(Indonesian Version) One Last Shot – Part 19

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Pria itu mengambil posisi duduk dengan hati-hati, ia memilih lokasi yang cukup leluasa dalam memberikan akses untuk memantau Eungi sementara ia mengendap-endap untuk bisa duduk dalam satu gerbong yang sama dengan wanita itu. Sudah tidak sulit bagi Kyuhyun untuk bersembunyi dari jarak sedekat ini dari Eungi, ia telah melakukan kekonyolan ini dalam tiga bulan terakhir.

Kyuhyun masih termenung, benaknya memainkan ulang kalimat terakhir Eungi yang didengarnya barusan. Kata-kata yang menikam hati Kyuhyun dengan tepat—kata-kata yang Kyuhyun tahu sangat pantas ditujukan padanya. Seperti kaset rusak, suara Eungi kembali menggema dalam kepala Kyuhyun, “Kau selalu memiliki keraguan bahwa dirimu kalah jantan dibandingkan dirinya, kurasa kau benar Kyuhyun-ssi. Paling tidak, saat meninggalkanku, pria itu benar-benar tidak punya pilihan lain.”

Ia tidak pernah mencoba membela diri atau membenarkan perbuatannya, keputusannya untuk meninggalkan Eungi malam itu sangat kejam dan wanita itu tidak patut mendapatkan perlakuan serendah itu dari Kyuhyun. Tapi pada saat yang bersamaan, Kyuhyun juga ingin Eungi paham duduk masalah yang sebenarnya. Pria itu ingin menjelaskan latar belakang dari tindakan kejamnya. Bukan untuk membela diri atau untuk meminta Eungi memaafkannya, Kyuhyun hanya ingin Eungi paham bahwa ia tidak pergi malam itu karena salah Eungi, seluruh kekacauan itu terjadi semata-mata karena ketidakmampuan Kyuhyun untuk menanggung tanggung jawab besar yang tiba-tiba hinggap di pundaknya.

Pria itu menarik napas dalam, mengamati Eungi yang duduk hanya beberapa kursi jauhnya dari tempatnya sekarang. Wanita itu terkantuk, kepalanya terbentur beberapa kali pada kaca kereta yang berembun dan ia sedang berusaha mencari posisi yang nyaman sebelum menutup kedua matanya kembali. Dalam hati, Kyuhyun ingin sekali pindah duduk di sampingnya, meminjamkan bahunya untuk Eungi bersandar, ia ingin menggenggam tangan wanita itu, mendekapnya erat dan tidak melepaskannya lagi. Tapi ia sadar besar dosanya pada Eungi, apa yang dilakukannya tidak pantas untuk dimaafkan, bahkan pria itu tidak berani meminta pengampunan—tidak, Eungi sudah terlalu baik padanya selama ini, dan perbuatan Kyuhyun kali ini memang tidak pantas dimaafkan.

Kyuhyun menahan keinginannya untuk pindah tempat duduk, ia memilih untuk memandang kegelapan yang terhidang di samping jendela lebar kereta cepat yang membawanya kembali ke Belanda. Dalam renungannya, ingatan Kyuhyun kembali pada malam di saat dunia seorang Cho Kyuhyun berubah.

 

Pria itu turun dari apartemen sewaannya melewati lobi apartemen, meskipun ia masih kesal dengan kondisi mereka di hari itu, Kyuhyun masih tetap ingin melakukan tugasnya untuk menjaga Eungi. Perhatian Kyuhyun yang terfokus pada pintu apartemen yang hendak dibukanya teralihkan oleh suara seorang wanita yang memanggil namanya dengan lantang. Ia berbalik untuk melihat pemilik suara dan ibu tirinya sudah duduk manis di kursi yang tersedia di lobi tersebut. Pria itu tidak pernah suka dengan kehadiran wanita itu, tidak suka dengan cara ibu tirinya memperlakukannya, bahkan sangat membenci gaya berpakaian ibu tirinya yang selalu berlebihan. Tapi malam ini wanita itu tampak berbeda. Ia tidak menggunakan tas mahal, atau kalung emas, cincin berliannya mungkin ditinggal di rumah dan wanita paruh baya itu hanya menggunakan sepatu olahraga sederhana—seolah ia benar-benar tergesa-gesa untuk berada di tempat itu—satu-satu hal yang tidak pantas melekat pada outfit wanita itu hanyalah kacamata hitam besar yang digunakan saat malam hari.

