Stockholm Syndrome – 6 [Say the Magic Word]

 

stockholm-syndrome-6

Author: Ssihobitt

Category: Short story, NC-21

Main Cast: Park Hyerin & Cho Kyuhyun

(Silakan baca ngurut dari part 1. email yang minta password tidak akan aku balas, karena petunjuk dan jawabannya sangat jelas tercecer di beberapa menu di WP ini)

 

Sejak malam, gadis itu tidak bisa tidur nyenyak. Pertama karena dirudungi rasa penasaran berlebih tentang destinasi yang dibilang Kyuhyun sebagai kado ulang tahunnya yang sangat terlambat itu dan kedua karena janin dalam kandungannya mulai menendang kembali saat tengah malam.

Karena sudah bingung dengan apa yang akan dilakukannya, Hyerin memutuskan untuk mandi dan mempersiapkan berbagai keperluan yang mungkin akan ia butuhkan dalam satu hari ke depan. Karena Kyuhyun jelas bilang ia harus membawa baju tambahan untuk acara menginap satu hari.

“Oppa, bagun. Kau bilang kita berangkat pagi-pagi, mengapa kau masih asik mendengkur di situ.” Hyerin menggoyang tubuh Kyuhyun untuk kesekian kalinya.

“Aku lelah.” Jawab Kyuhyun dengan suara serak.

“Jadi acara kita batal?” Gadis yang sudah terbiasa dikecewakan itu menyahut lesu.

Kyuhyun menolehkan wajahnya untuk menatap Hyerin, melawan kantuk yang masih melandanya. Gadis yang dipandangi sekarang menatap balik penuh dengan rasa kecewa yang terpapar jelas di wajahnya. “Kenapa kau manyun seperti itu? Acara kita tidak batal, sayang.”

“Lalu kenapa kau masih tidur? Padahal semalam kau yang mewanti-wanti kalau kereta kita berangkat pukul 6 pagi, sekarang sudah jam 5 lewat, oppa.” Rengeknya dengan mulut yang semakin manyun.

“Masih banyak waktu.”

“Ya!”

“Aish, baiklah. Aku bangun.” Kyuhyun mengangkat tubuhnya untuk ikut duduk di tepi ranjang di samping Hyerin. “Jangan merajuk pagi-pagi, Hye. Nyawaku belum terkumpul untuk mendebatmu.” Ia mengecup pelipis Hyerin lembut sambil terkekeh.

“Aku tidak bisa tidur semalaman karena terlalu bersemangat, jadi jangan salahkan aku yang akan terus merengek sampai kau bangun.” Sahut Hyerin manja. “Bersaplah, oppa. Sebantar lagi jam 6.”

Pria itu mengecup Hyerin sekali lagi, membelai perutnya yang membuncit dengan sayang sebelum mengikuti kata perintah yang dilontarkan padanya. Sebenarnya bukan hanya Hyerin yang tidak bisa tidur nyenyak, tidur Kyuhyun pun terganggu.

Ia sudah menyiapkan kado ini jauh sebelum mereka terlibat masalah, bisa dikatakan kado ini adalah bentuk permintaan maaf Kyuhyun atas perlakuannya yang dulu, cara Kyuhyun untuk mengobati luka yang ia torehkan pada gadis lugu yang hidupnya sudah ia porak-porandakan tanpa ampun. Pria itu terinspirasi dari cerita Hyerin tentang masa kecilnya dan ia memutuskan untuk berbuat sesuatu untuk memenuhi salah satu impian yang Hyerin dambakan sejak kecil. Terdengar seperti ide yang bagus di kepalanya, tapi ia tidak pernah tahu apakah gadis itu akan menyukai ide ini atau justru benci sepenuhnya.

Kyuhyun melangkah keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk, sementara Hyerin sudah duduk manis di armchair yang ada dalam kamar mereka dengan mata berbinar-binar, layaknya anak kecil yang mau diajak piknik oleh orangtuanya.

“Oppa, jangan berpose di situ, cepat ganti bajumu.” Ia menunjuk pada jam dinding di kamar mereka.

Pria itu mendengus geli lalu berjalan mendekati gadisnya, ia berjongkok di hadapan Hyerin dengan seringai menyebalkan sebelum menempelkan bibir mereka lembut. “Kau benar-benar seperti anak SD mau pergi piknik.” Ledek Kyuhyun.

“Nah, kau tahu kan anak SD itu pasti tidak sabaran sekarang. Cepat pakai baju, jangan goda aku.” Gadis itu mendorong bahu Kyuhyun menjauh sambil menunjuk lemari pakaian mereka.

“Arraseo.” Ia mengecup Hyerin sekali lagi sebelum bangkit. “Ah, jangan lupa bawa paspor kita, Hyerin-a.”

“Paspor?” Gadis itu membelalak heran. “Kita akan keluar perbatasan?”

Kyuhyun mengangguk sambil memasukkan kedua kakinya bergantian ke dalam celana jins bewarna gelap. “Ada berita yang mungkin membuatmu agak kesal, Agen Flourent akan ikut bersama kita—seperti biasa.”

Hyerin memutar matanya kesal. “Kukira kita akan berkencan berdua saja.”

Pria itu mengengenakan cardigan panjangnya lalu kembali berjongkok di hadapan Hyerin. “Aku juga maunya begitu. Tapi dia bisa dikatakan bodyguard kita sekarang. Tenang saja, aku sudah menegaskan dia hanya boleh berada 200 meter jauhnya dari kita.”

“Tetap saja.” Gadis itu kembali merajuk.

“Lagipula aku yakin dia akan kesal sekali dengan tempat tujuan kita hari ini.” Kyuhyun terkekeh geli. “Ayo kita ke stasiun, perjalan masih lima jam menuju tempat tujuan.”

Hyerin menghela napas pasrah, ia bangkit untuk mengikuti langkah Kyuhyun ke depan pintu gerbang mereka. Benar saja, Agen Flourent sudah menanti mereka di depan, lengkap dengan penyamaran sempurna sebagai pria kasual yang akan pergi berlibur.

“Selamat pagi Shin Taesung, selamat pagi Oh Byunha.” Pria keturunan Perancis itu menyapa Kyuhyun dan Hyerin dengan nama samaran mereka. “Kuharap lidah kalian tidak terpeleset hari ini, terutama di bagian imigrasi nanti.”

“Selamat pagi juga, Andrè.” Kyuhyun menyapa Agen itu dengan nama depannya. “Kau siap berlibur bersama kami sepertinya. Pastikan tetap menjaga jarak sesuai kesepakatan kira, oke? Isteriku tidak suka dibuntuti olehmu dalam acara kencan personal ini.” Pria itu merangkul bahu Hyerin protektif sambil menuntun langkah mereka menuju stasiun kereta.

Wajah Hyerin tersipu mendengar kata kepemilikan yang Kyuhyun tegaskan. Meskipun status mereka bisa dibilang masih samar, kadang ia merasa pria itu memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Tapi Hyerin tetap mawas diri, jika dulu Hyerin hanya diam dan menuruti semua kata-kata Kyuhyun, sekarang ia belajar untuk membuat back-up plan kalau-kalau situasi kembali memburuk.

