Piles of Regrets – 7 [Pleads]

 

 

16

*Gambar milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Short Chaptered, Romance, Sad

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

 

 

Sejak sadar dari koma, kondisi Sera hanya semakin memburuk. Dokter-dokternya berusaha untuk mencari donor yang cocok untuknya lebih giat lagi namun memang tidak semudah itu memperoleh donor jantung yang tepat. Karena bukan hanya masalah jantung yang berdetak, tapi juga kemungkinan dari penolakan tubuh resipien jika donor yang diperoleh tidak cocok. Hal ini menyebabkan perburuan mencari donor menjadi tantangan tersendiri bagi pada dokter. Mereka harus memastikan golongan darah yang sama, ukuran jantung yang sesuai, ada tidaknya alergi baik dari pendonor maupun dari penerima—intinya, mencari donor jantung bisa memakan waktu bertahun-tahun dan bagian yang paling sulit dari itu semua adalah menunggu. Sementara menunggu, tugas pasien calon penerima donor adalah melakukan segala upaya untuk tetap hidup hingga donor ditemukan.

Dalam kasus Sera, dokter Kim dan dokter Song menyarankan agar wanita itu kembali dioperasi—ya, operasi lagi—untuk menyambungkan jantung Sera dengan alat LVAD (Left Ventricular Assist Device)—yang akan ditanamkan ke dalam jantung Sera. Perangkat ini berfungsi untuk membantu kerja ventrikel kiri Sera dalam memompa darahnya dan jelas akan memperpanjang umur wanita itu.

Kyuhyun baru saja tiba di kamar Sera saat wanita itu dan dokternya sedang sibuk berdebat kusir tentang perangkat yang baru ditawarkan padanya.

“Tidak dokter Song, kau tidak paham. Aku tidak mau alat itu ditanam dalam tubuhku. Sudah kubilang, bukan? Jika aku mati, maka aku mati!” Ujar Sera dengan nada mengeyel.

“Sera-ssi, kumohon jangan gegabah dengan keputusan ini, kau sudah berjuang untuk sembuh selama setahun lebih. Jangan buang usaha dan penantianmu itu begitu saja, apalagi status antrianmu sudah semakin dekat.” Doktor Song tidak kalah ngotot. Sepertinya wanita paruh baya itu sudah lelah sekali berdebat dengan pasiennya yang keras kepala.

Sera menarik napas dalam-dalam, mencari cara yang paling sopan untuk menyampaikan pada dokternya—yang ia tahu sudah berjuang banyak untuk Sera—bahwa ia sudah lelah, dan wanita itu sudah muak dengan segala prosedur medis yang harus dilaluinya. “Begini, dokter Song. Aku menghargai seluruh upaya yang kau lakukan untukku. Tapi kita berdua sama-sama ingat sesulit apa mendapatkan donor, bahkan saat aku mendapatkan jantung yang kubutuhkan, organ itu diberikan pada orang lain yang lebih sekarat. Lantas apa ada jaminan bahwa jantung berikutnya yang kuperoleh tidak akan direbut lagi dariku?”

“Tapi kau tidak bisa meminta formulir DNR begitu saja saat kita sudah sedekat ini!” Bentak dokter Song.

Wanita itu sudah merawat Sera sejak awal, meskipun tidak seharusnya ia memiliki ikatan batin dengan pasiennya, dokter Song tidak bisa mengabaikan perasaan sayang yang perlahan tumbuh pada Sera yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Melihat pasien favoritnya sekarat dan memburuk semakin hari telah membuatnya lupa untuk bersikap profesional.

“Dia minta formulir apa?” Kyuhyun langsung ikut bicara saat mendengar istilah yang ia kenal. “Ya! Han Sera! Apa kau sudah gila?!” Kyuhyun paham sekali formulir yang Sera maksud.

Formulir DNR (Do Not Resuscitate), yaitu formulir yang biasanya diminta pasien dengan penyakit kronis yang telah melalui berbagai prosedur pengobatan. Dalam formulir itu tertulis pernyataan bahwa pasien tidak ingin dokter melakukan usaha penyelamatan apa pun selain CPR jika pasien anfal—dengan kata lain, formulir itu adalah bendera putih yang dikibarkan pasien untuk menyatakan bahwa mereka menyerah.

Dokter Song langsung berbalik menghadap Kyuhyun, merasa memperoleh anggota tim baru untuk membujuk Han Sera untuk membatalkan niat gilanya. “Bisakah kau bicara pada isterimu? Dia baru saja minta agar aku tidak melakukan apa pun jika dia anfal lagi.”

“Pria itu bukan suamiku, dokter.” Balas Sera masih dengan nada kesal. “Dan dia tidak akan membantumu untuk merubah pikiranku, ini keputusanku dan keputusanku sudah bulat!”

“Kau akan membutuhkan seorang pengacara yang sama gilanya denganmu kalau kau mau menandatangani formulir itu, goodluck finding one!” Bentak dokter Song.

“Aku sudah punya pengacara, dia berdiri di hadapanmu!” Sera menunjuk pada Kyuhyun. “Kyuhyun-a, tolong buatkan perjanjian dan formulir DNR, lalu berikan itu pada dokter Song setelah aku menandatanganinya.”

Kyuhyun melangkah mendekati dokter Song sambil mencoba menahan luapan amarahnya sendiri pada Sera. “Aku akan bicara padanya, dokter. Tenang saja, aku pun tidak sudi menjadi pengacara wanita gila ini.”

Dokter Song melirik Sera dengan pandangan kesal sebelum akhirnya ia keluar dari kamar rawat Sera, meninggakan kedua sahabat itu sendirian.

Kyuhyun memandang Sera dengan tatapan tidak percaya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sera akhir-akhir ini? Sejak ia tersadar dari koma, wanita itu semakin kehilangan napsu makan, ia tidak lagi membaca buku yang Kyuhyun bawakan, ia menolak menonton film, kalau diajak mengobrol tanggapannya datar dan ia lebih sering memandang kosong ke sudut ruangan di kamarnya.

“Kalau kau tidak mau menjadi pengacaraku, aku bisa mencari pengacara lain.” Ancam Sera.

