Final Call – 3 [Growing Up]

fc_03

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Angst, NC-21

Main Cast: Kang Seulri & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

(Cerita ini memiliki alur maju-mundur. Pada bagian awal yang bewarna abu-abu menceritakan MASA SEKARANG. Lalu pada bagian selepas tanda (***) yang bewarna hitam menjelaskan tentang MASA LALU. Harap diperhatikan.)

 

 

Tubuh wanita itu menggelepar hebat akibat sayatan scapel[1] tajam yang ditorehkan pada sisi tubuhnya. Sekali lagi Kang Seulri tersadar dari bayang-bayang masa lalu yang barusan menghampirinya, wanita itu kembali mengenali lokasi bangsal gawat darurat tempatnya berada.

36 French-tube[2] sukses dimasukkan.” Suara dokter wanita yang tadi kembali terngiang.

“Seulri-ya, lihat aku. Fokuskan perhatianmu hanya padaku, kumohon, Seul! Aku tahu pasti torehan scapel barusan terasa sangat perih. Aku pun paham bahwa menutup matamu untuk tidur terkesan seperti ide yang jauh lebih baik. Tapi kau tidak boleh tidur, kau harus tetap sadar, oke?” Suara Kyuhyun kembali terdengar di sisi kanannya.

Seulri melirik ke kanan sekedar memastikan bahwa poros hidupnya masih berada di sana.

Oppa, aku takut. Apa yang mereka lakukan pada tubuhku? Ia ingin meneriakkan kalimat itu, namun yang muncul dari mulutnya hanya rintihan yang tidak beraturan.

“Wanita ini masih hypotensive[3] dan tachycardic[4]. Fluid boluses, aku rasa ada pendarahan internal pada bagian dada.” Dokter wanita itu kembali bicara.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari wajah Seulri untuk mengecek kondisi fisik wanita itu. Selang kateter yang tadi dimasukkan dari sisi tubuhnya kini mengeluarkan banyak darah dalam jumlah yang tidak wajar. Memar pada abdomen Seulri terlihat semakin mengkhawatirkan dan luka besar di kepalanya pun masih belum ditangani.

“Tambahkan dua unit darah!” Dokter pria paruh baya memberi perintah. “Dia kehilangan terlalu banyak darah dan tolonglah panggil ahli syaraf sekarang juga!”

“Kami sudah menelpon beliau, dokter. Dokter Lee sedang cuti ke Jeongson selama satu minggu.” Salah satu suster menyahut.

“APA?! PANGGIL DOKTER SPESIALIS LAIN!” Teriaknya. “Kau! Tadi kau bilang profesimu juga dokter bedah.” Ia menunjuk pada Kyuhyun. “Scrub in[5]! Bantu kami. Staff kami sedikit sekali malam ini, ini baru tiga hari setelah festival sambok, demi Tuhan!”

Kyuhyun mengangguk sigap, tanpa menunggu perintah lanjutan ia langsung berjalan menuju suster yang sudah menyiapkan sarung tangan karet serta jubah operasi hijau untuk dipakaikan pada Kyuhyun. Memang spesialisasi pria itu belum ditentukan, karena statusnya belum menjadi residence di rumah sakit tempatnya bekerja, selain itu Kyuhyun juga masih perlu banyak jam terbang sebelum ia boleh memilih spesialisasi—tapi pria itu sudah sangat terlatih untuk bekerja di bawah tekanan.

“Bawakan padaku trauma panel dan x-ray!” Titah dokter pada suster-suster yang siaga.

Kyuhyun kembali berdiri di sisi Seulri, pria itu menggenggam tangan Seulri yang masih terikat pada sisi brankarnya dengan protektif. Wanita itu menangis dan Kyuhyun tahu persis alasannya. Seulri ketakutan sekaligus dalam kondisi shock, namun ia pun tahu bahwa wanita itu menangis karena alasan yang lebih sakral—memori akan kekejaman yang terus Kyuhyun lakukan padanya seminggu belakangan ini.

“Hey, orang baru! Siapa namamu?” Dokter paruh baya menyapa Kyuhyun dengan tergesa-gesa.

“Kyuhyun, dokter.”

“Kau sudah punya spesialisasi?”

“Belum, tapi kebanyakan operasi yang kulakukan adalah kasus kardiologi.” Jawabnya singkat.

“Mampu kah kau membantu kami? Kami benar-benar kewalahan saat ini. Tolong panggil ahli syaraf yang bekerja di rumah sakitmu, pendarahan pada kepala wanita ini perlu diperiksa, tapi kami tidak memiliki kapasitas dan keahlian untuk mengambil keputusan lebih lanjut perihal luka ini.” Pria itu menatap Kyuhyun tegas pada manik matanya, setengah berharap keajaiban bisa datang untuk menolong pasiennya yang sekarat. “Kami hanya Student Hospital, tempat ini bukan rumah sakit professional di tengah kota.”

