(Indonesian Version) One Last Shot – Part 29

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi & Cho Kyuhyun

Senyum lebar masih menggantung di wajah mereka dalam perjalanan pulang, Kyuhyun merangkul bahu Eungi dengan santai dan wanita itu melingkarkan lengannya di pinggang Kyuhyun, menikmati moment kelegaan dari sidang yang baru saja dilalui pria itu barusan. Kyuhyun sudah tidak ingat berapa kali ia menjabat tangan orang-orang yang menawarinya banyak posisi di lab mereka, ia bahkan tidak ingat nama dan wajah mereka semua. Yang diingatnya hanya ekspresi jahil di wajah bulat Van Wijk dan sorot bangga yang memancar dari wajah Eungi.

“Adiktif, bukan? Perasaan tegang yang kau rasakan itu.” Cengiran lebar masih menghiasi wajah cantiknya.

Kyuhyun mengangguk. “Persis sekali seperti yang kau deskripsikan, rasanya bagai menanti hukuman pancung di akhir-akhir. Tapi sepertinya aku jadi serakah noona.”

“Maksudmu?”

“Kau tahu, setelah ditambahkan embel-embel M. Sc di belakang namaku, aku jadi ingin menambahkan gelar lain di bagian depan.” Kyuhyun terkekeh. “Bayangkan, keren tidak kalau namaku jadi Dr. Cho Kyuhyun, PhD?”

Eungi tertawa, mengakui bahwa memang titel itu akan sangat cocok untuk kekasihnya. “Terdengar keren sekali kuakui. Tapi kau tahu perjuangan yang harus kau lalui akan berkali-kali lipat lebih menegangkan dari yang barusan, kan?”

“Jadi kau meragukanku? Apa itu tantangan darimu? Aku hanya perlu menerima tawaran Van Wijk, ia baru menawariku posisi sebagai peneliti doktoral sebagai pekerjaan full-time—kau tahu tipe beasiswa yang itu kan?” Kyuhyun berhenti melangkah lalu menatap mata Eungi sungguh-sungguh. “Haruskah aku menerima tawarannya?”

Rahang Eungi menganga, kekasihnya yang baru menuntaskan studi magister dengan nilai sempurna saja masih membuat jantungnya berdebar keras, jadi berita baik ini benar-benar membuat mata wanita itu terbelalak kaget. “Sir Joost benar-benar menawarimu itu?”

“Ng.” Angguknya. “Kenapa? Omo, apa kau cemburu? Profesor kesayangmu punya mahasiswa favorit baru sekarang.” Ledeknya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Eungi memutar matanya. “Lalu bagaimana dengan urusan ayahmu?”

“Tidak ada masalah. Beliau sudah sembuh total sekarang dan aku bisa melakukan apa pun yang kumau—dan aku mau mengejar hal yang positif noona. Dengan title Doktor, aku bisa mengajukan posisi sebagai rektor di kampus ayahku kelak.” Kyuhyun membiarkan dirinya bermimpi tinggi. “Ayahku bisa mengawasi masalah keuangan dan aku bisa memantau dari masalah pendidikan dan kurikulumnya.”

“Jadi kau menerima tawaran itu?” Rasanya wanita itu siap melompat kegirangan di tempatnya. “Kau akan tinggal di Belanda lebih lama kalau begitu?”

Kyuhyun menarik tubuh Eungi mendekat lalu memeluknya. “Noona, siapa yang menyangka studi post-doktoralmu bisa selama ini, ng? Aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian di negara ini. Aku belum bilang apa-apa pada Van Wijk karena aku ingin mendiskusikannya denganmu terlebih dahulu, tapi kalau boleh jujur aku memang sangat tertarik.”

“Kenapa kau harus mendiskusikan denganku? Lakukan apa pun yang kau sukai, Kyu.” Ia membenamkan wajahnya pada setelan jas Kyuhyun. “Aku tetap akan menjadi cheerleader-mu.”

