Stockholm Syndrome – 4 [Let There be Light]

stockholm-syndrome-4

Author: Ssihobitt

Category: Short Story, NC-21

Main Cast: Park Hyerin & Cho Kyuhyun

(Jangan lupa baca part 1, part 2 & part 3 biar paham)

Ada beberapa sensasi yang dilalui Park Hyerin saat ia membuka mata. Pertama ia mengira dirinya telah diangkat ke alam lain, tempat di mana hidupnya seharusnya lebih tenang—tempat di mana rasa sakitnya tidak lagi mengganggu. Panca inderanya mulai merespon ruangan tempatnya berada, ia menghirup aroma steril pada hidungnya yang sekarang ditempeli semacam selang, telinganya menangkap bunyi mesin yang berdetak stabil, matanya masih berusaha menyesuaikan jumlah cahaya yang masuk ke dalam retinanya, mulutnya terasa pahit, dan ia tidak bisa merasakan apa-apa pada kulitnya. Lengan kirinya disupport dengan sebuah gantungan yang disampirkan pada bahu kanannya dan ia diposisikan bukan dalam keadaan berbaring, namun dalam posisi setengah duduk yang ditahan oleh ranjang lipat tempatnya berada, entah apa fungsinya yang jelas Hyerin masih mencoba mencerna keadaannya.

Beberapa saat setelah semua inderanya berfungsi lebih baik, Hyerin menolehkan pandangan untuk mencari sedikit petunjuk dari tempatnya berada sekarang. Ia ingin percaya bahwa ia sudah mati, namun detak jantung yang bisa ia rasakan berkata sebaliknya. Ia mengangkat lengan dan mencubit dirinya sendiri—sakit—lalu ia mencoba menyentuh lehernya yang terasa hangat. Artinya ia masih hidup dan Hyerin tidak suka fakta itu. Ia mencoba mencari-cari tanda-tanda akan sesuatu atau seseorang yang bisa dikenalinya, tapi ruangan itu kosong, hanya Hyerin dan mesin-mesin yang memantau kerja alat vital dalam tubuhnya.

Ia sendirian.

Tiba-tiba seluruh ingatannya kembali pada kejadian yang menuntunnya ke tempat ini. Penculikan yang Kyuhyun lakukan padanya, usaha pria itu untuk menyakitinya, bagaimana pria itu merenggut kesuciannya, konsistensi pria itu untuk terus mengeksploitasi tubuhnya, penekanan bahwa ia melakukan semua itu untuk mendapatkan kembali mantan tunangannya yang kebetulan adalah kakak Hyerin. Hati gadis itu terasa sesak mengingat kalimat-kalimat yang selalu Kyuhyun bisikkan, kata-kata yang menekankan persaannya yang tidak pernah tertuju padanya.

Dada Hyerin semakin sesak, ada adegan lain yang kini muncul dalam memorinya—ayahnya. Seumur hidupnya Hyerin hanya ingin mencicipi secuil kasih sayang ayahnya. Biar sebentar, Hyerin ingin pria itu bergeming sedikit saat dirinya terancam. Meskipun ayahnya juga memanfaatkan diri dan tubuhnya hanya untuk kepentingannya sendiri, Hyerin ingin pria itu memperjuangkan napas anak haramnya saat nyawanya di ujung tanduk. Malangnya, kenyataan berkata lain, pria itu justru menembakkan peluru panas untuk mengoyak tubuhnya.

Gadis itu mulai terisak, kata-kata kedua pria yang ia sayangi kini bergema dalam kepalanya.

‘Aku tidak sedang mengancammu. Bagiku gadis ini hanya alat untuk mendapatkan apa yang kumau. Kau tahu aku pun tidak memiliki urusan apa pun dengan gadis ini, kurasa nyawanya lebih tidak berharga untukku.’

‘Anak itu sudah menjadi kutukan pembawa sial sejak ia tiba di depan pintu rumahku. Jika aku masih membutuhkannya, mungkin aku akan menanggapi semua video ancaman yang kau berikan, tapi sepertinya video-video itu sekarang menjadi konsumsi para pengawalku untuk memuaskan diri masing-masing.’

Tangis Hyerin semakin menjadi. Mengapa ia masih di sini? Gadis itu sudah lelah mengahadapi kehampaan dalam hidupnya. Seumur hidupnya ia hanya menjadi aib memalukan yang terus disembunyikan ayahnya. Seumur hidup ia hanya menjadi penonton bisu yang menyaksikan sempurnanya hidup Park Hyemi yang mendapat kasih sayang dari pria yang tidak akan pernah mencintainya. Seumur hidupnya ia hanya bisa memandang iri pada kakaknya sementara ia harus menanggung siksaan mental dan batin dari ayahnya. Bahkan saat Hyerin jatuh hati pada seorang pria, pria itu pun mencintai Park Hyemi.

Berapa minggu sudah gadis itu harus menjadi alat pemuas birahi pria yang dicintainya. Semakin lama ia di dekat Cho Kyuhyun, semakin ia terpesona dengan pria itu. Memang pria itu tidak pernah memperlakukan Hyerin dengan sangat lembut, tapi juga tidak lagi menggunakan kekerasa fisik—tidak lagi setelah ia menemukan cara lain untuk menyiksanya. Perlahan pria itu membuat Hyerin semakin tergila-gila, ia membuat Hyerin diam-diam berharap akan sebuah keajaiban di mana Kyuhyun akan memandangnya. Mungkin dengan melayani pria itu setiap hari, hati Kyuhyun akan luluh dan mulai beralih dari Park Hyemi. Tapi kata-kata Kyuhyun kembali terputar dalam otak Hyerin: ‘ada satu perbedaan mendasar antara Kau dan Park Hyemi—aku tidak mencintaimu’.

Gadis itu menangis semakin keras di atas ranjangnya. Sebelah tangannya yang tidak di-casting kini sibuk membekap mulutnya sendiri, dadanya sesak, ia benar-benar tidak sanggup menahan rasa sakit yang menyerangnya. Bukan kesakitan yang bersifat fisik, namun luka mendalam yang ia pun tidak paham mengapa bisa jadi separah ini.

Ia terbangun sendirian di tempat ini, lalu apa?

Ia hidup dan nyawanya terselamatkan, lalu ia harus melakukan apa dengan masa depannya?

Ke mana Park Hyerin harus pulang sekarang?

Karena Hyerin menyadari bahwa mulai saat ini, ia sebatang kara.

Gadis itu takut, ia tidak pernah menghadapi dunia nyata di luar penjara marmer ayahnya. Ia tidak punya skill apa pun untuk bertahan hidup, ia tidak tahu bagaimana caranya melanjutkan hidup sekeluarnya dari tempat ini—ia tidak ingin hidup untuk melawan kejamnya dunia seorang diri. Terlebih lagi dengan seluruh aib yang sekarang semakin melekat erat pada dirinya yang kotor, mana mungkin Hyerin masih punya nyali untuk melangkah keluar dari tempatnya berada sekarang.

Gerungan tangis tidak lagi mampu ia bungkam, gadis itu mulai meraung pilu. Kaki kirinya yang tidak sakit menendang-nenadang udara di bawahnya, tubuhnya bagian atasnya meringkuk kesakitan, teriakan-teriakan kecil dalam raungannya mulai mengeras dan ia tidak lagi bisa mengontrol derasnya air mata yang keluar dari bola matanya.

Mengapa pria itu tega sekali padanya? Ia hanya minta Kyuhyun untuk mengakhiri hidupnya. Ia hanya ingin semua ini berakhir, mengapa pria itu justru menyelamatkannya? Bahkan sebuah permintaan sepele saja tidak bisa dikabulkan pria itu, apa lagi alasannya sekarang? Ia tidak mau mengotori tangannya? Ia belum puas membalaskan dendamnya pada keluarga Hyerin?

Hyerin marah, ia murka dengan keputusan sepihak Kyuhyun.

Gadis itu tenggelam dalam emosinya sendiri saat pintu ruang perawatannya terbuka. Ia tidak mengacuhkannya, Hyerin terlalu sibuk menata serpihan hatinya yang tercecer sampai ia tidak menyadari bahwa pria yang baru dikutuknya itu sekarang berdiri di sampingnya dengan wajah yang sangat khawatir.

“Hyerin-a, kau kesakitan? Aku akan memanggil dokter, ne?” Kyuhyun mencoba menenangkan Hyerin tapi gadis itu tidak merespon.

