(Indonesian Version) One Last Shot – Part 23

Mohon ampun ya updatenya ngaret, lagi akreditasi dan super riuweh (Kaya pada nugguin aja). Aku harus nyuri-nyuri waktu ngumpet di kolong meja buat bisa nyicil terjemahinnya, so please instead off being pissed, apreciate my effort, okay? 😦

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

Semalaman Kyuhyun berada dalam kondisi sadar/tidak sadar, ada waktu ia membuka matanya untuk mencerna keadaan sekitarnya, namun detik berikutnya ia kembali tertidur dalam keadaan lemas. Pria itu merasa seolah sedang bermimpi indah, karena wanita yang ia rindukan terbaring di sampingnya, memeluknya erat. Hembusan napas teratur dari wanita itu terdengar menenangkan baginya dan pria itu hanya sanggup tersenyum simpul karena mimpi indahnya. Tubuh Kyuhyun terlalu lemah malam itu, ia tidak sanggup menggerakkan tangannya, meskipun ia sangat ingin membelai rambut Eungi, dan memeluknya balik. Pria itu menutup matanya kembali, melanjutkan episode mimpi indahnya, menikmati ilusi tetang Eungi yang sekarang terlelap di sampingnya saat ia merasa sangat demam, Kyuhyun akan menganggap kesialannya ini sebagai anugerah, karena telah membawanya pada mimpi indahnya.

Keesokan paginya Kyuhyun terbangun dengan pikiran yang jauh lebih waras. Ia bergerak-gerak mengganti posisi tidurnya, membenamkan wajahnya ke dalam bantal di bawah kepalanya dan aroma musk yang khas langsung mengingatkan rindunya akan wanita itu. Tempatnya berbaring sekrang benar-benar seperti kamar Eungi yang ia ingat dulu, Kyuhyun memejamkan matanya lebih lama, menikmati sisa-sisa mimpi indahnya sebelum ia membuka mata.

Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sebuah boneka kelinci berukuran besar yang memandangnya balik dengan tatapan kosong. Kyuhyun mengangkat tubuhnya perlahan, tapi pening di kepalanya kembali menyerang jadi ia kembali terlentang pasrah di atas ranjang. Ia mengerang kesusahan sebelum mencoba usaha kedua untuk bangkit dari posisinya, menggunakan sikunya sebagai support hingga akhirnya ia berhasil duduk di tepi ranjang. Ia menolehkan kepalanya untuk mengamati ruangan tempatnya terbangun sambil mencoba mengingat bagaimana caranya hingga ia bisa berada di sini, ia tahu persis di mana ia berada, karena ia pernah mengantarkan wanita itu ke atas ranjangnya dulu saat Eungi mabuk.

Senyum kecil muncul di wajahnya, jadi ia tidak bermimpi semalam saat ia mengira berhalusinasi Eungi memeluknya?

Kyuhyun mencoba bangkit, tapi perhatiannya teralihkan dengan pakaian yang sekarang melekat di tubuhnya. Ia tidak merasa memiliki sweater bewarna biru seperti ini sebelumnya, ia kemudian menyingkap selimut yang menutupi kakinya dan senyum jahil di wajahnya semakin lebar—pasti kemarin Cha Eungi menanggalkan seluruh pakaiannya yang basah dan hanya menyisakan boxer ini di tubuhnya. Kyuhyun melirik ke meja samping ranjang untuk membaca pesan yang Eungi tinggalkan bersamaan dengan beberapa obat dan segelas air dan sikat gigi yang  berbunyi: ‘minum ini saat kau siuman, bersihkan dirimu dan jangan mencoba mendebatku!’ Ia terkekeh dan langsung mematuhi perintah Eungi, meminum pil-pil yang tersedia dan menyeret dirinya ke kamar mandi yang ada di kamar Eungi untuk mencuci muka dan sikat gigi.