Kyuhyun mendorong wajah Eungi lalu menangkupkan dengan tangannya. “Karena hidupku adalah hidupmu juga, apa yang kulakukan akan berpengaruh padamu dan sebaliknya. Dulu kau percaya aku bisa berhasil di bidang ini saat semua orang merendahkanku, lihat aku sekarang! Tiga tahun yang lalu aku bahkan tidak bermimpi untuk punya pekerjaan tetap. Jadi opini dan pendapatmu sangat penting bagiku dan itu sebabnya aku perlu mendiskusikannya denganmu.”

“Kau tahu aku selalu menganggapmu seorang jenius kan? Jika kau memang mau melanjutkan studimu, lakukanlah!”

“Benarkah?”

“Aku punya dua alasan.” Ujar Eungi sambil mengangkat telunjuk dan jari tengahnya membentuk hufuf V. “Pertama dari sudut pandang mantan dosenmu.”

“Hmm, beri tahu aku.” Ia mengalungkan lengan kanannya di bahu Eungi dan menuntun langkah mereka untuk kembali berjalan.

“Dari sudut pandang profesionalku, kau harus mengambilnya. Kau punya fondasi yang sempurna untuk melebarkan sayap di dunia desain berkelanjutan yang jelas semakin berkembang sekarang. Global warming itu bukan cerita dongeng belaka dan kita sama-sama paham pentingnya inovasi berbasis green-design. Jadi dalam lima puluh tahun ke depan, apa yang kita teliti akan menjadi penyokong harkat hidup orang banyak.” Jelas Eungi.

“Lalu pendapat yang tidak professional darimu?”

“Kau harus mengambilnya, karena artinya kau akan tinggal lebih lama lagi di Delft bersamaku.” Eungi terkekeh. “Aku suka tinggal bersamamu dan sejujurnya aku mulai gelisah karena memikirkan setelah kau lulus, kau akan segera kembali ke Seoul tanpa diriku untuk setidaknya satu tahun. Aku tidak bisa memprediksikan kapan penelitian post-doktoralku berakhir karena masih bermasalah dengan teknologinya. Jadi kalau boleh egois, aku mau kau mengambil tawaran itu sebagai alasan untuk tinggal lebih lama bersamaku.”

Kyuhyun tertawa puas. “Noona, kau sudah ketergantungan padaku, bukan?”

“Yeah, dan kekhawatiranku nampak seperti lelucon bagimu sekarang.” Ia memutar matanya kesal sambil memanyunkan bibirnya.

Kyuhyun menunduk sedikit untuk mengecup pelipis Eungi. “Baiklah, aku akan menerima tawaran Van Wijk. Tapi kau setuju kan denganku, namaku akan lebih keren dengan titel Dr. Cho Kyuhyun, PhD.”

“Sangat Kyu!” Ia menatap kekasihnya sambil mtersenyum lebar. “Aku tidak sabar menunggumu mempresentasikan riset doktoralmu nanti, hari ini saja kau sudah terlihat sexy sekali saat presentasi, aku benar-benar harus menahan diri untuk tidak menyerangmu. Aku bertaruh, kau akan tampak jauh lebih sexy lagi nanti.” Ia mengedip pada Kyuhyun.

“Secara resmi kunyatakan kau adalah wanita paling aneh yang pernah kutemui dalam hidupku.” Pria itu mengacak rambut Eungi. “Itu kah yang membuatmu terangsang? Serius? Aku harus presentasi lagi seperti tadi untuk membangkitkan gairahmu?” Ia tertawa puas.

Eungi menghentikan langkah mereka, berjinjit mantap di depan Kyuhyun sambil melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu untuk memberikan ciuman yang sejak tadi ingin diberikannya. Kyuhyun bisa merasakan seberapa besar gairah tertahan yang tersampaikan dari lumatan panas Eungi di bibirnya, wanita itu mengigit bibir bawah Kyuhyun dengan seduktif dan desahan lembut lolos diantara ciuman mereka.