Ia terus meraung pilu, napasnya menderu dan tangisannya sekarang sudah tidak tertampung lagi. Park Hyerin mengangis seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya di mall, ia mencurahkan seluruh kesakitan dan emosinya dalam teriakan dan sambil terkadang memukul-mukulkan dadanya yang terasa semakin sesak.

Sepertinya bukan dokter yang dibutuhkan gadis itu, namun penjelasan. Kyuhyun melepas sepatunya sebelum duduk di atas ranjang Hyerin. Ia ikut menyandar pada ranjang bagian atas yang terlipat, mengangkat lengannya untuk merangkul bahu gadis yang masih gemetar ketakutan. Pria itu menarik Hyerin ke dalam pelukannya dan ia segera mendekapnya erat.

Hyerin tidak bereaksi pada tindakan pria itu, ia hanya terus meraung sambil menumpahkan emosinya di atas dada Kyuhyun yang kini sibuk mengusap bahunya lembut. Sebelah tangan pria itu membelai rambut panjangnya dan Kyuhyun membanjiri kepala Hyerin dengan puluhan kecupan.

“Hye, kumohon tenanglah dulu.” Mohon Kyuhyun dengan suara yang sangat parau. “Kumohon tenanglah. Kalau kau sudah lebih tenang aku akan menjelaskan situasi kita.”

Hyerin tidak mengubris permintaan Kyuhyun. Ia ingin menangis. Ia ingin menumpahkan seluruh beban yang selama ini hanya bisa ditanggungnya sendiri.

Kyuhyun mendekap Hyerin lebih erat lagi, untuk sementara ia akan membiarkan gadis itu meledakkan jutaan emosinya. Ia tidak masalah jika Hyerin ingin menghajarnya sekalian, yang ia khawatirkan hanya kondisi Hyerin dan janin mereka sekarang—janin yang eksistensinya belum Hyerin ketahui.

Perlu waktu lebih dari satu jam sampai akhirnya gadis itu bisa bernapas teratur, sampai seluruh air matanya habis terurai dan ia kelelahan untuk menangis. Sejujurnya tidak ada yang bisa membuatnya merasa lebih baik, penjeleasan apa pun yang keluar dari mulut Kyuhyun nanti tidak akan pernah merubah keadaannya. Namun ia juga tidak mencoba mendorong tubuh pria itu menjauh, karena harus diakui Hyerin butuh tempat bersandar, setidaknya sementara saja, sementara ia menata ulang isi kepalanya, sementara ia mencari cara lain untuk mengakhiri hidupnya selepas Kyuhyun pergi nanti.

“Hye…” Kyuhyun mengecup dahi Hyerin lembut. “Kau sudah lebih tenang sekarang?”

Bukannya menjawab, gadis itu malah kembali terisak. Kata-kata kejam kedua pria itu mesih terus terngiang dalam benaknya. Ia ingat lagi dengan kekejaman Kyuhyun dan ayahnya dan ia kembali ingat bahwa ia tidak punya tempat untuk pulang sekarang.

“Kumohon, sayang. Berhentilah menangis. Aku tidak sanggup melihatmu hancur seperti ini.” Kyuhyun memohon lirih sambil menghapus lagi air mata yang terus mengalir.

Pria itu sudah mengutuk dirinya sejak malam ia menrenggut kesucian gadis polos itu. Hati nuraninya sudah terketuk sejak lama, namun pandangannya digelapkan oleh rasa dendam serta ambisi bodoh yang ia sendiri tidak paham. Gadis dalam dekapannya adalah orang yang menyadarkan bertapa hampa dan sia-sianya hidup Kyuhyun selama ia mengejar Hyemi. Gadis ini dengan sabar mencoba menjelaskan seperti apa perasaan cinta seharusnya ditunjukkan, gadis yang tanpa sadar telah mengisi relung hatinya melalui ketulusan yang selalu terpancar dari senyum polosnya—gadis yang telah ia hancurkan jiwa dan raganya.

Hyerin terus terisak.

Kyuhyun mengangkat dagu mungilnya, meminta gadis itu untuk menatap matanya tapi Hyerin bersikeras menghindar. “Kau tidak mau menatapku? Apa akhirnya aku sukses membuatmu benci padaku sekarang?” Tanyanya sedih.

Hyerin menggeleng, namun setiap ia mencoba bicara, hanya tangis yang keluar.

“Kau marah?” Tanya Kyuhyun lagi. “Karena aku tidak di sisimu saat kau tersadar?”

Gadis itu tidak menjawab, tapi Kyuhyun bisa menilai keputusasaan yang terpancar dari sorot matanya.

“Maafkan aku. Aku baru dari kantor polisi untuk memberi kesaksian dan bukti-bukti kasus kemarin.” Ujarnya mencoba menjelaskan. “Kau koma selama dua hari, aku mencoba menjagamu tapi aku juga tidak bisa membiarkan pria yang melukaimu bebas berkeliaran begitu saja. Maafkan aku, Hyerin-a. Bukannya aku tidak mau menunggu di samping ranjangmu, aku harus menjagamu lebih ketat lagi sekarang karena keadaan sedang panas sekali dalam dunia perpolitikan ayahmu.”

Hyerin rasanya ingin menonjok Kyuhyun sekarang. Tidak bisakah pria ini menunjukkan sedikit saja belas kasihan padanya? Bahkan di saat gadis itu sudah hancur, yang bisa ia pikirkan hanya dendam bodohnya dengan ayahnya.

“Aku harus meminta penjagaan ketat di rumah sakit ini, terutama ruangan ini karena kau masih terancam bahaya. Nanti detilnya akan kujelaskan setelah kau jauh lebih baik, yang jelas sekarang aku harus memastikan kau dirawat dengan baik sampai kau cukup kuat untuk keluar dari sini.”

Tangis gadis itu kembali mengusik telinga Kyuhyun. Keluar dari sini? Hyerin tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekeluarnya dari sini, yang ia tahu tempat ini adalah tempat yang masih mau menampungnya. Ia harus ke mana setelah ini?

“Hye… sayang, kumohon berhenti menangis.” Kyuhyun kembali mengecup puncak kepala Hyerin. “Maafkan aku. Aku—aku bodoh sekali, bukan? Membiarkan dendamku menuntun tindak anarkisku yang kejam, mengorbankan dirimu dan bukan hanya fisikmu, tapi juga mental dan perasaanmu. Aku dibutakan oleh ambisi yang tidak masuk akal sampai membahayakan nyawamu.”

Hyerin menggigit bibirnya untuk menahan isakan-isakan kecil yang masih lolos.

“Aku membahyakan nyawamu dan nyawa calon bayi kita.” Lanjut Kyuhyun. “Maafkan aku.”

Isakan Hyerin terhenti seketika, gadis itu mendorong tubuhnya dari Kyuhyun sejenak sebelum akhirnya ia berani menatap Kyuhyun. Momen mata mereka bertemu menjadi momen mengejutkan bagi Hyerin, karena ia melihat lingkaran gelap di bawah mata pria itu, ia terlihat sangat kusut dan berantakan dan apa itu? Apakah itu air mata? Cho Kyuhyun menangis? Karenanya?

“Aku—aku apa katamu?” Tanya Hyerin dengan suara yang sangat serak.

Sekarang gantian Kyuhyun yang terisak. “Kau… kau hamil. Kau sedang mengandung anak kita sekarang, namun bukannya menjagamu aku malah menaruh nyawa kalian dalam bahaya.” Secara otomatis tangan Kyuhyun bergerak untuk mengusap perut Hyerin yang masih rata. “Dokter berhasil menyelamatkan kalian, meskipun kau terluka parah, janin kita cukup kuat untuk bertahan dan syukurlah aku belum terlalu terlambat saat membawamu ke sini.”

Hyerin ingin bicara tapi otaknya tidak mampu mencari kata yang tepat. Kyuhyun bilang ia sedang apa? Hamil?

Emosinya berkecamuk, namun ia tidak bisa menemukan istilah sempurna untuk mendeskripsikan perasaannya sekarang. Ia terkejut tentu saja, sesaat bahkan ia merasa senang, namun detik berikutnya Hyerin kembali sedih karena nasib anak yang dikandungnya tidak akan berbeda jauh dengan nasibnya selama ini—anak haram yang akan dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.

