(Indonesian Version) One Last Shot – Part 20

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Eungi menyeret langkah beratnya melawan hembusan angin kencang yang sudah menjadi hal lumrah di negara ini, ia sudah tinggal di Belanda cukup lama sebelumnya untuk tahu berapa banyak lapisan baju yang pantas dikenakan saat angin musim gugur mulai berhembus, namun terkadang—terutama menjelang musim dingin—mantel wol  paling tebal yang dimilikinya pun belum cukup untuk menjaga tubuhnya tetap hangat. Sesungguhnya Eungi menikmati tamparan angin yang terasa perih di matanya itu, dinginnya udara sekitar membantu menyejukkan pikirannya yang kacau sejak semalam.

Kemarin ia baru saja bertemu dengan Cho Kyuhyun, tangis wanita itu kembali pecah setibanya ia di rumah kontrakannya, dan layaknya seorang aktris berbakat, Eungi kembali memasang muka temboknya pagi ini.

Awalnya Eungi tidak mempercayai indera pengelihatannya sendiri, pikirnya ia hanya sedang berilusi karena kelelahan setelah melakukan promosi bukunya seharian, tapi ternyata pria itu nyata muncul di hadapannya. Ia datang pada acara peluncuran buku Eungi, pria itu menggenggam tangannya, memintanya untuk tetap tinggal sejenak. Eungi samar-samar mengingat bahwa Kyuhyun menyatakan sesuatu tentang kepergiannya saat itu, bahwa pria itu tidak pernah benar-benar meninggalkan Paris, tapi Eungi ragu akan keakuratan memorinya sendiri, karena ia terlalu shock kemarin untuk bisa berpikir jernih.

Yang terlintas dalam pikiran wanita itu kemarin hanyalah bertapa leganya ia bisa memandang wajah pria itu lagi, ia harus menahan dirinya sendiri untuk tidak menghambur ke dalam pelukannya dan menyampaikan berapa besar rasa rindunya pada pria yang masih bertahta di hatinya. Sebagai wanita, Eungi jelas tidak mau terkesan ‘gampangan’ di depan pria yang sudah memporak-porandakan perasaannya setahun terakhir ini, jadi bukannya mengikuti keinginan hatinya, Eungi justru melantunkan kata-kata tajam yang menusuk ego pria itu—dan Eungi tahu sekali bahwa kalimat pendeknya efektif untuk menyakiti Kyuhyun.

Tapi ia menyesal, ia menyesal karena telah memilih untuk menyakiti pria itu ketimbang mendengarkan penjelasannya, dan semalaman Eungi hanya bisa menangis sambil merutuki dirinya sendiri. Ia menyesal karena bisa jadi kemarin adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki untuk bertemu Kyuhyun dalam hidupnya—dan ia telah menyia-nyikan anugrah itu demi harga dirinya semata.

Pagi tadi Eungi berniat mengurung diri dalam kamarnya, bergumul dalam kemeranaannya dan ia berencana menelpon promotornya untuk mengajukan izin sakit saja. Tapi rencanya gagal total, karena profesornya menelpon pagi-pagi sekali, menawarkan Eungi jabatan untuk menjadi asistennya sekaligus membantu profesornya membimbing mahasiswa sepanjang tahun. Kalau yang menelponnya orang lain, Eungi pasti sudah menolaknya. Tapi karena Profesor Joost Van Wijk yang meminta, ia segera menanggalkan baju tidurnya dan bersiap untuk pergi ke kampus.

Sir Joost (baca: Yous)—begitulah Eungi memanggilnya—adalah promotor Eungi saat ia sedang studi tingkat magister dulu, pria itu memberikan pengaruh besar dalam kecintaan Eungi pada bidang arsitektur ramah lingkungan yang digelutinya, dan ia juga seseorang yang dipandang Eungi sebagai figur seorang ayah karena bukan hanya membantu Eungi dengan masalah akademisnya saja, Sir Joost juga banyak membantu masalah pribadi Eungi yang tidak ada hubungannya dengan arsitektur.

Eungi tiba di kantor pria paruh baya itu, terlihat sangat kacau karena baru saja menerjang kencangnya angin Belanda yang tersohor. Rambut panjang Eungi berseliweran di sekitar wajah dan bahunya, matanya berair karena perih diterpa angin. Eungi segera masuk dan segera memilih tempat duduk yang nyaman sambil melepas syalnya.

“Angin hari ini kencang sekali, bukan?” Pria itu menyambut Eungi ramah sambil memberikan segelas kopi hitam pada Eungi.

“Kau tidak tahu, Sir. Aku berencana membolos hari ini. Kalau bukan karena kau yang memintaku datang, aku tidak akan repot-repot turun dari ranjangku.” Eungi mengambil kopi yang diberikan dan menyisipnya sedikit. “Asisten semacam apa yang kau butuhkan, Sir?”

“Untuk menyaring proposal tesis magister. Aku tahu memang masih terlalu awal bagi mereka untuk mulai menggarap keseluruhan tesis mereka, tapi kalau dimulai semester depan juga terlalu lambat.” Sir Joost mengambil tumpukan proposal dari mejanya dan menaruh di meja samping Eungi.

“Lalu kau ingin aku apakan proposal-proposal ini?”

“Saring.” Ia ikut duduk di armchair yang ada di sebrang Eungi sambil meneguk kopinya sendiri. “Kau kan sudah cukup paham ide-ide seperti apa yang membuatku tergugah, lagipula aku tidak punya cukup waktu untuk duduk dan membaca semuanya. Seperti yang kau pahami, keahlianku adalah bangunan tradisional dan desain berkelanjutan. Jadi jika proposal mereka tidak sesuai bidangku, singkirkan saja, nanti kuberikan pada profesor lain yang ahli di bidangnya.”

