Final Call – 1 [First Impression]

fc_01

Author: Ssihobitt

Category: Chapter, Angst, NC-21

Main Cast: Kang Seulri & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

(Cerita ini memiliki alur maju-mundur. Pada bagian awal yang bewarna abu-abu menceritakan MASA SEKARANG. Lalu pada bagian selepas tanda (***) yang bewarna hitam menjelaskan tentang MASA LALU. Harap diperhatikan.)

 

 

Pandangan yang dikaburkan air mata perlahan mulai menjadi jelas setelah ia mengerjabkan matanya berkali-kali. Sinar terang yang barusan mendekatinya dalam kecepatan tinggi masih tetap nampak menyilaukan pada sisi kiri, cahaya itu membantu memberi penerangan yang cukup untuk memeriksa keadaannya sendiri. Ia mengedip sekali lagi sekedar untuk memastikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah ilusi, karena jalanan aspal yang seharusnya terletak di bawah sekarang justru nampak seperti dibalikkan ke atas kepalanya.

Dalam momen itu, kenangan-kenangan hidupnya mulai menghampiri bergantian, serpihan memori nampak seperti dimainkan dalam film lama yang diputar ulang. Sepertinya benturan keras yang terjadi barusan membawa wanita itu ke masa trans yang membawa jiwanya untuk kembali menyaksikan cuplikan indah tentang memori masa kecilnya, saat ia masih seorang gadis kecil imut yang perlahan bertransformasi menjadi wanita dewasa rupawan, sampai akhirnya ilusi dalam kepalanya menuntun pada kejadian pilu yang mengantarkanya pada kecelakaan ini.

Kesadarannya kembali muncul, telinganya menangkap suara klason yang memekakkan telinga, hal berikutnya yang ia rasakan adalah kepalanya yang terasa sangat berat seolah ia ditarik gravitasi pada arah yang salah. Ia tidak mampu menggerakkan satu pun otot dalam tubuhnya dan ia akhirnya ingat akan benturan kencang yang membalikkan mobilnya pada posisi seakrang.

Dengan sisa-sisa tenaga dan kesadaran yang tersisa, ia menggerakkan ibu jarinya di atas ponsel yang sejak tadi digenggamnya, mencoba menekan speed dial nomor satu dalam panggilannya.

Panggilannya dijawab pada dering ketiga, namun bukan orang yang diharapkan yang menyahut.

“Eonni, ini Ahra. Oppa sedang keluar membeli makan malam, ada pesan? Nanti akan kusampaikan kau menelepon.” Adik perempuannya menjawab panggilan dengan nada riang.

Ia mencoba bicara, namun rongga mulutnya dipenuhi cairan kental yang berbau besi dan terasa agak asin. Saat ia mencoba menarik napas, wanita itu justru memuntahkan lebih banyak lagi darah dari mulutnya, rasa nyeri di pada rongga dadanya juga membuat situasi terasa semakin buruk.

Perhatiannya teralihkan saat pintu mobil digedor dengan kasar dari arah kirinya, sekali lagi ia mencoba menoleh untuk memberitahu sang penggedor bahwa ia masih hidup.

“Eonni? Kau bisa mendengarku?” Suara adik pria itu kembali terdengar dari telepon. “Ah, oppa baru pulang, tunggu sebentar, akan kuberikan ponselnya.”

Wanita itu bisa mendengar derap kaki adiknya berlari ke arah pintu masuk untuk menyerahkan ponselnya yang tertinggal, sambil memberitahu bahwa ia menerima telpon dari wanita yang sangat dibencinya—dan sayangnya perdebatan yang terjadi di antara mereka sore tadi juga tidak membuat situasi menjadi lebih baik.

“Ne, Seulri-ya?” Cho Kyuhyun menjawab teleponnya dengan nada datar.

Senyum kecil muncul pada wajahnya sementara air mata pilu kembali mengalir. Sekarang ia bisa merasa lebih tenang, setidaknya Seulri masih bisa mendengar suara indah pria itu untuk terakhir kalinya, mungkin cara ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri kisah mereka.

Fokus Seulri kembali teralihkan oleh gedoran lain yang lebih keras di sampingnya. Pria bertubuh besar di luar kaca mobilnya sekarang berteriak memerintahkannya untuk melindungi kepala karena ia akan memecahkan kaca untuk mengeluarkan tubuhnya. Tapi Seulri tidak peduli, tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan dan lidahnya terkunci. Ia bahkan tidak sanggup mengungkapkan isi hatinya pada pria yang sangat ia cintai, apalagi melindungi kepalanya sendiri.

