(Indonesian Version) One Last Shot – Part 25

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

Kyuhyun sudah sibuk mensitasi berbagai referensi dari buku-buku yang sempat dipinjamnya dari perpustakaan sebelum libur natal datang. Pria itu harus membuat ulang proposal tesisnya, proposal yang pantas diajukan untuk Profesor Van Wijk. Jelas Eungi terpakasa mengundurkan diri sebagai asisten profesor kesayangannya itu, tapi wanita itu tetap menolak membantu Kyuhyun dalam menyusul proposalnya, karena dalam kamusnya tidak pernah ada istilah ‘nepotisme’ meskipun itu untuk kepentingan kekakasihnya sendiri.

Sementara Kyuhyun sibuk membenamkan fokus di dalam halaman-halaman buku, Eungi justru mempersiapkan bahan-bahan pembuat salad untuk pesta natal malam ini di rumah Van Wijk. Tidak biasanya ia melewati natal dalam keramaian, maka Eungi sangat bersemangat untuk melewati natal kali ini dikelilingi oleh orang-orang yang dikasihinya—apalagi Profesor Van Wijk sudah menjanjikannya sebuah hadiah untuk Eungi di bawah pohon natalnya tahun ini.

“Kau tidak mau membantuku dengan ketimun ini, Kyu?” Eungi mengeraskan suaranya dari arah dapur.

“Tidak bisa, noona. Saat aku bilang akan membuatnya terkesan, aku tidak bercanda.” Sahut Kyuhyun tanpa melepas pandangan dari buku yang dibacanya.

Eungi meletakkan ketimun di tangannya dan ikut duduk bersama Kyuhyun di meja makan. “Sungguh pemandangan yang janggal melihatmu seperti ini.”

“Pemandangan aku belajar sungguh-sungguh?”

Eungi mengangguk. “Menggunakan buku sebagai refrensi, kau kan keranjingan sumber internet.”

“Itu tidak valid sekarang, karena alasan plagiarisme yang membuat kita sama-sama muak.” Akhirnya Kyuhyun menyerah mencoba berkonsenterasi pada bukunya. “Kau tidak akan diam dan mambiarkanku membaca kan?”

Eungi menyengir lebar. “Kau bisa membaca buku-buku itu di apartemenmu sebelum kau tidur, apa gunanya kau menghabiskan waktu bersamaku jika kau menganggurkanku dengan buku-buku itu.” Ia memanyunkan bibirnya sebagai usaha terlihat imut di hadapan Kyuhyun.

“Noona, hentikan rajukanmu. Image ‘sok-imut’ tidak pantas untukmu.” Kyuhyun mencubit pipi Eungi gemas. “Dan bukankah dulu juga kita menghabiskan waktu seperti ini? Bedanya, dulu kau yang sok sibuk dan aku yang bermain game.”

“Aku tahu.” Ujarnya sambil menunduk. “Tapi aku merindukanmu.”

Kyuhyun tertawa. Sejak mereka kembali bersama, telah banyak perubahan dalam diri Eungi yang ia saksikan dan sejujurnya ia tidak tahu apa perubahan wanita itu lebih baik atau justru buruk—yang jelas wanita itu sekarang benar-benar manja. Ia tidak bisa menyalahkan Eungi atas perubahan ini, Kyuhyun berkontribusi pada rasa takut kehilangan yang selalu mengintai Eungi sekarang, ia pun juga sangat ingin menikmati setiap saat bersama dengan wanita itu. Namun pribadi Kyuhyun juga berubah, kali ini pria itu tidak lagi gegabah, karena banyak sekali urusan yang bergantung di atas pundaknya. Kelancaran studinya sekarang menjadi penting, lalu bisnis ayahnya yang masih belum kembali pada kestabilan sebelumnya, kalau bisa membelah diri, Kyuhyun ingin sekali melakukannya. Lalu masih ada satu prioritas utama dalam hidupnya dalam wujud wanita manja yang sekarang sedang manyun di hadapannya.

“Kenapa kau tertawa? Apa kerinduaku nampak lucu di matamu?” Sikap manjanya hilang, kali ini sorot mata Eungi benar-benar kesal.

“Tidak, jelas kerinduanmu bukan bahan tertawaan untukku.” Kyuhyun menggenggam tangan Eungi di atas meja. “Yang kutertawakan adalah perubahan diri kita, sepertinya peran kita tertukar sekarang. Dulu aku lah yang selalu ngotot menghabiskan setiap detik bersamamu.”

“Maaf.”

“Mengapa kau minta maaf? Tidak masalah, aku pun sangat merindukanmu noona—sangat! Karena itu lah aku menghabiskan setiap detik waktu siang dan malamku bersamamu…”

“Tapi kau sibuk, aku paham.” Ia mengangguk lemah. “Masalahnya adalah, ini liburan natal dan ini natal kita pertama bersama, mungkin momen ini tidak penting untukmu, tapi ini impianku. Bisakah kita melakukannya dengan benar?”

“Beritahu aku,” Kyuhyun bangkit dari duduknya untuk berdiri di belakang kursi Eungi sambil memeluk wanita itu dari belakang. “Apa yang ada dalam bayanganmu tentang natal yang sempurna?”

Eungi menyandarkan kepalanya pada perut Kyuhyun sambil menggenggam lengan Kyuhyun yang lelingkar di bahunya. “Seperti yang ditayangkan di film-film: mempersiapkan makanan bersama, menukar kado, mengobrol di depan perapian komplit dengan segelas eggnog di tangan.”

“Wow, kau menonton banyak film tentang natal yang cliché.” Kyuhyun meledek Eungi lalu mencium puncak kepala wanita itu. “Baiklah, aku akan menutup semua buku itu selama dua hari dan akan mendedikasikan dua hari sepenuhnya hanya untukmu.”

