Piles of Regrets – 8 [Silver-Lining]

 

17

*Gambar milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Short Chaptered, Romance, Sad

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

 

 

 

Sera mengatur kabel yang terulur dari rongga perutnya sekali lagi sebelum ia berdiri. Bagi seseorang yang baru saja melalui operasi besar, pemulihan Han Sera bisa dibilang sangat cepat. Tubuhnya pun sudah mulai bisa beradaptasi dengan untaian kabel yang membuatnya risih dan kurang bebas bergerak. Wanita itu baru saja menyelesaikan rangkaian physiotherapy pasca operasi demi melatih tubuhnya, agar Sera tidak terus-terusan tergantung pada Kyuhyun dan suster-suster di rumah sakit setiap kali ia harus bergerak.

Seperti biasa, Kyuhyun datang di jam makan siang untuk menghabiskan waktu bersama sahabatnya. Ia menuntun Sera sambil sedikit memapah wanita itu ke arah kafetaria, memilihkan menu makanan yang tidak banyak mengandung trans-fat. Perkembangan kesehatan Sera telah membuatnya mampu bergerak tanpa kursi roda lagi sekarang, perangkat baru yang terhubung ke jantungnya itu memastikan detak yang stabil, membuat wanita itu tidak perlu terlalu khawatir akan kehabisan napas lalu anfal—setidaknya selama baterai di perangkat LVADnya tetap penuh.

Kyuhyun sendiri sudah menghabiskan banyak waktu untuk membaca segala artikel tentang pasien dengan perangkat LVAD. Pria itu harus memastikan bahwa ia tahu persis penderitaan yang dilalui Sera, karena bukan hanya masalah organ vital dan fisiknya saja yang harus diperhatikan. Rasa minder Sera akan tubuhnya yang semakin menjadi-jadi juga mulai mempengaruhi mood wanita itu.

Semakin banyak artikel yang dibaca Kyuhyun, semakin merinding pula pria itu dengan temuannya. Internet jarang sekali menyensor gambar, apalagi jika gambar itu menyangkut prosedur pengobatan. Pria itu bisa membayangkan tahapan operasi besar Sera kemarin hanya dengan foto yang ditemukan di internet, dan sejujurnya kalau ia yang ada di posisi Sera, mungkin Kyuhyun sudah menyerah entah sejak kapan.

“Kyu… kapan kau mau membawakan burger yang kau janjikan? Kita boleh kan izin keluar sebentar dari tempat ini untuk makan burger? Aku benar-benar rindu daging berlemak.” Rengek Sera manja sambil menyuap daging ayam kukus yang dikunyahnya dengan setengah hati.

Wanita itu ingin muntah rasanya setiap melihat rangkaian menu pucat yang terhidang di piringnya. Ia harus menghindari makan gorengan, makanan yang berlemak, trans-fat, tidak boleh makanan yang mengandung sodium, apalagi alkohol. Jiwa karnivor Sera sudah memberontak sejak lama dan ia sungguh berharap Kyuhyun akan segera menepati janji madunya itu.

“Tunggu sebentar lagi, kau kan belum sembuh benar. Lagipula, burger dan kentang goreng itu banyak trans-fatnya, jadi jangan harap aku akan menyelundupkan makanan itu untukmu!”

“Aish, dasar pembual. Kau kan sudah janji. Padahal hanya burger itu alasanku rela menjalani operasi pemasangan LVAD ini.” Sera memanyunkan mulutnya, berharap Kyuhyun melunak dengan aturannya yang kaku.

Pria itu mendengus sambil menggelengkan kepalanya. “Kau mengambil keputusan penting dalam hidupmu hanya demi junkfood? Luar biasa.”

“Kau coba saja makan menu harianku, lalu beritahu aku bosan atau tidak setelah memakan makanan sampah ini selama seminggu.” Sera memutar mata kesal. “Tidak ada rasanya, Kyu! Ayolah, kau kan sekarang sudah akrab dengan dokter-dokterku, bujuklah mereka untuk mengizinkanku keluar beberapa jam saja untuk makan enak.”

Kyuhyun justru mengambil roti di piring Sera dan langsung menyumpal mulut bawel wanita itu. “Makan itu saja. Kau boleh memakan roti itu.”

Sera menurut dan mengunyah rotinya kesal.

“Ngomong-ngomong, kau benar-benar sudah merasa lebih baik?”

Sera mengangguk. “Di luar fakta menyebalkan bahwa aku harus mengisi ulang bateraiku setiap delapan jam sekali, aku merasa lebih baik—aku tidak sesak napas lagi setidaknya. Urusan mandi masih menjadi tantangan dan aku harus mulai mencari koleksi kaos gombrong untuk menutupi kabel menyebalkan dan alat penyimpan baterainya agar tidak terlalu mencolok. Tapi, yeah, jantungku berdetak dan aku masih bernapas.” Jawabnya cuek sambil mengangkat kedua bahunya.

“Lalu physiotheraphymu barusan, benarkah kau disuruh olahraga ringan?”

“Ng! Dokter physiotheraphyku bilang itu penting, karena aku kehilangan banyak masa otot dua bulan ini selama aku berbaring terus. Oh, ada berita baik lainnya, kata mereka, jika progressku tetap baik seperti sekarang, aku diizinkan pulang.” Ia menyengir lebar, karena sudah lama sekali Sera ingin pulang dari tempat ini.

Kyuhyun tersedak minumannya karena terlalu senang. Meskipun menurutnya rumah sakit adalah tempat teraman bagi Sera sampai wanita itu mendapat jantung baru, Kyuhyun bisa mengerti kebosanan Sera di tempat ini. “Mau kubantu mencari tempat tinggal? Atau kau bisa tinggal di rumahku jika mau, aku punya dua kamar dan yang satu kosong. Ibuku juga bisa berkunjung untuk memantau kondisimu saat aku bekerja.”

Sera melempar roti di tangannya pada wajah Kyuhyun. “Ya! Kau kira aku wanita macam apa? Pindah dari rumah satu pria ke rumah pria lain. Shireo!”

“Kau bisa menyewa kamarmu kalau itu membuat kesan yang lebih baik. Pasti seru sekali, seperti saat kita kuliah dulu.” Tawar Kyuhyun semakin antusias.

“Andwe!”

“Lalu kau mau kembali ke apartemen lama kalian?”

Sera menggeleng mantap.

“Ke Jeju?” Tanya Kyuhyun tanpa berpikir, lalu ia ingat kondisi Sera dan orang tuanya. “Tapi Jeju terlalu jauh dari rumah sakit ini. Kulihat di artikel pasien LVAD, mereka harus tinggal dalam radius jarak satu jam dari rumah sakit. Kau tidak diperbolehkan tinggal terlalu jauh, agar jika terjadi sesuatu, kau cepat tertolong.” Kyuhyun meracau untuk menutupi topik ‘Jeju’ yang tadi keluar dari mulutnya.

“Jelas aku tidak akan pulang ke rumah orang tuaku, kau tahu sendiri kondisinya. Tapi aku akan mencoba mencari tempat. Catatannya adalah: tempat itu harus dekat rumah sakit dan biaya sewanya kurang dari satu juta Won! Ha! Tantangan sekali bukan?”

“Atau… ini hanya saran, kau jual apartemen dari Taecyeon lalu beli properti baru di dekat rumahku.” Saran Kyuhyun.

“Kenapa aku harus tinggal di dekat rumahmu?” Sera terbahak. “Menjual apartemen? Aku bisa melakukan itu?”

