Piles of Regrets – 6 [Replaced]

 

 

15

*Gambar milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Short Chaptered, Romance, Sad

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

 

 

 

Taecyeon memeriksa penampilannya sekali lagi di cermin, membenarkan posisi kerah kemejanya yang kurang rapi sebelum ia pergi menjemput Yoona. Delapan minggu sudah mereka saling mengenal dan siang hari ini ia khusus mengambil cuti untuk melakukan kencan seharian penuh dengan wanita yang dicalonkan orang tuanya itu. Pria itu tidak mau terkesan menggebu-gebu untuk menjemput wanita itu ke kamar apartemennya, jadi ia hanya menunggu dengan sabar di lobi sembari membaca majalah bisnis yang menjadi langganannya.

Akal sehat pria itu meronta hebat dari aksi kencannya hari ini sembari terus-terusan meneriakkan bahwa yang dilakukannya hari ini sangatlah salah. Bagaimana mungkin pernikahan empat tahun lebih dengan Han Sera dilaluinya begitu saja dan ia sudah kembali berkencan dalam kurun waktu tiga bulan setelah perceraiannya selesai? Bahkan Taecyeon masih merindukan kehadiran Sera di sisinya sekarang, tapi di saat yang bersamaan tanpa sadar ia pun terpesona dengan Yoona.

Yoona cantik, tapi tidak berhenti di situ saja. Wanita itu anggun, ia baik hati dan sopan, pencapaian wanita itu luar biasa dan sangat mandiri—tapi ia bukan Sera. Sera wanita yang suka berbuat konyol, sementara Yoona sangat memperhatikan tata karma, Sera tidak mengenal rasa takut sedangkan Yoona sangat penuh perhitungan, Sera membuat Taecyeon jatuh cinta sejak pertama berkenalan sedangkan Yoona masih sampai pada batas menarik saja bagi pria itu. Namun telinga Taecyeon juga panas mendengar ocehan orang tuanya. Setiap pria itu menolak perjodohan, ibunya akan mulai nyerocos tentang efek buruk Sera dalam hidup Taecyeon, ibunya akan mulai mengatai Sera dengan kata-kata yang tidak pantas didengar dan pria itu memilih untuk setuju saja ketimbang gadis kesayangannya itu dicaci maki terus-terusan oleh keluarganya.

Sera. wanita itu benar-benar masih bertahta dalam hatinya. Wanita yang dulu dikira Taecyeon adalah gadis manis feminim yang ternyata sangat tomboy, gadis pemalu yang memiliki rasa penasaran tinggi, gadis yang membuktikan pada Taecyeon bahwa ‘cinta pada pandangan pertama’ memang ada dan pernah terjadi dalam hidupnya. Kalau menilik balik sekarang, Taecyeon mungkin akan mencemooh kelakuan spontannya yang gila saat melamar Sera seminggu setelah mengenalnya—dan ternyata gadis itu sama gilanya karena ia menerima lamaran Taecyeon. Sejak malam pertama mereka menjadi suami-isteri hingga malam terakhir mereka, Han Sera masih bisa membuat Taecyeon merasakan debaran yang sama untuknya layaknya perjumpaan pertama mereka.

Kadang pria itu merenung, mungkin keputusannya untuk bercerai terlalu gegabah. Karena ia pun paham bahwa ia turut andil dalam menciptakan suasana pernikahan yang kurang nyaman bagi Sera setelah wanita itu mengalami keguguran. Taecyeon selalu menyesali tingkah dingin dan kakunya yang dilakukan saat itu, terlebih menyesali karena ia tidak pernah punya nyali untuk menjelaskan pada Sera bahwa ia bersikap demikian bukan karena ia marah—namun karena rasa bersalahnya. Karena kalau malam itu ia tidak meminta Sera untuk memasak, pasti wanita itu tidak akan pergi belanja. Kalau ia tidak malas mencari parkir di dalam gedung yang aman, Sera tidak akan perlu melangkah di atas trotoar yang licin. Kalau saja ia tidak menghindari Sera terus-terusan setelah kegugurannya, mereka pasti tidak akan sampai di perpisahan ini.

Taecyeon tidak berani menatap mata Sera sejak saat itu karena ia selalu melihat kepedihan dalam bola mata coklat indah yang dimilikinya, Taecyeon pulang malam karena ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Sera yang sedang terpukul, kadang ia pulang mabuk karena ia mencoba mengobati luka hatinya sendiri—dan melupakan fakta bahwa wanita itu pasti lebih terluka darinya.

Pria itu menutup majalah di tangannya dengan gusar sambil menarik napas panjang. Kapan ia bisa berhenti memikirkan wanita itu? Ia sedang menunggu teman kencannya dan otaknya justru sibuk memikirkan mantan isterinya.

“Oppa, apa kau sudah menunggu lama.” Sapa Yoona dengan anggun, menghentakkan perhatian Taecyeon dari pikiriannya tentang Sera.

Taecyeon bangkit dari duduknya untuk menyambut Yoona sambil memperhatikan penampilan gadis itu. Ia menggunakan gaun berlengan panjang selutut bewarna putih yang dilengkapi dengan sepatu flat biru. Jelas siapa pun yang memandangnya akan berkata bahwa ia cantik—dan kalau Taecyeon tidak mengakuinya berarti pria itu hidup dalam penyangkalan. Namun faktanya, pria itu pernah menikah dengan gadis tercantik yang pernah ditemuinya dan tidak ada gadis lain yang bisa mengalahkan posisi itu.

“Aku baru tiba beberapa menit saja.” Sanggahnya sambil mengulurkan tangan untuk menggandeng Yoona.

“Oppa, aku punya berita baik.” Ujar Yoona dengan mata berbinar.

“Yaitu?”

“Aku diterima sebagai dokter magang di rumah sakit besar, departemen pediatrik. Aku senang sekali.” Terangnya dengan senyum lebar.

Taecyeon memasang wajah palsunya yang terbaik dan ikut pura-pura tertarik dengan topik yang diangkat Yoona. “Benarkah? Selamat! Apa sebaiknya kita merayakan hal itu dengan makan siang istimewa?”

