(Indonesian Version) One Last Shot – Part 24

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Waktu berjalan sangat cepat saat mereka mencoba untuk saling mneceritakan hal-hal yang terjadi dalam hidup masing—masing selama terpisah. Setelah meltdown mereka pagi tadi, Kyuhyun menawarkan Eungi untuk membantu menyiapkan makan siang ala Korea  yang sudah sangat Kyuhyun rindukan, Eungi memamerkan skill memasak yang sudah berkembang dan jelas pria itu tidak perlu diperintah untuk menghabiskan seluruh porsi makan siangnya. Nampaknya tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyesuaikan diri dengan kondisi mereka yang sekarang, setelah kesalah-pahaman dan miskomunikasi yang terjadi sebelumnya.

Setelah makan siang mereka yang super telat, Kyuhyun dan Eungi kembali sibuk bermalas-malas untuk menikmati akhir pekan mereka. Wanita itu masih memaksa Kyuhyun untuk pergi ke dokter setelah demam tingginya semalam, tapi Kyuhyun tidak kalah ngotot bilang bahwa yang ia butuhkan hanyalah kasih sayang dan perhatian Eungi agar bisa sembuh total. Eungi tidak mendebat sergahan pria itu, karena ide Kyuhyun untuk berdiam diri di depan perapian ruang tengah Eungi, sambil saling memeluk, lengkap dengan selimut tebal untuk menghangatkan mereka memang terdengar lebih masuk akal daripada menerjang episode lain dari angin Belanda yang kencang.

Kyuhyun memanfaatkan situasi kesehatannya untuk berlaku lebih manja pada Eungi, sudah lama sekali rasanya sejak ia terakhir merasakan perlakuan manis penuh perhatian dari wanita itu.

“Sesulit apa untuk diterima di sini, Kyu? Kau mencoba daftar berapa kali?” Eungi membelai lembut rambut Kyuhyun yang terbaring di pangkuannya.

“Sebenarnya ini percobaan pertamaku. Kurasa kau benar, noona, aku memang seorang jenius.” Ia mengedip sambil menyengir lebar.

Eungi mendengus tapi mengangguk setuju. “Aku tidak pernah salah menilai orang. Di sini asik sekali bukan?”

Kyuhyun manyun,  “Aku masih kesulitan dengan perbedaan bahasa dan juga rasa makanannya, tapi memang kampusnya sendiri sangat keren. Aku mengerti mengapa kau betah di sini.”

“Kau akan semakin menyukainya, percayalah padaku. Semester depan kau akan memulai riset tesismu, itu akan membuat hidupmu semakin menarik sekaligus menantang.” Matanya membulat karena semangat membayangkan Kyuhyun harus melawati tahap itu. “Kau bahkan bisa mengatas-namakan risetmu sebagai alasan untuk keliling Eropa, seperti yang kulakukan dulu.”

“Kau sangat menikmati tinggal di Eropa, ng?” Kyuhyun meraih tangan Eungi dan meletakkan di atas dadanya, “Jadi, beritahu aku, apa yang kau lakukan di Wina?”

“Wina? Aku tidak pernah ke sana.”

“Lalu mengapa aku dapat kabar dari detektif sewaanku bahwa kau meninggalkan EU dari kota itu?” Kyuhyun mendongak sambil memandang Eungi penasaran.

Wanita itu mencoba menggali ke dalam memorinya, dan ia tiba-tiba ingat sesuatu. “Aah… aku melarikan diri ke Hallstatt, sebuah kota kecil di barat Austria—kota yang sangat cantik, kita harus ke sana suatu hari. Aku menghabiskan sisa izin tinggal turisku di Hallstatt dan aku keluar dari EU melalui imigrasi di Wina.”

Kyuhyun bangkit dari pangkuan Eungi lalu ikut bersandar di sampingnya, mengangkat lengannya untuk merangkut wanita itu sebelum ia menariknya mendekat. “Kau pasti sangat marah dan sakit hati padaku, bukan? Sampai-sampai kau bersikeras untuk sembunyi di kota itu berbulan-bulan. Maafkan aku, tidak ada seorang wanita—seberapa mandiri dan kuatnya ia—harus terlantar di Eropa sendirian, merasa patah hati dan sebatang kara.”

Eungi mencari posisi yang nyaman untuk menyandarkan kepalanya di atas bahu Kyuhyun. “Kau tahu yang lucu? Kota itu terlalu cantik untuk seseorang yang sedang patah hati. Seharusnya aku beli tiket ke Warsaw atau Auschwitz saja biar depresiku semakin sempurna.”

Kyuhyun tersenyum pahit, “Mangapa kau memilih tempat itu untuk kabur?”

“Tiket yang paling cepat meninggalkan kota Paris saat itu.” Jawabnya jujur, “Aku tidak mau menggunakan pesawat karena rekord penumpang mudah dilacak, aku belum mau meninggalkan EU karena aku terlalu pengecut untuk kembali ke Seoul untuk menuntut jawaban darimu dan aku juga tidak mau rekord imigrasiku tercatat, makanya aku memilih jalan darat.”