“Aku akan menelpon sunbae-ku.” Kyuhyun mengangguk setuju sambil melangkah menjauh dari brankar Seulri.

Wanita itu mengeratkan genggamannya pada tangan Kyuhyun, seolah memohonnya untuk tidak meninggalkan sisinya.

Oppa, jangan pergi. Aku takut. Aku takut jika ini akan menjadi akhir hidupku dan aku takut tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padamu saat malaikat maut menjemputku. Mohon Seulri dalam hati, berharap Kyuhyun memahami arti tatapan miris wanita itu.

“Seulri-ya, aku harus keluar ruangan ini sebentar saja. Satu menit saja dan aku janji akan kembali di sisimu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.” Kyuhyun menunduk dan berbisik di telinga Seulri. “Aku harus menelpon sunbae-ku, agar beliau bisa datang ke sini untuk menolongmu, oke?”

Wanita itu mengedip sekali pertanda paham.

“Nah, selama aku menghubunginya, kau harus terus membuka kedua mata indahmu, ne?” Ia mencoba menahan deras air mata yang mengalir dari pelupuknya. “Aku janji, tidak akan lama, I’ll be back in a tick.”

Seulri melepaskan genggamannya pada tangan kyuhyun, mengizinkan pria itu untuk keluar sejenak melakukan panggilan penting yang harus ia lakukan.

Napas wanita itu terasa menjadi pendek-pendek, ia berusaha semampunya untuk patuh pada titah Kyuhyun, namun seluruh tenaganya sudah habis dikerahkan untuk menahan jutaan impuls sakit yang menyerang tubuhnya secara bersamaan. Hal terakhir yang ia ingat adalah sekantung cairan bewarna merah kembali digantungkan di samping kirinya, sebelum Kang Seulri kembali tertidur.

Serpihan kenangan lain kembali menghampiri alam bawah sadarnya, moment Cho Kyuhyun melepas genggaman tangannya adalah moment kesadaran Seulri kembali ditarik pada memori akan rintangan pertama dalam hubungan indah mereka.

 

***

 

Cho Kyuhyun sangat bersemangat, setelah kerja keras tiada akhir serta malam-malam panjang yang ia habiskan di tempat kursus persiapan universitas, akhirnya ia berhasil diterima di fakultas kedokteran yang ia impikan. Dengan bangga ia memamerkan pada Seulri surat penerimaan dari salah satu universitas paling bergengsi di Korea Selatan dengan senyum puas.

Sore itu, Keduanya sibuk membereskan barang-barang Kyuhyun yang akan di bawa ke asrama kampusnya nanti—kegiatan yang membuat Seulri sedikit gelisah.

Kang Seulri hanya duduk memperhatikan tingkah kekasihnya dari tepi ranjang lelaki itu, lengkap dengan bibir dimanyunkan sementara Kyuhyun sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam dus besar. Bagi Seulri, kepindahan Kyuhyun ke asrama sangat tidak masuk akal, karena toh kepindahannya hanya beberapa puluh kilometer saja dari lokasi rumahnya yang sekarang, mereka masih berada di kota yang sama. Tapi lelaki itu sudah menjelaskan berkali-kali tentang jadwal kuliahnya yang padat, dengan kelas pagi yang bertebaran pada jadwalnya, ditambah lagi urusan inisiasi kampus yang akan sangat memakan waktunya kelak—membuat tinggal di asrama menjadi pilihan yang paling bijaksana untuk saat itu.

Alasan lain mengapa Kyuhyun bersemangat tinggal di asrama adalah karena ia tidak harus tinggal satu atap lagi dengan kedua orang tua dan adiknya. Layaknya remaja lelaki lain, ia ingin mencicipi sensasi tinggal sendiri dan belajar mandiri tanpa pengawasan orang tua.

“Oppa, kau hanya pindah ke asrama, tapi kenapa seluruh isi kamarmu kau pindahkan ke dalam dus-dus itu?” Seulri semakin manyun. “Aku tidak suka melihatnya, kau seperti mau minggat.”

Kyuhyun menaruh buku di tangannya ke dalam boks berlabel ‘buku’ sebelum ikut duduk di tepian ranjang bersama kekasihnya yang sedang merajuk. Dengan lembut ia membelai rambut Seulri, sekali lagi mencoba memberikan pengertian yang bisa menghapus tekukan di wajah gadis itu.

“Aku membutuhkan nyaris semua perabot di kamar ini, sayang. Kalau aku harus bolak-balik dari Sungkyungkwan setiap ada yang tertinggal pasti akan merepotkan sekali.” Jelasnya.

Gadis itu menghela napas panjang. “Jadi itu artinya kau tidak akan pulang terlalu sering? Berarti kita akan semakin jarang bertemu.”

“Kuharap kau bisa mengerti bahwa kita tidak bisa lagi bertemu setiap hari seperti sekarang. Tapi kita masih punya akhir pekan untuk dihabiskan bersama dan aku pasti akan pulang ke sini demi berkencan dengan gadis kesayanganku ini.” Ia mencubit pipi Seulri gemas. “Aku janji akan sering pulang, karena aku pasti akan sangat menrindukanmu.”

