Final Call – 4 [Not-So Long Distanced]

fc_04

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Angst, NC-21

Main Cast: Kang Seulri & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

(Cerita ini memiliki alur maju-mundur. Pada bagian awal yang bewarna abu-abu menceritakan MASA SEKARANG. Lalu pada bagian selepas tanda (***) yang bewarna hitam menjelaskan tentang MASA LALU. Harap diperhatikan.)

Tusukan tajam yang diberikan pada permukaan kulitnya secara bertubi-tubi berhasil menarik Seulri kembali dalam kesadarannya. Dengan kelopak mata yang rasanya semakin berat, wanita itu kembali melawan nalurinya untuk terpejam. Meskipun tidur menjadi pilihan paling tenang untuknya sekarang, ia harus tetap berjuang—demi pria yang saat ini sibuk mencubiti lengan bagian atas Seulri demi menstimulasi indera perasa Seulri agar wanita itu tetap awas.

Walaupun Seulri tidak bisa bergerak banyak, otaknya masih bisa berpikir cukup jernih dan ia mampu mengolah arti tatapan yang Kyuhyun berikan padanya. Ia ingin menatap pria itu, sekedar untuk memastikan bahwa sorot penuh kekhawatiran itu benar adanya. Karena di tengah kesakitan yang melandanya, kekhawatiran di wajah Kyuhyun adalah satu-satunya yang masih menghibur Seulri—setidaknya ia tahu bahwa pria itu khawatir, bahwa Kyuhyun masih peduli padanya.

“Maafkan aku, Seul. Aku harus tetap menstimulasi syaraf reseptormu jadi aku akan terus mencubitimu seperti ini. Kami tidak bisa membiusmu karena kami hanya bisa menyimpulkan kondisimu dari reaksi yang kau berikan terhadap impul sakit yang kami berikan.” Jelasnya dengan nada lesu.

Wanita itu tersenyum—setidaknya begitulah yang ia pikir—pada Kyuhyun dan mengedip sekali untuk membalas perkataannya. Ingin sekali ia mengatakan pada Kyuhyun bahwa ia akan melakukan seluruh upaya untuk tetap sadar, agar status ‘darurat’ yang melekat padanya segera dicabut, karena Seulri ingin selamat, masih ada beberapa hal yang ingin ia jelaskan pada pria di sampingnya dan masih banyak perasaan yang belum sempat tersampaikan di balik seluruh pertikaian mereka.

Meskipun di sisi lain Seulri paham alasan mengapa Kyuhyun berusaha keras untuk menjaga napas Seulri tetap berhembus, alasan yang jauh berbeda dengan alasan yang wanita itu miliki.

Pria itu menjaganya tetap sadar bukan karena takut kehilangan, bukan karena persaannya yang belum tersampaikan, bukan juga karena penyesalan atas tahun-tahun yang menuntun kisah mereka sampai pada malam mengenaskan ini. Namun karena Cho Kyuhyun dirudungi perasaan bersalah. Karena pria itu tidak akan hidup tenang jika Seulri harus kehilangan nyawanya malam ini, setelah seluruh tindakan kejam yang sukses mengoyak hati wanita itu menjadi serpihan kecil.

Seulri terlalu mencintai pria di sampingnya, ia tidak bisa membayangkan poros hidupnya harus melanjutkan hidup dengan perasaan bersalah yang meradang karenanya dan oleh sebab itu, ia berusaha untuk tetap sadar—demi kewarasan Kyuhyun di masa depan.

“LIhat ultrasound ini! Wanita ini juga mengalami pendarah internal pada rongga perut. Lupakan CT-scan, kita pindahkan langsung ke ruang operasi, kita harus membedahnya.” Suara serak dokter pria yang menjadi kapten dalam tim itu kembali terdengar.

Kyuhyun memalingkan wajah dari Seulri untuk bicara dengan dokter itu. “Dokter, wanita ini mengalami open skull fracture, bukan kah CT-scan menjadi lebih urgen?”

“Benturan pada kepalanya bisa menunggu, aku lebih khawatir dengan pendarahan internalnya, kateter yang kita masukkan dari rongga dadanya masih terus mengeluarkan darah. Kalau kondisi ini berlanjut, maka dia akan membutuhkan lebih banyak transfusi dan kami tidak punya banyak stok darah A positif malam ini.” Jelasnya.

Kyuhyun kembali menatap Seulri. Dari pupil matanya yang membulat dan bibirnya yang semakin bergetar, pria itu paham bahwa Seulri sangat ketakutan setelah mendengar kata ‘operasi’ terlontar dari mulut sang dokter. Semua hal yang Seulri dengar malam ini dalam bangsal gawat darurat mungkin menjadi hal terasing yang pernah diterimanya, wajar saja ia ketakutan. Tapi wanita itu memiliki Kyuhyun di sampingnya, setidaknya Kyuhyun bisa menjelaskan prosedur yang akan dilakukan pada Seulri untuk membuatnya sedikit lebih tenang.

“Tidak apa-apa, Seulri-ya. Mereka akan merawatmu dan aku akan terus di sampingmu sampai semua prosedur penyelamatanmu ini selesai. Jangan takut, ne?” Kyuhyun menunduk untuk membelai rambut Seulri yang sedikit bersimbah darah. “Kau wanita pemberani, kan?”

Seulri mencoba mengangguk tapi lehernya tetap kaku, hanya bulir air matanya yang sanggup menjelaskan besarnya rasa takut dalam hati Seulri.