“Ne!” Jawab Yoona senang. “Kalau memungkinkan, bisakah kita juga pergi melihat rumah sakit itu? Aku ingin melihat lantai pediatriknya.”

“Tentu, kita bisa melakukan itu.”

*

Han Sera sibuk membaca buku yang dibawakan Kyuhyun untuknya. Kurang lebih seperti ini kegiatan hariannya sekarang. Terbangun di pagi hari untuk menunggu pemeriksaan rutin, membuang waktunya melakukan hal yang tidak jelas sampai jam makan siang tiba, lalu menunggu pemeriksaan rutin malam sebelum ia pergi tidur. Wanita yang dulu menjalani hidupnya dengan berbagai kegiatan itu pastinya merasa bosan, ia sudah mencoba beberapa aktivitas yang tidak melibatkan kelelahan fisik tapi tetap saja, ide merajut benar-benar tidak bisa diterima olehnya.

Tapi ia bersyukur.

Karena setidaknya sekarang Sera selalu menanti datangnya akhir pekan. Biasanya Kyuhyun akan datang dengan tas besarnya untuk menginap di tempat Sera, menemani akhir pekannya dengan obrolan yang membuat keduanya berasa kembali pada masa kuliah mereka dulu. Pria itu juga mencoba untuk selalu datang pada jam makan siang untuk menemani Sera makan. Sayangnya, hari ini Kyuhyun menjadwalkan rapat penting dengan kliennya sehingga Sera terpaksa harus makan sendiri di dalam kamar rawatnya.

Bagi wanita itu, kehadiran Kyuhyun terasa seperti anugrah untuk melawan rasa takut dan kesepiannya. Dari sekian banyak cobaan yang ia hadapi dalam hidupnya, Tuhan masih cukup berbelas kasihan dengan cara mengirimkan sahabatnya kembali padanya.

Memang kehadiran Kyuhyun tidak bisa menggantikan posisi Taecyeon dalam hati Sera sekarang—belum. Tapi mereka tidak tergesa-gesa untuk mencapai progress apa pun. Keduanya hanya benar-benar menikmati waktu yang bisa mereka lalui bersama, berbagi kisah yang terjadi dalam tahun-tahun berpisahnya mereka, menonton film-film yang Kyuhyun bawakan untuk menghabiskan malam akhir pekan mereka, mengulas novel-novel bergenre fantasi kesukaan pria itu yang sekarang mulai ia tularkan pada Sera. Rasanya seperti kuliah, namun bedanya saat ini Sera sekarat dan mereka tidak bisa melakukan banyak aktifitas di luar ruangan.

Sera juga bersyukur karena kini ia tidak perlu ketakutan setengah mati saat melakukan rangkaian tes yang mengerikan. Sangat nyaman baginya memiliki seseorang yang menggenggam tangannya saat ia akan menjalani sebuah prosedur medis, sangat menyenangkan baginya karena bisa berinteraksi dengan orang lain yang memang dikenalnya dengan baik, dan yang paling ia sukai adalah fakta bahwa ia tidak perlu makan siang di kamarnya yang suram karena Kyuhyun selalu mendorong kursi rodanya untuk mencari makanan di cafeteria—dengan aturan menu yang ketat dari Kyuhyun sendiri tentunya.

Karena kondisinya yang sudah jauh membaik beberapa minggu ini, dokter Sera memutuskan untuk melepas monitor jantung dari tubuhnya—itulah sebabnya ia boleh makan siang di kafetaria dengan Kyuhyun—membuat gerak Sera lebih bebas dari sebelumnya. Wanita itu diizinkan keluar kamar selama ada yang mendampinginya. Tapi karena Han Sera bukan wanita yang taat peraturan dan juga karena ia sudah mengetahui seluk-beluk jam pergantian shift dengan sangat baik, wanita itu menutuskan untuk berjalan-jalan sendiri ke taman belakang rumah sakit.

Ia mengenakan jaket Taecyeon yang kebesaran untuk menutupi baju pasiennya, lalu berjingkat saat menggeser pintu kamar. Setelah mengamati kondisi pos suster di dekat lift, ia melangkah perlahan dengan percaya diri dan dengan mulus bisa langsung ikut masuk bersama segerombolan pengunjung pasien yang waktu besuknya sudah habis. Dengan riang wanita itu menuntun langkahnya ke taman belakang, dalam hati membayangkan sekesal apa wajah Kyuhyun nanti saat ia menceritakan keonarannya ini.

“Kyu, bukannya aku tidak bertanggung jawab, tapi sebentar lagi musim semi akan berakhir dan aku belum sempat menikmati musim favoritku ini dengan baik.” Bisik Sera, berdialog dengan Kyuhyun dalam imajinasinya.

Wanita itu tidak mencoba memaksakan langkahnya, ia tahu persis tempo seperti apa yang tidak akan berakibat fatal bagi jantungnya yang semakin memburuk sekarang. Saat ia sudah tiba di taman belakang, Sera langsung mencari kursi taman di bawah pohon cherry untuk beristirahat sambil menikmati sisa-sisa musim semi.

Pikirannya melayang pada mantan suaminya. Rasa sakit yang familiar kembali menggores hati Sera setiap kali ia mengingat pria itu. Bohong sekali kalau Sera bilang ia sudah move-on dari Taecyeon, karena ia hanya sekedar pintar berpura-pura dan terlihat tidak acuh dengan mantan suaminya itu—hatinya masih tercekat setiap nama Taecyeon tidak sengaja tersebut atau saat pria itu muncul dalam mimpi-mimpinya. Kadang Sera berpikir apakah pendapat Kyuhyun tentang memberitahu Taecyeon masalah penyakit yang diderita Sera ada benarnya. Mungkin Sera bisa menggunakan alasan itu untuk menjadi egois, untuk memaksa mantan suaminya itu menemaninya dalam masa sekarat Sera. kalau boleh berkhayal, Sera sering membayangkan bahwa pria itu tiba-tiba tahu tentang kondisinya, kemudian ia langsung berlutut memohon agar diperbolehkan kembali mendampingin Sera. ia bermimpi pria itu akan memeluknya erat sambil dengan sabar melalui setiap tahap penyembuhan yang harus dilalui Sera. Impian yang lebih liar lagi melibatkan berita baik bahwa Sera mendapat donor yang dibutuhkannya, lalu wanita itu sembuh total dan Taecyeon akhirnya mengajak rujuk, mereka menikah kembali dan hidup bahagia selama-lamanya.