“Benarkah?” Eungi mendongak untuk memandang Kyuhyun dengan sinar kebahagiaan yang jelas. “Jadi kau mau membantuku men-julienne ketimun?”

“Tidak, aku akan membantu apa pun selain memasak. Lagipula mengapa kita harus menyiapkan salad sih? Kita kan diundang jamuan natal di rumah Profesor Van Wijk.”

“Mereka suka modifikasiku pada huzaren sla yang kupadukan dengan bumbu Korea, makanya mereka minta aku membuat salad itu hari ini.”

“Aku akan mencuci perabot kalau begitu.” Ia kembali ke kursinya yang semula untuk menutup buku-bukunya. “Noona, aku tahu kau menolak membantuku masalah proposal ini, tapi tidak bisakah kau memeriksa kelayakannya sebelum kuserahkan ini pada Van Wijk?”

“Hanya jika kau berkelakuan manis padaku.” Eungi menyengir lebar sebelum kembali ke kabinet dapur untuk lanjut mencincang ketimun.

*

Pesta natal di rumah Van Wijk ternyata lebih seperti family gathering kecil-kecilan yang diselenggarakan pria paruh baya itu untuk mengumpulkan ketiga putranya. Sayangnya tidak satu pun dari anak-anak Van Wijk bisa hadir karena mereka pun sibuk dengan keluarga kecilnya masing-masing—hingga akhirnya Kyuhyun dan Eungi berfungsi sebagai pemeran pengganti untuk mengisi kesepian acara makan malam pasangan Van Wijk itu. Saat mereka tiba, isteri Van Wijk, Poek, langsung menggiring Eungi ke dapur untuk membantunya mempersiapkan danging panggang, meninggalkan Kyuhyun dan Sir Joost berduaan saja dalam suasana yang agak canggung. Memang keduanya sudah sering bertemu dalam kelas, juga dalam bimbingan personal sebelumnya, tapi baru kali ini mereka bertemu dalam satu acara yang tidak melibatkan obrolan tentang tesis penelitian.

Untuk mencairkan suasana, pria paruh baya itu mengeluarkan salah satu koleksi whiskey miliknya dan mengajak Kyuhyun untuk menemaninya minum di sunroom, bagian belakang rumahnya yang beratapkan kaca yang menghadap ke taman rumput. Dengan wajah bangga Van Wijk memamerkan whiskey langka yang ia peroleh sebagai hadiah dari Eungi saat wanita itu kembali dari Edinburgh tahun lalu. Ia mengambil dua buah gelas untuknya dan Kyuhyun

“Kau membuatku kehilangan asisten terbaikku.” Ujar Profesor Van Wijk sambil menuangkan cairan amber keemasan pada gelas mereka.

“Aku minta maaf untuk itu, aku tidak tahu kembalinya diriku dalam hidupnya akan berakibat fatal untukmu.” Kyuhyun memalingkan wajahnya saat menyesap minuman, meskipun ia berada di belahan dunia barat, ada beberapa norma Korea yang masih melekat erat pada dirinya.

“Kuharap kali ini kau berniat tinggal di sisinya untuk seterusnya.” Sang profesor berdeham. “Maaf kalau aku terdengar terlalu ikut campur, hanya saja aku benar-benar menganggapnya sebagai gadis kecilku.”

Kyuhyun mengangguk. “Aku paham, Sir. Dan aku tidak pernah berniat meninggalkannya dulu, tapi satu dan lain hal menciptakan banyak kesalahpahaman, hingga akhirnya seperti itu.”

“Hmm, Cha sudah cerita padaku.” Profesor Van Wijk menuangkan lebih banyak whiskey ke gelas Kyuhyun. “Aku benar-benar lega, karena kalian akhirnya menemukan jalan keluar.”

Pria paruh baya itu mengangkat gelasnya dan Kyuhyun dengan sopan ikut mengangkat gelasnya untuk diadukan pada gelas Van Wijk, sebelum kedua pria itu kembali menyesap whiskey mereka.

“Apa kau punya niatan spesial untuknya dekat-dekat ini?” Van Wijk terkekeh. “Ah, aku pasti terlalu blak-blakan, maafkan karakterku yang satu ini. Hanya saja, aku kan semakin tua dan dulu Cha pernah memintaku—saat ia lulus—agar aku menjadi pria yang menuntunnya berjalan ke perlaminan jika saatnya tiba.”

Kyuhyun langsung tersedak whiskey yang sedang ditelannya, dengan cepat pria itu menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di kerongkongannya.

“Is that a ‘no’?” Van Wijk lanjut bicara tanpa dosa.

Kyuhyun berdeham keas untuk membersihkan sisa-sisa whiskey yang masih menyangkut di kerongkongannya sebelum ia membalas. “Wow, aku benar-benar harus beradaptasi dengan kebiasan orang Belanda yang kelewat blak-blakan.” Ia terkekeh. “Dan, jelas aku berniat meminangnya. Aku selalu membayangkan masa depan semacam itu bersamanya—maksudku, ia adalah wanita impianku. Tapi mungkin aku tidak akan melakukannya dekat-dekat ini.”

“Karena masa studimu belum selesai?”

“Karena alasan itu,” Kyuhyun mengangguk membenarkan. “Dan juga karena beberapa alasan lain.” Ia bergerak tidak nyaman dalam duduknya.

Van Wijk menatap Kyuhyun heran melalui sepasang mata hijaunya.

“Seperti yang kita tahu, Eungi adalah wanita yang sangat mengagumkan, bukan?” Jelas Kyuhyun.

