[blabla] one day at my job #4

 

How many people can really say they love their job—like truthfully from the bottom of their heart? I’m the lucky few that can say ‘I do really love my job’.

Memang sih, banyak suka-duka, gondok, stress kadang-kadang. Tapi sejauh ini, semua itu nggak sebanding dengan perasaan bahagia yang aku dapat dari profesi ini. Dulu saat masih jadi mahasiswa, aku memang udah seneng jadi asisten mahasiswa, rasanya pengen aja ikutan dosen-dosenku untuk belajar lagi mata kuliah yang dulu sudah aku pelajari—tapi melihat dari sisi dosen sebagai penilai, mencatat pertimbangan-pertimbanagn mereka dalam memberi nilai, dll.

Sehabis lulus aku sempet kerja setahun kurang di perusahaan kecil yang sebenarnya lumayan selaras sama jurusan yang aku ambil. Tapi aku kurang menikmati kerja kantoran yang sangat tidak fleksibel, dan kebetulan memang waktu itu aku harus kerja 6  hari seminggu–jadi makin nggak bisa ngapa-ngapain selain ngantor. Jadi dengan nekad aku ngajuin proposal magister supaya aku bisa punya ‘sim’ untuk jadi dosen.

Masa S2 ku bisa dikatakan sebagai masa kedua paling indah dalam hidup pendidikan aku, aku ketemu teman-temen yang cocok dan punya hobi, life view, dan ide yang serupa. Sampai-sampai 2 tahun nggak kerasa habis begitu saja dan aku harus kembali menghadapi real life. Awalnya sempet ragu, memang bisa ya saya jadi dosen? Masa ada yang mao nge-hire fresh grad magister langsung buat in-charge di kelas?

masalah yang selalu aku pertimbangkan adalah: Kan aku harus ngajarin anak orang, berarti aku harus pastiin ilmu yang aku sampaikan itu nggak menyesatkan, harus ngeyakinin mereka untuk mau mempelajari apa yang sudah mereka pilih sebagai jurusannya, harus siap disensiin sama mahasiswa, dll.

Lagi-lagi dengan modal nekad, aku daftar di beberapa universitas swasta untuk jadi staf dosen, and guess what? LANGSUNG DITERIMA! Oke ini aneh, nggak pake acara micro teaching, interview, tawar-tawaran gaji dll, pokonya langsung keterima! Cuman karena cap almamater yang nyantel di ijazah aku tok!

Well, no precious thing gained the easy way, jadi memang kampus swasta  (sebut saja kampus X) tempat aku pertama dapat kesempatan ngajar ini amburadul banget—manajemennya ya, bukan mahasiswanya. Aku dulu inget banget kaget kaya orang diapain pas liat slip gaji pertama—130.000 Rupiah! Buat beli pulsa sebulan sama bayar tol pulang juga udah abis itu (tahun 2014 ya). Terus kalau mahasiswa aku ngumpulin tugas (tugasnya besar-besar ya) itu mereka bingung harus ditaruh mana, karena jangankan ruangan, meja aja nggak dikasih, karena aku cuman dosen ‘luar-biasa’ (cara halus institusi pendidikan bilang dosen cabutan).

Tapi aku bertahan, karena mahasiswa-mahasiswaku.

Sekelas itu ada sekitar 40 orang, mereka ini anak-anak yang mostly ngerasa rendah diri karena mereka kuliah di kampus X itu, sampai aku harus terus-terusan nyemangatin mereka bilang: “Kalian kuliah memang di sini, tapi kalian dapet ilmu dari dosen lulusan ***, jadi ngapain minder? Yang penting kan ilmunya sama!”

Akhirnya sudut pandang mereka berubah dan mereka mulai bisa percaya diri. Aku lanjutin ngajar di kampus itu semester berikutnya dan semester berikutnya lagi. Tapi akhirnya nyerah, karena manajemennya bener-bener memeras emosi dan air mata. Gaji telat—mending UMR, ini sih boro-boro UMR, ilmu aku direndahkan sama rekan-rekan aku yang keilmuannya berbeda, aku ditindas dan dikasih bimbingan TA yang ‘menantang’ semua sementara yang senior dapetnya mahasiswa terpilih yang udah tinggal dilulusin aja, belum lagi slide presentasi susah-susah dibikin ditilep, modul kuliah dibikin susah-susah eh diganti namanya (sounds familiar?). Tapi waktu itu aku komit, untuk tetap lanjut 1 semester lagi aja, sampai mahasiswa yang aku bimbing lulus.