Selesai membersihkan diri, perhatian Kyuhyun teralih pada suara yang datang dari luar kamar. Ia membawa langkahnya keluar kamar Eungi untuk menghampiri sumber suara, ternyata suara berasal dari arah dapur—dan Eungi sedang berisik menyiapkan sarapan untu mereka di atas kompornya. Kyuhyun menikmati waktunya untuk menonton kekasihnya sebelum ia berdeham untuk menyadarkan Eungi akan kehadirannya.

tumblr_o0v9qfuc1j1v1xojqo1_500

gambar milik Park Seul

Wanita itu menengok dan langsung mematikan kompornya.

“Kau sudah sadar.” Matanya membulat penuh kelegaan.

Kyuhyun mengangguk dan mencoba memberi Eungi senyum manisnya.

Wanita itu melangkah mendekati Kyuhyun, dengan kikuk ia menangkupkan telapak tangannya pada kedua pipi Kyuhyun untuk memeriksa temperatur tubuhnya. Anehnya, hal ini terasa sangat natural bagi mereka—mengingat mereka masih punya urusan yang belum terselesaikan. Kyuhyun menggigit bibirnya gugup saat wajah Eungi terlihat sangat dekat dengan wajahnya, sedangkan wanita itu masih tetap terlihat khawatir.

“Demammu sudah mendingan, tapi masih tetap demam. Kita pergi ke dokter setelah sarapan, ne?” Eungi kemudian menarik tangan Kyuhyun ke arah meja makannya.

“Aku sudah merasa jauh lebih baik, tidak perlu ke dokter, noona.” Ia menggeser kursi dan duduk sambil menopang kepala dengan lengannya.

“Apa kau mau kujitak? Kau pingsan Kyu! Kau terjun bebas ke atas terasku, bagaimana mungkin kau bilang itu ‘baik-baik saja’?” Eungi meninggikan nada bicaranya tapi ekspresi wajahnya memberitahu Kyuhyun bahwa ia khawatir, bukan marah.

“Karena aku benar-benar merasa lebih baik, kau merawatku dengan baik, menanggalkan seluruh pakaianku yang  basah dan memakaikan sweater hangat ini.” Ia membentangkan lengannya ke samping sambil tersenyum jahil. “Aku belum pernah merasa sebaik ini dalam kurun waktu yang lama.”

“Maaf tentang bajumu, pakaianmu basah kuyup dan aku takut itu membuat demammu semakin menjadi.” Eungi menunduk memandang lantai untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.

Kyuhyun terkekeh, “Tidak apa-apa, toh kau memang sudah melihat semuanya.”

Jawaban blak-blakan dari Kyuhyun justru membuat wajah Eungi terasa semakin panas, wanita itu mengalihkan kegiatannya kembali untuk memasak ketimbang menjadi bahan ledekan Kyuhyun.

Kyuhyun bersandar pada kursinya, mengamati Eungi yang sedang memasak entah apa di dekatnya. Pria itu masih merasa berada dalam mimpinya, karena aneh sekali, ia terbangun dan tiba-tiba kondisi mereka kembali seperti dulu. Eungi meperlakukannya dengan hangat, obrolan mereka tidak terasa kaku dan atmosphere yang tercipta pagi ini benar-benar mengingatkannya pada masa-masa indah hubungan mereka.

Eungi membawa  nampan di tangannya ke arah Kyuhyun, pria itu nyaris bangkit untuk membantunya, tapi wanita itu hanya melotot dengan tatapan galak yang menyuruh Kyuhyun tetap duduk saja. Ia menghidangkan semangkuk bubur di hadapan Kyuhyun.

“Habiskan itu.” Ujarnya tanpa memandang wajah Kyuhyun, ia lalu kembali berjalan ke arah wastafel untuk meletakkan nampan sebelum ikut bergabung duduk bersama Kyuhyun di meja makan.

Kyuhyun meraih sendok yang diberikan Eungi, mengaduk buburnya sedikit, lalu menyendok makanan itu ke mulutnya. Sejak ia pindah ke Delft, Kyuhyun berusaha keras untuk beradaptasi dengan makanan Belanda dan jujur saja, ia bosan dengan rasa yang menurutnya hambar—yang berlawanan dengan konsep makanan Korea yang penuh bumbu. Dengan servis sarapan ala Korea yang dibuatkan Eungi pagi ini, jelas membuat pagi pria itu semakin sempurna.