Van Wijk mengangguk sambil menuangkan whiskey lagi ke dalam gelasnya.

“Setidaknya aku harus memperoleh setengah dari pencapaiannya, jika aku ingin menyandingkan diriku dengan pantas di sisinya.” Pandangan Kyuhyun diarahkan pada kakinya, wajahnya serasa panas saat membicarakan prospek pernikahan—sesuatu yang dulu ia tidak pernah perhitungkan dalam hidupnya. “Aku tidak bisa mendadak memintanya untuk menikahiku dengan instan.”

“Mengapa tidak? Bukankah para wanita justru suka dengan kejutan semacam itu?”

“Aku harus mampu menafkahinya, mencukupinya dengan seluruh makanan yang ingin dicicipinya, membelikan pakaian yang ia inginkan, melindunginya dalam sebuah rumah yang hangat—setidaknya itu harus kusiapkan.” Ia menggigit bibirnya gugup, mengapa ia justru mendiskusikan hal ini dengan profesornya. “Aku bahkan belum bisa memberikan kehidupan yang nyaman baginya sekarang, lancang sekali jika aku meminangnya sementara penghasilan Eungi jauh di atas yang mampu kuberikan untuknya.”

“Ah! Sekarang aku paham kekhawatiranmu.” Pria tua itu mengangguk sampbil menawarkan Kyuhyun whiskey lagi—yang ditolaknya.

“Itu hal yang penting, Sir. Aku tidak mau Eungi menurunkan standar hidupnya yang nyaman karena ia harus menyesuaikan diri dengan pendapatanku yang sekarang, dan aku juga tidak mau ia yang menafkahiku.” Jelas Kyuhyun.

“Harga diri seorang pria.”

“Tepat sekali.”

Profesor Van Wijk mengangguk-angguk paham, namun pria itu menggeser kursinya mendekat ke arah Kyuhyun. Ia menundukkan kepalanya untuk berbisik. “Apa kau benar-benar merasa tidak ada apa-apanya dalam pandangannya?”

“Aku punya alasan yang kuat.”

“Yaitu?”

“Pribadinya sudah hebat tapi dia juga pernah memiliki tunangan yang sangat hebat sebelum bertemu denganku. Pria itu kompetisi yang berat untukku.” Kyuhyun mengutarakan keresahannya tanpa ragu. “Rasanya aku sekecil ini.” Ia membuat gestur dengan ibu jari dan telunjuknya, “dibandingkan pria itu.”

“Kau tahu? Aku bertemu pria itu beberapa kali dan kalau menilik dari beberapa sudut pandang, aku setuju denganmu.” Profesor Van Wijk menyeringai. “Sejujurnya pria itu tidak secerdas dirimu. Memang dia mempesona dan santun, tapi bukankah itu nilai-nilai yang kita peroleh dan pelajari seiring kita dewasa—jadi tidak terlalu penting juga kelebihannya. Pria itu hanya menang pada dua aspek dibanding dirimu: pertama ia percaya diri dengan apa yang dimilikinya, kedua ia wafat untuk melindungi Cha—jadi hal itu memberikan ilusi tentang cinta yang tidak tergantikan.”

Kyuhyun meraih botol whiskey di tengah meja dan tanpa sungkan menuangkan cairan itu ke dalam gelasnya, meneguk seluruh porsi di gelasnya sekaligus, lalu menarik napas panjang. Profesor Van Wijk dan Eungi benar-benar mirip, mereka sama-sama tahu cara untuk memanipulasi ego dalam diri Kyuhyun dan menggunakan sebagai senjata untuk menggerakkan intuisi pria itu.

Look, sepertinya kau akhirnya mulai tertarik pada pembicaraan kita.” Profesor Van Wijk menuangkan satu shot lagi untuk mereka. “Yang coba kusampaikan adalah, kau itu sangat penting bagi Cha. Ia menghancurkan dirinya sendiri beberapa bulan kemarin dan menggunakan namamu sebagai pembenaran tidakan onar kekanakannya, ia menunjukkan bahwa ia ingin kau merasa bersalah atas tindakanmu sekaligus berharap agar kau menyelematkannya tiba-tiba dari kehancuran dirinya sendiri—aku mengenalnya baik, Cho. Dia tidak pernah melanggar batas masalah konsumsi marijuana dan obat-obatan—tapi faktanya ia melakukan kecerobohan itu, untuk menghapus sakit dalam hatinya.”

Gambaran Eungi yang merusak dirinya sendiri karena Kyuhyun kembali membuatnya kesal, ia kembali terbayang kelakuan onar Eungi beberapa bulan yang lalu di Amsterdam.

Profesor Van Wijk bangkit dari kursinya dan menyuruh Kyuhyun diam saja di tempatnya sementara ia mengambil sesuatu. Beberapa menit kemudian, pria paruh baya itu duduk lagi di samping Kyuhyun sambil mengulurkan sebuah benda berbentuk persegi panjang yang langsung Kyuhyun simpulkan sebagai buku karangan Eungi.

“Aku tidak bisa membacanya, Sir.” Tolak Kyuhyun tegas.

“Baca bab terakhirnya saja, kumohon.” Ia membuka halaman yang dimaksud. “Cha tidak pernah pintar dalam berucap, buruk sekali bahkan pidatonya. Tapi tulisannya berbeda, ia menorehkan emosi dan perasaannya dalam kata-kata. Jadi jangan harap ia bisa berkata manis membuat sebuah pengakuan cinta yang spektakuler, karena memang Cha tidak terbiasa bicara lepas tentang perasaannya. Bacalah, kau akan paham makna dirimu dalam hidupnya setelah selesai.”