Tubuh Kyuhyun semakin bergetar di hadapannya sementara tangis pria itu semakin kencang. “Aku—aku minta maaf, Hyerin-a. Aku tidak pernah berencana membahayakanmu, aku mengatur semua itu dengan rapih, bahkan dalam rencana terburuk pun kau tidak akan terluka—aku lah yang akan terluka jika yang terburuk terjadi. Tidak akan ada peluru yang menembus tubuhmu.” Ia mencoba menjelaskan di sela tangisnya.

Seharusnya Hyerin marah sekarang, tapi mengapa ia ingin ikut menangis saat menyaksikan pria yang dikaguminya berada dalam wujud terlemahnya.

“Kau melindungiku, kau bodoh sekali melindungiku seperti itu.” Kyuhyun membelai rambut Hyerin pelan. “Aku tidak pantas kau lindungi. Hatimu terlalu baik untuk pria brengsek sepertiku, aku terus menyiksamu. Seharusnya aku yang melindungimu! Jangan pernah lakukan itu lagi, Park Hyerin. Kau nyaris membuatku ingin menembakkan peluru ke dalam tengkorakku sendiri. Kalau kau tidak tertolong, kalau anak kita tidak tertolong—Arghh!—aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dalam hidupku. Aku akan membunuh ayahmu sebelum aku membunuh diriku.”

Dengan reflex Hyerin menampar wajah Kyuhyun. Tamparannya sangat lemah tentu saja, gadis itu baru terbangun dari koma setelah nyaris mati kehabisan darah. Tapi gestur itu cukup untuk membuat tangis Kyuhyun berhenti.

“Ka—kau… membenciku bukan?” Tanya Kyuhyun lagi, ia merasa pantas mendapat tamparan dan amukan lebih dari Hyerin. “Sekarang aku benar-benar menjadi pria biadab itu di dalam hidupmu bukan?” Air mata penyesalan terus mengalir di atas wajah tampan pria itu.

Hyerin menggeleng, bulir air mata kembali menetes dari bola matanya. Gadis itu menunduk sebelum mengutarakan pikirannya. “Aku… aku bingung.”

Kyuhyun mengusap ibu jarinya di bawah pelupuk mata Hyerin dengan hati-hati. “Apa yang membuatmu bingung?”

“Kau bilang aku hamil, artinya rencana iblismu berhasil. Lalu apakah sekarang kau akan mengembalikanku padanya? Setelah kau sukses melaksanakan salah satu ancamanmu, kau mau mengembalikanku padanya? Untuk apa kau selamatkan aku, Kyuhyun-ssi? AKU JELAS-JELAS MEMINTAMU UNTUK MENGAKHIRI HIDUPKU! APA SUSAHNYA MENCABUT NYAWAKU, HAH?!!” Teriaknya frustrasi.

“Karena kukira kau sudah mati di pangkuanku dalam perjalanan kita ke sini.” Balas Kyuhyun dengan anaps memburu. “Dan saat itu juga aku merasa napasku lenyap bersamaan dengan hembusan hangat napasmu.” Pria itu mengatur napasnya sejenak. “Karena benar kata pepatah, kau tidak tahu apa yang kau miliki sampai hal itu direnggut darimu. Aku… tidak bisa membayangkan hampanya hidupku tanpamu.”

Bullshit. Kau hanya menggunakan tubuhku.” Tukas Hyerin tajam. “Dan menjadikanku alat untuk membalaskan dendammu.”

Kyuhyun bungkam. Beberapa minggu lalu ia menekankan kata-kata yang Hyerin baru lontarkan padanya berkali-kali namun gadis itu bersikeras bilang bahwa ia menyayanginya. Tapi sekarang saat keadaan berubah, Hyerin justru lebih mempercayai kebohongan yang Kyuhyun tanamkan dalam kepalanya.

“Hyerin-a, bisa memahami sikapmu sekarang. Tapi kumohon, biar aku menjelas—”

“Aku lelah, oppa.” Bisik Hyerin lirih. “Aku sangat lelah dan aku tidak lagi sanggup mengikuti permainanmu. Tidak sulit seharusnya untukmu mengakhiri hidupku kemarin. Jika kau menganggap tindakanmu heroik, maka akan kubilang tindakanmu itu bodoh! Kau hanya perlu mengabaikanku di lantai itu sampai kehabisan darah, biarkan aku menghadapi maut yang menjemput! Bahkan hal semudah itu saja masih kau persulit!” Suara Hyerin meninggi dan tangisnya kembali.

“Hye, aku tidak bisa… kau tahu apa yang terlintas di benakku saat kau terbaring kemarin?” Tantang Kyuhyun dengan bahu masih bergetar. “Kehampaan hidupku terpampang begitu jelas, aku begitu terlena dengan keberadaanmu di sisiku sampai tidak menyadari kehangatan yang kau tularkan dalam hidupku yang kaku. Saat kau terkapar kemarin, aku hanya ingin menolongmu, Hye. Karena aku ingin membahagiakanmu.”

“Kau hanya belum puas memakai tubuhku.” Bentak Hyerin lagi, entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk melakukan itu.

Kyuhyun bungkam, tidak bisa menyalahkan pemikiran Hyerin sepenuhnya karena ia lah yang menanamkan doktrin itu dalam kepala Hyerin selama ini.

“Berapa kali harus kutegaskan, oppa. Hidupku ada di tanganmu. Aku akan mengakhiri hidupku sendiri saat kau melemparku kembali ke dalam penjara marmer itu.” Hyerin menggigit bibirnya. “Kau iblis yang seharusnya menjadi malaikat pencabut nyawaku, bukan iblis yang menahan jiwaku dalam neraka dunia ini! Aku tidak mau—”

Kyuhyun menangkupkan tangannya pada wajah Hyerin. “Aku sudah mengambil nyawa satu orang kemarin, Hye. Kau pikir aku suka melakukannya?” Tantang Kyuhyun. “Lalu kau menyarankanku untuk mengambil nyawa gadis yang kusayangi beserta janin yang ia kandung di dalamnya? Kau menyuruhku menarik nyawa anakku sendiri?! Aku memang gila, Hyerin-a. Tapi aku bukan ayahmu.”

Mata Hyerin terbelalak kaget, tidak percaya pria itu berani membandingkan kebiadabannya dengan kelakuan ayahnya yang juga sama keparat.

“Kumohon beri aku kesempatan. Aku tahu aku mengacau pada kesempatan pertama, kumohon Hyerin-a. Izinkan aku bertanggung jawab dengan hidupmu, dengan anak yang kau kandung. Aku ingin membahagiakanmu.” Pinta Kyuhyun lagi, perlahan pria itu meletakkan tangannya di tengah dada Hyerin. “Kumohon, aku percaya hati ini adalah hati terindah yang pernah kutemui. Kumohon, Hye. Jika masih sulit bagimu untuk memaafkanku, setiidaknya jangan usir aku dari hidupmu, izinkan aku mendampingimu.”

Hyerin menghela napas panjang sambil berbisik lirih. “Bahkan kau tidak mencintaiku, bagaimana mungkin kau bisa membuatku bahagia.”

“Pemahaman kita akan konsep cinta berbeda.” Tukas Kyuhyun.

Hyerin menggeleng cepat. “You need to learn to differentiate between ‘love’ and ‘guilt’, oppa.”

“Hye—”

“Biar kubalik pertanyaanku: jika misimu berhasil, jika renaca A terlaksana. Seandainya malam itu kau yang menggandeng tangannya menujur altar dan bersumpah setia sesuai rencana, apa kau akan di sini? Apa fakta aku masih bernapas serta mengandung anak harammu masih cukup signifikan untukmu?” Tantang Hyerin dengan nada ketus. Sejujurnya gadis itu tidak mau melontarkan pertanyaan itu, karena ia tahu jawaban Kyuhyun pasti akan semakin memporak-porandakan hatinya yang sudah terkoyak.

Kyuhyun memastikan Hyerin menatap lurus ke dalam manik matanya sebelum menjawab. “Ya. Karena sejak awal aku tahu rencana A tidak akan berhasil. Karena rencana B adalah mengancam ayahmu untuk memancing tindakan kejamnya sehingga aku bisa mengungkap beberapa kelicikannya pada pihak berwajib, lalu rencana C adalah membawamu kabur dari negara ini secepat mungkin untuk menghindari pertikaian lanjutan.” Terang Kyuhyun tegas. “Aku punya tiga rencana yang telah kususun matang, Hyerin-a. Namun tidak ada satu rencana yang menegaskan bahwa aku akan meninggalkanmu sebatang kara, karena sejak awal aku sudah berniat bertanggung jawab akan hidupmu yang telah kukacaukan dengan kejam.”

