Piles of Regrets – 5 [Truth]

 

14

*Gambar milik Park Sora

Author: Ssihobitt

Category: Short Chaptered, Romance, Sad

Main Cast: Han Sera & Cho Kyuhyun

Supporting Cast: Ok Taecyeon

 

 

 

Sebuah pemandangan mencengangkan menyambut Han Sera saat ia membuka mata keesokan paginya, Cho Kyuhyun tertidur di kursi samping ranjang rumah sakitnya, dalam posisi duduk yang terlihat sangat tidak nyaman. Wanita itu bingung, memang semalam Kyuhyun ada di sampingnya untuk menenangkan kepanikan sesaat yang muncul juga karena kehadirannya, tapi Sera tidak mengira pria itu akan terus menjaganya semalaman suntuk—terlalu baik sepertinya kalau Cho Kyuhyun sampai rela membuang waktunya hanya untuk mengawasi detak jantung Sera.

Sera mencoba untuk bergerak bangkit dari tidurnya, dalam sekali usaha wanita itu berhasil duduk tegak, sepertinya tenaga Sera sudah pulih sekarang. Wanita itu kemudian menanggalkan jaket Taecyeon yang masih membungkus tubuhnya, menyampirkan benda itu ke atas tubuh pria yang masih terlelap di sampingnya. Sera tidak tega melihat posisi Kyuhyun, sudah cukup ia tidak tidur dengan nyaman, tidak perlu pria itu juga harus kedinginan.

Kyuhyun langsung membuka mata saat tangan Sera tidak sengaja menyapu bahunya. Pria itu mengerjap beberapa kali sambil mempelajari wajah cantik yang sedang memandangnya balik dengan raut bingung.

“Selamat pagi.” Sapa Sera lengkap dengan senyum tipisnya yang manis.

Kyuhyun mengerjap beberapa kali sembari mengumpulkan nywanya yang masih tercecer karena kantuk. “Bagaimana kondisimu pagi ini?” Tanyanya langsung sambil menggeliat, meluruskan tulang-tulangnya yang rasanya mau lepas.

“Lebih baik, aku bisa bicara dengan lancar pagi ini.” Sera kembali menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal di belakang. “Aku tidak menyangka kau akan menginap. Kau kan bisa tidur di sofa sudut ruangan itu, pasti badanmu sekarang sakit-sakit karena posisi tidur yang aneh.” Ia menunjuk pada sofa di seberang ranjangnya.

“Woah, kau benar-benar bicara lebih lancar pagi ini.” Kyuhyun bangkit dari kursinya dan melanjutkan stretching untuk melemaskan otot-ototnya. Memang benar kata Sera, tidur di kursi tegak itu sangat tidak nyaman. “Perlu kupanggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu?”

Sera menggeleng. “Biasanya mereka melakukan kunjungan setiap pagi dan malam.” Terangnya sambil menarik selimut. “Em… tentang kemarin… terima kasih.”

Kyuhyun melambaikan tangannya acuh. “Aku merasa memiliki kewajiban untuk memantau kondisimu.”

Sera paham maksud Kyuhyun. Pasti pria itu menyangka ia anfal kemarin karena kemunculannya—memang benar karena itu, tapi lebih baik Sera menyangkalnya sebelum Kyuhyun mulai menyalahkan diri sendiri.

“Yang terjadi kemarin itu bukan salahmu, Kyuhyun-ssi. Aku memang sudah merasa tidak fit seharian.” Sera mencoba berbohong.

“Aku benar-benar tidak paham.” Tukas Kyuhyun tajam. “Bagaimana mungkin rumah sakit ini bisa lalai membiarkan seorang pasien keluar, lepas dari pengawasan mereka. Kau ini pasien rawat inap, Sera!”

Yang diomeli malah tersenyum lebar lengkap dengan kilat bandel di matanya. “Aku sudah tinggal di sini lama sekali, aku tahu persis waktu-waktu pergantian shift suster dan kapan pengawasan mereka lengah.”

“Jangan lakukan itu lagi! Tidak ada lagi acara kabur-kaburan dari tepat ini Han Sera, kau bisa saja anfal di tengah jalan! Kau ini sudah dewasa, masa pola pikirmu masih tetap seperti remaja onar yang suka melanggar peraturan!” Kyuhyun lanjut mengomeli kelakuan Sera yang ternyata masih tidak berubah dari jaman mereka kuliah.

Sera terkekeh geli, rasanya sudah lama sekali seseorang tidak memarahinya atas dasar khawatir seperti yang Kyuhyun lakukan sekarang. Pria yang sedang bercacak pinggang dengan mata terbelalak sekarang sungguh mengingatkan Sera akan kelakuan sahabatnya yang sangat ia rindukan. “Kau tidak berubah, Kyu. Masih saja anak baik yang taat peraturan.”

“Dan kau juga tetap gadis kekanakan ceroboh yang tidak paham bahwa kau sedang sakit!” Ia memutar matanya kesal. “Tidakkan kau peduli dengan kesehatanmu sedikit saja, hah?”

“Apa kau baru saja membentakku?”

“IYA! Kau tidak tahu kan bagaimana terkejutnya aku kemarin melihatmu megap-megap sambil memegangi dada kirimu? Atau bagaimana perasaanku saat melihat tubuhmu diestrum berkali-kali agar jantungmu tetap berdetak? Atau seberapa shock diriku saat tahu kau sedang menunggu transplansi jantung?!” Nada bicara Kyuhyun tetap tenang, tapi cara menyampaikan kata-katanya jelas menunjukkan bahwa ia marah. “Kukira kau akan meninggal kemarin, Sera-ya—”

“Bukankah itu yang kau inginkan?” Jawab Sera singkat namun menusuk tepat pada hati Kyuhyun.

“Kau pikir aku sebegitu membencimu sampai aku berharap kau mati?”

Sera mengangkat bahunya. “Kau jelas menikmati posisimu untuk mengacak-acak hidupku dua bulan terakhir ini, bahkan menikmati kasus perceraianku dengan seringai menyebalkan di wajahmu.”

