Final Call – 6 [The Downfall]

fc_06

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Angst, NC-21

Main Cast: Kang Seulri & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

Cerita ini akan memiliki alur maju-mundur, diperuntukkan bagi mereka-mereka yang memiliki kesabaran untuk memahami character development pada karakter-karakter di dalam FF ini (bagi yang kurang sabaran dengan alur seperti ini, disarankan bacanya nanti saja saat seluruh part–24 part–sudah aku publish).

Pada bagian awal yang aku beri warna abu-abu, akan menceritakan MASA SEKARANG. Lalu pada bagian selepas tanda (***) yang akan aku warnai hitam, akan menjelaskan tentang MASA LALU.

Cho Kyuhyun frustrasi, sudah lima belas menit ia mencoba segala cara yang ia tahu untuk membangunkan Seulri dari tidurnya namun wanita itu masih tetap menutup kedua matanya serta tidak memberikan reaksi berarti pada impuls-impuls yang Kyuhyun berikan di atas permukaan kulitnya. Pria itu menghela napas panjang, dalam keputusasaannya ia menengok ke arah abdomen Seulri yang sekarang sedang dipersiapkan untuk operasi. Suster mendorong gorden separator yang biasa digunakan saat prosedur C-section dengan tujuan agar pasien tidak melihat langsung prosedur operasi yang dilakukan pada tubuh mereka sementara mereka hanya dibius lokal.

Dalam kasus Seulri, gorden itu mungkin belum ada manfaatnya. Ia masih tetap tak sadarkan diri—tapi jika tiba-tiba ia tersadar kembali, rasa shock yang akan menyerangnya akan lebih buruk jika ia melihat rongga perutnya sudah terbedah. Kyuhyun mengamati prosedur yang sedang dilakukan pada Seulri, seluruh permukaan perutnya dilumuri betadine dan plastik khusus sebelum kain surgical hijau dihamparkan di atasnya sesaat sebelum operasi dimulai.

“Mulai alihkan pasien ke prosesor.” Dokter kepala memulai operasi. “Scapel!” Pintanya pada dokter magang di samping yang langsung patuh memberikan pisau operasi pada sunbae-nya.

Dengan satu sayatan pria itu berhasil membedah abdomen Seulri. Seketika itu juga darah kembali berlumuran dari dalam rongga perutnya, melebihi ekspektasi semua dokter yang ada di sana. Mereka tahu bahwa wanita itu datang dengan pendarahan internal yang masif, tapi tidak satu pun menyangka akan seburuk ini.

“Ya Tuhan, Seulri-ya.” Kyuhyun menggumam dengan suara parau. Pria itu sudah sering berada dalam situasi ini—melihat prosedur opreasi seorang korban kecelakaan—dan tidak pernah sekali pun Kyuhyun merasa ketakutan atau gugup sebelumnya. Namun saat orang terdekatnya yang harus berbaring di atas brankar itu, jelas emosi yang menyerangnya berbeda. “Seul, apa yang sebenarnya terjadi di jalan tadi? Mengapa pendarahanmu separah ini?”

“Dia dalam status splenic lac[1] grade 2[2]. Kita bisa tenang sedikit untuk sementara, ia tidak akan terlalu terpengaruh dari lukanya. Pastikan kau periksa ruang rethrohepatic[3] pasien.” Perintah dokter kepala. Pada dokter wanita yang menjadi asistennya.

Dokter itu merogoh ke dalam rongga perut Seulri untuk memeriksa kondisi ruang antara ginjal kanan dan hati Seulri. “Positif pendarahan, dokter.”

“Fokus pada pendarahan itu sekarang, kita sedot gumpalan darahnya, berikan aku French-tube lain!” Ia mengangkat tangannya ke udara, menunggu salah satu asisten dari dokter magang untuk menyerahkan kateter yang ia minta.

“Suction[4]!” Dokter wanita mengikuti aba-aba dari pria itu dan ia mulai memvakum darah yang terjebak di ruang antara ginjal dan hati Seulri—gumpalan darah yang tidak seharusnya ada di tempat itu.

Kyuhyun hanya berdiri mematung di tempatnya, pria itu tidak bisa membayangkan jutaan rasa sakit yang dirasakan Seulri saat ini. Ia menghapus air matanya cepat sebelum kembali fokus pada wajah Seulri yang masih tertidur pulas, dengan ekspresi penuh ketenangan seolah tidak terjadi apa-apa.

Wanita itu tetap terpejam, tidak ada ekspresi kesakitan sedikit pun yang bisa Kyuhyun tangkap dari raut wajahnya padahal perutnya sedang dibedah dan ia hanya mendapat bius lokal saja untuk sementara. Di bawah lampu ruang operasi yang terang benderang, Kyuhyun juga mulai melihat garis-garis lain pada wajah Seulri. Wajah cantiknya tertutup darah, debu aspal dan air mata, namun yang membuat Kyuhyun ingin menghajar dirinya sendiri adalah arah air mata yang terpatri jelas pada wajah sembabnya.