Eungi membaca beberapa judul proposal yang ada dengan seksama, ia harus bernapas lega karena banyak dari judul proposalnya saja sudah tidak masuk ke dalam kategori keahlian Profesor Van Wijk.

“Ngomong-ngomong, ada satu mahasiswa Korea di kelasku,” Sir Joost terus bicara sementara Eungi tetap memeriksa proposal di hadapannya. “Aku tidak ingat namanya tapi ia mengingatkanku padamu, Cha.” Ia terkekeh sambil mengingat-ingat kelakuan Eungi dulu saat mereka baru bertemu.

“Apa mahasiswa itu juga seambisius aku?”

“Dia jelas sangat serius dengan apa yang digarapnya.” Sir Joost mengangguk, “Jadi karena penasaran, aku membaca proposalnya terlebih dahulu sebelum aku menyerahkan sisanya padamu. Lalu aku kecewa, karena dia hanya seorang plagiat.”

“Benarkah?” Eungi menyahut tanpa melepas pandangan mata dari pekerjaannya.

Van Wijk mengangguk lalu bangkit menuju mejanya untuk mengambil proposal yang dimaksud. “Coba kau dengan ini baik-baik: Pengurangan Panas pada Rumah Tradisional Korea Menggunakan Genting Eco-Tarmac sebagai Alternatif Genting Tradisional. Nama anak itu Cho Kyuhyun.”

Jantung Eungi serasa lepas dari rongganya, apakah nama pria itu baru saja disebut dengan lantang oleh profesornya? Tiba-tiba saja jantungnya berdebar kencang sambil mulai menebak-nebak apakah pria itu mencoba untuk kembali ke dalam hidupnya dengan cara paling klasik yang ada. Apakah pria itu sungguh-sungguh melanjutkan pendidikannya ke tingkat magister? Karena Eungi-kah? Apakah Kyuhyun sengaja ke Delft untuk memperbaiki hubungan mereka yang retak, atau memang kebetulan belaka dan Kyuhyun tidak tahu Eungi juga sekolah di sini?

Hatinya dipenuhi banyak sekali pertanyaan tapi otaknya mengambil alih untuk mengkonfirmasi sesuatu yang lebih penting. Eungi mengangkat wajahnya untuk memandang Van Wijk, ia kemudian bangkit dan menghapiri meja profesornya, dengan sigap mengambil proposal yang dipengang Van Wijk. Ia segera membaca judul proposal Kyuhyun dengan cermat, lalu membolak-balik isi proposal Kyuhyun dengan metode membaca cepat.

“Katamu ia melakukan plagiat? Apa ada buktinya?”

Sir Joost berdeham dan mengetikkan sesuatu ke dalam komputernya, ia mengisyaratkan Eungi untuk mendekat agar wanita itu bisa ikut membaca bukti yang ditemukannya.

“Jurnal internasional tentang metode yang sama telah diluncurkan pada konfrensi tahunan bulan lalu, judulnya memang agak berbeda sedikit tapi konten penelitiannya 90 persen mirip. Awalnya aku ingin membimbing si Cho ini, karena idenya menggugah inspirasiku, tapi ketika aku tahu ia mencuri ide orang lain, aku rasa lebih baik kubatalkan saja.” Jelas Sir Joost sementara Eungi masih membandingkan isi proposal Kyuhyun dengan jurnal elektronik di komputer profesornya.

Eungi memang belum pernah membaca gaya penulisan akademis Kyuhyun, jadi ia tidak bisa menyimpulkan apakah gaya Bahasa yang digunakan memang asli miliknya atau plagiat, tapi wanita itu yakin bahwa Kyuhyun tidak akan melakukan tindakan rendahan seperti plagiarisme—apalagi pria itu tahu benar sebenci apa Eungi dengan kasus semacam ini. Tapi mungkinkah pria itu berubah sekarang? Mungkinkah Kyuhyun-nya bukan lagi pria yang membuatnya kagum karena kecerdasannya?

“Sir, jurnal siapa kah ini?” Tanya Eungi sambil menggeser tampilan ke halaman depan jurnal untuk melihat nama pengarangnya.

“Seorang profesor Korea, aku tidak terlalu ingat namanya. Kalian orang Korea memiliki nama yang susah sekali disebutkan.”

“Yeah, seperti namamu tertulis dalam ejaan yang mudah saja.” Sahut Eungi sinis.

Pandangan Eungi langsung terpaku pada nama penulis jurnal itu.

“Sir Joost, kau percaya pada insting dan keputusanku, kan?” Tanya Eungi.

“Tentu saja.”

“Jadi apapun yang kukatakan padamu sekarang, kau harus mempercayainya dan berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa perkataanku ini benar, meskipun mungkin agak sedikit menyebalkan untukmu.” Tekan Eungi.

“Apa kau sedang mengancamku, Cha?”

“Mahasiswamu itu, Cho Kyuhyun, bimbinglah dia.” Eungi tidak mempercayai bertapa mudahnya ia mengucapkan nama Kyuhyun dengan lantang. “Aku yang akan menjamin bahwa pria itu tidak mencuri penelitian siapa pun, penelitiannya lah yang justru dicuri. Aku berani menjamin bahwa pria itu tidak akan mengecewakanmu—secara akademik paling tidak—karena dia adalah mahasiswaku, dan aku percaya dia akan menjadi arsitek sekaligus peneliti yang hebat suatu hari nanti.”

“Bagaimana kau bisa seyakin ini kalau mahasiswamu tidak berbuat salah?”