“Aku tidak tahu bahwa pasangan yang kutangani itu kalia—”

Bullshit!” Sera mendengus kesal. “Kau tahu kasus yang kau ambil itu adalah kasusku, lalu kau menikmati setiap detik yang kau miliki untuk menjatuhkanku.” Sekarang Sera jadi mulai berapi-api.

Kini keduanya bertengkar layaknya mereka bertengkar dulu, tanpa rasa sungkan dan tanpa mempertimbangkan pantas-tidaknya kata-kata yang terlontar dari mulut mereka. Napas Sera yang menggebu membuat jantungnya berdetak lebih cepat, indikator jantung di sampingnya juga mulai berbunyi lebih keras, seiring perdebatan keduanya semakin memanas.

Kyuhyun yang masih trauma dengan kasus anfal Sera kemarin langsung bungkam. Ia mengangkat kedua tangannya untuk mengisyaratkan agar Sera tenang. Wanita itu mengambil waktunya sejenak untuk menstabilkan diri, agar Kyuhyun tidak panik lagi.

“Apa kau memberitahunya?” Tanya Sera takut-takut.

“Kan aku sudah berjanji padamu semalam, aku tidak akan menghubunginya untuk sementara.” Ujar Kyuhyun menenangkan. “Sampai aku mendengar penjelasan yang masuk akal dari mulutmu.”

“Bukan tentang itu, maksudku tentang kita. Apa dia tahu bahwa kita saling mengenal?”

Kyuhyun kembali duduk di kursi samping ranjang Sera, pria itu mengamati wajah cantiknya lalu menggeleng pelan. “Kau kira aku bisa melakukan pekerjaanku dengan baik jika dia tahu bahwa kita dulu bersahabat?”

Sera menarik napas dalam. “Apa aku dimaafkan?”

“Ne?”

“Pasti aku melakukan sesuatu yang besar, sesuatu yang sangat menyakitimu. Dosa yang cukup besar untuk membuatmu membenciku hingga seperti ini. Kau menjauh dariku, kau tidak hadir di pernikahanku, kau mengganti nomormu, tidak pernah membalas e-mailku, sejak kita kembali ke Seoul kau tidak pernah sekali pun menanggapi ajakan bertemu yang kukirimkan lewat surat ke rumah orang tuamu, lalu klimaksnya kau dengan senang hati bervolentir menjadi pengacara perceraian suami—mantan suami—ku serta memastikan aku tidak mendapat satu sen pun dari tunjangan yang ia beri—”

“Aku tidak tahu kau meminta uang sebanyak itu untuk pengobatanmu.” Jawab Kyuhyun lemah, dirinya sudah lumayan dirundungi perasaan bersalah yang sangat besar sejak kemarin. “Jika kau jujur padaku sejak awal, aku pasti akan mencoba membujuknya untuk memberikan setidaknya setengah dari jumlah uang yang kau minta.”

“Bukan itu intinya, Kyu!” Sera kembali berapi-api. “Apa yang sudah terjadi tidak perlu kita bahas, yang ingin kubicarakan adalah sikapmu. Jika kau marah atau benci padaku, setidaknya beritahu aku penyebabnya! Jangan musuhi aku seperti ini.”

“Kau tahu persis kesalahanmu, Han Sera.Jangan berlagak naif di depanku.”

“Karena aku bertunangan dengannya?” Suara Sera meninggi, ia tidak percaya bahwa restu Kyuhyun harus diperolehnya terlebih dahulu sebelum ia boleh memutuskan pria mana yang ingin dinikahinya. “Ya! Itu terjadi saat aku sedang liburan, semuanya terasa seperti mimpi, kami cocok dan—”

“Karena kau mematahkan hatiku.” Jawab Kyuhyun singkat, ia pun kaget dengan kejujurannya.

Mulut Sera langsung terkatup rapat setelah mendengar pengakuan tidak langsung dari Kyuhyun. Ia memang punya firasat bahwa pria di depannya ini menyayangi Sera lebih dari sekedar sahabat, ia pun menyayangi dengan cara pandang yang sama—sebelum Taecyeon datang membawa napas baru pada hidupnya dulu—tapi Sera tidak pernah menyangka bahwa seluruh kebencian Kyuhyun padanya bersumber dari kesalahpahaman dan kurang komunikasi yang jujur antar mereka.

“Ka—kau… kenapa…?”

Ucapa Sera terpotong oleh sura pintu yang digeser, serombongan dokter masuk ke dalam kamar Sera dan dokter Song langsung menyambutnya.

“Apa kabarmu hari ini, Sera-ssi?” Sapanya ramah, tapi ia langsung bisa merasakan suasana canggung yang kental dalam ruangan itu. “Kuharap kami tidak mengganggu obrolan kalian.” Dokter itu berdeham sebelum memulai prosedur rutin pemeriksaan Sera.

Dokter Song memulai dengan pemeriksaan tekanan darah, detak jantung, dialasi pupil Sera, temperatur tubuhnya yang masih tetap di bawah suhu manusia normal, bahkan kemampuan Sera untuk mengangkat kedua lengannya melebihi bahu.

“Aku punya berita baik untukmu, Sera-ssi.” Dokter Kim bicara sembari mencatatat data-data yang diberikan rekan kerjanya. “Daftar tunggumu sudah naik, lalu karena beberapa serangan yang kau dapatkan beberapa kali ini, statusmu pun meningkat menjadi Status-1A. seharusnya kita mendapat kabar baik paling lama tiga bulan dari sekarang.”

“Benarkah? Tapi bagaimana kalau aku kehilangan jantung itu lagi? Dulu juga aku sudah sangat dekat dengan transplantasi itu, dokter.” Jawab Sera tidak antusias.

Dokter Song dan dokter Kim saling berpandangan sementara dokter magang lainnya pura-pura sibuk melihat catatan masing-masing.

“Kita akan mendapatkannya kali ini, Sera-ssi. Kemarin aku sudah bilang pada suamimu.” Ujarnya sambil menunjuk Kyuhyun, “bahwa kau salah satu prioritas penerima transplan, kuharap kita bahkan tidak perlu menunggu sampai tiga bulan.”

Sera mendengus sinis. “Dengan cacatan ada pendonor yang meninggal dalam waktu dekat.”