“Aku akan mendampingimu. Aku tidak akan beranjak dari sisimu, jadi kau tidak boleh takut. Aku di sini, Seul.” Kyuhyun terus membelai rambut Seulri.

Dokter-dokter di sekitar Seulri sekarang sibuk mencatat dalam chart laporan, beberapa sibuk menyiapkan peralatan sebagai persiapan utnuk memindahkan lokasi penanganan Seulri ke dalam ruang operasi. Kyuhyun tetap fokus pada tugas pentingnya di tempat itu, menjaga Seulri dan memastikan wanita itu terus bernapas.

“Hey, tatap aku.” Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya di wajah Seulri. “Kau akan baik-baik saja. Jika kau takut akan kondisimu sekarang, biar kupastikan bahwa kau masih hidup. Aku tahu jantungmu masih berdetak atas kemauannya sendiri, napasmu masih berhembus dengan wajar, dan tubuhmu masih hangat. Jadi kau tidak perlu takut, karena kami semua akan memastikan kau tetap hidup.”

Air mata yang mengalir dari sudut mata wanita itu semakin deras. Bagaimana cara ia bisa menyampaikan perasaannya kalau lidahnya kelu? Ia ingin berteriak pada Kyuhyun bahwa ia menangis bukan karena takut ajalnya akan menjemput—karena jelas jiwa Seulri sudah mati sejak lama.  Ia menangis karena penyesalan dalam hatinya dan karena rasa frustrasi yang tak tersampaikan hanya lewat tangisannya yang tidak bersuara.

“Tenanglah Seul, kau hanya perlu menatapku. Kita akan melalui masa kritis ini bersama-sama. Setelah kau ditangani, setelah kau sembuh, aku janji akan mengajakmu ke taman bermain dan kau bisa menunjuk semua boneka yang kau inginkan dari claw machine, oke? Jangan takut dengan kondisimu yang sekarang, kau akan baik-baik saja.”

Seulri kembali menangis. Apakah itu semua masih berarti? Bukan itu yang ia inginkan sekarang. Ia tidak peduli berapa banyak boneka yang akan diambilkan Kyuhyun untuknya, tidak peduli semanis apa tutur pria itu sekarang jika yang paling esensial dari pria itu bukan lagi miliknya—jika hati Kyuhyun bukan lagi milik Seulri.

“Aku janji, Seul. Aku akan mencoba menjadi teman yang lebih baik untukmu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita.” Kyuhyun memohon di tengah rasa frustrasinya.

“Waktunya memindahkan wanita ini ke ruang operasi.” Suster memotong pembicaraan mereka, melonggarkan rem pada roda brankar Seulri untuk mendorongnya ke arah ruang operasi.

Perut Seulri kembali terasa diaduk saat brankarnya digerakkan, wanita itu kembali memuntahkan darah dari mulutnya. Seulri malu, ia tidak suka Kyuhyun melihatnya dalam kondisi hancur seperti ini tapi ia pun tidak berdaya untuk menggerakkan tubuhnya. Jika ini memang akhir dari hidupnya, ia tidak ingin diingat Kyuhyun sebagai wanita buruk rupa yang bersimbah darahnya sendiri, wanita yang tertutup luka dan memar di sekujur tubuhnya lengkap dengan air mata miris yang tidak berhenti mengalir.

Jika ini akhir hidupnya, Seulri ingin tetap dikenang Kyuhyun sebagai gadis polos yang dikenalnya sepuluh tahun yang lalu—ia memilih Kyuhyun mengingatnya tetap sebagai cinta pertamanya yang manis.

“Seulri-ya! Kau harus tetap mendengarkanku. Tatap aku, kau harus terus membuka matamu!” Kyuhyun kembali berteriak dari sisi brankar Seulri sementara ia membantu suster mendorong Seulri ke ruang operasi.

Goyangan pada brankarnya terus membuat wanita itu memuntahkan darah, ia masih berusaha untuk sadar tapi lagi-lagi cahaya menyilaukan itu memaksanya untuk menutup mata. Sekali lagi, Seulri melihat kilasan balik akan kenangan mereka dalam benaknya.

***

Memiliki hubungan dengan seorang mahasiswa kedokteran tingkat pertama memang jauh dari kata ‘mudah’. Seulri harus menahan keinginannya untuk terus bertemu Kyuhyun dan ia pun harus menjadi gadis yang memiliki tingkat kesabaran ekstra, karena ia harus memaklumi kesibukan Kyuhyun serta kesulitan yang dialami lelaki itu dalam beradaptasi dengan dunia kampus baru.

Pada dua bulan awal perkuliahan, Kyuhyun masih menjaga janjinya untuk pulang setiap akhir pekan untuk bertemu dengan Seulri. Namun seiring bertambah beban tugas yang didapatkannya, waktu Kyuhyun untuk dirinya sendiri semakin berkurang dan tentu saja Seulri juga terkena imbasnya.

Bukannya ia tidak merindukan Seulri, ia selalu berharap bisa pulang di setiap akhir pekan untuk menghabiskan waktu bersama gadis kesayangannya. Sayangnya sebagai mahasiswa tingkat dasar, Kyuhyun bukan hanya harus menyesuaikan diri dengan tugas-tugas yang diberikan dosen dan dokter senior saja. Ia harus ikut acara inisiasi kampus agar kelak bisa menjadi bagian keluarga besar dari alumni kampus itu seperti seluruh keluarganya yang juga merupakan lulusan dari kampus yang sama.