“Pastikan juga kalian tidak berbuat ulah, atau aku akan kembali membututi kalian dari jarak sedekat ini.” Jawab agen itu cuek.

Hyerin yang tidak tahu apa-apa hanya menurut saja digiring Kyuhyun. Sejak kasus yang melibatkan baku tembak dengan ayahnya, gadis itu mulai terbiasa untuk selalu waspada. Bahkan kalau boleh jujur, ia sebenarnya tidak keberatan dengan keberadaan Florent di sekitar mereka, tapi kalau agen itu harus membututi mereka di waktu kencan mungkin opini Hyerin sedikit berubah.

Sesuai schedule, mereka berhasil ikut dengan kereta cepat DB yang akan membawa mereka keluar perbatasan. Hyerin masih menebak-nebak ke mana mereka akan pergi, karena Kyuhyun hanya menariknya dari satu peron ke peron lain sehingga Hyerin tidak sempat membaca apa pun yang tertera di badan kereta. Tapi gadis itu tidak protes. Hyerin mesuk ke dalam gerbong yang Kyuhyun tunjuk, masuk ke dalam kompartemen yang kebetulan hanya diisi oleh mereka berdua dan menyandarkan tubuhnya ke sisi tubuh Kyuhyun yang kini merangkulnya, menikmati pemandangan matahari terbit menyinari tanah hijau Swiss yang tersohor akan keindahannya.

“Oppa, kita mau ke mana?” Gadis itu kembali berceloteh. “Tunjukkan aku tiket kita, aku mau tahu arah tujuannya.” Tapa permisi Hyerin langsung merogoh ke dalam kantung jaket Kyuhyun.

“Kau ini tidak sabaran sekali. Nikmati saja pemandangan ini, nanti juga kau tahu kita akan kemana.”

“Marne-La-Valee? Itu di mana?” Hyerin membaca tiket di tangannya.

“Kau tidak tahu?”

Gadis itu menggeleng lugu.

Kyuhyun terkekeh lega, setidaknya kalau Hyerin tidak tahu, kejutannya akan sedikit lebih berkesan nanti saat mereka tiba. “Nanti kau akan lihat sendiri. Sudahlah, kau bilang ingin melihat pemandangan Swiss yang selama ini kutunjukkan pada peserta tur, aku sengaja memilih jalur kereta supaya kau bisa menikmatinya. Daripada kau memandangi tiket itu, lebih baik kau lihat pemandangan di luar jendela.” Kyuhyun mengambil tiket dari tangan Hyerin dan kembali memasukkan ke dalam sakunya.

“Aku semakin penasaran.” Ia menggeser duduknya agar bisa menatap mata Kyuhyun dengan leluasa. “Kau bilang kado ini sudah kau persiapkan sebelum kasus penembakan itu?”

Pria itu mengangguk.

“Jadi kau memang berniat membawaku ke Marne… apa lah itu sejak dulu?”

Kyuhyun mengangguk lagi.

“Kau berniat mengajakku ke daratan Eropa sejak dulu?” Tekan Hyerin lagi.

“Ng.” Kyuhyun menarik napas dalam. “Aku memang tidak yakin kau akan setuju dengan usulku, apalagi kau juga bilang penjagaan di rumahmu ketat sekali. Tapi aku ingin sekali mengajakmu ke sana, aku ingin menunjukkan tempat ini padamu.”

“Karena?”

Pria itu tersenyum sambil menyubiti pipi Hyerin yang menggemaskan di matanya. “Karena aku ingin melihatmu tersenyum bahagia.”

Gadis itu mencoba mencerna kata-kata Kyuhyun. Memang yang diucapkan pria itu terdengar manis sekarang, namun kalau ia menarik mundur timeline pertemuan mereka, apa yang diungkapkannya justru tidak terdengar masuk akal. Saat itu bukankah Cho Kyuhyun sedang sibuk menyiksa Hyerin secara lahir dan batin demi mendapatkan kakaknya kembali? Bukankah pria itu bersikeras bahwa ia akan menikahi kakaknya? Bagaimana mungkin pada saat yang bersamaan ia justru merencakan sebuah kado manis yang melibatkan perjalanan ke Eropa seperti ini?

“Kau sedang berpikir keras sekarang, ng?” Kyuhyun mengusap dahi Hyerin yang tertekuk dalam. “Apa yang kau pikirkan?”

Hyerin menggeleng. “Entahlah, di satu sisi kau terdengar seperti pria yang romantis, tapi di sisi lain aku ingat bahwa pada saat itu kau masih memusatkan ambisimu untuk mendapatkan—”

“Kan sudah kubilang, sejak awal aku sudah tahu bahwa kakakmu itu tidak akan kembali padaku.” Tukas Kyuhyun kesal. Pria itu menarik napas dalam, rencananya hari ini hanya membuat Hyerin senang, mengapa mereka harus kembali membahas masa lalu yang pahit itu?

“Lalu. Kenapa kau masih menyekapku?” Tantang Hyerin. “Kalau kau tahu usahamu itu akan sia-sia, mengapa kau bersikeras menahanku dalam apartemenmu?”

Because I enjoy your company.” Jawab Kyuhyun singkat. “Mungkin pada hari-hari awal aku memang masih menjadikan ambisi tolol itu sebagai tujuanku, tapi aku pun tidak bisa memungkiri bahwa hatiku melunak padamu. Seumur hidupku, aku hanya menjalin hubungan serius dengan tiga wanita, salah satunya adalah kakakmu. Lalu kau datang, dan menawarkan sesuatu yang tidak pernah kudapatkan dari wanita mana pun sebelumnya—ketulusan.”

“Ne?”

“Aku menyiksamu seperti orang gila, aku menyakitimu, aku mencoreng kehormatanmu, aku berkata kasar padamu, namun kau tetap menyambut kepulanganku dengan senyum lebar di wajahmu.” Jelas Kyuhyun. “Alih-alih benci padaku, kau justru membuka dirimu, mengisahkan cerita masa kecilmu, kau bahkan mengajarkanku cara lain untuk memandang dunia melalui kacamatamu yang lugu. Tapi kau tahu apa yang membuatku luluh? Kau membuatku tertawa. Sudah lama sekali rasanya aku tidak tertawa lepas seperti yang sering kulakukan bersamamu.”

Hyerin memandangi Kyuhyun heran, pria di hadapannya menatap balik dengan pandangan sendu.

“Apa kau ingat seberapa protektif aku memelukmu di malam terakhir aku menyekapmu? Kau bahkan protes karena pelukanku membuatmu sesak napas.”

Gadis itu mengangguk setuju.

“Itu karena aku tidak siap jika harus melepas kenyamanan yang kau berikan.” Kyuhyun mendengus sinis. “Bodoh sekali bukan? Mulutku terus berujar bahwa aku tidak mencintaimu sedangkan hatiku sudah menyadarinya lebih awal.”

“Oppa, mengapa kau tidak mengatakannya sejak dulu? Mengapa kau justru bersikeras membuatku percaya bahwa kau membenciku?”