“Apa kau menyukainya?” Tanya Eungi ragu.

Kyuhyun mengangguk sambil menyendok porsi bubur lagi ke mulutnya, hanya mengangkat ibu jarinya dengan mantap ke arah Eungi.

Wanita itu menikmati pemandangan Kyuhyun yang melahap bubur buatannya dengan cepat, dalam hati ia berssyukur karena mereka memiliki kesempatan untuk sarapan bersama tanpa rasa canggung. Seandainya saja suasana ini bisa terulang setiap hari sepanjang hidup mereka, tapi Eungi langsung menghapus khayalannya jauh-jauh. Ia tidak mau berharap terlalu banyak, ia takut kalau hanya ia yang merasa demikian.

“Ngomong-ngomong, noona. Bagaimana cara kau mengangkatku ke ranjangmu?” Ia membukan pembicaraan ringan dengan Eungi. “Pasti aku berat sekali untuk kau angkat.”

Eungi menyengir lebar, “Kau gendutan, bukan? Memang cukup menantang untuk memindahkanmu, tapi aku menemukan cara yang tepat.”

“Kegiatanku akhir-akhir ini hanya duduk, membaca, mengetik, dan makan. Aku tidak akan menyangkal naiknya berat tubuhku. Makanan Belanda yang isinya butter dan susu juga tidak membantu jarum di timbanganku untuk turun!” Kyuhyun mendengus geli. “Jadi, kau menggendongku?”

Eungi menggeleng, “Katakan saja aku mengepel lantai dengan punggungmu kemarin.”

Kyuhyun terkekeh, “Jadi kau menyeretku ke ranjang, klasik tapi efektif. Maaf karena menyulitkanmu, pasti kau kesulitan sekali kemarin.”

“Lain kali jangan memaksakan diri, oke?”

Kyuhyun tersenyum dan menghabiskan suapan terakhir dari buburnya.

“Kau bisa menelponku kemarin, katakan padaku kalau kau sedang sakit. Aku tidak masalah mengatur ulang jadwal pertemuan kita, tidak perlu kau memaksakan diri sampai seperti itu.”

Kyuhyun meletakkan sendoknya, meneguk segelas air di sampingnya. Kemudia ia mengulurkan tangan kirinya ke arah Eungi lalu membalikkan telapak tangannya menghadap atas. “Kalau begitu mengapa tidak kau tulis saja nomor ponselmu di situ agar aku bisa menelponmu? Bahkan, kali ini aku akan menatonya, agar lain kali jika aku kehilangan nomormu karena ponselku dicuri, aku tetap masih punya nomormu terpatri di  permukaan kulitku.”

Lagi-lagi Kyuhyun membuat Eungi terenyak kaget dengan kalimatnya. Wanita itu menatap Kyuhyun dengan pandangan penuh pertanyaan, sementara pria itu balas menatapnya penuh dengan kepiluan dalam sorot matanya. Baru saja mereka bisa bercanda santai tentang kasus pingsannya Kyuhyun, lalu tiba-tiba topik mereka bergeser kepada masalah yang sebenarnya.

“Saat itu, kau kira aku berniat meninggalkanmu tanpa pesan, bukan?” Kyuhyun melanjutkan, ia berada pada jalur yang tepat untuk menuntaskan masalah mereka dan  pria itu berniat meluruskan semuanya pagi ini.

“A—aku..” Eungi tidak bisa menjawab, terlalu shock dengan konfrontasi Kyuhyun yang mendadak.

“Aku salah, aku pergi malam itu dengan pikiran aku bisa menelponmu nanti—baru kemudian aku ingat ponselku hilang dan aku juga kehilangan kontakmu besamaan dengan ponsel itu. Bukan berarti mengabarimu saat aku sudah di bandara membuat keadaan lebih baik, tapi paling tidak aku berniat mengabarimu, karena malam itu ada emergency.”