“Kesimpulannya, kau tidak mau kutemukan.” Kyuhyun mengangkat alisnya untuk mengkonfirmasi bentuk protes Eungi padanya. “Selalu beberapa langkah di depanku, kau bahkan tidak menggunakan kartu kreditmu sama sekali di mana pun.”

Eungi mengangguk. “Sebagian dariku berharap kau mencoba mencariku, lalu kau akan muncul di hadapanku untuk memberi kejutan. Tapi di sisi lain aku pun sadar bahwa aku benar-benar tidak meninggalkan petunjuk apa pun untuk ditemukan olehmu.”

Kyuhyun memejamkan matanya dan menyandarkan kepala ke sofa di belakangnya. “Aku selalu membayangkan adegan saat kau merasa hancur dan tak berdaya di suatu tempat, rasanya seperti ada genggaman raksasa yang meremukkan hatiku setiap aku membayangkan kesendirianmu, di antah berantah dan aku juga yakin bahwa pasti hal itu sangat sulit untukmu. Setelah merasa seperti itu, aku selalu memeras otak untuk mencari segala cara untuk melacakmu, tapi aku benar-benar tidak mendapatkan apa-apa—kau menutupi jejakmu dengan sangat baik, seandainya kau seorang buronan, pasti kau sukses kabur dari penjara dan bersembunyi sepanjang sisa hidupmu.”

“Aku tidak yakin harus merasa bangga untuk itu.” Balas Eungi.

“Maafkan aku, karena aku terlalu lambat untuk tiba di sini.” Kyuhyun membenamkan wajahnya di kepala Eungi, menghirup aroma manis dari rambut wanita itu.

“Tidak penting lagi sekarang, Kyu. Yang penting sekarang kau di sini.” Ia memeluk Kyuhyun lebih erat lagi. “Pastikan kau mengingat nomor teleponku sekarang, aku tidak peduli sesulit apa itu untukmu—ingat baik-baik nomorku—atau setidaknya e-mailku, belajar menggunakan post-it untuk meninggalkan pesan, atau jangan pergi sama sekali.”

Kyuhyun mengecup puncak kepala Eungi dalam-dalam, ia tidak mempercayai keberuntungannya sendiri sekarang. Wanita paling berharga dalam hidupnya telah kembali dalam dekapanya, pria itu sudah meremukkan hatinya, namun Eungi masih menerimanya dengan tangan terbuka, dengan rasa cinta yang sama, seolah tidak pernah terjadi hal buruk di antara mereka.

“Sejujurnya, aku tidak terlalu ingat apa yang terjadi di tiga bulan awal saat kau pergi,” Eungi lanjut bicara, “Aku mencari pelarian ke alkohol dan hal-hal buruk lain, berusaha sebisa mungkin untuk tidak sober, karena sekalinya aku sober, aku teringat lagi akan dirimu dan aku tidak sanggup menahan gelombang emosi yang menyerang.”

Kyuhyun mengatupkan rahangnya kesal saat mengingat keonaran Eungi yang kekanakan, tapi ia membiarkan wanita itu lanjut cerita.

“Ingatanku akan masa itu sangat samar, kadang aku harus berpikir keras tentang bagaimana aku bisa tiba-tiba berada di satu tempat, tanpa aku bisa mengingat cara aku tiba di sana. Aku membiarkan perasaanku mengontrol hidupku selama setahun penuh dan saat aku sudah bertekad untuk move-on, aku mulai berhalusinasi melihat bayanganmu.” Eungi mendengus sinis, “Rasanya aku sudah gila karena melihat hal-hal yang tidak nyata dan setiap itu terjadi, aku akan mulai bernostaligia mengingatmu lagi. Jadi untuk mengatasi rasa sepiku, aku mulai mengkonsumsi zat-zat yang tidak baik.”

“Hentikan itu mulai sekarang, ng?” Kyuhyun mengusap wajah Eungi dengan ibu jarinya, menengadahkan dagu wanita itu untuk menatap matanya, “Aku benci Eungi si pemabuk, aku benci Eungi yang merokok hanya untuk memberontak, dan Eungi yang menghisap satu batang marijuana di Amsterdam—itu bukan Eungi-ku. Eungi-ku adalah wanita manis yang memiliki hati paling tulus dan personaliti paling hebat, jadi berhenti menghancurkan Eungi-ku. Oke?” Kyuhyun merasakan air matanya mulai menggenang.

“Kau tahu tetang kelakuanku?” Hati wanita itu mencelos saat ia melihat wajah Kyuhyun yang terluka karena tindakannya, ia tidak ingin Kyuhyun menyaksikan keonarannya yang telah mentrasformasi Eungi menjadi versi terburuk dari dirinya.