Well, benar. Tapi daftar tunggumu juga tidak sejauh dulu. Jangan muram seperti itu, cobalah bersemangat sedikit dengan prospek kesembuhanmu.” Dokter Kim menghiraukan nada sinis Sera dan tetap berusahan menyemangati pasiennya.

“Kami sudah menjadwalkan MRI untuk sore ini. Suster akan membantumu nanti, sepertinya kau bisa memakai kursi roda saja ke ruangan itu nanti, hindari aktifitas fisik sampai hasil MRI keluar.” Dokter Song menimpali. “Kau tidak jadi kami pindahkan ke CICU, karena jelas kondisimu sudah jauh lebih baik dari semalam.”

Sera mengangguk. “Terima kasih, dokter.” Lalu ia membungkuk sedikit untuk menunjukkan apresiasinya.

Be positive, Sera-ssi. Kau tetap harus berjuang! Fighting!” Dokter Song menepuk bahu Sera pelan sebelum ia dan rekannya pamit dari kamar Sera untuk melanjutkan pemeriksaan rutin pada pasien lain.

“Apa maksudnya tadi? Kau kehilangan jantung itu?” Tanya Kyuhyun setelah pintu ditutup.

“Ceritanya panjang.” Jawab Sera manyun. Entah mengapa berita yang dibilang baik oleh dokter-dokternya itu justru mengingatkan akan operasinya yang gagal total beberapa bulan lalu.

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada ranjang Sera, menopang dagunya sementara sikunya ditaruh di atas ranjang Sera. “Aku punya waktu banyak untuk mendengarkan ceritamu.”

“Bukankah kau harus pergi ke kantor?” Tanyanya heran, mengapa pria ini masih nongkrong di kamarnya padahal jam kerja sebentar lagi mulai.

“Aku cuti.”

Sera menunjuk dirinya sendiri sambil lengkap dengan ekspresi bodoh. “Untukku? Kau mengambil cuti untuk menemaniku?” Tanyanya tidak percaya.

Pria itu mengangguk mantap. “Jadi sebagai balasannya, kau harus menceritakan semua ini padaku. Aku harus tahu, Sera-ya.”

“Agar kau bisa menggunakan fakta-fakta berikutnya untuk menjatuhkanku di pengadilan lain?” Tantangnya sinis.

“Agar aku bisa membantumu.” Kyuhyun menatap mata Sera dalam-dalam. “Jangan usir aku dari hidupmu sekarang. Dosa besarmu padaku hanya akan kumaafkan jika kau mengizinkanku mendampingimu di saat tersulit dalam hidupmu. Karena aku pun memiliki dosa yang sama besarnya padamu.”

“Dan kau butuh penawar dari rasa bersalahmu karena sudah jahat padaku dua bulan kemarin.” Tambah Sera. “Tapi pasti kau berpikir ini ganjaran yang setimpal karena aku sudah menyakitimu bertahun-tahun lamanya tanpa sadar.”

“Izinkan aku membantumu, Sera.” Pria itu menggenggam tangan Sera yang dingin dengan mantap. “Setidaknya izinkan aku mendampingimu.”

Wanita itu menghela napas panjang, hatinya terenyuh oleh tatapan itu. Tatapan yang sejak dulu selalu menenangkan hatinya, tatapan yang telah lama hilang dari wajah Kyuhyun, tatapan hangat yang selalu dicarinya saat membutuhkan tempat bersandar.

“Baiklah, tapi janji kau akan menyimpan kisahku untuk dirimu sendiri.” Pinta Sera dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku sungguh-sungguh, Kyu. Selain dokter-dokterku, tidak ada seorang pun yang mengetahui hal ini.”

“Kau juga harus menjelaskan tindakan idiotikmu itu.” Cecar Kyuhyun.

Sera mengangguk. “Bisakah kita bicara di tempat yang tidak sedepresif ruang rawatku? Aku ingin jalan-jalan ke luar.”

“Apa kau lupa?” Kyuhyun menunjuk mesin monitor jantung Sera beserta tiang infus yang seluruh kabelnya masih menyambung ke tubuh wanita itu. “Kita tidak bisa membawa mesin itu untuk jalan-jalan santai, bukan?”

Sera menyeringai. “Masih saja tetap sarkastis seperti dulu.”

 

*

Kalau bisa, Ok Taecyeon rasanya ingin kabur dari pertemuan konyol yang diatur oleh orang tuanya. Ia tahu sekali meeting macam apa yang akan dilakukan ibunya, orang tua Taecyeon sudah berusaha untuk mencarikan isteri baru untuk Taecyeon, mereka sudah kasak-kusuk bahkan sebelum sidang perceraian anaknya itu final. Kini saat mereka mendapatkan calon yang tepat, yang juga berasal dari keluarga terhormat—seperti Han Sera dulu—orang tua Taecyeon ingin menyegerakan perjodohan anak semata wayang mereka itu.

Pria itu sendiri masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran orang tuanya. Bagaimana mungkin ia disarankan untuk menikah lagi padahal perceraiannya baru final sebulan yang lalu? Lebih lagi, sebelum ini Taecyeon menikah dengan wanita impiannya, dengan wanita yang nampak sempurna di matanya, wanita yang memang dicintainya. bagaimana mungkin ia bisa melupakan sosok Sera secepat itu?

Layaknya seorang pria sejati, Ok Taecyeon menjaga janjinya pada Sera. ia langsung angkat kaki dengan barang-barangnya di pagi hari sidang perceraian mereka. Demi menghindari kecanggungan, Taecyeon bahkan memilih lokasi tinggal yang cukup jauh dari apartemennya yang lama. Ia hanya berharap Han Sera sekarang hidup nyaman di apartemen mereka dan memiliki cukup uang untuk menghidupi dirinya sendiri selepas Taecyeon pergi.

Memang ada kalanya pria itu merindukan kehadiran Sera.  Mungkin istilah ‘penyesalan itu datang belakangan’ sangat tepat mendeskripsikan kegusaran Taecyeon. Seharusnya ia mendengar kata hatinya saja dulu, seharusnya ia tidak ngotot memperjuangkan ego bodohnya untuk menolak memberi kesempatan kedua bagi Sera, seharusnya ia ikut memperjuangkan hubungan mereka sekeras Sera memperjuangkannya di akahir-akhir. Tapi surat cerai mereka sudah cukup menjadi sebuah pelajaran berharga bagi pria itu untuk tidak menyia-nyiakan seseorang yang dicintainya.

