Piles of Regrets – 13 [Agreement]

 

22

*Gambar milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Short Chaptered, Romance, Sad

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

 

 

Kalau Sera berpikir Ok Taecyeon akan mundur dari hidupnya hanya karena satu perintah tegas darinya, maka wanita itu salah besar. Pria itu terlalu keras kepala, apalagi kalau ia merasa sedang melakukan hal yang benar. Untuk menghargai permintaan wanita itu, Taecyeon memang tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di depan Sera, namun bukan berarti ia tidak bisa memantau keadaan melalui kaca kecil di pintu kamarnya.

Mungkin pria itu tampak terlalu menyedihkan, ia terlalu dihantui perasaan bersalah dan penyesalan hingga ia merasa harus terus memantau perkembangan mantan isterinya. Taecyeon sendiri tidak bisa berargumen banyak akan putusan Sera yang tidak pernah menghubungi Taecyeon sama sekali, ia pantas diperlakukan seperti ini oleh wanita itu—karena bagaimana pun juga, Taecyeon adalah orang yang memulai semua perpecahan dalam hubungan mereka.

Satu lagi yang ia pelajari, yaitu posisinya sudah tergantikan oleh mantan pengacaranya, Cho Kyuhyun. Ia sering melihat pria itu di rumah sakit ini. Kyuhyun keluar-masuk kamar Sera, menghabiskan waktu bersama wanita itu, dan yang membuat dadanya terasa sesak adalah senyum tulus di wajah cantik mantan isterinya setiap kali mereka bersama—mungkin memang ketulusan cinta tak bersyarat dari Kyuhyun yang Sera butuhkan sekarang, bukan cinta yang melibatkan banyak pertimbangan akan untung-rugi dan siapa yang lebih banyak berkorban seperti yang Taecyeon terapkan padanya pada akhir hubungan mereka.

Oh, mari tidak melupakan fakta bahwa Ok Taecyeon masih harus melaksanakan pernikahan dengan gadis pilihan orang tuanya. Keributan akan upacara pernikahan gagal itu berhasil diredam Yoona entah dengan cara apa. Kini waktunya Taecyeon bersikap menjadi pria sejati dan menepati janjinya pada Yoona—untuk kembali padanya dan bertanggung jawab atas hidup mereka. Setidaknya, itu lah yang akan dilakuan dalam waktu seminggu dari sekarang.

Seperti biasa, pria itu mengintip keadaan Sera dari balik kaca di pintunya, wanita itu sedang membaca sebuah novel science fiction dengan wajah serius untuk melewati harinya. Taecyeon menghela napas lega, Han Sera terlihat semakin membaik sekarang. Warna di wajah cantiknya telah kembali, ia terlihat lebih sehat sejak kasus anfalnya yang terakhir dan ia terlihat bahagia. Tanpa sadar senyum kecil tergores di wajah Taecyeon, biarlah ia menikmati ini dari jauh sekarang asalakan Han Sera tetap bernapas.

“Kuharap kau tidak berencana masuk ke dalam kamar itu, Taecyeon-ssi.” Sebuah suara berat menghamburkan lamunan Taecyeon.

Ia menoleh pada sumber suara untuk menatap langsung pada pria yang sekarang menjadi saingan terberatnya. Cho Kyuhyun masih menggunakan kemeja kerja, dengan tas kantoran yang masih tergenggam di tangannya. Inikah rutinitasnya? Pulang ke rumah sakit, menginap di tempat Sera dan berangkat kerja lagi dari rumah sakit? Taecyeon saja tidak sanggup membayangkan dirinya melakukan semua hal itu.

“Aku ingin bicara denganmu, kalau kau tidak keberatan, Kyuhyun-ssi.” Taecyeon mencoba tersenyum tapi yang nampak di mata Kyuhyun justru seringai sinis.

Kyuhyun mengamati wajah suram Taecyeon sambil mempertimbangkan permintaan pria itu. Memang, cepat atau lambat mereka pasti akan bicara dan Kyuhyun merasa sebaiknya masalah antara mereka dituntaskan secepatnya.

Beberapa menit kemudian, kedua pria itu sudah duduk manis di kafetaria. Mereka duduk dalam diam sambil memandang minuman masing-masing yang tak tersentuh di tengah meja, tidak ada yang tahu bagaimana cara menghapus suasana yang sangat tidak nyaman ini—dan bagaimana cara mereka berbincang tanpa berakhir menjadi perdebatan yangs engit.