“Karena aku bodoh.” Kyuhyun menyeringai sinis. “Meskipun aku tidak pernah mengira kebodohanku itu justru akan membahayakanmu. Baru saat aku nyaris kehilangan sosokmu dari hidupku, aku menyadari perasaanku.”

“Kalau aku mati—”

Kyuhyun membungkam mulut Hyerin dengan ciumannya. “Jangan sebut kata itu, kumohon. Aku tidak bisa membayangkan apa yang harus kulakukan dengan hidupku jika itu sampai terjadi, kumohon, jangan katakan itu lagi.”

Hyerin memejamkan matanya, menikmati kembali ciuman Kyuhyun yang terasa sangat protektif di atas bibirnya. Rangkulan pria itu berubah menjadi pelukan erat di sekitar tubuhnya dan gadis itu bisa menangkap semua rasa penyesalan yang Kyuhyun coba sampaikan selama ini.

“Aku mencintaimu, Hyerin-a.” Bisik Kyuhyun diantara ciumannya. “Aku mencintaimu, aku mencintai hubungan kita, aku mencintai kehidupan baru kita di sini. Kumohon, bisakah kita menatap ke depan? Bolehkan dengan egoisnya aku memintamu untuk melupakan masa lalu kelam kita?”

Gadis itu menggigit bibirnya, mengangguk pelan sambil membelai wajah Kyuhyun yang telihat semakin muram. “Maafkan ulahku selama ini, oppa. Pasti kau sangat frustrasi dengan semua sikapku yang terus meragukanmu.”

Pria itu terkekeh. “Aku pantas mendapatkannya, itulah sebabnya aku bilang bahwa aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan kembali cintamu.”

Kali ini gantian Hyerin yang mencubit pipi Kyuhyun dengan gemas. “Kau pikir perasaanku padamu pernah lenyap?”

Kyuhyun mengangguk polos.

“Cih, kukira kau itu jenius.” Hyerin meledek Kyuhyun dengan cengiran bandel di wajahnya.

“Aku ini jenius dalam hal yang berurusan dengan nalar, kuakui aku agak lambat dengan urusan perasaan.” Kyuhyun mengacak rambut Hyerin gemas dan kembali merangkul gadisnya erat. “Jadi kalau boleh kusimpulkan, perasaanmu tidak berubah?”

Hyerin mengangguk mengkonfirmasi.

“Jadi kau masih mencintaiku?” Bisik Kyuhyun di telinganya.

Hyerin tersenyum simpul, ia mendekatkan wajah mereka untuk memberikan Kyuhyun kecupan singkat di bibir tebalnya, sebelum kembali memandang pemandangan Swiss di luar jendela kereta.

 

*

 

Cara Hyerin menanggapi perjalan mereka tidak jauh berbeda dengan anak SD yang pergi piknik, mereka berceloteh dengan semangat di awal perjalanan, sibuk mengemil apa pun yang Kyuhyun belikan dari gerbong makanan, dan sisa perjalanan dihabiskan dengan tidur. Kyuhyun hanya terkikik geli melihat usaha gigih Hyerin untuk menahan kantuk saat mereka memasuki perbatasan Perancis, hanya lima menit setelah gadis itu tuntas melahap sandwichnya, Hyerin sudah berhibernasi dalam pelukan Kyuhyun yang nyaman.

Baru dua jam kemudian mereka tiba di stasiun terakhir yang menjadi lokasi kejutan Kyuhyun berada. Pria itu harus menggoyangkan tubuh Hyerin beberapa kali untuk membangunkannya, lalu menggiring gadis yang masih setengah mengantuk itu keluar dari stasiun megah di bagian utara kota Paris untuk memamerkan kado yang ia persiapkan sejak lama.

“Oppa, mengapa tanganmu dingin sekali?” Hyerin meremas tangan Kyuhyun yang menggenggamnya.

“Aku takut kau tidak suka dengan kadoku.” Jawabnya jujur.

“Apa masih jauh perjalanan kita?” Ia mengikuti langkah Kyuhyun yang menuntunnya menuju pintu keluar stasiun.

Pria itu menggeleng, menarik tangan Hyerin untuk berbelok di depan pintu utama stasiun dan ia segera melebarkan kedua tangannya di udara dengan bangga. “Selamat ulang tahun, sayang. Aku tahu kado ini telat tapi selamat menikmati semua atraksi yang bisa kau nikmati di sini!”

Hyerin menatap bingung pada Kyuhyun, namun arah pandangannya perlahan beralih pada tulisan besar yang menyambut mereka tepat di luar stasium kereta. Sontak mulutnya menganga kaget, matanya jadi berkaca-kaca dan tak lama kemudian senyum konyol muncul di wajahnya. “Oppa, kau mengajakku ke Disneyland?!”

Kyuhyun bercacak pinggang sambil mengangguk bangga. “Kau suka kejutanku?”

“Disneyland? Kau benar-benar mengajakku ke sini?” Air mata bahagia menggenang di pelupuknya.

“Kau boleh memilih main apa pun yang kau inginkan, membeli pernak-pernik yang mau kau koleksi, makan apa pun yang kau mau. Hanya satu yang tidak boleh kau kerjakan, yaitu naik wahana yang tidak aman untuk wanita hamil.”

Hyerin membekap mulut dengan kedua tangannya, kedua kaki gadis itu menghentak tanah kegirangan dan jelas air mata bahagia sekarang sudah menetes dari pelupuknya.

“Kau suka kadoku?” Kyuhyun mendekati Hyerin untuk menghapus air mata di wajah kekasihnya. Senyum bangga tidak bisa ia sembunyikan dan dalam hati Kyuhyun merasa sangat lega karena Hyerin menanggapi kadonya sesuai harapan.

Gadis itu mengangguk cepat sebelum melingkatkan tangannya di sekitar pinggang Kyuhyun. “Oppa, kau benar-benar berniat mengajakku ke sini sejak dulu?”

Kyuhyun mengecup puncak kepala Hyerin sambil mengiyakan. “Aku sudah berniat mengajakmu kabur dari Korea sejak dulu, sayang. Bukan sebagai buronan seperti sekarang tentu saja, dengan cara yang lebih elit dan tidak menegangkan, tanpa agen rewel yang mengikuti kita ke mana pun. Tapi untuk saat ini, hanya ini yang mampu kuberikan untukmu.”

Hyerin membenamkan wajahnya di atas dada Kyuhyun, memeluk pria itu seerat yang ia bisa. “Aku senang sekali, oppa. Terima kasih.”

“Ayo kita masuk. Kau pasti sudah tidak sabar bermain di dalam, kan?” Pria itu kembali menarik tangan Hyerin ke arah gerbang masuk.

“Pasti tidak ada wahana yang bisa kumainkan.” Gadis itu menggerutu sambil membelai perutnya. “Tapi tidak masalah, masih ada pawai dan banyak hiburan lainnya, kan?”

“Jangan protes, mana aku tahu kau akan hamil lima bulan saat aku mengajakmu ke sini.” Kyuhyun mencubit hidung Hyerin gemas. “Nanti aku akan mengajakmu lagi ke sini, dengan anak kita, dalam keadaan yang lebih aman dan nyaman. Maaf juga karena aku bukan mengajakmu ke cabang yang di Amerika.”

