(Indonesian Version) One Last Shot – Part 27

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Dulu Kyuhyun selalu meragukan bahwa ide mengajak Eungi keliling Eropa adalah sesuatu yang buruk. Karena wanita itu pernah punya memori yang indah saat ia dan mantan tunangannya itu berkeliling Eropa bersama. Namun, setelah melihat wajah kegirangan serta kilat bahagia dalam sorot mata Eungi setiap mereka melewati perbatasan negara baru, Kyuhyun menyadari bahwa Cha Eungi sedang menikmati masa-masa membahagiakan dalam hidupnya. Lagi-lagi Kyuhyun harus menyelamati dirinya sendiri karena sudah berhasil melupakan keraguan yang dulu selalu mengakar dalam hatinya.

Sesuai permintaan Eungi, mereka hanya menyetir ke arah selatan tanpa tujuan yang jelas. Pada malam pertama, ia menyarankan mereka beristirahat di wilayah timur Jerman. Pada hari kedua, mobil sewaan Kyuhyun mengantarkan mereka pada perbatasan Swis dan tiba-tiba saja tercetus ide untuk menghabiskan sisa liburan mereka di pergunungan Alpen Swiss, mumpung salju sedang menumpuk di liburan natal ini. Pria itu senang dengan keputusan itu, karena sudah menjadi impiannya sejak dulu untuk bisa ber-ski melewati lereng pergunungan Alpen yang tersohor.

“Lereng mana yang ingin kau taklukan, Kyu?” Eungi membuka peta di pangkuannya sementara pria itu tetap fokus pada jalan di hadapannya.

“Entahlah, carikan yang lumayan curam. Aku suka tantangan dan aku cukup lihai dalam bermain ski.”

“Hmm, yang populer itu puncak Titlis, kau mau ke sana?” Ia menoleh k earah pengemudi, mengamati wajah kekasihnya untuk mengkonfirmasi.

“Tentu.”

“Oke, kalau begitu sepertinya kita harus mengikuti petunjuk ke arah Engelberg.” Kepalanya celingukan mencari papan hijau petunjuk jalan yang belum kelihatan.

“Ayo kita berlomba ski turun dari puncak Titlis! Pasti itu menyenangkan sekali. Aaah impianku sejak dulu adalah menaklukkan lereng Alphen Swiss.” Kyuhyun memandang Eungi dengan seringai lebar.

Yang diajak ski malah menggeleng cepat sambil meringis. “Aku tidak bisa main ski.”

“Yang benar saja!” Kyuhyun membulatkan matanya dibuat-buat.

“Alasannya sama, tidak ada yang mengajariku.”

Kyuhyun memindahkan tangan kanannya dari setir untuk membelai rambut Eungi lembut. “Tidak apa, kita bisa melakukan hal lain. Kita bisa ikut kelas ski untuk pemula, aku yakin pasti ada di sana.”

Eungi mendengus. “Dweso.” Wanita itu langsung mencari informasi tentang puncak Titlis di ponselnya dan ia menemukan kegiatan yang lebih masuk akal baginya sementra menunggu Kyuhyun bermain ski. “Aku bisa menggelosor di bagian landai lembah Titlis menggunakan balon-balon berbentuk donat ini.” Ia menunjukkan foto yang ditemukannya pada Kyuhyun.

“Yeah, itu juga bisa dilakukan.” Pria itu kembali menatap ke depan. “Jadi apa lagi yang tidak bisa kau lakukan? Kau tidak bisa berenang, tidak bisa naik sepeda, tidak bisa bermain ski, apa lagi yang kau tidak bisa?”

“Kenapa? Kau merasa lebih superior sekarang?” Eungi terkekeh. “Aku payah dalam segala cabang olahraga, kecuali berlari. Aku tidak pernah paham peraturan cabang olahraga yang menggunakan bola, aku tidak cukup lentur untuk ikut gimnastik. Tapi lucunya, aku dulu tergabung dalam tim renang saat SMA.”

“Bagaimana mungkin?” Kyuhyun mengangkat alisnya bingung tanpa melepas pandangan dari jalanan panjang di depannya.