Kyuhyun dengan ragu mengambil buku yang diberikan Van Wijk, matanya melihat sekilas untuk memeriksa kalau-kalau ada konten yang akan mengganggu kewarasannya lagi, tapi akhirnya Kyuhyun diam dan membaca ‘surat’ yang Eungi tulis untuknya.

Aku akan berhenti menulis buku ini menggunakan bahasa formal untuk bab penutup ini, karena bagian ini kudedikasikan khusus bagi orang yang telah membebaskan pikiranku mengenai kehidupan kaku yang selama ini kujalani.

Sepanjang buku ini, aku terus-menerus mengungkapkan seberapa besar hutang budiku pada pria yang menyelamatkan nyawaku—aku masih merasa demikian dan selama akan tetap seperti itu. Namun sebagai manusia kita hidup dalam tiga konsep waktu: masa lalu, masa kini dan masa depan. Sudah waktunya bagiku untuk berhenti melihat ke belakang dan menjalani hari ini serta menyongsong masa depanku. Aku akan membiarkan masa laluku sebagai sebuah pelajaran dalam menyikapi hidup ke depan.

Bagi sebagian dari kalian yang dengan setia membalik setiap halaman bukuku hingga halaman ini mungkin bertanya-tanya “bagaimana mungkin wanita ini bisa melalui cobaan itu? Bagaimana mungkin wanita ini membuat tragedi naas terlihat begitu mudah untuk dilalui dan justru berani menuliskan detil-detil yang dilalauinya di buku ini?” jawabanku adalah: aku memiliki seorang malaikat pelindung yang bersembunyi dalam jubah iblis.

Cerita kami dimulai saat aku memutuskan untuk mulai kembali mengajar. Aku sangat putus asa dengan kesedihanku dan benar-benar butuh pengalih perhatian, maka aku menerima tawaran pekerjaan pertama yang datang untuku. Aku mengajar satu kelas dan kelas itu adalah tempat aku bertemu dengannya. Kesan pertamaku tentang pria ini tidak bagus, ia memiliki persona Draco Malfoy yang dikarang J.K. Rowling—arogansi dan cara bicaranya, cara ia menggunakan kekuasaan ayahnya untuk mengancamku, sangat kekanakan—kukira karakter itu hanya ada di cerita fiksi, tapi ia membuktikan aku salah. Ia hanya empat tahun lebih muda dariku namun tertinggal jauh dalam perkuliahan, jadi awalnya aku menduga ia tertinggal karena tidak bisa menyeimbangi tuntutan pendidikan—dengan kata lain: pasti ia mahasiswa bodoh.

Pria ini mencuri perhatianku sejak awal kami bertemu dan ternyata, aku pun mencuri perhatiannya. Ia sangat marah karena kuusir dari kelas, dengan emosi ia membuat rencana busuk untuk menjebakku, namun ia terlalu ceroboh dengan rencananya, aku sedang berjalan di selasar samping tempatnya berdiskusi dan aku mendengar seluruh pembicaraan mereka. Saat itu yang bisa kulakukan hanya menelan sentimenku dan mempersiapkan diri untuk menghadapi apa pun yang ia rencanakan untukku.

Di luar dugaanku, pria ini ternyata salah satu mahasiswa paling berbakat dan brilian yang pernah kuajar—percayalah, aku sudah mengajar banyak mahasiswa sebelum bertemu dengannya. Aku selalu punya titik lemah terhadap kecerdasan seseorang jadi dengan ceroboh aku membiarkan diriku masuk ke dalam pesonanya sambil terus-terusan mencari alasan untuk bertemu dengannya. Yang kupikirkan saat itu adalah, mungkin dengan aku berinteraksi dengan orang lain, kesedihanku akan sedikit tersamarkan. Jadi alih-alih aku tenggelam dalam duka, aku justru menghabiskan banyak waktu dengan pria ini, menggunakan berbagai alasan yang bisa dilontarkan seorang dosen: revisi, tes gambar, seminar internasional, dan lain sebagainya.

Ini adalah permulaan kisah cinta kami dan jika kalian belum menyimpulkannya juga, iya, aku naksir berat dengan mahasiswaku.

Suatu malam, aku mengalami meltdown efek dari tragedi Paris saat kami sedang “berkencan”, pria itu keheranan melihatku yang bersembunyi di kolong meja dengan ekspresi kalut dan tubuh yang bergetar, jadi ia langsung membawaku jauh dari tempat itu. Dengan canggung ia mencoba membuatku lebih tenang dan nyaman, ia juga menemaniku sampai aku berhenti dari tremor dan bisa bernapas normal. Bukannya berterima kasih, aku justru melukai harga dirinya malam itu dengan sengaja memanggilnya ‘nak’ sebagai trik untuk membangkitkan ego yang kutahu berakar dalam dirinya, karena aku melihat potensi seorang pria hebat di balik kelakuannya yang manja dan menyebalkan—dan cara itu sepertinya cukup efektif untuk memancing keluar pria sejati yang bersembunyi dalam dirinya. Benar saja, pria ini terus membuatku kagum dengan perubahan sikapnya.