Tapi itu mimpi siang bolong saja, bukan?

Jangankan penyakit gagal jantung, menemani Sera saat ia keguguran saja gagal dilakukan Taecyeon. Pria itu punya toleransi sangat rendah pada Sera sejak saat itu dan sepertinya berharap khayalannya menjadi kenyataan hanya akan membuat hati Sera semakin terluka.

Sera menarik napas dalam sembari menikmati udara musim semi yang lembab. Mencoba menghapus khayalan liarnya itu jauh-jauh. Mustahil Taecyeon akan tahu, kalau pun ia tahu rasanya kecil kemungkinan pria itu akan datang dan mendampingi Sera pada setiap prosesnya. Karena pria itu bukan Kyuhyun. Kyuhyun boleh saja terlihat lebih culun dari mantan suaminya, tapi hati pria itu sekuat baja. Kyuhyun tidak ketakutan melihat prosedur-prosedur medis yang harus dilalui Sera, Kyuhyun mempelajari penyakit Sera dari berbagai sumber yang bisa diperolehnya, ia ikut memantau kemajuan antrian donor Sera, bahkan dokter-dokter Sera dengan senang hati mengajarkan Kyuhyun langkah pertolongan pertama seandainya Sera kumat.

Kalau Taecyeon yang ada di sini, maka pria itu hanya akan duduk diam memperhatikan. Ia akan menghindari tidur di tempat yang sama dengan Sera karena ia tidak akan sanggup melihat seluruh kabel yang terpasang pada tubuhnya. Pria itu tidak akan repot-repot belajar cara menolong Sera dalam keadaan darurat, tapi justru akan menyewa seorang social worker untuk menjaga Sera 24 jam. Ya, Sera sudah menikah cukup lama dengan pria itu untuk tahu bahwa mental Taecyeon dalam menghadapi urusan medis sangat lemah, melihat darah saja bisa membuat pria itu ketakutan, dan ia punya prinsip jika bisa membayar lebih dan hidup nyaman, mengapa tidak?

Lamunan Sera buyar oleh terpaan hujan musim semi yang tiba-tiba turun dengan deras. Beberapa orang yang ada di taman itu segera berlari ke dalam dan Sera hanya mampu berjalan lebih cepat dari yang seharusnya. Wanita itu sedang mengingat di mana ia menaruh baju pasien cadangannya, karena akan mencurigakan bagi perawat di lantai 6 nanti kalau melihat seorang pasien rawat inap justru kebasahan.

Sera berhasil masuk ke dalam gedung rumah sakit, dengan rambut yang sudah lepek dan baju pasiennya sudah basah kuyup. Wanita itu mengeratkan jaket kulit Taecyeon lebih rapat demi menghindari pandangan bingung beberapa orang yang melihatnya. Dengan langkah mantap ia menuju ke lift di tengah gedung, namun saat akan berbelok ia justru menangkap sosok yang telah dirindukannya beberapa bulan ini.

Untuk sesaat Sera mengira dirinya sedang bermimpi. Bahwa yang dilihatnya hanya halusinasi rekaan otaknya yang terlalu merindukan kehadiran pria itu. Tapi semakin Sera mengamati, semakin ia sadar bahwa yang dilihatnya memang nyata.

Di kejauhan ia melihat cinta pertamanya, Ok Taecyeon. Pria itu benar-benar mantan suaminya yang baru menceraikan Sera tiga bulan lalu—dan pria itu tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita anggun yang cantik berjalan sambil menggenggam tangan Taecyeon mesra. Keduanya menyunggingkan senyum bahagia di wajah mereka seolah baru saja melewati hari yang indah.

Otak Sera bekerja cepat. Ia tidak mau ke-gap mantan suaminya di dalam rumah sakit, menggunakan baju daster pasien dalam keadaan lelpek, pucat dan terkejut seperti ini. Karena akan memalukan sekali rasanya jika ia tampil di hadapan Taecyeon sebagai si itik buruk rupa jika dibadingkan dengan wanita cantik di sampingnya. Sera langsung membalik badan, berlari sedikit dan bersembunyi di balik tembok yang membuatnya tersembunyi dari arah lift.

Sera berjingkatbsambil terus mengintip dua orang yang semakin dekat berjalan ke lift, matanya mempelajari tampilan wanita yang digandeng mantan suaminya. Jelas ia lebih tinggi dan semampai daripada Sera, wanita itu juga terlihat sanggat berkelas dan anggun, kebalikan sekali dari Sera yang ceroboh dan apa adanya. Lalu senyum macam apa itu?! Bisakan seorang wanita tersenyum seindah itu sampai membuat wajahnya bersinar menakjubkan? Karena seperti itulah Sera melihatnya.

Wanita di samping Taecyeon, siapa pun dia, adalah pengganti Sera yang sangat sempurna. Pengganti Sera yang sehat, dan memang terlihat sangat pantas disandingkan bersama mantan suaminya. Kalau boleh menilai dari apa dikenakan wanita itu, Sera juga yakin bahwa dia berasal dari keluarga berada—seluruh outfit yang digunakannya cukup untuk membayar biaya perawatan Sera selama satu bulan!

“Oppa.” Suara wanita itu terdengar jelas dari tempat Sera bersembunyi. “Aku akan kerja di lantai 3.”

“Ng, kita naik ke sana sekarang, bukan? Kau mengenal seseorang di sini?” Jawab Taecyeon sambil merangkul bahu wanita itu lembut.

Wanita itu mengangguk. “Kajja! Liftnya sudah sampai.” Ia menyandarkan sedikit tubuhnya pada Taecyeon, membuat rangkulan pria itu di bahunya semakin erat.”

Dengan langkah ringan keduanya masuk ke dalam lift, meninggalkan Sera yang masih tertegun dengan kejadian singkat barusan.