“Aku perlu point ekstrakurikuler dan satu-satunya yang masih buka tinggal klub renang. Jelas menjadi masalah saat pelatihku menyadari kalau aku tidak bisa berenang, tapi aku akhirnya ditugaskan sebagai pengawas yang memegang ban pengaman di pinggir kolam. Makanya aku paham langkah-langkah pertolongan pertama dan CPR lebih baik dari teman-temanku.” Eungi mengikik geli. “Tapi tidak masalah, aku memang payah untuk urusan kegiatan fisik, yang penting otakku berfungsi lebih baik dari anak seumurku.”

Kyuhyun menggeleng sambil menyengir jahil. “Jangan rendah diri seperti itu, noona. Percaya padaku, kau tidak punya masalah dalam aktifitas fisik, apalagi yang melibatkan aktifitas fisik di atas ranjang.”

Gulungan peta langsung melayang ke kepala Kyuhyun, Eungi terbahak dengan cara kekasihnya membuat ia merasa lebih baik masalah kemampuan fisiknya, tapi di saat yang bersamaan juga jengkel dengan otak mesum pria itu.

“Matahari masih tinggi sekali dan otak mesummu sudah mengambil alih.” Gerutunya.

“Ey, ini masa bulan madu kita, wajar saja kalau kita seperti ini.” Kyuhyun menyeringai jahil.

Eungi mengangguk. “Kuharap kita akan selalu berada dalam kebahagiaan ini. Kita tidak bisa berjauhan dari satu sama lain, kita selalu menggenggam tangan satu sama lain, kita menikmati hidup seolah-olah kita tinggal dalam dunia yang sempurna.”

Kyuhyun meraih tangan Eungi yang ada di atas pangkuannya lalu menggenggamnya erat. “Aku pun mengharapkan hal yang sama. Kita berikan yang terbaik untuk hubungan ini, ng?”

Wanita itu tersenyum lalu meyandarkan kepalanya di atas bahu Kyuhyun, memang tindakan ini cukup membahayakan karena mengganggu fokus Kyuhyun yang sedang menyetir, tapi Eungi tidak bisa menahan diri untuk tidak bermanjaan dengan pria itu—dan Kyuhyun juga tidak nampak keberatan.

“Jadi ini hari ketiga kita mengarungi Eropa dengan M5. Beri aku opini jujur—aku janji tidak akan cemburu dengan apa pun jawabanmu—mana yang lebih baik? Audi atau BMW?” Kyuhyun menyandarkan kepalanya ke atas kepala Eungi yang masih di bahunya.

“Sejujurnya?” Eungi menarik napas panjang. “Aku selalu yakin M5 yang terbaik.” Ia mengangkat kepalanya untuk mengecup pipi Kyuhyun. “Kau yang terbaik.”

Kyuhyun mendengus sambil memutar matanya, tapi diam-diam menikmati perhatian yang didapatnya dari Eungi. Ia juga menikmati rasa percaya diri yang baru ditemukannya setelah membaca surat Eungi. Jika ada satu hal yang sukses merubah perspektif pria itu akan dirinya sendiri terhadap saingan terberatnya, maka surat wanita itulah yang menjelaskan segalanya. Memang benar mantan tunangan Eungi mendapat dedikasi satu buku penuh sebagai cara terakhir Eungi menghormati hidup Siwon, sedangkan Kyuhyun hanya mendapat satu bab. Tapi yang penting justru bab terakhir itu. Eungi menulis satu buku dengan ratusan halaman untuk Siwon, namun hanya satu pria yang dimintanya untuk kembali ke dalam hidupnya—bagi Kyuhyun fakta itu lebih dari cukup untuk mengamankan posisi di hati Eungi selamanya.

 

*

 

Keduanya tidak bisa berhenti berdecak mengagumi pemandangan spektakuler sepanjang perjalan mereka di wilayah Swiss. Negara itu diberkahi dengan pemandangan indah, di mana gunung-gunungnya membentuk jejeran barisan berselimutkan salju putih yang diselingi lembah berdanau lengkap dengan rumah-rumah bernuansa Eropa mengelilingi danau yang menjadi pusatnya. Pada setiap belokan yang mereka ambil, pasti ada pemandangan indah lain yang selalu mengintai di balik keindahan sebelumnya. Hal ini membuat perjalan mereka ke Engelberg menjadi lebih lama, karena Eungi dan Kyuhyun selalu berhenti di setiap pemandangan yang membuat mereka kagum untuk berfoto-foto.