Awal 2016, alhamdulilah aku pindah ke kampus yang sekarang (kampus Y). Jauh lebih baik, lingkungan sangat kondusif, aku punya cubicle sendiri, aku punya identitas ‘sim’ dosen yang resmi di sini, gaji manusiawi, dan ilmu aku dihargain—karena banyak juga yang sealmamater dengan aku, dan senior-senior di sini mau membimbing aku, ngajak aku ikut duduk di kelas mereka, ngajak nonton sidang biar aku belajar sistem mereka, intinya mereka ajarin aku dari nol hal-hal yang seharusnya aku pelajarin dari kampus X. Insyaallah aku bisa tetep betah di sini seterusnya, karena di tempat ini aku bisa benar-benar bilang, “I love my job, with no exception!”

Ada banyak hal yang menyenangkan dari menjadi dosen, dan kebanyakan hal itu justru merupakan hal-hal yang aku pelajari dan peroleh dari mahasiswaku. Ada rasa puas dan bangga setiap kali ngeliat mereka berhasil, dan kata “terima kasih” yang mereka sampaikan juga sangat bermakna buat aku, apalagi kalau nama aku ditulis di ucapan ‘terima kasih’ di TA, memang itu semacam formalitas, tapi kan TA mereka dibawa sampai mati—artinya namaku juga ditulis sampai saat itu. Ada perasaan puas karena berhasil nganterin mereka sampai pakai toga, itu perasaan yang sangat rewarding.

Ada beberapa cerita yang aku inget:

  1. Dulu ada mahasiswi begajulan banget. Setiap kelas aku dia pasti bolos, terus tiba-tiba nongol pas UTS aja ngumpulin tugas. Jelas aku nggak lulusin dia. Nah, tahun berikutnya mau nggak mau dia kan ngulang, aku lagi dosennya. Aku bilang sama dia: “Please, kamu kuliah yang bener ya, saya janji bakal bimbing dan kalau memang ada yang kurang paham dari penjelasan saya tanya aja, personal kalau memang malu nanya di tengah kelas.” Mahasiswi ini nyaris nggak pernah bolos setelah itu, gambarnya membaik, dia mau dengerin revisian dari aku dan benar-benar lulus dari mata kuliahku dengan nilai A di kesempatan ini.
  1. Mahasiswaku ada yang kalau dikasih tugas, mintanya yang level advance. Tiap asistensi maunya yang ‘menantang’. Aku tanya dong, “kenapa kamu nyari yang susah?” Dengan muka mantep ni anak bales bilang “Mumpung kakak masih ngajar di sini, gue mao nyuri ilmu sebanyak-banyaknya.” Anak ini salah satu dari anak yang langsung ngehubungin aku pribadi pas tahu aku resign dari kampus lama dan dia nyaris nangis pas aku konfirmasi bahwa aku memang pindah. Sampai sekarang, dia masih sering asistensi sama aku untuk masalah risetnya dan mudah-mudahan ni anak bisa lulus tahun depan on-time!
  1. Aku belajar untuk nerima kekurangan mahasiswaku yang bersifat fisik. Belajar berkomunikasi dengan banyak pilihan lain disaat metode komunikasi yang menurut kita wajar ternyata tidak memadai. Aku salut dengan semangat mereka untuk tetap ingin diperlakukan dengan sejajar dengan teman-temannya yang tidak memiliki kekurangan.
  1. Aku belajar sabar! Hahaha, kalau yang ini sih pasti. Ada banyak tipe mahasiswa, dan banyak cara untuk mendekatkan diri sama mereka. Pada dasarnya mereka semua cuman ingin dimengerti dan mendapatkan assistance yang adil. Dulu ada anak yang setiap dikasih tugas ngeluuuuuhh mulu, akhirnya aku duduk sama dia, nanya masalah utamanya sampai ngeluh terus itu kenapa sih? Akhirnya dia ngaku, “kalau bikin tugas kan mahal kak.” Akhirnya aku paham kalau bukan karena tugasnya, tapi karena eksekusinya yang bikin dia ciut. Akhirnya aku harus ngajarin dia untuk mengeksekusi karya dengan super rapi, supaya walaupun material utamanya cuma kardus, dia bisa tetap bikin itu presentable.
  1. Pernah ngilangin tugas mahasiswa padahal belum dinilai? Pernah! Untungnya anaknya mau bantuin aku, dia ngasih dokumentasi karyanya supaya aku nggak harus urusan sama pihak kemahasiswaan. Di sini aku belajar, bahwa komunikasi dua arah yang jujur dan saling pengertian ternyata bisa menyelesaikan masalah tanpa drama.
  2. Pernah juga ada anak yang ditolak semua dosen buat jadi pembimbing pra-TAnya (gosipnya trouble maker dan susah diarahin). Ini kasus di kampus X, jadi yang begini-begini dioper ke aku–kan dosen cabutan. Memang aku akuin, awal ngebimbing dia tuh rasanya kaya pengen ngeramasin anak orang! Tapi akhirnya aku blak-blakan “Saya ini cuman pembimbing kamu loh, kamu lulus atau tidak, tidak ada pengaruhnya dalam hidup saya, tapi kamu mau di kampus ini setahun lagi hanya karena kamu malas revisi?! Tinggal satu langkah lagi, terus mau kamu tinggal aja?” Anak ini akhirnya lulus dengan nilai A karena nurut benerin semua yang aku coret-coret abis di laporannya (dan sumpah puas banget liat muka rekan-rekan aku yang nyidang pada bengong karena anak trouble maker jadi oke!)
  3. Aku pun belajar lihat mahasiswa bukan dari sisi dosen saja, tapi juga mereka sebagai individu yang punya masalah masing-masing. Salah satu operan yang aku dapet nih ada mahasiswi, cantiiiiikkk banget! sampai aku bingung, kok tumben dosen yang cowo nggak rebutan. Ternyataaaaa, ni anak sering menggunakan trik-trik ala cewe cantik gitu deh demi nilai yang bagus (rayuan manja nan maut) dan dosen-dosen cowo di kampus X nyerah! Nah sama aku kan mental ya pasti, nggak doyan cewe sayanya mba! Ternyata pas saya bimbing saya tahu, anak ini bukan sekedar cantik, tapi pinter banget dan punya visi yang jelas buat hidup dia. Saya jadi bingung kenapa dia ke-delay 3 tahun buat lulus, ternyata? Pas dia lagi serius-seriusnya riset, ibunya yang lagi hamil adiknya meninggal. Sejak saat itu dia kaya kehilangan arah, dan baru mau mulai kuliah lagi di tahun 2015. Intinya, aku belajar dari dia untuk nggak langsung nge-judge kelakuan mahasiswa plek-plekan, karena kadang alasan mereka justru terlalu menyakitkan untuk didengar.