Tanpa sadar bola mata Sera sudah basah oleh air mata. Ia harus bersusah payah menelan gumpalan imajiner yang muncul dalam kerongkongannya, napasnya tercekat dan hatinya sakit. Tubuh Sera bergetar, kerena kedinginan dan juga karena serbuan kesedihan sekaligus amarah yang sekarang menguasainya.

Rasa pilu yang familiar itu kembali menyerangnya, hanya saja kali ini adalah yang terburuk.

Tiga bulan.

Tiga bulan adalah waktu yang dibutuhkan Taecyeon untuk menggantikan dirinya. Sera sadar ia memang tidak ada maknanya lagi di mata pria itu, tapi tiga bulan? Serendah itu kah harga kenangan yang mereka miliki dulu? Semudah itu kah dirinya digantikan?

Rasa nyeri lain datang menyerang Sera, kali ini nyeri yang bersifak fisik. Jantungnya berasa bagai diremas kencang dan napas wanita itu semakin pendek-pendek. Tubuhnya yang mulai menggigil tidak membuat keadaan lebih baik dan Han Sera hanya bisa meremas dada kirinya dengan kesakitan sambil perlahan kesadarannya hilang.

Begini kah akhir kisah hidupnya? Di lantai lenolium rumah sakit yang dingin? Sendirian tanpa seorang pun menyadari absennya Sera?

Bagi Sera, mati terlihat seperti opsi yang lebih baik sekarang.

*

Meskipun ini bukan akhir pekan, Kyuhyun sudah menyiapkan tas besarnya di bagasi mobil. Ia ingin menginap menemani Sera hari ini sebagai permintaan maafnya karena tidak bisa menemani wanita itu makan siang bersama. Sejujurnya ia tidak pernah tenang meninggalkan wanita itu sendirian setiap malam, yang diingatnya, Han Sera memang gadis dengan nyali besar tapi ia takut dengan hantu—dan suasana malam di rumah sakit memang cukup sepi dan mengerikan jika wanita itu harus tidur sendirian.

Hati Kyuhyun selalu terenyuh setiap kali melihat binar senang di mata Sera saat ia menggeser pintu kamarnya. Wanita itu akan menyengir lebar sambil menanyakan kegiatan menyenangkan apa yang bisa mereka lakukan sekarang, gadis itu akan nyerocos tentang apa pun yang melintas dalam pikirannya mumpung ia punya teman mengobrol, Sera juga berjuang melawan kantuknya untuk menonton film yang Kyuhyun bawakan untuk mereka tonton bersama, dan setiap akhir pekan usai, wajah wanita itu akan terlihat sedikit murung karena ia harus menunggu seminggu lagi agar Kyuhyun bisa kembali menginap.

Pria itu mempertimbangkan untuk menginap seterusnya di rumah sakit sampai Sera pulih, namun ia tidak yakin wanita itu akan mengizinkannya.

Hari ini Kyuhyun pulang lebih awal, ia mengarahkan mobilnya ke salah satu toko kue ternama untuk membeli cheesecake kesukaan Sera. Wanita itu masih diperbolehkan memakan makanan dari luar rumah sakit, selama jumlah gizi yang dimakannya tidak merusak ketentuan yang dibuat dokter Song dan dokter Kim. Sahabatnya yang patuh peraturan itu tentu paham makanan mana saja yang masuk ke dalam kategori ‘aman’ untuk dikonsumsi wanita itu.

Kyuhyun sedang menunggu pesanan cheesecakenya dibungkus ketika ponselnya bordering. Panggilan itu datang dari nomor yang tidak dikenal, tapi pria itu tetap mengangkatnya.

“Yeoboseyo?”

“Cho Kyuhyun-ssi?” Sapa suara wanita di seberang sana.

“Majayo, nuguseyo?”

“Aku pegawai dari Seoul Hospital. Han Sera-ssi, ia anfal barusan. Kami sudah memindahkannya ke unit CICU dan saat ini sedang memperoleh tindakan emergency—”

Kyuhyun menutup telponnya, ia meninggalkan pesanan yang sudah dibayarnya begitu saja untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, pria itu menekan pedal gas dalam-dalam dan langsung menyetir seperti orang kesetanan menuju rumah sakit.

*

Pria itu murka. Ia sudah tidak lagi memandang dokter di hadapannya sebagai sosok yang harus dihormati. Yang ia tahu, Sera berada dalam pengawasan aman mereka. Yang ia tahu, alasan Sera anfal adalah bentuk lain dari kelalaian rumah sakit dan Kyuhyun benar-benar tidak sanggup menahan emosinya.

Saat ia tiba di rumah sakit, seorang suster langsung menjelaskan kondisi Han Sera yang mereka temukan di lantai dasar, meringkuk di atas lantai dalam keadaan basah kuyup. Seorang suster dari departemen lain segera membawa dipan dan beberapa bantuan lain untuk mengangkat Sera, dari gelang pasien yang dikenakan wanita itu, mereka mengetahui bahwa Sera adalah pasien unit kerdiologi, maka dengan cepat mereka menghubungi suster di lantai 6 dan tindakan emergency-pun tidak terlambat untuk dilakukan.

Setelah tindakan medis selesai dilakukan, akhirnya Kyuhyun bisa berbicara dengan dokter-dokter Sera. menurut mereka anfalnya Sera kali ini terjadi karena wanita itu melanggar larangan untuk melakukan aktifitas fisik yang berlebihan, terlebih karena Han Sera ditemukan dalam kondisi basah kuyup, dokte-dokter juga memprediksi bahwa Han Sera keluar dari gedung rumah sakit tanpa pengawasan.

“Kami tadi menyuntikkan morfin langsung ke jantungnya juga beberapa cairan lain untuk menurunkan detak jantung serta tekanan darah Han Sera. Untung saja tadi dia cepat ditolong, karena jika jantungnya berdetak secepat itu lebih lama lagi, kemungkinan besar kita akan kehilangan kesempatan untuk menolongnya.” Jelas dokter Song tentang langkah darurat yang baru selesai dilakukannya pada Sera barusan.