“Apa yang kau lakukan di sini, oemoni?” Ia mencoba menyembunyikan keterkejutannya dengan bersikap dingin.

“Aku yang seharusnya bertanya.” wanita itu menunjuk kursi di hadapannya, menyuruh Kyuhyun untuk duduk. “Aku sedang mempertimbangkan untuk mengetuk pintu kamarmu di atas, untunglah ternyata kau turun.”

Kyuhyun mengikuti perintahnya untuk duduk, “Kehormatan apa yang kuperoleh sampai kau terbang ribuan kilometer untuk menemuiku? Apakah appa juga ikut bersamamu?”

“Ayahmu terserang stroke dua hari yang lalu.” Jawabnya tanpa basa basi. Nyonya Cho melepas kacamata hitamnya dan Kyuhyun langsung paham mengapa ia menggunakan aksesoris itu. Matanya sembab dan kantung matanya menggelap.

“Mengapa kau tidak memberitahuku lebih awal?” Cecar Kyuhyun. Memang hubungan dengan orangtuanya kurang harmonis, namun ayahnya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.

“Kau akan mendapat beritanya kalau kau menjawab panggilan telponku!!” Bentak wanita itu. “Aku menelponmu sejak dua hari yang lalu, kau me-reject semua panggilanku. Jadi kupikir lebih baik kususul kau ke apartemenmu—yang ternyata kosong. Tagihan kartu kreditmu menunjukkan bahwa kau sedang ada di Paris, di tempat ini, maka di tengah kepanikanku, aku memilih untuk menjemputmu langsung.”

“Apakah appa akan baik-baik saja?” Ia lebih khawatir dengan kondisi ayahnya ketimbang metode pelacakan yang dilakukan ibu tirinya. “Apa aku harus pulang ke rumah?”

“Ayahmu bertahan, tapi hal itu menimbulkan keributan di kampus.” Nyonya Cho menghapus air matanya sebelum lanjut bicara, “Kau tahu kan berapa banyak orang yang mencoba menggulingkan ayahmu dari dalam? Insiden ini menjadi alasan yang tepat bagi mereka untuk mengeksekusi rencana itu dan beberapa pemegang saham juga sudah menarik asset mereka.”

Kyuhyun menyeringai sinis. “Wah, kau benar-benar tidak berusaha untuk berbasa-basi dulu ya. Jadi kau jauh-jauh ke sini untuk menyuruhku membereskan kekacauan itu?”

“Kau satu-satunya yang bisa membereskan ini.”

“Mustahil, aku tidak akan melakukannya.” Tukas Kyuhyun cepat.

“Berhentilah bersikap egois! Kau harus mengambil alih posisi ayahmu untuk sementara dan meyakinkan para pemegang saham untuk membatalkan tindakan mereka!!” Ibu tiri Kyuhyun meninggikan nada bicaranya.

“CARANYA?” Kyuhyun mengerak meja di antara mereka, “Orang-orang itu sudah menanti sepanjang hidup mereka untuk momen ini, dan kalau kau belum sadar juga, biar kuingatkan—mereka tidak akan menganggap kehadiranku penting. Aku adalah anak pemilik kampus yang ahli membolos dan mengulang kelas. Apa yang kau harapkan dariku, oemoni?” Kyuhyun menyampaikan argumennya dengan penuh sarkasme.