Kyuhyun mengangguk. “Bedasarkan harta gono-gini kalian, apartemen itu sudah menjadi milikmu. Percayalah, aku yang mengurus surat legalnya. Tapi itu hanya saranku.” Kyuhyun meneguk air di gelasnya sejenak sebelum lanjut bicara. “Dan kau memang harus tinggal di dekatku! Jadi aku bisa menjagamu dan cepat bertindak jika sesuatu terjadi padamu—makanya, lebih bijaksana jika kau tinggal bersamaku saja.”

Sera memandang meja sambil termenung, mempertimbangkan ide Kyuhyun untuk tinggal bersamanya. Memang menggiurkan sekali rasanya bisa bersama pria itu lagi seperti masa kuliah mereka dulu. Sera juga bisa menjaga rumah Kyuhyun sementara pria itu bekerja, ia bisa bereksperimen memasak lagi untuk pria yang selalu menjadi fans nomor satu akan masakan ala kadarnya khas Sera. Tapi Sera tidak mau membebani hidup Kyuhyun. Pasti pria itu akan merasa kerepotan karena harus mengawasi Sera non-stop. Belum lagi dengan adanya Sera di rumah itu, kemungkinan Kyuhyun untuk bisa berkencan dengan siapa pun menjadi sedikit terhalang. Wanita itu takut akan membuat hidup sahabatnya lebih repot hanya karena ia belum bisa mandiri sekarang.

Tapi apa menjual apartemen pemberian Taecyeon juga bijaksana? Ia tidak akan pernah mau tinggal di sana lagi, tapi menjual tempat itu sama saja seperti merelakan serpihan terakhir dari kenangan mereka.

Sementara Sera sibuk berpikir, ia memandang ke ruangan kafetaria tempat mereka makan. Sepertinya ia bukan satu-satunya pasien yang memilih untuk makan siang di luar kamarnya, karena beberapa pasien dengan daster yang sama dengan Sera juga terlihat sedang menikmati pilihan menu kafetaria di sini. Lalu matanya menangkap sosok yang membuat hatinya mencelos. Gadis itu, gadis yang tempo hari berjalan bergandengan dengan mantan suaminya. Sera meneliti penampilan gadis yang sekarang sedang mengobrol dengan beberapa rekannya, kalau disimpulkan dari jubah putih yang dikenakan, sepertinya ia dokter di rumah sakit ini. Mata Sera memandangi gadis itu dari jauh, mengamati tiap inci penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kakinya.

“Ya! Makanlah makananmu, jam makan siang sebentar lagi habis.” Kyuhyun menyodorkan sup wortel Sera yang belum disentuhnya. “Kau memandangi apa?” Pria itu memutar posisi duduknya untuk memandang ke arah yang sedang dilihat Sera.

Wanita itu menarik napas dalam sebelum menanyakan pertanyaan yang pasti terlontar dari setiap wanita dengan rasa percaya diri minim. “Kau lihat dokter cantik yang di meja kedua dari jendela itu? Yang duduk di kursi kiri menghadap arah kita?”

“Dokter berambut panjang itu? Mengapa? Kau kenal dia?” Tanya Kyuhyun lugu.

Sera menggeleng pelan. “Apa menurutmu dia cantik?”

Kyuhyun berbalik sekali lagi untuk mengamati sungguh-sungguh. Ya, memang gadis itu cantik, tapi ada satu hal yang ia tidak suka dari penampilannya, meskipun Kyuhyun tidak yakin faktor apa itu. “Dia oke, tapi kau jauh lebih cantik.”

Sera memutar matanya, tentu saja sahabatnya ini pasti menghiburnya. “Serius, Kyu.”

“Aku bersumpah, kau lebih cantik darinya.” Pria itu membentuk tanda V dengan kedua jarinya. “Maksudku begini, kalau aku harus memilih diantara kalian berdua, aku pasti akan tetap memilihmu. Gadis itu terlihat seperti gadis glamor. Lihat saja sepatunya, mana ada dokter kerja dengan sepatu seperti itu ke rumah sakit, apa dia mau terpeleset kalau menginjak genangan darah.” Kyuhyun memperjelas pengamatannya.

“Kau tidak suka wanita glamor?”

“Tidak ada pria waras yang suka dengan wanita glamor.” Kyuhyun melahap suapan terakhir makan siangnya. “Aish, berhentilah membandingkan dirimu seperti itu. Yakinlah, kau itu lebih menarik dan jauh lebih keren dari gadis itu.” Kyuhyun mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Sera.

Wanita itu memaksa senyumnya untuk menghargai usaha Kyuhyun yang sedang menghiburnya. Mungkin Kyuhyun tidak tertarik dengan gadis itu, tapi Taecyeon… pria itu sepertinya memiliki pendapat yang berbeda. Bagi Sera, fakta menyakitkan itu lebih mendominasi rasa sakit di hatinya.

 

*

 

Hari ini adalah hari yang sudah Sera nanti-nantikan sejak ia setuju melakukan operasi LVADnya—hari saat ia diizinkan untuk pergi keluar beberapa jam bersama Kyuhyun untuk menyantap burger yang diidamkannya. Pria itu berhasil meyakinkan dookter-dokter Sera bahwa ia akan menjaga wanita itu seharian penuh, dan kedua dokter Sera juga tidak keberatan jika wanita itu mengkonsumsi daging berlemak sekali-sekali demi menambah semangat Sera dalam masa penyembuhannya.

Sera tahu seberapa besar upaya Kyuhyun untuk mempersiapkan diri sebelum ia berani membawa Sera keluar. Ada banyak formulir yang harus diisi pria itu, dokter Kim juga sudah mengajarkan langkah-langkah utama yang harus Kyuhyun lakukan jika terjadi sesuatu pada Sera. Mengingat usaha mati-matian pria itu, Sera juga ingin berusaha untuk tampil lebih layak di hadapan Kyuhyun. Ia bosan selalu terlihat pucat dan kumal di dekat Kyuhyun.

Salah satu resiko dari penanaman perangkat LVAD adalah Sera tidak bisa mandi dengan normal. Perlu penanganan khusus dalam hal ini—karena kalau tidak hati-hati, alat itu akan koslet. Sera adalah wanita yang selalu menjaga kebersihan tubuhnya sejak dulu, maka kejengkelan akan kondisinya semakin menjadi karena acara mandinya harus diganti dengan sekedar membasuh tubuh dengan spons basah yang biasanya dibantu seorang suster. Untuk hari ini, setidaknya ia ingin mencuci rambutnya agar pantas dilihat Kyuhyun, memang pria itu tidak pernah protes, tapi boleh kan seorang wanita ingin merasa cantik di hadapan pria yang mendampinginya?

Sejak pagi Sera sudah bingung dengan cara mengeksekusi rencana mengeramasi rambut panjangnya. Ide awalnya ia ingin berlutut lalu mencuci rambutnya di wastafel, namun tinggi tubuhnya kurang memadai. Usaha berikutnya adalah berdiri sambil membungkuk—yang jelas langsung dibatalkan karena luka di perutnya masih nyeri. Sera rasanya ingin kayang saja dan mencuci rambutnya dengan cara ekstrim, tapi tetap saja ia tidak bisa meraih wastafel dengan baik. Di ujung rasa frustrasinya Han Sera justru berteriak pada pantulan bayangannya sendiri di cermin.

Ia benci ini.

Ia benci perasaan tidak berdaya dan lemah yang sekarang selalu menyertainya. Ia hanya ingin terlihat cantik dan layak di depan Kyuhyun, bahkan untuk itu pun ia masih harus meminta bantuan orang lain.