“APA YANG KAU PIKIRKAN, HAH?!” Kyuhyun meledak. “KUPIKIR KITA BERJUANG MELAWAN PENYAKIT INI BERSAMA, KUKIRA MISI KITA ADALAH MENYEMBUHKANMU. LALU APA-APAAN DENGAN FORMULIR DNR ITU?!”

“Aku lelah, Kyu.” Jawab Sera lirih.

“SERA! KAU SUDAH SANGAT DEKAT!”

“Aku tidak mau, Kyu. Aku bosan terikat di ranjang ini, aku bosan harus didampingi terus-terusan, aku muak dengan bunyi mesin di sampingku.” Lanjut Sera dengan suara parau.

“Kau hanya perlu menunggu sedikit lagi, Sera-ya.” Kyuhyun melunak, mencoba mempersuasi semangat Sera kembali.

Sera menatap nanar pada pria itu. “Kau tahu apa yang baru ditawarkan dokter Song untukku? Katanya aku akan punya kemungkinan hidup lebih lama sementara menunggu donor jika aku menggunakan sebuah perangkat portable khusus untuk jantungku. Alat itu akan ditanam di jantungku, Kyu, dan kabelnya akan menjulur keluar dari rongga perut untuk disambungkan ke baterai.”

Kyuhyun mendengarkan penjelasan Sera dengan ekspresi bingung.

“Aku tidak mau menjadi cyborg, menggantungkan diri pada mesin yang akan memompa ventrikel kiriku secara otomatis namun di saat yang bersamaan aku juga harus mengisi ulang baterainya seperti kau mengisi baterai ponselmu.” Sera mulai terisak kembali. “Aku tidak mau hidupku didikte mesin.”

“Tapi Sera, jika alat itu bisa memberi waktu lebih lama untukmu…”

“Kemarilah, pegang tanganku.” Sera mengulurkan tangannya untuk digenggam Kyuhyun.

Pria itu mendekat untuk melakukan apa yang Sera minta.

“Dingin bukan? Aku tidak ingat kapan terakhir kali tubuhku memiliki suhu normal. Karena peredaran darahku tidak lancar dan mesin LVAD juga tidak akan memperbaiki masalah ini. Tapi bukankah aneh menurutmu jika aku tetap hidup dan bernapas, padahal tubuhku sudah tidak hangat lagi?” Suara Sera meninggi dan mulai tercekat. “Aku lelah, Kyu. Aku sungguh-sungguh ingin menyerah.” Wanita itu tidak mengerti dirinya sendiri. Setahun yang lalu ia melakukan segala cara untuk tetap hidup, tapi kali ini ia benar-benar ingin menyudahi penderitaannya saja.

“Aku paham maksudmu. Tapi alat ini akan membantumu, Sera. Berkorbanlah sedikit lagi demi kesembuhanmu. Masih banyak hal yang ingin kau lakukan dalam hidupmu, bukan?” Ia duduk di tepi ranjang Sera sambil membelai punggung wanita itu lembut.

“Jadi kau sungguh-sungguh menolak menjadi pengacaraku?” Sera menatap mata Kyuhyun. Hati pria itu mencelos karena menyadari bahwa tatapan kosong nan sayu di mata Sera telah menjadi bukti kepasrahannya.

“Tidak.” Kyuhyun menghapus air mata di wajah Sera.

“Kau punya kenalan pengacara lain?” Sera masih tidak mau kalah.

Pria itu menarik napas dalam, ingin rasanya ia menumpahkan amarah atas sikap Sera yang masih tetap keras kepala, tapi di sisi lain Kyuhyun pun sadar bahwa mental wanita itu sudah cukup terguncang tanpa perlu diperburuk dengan ucapan pedasnya. “Tidak, Sera. Kalau pun ada, aku tidak akan mengenalkannya padamu.”

“Aku bisa mencari sendiri nanti.” Bisiknya pasrah.

“Sera, selama kita berteman, aku tidak pernah memohon apa pun padamu, kan?” Suara pria itu menjadi parau karena tangis yang ditahannya.

Sera mengangguk.

“Bolehkah aku meminta satu hal padamu hari ini, Sera-ya? Kumohon jangan tanda tangani formulir DNR dengan pengacara mana pun dan kumohon lakukanlah operasi yang disarankan doktermu.”

“Tapi Kyu…”

“Kumohon, lakukan ini untukku.”

“LALU APA YANG KAU HARAPKAN DARIKU, HAH? UNTUK APA AKU SEMBUH, KYU? AKU INI SUDAH HANCUR SECARA HARAFIAH. AKU SEMBUH LANTAS APA? AKU BAHKAN TIDAK TAHU HARUS MELAKUKAN APA DENGAN HIDUPKU SETELAH INI. AKU TIDAK TAHU HARUS PERGI KE MANA, AKU TERSESAT DAN AKU BENAR-BENAR TIDAK BISA MELIHAT PROSEPEK KESEMBUHAN—“

“Kau bisa tinggal bersamaku setelah ini. Kita akan mencari kegiatan yang sempurna untuk kau lakukan, kau bahkan bisa keliling dunia kalau kau mau, terdengar menyenangkan bukan? Jika kau merasa tersesat sekarang maka biarkan aku menuntunmu, Sera. Biarkan aku berdiri di sisimu.”

“Kyu, kau tahu persis kan bahwa aku tidak bisa memberimu apa-apa.” Air matanya semakin deras. “Jangan bohong padaku dan bilang bahwa kau tidak mengharapkan apa-apa dari kedekatan kita yang baru. Mungkin kau masih memiliki sisa-sisa perasaanmu untukku, tapi Kyu, aku benar-benar malu untuk berdampingan denganmu…”

“Han Sera…”

“Apa kau pikir aku masih Sera cantik yang dulu kau kenal?” Ia menunjuk pada wajahnya sendiri. “Bukan Kyu. Aku bukan gadis yang kau kagumi dulu. Bahkan jika aku melepas seluruh pakaian yang kukenakan di hadapanmu, bukan lagi tubuh sexy Sera yang akan kau lihat. Tubuhku sudah penuh dengan luka operasi, Kyu. Aku bukan gadis yang kau kagumi dulu dan aku benci dengan fakta itu.” Sera membeberkan kekhawatirannya yang terdalam. Patah hati akibat bercerai memang berat, tapi patah hati sambil menatap cermin dan sadar bahwa tubuhnya sudah tidak lagi indah seperti dulu benar-benar sulit untuk diterima Sera.