Akhirnya dengan sebuah bunyi detuman yang keras kaca di sampingnya berhasil dipecahkan dengan palu darurat. Udara musim panas yang lembab langsung masuk mengiri relung paru-parunya dan sesak yang dirasakan Seulri sedikit berkurang.

“Aggashi! Kau bisa mendengarku?” Orang yang menolongnya sekarang mencoba menyinarkan senter ke wajah Seulri yang sudah bersimbah darah dan air mata.

Wanita itu melirik singkat pada ujung sabuk pengamannya, mencoba mengindikasikan bahwa ia tidak bisa bergerak sama sekali karena tubuhnya masih terikat pada jok mobil.

“Seulri-ya, gwenchana?” Suara berat pria itu kembali mengusik dari ponsel dalam genggamannya. “Ya! Kau di mana sekarang? Suara pecahan apa itu barusan?” Tanyanya terdengar khawatir.

Ia merasa tubuh kakunya sekarang ditarik paksa oleh orang yang baru saja memotong tali sabuk pengamannya. Seulri yang sudah tidak berdaya menurut saja saat pria berbadan besar itu membopongnya ke tepian jalan dan membaringkan tubuhnya di atas aspal yang terasa hangat, dengan langit malam sebagai pemandangan utamanya.

“Seul? Jawab aku! Kau baik-baik saja?” Suara Kyuhyun semakin terdengar panik.

Kalau saja ia sanggup menjawab, Seulri akan mengungkapkan seluruh isi hatinya yang ia pendam sejak pria itu meninggalkannya. Jika lidahnya mau diajak bekerja sama untuk bicara, wanita itu akan mengumbar kata maaf yang belum sempat terucap padanya, ia akan memohon demi pengampunannya. Namun ia sudah kehabisan banyak darah, benturan yang dialami barusan juga tidak bisa dibilang pelan—apalagi dilihat dari kondisi mobilnya yang terbalik dan tidak berbentuk.

“Kang Seulri! Jawab aku!” Pinta pria itu setengah membentak.

Seulri tersenyum tipis sambil menutup matanya perlahan, mengucap syukur atas kesempatan mendengar suara pria itu sebelum kesadarannya semakin menipis dan perlahan pandangannya menjadi gelap gulita.

.

.

.

Saat ia membuka matanya kembali, tubuhnya masih terbaring di atas aspal. Ia masih tidak bisa merasakan apa pun sementara kesadarannya kerap timbul dan hilang saat pria yang menolongnya terus mencoba menepuk pipinya agar ia sadar. Satu menit ia sadar namun menit berikutnya pandangannya kembali gelap.

Ia masih bisa mendengar suara pria yang masih meneriakkan namanya dari dalam ponsel di tangannya, sejujurnya Seulri ingin menceritakan pengalaman tragis yang baru saja menimpanya, tapi apa daya ia benar-benar tidak mampu menggerakkan lidahnya, cairan kental terus membanjiri rongga mulutnya sementara dadanya kembali terasa sesak seolah ia sedang ditimpa batu besar di atas tulang rusuknya.

Pria yang baru menolongnya mendengar panggilan samar dari arah ponsel Seulri, akhirnya ia mengambil ponsel untuk menginformasikan siapa pun yang ada di balik telepon itu tentang keadaan wanita yang baru saja ditabraknya.

“Y-yeoboseyo? Apakah anda mengenal wanita ini?” Ia tergagap, setengah karena takut namun ia juga tidak mau lari dari tanggung jawabnya.

“Aku bicara dengan siapa?” Balas Kyuhyun cepat.

“Aku baru saja manabrak mobil wanita ini dengan trukku, ini salahku.” Pria yang menolong Seulri tadi mulai terisak. “Aku sudah menelpon ambulans, mereka akan segera tiba di si—”

“SIAPA KAU? APA YANG TERJADI PADANYA?!” Hardik Kyuhyun semakin panik.

“A—aku seorang supir truk. Kami sekarang di dekat Incheon, ya Tuhan maafkan aku—maafkan aku.” Pria bertubuh besar itu menangis semakin keras akibat rasa bersalahnya. “Aku mengantuk, lalu pada tikungan tajam aku tidak mengerem dan tanpa sengaja menabrak mobilnya.”