“Kalau begitu tinggalkan beberapa barang pentingmu di sini, agar kau selalu punya alasan untuk pulang.” Gadis itu menarik bantal di sampingnya untuk dipeluk.

“Kau adalah hal penting yang kutinggal di tempat ini.” Lelaki itu mencoba mencairkan situasi tapi wajah Seulri tetap datar. “Hey, ayolah. Hentikan ulah merajukmu, kau jadi terlihat jelek.”

Bukannya menanggapi, Seulri justru semakin menekuk wajahnya kesal.

Kyuhyun menatap mata kekasihnya lekat-lekat, ia bisa melihat sorot kesedihan dalam dua bola mata indah itu dan ia mengerti kehampaan yang akan dirasakan gadis itu sepeninggalnya Kyuhyun ke asrama kampus. Lelaki itu telah menjadi sandaran utama bagi hidup Seulri, tempat gadis itu berkeluh kesah, tempat Seulri menangis sepuasnya, juga sebagai tempatnya berlindung saat kondisi di rumahnya mulai menegang. Gadis itu sudah terbiasa dengan perlakuan Kyuhyun yang selalu memanjakannya dan ia akan merasa sangat kehilangan kekasihnya karena hal itu.

“Seulri-ya, aku akan mengajakmu ke asrama nanti saat kamarku sudah rapi.” Kyuhyun menarik Seulri ke dalam dekapannya. “Jika ada masalah di rumah, kau bisa datang ke asramaku, ketuk pintuku dan aku masih akan tetap mendekapmu seperti ini. Malah kalau dipikir-pikir, kita bisa bertemu lebih lama karena tidak ada jam malam dari orang tuaku.” Pria itu terkekeh jahil.

Seulri menanggapi kekehan Kyuhyun dengan datar. “Lalu bagaimana jika kau semakin sibuk?” Ia menenggelamkan wajahnya di lekukan leher kekasihnya. “Aku dengar cerita dari Hyeri, pacarnya juga masuk kuliah tahun kemarin dan katanya hubungan mereka semakin merenggang karena lelaki itu tidak bisa membagi waktu antara tugas tahun pertama dan juga kegiatan kampus.”

“Itu kan hubungan mereka, bukan hubungan kita. Pengalaman kita akan berbeda. Coba kau beritahu aku, apa yang membuatmu khawatir?”

Seulri mengangkat kedua bahunya. “Aku hanya tidak mau kehilanganmu, oppa.”

“Aku kan tidak kemana-mana, Seul.” Kyuhyun kembali mencubit sebelah pipi Seulri, menatap kekasihnya lekat. “Aku akan terus ada untukmu dan aku juga akan menjadi kekasihmu yang setia. Hey, aku bisa mendapatkan gadis manis, baik dan sangat cantik seperti ini sebagai kekasihku. Pasti akan kujaga baik-baik hubungan kita seterusnya.”

“Cih, gombal!” Seulri mendengus sebal.

“Aku serius.” Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah Seulri. “Kau adalah jimat keberuntunganku dan aku tidak akan melepaskanmu.”

Gadis itu menatap manik mata gelap tajam di hadapannya, mencari alasan—sedikit saja alasan—untuk meragukan kekasihnya. Tapi ia tahu lelaki di depannya tulus dengan semua kata yang diucapkan.

“Aku mencintaimu, Seulri-ya.” Tambah Kyuhyun. “Aku tahu kita memang masih sangat muda dan banyak orang dewasa akan tertawa mendengar sepasang bocah SMU mengungkapkan cinta, tapi aku sungguh mencintaimu.”

Senyum kecil tergambar pada wajah tirusnya, lelaki itu sudah mengungkapkan perasaannya berulang kali namun tetap saja jantungnya berdegup kencang setiap mendengar kata-kata itu.

“Aku juga mencintaimu, oppa.” Ia mengalihkan tatapannya pada buku-buku jarinya. “Tapi di saat bersamaan aku juga takut kau akan bertemu gadis yang lebih baik, lebih cantik dan lebih menarik dariku. Aku takut kau akan jatuh cinta dengan orang lain, kemudian perlahan kau akan menjauh lalu meninggalkanku sendiri.”

“Untuk apa aku melakukan itu?” Ia mengangkat dagu mungil Seulri untuk menatapnya. “Seulri-ya, kita ini masih tinggal di kota yang sama, aku hanya pindah sedikit ke arah timur. Lebih baik kita memikirkan cara untuk terus berkomunikasi, ketimbang memikirkan berbagai kemungkinan buruk yang justru membuat hati kita resah.”’

“Bagaimana caranya berkomunikasi jika intensitas pertemuan kita akan berkurang.” Sahut gadis itu sambil menggerutu.