Garis air mata wanita itu turun ke arah pipinya, bukan hanya air mata yang lolos sementara ia terbaring lemah di atas brankar. Hal itu mengindikasikan satu hal—Kang Seulri menangis jauh sebelum kecelakaan itu terjadi, wanita itu sibuk menangis dan mungkin saja pandangannya terkaburkan oleh air matanya sendiri hingga ia tidak meihat bahaya yang menantinya. Kyuhyun pun yakin, wanita itu menangis karenanya—karena sikapnya, karena ucapannya, dan karena keputusannya.

Kyuhyun menggigit bibirnya sendiri keras-keras untuk mengalihkan pilu dalam hatinya, berharap dengan cara itu ia bisa melepaskan cengkraman tangan raksasa yang meremas jantungnya. Ia kembali terisak. Demi Tuhan, apa yang telah dilakukannya pada Seulri? Wanita itu hanya meminta Kyuhyun untuk menyelamatkan serpihan hidupnya yang tersisa, Seulri bahkan tidak menuntut Kyuhyun untuk merubah keputusan dan rencana masa depan pria itu, Kang Seulri hanya meminta sebuah pengampunan. Tapi lidah ketusnya yang tajam mengalahkan akal sehat Kyuhyun, bukannya menjadi sandaran yang Seulri butuhkan, pria itu justru memilih untuk menambah daftar kesakitan Seulri lewat keputusannya—menghancurkan sisa-sisa harapan yang masih terus dibawa wanita itu bagi mereka.

Kini Seulri hanya terpejam pasrah, dengan wajah damai seolah ia sedang menyelami impian indahnya dalam tidur, seolah ia sudah siap meninggalkan semua masalahnya dan pergi dengan tenang.

Kyuhyun menelan gumpalan imajiner dalam kerongkongannya, suara Seulri yang bicara padanya beberapa jam yang lalu kembali tergiang. “Oppa, aku hanya minta kau memaafkanku. Aku tahu kau tidak akan sudi menerimaku kembali, aku pun paham kalau aku sangat tidak berharga di matamu sekarang—aku cukup tahu diri dan aku tidak memintamu untuk mempertimbangkan ulang keputusan itu. Tapi tidak bisakah kau memaafkanku? Maafkan aku yang telah memilih jalan ini, jalan yang telah menyesatkanku dan menghancurkan mimpi-mimpi kita?”

Pria itu kembali mencondongkan wajahnya untuk berbisik pada telinga Seulri, membisikkan kata-kata yang seharusnya ia ucapkan berjam-jam yang lalu. “Aku memaafkanmu. Dan kau salah, kau sangat berharga bagiku Seulri-ya, itulah sebabnya aku sangat marah padamu. Tapi aku sudah memaafkanmu.” Ia mengatur napasnya sejenak. “Satu hal lagi, hanya karena aku berhenti mengungkapkannya, bukan berarti perasaanku berubah—aku mencintaimu Kang Seulri. Aku tidak akan pernah bisa mencintai wanita lain seperti aku mencintaimu. Jadi kumohon, izinkan aku untuk berlutut dan meminta maaf dengan layak padamu, bukalah matamu, Seulri-ya.” Kyuhyun menggenggam tangan Seulri yang terkulai, meremasnya tiga kali sambil terus terisak memanggil nama wanita yang masih memperjuangkan nyawanya sendiri.

Pikiran pria itu kini melayang pada masa-masa saat hubungan mereka mulai goyah, waktu yang ia yakini sebagai titik balik hubungan mereka. Seandainya ia bisa memutar waktu kembali, mungkin ada beberapa hal yang akan diubahnya. Kyuhyun tahu ia akan berusaha lebih keras untuk menelusuri jejak Seulri, ia akan meluangkan waktu lebih banyak untuk mencari kekasihnya, ia akan memastikan gadisnya baik-baik saja—sayangnya, yang ia lakukan saat itu hanya memprioritaskan pendidikan dokternya yang tertunda dan rasa kecewanya semata.

***

Hari itu adalah saat yang sudah dinantikan seorang Cho Kyuhyun dalam dua puluh bulan terakhir, pria itu akhirnya berhasil menuntaskan kewajiban bela negaranya. Kyuhyun melangkah keluar dari pangkalan tempatnya melakukan wajib militer, ia menoleh ke berbagai arah untuk mencari sosok yang sudah berjanji akan menjemputnya—namun Cho Kyuhyun harus menelan rasa kecewanya, karena kekasihnya tidak pernah muncul.

Pria itu menghela napas panjang untuk menghapus rasa kecewanya, sementara ia membiarkan pikirannya melayang pada saat ia menerima surat panggilan wajib militer yang dikirimkan ke rumahnya nyaris dua tahun sebelumnya. Saat itu hanya beberapa bulan setelah ulang tahunnya yang ke 20, layaknya semua pria Korea Selatan, Cho Kyuhyun harus melapor pada pangkalan militer yang mengiriminya surat dan menyatakan kesediaan untuk melaksanakan kewajibannya.