“BAGAIMANA KONDISINYA?! BERITAHU AKU KONDISINYA!!! AKU SEORANG DOKTER BEDAH, KAU MASIH BISA MEMBERINYA PERTOLONGAN PERTAMA, AJJUSHI! KAU HARUS FOKUS SEKARANG!” Kyuhyun menaruh belanjaan di tangannya asal, sembari berteriak pada pria yang menjawab telepon Seulri. Pria itu mengambil kunci mobil dan segera berlari menuju mobilnya yang terparkir di jalan. “AJJUSHI, DENGARKAN AKU, KAU ADALAH SATU-SATUNYA ORANG YANG BISA MENOLONGNYA SEKARANG, JADI AKU MINTA KAU UNTUK TETAP TENANG DAN IKUTI ARAHANKU!”

Sang penabrak mengatur tangisnya, ia menampar dirinya sendiri beberapa kali agar bisa berkonsenterasi mendengarkan perintah pria yang masih berteriak di telinganya. Ia lah yang membuat kekacauan ini, maka ia juga yang harus mencoba untuk bertanggung jawab pada wanita yang baru ditabraknya.

“AJJUSHI! BERI TAHU AKU KONDISINYA!”

“Di—dia masih bernapas dan juga masih mengerjapkan matanya lemah, tu—tunggu sebentar.” Pria itu ganti berbicara dengan Seulri. “Aggashi, bisakah kau mendengarku? Kumohon mengangguklah jika kau bisa mendengarku.”

Seulri mencoba mengangguk seperti yang diminta, tapi nyeri pada kepalanya menahan gerakan Seulri sepenuhnya. Sebagai alternatif, Seulri mengedip sekali dan berharap pria berbadan besar itu paham maksudnya.

“APA DIA MERESPON? TETAP AJAK DIA BICARA! APA PUN YANG TERJADI, KAU TIDAK BOLEH MEMBIARKANNYA PINGSAN! PAHAM?” Kyuhyun menyalakan mesin mobilnya dan mulai menyetir ke arah Incheon.

“Ta—tapi dia terus tersadar lalu pingsan, kami sudah menunggu ambulance sejak lima menit yang lalu. Dari mulutnya keluar darah banyak sekali.” Jawab supir truk itu semakin ketakutan.

“PASTIKAN DIA TETAP SADAR! KALAU PERLU SAKITI SAJA, TAMPAR ATAU CUBITI KULITNYA, POKOKNYA DIA HARUS TERUS SADAR. JIKA IA TERTIDUR, AKU KHAWATIR SYARAFNYA AKAN BERHENTI BEKERJA, JADI LAKUKAN APA PUN YANG KAU BISA SEKARANG. AKU DALAM PERJALANAN MENUJU LOKASI KALIAN.”

Kyuhyun memasang hands-free di telinganya agar ia bisa terus memberi instruksi akan langkah-langkah penyelamatan korban kecelakaan pada orang yang sedang berusaha menolong Seulri. Apa pun yang terjadi wanita itu harus bertahan, Kang Seulri tidak boleh menyerah meskipun ujian hidupnya datang bertubi-tubi sebulan terakhir ini. Tidak, wanita itu tidak boleh pergi—karena Kyuhyun membutuhkannya.

Perdebatan yang mereka lalui Sore tadi memang tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Kyuhyun telah menyerangnya dengan sikap dingin yang kejam belakangan ini dan seluruh tindakan itu dirangkum ke dalam kata-kata menusuk yang tidak seharusnya terlontar dari mulut Kyuhyun.

Tidak, Kang Seulri tidak boleh menyerah sekarang.

Wanita itu harus mendengar penjelasan Kyuhyun, ia harus mendengar permohonan maaf yang ingin diteriakkan pria itu, ia harus paham bahwa Kyuhyun hanya terbawa emosi sesaat ketika ia menyerang Seulri dengan kata-katanya.

“Paramedis sudah tiba.” Pria yang sejak tadi mencoba menolong Seulri memberi informasi terbaru pada Kyuhyun. “Mereka akan membawa kami ke rumah sakit terdekat—Student Hospital.

“Aku akan menemuimu di sana, ajjushi. Jangan berpikir untuk kabur.” Kyuhyun menutup telepon mereka dan mulai menyetir seperti orang gila di jalan tol.