Layaknya seorang kekasih yang baik, Kyuhyun memeluk pinggang Eungi erat sambil membalas ciuman wanita itu, sebelum ia mempercepat langkah mereka segera pulang ke rumah untuk menuntaskan kegiatan mereka.

*

Pria itu menikmati guyuran air panas di tubuhnya, sementara Eungi sekarang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Energi Kyuhyun bener-benar sudah terkuras rasanya. Pertama karena tingkat stress yang dialaminya sejak kemarin malam, ketegangan yang harus dilalui sejak pagi tadi, lalu sesi panas di atas ranjang dengan Eungi barusan benar-benar membuat Kyuhyun lelah—dan harinya belum berakhir. Pria itu sudah kehilangan nafsu makan sejak seminggu yang lalu, namun ia tidak terlalu merasa ada yang aneh dengan pola makannya, baru tadi setelah mereka selesai memuaskan satu sama lain, Kyuhyun benar-benar sadar bahwa ia lapar.

Eungi menyarankan mereka untuk pergi ke Amsterdam sekalian merayakan dengan acara minum-minum di daerah Zeedijk, tapi pria itu menolak mentah-mentah. Pertama karena ia malas jalan jauh-jauh, kedua karena memang penting sekali demi kelangsungan rencananya bagi mereka untuk tetap diam di rumah. Kalau boleh jujur, sidang tesis barusan tidak semenegangkan apa yang akan dilakukannya sekarang, dan Kyuhyun harus mengusap wajahnya di bawah siraman air hangat berkali-kali untuk mengumpulkan keberaniannya—sambil melawan keinginan untuk muntah saking tegangnya.

Saat pria itu selesai mandi, Eungi sudah menyiapkan mac and cheese sebagai opsi makan malam mereka. Bukannya ia malas, hanya saja dengan bahan yang tersisa di dapurnya, mac and cheese inilah yang masih bisa dibilang ‘makanan’.

“Kalau ini tidak membuatmu kenyang, aku bisa menelepon delivery dari restoran pizza.” Eungi meringis malu saat Kyuhyun menatap piring mac and cheese-nya dengan bingung.

“Tidak apa, aku bisa makan mac and cheese. Sebentar, biar kuambil wine dulu.” Ia berjalan ke arah lemari wine mereka.

Mac and cheese dengan wine?” Eungi tertawa. “Cara yang cerdik untuk mengubah makanan murahan jadi sedikit elegan.”

“Ey, di mana ada keju, di situ harus ada wine. Dalam wujud apa pun keju itu berada. Keju itu enak, wine juga lebih enak lagi, bersama-sama mereka jadi sempurna.” Kyuhyun menyeringan jail meledek Eungi sambil mengambil pembukan sumbat wine di kabinet.

Suasana makan malam mereka bisa dikatakan sangat sunyi. Kyuhyun fokus memakan apa yang ada di piringnya seperti orang yang belum bertemu makanan satu bulan dan Eungi sudah kebingungan karena ia menghitung jumlah gelas wine yang sudah diteguk Kyuhyun, tiga gelas terkesan terlalu banyak bahkan untuk standar makan malam pria itu. Dalam hati senarnya wanita itu heran karena bagian paling menegangkan dari hari Kyuhyun sudah lewat, jadi usaha pria itu untuk tetap rileks terlihat agak janggal.

“Kyu, kau baik-baik saja?” Ia menunjuk gelas Kyuhyun dengan garpunya. “Itu gelasmu yang ketiga.”

Kyuhyun mengangguk. “Aku hanya menikmatinya.” Ia berdeham. “Aku boleh berpesta kecil-kecilan atas pencapaianku, bukan?” Ia mengangkat alisnya meminta persetujuan Eungi.

“Kau benar, maafkan aku. Silakan habiskankanlah botol itu, aku akan mengambil yang baru.” Ia menggeser duduknya untuk bangkit namun Kyuhyun menahannya.

“Jangan, simpan saja itu untuk nanti.” Ia membawa porsi terakhir makan malamnya ke dalam mulut dan menelannya dengan bantuan sisa wine yang ada di gelasnya.