 

Pernah naksir nggak sama mahasiswa sendiri? Hmmm.. maybe? Tapi nggak sampai kayak yang aku ceritain di ff. After all, dosen juga manusia yang punya mata, apalagi kalau anaknya pinter, aku sih milih yang pinter tapi average looking daripada ganteng-ganteng tapi somplak. Kadang butuh juga ‘penyemangat’ buat masuk ke kelas. Lucunya, seems like it’s not a one-sided crush! ;p

 

 

 

Advertisements

22 thoughts on “[blabla] one day at my job #4

  1. nitajung says:

    Astagaa seru bgt ya dengar critanya kak. Andaikan di kampus ku ada dosen kaya kk. Bukan hanya dosen buncit, kepala plontos, suka marah2 yang senengnya ngasih tugas numpuk😡
    btw lulusan mana kak? Ngajar di? Atau ga kk tinggal di belahan indonesia mana? Itu aj deh hehee😅😅

    Like

  2. syalala says:

    kok seruuuuuuwwwwww hahaha kmrn abis marah2 gondok segala macem but here is happiness hahahah dosen tohhh hihi emg kalo niat dari awal mau jd dosen mah ya enak jadinyaaaaa. aku sarjana sasing-soon-to-be but i cant teach anyone, jd aja masih abu2 mau kerja apa but yeah jalanin aja yakan kak hahahah

    Like

  3. ByunSoo says:

    Hwa…..Cerita hidup Authir Sangat DAE TO THE BAK DAEBAK ^_^ ,ga ada kata lagi deh buat Author-nim,

    POKOKNYA AUTHIRNIM DAEBAK DAEBAK DAEBAK

    Like

  4. dina17pratiwi says:

    emm mungkin karakter eungi itu ngambil dr karakternya eonni ya, hehehe tpi kalo eonni jatuh cinta sama mahasiswa sendiri gmn hehehe kalo kyk cuyun sih sikaaat aja eon hehehe aku jg pengen eon jadi dosen, krn aku suka ngasih apa yg aku tau dan mreka gak tau, suka bagi2 info giti hehehe, semoga aku jg bisa kyk eonni ya amin

    Like

    • ssihobitt says:

      Hahaha, nggak aneh2 sampe kaya si eungi kooo (kalo itu mah ekstrim, tapi iya sih, kl kaya kyu bakal disikat 😝)
      amiiiinn.. Semangaaaat!!! Asal ada niat baik pasti nanti ada jalannya~~ 😘