Kadang ia berharap bisa bertemu Sera secara kebetulan di tengah jalan, atau mungkin wanita itu akan menelponnya sekedar untuk menikmati makan siang bersama. Tapi ide itu bahkan terdengar konyol di kepalanya. Ia lah yang menyodorkan surat gugatan cerai, ia juga yang meminta Sera untuk tidak menemuinya dan tidak menghubunginya lagi—dan wanita itu benar-benar patuh dengan kesepatan yang sudah mereka tandatangani.

“Kau tidak boleh mengacaukan yang ini.” Ibu Taecyeon yang duduk di samping menepuk tangan pria itu, menyadarkan Taecyeon dari lamunannya.

Taecyeon memilih untuk menghiraukan ucapan ibunya, pasti acara kali ini sama saja seperti perjodohan yang dilakukannya sebulan terakhir. Pasti yang akan ditemuiya seorang gadis cantik, kaya, berpendidikan, dengan portofolio keluarga yang bergengsi. Semua sama saja—sama-sama membosankan.

“Kau pasti akan sangat tertarik dengan yang satu ini. Ia jauh lebih cantik dari mantan istreri sialanmu itu, ia akan segera dilantik menjadi dokter anak, wanita ini sekolah di luar negeri juga dan ia sering sekali melakukan kegiatan amal. Dalam bidang sosial ia juga sangat aktif memberikan program penyuluhan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Wajah cantik dengan hati bagai malaikat, sempurna sekali kan?” Ibunya lanjut mempromosikan calon Taecyeon.

Taecyeon memutar matanya kesal. “Pasti tidak akan lebih baik dari Sera.”

Ibunya memukul tangan Taecyeon dengan kasar. “Aish! Lupakan wanita keparat itu! Ia sudah mengacak-acak hidupmu sejak lama. Sudah waktunya kau melupakannya.”

Mobil yang membawa mereka itu berhenti di depan lobi sebuah hotel berbintang. Penjaga pintu langsung membukakan pintu belakang mobil bagi Taecyeon dan ibunya. Pria itu memeriksa penampilannya sekali lagi pada refleksi kaca mobil yang gelap sebelum mengizinkan ibunya menarik lengan kekarnya ke dalam hotel.

Wanita paruh baya itu menggiring langkah mereka ke dalam restoran yang terletak di belakang lobi, dengan ceria ibunya menunjuk bukti reservasi meja pada pelayan di depan pintu dan mereka langsung diantarkan pada tamunya yang ternyata sudah menunggu sejak tadi.

“Anyeonghaseyo, kami mohon maaf karena telah membuat kalian menunggu.” Ia membungkuk sopan pada wanita paruh baya yang sekarang berdiri di samping anak gadisnya.

“Anyeonghaseyo, gwencasimnika. Persilakan aku mengenalkan anak gadisku, ini Im Yoona.”

Gadis yang disebut namanya langsung membungkuk sopan sambil meletakkan tangan kanannya di atas dada, menyambut Taecyeon dan ibunya. Ia mengenakan gaun A-line bewarna biru gelap, panjang gaun itu jatuh tepat di tengah pahanya yang ramping, membuat kakinya yang jenjang terlihat lebih indah. Ia melengkapi penampilannya dengan heels bewarna perak, sehingga tubuhnya lebih tinggi lagi yang yang sebenarnya. Gadis itu memandang Taecyeon sekilas dan ia tahu bahwa dirinya terpikat pada pesona pria itu seketika.

Taecyeon pun terpesona dengan pemandangan menakjubkan yang ada di hadapannya. Benar kata ibunya, kali ini ia menjodohkan dengan seseorang yang masuk ke dalam kriteria ‘wanita sempurna’ di matanya. Untuk beberapa saat, pria itu lupa tentang Han Sera.

“Ah! Ini anak lelakiku, Ok Taecyeon.” Ibunya mendorong punggung Taecyeon untuk mengisyaratkan pria itu membungkuk.

“Anyeonghaseyo, senanng bertemu dengan kalian.” Ia mengeluarkan senyumannya yang mempesona pada dua wanita yang kini memandangnya dengan binar kekaguman. Senyum yang membuat jantung Yoona berdebar hebat seketika.

 

*

“Jadi dari mana ceritaku harus dimulai?” Sera bersila di atas ranjangnya sambil memeluk boneka unicorn besar yang dibelikan Taecyeon untuknya pada kencan terakhir mereka.

“Dari awal. Sejak kapan kau mengetahui penyakitmu ini? Karena Han Sera yang kuingat adalah seorang gadis hiperaktif pencinta tantangan adrenalin, kau rajin berolahraga, makananmu juga terjaga sangat baik. Aku benar-benar bingung sejujurnya.” Jawab Kyuhyun sabar.

Sera menarik napas dalam-dalam, kemudian memejamkan matanya untuk mengingat kembali pengalaman buruk yang dialaminya lebih dari setahun yang lalu.

“Kuranya semuanya terjadi sekitar dua tahun yang lalu.” Ujarnya memulai. “Setelah pulang dari Inggris kami langsung menikah, kemudian di usia pernikahan yang ketiga, kami dikaruniai anugrah berupa kehamilanku. Semuanya baik-baik saja saat itu, aku tidak mengalami banyak keluahan selain rasa mual dan sakit kepala yang kadang mengganggu.”

Kyuhyun mengangguk dalam diam.

“Suatu hari di musim dingin, aku belanja keperluan untuk memasak makanan demi menyambut ibu Taecyeon oppa yang berencana datang ke apartemen kami. Waktu itu oppa bilang akan menjemputku, namun karena kondisi jalan sedang macet, ia memintaku untuk menunggu di halte bus depan supermarket saja, agar ia tidak perlu mencari parkir dan memperpanjang penantian ibunya di apartemen kami.” Sera menunduk lemas. “Kau tahu kan musuh utama di musim dingin? Saat udara menghangat sedikit, membuat lapisan salju melumer sejenak sebelum ia kembali membeku menjadi lapisan es tipis yang licin.”