“Karena orang ini.” Eungi menunjuk nama penulis jurnal di layar. “Dia pernah menghapus namaku dari presentasi seminar internasional dan menggantinya dengan namanya sendiri, si Hwang Hojin ini! Dulu kubiarkan dia lolos, tapi kali ini, aku akan membawa kasus ini ke pengadilan.”

 

*

 

Butuh waktu dua hari bagi Eungi untuk menuntaskan tugas menyaring proposal yang masuk ke berkas profesor Van Wijk. Waktu yang diperlukan lama karena ia bukan sekedar membaca saja, ia juga harus memeriksa originalitas dari proposal-proposal itu sembari memastikan seluruh daftar pustaka yang tercantum memang benar adanya—karena Eungi tahu sekali sebenci apa Sir Joost dengan mahasiswa tukang copy-paste. Pria paruh baya itu adalah profesor yang ditempa dengan metode pendidikan kuno, di saat teknologi belum memudahkan seperti sekarang, jadi pria itu membenci segala sumber kutipan yang berasal dari internet. Baginya, jika memang ingin menggali ilmu, gunakanlah buku dan jurnal-jurnal yang valid, ia tidak keberatan dengan penggunaan e-book atau e-journal, tapi sitasi yang diperoleh dari blog atau artikel online sudah pasti akan dicoret olehnya.

Eungi yang sudah tahu kebiasaan profesornya, dengan senang hati mencorat-coret isi proposal mahasiswa yang diperiksanya, semua sumber dari Wikipedia akan digaris merahi, ia bahkan mengomentari sinis pada halam-halaman proposal ketika ia menangkap seorang mahasiswa benar-benar meng-copy-paste satu artikel dari halaman pertama yang bisa ditemukan di Google. Eungi berdecak kesal setiap kali menemukan tipe-tipe seperti ini, mereka sudah kuliah tingkat magister, namun kelakuan tidak jauh berbeda dengan mahasiswa tingkat awal.

Profesor Van Wijk hanya akan menerima tiga mahasiswa untuk dibimbingnya setiap semester, maka Eungi harus menyaring tiga orang dari lima puluh proposal yang masuk. Eungi sudah memilih tujuh proposal potensial dan ia meminta profesornya untuk membuat pengumuman di kelas agar ketujuh mahasiswa ini melakukan sesi interview secara personal dengan Eungi sebelum ia memilih tiga kandidat. Eungi meminta Sir Joost untuk menyuruh mahasiswa terpilih ini menemuinya di sebuah café dekat kampus yang dimiliki sahabat Eungi.

Pada hari yang ditentukan, Cha Eungi sibuk mondar-mandir ke dalam toilet sekedar untuk memeriksa penampilannya—untuk kesekian kali. Salah satu dari mahasiswa yang akan menemuinya hari ini adalah Cho Kyuhyun, dan Eungi sudah gelisah semalaman hanya karena memikirkan akan bertemu dengannya. Eungi memastikan rambutnya diikat dengan sempurna, wajahnya harus terlihat berseri, ia memeriksa sela-sela giginya untuk memastikan tidak ada yang menyangkut di situ, dan ia menyemprotkan kembali parfum andalannya sebelum ia melangkah keluar dari toilet. Ia sendiri tidak paham mengapa dirinya bersusah payah untuk terlihat cantik dan menarik di hadapan pria itu, padahal ia masih cukup kesal terhadapnya. Tapi Eungi ingin Kyuhyun melihat bahwa ia baik-baik saja, bahwa Eungi tidak terpuruk tanpanya, Eungi masih ingin Kyuhyun menatapnya dengan sorot kekaguman yang biasa sekaligus menunjukkan apa yang telah dibuang pria itu dengan sia-sia.

Saat ia keluar, temannya yang memiliki café ini menunjuk pada meja besar berbentuk oval di sudut ruangan yang sekarang sudah diisi oleh tujuh mahasiswa yang siap melakukan sesi interview bersamanya. Eungi melirik sekilas dan darahnya langsung berdesir cepat saat matanya mengunci tatapan Kyuhyun. Sepertinya Eungi bukan satu-satunya orang yang mencoba tampil mangagumkan hari ini. Padahal Cho Kyuhyun hanya menggunakan kaos polos yang dibalut dengan jaket kulit bewarna tan andalannya, mantel pria itu tergantung di belakang kursinya, Kyuhyun menata rambutnya dengan acak—karena ia tahu Eungi menyukai tataaan rambutnya yang seperti itu. Tapi yang membuat Eungi lupa bernapas adalah karisma yang menyertai pria itu, ia duduk di sana dengan rasa percaya diri yang belum pernah Eungi lihat sebelumnya, meskipun sorot matanya masih memancarkan keraguan dan rasa bersalah.

“Vince, berikan aku pesanan yang biasa, dan tolong buat kopi itu lebih ‘irish’, kurasa aku perlu rileks sedikit.” Eungi menyebutkan pesanan kopi ekstra Bailey’s itu pada temannya sebelum ia melangkah mendekati meja oval.

Ia harus menghitung langkahnya, memastikan ia tidak tersandung karena saat ini tubuhnya sekaku papan. Enam mahasiswa lain yang duduk di situ tidak berpengaruh padanya, tapi pria itu, tatapan tajamnya, benar-benar membuat Eungi gugup. Salah seorang mahasiswa bangkit untuk menyambut Eungi dan mempersilakannya duduk.

