(Indonesian Version) One Last Shot – Part 21

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Keresahan Kyuhyun semakin menjadi setelah ia menyaksikan cara Eungi mengucapkan selamat berpisah pada pria Belanda itu, yang menurut Kyuhyun terlalu mesra. Wanita itu mengecup pipi pria itu tiga kali sebelum ia keluar dari café, praduga yang tumbuh dalam hati Kyuhyu semakin buruk. Baru kali ini rasanya ia dipermainkan, wanita itu baru saja memukaunya saat ia bilang akan memperjuangkan hak-hak Kyuhyun, membuatnya merasa seakan sebuah tim yang akan berjuang melawan Hwang Hojin, namun detik berikutnya Eungi menghempas harapan Kyuhyun ke tanah dengan berlaku terlalu ramah pada pria pemilik café ini.

Seperti biasa, Kyuhyun memberi jarak yang cukup antara dirinya dan Eungi untuk bisa mengikuti wanita itu dalam diam. Sebelum pamit, Eungi bilang bahwa ia akan menemui Profesor Van Wijk untuk memberikan laporan tentang interview mereka hari ini. Kyuhyun harus menahan diri untuk tidak berjalan di sisi Eungi, melindungi wanita itu dari kencangnya terpaan angin musim dingin yang semakin menggila. Seandainya saja Eungi tidak berlaku sedingin itu pada Kyuhyun, seandainya wanita itu memberikan Kyuhyun sedikit kesempatan untuk menjelaskan dirinya, mungkin saat ini mereka bisa menyantap cokelat hangat sambil mengulang kisah memilukan mereka sebelum saling mengampuni satu sama lain. Tapi semakin hari, harapan Kyuhyun semakin redup, terutama setelah ia menyaksikan sendiri bagaimana cara Eungi membentengi perasaannya, serta bagaimana wanita itu sudah kembali bersikap kaku dan profesional padanya.

Lima belas menit setelah mengikuti Eungi, mereka tiba pada sebuah pesta makan malam kecil-kecilan di rumah Profesor Van Wijk. Sudah menjadi tradisi orang Belanda untuk berkumpul dengan kerabat mereka pada hari Kamis—hari di mana semua toko buka sampai malam, dan hari bagi mereka untuk berpesta. Karena Kyuhyun merupakan tamu tidak diundang, dan juga seorang penguntit, maka ia memutuskan untuk menunggu di dekat pemberhentian bus yang terletak tidak jauh dari rumah itu.

Kadang Kyuhyun berpikir bahwa kelakuannya terhadap Eungi sekarang tidak jauh berbeda dengan penguntit yang menyedihkan, pria itu mempraktikkan tindakan stalking pada level tinggi: ia berjuang mendapatkan posisi magister di kampus yang sama, ia menyewa kamar di apartemen yang terletak tepat di belakang rumah kontrakan Eungi—membuatnya leluasa memandangi kegiatan wanita itu dari jendela besarnya, bahkan Kyuhyun mengikuti ke mana pun wanita itu melangkah—terkadang bahkan ia harus mengambil alih dan melibatkan diri langsung dengan Eungi saat wanita itu sudah lepas kendali karena mabuk.

Kyuhyun tidak pernah mengingat Eungi semagai pemabuk kelas berat, tapi sepertinya dalam tiga bulan ia mengikuti kegiatan Eungi, wanita itu telah mengkonsumsi alkohol lebih banyak dari yang Kyuhyun pernah ingat sebelumnya. Sebenarnya pria itu tidak keberatan, selama Eungi tahu batas dan bisa menjaga diri, namun kesabaran Kyuhyun lenyap ketika ia menguntit Eungi ke Amsterdam sebulan yang lalu. Eungi sudah minum banyak sekali malam itu, tapi masih belum berhenti meminta refill pada gelas birnya, ia juga menghisap marijuana yang sangat legal di Amsterdam hingga ia tidak lagi sadar dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Awalnya Kyuhyun hanya menonton kelakuan bodoh wanita itu, tapi ketika salah seorang teman pria Eungi mulai meletakkan tangannya di atas paha Eungi, Kyuhyun memutuskan untuk ikut campur.

