(Indonesian Version) One Last Shot – Part 22

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Kyuhyun memaksakan diri untuk turun dari ranjangnya meskipun tubuhnya terasa sangat lesu. Sepertinya cuaca ekstrim di kota ini akhirnya sukses menumbangkan sistem kekebalan tubuhnya. ia sudah merasa tidak enak badan sejak semalam setelah kehujanan berjam-jam ketika membuntuti Eungi, hidungnya yang mulai berair serta kepalanya yang terasa berat menjadi indikator utama dari demam yang ia rasakan pagi ini.

Pria itu memutuskan untuk menghiraukan keluhan badannya, meminum aspirin dan paracemamol dengan asal dan mempersiapkan diri serapi mungkin untuk berangkat ke kelasnya—yang akan dilanjutkan dengan acara rapat bersama Eungi untuk membahas kasus plagiarisme Hwang Hojin. Ia tidak terlalu menangkap kuliah yang disampaikan hari ini, tapi memang bukan itu tujuan Kyuhyun keluar dari apartemennya, ia hanya menggunakan alasan akan bertemu Eungi sebagai penyemangatnya.

Sepulangnya dari kelas, ia menemui Eungi di café kemarin, wanita itu sedang sibuk berbicara dengan ponselnya menggunakan Bahasa Belanda saat Kyuhyun tiba. Pria itu berjalan ke arah counter untuk memesan segelas kopi hitam pada Vincent, dan lagi-lagi ia mengamati cermat pria Belanda yang dari kemarin terlihat terlalu mesra dengan kekasihnya. Apa memang kerjaan si Vince ini hanya menjaga café dan seorang barista? Jika demikian, Kyuhyun tidak perlu merasa terancam akan posisinya di mata Eungi—setidaknya lebih baik ia berpikir seperti itu demi menjaga kelangsungan mood-nya hari ini.

Goidemiddag! Kau yang janjian bertemu Cha, bukan? Katanya ia akan menemui mahasiswanya, Cha sudah menunggumu di meja itu.” Tunjuk Vincent pada meja tempat Eungi duduk. “Aku akan mengantarkan pesananmu segera.” Lanjut pria Belanda itu ramah sebelum ia meracik pesanan Kyuhyun.

Cha? Apa itu caranya memanggil nama Eungi?? Apa itu semacam panggilan sayang untuknya?! Kyuhyun menelan rasa kesalnya, lagi-lagi spekulasi tentang hubungan Eungi dan Vincent mulai mengganggu benaknya.

Kyuhyun berjalan mendekati meja Eungi, melepas mantel dan syalnya sebelum ia duduk di seberang wanita itu. Eungi mengangguk kikuk pada Kyuhyun sambil menunjuk pada ponselnya, meminta Kyuhyun untuk menunggu sampai ia selesai bicara dengan siapa pun yang sedang ditelponnya. Pria itu menyandarkan punggung pada kursi di belakangnya dan memanfaatkan waktu dalam diam untuk mengamati pemandangan indah di hadapannya. Perhatian Kyuhyun terfokus pada penampilan Eungi yang lebih memukau dari kemarin, ia menyadari fakta bahwa Eungi berusaha untuk terlihat lebih menarik hari ini, wanita itu mengenakan make-up lebih banyak dari biasanya, ia membiarkan rambut panjangnya tergerai di belakang bahunya, Kyuhyun juga bisa menghirup aroma musk manis yang menjadi ciri khas Eungi.

Tapi kesenangannya segera pudar saat ia menyadari pakaian yang digunakan Eungi.

Dalam kondisi udara sedingin ini, wanita itu hanya membalut tubuhnya dengan sweater tebal dan ia nekad menggunakan dress yang panjangnya tidak sampai selutut, tanpa mencoba melindungi kakinya dengan apa pun. Jika Eungi berpakaian seperti itu dengan tujuan untuk mengigatkan Kyuhyun apa yang dirindukannya, maka ia berhasil. Tapi Kyuhyun juga tidak membutuhkan atraksi seperti ini sebagai pengingat rasa rindunya—paling tidak bukan saat udara Belanda sedang dingin-dinginnya.

Beberapa menit kemudian Eungi menutup teleponnya, bersamaan dengan Vincent yang juga datang untuk mengantarkan pesanan Kyuhyun ke meja mereka. Dengan sopan Kyuhyun mengucapkan terima kasih dan menggeser gelas lebih dekat padanya, ia mengira Vincent akan meninggalkannya berdua dengan Eungi, tapi sepertinya ia harus kembali menerima kecewaan karena pria Belanda itu justru menarik tempat duduk di samping Eungi dan duduk manis bersama mereka.

Eungi meneguk latte-nya sebelum memperkenalkan kedua pria itu, “Vincent, ini adalah mahasiswaku, Kyuhyun. Dan Kyuhyun, ini adalah Vincent, mantan teman sekelasku saat studi magister dan ia juga pernah menghadapi kasus hukum HKI dalam perkejaannya sebagai arsitek professional.”