Bulan-bulan awal, Cho Kyuhyun masih sanggup menyeimbangi antara intensitas belajarnya, aktifitas sosialnya dan juga kekasihnya yang selalu menunggu di rumah. Tapi setelah empat bulan ia memaksakan diri seperti itu, Kyuhyun mulai merasa tubuhnya melemah dan akhirnya ia harus mulai menentukan skala prioritas, mana urusan yang penting dan urusan mana yang bisa menunggu—sayangnya Seulri masuk ke dalam kategori yang terakhir.

Seulri tidak keberatan dengan kurangnya intensitas pertemuan mereka, baik seminggu sekali atau sebulan sekali ia bisa bertemu Kyuhyun. Yang penting baginya adalah komunikasi dua arah yang terus berlangsung diantara mereka, karena selama ia bisa berbagi dengan Kyuhyun, masalah di rumahnya terasa lebih ringan dan ia juga tidak merasa kesepian. Tapi ada pula kalanya di mana Seulri benar-benar membutuhkan kehadiran Kyuhyun di sisinya, masa di mana Seulri butuh dukungan kekasihnya untuk melewati malam-malam yang dipenuhi amukan sang ibu, waktu di saat Seulri benar-benar merindukan kehadiran sosok penyelamatnya.

Setiap kali Seulri merasa rindunya memuncak, ia akan menelpon Kyuhyun, menanyakan dengan sopan apakah ia boleh menghampiri kekasihnya di asrama, jawaban Kyuhyun biasanya selalu sama—tidak. Bukan karena Kyuhyun menyembunyikan sesuatu, hanya saja ia masih mahasiswa baru dan ia belum berani membuat banyak ulah di dalam asramanya dan Kyuhyun membutuhkan banyak waktu tanpa gangguan untuk bisa mengejar materi-materi yang seratus persen baru baginya dan lelaki itu tahu konsenterasinya kan buyar jika kekasihnya ada di sampingnya.

Namun suatu malam di musim gugur, Seulri tidak lagi bisa menahan gejolak emosi dalam dirinya. Gadis itu menelpon Kyuhyun dengan suara bergetar, gadis itu memohon agar mereka bisa bertemu, memohon kelonggaran waktu Kyuhyun sebentar saja, ia bahkan bilang bahwa ia sudah dalam perjalanan menuju asrama Kyuhyun. Suaranya yang terdengar lirih membuat lelaki itu semakin khawatir dan Kyuhyun tidak sampai hati menolak kedatangan Seulri meskipun ujian tengah semesternya sudah menanti di depan mata.

Malam itu, Seulri menghampiri daerah asrama Kyuhyun, ia tidak lagi sanggup menahan kerinduan dan juga beban berat yang mengganggu hatinya. Lelaki itu sudah menunggu kehadiran Seulri di depan pintu masuk stasiun sesuai tempat yang ia janjikan lime amenit yang lalu saat kekasihnya menelpon untuk bilang bahwa ia sudah dekat stasiun asramanya. Kyuhyun melambai pada Seulri saat mata mereka bertemu dan Gadis itu memeluk Kyuhyun dengan spontan saat melihatnya, sudah terlalu lama Seulri tidak melihat sosok yang dicintainya itu dan ia juga benar-benar butuh tempat untuk bersandar.

Kyuhyun membalas pelukan Seulri dengan canggung karena mereka berada di tempat umum, namun isakan yang keluar dari  mulut mungil kekasihnya sukses menghapus semua kekhawatiran lelaki itu atas norma etis di tempat umum.

“Kau menangis?” Kyuhyun memeluk Seulri balik sambil mengecup puncak kepalanya singkat.

“Aku merindukanmu.” Ujar Seulri diantara isakannya. “Kita belum bertemu dua bulan belakangan ini.”

“Aku tahu.” Kyuhyun melepas pelukannya, meraih tangan Seulri untuk menuntunnya ke arah asrama. “Maafkan aku, kukira aku pandai membagi waktu, tapi ternyata aku benar-benar butuh lebih dari 24 jam dalam sehari untuk melakukan semua hal yang kuinginkan.” Lelaki itu menatap Seulri dengan tatapan penuh rasa bersalah.

Seulri mengangguk pelan, dalam hati sudah muak dengan alasan Kyuhyun yang tidak berubah.

“Seul, wajahmu…” Lelaki itu otomatis mengangkat tangannya untuk mengusap bekas lebam di wajah kekasihnya yang sangat ketara.

Seulri langsung menepis tangan Kyuhyun dan memaksakan senyum. “Tidak apa-apa, oppa. Aku mengerti kesibukanmu. Suatu hari aku juga akan menjadi mahasiswi, aku juga akan sibuk nanti dan saat masa itu datang, kau lah yang akan mengejar-ngejarku seperti ini.” Ia mencoba untuk menyengir lebar namun emosi itu tidak sampai pada sorot matanya. “Aku sedang mencoba menjadi kekasih yang pengertian, oppa. Tapi maaf, malam ini aku benar-benar merindukanmu. Maaf kalau aku memaksakan kehendakku untuk menemui sekarang dan maaf jika aku mengganggu aktifitasmu.”

Kyuhyun tersenyum kecil, merangkul bahu Seulri untuk menarik gadis itu mendekat pada tubuhnya. “Karena kau sudah di sini, sekarang beritahu aku mengapa malam ini suaramu terdengar begitu sedih dan tertekan? Apa yang bisa kulakukan untukmu?”