“A—aku tidak…” Heyerin bingung sendiri dengan jawaban Kyuhyun yang melenceng dari prediksinya.

Pria itu mengecup kening Hyerin lembut sambil terus mendekap tubuh mungilnya erat. “Kau pasti butuh waktu untuk mempercayai semua ucapanku, pasti sekarang aku hanya terlihat seperti seorang pecundang bodoh yang kehilangan arah. Maka berikanlah aku kesempatan untuk membuktikannya padamu, sayang. Kalau permohonanku masih terhitung tidak tahu diri, maka kumohon, setidaknya izinkan aku bertanggung jawab untuk menjadi ayah bagi anak kita kelak. Karena aku tidak sanggup membayangkannya harus tumbuh tanpa sosok ayah yang melindunginya.”

Air mata Hyerin kembali mengalir deras sementara isakan lembut terus lolos dari bibirnya. Kata-kata Kyuhyun terdengar terlalu manis, bahkan pria itu sebenarnya sukses menenagkan hati Hyerin sekarang. Tapi haruskah ia percaya begitu saja dengan pria yang sudah mempermainkannya sebulan terakhir ini? Karena sekarang bukan hanya hidupnya saja yang harus dipikirkan, namun juga masa depan janin dalam kandungannya.

*

Kondisi Hyerin belum membaik sepenuhnya, ia masih cukup lemah dan bisa dibilang juga masih sangat shock dengan rangkaian kejadian yang menimpa dalam kurun waktu kurang dari satu minggu. Meskipun bagian paling mencengangkan adalah fakta yang terlontar dari mulut Kyuhyun bahwa ia sedang mengandung.

Setelah ia siuman, dokter-dokter yang merawatnya selalu memeriksa vitalnya bergantian dan salah satu jadwal kunjungan yang diperolehnya adalah dengan spesialis Ob/Gyn. Dokter wanita itu dengan sabar menjelaskan kondisi kehamilan Hyerin, beliau juga dengan senang hati membawa alat sonogram agar Hyerin bisa melihat dan mendengar sendiri detak jantung janin yang baru berusia lima minggu di dalam rahimnya itu.

Emosi Hyerin selalu berkecamuk setiap ia memandang foto sonogram yang diberikan dokter Ob/Gyn sebelumnya. Ada sebuah kehidupan baru yang kini tumbuh dalam janinnya, sebuah calon bayi yang harus muncul dari tindakan biadab ayahnya sendiri, janin tidak berdosa yang harus ikut terlibat dalam komplikasi hidup Hyerin. Namun di sisi lain, gadis itu selalu tersenyum haru saat memandangi foto buram hitam-putih itu. Ada kehidupan lain yang akan segera datang dalam hidupnya, jika ia menunggu dan merawat janinnya dengan baik, maka ia akan memiliki seorang keluarga yang bisa ia cintai tanpa syarat dengan sepenuh hatinya. Kehadiran anak ini kelak akan menghapus rasa kesepian Hyerin dan meskipun ia akan selalu teringat akan pria yang menghamilinya, Hyerin yakin ia bisa menerima fakta menyedihkan itu.

Mengapa gadis itu masih terus berpikir bahwa keberadaan Kyuhyun di sisinya hanya sesuatu yang bersifat temporer? Karena pria itu berhasil mendoktrinnya, karena pria itu tidak mencintainya, karena keputusan Kyuhyun hanya didasarkan oleh rasa penyesalan, dan juga karena memang keajaiban semacam itu tidak pernah terjadi dalam hidup Hyerin—maka ia sudah terbiasa dengan pola pikirnya yang pesimistis.

Setiap Kyuhyun tidak di sampingnya, Hyerin selalu membelai perutnya pelan, seolah bertanya apakah memang ada janin yang sedang tumbuh di situ? Bagaimana mungkin janin itu mampu bertahan melalui rangkaian terror yang mengintai Hyerin kemarin dan bagaimana mungkin Cho Kyuhyun tidak segera mengambil tindakan untuk memaksa Hyerin menggugurkannya saja?

Apa memang pria itu berniat merusak masa depan Hyerin dan janin mereka? Apakah bagi pria itu kesengsaraan hidup Hyerin akan semakin maksimal jika ia harus melahirkan anak haram mereka? Apa Kyuhyun mencoba untuk mengulang kisah hidup Hyerin pada janin mereka yang tidak berdosa? Banyak spekulasi berseliweran dalam kepala Hyerin dan tidak ada satu pun yang berujung positif. Image Kyuhyun dalam kepala Hyerin persis seperti apa yang pria itu inginkan. Sosok otoriter yang harus ia segani, sosok yang bisa melakukan apa pun dalam hidupnya—dan sosok yang jelas bukan berada di sisinya sekarang karena rasa penyesalan apalagi cinta.

Gadis itu merasa keberadaan Kyuhyun di sampingnya pasti akan berujung pada ayahnya lagi. Pasti Kyuhyun hanya menyekapnya sementara sebelum pria itu melaksanakan rencana baru untuk menjatuhkan Park Minjung. Gadis itu dilarang menonton TV oleh Kyuhyun, ia bersikeras mencabut kabel TV di kamar rawatnya dan memastikan tidak ada informasi dari dunia luar yang bisa diterima Hyerin—tentu saja ini menambah kecurigaannya.

Namun bukan itu maksud Kyuhyun.

Kyuhyun hanya ingin melindungi Hyerin dari fakta kejam yang sekarang sedang beredar di luar bilik rumah sakitnya. Bahwa penangkapan Park Minjung tidak berlangsung mulus, bahwa pria keparat itu melawan balik dengan menyebarkan video penyiksaan Kyuhyun atas Hyerin, bahwa rekaman video panas mereka sempat bocor ke masyarakat umum. Polisi berusaha bertindak cepat untuk menghapus semua itu, tapi apa pun yang sempat tersebar di dunia maya tentu saja tidak bisa dilenyapkan sepenuhnya.

Pria itu harus berurusan dengan banyak sekali pihak berwajib. Aksi terornya juga tidak bisa dimaafkan begitu saja di mata hukum, namun ia diberi keringangan hukuman karena Kyuhyun melaporkan tindakannya dengan jujur. Tentu saja campur tangan ayah Kyuhyun juga membantu keringanan proses hukuman yang harus dilalui pria itu, seperti biasa, meskipun mereka tidak memiliki hubungan ayah-anak yang harmonis, keduanya selalu siap mendukung saat ada pihak lain yang mengancam keamanan keluarga mereka.

Setelah pemeriksaan ketat melalui bukti-bukti rekaman CCTV, Kyuhyun bebas dari tuntutan pembunuhan karena ia memang dalam posisi membela diri saat melepas tiga tembakan ke jantung bodyguard ayah Hyerin, untung saja ia berpikir untuk memasang kamera pada ruangan itu sebelum ia mulai meneror Park Minjung. Tapi karena Park Minjung juga orang yang sangat berpengaruh dalam kehidupan politik Korea Selatan, ia juga melakukan perlawanan dengan cara mengerahkan seluruh orang kepercayaan untuk memburu Kyuhyun dan Hyerin sekarang dengan tuntutan terror serta pencemaran nama baik. Perburuan itu membuat nyawa Kyuhyun dan Hyerin sangat terancam.

Pria itu bisa melindungi dirinya, ia memiliki cukup banyak kenalan untuk menjaganya tetap aman. Yang jadi masalah tentu Park Hyerin yang sekarang menjadi sasaran empuk karena gadis itu masih lemah—dan sedang hamil.

Jika ancaman bagi nyawa mereka berdua belum cukup buruk, kondisi keamanan mereka juga semakin mengkhawatirkan. Sejak kasus tuntutan dari Kyuhyun terbuka pada publik, beberapa musuh bebuyutan politik Park Minjung juga mulai menunjukkan batang hidung mereka.

Pria itu memiliki pengaruh besar pada politik dan perekonomian di Korea Selatan dan merupakan salah satu antek presiden yang berkuasa di negeri itu.

Saat seseorang berada dalam posisi prestisius seperti Park Minjung, jelas lawan politik mereka tidak hanya bersarang di dalam negeri. Rekor kepolisian mencatat banyak sekali pengaduan yang masuk sejak Kyuhyun menuntutnya dan tidak tanggung-tanggung, kriminalitas yang terjadi atas nama Park Minjung merambah dalam skala internasional.