Pria itu tidak peduli, lagiapula ia tidak paham prosedur medis. “Tapi bagaimana? Bagaimana wanita itu bisa berada di lantai dasar rumah sakit ini? SEHARUSNYA KALIAN MENGAWASI DENGAN BAIK!” Pria itu membentak dokter Song tanpa sungkan.

Dokter Song membungkuk pada Kyuhyun. “Memang itu kesalahan kami, aku berjanji itu tidak akan terjadi lagi.” Ujar dokter Song, “dan karena Han Sera masih dalam keadaan koma, aku mohon maaf karena tidak bisa mengizinkanmu masuk ke dalam untuk menemuinya.”

“Apakah Sera pernah seperti ini sebelumnya?” Tanya Kyuhyun dengan suara tercekat.

Dokter Song menggeleng. “Sejauh ini, serangan inilah yang terburuk. Kami akan terus memantaunya, dokter magang juga akan mengawasi perkembangan Han Sera non-stop. Maaf karena hanya ini yang bisa kami lakukan sekarang.”

“Terima kasih.” Balas Kyuhyun lirih. “Terima kasih karena masih memperjuangkan napas Han Sera.”

Dokter Song mengangguk, ia menepuk lengan Kyuhyun ringan sebelum pamit untuk kembali ke dalam unit CICU.

Kyuhyun terntunduk pasrah, ia balas membungkuk pada dokter Song untuk berterima kasih sebelum duduk di ruang tunggu depan ruang emergency. Ia menyalahkan dirinya sendiri untuk kejadian ini, karena pasti Sera keluar dari kamarnya atas dasar bosan. Biasanya memang Kyuhyun mengajak Sera makan di kafetaria, menghibur wanita itu sejenak sebelum ia kembali ke kantornya saat jam makan siang usai. Pria itu selalu mencoba menggeser jadwal pertemuannya dengan klien agar tidak mengganggu jam makan siang rutin mereka, namun hari ini kasus yang harus diselidikinya lumayan rumit karena tuntutan kliennya sangat banyak.

Tapi ia tidak menyangka Sera masih berani melanggar batasan dirinya sendiri. Kyuhyun menghela napa panjang. Mana mungkin Sera bisa diam dan patuh, sejak dulu memang ia menyukai tantangan dan sepertinya kondisinya yang sekarat tidak merubah sifat gilanya yang satu itu.

Lagi-lagi Kyuhyun menelpon bosnya, meminta cuti lain sementara ia menanti kabar baik tentang kondisi Sera. meskipun pihak rumah sakit berjanji akan menghubunginya jika ada perkembangan, Kyuhyun tetap ingin tinggal di dekat wanita itu, karena dalam lubuk hatinya yang terdalam ia pun memiliki ketakutan yang sama seperti yang dimiliki Sera—ia tidak ingin terlambat untuk berada di dekatnya, ia tidak ingin jika hal yang paling buruk terjadi, Han Sera harus pergi dalam keadaan sendirian dan ketakutan. Bohong saja kalau Kyuhyun tidak pernah memikirkan kemungkinan sahabatnyaitu akan pergi untuk selamanya, justru itulah alasan utama Kyuhyun tetap di sisinya, karena ia tidak ingin menyia-nyiakan lagi waktunya dan waktu Sera, karena memang harapan hidup wanita itu sepenuhnya bergantung pada keberuntungan semata, karena ia akan sangat menyesal jika ia tidak membanjiri wanita itu dengan seluruh kasih sayang yang selalu bersarang dalam hatinya.

Baru pada hari ketiga, akhirnya dokter Song mengumumkan kondisi Sera yang sudah siuman. Wanita itu berhasil melawati kondisi kritisnya dan sadar dari koma.

“Cho Kyuhyun-ssi, walaupun ia sudah sadar, untuk sementara tolong jangan marahi isterimu itu karena tindakannya. Ia masih cukup lemah sekarang.” Pinta dokter Song. Ya, ia masih mengira Kyuhyun adalah suami Sera, karena baik Kyuhyun maupun Sera selalu terbahak keras setiap kali kata ‘suamimu’ atau ‘isterimu’ dilontarkan oleh pada dokter, sampai mereka tidak sanggup menjelaskan hubungan yang sesungguhnya.

“Terima kasih dokter, kalau memang ia sudah sadar, aku akan pulang sekarang.” Kyuhyun membungkuk sopan pada dokter Song lalu berbalik untuk meninggalkan ruang tunggu CICU, membuat dokter itu bengong keheranan.

Kyuhyun memilih pulang karena ia masih terlalu emosional sekarang. Ia masih marah pada wanita itu dan juga pada dirinya sendiri. Jika Kyuhyun melangkah ke dalam unit perawatan Sera, yang ada justru ia akan mulai membentak Sera untuk melampiaskan kekhawatirannya tiga hari terakhir dan ia takut justru akan menyakiti wanita itu dengan kata-katannya. Ia sedikit lebih tenang karena mengethaui wanita itu sudah melewati masa kritisnya, jadi lebih baik ia pulang dan tidur cukup untuk menggantikan tidur-tidur ayam yang telah dilaluinya tiga hari kemarin. Agar suasana hatinya membaik jika ia bertemu Sera besok.

*

Detik Kyuhyun melangkah ke dalam ruang inkubasi tempat Sera dirawat adalah detik Sera tahu bahwa sahabatnya itu siap meledak. Pria itu masuk lengkap dengan baju hijau yang disterilisasi khusus untuk masuk CICU dengan topi operasi yang terlihat lucu pada dirinya, tapi kelucuan itu tidak tercermin pada ekspresinya. Mata elang Kyuhyun menusuknya tajam dengan tatapan yang sangat mengerikan, rahang Kyuhyun mengatup kencang dan Sera berani bertaruh bahwa Kyuhyun sedang menggigit lidahnya sendiri agar ia tidak melontarkan omelan yang siap disemburkan ke wajah Sera.

Dokter magang Sera bercerita tadi pagi bahwa suami Sera—yang dimaksud jelas Kyuhyun—menunggu wanita itu untuk sadar dari komanya selama tiga hari berturut-turut di ruang tunggu yang sangat tidak nyaman selama Sera koma. Wanita itu kira Kyuhyun akan langsung melihat keadaannya saat ia siuman, tapi jika melihat ekspresi Kyuhyun sekarang, Sera bisa menebak pasti pria itu memilih untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum membuat drama di ruang inkubasi.