Kyuhyun tertegun di tempatnya, ia tidak pernah menduga Sera justru memikirkan tentang hubungan mereka sampai ke tahap itu. Saat ini Kyuhyun hanya fokus untuk membuat gadis kesayangannya sembuh dan ia tidak berharap lebih tentang masa depan mereka bersama. Yang membuatnya sedih adalah rasa percaya diri Sera yang benar-benar sudah hilang, padahal di mata Kyuhyun wanita itu tetap nampak bagai bidadari khayangan.

“Aku tahu masalah itu dan aku tidak berharap lebih jauh dari hubungan kita, setidaknya untuk saat ini.” Jelas Kyuhyun. “Aku hanya ingin kau tetap bernapas, aku ingin kau sembuh, aku ingin kau ceria kembali.” Kyuhyun menarik tubuh Sera dan memeluknya erat. “Aku sayang padamu sebagai satu konsep yang utuh, bukan hanya karena parasmu, atau indahnya tubuhmu semata. Aku jatuh cinta pada hatimu, Sera. Selama kau tetap benapas, maka hatimu akan terus sama. Maaf jika aku egois sekarang, tapi kumohon lakukanlah ini untukku. Jangan tinggalkan aku sekarang, beri aku kesempatan, Han Sera.” Kyuhyun mulai ikut terisak.

“Hanya Tuhan yang tahu berapa lama aku harus menunggu, Kyu. Aku benci terjebak dalam rumah sakit ini. Aku mau keluar dan hidup seperti manusia normal yang bebas melakukan aktifitas apa pun.” Rengeknya dalam pelukan Kyuhyun.

“Aku tahu.” Pria itu menenggelamkan wajah di antara rambut panjang Sera sambil terus membelai punggungnya. “Tadi kau bilang perangkat ini portable, kan? Bukankah itu artinya kau bisa bergerak lebih bebas?”

“Tapi…” Sera mengangkat wajahnya untuk memandang Kyuhyun.

“Demi Tuhan Han Sera, kalau kau masih terus mempertaruhkan keberuntungan hidupmu, aku benar-benar akan membencimu selamanya!” Ancam Kyuhyun dengan nada marah.

“Kau akan membenciku karena aku sekarat?” Cicit Sera sambil menangis lebih keras. Tega sekali Kyuhyun jika ia membencinya karena kondisi yang di luar kuasanya.

“Aku membencimu karena kau membuatku jatuh cinta padamu, untuk kedua kalinya. Dan aku akan membencimu karena tidak memberikanku kesempatan untuk mendampingimu.” Air mata pria itu terjun bebas di kedua pipinya. “Lakukanlah ini untukku! Jika kau tidak bisa menemukan satu alsan pun untuk hidup, maka hiduplah untukku! Beri aku kesempatan Han Sera!” Tangis Kyuhyun pecah, pria itu sudah tidak peduli lagi akan harga dirinya saat ia mulai meraung pilu.

Mata Sera terbelalak. Ia belum pernah melihat sahabatnya menangis histeris seperti ini, belum pernah dalam sejarah mereka berteman Kyuhyun menangis sejadi-jadinya sambil terus meminta satu hal yang spesifik dari Sera. Sera terenyuh, karena pria di hadapannya masih tetap memiliki hati yang telah Sera sayangi sejak lama.

“Kyu… jangan menangis.” Sera menghapus air mata pria itu. “Kumohon, berhenti menangis, kau membuatku ikut sedih, Kyu…”

Kyuhyun menggenggam tangan Sera lalu mengecup buku jari Sera dengan protektif. “Aku tidak peduli jika tanganmu dingin, atau sebanyak apa pun luka di tubuhmu, atau berapa tahun kita harus melakukan ini sampai kau sembuh, aku hanya ingin kau tetap bernapas Sera. Maafkan keegoisanku, tapi kumohon, jangan menyerah sekarang.”

Sera menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun yang masih terguncang. Benarkah cinta yang dimiliki pria ini sebesar itu? Bahkan saat Sera benar-benar sudah tidak memiliki nilai lebih apa pun sebagai wanita, benarkah Kyuhyun rela menerima seluruh kecacatan yang ada pada tubuh Sera sekarang? Bagaimana mungkin pria ini bisa mencintainya setulus ini, sedangkan Sera masih terombang-ambing dalam duka perceraiannya.

“Kumohon, Sera.” Kyuhyun mengeratkan pelukannya di tubuh ringkih wanita itu.

“Berhentilah menangis, Kyuhyun-a. Aku tidak pernah menyangka bahwa melihatmu menangis ternyata sangat menyakitkan.” Sera mengusap tangan Kyuhyun yang tadi menggenggamnya.

Please…”

Sera menarik napas dalam. Memang ia lelah dan ia sudah kehilangan seluruh keinginan hidupnya. Tapi jika keberadaannya bisa menghapus duka pria ini, jika napasnya masih bisa menjadi secercah kebahagiaan bagi satu orang saja—yaitu sahabatnya—maka Sera mungkin memang harus berjuang lebih keras.

“Arraseo, aku tidak akan meminta formulir DNR itu dan aku akan setuju dengan prosedur operasi LVAD yang masih terdengar horror di telingaku.” Sera menepuk-nepuk punggung Kyuhyun untuk menenangkannya. “Sekarang berhentilah menangis, Kyuhyun-a. Aish, kau menangis seperti anak kecil sekarang, kumohon berhentilah. Aku mulai khawatir sekarang.” Sera melingkarkan lengannya di seputar tubuh Kyuhyun untuk memeluknya erat.

“Kau janji?” Rengek Kyuhyun manja.

Sera mengaitkan kelingking mereka. “Asal kau janji dua hal padaku.”

“Yaitu?”

“Pertama, berhentilah menangis. Aku tidak suka melihat pria sehebat dirimu menangis pilu karena kebodohanku.” Sera mengusap air mata Kyuhyun lembut. “Kedua, kau harus mengajakku keluar dari tempat ini, lalu membelikanku makanan enak yang berlemak setelah alat portable itu dipasang!”

Kyuhyun mendengus geli. “Jangan mempertaruhkan keberuntunganmu sejauh itu, Sera.”

