Piles of Regrets – 11 [Rejection]

 

20

*Gambar milik Park Sora

 

Author: Ssihobitt

Category: Short Chaptered, Romance, Sad

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

 

 

 

Sera sudah siuman sepenuhnya dan wanita itu langsung mengenali tempatnya berada, bau steril di kamar inkubasi, suara-suara mesin yang berbunyi di sisi kirinya, dinginnya konektor kabel yang tersebar di atas permukaan kulitnya, serta selang yang tertanam dalam lubang hidungnya—ia baru saja anfal dan lagi-lagi ia harus dirawat di CICU. Ia mengedip beberapa kali untuk membiasakan diri dengan keadaan sekitar sambil berusaha mengingat alasan mengapa ia bisa berada di sini.

Gambaran tentang jajaran buket bunga bertuliskan nama mantan suaminya kembali datang, sekarang ia ingat bahwa mereka sempat mengobrol sebelum Sera anfal, ia ingat wajah tercengang pria itu saat melihat untaian kabel yang terjulur dari rongga perutnya. Sera meraung frustrasi, bukan karena fakta bahwa Taecyeon akan menikah, tapi karena ia yakin sekarang pria itu sudah tahu apa yang terjadi dengannya.

“Sera-ssi, di mana yang sakit?” Dokter magang yang menjaganya langsung bertanya sigap setelah mendengar raungan Sera.

Wanita itu menggeleng pelan, lalu kembali menutup matanya.

Hanya ada satu nama yang ingin dipanggilnya sekarang, hanya satu pria itu yang ingin ditemuinya, dan Sera yakin pria itu akan mengomelinya habis-habisan saat mereka bertemu. Sera harus minta maaf pada pria itu, karena telah ceroboh dan pasti membuatnya terduduk khawatir sekarang di ruang tunggu. Pria itu sudah memainkan peran yang sangat penting dalam hidup Sera sejak lama, dari masa saat Sera bahagia hingga di momen wanita itu sekarat sekarang. Karena itu, Sera hanya ingin segera bertemu pria itu untuk menenangkannya dan juga untuk berterima kasih untuk kencan indah mereka sebelumnya.

Sera mencoba bicara pada dokter magang yang masih mencatat di dalam chart, tapi sebelum ia sempat menyebut nama sahabatnya, dokter magang Sera justru bicara duluan.

“Sera-ssi, ada yang mengunjungimu.” Ujarnya sebelum ia mempersilakan seorang pria masuk ke dalam ruang inkubasinya.

Sera menguatkan mental untuk menerima semburan kata-kata pedas penuh amarah dari sahabatnya, lalu ia menoleh untuk melihat tamunya. Tanpa disadari hatinya kembali mencelos saat ia mengenali wajah pria yang kini melangkah mantap ke dipannya.

Taecyeon manatap Sera dengan tatapan yang sulit didefinisikan, wajahnya terlihat lelah, matanya sembab dan bengkak dan tampilan pria itu sangat berantakan. Setidaknya Ok Taecyeon sempat melepas jas pengantinnya, meskipun kemeja dan dasi kupu-kupu yang dipakai masih tersampir asal di seputar lehernya.

“Sera-ya.” Ia menggeser kursi ke dekat ranjang Sera sambil meraih tangan wanita itu. “Maafkan aku, ya Tuhan Sera, sungguh maafkan aku.” Tangisnya pecah.

Sera sudah menduga bahwa reaksi semacam inilah yang akan muncul dari mantan suaminya jika penyakitnya diketahui, karena alasan ini pula Sera bersikeras merahasiakan kondisinya. Taecyeon tidak bisa menghadapi berita buruk dengan baik, sekilas saja Sera sudah cukup paham bahwa pria itu sebenarnya ketakutan berada dalam sebuah ruang inkubasi dengan berbagai alat asing yang mengelilingi Sera.

Wanita itu yakin bahwa Taecyeon pasti akan mendampinginya, pasti pria itu akan membatalkan tuntutan cerainya jika ia tahu masalah ini. Tapi bukan itu intinya. Sera tidak mau Taecyeon ada di sisinya hanya karena iba, karena rasa tanggung jawab, karena rasa bersalahnya. Pria itu sudah bersikap dingin lama sekali terhadapnya, bagi Sera tindakan itu cukup membuktikan besarnya dedikasi Taecyeon dalam rumah tangga mereka—dan Sera tidak butuh kasih sayang yang dipaksakan dari mantan suaminya.

“Oppa.. kau tidak perlu… minta maaf…” Ia bicara pelan-pelan.

“Aku akan mendampingimu mulai sekarang, Sera-ya. Jalan dan halangan yang harus kita lalui memang tidak mudah, tapi aku tak peduli. Aku akan menemanimu melalui semua ini. Kau membutuhkanku dan aku tidak akan meninggalkanmu sekarang.” Ujar Taecyeon, ia tidak terlalu yakin dengan arti kalimatnya barusan, tapi ia ingin Sera merasa lebih tenang.