Kyuhyun baru saja masuk ke kamar Sera saat mendengar teriakan frustrasi wanita itu dari dalam kamar mandi. Tanpa permisi, pria itu langsung membuka pintu dengan panik, khawatir jika Sera terpeleset. Tapi alih-alih menemukan wanita itu di lantai, justru Sera sedang bercermin dengan mata berkaca-kaca.

“Hey, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Kenapa kau teriak?” Kyuhyun melangkah masuk ke dalam. Dalam hati lega karena Sera berpakaian lengkap, karena akan sangat canggung sekali jika tidak.

Sera menatap kakinya, malu mengungkapkan masalah remehnya pada Kyuhyun.

“Sera-ya, apa yang terjadi?”

Sera menggeleng singkat lalu melangkah melewati Kyuhyun untuk keluar dari kamar mandi. Pria itu menahan sikunya lalu membalik tubuh Sera. “Ya! Ada apa?”

Wanita itu menggigit bibirnya gugup sambil menepis tangan Kyuhyun. “Nothing.”

“Kau baru saja teriak pada bayanganmu sendiri. Ada apa, Han Sera?”

Sera menarik napas dalam sebelum meledak. “AKU BENCI INI! AKU SEMANGAT SEKALI HARI INI KARENA KITA BISA PERGI SEBENTAR, MAKA KARENA ITU AKU INGIN TERLIHAT CANTIK UNTUKMU. TAPI AKU TIDAK BISA! AKU BAHKAN TIDAK MAMPU MENCUCI RAMBUT SIALANKU INI! AKU HANYA INGIN TERLIHAT LAYAK DI SAMPINGMU! AKU TIDAK INGIN TERLIHAT SEPERTI WANITA PESAKITAN YANG PUCAT DAN KUMAL SEMENTARA BERJALAN DI SISIMU. AKU TIDAK MAU DIPANDANGI DARI ATAS KE BA—”

“Kau berusaha terlihat cantik untukku?” Kyuhyun terkejut tapi tidak bisa menyembunyikan senyum konyol di wajahnya. Bagi Kyuhyun Sera sudah terlihat sempurna, ia tidak memiliki masalah dengan penampilan wanita itu. Tapi kalau wanita itu berusaha untuk berdandan sedikit untuknya, jelas Kyuhyun merasa tersanjung.

Sera bisa merasakan wajahnya memanas, jadi ia hanya berbalik untuk kembali ke kamarnya.

“Biar aku membantumu.” Kyuhyun menahan tangan Sera lagi. “Kita bawa kursi itu ke sini, kau duduk dan aku akan mencuci rambutmu di wastafel—seperti di salon. Bagaimana? Ideku brilian kan?” Tawarnya dengan senyuman manis dan tatapan yang tetap berbinar.

“Dweso.”

“Aish, ayolah.” Kyuhyun menarik Sera mendekat.

“Apa pentingnya membuatmu terkesan kalau kau yang membantuku mempersiapkan diri.” Ujar Sera polos dengan gelagat malu-malu.

Kyuhyun menangkupkan kedua tangannya di wajah Sera sambil membungkukkan tubuhnya pada level yang sama. “Aku sudah terkesan, Sera-ya. Tapi jika aku bisa membuat dirimu merasa lebih baik, aku tidak keberatan melakukan ini untukmu. Lagipula dulu aku juga sering memberimu manicure di waktu luang kita bukan? Ini akan seperti itu, bedanya kali ini aku mencuci rambutmu.”

Sera rasanya ingin menangis. Bagaimana mungkin pria ini bisa bersikap setulus ini padanya sekarang dan justru membuat hatinya bergetar tak karuan. Sebesar apa cinta Kyuhyun padanya sampai ia rela mencucikan rambut Sera hanya agar ia merasa lebih baik tentang dirinya. Han Sera mengutuk dirinya sendiri, karena ia tidak bisa membalas seluruh pengabdian Kyuhyun padanya, ia tidak bisa memberi Kyuhyun apa pun untuk sekarang.

“Tunggu di sini, aku akan membawa kursinya.” Kyuhyun mengusap kepala Sera sejenak sebelum keluar untuk mengambil kursi di samping ranjang Sera.

Sera terus menatap Kyuhyun dengan perasaan bersalah. “Kyuhyun-a, dalam kehidupanku sebelum ini, pasti aku seorang pahlawan yang menyelamatkan negara besar. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dianugrahi seorang sahabat sebaik dirimu.”

Kyuhyun memerintahkan Sera duduk dan mulai membasuh rambut panjang Sera di wastafel. “Dan aku pasti penjahat kambuhan dalam hidupku yang dulu, karena aku harus mendapat ganjaran cinta yang bertepuk sebelah tangan.” Jawabnya dengan cengiran iseng.

“Siapa yang menyuruhmu untuk suka padaku.” Sergah Sera.

“Aku tidak suka padamu, aku sangat menyayangimu. Lagipula aku tahu kau juga menyayangiku, meskipun dengan alasan yang berbeda.” Jawab Kyuhyun tenang. “Aku tahu bahwa peran dan keberadaanku dalam hidupmu sama pentingnya seperti aku memandangmu, aku belajar untuk tidak serakah sekarang dan menikmati proses hubungan kita. Kau tidak mengusirku untuk menjauh, bagiku itu sudah cukup.”

Sera menggigit bibirnya gugup.

“Aku akan mulai menaruh shampoo di rambutmu sekarang, jangan bergerak. Kau mau keberi layanan manicure juga setelah ini? Aku ahli mengecat kukumu.” Goda Kyuhyun.

Satu jam kemudian Sera akhirnya bisa percaya diri dengan penampilan dan kebersihan dirinya, ia meminta Kyuhyun untuk menunggu di luar sebentar sementara seorang suster membantunya berpakaian. Sebenarnya Sera hanya wanita sederhana yang ingin mengesankan teman kencannya—ya, ini terhitung kencan bagi Sera—dan dalam lubuk hati yang terdalam Sera masih ingin Kyuhyun memandangnya dengan tatapan terpesona seperti dulu.

Wanita itu mengenakan t-shirt hitam kebesaran dan hanya memadukannya dengan sepasang celana pendek dan sepatu All-Star, ia memulas pipinya sedikit untuk mencerahkan wajahnya yang pucat dan tidak lupa menyapukan lipstick pada bibir tipisnya. Sekali lagi Sera memastikan penampilannya sudah cukup pantas untuk menemani Kyuhyun, baru ia berani menggeser pintu kamarnya untuk menemui pria yang sabar menanti di depan.

Tentu saja pria itu memandangnya kagum, pria itu juga tidak bisa menyembunyikan senyum kemenangannya karena menyadari bahwa Sera sedang berusaha terlihat cantik untuknya. Kalau boleh lancang, Kyuhyun akan mengira ini gestur tersirat dari Sera untuk memberinya kesempatan. Biarlah sekali ini Kyuhyun egois—ia memang pantas untuk menjadi egois kalau sudah berurusan dengan Sera.

“Siap pergi sekarang? Biar kuperiksa dulu perlengkapanmu.” Ia mengambil tas besar Sera yang berisi perangkat pertolongan pertama. Kyuhyun menandai kertas check-listnya dengan seksama. “Ya! kau lupa baterai cadangannya, biar kuambil dulu.” Kyuhyun meraih baterai cadangan alat LVAD sera lalu memasukkannya ke dalam tas.