image1

gambar milik Kyuhyun

Malam itu, Kyuhyun mengabaikan penyamarannya, ia tidak peduli seandainya Eungii mengenalinya, toh wanita itu sudah cukup mabuk untuk menyadari keberadaannya itu nyata. Ia menarik tangan Eungi keluar dari coffee shop di dekat Zeedijk—yang juga merupakan kawasan red light district di kota itu—dan segera menyeret wanita itu pulang. Menggendong seseorang yang mabuk di belakang punggung bukanlah pemandangan yang biasa terlihat di Amsterdam, jadi ketika Kyuhyun menggendong Eungi selayaknya ia membawa orang sedang mabuk, banyak warga lokal yang memandangi mereka dengan tatapan heran—tapi pria itu tidak peduli, yang ia inginkan hanya mengantar kekasihnya itu kembali ke rumahnya yang aman.

Dan Kyuhyun menikmati momen pendeknya dengan Eungi.

Ia menikmati balutan lengan Eungi yang terkalung pada lehernya, ia menikmati kehangatan tubuh wanita itu yang bersentuhan langsung dengan punggung lebarnya, ia bahkan menikmati rancauan tidak masuk akal yang keluar dari mulut Eungi. Wanita itu terus-terusan berbisik di telinga Kyuhyun, menanyakan siapa kah dirinya, mengapa pria yang menggendongnya terlihat sangat mirip dengan pria yang sangat ia rindukan, Eungi juga berkata bahwa pria itu sama hangatnya dengan kekasihnya dan aroma keduanya juga sama-sama membuatnya merasa nyaman. Lalu Eungi mengecup pipi Kyuhyun lembut malam itu sebelum ia benar-benar tidak sadarkan diri karena mabuk.

Dua jam perjalanan dari Amsterdam ke Delft adalah momen saat Kyuhyun ingin memberhentikan jalannya waktu. Wanita itu ada dalam dekapannya, Eungi bersandar dalam pelukannya sementara kepalanya terkulai lemas di atas bahu Kyuhyun. Kyuhyun rela memberikan apa pun yang dimilikinya, asalkan ia bisa mengulang keindahan kisah mereka, dan bisa tetap mendekap Eungi seperti itu sepanjang hidupnya. Sayangnya, perjalanan itu berakhir terlalu cepat dan Kyuhyun harus mengantarkan Eungi kembali ke rumah kontrakannya. Tidak sulit melakukan itu, karena di Belanda, orang-orang masih menggunakan kunci rumah tradisional, pria itu hanya perlu menggali ke dalam tas Eungi untuk menemukan rencengan kunci sebelum ia menidurkan tubuh lunglai wanita itu di atas kasurnya.

Malam itu, Eungi masih berada di antara kesadarannya. Saat tiba di rumahnya, Eungi bahkan sempat berkata bahwa jenis marijuana yang ia hisap sebelumnya benar-benar produk terbaik, karena halusinasinya terlihat sangat nyata malam itu. Eungi menolak melepas pelukannya di sekitar tubuh Kyuhyun, ia memaksa pria yang mengantarnya itu untuk tinggal sebentar dan ikut berbaring bersamanya sebelum ia kembali tertidur lagi. Yang terlintas dalam kepala Kyuhyun malam itu hanyalah: seandainya bukan dirinya yang mengantarkan Eungi, bisa saja ada pihak lain yang memanfaatkan kondisi mabuk Eungi yang kelewatan—dan Kyuhyun bertekad untuk menjaga Eungi lebih ketat lagi sejak malam itu, dari jauh tentunya.

Lamunannya buyar karena terpaan hujan ringan yang jatuh dari langit, ia sudah tinggal di negara ini beberapa bulan untuk memahami pola cuaca hujan dan berawan yang tidak konsisten, malam ini ia tidak mempersiapkan payung atau mantel hujan jenis apa pun, karena ia ingin tampil mempesona untuk Eungi dan ia buru-buru meninggalkan apartemennya tadi sore karena ia tahu betul wanita itu benci dengan orang yang tidak tepat waktu. Dengan pasrah, pria itu hanya melepas mantel wolnya untuk diangkat menaungi kepalanya dari terpaan hujan yang semakin deras sambil ia berlindung di bawah pohon di samping pemberhentian bus. Akhirnya ia melihat tanda-tanda kehidupan di teras rumah profesor Van Wijk, Eungi keluar dari dalam rumah diikuti sang profesor. Sepertinya pria paruh baya itu memanfaatkan perbincangan mereka sebagai alasan untuk merokok di luar rumahnya karena ia terlihat sibuk menyalakan pematiknya yang terus gagal ditiup angin yang lebih kencang.