Saat tiba di Engelberg, hari sudah terlalu malam dan elevator ski sudah berhenti beroperasi. Maka keduanya harus mencari rencana dadakan selama menunggu pagi tiba. Bellboy di hotel mereka menyarankan paket couple spa di Jacuzzi balkon rooftop hotel dan tanpa berpikir dua kali, Kyuhyun dan Eungi langsung setuju dengan ide yang terdengar agak janggal.

Wanita itu menggigil kedinginan saat ia membuka jubah handuknya, tubuh mungilnya hanya dibalut dengan baju renang seadanya, sedangkan udara saat itu di bawah nol derajat. Ia segera berlari kea rah Jacuzzi untuk menenggelamkan tubuh di dalam air hangat yang disediakan, Kyuhyun yang juga hanya menggunakan celana renangnya saja segera mengikuti langkah Eungi dengan cepat dari belakang.

“Kenapa kita bisa setuju ide gila bellboy itu untuk menikmati outdoor Jacuzzi di Swiss pada musim dingin.” Protes Kyuhyun dengan gigi gemeletuk kedinginan. Pria itu hanya mengakat kepalanya sampai batas mulut saja untuk bernapas dan sisa tubuhnya dibenamkan di bawah air.

Eungi tertawa lalu mendekati posisi Kyuhyun untuk duduk di pinggiran kolam itu. “Tapi setelah beberapa saat sebenarnya memang terasa hangat.”  Ia menarik tangan Kyuhyun agar pria itu duduk di sampingnya. “Dan mereka juga menyediakan wine untuk kita, sempurna sekali bukan?” Ia mengeluarkan tangannya dari dalam air untuk meraih botol wine di tepi kolam lalu segera berniat meneguk isi botol itu langsung ke mulutnya.

“Ya! kau harus menghormati winenya!” Kyuhyun menarik botol wine dari tangan Eungi. “Pakai gelas, Eungi-ya.”

“Terlalu dingin, Kyu. Gelasnya lebih jauh lagi.”

Kyuhyun menggeser duduknya sedikit untuk meraih gelas wine. “Mendekatlah padaku.” Ia mengalungkan lengan kanannya pada pundak Eungi, menuangkan wine pada gelas di tanganya lalu menyerahkan pada kekasihnya. “Silakan, sayang. Minumlah dengan anggun. Hormati winenya.”

Eungi memutar bola matanya untuk meledek kelakuan Kyuhyun namun ia mengikuti perintahnya. Jacuzzi itu sudah membuat tubuhnya terasa lebih hangat, wine yang diminumnya juga menambah kehangatan dan pria di sampingnya yang sedang mendekapnya menjadi kombinasi sempurna dari acara outdoor spa musim dingin mereka.

“Kyu, pemandangannya cantik sekali. Kita di luar, tapi tubuh kita tenggelam dalam air hangat sedangkan salju turun dengan derasnya di samping kita.” Eungi menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun sambil memandang ke langit.

Pria itu mengikuti arah pandangan Eungi untuk menatap langit di atas mereka dan ia mengangguk setuju. Pemandangan serpihan salju putih yang turun deras dari gelapnya langit malam memang sangat ajaib untuk dipandang. Rasanya benar-benar menenangkan mengamati serpihan salju itu langsung meleleh saat menyentuh air panas dalam Jacuzzi mereka, namun juga ada serpihan yang mulai terkumpul di sisi kolam, membentuk tumpukan putih yang halus.

“Apa aku pernah ke sini sebelumnya?” Tanya Kyuhyun sambil menyesap wine dari gelasnya.

“Belum. Aku lebih banyak pergi ke wilayah Perancis dan Jerman dulu.” Eungi menarik gelas dari tangan Kyuhyun lalu meminum sisanya seperti orang kehausan, membuat Kyuhyun mendelik horor melihat cara wanita itu memperlakukan wine yang ia puja seperti bir murahan saja. “Aku senang sekali karena kita memilih tempat ini secara spontan.”