Bedasarkan laporan Interpol, ternyata pria itu juga memiliki andil dalam pergolakan kasus minyak dunia, ia dalang dari pembunuhan seorang konsulat luar negeri, ia juga termasuk orang-orang yang menginvestasikan uangnya untuk membantu kecurangan pemilihan presiden Korea Selatan yang kini terlibat kasus. Skala kejahatan politik ayah Hyerin di luar negeri ternyata lebih parah dari yang diduga—hal ini membuat Interpol harus turun tangan untuk menengahi keadaan, serta memastikan keselamatan para saksi dan korban yang masih hidup.

Namun Hyerin tidak tahu semua itu. Kyuhyun melindungi Hyerin dari serbuan berita yang ditayangkan non-stop di televisi, Kyuhyun melarang perawat berbicara tentang topik itu jika mereka sedang membantu Hyerin, dan jelas tidak ada koran yang boleh dibawa masuk ke ruang perawatannya. Bukan karena ia ingin membodohi gadis itu, Kyuhyun hanya percaya bahwa mental Hyerin akan semakin terpuruk jika ia terbangun dari koma dan harus menerima seluruh fakta mengerikan tentang keruntuhan tahta keluarganya dalam waktu singkat.

.

.

.

Park Hyerin sedang mengelus perutnya sendiri saat Kyuhyun masuk ke dalam kamarnya tanpa suara. Senyum kecil tersungging pada wajah gadis itu, kadang ia tidak yakin apakah ia sanggup membesarkan janin yang dikandungnya seorang diri saat nanti ia keluar dari sini. Tapi Hyerin berjanji, ia tidak akan membuat anaknya merasakan apa yang ia alami selama tumbuh dewasa. Walaupun anak ini akan tumbuh tanpa ayahnya, Hyerin akan memastikan kebahagian anaknya seorang diri. Karena ia tidak sanggup melenyapkan darah dagingnya sendiri, karena mungkin anak yang dikandungnya adalah satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki, hanya janin itulah alasan Hyerin untuk tetap bertahan hidup sekarang.

Kyuhyun melangkah mendekati ranjang rawat Hyerin dengan tangan terulur untuk menyentuh tangan Hyerin yang sedang membelai perutnya, menyentakkan gadis itu dari renungannya sendiri. Ia menatap Kyuhyun kaget, wajahnya merona karena salah tingkah.

“Menurutmu anak kita laki-laki atau perempuan, ng?” Pria itu tersenyum lembut lalu mengecup pelipis Hyerin.

Gadis itu menghela napas panjang. Sejujurnya ia justru risih diperlakukan manis oleh Kyuhyun akhir-akhir ini. Karena ia tahu ini hanya kenikmatan sesaat yang akan segera lenyap dari hidupnya. Bisa saja pria itu bersikap manis padanya sekarang karena mereka berada di bawah pengawasan banyak dokter, karena pria itu bisa dicap kejam kalau ia menyiksa Hyerin sekarang.

“Oppa, aku tidak mendengarmu datang.” Balas Hyerin gugup.

“Aku memang tidak membuat suara, kukira kau sedang tidur.” Kyuhyun duduk di tepi ranjang Hyerin.

Gadis itu berniat menghindari tatapan Kyuhyun, tapi ia terlanjur menyadari kegusaran dalam ekspresi pria itu. “Kau kenapa?”

“Memangnya aku terliha kenapa?” Balas Kyuhyun.

Hyerin mengangkat bahu. “Kau terlihat sangat gusar. Apa ada masalah besar? Kau sedang menyusun rencana apa lagi sekarang, oppa?”

Kyuhyun tersenyum kecut. “Sudah kubilang, aku tidak berniat menyakitimu lagi.”

“Tapi—”

“Aku harus membawamu keluar dari sini, Hyerin-a. Tepatnya kita harus segera keluar dari sini, dari negara ini. Kondisimu jauh dari kata ‘aman’ sekarang.” Jelas Kyuhyun seadanya.

“Lalu kau kira aku akan paham dengan penggalan informasimu yang tidak jelas itu.”

“Ayahmu.” Tekan Kyuhyun. “Ia mencarimu, mencari kita. Well, bukan ayahmu, tapi sebenarnya orang-orang suruhannya, karena ayahmu masih mendekam dalam penjara sampai persidangannya dilakukan bulan depan.”

“Penjara?”

Kyuhyun mengangguk. “Ceritanya panjang, aku tidak yakin kita punya waktu—”

“Ayahku ada dalam penjara? Bagus bukan? Itu yang kau inginkan selama ini untuk membalaskan dendammu. Tidak sekalian saja kau mengembalikan aku sebagai gadis rusak kepada ayahku, biar misimu sukses besar seluruhnya.” Tukas Hyerin sinis.

“Aish, kau masih tidak paham juga.” Kyuhyun menggaruk kepalanya sendiri frustrasi.

“Bukankah itu yang kau tanamkan dalam benakku setiap saat? Kau mendoktrinku dengan cukup baik, oppa. Tenang saja. Aku sudah paham ancaman ini. Aku juga sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi—”

Kyuhyun membungkam kata-kata Hyerin dengan ciumannya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak mencicipi bibir ini, rasanya sudah lama sekali ia tidak membelai gadis yang sekarang hanya terpaku menerima lumatan ringan di atas bibirnya.

“Hyerin-a, aku benar-benar tidak tahu langkah apa yang harus kuambil untuk membuatmu mengerti. Aku—aku menyayangimu. Memang kebebalan otakku dan sikap keras kepalaku mengalahkan perasaanku sendiri kemarin. Aku mengutamakan ego serta ambisi dalam bertindak ketimbang mendengar kata hatiku, tapi kumohon, jangan tatap aku dengan mata itu, jangan beri aku pandangan penuh kebencian itu padaku.” Kyuhyun berbisik di atas bibir Hyerin.

“Jika kau di posisiku, apa kau akan percaya dengan keajaiban yang merubah hidupmu 180 derajat, oppa? Karena apa yang kau katakan terlalu indah untuk menjadi kenyataan dan aku tidak boleh menjadi gadis bodoh yang lemah lagi. Aku harus kuat untuk bisa menjamin kehidupan lebih baik bagi janin dalam kandunganku.” Balas Hyerin dingin.

“Aku akan menjaganya bersamamu, sayang. Berapa kali harus kukatakan bahwa aku akan bertanggung jawab atas hidupmu?” Kyuhyun membelai wajah Hyerin dengan jemarinya.

“SAMPAI KAPAN KAU AKAN BERTANGGUNG JAWAB?” Bentak Hyerin. “SAMPAI KAU PUAS MEMANFAATKANKU? SAMPAI KONDISI AMAN KEMBALI? SAMPAI KAU MUAK PADAKU?” Suara Hyerin kembali bergetar, matanya kembali terasa panas oleh air mata yang siap tumpah untuk ribuan kalinya.

Fair enough.” Jawab Kyuhyun pasrah. “Aku akan bertanggung jawab selamanya, Hyerin-a. Tidak bisa kah kau mempercayaiku sekali ini saja?”

“Entahlah, sampai kau membuktikan kalau semua ini bukan omong kosong belaka.” Jawab gadis itu singkat.

Kyuhyun hendak bicara, namun pintu kamar Hyerin diketuk. Seorang pria bersetelan hitam dengan earpiece menggantung di telinganya masuk. Pria itu bukan orang Korea, dari perawakannya saja Hyerin langsung bisa menyimpulkan.

The doctors already cleared her, we can proceed with the plan now.” Ujar pria itu dengan logat Perancis yang kental pada Kyuhyun.

Ah! Speak of the devil.” Simpul Hyerin yang tidak asing dengan bahasa Inggris kini menatap Kyuhyun dengan pandangan menuduh. “Rencana busuk apa lagi yang kau rencanakan sekarang? Kumohon, jangan sakiti aku. Aku mungkin bisa menanggung rasa sakit oppa, tapi janin tak berdosa salam rahimku—“

Kyuhyun kembali mengecup lembut bibir Hyerin. “Ini Agen Flourent, agen yang diutus Interpol untuk mengamankan kita, Hyerin-a. Ceritanya panjang dan aku akan butuh waktu seharian untuk menjelaskannya padamu, biar kujabarkan semuanya dalam perjalanan kita.”

Gadis itu mengerutkan kening. “Interpol? Ya Tuhan, apa yang sudah kau lakukan?!”