Napas Kyuhyun terasa sesak, sepertinya ia bisa mengira ke mana arah cerita Sera akan berakhir.

“Aku keluar dari supermarket itu atas aba-aba dari oppa, agar ia tidak menunggu terlalu lama di halte sehingga mengganggu bus yang ingin berhenti dan juga agar aku tidak menunggu terlalu lama dalam udara dingin di bulan Desember. Setelah melihat mobilnya di kejauhan, aku langsung melangangkah dari supermarket dan kurasa kau bisa menebak—aku terpeleset.” Suara Sera mulai parau.

Kyuhyun menggigit bibirnya sendiri keras-keras untuk mengalihkan rasa sesak di hatinya. Demi Tuhan, ia tidak bisa membayangkan sakit yang harus dilalui Sera di hari itu.

“Saat terjatuh, rasanya perutku sakit sekali. Napasku sesak dan aku tidak bisa menggambarkan seperti apa nyeri yang menusuk-nusuk pinggang dan panggulku saat itu. Taecyeon oppa melihat seluruh rangkaian kejadian itu, ia langsung memakirkan mobilnya di halte, menelpon paramedis, dan aku segera dilarikan ke rumah sakit untuk diberi penanganan.” Sera menarik napas dan memberi jeda yang cukup panjang sebelum melanjutkan ceritanya.

Ingin rasanya Kyuhyun menghentikan cerita Sera, ia tidak mau wanita itu menggali ulang kepedihannya tapi pada saat yang bersamaan, ia juga membutuhkan jawaban atas seluruh rasa penasaran yang berkecamuk di kepalanya.

“Aku tidak sadarkan diri dalam perjalan menuju rumah sakit. Aku bersumpah, aku melakukan usaha semampuku untuk tetap sadar tapi saat melihat genangan darah di atas dipan tempatku terbaring, aku benar-benar shock. Karena aku tidak sadarkan diri, maka mereka membuka rahimku lewat prosedur C-section untuk mengeluarkan janinku.” Sera mulai terisak. “Bayi lelakiku yang baru berumur lima bulan itu meninggal, ia harus dikeluarkan dari rahimku agar pendarahku tidak semakin parah.”

Pria itu menunduk sambil menahan air matanya. Kisah Sera terlalu menyakitkan untuk ia dengar dan cerna sekarang.

“Aku selalu sehat, sampai suatu hari semua itu terjadi.” Lanjut Sera. “Karena memang aku memiliki keluhan sesak napas sejak hamil, kukira keluhan itu akan hilang setelah aku kehilangan janinku. Ternyata justru semakin memburuk. Jadi pada salah satu pemeriksaan rutin pasca-keguguran aku bertanya pada OB/GYN yang menanganiku, apakah keluhanku itu memang wajar. Baru kemudian aku didiagnosa terserang preclamsia—semacam tekanan darah tinggi yang biasanya mengakibatkan komplikasi pada organ vital lain bagi wanita hamil. Kondisi itu menyerang 5 % dari kebanyakan wanita mengandung dan aku termasuk di dalamnya.”

Kyuhyun masih mendengarkan penjelasan Sera dengan seksama, meskipun ia memiliki lebih banyak lagi pertanyaan dalam benaknya, ia akan membiarkan Sera menuntaskan ceritanya terlebih dahulu. Ia yakin, pasti butuh keberanian besar bagi Sera untuk mengungkapkan semua ini.

“Setelah didiagnosa, aku dirujuk pada dokter Kim. Kemudian aku melakukan rangkaian tes untuk melihat apakah kecurigaan dokter tentang jantungku itu benar. Setelah hasilnya keluar, dokter Kim justru bilang bahwa aku cukup beruntung karena menyadari gejala ini sejak awal, sehingga aku bisa diobati. Sayangnya, semakin mereka meneliti catatan kesehatanku, semakin banyak kejanggalan yang ditemukan dan kesimpulan akhirnya, ventrikel kiri jantungku terluka.”

“Lalu kau melalui itu semua sendirian?” Kyuhyun tidak tahan lagi untuk bungkam.

Sera mengangguk lemah. “Kondisi di rumah saat itu jauh dari kata nyaman. Aku tahu memang salahku yang ceroboh sampai kami kehilangan calon bayi kami, tapi caranya memperlakukanku setelah keguguran itu…” Sera tercekat. “Aku… entahlah. Pria itu tidak menunggu di sampingku setelah operasi pengangkatan janin kami, ia hanya menjemputku saat aku diperbolehkan pulang, ia bahkan tidak repot-repot menemaniku untuk check-up lanjutan.”

Tanpa sadar telapak tangan Kyuhyun terkepal di atas pahanya.

“Oppa selalu pulang malam sekali, seringkali dalam keadaan mabuk. Beberapa kali ia bahkan tidak pulang. Masa-masa itu adalah kala di mana aku membutuhkan suportnya, dan ia malah bertindak sangat dingin padaku.” Sera meletakkan tangannya di atas dadanya sambil terus terisak. “Aku tahu itu salahku, tapi… tapi apa aku harus dihukum seperti itu?”

Kyuhyun bangkit dari kursinya untuk ikut duduk di atas ranjang Sera, ia meremas kedua bahu Sera perlahan sambil mengusapnya pelan. “Sera, detektor jantungmu mulai mengkhawatirkan. Apa kau baik-baik saja? Kau boleh berhenti kalau ini terlalu berlebihan untukmu.” Pria itu mulai panik lagi melihat indikator jantung Sera yang semakin tinggi.

Air mata wanita itu jatuh semakin deras. “Beberapa prosedur perawatan membuatku harus menginap di rumah sakit. Aku sengaja tidak menelponnya, karena berharap ia akan mencariku—aku ingin menganggap bahwa jika aku absen sehari saja dalam hidupnya, ia akan merasa kehilangan dan kembali melunak padaku, bodoh sekali bukan? Nyatanya pria itu tidak mencari, dan saat aku pulang keesokan harinya, ia bersikap datar dan dingin seperti biasanya. Seolah tidak menyadari kepergianku malam sebelumnya, saat itu aku mulai berpikir bahwa ada dan tiadanya diriku dalam hidupnya sudah tidak lagi signifikan.”