Aku tiba pada titik di mana aku merasa sangat nyaman dengan keberadaannya dalam keseharianku hingga aku pun mulai berbagi pikiran dan kenanganku. Suatu malam, ia mengajakku ke sebuah pantai untuk membantuku menenangkan diri dari kejadian yang membuatku sedih, lalu dengan kejam aku justru memanfaatkannya sebagai pemeran pengganti untuk tunanganku yang wafat. Jika berpikir balik sekarang, hal itu adalah salah satu hal terkeji yang bisa kulakukan padanya, tapi ia tetap berdiri di sampingku, mengabaikan berbagai macam emosi yang kulemparkan padanya, dengan jantan ia menempatkan diri menjadi pengganti yang kubutuhkan dan ia meminjamkan tubuhnya dan memberiku kesempatan untuk mengucapkan perpisahanku pada tunanganku. Untungnya bagiku, aku baru mengingat kejadian ini lama setelahnya, aku terlalu mabuk malam itu dan sejujurnya kemabukanku lumayan menyelamatkan sisa-sisa harga diri yang masih melekat. Saat aku mengingat seluruh rangkaian kejadian malam itu, rasanya aku benar-benar berdosa pada dirinya tapi pria ini mengejutkanku sekali lagi. Bukannya marah, ia malah menyatakan rasa cintanya padaku dan ia berkata bahwa ia rela menjadi pemeran pengganti, sebagai konsekuensi gila untuk menghibur orang yang ia cintai.

Yang dulu terlihat seperti bocah manja kekanakan perlahan bertransformasi menjadi pria sejati, caranya membuatku merasa gelisah jika sehari saja tidak melihatnya, caranya tersenyum dingin saat kami berpapasan di lorong kampus, tatapan tajamnya yang menusukku tiap aku berdiri di depan kelas—oh boy, sulit sekali rasanya berusaha tetap terlihat profesional saat dipandangi dengan tatapannya yang mempesona. Pria ini sangat penting bagiku, namun aku tidak boleh lengah. Saat itu aku benar-benar berusaha untuk tetap profesional sambil terus menghormati kematian tunanganku dengan cara menghindari memiliki hubungan dengan lelaki mana pun.

Tapi siapa yang kubohongi selain diriku sendiri? Benteng pertahananku runtuh saat ia mampir ke rumahku suatu malam untuk melindungiku—dari kejadian yang kujelaskan pada bab sebelumnya di buku ini. Ia menggunakan tubuhnya untuk melindungi kepalaku dari kaca yang siap memecah tengkorakku, kemudian ia memaksa untuk tetap berjaga semalaman. Keesokan paginya ia menyatakan cintanya padaku.

Rasanya seperti diangkat ke langit ke-tujuh saat ia memebelaiku lembut, seumur hidup aku selalu paranoid tapi dalam dekapannya aku merasa aman, rasanya aku siap menghadapi berita terburuk asalkan pria ini ada di sampingku. Selama ia di sisiku, aku tahu aku sanggup menghadapi segala kesulitan yang akan menyerangku—dan itu adalah perasaan yang menakjubkan.

Baru kemudian ia paham mengapa selama itu aku menjaga jarak, setelah ia tahu tentang kejadian di tanggal 13 November 2015—dan sejak saat itu, cobaan dalam hubungan kami dimulai.

Kami berbagi harapan dan mimpi, kami juga mengetahui ketakutan terdalam dalam diri masing-masing, kami juga berbagi pikiran tergelap dalam kepala kami. Katanya, aku perlahan berubah menjadi gadis manja yang sering merajuk dan aku akui, memang aku menjadi versi terlembek dari diriku saat bersama dengannya. Pria itu membuatku merasa mudah untuk menanggalkan segala kedok kuat yang selalu coba kupasang untuk membentengi diriku, ia membuat semuanya sangat natural hingga aku bisa menyandarkan diriku kepadanya.

Dari sekian banyak malam yang kulalui bersamanya, aku mengutarakan keinginanku untuk membuat buku ini. Meskipun ia ragu, dengan lantang ia menyatakan dukungannya pada gagasanku dan kami langsung memesan tiket ke Paris untuk membangunkan memori kelam yang telah lama aku coba untuk kubur—hanya agar aku mendapat sebuah closure dari kejadian tragis itu.

Aku menyesal.

Lebih baik aku hidup tanpa closure itu, lebih baik aku hidup tanpa mempublikasikan buku ini, lebih baik aku diam di dalam tempat kami yang nyaman di Seoul ketimbang menjalankan satu hari hidupku tanpa dirinya.

Akhirnya kekacauan itu kembali ke dalam memoriku dan aku benar-benar hancur di malam ketiga kami di kota Paris. Pria itu menyaksikan kehancuranku dan sepertinya ia akhirnya muak, jelas aku tidak bisa menyalahkannya karena memang yang terjadi di malam aku meniti ulang tragedi mencekam itu sangat kelewatan.

Lalu ia meninggalkanku.

Hingga buku ini diterbitkan, aku masih belum mendengar kabar tentangnya dan rasanya aku sekarat ingin sekedar tahu bahwa pria itu masih baik-baik saja. Aku melewati lingkaran setan keputusasaan, di mana aku akan membencinya di pagi hari karena telah mencampakkanku dan saat malam datang aku akan mulai mencari alasan untuk memaafkannya, untuk kembali ke dalam dekapannya yang aman. Pria ini memberi impact besar dalam hidupku sampai-sampai aku sudah melupakan harga diriku—harga diri yang selama ini kujunjung tinggi-tinggi. Ia menyetuh sisi terlemah dari hatiku dan kini ia menjadi obat yang membuatku kecanduan setengah mati.

Pria ini membuatku jatuh cinta dengan sangat mudah padanya, namun sangat sulit untuk bertahan hidup tanpanya.

Romansa musim panas kami memang pendek, tapi yang kami lewati adalah kisah cinta terbaik dalam hidupku.

Darinya, aku belajar untuk melepaskan hal-hal yang jauh dari jangkauanku, aku belajar menerima kekuranganku, aku belajar untuk tetap tegar sesulit apa pun cobaan hidupku, aku belajar untuk membuka hati, dan yang paling penting aku belajar untuk mencintai tanpa syarat.