Dengan terpaksa, Kyuhyun harus cuti empat semester dari pendidikan dokternya, ia juga mengemas seluruh barang-barangnya kembali ke rumah dan yang paling berat adalah ia harus memberikan pengertian yang cukup pada kekasihnya.

Seulri menangis saat pertama kali membaca surat panggilan Kyuhyun, gadis itu menyuarakan protesnya karena masih ada banyak waktu bagi Kyuhyun untuk mengabdi pada negara, mengapa harus di saat itu? Mengapa harus di saat gadis itu baru mulai berhasil menyesuaikan diri dengan kesibukan kekasihnya di kampus?

Keduanya mencoba membicarakan kiat-kiat yang bisa dilakukan untuk mengatasi keterbatasan komunikasi dan teknologi yang harus dihadapi dalam 21 bulan ke depan. Kang Seulri menggaskan bahwa ia akan mengunjungi Kyuhyun ke pangkalan militernya setiap bulan, tapi lelaki itu menolak. Karena ia ditempatkan pada pangkalan yang jauh, ia tidak tega harus melihat Seulri berganti kereta dan bus berjam-jam hanya untuk bisa menemuinya selama kurang dari setengah jam. Pada saat itu yang bisa Kyuhyun lakukan hanya memohon pengertian dan kedewasaan dari Seulri, ia pun berjanji akan selalu menghabiskan hari libur yang diperolehnya untuk dihabiskan bersama dengan gadis kesayangannya itu.

Namun jelas mereka tidak bisa membohongi diri sendiri, surat panggilan wajib militer itu akan membawa dampak bagi hubungan mereka—bukan dampak yang baik, tentu saja.

Metode mereka berjalan mulus selama setahun. Walaupun terpisahkan jarak dan teknologi, Seulri dan Kyuhyun dengan mudah beradaptasi pada ujian hubungan mereka. Selama Kyuhyun melaksanakan wajib militer, Seulri perlahan belajar untuk tidak terlalu sering menggantungkan masalahnya pada lelaki itu, terutama jika ibunya mulai kumat dan berulah kembali. Sedangkan bagi Kyuhyun, ia belajar untuk percaya pada kemampuan Seulri, bahwa kekasihnya bisa mandiri dan ia adalah gadis yang kuat untuk menghadapi masalah domestik dalam rumahnya.

Meskipun mereka terpisah jarak, keduanya masih bisa bersyukur karena jadwal libur Kyuhyun memang benar-benar dihabiskan untuk kekasihnya. Lelaki itu mengajak Seulri ke rumahnya untuk merayakan natal bersama, mereka berhasil merayakan ulang tahun Kyuhyun yang berikutnya, juga kesempatan untuk merayakan ulang tahun Seulri yang ke-17 bersama-sama. Tanpa mereka sadari, waktu 21 bulan yang harus Kyuhyun habiskan di pangkalan militer itu akan segera berakhir.

Pada perayaan ulang tahun Seulri, Kyuhyun menghadiahkan gadis itu dengan sebuah liburan singkat. Keduanya berbohong pada orang tua masing-masing agar mereka bisa pergi menginap ke tempat favorit mereka yang dulu pernah didatangi saat piknik sekolah. Saat itu mereka kembali dimabuk cinta, mereka dibanjiri dengan perasaan bahagia karena dua hal: Seulri akan segera lulus SMU dan Kyuhyun akan mengakhiri wajib militernya.

Malam itu, keduanya mulai merencanakan masa depan mereka. Seulri berencana untuk mencoba masuk ke universitas yang sama dengan Kyuhyun, mendalami jurusan mikro-biologi yang digemarinya. Kyuhyun juga akan menuntaskan pendidikan dokternya dan ia berencana mencari pekerjaan di rumah sakit terbaik di Seoul. Sementara menunggu Seulri lulus, lelaki itu berniat menabung sebagai bekal mereka untuk melanjutkan hidup baru. Kyuhyun berjanji akan mendatangi orang tua Seulri setelah gadis itu mendapatkan ijazahnya dan mereka akan menikah setelah segala urusan akademis terpenuhi—setidaknya itulah syarat yang diminta kedua orang tua Kyuhyun jika ia mau menikahi Seulri.

Gadis itu juga berjanji akan datang menjemput Kyuhyun ke pangkalan militernya saat lelaki itu menuntaskan masa baktinya. Ia berjanji akan datang dengan semangkuk toppoki buatan appanya yang sangat Kyuhyun sukai, sambil memegang banner bertuliskan “wekcome back!” bagi lelaki yang selalu dirindukannya. Rencana yang terdengar sangat indah dan sederhana.

Rencana yang tidak pernah terlaksana.

.

.

.