Hyerin menggeleng. “Kau bercanda? Ini lebih dari cukup, oppa. Aku tidak peduli cabang mana, selama kau bersamaku.”

Senyum bahagia di wajah Hyerin tidak bisa disembunyikan. Gadis itu menarik tangan Kyuhyun dengan tidak sabar agar mereka segera masuk ke dalam. Bagaimana mungkin pria itu mempertimbangkan tempat ini sebagai kado yang sempurna baginya? Bagaimana cara Kyuhyun mengetahui bahwa tempat ini adalah cerminan pilu masa kecilnya yang tidak pernah tersampaikan? Gadis itu hanya pernah cerita sekilas tentang impiannya pergi ke Disneyland, tapi ia tidak menyangka Kyuhyun akan menanggapi dengan serius bahkan sampai berniat mengajaknya ke sini.

Kyuhyun boleh berbangga atas ide briliannya.  Walaupun ia harus melalu prosedur merepotkan dan perdebatan sengit akibat keadaan mereka yang terikat pada aturan Interpol, Kyuhyun berhasil meyakinkan Agen Florent bahwa tiket berlibur yang dibelinya jauh-jauh hari itu tidak terbuang percuma.

Gadis di sampingnya kini meneliti denah taman bermain di tangannya dengan antusias, mencari-cari wahana mana yang bisa ia naiki tanpa membuat Kyuhyun cerewet masalah kehamilannya—wahana yang sebagian besar berada di area Fantasy Land, yang memang diperuntukkan untuk anak-anak.

“Oppa, aku pasti muntah kalau naik Alice Tea Cup, aku tidak mau naik si gajah terbang ini, aish! Beri aku ide apa yang bisa kunikmati.” Hyerin mulai gusar.

“Aku juga baru pertama kali ke sini, sayang. Kita kelilingi saja taman ini, kalau kau ingin bermain aku akan menemani, kalau kau ingin makan sesuatu tunjuk saja, atau kau mau membeli semua souvenir di sini juga silakan—you’re the princess.” Kyuhyun merangkul bahu Hyerin sambil menggiring gadis itu ke wahana pertama yang terlihat aman untuknya.

Hyerin melingkarkan kedua lengannya di seputar pinggang Kyuhyun, berjinjit agar bisa menggapai wajah pria itu sebelum memberikan kecupan di atas bibirnya. “Terima kasih. Aku suka kadomu.”

“Benarkah? Kau tidak kesal karena aku mengajakmu ke sini saat perutmu sudah membesar seperti sekarang?” Pria itu otomatis tersenyum sambil membelai perut Hyerin sayang, jarang sekali seorang Hyerin memperlakukannya seperti seorang kekasih yang romantis.

“Kita di sini sampai malam bukan?”

“Aku membeli tiket terusan untuk dua hari, sayang. Aku khusus membawamu hari ini ke sini karena pertunjukkan kembang api spektakuler khas Disney itu dijadwalkan di hari ini. Jadi kalau kau merasa lelah, kita ke hotel saja nanti lalu kembali ke sini saat pertunjukan mulai, oke?”

HYerin mengangguk senang, ia tidak peduli wahana apa yang bisa dinaikinya, ia bahkan tidak peduli kalau mereka hanya bisa berjalan-jalan saja di dalam taman bermain itu. Baginya bertemu dengan tokoh-tokoh kartun favoritnya sejak kecil sudah menjadi pengalaman tersendiri. Tentu saja jiwa kekanakan dan jahil Hyerin terpancing saat ia melihat sepasang bando telings Mickey dan Minnie, ia hanya perlu menatap Kyuhyun dengan pandangan memohon agar pria itu membelikan Hyerin apa yang diinginkannya—sekaligus memaksa Kyuhyun menggunakan bando yang sama dengannya.

Kyuhyun sendiri tidak keberatan dengan segala atribut yang melekat pada dirinya sekarang, gadis di sampingnya terus tersenyum lebar pada setiap atraksi dan pertunjukan yang diberikan sepanjang mereka berkeliling di tempat itu. Melihat lebarnya senyum di wajah Hyerin membuat pria itu merasa bahwa usaha kerasnya tidak sia-sia, membuatnya merasa sedikit lebih pantas untuk menggenggam tangan gadis itu dan membuat rasa percaya dirinya meningkat tentang rencana yang sudah ia siapkan dengan rapi bersama Agen Florent.

Namun ia masih memiliki cukup waktu untuk menyempurnakan rencananya. Kyuhyun harus bersabar sambil menemani gadisnya berkeliling sambil mencari atribut terakhir yang ia butuhkan untuk urusan final mereka malam itu.

 

*

 

Gadis itu menyandarkan punggungnya pada dada Kyuhyun, membiarkan tangan pria itu melingkar di seputar perutnya sembari memeluk dari belakang. Kedua matanya kini menatap dengan binar kekaguman ke arah kastil yang menyala megah di tengah taman bermain anak-anak itu. Pawai baru saja dimulai, semua tokoh-tokoh dongeng dalam cerita-cerita yang sejak dulu dibacanya keluar dari pintu kastil satu persatu, menyapa audience yang sudah menanti mereka sejak sore tadi.

“Oppa, keren sekali.” Bisik Hyerin dengan suara dan tubuh yang bergetar.

Pria itu mengangguk. “Kau kedinginan, Hye?” Dengan sigap ia melepas mantelnya untuk diselimutkan pada tubuh Hyerin.

“Aku merinding.” Jawab Hyerin singkat. “Aku tidak pernah berani berkhayal tinggi-tinggi untuk bisa pergi ke tempat ini, aku masih setengah tidak percaya sejujurnya.”

“Bahwa kau di sini?”

Hyerin mengangguk. “Oh! Kembang apinya dimulai.”

Pria itu mengecup pelipis Hyerin sembari mengeratkan pelukannya. “Kau tahu, setiap hari mereka melakukan pertunjukan ini, dengan tema Disney princess yang berbeda-beda. Alasan aku mengajakmu tepat di hari ini, karena kisah princess yang ditunjukkan hari ini sangat menggambarkan dirimu.”

Hyerin menoleh pada Kyuhyun dengan dahi berkerut bingung. “Princess yang mana, oppa? Ugh kuharap bukan Cinderella! Aku benci sekali dengan dia.”

“Mengapa?”

“Entahlah, pola pikirnya masih terlalu kuno.” Tukas Hyerin cuek.

Pria itu hanya terkekeh. “Tenang saja, bukan Cinderella yang kumaksud. Ah! Diamlah, dengarkan lagu pengiring kembang api itu baik-baik.”

Hyerin menurut, ia kembali menatap kastil megah yang kini juga diramaikan dengan pertunjukkan kembang api meriah, dengan percikan api yang disesuaikan dengan lagu pengiring yang mulai terdengar di seanterio taman bermain.