“Menjebloskan ayahmu ke dalam penjara, karena ia sudah menyakiti gadis yang kusayangi.” Jawab Kyuhyun santai. “Ternyata lawan politik ayahmu itu bukan hanya di dalam negeri.”

“Lalu rencana apa yang…? Oppa, aku bingung. Kau menyuruhku untuk ikut pria itu? Kau baru berkoar akan bertanggung jawab pada hidupku dan sekarang kau berencana mengirimku entah kemana bersama seorang agen asing?!” Tunjuk Hyerin pada agen yang sekarang mendorongkan kursi roda ke arah ranjangnya. “Oppa, kumohon. Jangan menyiksaku lagi, biar aku tinggal di tempat ini saja… Kumohon, jangan bawa aku pergi dari negara ini, jangan buang aku, oppa!” Ia mulai menangis histeris karena ketakutan.

Kyuhyun memapah tubuh Hyerin yang mulai meronta untuk mendudukkannya di atas kursi roda. Pria itu kemudian berlutut di depan Hyerin, menggenggam tangan gadis itu dengan protektif sambil menatap matanya dalam. “Aku ikut bersamamu. Kau dengar itu? Kita akan melalui ini bersama. Kau tidak akan melakukan apa pun seorang diri lagi mulai sekarang, Hyerin-a. Aku akan mendampingimu sampai kapan pun, kau dengar janjiku?”

“Tapi…”

“Kau pernah mendengar istilah witness protection program?” Tanya Kyuhyun lagi semakin gusar, berharap gadis itu paham karena akan dibutuhkan waktu lebih lama lagi jika Hyerin tidak pernah tahu istilah itu—dan mereka tidak punya banyak waktu.

Hyerin mengangguk paham pada istilah yang tidak asing di telinganya. Ia tahu bahwa witness protection program adalah aksi penyelamatan/penyembunyian seorang atau lebih saksi dari kasus kejahatan. Biasanya program ini dilaksanakan apabila keamanan hidup saksi berada dalam konsidi ancaman siaga-1. Dalam kasus ringan, saksi akan dipindahkan ke kota lain di negara yang sama dan diberikan identitas baru untuk menyembunyikan mereka dari ancaman. Sedangkan dalam kasus berat yang mengancam keamanan internasional, saksi dihapus identitas lamanya, diberikan identitas baru dan dipindahkan residensi kependudukan mereka ke negara lain.

“Kita saksi hidup atas salah satu kejahatan ayahmu. Sekarang orang-orang suruhan ayahmu sedang berkeliling negeri untuk mencari kita serta beberapa orang yang turut memberi kesaksian atas kekejamannya selama ini. Kasus ayahmu berada dalam ranah keamanan internasional, itu sebabnya agen ini mengawal kita sekarang.”

“Lalu kita akan dibawa ke mana?” Tanya Hyerin tergagap. “Oppa, aku takut.”

“Aku pun tidak tahu, Hyerin-a. Maaf karena aku tidak bisa menjawab semua pertanyaanmu.” Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Hyerin. “Tapi aku janji, aku bersumpah tidak akan meninggalkanmu sendirian. Aku akan ikut denganmu ke mana pun takdir kita mengarah dan aku akan menjadi sosok pria yang bisa kau andalkan.” Kyuhyun membawa telapak tangannya untuk menyentuh perut Hyerin. “Dan aku akan berusaha semampuku untuk menjadi ayah yang baik bagi anak kita. Kumohon, kali ini percayalah padaku, kita tidak punya banyak waktu.”

Hyerin masih duduk dengan perasaan kacau balau sekarang. Semua ini terjadi terlalu cepat. Ia baru siuman beberapa hari yang lalu, sekarang seorang agen Interpol menjemputnya untuk membawa entah ke mana, dan Kyuhyun, pria itu baru bilang ia akan menjadi ayah yang baik bagi anak mereka? Apakah ia sedang bermimpi?

Pria itu kembali mengecup bibir Hyerin lembut sebelum ia bangkit berdiri dan mendorong kursi roda Hyerin menuju mobil yang sudah disiapkan untuk mengamankan mereka.

*

Hyerin masih diam terpaku saat Kyuhyun, seorang dokter, dan Agen Florent membawanya ke dalam sebuah pesawat pribadi yang sudah terparkir di Gimpo. Perjalanan dari rumah sakit dipenuhi dengan kesunyian, karena Kyuhyun tidak bisa berhenti menengok ke belakang utnuk memastikan mereka tidak diikuti, Hyerin masih sibuk menyatukan benang merah dari rangkaian kejadian janggal yang dialaminya, sedangkan Agen Florent juga sibuk mendengarkan perintah-demi-perintah yang muncul dari earpiece-nya.

Kyuhyun membopong tubuh lemah Hyerin untuk didudukkan di atas kursi, dengan hati-hati pria itu mengikatkan sabuk pengaman untuknya sebelum ikut duduk di samping Hyerin. Agent Florent memberi titah pada pilot pesawat untuk segera diberangkatkan dan dalam waktu kurang dari lima belas menit, pesawat kecil itu sudah mengudara, meninggalkan kota Seoul yang terlihat semakin kecil dari balik jendela pesawat di sisi kanan Hyerin.

Gadis itu kembali menangis dalam diam. Apa lagi yang akan terjadi dalam hidupnya sekarang? Selama ia bernapas, hanya kota Seoul yang ia tahu, tempat itu adalah rumahnya, negara itu adalah jaminan hidupnya yang melekat secara hakiki sebagai seorang warga negara. Namun sekarang ia harus meninggalkan semua begitu saja tanpa penjelasan yang masuk akal sampai detik ini.

“Hye, apa kau kesakitan?” Kyuhyun menghapus air mata di atas pipi Hyerin. “Ada dokter yang ikut serta dalam penerbangan ini, perlu kupanggilkan?”

Gadis itu menggeleng lemah. “Aku belum pernah melihat Seoul dari posisi ini sebelumnya. Benarkah kita tidak akan kembali ke sini, oppa? Tempat itu rumahku, aku harus ke mana tanpa rumahku?”

Kyuhyun melepas sabuk pengamannya sendiri, mengangkan sandaran tangan di antara kursi mereka sebelum kembali menarik Hyerin ke dalam pelukannya. “Maafkan aku, maafkan kekacauan yang terus kubuat dalam hidupmu.”

Hyerin hendak menyahut tapi Agen Florent segera duduk pada kursi di seberang Kyuhyun. Pria itu menyerahkan dua buah file yang di dalamnya terdapat informasi baru akan misi penyelamatan mereka. Kyuhyun membuka file itu, membolak-belik seluruh catatan yang ada di depan Hyerin adar gadis itu bisa ikut membaca dan merasa sedikit tenang.

Indikator pertama yang mereka dapatkan adalah dua pasang paspor baru, buku kecil bersampul merah dengan lambang negara yang ikonik itu langsung memberitahu mereka ke mana mereka bertolak.

“Seperti yang kalian lihat, mulai sekarang indentitas kalian sebagai warga Korea Selatan sudah dihapus dari data negara dan mulai detik ini, nama kalian adalah nama yang tercantum di dalam paspor itu.” Terang Agent Florent dengan bahasa Inggris.

Hyerin mencicit di atas bahu Kyuhyun. “Jadi identitas kita benar-benar lenyap sekarang, oppa?” Tanyanya ketakutan.

“Kalian akan menjadi Shin Taesung dan Oh Byunha mulai sekarang, warga negara Swiss keturunan Korea yang tinggal di sebuah kota kecil di pinggiran Zurich. Dalam file itu terdapat seluruh data pendukung serta sertifikat palsu yang bisa membantu kalian memulai hidup baru kelak, dan jika kau perhatikan, Mr. Cho, kalian juga tercatat sebagai suami-isteri.” Jelas Florent melanjutkan.

Kyuhyun terus membalik file di dalam tangannya, meneliti setiap sertifikat dan ijazah yang telah dibuat ulang oleh Interpol untuk menutupi data lama mereka. Semua tersusun rapid an berurutan di dalam file itu, bahkan pada file milik Hyerin, gadis itu dicatat sebagai seorang mahasiswi jurusan fotografi di sebuah universitas di Zurich.

“Apa maksudmu kita dicatat menikah?” Hyerin yang sudah bosan menjadi orang bodoh sekarang ikut membolak-balik file yang diambilnya dari Kyuhyun.