“Aku akan mulai.” Taecyeon memecah kesunyian, pria itu memainkan gelas kopi dengan telunjuknya sebelum melanjutkan. “Sera, wanita itu terlihat jauh lebih baik dari saat terakhir aku bertemu dengannya.”

Kyuhyun mengangguk setuju. “Perkembangannya lumayan pesat.”

“Pasti kau menjaganya dengan sangat baik.” Taecyeon meringis sedikit, tidak percaya dengan kata-kata yang membuatnya terdengar seperti pecundang yang cemburuan.

Kyuhyun menghela napas panjang. Sepertinya mantan kliennya ini sedang mengulur-ulur pembicaraan, hal yang Kyuhyun benci. “Kita hentikan basa-basinya, Ok Taecyeon-ssi. Lebih baik kita segera membicarakan masalah kita.”

“Yeah, menurutmu kita punya masalah?”

“Bagaimana jika kau mulai bicara saja masalah yang mengganggumu.” Kyuhyun menyilakan lengannya di atas meja sambil menatap Taecyeon tajam. “Lagipula kau yang ingin bicara denganku, bukan?”

Taecyeon mengutuk dalam hati. Sialan! Cho Kyuhyun sedang meperlakukanya seperti seorang terdakwa sekarang. “Oke, untuk menyingkat waktu aku punya beberapa pertanyaan krusial. Pertama, apa kau bersamanya?”

Kyuhyun tidak langsung menjawab, mereka tidak pernah mendeklarasikan hubungan mereka sebagai sesuatu. Hanya hati dan batin mereka yang memang terikat erat tanpa membutuhkan label apa pun untuk mensahkan ikatan mereka. “Kami saling menyayangi dan membutuhkan, dan saat ini bisa dikatakan sebagai masa transisi hubungan kami.” Jawabnya jujur.

Taecyeon mendengus sinis. “Jawabanmu menggiring pada pertanyaanku yang kedua, sudah berapa lama ini berlangsung?”

“Selepas perceraian kalian.”

“Jadi setelah kau membantuku menceraikannya, kau memutuskan untuk mengambil alih posisiku?” Tantang Taecyeon sinis.

Sekarang gentian Kyuhyun yang menyeringai dingin. “Cukup adil kalau kau berprasangka demikian. Jika aku di posisimu, aku pun akan menduga hal yang sama.” Kyuhyun mendengus. “Tentu hal itu membuatku terdengar sangat tidak profesional, bukan?”

Taecyeon tidak menjawab, hanya menusuk Kyuhyun dengan tatapannya.

“Baiklah, biar kujelaskan.” Kyuhyun menyandar pada kursinya. “Kau masih ingat saat kutawarkan jasa untuk mengawasi penggunaan uang alimentasi untuknya? Well, tentu saja kau memintaku untuk tidak menginvestigasi lebih jauh, tapi aku punya dendam tersendiri pada wanita itu dan misiku adalah untuk mengungkap kebusukan Han Sera. Jadi kuhiraukan perintahmu dan kulakukan investigasiku sendiri. Kebetulan aku memang masih sangat murka padanya saat itu, ia adalah sahabat dan wanita yang paling kusayangi selama masa kuliah—sampai kau datang dan menikahinya dengan instan—”

“Jadi kau cemburu dan ingin membalasnya.” Taecyeon menuntaskan kalimat Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat kedua bahunya cuek. “Aku terlalu shock dan tanpa sadar malah membencinya perlahan. Jadi aku bersikeras menyelidiki kasus Han Sera, agar aku bisa membalaskan dendamku. Rencana awalku adalah untuk menggali kebusukannya, lalu melapor padamu saat aku menemukan semua fakta yang kubutuhkan untuk membuat hidupnya lebih sengsara.”

You sick bastard!” Taecyeon menggeleng tidak percaya pada rencana kejam Kyuhyun. “Bahkan jika kau membawa bukti-bukti itu, apa yang kau harapkan?”

“Agar kau menuntutnya secara pidana.” Lanjut Kyuhyun jujur dan semakin merasa malu atas kelicikannya pada Sera dulu. “Hingga kita bisa menjebloskannya ke dalam penjara bersama-sama.”

“Penjara? Tidak ada alasan yang masuk akal untuk itu, Kyuhyun-ssi. Wanita itu hanya menggunakan uang tunjangan dariku.”