“Tempat yang sempurna untuk bulan madu.” Ujar Kyuhyun tanpa berpikir.

“Kita memang dalam masa bulan madu kita, bukan?” Eungi menyengir lebar. “Kau tidak harus terikat sebuah hubungan pernikahan untuk berbulan madu, iya kan?”

Kyuhyun membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi ia segera mengatupkannya lagi, membiarkan keraguan mengambil alih ketimbang menjawab pertanyaan Eungi dengan jujur. Wanita itu menyadari keraguan dalam gerak-gerik Kyuhyun dan rasa penasarannya yang tinggi langsung menyerbu.

“Kau mau bicara apa barusan?” Ia memiringkan kepalanya lengkap dengan ekspresi penasaran.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. “Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini.”

“Hal apa?”

“Pernikahan.” Kyuhyun menggigit bibirnya gugup.

Eungi membekap mulutnya sendiri dengan spontan dan rasa bersalah langsung mendominasi sorot matanya. “Maafkan aku, aku tidak bermaksud membicarakan topik itu. Ya Tuhan, kumohon jangan takut. Aku hanya bicara asal saja, aish pasti gara-gara wine itu.” Ia terus nyerocos panik.

Kepanikan di mata Eungi justru terlihat lucu di mata Kyuhyun, ia menghindari obrolan ini karena ia belum memenuhi tujuan hidupnya untuk membahas langkah lanjutan dengan kekasihnya ini, bukan karena Kyuhyun takut dengan komitmen pernikahan. Tapi melihat reaksi Eungi yang panik, sepertinya wanita itu mengira Kyuhyun justru takut dengan komitmen.

“Noona, kenapa kau malah minta maaf?” Ia menarik tangan Eungi yang membekap mulutnya sendiri. “Lagipula kenapa kau malah terlihat sangat terkejut seperti ini?”

“A—aku tidak mau membebanimu dengan prospek obrolan itu.” Jawabnya jujur.

“Kenapa tidak?” Ia memanyunkan bibirnya manja. “Kau tidak mau menikah denganku?”

“A—aku… aku hanya mengira… kau… bukan tipe…” Ia tergagap, wajahnya terlihat cemas sembari Eungi mencoba mencari kata-kata yang tepat.

“Kau mengira aku bukan tipe pria yang pantas dinikahi?”

“Ya Tuhan, bukan! Bukan itu, aku kira pernikahan tidak pernah ada dalam agendamu.” Eungi menggigit bibirnya lalu memandang ke bawah, siap menerima omelan Kyuhyun.

Bukannya marah, Kyuhyun justru menangkupkan tangannya di wajah Eungi, menengadahkan wajah wanita itu untuk menatapnya. “Karena kau kira aku tidak pernah meletakkan pernikahan dalam agendaku, maka kau mencoba menghindar obrolan serius denganku?”

Wanita itu tidak menjawab, tapi matanya cukup menyuarakan isi kepala Eungi dengan jelas.

“Eungi-ya, melihat apa yang terjadi pada kedua orangtuaku, jelas aku tumbuh dewasa dengan stigma ingin menghindari pernikahan.” Kyuhyun mengkonfirmasi kekhawatiran Eungi. “Tapi saat wanita yang tepat datang dalam hidupku, menurutmu aku tetap bertahan dengan pandangan buruk itu, atau justru menyambut seluruh indahnya masa depan yang bisa kucapai bersamanya?”

Eungi mengangkat bahunya bingung, masih ragu untuk melanjutkan obrolan yang agak janggal ini.

“Aku tidak mengajakmu untuk menikah sekarang, karena kita belum siap. Kita masih sibuk menyatukan kepingan hati kita yang sepat hancur karena ketololanku. Walaupun progress kita sangat bagus, aku percaya bahwa melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa itu juga tidak baik.” Jelasnya.

“Aku setuju.” Bisik Eungi.