“Bukan kah orang dewasa menjalani hubungan mereka seperti itu? Maksudku, mereka tidak harus bertemu setiap saat karena aktifitas mereka, tapi komitmen mereka untuk terus bersama tetap terjaga.” Kyuhyun masih mencoba membujuk. “Anggap saja ini adalah tahap pertama kita melangkah menuju hubungan yang lebih serius dan dewasa.”

“Aku tidak suka hubungan dewasa.” Gadis itu kembali menyandarkan kepala di atas bahu lebar kekasihnya. “Aku suka dengan apa yang kita miliki sekarang. Aku suka pulang sekolah diantar kekasihku, aku menikmati perjalanan pulang kita, aku senang menghabiskan waktu setiap hari bersamamu.” Seulri menarik napas dalam. “Kau adalah hal terbaik dalam setiap hariku, oppa. Sekarang aku harus menanti satu minggu penuh sebelum bisa bertemu denganmu.”

Lelaki itu mengeratkan dekapannya di sekitar tubuh Seulri. “Aku tahu, ini pasti akan sulit untuk kita tapi aku yakin kita bisa melewatinya. Apa ada yang bisa kulakukan untuk membuatmu merasa lebih baik sekarang, Seul?”

“Jangan selingkuh! Berjanjilah kau tidak akan melirik gadis lain.” Sahut Seulri cepat. “Pastikan matamu itu hanya memandangku dan memandang buku-buku tebalmu itu. Jangan berani mencari kekasih lain.”

Kyuhyun terkikik geli pada jawaban spontan Seulri. “Kau juga! Jangan mencari lelaki lain untuk mengantarmu pulang dan pastikan kau sudah tiba di rumah sebelum matahari terbenam, aku tidak bisa melindungimu seperti biasa.”

Gadis itu mengangguk putuh.

“Dan sebelum aku benar-benar pindah, ayo kita pergi kencan.” Ia merogoh kantung belakang celananya untuk meraih dua tiket. “Aku menyiapkan tiket liburan ke taman bermain, mari bersenang-senang besok.”

Seulri melirik tiket di tangan Kyuhyun dengan tatapan kurang antusias, namun ia memaksakan senyuman di wajahnya. Baginya, tiket ke taman bermain tidak sebanding dengan rasa sedih yang dirasakan dalam hatinya. Seandainya ia boleh menukar tiket itu dengan kehadiran Kyuhyun di sisinya setiap hari, maka Seulri tidak perlu berpikir dua kali untuk melakukannya. Di sisi lain gadis itu paham usaha keras yang dilakukan kekasihnya untuk tiba di kampus impiannya, Seulri menghargai mimpi Kyuhyun dan ia berniat mendukung setiap langkah yang akan diambil pria itu demi masa depan cerah yang selalu ada dalam genggamannya.

“Baiklah.” Senyumnya semakin melebar. “Tapi aku mau satu hari penuh tanpa gangguan apa pun denganmu.”

“Tentu saja.”

“Lalu aku akan datang ke asramamu, aku harus melihatnya sendiri jadi aku bisa datang kapan pun sesuka hatiku.” Ancam Seulri. “Dengan demikian kau tidak akan bisa menyembunyikan gadis lain di kamarmu.”

Lelaki itu tertawa, wajah Seulri yang cemburu terlihat sangat manis di matanya. Satu-satunya pikiran yang terlintas dalam benaknya saat itu adalah bertapa mustahil dan tidak masuk akal kekhawatiran yang Seulri rasakan. Ia hanya melihat Seulri, hanya gadis itu yang bisa mengisi setiap relung hatinya dan bagi Kyuhyun tidak akan ada gadis lain yang sanggup menggantikan tahta Seulri dalam hidupnya. Ia adalah gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta, gadis pertama yang membuat Kyuhyun merasa penting, dan satu-satunya gadis yang membuat Kyuhyun ingin memperjuangkan hidupnya demi memberi masa depan yang cerah bagi mereka kelak.

.

.

.

Hari berikutnya menjadi kegiatan kencan paling cliché yang pernah mereka lalui. Kyuhyun menjemput Seulri pagi sekali di rumahnya, berjalan bersama gadis itu dengan bus umum menuju taman bermain dengan tujuan untuk membuat perjalan mereka semakin berkesan. Kyuhyun menuruti semua keinginan Seulri, menaiki semua wahana yang gadis itu tunjuk dan pada hari itu pun mereka mengambil banyak foto bersama sebagai kenang-kenangan. Sepanjang kencan Kyuhyun tidak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Seulri dan yang pasti ia selalu memastikan bahwa senyum cantik kekasihnya tidak pudar dari wajah gadis itu.

Seulri bisa saja berpura-pura senang dan menunjukkan senyum lebarnya di hadapan Kyuhyun, meskipun dalam lubuk hatinya gadis itu menangis. Gadis itu sedih karena satu-satunya orang yang selalu melindunginya akan menjauh, ia khawatir hubungan mereka akan merenggang dan ia sangat takut akan kehilangan Kyuhyun—sosok yang selama ini menjadi pelindungnya.