“Bukan, bukan karena itu. Tapi karena ia menipumu.” Jelas Kyuhyun.

Taecyeon semakin penasaran. Tempo hari saat ia berbincang dengan Sera pasca anfalnya, wanita itu juga menyebut-nyebut fakta bahwa ia menipu Taecyeon. “Nah! Aku penasaran dengan hal itu jujur saja. Sera juga sempat bilang padaku bahwa ia menipuku, tapi aku sungguh tidak paham dan tidak merasa ditipu juga.”

“Ingat kartu kreditmu yang digesek habis limitnya untuk beli tas-tas mahal? Han Sera melakukan pembelian gila-gilaan dengan kartu kredit curian, keesokan harinya ia mengembalikan tas-tas tersebut untuk memperoleh uang tunai. Cara ini mencegahmu untuk tahu benda apa yang sebenarnya ia beli—ia menggunakannya untuk mendaftar pada bank donor internasional untuk mendapatkan jantung yang ia butuhkan.” Hati Kyuhyun kembali teriris jika mengingat perjuangan menyedihkan wanita itu. “Seharusnya ia tidak meninggalkan rumahmu selama itu, tapi karena berbagai prosedur perawatan, Han Sera terpaksa tinggal di sini selama nyaris setahun.”

Taecyeon hanya bisa menganga bingung dengan cerita yang Kyuhyun lontarkan padanya.

“Ia nyaris mendapat jantung yang dibutuhkannya, tapi pasti kau tahu bahwa jantung itu tidak pernah ia terima. Karena ada orang lain yang lebih membutuhkan. Maka sampai detik ini wanita itu masih terikat pada ranjang rumah sakit sembari menanti keajaiban itu datang.” Saura Kyuhyun semakin tercekat.

“Gadis bodoh.” Bisik Taecyeon pelan. “Kapan kau mengetahui semua fakta ini?”

“Saat aku menguntitnya setelah penggunaan tidak wajar pada uang alimentasi pertamanya.” Kyuhyun meneguk jus di gelasnya sebelum lanjut menjelaskan. “Pradugaku adalah Han Sera punya selingkuhan, maka aku membuntutinya dengan niat merekam semua kegiatanku dan melapor balik padamu untuk kemudian menjebloskannya ke dalam penjara. Aku sudah membayangkan wanita itu akan berlutut memohon agar aku tidak membocorkan rahasia gelapnya padamu, tapi justru akulah yang dibuat terkejut.”

Taecyeon diam saja, membiarkan Kyuhyun menuntaskan penjelasannya.

“Pada hari yang sama juga aku mengetahui kalau ia ternyata seoarnag pasien gagal jantung di tempat ini. Karena masih belum yakin, aku mengintip kamarnya dan ia terkejut melihatku—keadaannya yang lemah mengakibatkan anfal. Aku berniat memberitahumu segera, tapi sebelum Han Sera kehilangan kesadaran total, ia memohon agar aku menutup mulutku.” Kyuhyun mengatur napasnya beberapa saat untuk menenangkan dirinya. “Aku mendampinginya sejak malam itu. Sebagian karena rasa bersalahku yang sudah menyiksanya selama proses perceraian kalian, dan karena hanya itu yang bisa kulakukan untuk menghapus air matanya. Dosaku padanya sebegitu besar, tapi seperti yang kita ketahui bahwa Han Sera berhati malaikat—ia memaafkanku dan aku berada di sisinya sejak itu.”

Tangan Taecyeon mengepal, ia lebih berharap Kyuhyun dan Sera punya affair saja jauh sebelum perceraian mereka agar ia punya alasan solid untuk murka. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Kesaksian Sera dan Kyuhyun cocok, mereka sepasang sahabat yang terpisahkan karena kehadiran Taecyeon, sepasanga sahabat yang sekarang kembali bersama saat pria itu menjauh dari hidupnya.

“Giliranku untuk bertanya sekarang, Taecyeon-ssi. Bagaimana dengan pernikahan—”

“Itu bukan urusanmu!” Sergah Taecyeon cepat.

Kyuhyun mengangguk setuju. Jelas ia bertanya bukan karena penasaran, ia bertanya karena tahu Sera masih suka memikirkan kegagalan upacara pernikahan mereka, Sera masih sering mempertimbangkan untuk bertemu Yoona dan berterima kasih padanya—tapi juga tidak berani melakukannya kalau ternyata pernikahan mereka memang gagal total akibat ulahnya.