“Tapi bukan berarti aku tidak mempertimbangkannya. Maksudku mengapa juga aku mengemis agar kau menantiku kalau ujung-ujungnya kita tidak—”

“Aku takut membayangkan pernikahan sejak saat itu.” Ia menggigit bibirnya lagi, menyingkirkan tangan Kyuhyun yang ada di wajahnya dan kembali menatap turun.

“Ne?”

Eungi menggeleng cepat. “Lebih baik kita ganti topik pembicaraan, jangan rusak malam indah ini dengan obrolan seperti ini.”

“Aku keberatan. Aku akan memaksa untuk membicarakan ini. Kita harus berhenti menghindari obrolan serius hanya karena kita sama-sama takut saling menyakiti lagi, noona. Beritahu aku apa yang mengganggu pikiranmu.” Kyuhyun mendelikkan kepalanya untuk mengintip wajah Eungi yang masih menghadap bawah.

“Aku berjanji padamu untuk tidak pernah membicarakannya lagi.” Ia menekannya kata ‘nya’ untuk mengindikasikan ia bicara tentang Siwon.

Kyuhyun mengangkat wajahnya kembali, menarik napas dalam dan mengutarakan kalimat yang tidak Eungi duga. “Aku tidak peduli padanya, noona. Tapi aku sangat peduli padamu. Jadi aku akan buat pengecualian dan memberikanmu free pass untuk mengutarakan kekhawatiranmu.”

Eungi mengangkat wajahnya untuk menatap Kyuhyun, mencari kesinisan yang mungkin tersisa di wajah pria itu, tapi ia tidak bisa menemukannya. Pria di hadapannya benar-benar telah berubah sangat dewasa dalam menyikapi masa lalu Eungi.

“Aku takut.” Akunya. “Aku takut saat semua terlalu sempurna, keindahan itu akan dirampas lagi dariku.”

Kyuhyun masih menatap Eungi dengan seksama, membiarkan wanita itu tetap bicara.

“Jadi saat aku jatuh cinta padamu, lalu mulai memiliki pikiran liar tentang masa depan kita bersama, aku langsung menyabotase diriku dari impian itu. Satu sisi dariku takut bahwa kau memang tidak pernah memikirkan hubungan abadi itu dan sisi lain juga takut jika kau justru mempertimbangkannya, aku takut kalau keindahan itu akan dirampas dariku. Karena hidup selalu berlaku kejam padaku.” Ia mendengus sinis pada kata-katanya. “Maksudku, tunanganku yang terakhir tewas hanya beberapa jam setelah ia melamarku—pasti semesta berusaha menyabotase kebahagiaanku kan?”

Kyuhyun menggit bibirnya dalam diam sambil mencari argumen yang tepat untuk menjawab Eungi.

“Aku sangat mencintaimu, Kyu.” Ia mengeluarkan tangannya dari dalam air untuk menangkup wajah Kyuhyun. “Jadi aku benar-benar tidak peduli label apa yang kita miliki. Aku hanya ingin tumbuh tua bersamamu menjadi pasangan jompo berusia tujuh puluh tahun, keriput, dan tetap menggenggam tanganmu di sisiku. Aku tidak peduli apa saat itu kau masih pacarku, atau suamiku, atau ayah dari anak-anakku. Aku hanya ingin hidup bersamamu tanpa memberikan tekanan pada status—”

“Noona…”

“Jangan potong kata-kataku, sulit sekali bagiku mengatakannya.” Wanita itu mulai bisa merasakan panas di matanya. “Aku ingin memiliki masa depan bersamamu, bahkan nyatanya pandanganku tertutup oleh bayanganmu dan hanya bayanganmu saja, aku tidak mau menghancurkan apa yang telah kita bangun. Jadi kumohon, jangan biarkan obrolan ini menjadi sebuah celah yang menuntun pada kondisi canggung nantinya. Dan kumohon, jangan ciut untuk berada di sisiku hanya karena mulutku tidak bisa diam membicarakan masa depan kita.”

Wanita itu menggigit bibirnya lagi lalu menarik napas dalam, sekarang Eungi benar-benar siap mendapan semburan kata-kata Kyuhyun.

“Apa kau sudah selesai bicara?” Tanya pria itu sopan.

Eungi mengangguk sambil menghindari tatapannya.