Kyuhyun mencoba untuk menguping pembicaraan Eungi bersama Profesor Van Wijk, tapi jaraknya yang lumayan jauh, serta ributnya suara angin sama sekali tidak membantu situasinya, jadi ia harus puas hanya menonton pantomim Eungi dan Profesor Van Wijk dari jauh.

 

*

 

“Jadi aku bisa menuntut masalah ini ke pengadilan, kan Sir?” Eungi menekan nada bicaranya pada Sir Joost.

“Cha, aku sudah setuju untuk membimbing mahasiswamu, mengapa kau masih mau memperlebar masalah ini?” Pria itu mengeluarkan bungkus rokoknya dan Eungi otomatis menangkupkan tangangnnya di sekitar pematik Sir Joost, untuk menghadang angin kencang agar apinya tidak padam.

“Karena aku ingin menjatuhkan profesor Hwang—cih, bahkan ia tidak pantas menyandang gelar itu. Tidak adil sekali bagi mahasiswa itu, Sir. Kau bisa saja berpikir bahwa proposal itu hanya sebuah penelitian kecil, tapi itu kan karya intelektualnya! Tidak ada seorang pun yang berhak mencuri itu darinya.” Bela Eungi semakin panas.

“Lalu bagaimana caramu akan menuntut pria itu? Kau perlu bukti serta testimoni, kau juga butuh pengacara. Jurnal itu sudah terbit, jadi kau juga harus berurusan dengan badan hukum yang melindungi jurnal internasional, menuntut mereka dengan tuduhan kau meragukan kompetensi reviewer mereka.” Pria itu menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi akan menjatuhkannya. Aku berjanji pada mahasiswa itu untuk membantunya, Sir. Kumohon, katakan padaku bahwa rencana ini tidak terlalu ambisius.”

Profesor Van Wijk terkekeh dan membungkukkan tubuhnya agar wajahnya selevel dengan Eungi, “Aku jadi penasaran, mengapa kau berjuang sekeras ini untuk satu mahasiswa spesifik. Kau meyakinkanku beberapa hari yang lalu untuk membimbingnya, membela pria itu dan berkata bahwa potensinya melebihi harapanku. Malam ini kau menyeretku untuk membatu kasus hukum mengenai penelitian mahasiswamu, apa yang terjadi padamu, Cha?”

Eungi menarik napas dalam-dalam sambil menghindari pandangan pria itu, “Aku tidak suka mahasiswaku diperlakukan tidak adil karena kekeliruan yang tidak dilakukannya.”

“Aku juga tidak suka jika hal itu terjadi pada mahasiswaku, tapi kadang kau harus membiarkan mereka berjuang sendiri.” Ia berdeham sebelum kembali menghisap rokoknya.

“Tapi ini sangat tidak adil untuknya, Sir! Ia sudah diperlakukan semena-mena sepajang masa sekolahnya di kampus itu, dia membutuhkan waktu sepuluh tahun lebih untuk lulus S1 dan bukan karena ia bodoh.”

“Aku tahu, aku pun melihat potensi yang tinggi dalam dirinya, layaknya aku melihat potensi dirimu dulu. Tapi aku tidak punya kuasa sebesar itu untuk bisa membantumu melakukan proses hukum ini dengan mulus. Kau akan berurusan dengan sistem hukum yang sangat rumit dan kau harus mengurus banyak surat-surat, dan kalau kubilang banyak, itu benar-benar BANYAK!” Ia meringis membayangnya langkah-langkah hukum panjang yang harus dilewati Eungi jika masih bersikeras ingin menjatuhkan Hwang Hojin.

Aish, kau seharusnya menyemangatiku.” Gerutu Eungi dalam Bahasa Korea.