My pain has become his and so does my heartache. Ia tanggalkan keegoisan dirinya untuk tetap berdiri di sisiku, menjagaku dan mendedikasikan usaha dan waktunya untuk melawan kesulitan hidupku. Ia adalah supporter nomor satuku dan juga fans utamaku—anugerah yang sangat besar saat kita memiliki seseorang yang memandang kita dengan caranya memandangku.

Hanya satu kekurangnnya, yaitu fakta bahwa ia selalu membandingkan diri dengan saingan terberatnya—yang telah wafat melindungiku.

Jadi inilah sebabnya aku mendedikasikan bab ini untuknya, aku harap suatu hari buku ini berhasil mencuri perhatiannya dari salah satu etalase toko buku di mana pun ia berada, lalu ia akan membaca lembaran halaman di buku ini yang akhirnya mengantarkannya pada surat terakhirku untuknya:

Dear Cho Kyuhyun,

Jika kau membaca ini, artinya kau benar-benar pria terhebat yang memiliki hati seluas samudera, kenapa? Karena kau mengizinkan dirimu untuk tenggelam sekali lagi ke dalam memori menyakitkan kita.

Pertama-tama, terima kasih. Terima kasih karena telah menjadi sosok yang kau tunjukkan padaku, terima kasih karena telah mendampingiku, terima kasih untuk obrolan malam kita yang tiada habisnya, terima kasih atas minuman-minuman yang kita teguk dengan ceroboh bersama, terima kasih atas obrolah kekanakan yang kadang kita lakukan, terima kasih atas kenyamanan yang kau limpahkan untukku, tapi yang paling utama, terima kasih atas kehadiranmu.

Kehadiranmu tidak hanya membantu melawan ketakutanku, tapi juga membawaku menjadi versi diriku yang lebih bahagia. Aku selalu merasa muda dan bersemangat kapan pun kau hadir—bahkan terkadang aku nyaris memanggilmu ‘oppa’ karena kau bersikap lebih dewasa dariku. Caramu memposisikan diri dalam perspektifku telah mengajarkanku pentingnya keikhlasan serta nilai dari sebuah pengorbanan.

Kau selalu mendahulukan kepentinganku, memikirkan perasaanku dan merenungkan pendapatku dalam setiap keputusan yang kau ambil. Hal itu membuatku merasa seperti ratu dalam dunianiamu dan aku mulai serakah. Aku terlalu nyaman diperlakukan istimewa olehmu hingga aku lupa bahwa kau juga perlu kujaga. Aku membiarkan diriku terbuai dalam nyamannya perlindungamu dan aku melupakan usaha kerasmu dalam memenuhi kebutuhan emosionalku.

Hanya setelah kau pergi, baru aku sadar besarnya arti senyummu, pentingnya sentuhanmu untuk menuntunku melewati hari, dan bahwa kata-katamu yang meneduhkan telah menjadi oksigenku untuk melewati malam yang panjang. Aku tersesat jauh sebelum berjumpa denganmu, lalu kau menuntunku kembali ke arah cahaya dalam masa terkelam hidupku—kini aku kembali tersesat tanpamu dan rasanya lebih buruk.

Kapan pun aku memikirkanmu, selalu ada kemarahan yang menyelimuti hatiku. Bukan amarahku padamu, melainkan emosi yang kudapat dari penyesalanku—penyesalan akan hal-hal yang seharusnya kulakukan sejak dulu padamu, hal-hal yang bisa kulakukan untuk menjadi kekasih yang lebih baik bagimu dan hal-hal yang seharusnya kulakukan untuk menjagamu tetap di sisiku. Aku menjadikan penyesalan ini sebagai pemacu untuk melewati hari-hariku dan sejujurnya, belum ada efek positif dari hal ini—tapi seperti biasa, aku bukan orang yang bijak kalau menyangkut mengartikan perasaanku sendiri.

Aku menutup mataku dan berdoa setiap hari agar dapat memperoleh kesempatan untuk bertemu denganmu lagi suatu hari. Aku belum tahu apa yang akan kukatakan saat hari itu tiba. Tapi aku tahu, yang perlu kulakukan hanya menatap ke dalam keteduhan matamu, sekedar memastikan bahwa kenyamanan itu masih tersembunyi di dalamnya.

Jika kau membaca ini, ketahuilah bahwa aku menyesali malam aku kehilanganmu.

Kau sangat penting bagiku dan satu-satu cara mendeskripsikannya adalah seperti ini: jika aku diberi kesempatan untuk memutar balik waktu untuk kembali pada satu momen spesifik dalam hidupku, maka aku tidak akan berpikir dua kali atau mempertimbangkan ulang keputusanku. Aku tidak akan menjadi orang suci yang mengembalikan waktu pada detik sebelum Hitler menggempur Polandia untuk mengehentikan perang, aku juga tidak akan kembali pada masa kecilku untuk menyapa kembali almarhum ayahku, dan aku juga tidak akan memutarnya pada malam 13 Novermber 2015 untuk menghindari restoran itu. Aku akan memutar waktu pada pagi hari di ruang tengah rumahku, saat kau mengumpulkan seluruh keberanianmu untuk mengungkapkan isi hatimu lewat sebuah ciuman manis yang masih terkenang baik dalam memoriku.

Jika aku mendapatkan kemewahan untuk mengulang waktuku, aku akan kembali ke pagi itu. Saat kau mencumbuku dengan sedikit keraguan yang kau tutupi dengan rasa percaya diri yang melekat erat pada karismamu, aku akan kembali untuk merasakan debaran jantungku yang menggila hasil ciuman terindah yang pernah kuterima sepanjang hidupku. Aku akan mengalungkan lenganku pada tubuhmu dan aku tidak akan menunggu sampai semester berakhir untuk mulai mencintaimu. Karena setiap detik yang kulalui bersamamu adalah waktu terindah dalam hidupku. Aku terlambat menyadari ini dan sekarang aku tenggelam dalam lautan air mata penyesalan karena aku selalu ragu untuk mengungkapkan kata-kata yang ingin kau dengar dariku.