Kyuhyun hanya fokus pada kata-kata ‘mantan teman sekelasku’ dan menghiraukan sisanya.

Vincent tersenyum pada Kyuhyun dan mulai bicara. “Ia bilang padaku bahwa karyamu dicuri, kemudian ia konsultasi padaku mengenai tuntutan hukum karena aku pernah mengalami kasus pelanggaran hak kakayaan intelektual pada awal karirku.”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Vincent untuk memandang Eungi, wajahnya tiba-tiba terasa panas saat ia melihat wanita itu menggigit bibirnya gugup sambil membereskan kertas-kertas di tangannya.

“Aku juga berkonsultasi dengan profesor Van Wijk semalam, dan beliau tidak bilang bahwa hal ini musta–” Eungi mulai menjelaskan pada Kyuhyun.

“Tapi tuntutan ini juga tidak akan mudah, schat. Apalagi jurnal itu sudah terbit, jurnal internasional pula, lebih banyak reviewer yang terlibat di dalamnya.” Vincent memotong kata-kata Eungi sebelum wanita itu selesai menjelaskan.

“Bisakah kau membiarkan Eungi menuntaskan kata-katanya sebelum kau bicara?” Kyuhyun menatap Vincent dengan pandangan tajam. Ia sudah cukup kesal dengan fakta kalau Vincent ikut serta dalam rapat mereka dan lebih kesal karena si Vince baru menyapa Eungi dengan kata ‘schat’ lagi.

Vincent mengangkat kedua tangannya santai dan memalingkan pandangan pada Eungi untuk membiarkan wanita itu melanjutkan kalimatnya.

“Aku paham maksudmu, Vince. Jurnalnya sudah terbit dan aku harus menghadapi lebih banyak masalah hukum, yang artinya akan melibatkan lebih banyak orang dan lebih banyak lagi paperwork yang harus dibuat. Tapi orang ini mencuri penelitianku dulu dan aku benar-benar tidak mengira ia akan mengulang dosanya untuk kedua kali.” Ia mengambil selembar kertas dan memberikannya pada Vincent, “Aku sudah melakukan risetku tentang proses tuntutan hak kekayaan intelektual dan yang harus kusiapkan adalah bukti-bukti serta testimoni.”

“Jadi kau berencana bilang pada panel internasional bahwa kau melepaskannya sebelum ini dan sekarang kau menuntutnya untuk pelanggaran kedua?” Vincent mendengus, “Aku tidak perlu belajar di sekolah hukum untuk menebak argumen pertama yang akan mereka lempar padamu—mengapa sekarang? Mengapa tidak kau proses masalah ini ke pengadilan sejak awal?”

“Aku memiliki alasan pribadi untuk itu.” Eungi berdeham sambil menghindari tatapan tajam dari Kyuhyun. “Tapi aku tidak bisa melepaskannya sekarang—aku tidak rela.”

“Apa kau mau mendengar pembelaan berikutnya yang akan mereka lontarkan padamu?” Vincent tersenyum santai sambil lanjut bicara, “Karya mahasiswamu memang berada di bawah hak penggunaan legal kampus, Cha. Kita semua tahu peraturan itu, bahwa karya penelitian yang kau lakukan di bawah satu institusi adalah milik institusi itu. Kyuhyun melakukan Tugas Akhirnya di kampus itu dan ia meminta si Hwang ini untuk menandatangani surat rekomendasi beasiswanya dengan cara memberikan essay penelitian—yang kutahu, Tuan Hwang pasti mendapatkan seluruh kredit sebagai pembimbing dan memang pria itu diizinkan secara hukum untuk menggunakan penelitian mahasiswanya dengan sedikit modifikasi.”

“Tanpa sepengetahuannya!” Eungi menunjuk pada Kyuhyun sambil melotot pada Vincent.

Kyuhyun merasa seperti sedang menonton pertandingan sepak bola yang seru, karena pandangannya terus berpindah dari Eungi dan Vincent setiap kali mereka berargumen. Ia menikmati momen ini karena Eungi berada di pihaknya, cara wanita itu membela Kyuhyun sekarang benar-benar membuatnya terlihat semakin menakjubkan di mata Kyuhyun. Selain itu, pemandangan Eungi yang nyerocos tanpa henti dengan ekspresi kesal ke arah Vincent juga menghibur Kyuhyun, sudah lama sekali ia tidak melihat kekasihnya merajuk seperti itu.

Look, Cha, aku tahu ini pasti membuatmu kesal, tapi kau sudah melewatkan kesempatan untuk menuntutnya sejak awal, dan jujur saja, claim yang akan kau ajukan tidak sekuat itu. Jika kau menuntutnya dulu, kau memiliki hak penuh atas penelitianmu, karena kau tidak terikat institusi mana pun—berbeda dengan Kyuhyun di sini, statusnya masih mahasiswa saat itu.” Vincent memutar duduknya ke arah Eungi, perlahan meletakkan kedua tangannya pada kedua bahu Eungi sambil meremasnya pelan. “Aku akan membantumu sejauh yang kubisa, aku hanya tidak mau kau kecewa nanti karena hasilnya negatif, dan biar kuingatkan perjalanan legal untuk mengangkat kasus ini ke pengadilan akan sangat panjang dan melelahkan.”