Sera menggeleng cepat, ingin menyanggah tindakan Taecyeon yang di kepalanya justru terdengar konyol sekarang. Tapi pria itu justru bangkit untuk membelai rambut Sera lembut.

“Ambil lah sebanyak-banyaknya waktu yang kau butuhkan hingga pulih, jangan sampai kelelahan. Maaf, sepertinya aku tadi berkontribusi untuk membuatmu kelelahan saat menyeimbangi langkahku.” Ujar Taecyeon lembut.

Wanita itu hanya bisa menatap mantan suaminya dengan pandangan bingung.

“Aku akan mendampingimu, sayang. Kau tidak lagi harus melewati ini sendirian.” Bisik Taecyeon lirih. Pria itu menundukkan tubuhnya, kemudian perlahan menyapukan bibirnya di kening Sera. “Kita akan melaluinya bersama, aku akan membenahi semuanya untukmu.”

Air mata menetes dari pelupuk mata Sera.

Wanita itu memang sering mengkhayalkan tentang kejadian ini, ia sering berangan tentang kata-kata indah baru Taecyeon lantunkan untuknya barusan. Tapi mengapa hatinya justru meronta sekarang? Ia tidak berbunga-bunga, ia tidak merasakan buncahan kebahagiaan. Hanya kepedihan yang tercermin dari buliran air mata yang jatuh di samping wajahnya. Sera sedih, namun wanita itu masih tidak paham penyebab rasa pilu di hatinya.

Tanpa mereka sadari, Kyuhyun memandangi reuni menyakitkan itu dari luar ruang inkubasi Sera dalam diam. Baru saja pria itu diizinkan menjenguk sahabatnya, justru adegan dari mimpi buruknya yang terpampang sekarang. Dada pria itu rasanya sesak, karena lagi-lagi Han Sera telah menghancurkan hatinya tanpa sengaja.

Kyuhyun mendengus sinis sambil menggeleng tidak percaya. Inikah perannya dalam hidup Sera? Sebagai pendamping sementara sampai pangeran berbaju zirah Sera tiba? Sebagai pecundang bodoh yang tidak akan pernah mendapat posisi di hati wanita itu? Setidaknya kali ini hati Kyuhyun tidak sehancur dulu, karena ia sudah terbiasa dengan perasaan ini sekarang.

Pria itu membatalkan niat untuk menyapa Sera. Ia melangkah keluar dari CICU sambil berjalan mantap untuk mencari taxi, mobilnya masih terparkir di hotel keparat yang seharusnya ia hindari sore ini. Di dalam taxi, Kyuhyun menyakinkan dirinya berkali-kali bahwa tindakannya benar, bahwa Han Sera seharusnya bersama dengan mantan suami yang diharapkan berada di sisinya—setidaknya ia tahu sekarang Sera tidak akan sendirian lagi, dan ia juga percaya Taecyeon akan merawat Sera dengan baik. Cho Kyuhyun lagi-lagi merelakan dirinya menjadi pecundang di hadapan Sera, sekali lagi ia merelakan wanita yang dicintainya lepas dari jangkauannya.

Kyuhyun sangat yakin bahwa ia melakukan hal yang benar, namun pria itu tidak bisa membohongi rasa nyeri dalam hatinya, juga air mata yang sudah mengaburkan pandangannya.

 

*

 

Keesokan paginya, kedua dokter Sera menyatakan status kritis wanita itu sudah berlalu dan ia diizinkan untuk kembali ke dalam kamar perawatannya. Taecyeon mengikuti arah suster mendorong dipan Sera dan segera saja mereka tiba di kamar Sera yang biasa.

Dengan cepat pria itu menyadari tumpukan boks yang dulu Sera rapikan dari apartemen mereka tersusun di sudut ruangan, sepertinya wanita itu pindah langsung dari apartemen ke ruangan ini. Sambil menunggu suster menstabilkan semua perangkat yang menempel pada tubuh Sera, Taecyeon duduk di atas sofa yang terletak di sebrang tempat tidur. Dalam sekejab ia bisa menyimpulkan bahwa barang-barang yang diletakkan di atas sofa itu bukanlah milik Sera. Tentu wanita itu tidak perlu menggunakan alat cukur, atau sandal kamar yang ukurannya super besar, Sera juga pasti tidak memakai sweater yang terlalu kebesaran jika dikenakan pada tubuhnya yang mungil. Pria itu mengambil kesimpulan yang kurang nyaman, bahwa barang-barang itu adalah milik Kyuhyun. Itu juga mengkonfirmasi kecurigaan Taecyeon akan kedekatan mantan isterinya dengan mantan pengacaranya.