Sementara Kyuhyun mencoba menyetir secepatnya, Seulri sedang berjuang keras untuk terus bangun. Tubuhnya diangkat ke atas dipan dorong, namun pepindahan itu membuat stabilitas cairan tubuhnya kembali terusik—lagi-lagi Kang Seulri menyemburkan darah dari mulutnya. Wanita itu bisa merasakan dipan tempatnya berbaring di dorong cepat dan segera saja langit yang sebelumnya gelap berubah menjadi sangat silau saat tubuhnya diangkat ke dalam ambulans.

Para paramedis yang menolongnya kini mulai menggerayangi tubuhnya, mencoba mencari tanda-tanda vital yang bisa membantu langkah pertolongan mereka. Pakaian yang dikenakannya dirobek dengan kasar oleh mereka untuk memudahkan akses pada rongga perutnya yang memar dan Seulri tidak perlu merasa malu atau sungkan atas tindakan itu. Lagipula itu terjadi padanya setiap malam—pria merobek pakaiannya untuk memuaskan imajinasi mereka, jadi untuk apa ia merasa malu saat paramedis merobek bajunya guna menyelamatkan nyawa Seulri.

“Aggashi, bisa kah kau bernapas dengan normal?” Satu orang pria dengan scrubs putih mencoba mengajaknya bicara.

Seulri belum bisa merespon, namun ia menurut untuk menarik napas dalam-dalam—seketika itu juga darah kembali menyembur dari mulutnya.

“Siapkan pipa untuk tracheostomy, jalur napasnya tertutup darah.” Paramedis bekerja gesit dan detik berikutnya Seulri merasakan nyeri teramat sangat pada pangkal lehernya saat mereka menggores tenggorokan Seulri untuk memasukkan pipa demi membantunya bernapas.

Wanita itu masih berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar, seluruh rasa sakit yang menyerang tubuhnya tidak membuat usahanya lebih mudah namun tekad untuk bertemu dengan pria yang dicintainya terus memaksa Seulri untuk bertahan. Ia tahu Kyuhyun sedang dalam perjalanan untuk menemuinya, pasti pria itu sedang menyalahkan dirinya sendiri sekarang atas rangkaian kejadian yang menimpa mereka—maka Seulri harus berjuang dengan segenap tenaga yang tersisa untuk mendengar kata-kata pria itu, memberi Cho Kyuhyun kesempatan terakhir untuk memperbaiki segalanya.

Tapi mengapa serpihan memori masa kecil Seulri terus bermunculan di benaknya? Kata orang, saat ajal kita mendekat, hidup kita akan dimainkan ulang seperti sebuah film di hadapan kita. Inikah yang disaksikannya sekarang? Mungkinkah ia akan tewas sebelum sempat bertemu pria itu? Sebelum ia bisa mengucapkan kata perpisahan terakhir, sebelum Cho Kyuhyun tahu isi hatinya yang selama ini terus tulus mencintainya?

Seulri merasakan nyeri lain saat paramedis menekan memar di perutnya, darah kembali menyembur dari mulut kecil wanita itu. Sakit mungkin sudah tidak cukup mendeskripsikan derita fisiknya sekarang, tapi ia bertekad menjadikan kesakitan itu jangkar yang menahannya untuk terus sadar.

Kelopak matanya mulai terasa berat sebesar apa pun usahanya untuk terus berkedip, bayangan-bayangan akan masa lalu terus terpampang di depannya sampai akhirnya Seulri mencoba untuk istirahat sejenak.

Segera saja, memori yang disimpannya sepuluh tahun lalu terputar dalam mimpinya.

***

Hari pertama masuk sekolah selalu menjadi hal yang dibenci Kang Seulri, usianya baru enam belas tahun tapi ia sudah pindah sekolah enam kali. Status ibunya yang merupakan seorang pegawai negeri membuat mereka harus siap untuk dipindah-tugaskan dari satu kota ke kota lainnya. Kali ini mereka dipindahkan ke ibukota Korea Selatan dan hal itu membuat kepanikan Seulri meningkat, mengingat banyak sekali kasus bullying yang diberitakan terjadi di kota ini.