Kyuhyun sengaja terbatuk keras-keras untuk mengingatkan mereka bahwa ia masih hadir di situ, sambil melirik sinis ke arah tangan Vincent yang berada di atas bahu Eungi.

Wanita itu melirik sekilas pada Kyuhyun, wajahnya langsung merona karena tatapan sinis yang diberikan pria itu pada Vincent. Memang Eungi tidak pernah berencana untuk menggoda Kyuhyun seperti ini, tapi jelas ia senang karena melihat gelagat cemburu Kyuhyun di hadapannya.

“Oke, sekarang menurut pendapatmu,” Eungi menggeser duduknya sehingga Vincent melepaskan tangan dari bahunya, “Apa cara terbaik yang bisa kami lakukan untuk melanjutkan tuntutan ini? Claim seperti apa yang harus kami ajukan? Dan siapa pengacara yang harus kami temui?”

Perhatian Vincent teralih oleh suara ponselnya, ia mengintip isi pesan yang masuk, membacanya singkat. “Ah, aku harus pergi sekarang, tapi aku akan memberimu kartu nama pengacaraku. Tunggu sebentar, biar kucari dulu.” Ia bangkit dan berjalan ke arah counternya gesit.

Kyuhyun menyesap kopinya sambil menatap kosong ke kursi kosong yang tadi diduduki Vincent, “Apa dia pacarmu?” Tanyanya nyaris berbisik tapi Eungi bisa mendengarnya jelas.

“Dia pria yang sudah menikah.”

“Wow, dan dia memanggilmu ‘schat’? Apa isterinya tahu itu?” Kyuhyun masih mencoba bersikap santai, meskipun pertanyaannya terdengar sangat konyol bahkan bagi dirinya sendiri.

Eungi mengangkat kedua bahunya acuh, “Dia sahabatku saat kami kuliah magister, kami sekelas terus sepanjang masa kuliah dan sejak dulu memang dia memanggilku seperti itu.”

“Jadi dia bukan seorang barista?”

Eungi mendengus, “Café ini adalah kedai impiannya, dan di atas café ini terletak kantor konsultan arsitek miliknya. Kenapa aku malah menjelaskan hal ini padamu?”

Keunyang.” Ia menyesap kopinya lagi. “Dia terlalu ‘ringan tangan’.”

Eungi sudah siap berargumen dengan Kyuhyun, tapi Vincent kembali ke meja mereka lengkap dengan secarik kartu nama di tangannya.

“Ini nomor pengacaraku, ia memiliki spesialisasi dalam bidang HKI dan kau bisa mendatangi kantornya di Utrecht kalau mau. Tapi kumohon, dengarkan aku Cha. Kau akan berjuang dalam pertempuran sengit tanpa persenjataan yang cukup. Bukan maksudku mengecilkan tekadmu, tapi hal ini bisa justru berbalik menyerangmu, kau bisa kehilangan banyak uang dan worst case scenario, justru kau yang dituntut balik oleh panel internasional. Kumohon, pelajari fakta-fakta ini dengan seksama sebelum kau mengajukan tuntutan.”

Eungi mengambil kartu nama di tangan Vincent dan menaruhnya di atas tumpukan kertas yang ia siapkan. “Aku menghargainya Vince, tapi aku tidak akan menyerah.”

“Kyuhyun,” Ujar Vincent padanya,  “aku tahu kau pasti marah karena karyamu dicuri, tapi kumohon, yakinkan wanita manis ini untuk tidak mengambil keputusan gegabah hanya untuk membalaskan dendamnya.” Vincent mencoba membujuk Kyuhyun, “Dunia hukum sangat jauh berbeda dari dunia kita yang damai dan mereka biasa bermain kotor, aku hanya menjaga agar kalian berdua tidak kehilangan lebih banyak lagi dari sekedar penelitian yang dicuri.”

“Bukan hanya sekedar penelitian, Vince.” Eungi menekan nada bicaranya.

“Aku akan bicara padanya nanti.” Kyuhyun menutup pembicaraan dengan Vincent sebelum Eungi kembali membombardir pria Belanda itu dengan argumennya.

“Aku harus menjemput anakku, pintu café akan terkunci otomatis dari luar, jadi kau hanya perlu menutupnya saja. Gunakanlah waktumu dengan baik di sini, oke? See you when I see you, schat.” Vincent bangkit dan mengecup pipi Eungi tiga kali—pipi kanan, kiri, dan kanan lagi. “Senang berkenalan denganmu, Kyuhyun.”

Take care.” Eungi balas mengecup balik pipi Vincent. “Terima kasih sekali lagi untuk ini, aku akan keluar setelah urusan kami selesai.”

Alstublieft!” Balas Vincent sambil mengedip sebelum keluar dari cafenya.