Kyuhyun menarik kursi geser di ruangan itu dan duduk di samping Sera, masih pura-pura mengamati ruangan tempat wanita itu dirawat beberapa hari kemarin. Di belakang ranjang Sera, banyak sekali mesin besar, indikator detak jantung di sisi kiri ranjang kembali terhubung pada Sera dan  kali ini Sera tidak menggunakan masker oksigen besar yang menutupi mulut dan hidungnya, ia hanya dipasangkan selang oksigen yang ditanam ke dalam lubang hidungnya.

“Kyu… mian…” Bisiknya lirih.

Pria itu rasanya siap mengomel, tapi ia justru menarik napas dalam sebelum balas bicara. “Untuk apa?”

“Membuatmu khawatir.”

“Aku tidak datang makan siang satu hari dan seperti ini aksi protesmu?” Ia mencoba terdengar santai dengan cara meledek Sera. Ia menatap tajam ke manik mata Sera, memilih untuk marah dalam diam saja kepada wanita itu, Kyuhyun yakin Sera paham arti tatapannya dan ia yakin Sera tahu semarah apa Kyuhyun padanya saat ini.

Wanita itu menatap balik pada sahabatnya, dalam hati sungguh bersyukur karena masih ada satu orang yang mau repot-repot memarahinya sekarang. Bahkan meskipun Kyuhyun sangat kesal sekarang, ia masih tetap duduk di samping Sera untuk mendampinginya.

“Ya! Jangan menangis! Aku tidak datang ke sini untuk melihatmu menangis Han Sera.” Kyuhyun menyadari buliran air mata di wajah Sera. “Baiklah, aku berhenti marah sekarang. Aku memaafkan keonaranmu, jadi berhenti menangis sekarang, ne?” Ia mengelus puncak kepala Sera dengan lembut. Monitor jantung di samping ranjang Sera menunjukkan aktifitas yang meningkat dan Kyuhyun tidak mau terjadi apa-apa lagi pada sahabatnya.

Tapi Sera menangis bukan karena kemarahan Kyuhyun, ia menangis karena ingat alasan utama sampai ia bisa berbaring di ruang inkubasi ini. Memori itu masih belum bisa dihapus dari benaknya. Wajah bahagia mereka, cara Taecyeon merangkul bahu wanita itu, bagaimana hubungan keduanya terlihat begitu natural, serta fakta bahwa Ok Taecyeon sudah membuang Sera jauh-jauh dari hidupnya. Semakin ia mengingatnya, semakin deras juga air mata yang turun dari pelupuk matanya.

“Sera-ya, kumohon berhentilah menangis, ng? Maaf karena aku marah padamu, maaf karena aku tidak langsung menjengukmu kemarin setelah kau sadar. Aku butuh waktu untuk menenangkan emosiku, maafkan aku.” Kyuhyun justru sibuk meminta maaf, mengira Sera menangis karena ia marah padanya.

Sera menggelengkan kepalanya pelan, mencari-cari tangan Kyuhyun untuk digenggamnya, sembari mengisyaratkan bahwa air mata ini bukan salah pria itu. Ia ingin mengatakan apa yang dilihatnya kemarin pada Kyuhyun, tapi jika ia mengatakannya, artinya Sera mengakui apa yang dilihat itu benar adanya. Wanita itu masih dalam tahap penyangkalan sekarang dan ia belum bisa menerima dakta Taecyeon sudah move-on darinya dan berhasil menemukan pengganti yang jauh lebih sempurna dari Sera.

“Apa yang sakit? Di mana yang sakit, Sera-ya? Apa karena itu kau menangis?” Kyuhyun menghapus air mata Sera dengan jemarinya.

Sera menggenggam tangan Kyuhyun erat, seolah ia membutuhkan sesuatu yang kuat untuk menahan rasa sakitnya. “Aku takut, Kyu…”

Kyuhyun merasakan kedua bola matanya memanas akibat ucapan Sera. Tentu saja ia takut. Ia melalui semua ini sendirian dan Kyuhyun tidak ada di sampingnya saat Sera anfal. Wanita ini juga baru saja terbangun dari komanya setelah tiga hari. Bodoh sekali Kyuhyun, untuk apa ia pulang semalam kalau ia bisa menemani Sera sejak wanita ini membuka matanya. Kyuhyun pun takut, takut wanita itu akan pergi tanpa ia pernah sempat mengungkapkan isi hatinya. “Mianhae Sera-ya. Lain aku aku benar-benar akan menghindari meeting di jam makan siang.”

“Bukan karena itu, Kyu. Kau tidak harus berkorban—”

“Aku mau melakukan itu.” Potongnya tegas. “Aku akan mendampingimu, Sera-ya.”

Sera terdiam, banyak sekali yang ingin ia utarakan pada Kyuhyun sekarang, tapi napasnya masih terasa berat. Ia masih terlalu lemah untuk berdebat dan Kyuhyun masih terlalu panik untuk diajak bicara yang masuk akal. Jadi wanita itu hanya mengangguk pasrah sambil dalam hati berharap ia bisa segera pulih dan dibawa keluar dari ruang inkubasi yang dibencinya ini.

*

Taecyeon membanting pintu kamarnya kasar lalu menghempaskan tubuh ke atas ranjangnya. Ia tidak percaya pernyataan yang baru keluar dari mulut orang tuanya hari ini: mereka ingin ia dan Yoona segera menikah secepatnya. Tentu saja urusannya dengan kekokohan bisnis ayahnya dan kebetulan juga orang tua Yoona bukan tipe yang suka menunda-nunda jika mereka melihat kedua anaknya saling suka.