Gadis itu menatap ke dalam cermin, mempelajari penampilannya sendiri lalu ia kembali mengacak-acak rambutnya. Salah satu alasan mengapa para tukang bully tertarik untuk menyerangnya adalah karena kecantikan naturalnya yang menonjol diantara anak sekolah lain. Gadis itu baru berusia enam belas tahun, tapi perawakan serta fitur tubuhnya sudah terlihat seperti gadis dewasa, tinggi tubuhnya yang semampai jelas membuatnya harus selalu baris di bagian paling belakang kelas. Sisa tampilannya juga masih disempurnakan oleh lekukan tubuh sempurna yang diidamkan setiap wanita dewasa, lengkap dengan aset yang menonjol tepat pada tempat-tempat yang ‘seharusnya’—membuat perhatian siswa lelaki teralihkan seketika—maka untuk menyiasati hal ini, Seulri lebih sering memakai baju kebesaran yang menyamarkan seluruh asetnya.

Tapi gadis itu tidak bisa menyembunyikan wajahnya.

Selain tubuh indah yang semampai, gadis itu juga dianugerahi wajah yang rupawan. Mata bulat berbentuk almond-nya bagai bersinar indah setiap ia tersenyum, tulang pipinya yang tinggi serta dagu tajam dengan v-shape sempurna menjadi patokan ideal bagi berbagai bisnis kecantikan, dan bibir tipisnya juga memberi dimensi tepat untuk menyempurnakan bentuk wajahnya. Ia adalah gadis yang membuat orang menoleh dua kali, dan saat meraka melakukan itu, akan sulit melepas tatapan dari pesonanya.

Kang Seulri mengenakan kacamata besar lalu menarik napas dalam sebelum ia meraih tas sekolah. Ia sudah mencoba usaha terkerasnya untuk terlihat ‘biasa’ pagi ini dan dalam hati Seulri sungguh berharap usahanya bermanfaat. Saat ia keluar dari kamar, ibunya sudah berangkat terlebih dahulu ke kantor sementara ayahnya sekarang sibuk menyiapkan bekal untuk dibawa anak semata-wayangnya ke sekolah baru.

“Appa, kau tidak perlu repot-repot, aku sudah anak SMU sekarang.” Ia tersenyum lebar sambil memeluk bahu ayahnya erat. “Tapi terima kasih, kimbab itu terlihat menggiurkan sekali.”

“Ini, makan sedikit sebelum kau berangkat.” Ayahnya mengambil sepotong kimbab untuk disuapkan pada Seulri.

“Kau juga appa.” Seulri bergumam dengan mulut penuh, ia mengambil sepotong kimbab untuk disuapkan pada ayahnya. “Hmm, ini enak sekali.”

“Aish, untuk apa kau pakai kacamata itu? Fungsi penglihatanmu kan baik-baik saja, sayang.” Ayahnya menunjuk pada kacamata besar yang bertengger di hidung Seulri.

Keunyang. Aku terlihat lebih jelek kan kalau seperti ini?” Balasnya dengan cengiran lebar. “Aku tidak boleh terlalu mencolok, appa. Aku tidak mau di-bully di hari pertama sekolah.”

“Kau ini, banyak wanita pergi ke dokter untuk merombak wajah mereka agar memiliki fitur yang kau miliki, tapi kau justru berusaha terlihat lebih jelek.” Tuan Kang menggeleng keheranan sambil mendecak-decakkan lidahnya.

“Ey, sudahlah. Lebih baikaku terlihat seperti ini daripada aku harus menyerahkan bekal buatanmu ini karena mereka berusaha memerasku.” Seulri menutup tempat bekalnya sebelum dimasukkan ke dalam tas. “Aku nyaris terlambat, appa. Aku berangkat sekarang! Terima kasih untuk bekalnya!” Ia mengecup pipi ayahnya sebelum berlari ke arah pintu untuk mengenakan sepatunya dengan gesit. “Anyeong appa!”

Sesuai perkiraan, masuk ke sekolah baru di tengah semester yang sudah berlangsung membuat Seulri terpaksa harus memperkenalkan dirinya dengan canggung di depan kelas. Sosoknya yang mempesona langsung membuat gadis-gadis di kelasnya memandang iri sementara para siswa lelaki sibuk menganga kagum. Setelah ia selesai memperkenalkan diri, gurunya menunjuk tiga buah kursi kosong yang bisa ia pilih, suasana kelas langsung riuh seketika karena para siswa lelaki berebut untuk duduk di sampingnya—tapi Seulri memilih kursi di urutan depan yang terletak di samping jendela, dengan demikian ia bisa melihat ke luar lapangan jika bosan.