“Jangan gunakan bahasamu padaku, aku akan mengira kau sedang mengutukku.”

“Aku memang sedang mengutukmu.” Eungi mulai kehilangan kesabarannya, kemudian ia melakukan hal janggal yang tidak pernah dilakukannya, “Berikan aku sebatang.” Ia menunjuk pada kotak rokok Van Wijk dan langsung mengambilnya tanpa permisi. “Come on, lit me up!” Perintahnya pada Van Wijk sambil melirik pada Zippo pria itu.

“Nah, ini bukan dirimu, Cha. Kau bahkan benci perokok, mengapa malah kau mau memulainya sekarang.”

JUST LIT ME UP! FOR GOD’S SAKE, JUST DO IT!” Ia membentak profesornya kasar dan Van Wijk terpakasa melakukan yang Eungi minta.

Wanita itu otomatis terbatuk karena serangan tajam asap rokok yang tiba-tiba menyerang tenggorokannya, tapi wanita itu tetap bersikeras untuk menghisap rokok di tangannya, ia mengabaikan dorongan untuk batuk lagi dan terus menghisap rokok dalam-dalam. Matanya mulai berair karena nyeri yang masih terasa dalam rongga pernapasannya tapi ia tetap melanjutkan.

Profesor Van Wijk mengamati mantan mahasiswinya baik-baik, banyak sekali yang berubah dari Cha Eungi yang ia ingat dulu. Wanita itu dulu memiliki pembawaan tenang, selalu berpikir dengan kepala dingin saat dihadapi konflik, ia tidak pernah mencoba mencari jalan pintas untuk mengatasi masalahnya dan jelas bukan seorang pemabuk kelas berat seperti dirinya akhir-akhir ini. Melihat Eungi sekarang sedang berjuang untuk menghabiskan batang rokok di tangannya jelas membuat naluri kebapakan Van Wijk muncul, pria itu yakin bukan masalah pelanggaran kode etik jurnal internasional itu yang mengganggu Eungi, tapi hal lain.

“Apa kau merasa lebih baik sekarang setelah kau membodohi dirimu sendiri, Cha?” Ia tidak menempatkan dirinya sebagai mentor Eungi sekarang, melainkan sebagai figur ayah yang selalu dipandang Eungi. “Ada apa denganmu, hmm? Mengapa kau sangat marah?”

“Aku tidak tahu, aku hanya lelah dengan semuanya.” Wanita itu memandang kakinya sekilas lalu perlahan merosot turun untuk berjongkok di teras rumah Van Wijk. “Aku lelah, Sir, rasanya pikiranku sudah meluap dan aku siap meledak kapan pun. Proses hukum ini bisa menjadi katalis yang tepat untuk melampiaskan amarahku pada sesuatu yang lebih bermanfaat dan aku juga bisa membalas dendamku pada si Hwang.”

Pria paruh baya itu ikut berjongkok di samping Eungi, dengan perlahan ia mengambil rokok yang masih menyelip diantara jemari Eungi, mematikan dan membuangnya jauh-jauh. “Sudah kuduga, kau masih terpengaruh dengan tragedi itu, bukan? Hatiku pun masih terasa pilu setiap kali aku mengingat pria itu, kau terlihat sempurna bersamanya dan kalian benar-benar jatuh cinta.”

“Aku sudah move-on, Sir. Sungguh. Jelas aku masih menghormatinya atas segala yang ia korbankan bagiku, tapi tragedi itu sudah tidak mempengaruhiku seburuk dulu—aku berhasil melewati masa duka tersulitku.” Ia sekarang terduduk pasrah di lantai. “Dan aku membuat lebih banyak masalah saat aku mencoba untuk menghapus dukaku.”

Profesor Van Wijk menghirup rokoknya dalam-dalam, “Aku punya waktu untuk mendengar ceritamu, mari kita lupakan masalah proposal mahasiswa itu, dan kita berbincang tentang hidup.”

“Aku tidur denganya.” Ia membisikkan kata-katanya dengan jelas. “Cho Kyuhyun dan aku, kami memiliki sejarah. Pria itu bukan bukan sekedar mahasiswaku.” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Eungi.