“Baiklah, kalau begitu aku akan beberes.” Ia mengambil piring kosong mereka dan membawanya ke wastafel untuk membilasnya. “Apa rencana kita malam ini? Bermalas-malasan di sofa menonton pertandingan bola?”

“Aku punya ide yang lebih brilian.” Kyuhyun menghabiskan sisa cairan merah di botol wine itu lalu bangkit untuk mengambil sesuatu.

Pria itu pergi ke ruang kerja mereka untuk mengambil tabung silinder hitam yang biasa digunaka arsitek untuk menyimpan gulungan blueprint mereka, kemudian ia membawanya ke meja makan.

Eungi yang melihat hal ini langsung merengek protes.

“Ya! Kita istirahat saja malam ini, ne? Jangan bekerja, kumohon. Mengapa juga kau mau bekerja di malam kelulusanmu?” Ia mengelap tangannya pada handuk di samping sink lalu segera melangkah mendekat ke meja makan untuk menarik tabung itu dari tangan Kyuhyun.

“Hanya sedikit pekerjaan, kumohon. Aku harus menunjukkanmu sesuatu dan butuh pendapatmu.” Ia memohon lewat tatapannya. “Ayolah noona, aku sedang dapat ide, kau tidak bisa menunda pekerjaan kreatif, kau tahu peraturan di rumah ini.”

“Tapi—”

“Tidak akan lama, aku janji. Aku hanya perlu pendapatmu saja, tidak akan menggambar malam ini.” Ia membuka tutup silinder dan mengeluarkan beberapa lembar kertas kalkir berukuran A2 dari dalam lalu mebuka gulungannya di atas meja.

Eungi menghela napas panjang dan menyerah, memang itulah peraturan di rumah mereka, mereka berjanji untuk tidak menunda ide kreatif kapan pun itu datang—dan ide itu bisa menyerang kapan saja, dalam kasus ini, ide Kyuhyun muncul sekarang dan Eungi harus menahan diri untuk tidak menjitak kekasihnya yang butuh beristirahat itu. Wanita itu duduk di sementara Kyuhyun berdiri di belakangnya, menahan bobot tubuhnya dengan lengan kanan yang disandarkan pada meja sambil membungkkukkan tubuhnya agar bisa menjelaskan detail gambar pada Eungi.

Mata Eungi berdansa dengan lincah di atas gambar Kyuhyun, mencoba memahami detil-detil kecil di sana. “Kau mengerjakan proyek rumah?”

Kyuhyun meletakkan empat pemberat pada sudut-sudut keras lalu semakin mendekatkan tubuhnya pada Eungi dari belakang, mengambil posisi paling nyaman untuk menjelaskan gambarnya.

“Jadi ini adalah rumah yang berlokasi di Bukchon.” Jelasnya.

“Mwo?! Whoa pasti harganya mahal sekali, rumah tradisional?” Eungi mulai semangat melihat gambar Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk. “Site ini menghadap ke selatan ke arah bukit Namsan.” Kyuhyun menunjuk pada arah mata angin di sudut kanan atas.

Eungi mencerna gambar Kyuhyun baik-baik, dalam hati mencatatat beberapa hal yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan revisi Kyuhyun nanti, tapi dengan spontan ia langsung menunjuk ke arah kamar utama di rumah itu. “Kyu, jika sebuah rumah berada di lokasi seindah ini, bukankah sebaiknya pamandangan Namsan diberikan untuk kamar utama alih-alih untuk ruang keluarga?” Ia menunjuk pada denah yang dimaksud.

“Menurutmu begitu?” Kyuhyun mengerutkan keningnya. “Mengapa? Apa menurutmu mereka akan menghabiskan lebih banyak waktu di kamar tidur ketimbang ruangan lain?”

“Ah, aku lupa bertanya. Silakan jelaskan profil klienmu.” Ia menepuk dahinya sendiri karena melupakan hal yang fundamental dari tugas berurusan dengan klien.