“Aku akan menikah minggu depan, Kyuhyun-ssi. Jika kau menanyakan ini karena Han Sera yang bertanya tentang kabar dan keadaanku, kau bisa katakana padanya bahwa aku akan melaksanakan titahnya. Bilang padanya bahwa aku menuruti permintaannya dan akan mencoba melanjutkan hidupku dengan Im Yoona.” Pria itu mengencangkan rahangnya sambil meremas gelas kopinya semakin kencang.

“Ia tidak menanyakan keadaanmu.”

“Aku tahu, aku juga sadar dari cara wanita itu yang tidak pernah menghubungiku sama sekali. Tapi setidaknya kalau ia bertanya, kau tahu jawabannya.”

Kyuhyun mengangguk, disusul dengan kesunyian tidak nyaman diantara mereka. “Jika kau sudah meluruskan masalah kita, aku akan undur diri, Taecyeon-ssi.” Kyuhyun bangkit lalu mengambil tas kerjanya kembali.

Taecyeon ikut bangkit untuk menyudahi urusan mereka. Hanya setelah Kyuhyun menjauh beberapa langkah, Taecyeon teringat akan satu pesan yang harus disampaikannya.

“Kyuhyun-ssi.”

Kyuhyun berhenti dan berbalik melihat Taecyeon.

“Kumohon, kabari aku jika ia membuthkan sesuatu. Aku masih tetap akan membantunya untuk sembuh dan aku tidak keberatan melakukan ini tanpa sepengetahuannya—aku hanya ingin ia kembali menjadi Han Sera yang sehat dan ceria. Mungkin yang bisa kulakukan tidak semulia tindakanmu, tapi jika aku bisa membantu masalah biaya donor itu, beritahu aku.”

“Ne.” Kyuhyun mengangguk walaupun ia berharap bisa melindungi Sera seorang diri saja sekarang. “Aku akan mengabarimu jika ada kabar baik.”

 

*

 

Senyum di wajah Sera langsung melebar saat Kyuhyun melangkah masuk ke kamarnya. Pria itu agak telat hari ini, tapi tidak masalah selama ia tetap hadir. Dulu Sera selalu bertanya-tanya apakah Kyuhyun akan menemaninya semalaman atau tidak, tapi sejak ia meminta Kyuhyun untuk berada di sisinya, pria itu benar-benar tidak pernah meninggalkannya selain untuk ke kantor.

“Kau lembur?” Tanya Sera dengan mata berbinar dan mulut yang dimanyunkan.

Kyuhyun mendekati ranjangnya, menyambut bibir Sera dengan bibirnya sendiri. “Ng, aku baru bertemu mantan klienku. Apa kau menungguku lama?”

Sera mengangguk cepat. “Aku punya berita baik!”

“Kau dapat jantung?” Tanya Kyuhyun spontan sambil duduk di tepi ranjang Sera.

Well, berarti berita kedua terbaik.” Sera memutar matanya. “Dokter Kim dan dokter Song bilang, jika hasil physiotheraphyku dalam dua hari ke depan bagus, mereka akan mengizinkanku pulang. Aku diizinkan keluar dari tempat ini, Kyu! Itu berita bagus, kan?” Ia menyengir lebar lengkap dengan kedua ibu jari yang diangkat tinggi-tinggi di depan wajahnya.

Bukan yang terbaik, tapi masih berita baik.

“Kau sudah memikirkan konsekuensinya?” Kyuhyun justru terlihat khawatir ketimbang senang, pria itu masih merasa bahwa rumah sakit ini adalah tempat teraman untuk Sera.

“Aku akan menjaga diri, Kyu. Lalu setiap hari akan ada tim LVAD yang datang untuk memeriksa kondisiku. Kau tidak senang dengan berita ini?” Sera mengerutkan kening kecewa.

“Aku senang, sayang.” Ia mengelus rambut Sera lembut. “Tapi ada beberapa fakta yang tidak boleh kau lupakan, pertama—”

“Aish! Kau benar-benar tahu cara merusak moodku.” Sera menepis tangan Kyuhyun kesal dengan wajah merengut.