Tidak mudah bagi Sera menerima kenyataan bahwa Taecyeon sekarang ada di sampingnya, pria itu ada di sini untuknya. Kemarin sore pria itu siap berikrar setia dalam balutan jas pengantin yang membuatnya terlihat tampan, dan pagi ini ia justru terduduk di sofa kamar rumah sakit Sera. Pasti banyak sekali masalah yang ditimbulkan dari kasus kemarin. Sera bahkan tidak berani membayangkan amarah yang menanti Taecyeon saat pria itu harus menghadap orangtuanya dan orang tua isteri barunya.

“Oppa, kau belum beristirahat sejak kemarin. Tidurlah sebentar, aku juga masih lemas.” Sera mulai kasihan melihat bayangan gelap di bawah mata Taecyeon.

“Aku bisa istirahat nanti saat kau juga istirahat.” Ia bangkit dari sofa untuk duduk di tepi ranjang Sera.

“Kau pulang saja, oppa. Tidak seharusnya kau ada di sini.” Ujar Sera khawatir—masih membayangkan amarah orang-orang yang menunggu kepulangan Taecyeon.

Pria itu justru tersenyum pahit. “Kau mengharapkan orang lain untuk menjagamu?” Tanyanya sambil menunjuk pada sofa yang penuh dengan barang Kyuhyun.

Sera sadar nada jengkel yang dilontarkan mantan suaminya masalah barang-barang Kyuhyun, tapi wanita itu justru tersenyum senang sambil menatap sandal kamar Kyuhyun yang menyembul dari balik sofa. “Itu semua peralatan Kyuhyun. Pria itu sudah menginap di sini cukup lama untuk mendampingiku.” Aku Sera.

“Iya, aku juga menyadarinya.” Taecyeon mencoba mencari kata-kata yang tidak membuatnya terdengar cemburu. “Apa kau bersamanya? Maksudku, memang ini bukan urusanku. Aku hanya shock karena dia adalah pengacaraku.”

“Kyuhyun adalah sahabatku sejak kami kuliah dulu.” Sera mengangkat kedua bahunya dengan cuek. “Ngomong-ngomong apa kau sudah melihatnya? Pasti dia panik karena kejadian kemarin, aku harus menemuinya dan minta maaf karena kecerobohanku.” Sera memanyunkan bibirnya karena perasaan kecewa, seharusnya Kyuhyun sudah mengomel padanya sekarang, tapi batang hidung pria itu malah belum tampak.

“Jadi kalian saling mengenal sejak kuliah, alasan itu pula yang membuatnya berada di sisimu dan mendampingi masa pengobatanmu? Lucu juga, mengingat dia justru pria yang kubayar untuk mengurus perceraian kita. Apa dia mendekatimu tepat setelah sidang cerai kita tuntas?” Taecyeon gagal menyembunyikan kecemburuannya.

Sera terkekeh, sudah lama sekali ia tidak mengobrol dengan Taecyeon dan berargumen dengan pria ini, ternyata masih saja tetap terasa seru. “Dia bukan pria licik seperti yang kau kira, oppa. Sebenarnya Kyuhyun justru berniat mengorek kebusukkanku, ia mengikutiku saat mengambil uang alimentasi bulan pertama pasca perceraian kita, lalu menemukanku di tempat ini. Aku akan memberitahu apa pun yang membuatmu penasaran tentang aku dan Kyuhyun, hanya saja kau harus berjanji untuk tidak marah padanya, ne?”

Pria itu kurang senang dengan prospek dari penjesalan Sera, ia tidak mau mendengar kisah romansa mantan isterinya dengan pria mana pun, tapi rasa penasaran Taecyeon juga tidak kalah besar, jadi ia mengangguk setuju dengan syarat Sera.

“Kami dekat sekali saat kuliah, mungkin hubungan kami justru lebih dekat dari sekedar sahabat, karena kami saling menjaga dan saling manyanyangi satu sama lain. Masalahnya, aku terlalu cuek—kau tahu aku orang yang seperti apa bukan? Dan tidak pernah menyadari perasaan yang disimpannya untukku.” Sera memulai penjelasannya.

Taecyeon hanya tersenyum kecut, mencoba menjaga ekspresi wajahnya agar Sera tidak melihat rasa cemburu yang mulai merasuki hatinya.

“Tiba-tiba aku bertunangan denganmu dan aku menyakitinya. Meskipun aku berusaha menghubunginya sejak saat itu, Kyuhyun tidak pernah mengubrisku dan klimaksnya kami justru bertemu saat kau memintaku bernegosiasi dengan pengacara perceraianmu.” Sera terkekeh membayangkan Kyuhyun yang sikapnya bertolak belakang dengan pria lembut penuh kasih yang selalu menemaninya sekarang. “Saat itu, kebencian yang ia miliki untukku sangat tulus, ia pun benar-benar berniat membantumu mendapat seluruh tuntutanmu, agar hidupku merana selepas perceraian kita.”