Kyuhyun menyapukan jemarinya untuk menghapus air mata dari wajah cantik Sera.

“Pengobatan yang kulakukan di sini tidak berhasil, karena itu dokter Kim dan dokter Song menyarankan aku untuk ditangani di Amerika. Aku pergi ke New York tanpa memberitahunya, membawa kartu kreditnya untuk berjaga-jaga dan selanjutnya seperti yang sudah kau ketahui…”

“Tapi kau menghilang nyaris setahun, Sera.” Kyuhyun masih tidak bisa memecahkan misteri yang satu itu.

“Aku dirawat tiga minggu di New York. Dokter di sana juga menyerah, katanya luka di ventrikel kiriku sudah terlalu parah dan operasi tidak akan membuat keadaan lebih baik. Kemudian aku disarankan untuk mendaftar sebagai penerima donor jantung. Kau tahu berapa harga jantung, Kyu? Tidak ada perusahaan asuransi yang pernah mau meng-cover pembelian organ dan aku harus berjuang sendiri untuk memperolehnya.” Sera terisak lagi. “Aku memutar otak bagaimana agar pada tagihan kartu kreditnya tidak tertulis bahwa benda yang kubeli adalah sebuah jantung, maka aku membelanjakan tas-tas bermerek yang kemudian kukembalikan hari berikutnya demi memperoleh cash cukup untuk membayar uang muka agar masuk ke dalam daftar antrian donor.”

Rasanya Kyuhyun semakin ingin memukuli dirinya sendiri, Sera berjuang mati-matian untuk mencari dana demi mengobati dirinya dan ia justru bersusah payah memastikan wanita itu tidak memperoleh sepeser pun uang tunjangan dari mantan suaminya.

“Aku kembali ke Korea Selatan setelah perawatanku di sana gagal.” Jelasnya.

“Tapi namamu tidak pernah tercatat di imigrasi.” Mulut Kyuhyun tanpa sadar mengumbar penyelidikannya yang paling misterius.

“Benarkah?” Tanya Sera polos.

Pria itu mengangguk mantap.

Sera mencoba mengingat detil kembalinya ia ke negara ini, ia pun tidak terlalu ingat dengan jelas bagaimana caranya kembali, seingatnya ia dikawal oleh seorang social worker dan… “Ah! Aku ingat! Saat perjalanan pulang aku mendapat serangan, aku setengah sadar sepertinya Kyu dan pesawat mendarat darurat entah di mana, aku hanya ingat melihat banyak pria berbaju militer membantu membopong dipanku. Kurasa seluruh urusan keimigrasianku diurus social worker-ku saat itu, atau mungkin karena keadaan darurat, mereka tidak sempat membubuhkan cap apa pun ke dalam pasporku, entahlah. Aku benar-benar lupa.” Ia mengusap hidungnya yang berair dengan kasar. “Maaf aku tidak bisa membantu menjawab pertanyaanmu.”

“Sera, aku benar-benar marah sekali padamu sekarang.” Ujar Kyuhyun dengan nada lembut. “Kalau kau mengungkapkan masalah ini pada mantan suamimu, aku yakin kau tidak perlu jungkir balik untuk biaya pengobatanmu, lalu ayahmu—beliau juga pasti akan membantumu!”

Sera mendengus sinis sementara air mata terus mengalir. “Kau tahu? Kurasa musibah keguguranku itu juga menjadi titik balik hidupku. Bukan oppa saja yang kecewa dengan hal itu, orang tuanya dan orang tuaku sama-sama kecewa, mereka semua bersikap dingin dan tidak acuh padaku setelah itu. Saat semua orang semarah itu padamu, apa kau masih punya muka dan nyali untuk datang mengemis belas kasihan mereka?”

“Tapi Sera—”

“Setelah aku diijinkan pulang dari tempat ini, aku langsung ke Jeju untuk menemui orang tuaku, Kyu. Kau tahu apa yang dilakukan appa? Membanting pintu di depan wajahku, ia bilang aku sudah melukai harga diri dan kehormatannya di mata kedua orang tua Taecyeon oppa.” Sera semakin tercekat. “Katanya lebih baik aku mati saja, daripada muncul kembali dan mengingatkannya atas tindakan orang tua mantan suamiku yang mempermalukannya di depan banyak rekanan bisnis mereka.”

“Ne?” Kyuhyun tidak mengira jawaban Sera akan seperti ini. “Ma—maksudmu? Ayahmu yang ramah sekali itu berbuat demikian?”

Sera mengangguk sambil terus terisak keras. “Baru kemudian aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu apartemen kami. Bodoh sekali bukan? Mengharapkan pria itu untuk menarikku ke dalam dekapannya?”

Hati Kyuhyun semakin dicabik-cabik rasanya mendengar seluruh pengakuan Sera.

“Aku dirawat di sini lama sekali, Kyu. Suatu hari dokter Song bilang aku memperoleh jantung yang kubutuhkan. Aku sudah dipersiapkan untuk prosedur operasi, aku bahkan sudah terbaring dan dibius di dalam ruangan mengerikan itu. Namun saat tersadar aku harus menerima berita bahwa jantung yang kubutuhkan diberikan pada orang lain yang jauh lebih sekarat dariku, orang yang benar-benar akan kehilangan nyawanya jika ia tidak menerima donor—Status-0.” Terang Sera. “Jadi aku berontak, aku mengamuk dan meminta agar mereka mengizinkanku pulang—karena aku tidak peduli lagi, aku merindukan keluargaku dan juga suamiku. Tapi ternyata kerinduan itu hanya milikku seorang.”

Kyuhyun menyerah, air matanya perlahan mengalir juga di pipinya.

“Bisakah kau membayangkan rasanya dirawat di tempat ini seorang diri? Menakutkan sekali, Kyu. Aku benar-benar ketakutan. Belum lagi rasa sakit yang menyerang dan juga tindakan-tindakan horror yang dilakukan dokter-dokterku demi menjaga jantungku tetap berdetak. Aku sering ingin menyerah, Kyu, tapi aku juga takut. Aku takut mati sendirian di tempat ini.” Tangis Sera benar-benar pecah sekarang. Monitor jantung di sampingnya sudah berbunyi cepat, tapi nyaringnya bunyi itu masih kalah dengan raungan pilu yang lolos dari bibir tipisnya.