Well, mereka pengantin baru.” Jelas Kyuhyun.

“Pengantin baru tapi sudah mampu membeli rumah di Bukchon?! Daebak!” Eungi berdecak kagum.

Kyuhyun terkekeh. “Katakan saja suaminya sekarang sudah sukses mengejar passion di bidangnya dan ia mampu membeli akomodasi semacam ini untuk orang yang sangat dicintainya.”

Eungi mengangguk. “Oke, lanjutkan. Pengantin baru, lalu mereka meminta ada ruangan apa saja di dalam rumah mereka?”

“Mereka berencana memiliki tiga anak.” Kyuhyun melanjutkan penjelasannya sambil menunjuk tiga buah ruangan yang lebih kecil pada denah. “Seekor anjing.” Lanjutnya sambil menunjuk pada halaman belakang yang lumayan luas. “Mereka juga sangat menikmati acara duduk-duduk santai sambil meminum wine di halaman belakang saat cuaca sedang cerah, jadi teras belakang sangat penting. Isterinya tidak terlalu suka masak, tapi kurasa dapur besar tidak pernah mengecewakan bagi wanita mana pun, bukan?” Kikiknya geli.

“Benar sekali, lanjutkan.”

“Suaminya butuh ruang kerja yang lumayan besar karena ia punya dua pekerjaan sekaligus. Isterinya kutu buku, jadi mereka meminta rak buku yang tertanam di tembok sampai ke langi-langit rumah.” Kyuhyun menunjukkan garis putus-putus penanda rak buku tanam yang disembunyikan di balik tembok.

“Lalu ini apa?” Eungi menunjuk pada gambar arsitektur perapian. “Apa ini cocok dengan konsep rumah tradisional?”

“Perapian itu permintaan spesial dari sang isteri. Ia memiliki impian tinggal di negeri dongeng saat musim dingin, dan baginya yang ideal adalah merayakan natal di depan perapian dengan segelas eggnog di tangan. Aku mendesain perapian ini dengan konsep yang menyatu dengan desain rumah luar, jadi tidak terlalu mencolok.” Kyuhyun menunjukkan gambar potongan dari lembaran kalkir lainnya. “Dan aku percaya kamar utama sebaiknya menghadap ke timur, agar mereka selalu menikmati sapaan matahari pagi saat membuka mata.”

Eungi mengamati gambar Kyuhyun lebih teliti lagi, ada yang aneh dengan gambar ini, tapi ia belum bisa menemukan kejanggalannya.

“Ah, isterinya juga butuh ruang kerja. Kau tahu, suaminya itu sangat cerdas, tapi sebenarnya ia bisa sehebat itu karena isterinya. Wanita itu menikmati membaca buku, meriset dan kadang-kadang juga suka memasak. Maka karena itu aku masih bingung tentang proporsi dapur dan ruang kerjanya, mana yang sebaiknya kubuat lebih luas.” Pria itu menggeser jemarinya antara denah dapur dan denah ruang kerja.

“Mengapa kau tidak mengabungkan saja ruang kerja mereka? Ruang yang tersedia masih cukup luas jika kau menghilangkan tembok ini.” Tunjuk Eungi pada tembok yang dimaksud.

“Apa menurutmu itu bijaksana? Mereka itu pengantin baru yang masih sangat bergairah, noona.” Kyuhyun terkekeh. “Isterinya juga mudah sekali tergoda jika melihat suaminya sedang serius mengerjakan sesuatu. Kalau tembok ini kuruntuhkan, bisa-bisa ruang kerja mereka beralih fungsi.”

“Wow, klienmu itu terbuka sekali ya.” Ujar Eungi sinis. “Apa suaminya se-sexy dirimu saat kau sedang bekerja?” Eungi menyengir iseng lalu menatap mata Kyuhyun di sampingnya.

Pria itu mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum. “Aku tidak tahu, bagaimana menurutmu?”