“Aku masih tidak paham mengapa pria itu justru kemarin menjadi orang yang bertanggung jawab atas dirimu.” Tukas Taecyeon.

“Ia bersikeras bahwa aku menipumu, oppa. Memang tidak salah tuduhannya—nanti aku cerita—jadi setelah penarikan tunjanganku yang pertama, Kyuhyun melacak penggunaan kartuku dan menguntitku hingga ke tempat ini. Kurasa hatinya melembut saat aku terkapar tidak berdaya di hadapannya, sejak hari itu Kyuhyun mendampingiku.” Jelasnya selengkap mungkin.

Taacyeon mencoba mencerna penjelasan Sera yang masih diluar nalarnya. Sera mencoba menipu Taecyeon? Lalu Kyuhyun berniat mengungkap penipuan itu? Lalu mereka justru jadi dekat? Tidak terdengar masuk akal sekali bagi pria itu.

“Oppa, jangan marah padanya, ia hanya melakukan pekerjaannya dengan baik. Fakta bahwa ia menemukanku di sini setelah itu sungguh kebetulan semata dan aku yang membuatnya bersumpah utnuk tidak memberitahu siapa pun. Jadi kalau kau mau marah, marahi saja aku.”

Ia mendesah sambil menrubah posisi duduknya agar lebih nyaman dan bisa lebih dekat dengan Sera. “Aku marah Sera, percayalah aku sangat murka sekarang. Aku tidak percaya kau menutup ini rapat-rapat dariku.” Suara Taecyeon kembali tercekat karena mengingat rangkaian pengobatan yang diceritakan dokter Song kemarin. “Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku? Kau bisa mengatakan yang sejujurnya. Dari mana kau memperoleh seluruh kekuatan untuk melalui semua prosedur itu? Aku bisa berada di sampingmu, Sera. Aku bisa menemanimu melalui…”

“Oppa, bisakah kita membahas masalah ini nanti? Aku lelah, aku mau istirahat.” Sera mencari alasan untuk menghindari obrolan yang selalu dihindarinya.

Alasan lain wanita itu menunda pembicaraan mereka juga karena ia tahu, setuntasnya mereka bicara, ia harus mengakhiri semuanya dengan Taecyeon. Ia ingin menikmati sedikit—sedikit saja—waktu bersama mantan suaminya dalam keadaan damai sebelum mengakhiri semuanya untuk melakukan hal yang benar.

Karena Taecyeon masih takut dan khawatir dengan kondisi Sera, pria itu mengangguk setengah hati saat wanita itu menghindari pembicaraan pokok mereka. “Baiklah, kau memang masih harus banyak istirahat. Tidurlah, aku juga akan beristirahat sejenak.” Taecyeon bangkit dari sisi ranjang Sera untuk pindah ke sofa, namun wanita itu menahan tangannya sejenak.

“Taec oppa.”

“Ng?”

“Maafkan aku yang sudah menyembunyikan semua ini. Aku tidak pernah berniat membodohi atau pun menipumu.” Bisiknya pelan.

Taecyeon mengangkat lengannya untuk membelai rambut Sera, ia membungkukkan tubuhnya dan menyapukan sebuah ciuman lembut pada puncak kepala wanita itu. “Aku tahu kau tidak seperti itu. Aku pun berkontribusi banyak dalam kekacauan pernikahan kita Sera-ya. Jadi kau tidak perlu minta maaf, karena aku pun berhutang banyak permintaan maaf padamu.”

Lagi-lagi hati Sera terasa tersayat karena sentuhan lembut Taecyeon, sentuhannya terasa menyakitkan sekarang—terutama karena Sera tahu bahwa pria di hadapannya ini sudah menjadi suami orang lain sekarang dan tidak sepatutnya pria itu memperlakukan Sera dengan mesra.

 

*

 

Seharian itu kamar Sera sudah didatangi berkali-kali oleh rombongan dokter hanya sekedar memastikan kondisinya telah membaik dan denyut jantungnya stabil. Wanita itu selalu menatap resah dan penuh harap setiap pintu kamarnya digeser dan selalu berakhir dengan perasaan kecewa karena pria yang ditunggunya masih belum muncul untuk menjenguk. Apa Kyuhyun sibuk sekali hari ini? Atau pria itu benar-benar murka sampai butuh waktu lama untuk menenangkan diri seperti saat terakhir Sera anfal? Mungkinkah Cho Kyuhyun memiliki banyak jadwal meeting pada jam makan siang? Tidak bisakah pria itu melihat keadaan Sera dulu sebentar saja?