Eungi menarik napas dalam sebelum memulai. “Okay, karena ini hari Kamis, kita semua pasti punya acara masing-masing selepas interview ini, jadi kita percepat saja prosesnya.” Eungi mengambil tumpukan proposal dari tasnya dan meletakkan di atas meja. “Namaku adalah Cha Eungi, kalian boleh memanggilku profesor Cha, aku mahasiswi post-doktoral di departemen kita dan aku bertanggung jawab untuk menyaring proposal yang masuk ke meja profesor Van Wijk. Beliau mempercayakan penyaringan ini padaku, oleh karena itu aku merasa interview ini penting—agar aku bisa menilik lebih dalam ke dalam prospek tesis kalian.”

Para mahasiswa memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut Eungi, bahkan ada satu wanita yang dengan serius mencatat setiap perkataannya.

“Beliau dulu promotorku saat aku menggarap tesisku sendiri, dan aku yakinkan kalian bahwa beliau adalah orang yang sangat tepat untuk membimbing jika ketertarikan kalian merangkum desain berkelanjutan dan arsitektur tradisional, jadi kalau ada yang masih ragu dengan isi proposal kalian, kusarankan untuk pulang sekarang.” Ia lanjut menjelaskan sambil menghindari tatapan mata dari pria itu.

Tidak ada mahasiswa yang berniat mundur dari interview ini, maka Eungi melanjutkan pada agenda berikutnya.

Well, kalau kalian sudah yakin, aku akan mulai menggali ke dalam paper kalian. Aku akan memulai dari Agatha Maarten.” Ia mengangkat proposal di tangannya sambil melayangkan pandangan mencari si pemilik nama. Seorang wanita paruh baya berambut merah mengangkat tangannya. Eungi tersenyum sopan pada Agatha and mulai bertanya, “Halo, apa kabar?”

“Aku baik-baik saja, tapi aku sangat gugup. Aku benar-benar menginginkan Profesor Van Wijk sebagai mentorku.” Balasnya tergagap.

Eungi tersenyum manis sebelum ia bertransformasi menjadi monster sadis yang diharapkan Van Wijk.

“Jadi, apa yang membuat penelitian ini pantas mencuri perhatiannya? Aku membaca judulmu dan jujur saja, tingkat originalitasnya nol. Metodemu untuk mengurangi panas ruangan pada negara tropis tidak terlalu praktikal.” Eungi membolak-balik halaman proposal Agatha dengan cepat sambil membacakan catatan-catatan yang harus direvisi oleh penulis. “Apakah aku harus memulai dari problem statement-mu? Negara tropis mana yang kau maksud di sini? Karena iklim negara tropis yang satu dan yang lain juga kan berbeda, kurasa kau harus lebih spesifik—gunakan studi kasus kalau mau membuat penelitianmu lebih mudah.”

Agatha mulai menuliskan ocehan Eungi ke dalam notes-nya, ini kali pertama ia didikte oleh seorang yang terlihat jauh lebih muda dari dirinya sendiri, dan wanita ini sebenarnya shock karena Eungi terlihat berbeda sekali saat sedang mereview proposal mahasiswa.

“Bisa kulanjutkan, Miss Maarten?” Tantang Eungi dingin.

Yang ditanya hanya mengangguk pasrah.

“Menggunakan tanah liat sebagai opsi untuk mengurangi panas, mungkin cara itu bisa diterapkan pada iklim mediteran, jika kau melakukannya pada negara tropis, tanah liat mentah akan sangat mudah kering dan retak. Jadi kau harus memodifikasi susunan unsur kimia di dalam tanah liat itu sendiri, dan good luck! Kau harus bekerja sama dengan departemen material untuk itu.” Eungi lanjut membombardir isi proposal Agatha. “Ah, opsi lain yang kau berikan: menggunakan vegetasi untuk menutupi rumah, come on!! Kita harusnya mendesain sesuatu yang bisa digunakan lima puluh tahun ke depan, bukan justru berjalan mundur pada penemuan sepuluh tahun yang lalu. Ayolah, orang menciptakan vertical garden sudah lama sekali. Kau tidak memiliki nilai inovasi apapun dalam proposal ini.”

Seluruh mahasiswa yang duduk di situ mulai gelisah dan saling memandang dengan tatapan khawatir. Saat mereka tahu asisten profesor Van Wijk akan mereview mereka, tidak pernah dikira bahwa asistennya juga sekritis Van Wijk sendiri.

Here you go, Schat. Latte with a twist, aku meraciknya khusus agar kau tidak ngomel-ngomel.” Kegiatan Eungi terpotong oleh Vincent yang membawakan pesanan kopinya ke meja mereka. Vincent menepuk bahu Eungi dan meremasnya pelan sambil tersenyum manis ke arah Eungi. Pria itu kemudian mengucapkan good luck pada mahasiswa yang hadir sambil mengedip.

Dank u wel, Vince. Aku mungkin akan membutuhkan beberapa gelas lagi untuk melawati sore panjang ini.” Eungi menyeringai sinis ke arah tumpukan proposal di tangannya.

“Tenang saja, aku buka sampai jam sepuluh hari ini khusus untukmu.” Ia mengedip pada Eungi dan kembali ke balik counternya.

Tadinya Kyuhyun tidak peduli akan kehadiran pria itu, sampai ia mendengarnya memanggil Eungi dengan sapaan ‘schat’, yang dalam Bahasa Belanda merupakan sapaan pada kekasih mereka. Detik sebelum pria itu datang, Kyuhyun menikmati pemandangan wanita itu membantai isi proposal saingannya dengan argumen cerdas yang terlihat keren di matanya, dan detik berikutnya fokus Kyuhyun langsung teralihkan pada pria yang baru mengantar kopi pesanan Eungi.