“Awalnya kami berencana mengirimkan kalian ke dua tempat berbeda, kalian diburu oleh orang yang sama, maka menyebar kalian ke tempat yang berbeda jelas opsi yang jauh lebih aman bagi kami.” Jelas Agen Florent dengan wajah jengkel. “Tapi pria ini bersikeras meminta agar kalian tidak dipisahkan. Interpol terpaksa harus mencari cara dan cerita lain untuk mendukung pindahnya kalian ke sebuah lokasi secara bersamaan. Jelas status suami-isteri adalah yang paling mudah untuk dikarang, terlebih lagi karena sekarang Nona Park juga dalam kondisi mengandung.”

Mulut Hyerin ternganga heran, ia melirik pada Kyuhyun tapi justru semakin bingung karena ekspresi pria itu tidak berubah sama sekali—tetap tenang dan tidak tampak keberatan dengan status jadi-jadian yang menyertai mereka.

“Ini, properti terakhir yang harus kalian pakai mulai sekarang.” Agen Florent menyerahkan dua buah cincin serasi pada Kyuhyun. “Di dalamnya ada chip yang bisa memantau lokasi kalian, jadi tolonglah bekerja sama untuk tidak melepasnya.”

Kyuhyun memandang sepasang cincin kawin di tangannya dengan senyum tipis, di bagian dalam cincin terpatri identitas baru mereka. “Aku tidak berencana meminangmu dengan cara yang jauh dari kata romantis, Hyerin-a. Tapi untuk sementara, izinkan aku menyematkan cincin ini di jari manismu.”

Hyerin tidak bereaksi pada kata-kata Kyuhyun tapi ia menarik tangannya menjauh dari pria itu, baginya cincin itu lebih nampak seperti hinaan. Cincin itu akan menjadi pengingat abadi tentang rangkaian peristiwa tragis yang menyerangnya, serta sebagai penegas keberadaan Kyuhyun dalam hidupnya yang hanya berupa sandiwara Interpol semata.

Pria itu menyadari tatapan benci yang Hyerin arahkan pada cincin dalam genggamannya. “Hye, aku janji akan mencarikan cincin yang lebih baik dari ini, cincin yang akan kuperoleh dengan jerih payahku sendiri, cincin yang kupilihkan secara personal untukmu.”

“Itu tidak akan merubah apa pun, oppa. Kita tetap saja kehilangan identitas kita.” Ujar Hyerin dingin.

“Bukankah itu lebih baik? Kau hidup tanpa nama ‘Park’ menyertaimu, kita bisa memulai hidup baru, kita akan membangun hidup kita dari nol.” Pria itu mencoba bernegosiasi dengan Hyerin yang masih terlihat sangat kesal.

Gadis itu hanya mengeleng lemah sebelum menolehkan kepalanya ke jendela pesawat. “Aku tidak tahu apa yang baik dan buruk sekarang, oppa. Aku tidak bisa berpikir dan aku marah. Aku sangat marah padamu sekarang karena telah mengambil keputusan sepihak untuk hidupku sekaligus untuk hidup janin yang kukandung. Aku punya hak yang sama untuk mengutarakan pendapat, tapi kau justru tergesa-gesa melakukan program ini.”

Kyuhyun menghela napas panjang. “Kau mau tahu apa yang sedang terjadi sekarang di tempat yang kau sebut rumah itu? Aku akan menceritakan segalanya padamu, tidak akan ada yang kututupi lagi. Tapi aku khawatir kau belum siap mendengarnya, sayang.”

“Aku tidak selemah itu.” Sergah Hyerin.

Kyuhyun menarik tangan Hyerin ke dalam genggamannya, memainkan jemari mereka sambil mengecupi buku-buku jari Hyerin. “Aku tahu, kau sudah membuktikan itu padaku puluhan kali.” Kyuhyun menarik dagu Hyerin untuk menolehkan wajah gadis itu menghadapnya.

“Lalu mengapa kau memperlakukanku seperti ini?”

“Seperti apa maksudmu?” Tanya Kyuhyun sabar.

“Seperti gadis bodoh yang lemah.”

Kyuhyun mengusap rambut Hyerin lembut sebelum mendaratkan kecupan pada dahinya. “Kau tidak bodoh dan juga tidak lemah. Tapi sekarang aku adalah priamu, kau adalah harta yang harus kulindungi beserta calon bayi kita yang ada dalam kandunganmu itu. Maka ampuni beberapa keputusan sepihak yang kuambil demi keamanan kita.”

Hyerin siap menyahut namun bibirnya dibungkam oleh ciuman ringan dari Kyuhyun.

“Dan kalau kau mau mendengar alasan egoisku yang paling jujur, aku melakukannya karena aku ingin memulai lembaran hidup baru bersamamu. Hidup di mana aku tidak membawa semua harta yang kumiliki, hidup di mana aku harus terus siaga menjagamu karena tidak ada lagi kawan-kawan premanku, hidup sederhana yang jauh dari kehidupanku sebelumnya. Aku ingin memulai kisah kita dengan cara sederhana, Hyerin-a. Karena aku ingin membuktikan padamu bahwa aku mampu membahagiakanmu tanpa limpahan materi, bahwa rasa sayangku akan cukup untuk menenangkan hatimu.”

“Tapi kau tidak mencintaiku.” Gadis itu kembali terisak. “Bagaimana mungkin kau melakukan semua itu dengan seorang gadis yang tidak kau cintai. Lagipula apa kabar dengan keluargamu? Mana mungkin orang tuamu bisa menerima fakta bahwa anak lelakinya harus dihapus dari data-data mereka.”

“Ayahku dihadapkan pada pilihan sulit, tapi beliau pun memilih jalan ini sebagai jalan teraman bagi hidupku dan bisnis kami. Jika keadaan sudah aman, beliau akan menghubungi kita nanti.” Terang Kyuhyun sabar. “Lalu untuk kekhawatiran utamamu itu, kau harus memperluas definisi picisanmu tentang cinta, Hyerin-a. Bagiku, yang kulakukan saat ini adalah caraku untuk mencintaimu. Karena ketika kau mencintai sesuatu, kau akan menjaganya dengan segenap upaya dalam batas kemampuanmu—itulah yang kulakukan sekarang.” Kyuhyun menelan ludahnya sendiri, menghapus rasa gugup yang tiba-tiba muncul dalam dirinya. “Tapi jika itu masih sulit untuk kau terima, biarkan aku memupuk rasa percayamu perlahan. Kau sudah berjuang banyak untukku selama ini, kali ini biar aku yang berjuang untukmu.”

“Kau… tidak akan meninggalkanku?” Isak Hyerin. “Kau bisa bilang terus terang dari sekarang, oppa. Agar aku bisa menyiapkan mental.”

Kyuhyun menggeleng mantap sebelum kembali melumat lembut bibir gadis yang kini menjadi poros hidupnya. Sentuhan bibir pria itu sangat berbeda dari lumatan penuh gairah yang selama ini selalu menjadi menu harian mereka. Kali ini Kyuhyun benar-benar mencoba menyampaikan seluruh isi hatinya lewat sebuah ciuman sederhana yang diterima Hyerin dengan sama gugupnya.

“Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu, ng? Kau dengar sendiri tadi agen itu bilang bahwa aku yang ngotot agar kita ditempatkan di lokasi yang sama sampai membuat Interpol jengkel.” Bisik Kyuhyun di depan bibir Hyerin.