“Kau masih bisa menelponku dari telepon umum.” Akhirnya Eungi mengutarakan argumennya.

“Lalu aku menekan nomor apa?” Kyuhyun mengatupkan rahangnya, “Aku bahkan tidak hafal nomorku sendiri, bagaimana mungkin aku mengingat nomormu?”

“Kau bisa meninggalkan note.” Tawar Eungi, “Kau bisa meninggalkan pesan di resepsionis depan apartemen, kau bisa membangunkanku—kau bisa tetap tinggal di sisiku. Kau punya banyak pilihan Kyu! Dan kau memilih yang terburuk.”

Pria itu menarik napas dalam-dalam, setuju dengan argumen Eungi.

“Apa kau tahu apa yang terlintas di benakku saat terbangun tanpamu di sisiku? Kukira sesuatu yang buruk terjadi padamu! Aku menelpon kedutaan untuk melacak jejakmu, kau tahu seperti apa kagetnya aku saat mereka menyatakan kau sudah melewati proses imigrasi di bandara? Pernahkah kau merasa sangat tidak berharga dalam hidup seseorang, hingga kau membiarkan dirimu dibuang begitu saja? Seperti itulah perasaanku!” Akhirnya kata-kata yang selama ini disimpan Eungi dalam hatinya keluar.

“DAN MENURUTMU ITU MUDAH UNTUKKU?!”

“Kau-mencampakkanku. Yang kutahu, lebih mudah menjadi eksekutor ketimbang yang ditinggalkan.” Napas Eungi memburu, konsekuensi dari emosinya yang semakin memuncak.

“Malam itu kacau sekali dan aku tidak bisa berpikir jernih! Noona, aku tidak mencoba membela tindakanku, karena aku pun sadar bertapa salahnya pilihanku untuk meninggalkanmu tanpa pesan apa pun.” Ia memejamkan matanya, mencari kata-kata berikutnya yang kira-kira bisa diterima Eungi. “Aku hanya ingin kau mengerti bahwa malam itu aku salah mengkalkulasikan waktu, aku tidak pernah berniat mencampakkanmu—malam itu keadaannya sangat kacau.”

“Kacau? Kekacauan macam apa yang kau maksud? Kau melihatku dalam kondisi terpuruk malam itu, apa itu cukup kacau untuk menghapus logikamu? Jika ada orang yang pantas merasa kalut saat itu, maka akulah yang pantas!” Eungi mendengus sinis. “Satu-satunya excuse yang kuterima hanya kalau ada sanak keluargamu yang meninggal tiba-tiba.”

“Ayahku terserang stroke.”

Rasanya seperti Kyuhyun baru mengguyurkan seember air dingin ke wajah Eungi. Wanita itu tecekat dan ia lansung membungkam mulutnya sendiri dengan telapak tangannya. “Apa beliau? Ayahmu, beliau..?” Ia tidak berani menuntaskan pertanyaannya.

“Dia berhasil melewati masa kritisnya, jangan khawatir, ayahku masih bernapas sekarang. Tidak perlu merasa bersalah.”

Eungi mash terlalu terguncang untuk membalas.

Kyuhyun berdeham dan menyingkirkan mangkuk buburnya ke samping. “Aku tahu perbuatanku salah, noona. Jika aku di posisimu, aku pun akan sangat membenci diriku sekarang, aku akan mengutuk diriku dan bahkan aku tidak akan rela bertemu lagi denganku—yang membuatku yakin bahwa itulah alasan kau menghilang selama nyaris setahun.”

Eungi bangkit dari kursinya, mengambil mangkuk kosong di meja dan membawanya ke wastafel, ia tidak paham mengapa ia berusaha keras untuk menghindari pembicaraan ini, ia terlalu takut kalau ia akan membenci Kyuhyun ketika ia tahu seluruh kenyataannya. Semalam wanita itu siap memaafkannya tanpa mendengar alasan apapun, tapi pagi ini saat Kyuhyun menjelaskannya, seluruh keraguan Eungi akan dirinya sendiri kembali muncul.