Eungi menarik napas panjang dan mulai menggelar kertas-kertas yang dipersiapkannya bedasarkan kategori, sepertinya wanita itu benar-benar melakukan tugasnya dengan baik untuk mencari titik terang dari kasus hukum ini. Kyuhyun mengeluarkan laptopnya dari backpack, mempersiapkan data-data yang juga sudah disiapkan sejak semalam untuk dipresentasikan pada Eungi.

“Kau dengar kata Vincent tadi Kyuhyun-ssi, ini akan menjadi perjuangan yang panjang dan melelahkan. Kuharap nyalimu tidak menciut hanya karena dua orang sudah bilang ini sulit.” Eungi membuka pembicaraan, “Sekarang, apa kau membawa bukti-bukti yang kuminta kemarin?”

Kyuhyun mengangguk kemudian bangkit dari duduknya, membawa laptopnya dan pindah duduk ke kursi di samping Eungi. “Lebih mudah mempresentasikan karyaku dengan posisi seperti ini.” Ia merasa harus menjelaskan alasannya pindah tempat—walaupun Eungi tidak bertanya.

Kyuhyun kemudian memulai presentasi tentang Tugas Akhirnya, latar belakang penelitiannya, metode yang dipakai bahkan jadwal penelitian saat ia terjebak dengan urusan kelulusannya. Setelah yang dasar selesai disampaikan, ia lanjut menjelaskan langkah-langkah yang ia ambil saat melakukan riset lapangan dan juga menunjukkan foto-foto hasil observasinya. Setelah itu, Kyuhyun menunjukkan Eungi inovasi yang ditemukannya bersama dengan rekan-rekan dari lab material engineering dan baru setelah semua selesai, ia menunjukkan essay yang mengantarkannya pada institusi yang sama dengan Eungi di Belanda.

Ia memanfaatkan waktunya untuk memamerkan pada Eungi wujud kerja kerasnya di semester akhir kuliahnya sekaligus menunjukkan seluruh prosedur scientific yang dilaksanakan hingga Tugas Akhirnya menjadi sebuah karya yang kompeten dan valid. Kyuhyun menjelaskan pada Eungi bahwa genting eco-tarmac yang ia angkat dalam proposalnya untuk profesor Van Wijk memang belum pernah dilaksanakan sebelumnya dan memang ia dan rekan-rekannya yang menemukan metode itu—dan profesor Hwang tidak punya kuasa untuk menggunakannya sama sekali, jadi Kyuhyun tidak perlu khawatir untuk masalah inovasi itu.

Eungi memperhatikan kata-kata Kyuhyun dengan serius sambil sesekali mencatat detil-detil dari kata-kata pria itu yang mungkin akan berguna bagi tuntutan mereka nanti. Ia harus berusaha keras untuk konsenterasi karena perhatiannya terpecah antara penelitian Kyuhyun dan pria itu sendiri.

Eungi sadar bahwa pria itu tidak dalam kondisi terbaiknya, ia terus-terusan terbatuk saat bicara, suaranya parau dan hidung Kyuhyun terus-terusan basah karena ingusnya yang tetap keluar meskipun ia sudah menghapusnya dengan sapu tangan kecil. Eungi merasa ingin menghentikan presentasi Kyuhyun saat dilihatnya pria itu kesulitan menyampaikan isi penelitiannya, sambil berkali-kali memijit pelipisnya dengan kasar, seolah Kyuhyun sedang melawan rasa pusing yang luar biasa.

“Inti dari pertemuan kita hari ini, noona,” Kyuhyun berdeham keras untuk mengilangkan serak suaranya, menyentakkan Eungi dari lamunannya. “Aku hanya ingin membuktikan padamu bahwa aku sungguh-sungguh mengerjakan semua ini. Aku mengerahkan seluruh kemampuanku untuk mendapat ijazah kelulusanku dengan adil dan jujur. Dan aku ingin kau tahu bahwa aku melakukan semua itu untuk membuatmu bangga.”

Eungi tercengang dengan pernyataan blak-blakan Kyuhyun.

“Aku tersanjung dan sangat mengahargai usahamu untuk membelaku dalam kasus ini, tapi aku tidak mau mengambil resiko. Aku tidak bisa membiarkan kau memperjuangakan ini untukku padahal kita sama-sama tahu bahwa tuntutan kita terlalu lemah bahkan hanya sekedar untuk naik banding.” Kyuhyun manarik napas dalam-dalam dan menyandarkan kepalanya yang semakin berat ke sandaran kursi. “Maafkan aku, aku tidak bisa membantumu membalaskan dendammu, karena ini akan merugikanmu, noona. Aku pun minta maaf karena aku lah penyebab kau kehilangan penelitianmu dulu.”

“Mengapa kau jadi pesimis begini? Jika kita menyerah sekarang, pria itu bisa saja melakukannya lagi pada mahasiswa lain, dan ini akan jadi kebiasaan yang berulang. Tidak adil, Kyu! Tidak adil untukmu dan tidak adil bagi siapa pun yang nanti terlibat kasus serupa dengannya.” Eungi menaikkan nada bicaranya untuk membela keyakinannya.