Sudah tiga hari Kyuhyun pulang selepas wajib militernya dan ia masih belum bertemu dengan gadis kesayangannya. Ia menekan bel di rumah Seulri berkali-kali, namun tidak ada satu orang pun keluar padahal biasanya ayah Seulri selalu ada di rumah. Lelaki itu masih heran, seiingatnya mereka sudah membahas jelas tanggal kepulangan Kyuhyun, mengapa Seulri tidak muncul menjemputnya? Bukan hanya itu, surat-suratnya sejak tiga bulan yang lalu juga tidak pernah lagi dibalas Seulri. Apakah gadis itu lupa padanya? Atau mungkin kesibukannya sebagai siswa senior di sekolah memang membuat gadis itu kesulitan membagi waktu dengan jadwal belajarnya?

Kyuhyun mencoba mencari alasan logis yang membuatnya tidak terlalu dongkol dengan keabsenan Seulri, tapi ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri—ia marah. Namun karena rasa rindu dan rasa cintanya pada gadis itu lebih besar, Kyuhyun mengabaikan amarahnya dan memutuskan untuk menghampiri Kang Seulri ke rumahnya. Yang ingin dilakukan lelaki itu sekarang hanyalah melihat gadisnya, menarik Seulri ke dalam dekapannya sambil membanjiri kekasihnya dengan kecupan rindu.

Satu jam dihabiskan Kyuhyun untuk mondar-mandir di depan pagar Seulri sebelum ia akhirnya memberanikan diri untuk membuka pagar—yang ternyata tidak terkunci. Lelaki itu duduk di atas kursi yang terletak di teras depan, menunggu sampai ada orang yang membukakan pintu. Setelah kesabarannya mulai habis, Kyuhyun mengintip melalui jendela dapur, mencoba mencari ciri kehidupan di dalam rumah gadis itu. Ia kemudian kembali menekan-nekan bel rumah dengan gusar. Alih-alih dibukakan pintu, seorang ahjumma tetangga Seulri jurtru keluar untuk menginformasikan padanya bahwa keluarga Kang sudah pundah tiga bulan yang lalu.

Ia terkejut karena Seulri tidak pernah mengatakan apa-apa perihal kepindahan mereka, lalu ia kembali bertanya pada sang ahjumma ke mana mereka pindah, namun wanita itu pun tidak tahu. Yang ia ketahui hanyalah suatu hari keluarga Kang pergi begitu saja tanpa pamit, ia bahkan tidak melihat ada truk pindahan pernah datang untuk membantu mereka pindah.

Kesal sekaligus geram dengan jawaban yang diterima, akhirnya Kyuhyun nekat mencari-cari jendela yang bisa ia buka dari luar. Lelaki itu menyelinap masuk ke dalam rumah Seulri, mencari sedikit petunjuk yang bisa menjawab rasa penasarannya. Tapi hatinya semakin remuk saat ia menyadari bahwa seluruh ruangan di tempat itu sudah kosong. Hari itu, Cho Kyuhyun menyadari bahwa Kang Seulri sudah mencampakkannya tanpa ucapan perpisahan yang layak.

Tapi kekesalan dan amarah Kyuhyun hanya berlangsung satu hari. Hari berikutnya, ia kembali mencoba mencari jejak Seulri. Setelah ratusan panggilan pada ponsel Seulri tidak pernah tersambung, Kyuhyun mencoba cara lain. Ia menghampiri sekolah mereka untuk menunggu Seulri pulang sekolah seperti yang dilakukannya berahun-tahun lalu. Sayangnya, sampai gerbang sekolah ditutup, batang hidung gadis itu tetap tidak nampak.

Cho Kyuhyun tidak menyerah. Ia kembali ke sekolah Seulri keesokan harinya, menghampiri pihak kesiswaan untuk menanyakan data Seulri yang mungkin sudah berubah alamat tinggalnya. Tapi ia justru semakin dikejutkan dengan informasi yang ia dengar. Kang Seulri dikeluarkan dari sekolah, karena ia sudah tidak datang selama tiga bulan, karena ia tidak menuntaskan rangkaian ujian akhirnya, dan karena pihak sekolah pun tidak berhasil menghubungi kedua orang tua Seulri.

Hari itulah Kyuhyun memutuskan untuk menyerah. Jika memang Seulri memilih untuk mencampakkannya tanpa alasan, maka ia akan berhenti membuang waktunya untuk melacak kebaradaan kekasihnya—kalau Kang Seulri masih pantas dikatakan sebagai kekasihnya.

Lelaki itu dirudung amarah dan rasa penasaran, di sisi lain ia merasa sakit karena Kang Seulri tega meninggalkannya begitu saja, mengabaikan mimpi yang telah mereka bangun bersama, menghiraukan rasa cinta Kyuhyun yang begitu besar padanya. Untung saja Kyuhyun masih punya banyak tugas yang harus dikejarnya, sehingga tidak sulit baginya mengalihkan pikiran dari Kang Seulri.

Sejak saat itu, Cho Kyuhyun berubah menjadi pria yang hanya memfokuskan diri pada studi dan pekerjaannya, demi bisa melupakan rasa hampa dalam hatinya, agar ia bisa terus melanjutkan hidup tanpa kenangan indah bersama gadis yang selalu bertahta dalam hatinya.