Kyuhyun menangkap sinyal yang diberikan Eungi, tapi ia memilih untuk menghiraukan usaha wanita itu untuk pura-pura tidak peduli. Ia melanjutkan ceritanya, “Ibu tiriku datang ke apartemen sewaan kita malam itu saat aku mau membeli makan malam, ia mencoba menelponku sebelumnya tapi panggilannya selalu ku-reject. Jadi wanita itu menghampiriku ke Paris berbekal petunjuk dari kartu kreditku untuk menyampaikan berita buruk itu.”

Eungi masih menyibukkan diri untuk mencuci perabot, pura-pura tidak mendengar perkataan Kyuhyun.

“Kekhawatiran utamanya jelas kesehatan ayahku, tapi seperti biasa, ia punya motif tersembunyi. Dia harus membawaku kembali ke Seoul untuk mengurus bisnis appa. Panel direktur di kampus mulai menarik investasi mereka dan aku satu-satunya orang yang bisa menghentikannya, wanita itu bahkan menyiapkan sabuah tiket untukku mengejar pesawat paling pagi yang meninggalkan Paris.” Kyuhyun tetap melanjutkan meskipun Eungi mencoba terlihat sibuk.

Tidak ada tanggapan dari Eungi.

“Malam itu, aku berencana membicarakan masalah ini denganmu, namun kau sudah tertidur, jadi kupikir aku akan melewatkan penerbangan paling pagi itu dan mengejar pesawat malam saja. Kemudian aku berniat mematikan laptopmu dan aku membaca draft-mu. Aku sangat kekanakan saat itu dan sangat terpengaruh oleh kata-kata indah yang kau lantunkan tentang dirinya. Malam itu benteng pertahananku runtuh dan kepalaku kosong.”

Eungi mulai merapikan perabot-perabot kecil di dapurnya sambil tetap pura-pura mengabaikan Kyuhyun.

“Bab pembuka yang kautulis tentang dirinya benar-benar menyakiti hatiku, sampai aku kehilangan akal sehatku. Aku selalu sadar kalau aku tidak pantas dibandingkan dengannya, tapi memperoleh konfirmasi itu lewat tulisan di draft-mu terlalu menyakitkan untukku. Aku meninggalkanmu malam itu dengan pikiran bahwa aku akan menelponmu di pagi hari, agar aku tidak perlu membangunkanmu dari tidur nyenyakmu, dan aku tidak ingin kau melihatku dalam keadaan kalut. Kupikir saat itu ayahku lebih membutuhkanku, jadi aku pergi. Aku baru bisa berpikir jernih lagi setelah duduk di dalam pesawat, dan aku berusaha keluar secepat mungkin untuk menghampirimu, sebelum kau menyadari bahwa aku pergi. Tapi waktu yang kubuang terlalu lama, dan saat aku tiba di apartemen itu, kau sudah pergi.” Air mata Kyuhyun mulai menggenang di matanya, ia benar-benar merasa malu pada Eungi karena telah bersikap kekanakan saat itu.

Eungi sendiri sedang berjuang untuk melawan nyeri dalam hatinya, meskipun ia sudah berkali-keli bersumpah untuk tidak membiarkan masalah ini menyakitinya lagi.

“Aku berlari ke lobi, meminta resepsionis untuk menelpon polisi dan melaporkanmu sebagai orang hilang dan aku menghabiskan 24 jam di kota itu dengan pikiran yang terburuk. Aku benar-benar takut hal buruk terjadi padamu, apalagi kau sudah sangat kalut malam sebelumnya dan aku yakin kepergianku memperburuk situasi. Apapun bisa terjadi padamu saat itu, dan aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau terjebak dalam bahaya karena keputusan bodohku.” Kyuhyun menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil menghapus air matanya yang sudah mengalir bebas. “Saat itu aku benar-benar berharap bisa membelah diri agar aku bisa menanti kabar tentangmu di Paris sekaligus menyelesaikan masalah ayahku. Tapi keadaan memaksaku untuk pergi meninggalkan Paris dan kembali ke Seoul.”