Seorang suster datang mengantarkan makan siang yang tidak terlihat menarik di mata Sera, ikan kukus di atas bubur hambar. Wanita itu mendesah kesal, kemarin ia baru saja melahap burger berlemak paling enak yang pernah dimakannya, lalu hari ini menu makanannya kembali menjadi makanan orang sakit.

“Ayo makan, Sera-ya.” Taecyeon berinisiatif mengambil sendok dan segera mengambil seporsi bubur untuk disuapkan pada Sera.

Wanita itu menghindar dari suapan Taecyeon dan mendorong sendok menjauh dari wajahnya. “Dweso oppa. Aku bukan anak kecil, aku bisa makan sendiri.” Ia meraih sendok dari tangan Taecyeon dan memasukkan makanannya dengan terpaksa. “Kau juga harus makan, kafetaria ada di lantai dasar.”

Taecyeon jutru bingung dengan sikap Sera yang semakin menjaga jarak seiring hari bertambah siang, tapi ia menganggap wanita itu bersikap demikian karena moodnya sedang jelek saja.

“Shireo, aku akan mengawasimu.” Ia duduk di atas ranjang Sera, di sisi lain meja makan pasien.

“Aku baik-baik saja.” Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil mengibaskan jemarinya lincah. “Lihat kan? Aku sudah bisa bergerak leluasa sekarang, masa kritisku sudah lewat Taecyeon-ssi.”

“Tapi kau masih harus istirahat, sayang. Jangan bergerak sampai kelelahan.” Pria itu mencoba meraih sendok dari tangan Sera.

Oke, cukup! Sera harus mengambil sikap sekarang. Wanita itu sudah cukup risih dengan sikap Taecyeon dari semalam saat pria itu berikrar akan ada di sisinya, sepertinya Sera benar-benar harus memperjelas status dan batasan di antara mereka sekarang—karena jelas yang cukup waras untuk melakukan itu saat ini adalah Sera. Wanita itu membanting sendok dalam genggamannya dengan kasar ke atas permukaan meja, membuat Taecyeon terperanjat bingung.

“Oppa! Kita bicara sekarang, oke?”

“Bicara tentang?”

“Tidak usah pura-pura tidak tahu.” Sera menarik napas dalam. “Jadi kita akan melakukan pembicaraan ini dengan cara yang damai, aku bicara menjelaskan isi kepalaku lalu kau bicara balik saat aku selesai bicara. Kita akan bicara bergiliran, paham? Cara itu membuat kita tidak saling teriak dan jelas lebih terhormat.”

Taecyeon masih mengernyit bingung tapi is mengangguk saja, menuruti Sera yang terlihat siap melempar tantrum padanya.

“Baiklah, aku akan mulai duluan.” Sera menarik napas dalam sambil meletakkan kedua tangan di atas dadanya. “Oppa, hentikan ini.”

“Ne?”

“Hentikan ini. Kau sudah ada di sisiku selama 24 jam dan aku belum pernah terasa terbebani selama itu sepanjang aku mendekam di rumah sakit ini. Apa yang ada dalam kepalamu, oppa? seharusnya kau sedang merayakan pernikahanmu, pergi berbulan madu dengan isterimu, pasti wanita itu sekarang kebingungan mencari—”

“Dia, aku… well.. secara teknis kami sebenarnya belum menikah. Jadi begini, kemarin—”

“YA! OK TAECYEON!” Bentak Sera. “KAU MAU AKU HAJAR SEKARANG? HANYA KARENA AKU TERIKAT DI RANJANG PESAKITAN INI, BUKAN BERARTI AKU TIDAK BISA MELAYANGKAN TINJU KE WAJAHMU!”

“Mengapa kau marah? Aku di sini untukmu.” Bela Taecyeon heran.

“DAN MENURUTMU ITU YANG KUINGINKAN?! OPPA, KAU INI SUDAH GILA YA?” Sera mengatur napasnya yang mulai menggebu karena marah.

“Aku harus menjagamu, sayang.”

And what a difference would that make?”

“A—aku…”

Sera mencondongkan tubuhnya untuk menatap Taecyeon sinis. “Biar aku menanyakan ini agar tidak ada kesalah pahaman. Jadi kau meninggalkan calon isterimu di altar? Setelah wanita itu menyelamatkan hidupku, kau justru meninggalkannya begitu saja?”

“Sera, sebenarnya tidak terdengar seburuk itu…”

Sera menggeser meja yang ada di antara mereka ke samping ranjang dengan kasar, mengisyaratkan pria itu untuk duduk mendekat ke arahnya. Taecyeon menurut saja, tidak menyangka bahwa Sera justru akan menjewer telinganya keras-keras dan membuatnya meringis kesakitan.

“Tidak terdengar seburuk itu katamu? Bagiku itu terdengar lebih buruk! Neo jinjja oppa! Apa yang kau pikirkan?!”