“Bagus, sekarang giliranku.” Ia tersenyum sambil berdeham keras. “Tatap aku Eungi-ya.”

Dengan takut-takut Eungi mencoba menatap mata gelap pria itu.

“Aku menginginkan semua yang kau jabarkan barusan.”

Eungi membulatkan matanya keheranan.

“Apa yang kau gambarkan tentang masa depan kita indah sekali. Aku sudah membayangkannya sebelumnya, tapi seperti biasa, kau selalu selangkah lebih dulu dariku.” Ia terkekeh geli. “Tapi aku keberatan dengan satu hal. Aku tidak mau menjadi jompo dan keriput lalu masih menyandang status sebagai pacarmu! Apa-apaan itu? Aku mau saat kita berusia tujuh puluh tahun menikmati masa jompo kita, duduk santai di teras belakang rumah kita, menyesap wine mahal sambil mengawasi cucu-cucu kita bermain di halaman belakang rumah kita kelak. Kuyakinkan juga, aku masih akan tetap memanggilmu dengan sapaan kesayanganku: noona.”

Air mata Eungi kini mengalir, wanita itu terlalu bahagia mendengar ucapan kekasihnya.

Kyuhyun menundukkan kepalanya sedikit untuk mengecup bibir Eungi singkat sambil ibu jarinya menghapus air mata yang mengalir di pipi kekasihnya. “Tapi kumohon, tunggu aku sedikit lagi, ne? izinkan aku menuntaskan masalah ayahku terlebih dahulu, biar kubangun fondasi yang kokoh untuk masa depan kita bersama, biarkan aku mempersiapkan diri untuk menjadi pria yang memang pantas bersanding bersamamu. Aku janji tidak akan lama, tapi kau harus bersabar selama aku menata semua itu.” Kyuhyun mengutaran kata-katanya dalam lantunan yang tenang dan indah.

Eungi mengangguk cepat lengkap dengan senyum konyol di wajahnya. “Jadi kau berencana menikahiku?” Tanpa sadar Eungi membiarkan rasa penasarannya lepas dari mulutnya.

“Tentu saja.” Kyuhyun mengecup Eungi lagi, baru kemudian ia tersadar akan sesuatu dan langsung menarik dirinya menjauh samil memelototkan matanya. “Tapi ini bukan lamaranku untukmu, oke? Aku tidak akan menyabotase lamaranku sendiri dengan kata-kata seadanya dan serba mendadak seperti ini.”

Eungi terkikik lalu mengecup Kyuhyun balik. “Ingat, jangan melakukannya—”

“Jangan melakukannya dengan cara murahan, tidak ada menara Eiffel, tidak perlu berlutut dan tidak ada cliché.” Ia menuntaskan kalimat Eungi. “Aku ingat.”

Eungi mengalungkan lengannya di sekeliling leher Kyuhyun, menarik paksa pria itu untuk menciumnya lebih dalam. Lagi-lagi pria itu sukses menjungkir-balikkan dunia Eungi. Satu detik ia takut dengan prospek pernikahan yang mungkin terkesan mengerikan karena kenangannya, lalu detik berikutnya pria ini justru meyakinkan Eungi dengan skenario dan gambaran yang sempurna yang akan mereka miliki puluhan tahun dari sekarang di perkarangan belakang rumah mereka. Wanita itu tidak bisa berhenti tersenyum dalam sela-sela ciumannya, bahkan Eungi percaya jantungnya bisa melompat keluar karena luapan kebahagiaan yang meledak di dalam dadanya.

 


author’s note:

hooh, memang pendek.. yaudah lah yaaaa.. bentar lagi tamat ;p

 

 

 

Advertisements

56 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 27

  1. putri0589 says:

    Kyuhyun bener bener berubah jadi sosok calon suami dan pria idaman semua wanita kalo begitu,, jadi makin iri sama eungi ya ampuun
    luar biasa banget ketika kita dicintai sebegitu besarnya dengan orang yg tepat,, oh ya ampuun rasa nya dunia ada di genggaman deh klo udah begitu…
    semoga mereka bener bener bisa menikah dan bahagia selamanya

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s