Gadis itu memanyunkan bibirnya sambil melempar tatapan kecewa. “Apa aku harus punya alasan untuk bertemu denganmu? Aku merindukanmu, tidak cukup kah itu menjadi alasan mengapa aku di sini?”

“Bukan itu maksudku, sayang. Aku tidak menanyakan alasanmu, aku menanyakan apa yang bisa kulakukan untuk menghapus air matamu.” Lelaki itu mengacak rambut Seulri. “Bagaimana kalau kita makan? Kau mau makan apa, aku traktir!”

Gadis mengangkat kedua bahunya cuek. “Terserah kau saja, aku tidak lapar.” Seulri kembali menunduk.

“Hey, semua baik-baik saja, kan?” Kyuhyun menghentikan langkah mereka, membalik tubuh Seulri agar berhadapan. “Apa yang terjadi, Seulri-ya?”

Gadis itu menggigit bibirnya gugup sambil menghindari tatapan Kyuhyun.

Dari gestur sederhana itu Kyuhyun langsung paham bahwa ibu gadis itu kembali berbuat ulah, karena Seulri selalu terlihat minder dan tidak nyaman setiap kali topik itu terangkat.

“Kalian bertengkar lagi?” Tebak Kyuhyun.

Gadis itu menghelas napas panjang dan mengangguk lesu. “Masalah biasa.”

“Hey, tidak ada yang ‘biasa’ kalau sudah menyangkut tabiat kasar yang berujung pada penganiayaan.” Kilah Kyuhyun tegas. Ia mengusap bekas lebam pada wajah Seulri sementara gadis itu masih mematung di tempatnya. “Biar aku mengobati memar itu, ikut aku.” Kyuhyun menarik paksa tangan Seulri ke arah asramanya.

Seulri mengikuti langkah Kyuhyun dalam diam, dalam hatinya ia merasa malu karena Kyuhyun harus melihat kondisinya yang seperti itu namun pada saat bersamaan ia memang membutuhkan kehadiran kekasihnya untuk menenangkan diri. Ia melirik pada lelaki di sampingnya, ada beberapa perubahan pada penampilan Kyuhyun dari yang terakhir ia ingat. Kekasihnya kini terlihat lebih kurus dan tidak terurus, rambutnya berantakan, penampilannya lebih lusuh dan kantung matanya juga membuat Seulri khawatir. Lelaki itu bahkan hanya menutupi kaus belel yang digunakan untuk tidur dengan mantel seadanya.

“Apa yang kau pelototi, sayang?” Kyuhyun menyadari tatapan intens Seulri di sampingnya.

“Apa kau sedang tidur saat aku menelpon tadi?” Gadis itu terkekeh sedikit menunjuk pada celana piyama kotak-kotak yang dipadukan Kyuhyun dengan sandal kamar.

“Sudah bagus aku masih sempat memakai mantelku.” Ia mendengus sambil tertawa. “Maaf, kukira kau tidak akan datang secepat itu, kalau aku tahu kau mau datang pasti aku mandi dulu.”

“Lalu apa kau juga lupa makan?” Seulri memutar bola matanya. “Oppa, boleh saja kau sibuk, tapi jangan lupa makan. Aku tidak suka melihat proporsi tubuhmu yang seperti tengkorak hidup ini. Atau kau mau aku datang setiap hari hanya sekedar memastikan kau sudah makan?”

“Idemu bagus.” Sahut Kyuhyun terkekeh. “Tapi aku tidak mau memberi kontribusi masalah baru untukmu, bisa-bisa kau dimarahi karena selalu pulang malam.” Kyuhyun memasukkan kode kamar asramanya dan mempersilakan Seulri masuk. “Kau duduk saja dulu, aku aku mau mengambil kotak P3K di dapur bersama.”

Gadis itu mengangguk patuh, melangkah ke dalam kamar kekasihnya sambil mengengok ke segala sisi. Sepertinya Cho Kyuhyun memang sedang sibuk, karena beberapa buku terbuka di atas mejanya lengkap dengan catatan serta lembaran post-it yang biasa digunakan lelaki itu untuk menandai bagian penting. Kondisi kamarnya juga sangat berantakan, dengan pakaian kotor bertebaran di lantai dan atas ranjangnya—nampaknya Kyuhyun juga hanya tidur menggunakan setengah dari kasurnya saja karena sisa ruang di atas ranjang kecil itu juga ditumpuki kertas-kertas dan pakaian.

Seulri memungut beberapa helai baju kotor Kyuhyun di lantai untuk meletakkannya ke dalam keranjang cucian, ia berniat merapikan tumpukan kertas yang juga tersebar di nakas samping ranjang Kyuhyun, namun perhatiannya teralihkan oleh sebuah foto yang dipigura lelaki itu. Foto dirinya sendiri yang sedang tersenyum lebar, foto yang diambil saat piknik bersama sekolah mereka beberapa bulan sebelum kelulusan Kyuhyun.

image

Seulri meraih pigura itu untuk menilai ekspresi yang tergambar jelas pada foto sambil membandingkan dengan ekspresinya malam itu melalui cermin yang terletak tidak jauh dari pigura. Beberapa bulan lalu gadis itu terlihat sangat ceria, senyum lebar Seulri terpancar tulus dan gadis itu tahu pasti alasannya—karena Kyuhyun ada di sisinya. Liburan itu adalah momen yang tepat bagi mereka untuk menikmati masa-masa indah hubungan mereka, merasakan menjadi sepasang anak muda yang jatuh cinta—dalam pengawasan pihak sekolah, tentu saja. Namun yang paling terasa berubah adalah kedekatan mereka, dulu lelaki itu selalu di sampingnya, mereka selalu menghabiskan waktu bersama dan kegiatan itu membantu membuat Seulri yang seorang anak tunggal merasa tidak terlalu kesepian. Sedangkan sekarang untuk bertemu dengan Kyuhyun saja Seulri harus memohon dengan uraian air mata terlebih dahulu sebelum pria itu menyerah dan mengizinkannya untuk datang.