Taecyeon menarik tangan Sera yang menjewernya lalu membawa ke atas dadanya sendiri. “Aku memiliki kewajiban untuk memperbaiki ini, Sera. Selama ini aku terlalu sering menyakitimu, bahkan di masa-masa tersulitmu pun aku masih menyiksa batinmu. Aku ini masih walimu, sayang. Kau masih tanggung jawabku dan meskipun aku terlambat, sudah seharusnya aku melakukan ini—menjaga dan mendukung setiap tahap yang kau ambil.”

“Apa kau kira dengan kau berada di sampingku, aku akan langsung sembuh? Masalahku akan tuntas? Kisah memilukan kita akan berubah? Tidak, oppa. Semalam aku tidak bisa mengatakan semua ini karena sulit sekali sekedar untuk bernapas, tapi sekarang aku ingin mengklarifikasi semuanya: semua ucapan indah yang baru kau ucapkan untukku adalah hal-hal yang seharusnya kau lakukan dulu—kalimat lampau, oppa.”

“Aku aku ingin—”

“Aku belum tuntas bicara, kita bicara bergiliran, ingat?” Potong Sera sambil mengencangkan rahangnya. “Hidup terus berjalan dan ternyata kisah kita memang harus berakhir. Kisah kita telah usai, oppa.” Wanita itu berusaha melawan getar dalam suaranya, ia tidak percaya kesanggupannya untuk melakukan hal yang benar kali ini. Sera yang selama ini berharap akan kehadiran Taecyeon di sisinya justru berubah pikiran saat pria itu sudah duduk tepat di hadapannya.

“Kisah kita tidak pernah usai untukku, Sera-ya.”

Sera menyeringai sinis. “Kita menandatangani surat cerai itu secara sadar, bukan?”

Taecyeon menatap Sera seksama, mencari-cari kebohongan dalam kata-katanya yang terdengar sangat menyakitkan. Apa ia sudah sangat terlambat untuk kembali ke sisi gadis kesayangannya? Apakah ia menyakiti Sera sampai wanita ini enggan memberikan Taecyeon kesempatan kedua? Karena Taecyeon masih ingat persis seperti apa hancur dan rapuhnya Sera di hari terakhir pernikahan mereka, bahkan kemarin—wanita itu terlihat terluka saat menyadari pernikahan Taecyeon dan Yoona. Apakah Sera masih pribadi yang sama seperti yang diingatnya?

“Apa ini karena Kyuhyun?” Todong Taecyeon tanpa basa-basi. “Apa pria itu sudah menggantikan posisiku di hatimu?”

Sera menggeleng pelan. “Kau adalah cinta pertamaku dan tidak ada yang bisa menggantikan itu. Kyuhyun pun memiliki posisinya sendiri dalam hati dan hidupku, tapi obrolan kita hari ini tidak ada sangkut-pautnya dengan pria itu. Oppa, kita memang saling mencintai, tapi waktu kita habis. Kita punya banyak kesempatan untuk memperbaiki ini semua, tapi kita sama-sama memilih jalan keluar terburuk demi mempertahankan ego masing-masing. Kita sudah menjadi pribadi yang berbeda sekarang dan tidak ada jalan keluar terbaik selain berpisah.”

“Lalu bagaimana jika aku ingin mencoba sekali lagi, bagaimana jika aku meminta satu kesempatan terakhir untuk memperbaiki hubungan kita?”

Sera akan menjadi pembual besar jika tidak tertarik dengan kesempatan itu. Dalam dunia yang sempurna, mungkin ia akan bilang ‘iya’, mungkin ia akan menghambur ke dalam pelukan Taecyeon, mereka akan kembali bersama untuk merajut kisah mereka yang rusak. Tapi hidup tidak pernah sempurna dan wanita itu harus melakukan yang terbaik: bagi dirinya dan bagi semua individu yang akan terpengaruh dengan keputusannya.

“Aku tidak mau.” Jawab Sera dengan nada terdingin yang bisa ia lontarkan.

Pria itu terdiam, kata-kata sederhana Sera membuatnya membatu.

“Aku tidak mau memberikan kisah kita kesempatan lain.” Ia melanjutkan kebohongannya dengan lihai. “It happened, oppa. Shit happened. Hubungan kita berakhir dengan perceraian dan aku seharusnya cukup bersyukur karena kita tidak saling membenci setelahnya. Dulu kau sendiri yang bilang padaku bahwa kesalahan yang kulakukan sudah sangat fatal, sampai kau tidak lagi mampu memaafkanku, maka…”

“Itu sebelum aku tahu kalau kau—”

“Sebelum kau tahu aku sekarat? Itukah alasanmu berada di sini sekarang? Karena takut akan menyesal jika kau tidak sempat melakukan apa-apa? Karena kau takut tenggelam dalam lautan penyesalan jika aku mati dan kau tidak ada di sisiku?” Wanita itu tetap memasang wajah datarnya yang dingin, menjaga akting sempurnanya agar tetap sukses. “Aku tidak membutuhkanmu. Karena jika aku membutuhkanmu, aku pasti berbagi masalah ini sejak awal. Aku sudah melakukan ini sendirian lebih dari setahun, oppa. Jadi percayalah saat aku bilang aku tidak membutuhkan dirimu untuk mendampingiku.”