Ke mana Seulri harus mengadu sekarang jika intensitas pertemuannya dengan Kyuhyun terbatas?

Semalam saja buktinya, ibu Seulri pulang dalam keadaan mabuk lagi. Seperti biasa wanita itu bertransformasi menjadi sosok pemarah yang kasar sebelum ia mulai menyalurkan emosinya pada Seulri dan ayahnya. Gadis itu sudah berkali-kali mengusulkan perceraian pada sang ayah, agar mereka bisa mencari kehidupan yang lebih baik, agar mereka bisa lepas dari kekejaman ibunya yang seorang pemabuk kambuhan—namun ayahnya terus menolak.

Pria itu terlalu mencintai isterinya, ayah Seulri selalu mencoba menengahi drama pertikaian Seulri dan ibunya, mencoba menjadi ayah sekaligus suami yang baik bagi kedua wanita penting dalam hidupnya. Sayangnya, cinta Tuan Kang pada isterinya masih lebih besar ketimbang logika dan nalarnya. Kejadian semalam adalah sequence yang selalu terjadi bagaikan lingkaran setan yang tidak pernah berakhir. Pada malam hari Tuan Kang akan bersusah payah melindungi anak gadisnya dari amukan sang isteri, tapi keesokan harinya, pria itu selalu mencari alasan untuk mengampuni perbuatan kasar isterinya dan biasanya sikap itu disertai dengan ceramah agar Seulri memaklumi tingkat stress yang menyertai pekerjaan sang ibu.

Gadis itu lelah mengahadapi pertikaian di rumahnya dan biasanya, Cho Kyuhyun akan menjadi sandaran baginya untuk berkeluh kesah. Namun peran  penting Kyuhyun justru mulai bergeser sejak saat itu.

Kembali pada acara kencan mereka, saat matahari mulai tenggelam, Kyuhyun mengajak Seulri ke bagian favorit mereka dari taman bermain—satu gang penuh dengan claw machine[6] berisi berbagai boneka edisi terbatas. Lelaki itu selalu suka pamer akan kamampuan dan tingkat presisinya dalam menggunakan claw machine dan gadis itu tentu senang mengoleksi semua boneka yang bisa didapatkan lelaki itu untuknya. Dalam hubungan mereka yang nyaris berusia satu tahun, Kyuhyun sudah berhasil memenuhi kamar Seulri dengan puluhan boneka dan sore itu bukan pengecualian.

“Boneka apa yang kau inginkan?” Kyuhyun merogoh saku celananya untuk mengambil koin 500 won. “Aku akan mengambilkan apa pun yang kau mau.” Ujarnya dengan seringai bangga.

Seulri menelusuri boneka-boneka yang terpajang di dalam mesin-mesin sepanjang gang itu. Sebuah boneka Anpanman berukuran sedang langsung menarik perhatiannya. “Itu! Kumohon, oppa, ambilkan aku Anpanman itu!” Tunjuknya pada mesin di sudut gang. “Aku tidak mau tahu berapa kali kau mencoba, itu edisi khusus, mereka tidak menjualnya di toko biasa.”

“Biasanya yang berukuran besar lebih sulit, tapi untuk gadisku yang spesial, aku akan mencoba.” Ia mengacak rambut Seulri sekilas sambil melangkah mendekati mesin dan mulai berkonsenterasi dengan stik kontroler serta tombol yang ada.

Hanya diperlukan empat kali percobaan hingga Kyuhyun mendapatkan boneka yang Seulri minta. Dengan wajah bangga ia mengambil boneka dari balik panel tempat boneka itu terjatuh lalu menyodorkan Anpanman berukuran sedang itu pada kekasihnya. “Sejauh ini, sudah berapa banyak boneka yang kudapatkan untukmu?”

“Banyak sekali!” Balas Seulri dengan cengiran lebar sambil memeluk boneka Anpanman barunya erat. “Gomawo, oppa. Tapi aku akan lebih bahagia lagi kalau kau bisa mendapatkan boneka Sully di mesin yang itu.” Tunjuknya dengan mata berbinar pada mesin lain.

“Kau serakah sekali hari ini.” Kyuhyun menggelengkan kepala sambil terkekeh, tapi ia menurut untuk mengambilkan boneka yang Seulri tunjuk sebelumnya.

862db48e3586faea5423a39e562b4efc

Gambar milik Byun Jeongha

 

Lelaki itu berhasil mendapatkan boneka lain yang Seulri inginkan, lagi-lagi ia sukses mengukir senyum indah pada wajah cantik yang akan sangat dirindukannya nanti. Sesungguhnya senyum Seulri di saat ia memberikan boneka tangkapannya lah yang menjadi momen berharga bagi Kyuhyun. Lelaki itu rela melakukan apa pun demi mengukir senyum indah di wajah gadis yang terlalu sering menyembunyikan masalahnya. Kyuhyun tahu bahwa Seulri harus banyak bersabar menghadapi dinamika keluarganya, boleh saja gadis itu tersenyum lebar tapi Seulri tidak membodohi siapa pun.