“Ini juga salah satu alasan aku membenci Eungi si pamabuk, ia melupakan hal-hal penting!” Kyuhyun menyentil dahi Eungi pelan, “aku sangat frustrasi saat melihatmu mabuk parah di Amsterdam, aku tahu kita memang di Belanda dan Negara ini membebaskan hal itu, tapi ayolah! Kau kehilangan kontrol diri dan membiarkan seorang lelaki menyentuhmu!” Kyuhyun menggelengkan kepalanya cepat untuk menghapus memori buruk itu.

“Jadi aku tidak berhalusinasi malam itu? Itu benar-benar kau yang yang membawaku pulang?” Eungi memanyunkan bibirnya manja. “Kenapa kau tidak muncul sebelumnya? Mengapa harus menunggu sampai sekarang untuk bertemu denganku? Apa kau tidak tahu seberapa rindunya aku padamu?”

“Karena aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Aku tenggelam dalam rasa bersalahku dan aku merasa tidak pantas bicara denganmu.” Kyuhyun mengusap rambut Eungi. “Dari hasil pencarianku, akhirnya aku tahu kau keterima sebagai mahasiswi post-doktoral di Delft, dan aku segera mendaftar ke sini tidak lama kemudian. Saat pertama kali aku melihat sosokmu di kampus, rasanya jantungku siap meloncat keluar—aku sangat ingin menghampiri dan menyapamu, tapi lagi-lagi rasa bersalahku mendominasi. Aku membuntutimu sejak hari itu, terutama setiap kau keluar di malam hari. Untuk menyempurnakan misi penguntitanku, aku menyewa kamar tepat di seberang halaman belakangmu, agar aku bisa mengawasimu.”

“Ne?”

Kyuhyun menunjuk ke arah apartemnnya yang berlokasi tepat di seberang halaman belakang rumah Eungi, ia menunjukkan dengan spesifik jendela apartemennya yang terlihat jelas dari tempat mereka sekarang, “Aku tinggal di situ, how creepy is that, ng?”

Eungi bingung harus bereaksi seperti apa, tapi ia akhirnya tertawa. “Jika yang melalukan ini pria lain, aku pasti sudah menelpon polisi dan minta restraining order sekrang!” Eungi menarik Kyuhyun mendekat untuk mengecup bibir Kyuhyun singkat. “Tapi karena yang melakukan itu kau, aku akan bilang it’s romantically creepy. Tapi kenyataan kalau kau berhasil menemukan lokasi yang sempurna untuk menguntitku sungguh mengagumkan.”

“Tempat itu kosong dan berada dalam budgetku, jadi mengapa tidak?” Ia mengangkat bahunya santai.

“Ha! Itu satu kata yang tidak pernah kudengar darimu sebelumnya.” Eungi mengerutkan keningnya bingung.

“Kata apa?”

“Budget.”

“Ah, aku lupa bilang padamu.” Kyuhyun menyeringai sambil menghindari tatapan Eungi. “Kami bangkrut di bulan pertama ayahku sakit, karena ia tidak mampu memberikan keterangan dokter yang menyatakan bahwa ia bisa sembuh total.”

“Ya Tuhan, apa kau baik-baik saja?”

Kyuhyun mengangguk, “Ceritanya panjang.”

“Aku punya waktu.”

“Aku tidak suka menunjukkan sisi lemahku padamu, noona.”

“Aku memaksa.” Eungi memelototi Kyuhyun, “Kau meninggalkanku lebih dari setahun dan kau hutang banyak cerita padaku.”

Kyuhyun mendengus sinis, “Berapa kali kau akan menggunakan kartu As ‘aku meninggalkanmu’ untuk menerorku?”

“Sebanyak mungkin.”

Fair enough.” Ia tersenyum. Kyuhyun menengadahkan kepalanya dan kepalanya mulai berbagi. “Kau ingat saat kubilang padamu bahwa aku dipaksa untuk kembali ke Seoul setelah menanti kabar tentangmu selama 24 jam?”

Eungi mengangguk.

“Kartu kreditku—semuanya—ditolak saat aku mencoba memesan hotel untuk tinggal sementara aku menunggu kabar darimu, ternyata seluaruh asset ayahku dibekukan jadi aku tidak punya pilihan lain selain kembali ke Seoul untuk membereskan masalah. Aku masih berusaha memakai kartuku untuk memesan tiket pesawat, tapi percuma saja. Akhirnya aku ke pasar gelap yang disarankan penjaga pintu apartemen sewaan kita waktu itu, menjual Rolexku demi mendapat uang untuk membeli tiket pulang ke Seoul.” Kyuhyun berhenti untuk mengingat setiap detil kejadian. “Setibanya aku di Seoul, seorang debt-collector datang ke rumah ayahku, meminta jaminan untuk mencairkan asset appa, karena mereka menganggap tumbangnya appa adalah kasus fatal dalam aliran dana mereka.”

Eungi mendengarkan kisah Kyuhyun sambil bergelinan air mata. Ia paham sekarang mengapa pria di hadapannya terkesan jauh lebih dewasa dari terakhir kali mereka bertemu. Kyuhyun melawati seluruh kesulitan itu tanpa persiapan, dan ia dipaksa untuk bersikap dewasa secara instan.