Mulut Taecyeon ternganga, ia ingin bicara namun kata-kata yang disiapkan seperti menguap dari kepalanya.

“Kau tidak akan kuat mendampingiku. Kita sudah punya bukti konkret untuk hal itu, bukan?” Tantang Sera dengan ekspresi datar. “Sekarang waktunya kita bersikap dewasa, kita sudah mengizinkan diri kita untuk bersikap egois sejak semalam dan sekarang waktunya untuk menghentikan penyangkalan kita. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan pernikahanmu dan pengantimu, aku juga tidak mau tahu. Tapi aku mau—aku menuntutmu—untuk tetap bertanggung jawab pada wanita mengagumkan itu. Jika kau ingin kesempatan kedua untuk memperbaiki segalanya, maka perbaikilah kesalahanmu lewat pernikahan yang baru. Jika restuku yang kau inginkan, maka kau mendapat seribu persen dukungan dariku—pastikan saja kau bahagia dalam pernikahan yang sekarang dan jangan ulangi kebodohanmu dulu.”

“Kukira ini yang kau inginkan. Kukira kita kembali bersama adalah yang kau inginkan.” Suara Taecyeon bergetar kerena menahan tangisnya sendiri. Entah mengapa kata-kata Sera terdengar seperti keputusan final yang tidak bisa dirubah lagi, keputusan final akan kisah mereka.

“Saat kau sekarat, kau akan menyortir hidupmu bedasarkan apa yang kau ‘butuhkan’ bukan bedasarkan apa yang kau ‘inginkan’. Aku tidak membutuhkan keberadaanmu oppa, kau di sampingku kurang dari 24 jam dan aku sudah jengkel karena kelakuanmu yang memperlakukanku seperti vas antik kerajaan Joseon yang bisa pecah kapan pun. Sejujurnya, aku tidak sabar untuk mengusirmu keluar dari kamar ini, sesak sekali rasanya bersamamu. Aku lelah dan keberadaanmu membuat pikiranku semakin—”

“Aku akan berpura-pura tidak mendengar ucapanmu. Pikirakan lagi kata-katamu, Han Sera. Aku memberimu kesempatan untuk jujur pada kata hatimu.” Ujar Taecyeon sambil menangkupkan tangannya di wajah Sera, menatap ke dalam manik mata coklat indah milik mantan isterinya.

Sera mengatur deru napasnya beberapa kali sebelum ia mengutarakan keputusan yang terbaik. “Pergilah. Hentikan kekonyolan ini dan segera angkat kaki dari sini, aku tidak membutuhkanmu dan aku tidak menginginkan keberadaanmu di sisiku.” Hatinya tersayat pilu pada setiap kata yang terucap namun wajahnya tetap datar. “Oppa, jika kau membutuhkan restu dan kata perpisahan, biarlah ini menjadi kata perpisahan kita. Kisah kita sudah berakhir dan waktu tidak bisa kita putar kembali, jadi lebih baik kita hentikan ini, ne? Semakin lama kita menyangkal kenyataan, akan lebih banyak pihak yang tersakiti karena keegoisan kita. Jadi cukup, kita akhiri ini di sini.”

Perlu beberapa detik bagi Taecyeon untuk menyerap maksud Sera. Pria itu sudah merasa sangat bersalah padanya dan sekarang ia merasa bersalah dan tidak berguna. Tentu saja Sera akan mengusirnya, karena selama ini pria itu tidak pernah membuktikan diri sebagai sosok yang pantas mendampingi pribadi Sera yang tangguh.

“Jika aku pergi.” Ujar Taecyeon lirih. “Jika aku pergi, apa kau akan merasa lebih baik?”

Sera mengangguk cepat. “Pergilah, agar aku bisa kembali istirahat.”

Pria itu melepaskan tangannya dari wajah Sera lalu bangkit dari atas ranjangnya. Tidak mudah langkah yang akan diambilnya, tapi Sera tetap bersikeras bahwa kepergian Taecyeon lah yang ia inginkan. “Baiklah, jika itu yang kau inginkan.”

Sera menunduk menatap kuku-kuku jemarinya, mencoba menahan luapan emosinya sendiri.

Pria itu meraih jasnya yang tergeletak di sofa sebelum mengambil langkah berat untuk meninggalkan ruang rawat Sera. “Kau bisa menelponku kapan pun kau berubah pikiran, Sera-ya. Aku akan memberimu waktu untuk memikirkan ulang keputusanmu ini.”