Hari itu ia pun tidak berhasil membodohi Kyuhyun.

Di musim panas yang lembab, gadis itu memilih menggunakan baju lengan panjang—satu hal yang tidak masuk akal bagi Kyuhyun, namun ia paham alasan di balik pemilihan kostum Seulri hari itu. Pasti ibunya berulah lagi semalam dan Seulri terpaksa harus menutupi jejak-jejak penganiayaannya.

Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan gadis itu tapi saat Kyuhyun melirik arlojinya, hari sudah mulai malam dan ia tidak mau mencari masalah dengan ibu Seulri. Gadis itu sudah cukup sedih dengan kepindahan Kyuhyun ke asrama, tidak perlu diperburuk dengan bumbu cacian dari ibunya. Mereka memilih naik metro kali ini, untuk mempersingkat perjalanan di jam ramai pulang kantor. Keduanya turun pada stasiun terdekat dengan daerah tinggal mereka dan untuk terakhir kalinya, Kyuhyun menggenggam tangan Seulri melewati jalan setapak yang selalu mereka lewati sepulang sekolah.

“Aku akan merindukan jalan ini.” Ujar Kyuhyun.

“Kau bisa menjemputku di sekolah, entah kapan, mungkin saat jadwalmu sedikit lengang.” Usul Seulri.

Lelaki itu mengangguk setuju, ia menarik tangan Seulri untuk mengikuti langkahnya menuju taman tempat di mana ia pertama kali mengungkapkan perasaannya. Kyuhyun menghentikan langkahnya sembari menanyakan hal yang sejak pagi sudah mengganggu benaknya. “Seulri-ya, apa kau akan baik-baik saja?” Tanyanya dengan nada serius.

Dengan senyum lebar yang terlalu dipakasakan, Seulri mengangguk meyakinkan kekasihnya. “Kau sendiri yang bilang, kita masih tinggal di kota yang sama jadi aku bisa menghampiri asramamu kapan pun aku mau. Tentu saja aku akan merindukan momen berjalan pulang bersamamu, terutama jika melawati taman ini—taman ini berarti sekali untuk kita bukan?” Ia mencoba menghapus kesedihannya dengan tawa hambar.

“Aku pun akan sangat merindukanmu. Tapi rasanya hatiku masih terasa berat, Seul.” Kyuhyun meletakkan tangannya di atas dada. “Aku khawatir dengan keadaanmu di rumah.”

Seulri tersenyum pahit lalu menarik tangan Kyuhyun untuk kembali berjalan menuju taman. “Oppa, tidak akan ada yang bisa merubah sifat eomma. Kau bisa saja mengawalku 24 jam dan ibuku akan tetap berperilaku seperti itu. Aku dibesarkan olehnya, jadi aku sudah tahu cara untuk menghadapinya. Jangan khawatir masalah itu.”

“Dia memukulmu lagi, bukan?” Tanya Kyuhyun lugas tanpa mencoba mengganti kata sapa ibu Seulri dengan sapaan sopan, karena baginya, wanita itu tidak pantas dihormati.

“Tidak. Semua baik-baik saja.”

“Ini musim panas dan udara saat ini 30 derajat, tapi kau malah memakai baju hangat berlengan panjang.” Kyuhyun menunjuk pakaian Seulri. “Aku tidak bodoh, Seulri-ya.”

Gadis itu terdiam dengan pengamatan Kyuhyun yang kelewat cermat, dalam hati ia sedikit menyesalkan pembicaraan mereka. Karena hari itu ia sedang merasa bahagia, ia menghabiskan waktu seharian dengan lelaki yang dicintainya. Seulri sudah cukup sedih karena harus merelakan Kyuhyun tinggal di asrama, maka ia berusaha menghindar pembicaraan tentang masalah domestik di rumahnya.

“Biar aku melihatnya.” Tanpa menunggu jawaban Seulri, Kyuhyun mengangkat tangan gadisnya lalu menyisihkan lengan panjang jaket yang menutupi kulit Seulri.

Bukan kali pertama bagi Kyuhyun melihat bekas luka maupun memar kebiruan pada permukaan kulit gadis itu, namun setiap luka baru yang muncul selalu menorehkan rasa pilu dalam hatinya.

“Kau berdarah? Aku tidak melihat luka ini kemarin.” Kyuhyun mengusap luka Seulri yang ditutup dengan band-aid seadanya.

“Sudah mengering, tidak perlu khawatir.” Seulri menepis lengan Kyuhyun dan segera menurunkan lengan jaketnya ke posisi semula.

“Hey, itu harus dibersihkan. Ayo ke rumahku dulu, aku akan membersihkan lukamu dan membungkus dengan kasa…”

“Lupakanlah.” Potong Seulri ketus. “Aku sudah terbiasa. Lihat saja nanti, begitu aku berusia delapan belas tahun, aku akan keluar dari rumah itu. Aku akan belajar dengan giat hingga aku mendapat pekerjaan yang bagus. Tunggu saja, oppa, suatu hari aku akan tumbuh menjadi wanita dewasa yang membuatmu bangga—dan saat itu juga aku akan membuat ibuku menyesal atas perbuatannya padaku dan appa.”