Eungi bisa mendengar isakan Kyuhyun dari lokasinya berdiri, tapi wanita itu masih berpura-pura membersihkan dapurnya.

“Kondisi di Seoul tidak kalah buruk. Aku harus memperjuangkan hak ayahku sementara statusku saat itu hanyalah bocah brengsek tukang berbuat onar yang tidak bisa apa-apa. Mereka meragukanku dan aku paham alasannya. Pemilik saham mencoba untuk menyalahi kontrak kerjasama dan berniat menarik investasi mereka dari kampus itu. Aku yakin, jika saat itu kau di sisiku, aku akan menemukan jalan keluar yang lebih baik. Namnun aku masih cukup beruntung karena ayahku menyewa pengacara terbaik se-Korea Selatan untuk membimbingku menangkis masalah legal. Tapi ada syaratnya agar aku memperoleh kekuasaan untuk mengganti ayahku—aku harus punya ijazah, karena itu memang syarat dasar di posisi itu—aku menggunakan hak prerogatifku untuk mengangkat ibu tiriku sebagai representative sementara aku menuntaskan studiku.”

Dapur Eungi sudah bersih mengkilap sekarang, tapi ia masih tetap mencari-cari kegiatan untuk tetap menghindari tatapan Kyuhyun.

Pria itu menghiraukan usaha bodoh Eungi untuk mengabaikannya dan ia lanjut bercerita. “Noona, bisakah kau bayangkan bagaimana rasanya bagiku saat itu? Aku harus menuntaskan studiku, mengambil alih bisnis appa, dan dalam saat bersamaan masih mencari dirimu yang tidak ada kabarnya. Meskipun semua itu terjadi karena kesalahan kolektifku yang menumpuk, aku merasa tidak sanggup menanggung semua itu bersamaan, dan aku tidak punya seorang pun untuk berbagi bebanku.” Isakan tangis Kyuhyun semakin keras, “Rasanya aku tinggal di neraka tiga bulan pertama noona, aku tidak berani berspekulasi tentang dirimu, karena aku takut kekhawatiranku menjadi kenyataan. Untungnya, detektif yang kusewa untuk melacakmu akhirnya menemukan record paspormu di imigrasi Wina dan kau mendarat di Edinburgh. Saat menerima berita itu, aku langsung memesan tiket ke Edinburgh, tapi kau selalu beberapa langkah di depanku. Sekeras apapun usahaku untuk mencarimu, aku masih tidak menemukan jejakmu. Maaf karena aku tidak tinggal terlalu lama di sana, aku harus kembali ke Seoul untuk memulai semester baru.”

Kyuhyun sudah bosan dengan sikap Eungi yang menghiraukannya, pria itu bangkit dari kursinya untuk menghampiri Eungi di kabinet dapurnya. Pria itu meremas bahu Eungi pelan untuk memutar tubuh  wanita itu agar menghadapnya, ia ingin Eungi memahami alsannya hingga meraka terjebak dalam situasi memilukan ini.

Hati pria itu bagai diremukkan lagi ketika dilihatnya Eungi sudah bergelimang air mata. Ternyata wanita itu pura-pura terlihat sibuk bukan karena ia mau mengabaikan Kyuhyun, tapi ia ingin menyembunyikan rasa sakit dalam hatinya.

“Noona,” Kyuhyun membungkukkan badannya dan segera saja pria itu berlutut di hadapan Eungi sementara tangannya menggenggam tangan Eungi erat. “Aku tidak bermaksud bilang bahwa aku pantas mendapatkan kesempatan kedua darimu, aku menceritakan semua ini agar kau mengerti, bahwa aku melakukannya bukan karena aku berhenti mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu dan aku tidak pernah berhenti mengutuk malam saat aku meninggalkamu, dan menyesali momen saat aku menutup pintu apartemen itu dan membiarkanmu sendirian.” Isakannya sekarang sudah menjadi tangisan yang tidak terbendung.