“Jangan repot-repot menunggu, oppa. Aku tidak akan melakukan itu.” Sera menyampirkan senyum tipisnya sambil menarik selimut.

“Aku mencintaimu, Han Sera.” Bisik Taecyeon lirih, mencoba peruntungannya untuk terakhir kali.

“Pergilah, oppa. Hiduplah dengan baik dan bahagia pada kesempatan kedua yang Tuhan berikan untukmu.” Balas Sera sembari membaringkan tubuhnya.

Taecyeon menggeser pintu kamar dan melangkah keluar, meninggalkan wanita yang sangat dicintainya untuk merenungkan permintaannya sendiri.

Sementara itu, Han Sera berbaring memunggungi pintu, menarik selimut untuk menutupi seluruh kepalanya, membungkukkan tubuhnya sambil perlahan menangis dalam diam.

“Kau melakukan yang terbaik, Han Sera. Ini yang paling bijaksana untuk semua orang, kau tidak boleh egois.” Ia bicara pada dirinya sendiri sambil terus memukul dadanya yang terasa sesak. “Kau hebat, Sera. Kau sudah melakukan yang terbaik, keputusan itu adalah yang terbaik.” Han Sera terus menyemangati dirinya atas keputusan berat—namun benar— yang baru diambilnya tadi.

 

 

tbc…

Advertisements

75 thoughts on “Piles of Regrets – 11 [Rejection]

  1. utusiiyoonaddict says:

    kyuhyun yoona ternistakan disini,
    memang keputusan yg sangat tepat sii yg d ambil sama sera,
    tendang jauh okcat,
    ya ampun aku mengkhawatirkan kyuhyun, mataku brkaca kaca karna mikirin dan mengkhawatirkan kyuhyun

    Liked by 1 person

  2. Shinn says:

    kasihan sera harus ngambil keputusan yang sulit.
    Tapi dari gelagat yang ditunjukin sera,kayaknya sera mulai suka sama kyuhyun yeay akhirnya
    cho kyuhyun neo eoddiga?sera membutuhkanmu sekarang.

    Liked by 1 person

  3. omiwirjh says:

    Ga taec ga kyu bermasalah semua. Kyuhyun punya masalah sama rasa percaya dirinya kali ya. Aku lihat mereka sama” suka lari dari masalah. Lebih tepatnya Kyuhyun kaya pecundang hanya karena lihat kejadian di ruangan CICU dia sudah hilang lagi. Di saat Sera butuh dia dia hilang. Iihh aku greget sma dia

    Liked by 1 person

  4. rainlovegyu says:

    Kenapa taec berbicara seolah olah akan ada kesempatan Sera kembali padanyaaaa
    Tidak semudah itu bung, tidak kah kau ingat segala perlakuan dingin MU Sama sera ??
    Kasihan Kyuhyun hikshiks

    Like

  5. laya says:

    Aku suka dg kalimat lebih mementingkan kebutuhan drpd keinginan? Sera memang bijak. Kehadiran taecyon membuat kyuhyun menjadi cadangan yg terabaikan. Aku suka dg keputusan sera

    Liked by 1 person

  6. yoongdictasticgorjes says:

    Sera benar dia mengambil keputusan yg benar dia lebih tau apa yg dia butuhkn dari apa yg dia inginkn, kalaupn dia kmbali rujuk mslh gk bakal slesai sampai disitu,, siperut kotak2 trllu menganggap mudah mslh dia gk brfikir dampaknya dasar egois

    Like

  7. Putrikimcho says:

    Suka sama sikap sera di sini tegas dan memperingati taec tentang kesempatan kedua yang diberikan untuknya dengan wanita lain yaa walau sedikit sedih sih 😅😅

    Liked by 1 person

  8. Goldilovelocks says:

    No KyuSera disini…. tapi cukup dibuat baper sama keputusan Sera yg berat namun benar itu. Jadi Sera nyesek. Jadi Taec nyeri. Jadi Kyuhyun sedih. Hah sudahlah….. aku tak tahu harus berapa kali bilang ini ff banyakan bikin meweknya 😂 mwehehe

    Liked by 1 person

  9. KartikaApriya says:

    Kan taecyeon nyesel bodo ah udah mantan suami sera ini yg dipentingin sekang kyuhyun mana?? Mana dia?? Jngan bilang dia lari 😢😢
    Sera udah mulai nyari2 kyuhyun mugkin belum sadar kalau dia butuh kyuhyun

    Liked by 1 person

  10. Dyana says:

    Weess keselnya sm si Taecyeon, gara2 dia banyak muncul jd Kyu malah ngilang haha…
    Kalau Kyu udah salah paham gini lagi kan jd susah mau buat dia balik, kira2 dia kembali nemuin Sera gak ya?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s