Kyuhyun mengalihkan perhatian pada pria Belanda yang sekarang sibuk mengetik di dalam laptopnya, mempelajari penampilannya sambil menebak jenis hubungan apa yang dimiliknya dengan kekasihnya—well, Eungi masih kekasihnya, bukan?

Kalau ia tidak salah dengar, tadi Eungi memanggilnya dengan nama ‘Vince’, siapa si Vince ini? Mata Kyuhyun menelaah setiap detil dari pria Belanda itu. Jelas tubuh Vincent lebih tinggi darinya, tapi itu sudah hal yang umum bagi pria Belanda, pria itu memiliki rambut gelap yang cepak, mata biru teduh dengan sorot hangat yang membuatnya terkesan selalu tersenyum ramah, jambangnya menutupi pada bagian yang tepat pada wajahnya membuat garis tegas yang menonjolkan bentuk rahang pria itu, dan yang terakhir, pria Belanda itu memiliki lesung pipi yang Kyuhyun yakin sekali disukai Eungi.

Isi kepala pria itu sekarang dipenuhi dengan spekulasi tetang Eungi dan Vince, ia tidak lagi peduli akan proposalnya dan ia berhenti menonton Eungi membantai proposal saingannya. Yang penting baginya sekarang bukan lagi bersaing mendapatkan posisi sebagai mahasiswa bimbingan Van Wijk, tapi posisinya dalam hidup Eungi. Ah, seandainya Kyuhyun membawa laptopnya, ia pasti sudah mulai melakukan pencarian tentang pria Belanda itu.

Kyuhyun menarik napas dalam, mungkinkah Eungi sudah move-on dari dirinya? Apa wanita itu benar-benar telah melupakannya? Ia melirik ke arah Eungi, menyadari pesona yang selalu terpancar dari wanita yang dicintainya. Wanita itu terlihat seperti berusaha menata penampilannya, awalnya Kyuhyun kira Eungi melakukannya untuk membuatnya kagum, tapi mungkinkah Eungi justru berdandan untuk Vince?

Ia menggaruk kepalanya frustrasi, memang Eungi punya hak untuk meninggalkannya dan menjalin hubungan baru dengan orang lain, Kyuhyun pun tidak punya hak untuk melarang atau merasa cemburu. Salahnya lah hingga hubungan mereka yang manis berubah menjadi miris seperti ini. Tapi benarkah? Benarkah Eungi sudah melupakannya, padahal Kyuhyun sendiri masih berjuang melawan hasratnya untuk mendekap Eungi setiap kali ia melihatnya. Hati Kyuhyun masih nyeri setiap mengingat wanita itu, dan Eungi di hadapannya terlihat baik-baik saja. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang bertahta dalam hati Kyuhyun, pria itu sudah melupakan gaya hidup playboy brengseknya sejak bertemu Eungi, dan sampai detik ini, ia tidak pernah melirik wanita lain—karena ia berjanji pada Eungi untuk tidak mendekap wanita lain selain dirinya.

Pria itu terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai ia lupa dengan sekitarnya. Eungi sudah mengirim mahasiswa yang di-interview-nya satu per satu, dan sekarang hanya tinggal Kyuhyun yang tersisa.

Wanita itu masih mencoba terdengar profesional saat melakukan tugasnya, tapi memandang Kyuhyun dalam jarak sedekat ini membuat tekadnya kendur. Kalau mengikuti kata hatinya, Eungi ingin pindah duduk di sampingnya, mengalungkan lengannya pada leher pria itu, memeluknya serta melupakan fakta bahwa Kyuhyun telah mematahkan hatinya. Eungi ingin sekali kembali pada Kyuhyun, tapi kepercayaannya pada pria itu masih tergores, dan ada bagian dari dirinya yang takut mendengar kenyataan dan alasan Kyuhyun.

“Kyuhyun-ssi?” Eungi memanggil nama Kyuhyun untuk yang kedua kali sambil mengetuk permukaan meja di dekat Kyunyun untuk mencuri perhatian pria yang sedang melamun. “Are you there?”

Kyuhyun langsung duduk tegap dan memberanikan diri untuk menatap Eungi. “Ya Profesor Cha.” Jawabnya sigap, baru kemudian ia melayangkan pandangannya dan menyadari bahwa saingan-saingannya sudah tidak ada.

“Aku sudah mengirin rekan-rekanmu pulang saat mereka selesai, kau tidak sadar meja ini sudah kosong? Kalau ingin melamun, lebih baik jangan membuang waktuku. Kau siap untuk melakukan interview ini kan?” Sosor Eungi dengan nada sarkastis yang familiar di telinga Kyuhyun. Ah, kekasihnya ini masih belum berubah kalau sedang kesal.

Kyuhyun memandangnya dengan seksama, mengambil waktu untuk menikmati gurat-gurat wajah Eungi yang ia rindukan sepanjang tahun. Wanita ini secantik yang ia ingat, kulit pucat bagai poselennya tetap mulus, pipinya masih merona menggemaskan, bibir penuhnya masih tetap membuat Kyuhyun ingin melumatnya. Hanya dengan sekali pandang, Cha Eungi telah sukses membuat napas Kyuhyun tercekat.

“Pengurangan Panas pada Rumah Tradisional Korea Menggunakan Genting Eco-Tarmac sebagai Alternatif Genting Tradisional.” Eungi mulai membaca proposal Kyuhyun untuk memulai serangannya. “Judul yang bagus, apa ini idemu sendiri?”

Kyuhyun mengangguk, masih terpesona padanya.

“Aku akan bertanya sekali lagi,” Ia membalik proposal Kyunyun dan menggesernya lebih dekat ke arah pria itu, menunjuk pada bagian judul proposal, “Apa ini benar-benar penelitianmu? Kau yakin tidak menirunya dari tempat lain?”