Profesor Van Wijk mengangkat alisnya terkejut tapi ia buru-buru mengangkat kedua barunya sebelum ikut duduk di atas lantai seperti Eungi. “Dan kau marah karena? Memiliki hubungan dengan mantan mahasiswamu bukan kejahatan.” Ia terkekeh. “Maksudku, memang terdengar kurang etis, tapi jika itu membuatmu bahagia aku akan mendukungmu—whatever floats your boat, Cha.”

“Ia mencampakkanku.” Untuk pertama kalinya Eungi mengakui nasib menyedihkan akan akhir kisahnya dengan Kyuhyun. “Aku terpesona padanya tidak lama setelah tragedi itu, pertahananku payah dan dengan mudahnya aku jatuh cinta pada pria itu, lalu pada saat aku sedang rapuh, ia meninggalkanku.”

Eungi mulai terisak pelan di hadapan profesornya, butuh waktu lama baginya untuk menerima fakta ini. Ia selalu menghindari istilah ‘dicampakkan’ karena ia tidak ingin terdengar lebih menyedihkan dari kenyataannya. Karena bagi Eungi, jika ia dicampakkan, maka ia lah yang menjadi masalah dalam hubungan mereka.

“Apa aku akan terdengar seperti kakek-kakek haus gosip jika aku bertanya, mengapa ia meninggalkanmu?”

Eungi menggelengkan kepalanya, “Kurasa aku menyulitkannya saat aku berjuang untuk melawan dukaku akan tragedi Paris. Pria itu memang bukan tipe pria setia awalnya, jadi ketika ia berada di sisiku dalam waktu yang lama, aku benar-benar dibuat terbuai oleh kehadirannya. Tapi kurasa ia mencapai titik jenuhnya saat meningalkanku.”

“Apa ia mengatakan hal itu padamu langsung? Bahwa ia lelah dengan dirimu saat ia pergi?”

Eungi menggelengkan kepalanya dan terus terisak.

Profesor Van Wijk berdeham dan menepuk bahu Eungi pelan, “Kau tahu apa yang dikatakan si Cho itu saat aku bertanya mengapa ia ingin aku membimbingnya? Ia bilang bahwa ia hanya ingin dibimbing oleh yang terbaik agar ia bisa tampil dengan percaya diri di hadapan seseorang yang sangat ia kagumi. Ia juga bilang bahwa dulu aku membimbing orang yang dikaguminya itu, dan ia ingin menapaki jejak orang itu agar menjadi sama hebat.” Ia terkekeh sambil mengambil saputangan kecil dari sakunya untuk diberikan pada Eungi.

Eungi mengambil sapu tangan itu dan menghapus air matanya.

“Aku yakin orang yang dikaguminya itu dirimu. Pagi tadi, saat kuberi perintah agar mereka menemuimu di café Vincent, wajahnya langsung berseri-seri sekaligus panik. Pria itu buru-buru pamit padaku, katanya ia harus merapikan diri sebelum bertemu dengan Profesor Cha.” Ia tertawa kecil mengingat kekonyolan ekspresi Kyuhyun, “Cha, kau ini sudah cukup dewasa untuk bisa jujur pada dirimu sendiri. Jika kau memang menginginkannya di sisimu, katakan padanya dengan lantang. Lagi pula apa yang harus kau takuti?”

“Harga diriku.”

“Dan berapa lama harga dirimu akan menyembuhkan patah hatimu?” Pria itu mengambil batang rokok kedua, menginstruksikan Eungi untuk menangkupkan tangannya kembali di atas Zippo-nya sebelum melanjutkan. “Kukira kehilangan tunanganmu dengan cara tidak terduga sudah cukup memberi pelajaran berharga padamu, Cha. Kau tidak bisa melawan waktu, sekeras apa pun usahamu. Jadi selama kau masih memiliki waktu, gunakanlah baik-baik untuk dihabiskan bersama orang-orang yang kau kasihi.”

“Aku takut.” Eungi akhirnya mengaku. “Aku ingin berlari padanya, melingkarkan lenganku pada tubuhnya, aku sangat merindukannya sampai tahap aku berhalusinasi melihatnya. Tapi bagaimana jika suatu hari nanti hal ini terjadi lagi? Ia bisa meninggalkanku lagi kan?”