Kasih sayangmu telah mengangkatku sampai aku lupa daratan, aku berpikir bahwa yang kau limpahkan untukku terlalu indah untuk menjadi nyata dan hal ini membuatku selalu mempertimbangkan perasaanku. Sekarang aku belajar bahwa hati dan kepalaku bekerja dengan pola yang berbeda, aku belajar bahwa pikiranku hanya boleh digunakan saat meriset sesuatu yang konkret saja dan aku belajar bahwa seharusnya kubiarkan hatiku menuntun jalan keputusan kapan pun dirimu terlibat dalam pertimbanganku. Akhirnya aku belajar bahwa aku adalah wanita keparat yang menuntut banyak darimu, tapi masih saja bisa mencari celah untuk menyalahkanmu karena telah meninggalkanku.

Pada akhirnya aku belajar, bahwa aku seharusnya mengungkapkan perasaanku sebelum terlambat.

Jadi maafkan aku atas kurang sensitifnya diriku akan kebutuhanmu, maafkan aku yang menjadi si wanita keparat yang menuntut terus-menerus, maafkan aku atas seluruh sakit hati yang kuberikan padamu, maafkan aku karena aku bergerak terlalu lamban untuk membalas cintamu.

Maafkan aku, karena aku mencintaimu dalam diam tanpa pernah mengungkapkannya.

Aku berjanji, pelan-pelan akan belajar untuk memaafkan diriku atar kesalahan fatalku, tapi dalam surat terakhir untukmu, aku tidak seharusnya menahan kata-kataku, bukan? Yang kutahu, mungkin surat ini adalah satu-satunya tiketku untuk kembali ke dalam hatimu, atau bisa juga selamanya akan menjadi artefak yang terpajang bertahun-tahun di etalase toko buku tanpa kau pernah meliriknya.

Namun jika kau membacanya, kumohon, kembalilah.

Jika kau memang sudah melupakanku, kumohon, tetaplah kembali padaku. Karena aku jatuh cinta padamu dan aku ingin menyatakannya langsung di hadapanmu, kumohon, izinkan aku untuk menjadi egois untuk yang terakhir kalinya—agar aku bisa menyatakannya langsung padamu.

Namun jika keberuntunganku sudah habis, ketahuilah, aku mencintaimu.

 

Kyuhyun menelan gumpalan dalam kerongkongannya dan menutup buku di tangannya, pria itu butuh sedikit waktu untuk menenangkan diri sembari menurunkan detak jantungnya. Ia sudah mendengar pengakuan Eungi beberapa minggu lalu tapi ia memang harus mengakui bahwa profesor Van Wijk benar—Cha Eungi lebih hebat sebagai penulis ketimbang pembicara.

“Bagaimana? Tidak membuatmu merasa kecil lagi kuharap.” Pria paruh baya di sampingnya terkekeh lalu menepuk bahu Kyuhyun pelan.

“Aku tidak bisa berkata-kata.” Jawabnya jujur.

“Yang akan kukatakan menjadi interupsi terakhirku dalam kisah cintamu malam ini,” Profesor Van Wijk berdeham. “Cha akan menunggumu sampai kau siap, aku tahu ia mendedikasikan cinta dan hidupnya padamu tanpa syarat. Tapi jika keraguanmu untuk mengarungi masa depan bersamanya berdasar pada kebebalan otakmu yang terus menerus membandingkan diri dengan pria itu, maka aku sendiri yang akan menamparmu dengan buku itu hingga otakmu lurus. Dia tidak pernah membandingkan kalian dan dia tidak pernah berharap kau menjadi penggantinya. Jika kau ingin menjadi orang yang sukses di matanya, mengapa tidak kau coba saja menjadi valedictorian—biasanya lulusan terbaik selalu mendapatkan lebih banyak tawaran beasiswa lanjutan dan kesempatan lain, lihat saja Cha, dulu ia valedictorian di angkatannya. Jika kau ingin memberikan kehidupan yang layak baginya, maka cobalah untuk mencari tahu kebutuhannya, bukan memberikan kehidupan yang menurutmu ia inginkan. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan.”

“Apa kita sedekat ini untuk membicarakan hal personal seperti itu, Sir?” Akhirnya sarkasme Kyuhyun kembali.

“Oh yeah.” Van Wijk bangkit untuk berdiri di belakang kursi Kyuhyun, menepuk kedua bahunya pelan. “Suka atau tidak, kau butuh restuku jika ingin mengajaknya ke perlaminan.”

“Jadi itu syaratmu? Seorang valedictorian?” Kyuhyun bangkit dari duduknya, berbalik untuk menatap mata hijau profesornya dengan tajam. Sudah lama sekali ia tidak merasa tertantang seperti ini.

Van Wijk mengangkat bahunya dengan cuek dan terkekeh. “Aku hanya memberimu contoh kasus, tapi jika kau tertarik dengan ide itu, mengapa tidak?”

“Pastikan kau menjaga kesehatanmu untuk mengambil langkah menuju perlaminan bersamanya sekitar dua tahun lagi, pak tua.” Ia menyeringai jahil lalu melangkah keluar dari sunroom tempat mereka berbincang.