Selain perhatian ekstra yang ia peroleh di awal kelas, hari pertama Seulri berlangsung dengan damai dan wajar. Ia tidak mengalami banyak kesulitan untuk mengejar pelajaran, ia juga tidak perlu merasa bingung mencari kawan untuk makan siang karena ayahnya sudah membawakan bekal, dan ia bisa pulang dengan bebas setelah bel pulang berbunyi—kesimpulannya, sekolah ini memberikan pengalaman hari pertama yang terbaik dibanding sekolah sebelumnya.

Karena ia berasal dari kota kecil, Seulri mudah sekali dibuat terkesima dengan fasilitas yang ada di ibukota. Di tempat tinggalnya dulu, hanya ada dua toko buku, satu toko 24 jam dan sebuah game arcade yang menjadi tempat berkumpul banyak siswa sekolah. Tapi di Seoul, dalam perjalan pulangnya saja Seulri sudah menemukan tiga toko buku. Ia mengabaikan setiap toko buku yang dilewatinya sampai toko buku terakhir yang menampilkan koleksiv klasik komik Sailor Moon di kaca display. Dengan mata berbinar Seulri segera melangkah masuk dan tenggelam dalam keseruannya sendiri sampai lupa waktu.

Gadis itu harus diingatkan oleh pegawai toko bahwa mereka akan tutup sebelum ia sadar bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Seulri membelelak panik, wajah ibunya yang galak terbayang jelas di benaknya karena kalau ia tiba lebih telat dari ibunya, Seulri akan terkena masalah. Dengan segera gadis itu membungkuk minta maaf sebelum keluar dari toko buku itu tergesa-gesa.

Rasa panik kedua menyerangnya ketika ia tidak bisa mengenali lokasi tempatnya berada sekarang. Ia baru tiba di Seoul tiga hari yang lalu dan jelas saja ia belum hafal banyak jalan selain jalan menuju sekolahnya, dan sepertinya ia mengambil belokan yang salah di dekat jembatan tadi karena sekarang ia justru dihadapkan pada jalan buntu. Bulu kuduk gadis itu sudah berdiri karena gelapnya jalanan dan ia semakin ketakutan saat bertemu dengan segerombolan ajjushi mabuk yang berkumpul di ujung jalan. Ia sadar masalah macam apa yang akan menyambutnya kalau tidak segera bertindak, jadi ia segera berbalik dan berniat mencari jalan lain.

Baru saja mengambil beberapa langkah ketika tangannya ditarik paksa dari belakang, tenaga orang yang menggenggamnya cukup kuat sehingga dengan satu hentakan tubuh Seulri langsung berbalik menghadap ajjushi mabuk yang sedang menggodanya.

“Apa yang dilakukan anak sekolah di sini semalam ini?” Ia bicara dekat sekali dengan wajah Seulri, hingga gadis itu bisa mencium bau alkohol yang menyeruak dari mulut sang ajjushi, membuat perutnya mual seketika.

“Ma—maafkan aku yang telah mengganggu acara kalian, ajjushi. Aku tidak bermaksud untuk…” Ia mencoba melepaskan genggaman pria itu dari pergelangan tangannya namun tenaganya tidak cukup kuat.

“Mworago?! Ajjushi?!” Pria itu melotot lalu meludah ke tanah. “Apa aku terlihat setua itu bagimu, gadis kecil? Aku ini pria pada usia kemasaan dan kau berani memanggilku dengan sebutan ajjushi?! Ikut aku! Biar kutunjukkan padamu.”

“Ma—maafkan aku, kumohon lepaskan aku.” Seulri mulai tergagap ketakutan. Waktu sudah terlalu larut, keadaan di tempat itu sangat gelap dan Seulri adalah satu-satunya orang yang tidak terpengaruh alkohol. “TOLONG!” Gadis itu berteriak sekeras yang ia bisa.

“Aish! Diam!” Pria itu membungkam mulut Seulri dengan tangannya sementara tubuhnya yang besar digunakan untuk memepet Seulri ke tembok batu di belakang. “Omo, apa itu di matamu? Air mata? Aku tidak akan melukaimu, gadis kecil. Justru aku akan memberikan pengalaman indah tidak terlupakan yang akan kau ingat seumur hidup.” Ia membelai wajah putih Seulri kasar. “Tutup saja matamu dan nikmatilah.”

Seulri mencoba berontak dari cengkraman pria menjijikkan itu namun tenaganya bukanlah tandingan yang tepat untuk melawan pria bertubuh lebar yang sedang memepetnya. Gadis itu mencoba segala cara yang pernah ia baca dan tonton tentang cara untuk melepaskan diri jika diserang orang asing, namun hasilnya tetap sia-sia.