Kyuhyun menggeser duduknya lebih dekat pada Sera, pria itu melingkarkan lengannya pada bahu Sera dan segera menarik wanita yang terlihat ringkih itu ke dalam dekapannya. Satu tangannya membelai rambut panjang Sera dan sebelahnya lagi mengusap punggung wanita itu, mencoba menenangkan hati wanita yang semakin terpuruk.

“Jadi kumohon jangan beritahu siapa pun tentang kondisiku. Karena aku tahu mereka akan ada di sini untukku—hanya karena rasa bersalah mereka. Umurku nampak sangat pendek di hadapanku, Kyu. Aku tidak mau menghabiskannya bersama orang-orang yang terpaksa ada di sampingku. Aku tidak sanggup jika harus menerima perlakuan dingin dari Taecyeon oppa lagi, aku juga tidak mau melihat sorot kekecewaan di wajah appa. Aku takut, Kyu. Aku takut.” Perlahan Sera mengangkat tangannya untuk memeluk tubuh Kyuhyun. “Kumohon, jaga rahasiaku ini. Lebih baik aku mati dengan memori terbaikku tentang mereka ketimbang bertahan hidup dengan perlakukan mereka yang sangat dingin. Kumohon… aku takut, Kyu.” Jemari panjang Sera meremas kemeja Kyuhyun keras-keras sembari wanita itu semakin menenggelamkan wajahnya pada dada pria yang memeluknya dengan protektif.

Kyuhyun menengadahkan wajahnya menghadap langit-langit kamar Sera, mencoba melawan gravitasi yang terus menarik jatuh air matanya. Entah serbuan emosi apa saja yang menyerangnya sekarang. Ia terguncang dengan fakta yang baru didengarnya, ia terpukul dengan berita penyakit Sera, ia sedih menyaksikan Sera yang semakin hancur dalam pelukannya, ia tidak menyangka semua orang yang dulu melindungi Sera bisa bersikap sedingin itu padanya, tapi yang benar-benar mengusiknya sekarang adalah perasaan malu. Malu karena ia ikut andil dalam membuat hidup wanita ini lebih sengsara, malu atas seluruh praduga kejamnya akan wanita dalam pelukannya, malu karena ia telah membuang empat tahun hidupnya untuk membenci sahabat yang sangat ia cintai.

“Kyu… maafkan aku… maaf kalau aku dulu mematahkan hatimu.” Ujar Sera di antara tangisnya. “Aku jatuh cinta padanya… bukan berarti aku tidak… menyayangimu… hanya saja…”

“Sudahlah. Itu sudah berlalu Sera-ya.” Kyuhyun mengeratkan pelukannya diseputar tubuh Sera. “Aku memaafkanmu, asalkan kau mengizinkanku untuk menemanimu. Izinkan aku menebus kesalahku padamu, dan biar kupastikan bahwa aku ada di sini bukan karena keterpaksaan. Aku disini karena…” Kyuhyun tercekat kata-katanya sendiri. “Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri jika kau melalui semua ini dengan rasa sedih dan takut padahal aku bisa meringankan sedikit bebanmu. Aku mau menemanimu, kumohon… izinkan aku berjuang bersamamu, seperti dulu saat kita selalu memperjuangkan apa yang kita impikan.”

“Kau mau mendampingiku?” Tanya Sera nyaris tidak percaya dengan yang baru di dengarnya.

“Tentu saja, anggaplah ini permintaan maafku karena tidak mendampingimu di hari pernikahanmu, dan tahun-tahun berikutnya saat aku sibuk menghilang dari hidupmu. Aku akan menunggu jantung baru itu bersamamu, kau bisa menelponku kapan pun kau merasa ketakutan, aku akan menemanimu…”

“Kyu… aku takut akan membuatmu sakit hati kembali jika—”

“Aku sahabatmu Sera.” Ujarnya. “Aku tahu posisiku, aku tidak akan mencoba untuk menggantikannya dalam hidupmu, aku tidak mencoba mencuri hatimu lagi kali ini. Aku… aku…” Kyuhyun terisak semakin kencang sambil memeluk Sera, tidak berani mengungkapkan sisa kata-katanya yang tertahan.

Sera melonggarkan pelukannya pada Kyuhyun, wanita itu mendongak untuk menatap wajah pria yang sama kacau dengannya. Dengan lembut Sera menghapus air mata Kyuhyun yang membanjiri pipinya. “Kau menangis untukku? Atau karena kau merasa bersalah?”

“Dua-duanya. Maafkan kekejamanku, Sera-ya.” Bisiknya lirih.

“Maafkan tingkah cuekku yang kelewatan, Kyu. Maaf karena aku menyakitimu.”

Kyuhyun mengangguk cepat. “Jangan usir aku dari hidupmu, ne?”

Sera mendengus sinis di antara isakannya yang masih tersisa. “Kau yang kabur dari hidupku, Kyu.”

Pria itu tersenyum serba salah karena pernyataan Sera yang benar adanya.

“Berhentilah memanggilku dengan sebutan wanita jalang, baru kau boleh menemaniku.” Ancam Sera dengan napas yang lebih tenang.

Kyuhyun terkekeh. “Kau tahu aku memanggilmu seperti itu?”

Sera kembali menyandarkan kepalanya yang terasa berat di bahu Kyuhyun. “Aku mengenalmu sangat baik, Kyuhun-a. Aku mengenal hatimu.”