Ia mengambil silinder di atas meja lalu menjungkirkan tabung untuk mengeluarkan benda yang disimpan di bawah. Memindahkannya ke dalam genggaman tangannya, tanpa melepas kontak matanya dengan Eungi, Kyuhyun meletakkan benda kecil berbentuk lingkaran itu di atas denah yang masih terbuka di atas meja.

Suara hentakan kecil di meja mengalihkan pandangan Eungi dari Kyuhyun, saat mata Eungi kembali menatapa blueprint di atas meja, Kyuhyun langsung menyingkirkan tangannya, menunjukkan benda yang ingin diserahkan untuk kekasihnya.

Jantung Eungi berhenti bekerja saat itu juga. Wanita itu bingung emosi yang mana yang menyerangnya duluan, ia tersentuh, ia senang, ia kewalahan dengan sensasi memabukkan di hatinya, wanita itu bisa merasakan wajahnya memanas hanya dengan melihat cincin berlian yang diletakkan Kyuhyun di atas blueprint-nya.

“Noona, apa menurutmu menyatukan ruang kerja kita itu bijaksana?” Ia membungkuk lebih dekat dengan Eungi untuk berbisik di telinga wanita itu, memberitahu secara tersirat bahwa blueprint yang sedari tadi ia tunjukkan adalah rumah masa depan mereka. Boleh saja pria itu sekarang terdengar sangat santai, padahal kalu boleh jujur jantung Kyuhyun siap melompat keluar dari rongganya dan ia rasanya ingin pingsan.

Eungi membungkam mulut untuk menyembunyikan cicitan aneh yang keluar darinya, ia benar-benar kehilangan kata-kata. Kyuhyun telah melakukan hal yang benar-benar di luar dugaannya, ia tidak pernah mengira Kyuhyun akan melamarnya dengan cara ini, di rumah mereka yang nyaman sementara keduanya hanya mengenakan baju tidur seadanya, sambil dengan santai membicarakan ‘proyek’ yang sedang dikerjakannya. Tidak, Eungi tidak pernah mengira pria itu bisa melakukan aksinya selihai ini dan jelas wanita itu masih terpatung.

“Aku masih menunggu jawabanmu, noona. Lepaskan aku dari rasa sengsara menunggu jawabanmu, kumohon.” Ia berbisik sekali lagi, namun kali ini suara pria itu bergetar lebih gugup.

“Jadi kita akan punya tiga anak?” Eungi mengangkat wajahnya untuk memandang pria kesayangannya.

Kyuhyun mengangguk mantap.

“Kumohon, buatkan aku dapur yang besar itu, aku akan belajar memasak lebih giat lagi untukmu dan ketiga anak kita nanti.” Wajah wanita itu sudah sangat memerah karena bahagia.

“Apa itu artinya kau mau menikahiku?”

Eungi mengangguk cepat. “Tentu saja, ya Tuhan, terima kasih. Ini indah sekali, ini benar-benar indah sekali, Kyu. Aku rasanya terbang ke langit ketujuh sekarang.” Wanita itu bangkit lalu mengalungkan lengannya di seputar tubuh Kyuhyun, membelai pria yang baru saja menggambarkan masa depan mereka dengan sebuah denah yang indah, lengkap dengan lamaran yang sangat manis.

“Tidak, aku lah yang berterima kasih padamu. Terima kasih karena sudah merubahku menjadi sosok yang bisa membuatmu bangga. Kuharap kau akan selalu bangga padaku seperti hari ini.” Ia memeluk Eungi lebih erat sambil menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher wanita itu.

“Kau tahu bahwa aku fans nomor satumu kan?” Eungi mendorong tubuh Kyuhyun sedikit lalu mengangkat tangan kirinya ke wajah pria itu. “Apa aku harus menyelipkan cincin itu sendiri?” Ia bertanya dengan nada meledek.

Kyuhyun mendengus lalu mengambil cincin yang disiapkannya dari atas meja, lalu perlahan menyelipkan ke jari manis tangan kiri Eungi. “Tidak cliché, tidak ada menara Eiffel, dan aku tidak berlutut.” Ia berujar lembut sambil menggiring wajahnya mendekat wajah Eungi. “Aku harap kau akan mengingat momen ini sepanjang hidup kita nanti.”