 

All those days watching from the windows, all those years outside looking in, all that time never even knowing just how blind I’ve been

(Hari-hari yang kulalui dengan menatap jendela, melihat segala sesuatu dengan terbalik, selama ini tidak menyadari seberapa buta aku menjalani hidup)

Now I’m here, blinking in the starlight. Now I’m here, suddenly I see. Standing here, it’s all so clear I’m where I’m meant to be

(Kini aku bersinar bersama kerlip bintang. Sekarang aku bisa melihatnya dengan jelas saat berdiri di sini bahwa aku berada di tempat yang seharusnya)

And at last I see the light, and it’s like the fog has lifted

(Seeolah kabut terungkap, kini aku melihat cahaya)

And at last I see the light, and it’s like the sky is new

(Akhirnya aku melihat cahaya, dan seolah langit terlihat baru)

And it’s warm, and real, and bright, and the world has somehow shifted

(Rasanya hangat, nyata, dan terang, dan duniaku juga telah bergeser)

All at once everything looks different, now that I see you

(Secara bersamaa seluruh duniaku terlihat berbeda, karena sekarang aku melihatmu)

 

“Kau pandai memilih momen, oppa.” Komentar Hyerin pada verse pertama lagu I See Light dari film Rapunzel. “Aku suka sekali lagu ini.”

“Shh, dengarkan lirik yang dinyanyikan sang pangeran.” Kyuhyun berbisik gusar sebelum ia ikut bersenandung di samping telinga Hyerin.

 

All those days chasing down a daydream, all those years living in a blur, all that time never truly seeing things the way they were.

(Hari-hari yang kulalui untuk mengejar mimpi semu, tahun-tahun buram yang kulalui, waktu yang dulu kuhabiskan untuk melihat segala sesuatu tanpa memahami makna)

Now she’s here shining in the stralight, now she’s here suddenly I know, if she’s here, it’s crystal creal I’m where I’m meant to go

(Sekarang ia di sini, bersinar bersama kerlip bintang, ia di sini dan aku pun sadar, jika ia di sini maka segalanya sangat jelas bahwa aku berada di tempat yang seharusnya)

And at last I see the light, and it’s like the fog has lifted

(Seeolah kabut terungkap, kini aku melihat cahaya)

And at last I see the light, and it’s like the sky is new

(Akhirnya aku melihat cahaya, dan seolah langit terlihat baru)

And it’s warm, and real, and bright, and the world has somehow shifted

(Rasanya hangat, nyata, dan terang, dan duniaku juga telah bergeser)

All at once everything looks different, now that I see you

(Secara bersamaa seluruh duniaku terlihat berbeda, karena sekarang aku melihatmu)

 

Tanpa disadari, wajah Hyerin sudah basah oleh air mata haru. Apa yang dilihatnya begitu indah dan nyata, apa yang dilantunkan pria yang sedang memeluknya terdengar sangat manis, dan buncahan kebahagiaan dalam hatinya tidak lagi bisa Hyerin tampung.

“Hye, jangan menangis.” Kyuhyun membalik tubuh Hyerin, mengahapus air mata gadis itu dengan jemarinya.

“Oppa, pernahkah kau merasa sangat bahagia sampai hatimu rasanya mau meledak?” Hyerin terkekeh ditengah isakannya.

“Kau bahagia sekarang?”

Hyerin mengangguk cepat. “Aish, ini cliché sekali. Kau benar-benar memperlakukanku seperti seorang princess satu hari ini, mengajakku ke tempat ini, membuatku menyaksikan semua ini dan membuatku menangis bahagia. Jahat sekali.”

Kyuhyun memanyunkan bibirnya. “Jahat?”

“Kalau kau terus melakukan ini, bisa-bisa aku mulai percaya dengan kisah fairytale dan ending cliché yang mereka miliki.”

Happily ever after?”

Hyerin mengangguk. “Itu tidak terjadi di dunia nyata.”

Pria itu menghela napas panjang. “Kau selalu tahu cara meremukkan hatiku. Padahal aku memang berniat menjadikan itu sebagai kisah hidup kita.”

Hyerin membelai wajah Kyuhyun sambil mencubit pipi pria itu. “Aku belajar untuk percaya padamu, oppa. Aku pun menginginkan hidup seperti itu, dan di saat yang bersamaan aku juga berusaha tetap realistis karena faktanya saja kencan indah kita ini masih dibuntuti seorang agen yang sekarang sedang menekuk wajahnya karena bosan.”

Kyuhyun melirik sekilas ke arah Agen Flourent yang masih tetap setia mengawasi mereka dari kejauhan. “Sebenarnya aku yang menariknya ikut kita.” Aku Kyuhyun. “Karena kita akan melewati perbatasan, aku membutuhkan dampingan dari seseorang yang siaga. Selain itu Marne-La-Vallee ini kebetulan juga dekat dengan kampung halamannya, jadi aku sekalian minta bantuan agar dia menyiapkan satu hal lagi untuk kita.”

Gadis itu berusaha mencerna kata-kata Kyuhyun yang terdengar acak dan tidak masuk akal. “Bantuan apa? Kau merencanakan apa lagi, Cho Kyuhyun?” Cecarnya dengan nada siaga.

Pria itu tersenyum tipis. “Aku berniat melakukan hal yang sangat menakutkan, sesuatu yang kemungkinan berhasilnya mungkin 50-50, hal yang sudah kupertimbangkan sejak kita pindah ke sini namun belum terlaksana karena ketidakmampuanku.”

“Oppa, jangan bertele-tele.” Hyerin menarik napas dalam. “Kau berniat meninggalkanku di sini atau—”

Kyuhyun menempelkan bibir mereka sambil terkekeh geli. “Sekali saja kau tidak berpikiran negatif tentangku, Hyerin-a.”

“Kau melatihku untuk punya mental waspada seperti ini.” Bela Hyerin.

“Aku tahu.” Pria itu mengangguk singkat sambil terus mengecupi wajah Hyerin. “Tapi kali ini aku serius, kosongkan pikiran negatifmu padaku dan ikutlah denganku ke tempat selanjutnya.”

“Ne?”

“Kita harus naik taxi sebentar dari sini, tapi Agen Florent sudah mengatur semuanya.” Ujar Kyuhyun sebelum menarik tangan Hyerin untuk ikut bersamanya.

“Kau mau ajak aku ke mana?”

“Rahasia.”

“Oppa!” Hyerin menahan langkahnya sambil manarik lengannya dari genggaman Kyuhyun.

Pria itu berbalik, pada wajahnya tersungging senyum lebar yang terkesan menyebalkan di mata Hyerin. Entah berapa lama gadis itu harus menyesuaikan diri dengan sisi ramah Kyuhyun yang terlalu asing dalam benaknya, yang ia tahu adalah pria itu sedang berusaha dan ia harus menghargai upaya Kyuhyun untuk  memperbaiki kekacauan yang dibuatnya.

“Aku belum puas bermain di sini.” Protesnya tidak rela jika ia dipaksa keluar dari taman bermain impiannya tiba-tiba.

“Besok kita ke sini lagi, aku beli tiket terusan, Hye.” Pria itu kembali merangkul Hyerin dengan sedikit memaksa.