Ajjushi itu terus membekap mulut Seulri dengan sebelah tangannya sementara tangan sebelahnya mulai meraba paha Seulri, tubuhnya terus menahan tubuh ramping gadis itu ke tembok untuk mengunci gerakan memberontak yang terus ia lakukan. Seulri ingin teriak dan gadis itu sudah tidak mampu membendung air matanya saat ia merasakan tonjolan keras di antara kedua pangkal paha pria itu menggesek di luar rok seragam sekolahnya. Ia mencoba untuk menendang pria itu pada bagian sensitifnya, tapi gerakannya tetap tertahan oleh tubuh lebar pria itu.

Saat harapannya mulai menipis, tiba-tiba bekapan di mulutnya melonggar dan tubuh pria yang menempel padanya itu menjauh. Seulri mendengan suara bunyi pukulan keras yang disertai teriakan kesakitan dari mulut sang ajjushi. Hal berikutnya yang terjadi adalah tangannya ditarik paksa oleh seseorang yang memerintahkannya untuk berlari. Ia tidak sempat melihat siapa orang asing yang menarik tangannya, orang yang sibuk meneriakkan perintah agar mereka terus berlari menjauh dari tempat kejadian. Seulri patuh mengikutinya, lebih baik ia berlari kehabisan napas ketimbang menjadi korban segerombolan pria mabuk yang mencoba mencicipi tubuhnya.

Mereka bisa mendengar terikan dari arah belakang, kawan-kawan ajjushi itu tidak sudi akan perlakuan kasar yang baru saja terjadi dan mereka mencoba mengejar Seuri serta lelaki yang masih terus menarik tangannya. Keduanya tetap berlari, mengarungi setiap belokan gang sempit, menanjak anak tangga yang tersebar di wilayah itu, mencoba menciptakan jarak yang cukup untuk kabur dari pandangan gerombolan pria mabuk itu. Seulri tetap mengikuti langkah lelaki yang menggenggam pergelangan tangannya, karena ada dua hal yang membuatnya tenang: pasti lelaki itu paham seluk-beluk daerah itu dan ia mengenakan seragam yang sama dengan Seulri.

Lima belas menit setelah acara kejar-kejaran yang menegangkan, akhirnya mereka berhenti berhenti berlari. Belum pernah dalam hidupnya Seulri merasa paru-parunya seolah terbakar dan panas seperti itu, namun ia tidak peduli, paru-paru yang terbakar masih jauh lebih baik daripada tubuhnya digerayangi ajjishi-ajjushi mabuk.

“Kau… baik-baik… saja?” Lelaki di depannya masih termegap menarik napas, tubuhnya membungkuk sementara ia menyokong bobot tubuh atasnya dengan kedua tangan yang diletakkan di atas lutut.

Seuri mengangguk tapi sadar kalau orang yang baru menolongnya itu tidak melihat ke arahnya. “Ne.” Ia menjawab dengan suara gemetar. “Terima… kasih…”

Lelaki itu mengangkat tubuhnya untuk berdiri tegak, perlahan ia memandang pada gadis yang baru saja ditolongnya dan seketika itu juga rahangnya ternganga kagum saat menyadari pesona yang terpampang di hadapannya. Ia tidak pernah menyangka gadis secantik itu bersekolah di tempat yang sama dengannya.

Seulri membungkuk padanya Sembilan puluh derajat. “Terima kasih, aku nyaris menggigit lidahku sendiri untuk mengakhiri hidupku barusan.” Ia membungkuk sekali lagi.

“Mengapa kau bisa terjebak di jalan buntu itu? Ini sudah larut dan kau adalah sasaran empuk untuk para pemabuk.” Lelaki itu mencoba menjaga wibawanya tanpa menunjukkan rasa kagumnya pada Seulri.

“A—aku tersesat, aku baru pindah ke sini tiga hari yang lalu.” Ia membungkuk lagi dengan perasaan bersalah. “Maaf karena sudah merepotkanmu.”

Lelaki itu mengatur sisa-sisa napasnya yang masih memburu sebelum bersandar pada rel tangga di belakang punggungnya. “Aku sedang dalam perjalanan pulang. Aku melihatmu terjebak dalam kesulitan dan kulihat kau memakai seragam yang sama denganku. Kurasa itu membuat kewajiban untuk menolongmu jadi berlipat ganda, bukan?” Ia menyengi lebar pada wajah Seulri yang masih pucat pasi.