“Hamburger dan French fries, ne? Aku rindu sekali makan daging berlemak, Kyu. Please…” Sera menyengir lebar sambil mengedip-ngedipkan matanya untuk membujuk Kyuhyun. “Langgarlah peraturan sekali-sekali.”

“Kita lihat nanti masalah burger itu.” Kyuhyun menempelkan ibu jari mereka sementara kelingkingnya masih bertaut. “Tapi kau juga harus janji untuk melakukan usaha terbaikmu.”

Sera mengangguk pelan.

Pria itu kembali menarik Sera ke dalam pelukannya, dalam hati bersyukur karena wanita itu mesih memiliki sedikit semangat juang yang dibutuhkannya sekarang. Cho Kyuhyun tidak akan rela jika Sera pergi tanpa ada perjuangan apa pun dari pihaknya. Tidak sekarang. Tidak saat mereka kembali menjadi diri mereka yang dulu. Kali ini Kyuhyun bersumpah akan berhenti menjadi pecundang dan ia akan memperjuangkan Sera dalam hidupnya.

 

*

 

Kyuhyun sibuk merapikan tas kerja serta tas besar untuk menginap saat sekertaris kantor mengetuk ruang kerjanya. Pria itu melirik lagi pada arlojinya, ini jam 5 sore dan ia harus langsung pulang karena malam ini Han Sera akan melakukan operasi besar pemasangan LVAD pada jantungnya. Mudah-mudahan saja sekertarisnya itu tidak berniat memberikan kasus baru, karena Kyuhyun sudah janji pada Sera agar datang tepat waktu untuk mengantarkan wanita itu ke ruang operasi nanti.

“Selamat sore, pengacara Cho. Aku hanya mau memberikan surat-suratmu yang sudah menumpuk di kotak surat depan. Kau belum mengambil suratmu seminggu ini.” Wanita itu masuk untuk meletakkan tumpukan surat di meja Kyuhyun.

“Ah! Maafkan aku, aku terlalu sibuk mengurus hal lain akhir-akhir ini. Terima kasih.” Ia mengambil tumpukan surat itu lalu berjalan keluar. “Aku akan membaca surat-surat ini di dalam mobil saja nanti. Aku pulang seakrang!” Ujarnya tanpa berbasa-basi.

Kyuhyun melangkah cepat menuju parkiran mobil lalu segera menyalakan mesin, selama menunggu mesinnya panas ia mulai menilik satu-per-satu surat yang datang untuknya. Kebanyakan yang diterima adalah spam, iklan tentang restoran yang baru buka, laporan keuangan bulanan, dan surat sejenis yang tidak penting. Namun satu surat menarik perhatiannya, sebuah amplop biru gelap dengan tinta emas mengukir di permukaannya.

Kyuhyun menaruh sisa suratnya pada kursi penumpang dan segera membuka amplop yang paling beda sendiri itu. Rahang pria itu langsung mengeras saat membaca goresan tinta emas yang menorehkan nama seseorang mantan kliennya.

“Undangan pernikahan Ok Taecyeon dan Im Yoona?!” Ia membaca judul undangan keras-keras. “Ya! Orang ini benar-benar! Tinta di surat cerainya saja belum kering, lalu ia sudah mau menikah lagi?! Yang benar saja! Bollocks!” Ia terlalu kesal membaca undangan itu hingga Kyuhyun melempar kertas di tangannya asal ke bagian belakang mobil.

Dengan emosi, pria itu memasukkan gigi pada persneling dan mulai menyetir ke arah rumah sakit—sambil terus bermonolog mengutuk Taecyeon.

“Pria tidak tahu diuntung! Fakta ia memperlakukan Sera dengan dingin pasca kegugurannya saja sudah sadis, tapi tidak… Ok Taecyeon pasti bisa membuat keadaan lebih buruk! Mudah sekali nampaknya buat pria kekar itu untuk membuang mantan isterinya lalu segera menemukan isteri baru. Aish jinjja, Han Sera!! Kau mikir apa sih saat setuju menikahinya?! Dasar gadis ceroboh!” Kyuhyun memukul-mukul setirnya dengan kesal.

“Kalau saja waktu itu kau tidak bertemu dengan pria itu.” Kyuhyun melanjutkan monolognya. “Aku pasti bisa membuat hidupmu lebih baik, Sera-ya. Aku pasti akan menjadi pria yang memprioritaskan kebahagiaanmu.”

Kyuhyun terlalu marah untuk Sera. Ia tidak percaya bahwa Taecyeon akan bergerak secepat ini pasca perceraian mereka. Ia juga kesal karena dulu berpihak seribu persen pada Taecyeon, karena ia percaya bahwa Sera lah yang pantas dihukum dari perceraian mereka—dan ia semakin kesal karena mengingat kekejamannya sendiri untuk menghancurkan hidup Sera saat itu.

“Pria itu bahkan berhasil meyakinkanku bahwa ia adalah ‘korban’ Sera!” Kyuhyun memukul kepalanya frustrasi. “Bodoh sekali kau Cho Kyuhyun! Bagaimana mungkin kau tidak menggali fakta lebih seksama dan hanya bergantung pada dendam! Aish Han Sera! Kau juga sama bodohnya! Bisa-bisanya jatuh cinta pada pria itu, sekarang ia hidup bahagia dan lihatlah seperti apa kau menjalani hidupmu sekarang.” Kyuhyun menepuk setirnya lagi. “Bagaimana mungkin kau memandang pria sepertinya, tapi menghiraukan pria sepertiku yang terus sabar berjalan menjadi bayanganmu.”

Pria itu lanjut mengoceh dan marah-marah sampai tiba di rumah sakit. Dalam perjalanannya, Cho Kyuhyun sudah membuat keputusan bulat—Han Sera tidak boleh tahu masalah pernikahan Taecyeon. Sudah cukup banyak masalah yang harus dihadapai wanita itu tanpa harus diingatkan tentang mantan suaminya yang siap menikah lagi.

Setelah memarkirkan mobilnya, Kyuhyun segera pergi ke kamar Sera. Ia hanya tidak melihat Sera sejak makan siang tadi, tapi rasa rindunya terasa sudah memuncak untuk melihat wanita itu.

 

tumblr_o3krmohtpf1vn6a3qo1_250

Gambar milik Park Sora by Stylenanda

“Hai! Kukira kau akan terlambat.” Sambut Sera dengan senyum tipisnya saat Kyuhyun masuk ke kamarnya.