Hyerin terpaksa menurut saja dengan Kyuhyun, karena pria itu terus-terusan memeriksa arlojinya seolah ia sudah membuat janji dengan orang lain yang membutuhkan ketepatan waktu. Gadis itu semakin terheran-heran ketika Agen Flourent ikut masuk ke dalam taxi yang sama dengan mereka.

Hyerin mencubit lengan Kyuhyun sambil menyuruh pria itu menunduk agar ia bisa berbisik tanpa menyinggung perasaan Florent. “Oppa, kenapa dia di sini?”

“Sudahlah, nanti kau akan tahu mengapa dia ikut.” Balas Kyuhyun. “Hey, wajahmu kenapa tegang seperti itu?”

Ingin rasanya Hyerin mencubit Kyuhyun lebih keras lagi. bagaimana mungkin gadis itu tenang kalau dirinya sekarang di bawa ke tempat asing, dengan agen yang dilengkapi senjata sedangkan status mereka tidak jauh berbeda dengan istilah ‘buronan’. Yang membuatnya kesal adalah ekspresi wajah Kyuhyun yang terus terlihat tenang seperti biasa, ia kesal karena pria itu mengetahui sesuatu yang tidak Ia ketahui.

Hyerin mengalihkan pandangan ke jendela di sampingnya, tidak banyak yang bisa dilihatnya dalam kegelapan malam tapi gadis itu masih tetap terkesima dengan hal-hal baru yang ditemuinya. Kalau dulu ia selalu terpenjara dalam rumah ayahnya, sekarang ia bisa berkeliling menikmati budaya dan menyelami pengalaman baru di tempat lain—hal yang tidak pernah terlintas bahkan dalam fantasi terliarnya.

Sepuluh menit kemudian taxi mereka berhenti di depan perkarangan rumah sederhana. Kyuhyun membantu gadis itu turun, memberi tatapan penuh arti pada Agen Florent dan meminta pria Perancis itu untuk masuk terlebih dahulu untuk mempersiapkan rencananya—yang diucapkan Kyuhyun menggunakan bahasa German, dengan asumsi Hyerin tidak akan terlalu paham pembicaraan mereka.

Kegelisahan Hyerin semakin menjadi. Dalam hati ia ingin mempercayai Kyuhyun dan kata-kata indahnya, namun trauma dalam benaknya justru memainkan memori terburuk tentang malam Kyuhyun menyodorkan pistol pada pelipisnya. Gelagat pria itu tidak jauh berbeda dengan yang Hyerin ingat: ia tenang tapi terlihat penuh perhitungan, kerutan di dahi pria itu menunjukkan usahanya untuk berpikir dan tanpa Kyuhyun sadari, tangannya yang menggenggam tangan Hyerin juga terasa semakin dingin dalam genggamannya.

“Oppa, aku takut.” Cicit Hyerin jujur. “Aku mau berpikir yang baik tentang rencanamu, tapi kenapa aku malah ketakutan sekarang? Kenapa kau suruh Agen Florent masuk duluan?”

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam. “Aku paham ketakutanmu, tapi yang harus kau tahu, aku pun ketakutan setengah mati sekarang.”

Hati Hyerin mencelos. Apa lagi kali ini?

“Kau tahu kan ego dan gengsiku sebesar apa? Sekarang aku ketakutan setengah mati untuk mengajakmu melangkah ke dalam gereja kecil itu.” Tunjuk Kyuhyun pada rumah beratap tinggi yang tidak terlihat seperti gereja kecil dari luar.

“Ne?”

Pria itu mendengus sekilas untuk menghapus ketegangan yang terpatri jelas di wajahnya. “Kau bebas memberi jawaban apa pun. Aku akan menjadi pria sejati yang menerima keputusanmu dengan lapang dada. Tapi yang jelas aku terus akan mencoba jika kau mengatakan ‘tidak’.”

“Ne?” Hyerin tetap tidak paham. “Oppa, kau mulai melantur.”

“Aku tidak melantur, aku hanya… hmm… tegang?”

“Karena?”

Kyuhyun merogoh saku celananya, mengambil benda yang sempat ia beli ketika Hyerin terus bolak-balik ke kamar mandi tadi. Pria itu mengangkat cincin kecil dengan hiasan kepala Mickey Mouse sebagai aksennya. “Karena ini.”

Hyerin memandang cincin kekanakan di tangan Kyuhyun masih dengan wajah heran, mengapa pria itu harus merasa tegang hanya karena sebuah cincin anak-anak.

“Aku berencana melakukan ini sejak kita pindah. Alasan aku menundanya bukan karena aku tidak yakin dengan perasaanku, bukan juga karena aku masih mempertanyakan prioritas hidupku. Tapi karena aku percaya gadis mengangumkan sepertimu pantas mendapatkan berlian terbesar yang mampu kubeli.” Kyuhyun mengatur napasnya yang semakin tidak teratur. “Kau gadis yang pantas memperoleh seluruh hal terbaik dalam hidupmu, tapi alih-alih demikian, kau justru harus ikut menanggung akibat ulah bodohku. Bukannya mendapatkan pria yang hebat, kau justru terjebak di sini bersamaku. Cincin ini juga, hanya ini yang mampu kuberikan untukmu saat ini.”

Hyerin yang mulai paham ke mana arah pembicaraan Kyuhyun sekarang mulai tercengang.

“Satu hal yang harus kau tahu, aku akan terus berusaha menjadi pria itu—pria hebat yang bisa kau andalkan, bisa kau banggakan, dan pria yang pantas bersanding dengan gadis berhati mulia sepertimu.” Kyuhyun menggigit bibirnya.

“Oppa, apakah kau sedang—”

“Berusaha mengucapkan kalimat pembuka sebelum aku benar-benar melamarmu.” Pria itu mengangguk cepat.

Mata Hyerin kembali berkaca-kaca, apa telinganya berfungsi dengan benar?

“Cincin ini.” Kyuhyun kembali mengangkat cincin di tangannya. “Aku tahu ini konyol sekali, kau pasti marah karena hanya cincin seperti ini yang bisa kubelikan untukmu sekarang. Tapi aku janji, aku akan bekerja lebih keras untuk membelikan cincin yang patut kau dapatkan.”

Hyerin kembali melihat pada tangan Kyuhyun yang masih memegang cincin Mickey Mouse dengan agak bergetar. Sejujurnya gadis itu sama sekali tidak sanggup berpikir.

“Hyerin-a, ada satu hal lain yang kusukai dari status kita, yaitu kau tercatat sebagai isteriku. Aku iri dengan Shin Taesung dan Oh Byunha karena mereka terikat hubungan pernikahan abadi, sementara mereka tinggal di kota kecil pinggiran Zurich dalam rumah sederhana mereka, sambil menantikan kehadiran anak pertama.” Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk memberikan cincin yang masih ia pegang lebih dekat pada Hyerin. “Aku mau Cho Kyuhyun dan Park Hyerin terikat seperti kedua orang yang sangat beruntung itu, aku mau menjadi pria yang selalu melindungimu dan juga keluarga kecil yang sekarang sedang kita bangun. Aku… jika kau tidak keberatan, aku mau menuntun langkah kita ke dalam gereja itu, mengucapkan sumpah setia di hadapan Tuhan sebagai diri kita sendiri.”