      Like

  5. Seo HaYeon says:

    Ya Allah kak q trharu.kishq hmpir mrip cm beda jln_kta ‘I do really love my job’ ud q tnm sjk prtm kli jd gru.Awlx dl bgung hbs slsai S1 mw ngjr dimn,tp trxt 2 hri stlh sidg q ditelp. sm KepSek JHS utk cpt pulkam n ngjr sklian gntikn guru yg lg cuti.Drsna q ud bhgia bgt kak_q ud tw bgt dimna q bs tlus mncintai satu pkrjaan sjk q mtusin kliah fak.tarbiyah (pend.) bhkn ps hbs riset q brtekad q g mw cm jd gru yg baik_q mw brusha jd gru yg profesional dibidgx hwo. Suka duka sll ad,capek iya_BUT I LOVE IT! 😀 🙂

    Like

  6. Seo HaYeon says:

    Nambah nyampah y kak *haha Bhkn kisah kesengsem sma murid sndiri jg prnh q alamin kak 😀 #Pas q lg PPL 2 thn 2013 di SHS_alsnx mrip sm kakak_pinter,santun*aduh q lgsg kepincut ql ud gtu haha* tp ql dr segi tmpang biasa aj msih bxk yg lbih gnteng_tp y g mgkn lh critax kya Eungi bwaha_Untg aja dy kls 3 wkwk.Tp it jd momen lcu n konyol krn tiap msuk dikls dy q jd nerveous soalx muridq ddukx bnr2 pas didepan idung bwakaka.. Ah sudhlh ckup trll memalukan jiahaha_tp tng aj kak_q jago ngatur ekspresi kok wkwk 😛

    Like

  7. blue cat says:

    😊

    Being lecture is always at the top of my wildest dreams

    One day, as I promise to my Dad to take Post Grad or Master program… I will be a lecture, just like him who dedicate his life for education.

    Thank u for sharing this inspiring personal journey.

    Like

  8. MarooKyu88 says:

    Bolehkah saya jd mahasiswa kaka?
    ahh..pindah ke kampus kaka ngajar sajalah saya.

    Kaka kalo ngajar di kelas pake gaya apah ?
    kalo gaya lurus biat kuliah sore, biassnya ditinggal mahasiswa tidur.
    tipe kuliah sore/mlm harus santai dan kalo boleh humoris.

    Lebih asyik kuliah yg isinya anak yg udah dewasa / diatas kita. cara pola pikir nya beda jauh.
    suasana kelas asyik santai.

    ohhhj….jadi cengkran sendiri pas bacs kalo kaka naksir mahasiswanya sendiri.
    Saya yakin itu ff yg one last pasti pengalaman pribadi….iyakan ??
    alammakkk…jd inget kyu bilang “brondong simpanan”.

    itu plagiat di ff one last bukan pengalaman pribadikan ??Jangan sampe.

    dr hati paling dlm pingin liat wujud dr mahasiswa yg ditaksir dosen sekaligus author hebat ka obit.
    sungguh amat sangat beruntung dia di taksir sama dosen hebat…baik ramah menginspirasi suka ngasi semangat..pinter cerdas dkk.
    itu namja kalo tahu bakal jungkir balik.

    Lagi lagi Saya setuju.

    mencintai bukan paras yg utama.
    Mapan dan Tampan itu bonus.
    yg penting Iman.
    haaaaa..*Kabur#
    jarinngan ngajak ribut

    Liked by 1 person

  9. yinss says:

    Hari ini aku ngubek2 web kakak dan nemuin ini. Hehe, kalo kyak gini aku jadi pngen minta ilmu kakak sbanyak2 nya hehe…. pngen sharing, tp sygnya aku gak bisa ngungkapin disini (yg mau diungkapin sedikit privasi) haha 😂.

    Liked by 1 person

  10. Goldilovelocks says:

    Kak obiiiitttt ceritanya seruuuuuu huhu aku… nggg…. gimana yaahh… haha suka aja sama curhatanmu ini! Well, jujur aja dulu aku juga pengen punya citacita jadi dosen atau guru atau dokter… yaaa pokoknya pekerjaan profesi lah. Tapi semua itu langsung kubantah habishabisan karena aku itu orangnya gak sabaran. Kalo aku jadi dosen, kasian nanti murid-muridku kaaan punya pengajar yang mukanya jutek dan gampang kesel hahahaha XD aaaahh jadi malu aku…
    Dan utk kalimat ini :
    Lucunya, seems like it’s not a one-sided crush! ;p

    Pas baca senyumku langsung melebar. Geli. Pengen ketawa ‘hahaha’ tapi situasi dan kondisi sekarang gak mendukung alhasil aku nyengir aja nih sampe gigi kering wkwkwk. Tapi serius, itu bener kak? Duuuuhhh…. hahaha XD XD XD

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s