“Kami memberikan seluruh mobil appa, arloji bermereknya, properti miliknya—seluruh hartanya selain rumah yang ditinggali sebagai jaminan. Aku juga harus menjual BMW-ku, untuk membayar seluruh pengeluaran kami pada masa appa jatuh sakit.”

Eungi tercekat, ia tahu sekali seberapa cintanya Kyuhyun pada mobil kebanggaannya itu.

Pandangan Kyuhyun kembali beralih menatap Eungi, dengan jemarinya ia membelai lembut setiap lekuk di wajah wanita itu, “Aku janji, aku akan membeli M series yang lebih baik suatu hari nanti, menggunakan uang hasil jerih payahku sendiri, dan aku akan mengajakmu berkeliling dengan mobil itu.” Ia memaksakan diri untuk tersenyum, meskipun harga dirinya serasa sedang terinjak-injak di hadapan Eungi sekarang. “Atau mungkin aku bisa membeli sepeda dan kita bisa keliling dengan benda itu, pasti romantis sekali, kan? kau duduk menyamping di belakang sambil memeluk erat pinggangku–mumpung kita sedang tinggal di Belanda.” Candanya, mencoba menghibur Eungi yang wajahnya semakin muram.

Wanita itu meneteskan air mata, Eungi menarik Kyuhyun mendekat dan mendekap pria itu di dadanya. Dari seseorang yang memiliki segalanya, seluruh yang dimilikinya hilang dalam hitungan hari, pasti semua itu sangat sulit bagi Kyuhyun. Eungi selalu menyalahkan pria itu setahun ini tapi sekarang ia justru merasa sangat berdosa pada pria yang telah berupaya mati-matian intuk mengatasi seluruh kekacauan dalam hidupnya.

“Bagaimana kau bertahan sekarang, Kyu?” Eungi tidak bisa mencegah dirinya untuk bertanya mengenai hal ini.

“Aku baik-baik saja, aku mendapat gaji dari posisiku sebagai wakil direktur di kampus. Gajiku bahkan lebih dari cukup untuk menafkahi diriku sendiri dan aku pun masih bisa mengajakmu makan malam enak.” Ia menghapus air mata di wajah Eungi lalu mengecup kening wanita itu. “Bedanya hanyalah aku tidak lagi punya akses ke dalam rekening bank ayahku. Aku menolak menerima uang yang tidak kudapat dari jerih payahku sendiri sekarang. Kalau aku terus bergantung padanya, aku tidak akan pernah dewasa dan kurasa sudah waktunya aku belajar mengandalkan kemampuanku sendiri untuk bertahan hidup, bukan?”

“Aish, kau seharusnya muncul di depanku lebih awal. Aku mengutukmu terus-terusan, dan sekarang aku benar-benar merasa seperti wanita busuk. Pasti berat sekali bagimu untuk melewati semua itu sendirian.” Eungi memukul dada Kyuhyun pelan. “Kalau kau sudah ada di sini sejak awal semester, kenapa kau baru nongol sekarang? Aaaarghhh! Aku jadi kesal lagi padamu.”

“Karena aku pengecut. Apa kau kira aku berekspektasi kau akan menerimaku dengan tangan terbuka seperti ini? Aku berpikir semakin cepat aku muncul di hadapanmu, semakin cepat pula kau akan berlari lagi dari jarak pandangku—semakin kecil pula kesempatanku untuk memperbaiki hubungan kita.” Kyuhyun mengusap punggung Eungi sabar. “Tapi akhirnya aku muncul di Paris karena aku tahu seberapa beratnya hal itu untukmu. Aku harus mengesampingkan rasa bersalahku demi memberikan suport moral untukmu. Aku bahkan ada dalam satu gerbong yang sama denganmu dalam perjalan pulang malam itu, kau tidak sadar?”

Eungi menggelengkan kepalanya dan kembali bersandar di bahu Kyuhyun, “Bertemu denganmu di sana sangat mengejutkan, dan kepalaku tidak befungsi baik saat sedang shock.” Ia menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher Kyuhyun untuk menghirup aroma maskulin yang sangat dirindukannya. “Ceritakan lagi padaku, apa yang terjadi padamu setelah kau menjual seluruh asset ayahmu?”

“Banyak hal konyol terjadi berurutan sebenarnya.” Ia tertawa hambar. “Aku selalu bermimpi untuk menjadi seorang arsitek, bukan businessman. Tapi takdirku berkata lain. Apa kau tahu? Menjalankan kampus itu bukan sekedar belajar dan riset? Minggu pertama aku mengambil alih, aku dibombardir dengan angkar-angka: berapa nilai asset yang masih dimiliki appa, berapa persen saham yang masih dalam kuasa kami, berapa jumlah profit yang menurun, berapa banyak mahasiswa yang harus kami rekrut untuk menutupi kerugian, dan lain sebagainya.”