“Biar aku bicara sampai selesai, ne?” Bujuk Kyuhyun yang merasa sedang bernegosiasi dengan anak kecil. “Pertama aku tetap khawatir karena kau itu ceroboh. Lalu apa kau sudah menemukan tempat tinggal? Kau sudah menemukan seorang asisten utnuk menjagamu siang-malam? Apa kau sudah melatih dirimu jika sebuah emergency terjadi? Banyak pertimbanganku Han Sera.”

Sera menunduk sambil memainkan kain selimutnya. Ia benci kalau Kyuhyun benar, mengapa pria ini selalu berpikir rasional dan tidak pernah bisa lepas dari kekakuan hidupnya. Sementara Sera selalu menjadi sosok kekanakan ceroboh yang menjalani hidup sesuai dorongan hatinya.

Sebuah ide brilian muncul dalam benak Kyuhyun namun pria itu ragu kalau Sera akan setuju. Ia tidak mau terkesan seperti pria mesum yang bersikeras memaksa kekasihnya untuk tingal bersama, bahkan untuk ukuran hubungan normal saja tindakan itu akan terkesan terlalu tergesa. Tapi tidak ada salahnya dicoba, kan? Toh tujuan Kyuhyun hanya untuk menjaga Sera, bukan berbuat macam-macam dengan wanita itu.

“Aku sedang berpikir.” Ujar Kyuhyun ragu. “Tawaranku yang dulu, bagaimana kalau kau tinggal di rumahku…”

“Ya!”

“Belum selesai ucapanku.” Kyuhyun mencubit hidung Sera gemas. “Aku tahu kau tidak mau terkesan berpindah dari rumah satu pria ke rumah pria lain, tapi kalau kau pikirkan baik-baik, itu keputusan yang bijaksana, bukan? Bahkan jika kau merasa tidak nyaman tinggal secara gratis, kau boleh menyewa kamarmu padaku—aku akan menjadi induk semangmu saja. Dengan demikian, hatiku lebih tenang. Aku bisa menjagamu, jika terjadi sesuatu padamu aku bisa langsung bertindak.”

“Orang tuamu tidak marah?” Tanya Sera kembali menunduk.

“Hey, aku tinggal di rumahku sendiri, bukan rumah orang tuaku.” Kyuhyun terkekeh. “Aku juga bisa meminta oemma untuk menjagamu juga saat aku bekerja.”

“Jangan repotkan oemonim lagi.” Sera melotot pada Kyuhyun. “Melihatnya sering datang ke sini membawakan makanan rumahan saja sudah membuatku merasa bersalah.”

Kyuhyun terkekeh. “Oemma justru senang punya teman mengobrol. Ia merindukanmu juga, Sera.”

“Tapi imageku di mata orang tuamu akan jelek sekali, Kyu.” Rengek Sera blak-blakkan, ia toh tidak melihat fungsi menjaga gengsinya dari pria yang sudah tahu seluruh kelakukannya. “Lalu tetanggamu akan bilang apa nanti? Bisa-bisa kita dikira kumpul kebo, kau tidak khawatir?”

Pria itu semakin gemas dengan pemikiran Sera yang simple dan polos. “Han Sera, memangnya kau kira kita mau berbuat apa jika tinggal bersama, hm?” Ia mencubit pipi Sera. “Kita tinggal bersama seperti dulu kita tinggal bersama—bedanya sekarang hanya kita berdua saja—tapi kau di kamarmu dan aku di kamarku. Kumohon dengarkan aku. Aku akan merasa lebih terbebani jika kau menyewa tempat lain! Jika kau bersikeras menyewa tempat lain, maka aku akan menyewa kamar sebelahnya dan tinggal di sampingmu!” Ancam Kyuhyun.

Sera menghela napas, ia tidak pernah bisa memenangkan argument dengan Cho Kyuhyun. “Aku akan mempertimbangkannya.”

“Aish! Bilang saja ‘iya’! Apa sulitnya.” Paksa Kyuhyun gusar.

“Baiklah, aku kan menyewa!” Ia menjulurkan telunjuknya ke depan wajah Kyuhyun sambil melotot mengancam. “Aku akan membayar biaya sewaku padamu, aku tidak mau tinggal secara cuma-cuma di sana.”

Kyuhyun tersenyum dan mengangguk setuju.

“Aku akan tidur di kamarku, kau akan tidur di kamarmu!” Lanjut Sera.

“Tentu saja.”

“Kita juga akan membuat batasan-batasan. Seperti katamu tadi, hubungan kita akan menjadi induk semang dan penyewa.” Sera lanjut mengancam.