Pria itu langsung meletakkan tas besarnya di sofa tempatnya biasa tidur saat menginap menjaga Sera. “Aku juga takut terlambat sebenarnya. Tapi aku pasti hadir, seperti janjiku, kita akan melalui ini bersama-sama.” Kyuhyun menarik kursi untuk duduk di samping ranjang Sera. “Bagaimana kabarmu sekarang?”

“Sejujurnya?”

“Ng, sejujurnya.”

Sera bersila di atas ranjangnya sambil bertopang dagu. “Aku takut. Sudah lama sekali mereka tidak membuka rongga dadaku.”

“Ini operasi besar bukan?”

Sera mengangguk. “Mereka akan membuka tulang dadaku, tidak terlalu sulit sekarang karena tulang itu sudah pernah dioperasi sebelumnya, mereka hanya perlu mencabut pin yang mereka tanam untuk menyatukan dua sisi tulangku. Selanjutnya jantungku akan terkspos dan mereka akan melakukan sulap ala dokter hebat untuk memasang alat itu di jantungku.” Sera menunjuk pada tulang dadanya sambil menjelaskan prosedur yang akan dilalui pada Kyuhyun. “Yang membuatku takut sebenarnya kabel yang akan menjuntai keluar dari rongga perutku, seram sekali rasanya membayangkan ada kabel yang keluar dari situ, lalu kabel itu juga terhubung pada perangkat baterai yang akan menentukan hidupku selamanya.”

“Tidak selamanya, Sera. Hanya sampai kau mendapat donor.” Kyuhyun mencubit pipi pucat Sera, mencoba menghibur wanita itu.

“Itu menjijikkan, Kyu.” Bisiknya lirih.

“Ya! Apa yang menjijikkan? Jangan ucapkan kata-kata seperti itu! Ini keren, Sera. Benda itu akan membantu memperpanjang harapan hidupmu, dan itu menakjubkan. Arraseo?” Kyuhyun mengangakat dagu Sera dengan jemarinya, memaksa wanita itu menatap matanya. “Tidak ada yang menjijikkan dari proses ini.”

“Aku juga tidak bisa mandi dengan benar setelah ini.” Sera berjengit.

“Kau akan tetap terlihat cantik.” Ujar Kyuhyun tulus.

Pintu kamar Sera diketuk dan segerombolan dokter segera masuk ke dalam untuk memjelaskan prosedur operasi. Dokter Kim mengenalkan Sera dan Kyuhyun pada tim dokter yang akan bertanggung jawab selama operasi berlangsung sekaligus menjelaskan tahapan prosedur yang akan dilakukan.

Sera memeluk Kyuhyun sekali lagi sebelum ia diantar menuju ruang operasi, mencari sisa-sisa kekuatan mental yang sudah lama hilang dari dirinya.

“Aku akan menunggu di luar sini sampai kau selesai.” Kyuhyun memberikan semangat untuk terakhir kalinya sebelum wanita itu digiring masuk ke dalam ruang operasi.

Sera mengisyaratkan pada suster yang mendorong dipannya untuk berhenti sejenak.  Tidak ada yang tahu bagaimana hasil operasi ini nanti, bisa jadi kali ini adalah kali terakhir Sera bisa melihat Kyuhyun dan berbincang dengannya.

“Kyu… kemarilah.” Ia menarik tangan Kyuhyun yang masih menggenggamnya, meminta pria itu untuk menundukkan tubuhnya agar ia bisa bicara pelan-pelan.

Kyuhyun membungkuk, sebelah tangannya menggenggam tangan Sera dan sebelahnya digunakan untuk membelai rambut wanita itu. Ia tidak perlu kata-kata maupun penjelasan, dari sorot matanya saja Kyuhyun tahu wanita itu sedang menjerit ketakutan di dalam hati.

“Kalau nanti aku tidak–”

Kyuhyun mengecup kening Sera lembut. “Tidak ada kata-kata perpisahan. Aku akan menunggu di sini sampai kau selesai, arraseo?”

Mata Sera membulat kaget, dari mana Cho Kyuhyun memperoleh keberanian untuk mengecupnya? “Tapi…”

“Kalau kau masih tetap bawel, aku akan menciummu lagi.” Godanya dengan suara tercekat.

Dari suara parau pria itu, Sera langsung paham bahwa Kyuhyun pun sama takut dan khawatir seperti dirinya. Memang mereka seperti dua orang bodoh yang sedang melakukan penyangkalan besar-besaran akan tingginya resiko kegagalan operasi Sera, keduanya ingin percaya bahwa proses ini akan cepat selesai dan Sera akan lebih sehat dari sebelumnya. Maka lebih baik Sera tetap konsisten dengan penyangkalan mereka.

“Sampai jumpa nanti, Kyu. Jangan lupa burger dan French fries yang kuminta.” Sera meremas tangan Kyuhyun yang sama dingin dengan tangannya.

Kyuhyun mengangguk. “Ingat untuk tetap bertahan, oke? Jika ada sinar putih menuntunmu ke surga, hindari sinar itu! Kau harus kembali padaku, ingat itu.” Kyuhyun mengacak rambut Sera sebelum merelakan wanita itu dibawa masuk ke balik pintu ruang operasi.

“Aku pasti akan kembali demi burger berlemak itu.” Balas Sera sambil mengedip jahil sembali melambai pada sahabatnya.

 

*

 

Di Basement apartemen lamanya, Taecyeon sedang menghadapi perang batin yang lumayan sengit. Pria itu tidak bisa menahan keinginannya untuk bertemu Sera, apalagi dengan beberapa hal ajaib yang terjadi pada hidupnya belakangan ini. Mereka harus bicara, Taecyeon harus menyampaikan perihal pertunangannya ini pada mantan isterinya. Ia harus menjelaskan latar belakang dari semua kerumitan ini agar Sera tidak salah paham dan mulai menyakiti dirinya sendiri dengan pikiran-pikiran yang memilukan.

Jika Taecyeon akan menikah lagi, maka Han Sera harus mendengar berita ini dari mulutnya sendiri.