“Pasti itu berat sekali untukmu.” Gumam Eungi.

“Kata ‘berat’ bahkan tidak cukup untuk mendeskripsikannya, terutama karena aku adalah orang terakhir yang bisa mereka andalkan untuk mengatasi krisis ini.” Ia mendengus sinis. “Mereka mempertanyakan kemampuanku dan jujur saja, aku tidak bisa menyalahkan mereka, aku memang tidak tahu apa-apa mengenai bisnis appa.”

“Lalu bagaimana kau mengatasinya?”

“Ibu tiriku membantu banyak, wanita itu—memang ia bukan ibu yang baik untukku, tapi ia isteri terbaik yang bisa didapat appa. Aku membuat perjanjian di hadapan pengacara appa dengan ibu tiriku, aku memberinya kuasa untuk mengatur segala kendala bisnis kampus itu, sampai aku lulus.”

“Tapi kau malah ke sini sekarang, bagaimana nasib perjanjian itu? Apa akan baik-baik saja?”

Kyuhyun mengangguk, “Aku memperpanjang perjanjian kami dan sesungguhnya wanita itu mengontrol kampus dengan baik, dengan arahan dari ayahku yang sekarang sudah memulih—namun belum sepenuhnya sehat. Justru appa juga menyarankanku untuk melanjutkan studi agar aku benar-benar memiliki nilai di mata para investor kampus.”

“Jadi kau kuliah di sini hanya kebetulan semata?” Eungi mengerutkan kening kebingungan. Ia harus mencerna banyak sekali informasi dalam waktu yang singkat, dan mentalnya tidak terlalu siap menerima berita buruk yang dialami Kyuhyun bertubi-tubi.

Kyuhyun terkekeh melihat ekspresi kebingungan Eungi, “Tidak, aku daftar di sini karena aku tahu kau terdaftar sebagai mahasiswi post-doktoral angkatan 2017. Tidak penting di mana aku memperoleh gelarku, lagipula, aku tidak rela melepas mimpiku untuk menjadi seorang arsitek—dan aku ingin membuatmu bangga.”

“Aku sudah sangat bangga padamu, Kyu. Bahkan Sir Joost setuju padaku saat kukatakan ada banyak potensi dalam dirimu.”

“Ng, kuharap aku tidak akan mengecewakanmu lagi.” Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Eungi sambil membanjiri wajah wanita itu dengan kecupannya. “Tapi, coba kita alihkan topik dari kesialanku. Aku penasaran, kau benar-benar tidak punya hubungan khusus dengan si Vincent itu? Aku benci melihat kedekatan kalian.”

Eungi tertawa sambil mencubit kedua pipi Kyuhyun, “Karena aku mengecup pipinya?”

Kyuhyun mengangguk sambil manyun.

“Apa kau belum belajar kultur di sini? Kau menyapa kawan dekatmu dengan cara mencium pipi mereka tiga kali, jika kau diundang pada suatu acara tapi tidak bisa datang—bilang langsung—karena orang Belanda benci basa-basi, jangan kebanyakan menyelipkan obrolan kecil karena mereka benci membuang waktu mereka untuk hal yang tidak bermanfaat, jika ditawari kopi selepas makan malam terimalah, pulang dari rumah mereka sebelum mereka mengusirmu—dan mereka akan mengusirmu jika kau tidak tahu diri, bawa sendiri kue ulang tahunmu ke kantor jika kau berulang tahun. Aish! Banyak sekali yang harus kau pelajari Kyu.” Ia menyengir lebar. “Jangan khawatir, aku akan melatihmu untuk hidup seperti orang Belanda dan aku yakin kau akan menyukainya.”

“Kau senang sekali di sini nampaknya.”

“Negara ini seperti rumah keduaku, aku tidak tahu mengapa, tapi aku selalu merasa kerasan di sini.”

“Aku lega.” Kyuhyun menurunkan kepalanya untuk disandarkan pada bahu Eungi. “Aku lega karena kau dikelilingi orang-orang yang menyayangimu, kau tidak kesepian seperti saat kau di Seoul.”

Eungi mengangguk setuju. “Bagaimana denganmu? Apa kau sudah cukup beradaptasi? Apa kau suka tinggal di sini?”

“Belum. Bahasa mereka, pola kerja mereka juga terlalu santai dibandingkan pola kerja orang Korea, dan aku sangat merindukan makanan Korea—aku sudah menghabiskan seluruh stok ramyeonku, noona.”

Eungi tertawa dengan jawaban polos Kyuhun, “Apa kau ada acara besok malam?”

“Tidak, kenapa?”

“Bagaimana jika kita berkencan?” Ia menaikkan alisnya senang. “Tentu saja dengan catatan demammu sudah turun dan kau sudah merasa lebih baik.”

“Kau tidak tahu, seberapa besar keinginanku untuk berkencan denganmu.” Ia mengacak rambut Eungi.