Kyuhyun tertawa renyah. “Jadi kau bukan kekasihku?”

Sera mencubit hidung Kyuhyun. “Bukan, kau induk semangku sekarang!” Candanya.

Kyuhyun menarik Sera ke dalam dekapannya, memeluk wanita itu seerat yang ia bisa tanpa mengganggu kabel yang melekat di tubuh wanita itu. “Baiklah, kalau itu artinya aku sudah naik level dalam hidupmu.” Ia mengecup puncak kepala Sera.

Wanita itu mengeratkan pelukannya di sekitar pinggang Kyuhyun, menikmati kenyamanan yang dipancarkan oleh kekasihnya. Jelas status mereka jauh lebih kuat dari itu, tapi ia tidak pernah berani menjanjikan apa-apa pada Kyuhyun. Bukan karena ia tidak yakin dengan perasaannya, tapi karena ia belum yakin akan hidup cukup lama untuk membahagiakan pria itu.

 

*

 

Seperti yang dijanjikan, para dokter akhirnya mengizinkan Sera untuk pulang setelah perkembangan pesat terjadi pada kesehatannya empat minggu terakhir. Mereka mengizinkan Sera pulang dengan beberapa catatan: setiap hari seorang social worker akan mengunjunginya untuk memeriksa keadaan, ia harus janji untuk meminum obatnya dengan tertib—tidak masalah, ada Kyuhyun yang tidak kalah galak masalah ini, ia harus patuh pada pola makan sehat, ia harus memastikan posisi ranjangnya dekat dengan stop kontak untuk menyolokkan perangkat LVADnya, dan Han Sera harus kembali memeriksakan diri ke rumah sakit seminggu sekali.

Kyuhyun pun sudah menyiapkan segalanya untuk Sera. Pria itu mulai mengangkut barang-barang Sera dari rumah sakit sehari sebelum wanita itu pindah, ia juga sudah merencanakan pesta penyambutan kecil-kecilan dengan orang tuanya untuk menyambut Sera. Pria itu ingin memastikan kenyamanan maksimal Sera selama tinggal bersamanya. Memang ini bukan kali pertama mereka tinggal bersama, tapi kali ini mereka hanya akan tinggal berdua dan jelas status mereka sudah bukan sekedar teman.

Sera tersenyum lebar sepanjang perjalanan pulang dari rumah sakit, ia menggoyang-goyangkan kaki dengan gelisah sambil menebak-nebak lokasi rumah Kyuhyun. Wanita itu melongo kagum karena ternyata Kyuhyun tinggal di sebuah rumah—bukan apartemen—sederhana yang memiliki taman lumayan luas. Pria itu membantu Sera turun dari mobil dan menggiringnya ke dalam.

han160408-00115

Gambar milik Park Sora by Stylenanda

“Wah, rumahmu menyenangkan sekali, Kyu! Terlihat sangat nyaman dari luar.” Ia menolehkan kepala ke berbagai sudut halaman Kyuhyun sementara pria itu membuka pintu.

“Terima kasih, aku memang bekerja keras untuk membeli properti ini.” Balasnya dengan cengiran bangga. “Ayo kuberi tur singkat.” Ia menarik lengan Sera sambil menuntunnya ke dalam.

Mata Sera langsung menangkap sebuah foto yang membuatnya memekik kegirangan. “Ohhh my Gooood!”

Kyuhyun mengikuti arah pandangan Sera dan langsung mengutuk dirinya yang lupa menyembunyikan foto masa mudanya dulu. Foto di saat dirinya masih agak tembam dengan tatanan rambut yang super jelek dan kacamata pantat botol.

“Ya Tuhan, foto ini lama sekali.” Sera menunjuk pada foto yang tertaruh di dekat credenza. “Ini adalah wujud Cho Kyuhyun yang kuingat, ah aku rindu sekali…”

Kyuhyun mengambil foto itu lalu menyembunyikannya di balik punggung. “Berhenti meledekku.”

“Aish, kenapa kau menyembunyikan sahabat kesayanganku di balik punggungmu? Berikan dia padaku.” Sera memeluk Kyuhyun sambil mencoba meraih foto dari balik punggungnya.

Kyuhyun memberikan Sera apa yang ia minta, merelakan fotonya menjadi bahan bulan-bulanan wanita itu.