“Apa itu penting? Jika kau mencintainya, kau tidak perlu berpikir sejauh itu. Layaknya kita melakukan penelitian Cha—berikan dedikasi terbaik hingga akhir, jika penelitian kita membawa hasil negatif, maka kita harus menerima kekecewaan dan belajar dari kesalahan sebelumnya.” Pria itu mengejutkan Eungi dengan jawabannya yang lantang. “Jika ia meninggalkanmu lagi, maka ia yang merugi. Kau adalah seorang wanita yang menakjubkan dan kau pantas diperlakukan dengan penuh kasih. Aku tahu kau pasti punya gengsi klasik seorang wanita, terlebih karena ia mencampakkanmu, tapi bukankah kau juga harus belajar memaafkan? Manusia berbuat salah dan mereka yang bisa memaafkan adalah yang hidupnya paling tenag.”

“Jadi maksudmu aku harus memaafkannya dan memulai lagi dari awal? Setelah ia menghancurkan hidupku seperti ini?”

“Menghancurkan hidupmu?” Profedor Van Wijk mengangkat alisnya sambil tertawa geli. “Kau sendiri yang merusak hidupmu, kau hanya menggunakannya sebagai pembenaran tindakan busukmu.”

“Mengapa kau membelanya?” Ia memanyunkan bibirnya kekanakan.

“Aku tidak membelanya, aku netral.” Tukas Vas Wijk. “Aku hanya mengatakan bahwa kau seharusnya mendengar alasannya, setelah itu baru kau bisa menyimpulkan apa yang terbaik bagi hubungan kalian.” Ia memandang Eungi sabar lewat mata hijaunya. “Kau kan seorang akademisi, misi dalam hidupmu adalah menemukan alasan dan jawaban dari hal-hal yang terjadi di sekitarmu. Jika kau punya waktu untuk menggali masalah hukum plagiarisme, mengapa kau tidak punya waktu untuk mencari tahu alasan kepergiannya?”

“Karena aku bisa patah hati lagi.”

“Tapi kau juga tidak akan penasaran lagi, bukan?” Ia kembali terkekeh. “Perasaan yang kita peroleh ketika menyimpulkan penelitian, perasaan puas karena rasa penasaran kita terjawab, the best feeling in the world, right?

Eungi mengangguk. “Aku takut tidak bisa menerima alasannya, Sir. Bagaimana jika ia memang mencampakkanku karena ia muak denganku?”

“Pria itu mungkin punya beberapa alasan, tapi aku yakin bukan itu sebab ia meninggalkanmu. Kau adalah wanita paling tulus dan baik yang pernah kutemui dalam hidupku, Cha. Itu alasanku melihatmu lebih seperti anak perempuan yang tidak kumiliki ketimbang sebagai mahasiswiku. Pria mana pun akan sangat beruntung berada di sisimu dan jika kau mengizinkanku untuk memberi saran, bicaralah padanya. Lalu kau bisa menarik kesimpulan serta keputusan setelah mendengar alasannya.”

Eungi memanyunkan bibirnya manja sambil menitikkan lebih banyak air mata. “Kalau ia mematahkan hatiku lagi, aku akan berkemah di rumahmu dan menuntut pelayanan bintang lima dari istrimu sementara aku meraung sampai puas.” Ancamnya.

“Tentu saja, aku toh memang mengundangmu untuk datang saat Natal.” Ia bangkit dari duduknya dan memberikan tangannya untuk membantu Eungi bangkit. “Tapi jika kau berdamai dengannya, kau juga hahrus memberitahuku. Aku harus memecatmu menjadi asistenku. Tidak ada cerita asistenku memiliki hubungan khusus dengan mahasiswaku, orang-orang akan berbicara buruk mengenai kalian dan aku tidak mau hal itu terjadi.”

Eungi terkekeh lalu melingkarkan lengannya di seputar tubuh pria paruh baya itu. “Dank u wel, sir Joost.”