Gadis itu hanya menggigit bibirnya gugup karena masih shock dengan pengalaman barusan.

“Kau duduk di kelas berapa? Aku belum pernah melihatmu, tapi tadi kau bilang baru pindah ke sini tiga hari yang lalu.” Ia mencoba bicara santai dengan gadsi yang masih tercengang, mencoba menciptakan suasana yang lebih santai diantara mereka.

Seulri membenarkan. “Aku masih freshman.” Ia akhirnya memberanikan diri untuk menatap langsung lelaki yang baru menyelamatkannya.

Lelaki yang baru menolongnya tidak nampak seperti orang yang bisa memenangkan acara adu jotos jika ajjushi-ajjushi tadi berhasil mengajar mereka. Ia sangat tinggi dan juga memiliki bahu lebar yang membuat jas seragamnya terlihat jatuh sempurna pada tubuhnya, mata lelaki itu menyorot tajam dan sepasang mata gelap itu sekarang menatap Seulri seolah menelaah isi jiwanya, garis rahangnya yang tegas membingkai wajah tampannya dengan sempurna dan lelaki itu menutupi sepasang telinga lebar yang ia miliki dengan tataan rambut yang dibuat berantakan. Seulri menikmati waktunya untuk mengagumi lelaki di hadapannya sambil dalam hati mempertimbangkan apakah ia terlihat tampan karena tindakan heroiknya barusan atau memang karena benar-benar tampan.

“Jadi kau benar-benar baru sekali di lingkungan ini?” Lelaki itu mencari bahan pembicaraan lain.

Seulri mengangguk. “Sebenarnya hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah.”

“Aish, pasti yang barusan itu bukan pengalaman yang ingin kau ingat tentang hari pertamamu.” Ia bangkit dan segera meraih tas sekolah Seulri dari tangan gadis itu, lalu menyampirkan pada sebelah bahunya. “Kau tinggal di mana? Biar kuantar pulang.”

“Tidak perlu, aku tidak apa-apa. Aku tidak bisa merepotkanmu lebih dari…”

“Percayalah, aku juga tidak sanggup kalau harus berlari seperti tadi untuk kedua kalinya malam ini.” Ia memotong penolakan Seulri tegas. “Aku tidak akan menyakitimu, ayo tunjukkan jalan pulang ke rumahmu.” Ia mulai melangkah setelah mengisyaratkan Seulri untuk mengikutinya.

“Terima kasih.”

“Ngomong-ngomong, aku sunbae-mu, aku duduk di kelas senior.” Ia berhenti untuk berbalik menatap Seulri lalu mengulurkan lengannya. “Namaku Kyuhyun. Cho Kyuhyun.”

Gadis itu memandang uluran tangan Kyuhyun dan segera menjabatnya balik dengan sopan. “Aku Seulri, Kang Seulri. Terima kasih karena sudah menolongku hari ini, Kyuhyun sunbaenim.” Ia menyunggingkan senyum lebarnya dengan tulus.

Jantung Kyuhyun berdebar tidak beraturan saat melihat senyum indah di wajah cantik hoobae-nya. Malam itu ia baru saja hendak pulang dari kursus persiapan kuliah saat ia mendengar teriakan permintaan tolong, tak lama kemudian ia pun menyaksikan tindakan biadab yang akan dilakukan segerombolan pemabuk pada gadis polos yang tidak berdaya. Ia tidak pernah mengira bahwa gadis yang diselamatkannya memiliki pesona luar biasa yang sukses membuat kerja jantungnya kacau pada pandangan pertama.

Meskipun ia kelelahan dengan jadwal kursus ditambah olahraga ekstra untuk berlari menjauh sambil menarik tangan gadis itu dari bahaya, mengantar Kang Seulri pulang ke rumahnya menjadi bagian terbaik dari hari seorang Cho Kyuhyun saat itu.

 

 

tbc…

 

 

Advertisements

103 thoughts on “Final Call – 1 [First Impression]

  1. Dyana says:

    Wuah ternyata gak di pw lagi ya? Haha… Padahal aku dah nyari pw’nya tadi… Hehe…
    Part 1 udah buat penasaran apa yg nyebabin Seulri bisa kecelakaan, dan perminta maafan dia yg belum terucap.
    Pertemuan pertama yg so sweet, Kyu pahlawan kemalaman… Haha

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s