“Kau terlihat sangat polos dan lugu sekali dulu.” Sera mengelus foto di hadapannya, lalu memandang Kyuhyun yang masih menatapnya jengkel. “Aku senang sekali dulu bisa bertemu denganmu. Lelaki lain selalu memandangku dengan tatapan mesum, tapi kau selalu menatapku seperti ini.” Ujarnya sambil mengelus wajah Kyuhyun. “Membuatku merasa sangat nyaman dan aman berada di sampingmu.”

Pria itu tersenyum lalu mengambil fotonya dari tangan Sera. “Sekarang aku lebih tampan dari bocah ini, kan?”

Sera malah tertawa dengan pernyataan bodoh pria itu. “Jelas kau terlihat jauh lebih tampan. Kau tumbuh dewasa, kau belajar merawat dirimu, dan kau lebih percaya diri. Tapi aku selalu menganggapmu good looking sejak dulu, bahkan dengan kacamata pantat botol ini. Kau tahu? Beberapa gadis British di kelasku bahkan sempat memintaku untuk mengenalkan mereka padamu, kata mereka kau terlihat eksotis—tapi aku tidak rela kalau mereka sampai mempermainkanmu, jadi tidak pernah kulaksanakan permohonan itu.” Sera lanjut tertawa melihat reaksi Kyuhyun yang makin cemberut.

“Aish! Lupakan foto ini. Ayo kita lanjutkan tur keliling rumahku.” Ia meletakkan foto itu kembali ke tempatnya sebelum kembali menggenggam tangan Sera.

Pria itu mengantar Sera ke arah dapur sambil menunjukkan kabinet-kabinet di mana Sera bisa mengambil perabot yang dibutuhkannya, ia menunjuk ruang tengah tempat TV plasmanya diletakkan, lalu lanjut ke kamar kerja Kyuhyun yang terlihat sangat kaku karena banyak rak buku yang terisi penuh pada setiap raknya—membuat Sera berpikir apakah pria ini memang rajin membaca atau hanya membutuhkan dekorasi tambahan saja.

“Nanti malam, orang tuaku akan datang. Kami mengadakan penyambutan kecil-kecilan untukmu.” Jelas Kyuhyun.

“Aish! Kau masih saja merepotkan orang tuamu.” Sera berdecak kesal.

Pria itu hanya terkekeh. “Aku tinggal dengan seorang wanita sekarang, setidaknya mereka harus menyambutmu agar kau tidak terus-terusan gelisah. Kau lihat, kan? Orang tuaku tidak masalah dengan acara kita tinggal bersama, lagipula kita sudah dewasa Sera. Mereka yakin kita sudah tahu yang terbaik untuk diri masih-masing.”

Dalam hati Sera sangat bersyukur karena masih ada Kyuhyun dan keluarganya yang berusaha keras untuk membuat dirinya merasa diterima. “Yakin mereka tidak keberatan?”

Kyuhyun mengangguk sebelum menunjuk pada ruang berikutnya. “Nah, ini kamarku.” Kyuhyun membuka pintu di samping ruang kerjanya dan menggiring Sera masuk untuk melihat lebih jelas.

Sera terkekeh kecil, kamar Kyuhyun sekarang tidak jauh berbeda dengan kamar kontrakannya yang dulu. Pria itu masih saja kaku, bahkan sampai pada selera interiornya. Kamarnya didominasi dengan tone monokromatis dengan pilihan perabot serba geometris yang tersusun sangat rapi.

“Pintu kamar tidak pernah kukunci.” Terang Kyuhyun. “Jadi kalau kau membutuhkan bantuanku, masuk saja dan panggil aku, oke?”

Sera memutar matanya bosan untuk entah keberapa kali. Mengapa pria ini selalu berpikir Sera akan anfal setiap saat.

“Sekarang kita lihat kamarmu.” Kyuhyun menunjuk pintu di sebrang kamarnya. “Aku menyiapkan sebisaku. Karena kau belum bilang di mana mau meletakkan barang-barangmu, maka semua kardus dari rumah sakit masih kutumpuk di sudutnya. Aku akan membantu merapikan setelah kau menyesuaikan diri di sini.” Kyuhyun membuka pintu kamar sambil menggiring Sera masuk ke kamarnya.