Lamunan Seulri terbuyarkan oleh suara pintu yang ditutup pelan oleh Kyuhyun, lelaki itu sudah menggenggam kotak P3K di tangannya serta sekantung sayuran instan beku dari freezer untuk diberikan pada Seulri.

“Mengagumi fotomu sendiri, ng?” Ledek Kyuhyun. “Akhirnya aku mencetak foto yang itu lalu menaruhnya di samping tempat tidur, agar aku bisa selalu memandang wajahmu saat terbangun.”

Seulri tertawa lepas sambil meletakkan fotonya. “Empat bulan kuliah dan kau sudah belajar bagaimana cara menggombali kekasihmu. Kukira kau belajar kedokteran, apa ada kelas ‘cara merayu seorang gadis’ di sini?”

“Sejujurnya topik itu pernah menjadi bahasan dalam organisasi kemahasiswaan.” Kyuhyun membenarkan sambil tertawa. “Duduklah, Seul. Biar kurawat memarmu. Ini, gunakan sayuran beku untuk mengompres lebam di wajahmu.” Ia mengulurkan kantung sayuran instan di tangannya.

Seulri mengikuti perintah Kyuhyun, ia duduk di tepi ranjang Kyuhyun, menempelkan sayuran dingin itu ke wajahnya sementara kekasihnya berlutut untuk mulai merawat luka-lukanya. Lelaki itu menggulung lengan cardigan Seulri, ia yakin bahwa bukan hanya wajah gadisnya saja yang lebam karena amukan ibunya. Kyuhyun sudah hafal tempat-tempat yang biasanya menjadi sasaran empuk sang ibu untuk menghajar anaknya sendiri.

Memar di lengan Seulri lagi-lagi menyayat hati Kyuhyun seperti biasa. Ia sudah belajar bagaimana cara membedakan umur luka dan memar, dari yang ia lihat di hadapannnya, beberapa memar Seulri sudah berusia beberapa hari dan mulai menghijau sementara beberapa memar dan luka baru terlihat masih biru keunguan. Malam itu, ada jenis luka baru yang Kyuhyun lihat, torehan garis vertikal pada kedua lengan Seulri yang merobek epidermis kulit mulus gadis itu.

“Kali ini dia memukulmu dengan apa?” Kyuhyun meringis sambil meraba bekas luka yang masih agak basah di tangannya.

“Gesper.” Jawab Seulri singkat.

“Apa lagi masalahnya kali ini?”

“Aku meminta tanda tangannya untuk rapor sekolah, aku dapat dua huruf B disana dan eomma tidak senang melihatnya.” Jelas Seulri.

Kyuhyun mengambil beberapa kapas dari kotak P3K dan menaburkan beberapa tetes alkohol ke atasnya. “Akan terasa sedikit perih.” Ia mengingatkan sebelum mulai mengoleskan kapas basah tadi di atas luka Seulri.

Gadis itu tahu rasa perih yang akan menyembut, tapi tetap saja ia meringis kesakitan setiap kali hal ini terjadi. Seulri mencoba menahan rasa sakit di tangannya, mengalihkan perhatiannya pada wajah serius kekasihnya yang sedang merawat lukanya dengan seksama dan tiba-tiba saja, air mata gadis itu kembali mengalir. Sekali ia mulai menangis, Seulri tidak tahu caranya untuk berhenti.

Lelaki itu menengadah untuk melihat kondisi kekasihnya, ia meletakkan kapas dengan asal ke atas lantai lalu segera duduk di samping Seulri untuk menarik gadis itu ke dalam dekapannya. “Sakit kah? Maaf. Itu cara paling cepat untuk mencegah infeksi dari lukamu.” Jelasnya.

Seulri menggelengkan kepalanya sembari mencoba mengatur deru napasnya yang mulai tidak teratur. “Bukan itu… aku… malu…”

“Ya! Kita sudah membahas ini berapa kali? Kau bisa berbagi apa pun padaku dan aku akan selalu berusaha untuk ada di sisimu. Jika rumahmu sudah tidak lagi nyaman, maka kau boleh pulang padaku. Aku tahu bahwa manajemen waktuku memang berantakan sekali akhir-akhir ini, tapi kumohon tetap lah percaya padaku.” Pria itu mencoba menghibur Seulri sekaligus menyampaikan penyesalannya.

Gadis itu terus terisak dalam dekapan hangat kekasihnya yang sangat ia rindukan.

“Seul, coba jadikan kata-kataku ini sebagai motivasimu: hanya dua tahun lagi. Dua tahun dari sekarang kau akan lulus SMU, kau akan kuliah di universitas, kau akan keluar dari rumah itu, kau akan mendapatkan pekerjaan yang bisa kau banggakan, dan kita akan menikah setelah itu. Kau tidak perlu merasa rendah diri.” Kyuhyun lanjut menghibur Seulri sambil mengelus punggung gadis itu lembut.

Seulri terlonjak dari dekapan Kyuhyun akibat sentuhan mendadak lelaki itu pada punggungnya, karena rasa sakit yang langsung menjalar saat bagian kulitnya itu tersentuh.