Sudah satu jam dihabiskan pria itu itu mondar-mandir di basement dan akhirnya Taecyeon memutuskan untuk naik ke lantai apartemen mereka. Terserah jika nanti Sera akan mengamuk atau melempar barang apa pun ke arahnya, bahkan Taecyeon rela berlutut jika itu bisa membuat Sera mengampuni kekejiannya. Pria itu sudah tidak sanggup menanggung rasa bersalah pada wanita yang dicintainya.

Di depan pintu apartemen mereka, Taecyeon menarik napas dalam sebelum membunyikan bel—tidak ada yang menjawab.

Ia kembali menekan bel untuk kedua, ketiga dan kesekian kalinya, namun tetap tidak ada tanggapan dari dalam.

Pria itu mencoba keberuntungannya, dengan lancang ia mencoba memasukkan rangkaian password lama yang masih diingatnya, lalu pintu terbuka. Hatinya mencelos, bahkan setelah perceraian mereka, Han Sera masih tetap menggunakan tanggal pernikahan mereka sebagai password apartemennya.

Ruangan itu gelap dan kosong. Mungkin Han Sera sedang keluar, pikir Taecyeon, tapi pria itu melihat arlojinnya dan menyimpulkan bahwa ini sudah terlalu larut untuk Sera berpergian. Pria itu melangkah masuk ke dalam untuk mencari Sera sambil berusaha tidak menimbulkan suara yang takutnya akan mengejutkan wanita itu.

Apartemen itu tidak berubah sama sekali, tatanannya tetap sama, perabot yang dipajang juga tetap sama, bahkan seingat Taecyeon seperti inilah kondisi terakhir apartemen mereka sebelum ia angkat kaki dari sana—lalu pria itu mulai menyadari kejanggalan yang ada.

Ia membuka pintu kamar utama tanpa permisi, menyalakan lampu dan segera memeriksa isi lemari besar yang ada di dalamnya. Seketika itu juga ia langsung berlutut lemas.

Seluruh pakaian Han Sera tidak ada. Wanita itu sungguh angkat kaki juga dari apartemen ini. Saat ia bilang akan pindah dari tempat ini, Han Sera tidak bercanda dan lagi-lagi Taecyeon dibuat kebingungan.

Dengan egoisnya, Taecyeon selalu mengira ia bisa menghampiri Han Sera kapan pun ia membutuhkannya, karena pria itu tahu di mana ia tinggal. Tapi sekarang? Apartemen yang kosong ini sudah cukup membuktikan bahwa sekali lagi, Han Sera telah pergi dari jangkauannya.

 

*

 

Sera mengerjap pelan, menyesuaian matanya dengan kondisi cahaya di ruang tempatnya berbaring sekarang. Wanita itu mencoba menarik napas dalam dan terkejut karena dadanya tidak sesesak sebelumnya. Apa operasi sudah selesai? Sukseskah? Tak lama kemudian ia langsung tersedak dengan selang yang tertanam dalam tenggorokannya yang membuka jalan napas Sera—menarik perhatian dari dokter magang yang menjaganya.

“Dia sudah sadar dan bisa bernapas sendiri, lepaskan selang itu dari tenggorokkannya.” Ujar satu dokter lain di ruangan itu.

Dokter magang pertama mendekat pada Sera untuk menarik selang itu perlahan dari tenggorokannya. “Han Sera-ssi, aku dokter magang yang menjagamu. Aku baru memanggil dokter Song dan dokter Kim ke sini. Operasinya sukses! Selamat!” Ucapnya dengan senyuman menyemangati.

Sera mengedip sekali untuk berterima kasih.

Tidak lama kemudian, dua dokter favoritnya muncul di ruang inkubasi Sera untuk memeriksa kondisi vital serta indikator-indikator yang masih tersambung pada tubuh wanita itu.

“Sera-ssi, kau bisa mendengar kami?” Tanya dokter Kim.

Sera mengangguk lemah, masih terlalu lemah untuk bicara.

“Kau wanita yang tangguh!” Dokter Song meraih tangan Sera dengan mata berkaca-kaca. “Operasi berjalan lancar, kau akan merasa jauh lebih baik dari sebelumnya nanti.”

“Sera-ssi, perangkat itu sudah tertanam di ventrikel kirimu sekarang. Tapi kami perlu tahu, apakah kau bisa bernapas lebih lancar sekarang?” Dokter Kim menempelkan stethoscope pada dada Sera sambil memantau denyut nadinya.

Sera mengangguk sambil memaksakan sebuah senyum di wajahnya. Memang senyumnya terlihat lemah sekali, tapi kedua dokternya paham bahwa operasi penanaman LVAD itu sukses.

Well, proses pemulihan tidak akan memakan waktu terlalu lama. Kau akan segera bisa melakukan kegiatan sehari-hari dengan normal sekarang.” Dokter Kim tersenyum balik padanya. “Kami akan memanggil Kyuhyun-ssi jika kau mau. Pria itu sudah menunggu berita baik dari kami selama delapan jam.”

Delapan jam? Selama itukah Sera dibius tadi? Apa Kyuhyun benar-benar menunggunya di luar ruang operasi selama itu? Pasti pria itu lelah sekali sekarang, belum lagi tingkat panik yang pasti menyerangnya selama Sera dioperasi tadi. Wanita itu bisa membayangkan wajah cemas Kyuhyun di luar sana, cemas karena tidak tahu apakah operasi Sera berhasil atau tidak.

“Kau mau menemuinya?” Tanya dokter Song

Sera mengangguk sekali lagi.

Tak lama kemudian Sera melihat sosok pria itu dari ekor matanya. Semakin dekat pria itu melangkah, semakin jelas bagi Sera bahwa pria itu sedang menangis sambil menangkupkan tangan di depan mulutnya untuk menyembunyikan suaranya. Pengalaman ini terlalu mengguncang hidup Kyuhyun. Ia takut, ia benar-benar ketakutan delapan jam tadi selama menanti kabar tentang wanita itu, ia takut Sera tidak akan membuka matanya lagi.

Semakin dekat langkah Kyuhyun dari ranjang Sera, semakin deras juga air mata yang tumpah dari pelupuknya. Kondisi wanita itu sekarang benar-benar miris. Kyuhyun tidak bisa menghitung berapa banyak kabel-kabel yang terhubung pada tubuh Sera, selang infus yang menggantung di sampingnya, bunyi mengerikan dari mesin-mesin besar yang memantau berbagai kerja vital organ di tubuh Sera. Saat ini shabatnya itu lebih terlihat seperti monster Frankenstein dan Kyuhyun sungguh tidak tega melihat tubuh kecil Sera harus melalui serangkaian prosedur yang menyakitkan seperti ini.