Gadis itu menatap pria yang pucat pasi di hadapannya bergantian dengan cincin yang masih ada di tangannya. “Oppa, apa maksudmu mengajakku ke dalam gereja itu?”

“Menikahimu, Park Hyerin.”

“Dengan cincin itu?” Tunjuk Hyerin dengan cengiran lebar di wajahnya.

“Maafkan aku, aku akan membelikanmu—”

“Apa kau juga beli yang serasi dengan cincin itu? Kau memberikan yang Mickey Mouse padaku, apakah kau akan memakai cincin Minnie Mouse? Apakah kita akan bertukar cincin di dalam?” Tanya Hyerin tanpa henti.

Kyuhyun terkekeh melihat antusiasme yang mendadak muncul di wajah Hyerin. Pria itu merogoh ke dalam sakunya lagi untuk mengambil cincin kedua, menyerahkan pada Hyerin dengan muka berseri. “Sudah kutebak kau akan menuntutku menggunakan cincin yang sama konyolnya.”

Hyerin menggigit bibirnya, mencoba menahan senyuman lebar yang semakin tergambar jelas pada wajahnya. “Lalu apa yang harus kulakukan sekarang, oppa?”

“Well, pertama-tama kau ikut melangkah ke dalam gereja itu bersamaku, kita sambut Agen Florent dengan senyuman lebar karena pria itu akan menjadi saksi kita, dengarkan ceramah yang akan dituturkan pastur dan ikuti aba-aba dari Agen Florent untuk menjawab sang pastur.”

“Hanya itu?” Gadis itu mulai terisak.

Then you say the magic words—I do. Tapi karena pastur itu hanya bisa bahasa Perancis, kau hanya perlu bilang satu kata ‘oui’.”

Hyerin melangkah mendekati Kyuhyun untuk melingkarkan lengannya di seputar pinggang pria itu. Ini bukan lamaran paling romantis yang pernah ia dengar dari refrensi di film-film, apa yang dilakukan Kyuhyun mungkin tidak spektakuler, bahkan cincin yang dibelikan pria itu bisa dibilang konyol dan kekanakan.

Tapi Hyerin menyukainya.

Bagi gadis itu, usaha Kyuhyun terlihat jutaan kali lebih bermakna karena ia tahu kerja keras yang harus pria itu lakukan untuk membuatnya kembali percaya. Cara pria itu menyesuaikan diri dengan cara membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup mereka membuat Hyerin selalu terenyuh sekaligus kagum setiap menyambutnya pulang kerja. Serta tatapan penuh maaf yang tampak menyedihkan karena mereka hanya bisa melaksanakan sebuah pernikahan sederhana tanpa satu pun sanak keluarga mereka selama mereka dalam pelarian. Hyerin menyukai semua itu, ia menikmati setiap proses dan perkembangan yang mereka lalui bersama dan gadis itu merasa terbekati, karena pria yang dicintainya masih tetap di sampingnya.

“Hye, kau belum memberikan jawaban apa pun. Bolehkah kuanggap pelukan ini sebagai indikasi kalau kau menerimaku?”

“Kau itu bodoh atau apa, oppa? Sejak dulu aku selalu bilang bahwa hidupku ada di tanganmu. Kau yang menuntunku hingga ke tempat ini dan aku sungguh bersyukur karena kau mengabaikan permohonanku saat sekarat.” Hyerin bergumam dalam pelukannya. “Terima kasih karena kau terus memperjuangkan hidupku dan hidup janin dalam kandunganku. Untuk pertama kalinya aku akan berterima kasih untuk kebebalan otak dan egomu itu, terima kasih atas kesempatan kedua untuk hidupku—dan terima kasih karena kau menepati janjimu untuk membuatku bahagia.”

“Aku akan terus melakukan itu, Hye. Aku janji.” Bisik Kyuhyun.

“Tapi aku punya satu permintaan sebelum kita melangkah ke dalam gereja itu.” Hyerin mendorong tubuhnya untuk menatap Kyuhyun lekat-lekat.

“Katakanlah.”

“Jangan pernah belikan aku cincin lain.” Hyerin mengambil cincin yang masih Kyuhyun genggam. “Aku suka cincin kekanakan ini, jangan pernah belikan aku berlian, ne?”

Kyuhyun mendengus. “Jadi cincin pernikahan kita benar-benar cincin yang kubeli barusan di taman bermain?”

Hyerin mengangguk mantap. “Aku akan menceritakan asal muasal cincin pernikahan kita pada anak-cucu kita kelak, pasti ceritanya akan biasa saja kalau yang kau berikan adalah cincin berlian. Tapi cincin ini pasti akan selalu membuatku mengingat moment ini, akan selalu membuatku bersyukur atas kesederhanaan yang tersemat di jariku seterusnya.”

“Kau yakin mau suamimu menggunakan cincin Minnie Mouse seumur hidupnya?”

“Well, dia belum jadi suamiku detik ini. Tapi aku yakin, aku mau terus mengingatkannya juga tentang malam sunyi di kota kecil pinggiran Paris saat dia mengulurkan cincin kekanakan ini untuk menikahiku.” Ledek Hyerin dengan tangis yang semakin menjadi. “Dan aku ingin dia mengingat wajahku saat ini, aku ingin dia berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada hidupku—karena tanpanya, aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan ini.”

Tanpa disadari, wajah Kyuhyun pun ikut basah oleh air mata yang sejak tadi sudah menggenang pada pelupuknya. “Kau memaafkanku?”

Hyerin mengangguk cepat sambil menghapus air mata Kyuhyun. Dengan lembut ia menyelusuri lekuk wajah pria yang sudah melepaskan seluruh kehidupan nyamannya demi memulai hidup baru dengan Hyerin, demi menjaga gadis itu tetap aman, demi keluarga kecil yang sedang mereka bagun bersama. “Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.” Hyerin berjinjit, melingkarkan kedua lengannya di seputar leher Kyuhyun sebelum ia menyapukan bibirnya di atas bibir pria itu.

Kyuhyun meletakkan tangannya pada punggung Hyerin, menahan tubuh gadisnya sementara ia membalas ciuman malu-malu yang Hyerin berikan padanya. Ia tahu memang status mereka detik ini belum diresmikan, tapi ia merasa seolah telah mengungkapkan sumpah setianya di hadapan Tuhan. “Hye, ayo kita masuk. Aku mulai kedinginan dan aku tidak sabar menuntaskan ini agar kita bisa segera memulai malam pertama kita sebagai sepasang suami-isteri yang sah.”

Gadis itu terkikik meledek di antara ciuman mereka. “Otak mesummu itu tidak kau tinggal saja di rumah, ng?”

Kyuhyun melumat bibir Hyerin sekilas. “Lihat saja nanti, paling-paling kau yang akan meminta lebih.”