“Hentikan, Kyu.” Akhirnya Eungi mengucapkan sesuatu. Kata-katanya keluar dalam bisikan pelan yang tidak terdengar oleh pria yang masih menangis.

“Aku mencarimu, noona. Aku mengikuti setiap jejak yang bisa kudapatkan dan maafkan aku karena aku selalu terlambat. Aku mencoba, aku bersumpah bahwa aku mencoba.” Kyuhyun mulai menarik napas dalam-dalam untuk menahan tangisnya yang semakin jadi, pria itu tidak lagi berlutut, ia kehilangan kekuatannya dan terduduk pasrah di lantai dapur Eungi. “Maafkan aku noona, maafkan aku atas seluruh rasa sakit yang kuberikan padamu karena kebodohanku, maafkan aku yang mengingkari janji kita, maafkan aku yang lalai menjagamu saat itu, tapi aku sungguh menyesal karena aku telah menyakitimu padahal aku berjanji untuk membuatmu bahagia.”

“Hentikan Kyu!” Tangis Eungi akhirnya pecah. Wanita itu akhirnya berlutut di hadapan Kyuhyun, kemudia ia segera menarik tubuh Kyuhyun ke arahnya. Eungi meletakkan kepala Kyuhyun di atas dadanya, lengannya dikalungkan di seputar leher pria itu sambil mendekapnya lebih erat. “Hentikan semua penjelasanmu, aku tidak peduli!”

Pria itu mencoba menenangkan deru napasnya, tapi semakin ia mencoba, semakin hebat pula tangisnya pecah. Perlahan Kyuhyun mengangkat lengannya untuk dilingkarkan di seputar pinggang Eungi.

Keduanya menangis sepuas hati mereka di atas lantai dapur Eungi, jelas sudah salah paham diantara mereka, jelas bahwa mereka memang merindukan dan membutuhkan satu sama lain. Saat ini, mereka hanya menikmati kebersamaan yang telah lama hilang dan memilih untuk mengabaikan masa lalu yang menyakitkan, kerena bukan itu yang penting saat ini.

“Aku tidak peduli akan alasanmu, Kyu! Bahkan jika dulu kau benar-benar berniat meninggalkanku, aku tidak peduli!” Eungi tetap terisak sambil masih mendekap Kyuhyun di dadanya. “Aku hanya ingin kau di sisiku, mendekapku seperti ini, dan tidak meninggalkanku lagi. Aku tidak peduli alasan-alasanmu, aku tidak peduli kalau kau mematahkan hatiku. Aku menolak untuk percaya kalau kau mencampakkaku, aku hanya ingin kita kembali menjadi kita yang dulu.”

Keduanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri mereka, sambil masih saling memeluk. Kyuhyun membenamkan wajahnya lebih dalam ke pelukan Eungi, ia masih mengerang pilu untuk menghilangkan rasa sesak di hatinya, dan Eungi mencoba menenagkannya dengan mengusap lembut punggung Kyuhyun.

“Aku terlalu mencintaimu untuk terus marah padamu. Lebih dari satu tahun aku terbangun dengan kebencian pada dirimu, namun aku kembali mempertimbangkan untuk memaafkanmu saat malam datang. Aku bersumpah untuk siap menerimamu kembali kapan pun kau siap kembali padaku. Hanya itu motivasiku untuk menjalani hari-hariku, Kyu.” Eungi berbisik di telinga Kyuhyun setelah napas pria itu mulai teratur. “Kau ingat saat dulu meminta waktu padaku untuk merapikan seluruh keonaranmu? Aku berjanji untuk menunggumu, bukan? Aku berjanji untuk tidak meninggalkanmu. Aku gampangan sekali, bukan? Bahkan setelah kau memperlakukanku seperti itu, aku masih bisa mencari pembenaran untuk membuka hatiku dan menyambutmu kembali ke dalam hidupku seperti ini.”