Menurut orang tua Yoona, Taecyeon adalah pria sempurna. Ia masih muda dan rupawan, keturunan chaebol berotak encer, ia penerus yang layak bagi perusahaan ayahnya dan ia bujangan—ya, orang tua Taecyeon berbohong sedikit tentang hal ini, mereka tidak rela mengakui anak lelaki satu-satunya itu pernah menikah secara spontan dengan wanita yang memiliki label jelek di mata mereka sekarang. Menurut orang tua Taecyeon, Yoona pun sama sempurnanya. Ia anggun, seorang dokter anak, orang tuanya adalah rekanan bisnis lama ayah Taecyeon, dan wanita itu juga jelas tergila-gila padanya. Tidak ada yang lebih sempurna selain menyatukan dua orang yang saling suka dalam sebuah jenjang pernikahan. Alasan itu saja sudah cukup menjadi pemacu rencana pesta pertunangan yang akan segera dilangsungkan.

Yang membuat pria itu marah bukan karena pola pikir dangkal yang ada di otak orang tuanya, ia lebih marah pada dirinya sendiri karena dengan mudahnya mengangguk setuju pada rencana sinting mereka. Apa yang dipikirkannya? Perceraiaannya baru selesai tiga bulan yang lalu, bahkan Taecyeon belum bisa melupakan sosok Sera sama sekali. Tapi lantas apa arti cincin pertunangan yang sekarang melingkar di jari tangannya?

Dulu Taecyeon memang pernah berpikir bahwa cara yang paling ampuh untuk melupakan Sera adalah dengan mencari pengganti wanita itu secepat mungkin. Itulah yang dilakukannya, dan ia menyesal. Rasa menyesalnya muncul karena baru-baru ini Taecyeon mencoba memposisikan diri sebagai Sera, jika ia adalah Sera dan ia mengetahui mantannya akan menikah lagi dalam waktu dekat, pasti hatinya akan hancur sekali—seolah ia tidak ada harganya di mata mantannya itu.

Untung saja Sera tidak mengetahui hal ini. Taecyeon masih mempertimbangkan apakah sebaiknya ia mencari Sera untuk memberitahu perihal pertunangan ini atau tidak—manakah yang lebih baik? Han Sera mendengar masalah ini dari orang lain atau dari mulutnya sendiri. Tentu pertanyaan itu lebih mirip seperti pepatah ‘keluar dari kandang singa lalu masuk ke dalam kandang buaya’, tapi cepat atau lambat Taecyeon memang harus mengambil keputusan. Ia masih menghormati dan menghargai Sera, dan baginya, lebih pantas Han Sera mengetahui itu dari dirinya sendiri.

Pikirannya terusik oleh bunyi telepon pada ponselnya, ia melihat panggilan dari nomor yang tidak dikenal dan segera me-reject panggilan tersebut. Kemudian Taecyeon mulai iseng melihat-lihat album foto dalam ponselnya—yang seluruh fotonya hanya berisi Sera seorang. Bertapa cantiknya wanita itu di matanya, bukan hanya parasnya namun juga hati wanita itu. Rasanya Taecyeon rindu sekali dengan senyum Sera, juga dengan gelak tawa konyol wanita itu. Ia menggeser foto-foto yang ada, mengamati gambar wanita itu pada kencan terakhir mereka. Baru hari ini Taecyeon menyadari keanehan pada ekspresi Sera, wanita itu tersenyum lebar namun ekspresinya tidak menyentuh matanya. Bola mata indahnya menatap kosong dan jelas sekali air matanya berlinang pada kebanyakan gambar yang mereka ambil.

Ponsel Taecyeon kembali berdering. Karena nomor yang sama seperti tadi yang menelpon, maka Taecyeon mengira panggilan ini akan penting.

Yeoboseyo?” Jawabnya.

“……..”

Yeoboseyo, bisakah kau mendengarku?” Ia mengeraskan suaranya kalau-kalau lawan bicaranya tidak mendengar dengan jelas.

“…….”

“Apa ini telepon iseng?” Cecarnya.

“…….”

“Aish! Kau membuang waktuku saja!” Ia lalu mematikan teleponnya.

Seandainya ia tahu bahwa yang menelepon adalah Sera.

Wanita itu merindukan suara dan kehadirannya, maka malam ini ia memohon untuk diperbolehkan meminjam telepon di pos suster untuk memanggil nomor yang dihafalnya di luar kepala. Air mata Sera jatuh deras saat mendengar suara mantan suaminya. Ia ingin bertanya tentang kabar pria itu, ia ingin menanyakan kalau-kalau yang dilihatnya tempo hari benar adanya, ia ingin mengobrol santai dengan pria itu, namun di saat yang bersamaan Sera juga ingat janjinya pada Taecyeon—bahwa ia tidak akan pernah mengganggu hidupnya lagi. Jadi wanita itu hanya menikmati kepiluannya dan meresapi sisa-sisa kehadiran Taecyeon dengan cara yang masih bisa ia jangkau.

“Apa dia mengangkatnya?” Kyuhyun mengambil gagang telepon dari tangan Sera untuk meletakkan kembali ke pos suster.

Sera mengangguk.

“Bagaimana perasaanmu? Apakah kau baik-baik saja?” Ia berlutut di depan kursi roda Sera untuk menyamakan tinggi wajah mereka. Sangat menyakitkan sekali bagi Kyuhyun untuk menyaksikan keterpurukan Sera sekarang, dan lebih menyakitkan lagi karena ia harus konsisten dengan perannya sebagai sahabat Sera sementara wanita itu masih meratapi mantan suaminya.

“Terima kasih. Aku tidak akan melakukan hal sejahat ini lagi padamu. Maafkan keegoisanku hari ini.” Sera berbisik di tengah isakannya sambil membelai rambut Kyuhyun dengan sayang.

Kyuhyun mengangguk pasrah sambil mendengus untuk menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. “Ayo kita kembali ke kamarmu.” Pria itu bangkit untuk mendorong kursi roda Sera kembali ke kamar.

“Terima kasih, Kyu.”

Cepat atau lambat kau akan menyadari siapa yang benar-benar mencintaimu, Sera-ya. Ujar Kyuhyun dalam hati.