“Aku akan mentraktirmu welcome dinner, ada satu restoran Korea yang otentik di Den Haag. Aku yakin itu bisa mengobati rindumu pada makanan Korea, kita juga bisa membeli kimchi dan ramyeon untuk stok di sana jika kau mau.” Mata Eungi membesar karena kegirangan. “Apa kau sudah mengunjungi kota-kota di sekitar Delft?”

Kyuhyun menggeleng, “Aku kan mengikuti langkahmu ke mana pun kau pergi, ingat? Jadi aku hanya pernah pergi ke tempat yang kau datangi empat bulan terakhir.”

“Omo, kau benar-benar membuntutiku seperti psikopat?” Eungi menutup mulut dengan tangannya tidak percaya.

“Psikopat yang romantis.” Kyuhyun mengoreksi Eungi.

 

*

Mereka lanjut membahas segala topik yang muncul di kepala mereka sepanjang malam, hanya saat Eungi mulai menguap lebar-lebar, Kyuhyun memutuskan untuk menggiringnya ke kamar untuk mengantar Eungi tidur. Wanita itu masih terus memeluk Kyuhyun dengan protektif, memohon padanya dengan anada manja agar pria itu mau menginap semalam lagi di rumahnya sambil Eungi menepuk bantal kosong di sisi tempat tidurnya—yang langsung disetujui Kyuhyun tanpa perlu berpikir dua kali.

Keduanya harus melawan segala rasa kantuk yang mulai memberatkan kelopak mata mereka, masih banyak yang ingin mereka bicarakan, waktu 24 jam tidak cukup untuk mengisi seluruh kekosongan hidup tanpa satu sama lain. Eungi membaringkan kepalanya di atas dada Kyuhyun, sementara pria itu mengelus pelan punggung Eungi sambil mereka terus bicara.

Kyuhyun memindahkan sesuatu yang sejak tadi menggajal di punggungnya dan mengangkat boneka kelinci putih yang tadi pagi ada di sampingnya saat ia terbangun di ranjang Eungi. “Noona, apa kelinci ini penggantiku? Kau tidur memeluknya?” Ia mendekatkan kelinci itu pada Eungi sambil menyengir lebar.

“Namanya Miffy! Dia hadiah dari isteri Sir Joost saat aku kembali sekolah di Delft.” Eungi terkekeh, “Kelinci ini terkenal di Belanda.”

“Aku tahu.” Kyuhyun menyingkirkan Miffy dari ranjang Eungi. “Apa kau sangat dekat dengan Profesor Van Wijk?”

Wanita itu mengangguk, “Aku melihatnya lebih sebagai figur ayah ketimbang profesorku.”

“Apa beliau Profesor yang dulu kau taksir?”

Eungi tertawa lepas, “Jelas bukan! Yang kusukai itu profesorku di Hongdae, bukan Sir Joost.”

“Syukurlah.”

“Jangan bilang kau juga cemburu padanya.” Cecar Eungi.

“Aku cemburu pada setiap pria yang dekat denganmu.” Ujarnya lantang tanpa tahu malu. “Aku ini pria pencemburu, sangat cemburuan, jadi jangan coba menguji kesabaranku dengan berhubungan terlalu dekat dengan pria lain. Sapa saja kawan-kawan priamu seperti kau menyapa semua orang di Korea, tidak usah mengecup pipi mereka tiga kali!”

“Kyu, kau terdengar konyol sekali sekarang. Berarti kau juga tidak boleh terlalu ramah dengan wanita lain.”

“Tidak akan, lagipula aku terlalu sibuk sekarang.” Ia mengecup puncak kepala Eungi lama. “Terima kasih, Eungi-ya.”

“Untuk?”

“Untuk ketulusan hatimu.” Balas Kyuhyun sambil mengeratkan pelukannya pada Eungi. “Aku tidak pernah berani berkhayal bahwa kau akan mengampuniku, setelah yang kulakukan padamu. Aku tidak percaya pada keberuntunganku sendiri, bahkan setelah kekacauan yang terjadi sebelumnya, aku masih tetap bisa bahagia karena kembali ke dalam dekapanmu. Bahkan aku tidak berani bertanya tentang kemurahan hatimu ini, noona.”

“Aku putus asa.”

“Maksudmu?” Tanya Kyuhyun.

“Jangan marah jika aku mengangkat topik tentang-nya malam ini, aku janji ini yang terakhir.” Eungi mengangkat tubuhnya dan mensuport bobotnya dengan sikunya untuk menatap wajah Kyuhyun lebih jelas.

Pria itu memejamkan kedua matanya, menarik napas panjang sebelum tersenyum pahit. “Baiklah, silakan.”

“Saat itu, aku tidak butuh penjelasan darinya. Aku tahu yang terjadi dan aku tidak perlu bertanya ‘mengapa kau meninggalkanku’ atau mempertimbangkan kesalahan-kesalahanku hingga aku dicampakkan.” Eungi berdeham saat melihat Kyuhyun mulai memutar bola matanya dengan kesal dengan pilihan kata Eungi. “Kau, di sisi lain, pergi tanpa penjelasan apa pun dan aku tenggelam dalam ribuan pertanyaan dalam benakku. Aku tidak pernah mendapat penjelasan darimu, hingga aku akhirnya putus asa. Aku sangat putus asa ingin mendapatkan penjelasanmu tapi juga takut mendengarnya.”