Kyuhyun mendorong tubuhnya menjauh dari Eungi untuk mengamati wajah kekasihnya yang sama sembab denganya. Ia menyapukan jemarinya untuk menghapus air mata yang ada di majah cantik wanita itu, tapi air mata Eungi tetap saja menetes. Kyuhyun menggigit bibirnya kasar, menahan luapan rasa sakit yang ia dapatkan dari kata-kata Eungi. Bagaimana mungkin wanita itu mengira Kyuhyun membuangnya? Kyuhyun semakin menyalahkan dirinya sendiri sekarang.

“Aku mencintaimu Kyuhyun-a.” Eungi  menangkupkan telapak tangannya di wajah Kyuhyun. “Dan aku benci sekali dengan fakta bahwa aku jatuh cinta padamu semudah itu, perasaan itu benar-benar membuatku kacau dan aku jadi kurang waras. Aku benci fakta bahwa duniaku sekarang mengorbit di sekitarmu, dan saat kau pergi, aku kehilangan tujuan hidupku dan rasanya aku hanya mengambang, kehilangan gravitasiku terhadapmu. Kumohon jangan lakukan itu lagi, aku tidak sanggup, itu terlalu berlebihan, kau kelewat—”

“Apa kau baru bilang kalau kau mencintaiku?” Potong Kyuhyun, tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Ia sudah menantikan kata-kata itu dari mulut Eungi sejak lama.

Eungi mengangguk. “Aku mencintaimu, Kyu. Maafkan aku yang terlalu lamban—”

Kyuhyun menempelkan bibirnya pada bibir Eungi tanpa peringatan, dan layaknya memasuki mesin waktu, semua yang terlupakan di antara keduanya kini kembali seakan tidak pernah ada kisah pilu dalam kisah mereka. Kehangatannya tetap sama, kelambutan yang sama, ketulusan yang tidak berubah serta kenyamanan familiar yang selalu mengikuti mereka telah kembali hanya dengan gestur sederhana ini.

Kyuhyun melepaskan tautan bibir mereka dan menatap dalam ke manik mata Eungi, keduanya tidak membutuhkan kata-kata untuk mendeskripsikan perasaan mereka. Detak jantung mereka yang menggila sudah menjadi bukti yang cukup untuk menyampaikan derita keduanya saat terpisah. Sisa-sisa air mata pada wajah mereka menjadi wujud kesakitan yang harus mereka bayarkan karena kesalah pahaman yang berakar. Eungi dan Kyuhyun masih terduduk pasrah di atas lantai, masih saling mendekap sementara mereka mencoba menyusun kembali serpihan janji mereka yang sempat rusak, kali ini, mereka memilih untuk melupakan memori kelam yang menghantui hidup keduanya setahun kemarin.

 

 

 

 

Advertisements

74 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 23

  1. angelkim393 says:

    Yeiiiiiiiiiii finally mereka baikan lg…q sempet gemes m eungi yg nyoba buat ngehindar mulu…n gemes m kyuhyun yg g berani nyoba buat melangkah….akkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk but skarang ikut seneng karna mereka bisa baikan jg^^

    Liked by 1 person

  2. ona kyu says:

    lega juga akhirnya kesalah pahaman mereka akhirnya terselesaikan tapi serius part ini nyesek banget. membuat dada ikut sesak ketika Kyu mengakui salah nya pada Eungi. sepertinya cinta kembali bersemi😍😍😍😍

    Liked by 1 person

  3. putri0589 says:

    akhirnya mereka bisa bicara tenang berdua tentang kesalah pahaman itu, terharu banget sama moment mereka kembali bersama.. nangis bersama krn saling jujur tentang perasaan mereka dan hubungan mereka yg dulu sempat kacau…
    aaahhhh ini terlalu kereeeenn,, baguus bangeet

    Liked by 1 person

  4. OngkiAnaknyaHan says:

    nah kan , itu tuh karna kesalahpahaman doank tapi akibatnya terlalu fatal
    tapi seneng liat mereka balikan lagi 😀
    jadi sakitnya kyuhyun itu membawa berkah
    kkkk

    siap siap abis gini baper lagi liat kemesraan mereka 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s