Kyuhyun mengangguk, “Kalau begitu, biar kutanya, mengapa kau berjuang habis-habisan untuk masalah ini?” Ia mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk berdebat dengan Eungi. “Apa yang dikatakan kawanmu tadi cukup jelas, penelitian yang dilakukan dalam satu institusi memang menjadi milik institusi itu. Kita akan kalah hanya dengan argumen itu, noona, percayalah, aku juga sudah mencaritahu tentang prosedur penuntutan HKI. Dan kalau pun ada hasil yang baik, paling-paling hanya namaku akhirnya masuk ke dalam sitasi jurnal itu.”

Eungi membuka mulutnya untuk bicara, tapi ia benar-benar kehabisan kata-kata. Terlalu shock karena menyaksikan seberapa jauh perubahan Kyuhyun di hadapannya. Dulu Kyuhyun bisa dikatakan sebagai anak manja yang selalu mendahulukan ego dan emosinya dalam menentukan tindakan, sedangkan pria itu sekarang terlihat sangat tenang dan bijaksana dalam melangkah—ia terlihat jauh lebih dewasa dari yang terakhir Eungi ingat. Rahang Eungi mengaga sedikit karena bingung, benarkah pria di depannya ini pria yang sama dengan mahasiswa manja yang dulu dilindunginya? Mengapa kesannya sekarang justru Kyuhyun yang harus menjaganya?

“Noona, aku bisa melakukan riset ulang—aku punya waktu, fasilitas dan mudah-mudahan mentor yang tepat untuk melakukan itu—terutama karena aku bisa menggunakan inovasi eco-tarmac ini. Aku mendapatkan kredit dalam penemuan teknologi itu dan tercatat sebagai penemunya, kurasa itu cukup untuk meyakinkan Van Wijk untuk membimbingku.” Kyuhyun menarik napasnya yang semakin pendek-pendek karena pening di kepalanya semakin menjadi. “Profesor Van Wijk menuduhku menjadi plagiat karena konten jurnal itu, bukan karena teknologi yang kugunakan. Jadi aku masih bisa melanjutkan tesis magisterku menggunakan eco-tarmac itu, atau mungkin seiring dengan berjalannya waktu, aku justru menemukan teknologi yang lebih ekonomis dan efektif—ayolah, aku bisa memulai dari nol dan aku lebih baik melakukan itu daripada menempatkanmu dalam perdebatan hukum yang sengit.” Ia membujuk Eungi dengan memberikan sedikit fakta baik mengenai prospek tesisnya.

“Ta—tapi kukira kau mau berjuang untuk ini.”

Kyuhyun tersenyum pahit sambil memikirkan jawaban yang terbaik. Ia menolehkan kepalanya untuk menatap Eungi dan ia sadar wajah kesal wanita itu semakin kentara.

“Sejujurnya, aku setuju melakukan ini hanya agar aku bisa menghabiskan waktu lebih lama denganmu.” Ia menjawab jujur, “Kurasa aku sangat merindukan kehadiranmu, sampai aku rela melakukan apa saja untuk sekedar mengobrol seperti ini.”

Eungi menutup matanya sambil menarik napas dalam, ia mempersiapkan dirinya untuk obrolah tuntutan HKI hari ini, bukan obrolan tentang masalah dan perasaan mereka, belum, Eungi belum siap dengan konfrontasi Kyuhyun.

“Hentikanlah tuntutan hukum ini noona, aku tidak mau kau mengalami kesulitan karena ini.”

Eungi bangkit dari duduknya dan segera merapikan lembaran-lembaran yang tersebar di atas meja. Ia terlalu bingung dengan perasaannya sendiri sekarang, jelas ia marah karena Kyuhyun mencoba meyakinkannya untuk berhenti menuntut Hwang Hojin, namun pada saat bersamaan ia juga tersipu dengan cara tenang Kyuhyun saat menyampaikan perasaannya, tapi ia juga kesal karena Kyuhyun menyatakannya tanpa ada persiapan mental apapun dari sisi Eungi. Ia terlalu bingung untuk memahami kata hatinya sendiri, dan seperti biasa, memilih untuk melarikan diri dari pembicaraan yang sebenarnya.

“Ya! Cha Eungi! Kau mau ke mana? Di luar gerimis!” Kyuhyun buru-buru bangkit dari kursinya, menutup laptopnya dan memasukkannya dengan tergesa-gesa ke dalam backpack, sebelum meraih mantel dan syalnya untuk mengikuti Eungi keluar.

Eungi menghiraukan peringatan Kyuhyun dan segera membuka pintu café dengan kasar, lalu tetap berjalan. “Gerimis, psst! Ini bukan gerimis namanya, ini cuaca sore hari di negara ini, dasar pria brengsek!” Ia berguman kesal.