“Kau benar-benar paham cara merusak mood seorang wanita, Kyu. Kau kira aku ini gadget apaan yang harus di-charge terus.” Sera bercacak pinggang kesal.

“Kau bukan gadget, tapi jantungmu memang tergantung pada baterai ini.” Ia mengedip sambil menyampirkan tali tas Sera pada bahunya. “Ayo, sudah nyaris tengah hari sekarang.”

“Kau mau mengajakku ke mana?”

“Itaewon. Kau mau makan burger enak bukan? Aku tahu tempat yang tepat.” Ia memberanikan diri untuk melakukan hal yang sejak lama ingin dilakukannya. “Ayo.” Kyuhyun meraih tangan Sera, menautkan jemari mereka, kemudian menggandengnya keluar rumah sakit.

 

*

 

Sera duduk dengan sabar sementara Kyuhyun memesan makanan mereka. Wanita itu nyaris melompat dalam duduknya saat Kyuhyun datang dengan nampan berisi dua burger gendut dan tumpukan kentang goreng di tengahnya.

“Tidak boleh minum cola, kau masih harus minum obat setelah ini.” Kyuhyun menyerahkan sebotol air mineral pada Sera.

“Whoaaaaahh… GOMAWOOOO!!!” Wanita itu langsung meraih burgernya, membuka kertas pembungkus dan tidak menunggu sedetik pun untuk mulai melahap makanan itu.

Kyuhyun terbahak melihat kelakuan Sera yang seperti anak-anak bertemu permen, apalagi wanita itu menutup kedua matanya sambil tersenyum bahagia saat mengunyah roti isi yang dibelikan. Sera membuka mata dan tawa Kyuhyun semakin meledak karena wanita itu sekarang menatapnya pandangan berkaca-kaca penuh haru.

“Kau suka?” Tanya Kyuhyun sambil mengacak rambut Sera.

“Ya Tuhan Kyu… this is goooooodddd!!” Ia meraup kentang goreng dan memasukkannya ke mulutnya yang masih penuh. “Oh God!

“Ya! Jangan berisik! Kau membuatku malu.”

“Makan saja jatahmu, ini enak sekali Kyu.” Sera kembali menggigit burgernya.

Kyuhyun justru mengeluarkan poselnya untuk mengambil foto Sera yang sedang kegirangan, untuk kenang-kenangan. Pria itu berencana membuat scrap book yang berisi perjalan Sera dalam melewati penyakitnya, aktifitas mereka hari ini bisa dibilang salah satu tolak ukur yang signifikan karena akhirnya wanita itu diperbolehkan keluar rumah sakit, meski hanya beberapa jam saja.

tumblr_njt4e7vgnm1tdjy6po1_500

gambar milik Park Sora

“Ada rencana lain setelah makan, Sera-ya? Ini harimu, jadi kau bebas menentukan mau ke mana saja.” Kyuhyun memakan burgernya dan langsung paham mengapa Sera dari tadi teriak-teriak, memang burger yang dipilihnya sangat enak.

Sera meminum air putih di sampingnya lalu menggeleng. “Entahlah, bagaimana kalau kau terus menyetir dan aku akan memintamu berhenti jika menemukan sesuatu yang menarik.”

“Tidak ada perencanaan, seperti biasa.”

Sera tertawa, wanita itu benar-benar tidak paham akan kebutuhan Kyuhyun yang harus selalu memiliki rencana yang terjadwal setiap jamnya. “Apa asiknya selalu merencanakan sesuatu?

“Kau tahu kegiatanmu di hari itu, tahu akan berada di mana pada waktu yang spesifik, dan aku suka hidup teratur.” Kyuhyun menjawab cuek sambil mengangkat kedua bahunya.

“Jadi kalau aku memintamu untuk merencanakan sebuah kencan yang berkesan untukku hari ini, kau tidak tahu harus berbuat apa?”

Kyuhyun tersedak kentang yang dikunyahnya. “Kencan?”

“Ng, sejak awal aku menganggap ini kencan. Ya tentu saja aku paham pada kencan yang sesungguhnya kau tidak harus membantuku bersiap dan membawa tas besarku kemana-mana. Tapi ini hari pertama aku diizinkan keluar sejak dirawat intensif, jadi suka atau tidak, untukku ini sebuah kencan.”

“Han Sera, neo daebak! Kau selalu tahu cara membuat jantungku meledak. Bagaimana caranya aku mempersiapkan sebuah kencan yang pantas untukmu dalam waktu singkat?”

“Tenanglah, kau sudah melakukan dengan sangat baik sejauh ini.” Sera membelai tangan Kyuhyun pelan. “Bisakah kita pergi membeli makanan penutup sebelum kembali ke rumah sakit nanti? Atau kalau kau memang sudah punya rencana, aku akan mengikuti rencanamu dengan senang hati.”

Wajah Kyuhyun memanas hanya karena gestur manis dari Sera.

Sera tersenyum tulus pada pria di depannya. Ia paham perasaan Kyuhyun padanya dan ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan mencoba memberi kesempatan pada sahabatnya. Pria ini memang bukan Taecyeon dan memang tidak akan pernah menjadi mantan suaminya, tapi Sera harus belajar untuk hidup tanpa Taecyeon dalam hatinya mulai sekarang.

Ia tidak mau menjadikan Kyuhyun sebagai batu loncatannya, karena posisi Kyuhyun dalam hidup dan hati Sera jauh di atas itu. Yang ingin Sera lakukan saat ini hanya membalas kebahagiaan yang telah Kyuhyun berikan untuknya, selagi ia masih memiliki waktu dan nyawa untuk membuat pria ini bahagia.

Tidak banyak yang bisa dilakukan Sera, tapi ia percaya bahwa ia sedang melakukan yang terbaik dalam segala batas kemampuannya untuk membuat pria itu senang.

 

*

 

Taecyeon berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, merasa jengkel atas performa kerja detektif professional yang disewanya. Sudah dua minggu dan pria itu akan menikah dalam beberapa jam! Tapi orang sewaannya itu masih saja belum mendapatkan informasi yang berarti tentang Sera. Pagi tadi sang detektif baru bisa mendapatkan sedikit informasi tentang claim asuransi Sera, namun pria itu tidak bisa menggali lebih dalam kapan dan untuk apa claim itu dilakukan.

Ponsel Taecyeon berbunyi lagi, masih dari orang sewaannya.

“Beri aku berita baik.” Sahut Taecyeon tanpa basa-basi.

“Taecyeon-ssi, aku sudah memeriksa dengan perusahaan asuransi dan mantan isterimu itu mengajukan banyak sekali claim dalam setahun terakhir ini.” Ujar detektif itu.

Claim? Apa dia sakit? Aku tidak ingat Sera punya penyakit yang parah, wanita itu tidak terlihat lemah sama sekali.” Sanggahnya. “Kau yakin memeriksa nama yang benar?”

“Aku perlu akses yang lebih leluasa untuk melihat detil claim yang diajukannya, karena perusahaan asuransi tidak bisa mengeluarkan daftar claim pada orang asing.”

“Lalu apa yang bisa kulakukan untuk mempermudah pekerjaanmu?” Tawar Taecyeon.

“Apa kau masih wali yang sah dari Han Sera?”

“Terakhir aku periksa memang demikian, tapi kalau surat perceraian itu juga berarti sebagai pengalihan status wali atas dirinya di mata perusahaan asuransi, maka kita punya masalah sekarang.”

“Baiklah, aku akan mencoba mencari cara lain.”