Alis Kyuhyun bertaut, ia bingung dengan maksud pertanyaan Eungi tapi ia mengangguk kembali. “Aku berniat untuk melanjutkan penelitian Tugas Akhir S1 ku.”

“Yang berjudul?”

“Perbandingan Susunan Genting Tradisional pada Rumah Tradisional Korea dan Jepang serta Pengaruhnya Bagi Iklim Dalam Ruang. Aku meneliti material genting tradisional, susunannya, derajat kemiringan, serta tinggi langit-langit pada rumah-rumah tradisional supaya iklim dalam ruangnya terjaga meskipun berganti musim.” Kyuhyun menjelaskan penelitiannya yang sejak dulu ingin didiskusikan dengan Eungi. Pasti Tugas Akhirnya akan lebih baik lagi seandainya Eungi ada di sisinya saat itu.

“Lalu genting semacam apa yang kau maksud di proposal ini?” Eungi masih mencoba menyembunyikan ketertarikannya.

“Saat melakukan penelitian, aku berkolaborasi dengan mahasiswa teknik material dan tercetus ide untuk membuat genting dari bahan dasar aspal. Memang aspal itu biasanya berat dan panas, tapi yang kami ciptakan ini bukan aspal yang biasa kita temui, tapi aspal rekaan dalam lab yang dibuat dari tanah lempung yang dimodifikasi.” Terang Kyuhyun.

“Dan kau melakukan semua itu sendirian?”

“Tidak, aku berkolaborasi dengan mahasiswa lain, tapi seluruh riset lapangan kulakukan sendiri. Aku pergi ke desa-desa di Korea dan jepang untuk melakukan penelitian ini, noona.” Tatapan Kyuhyun semakin tajam. “Itulah sebabnya mengapa aku tidak bisa mendatangi rumahmu saat kau kembali ke Seoul bulan May kemarin, aku masih berada di Jepang.” Ceplos Kyuhyun tanpa basa-basi.

“Apa?”

“Aku mencarimu, noona. Kau kira aku sanggup hidup dengan pikiran bahwa kau terdampar di suatu tempat sendirian, lengkap dengan rasa sakit yang kuberikan padamu?”

Untuk sesaat Eungi lupa alasannya berada di tempat itu dan fakta bahwa ia harus menggali masalah plagiarisme dalam proposal Kyuhyun. Apakah pria ini baru bilang bahwa ia mencarinya? Lantas mengapa Eungi tidak pernah mendapat kabar apapun dari Kyuhyun? Jika pria ini di sini untuk menemuinya, mengapa mereka tidak bertemu sejak awal semester? Kemana saja Cho Kyuhyun bersembunyi selama ini?

“Apa yang kulakukan padamu memang tidak bisa dimaafkan tapi bukan berarti aku berhenti mencintaimu, Eungi-ya. Jika kau memberikanku kesempatan untuk menjelaskan, mungkin kau akan mendapat perspektif baru..”

“Aku tidak tidak tertarik membahas masalah pribadi, Kyuhyun-ssi. Jangan berharap berlebihan, aku di sini untuk melakukan interview ini agar profesorku tidak perlu terjebak dengan mahasiswa yang tidak kompeten dengan bidangnya. Yang kulakukan untukmu hari ini tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi, jadi jika kau tidak keberatan, aku akan melanjutkan pertanyaan profesional.”

Mulut Kyuhyun langsung bungkam setelah mendengar kalimat Eungi, pria itu menelan kekecewaannya dan kembali diam.

“Apa yang kau lakukan dengan laporan Tugas Akhirmu?” Tanya Eungi melanjutkan.

“Aku mempresentasikannya sekali saat sidang, kemudian seluruh profesor yang hadir meminta file dan dataku.”

“File dan data mentah?”

Kyuhyun mengangguk pasrah.

Eungi menarik napas dalam-dalam untuk mencegah dirinya memukul kepala Kyuhyun menggunakan gulungan proposal yang ada di tangannya. Inilah alasan kenapa Sir Joost menuduh Kyuhyun telah melakukan plagiarisme.”Berikan padaku daftar nama profesor-profesor yang hadir dalam sidang akhirmu, dan pada siapa kau memberikan filemu?”

“Profesor Hwang.” Balas Kyuhyun polos.

Eungi mengangkat tangannya dari meja untuk mengusap wajahnya dengan frustrasi, ia mulai merengek kesal karena kebodohan Kyuhyun. “Aish!! Adakah satu hal saja yang bisa kau lakukan dengan benar, Kyuhyun-a?!!”

“Ne?”

“Apa kau orang bodoh? Berapa kali harus kuingatkan untuk berhati-hati mengenai penelitian, karya dan hak kekayaan intelektualmu? Apalagi di kampus itu! Aish Cho Kyuhyun!” Eungi merogoh tasnya untuk mengambil jurnal internasional yang menjadi perkara plagiarisme Kyuhyun dan menyodorkannya ke pria itu. “Kau baca saja jurnal itu, silakan baca pelan-pelan, aku akan menunggu kau menuntaskannya.”

Kyuhyun masih bingung dengan sikap Eungi terhadapnya, tapi karena ia masih merasa sebagai orang yang berbuat salah, Kyuhyun menurut saja perintah Eungi dan pelan-pelan membaca jurnal yang diberikan wanita itu. Awalnya ia kurang paham mengapa Eungi memaksanya membaca jurnal yang diberikan, tapi setelah sampai pada halamn ke-tiga, otak Kyuhyun akhirnya nyambung dan ia langsung paham alasan dari kemarahan Eungi.