Sera mengangkat lengannya pelan, memerintahkan Kyuhyun untuk mendekat dan duduk di samping ranjangnya. Wanita itu sadar bahwa tubuhnya nyaris terekspos seluruhnya sekarang dan hanya tertutup oleh daster rumah sakit pada bagian yang privat, tapi ia tidak peduli. Sahabatnya terlihat sangat terguncang dan ia harus menenangkan Kyuhyun.

“Sera, mianhae…” Bisik Kyuhyun sambil terisak. “Aku tidak seharusnya menangis seperti ini, maafkah aku.” Ia menengadahkan kepalanya ke langit-langit ruang inkubasi Sera. Rasanya Kyuhyun rela jika posisi mereka ditukar saja, agar ia saja yang menanggung rasa sakit yang harus dihadapi Sera sekarang.

Sera menepuk sisi ranjangnya, mengangkat tangannya agar Kyuhyun menggenggamnya. Kyuhyun menurut untuk duduk dan meremas tangan Sera pelan.

“Terima kasih, Sera-ya. Terima kasih karena kau setuju melakukan ini.” Ia lanjut terisak. “Aku tahu kau pasti sedang sangat kesakitan sekarang dan kau melalui ini semua dengan tegar. Kau wanita tertangguh yang pernah kutemui.”

Sera meremas tangan Kyuhyun, dari sorot matanya ia bisa melihat bahwa pria ini sekarang sedang shock setelah melihat seperti apa wujud operasi besar seorang pasien jantung yang sesungguhnya.

“Aku janji, aku akan berjuang bersamamu melewati ini. Aku akan terus di sisimu. I’m not going anywhere, I promise, Sera-ya.”

Sera mencoba memberikan senyum terlebarnya untuk pria itu.

Rasa nyeri yang dirasakannya sekarang memang yang paling hebat diantara operasi-operasi sebelumnya. Meskipun dokter sudah memberi morfin dalam dosis banyak, Sera masih bisa merasakan beberapa lukanya menyengat pilu. Tapi nyatanya ia memang bisa bernapas lebih lancar sekarang, detak jantungnya tidak secepat biasanya dan bunyi stabil dari mesin indikator detak jantung di sampingnya memberitahu bahwa akhirnya jantung Sera bisa berdetak dengan tempo manusia normal.

 

*

 

“Menurutmu gaun ini bagaimana, oppa?” Yoona menghentak Taecyeon dari lamunannya.

Pria itu menengok sekedar untuk melihat gaun yang ditunjuk Yoona dengan setengah hati. “Kau terlihat cantik dalam gaun mana pun, Yoona-ssi.”

Kedua calon pengantin itu sedang sibuk mempersiapkan pernikahan mereka yang sudah di depan mata. Hari ini mereka pergi ke tempat mengepas gaun pernikahan sekaligus memutuskan gaun mana yang terbaik untuk memukau para tamu undangan nanti,

Semakin dekat mereka dengan tanggal pernikahan, semakin tidak antusias pula Taecyeon dengan acara itu. Benaknya masih dipenuhi dengan Han Sera semata. Ia tidak bisa kerja dengan benar, tidurnya tidak pernah nyenyak, bahkan sekarang ia tidak sanggup berlama-lama di samping Yoona.

Pria itu sudah menelpon orang kepercayaannya untuk mencari Sera, tapi seperti biasa, wanita itu terlalu cerdik dalam menghapus jejaknya. Taecyeon meminta orang kepercayaannya itu untuk mulai melacak dari kartu debit Sera yang digunakan untuk mengirim tunjangan bulanannya—yang ternyata memang digunakan wanita itu, tapi Sera menggambil uang dalam jumlah wajar sehingga tidak ada yang perlu dicurigai.

Dari kartu debit itu juga Taecyeon menyimpulkan bahwa wanita itu masih tinggal di Seoul, meskipun keberadaannya terlihat sangat acak karena tempat Sera mengambil uang tunjangannya juga berubah-ubah. Setidaknya Taecyeon lega karena Sera menggunakan tunjangannya dengan baik—paling tidak wanita itu tidak kelaparan sekarang.

“Oppa, jadi diantara ketiga gaun ini, mana yang sebaiknya kupakai?” Yoona bertanya lagi dengan nada antusias.

Perhatian Taecyeon teralihkan lagi pada gaun-gaun di samping calom mempelai wanitanya itu. Sejujurnya, ia tidak ingat sama sekali gaun yang sudah dicoba gadis itu—ia tidak peduli tepatnya. Gadis itu bisa mengenakan kaos dan jins saja ke pernikahan mereka dan Taecyeon yakin ia akan tetap terlihat cantik. Tapi demi menghindari perdebatan, Taecyeon harus memutar otaknya cepat.

“Aku suka yang terakhir.” Jawabnya asal dengan senyum dipaksakan.

“Jeongmal? Oke, aku akan mengambil gaun yang terakhir kalau begitu.” Ia menunjuk gaun yang dimaksud pada pegawai toko. “Oppa, apa kita bisa pergi makan siang bersama setelah ini?”

Pria itu mengecek arlojinya sambil mencari alasan untuk menghindar. “Aku harus kembali ke kantor, Yoona-ssi. Ada janji penting dengan klien dari luar negeri hari ini. Tapi aku akan mengantarmu ke rumah sakit tempatmu bekerja, oke?”

Yoona memanyunkan bibirnya manja, sudah seminggu ini kelakukan Taecyeon padanya berubah agak dingin. Apa pria ini mulai ragu dengan pernikahan mereka? Atau memang ia sibuk? Yoona tidak yakin, tapi karena gadis itu masih terlalu senang dengan pernikahan mereka yang segera datang, ia mencoba menyingkirkan segala prasangka yang bisa merusak suasana hatinya.

“Arraseo, bagaimana dengan makan malam?”

“Aku tidak janji.” Jawab Taecyeon singkat. “Maaf, banyak sekali yang harus kuurus sebelum kita menikah.”

Gadis itu mengangguk paham.