 

tbc…

Advertisements

90 thoughts on “Piles of Regrets – 5 [Truth]

  1. Hana choi says:

    Uh kasian sera seharusnya di saat” masa” terpuruknya sera keluarganya nemenin tapi ini mereka cuman mikirin ego mereka aja padahal kalau dipikir” lagi bukan salah sera sepenuhnya kok mungkin emang udh takdir .
    Tapi kalaupun memang taecyeon udh nyewa detektif yg handal masa hal yg seperti ini aja ga ketauan bener” deh

    Liked by 1 person

  2. utusiiyoonaddict says:

    oh jd sera pergi k amerika tuh buat pengobatan, duh sengsara bgt hdup hatinya sera,
    dududu d part 5 ini ada my bias kesayangan, cintaku, hdupku, (im yoona) haha tp aku gak suka yoona dgn okcat karena aku (pyros ka yoonhae shipper)

    Liked by 1 person

  3. Shinn says:

    Padahal udah mau dapet jantung penganti tapi nggak jadi,ya pastilah berasa ngak mau hidup lagi.Karena harapannya sembuh udah besar tapi tiba-tiba gagal😭

    Semoga sera bisa sembuh dan hidup normal lagi,

    Liked by 1 person

  4. starlily16 says:

    Sedihhh bgt sera cerita masalah penyakitnya, dia berjuang sendirian, keluarga sama suaminya malah cuek bebek setelah dia keguguran. Dan kyuhyun ya syukurlah dia ngaku salah karena prasangka buruknya . tp yang kasian dia tetap mau setia disisi sera walaupun sera blm bisa membalas persaannya. Nyesek ga tuh 😢

    Liked by 1 person

  5. rainlovegyu says:

    Speechless dengan segala hal dibalik kehidupan Sera uhuuuhuhuhu
    Nyesss pas Kyuhyun bilang “aku sahabatmu serayaa” berasa SPT Kyuhyun sudah tidak berharap lbh Dr kata sahabat
    Nyesek authornim kau memporak porandakan hatikuuuuu

    Liked by 1 person

  6. Dewi N says:

    Baca part-nya Sera keluarin unek unek nya sambil dengerin Wild Flower – Kyuhyun version, sama in my dream – Super Junior KRY + Donghae, Sungmin 💕

    I’m totally 😭 sedih buuuu 😭😭

    Liked by 1 person

  7. elfishyvil says:

    Astaga.. keterlaluan banget sih orang tuanya sera dan juga mertuanya… cckckck…
    Oiya, apa ibunya sera juga gak suka ya? Apa saudara sera gak ada ya? Atau sera anak tunggal? Harusnya sera di support supaya tetap semangat dan gak merasa bersalah atas kegugurannya… aigooo….
    Semangat sera… caiyooooo

    Liked by 1 person

  8. yoongdictasticgorjes says:

    Akhinya semua rahasia udh terkuak,,nyesek bgt saat sera mnjelaskn apa yg salama ini dia sembunyiin dan jjur aku dedek bgt sama si taec buknnya nemenin istri yg sedang sakit karna baru keguguran malah brsikap dingin dan terkesan menyalahkan,,

    Liked by 1 person

  9. Melsyana says:

    Ya ampun, org tua sera juga memperlakukannya dg dingin dan cuek. Masa cuma karna dipermalukan di depan kolega bisnisnya gara” anaknya keguguran, appanya sera tega menyumpahi anaknya untuk mati daripada dia malu.
    Dan mudah2an aja penderitaan sera cepat berlalu dg selalu didampingi kyu.

    Liked by 1 person

  10. Putrikimcho says:

    Orang tua macam apa yang memperlakukan anaknya kaya gitu hanya karna masalah manusiawi 😡

    Setidaknya sekarang ada kyu yang akan nemenin sera 😔😔

    Liked by 1 person

  11. Goldilovelocks says:

    Huwaaaahh… tragis banget si Sera~~ ya ampun… Taec… kamu… kejem…. banget 😢 tapi aku yakin dinginnya Taec bukan sepenuhnya karena kecewa tapi lebih ke…. merasa bersalah lantaran sebagai suami dia gak bisa jagain istrinya yg lagi hamil dengan baik. Hiks..
    Waktu Sera cerita dia dateng ke rumah orang tuanya, rasanya sesek banget kak. Kayal ada yg ngerajam nih hati. Itu ayahnya lho. Ayah. Astaga… dan berlanjut waktu dia berharap Taec rindu juga sama dirinya. Tapi….. yah namanya ditinggal tanpa kejelasan siapa yg gak terluka si Sera? Kalo aku ada diposisi Taec mungkin aku bakalan kayak dia.. tapi kasihan juga sama kamunya~~
    Dan lagi kejer-kejernya percakapan Kyuhyun-Sera yg terakhir malah terkesan lucu. Alhasil aku nangis sambil ketawa tadi wkwk 😂

    Liked by 1 person

  12. Cut vonny says:

    Kasian bgt sera dia pasti sangat sangat sangat menderita,,, kyu bener2 gx bisa ngungkapin perasaan nya ya walau pun blm saatnya,, keknya taec oppa udah nemu pengganti sera

    Liked by 1 person

  13. novi says:

    Malang bgt nasib.y sera, hrus brjuang mlwan pnyakitnya Sndrian, tp mungkin skrng tdk sndrian krna ada kyuhyun yg mau mnemani sera.
    Kyanya taec udh mulai mlupkn sera deh. Hmmm

    Liked by 1 person

  14. KartikaApriya says:

    Gila orangtuanya sena smpe segitunya?? Waww cuma gara2 keguguran??? Dan mempermalukan keluarga ok taecyeon?? Sadisssss 😠😠😠
    Kasian bnget hidup sera pas dia butuh support semua orng ninggalin dia bahkan taecyeon …
    Semngat sera semoga aja kyuhyun bawa cerita bagus dihidupmu kaya dulu

    Liked by 1 person

  15. Alea says:

    Sera berjuang sendirian saat dia kritis. Disaat membutuhkan support hidup gada yang ngasih. Semua jauhin Sera termasuk suaminya. Kejam banget Taecyeon, gak seharusnya dia bersikap dingin kepada Sera. Pantas aja Sera menghilang satu tahun, karena suaminya dingin gitu.

    Liked by 1 person

  16. Dyana says:

    Pertama aku baca part ini, aku tertawa di bagian seorang gadis cantik Im Yoona, omo! Biasku… Sampai teriak heboh dia muncul disini.

    Tapi semua berubah saat Sera bercerita pada Kyuhyun di rumah sakit, aku harus berkali-kali mengusap air mata…
    Author… Feelnya dapet banget aku bisa ngerasain nyeseknya, dan aku sesegukan sambil baca… Ini Keren…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s