“Seul, kau kenapa? Apa dia memukulmu di belakang juga?” Kyuhyun meremas kedua bahu Seulri untuk mencari jawaban yang ia inginkan.

Seulri tidak menjawab, tapi Kyuhyun tahu pasti jawaban dari pertanyaannya.

“Boleh kah aku memeriksanya? Sakit kah?” Kyuhyun kembali membelai punggung bagian atas Seulri dan gadis itu kembali tersentak atas sentuhan Kyuhyun.

“Tidak usah.” Bisik Seulri lirih. “Aku sudah merasa minder sekali saat ini dan aku tidak bisa membayangkan seburuk apa luka di punggungku. Aku tidak mau kau jijik melihatku.”

Hati Kyuhyun semakin teriris, sementara ia sibuk mengejar cita-citanya, gadis kesayangannya terpaksa harus menanggung beban penganiyaannya seorang diri. Sementara ia sibuk memikirkan karirnya di masa depan, ia telah menomor-duakan Seulri. Malam itu pastilah keadaan sudah sangat di luar kendali sehingga Seulri menelponnya dan memaksakan kehendak untuk bertemu. Kyuhyun hanya bisa memeluk kekasihnya erat, membiarkan gadis itu menumpahkan semua kekesalannya lewat tangisan pilu di atas bahunya.

“Maafkan aku, Seul. Pasti kau marah padaku karena aku sedikit mengabaikanmu.” Bisik Kyuhyun.

Gadis itu mencoba menyangkal tapi isak tangisnya yang semakin menjadi justru mengkonfirmasi pernyataan Kyuhyun.

“Izinkan aku merawat lukamu, sayang.” Sekali lagi Kyuhyun meminta persetujuan Seulri untuk melihat kondisi punggungnya.

Seulri berpikir sejenak untuk mempertimbangkan keputusannya, pada akhirnya ia tidak lagi peduli akan rasa minder yang menyerang. Gadis itu membuka cardigannya sambil berusaha mengurangi gesekan antar kain dengan kulitnya lalu menunjukkan bekas luka baru di atas tank-top berpotongan low-cut yang ia kenakan.

Kyuhyun merasa hatinya diremas dengan kasar ketika melihat parahnya luka gesper yang tertoreh di atas permukaan kulit Seulri yang mulus. Sekilas saja ia bisa menyimpulkan kalau ibu Seulri bukan hanya memukulnya dengan tali gesper, namun juga menggunakan kepala gesper yang berat. Dari semua luka Seulri yang pernah dilihatnya, ini adalah luka dan memar terparah yang ada. Detik itu juga Kyuhyun bersumpah pada dirinya untuk menjaga Seulri sepanjang hidupnya. Ia akan mengeluarkan Seulri dari cengkeraman ibunya sendiri, ia akan belajar lebih giat untuk menciptakan masa depan yang cerah bagi mereka berdua, ia akan terus melindungi gadis kesayangannya dan menciptakan hidup yang membahagiakan bagi mereka berdua.

“Lukanya buruk sekali, bukan?” Seulri melirik sekilas pada Kyuhyun yang sedang mengamati luka di punggungnya.

Bukannya menjawab, lelaki itu justru mencondongkan wajahnya lalu mengecup kulit punggung Seulri sementara tangannya membelai bahu gadis itu dengan lembut. “Kau tetap cantik, Seul. Apa pun kondisimu, kau tetap terlihat cantik di mataku.”

Gadis itu memejamkan matanya sambil melanjutkan isak tangisnya. Ia bersyukur, karena meskipun Tuhan meletakkannya dalam sebuah keluarga yang berkonflik, ia masih mendapatkan lelaki ini sebagai sandaran hidupnya. Bagi Seulri hubungan keluarga belum tentu selalu lebih erat dan cara Kyuhyun yang selalu memandang Seulri seolah gadis itu adalah poros hidupnya bisa membuat gadis itu lebih optimis dalam menghadapi masa depannya.

“Aku akan merawat luka ini seperti tadi aku merawat luka di tanganmu, peluk lah bantal itu jika kau mau teriak, oke? Aku akan mencoba untuk menuntaskan secepat mungkin agar kau tidak kesakitan terlalu lama.” Kyuhyun meraih kotak P3K yang tadi ia letakkan di lantai dan mulai melakukan prosedur yang sama pada kulit punggung bagian atas Seulri. “Apakah ini pertama kalinya dia memukulmu di punggung?” Ia mulai mengusapkan kapas pada luka Seulri.

Gadis itu menyembunyikan wajah di dalam bantal yang dipeluknya, mencoba sebisa mungkin untuk tidak teriak.

“Apa ibumu sangat murka dengan nilai rapormu?” Tanya Kyuhyun lagi.

Seulri mengangguk singkat, masih menyembunyikan wajahnya di dalam bantal.

“Aku selesai.” Kyuhyun kembali menyampirkan cardigan Seulri di kedua bahunya. “Akan terasa perih beberapa saat, tapi setidaknya tidak akan infeksi.”

Seulri kembali duduk tegak di tepi ranjang Kyuhyun, menatap kekasihnya sambil menebak-nebak apa yang lelaki itu pikirkan sampai membuat alisnya bertaut. “Oppa, apa yang mengganggumu?” Seulri mengangkat tangannya untuk membelai wajah Kyuhyun. “Kumohon, jangan merasa sedih karena apa yang baru kau lihat.”

I’ll do better.”

“Ne?”