Taecyeon tidak sepenuhnya berbohong pada Yoona, ia memang punya janji rapat yang penting siang ini dengan detektif yang disewanya. Lagi-lagi Taecyeon menggunakan cara ini untuk melacak keberadaan wanita itu. Taecyeon tidak berniat mengganggu hidup Sera sekarang, ia hanya ingin tahu bahwa wanita itu hidup layak dan baik-baik saja—sekaligus ia harus mengungkapkan pengakuan dosanya yang akan segera menikah dalam kurun waktu singkat.

Detektif yang disewa Taecyeon mencatat seluruh fakta yang Taecyeon ketahui tentang Sera sekarang, gaya hidup wanita itu, tempat favoritnya untuk bersantai, kawan-kawannya, keluarganya, dan lain sabagainya. Pria itu sedikit terkejut setelah ia sadar bahwa sedikit sekali yang ia ketahui tentang Han Sera.

Saat mereka menikah, dunia memang serasa milik mereka berdua saja. Ia melarang Sera untuk kerja, ia menemani Sera dalam aktivitas hariannya, dan kalau boleh jujur memang jarang sekali Sera keluar rumah untuk bertemu kawan-kawannya. Selama menikah mungkin mereka hanya pernah pulang ke rumah orang tua Sera tiga kali, itu pun saat natal. Sepertinya hidup Sera benar-benar berpusat pada Taecyeon dan tanpa sadar, ia telah menjauhkan mantan isterinya itu dari kerabat yang dikenalnya.

“Aku sudah menelpon mantan isteriku itu berkali-kali, tapi sepertinya ia ganti nomor. Ini laporan keuangan dari kartu debit yang kuberikan untuk tunjangannya, seluruh lokasi terlihat normal dan acak. Tapi masih di dalam wilayah Seoul, jadi pasti ia tidak kembali ke rumah orang tuanya.” Taecyeon memberikan surat-surat laporan keuangan yang dikirim padanya.

“Kau benar, Taecyeon-ssi. Tapi ini lucu sekali, mana mungkin seseorang bisa menghilangkan jejak begitu saja. Aku akan memusatkan perhatianku pada kasus ini, mengawasi tempat-tempat di mana wanita ini menarik uang dan aku akan memperhatikan CCTV yang ada di sana untuk menilik lebih dalam.” Ujar pria yang disewa Taecyeon dengan percaya diri.

“Berikan aku kabar baik dalam dua minggu! Aku akan menikah dalam dua minggu dan sangat penting bagiku untuk bertemu dengan wanita ini sebelum itu.”

Detektif itu mengangguk sambil merapikan semua kertas di hadapannya. Ia baru saja akan memutar kenop pintu saat teringat satu lagi data penting yang bisa membantu mereka. “Ah, Taecyeon-ssi, apa laporan asuransi Han Sera masih dikirimkan ke alamatmu? Memang itu akan menjadi opsi terakhirku, tapi siapa tahu laporan itu bisa membantu.”

 

 

 

 

Advertisements

67 thoughts on “Piles of Regrets – 7 [Pleads]

  1. elfishyvil says:

    Lega banget setelah tau kalo sera sukses dalam operasinya…
    Semoga aja hubungan kyuhyun dan sera membaik dan mungkin bisa ke jenjang yg selanjutnya…
    Astaga.. apa harus ya taecyeon kasih tau sera kalo dia akan menikah lagi?
    Ckckcck… dasar…!!!
    Oiya, thor ini gak sad ending kan? Kalo sad ending pasti sedih banget ini..

    Liked by 1 person

  2. yoongdictasticgorjes says:

    Udahlah kalo mo nikah ya nikah ajh buknnya dia sendiri yg bilang untk gk brhubunhan lagi via telpon atw apapun itu tapi knpa skrng gencar bgt nyariin,, smoga ajh stlh ini hati sera bisa terbuka dan mrsakan mna pria yg benar2 mencintai dia dgn tulus,,

    Liked by 1 person

  3. Melsyana says:

    Akhirnya operasi pemasangan kabel di jantung sera berhasil juga dan sera benar” keras kepala. Harus kyu dulu yg benar” memohon agar sera berjuang dari penyakitnya dan mau dioperasi untuk menunggu sebelum pendonor jantungnya datang.
    Mudah”an aja taecyeon gak balikkan lagi dg sera, kan kasihan kyu yg benar” mencintai sera.

    Liked by 1 person

  4. Goldilovelocks says:

    Gatau udah seberapa banyak air mata yg tumpah baca cerita ini. Kisah Sera yang…. entah kenapa misfortune~ kalau aja gak ada Kyuhyun gimana nasib Sera sekarang? Aku pun ngebayangin dia yang jalan mondar-mandir tapi di tubuhnya ada mesin. Ya tuhan…. gak tega~ huhuhu haruskah? Dia bakalan sembuh kan kak? Sembuhin doong biar Kyuhyun punya kesempatan 😢😢😢

    Liked by 1 person

  5. KartikaApriya says:

    Proses 1 kesembuhan sera udah dijalanin tinggal tunggu operasi yg sesungguhnya dan sera sembuh😄😄
    Semoga hubungan kyuhyjn sera berjalan lancarrr….
    Klo taecyeon tau bakal gimna ya reaksinya??? Orangtuanya sera juga gimna klo tau kondisi anak mereka yg sesungguhnya gimna?? Semoga aja mereka nyesel klo tau kondisi sera sebenarnya

    Liked by 1 person

  6. Alea says:

    Berarti Sera udah sangat sering operasi ya kak? Sampai dia lelah dengan usaha dokter. Dan Cho Kyuhyun berhasil bikin Sera operasi. Taecyeon beneran mau nikah? Oh

    Liked by 1 person

  7. Dyana says:

    Ya ampuuun Sera semakin mengenaskan, dia harus hidup di bantu oleh alat seperti itu, tp seneng karena Kyuhyun ada bersamanya…
    Semoga Sera cepat dapat donor jantung biar dia bisa sehat lagi, dan biarlah Taecyeon gak bisa menemukannya dan hidup masing2 aja…

    Liked by 1 person

  8. Ddeulgi says:

    Nangis lagi nangis lagi. Ga enak banget jadi sera hidup ngandelin alat alat medis, untung ada kyuhyun yang support sera. Semga hati sera terbuka buat kyuhyun

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s