“Kau tidak akan menyesal dengan keputusan ini?” Tekan Hyerin yang masih tidak percaya dengan janji Kyuhyun yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

“Tidak.” Pria itu membawa tangannya ke atas perut Hyerin untuk membelainya lembut. “Karena masa depanku ada di tanganmu sekarang, Hyerin-a. Kalian keluargaku sekarang, kalian hartaku yang paling berharga yang harus kulindungi.”

tbc…


Author’s note:

Mohon maaf atas part panjang nan membosankan ini. Pengennya langsung skip ke part berikutnya, tapi konyol banget kalau nggak ada penjelasan akan nasib mereka yang terombang-ambing dalam bahaya seperti ini. Semoga reader memiliki kebijaksanaan untuk memaafkan aku yang kurang ahli nge-skip ke bagian yang hot, happy, dan fun aja… sekali lagi, mian… -__-

Advertisements

181 thoughts on “Stockholm Syndrome – 4 [Let There be Light]

  1. elfishyvil says:

    Aduh… susananya makin pelik… tapi sukurlah hyerin dan janinnya selamat.. lega…
    Jadi buruan yg harus dilindung oleh interpol betul2 rumit, dan harus mengubah identitas dan jauh dari keluarga… benar2 sulit…
    Semoga kyuhyun dan hyerin bisa tetap bertahan…
    Oiya, masih penasaran kabar dari kakaknya hyerin yaitu hyemi…

    Liked by 1 person

  2. Park Hyojin^^ says:

    Rumiiiittt, dan gabisa ditebak ceritanyaaaa eonn, akhirnyaaa kyuhunnn bener bener sadarrr, tinggal hyerin yang harus belajar nerima kenyataan baik, dan keluar dari fikiran yang dia pake selama dikurung di penjara marmer atau apalah itu aku lupa, semoga kyunhyun dan hyerin hidupnya tentram, btw bokapnya kyunhyun baik banget lah segitumah, masih mending mau nolongin, dari pada si tua bangka yang manfaatin hyerin doang, udah mah manfaatin terus malah nyelakain lagi-_- kan something bangetttttt😑, tapi keputusan ada di tangan eonni bener gaaaa? Luv luv deh eonnn😘

    Liked by 1 person

  3. yoongdictasticgorjes says:

    ternyata pelaporan itu brakibat pnjang smpai ranah international..emg busuk bgt tuh org musuh nya jga bnyak,,agk disayangkn su mreka hrus hpus indentitas asli tpi apapun itu toh itu jg dmi kbaikn mreka,, ayo cho mulai hidup baru brsama kluarga brumu jga dan bhagiain mreka

    Liked by 1 person

  4. putri0589 says:

    ga nyangka kalo smp sepanjang itu proses tuntutan Kyuhyun ke park kunjung,, ternyata dia penjahat kelas internasional pantes aja ga punya hati begitu krn yg dia cari hidup aman dgn gelimang harta dan kekuasaan
    tp Kyuhyun beneran udah cinta sama hyerin?? bener juga sih kata hyerin ttg perlakuan Kyuhyun ke dia yg berubah 180 derajat itu bikin bingung dan pikiran negatif bersarang
    tp Kyuhyun juga mulai membuktikan cinta dan perhatian tulus nya untuk hyerin,, semoga aja dg identitas baru dan tempat baru kehidupan baru mereka jg jd lbh baik
    yg terpenting semoga Kyuhyun bisa beneran ngelamar dan nikahin hyerin secara formal dan normal bukan cuma status baru..

    Liked by 1 person

  5. Melsyana says:

    Dikirain setelah kyu menjerumuskan ayahnya hyerin ke penjara, hidup hyerin bakalan tenang tanpa adanya gangguan. Tapi, nyawa hyerin semakin terancam dan untungnya kyu selalu stay di dekat hyerin.

    Kak, biasanya kalau wanita hamil muda kan gak boleh naik pesawat, soalnya guncangan yg berasal dari pesawat itu sendiri bisa menggugurkan janin yg ada di rahim si ibu. Tapi, disini hyemi kok baik” aja. Apa mungkin karna perjalanan yg kyurin couple lalu di pesawat cuman sebentar ? Makanya janin hyerin baik” aja.

    Walau ini cuman fiksi, gak apa” kan kak kalau aku ngasih pendapat aku.
    Soalnya aku pernah baca di google dan juga pernah nonton film :D.
    Fighting kak :).

    Liked by 1 person

    • ssihobitt says:

      Gpp… Hahaha… Well ini kondisi emergensi dan mereka pakai pesawat pribadi interpol yang ketinggian jelajahnya di bawah 20.000 kaki, di mana pressurenya tidak sebesar ketinggian di atasnya. Mudah2an itu cukup menjelaskan ya…

      Like

    • ssihobitt says:

      Oh tambahan, aku nggak menjelaskan apa yg aku jelaskan di komen ini dalam novel krn yaaa males aja bikin reader bosen krn funfacts yang biasanya dianggap ga guna dalam sebuah cerita NC (cerita ini full NC, tujuannya juga cuma itu… Krn ini cerita yang aku paling ga niat buat tapi paling banyak dibaca krn kontennya “hot” 🙄) tapi kalau memang ada yang penasaran, ya pasti aku jelaskan 😊

      Like

  6. Melsyana says:

    Ok” kak, udah lebih dari cukup kok penjelasannya :D. Walau ff ini banyak NC nya, tapi aku suka dg ceritanya. Sampai” ff kk yg ‘one last shot’ belum aku lanjutkan :D. Saking penasaran dg cerita ini.
    Karna aku sangat tertarik dg cerita yg menyangkut tentang psikolog gitu. Makanya aku baca ini dulu.

    Awalnya aku kira hyerin juga menderita ‘ Androfobia’ (ketakutan terhadap pria), rupanya enggak toh, kalau misalnya iya- pasti beda lagi jalan ceritanya.
    Thank’s and fighting, Sis 😀

    Liked by 1 person

  7. nhjhope says:

    Ibarat ‘karma’- Yang tadinya Hye yang selalu berusaha meyakinkan! Sekarang justru sebaliknya. Sempat greget juga sama hyerin! Entahlah ~ Part ini berhasil bikin emosi campur aduk😆. Luarbiasaaa😄.

    Liked by 1 person

  8. Putrikimcho says:

    Seneng akhirnya bisa selesai sama ayah ga tau diri itu yaa walaupun belom selesai banget sama masuh-musuhnya .. Lagi jadi orang kok senrng banget cari musuh sih pak pak …

    Semangat kyu ngeyakinin hye nya wkwkkw 😂😂

    Dan semangat juga buat kakakk 💪💪

    Liked by 1 person

  9. Putrikimcho says:

    Seneng akhirnya bisa selesai sama ayah ga tau diri itu yaa walaupun belom selesai banget sama masuh-musuhnya .. Lagi jadi orang kok senrng banget cari musuh sih pak pak …

    Semangat kyu ngeyakinin hye nya wkwkkw 😂😂

    Dan semangat juga buat kakakk 💪💪

    Dan pengen nge post ini tadi pagi juga 😂😂

    Liked by 1 person

  10. KartikaApriya says:

    Berharap aja diidentitas baru mereka kyuhyun bener2 cinta dan ngebuktiin apa yg dia ucapin ke hyerin…
    Semoga aja ayahnya bener2 jatoh deh seneng liatnya ayah gatau diri semoga aja anaknya ikutan jatuh juga a.k.a hyemi…..
    Smoga aja hyerin dpet happy endingnya😢

    Liked by 1 person

  11. Dyana says:

    Gimana Hyerin mau gampang percaya sama Kyu, orang kemaren2 dia jahat banget, entah itu tindakan, ucapan, jahara pokoknya. Tp kayaqnya Hyerin yg diambang kematian bnr2 merubah Kyu, apalagi dengan hadirnya calon bayi… Ah, masalahnya makin brt pakai kabur2an ini, gimana nasib mereka setelah identitas berubah… Kayaqnya mending lanjut baca biar gak tmbah penasaran…

    Liked by 1 person

  12. Alea says:

    Mana mungkin Hyerin langsung percaya dengan omongan Cho? Apalagi kepala Hyerin udah dipupuk dengan kata-kata yang menyakitkan oleh dua orang laki-laki yang dipercayainya.
    Ayah Hyerin udah masuk penjara tetap aja nyari Hyerin sama Cho. Apalagi maunya?

    Liked by 1 person

  13. gyukyu says:

    Kayaknya ini bakalan jadi awal kebahagiaan buat hyerin☺
    Yuhuuu interpol emg keren yak sampe bisa buat kyu-hye jadi pasangan suami istri😂
    Keep writing kak😉

    Liked by 1 person

  14. Kyuhyunsfan says:

    Waaah dipart ini dapat pengetahuan ttng politik setuju dengan kyuhyun tentang definisi cinta. Suka banget dari cara penjelasan dan penyampaian authornim benar ” dapet feelnya.

    Liked by 1 person

  15. diah sulistia says:

    Makin runyam ya.. Ternyata ayah hyeri penjahat kelas kakap.. Yg bersembunyi di balik nama besar, harta, dan tahta… Jinjaaa hingga segitu nya efek dari pelaporan kyuhyun. Semua musuh bersatu menyerang Tn. Park hahahaha rasain biar hancur semua apa yg dibangga kan Tn. Park. Hahaha astaga kenapa malah seneng liat Tn Park menderita :v

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s