Kyuhyun meraih lengan Seulri untuk manarik gadis itu ke dalam pelukannya, ia mengelus punggung Seulri dengan lembut sambil sesekali menepuk-nepuk pundak gadis itu untuk menenangkannya. “Aku percaya kau akan menjadi wanita dewasa yang mengagumkan. Tapi untuk saat ini, jika kau membutuhkan seseorang untuk berbagi, kau selalu bisa mengadu padaku, ng? Walaupun kita tidak tinggal berdekatan seperti dulu, kau hanya perlu datang padaku dan aku akan tetap menjagamu.”

Gadis itu menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher Kyuhyun, menghirup aroma maskulin yang selalu menimbulkan perasaan nyaman baginya. “Maafkan aku, oppa.”

“Untuk?”

“Membebanimu dengan masalahku. Seharusnya kau menikmati hubungan asmara remaja yang penuh dengan kisah romantis, bukan justru mendengarkan kisah anomali keluargaku.”

Kyuhyun membelai rambut sebahu Seulri sayang. “Tapi aku hanya bisa melihatmu, hatiku hanya tertarik padamu.”

Gadis itu memeluk pinggang Kyuhyun erat sampai akhirnya gravitasi berhasil menarik turun air mata yang sejak tadi coba ditahannya. “Aku tidak sabar untuk tumbuh dewasa, oppa.”

Kyuhyun mengeratkan pelukannya, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di atas bahu lebarnya. Hanya setelah tarikan napasnya lebih stabil, baru Kyuhyun bicara kembali.

“Apa yang akan kau lakukan setelah beranjak dewasa?” Kyuhyun mengusap air mata di wajah Seulri dengan ibu jarinya.

Gadis itu tersenyum lebar lengkap dengan rona merah pada wajahnya. “Aku tidak akan bilang padamu, aku malu.”

“Ey! Kau justru membuatku penasaran. Beritahu aku.” Ia mencubit pipi Seulri.

“Janji jangan tertawa.” Seulri menghapus sisa air mata yang masih tersisa pada wajahnya sebelum menyorot kedua mata Kyuhyun dengan tatapan mengancam. “Aku akan marah besar kalau kau tertawa.”

Try me.”

“Aku akan tumbuh dewasa lalu menjadi isterimu.” Seulri langsung menunduk seusai penuturannya. Gadis itu menggigit bibirnya untuk menyembunyikan rasa malu dan gugup yang menyerang tanpa ampun.

Kyuhyun, pada saat yang bersamaan justru terkesima dengan jawaban sederhana dan polos yang terucap dari mulut kekasihnya. Lelaki itu tidak perlu berpikir dua kali sebelum melakukan aksi berikutnya, ia meletakkan jemarinya di bawah dagu Seulri untuk menengadahkan wajah gadis itu. Ia tersenyum tipis saat menyaksikan wajah kekasihnya yang sudah sangat merah padam.

Malam itu, Cho Kyuhyun tidak lagi sanggup menolak pesona Seulri.

Kyuhyun menundukkan kepalanya semakin dekat dengan wajah Seulri, ia bisa merasakan hangat napas gadis itu menerpa permukaan wajahnya tepat sebelum bibirnya menyapu lembut bibir Seulri. Detik bibir mereka bertemu adalah momen di mana dunia sekitar mereka lenyap, mereka tidak lagi bisa mendengar hembusan angin musim panas, suara klakson mobil di kejauhan tiba-tiba lenyap, hanya ada deru napas mereka serta debaran jantung yang tidak beraturan.

Lelaki itu menarik wajahnya, sedikit tersipu namun juga bahagia pada saat yang bersamaan. Kekasihnya masih memejamkan mata dan rona wajahnya yang semakin menjadi jelas memberitahu Kyuhun bahwa gadis itu sama gugupnya. Seulri akhirnya membuka mata setelah kehangatan bibir Kyuhyun tidak lagi menyentuh bibirnya dan gadis itu otomatis memandangi kedua kakinya dengan gelagat gugup.

“Oppa, kau baru saja—kau baru saja mencuri ciuman pertamaku.” Ujarnya terbata sementara ia mencoba mengatur debaran jantungnya.

Kyuhyun tersenyum lebar sambil kembali menempelkan kening mereka, sedikit memaksa Seulri untuk menatapnya. “Adil, bukan? Kau juga baru saja mencuri ciuman pertamaku.” Jawabnya terkekeh. “Kau tidak boleh menerima ciuman dari pria lain, oke? Kau sendiri yang bilang barusan, kalau kau mau menjadi isteriku. Jadi mulai sekarang kau hanya boleh memandangku.”