“DUA JAM!” Taecyeon membentak. “Kau hanya punya waktu dua jam untuk mengoreknya! Aku tidak peduli sesulit apa informasi yang harus kau gali, aku sudah membayarmu mahal.”

Detektif itu terdiam beberapa saat, mencoba memikirkan cara paling instan untuk bisa menggali data claim Sera tanpa harus melanggar hukum apa pun.

“Taecyeon-ssi, mungkin kau bisa membantuku. Kau bisa menerbitkan surat pernyataan bahwa mantan isterimu itu menipumu—kau bisa menggunakan surat tagihan kartu kreditmu yang dulu—dan sekarang kau perlu bukti lain untuk membuktikan penipuannya. Dulu kau suaminya saat itu terjadi, maka tuntutan pidana ini pasti bisa memudahkan keluarnya surat claim Han Sera dari perusahaan asuransi.”

“Ya! Wanita itu tidak menipuku dan aku tidak akan membuat surat pernyataan gila seperti itu. Aku membayarmu tinggi untuk menggali masalah ini tanpa mengotori tanganku sendiri.” Pria itu kembali membentak detektif sewaannya.

Detektif itu hanya memutar matanya kesal, tentu saja berurusan dengan klien seorang chaebol selalu berakhir dengan penekanan bahwa mereka dibayar mahal untuk masalah mereka.

“Aku akan mengusahakan cara lain kalau begitu.” Putus sang detektif pasrah.

Baru saja ia ingin menutup telepon, Ok Taecyeon kembali bicara dengan nada rendah penuh ancaman. “Jika kau menyakiti wanita itu dalam pencarian datamu, aku justru akan mengangkat kasus pidana atas namamu. Jadi lebih baik kau melakukannya dengan cara bersih—dan cepat!”

Taecyeon membanting ponselnya ke tembok di hadapannya, ia sangat frustrasi sekarang. Dua minggu waktunya sudah dihabiskan hanya untuk mencari Sera dan wanita itu tetap menghilang. Ia sudah menyewa orang terbaik namun tetap saja wanita itu lebih pandai bersembunyi dari yang diduganya. Ada apa dengan wanita itu? Mengapa Sera ingin menghilang sepenuhnya dari pandangan Taecyeon? Memang pria itu sudah melakukan dosa besar pada mantan isterinya, tapi apakah Sera membencinya sedalam ini sampai tidak sudi untuk bertemu lagi dengannya?

“Ey… uri adeul, kau terlihat tampan sekali.” Ibu Taecyeon masuk ke dalam kamar diikuti ayahnya. “Jas pengantinmu kali ini jauh lebih baik dari yang dulu, tentu saja wanita yang mendampingimu juga lebih pantas.”

Pria itu menarik napas dalam. Ya, hari ini adalah hari pernikahannya denagn Yoona. Ia akan menjalin hubungan abadi dengan seorang gadis yang baru dikenalnya beberapa bulan saja—gadis yang tidak ia cintai. Meskipun ia membenci rencana pernikahan ini, Taecyeon juga tidak tega mengungkapkan perasaan yang sesunggunya pada calon isterinya. Gadis itu sangat manis dan lugu, tidak adil rasanya jika Yoona harus tahu segala masa lalu kelam Taecyeon.

“Adeul, kau terlihat seperti bujangan yang belum pernah menikah sekarang. Ah, aku sangat bangga padamu sekarang.” Ibu Taecyeon mendekat untuk memeluk tubuh tinggi Taecyeon.

“Ne Oemma.”

“Aku lega sekali karena kau bisa melupakan si jalang itu dengan cepat. Wanita semacam itu tidak pantas mendekam dalam hatimu dalam kurun waktu lama…”

“Oemma, kalau kau di sini hanya untuk menghina Sera, lebih baik kau keluar saja. Hanya karena aku setuju dengan perjodohan ini, bukan berarti kau bebas menghina wanita yang kucintai.” Ia mendorong tubuh ibunya menjauh sambil menatap sinis.

“Ya! Kau ini akan menikah beberapa jam lagi dan kau masih saja membela wanita jalang itu! Bahkan berani membentak ibu kandungmu sendiri!” Ayahnya balik membentak Taecyeon. “Lupakan mantan isterimu itu. Dia mencampakkanmu dan menipumu! Jangan menjadi pria bodoh yang tertipu dengan penampilannya saja! Seberharga apa pun dia di matamu, wanita itu akan tetap diingat sebagai jalang yang mengacaukan hidupmu!”

“Aboji, jangan coba-coba menyebut Sera dengan julukan tidak pantas itu!” Amarahnya semakin memuncak karena ia sudah lelah dengan sikap keluarganya yang selalu memojokkan Sera.

“Lalu kenapa? Apa masalahnya kalau aku mau memanggilnya jalang? Memang itu faktanya! Demi Tuhan, kau ini buta? Kau lupa bahwa dia lah yang pergi meninggalkanmu? Boleh saja parasnya cantik, tapi hati wanita itu busuk! Wanita yang akan kau nikahi jelas jutaan kali lebih baik dari mantan isterimu!”

Tangan Taecyeon terkepal, ia siap melangkah untuk mengkonfrontasi ayahnya sendiri yang kelewatan, tapi kepala pelayan rumah mereka justru masuk untuk menjemput mereka dan mengantarkan ke venue pernikahan Taecyeon yang akan berlangsung tiga jam lagi.

 

*

 

Sera dan Kyuhyun sekarang sibuk berjalan di pinggir sungai Han, wanita itu benar-benar tidak mau melewatkan udara musim semi yang disukainya. Setelah senang dengan traktiran burger berlemak dari Kyuhyun, Sera memutuskan untuk melanjutkan kencan mereka seperti pasangan normal lainnya, menikmati suasana tanpa melakukan aktifitas yang membuat fisiknya harus dipaksa bekerja keras.

“Kyu, sekarang jam berapa?” Sera meraih lengan kiri Kyuhyun untuk melihat arloji pria itu.

“Jam tiga kurang. Kenapa? Kau lapar lagi?”

Sera menggeleng. “Aku punya waktu sampai pukul enam, jadi tiga jam tersisa harus dimanfaatkan secara maksimal!” Cengirnya senang.

“Definisikan maksimal.”

Sera mengangkat bahunya, “sesuatu yang menyenangkan dan pantas dikenang, mengingat ini kencan pertama kita.”

Kyuhyun menggigit bibirnya untuk menyembunyikan senyum senang yang muncul karena kalimat sederhana dari Sera.

“Aku boleh naik ayunan itu kan, Kyu? Tidak akan berpengaruh apa-apa pada kerja jantungku.” Ia menunjuk pada ayunan di taman bagian anak-anak.

Pria tukang taat peraturan itu mengamati taman bermain sejenak, memastikan bahwa tidak ada anak-anak yang akan terganggu dengan kelakuan Sera yang kekanakan.

“Baiklah, ayo aku akan mendorongmu.” Pria itu menggenggam tangan Sera untuk menariknya.

Kyuhyun menyelempangkan tas besar Sera pada pundaknya, memastikan wanita itu sudah duduk benar sambil berpengangan pada rantai di kedua sisi tubuhnya sebelum ia mulai mendorong punggung Sera.

“Ya! aku bukan anak kecil, Kyu! Dorong lebih kencang lagi.”