“I—ini kan..” Kyuhyun tergagap. “Noona, aku bersumpah, aku tidak mencuri karya siapa pun. Aku ingat bertapa kau membeci kejahatan plagiarisme jadi aku tidak akan pernah melakukannya. Proposalku benar-benar didasari dari laporan Tugas Akhirku, waktu itu aku harus meminta tanda tangan Profesor Hwang untuk surat rekomendasi, dan orang itu minta fileku. Mungkin saat itulah dia menggunakan kesempatan untuk menggunakan tulisanku. Aku bersumpah noona, aku tidak melakukan plagiasi.

“Aku percaya padamu.” Jawab Eungi singkat, tapi jawaban singkat ini sukses membuat hati Kyuhyun berdebar senang. “Maka karena itu aku memilih mendiskusikan ini terakhir denganmu, jika kawan-kawanmu barusan di sini tidak paham duduk masalahnya, mereka akan mengira kau seorang plagiat dan jika rumor tidak benar itu tersebar, kau pasti akan sangat dirugikan—aku tidak mau kau mengalami kesulitan nantinya. Aku tahu dari awal ketika membandingkan jurnal itu dan proposalmu, bahwa kau telah dibodohi oleh si Hwang, tapi aku harus mengkonfirmasi hal ini sebelum aku bicara pada Sir Joost untuk membimbingmu.”

Kyuhyun lagi-lagi dibuat terkesima dengan keyakinan Eungi yang tidak pernah padam untuk dirinya. Meskipun Kyuhyun telah menyakitinya, Cha Eungi lagi-lagi membuktikan bahwa dirinya berbeda dari siapa pun yang pernah Kyuhyun kenal—wanita itu tidak membiarkan sakit hatinya menutupi objektifitas dan nalar. Kyuhyun telah mengecewakan Eungi sebelumnya, tapi wanita ini masih tetap memperjuangkan harga diri Kyuhyun di mata profesornya.

“Noona, kenapa?” Ia kehabisan kata-kata, mengapa Eungi bersusah payah untuk membantunya keluar dari masalah ini, tapi menolak untuk mendengar penjelasannya.

“Aku akan membawa masalah ini ke pengadilan, Kyuhyun-ssi.” Eungi mengabaikan pertanyaan Kyuhyun.

“Ne?”

“Aku telah mengorbankan penelitianku demi dirimu.” Ia menatap pria di hadapannya dengan ragu. “Aku akan memburu pria itu dan aku akan melakukan apapun untuk melepas titel yang melekat padanya sekarang. Aku perlu dukunganmu, aku membutuhkan seluruh file dan data yang kau simpan berhubungan dengan penelitianmu.”

“Noona..”

“Aku sudah bungkam terlalu lama tentang kelakuan busuk pria itu, kurasa kita sudah cukup bersabar!” Eungi menatap Kyuhyun berapi-api. Ia memang masih marah dengan apa yang Kyuhyun lakukan padanya, tapi lebih terganggu dengan fakta bahwa Kyuhyun telah dibodohi untuk menyerahkan kerja kerasnya begitu saja pada profesor Hwang. “Bisa kah kau melakukan itu untukku, Kyuhyun-ssi?”

Pria itu mengangguk. Ia akan memanfaatkan segala kesempatan untuk berdekatan dengan Eungi dan ia pun rela jika harus menapaki jalan yang panjang untuk kembali ke hati wanita itu—asalkan Kyuhyun bisa tetap berada di sisinya dan terus menjaganya.

 

 

 

 

 

Advertisements

98 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 20

  1. chimuth says:

    huwwaaaaaa baca nya sambil nahan napas …..
    bener2 kurang ngajar tu si hwang profesor tapi gak punya otak dan akal… bisa nya cuma jiplak karya orang terus…. bener2 gak punya malu

    dan kyu…. ciye kyu cemburu loh sama vincent…. bagus, perjuangkan cintamu terus nak 😄

    Liked by 1 person

  2. callista says:

    Profesor hwang g ada kapoknya copy paste tugas mahasiswa nya -____- .. Manusia macem prof hwang emang patut diberi pelajaran biar kapok..h

    Like

  3. Eunkyu says:

    Gile kali si hwang thu gak ada kapok2nya plagiat, emg klo kbiasaan mah sulit diubah ya
    Yuhuuuuuu gak ada salahnya kyuhyun mamfaaitn ksmpatn itu buat dket ma eungi, wkwk

    Liked by 1 person

  4. imgyu says:

    ampun deh profesor hwang itu bener-bener aneh ya, sekali ga kenyang eh nambah lagi haram lagi duhh semoga dia kapok nantinya. Aku masih nyesek karna eungi gamau dengerin penjelasan kyuhyun dulu, egois boleh tp jangan tinggi-tinggi juga kan, anw kyuhyun di part ini keliatan cute banget haha

    Liked by 1 person

  5. Pandacattaa says:

    Woah keren, author bukan dari jurusan arsitek tapi bisa paham begini? Keren! Aku engga nyangka kalo artikel online bisa bermasalah buat karya tulis, ff nya keren banget, menghibur tapi juga nambah pengetahuan, good job author-nim!

    Liked by 1 person

  6. Vinaly says:

    Marah sekaligus senang.
    Marah karna si tua bangka Prof. Hwang gk jera buat copas hasil keringat orang, tapi senang karna Kyu dan Eungi bakal dekat2an lg. Baik buat mereka utk memperbaiki smwnya.