Kyuhyun menyusul langkah Eungi dan segera menaungi Eungi dari tetesan hujan menggunakan mantelnya yang dibuka lebar di atas kepala wanita itu. Eungi berhenti jalan, ia berbalik menghadap Kyuhyun sembari meremas kain mantel terdekat dari tangannya untuk menariknya turun dengan kasar. “Lindungilah dirimu sendiri, Kyuhyun-ssi. Lagian kau yang terlihat nyaris pingsan. Aku tidak membutuhkan gestur murahan seperti ini darimu. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Ia mengeluarkan payung lipat kecil dari tas dan membukanya sebelum berjalan lagi meninggalkan Kyuhyun.

Pria itu memutar matanya kesal, tapi juga tak mampu berbuat apa pun untuk menjawab reaksi Eungi. Ia juga tidak mau memenangkan kembali hati Eungi dengan cara murahan seperti ini, tapi ia benar-benar khawatir wanita itu akan jatuh sakit jika ia tidak melindunginya, dan cara Eungi memperlakukannya malah membuat Kyuhyun gondok. Pria itu mempercepat langkahnya di samping Eungi, dan tetap berjalan di sampingnya meskipun wanita itu terus meliriknya sinis.

“Aku akan mengantarmu pulang.” Kyuhyun balas memandang Eungi tidak kalah sinis. “Suka atau tidak, aku akan tetap melakukannya.”

“Lakukan saja sesukamu.” Jawab wanita itu tanpa memandang balik, mencoba mempertahankan ekspresi cuek-nya.

eungi

gambar milik Park Seul

Eungi mencoba untuk tetap sok cool, tapi udara berangin Belanda yang ganas menggagalkan usahanya. Angin kencang berhembus ke arah mereka tiba-tiba, mengakibatkan dress pendek Eungi terangkat bebas. Wanita itu memekik kaget karena kakinya tiba-tiba terekpos dan juga karena rasa dingin yang semakin menyerangnya, teriakan paniknya mencuri perhatian Kyuhyun, pria itu menatap wajah Eungi yang memerah dan bola matanya langsung memandang turun pada rok Eungi yang berkibar.

Pria itu melawan seluruh dorongan untuk tertawa dan segera menyamarkan tawanya menjadi batuk-batuk kecil. Dengan gesit ia melangkah dan berhenti di depan Eungi, menghalangi angin yang masih berhembus ke arah wanita itu, Kyuhyun lalu melingkarkan mantelnya di sekitar pinggang Eungi dan mengikatkan lengan mantelnya untuk menutupi kaki Eungi.

“Demi Tuhan, Cha Eungi. Ini sudah nyaris musim dingin, pakailah pakaian yang lebih tertutup.” Ia berguman di hadapan Eungi sementara tangannya masih sibuk mengikat mantelnya.

Eungi yakin sekali ia bisa menggoreng telur di wajahnya yang terasa panas karena perlakukan Kyuhyun, ia terlalu malu untuk membalas perkataan pria itu, jadi ia hanya melanjutkan langkahnya menuju rumah—sambil melihat ke bawah, karena ia tidak punya nyali untuk memandang Kyuhyun yang masih cengegesan di sampingnya.

Sebenarnya wanita itu menikmati perhatian Kyuhyun yang tidak berubah padanya, ia juga senang karena Kyuhyun meyadari bahwa Eungi berdandan seperti itu untuknya. Memang benar kata Kyuhyun, memakai rok flare di atas lutut pada musim dingin di negara ini bukanlah pilihan yang bijaksana—tapi musim panas masih terlalu jauh, dan Eungi ingin memamerkan bagian tubuhnya yang paling disukai Kyuhyun. Gengsi Eungi yang sangat besar itu membuatnya ingin menunjukkan Kyuhyun apa yang telah dilewatinya selama ia meninggalkan Eungi, jadilah wanita itu melakukan kekonyolan seperti ini—meskipun rencananya gagal total karena ia salah kostum.

Wanita itu mencoba berdamai dengan dirinya, ia membiarkan Kyuhyun melangkah di sampingnya dalam diam. Sementara pria itu tetap menyamai langkahnya, bersikap seperti bayangan Eungi yang mengikutinya ke mana pun ia melangkah. Sejujurnya Eungi penasaran dengan keadaan Kyuhyun—rasa penasaran yang tidak berkaitan dengan alasan pria itu pergi. Eungi ingin tahu kehidupan sehari-hari Kyuhyun di sini: apakah ia beradaptasi dengan baik? Apakah ia merasa homesick? Apa Kyuhyun cocok dengan makanan Belanda yang jauh dari kata pedas? Apakah kuliahnya baik-baik saja? Bagaimana kisahnya hingga ia bisa memperoleh besiswa untuk sekolah di sini, karena ia tahu itu tidak mudah.

Pertanyaan-pertanyaan dalam kepala Eungi sebenarnya bisa menjadi pembuka pembicaraan yang sangat bagus dengan pria yang selama ini ia rindukan, tapi Eungi masih ragu dengan hatinya dan gengsi wanita itu masih mendominasi—ia bahkan tidak sanggup bicara pada Kyuhyun hanya sekedar untuk menawarkan berbagi payung kecilnya bersama pria yang sekarang mulai kebasahan.