.

.

.

Sementara itu, masih di kota yang sama pada waktu yang bersamaan, Kang Seulri sedang berjuang dalam sebuah peperangan yang mustahil dimenangkannya.

Gadis itu terbangun dari posisi tidurnya yang sangat tidak nyaman, seorang suster baru saja membangunkannya agar Seulri menyingkir sementara suster itu memeriksa kondisi ayahnya. Ayah Seulri sudah terbaring tidak berdaya di rumah sakit setempat tiga bulan lamanya dan kondisinya tidak pernah membaik. Pria itu didiagnosa mengalami kelumpuhan dari pinggang ke bawah bagian tubuhnya dan ia juga mengalami gejala delusional setelah kecelakaan lalulintas yang dialaminya tiga bulan silam.

Mungkin jika ditangani dengan segera, ayah Seulri tidak perlu mengalami kelumpuhan, namun semua terjadi begitu mendadak. Keluargga Seulri juga tidak ter-cover asuransi apa pun dan satu-satunya orang yang bisa mencari nafkah saat ini untuk membayar semua biaya rumah sakit hanyalah Seulri seorang.

“Seulri-ssi, ini bon tagihan minggu ini.” Suster menyerahkan tumpukan kertas putih dengan angka-angka yang membuat hati Seulri mencelos.

Gadis itu meraih bon dari tangan suster yang memandanganya dengan tatapan jengkel. Suster itu segera mengalihkan pandangannya dari Seulri untuk mulai memeriksa vital Tuan Kang.

“Bisakah kau memeriksa beliau dengan lebih seksama? Ayahku terus mengeluh tentang sakit kepalanya.” Seulri menyuarakan protes ayahnya.

“Kami bisa melakukan sesuatu dengan ayahmu, tapi semua kembali lagi pada bon di tanganmu itu, kau harus melunasi tagihan sebelumnya terlebih dahulu.” Jawab sang suster masih menghindari tatapan Seulri.

“Wah, kalau tidak salah tugas kalian adalah menyelamatkan nyawa manusia. Mengapa justru terdengar materi lebih penting dari nyawa ayahku sekarang?” Seulri menaikkan nada bicaranya, membuat pasien-pasien yang berada dalam bangsal rawat bersama dengan ayahnya protes karena kebisingan.

“Kami memang menyelamatkan nyawa ayahmu.” Jawab sang suster dingin. “Tapi perawatan lanjutannya yang terkendala sekarang.”

“Tapi aku janji akan membayar semua tagihan ini, aku hanya perlu waktu lebih banyak.” Seulri merasa matanya mulai memanas. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan sejak kecelakaan itu, yang ia tahu hanyalah ia lelah dan ia harus segera mencari jalan keluar untuk menyembuhkan ayahnya.

“Seulri-ssi, aku juga tidak punya kuasa untuk memberikan ayahmu obat apa pun selalin yang diresepkan dokter—aku seorang perawat. Aku tidak bermaksud kasar padamu, tapi kalau tagihan itu terus menumpuk, aku khawatir mereka akan mendepak ayahmu dari sini.” Suster itu merendahkan suaranya, berharap Tuang Kang tidak mendengar percakapan yang tidak nyaman itu. “Tidak bisakah kau menelpon kerabatmu untuk meminta bantuan? Aku pun tidak suka melihat ayahmu terus menderita seperti ini, tapi aku tidak punya pilihan.”

Seulri menatap nanar pada lantai di bawah kakinya sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, ayahku keluargaku satu-satunya.”

Suster itu bergerak tidak nyaman mendengar jawaban Seulri yang membuatnya merasa semakin bersalah. Wanita itu mohon pamit sambil menepuk bahu Seulri pelan, sedikit membisikkan kata semangat yang tidak ada gunanya.

Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam sebelum kembali mengamati angka-angka dalam tagihan rumah sakit ayahnya. Ia berharap bisa merobek tagihan itu, lalu hutang mereka pada rumah sakit akan lunas dengan sendirinya. Ia mengalihkan pandangannya pada sang ayah yang masih tertidur, ia tahu ayahnya tidak benar-benar tidur. Pria itu hanya menghindari percakapan dan momen canggung dengan Seulri jika ia harus membuka mata—karena Tuan Kang tidak sanggup menatap Seulri sejak kejadian itu. Seulri memaklumi ketidaknyamanan ayahnya, pria itu pasti merasa bersalah atas apa yang menimpa keluarga mereka, ia merasa berdosa karena telah membuat Seulri menderita, dan ia meresa tidak berguna karena keadaannya justru memaksa anak semata wayangnya untuk mencari nafkah bagi mereka.

“Appa, aku akan pergi kerja sekarang. Aku akan kembali sebelum pukul 9 malam.” Bisik Seulri di dekat telinga Tuan Kang. “Kalau suster mengantarkan makan siang, kau harus menghabiskannya, oke? Sekarang aku harus bekerja untuk kita berdua, tapi kau harus percaya padaku bahwa kita bisa mengatasi ini bersama-sama.”