Pria itu menurut dan mendorongnya lebih kencang sambil terkekeh dengan kelakuan mereka. Apa yang meraka lakukan mungkin merupakan hal yang paling cliché: pergi ke tempat populer untuk berkencan dan melakukan hal-hal murahan untuk bersenang-senang. Kyuhyun bisa menduga, jika Sera tidak sakit mungkin sekarang wanita itu sudah mengajaknya naik roller coaster yang jauh lebih menantang daripada ayunan. Wanita sekeren Sera tidak mungkin terhibur dengan kencan sederhana—dan dadakan—seperti yang mereka lakukan sekarang. Tapi melihat senyum kekanakan dan sorot mata bahagia di wajah wanita itu, Kyuhyun tahu bahwa ia tidak melakukan kesalahan pada kencan ini.

Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing saat suara nyaring seperti alarm berbunyi di dekat mereka. Sera dan Kyuhyun celingukan mencari sumber suara, bahkan pria itu merogoh kantung calananya untuk memeriksa ponsel untuk memastikan suara itu tidak berasal dari dirinya. Baru beberapa saat kemudian mereka menyadari bahwa suara itu datang dari arah Sera. Perangkat LVAD Sera berbunyi kencang sebagai peringatan bahwa baterainya mulai habis.

Kyuhyun menghentikan ayunan lalu segera pindah ke depan Sera, berlutut di hadapan wanita itu untuk melakukan tugasnya yang sudah diingat dengan baik. Dengan sopan Kyuhyun minta izin untuk mengankat ujung kaos Sera sedikit agar ia bisa melepas baterai yang terpasang di bagian pinggang celana Sera sebelum pria itu melakukan prosedur pergantian baterai.

Pria itu mengeluarkan baterai dari tempatnya, meminta Sera untuk menstabilkan napasnya sejenak sebelum baterai yang baru ditukar. Setelah alat itu berhenti berbunyi, Kyuhyun mengambil stethoscope yang termasuk di dalam tas perlengkapan LVAD Sera untuk memastikan denyut nadi dan napas Sera kembali stabil setelah pergantian baterai.

“Oke, semuanya sudah kembali normal.” Ujar Kyuhyun sambil melepas stethoscope dari telinganya. Pria itu menatap Sera dan hatinya mencelos saat melihat mata wanita yang berkaca-kaca itu. “Sera, apa kau takut? Maaf, seharusnya aku memeriksanya tadi sehabis makan.” Ia membelai wajah Sera lembut.

Sera menepis tangan Kyuhyun kasar, perasaan Sera kembali kacau sekarang. Ia takut, ia kesal, ia terenyuh dengan apa yang baru saja Kyuhyun lakukan untuknya, tapi yang paling membuatnya murung adalah rasa malunya.

“Sera-ya…”

“Hentikan, Kyu. Aku tahu apa yang kau harapkan dariku, hentikan sekarang juga. Aku tidak bisa.” Wanita itu masih menghindari tatapan Kyuhyun.

Kyuhyun yang masih berlutut mengangkat tangannya untuk menyentuh dagu Sera, memaksa wanita itu untuk memandangnya. “Hey, tatap aku kalau sedang bicara.”

Sera menoleh untuk menatap sahabatnya lengkap dengan tatapan penuh keputusasaan. “Kyu, hentikanlah. Aku tidak bisa melakukan ini padamu. Aku tidak bisa terus-terusan membiarkanmu merawatku seperti ini, aku tidak bisa mengizinkan orang sepertimu untuk berada di sampingku.”

“Orang sepertiku?” Balas Kyuhyun dengan nada tersinggung.

“Ne! Lihatlah dirimu! Kau pintar, sukses, tampan, lajang, kau hebat dalam bidang pekerjaanmu, dan aku bisa memberikan ribuan review bagus tentang dirimu—lalu kau mau membuang semua potensi itu untuk merawat orang sekarat sepertiku? Tidak! Kau tidak boleh membuang waktu berhargamu untuk orang sepertiku.” Sera merasakan gumpalan imajiner di kerongkongannya mulai kembali, tapi ia masih berusaha untuk tidak menangis.

“Tapi aku tidak keberatan melakukan semua ini untukmu…”

“Lalu apa yang kau harapkan dariku?” Tanya Sera tajam.

“Mengapa kau selalu menganggap aku di dekatmu karena mengharapkan ssuatu?” Tukas Kyuhyun, nadanya mulai meninggi karena ia merasa semakin tersinggung dengan asumsi Sera.

“Karena aku sudah mengatakannya berulang kali, aku tidak bisa memberi apa-apa padamu.”

“Memangnya aku minta apa, Han Sera?” Pria itu berdiri sambil bercacak pinggang, semakin kesal dengan obrolan mereka. “Aku tidak meminta yang aneh-aneh darimu, aku hanya ingin kau sembuh!”

“Lantas bagaimana jika waktu untuk menyembuhkanku itu bertahun-tahun? Bagaimana kalau prosedur heroik yang kau lakukan barusan itu menjadi rutinitas harianmu? Aku sudah jijik dengan kabel yang menjuntai dari dalam tubuhku sendiri, tidak perlu diperburuk lagi oleh alarm yang mengingatkan bahwa hidupku bergantung pada baterai. Sekalian saja aku cari colokan listrik dan men-charge diriku ke dalamnya.” Ujar Sera dengan nada tinggi.

Pria itu mulai paham rasa frustrasi Sera. Memang sebelum operasi, Sera sudah menunjukkan gelagat bahwa rasa percaya diri yang dulu dimilikinya turun drastis. Pagi ini bahkan ia mengalami tantrum karena masalah tidak bisa mencuci rambutnya sendiri dan sekarang Sera sebenarnya sedang meledak karena segala keterbatasan yang ia alami akibat penyakitnya.

“Sera, seperti janjiku, aku akan mendampingi di setiap tahap yang kau lewati.”

Bullshit! Jangan katakan itu! Tidak ada yang pantas merebut hidupmu, Kyu! Kau tidak boleh mendedikasikan hidupmu untukku. Pergilah! Kau seharusnya menjalani harimu dengan wajar. Tidak perlu sibuk bolak-balik ke rumah sakit untuk menemaniku makan siang, mengorbankan akhir pekanmu untuk menemaniku, kau seharusnya sibuk berkencan dan mencari pendamping hidup! Biarkan aku mengurus diriku sendiri.”

“Kau yakin?” Tantang Kyuhyun. “Akuilah kau juga membutuhkanku.”

Sera menggigit bibirnya, memang ia membutuhkan Kyuhyun namun ia tidak tega membuat pria itu merana karena dirinya dan segala keterbatasan yang ia miliki sekarang.

“Aku melepaskanmu dulu, Sera. Lalu aku menyesali keputusan itu sepanjang lima tahun masa hidupku. Aku selalu berpikir apa yang akan terjadi jika dulu aku tidak menahan diri untuk mengungkapkan perasaanku padamu.” Jelas Kyuhyun, kembali berjongkok di hadapan Sera. “Aku tidak mau melakukan kebodohan itu lagi sekarang. Terserah kau mau menganggap aku memanfaatkan situasi atau menganggap kalau aku ini orang yang paling tolol di matamu karena tetap saja ngotot untuk mengejar bayanganmu, aku tidak akan melepaskanmu sekarang.”

“Aku bukan Sera yang dulu, Kyu.” Bisiknya lirih. “Bukan Sera yang dulu kau kagumi, bukan Sera cantik dan sexy yang dulu membuat banyak laki-laki menoleh dua kali saat melihatku. Aku—tubuhku sudah hancur.”

Kyuhyun justru terkekeh mendengar kata-kata wanita itu. “Kau benar-benar mengira kau secantik itu, ng?”

