktu bersamaan mendengar pernyataan itu dari mulut Seulri. Memang pria itu butuh banyak penjelasan: mengapa gadisnya pergi? Mengapa Seulri tidak menghubunginya? Apa yang terjadi dalam hidupnya sampai ia menghilang enam tahun lamanya? Bagaimana hidupnya sekarang? Apakah ia berhasil menggapai impiannya untuk kuliah mikro-biologi? Bagaimana keadaan kedua orang tuanya? Dan masih banyak daftar pertanyaan yang pria itu simpan untuk Seulri.

Namun sore itu, ia memilih untuk menelan rasa penasarannya, kesembuhan Seulri lebih penting dan ia pun tidak yakin siap mendengar semua penjelasan gadisnya dalam satu malam saja.

“Kau belajar menggombal dari siapa, ng?” Kyuhyun terkekeh. “Dulu kau yang protes saat aku menggombalimu dengan kata-kata itu.”

Seulri kembali tersenyum. “Gombal sekali, bukan? Tapi aku mengatakan yang sejujurnya.” Wanita itu mulai mengerjap kembali, obat yang Kyuhyun berikan padanya sudah mulai berekasi dan matanya kembali terasa berat akibat kantuk, tapi ia harus menuntaskan kalimatnya. “Aku harus memandangnya setiap hari… memandangnya saja sudah cukup menjadi alasan agar aku terus bernapas.”

Cukup—Kyuhyun sudah tidak sanggup menahan kerinduannya akan Seulri lagi.

Pria itu tersihir oleh pesona Kang Seulri layaknya ia terpana dengan Seulri bertahun-tahun lalu saat mereka berlari dari kejaran segerombolan ajjushi pemabuk. Dengan kata-kata indah yang Seulri lantunkan lirih, hatinya kembali menuntut untuk mendampingi wanita yang selalu bertahta dalam segala aspek hidupnya. Sejenak Kyuhyun lupa akan hidupnya yang sedang berlangsung, ia lupa pada wanita yang kebetulan menyandang status resmi sebagai kekasihnya, dan Kyuhyun melupakan seluruh rasa sakit dan amarah yang ia pendam untuk Seulri enam tahun lamanya.

Apa yang penting bagi pria itu adalah gadisnya telah kembali, Kang Seulri hadir kembali dalam hidupnya dan hatinya tetap mengingat indahnya kisah mereka.

Pria itu perlahan membungkukkan punggungnya, mendekatkan wajahnya pada Seulri yang tertidur damai, lalu dengan hati-hati ia menyapukan bibirnya di atas dahi wanita yang sangat dicintainya. Hanya seperti itu saja, jiwa Kyuhyun bagai ditarik ke dalam dimensi lain oleh mesin waktu. Pria itu kembali merasakan sensasi mendebarkan yang mereka alami pada masa remaja mereka, dengan segala kecerobohan mereka serta angan-angan cinta sederhana yang nampak sangat nyata—seolah tidak ada hal apa pun yang bisa memisahkan kuatnya cinta mereka.

 

 

tbc…

 

 

 

 

Advertisements

66 thoughts on “Final Call – 12 [Here You Come Again]

  1. syalala says:

    huhuhuhu tuh laaaaahh their love are still thereeeeeeee huwaaaaaa gemes bgt lah ini tuh kan bener kyuhyun mau bagaimanapun ya luluh juga soalnya emg kerasa bgt cinta mereka dari awal tuh, gimana kyuhun ngejaga seulri ngelindungin dsb sampe akhirnya skrg ketemu lagi dah yah everythings back right huhu tetep kepooooooo abis gimana ini kelanjutan mereka gimana kyuhyun marah how how yg lainnyaaa btw kondisi seulri di masa skrg itu parah bgt dong yah semua luka dalem bahkan sampe harus dibuka tengkoraknya itu gimana huwaaaaa jd pesimis kalo dia bakal selamat :((((

    Liked by 1 person

  2. wienfa says:

    sunbae kyhyun cpetan dteng dong!! seoul k incheneon sngat jauh ya?gak tega sma seulri nya..yak kyuhyun km emng hrus mmulai kmbali kish km yg mnis dg seulri..dsni oh jinae cma cameo ja kn,kak ssihobitt??
    snang dgn kyu yg gk brsikap dngin lg sm seulri.knp km gk blg sm kyu seul yg sbnrnya?biar gk add kslah phamn lg.mngkn chap ny blm saat ny y?
    tuhh kyu oppa,dgn brlalu ny 6thn tp seulri msh nympn brg2 ms kngn klian n aplgi msh pjg fto klian.hrs ny kyu udh bsa sdkit nyimpulin dong

    Liked by 1 person

  3. Pandacattaa says:

    Malah jadi seneng baca flashbacknya😂 manis banget cara ketemunya huaaa kyuhyun juga minta bgt disayang pembaca ih kelakuannya tetep manis sama seulri sayangnya udah jadi pacar orang *eh* yah berarti posisinya sekarang kyuhyun selingkuh dari pacarnya dong ya hmmm

    Liked by 1 person

  4. BaisahChoi says:

    Ini KYU belum tau yah selama 6 thn si seul ngapain aja
    THE NAME OF GOD
    GW GAK RELA SI KYU TAU HIKS

    GW TAU EVIL KYU KATA KATANYA BIKIN SI SEUL DAN AING MEWEK KALI YAH

    TAPI CHAPTER INI UDAH MULAI MEMBAIK WALAUPUN SI KYU MASIH KEPO KEPO RESE

    Liked by 1 person

  5. Cho Sarang says:

    Boro – boro menggapai impian untuk bertahan hidup saja seulri sulit. Jangankan kuliah untuk melanjutkan sekolah menengah atasnya hingga tamat seulri tak sanggup karena keadaan yang tak memungkinkan. Setidaknya aku bersyukur kalau kyuhyun selalu mencari seulri selama ini dan sepertinya ahra tak marah pada seulri karena pergi tanpa kabar meninggalkan kakaknya

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s