Ayahnya tidak bereaksi, masih berpura-pura tidak bisa mendengar perkataan Seulri. Gadis itu mengecup kening ayahnya sebelum keluar dari bangsal umum. Dengan gesit Seulri melangkah menuju tangga darurat, ia melangkah turun hingga mengapai bagian tengah dan terduduk pasrah lengkap dengan tangisan yang sejak tadi dibendungnya.

Tangan Seulri meremas tagihan rumah sakit di genggamannya erat-erat, sebelah tangannya menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak sementara ia menempelkan kepalanya pada tembok yang dingin. Benak Seulri berpacu, bertanya-tanya mengapa hidupnya harus berubah 180 derajat seperti ini secara tiba-tiba, tanpa persiapan apa pun darinya.

Derita yang menyerang hidupnya sejak tiga bulan yang lalu.

Tiga bulan yang lalu kedua orang tua Seulri terlibat dalam sebuah kecelakaan lalulintas dalam perjalanan pulang mereka dari acara pernikahan kawan lama ayah Seulri. Gadis itu tidak bisa ikut dengan orang tuanya karena sedang mengikuti rangkaian ujian akhir SMU. Seulri sedang berada di sekolah saat ia menerima telepon mengenai kecelakaan naas itu, tanpa berpikir panjang ia segera mengambil ranselnya dan pergi ke rumah sakit tempat kedua orang tuanya dirawat.

Di rumah sakit, ia diinformasikan bahwa nyawa ibunya tidak bisa diselamatkan. Wanita itu kehilangan nyawa di lokasi kejadian sementara ayahnya terjebak di balik setir dan membutuhkan bantuan paramedis untuk memotong rangka mobil terlebih dahulu sebelum berhasi mengeluarkan tubuh ayahnya. Luka yang diperoleh ayahnya tidak terlalu parah, tapi cukup fatal karena menyerang system syaraf pada bagian tulang belakang.

Kejadian itu tidak hanya memberikan kesakitan fisik pada Tuang Kang, namun juga derita mental. Karena pria itu tahu, merupakan salahnya hingga mereka kecelakaan, dan ialah yang menyebabkan isterinya meninggal. Selama tiga bulan perawatan, tidak ada perkembangan berarti pada fisik dan mental Tuan Kang, ia menjadi sosok pendiam, ia menghindari obrolan dengan Seulri dan sekalipun mereka bicara, ia menjadi sosok sinis yang dingin—membuat Seulri merasa ia tidak hanya kehilangan ibunya, namun juga jiwa ayahnya sekaligus.

Kalau semua itu belum cukup untu membuatnya frustrasi, hanya tiga hari setelah pemakaman ibunya Seulri dihampiri oleh dua orang tengkulak yang membawa daftar hutang ibu Seulri pada mereka. Gadis itu tidak tahu-menahu masalah hutang ibunya, baginya wanita itu memang suka berbuat kasar tapi ia menafkahi keluarganya dengan sangat baik. Tapi baru setelah kedua tengkulak itu menjelaskan, Seulri paham. Ibunya sering pulang mabuk karena berjudi, dan ternyata ia hutang banyak pada seorang bos rentenir demi membayarkan kekalahannya selama ini.

Kala itu, Seulri hanya bisa memohon pada dua ajjushi mengerikan yang menagihnya. Meminta kelonggaran waktu agar ia boleh mencicil hutang ibunya sambil ia juga membayar tagihan rumah sakit ayahnya. Gadis itu menyembunyikan masalah ini rapat-rapat dari sang ayah, karena ia tidak mau ayahnya semaki stress dengan kondisi mereka.

Tapi ia hanya seorang remaja polos yang harus menanggung semua beban itu seorang diri.

Gadis itu ingat ia menangis keras-keras saat semesta membalik takdirnya dengan kejam. Ia baru berusia tujuh belas tahun, seharusnya ia menikmati masa remajanya, hidup dengan berbagai kecerobohan khas anak seusianya, seharusnya Seulri khawatir akan nilai-nilai di sekolah, bukan justru khawatir dengan tagihan yang tidak pernah berhenti jatuh ke tangannya. Seharusnya ia mengkhawatirkan kepulangan kekasihnya dari tugas wajib militer, ia sudah berjanji akan menjemput lelaki itu—tapi beginilah kenyataan hidupnya, ia harus menyelesaikan masalah yang jauh melebihi kapasitasnya.

Kalau boleh, Seulri memilih untuk menghampiri Kyuhyun. Menyambut pulang kekasihnya, melingkarkan lengan di seputar bahu lebar lelaki itu, menyembunyikan diri dalam pelukan nyaman Kyuhyun dan melupakan masalahnya sebentar saja. Namun ia tidak sanggup melakukannya.