“Aku akan menjadi kekasih yang lebih baik lagi bagimu.” Kyuhyun bangkit dari ranjanganya untuk menaruh kotak P3K di atas meja belajar. “Pasti kau tersiksa sekali beberapa bulan ini karena aku terlalu sibuk dengan studiku. Luka-lukamu, banyak yang usianya lebih dari tiga hari tapi aku tidak ingat kau pernah berkeluh kesah masalah ibumu akhir-akhir ini. Kau selalu bilang bahwa keadaanmu baik-baik saja, mengapa kau berbohong padaku? Pasti karena aku tidak lagi bisa diandalkan hingga kau memilih untuk memendam masalahmu seorang diri—itu artinya aku kekasih yang buruk sekali, bukan?” Kyuhyun menyimpulkan dengan suara parau penuh penyesalan.

Seulri ikut bangkit untuk menghampiri Kyuhyun di mejanya, gadis itu segera melingkarkan lengannya di seputar pinggang Kyuhyun sembari memeluk kekasihnya dari belakang. “Bukan karena itu, oppa. Aku tidak cerita padamu karena tidak mau membebani, lagipula aku sudah terbiasa dengan perilaku eomma. Tapi malam ini lebih sulit bagiku, karena bukan hanya eomma memarahiku habis-habisan, tapi aku pun kecewa atas pencapaiaku yang tidak maksimal. Maafkan sifat keras kepalaku yang terus memaksa untuk bertemu denganmu malam ini, aku paham kau sibuk sekali, tapi aku sangat merindukanmu.”

Kyuhyun menbalik tubuhnya untuk menghadap Seulri, membelai rambut kekasihnya dengan sayang. “Kau tahu kalau aku juga sangat merindukanmu, kan?”

Dengan seringai di wajahnya, gadis itu mengangguk sambil menunjuk pada foto dirinya di samping ranjang Kyuhyun. “Foto itu membuktikannya.”

Lelaki itu terkekeh sebelum kembali mendekap Seulri ke dalam pelukannya. “Seul, bukannya aku berniat merusak suasana, tapi ini sudah malam, aku harus mengantarmu pulang.” Ia mengecup puncak kepala Seulri.

“Boleh kah aku menginap?” Seulri berbisik pelan tapi Kyuhyun bisa mendengarnya dengan jelas. “Besok hari Sabtu dan aku kabur dari rumah lewat jendela kamarku. Aku tidak peduli siksaan yang akan kuterima besok dari eomma saat dia menyadari aku tidak di kamar, tapi kumohon jangan kirim aku pulang.” Ia memeluk pinggang Kyuhyun lebih erat.

“Aku tidak boleh menginapkan lawan jenis, sayang.” Kyuhyun berkilah meskipun menganggap ide Seulri tidak buruk.

“Kumohon, oppa.” Gadis itu mulai merengek sambil menunjukkan ekspresi aegyo-nya. “Jangan kirim aku pulang, aku akan tidur di lantai dan aku janji tidak akan berisik serta mengganggumu, ne? Ne?”

“Seul, apa kau sedang mencoba merayuku dengan berlagak sok imut?” Kyuhyun tersenyum meledek.

“Apa usahaku membuahkan hasil?” Cengiran lebar di wajah gadis itu kembali.

Kyuhyun menghela napas panjang sambil berpikir, tapi pada akhirnya ia mengangguk. “Baiklah, tapi kau tidur di ranjang dan aku tidur di lantai.”

Seulri melompat senang sambil menciumi wajah Kyuhyun sebelum memeluk kekasihnya erat. “Terima kasih, oppa. Aku mencintaimu.”

Lelaki itu memeluk Seulri lebih erat sebelum membisikkan kata-kata indah yang selalu membuat gadis itu tersipu. “Aku juga mencintaimu Kang Seulri. Kau tidak akan bisa membayangkan seberapa besar rasa cintaku padamu, sayang.”

tbc…


author’s note:

maafkan typo yang kayaknya banyak banget dan tata bahasa yang kacau balau… Beneran nggak sempet ngedit 😖

Advertisements

81 thoughts on “Final Call – 4 [Not-So Long Distanced]

  1. trinoviwulandari says:

    Kasian seulri ya harus berjuang buat dia selamat,masa lalu yg kejam sekaligus menyenangkan karna da kyuhyun
    Tapi knp kyuhyun spt menghianati seulri

    Liked by 1 person

  2. chodalnim says:

    Kyuhyun selingkuh?!? Ya!!!
    Seulri sangat mencintai Kyuhyun tpi hati Kyuhyun bukan milik seulri lgi)): jdi dmna hati Kyuhyun? Mna? Hobaa!! Kesel guaa.. huha!!!

    Liked by 1 person

  3. Wadiyo says:

    “Pada bagian awal yang bewarna abu-abu menceritakan MASA SEKARANG. Lalu pada bagian selepas tanda (***) yang bewarna hitam menjelaskan tentang MASA LALU”
    ternyata seperti itu ya, baru ngeh nih.
    terima kasih info-nya

    Like

  4. callista says:

    Romantis gini kok ya bs bubar T_____T .. Mungkinkah kyuhyun selingkuh >_< atau justru seulri yg menghindar … Ijin baca part selanjutnya kak hehehe fighting !

    Liked by 1 person

  5. MarooKyu88 says:

    Saia datang bt lanjut baca ff atu ini, tapi lupa trakhir baca part berapa. Acak deh baca part 4.