“Mengapa kau takut?”

“Karena alasanmu bisa beragam, tapi yang paling kutakutkan adalah kau meninggalkanku karena kau muak padaku, kerena aku terlalu bermasalah, dan bahwa kau berhenti mencintaiku.”

“Tidak pernah, Eungi-ya.”

“Sekarang aku tahu. Tapi sebelum kau menjelaskan semuanya, aku tenggelam dalam penyesalan dan sibuk menyalahkan diriku sendiri—karena kesalahan yang aku pun tidak paham. Jadi maaf jika akhirnya aku berubah menjadi versi terburuk dari diriku yang mencari jalan pintas untuk menghapus dukaku.” Ia kembali menyandarkan kepalanya pada dada Kyuhyun, “Aku punya satu penyesalan, satu penyesalan besar yang tidak kukatakan padamu dulu.”

“Yaitu?”

Eungi mendengus. “Kau pasti belum membaca bukuku, aku menuliskannya di sana.”

Kyuhyun menarik napas dalam, “Kurasa aku tidak akan pernah bisa membaca bukumu, maafkan aku, aku mendukungmu tapi aku tidak mau merasakan kepiluan yang kurasakan saat aku membaca draft-mu dulu.”

“Tidak apa, aku mengerti alasanmu.” Eungi mengangguk. “Tapi kalau aku boleh mengajukan permintaan, bacalah bab terakhir di buku itu. Aku mendedikasikan bab itu untukmu. Saat aku menulisnya, kukira kita tidak akan bertemu lagi, jadi aku memutuskan untuk mengungkapkan kata-kataku yang tidak sempat terucap padamu lewat tulisan.”

“Mengapa tidak kau ungkapkan saja langsung padaku sekarang?”

“Aku tidak ingat kata-per-kata, tapi kalau aku boleh merangkumnya,” Eungi berdeham lagi sebelum melanjutkan agar ia bisa menyampaikan perasaannya dengan jelas pada Kyuhyun. “Aku bersyukur atas kehadiranmu dalam hidupku, aku berterima kasih untuk perlindungan dan pengertian yang kau limpahkan saat aku membutuhkannya, aku menikmati setiap detik yang kulewati bersamamu, aku juga sangat beruntung karena mendapatkan anugerah dapal wujud pria yang lebih baik—pria yang terus-menerus mencoba menjadi yang terbaik untukku, dan aku menyesal karena tidak pernah berkesempatan untuk menyatakan perasaanku yang terdalam padamu. Karena aku jatuh cinta padamu, aku jatuh dalam pesonamu tanpa pernah menyadari bahwa hatiku merasa resah saat kita berjauhan. Seluruh perasaan itu muncul tanpa peringatan dan aku terlalu lamban untuk menyadari isi hatiku sendiri, hingga aku butuh waktu lebih lama untuk mencerna semuanya sebelum aku mengatakan isi hatiku padamu. Namun aku terlambat, dan aku tidak pernah mendapat kesempatan untuk menyatakan rasa cintaku padamu, kemudian aku hidup dengan penyesalan itu sepanjang tahun.”

Napas Kyuhyun tetap teratur dan ia tidak bereaksi pada kata-kata Eungi, matanya terpejam, ia sedang menyimpan baik-baik memori ini dalam kepalanya.

“Kyu, apa kau sudah tidur?” Eungi mengangkat kepalanya untuk melihat keadaan Kyuhyun.

“Bagaimana mungkin aku bisa tidur jika kau baru mengungkapkan perasaanmu seperti itu.” Ia membuka matanya, perlahan meletakkan tangan di tengkuk Eungi untuk menarik wajah wanita itu mendekat. “Terima kasih, yang kau ucapkan adalah hal terindah yang pernah kudengar dalam hidupku. Inilah mengapa aku selalu ingin berada di sisimu, Eungi-ya. kau menempatkanku di podium yang sangat megah, membuatku merasa seperti manusia berguna yang pantas memperoleh cinta dari wanita sehebat dirimu.”

“Terima kasih, karena kau kembali dalam hidupku.” Wanita itu berbisik sambil tersenyum. .

Kyuhyun menarik Eungi lebih dekat sambil menyapukan bibir mereka lembut, rasa bersyukur yang ia rasakan tidak mampu lagi diungkapkan lewat kata-kata. Pria itu menekan bibirnya yang bergetar pada bibir Eungi, menikmati kehampahaan yang kini kembali terisi dengan kehadiran wanita yang dicintainya. Kyuhyun melingkarkan lengannya pada bahu dan pinggang Eungi, menarik wanita itu semakin dekat, menghapus jarak sekecil apapun antara tubuh mereka, tidak lagi rela terpisah sedikit pun darinya. Tidak ada hawa napsu dalam ciuman dan sentuhan mereka, hanya rasa rindu yang terbendung lama dan tidak mampu lagi mereka ungkapkan lewat kata-kata.