“Aku tahu bahwa aku memang secantik itu—dulu.” Sera memanyunkan bibirnya. “Mulutmu saja dulu menganga bodoh saat pertama kali melihatku.”

Kyuhyun tergelak. “Ya, aku tidak punya pembelaan masalah itu. Aku masih ingat rok bermotif bunga selutut dan kaos putih polos ketat yang kau kenakan saat itu—kau memang benar-benar mempesona.” Kyuhyun lanjut tertawa, membayangkan sebodoh apa tampangnya dulu saat pertama kali melihat Sera.

Sera senyum sambil menyisir rambut Kyuhyun lembut. “Tapi sekarang, pasti banyak gadis-gadis yang justru terpana memandangmu, Kyu. Lihatlah dirimu! Kau hanya perlu mengenakan pakaian yang tidak kebesaran…”

“Dan operasi lasik untuk menyingkirkan kacamata pantat botolku.” Tambah Kyuhyun.

“Serta rasa percaya diri yang terlihat super sexy.” Tambah Sera dengan seringai jahil. “Kau selalu terlihat sempurna di mataku—percayalah, aku tidak pernah memandangmu seperti orang lain menilaimu dulu—dan sekarang semua banyak gadis sempurna di luar sana yang melihat kesempurnaan yang telah kulihat sejak lama. Oleh karena itu, aku tidak pantas untuk—“

“Sera, kau benar-benar mengira aku jatuh cinta padamu karena wujudmu, ng?” Kyuhyun terkekeh lagi.

Wanita itu hanya mengangguk lugu.

“Kau memang cantik, tapi bukan itu.” Kyuhyun mencubit pipi Sera gemas. “Aku jatuh cinta padamu karena segala yang kita lalui dulu. Ingat saat kau membelaku dari para bully itu? Lalu saat kau menelpon ibuku berjam-jam untuk belajar resep japchae yang sangat kuidamkan? Atau kebodohanmu yang tidur di lantai samping ranjangku karena mengawasi suhu tubuhku yang tinggi semalaman? Aku bahkan ingat kau membatalkan kencan dengan seorang pria British yang sangat kau sukai, karena melihatku menatap TV dengan bosan di akhir pekan. Ingat saat kita jungkir-balik mencari kerja sambilan demi menutup biaya kuliahku? Sera, aku bisa memberi jutaan alasan lain mengapa aku menyayangimu. Tapi kalau boleh kurangkum, aku mencintai kecantikan hatimu—kebetulan saja wajahmu juga sama indahnya dengan hatimu.”

Air mata Sera mengalir dari pelupuknya. “Kyu, apa kau tahu alasan lain mengapa aku terus menyembunyikan masalah penyakitku dari Taecyeon oppa dan appa? Karena aku tahu mereka akan hancur saat mengetahuinya. Aku bersikap seperti wanita jalang tidak tahu diri pada mereka agar mereka membenciku, agar aku bisa melalui ini tanpa membebani mereka—karena saat mereka tahu, mereka akan hancur.”

“Kau benar-benar tahu cara merusak momen, Sera.” Kyuhyun menyeringai sinis.

“Dan aku tidak mau kau hancur.” Sera menangkupkan tangannya pada sisi wajah Kyuhyun. “Jika keajaiban terjadi, aku dapat jantung yang kubutuhkan, aku sembuh, lalu kita bisa hidup bahagia seterusnya maka bagus. Tapi seandaianya semua ini gagal, jika suatu hari semua usaha yang kita lakukan ini berakhir dengan kematianku, kau akan menghadapi kesedihan itu sendirian, Kyu. Aku akan meninggalkan lebih banyak kenangan pahit untukmu dan aku tidak sanggup menjadi wanita sadis yang memberikan lebih banyak lagi kenangan pahit untukmu. Aku tidak bisa membuatmu membenciku lagi karena ini.”

Kyuhyun mengangguk, meraih kedua tangan Sera yang ada di wajahnya lalu mengecup buku-buku jari Sera dengan sayang. “Jadi itu dasar dari semua kebodohanmu? Kau mendorong orang untuk menjauh agar mereka tidak merasa kehilangan saat yang terburuk terjadi.” Kyuhyun mendengus sinis. “Dengar ini baik-baik, Han Sera. Pria itu boleh saja lebih kekar dan berotot dariku, tapi hatiku ini sekuat baja. Jadi aku tidak mau dengar lagi kilahmu untuk mengusirku dari hidupmu, selama kau masih bernapas…”

“Apa kau sudah mempersiapkan diri jika ini semua gagal?” Potong Sera tegas. “Jika semua ini gagal dan aku mati, apa kau siap menanggung rasa kehilangan itu?”

Kyuhyun membeku di tempatnya karena kata-kata Sera, ia sadar bahwa perkataan wanita itu benar adanya. Ia tidak siap, tidak akan pernah siap. Namun Kyuhyuh tidak boleh lemah sekarang, karena jika ia takut, Sera akan mengusirnya jauh-jauh sementara yang ingin dilakukan pria itu hanyalah berada di sisinya, mencintai wanita itu dalam diam seperti biasa.

Keduanya beranjak dari taman bermain dalam diam, pembicaraan sebelumnya terlalu berat dan mereka butuh waktu untuk mengosongkan pikiran kalut akan spekulasi terburuk dari nasib Sera.

Wanita itu menarik tangan Kyuhyun untuk bersandar di pagar tepi sungai, waktu kencan mereka nyaris habis dan Sera ingin menikmati indahnya senja untuk dikenang dalam memorinya. Pria itu menurut dan tetap berdiri dalam diam di samping Sera.

“Aku adalah gadis yang cantik.” Ujar Sera tiba-tiba.

Kyuhyun menolehkan kepalanya sambil tertawa. “Memang kau cantik.”

“Bukannya sombong, tapi itu fakta.” Sera menengadah untuk menatap Kyuhyun pada manik matanya. “Aku punya paras yang rupawan, tubuh yang sexy, kaki yang jenjang—yang biasanya membuat pria-pria menengok dua kali untuk memandangku dengan kagum. Aku terbiasa dengan perhatian semacam itu, karena begitulah kaum adam melihatku.”

Kyuhyun mengerutkan keningnya, mencoba menebak arah pembicaraan sahabatnya yang sekarang terdengar sangat narsis tapi konyol.

“Kau, di sisi lain tidak pernah membuatku merasa spesial seperti itu. Bahkan sejak dulu kau sudah tahu sejorok apa aku, seberantakan apa kamarku, semalas apa aku dengan acara berbersih dan aku justru merasa nyaman melakukan semua itu di hadapanmu, karena kau membuatku menjadi… diriku sendiri.” Sera menggigit bibirnya gugup, enatah apa yang melintas di pikirannya sekarang, ia hanya ingin Kyuhyun tahu perasaan yang sejak dulu disembunyikan Sera rapat-rapat untuknya.

Pria itu masih menatap Sera kebingungan, tapi ia tersenyum karena ia pun tahu bahwa yang Sera katakan benar.

“Kau menghilang dari hidupku bertahun-tahun. Aku mencarimu, mencoba tetap berhubungan denganmu tapi hasilnya nihil. Saat kita bertemu kembali kau menamparku dengan sikap dinginmu yang terlalu sadis—namun memang pantas kuterima.” Sera mendengus. “Lalu ketika kau tahu aku sekarat, kau kembali ke sisiku. Kau banjiri aku dengan perhatian dan kasih sayangmu lagi, kau menggenggam tanganku dengan setia dan bahkan dengan prospek kematianku yang semakin besar, kau masih bergeming. Kau tetap menatapku dengan sorot kehangatan yang selalu menenangkan hatiku.”