Semakin terpuruk Seulri ke dalam masalah keluarganya, semakin ciut pula nyalinya untuk menemui Kyuhyun. Ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan kondisi keluarganya yang hancur, ia tidak tahu cara menjelaskan tentang sekolahnya yang terbengkalai, atau bagaimana ia harus menerangkan mengapa sekarang ia bekerja di dua restoran berbeda hanya untuk mencari uang yang cukup untuk membayar seluruh tagihan yang ada di tangannya.

Gadis itu kehilangan harapannya, ia kehilangan rasa percaya diri dan ia merasa tidak lagi pantas berada dalam hidup Kyuhyun yang sempurna.

Tentu saja ia tahu Kyuhyun akan membantunya, ia bisa bersandar pada kekasihnya, tapi ia pun tahu keluarga Kyuhyun akan langsung mempermasalahkan segalanya.

Meskipun kelihatannya orang tua Kyuhyun menerima kehadiran Seulri di tengah mereka, ia paham bahwa restu Nyonya Cho belum sepenuhnya dikantungi selama Seulri belum membuktikan bahwa ia sama terhormatnya dengan keluarga Cho—sesuatu yang sekarang sudah jauh dari jangakauan Seulri, karena jangankan malanjutkan kuliahnya, ijazah SMU pun harus direlakan gadis itu demi menjadi tulang punggung bagi ayahnya.

Dan sayangnya, keadaan semakin memburuk sejak malam itu.

.

.

Tbc…

 

 

Footnote:

[1] Rupture pada limpa akibat benturan.

[2] System pengskalaan trauma. Skala terenda 1 dan terburuk 5.

[3] Rongga di antara hati dan ginjal kanan.

[4] Alat untuk menyedot darah dan cairan.

 

 


Author’s note:

Ini ada flashback di dalam flashback, aduh aku pun bingung menjelaskannya… mudah-mudahan pada nyambung deh… mian…

Yang minta konfik, yang minta konflik… jangan protes kalau mulai chapter ini konflik mulu yaaa hahahaha… you get what you wished for.

Advertisements

78 thoughts on “Final Call – 6 [The Downfall]

  1. Bintangjoo says:

    Yah konfiknya udah mulai muncul dan dah agak sedikit tau klo seulri pergi gegara masalah kluarga.sumoah jd seulri kasihan bngt beban idup yg terlalu berat emak nya mati bukanya seneng eh.mlh ninggalin utang banyak.jd kyu sm seulri cuma salah paham dan seulri gk pernah mau jujur ke kyu.kasihan amat idupnya.lanjut kak semangat d tunggu updethanya slanjutnya 😉

    Liked by 1 person

  2. surisyeni says:

    campur aduk rasanya , seneng ibunya seulri meninggal dan tidak ada yg menyiksanya lagi tapi disisi lain juga sedih kasian seulri harus jadi tulang punggung keluarganya dan menanggung semua hutang ibunya 😢 bahkan sampai ngrelain masa sekolahnya yg udah ditingkat akhir dan rela harus berpisah denggan kyuhyun karena merasa tidak sebanding dengan kyuhyun 😢
    udah ah , nggak sabar nunggu lanjutannya kak 😂

    Liked by 1 person

  3. trinoviwulandari says:

    Aaaaaaaaaaa aku suka
    Sudah banyak paham sekarang
    Kyuhyun salah paham dengan kepergian seulri,dan seulri juga kehilangan percaya diri untuk ketemu dgn kyuhyun ttg keluarga nya
    Semangat buat hidup seulri

    Liked by 2 people

  4. imgyu says:

    aku kayaknya faham sama yang dimaksud semakin buruk setelah ini :d apa ini alesan mereka mulai renggang bahkan pisah? Tp yang buat bingung apa kyuhyun udah tau tentang kejadian kecelakaan keluarganya seulri?

    Liked by 1 person

  5. ddianshi says:

    Akhirnya terungkap sudah kenapa dan sebab akibar seulri kecelakaan huuffttt kyu waeyo? puas sekarang seulri sekarat karna ulahmu 😥 huwwaa 😥 kenapa harus senyesek ini eonni 😥 kasian seulrinya harus menanggung beban yang sangat berat 😦 harusnya kyu jangan pantang menyerah untuk mencari seulri -_-

    Like

  6. MarooKyu88 says:

    Saya tahu sekarang..
    Kyu yg salah paham dg kepergian seulri,dia merasa dicampakan tanpa alasan.

    Dan seulri udah nggak percaya diri buat menamppakan diri dihadapan kyuhyun.
    Dan masalah keluarga seakan nggak pernah kelar dijalani seulri.

    Tapi kok yaa..usaha kyu menirut aku kurang maksimal.
    Kyu yg udah thu kehidupan seulri luar dalam tp knapa g trlintas kalo ada yg g beres dg seulri & kluarganya. Dia main simpul yg buruk ttg seulri, padahal banyak simpul-simpul baik ttg seulri yg seharusnya kyu yakini itu, buat nunggu seulri.

    Mungkin karena kepet seulri mencari jalan pintas di mana itu semua menjadi duduk masalahnya.

    apa langkah yg diambil seulri bt byr utangnya ?? bt selesein masalah ?