 

tbc…


Forgive my typos. One more chapter to go~

 

 

 

Advertisements

138 thoughts on “Stockholm Syndrome – 6 [Say the Magic Word]

  1. Shinn says:

    Hhhh cho kyuhyun pria mesum yang cengeng.
    Pasangan unik kkk mana ada cincin pernikahan micky-minnie mouse selain mereka,nggak bisa bayangin kyuhyun pakai cincin minnie mouse dijarinya
    Semoga akhir kisah mereka kaya dongeng rapunzel juga “Happily Ever After”

    Liked by 1 person

  2. cloudkyute says:

    Yipppiii… Akhirnya Hyerin di lamar juga, langsung di nikahin detik itu juga malahan. Selamat selamat.
    Aihh… Kyuhyun nya menjelma jadi pria yang luar biasa romantis dan manis. Hyerin berhak bahagia.
    Aku seneng karena ff ini ga sungkan menyuguhkan banyak adegan bahagia buat tokohnya yg sudah banyak menderita di part part sebelumnya. Rasanya kesedihan di part sebelumnya terbayar lunas kkkkkk.

    Liked by 1 person

  3. hera says:

    Oh my sweet bingitss, lamaran terunik dan cincin terunik jugaa. . Ahh meleleh sumpah, sikap kyu semakin hari semakin maniss huhuhu semoga kehidupan mreka tetep bahagia selamanyaa 😊😊

    Liked by 1 person

  4. wienfa says:

    d paragrf prtma pnsrn sm kyu yg mau bwa hyerin kmna?trnyata wow..k sbuah tmpt slh stu impian hyerin sjak kcil kyu ngbulin_trharu bgt.kyu bner2 bktiin prktaan ny.pas jackpot hyerin d lmar kyu,unik cin2nya mickey..hehe!congratulations!akhrny mrka mrsmikn nikah pura2ny.

    Liked by 1 person

  5. Park Hyojin^^ says:

    Huaaaaaa so sweet, hyerin udah maafin kyuhun, kyuhun udah bener bener lakuin janjinya, dan mereka bener bener bakal jalanin status suami istri dalam bentuk real, makasih eonn udah biat cerita ini gaada pesakitan untuk hati, jafi aku ga mewek kek di cerita sebelumnyaaa, luv luv eonn😘

    Liked by 1 person

  6. Dewi N says:

    Nice nice…

    Aku udah baca one lost shot, setting nya kota Paris. Sekarang juga Paris. Eonnie punya kenangan manis tentang Paris ya??
    Memorable banget kayak nya.. hehehe..

    Belom End kan??? Hahahaha.. disini Kyuhyun jadi cowok idaman banget 😍💕 berubah demi cewek nya untuk kebahagiaan hubungan mereka
    So sweet tau gak???
    Eh, udah tau ya?? Hehehe..

    Liked by 1 person

    • ssihobitt says:

      nope, aku benci banget malah sama Paris. tapi tragedi di One Last Shot memang kejadian di sana dan Disneyland Eropa juga kebetulan di sana… jadi tidak ada pilihan… -__-

      Like

  7. putri0589 says:

    gak perlu sesuatu yg mewah untuk memulai kebahagiaan,, kesederhanaan yg tulus dan didasari kesucian hati itu yg bikin semua jd lebih bermakna
    seperti ketulusan hyerin yg udh bikin Kyuhyun sadar kalau dia ga akan pernah menikah sama hyemi dan mulai menyusun kebahagiaan dgn hyerin dan skr niat baik Kyuhyun untuk keluarga kecilnya juga harus diakui bener bener bikin haru..
    entah kenapa aku lebih suka karakter Kyuhyun yg seperti ini, bukan penyanyi dan artis terkenal ataupun CEO yang dingin.. ini terasa lebih manusiawi untuk dia, laki laki biasa yg punya sisi gelap dan terang yg bisa berbuat jahat dan menebus kelasahan nya dgn sungguh sungguh…
    kereeeenn.

    Liked by 1 person

  8. Melsyana says:

    Huaaa…, kyu sweet kali. Bisa juga dia berubah jadi pria yg romantis dan penyayang, yg awalnya cuman pria yg diselimuti dg obsesi semata.
    Dan cincin lamaran or pernikahan kyurin couple lucu, masak ada gambar mickey & minnie mouse nya.

    Kak, maaf ya part 5 koment aku gak ada, padahal udah 2 kali aku coba kasih koment, tapi gak bisa”.

    Pertama aku udah nulis koment panjang lebar, eee…, gak tahu sinyalnya gak ada. Kan kesal sendiri jadinya.
    Kedua, udah aku tulis juga komentnya tapi gak sepanjang koment yg pertama dan koment kedua juga gak ada, biasanya kan kalau kita kasih koment-pasti koment nya langsung ada, tapi punya aku malah kembali lagi di awal cerita yg aku baca. (mudah”an aja kk ngerti dg koment aku :)).

    Fighting kak 😀

    Liked by 1 person

  9. ladybook123 says:

    Cincin mickey & minnie buat cincin pernikahan..?? Thats so sweet…… 😍😍😍

    Haha.. tp ga kebayang kyu hrs pake cincin minnie seumur hidupnya… hahaha

    Liked by 1 person

  10. thessawd says:

    waaaa ga nyangka kyuhyun benar” serius unt membahagiakan hyerin ga hanya kejutan ke disney land aja ternyata dia berniat menikahi hyerin secara resmi dengan modal cincin mickey and minnie mouse haahaa sedikit menggelikan yaa… Ngakak pas hyerin bilang mesumnya kyuhyun ga d tinggalin d rmh

    Liked by 1 person

  11. nhjhope says:

    Author pintar mengaduk-aduk perasaan aku huhuuu😂. Dari part sebelumnya yan nangis2 bombay, nah sekarang? Nyengir2 gajelas minta dinikahin Kyu juga hihii 😂. Ga nyesel aku terdampar di Blog ini😁. Dibilang bandel ya emang bandel😁. Orang tulisannya nc21, aku yang 17thn min beberapa bulan malah nyusup2😁. Hihii mian unn😄, ensehnya aku banyak skip juga 😁😂.

    Liked by 1 person

  12. Putrikimcho says:

    Hahaha ya ampun cocwett nyaaaa 😍😍😍 kebayang kyu kemana² pake cincin micky mouse yang suka aku liat di abang² jepitan apalagi sering biasanya ada di sd 😂😂😂

    Like

  13. Putrikimcho says:

    Ya ampun cocweett bangettt 😍😍

    Kebayang kyu make² cincin micky mouse yang suka aku liat di abang² jepitan apalagi banyak banget di sd kalo aku suka nganterin adek wkwkkw 😂😂

    Liked by 1 person

  14. Dyana says:

    Ah… So sweett… So sweet…
    Seneng banget baca part ini, berasa ikut berbunga-bunga…
    Terima kasih kak bikin moment yang manis ini di tengah cerita hidup Hyerin yg menyedihkan… Dia jg berhak bahagia.

    Liked by 1 person

  15. gyukyu says:

    Yuhuuuu akhirnya mereka menikah🎉🎊🎇🎆
    Semoga setelah ini kehidupan hyerin bener” bahagia selamanya kayak cerita dongeng☺
    Keep writing Kak 😉

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s