Kyuhyun membelai rambut Sera lembut. “Sera, aku—”

“Apa yang sudah kulakukan sampai aku mendapat anugrah seindah ini, Kyu?” Wanita itu mendengus pada kata-katanya sendiri.

“Kau salah.” Sergah Kyuhyun. “Aku selalu memandangmu dengan kekaguman itu, kau se-cantik dan se-sexy itu di mataku, hanya saja aku cukup pintar menyembunyikan perasaanku—bodoh sekali bukan? Padahal jika aku mengutarakan perasaanku dulu, mungkin kita tidak perlu berpisah bertahun-tahun. Mungkin kau sekarang menjadi isteriku dan kita benar-benar hidup bahagia seterusnya.”

Sera menyengir lebar, cara Kyuhyun mengungkapkan perasaannya memang tersirat, tapi kata-kata pria itu sukses membuat hatinya berbunga-bunga. Bahkan Sera yakin jantungnya sekarang berdebar lebih cepat dari yang seharusnya. Pria ini memang selalu membuatnya terpesona, tapi kali ini karisma Kyuhyun terlihat berlipat ganda karena rasa percaya dirinya yang semakin meningkat.

“Jadi kau juga diam-diam mengagumiku seperti itu?” Pancing Sera iseng.

Kyuhyun terkekeh sambil mengalihkan pandangan dari sahabatnya. “Aku ini pria normal, Sera. Jelas aku memandangmu seperti itu.”

Senyum di wajah Sera semakin melebar, meskipun dalam hati ia merutuk kebodohan Kyuhyun yang baru mengungkapkannya sekarang.

Pria itu menatap wajah Sera dengan seksama dan jantung Kyuhyun serasa ingin melompat keluar hanya karena senyuman polos yang sekarang menggantung di bibir tipis Sera. Entah karena cahaya jingga senja yang membuat kulit Sera lebih bersinar, atau sorot kepolosan yang terpancar dari kedua bola mata coklat Sera, mungkin juga karena perjalan emosional yang sudah mereka lalui bersama, Kyuhyun tidak lagi sanggup menahan diri.

“Maafkan aku, Sera-ya.”

Sera mengangkat alisnya sambil tersenyum. “Untuk?”

Pria itu mengambil langkah untuk menghapus jarak di antara mereka, dengan perlahan membungkukkan tubuhnya sambil mengangkat dagu Sera dengan jemarinya. Mereka tahu apa yang akan terjadi kemudian dan tidak ada yang mencoba menghentikan.

Kyuhyun menyapukan bibirnya di atas bibir Sera sementara wanita itu menutup kelopak matanya. Pria itu meletakkan tangan kanannya pada tengkuk Sera, membelai lembut kulit halus di leher wanita itu sambil menikmati halusnya bibir Sera yang kini beradu lembut dengan bibirnya. Wanita itu sudah lupa dengan jarak yang selama ini ia bangun untuk melindungi hati Kyuhyun, kali ini saja Sera ingin mengikuti kata hatinya. Yang ia tahu, ini adalah kali pertama sahabatnya menyentuhnya seperti ini, ia tidak pernah mengira sentuhan pria ini akan sangat lembut hingga membuatnya terbuai, Sera tidak pernah menyangka pikirannya bisa menggila akibat pria yang sekarang sedang mencumbunya. Mengikuti kata hatinya, Sera meletakkan kedua tangannya di samping wajah Kyuhyun, mengizinkan pria itu untuk memperdalam ciuman mereka.

 

Advertisements

80 thoughts on “Piles of Regrets – 8 [Silver-Lining]

  1. Hana choi says:

    Semoga ini adalah hal yang baik buat mereka, semoga aja taecyeon ga tau kalau sera lagi sakit aku pengen taecyeon nikah aja sama yoona biar sera sama kyuhyun

    Liked by 1 person

  2. Shinn says:

    huaa bener-bener sweet couple kesayanganku cho kyuhyun & park sora.i lope you dah pokoknya.
    Kayaknya sera udah suka sama kyuhyun dari dulu tapi dia nganggep kalau kyuhyun ngak suka sama dia jadi dia milih taecyeon,well just opinion 😀

    Liked by 1 person

  3. elfishyvil says:

    Harusnya taecyeon mengancam orangtuanya kalo ia akan meninggalkan pesta pernikahannya dengan yoona kalo orngtuanya tersu saja menghina sera.. ckckck..
    Semoga akan muncul hal baik pada kyuhyun dan sera.. semoga aja…
    Aku hapar ini gak sad ending thor…

    Liked by 1 person

  4. Melsyana says:

    Kyu benar” mencintai sera dg tulus. Dia tidak peduli kalau sera tidak cantik lagi, kurus, dan badan sera banyak lubangnya karna bekas operasi.
    Tapi, sekali lagi sera benar” menyuruh kyu untuk mencari perempuan lain karna sera malu dg keadaannya sekarang. Untung kyu gak terpengaruh dg sifat keras kepalanya sera.

    Dan mudah”an sera gak ketemu taecyeon dulu, kalau gak hati sera bakalan goyah dan yg menjadi korbannya pasti kyu lagi.

    Liked by 1 person

  5. dohaegummywook says:

    Adegan romantis di part ini bener2 romantis nya banget, tapi bukan romantis yg bikin merinding geli karna saking lebainya, entah kenapa perlakuan romantis kyu ke sera benerW di gambarin pas banget, ga lebai tapi romantis nya tetep dapet banget.

    Liked by 1 person

  6. Goldilovelocks says:

    Finallllyyyyyyy nyali Kyuhyun memberontak juga finallllyyyyyy…. oh my…. ku sungguh bahagia wkwkwk berharap ada detektifnya Taec trs ngerekam kejadian ini trs Taec yg berada diambang batas kebahagiannya kebakaran jenggot. Yeeee siapa suruh cerain Sera. Aaaaahhhh Kyuuuuuuuuu akhirnyaaaa iiih gabisa berhenti senyim iiihh 😍😍

    Liked by 1 person

  7. KartikaApriya says:

    Dan akhirnya kyuhyun jujur smaa perasaan dia ke sera akhirnyaaa😥😥
    Dan sekarang taecyeon udah mulai nyari tau tentang sera pas mau nikah sama orng lain kemaren2 kmna aja?? Kesel😠😠
    Kasian seraa sumpahhh pengen tau gimna reaksi ortunya dia pas liat sera gimna😢😢

    Liked by 1 person

  8. Alea says:

    Apasih maunya Taecyeon? Udah mau nikah lagi, tapi pikirannya tetap Sera Sera dan Sera. Kalau 2jam sebelum pernikahan berlangsung Taec tau kalau Sera sakit apa ya yang akan dilakuin dia?
    Sera minder melulu, mikir yang positif tentang Cho gitu, kenapa mikir yang negatif melulu.
    Ayo Sera, ikuti kata hatimuu

    Liked by 1 person

  9. Dyana says:

    Ijinkan aku berharap Kyuhyun dan Sera akan bersatu, Sera butuh Kyuhyun di sampingnya, dan Kyuhyun pasti bisa membuat wanita itu bahagia…
    Untuk si mantan suami, biarkanlah dia menikah dengan Yoona, jgn biarkan dia menemukan Sera kembali.
    Ini awal yang baik untuk masa depan Kyura…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s