Anytime, Schat.” Pria itu balas memeluk Eungi. “Jangan hanya datang padaku untuk masalah akademik, oke? Aku merindukan kehadiranmu dalam hidupku, anak-anakku semakin sibuk dengan keluarga mereka masing-masing.”

Eungi melepas pelukannya dan terkekeh, “Lalu aku berfungsi sebagai pemeran pengganti mereka? Aww.. kau ini rupanya pria tua yang menyedihkan.”

“Nanti kau akan tahu rasanya kesepian ditinggal anak-anakmu saat menginjak usia pension seperti diriku.” Ia mengabaikan sarkasme dalam nada bicara Eungi dan mematikan rokoknya. “Ayo kita masuk, dua rokok sudah cukup membuat istriku ngomel.”

 

*

 

Pria itu sudah basah karena diguyur hujan sementara ia mengamati Eungi dari jauh. Kyuhyun tidak terlalu yakin sedekat apa hubungan Eungi dengan profesor Van Wijk, tapi kalau boleh menyimpulkan dari cara mereka berkomunikasi, ia yakin bahwa hubungan mereka lebih dekat dari professional, mungkin wanita itu memandang profesornya sebagai pengganti figur ayah yang telah lama hilang dari hidupnya.

Kyuhyun berdecak kesal saat ia menyaksikan Eungi menyalakan sebatang rokok di depannya, itu bukan karakter Eungi yang ia kenal, dan wanita itu berubah drastis—menjadi lebih buruk. Padahal Kyuhyun sedang mencoba untuk menjadi versi yang lebih baik dari dirinya, sementara Eungi justru bersikap seperti remaja labil yang senang membuat masalah hanya sekedar untuk membuktikan diri. Ia marah sekali dengan kelakuan Eungi akhir-akhir ini, tapi hatinya kembali pilu saat ia menyaksikan kerapuhan wanita itu. Eungi menangis saat berbicara dengan profesornya, Kyuhyun benar-benar menyaksikan pertahanan wanita itu runtuh perlahan, sembari ia perlahan berjongkok pasrah sembari mengurai air matanya. Apa lagi yang menyakitinya? Mengapa wanita itu selalu terlihat begitu rapuh di mata Kyuhyun? Fakta ini memilukan baginya karena pria itu hanya bisa menonton dari jauh sembari melawan hasratnya untuk mendekap Eungi ke dalam pelukannya. Namun Kyuhyun masih bersyukur, karena setidaknya Eungi memiliki Van Wijk untuk berbagi bebannya, setidaknya Eungi tidak lagi sendirian di sini dan ia senang karena Eungi beradaptasi lebih baik dari dirinya di kota ini—kebalikan dari kondisi adaptasi Kyuhyun.

Kyuhyun masih berjuang melawan hambatan Bahasa, mudah saja mengikuti kelas, karena kuliah disampaikan dalam Bahasa Inggris tapi kehidupan sehari-hari menjadi lebih menantang. Ia belum mendapatkan teman yang benar-benar dekat karena kebanyakan dari mereka berkomunikasi dengan Bahasa Belanda. Ia juga masih harus bolak-balik ke Seoul untuk menghadiri rapat-rapat penting untuk menggantikan posisi ayahnya sementara. Posisinya di kampus sedikit lebih mudah setelah Kyuhyun berhasil membuktikan diri dan kemampuannya, apalagi setelah ia menerima beasiswa magister di Belanda, para pemegang saham mulai memperlakukannya dengan lebih terhormat. Ia juga masih berjuang untuk memenangkan kembali hati wanita yang dicintainya, sambil melakukan penguntitan konyol tanpa henti.

Cho Kyuhyun mencoba mengerahkan seluruh kemampuannya untuk memperjuangkan banyak hal sekaligus, tanpa ia pernah tahu apakah hasil perjuangannya akan berbuah manis. Yang harus dilakukannya sekarang hanyalah membuat orang-rorang yang telah dikecewakannya bahagia.