Kyuhyun mendaratkan ciuman hangat di bibir Eungi, sebuah ciuman yang sederhana namun mampu menyampaikan seluruh cintanya pada wanita itu. Di benaknya, potongan kenangan mereka kembali berputar, saat pertama ia melihatnya, pertama kali pria itu merasa ingin melindunginya, argument pertama mereka, kali pertama Kyuhyun jatuh cinta pada Eungi, ciuman pertama mereka, hancurnya hubungan mereka yang disusul dengan usaha keras mereka untuk kembali bersama, lalu usaha jungkir-balik Kyuhyun untuk membuktikan bahwa dirinya memang pantas bersanding dengan wanita yang selalu melihat sisi terbaik dari dirinya.

Dengan lengan Eungi yang memeluknya erat sekarang Kyuhyun tahu, bahwa ia rela melakukan semua usaha keras itu dari awal demi berada di sisinya. Jika hadiah yang diperolehnya seindah wanita yang ada dalam dekapannya, dengan lapang dada ia akan melalui semua rintangan itu lagi berkali-kali demi merasakan kebahagian yang ia rasakan sekarang.

 

 

 

Advertisements

70 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 29

  1. ona kyu says:

    wah romantis banget cara ngelamar Kyu pakai denah rumah impiannya. siapa juga yang bakal nolak apa lagi Eungi emang cinta sama Kyu. pokoknya so sweet banget.😍😍😍😍😍

    Liked by 1 person

  2. Barom yu says:

    Aigoo~~ udah feeling pasti itu rumah impian buat eungi.. Enak kalo punya suami yg arsitek hihi ><
    2 pasangan yg beruntung..
    Speechless eonn, ini daebakk lamaran yang wow*bagiaku
    Jadi kapan nikah nya? Udah ga sabar liat bayi" lucu mereka
    Makin hari makin lengket aja ini pasangan :^
    Turut bahagia hehe
    Emberan eun kyu emang sexy xixixi

    Liked by 1 person

  3. Yoon28 says:

    kyaaaaaaaaaaaa. ini romantis bgt. Ngelamar sambil menggambarkan masa depan -baca dan pahami scene diatas- 😅 itu serius gw kebayang nanti dilamar pake cara itu 😂

    Liked by 1 person

  4. Dewi N says:

    Died

    Ini solusinya sweet 😍

    Owh ya ampun, maafkan aku yang lagi sendiri ini… 😆
    Rasanya gue jadi kebelet nikah ha-ha-ha 😂

    Like

  5. dayanaelf says:

    Selalu. Dan. Selalu….
    Ff inni memberikan kesan bahagia yg gak murahan,, momen elegan, percakapan cerdas,
    Suka bgt lah pokoknya… TOP bgt alurnya,
    Semoga next part mereka bner2 bahagia scr utuh, dan selamanya,

    Thanks

    Like

  6. Afa hyerin says:

    Daebak daebak… Menakjubkan pakek banget eonnie…. Aku sampek.bingung mau apa…. Eonnie… Kenapa kamu bisa buat ep ep sebagus ini sih….. Ya ampun… Aku suka banget karakter di ep ep ini… Sekali lagi daebak pokoknya

    Liked by 1 person

  7. putri0589 says:

    aku udah bisa nebak kalo itu rumah yg dibuat Kyuhyun untuk eungi dan Kyuhyun setelah nikah nanti,, tp cara Kyuhyun menjabarkan detail nya itu yg bikin meleleh.. ikutan bekap mulut sendiri juga ini jadinya demi suara histeris ga keluar dan ganggu orang lain….
    aaaahh,,, speechless banget sama acara lamaran nya Kyuhyun
    sumpaahh iri bangeet sama eungi kalo gini… jd berkhayal adakah lelaki diluar sana yg pernah bener bener melamar wanitanya dgn cara ini??

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s