    Liked by 1 person

  7. Cho Sarang says:

    Eungi sepertinya gagal untuk bersikap cuek pada kyuhyun. Melihat hasil karya kyuhyun di plagiat sifat peduli eungi muncul. Semoga hal ini membawa mereka kembali berbaikan lagi

    Liked by 1 person

  8. Barom yu says:

    Geleng” sama prof hwang! Kerjaan nya plagiat mulu!! Cincang aja eungi jadiin bubur kalo perlu..
    Wkwk kyu polos apa dongo dah *duhduh ><
    Udah tau dulu prof hwang kayak apa? Ehh malah ngasih mentahan ke prof hwang..

    Ciee ada yang jealous ampe ngelamun gitu hihi
    Semangat kyu, curi moment ini supaya bisa beduaan lagi heheh

    Liked by 1 person

  9. missluck says:

    Ternyata seperti itu kebenaran’a.
    Alasan Kyuhyun pergi tanpa kabar.
    Mang sh terdengar pengecut.
    Bahkan saat mengetahui keberadaan Eungipun dia msh tidak berani menampakkan diri.
    Tp beruntung dia masih tertolong dengan adanya masalah baru ini.
    Dengan begitu intensitas pertemuan’a dengan Eungi lebih banyak.
    Dan kesempatan dia memperbaiki hubungan’a dengan Eungi lebih besar.

    Liked by 1 person

  10. butterflyannisa says:

    si hwang itu …… aishh.. aki benci ama dia!! sebenarnya gimana sih dia mendapatkan title nya? apa hasil dari menjiplak juga?? Ya.. kasus ini harus dibawa ke pengadilan…

    Liked by 1 person

  11. hyokwang says:

    ah si hwang berulah lagi, ngeselin banget deh.. semoga aja cepet ketahuan… ini bisa jadi kesempatan kyuhyun untuk deket eungi lagi… eungi tuh masih rindu tapi sok2an udah move on 😀

    Liked by 1 person

  12. Rinjani says:

    WAAAANDAY SI HWANG ADA LAGI WKWK
    Cieeee yg dibela Eungi, ngapung loe Kyu ah maitaa
    Eonni paham banget kayanya ya tentang tekni2 arsitek ini, jgn2 eonni kuliahnya jurusan arsitek hehe
    Aku seneng bgt tulisanmu di ff ini banyak tentang hal hal yg baru aku tau, tp gak sulit untuk mencerna nya.
    Fighting eonni!

    Liked by 1 person

  13. omiwirjh says:

    Eungi Jjang!!! Aku benar benar kagum sama diaaa. Lebih tepatnya kagum sama penulisnya. Jadi ada pertanyaan pribadi kakak paham banget sama bidang yg di ambil eungi. Kuliahnya di jurusan ini juga ya kak?

    Liked by 1 person

  14. Yoon28 says:

    Sejujurnya gw gapaham sama program2 itu apalagi sm tugas akhir. Gw gatau gimana rasanya karna gw bukan anak kuliahan 😂 /maklum/

    Eungi galak ya kl marah. tp dia profesional bgt iya. Haha rasain lu cho coba aja deketin eungi lg biar ngerasain susah 2x

    Liked by 1 person

  15. Dewi N says:

    Skripsi oh skripsi.

    Apakabar sama proposal skripsi punya gue???

    Part ini teknikal banget. Untung dosen gue masih kasih kelonggaran boleh Googling asal sumber nya valid 😎

    Like

  16. dayanaelf says:

    Kyuhyun emg harus melewati jalan panjang utk sampe ke hati eungi ni kayanya…
    Kasian kyuhyuuun….
    Dan aku setuju sm langkah eungi utk bawa masalaH ini ke pengadilan…

    Like

  17. sweetrizzu says:

    Pokoknya kali ini Eungi harus brhasil tuntut kasus plagiarisme si profesor tukang plagiat Hwang sampe gelarnya dicopot dan malu berat!!
    Kyuhyun Eungi akhirnya ktmu lagi yeeyee tinggal nunggu kapan Eungi manja”an lagi sm Kyuhyun haha

    Liked by 1 person

  18. putri0589 says:

    salam kenal,, izin baca ff nya yaaa
    sebelumnya ku baca ff ini di blog sebelah, dan krn penasaran jd search di Google deh
    aku suka banget sama cerita ini, gaya bahasa dan penulisan nya juga aku suka walaupun typo pasti ga akan pernah absen menghiasi tp tetep oke kok untuk dibaca
    aku suka karakter Kyuhyun dan eungi juga gimana mereka interaksi dan saling menguatkan sebelum kesalahpahaman dan kebodohan Kyuhyun terjadi…
    mulai berharap setelah ini mereka jadi deket lagi dan bisa menyelesaikan masalah pribadi mereka pelaan pelan dan baik baik juga krn sejujurnya mereka itu cocok bangeeett
    keep writing yaaa..semangat terus untuk lanjutin karya yang baru

    Liked by 1 person

  19. Dyana says:

    Aku tidak pernah merasa plagiarisme itu hal yang baik, tapi khusus di part ini, aku senang Kyuhyun di plagiat karena dengan itu jln untuk dirinya kembali dekat dengan Eungi terbuka lebar…
    Duch, jadi kangen masa-masa mereka bersama di part2 sebelumnya…

    Liked by 1 person

  20. OngkiAnaknyaHan says:

    cieee yg CLBK (cinta lama belum kelar )
    kek taneman kesirem aer yak
    langsung tumbuh tunas2 cinta….

    udah sono balikan aja kalian ini , masih saling cinta juga
    gak usah pada gengsi deh -,-

    itu si Hwang bener2 keparat ye
    serakah gitu , udah nyabotase penelitian eungi sekarang ngopas karya kyuhyun
    si Hwang ini botak gak thor ? pen jambak rambutnya deh trus dijedotin palanya ketembok
    bodo amat dah

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s