Advertisements

82 thoughts on “Piles of Regrets – 6 [Replaced]

  1. starlily16 says:

    Sera belum bisa move on. Emang ya kalau wanita susah moveonnya. Karena menyangkut masalah perasaan sih ya. Dan kyuhyjn gak tai lg deb mau blg apa. Gentle bgt dengan tameng sahabat selqlu berada disamping serq meskipun inginnya lebih ya kyu. Hehe

    Liked by 1 person

  2. myungie says:

    semua ini karena kesalahpahaman dan kurangnya kejujuraann…
    mereka semua punya perasaan yang mendalam satu sama lain… tapi mereka lebih memilih terluka😭
    sukses bikin nangiisss..

    Liked by 1 person

  3. rainlovegyu says:

    Sebenarnya rasa cinta dan sayang itu berbeda tipis sekali . mungkin sera cinta taec Krn dia menemukan sosok impiannya, pria yang benar benar masuk kriterianya. Sedangkan Kyuhyun mungkin ada sedikit cinta tp tanpa rasa kagum didalamnya ya jadi cinta sedikit itu hanya berhenti dalam tahap sayang

    “Cepat atau lambat kau akan menyadari siapa yang benar-benar mencintaimu, Sera-ya.”
    Kuharap sera cepat menemukan cintanya yang hilang cintanya pada Kyuhyun 😢

    Liked by 1 person

  4. Dewi N says:

    Karena ternyata ini FF part-nya lagi mellow, jadi gue setel playlist Ballad.
    I’m playing At Close dari mini album pertama Kyuhyun, At Gwanghwamun
    Promise you – Super Junior KRY
    Memories – Super Junior
    Hanamizuki – Super Junior KRY
    It’s hurt ost. Bridal Mask (klo gk salah) yang nyanyi Zico – Sojin

    Playlist nya cocok lah…
    Mungkin bisa jadi rekomendasi buat readers lain.. hehehe

    Liked by 1 person

  5. yoongdictasticgorjes says:

    Tenang kyu pengorbananmu gk akan sia~sia mungkin saat ini hati sera msh terpaut sama mntan suaminya,, tapi kedepannya hati org siapa yg tau, terus berjuang siapa tau lambat laun hatinya mulai tersentuh akan kasih sayang tulus yg kmu berikan untuknya cho..fighting

    Liked by 1 person

  6. Melsyana says:

    Wah,…, rupanya penderitaan sera begitu rumit. Untung ada kyu yg selalu mendampinginya dan kyu benar” berperan sebagai sahabatnya. Tapi, kasihan juga lihat kyu yg menderita karna perasaannya tak terbalaskan.

    Mudah”an aja taecyeon gak pernah tahu kalau sera terkena penyakit yg berbahagia. Biar kyu yg selalu mendampingi sera selama gadis itu sakit dan cintanya kyu terbalaskan.

    Liked by 1 person

  7. Goldilovelocks says:

    Ya ampun…. Taec… kalo cinta yaa diperjuangin lagi atuh! Kzl ih. Eh tapi kalo diperjuangin kasian Kyuhyun nya sih. Nanti dia gak punya kesempatan sama Sera… Hhhh… sedih waktu Sera kolaps lagi 😢 apalagi ini yang terparah. Sialnya garagara mantan suami pula. Ya tuhaaaann… jadi Sera yg gak bisa move on tuh sakit banget ngebayanginnya. Untung ada Kyuhyun… gak bisa mikir gimana kalo Sera masih aja sendirian ngadepin hidupnya yang kayak gini 😣

    Liked by 1 person

  8. KartikaApriya says:

    Karena ga keterbukaan dri masing2 kedua belah pihak semuanya jadi salah paham satu sama lain….
    Jadi sedihh sama kondisi sera cewe yg masih belum bisa move on trus liat cewe yg gantiinnya lebih bagus fisiknya dri dia udah gitu hrus ngelawan sakitnya dia … 😭😭 gatega sama sera semngat sera😢😢

    Liked by 1 person

  9. Dewiastiti says:

    Aq tersentuh bgt baca part ini. Apalagi pas bagian sera yg membandingkan kyuyun dgn taecyon. “Kyuyun berhati sekuat baja saat menemani sera sedangkan taecyon brmental lemah soal medis walau pun sera mencintai taecyon”
    Mnurut q bag. Ini ngena bgt k real life
    Dlm hidup qt perlu lbh dri sekedar cinta unt tetap bs brsama dlm suatu hub. Khusus na prnikahan. Author na memang kece badai ne tulisan na berisi n brkualitas 👍👍👍👏👏👏

    Liked by 1 person

  10. Alea says:

    Taecyeon langsung terpana akan adanya Yoona, padahal hatinya masih ada Sera. Gara gara Taecyeon nganterin Yoona ke RS akhirnya Sera tau kalau Taecyeon sudah nglupain dia. Dan parahnya Sera kritis lagi dan lebih parah.
    Ayo Cho bikin Sera sadar akan kehadiranmu selama ini

    Liked by 1 person

  11. Dyana says:

    Cinta ini rumit, Sera yang masih mencintai Taecyeon namun hanya bisa melihat dari jauh, Taecyeon yang masih mencintai Sera tapi di paksa bertunangan oleh orang tuanya dan Kyuhyun yg juga masih mencintai Sera namun hanya bisa diam di sampingnya…
    Segitiga yang rumit…
    Ah… Apapun yang terjadi kedepannya semoga Sera bisa membuka hati untuk Kyu dan melupakan mantan suaminya, dan tentu saja harus sembuh…

    Liked by 1 person

  12. exochanye says:

    Dari part2 sebelum nya..aku masi blm ngerti karakter kyuhyun bagaimana yg bisa buat dia lebih baik jd main cast drpada taecyeon krna d part2 sbelum nya aku menangisi hub sera sma taecyeon yg meski mereka masih saling mencintai tp harus berpisah karena masalah kejujuran dan ego masing2..tp stelah baca d part in ..aku mulai ngerti dan tau bahwa kyuhyun lebih baik berpuluh2 lipat drpada taecyeon..bukan krna taecyeon sma yoona ya tpi karna kyuhyun d definisikan mempunyai keberanian dan kekuatan menemani sera dlam keadaan sekarat..d bandingkan kan taecyeon yg seandainya tau taecyeon lemah dan lebih baik menyewa social work untuk sera..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s