Dua puluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di pintu depan rumah Eungi. Kyuhyun menanti dengan sabar saat Eungi menggali ke dalam tas kecilnya untuk mengambil kunci. Wanita itu membuka pintunya kemudian menyerahkan payung kecil yang digenggamnya pada Kyuhyun, lalu ia melepas ikatan mantel Kyuhyun yang ada di pinggangnya.

“Aku tidak tinggal jauh dari sini, simpan saja payung ini.” Kyuhyun melangkah mendekat untuk menyerahkan payung, tapi langkahnya justru terlihat goyang. Sakit kepala yang ia rasakan seharian semakin menjadi-jadi karena ia kembali hujan-hujanan untuk mengantar Eungi pulang, pria itu nyaris kehilangan keseimbangannya untuk berdiri di hadapan Eungi.

“Apa kau baik-baik saja?” Akhirnya Eungi menanyakan pertanyaan yang dari tadi mengganggu pikirannya. “Kau pucat sekali.”

Kyuhyun mengangguk sambil menyandarkan lengannya pada frame pintu Eungi untuk menjaga keseimbangannya, “Aku hanya perlu tiduran sepulang dari sini. Well, kau sudah sampai rumah sekarang. Simpan saja mantel itu agar aku punya alasan untuk mengetuk pintu ini nanti untuk mengambilnya.” Ia mencoba memberikan senyuman menawannya pada Eungi sebelum dengan lesu melangkah dari teras Eungi.

Pria itu hanya sanggup mengambil dua langkah sebelum tubuhnya ambruk di atas teras Eungi.

Eungi terperanjat kaget oleh pemandangan tumbangnya tubuh Kyuhyun dengan keras di hadapannya. Wanita itu segera mendekat pada tubuhnya dan langsung menggoyangkan bahu Kyuhyun beberapa kali, ia lalu membalikkan tubuh Kyuhyun agar terlentang untuk memeriksa hembusan napas serta detak jantung pria itu, Eungi mengambil kesimpulan bahwa Kyuhyun baru saja jatuh pingsan di terasnya. Dengan ragu Eungi menyentuh dahi Kyuhyun dengan tangannya dan suhu tubuh pria itu benar-benar membuatnya kaget.

“Aish Kyuhyun-a! Bagaimana mungkin kau nekad keluar rumah padahal demammu tinggi sekali! Dasar pria bodoh.” Eungi menarik tangannya dari dahi Kyuhyun dan segera mencoba mengangkat tubuh Kyuhyun dari lantainya—dan tentu saja gagal.

Ia tetap mencoba mengangkat tubuh Kyuhyun untuk kesekian kalinya, tapi bobot pria itu jelas lebih berat darinya. Tidak habis akal, Eungi masuk ke rumahnya untuk mengambil selimut yang ia bentangkan tidak jauh dari tubuh Kyuhyun. Wanita itu kemudian membalikkan tubuh Kyuhyun yang tidak berdaya beberapa kali hingga pria itu ada di tengah bentangan selimutnya. Eungi kemudian menggunakan selimut itu untuk menyeret tubuh Kyuhyun masuk ke dalam rumahnya.

Sejauh ini, Eungi sukses menyeret tubuh Kyuhyun sampai ke kamarnya, tapi tantangan berikutnya lebih sulit—ia harus mengangkat tubuh pria itu ke atas ranjangnya. Wanita itu mendudukkan Kyuhyun di lantai sambil menyenderkan punggung pria itu ke tepi ranjangnya. Ia kemudian mengambil posisi kuda-kuda di atas ranjang, menggunakan ketiak Kyuhyun sebagai jangkar untuk mengakatnya ke atas. Proses ini sangat lama dan lambat, tapi akhirnya Eungi sukses membaringkan Kyuhyun di atas ranjangnya—walaupun sekarang tubuhnya benar-benar berkeringat karena kerja kerasnya.

Eungi kembali mendudukkan posisi Kyuhyun sebentar untuk melepaskan sweater basah yang melekat pada pria itu, kemudian kembali membaringkan Kyuhyun sementara tangannya melepas kancing-kancing kemeja Kyuhyun dengan lincah. Ia harus memukul kepalanya sendiri karena memiliki pikiran kotor saat melepaskan celana jins pria itu, Eungi harus meyakinkan dirinya sendiri berkali-kali bahwa apa yang dilakukannya ini penting dan kalau ia tidak melepaskan semuanya, Kyuhyun akan semakin demam.