Ada hal yang lebih penting untuk diurusnya sekarang dibanding membahas tantangan tersirat yang baru dilontarkan profesornya—yang kebetulan memposisikan diri sebagai pengganti ayah Eungi. Kyuhyun harus menyampaikan perasaannya akan surat yang Eungi tuliskan untuknya dan jelas, ia harus memberikan kado natal terbaik bagi wanita kesayangannya malam ini.

Advertisements

74 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 25

  1. Cho Sarang says:

    Senangnya jadi eungi,dicintai pria seperti kyuhyun dan disayangi seperti putri kecilnya oleh profesor Van Wijk.
    Dan kyuhyun pun akhirnya tahu seluruh isi perasaan eungi padanya

    Liked by 1 person

  2. ona kyu says:

    jujur kata-kata Eungi disurat terakhir untuk Kyu sangat menyentuh dan membuat meleleh. betapa bahagianya dapat dicintai oleh orang seperti Kyu. top bgt pokoknya lah benar-benar terkesan dengan setiap kata seperti ait yang mengalir dan membuai perasaan sebagai pembaca.😍😍😍😍😍

    Liked by 1 person

  3. key says:

    Owh owh owh…

    Its imaging…

    Sebuah cerita yang wow… Keren!!!

    Aku sungguh sangat takjub akan tulisan Author-nim yang sangat terapresiasikan dengan baik dalam wujud tulisan ini. Gak semua orang bisa menuangkan ide dalam otak n tersalurkan dengan apik di dalam sebuah cerita. Ini sebuah pencapaian yang sangat luar biasa.

    Udah coba baca di luar jalur nc 15 Ampe detik selesai di 25. Mengejar ketertinggalan bacaan ku yang sangat kelewat jauh.

    Yah walau eps 15 memang belum bisa di baca karena belum punya p.w nyadi Tambah pr baru di eps 26.

    Tapi di luar 2eps tersebut ini adalah cerita yang patut kubaca n kelanjutkan hingga eps terakhir.

    Thanks buat Author-nim yang memperbolehkan ceritanya di baca untuk umum.

    Di lanjut eps 27 hingga akhir.

    Keep write N Chaiyoo!!!

    Liked by 1 person

  4. Barom yu says:

    Haduhh~~ surat eungi u/ kyu bener” sesuatu..
    Eungi apa eonn yang berbakat ya bikin aku baper :^ Kyu aja speechles apa lagi aku eonn 🙂
    Bab terakhir bener” hanya u/ sang pangeran, untuk cintanya hehe
    Berbahagia lah selalu kyu-gi
    Lucu juga bayangin eungi nnti panggil kyu ‘oppa’ 😛

    Liked by 1 person

  5. Rinjani says:

    Boleh nangis gak pas baca bab terakhir Eungi? Aku nangis eonni bacanya:(( napasih pinter banget bikin baper nya ya ampun?
    Prof me wuff u!!! Seneng bgt karakter nyaa dibikin kaya ayah Eungi gitu. Kyu kamu bisa selesein tantangan nya si Prof!!
    2 tahun? Ceteklah buat si Kyu mah, Kyu kameumeut siah aku di part ini sama kamu.
    Fighting eonni!!

    Liked by 1 person

  6. omiwirjh says:

    Apakah ada pria seperti kyuhyun di dalam FF ini di dunia nyata? Jika ada aku akan berdoa semoga aku wanita yg beruntung. Efek FF ini ke aku, aku rasa bakalan makin jomblo hahahahah pesona kyu buat tersihir dan menambah satu tingkatan umtuk pria ideal wkwkwkwk. Parah ga bisa tidurrr kalau gini

    Liked by 1 person

  7. Dewi N says:

    Owh my God.
    So sweet 😚

    Jadi bener ya, jangan pernah bikin penulis sakit hati, atau kau akan abadi dalam tulisan nya… 😇

    Speechless…

    Like

  8. Afa hyerin says:

    Eonmie boleh nggak aku baper sama part ini.. Ya ampunnn…… Daebak… Jinja… Daebak eonnie…… Aku udah nggak bisa berkata2 lagi…. Eonnie bener bener terbaek….

    Liked by 1 person

  9. sweetrizzu says:

    Aaaa aku terharu kak bab akhir sm suratnya Eungi menyentuh bgt, bukan cuma ttg kisah cinta Eungi-Kyuhyun tapi ada juga prosesnya Eungi untuk jadi lebih ‘hidup’. :’)

    Bab akhir novel Eungi juga berasa flashback buat aku pas awal baca ff One Last Shot ini.. Gak terasa uda di part 25, uda mau end aja huuhh:'(

    Liked by 1 person

  10. putri0589 says:

    aku mengutip kalimat Kyuhyun setelah baca buku eungi “aku tidak bisa berkata-kata”
    bener bener luar biasa keren… selamat buat author yg udah hebat dan jenius banget bermain kata kata untuk dituangkan jadi cerita ini….

    Liked by 1 person

  11. Dyana says:

    Omo! Aku terharuuu…
    Ternyata Eungi menjadi sosok yg romantis melalui tulisannya.
    Sebesar itulah cintanya pada Kyuhyun…
    Ya ampun suka banget sm couple ini ya lord, terima kasih Autrornim sudah menciptakan karakter yg sangat terlihat nyata ini…

    Liked by 1 person

  12. OngkiAnaknyaHan says:

    masih speechless sama isi bab terakhir bukunya eungi
    apalagi sama surat buat kyuhyunnya itu lho bikin megap megap sendiri bacanya
    sedalam itu perasaan eungi buat kyuhyun
    bahkan gak bisa dijabarkan seberapa dalam cintanya

    pokoknya masih terkesima ama surat eungi
    kek judul lagu ya “surat kecil untuk kyuhyun ”
    kkkk
    oke semangat kakak nulisnya :*

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s