    “Aku juga mencintaimu Kang Seulri. Kau tidak akan bisa membayangkan seberapa besar rasa cintaku padamu, sayang.”
    Dan sepuluh tahun mendatang entah sebesar cinta kyu telah sirna; bahkan di saat seulri sekarat cuma janji bt jadi teman baik utk memperbaikinya ??? hanya teman ??
    Dan sebesar apa kesalahan yg seulri buat?
    Sampai cinta kyu yg besar sirna ?

    Andai seulri darahnya AB positif, SaiA dg ikhlas meluncur ke Rs buat donorin. Saia syuka sekalehhh klo donor darah*curhat%)#

    Liked by 1 person

  6. Deer_Autumn says:

    akhirnya bisa coment juga di part ini, maaf tidak sempat coment di part sebelumnya. Menurut pemikiranku biasanya fiksi yang menggunakan alur campuran seperti ini berbau sad hingga bisa bisa akhirnya pun meyedihkan, maaf kalo terkesan sok tau, tapi semoga aja berakhir bahagia,karena aku tipe orang melankolis yang gemar membaca fiksi sad tapi benci dengan akhir yang sedih. Tapi, apa maksud dari hati Kyuhyun bukan milik seulri lagi? apakah Kyuhyun sudah menemukan pelabuhan hati yang lain? Berarti miris banget jadi Seulri,tapi disini konteksnya Seulri juga bersalah karena dia gak jujur sejak awal (kalau benar dugaanku,Kyuhyun marah dengan Seulri karena tidak adanya kejujuran didalam hubungan mereka)

    Liked by 1 person

  7. CheesyByun says:

    gak kbyang jdi seulri yg sekarat terus diwaktu sekarat dia msih keinget masa lalu mereka,, dan msih mengushakan buat tetep sadar,..
    Nyeeessss bget..
    Sakit.. Tpi pasti ada pelangi setelah hujan badai..
    Berharap nya gitu,, ahayyy

    Liked by 1 person

  8. wienfa says:

    seulri km hrus brjuang..dan stlah sehat kmbali hduplah lbih baik..
    wah..waah kcwa bgt..jadi nnt kyu cma brhrap buat jadi tmen yg lbih baik gtu klo seulri bngun n sehat lag?
    di kilasn msa lalu nya..tkut bgt klo kyu slingkuh n mulai nglupain seulri.ksian bgt seulri..itu ibu nya sakit jiwa maen pkul2 smpe memar2 jga.astagfirullah..

    Liked by 1 person

  9. Iim.harianto1 says:

    Ibu seulri kejem bgt ea nyiksa ank sbgtux,,ayah seulri jg buta bgt am cinta smpe istrix mæn tgan pun msih dprtahanin.
    trs,,kyuhyun ma seulri dmsa skrg gmn sttusx kok janji akn jd tmen yg lbih bæk lg.
    Penasaran akut nih

    Liked by 1 person

  10. nabilauma says:

    nyesek banget. iyasih ini demi cita2. “Sedangkan sekarang untuk bertemu dengan Kyuhyun saja Seulri harus memohon dengan uraian air mata terlebih dahulu sebelum pria itu menyerah dan mengizinkannya untuk datang”. nyesek 😭

    Liked by 1 person

  11. Cho Sarang says:

    Malang nasib seulri yang punya orang tua yang buruk. Bukankahvtugas orang tua itu melindungi anaknya bukan malah menyiksanya seperti itu.

    Dan ayahnya seulri ? Apa yang dilakukannya saat istrinya menyiksa anak mereka sendiri, bukankah tenaga pria lebih besar dibanding tenaga wanita harusnya dia bisa melindungi seulri.

    Inilah yang membuat beberapa orang memiliki masa depan suram bahkan banyak yang berakhir jadi psikopat atau kriminal itu disebabkan oleh trauma masa kecil

    Liked by 1 person

  12. dfhcsw says:

    kenapa kalo seulrinya sehat nggak balikan aja sih mereka? kenapa kyuhyun malah bilang pengen jadi temen seulri aja? huhuhu sedih banget iih penasaran banget sama kisah cinta mereka berdua. pasti banyak banget rintangannya. seulri kasian banget sih sampai dihajar habis2an gitu sama ibunya gara2 2 nilai B ya ampun jahat banget ibu seulri kenapa nggak cerai aja sih ortu seulri atau seulri kabur terus aja lah kasian dia eh tapi dia masih sekolah pasti bakal ribet juga

    Liked by 1 person

  13. Dyana says:

    Part ini kelewat, ya ampun… Krna kemaren aku stop baca jd lupa smpai part mana, malah main baca part 5 aja. Haha…

    Tp part ini cukup miris, kasihan Seulri, tp untung ada Kyu.
    Melihat ini malah tambah penasaran, apa yg terjadi nantinya, konflik apa yg membuat Seulri bisa kecelakaan dan berusaha minta maaf… Cuss part selanjutnya.

    Liked by 1 person

  14. fhialutfia says:

    Maaf baru smpat ninggalin jejak…
    Jujur part ini paling menyentuh dan nasibnya seulri kok miris banget yah..

    Tapi klau baca ceritanya yg masa sekarang spertinya hubungan kyu dan seulri kedepannya ada masalah sebelum kecelakaan itu.

    Liked by 1 person

  15. Hyorin says:

    Masalalu mereka manis bgt…ada sedihnya jg dgn kelakuan oemmanya seulri yg tega mukul anaknya sndri .
    Kok rasa2nya bakal sad end..
    Perasaan seulri ke kyuhyun masih sama..tp gak tau perasaan kyu k seulri .masih sm atau udah berubah

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s