Wanita itu membiarkan boxer Kyuhyun tetap pada posisinya, karena benda itu tidak basah dan ia juga masih punya cukup self control untuk tidak melepasnya. Eungi segera menyiapkan seember air hangat untuk dibasuhkan menggunakan handuk kecil, agar Kyuhyun tidak kedinginan lagi dalam lembabnya sisa-sisa hujan yang melekat pada tubuhnya. Setelah selesai membasuh Kyuhyun, Eungi membalurkan Vapo-Rub di atas dada pria itu, mengeringkan rambutnya, dan memakaikan sweater kebesaran hangat Eungi yang muat di tubuh Kyuhyun.

Eungi lalu menyalakan pemanas ruangannya pada suhu maksimal untuk memastikan pria yang sedang pingsan di ranjangnya merasa hangat, sembari berharap langkah-langkah yang diambilnya tadi cukup untuk menurunkan demamnya. Eungi memeriksa kotak obatnya dan mencari beberapa obat flu serta segelas air untuk disiapkan di meja samping ranjangnya—untuk diminum Kyuhyun setelah ia siuman. Wanita itu harus memberikan apresiasi pada dirinya sendiri setelah berhasil memindahkan pria yang tidak berdaya itu dari teras ke atas ranjangnya yang hangat.

Dan melihat kondisi Kyuhyun yang tidak berdaya akhirnya membuka mata hatinya yang beku.

Eungi mengganti bajunya dengan piyama yang nyaman sebelum ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Kyuhyun. Dengan jemarinya, ia meraba setiap lekuk dari wajah pria yang sangat dirindukannya dan ia menyandarkan kepalanya di atas bahu Kyuhyun sembari melingkarkan lengannya untuk memeluk tubuh kekasihnya.

Tangisnya lumer saaat ia menyadari bahwa mimpinya baru saja menjadi nyata sekarang—ia bisa kembali memeluk pria ini dalam dekapannya.

Kyuhyun ada di sini, di sampingnya, ia bisa memeluknya seperti dulu, dan sudah lama sekali Eungi tidak merasa setenang ini. Eungi benar-benar merindukan kehadiran pria ini, sampai ia tidak lagi peduli jika tindakannya sekarang terhitung ‘memanfaatkan situasi’. Wanita itu akhirnya tahu apa yang ia inginkan, ia hanya ingin Kyuhyun kembali ke dalam hidupnya, ia bahkan tidak lagi peduli akan alasan pria itu meninggalkannya. Ia siap menelan kenyataan pahit yang akan Kyuhyun lontarkan padanya, asalkan ia bisa mendekap Kyuhyun seperti ini selamanya.

Malam itu, Eungi tertidur sambil memeluk Kyuhyun—tidur terlelap yang dirasakannya dalam setahun terakhir.

 

 

 

 

Advertisements

80 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 22

  1. imgyu says:

    dan ternyata vince itu udah menikah haha, tenang deh kyuhyun :3 tapi dia kasian banget rela nguntit eungi sampe dianya sakit, berharap semoga setelah ini eungi mau dengerin penjelasan kyuhyun

    Liked by 1 person

  2. Barom yu says:

    Harus tumbang dulu ternyata kau kyu ^ supaya dapet pelukan eungi..
    Eungi kayak remaja yakk pake dress di musim dingin cuman untuk sang pangeran*salut wkwkw

    Semoga kedepan nya setelah ini mereka gak pisah-pisahan lagi ya eonn*nyes banget aku, ngeliat 2 orang ini huhu
    Akhirnya bisa senyum lagi bc ini ff, soalnya part tadi” dan kebelakang tegang mulu ><

    Liked by 1 person

  3. hyokwang says:

    ya ampun eungi gemes banget sama dia, pas kyuhyun sadar dia sok cuek eh pas kyuhyun udah pingsan baru deh perhatiannya keluar…
    cara dia buat sering2 sama kyuhyun juga lucu banget, sampe maksain mau ngalahi si hwang lewat hukum…

    Liked by 1 person

  4. Yoon28 says:

    Orang yg lg berantem sama doi/patah hati emg gampang berpendapat terhadap pasangannya/mantan pasangannya. Haha iya dikit2 nethink jadinya. Syukur kl vince dah nikah wkwk biar si kyu tenang

    Akhirnya eungi mau nerima kyu lg meskipun dlm keadaan dia gasadar

    Liked by 1 person

  5. putri0589 says:

    hahhaaa,, ga bisa nahan buat senyum senyum baca part ini ya ampuun Kyuhyun dan eungi gemesin bangeeet
    eungi ngotot banget pengen bela Kyuhyun walaupun beresiko tp dia ga mau jujur sama alasan nya ke Kyuhyun,, tp Kyuhyun yg skr bener bener bijak banget dan bikin bangga
    ahh akhirnya kesempatan itu datang buat eungi dan Kyuhyun, terutama eungi yg bnr2 kangen banget sama Kyuhyun semoga setelah Kyuhyun siuman mereka bisa berdamai dan kembali jd kekasih lagi

    Liked by 1 person

  6. OngkiAnaknyaHan says:

    yeyyyy …..
    akhirnya eungi menyadari perasaannya sama kyuhyun itu gak pernah berubah
    mudah2an pas bangun mereka langsung baikan
    gak gengsi2an lagi

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s