Pria itu tiba di apartemennya satu jam kemudian, setelah ia memastikan Eungi tiba di rumahnya dengan aman. Kyuhyun menanggalkan seluruh pakaiannya yang basah sebelum meraih handuk untuk mengeringkan tubuhnya yang menggigil kedinginan. Senyum kecil tersungging di wajahnya kala ia mengenang perbincangannya dengan Eungi hari ini. Ia sejujurnya tidak terlalu peduli dengan masalah proposalnya yang dicuri profesor Hwang, Kyuhyun selalu merasa ia bisa menciptakan karya lain di kemudian hari, namun jika cara untuk berdekatan dengan wanita itu adalah dengan mendiskusikan masalah plagiarisme Hwang Hojin, maka dengan senang hati Kyuhyun akan menyiapkan seluruh data yang Eungi butuhkan besok. Pria itu menyalakan laptopnya, mulai menggali data lama yang ia simpan untuk Tugas Akhirnya, agar besok ia siap mempresentasikan seluruhnya pada Eungi dengan baik, ia tidak peduli dengan kepalanya yang terasa berat, atau matanya yang perih karena suhu tubuhnya yang meningkat—yang penting ia harus menampilkan yang terbaik saat bertemu Eungi besok.

Advertisements

73 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 21

  1. Vinaly says:

    Everything is gonna be ok, right? Just do your best Kyu to get Eungi’s heart back to you. And don’t be give up before you get what you want. Just tell the true.

    *ngomong apa -,-?hihiXD

    Liked by 1 person

  2. Cho Sarang says:

    Ditinggalkan tanpa pesan sedikitpun siapa yang takkan beranggapan kalau dirinya dicampakkan. Jadi jangan salahkan eungi bila dia beranggapan seperti itu

    Liked by 1 person

  3. Barom yu says:

    Moga pintu hati dan gengsi eungi kebuka setelah mendengar nasihat prof hehehe
    Duh kyu bolak balik seoul belanda gak capek? Belom lagi stalking-in wanitamu hihi*daebak kau cho..
    Kayaknya kyu mau sakit tuh? Gimana dong mo ketemuan nnti sm eungi?

    Liked by 1 person

  4. Rinjani says:

    Uuutayanqqq Kyu jd stalker yaaa wkwk
    Ayoo Eungi berani tanya ke Kyu alesannya knp, jd greget sendiri ya ampun :3
    Asalnya aku team Eungi, skrg udh tau alesan Kyuhyun jd team dua-dua nya daah wkwk
    Fighting Eonni!!

    Liked by 1 person

  5. ndy6262 says:

    Aku nyadar aku komen jam set 2 malam
    Tapi aku gakbisa berenti ngebacanyaa wkwk
    Wahh eungi labil dan ternyata lebih labil dariku wkwk
    Kyuhyun kehujanan kasian ntar sakit
    Prof nya hebat banget udah kayak ayah bagi eungi kerenn

    Liked by 1 person

  6. Siti maryam says:

    Hanya karna kesalah fahamn hubungan jadi taruhannya ,lbh mengutamakan keegoisn dr pd mengikuti kata hati karna akal sehat tidak bekerja d saat fikirn sll negatif …
    Buat eungi,ikutilah kata hati mu,dengarkan penjelasan kyu baru kau simpulkan hubungan kalian bgmn

    Liked by 1 person

  7. sweetrizzu says:

    Profesor kalo patah hati emang beda dari yg lain ya kak.. Buat nyembuhin nya di ibaratkan sm penelitian hahaha
    Aku suka cara Profesor Van Wijk kasi nasihat ke Eungi, gak jauh” dr profesi mereka. Keren kak 😉

    Liked by 1 person

  8. putri0589 says:

    seneng liat Kyuhyun semangat lagi,, semoga usaha Kyuhyun buat deket sama eungi lg berhasil dan semoga eungi juga dengerin apa kata prof Van wijk supaya mau bicara sama kyuhyun…
    semoga mereka bisa cari jalan keluar terbaik untuk masalah mereka dan bisa sama sama lagi,, krn pengorbanan mereka udah terlalu banyaak

    Liked by 1 person

  9. OngkiAnaknyaHan says:

    setidaknya eungi masih punya van wijk yg bisa dicurhatin
    kalo kagak ya masih aja itu kemakan gengsi
    mudah2an eungi dapat hidayah dari ceramahan van wijk , kali aja abis itu mereka balikan
    amin

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s