    Pasti salah langkah makanya kyu murka.

    Liked by 1 person

  7. wienfa says:

    pnasaran sm prmntaan maaf seulri k kyu,sbnrnya apa yg d lkuin nya mpe dy kyak ny bkin kyu kcewa bgt n mnta maaf sgtu nya?ataukh kslhn ny yg d msa lalu itu yg ninggln kyu tnpa kata n pamit.andai kyu gk trlalu fkus sm cita2 ny n nyri seulri,mngkin ksalah pahaman gk kn trjdi.ibu kjam trnyt udh mninggl,tp kok ayah ny mlah kritis gt sih..psti seulri syhok bgt br 17thn ngdpin mslh brtubi2.

    Liked by 1 person

  8. BaisahChoi says:

    Sedih Anjir dari awal gW udah bakal ngira ini ff sedih
    Cuma gW fikir bakal si KYU Yg meninggalkan si seulri TAUNYA si seulri sendiri

    Terlalu kejam kehidupan untukmu nak
    Nangis ini mah udah gak kuat

    Jangan jangan si seul jadi pelacur lagi omg No

    Liked by 1 person

  9. omiwirjh says:

    Berasa kaya nasi padang sua rasa cpur aduk 😭😭. Terlalu kejam untuk ukuran Seulri dan Kyuhyun malah stop cari seulri 😭. Apa ini alasan kenapa seulri milih pekerjaan yg menyesatkan?

    Liked by 1 person

  10. Iim.harianto1 says:

    Oo,,kyuhyunx slah pham thu dia kira seulri ninggalin dia & kyu ngrsa dcmpakan.
    Kasian seulri smuda itu dia uda dpt tekanan idup yg brat trlebih sikap ayahx yg jd lbh bnyk diam sjak kcelakaan.
    Trus,,ap yg bwt seuri mnta maf ma kyu ea

    Liked by 1 person

  11. Levi royanti says:

    Beneran aku nyampe berkaca-kaca baca paragraf-paragraf terakhir. Aku bisa ngebayangin gmna bingungnya seulri buat ngejalanin hidupnya. Dia baru 17 tp udah mikul beban hidup org2 dewasa

    Liked by 1 person

  12. ama@0224 says:

    nasib sulri knp rumit bgt yaa….perbedaan latar belakang dengan kyuhyun membuat seulri menghindar dan tidak menemui kyuhyun,,,tp kenapa kyu tidak berpikir positif ttg seulri,,,dia lebih memilih menyerah dengan hubungannya tanpa tau apa yag terjadi dengan kekasihnya

    Liked by 1 person

  13. Cho Sarang says:

    Tragis amat nasib seulri. Di preview aku udah bertanya – tanya hal apa yang menyebabkan seulri terpisah dari kyuhyun sepuluh tahun lamanya. Dan hal apa yang membuat seulri menjadikan dirinya wanita hina. Ternyata semua karena nasib buruk yang menimpanya dan tak mampu untuk dipikul untuk gadis berusia 17 tahun

    Liked by 1 person

  14. dfhcsw says:

    setelah terbebas dari siksaan ibunya yg jahat dia malah kena ujian yang berat banget. kasian banget seulri harus kehilangan ibunya, ngrelain sekolah dia dan kyuhyun jadi tulang punggung keluarga juga buat lunasun hutang dan biaya pengobatan ayahnya. kasian banget ya ampun jadi seulri 😭 udah mulai ada pencerahan mengenai hubungan seulri dan kyuhyun kenapa beda banget dulu dan sekarang ternyata ini salah satu faktornya. kenapa kyuhyun nyerah sih nyari seulri dan kenapa seulri nggak datengin kyuhyun aja seenggaknya kalo seulri datengin kyuhyun nggak bakal ada salah paham dan seulri ada tempat untuk berkeluh kesah jugakan

    Like

  15. yoongdictasticgorjes says:

    Ya ampun cobaan dtng silih berganti, dan seulri harus banting tulang demi kesehatan ayahnya pdhl dia msh remaja tpi dia mengalami hal sperti itu, nyesek bgt bacanya,,disatu sisi hub dia sama kyuhyun udh diujung tanduk,,lengkaplah sudah..

    Liked by 1 person

  16. Dewiastiti says:

    Heemm konflik na ga nanggung2 thor😜😜😜😜 kaya d dunia nyata . Trpaksa dh seulri say good bye dulu ma cinta na n fokus ma hidup n derita na sndirian…😞😞😞

    Liked by 1 person

  17. Dyana says:

    Nangis pas bagian masa depan, sebenernya ada apa? Apa Seulri menghianati Kyu hingga Kyu marah, trus pilihan masa depan? Apa Kyu mau nikah sm cewek lain? Wuah semaki penasaran.
    Dan di masa lalu, itu adalah awal kesalapahamankah? Apa setelah itu mereka bertemu lagi dalam keadaan yang beda??
    Sumpah kak, ni ff sll bikin penasaran tiap part…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s