Wanita itu mengamati setiap sudut ruangan dengan mata berbinar, ia sangat menyukai apa yang telah Kyuhyun siapkan untuknya. Pria itu meletakkan ranjang di samping jendela besar yang menghadap langsung ke halaman belakangnya, dengan demikian Sera bisa menikmati udara musim panas dengan leluasa dari dalam ruangan. Boks-boksnya ditumpuk Kyuhyun di samping meja kerja kecil di seberang ranjangnya, dan boneka unicorn besar milik Sera sekarang tergeletak di atas ranjangnya.

“Kyu, ini jauh melebihi ekspektasiku.” Ujarnya sambil meremas tangan Kyuhyun, ia melangkah masuk untuk meresapi kamar barunya dengan lebih jelas. “Aku suka sekali dengan jendela besar itu.” Tunjuknya pada jendela yang menjadi elemen favoritnya di ruangan itu.

Kyuhyun tersenyum bangga dengan usaha singkat ia dan ibunya dalam mentransformasi kamar tamu di rumah itu menjadi sesuatu yang lebih ‘Sera’.

“Ini keren sekali, ya Tuhan, Kyu. Aku senang sekali.” Sera menghabur ke dalam pelukan Kyuhyun lalu memeluk pria itu seerat yang ia bisa—tanpa mengganggu kabel LVAD di tubuhnya.

Pria itu balas memeluk sambil membelai punggung Sera lembut, menikmati setiap detik yang bisa ia habiskan bersama wanita yang sangat dicintainya. Kyuhyun tidak pernah menunjukkan kekhawatirannya pada Sera. Namun kalau boleh jujur, ia pun sedang menguatkan diri untuk menyiapkan yang terburuk. Kyuhyun masih tidak bisa melupakan kata-kata Sera yang membuka matanya tentang kondisi mereka saat keduanya berkencan bulan lalu—‘Apa kau sudah mempersiapkan diri jika ini semua gagal? Jika semua ini gagal dan aku mati, apa kau siap menanggung rasa kehilangan itu?’ –Kyuhyun tidak akan pernah siap, tapi ancaman itu akan selalu menghantui mereka.

“Ada satu aturan yang harus kau patuhi, Sera-ya.” Kyuhyun mendorong tubuh Sera pelan sebelum ia berjalan ke arah nakas di samping ranjang Sera. “Benda ini harus menyala terus selama 24 jam! Aku akan menarik denda darimu kalau kau mematikannya, juga karena kau tidak mematuhi peraturan induk semangmu.” Kyuhyun menggeser tombol ‘on’ pada alat yang berwujud seperti walkie-talkie kecil bewarna putih.

Sera mengambil boneka unicorn besarnya dan langsung melemparkannya kesal pada Kyuhyun. “Ya! kau kira aku ini bayi?! Untuk apa kau menyiapkan baby monitor di kamarku? Jangan bilang kau akan membawa receivernya ke kantor dan memantauku seharian.” Ancam Sera sambil melotot.

Kyuhyun terkekeh, ia tahu pasti Sera sangat jengkel karena ia meningkatkan pengawasannya seperti ini. “Ini akan membuatku merasa lebih tenang saat aku di kantor. Oemma juga akan datang setiap Selasa dan Jumat di waktu luangnya untuk menemanimu.”

“Ya! kasihan oemonim, jangan repotkan beliau!” Sera protes.

“Makanya, kalau tidak mau membuat oemma repot, sebaiknya kau menurut dan menyalakan alat ini selama 24 jam, bahkan saat kau tidur.” Kyuhyun meletakkan baby monitor itu di atas nakas Sera.

“Aku kan tidak perlu menyalakannya 24 jam, Kyu. Toh kamarmu di seberang kamarku, jangan perlakukan aku seperti bayi.” Sera semakin merengek karena malu kalau seluruh kegiatannya dipantau Kyuhyun seharian.

“Boleh saja kalau kau mau mematikan alat ini di malam hari, terserah kau saja. Tapi detik kau melakukan itu, detik itu juga aku akan mengangkut bantalku ke kamar ini dan tidur dengan nyaman di sampingmu. Dengan demikian kau masih tetap dalam pengawasanku.” Kyuhyun mengedip lengkap dengan seringai menyebalkan sebelum merangkul Sera untuk mengecup pelipis wanita itu.

 

 

tbc…

Advertisements

61 thoughts on “Piles of Regrets – 13 [Agreement]

  1. KartikaApriya says:

    Kocakkk parahh pake baby monitor 😂😂😂😂
    Haduhhh semoga kalian langgeng deh yaaa
    Semoga sera sembuh donor jantungnya ga diundur terus

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s