Senyum di wajah Seulri semakin melebar. “Kau juga, meskipun akan banyak mahasiswi kedokteran yang cantik, kau harus ingat selalu bahwa aku menunggumu di sini, ne?”

Kyuhyun mengangguk. “Kau adalah rumahku, Seulri-ya. Tentu saja aku akan selalu pulang padamu.” Bisiknya pelan sebelum ia kembali menyatukan bibir mereka.

 

tbc…


 

foot note:

[1] Pisau operasi.

[2] Kateter yang dimasukkan ke dalam tubuh untuk mengeluarkan cairan.

[3] Tekanan darah rendah.

[4] Masalah dengan ritme jantung.

[5] Istilah untuk mengikuti prosedur operasi.

[6] Mesin pencapit yang biasanya digunakan untuk mengambil hadiah, cara mengoperasikan dengan memasukkan koin.

Advertisements

72 thoughts on “Final Call – 3 [Growing Up]

  1. CheesyByun says:

    nyampek gak sadar kalo yg tak baca dan tak bayangi itu msa lalu mreka,, haha
    saking terbawa feel nya dan mlah lupa kalo seulri itu lagi kritis,, T.T
    msalh apa yg sbnr nya dihadpin ama mreka..
    Dn tentunya itu kyaknya sangt menyakitkan buat keduanya…

    Liked by 1 person

  2. wienfa says:

    jadi bnar mreka pnya cinta yg bgtu dlam..tp kyu pas seulri bngun km hrus baik2 dong sm seulri..ikhh srem bngt tuh pas author nyritain pas pragrap pnindakn gtu,aplgi pas crata syat2n gtu..klopn aku prnh nglmin oprasi cessar,ttp aj srem!
    wahh itu mah ibu kndung lbih kjam dr ibu tri dong..tega bgt ya ibu nya seulri_
    iya kyuu km hrs ttp jgain seulri mskpn mau kul k dr.an.ksian dy gk kbyng hdup dlm kluarga gt.tp d ssi lain tkt kyu mlah slingkuh,smga nggk deh..smga nptn janji ny trs

    Liked by 1 person

  3. omiwirjh says:

    Di part 1 du sebutin kalau Seulri sudah biasa menerima perlakuan seperti baju di sobek untuk memuaskan hawa nafsu orang lain. Apa mungkin saat dewasa seulri malajadi maaf ‘perempuan malam’? Kalau iya apa mungkin ada hubungannya dengan sikap ibu seulri. Aku makin penasaran

    Liked by 1 person

  4. Jung984 says:

    Huh, tarik nafas buang. Jadi mereka beneran kekasih tapi yang bikin penasaran apa yang udah kyuhyun lakuin ke seulri. Seulri pasti sembuh dong, bertahan seulri. Makasih ffnya, terus berkarya.

    Liked by 1 person

  5. levi royanti says:

    Hai author aku baru buka halaman ini setelah sekian lama menghilang. Aku makin suka sama jalan ceritanya. Waktu itu pas awal2 muncul aku baru baca nyampe part 2 final call-nya. Dan aku suka semua karakter kyuhyun disetiap cerita author. Apalagi disini kyuhyun sangat dewasa di usianya yg baru SMA dalam mnghadapi kisah rumit keluarga seulri. Dan satu lg yg paling aku suka di part ini adalah ketika author mendeskripsikan cinta mrk seperti rumah yang bisa dijadikan tempat mrk berkeluh kesah dan istirahat..

    Liked by 1 person

  6. Hana choi says:

    Kisah yg romantis menurutku, tapi pasti ga selamanya kaya gitu pasti bakalan ada rintangan buat pasangan itu, seneng pas baca flashbacknya karena disitu seulri bahagia banget. Makin penasaran apa sih yg terjadi sama pasangan itu

    Liked by 1 person

  7. Cho Sarang says:

    Ternyata mereka memiliki kisah cinta yang mendalam. Lalu hal apa yang membuat seulri dan kyuhyun sampai terpisah 10 tahun ? Dan hal apa yang membuat seulri jatuh pada pekerjaan nista ? Apa karena ibunya ?

    Liked by 1 person

  8. dfhcsw says:

    iih seulri lucu banget ngambeknya pas mau ditinggal kyuhyun pindah ke asrama manis deh kisah mereka pas masih remaja. kyuhyun sayang banget sama seulri, seulri juga gitu aaah manis banget. btw kok sebel yaa sama ibunya seulri. dia jahat banget kenapa bapaknya nggak cerai aja sih kasian seulri kena pukul terus sama ibunya

    Liked by 1 person

  9. Dyana says:

    Koq aku malah happy baca part ini, padahal itu bagian masalalu, dan masa sekarang Seulri malah berjuang dengan hidupnya. Feelnya berasa bgt pas flashback, mungkin krna masa sekarangnya gak trllu panjang jd blum khawatir2 amat sm keadaan seulri.
    Ah… Cinta anak remaja yg manis… Benar2 menikmati sekali aku… Hoho

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s