 

 

 

Advertisements

77 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 24

  1. Cho Sarang says:

    Cie… Balikan ni ye, meski dengan berurai air mati akhirnya peluk – pelukan. Kenapa gak dari dulu – dulu kyuhyun muncul biar cepat permasalahannya selesai

    Liked by 1 person

  2. ona kyu says:

    akhirnya Kyu sama Eungi balikan lagi setelah perpisahan yang menyakitkan mereka bersatu kembali. walau harus dipenuhi dengan air mata. perasaan menyiksa itu terurai juga.😭😭😭😭

    Liked by 1 person

  3. Barom yu says:

    Aaa eonn speechles!! Aku deg”an baca setiap obrolan mereka. .
    Sungguh kau keren eonn 😍
    Baperr euy hehe
    Gak tau seberapa sedih nya klo mereka pisah lagi 😦
    Omo kyu sampe jual jam dan bangkrut. Salut sama kyu yg skrng, dia berubah jd cwo yang dewasa sekali
    Berharap ini yang terakhir sedih” nya.. Couple yang bikin baper deh ini top deh

    Liked by 1 person

  4. Rinjani says:

    Ya ampun Eungi, udh pinter, tulus, berhati besar…. Ah gabisa bayanginnya, seneng bgt karakter Eungi.
    Thor ko bisa sih cipatain karakter kaya gini yg berhasil bikin baper tiap part nya :3
    Buat Kyu sendiri aku seneng diawal part karakter dia bad boy tp lama kelamaan jd lelaki dewasa pas ketemu Eungi dan mau nerima kenyataan trauma nya Eungi. Ditambah dengan kejadian ayahnya itu Kyu makin dewasa :3
    Fighting Eonni!!

    Liked by 1 person

  5. Yoon28 says:

    Mereka cocok. Mereka sama2 cengeng sama2 banyak masalah. Sama2 pekerja keras. Sama2 jenius. Sama2 romantis 😂 intinya mah seneng liat mereka baikan

    Liked by 1 person

  6. Afa hyerin says:

    Semua kata2 di part ini….Indah banget sih eonnie…. aku begitu suka setiap kata yang tertulis dengan indah.. Aku.nggak bisa coment eonnie.. Karena penjabaran eonnie memenuhi ekspektasi yang ku inginkan eonnie chan

    Liked by 1 person

  7. sweetrizzu says:

    Penjelasan” di part ini bner” bkin sedih…. Sama kayak Eungi, aku jg minta maaf ya Kyuhyun slma ini uda salah paham. 😥

    Emang agak bingung knp Kyuhyun kuliahnya beasiswa pdhal papanya tajir, oh mungkin dia jenius… Tapi tnyata selain jenius, ekonomi keluarganya lg gak bgtu baik dan Kyuhyun pun pgen lbh mandiri.. 🙂

    Kyuhyun semangat kuliahnya trus yg rajin jg belajarnya.. Have a nice day sm Eungi!! :*

    Liked by 1 person

  8. putri0589 says:

    part ini bener bener mengungkapkan rahasia,, gimana keadaan Kyuhyun yg juga ga lebih baik setelah pisah sama eungi bahkan mungkin keadaan Kyuhyun jauh lebih buruk.. seperti kata prof Van wijk eungi terpuruk krn dia yang menghancurkan dirinya sendiri sedangkan Kyuhyun dihancurkan keadaan yg gak pernah dia bayangin sebelumnya dan semua itu dia lewatin tanpa bisa berbagi dengan siapapun…
    hebat banget Kyuhyun yg sekarang, dia bener bener buktiin bahwa dia bisa berubah jadi sosok yg bener bener pantas untuk jadi pendamping eungi
    aku seneng banget mereka bisa baikan lagi dan ini bener bener penyejuk setelah kesedihan yg mereka laluin…

    Liked by 1 person

  9. Dyana says:

    Mereka yang kembali bersama aku yang berbunga-bunga, duch… aku bnr-bnr suka interaksi dua orang ini, dan cara mereka menyelesaikan semua salah paham yg emang terjadi karena kurangnya komunikasi, diatas segala amarah mereka mengutamakan cinta… Teruslah seperti itu Eungi-ya, sll sbr terhadap Kyuhyun… Dia memang sedikit bodoh akan kelakuannya, tp dia sangat mencintaimu…
    Baper… Aku baper… Haaaha

    Liked by 1 person

  10. OngkiAnaknyaHan says:

    nah kan baper sendiri liat kemesraan mereka >_<
    tapi salut sama mereka
    sebesar apapun masalah mereka
    karna atas dasar cinta mereka saling menerima , memaafkan , memperbaiki , dan saling melengkapi

    ah, iri deh sama copel ini

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s