“DEWASALAH!” Wanita itu teriak. “AKU MENGHARAPKAN KAU MENJADI DEWASA KYUHYUN-A!” lagi-lagi air mata jatuh di wajah wanita itu.

Tangan Kyuhyun tanpa sadar mengepal, ia berusaha keras untuk tidak membalas bentakan ibu tirinya. “Aku sedang sibuk mengurus hal penting lain saat ini.”

Wanita itu mendengus sinis kemudian menatap Kyuhyun dengan sorot tajam. “Kau sibuk meniduri profesormu di sini dan kau lebih memilih wanita itu daripada keluargamu sendiri?”

“Tutup mulutmu! Ia lebih pantas menjadi keluargaku dibanding dirimu.”

“Silakan kalau begitu, silakan menyibukkan dirimu untuk menidurinya dan mari kita lihat masa depan macam apa yang bisa kau berikan untuknya.”

“Hentikan kata-katamu, oemoni.”

“Kau selalu mengacau di sepanjang hidupmu dan jujur saja, meniduri profesormu adalah hal paling ajaib yang pernah kau lakukan. Demi Tuhan Kyuhyun-a, kau pikir dirimu sehebat apa? Kau tidak punya apa-apa yang pantas dibandingkan dengannya—dan aku sudah memeriksa rekam datanya yang ada di kampus, wow wanita yang sangat mengaggumkan kekasihmu itu.”

Biasanya pria itu bisa menemukan kata-kata yang tidak kalah pedas untuk melawan argumen ibu tirinya, tapi malam itu, ia benar-benar terdiam.

“Jika ayahmu tidak membaik juga, maka semua yang kita miliki sekarang akan lenyap Kyuhyun-a. Kau tidak lagi bisa mengajaknya berkeliling di dalam mobil mewahmu, mengajaknya berlibur ke Eropa seperti sekarang dan bahkan aku ragu kalau kau mampu mentraktirnya dalam sebuah acara makan malam yang pantas. Kau ada di sini karena usaha keras ayahmu yang membangun kampus itu, dan kau berhutang kenyamanan hidupmu padanya! Karena kau-tidak-punya-apa-apa.

Ia sudah cukup terjebak dalam mood yang buruk seharian, tapi kata-kata ibu tirinya benar-benar berlaku sebagai tamparan. Memang benar semua yang dikatakan, jika bukan karena harta ayahnya, Kyuhyun tidak akan punya sepeser uang pun. Ia tidak punya pekerjaan di usianya yang sudah tidak layak menjadi mahasiswa S1, ia tidak memiliki skill yang bisa membantunya mendapatkan uang, ia terus menerus gagal dalam kuliahnya dan tidak ada seorang pun yang memandang Kyuhyun sebagai manusia yang layak diperhitungkan—kecuali Cha Eungi.

“Aku mendalami data-data tentang profesor yang kau tiduri itu.” Lanjut nyonya Cho, menambahkan minyak ke dalam bara yang sudah berhasil diciptakannya pada amarah Kyuhyun. “Pencapaiannya sangat luar biasa dan aku bertaruh, jika kau tetap mengencaninya sambil terus mengabaikan kondisi keluargamu, sampai kita kehilangan seluruh asset kita, maka wanita itu yang akan menafkahimu. Ha! Itu bukan hal mengejutkan, maksudku, apa yang mampu kau lakukan untuk menyainginya? Fakta bahwa ia mau berkencan denganmu saja sudah membuatku bingung.”

“APA KAU PIKIR AKU TIDAK MENYADARINYA?!!” Amarah Kyuhyun meledak, ia bangkit dari kursinya sambil membanting kedua tinjunya ke atas meja.

Ia tahu, ia benar-benar sadar akan kesenjangan kompetensi antar dirinya dan Eungi. Kyuhyun sudah cukup merasa insecure dengan fakta itu, dan hal terakhir yang dibutuhkannya adalah gambaran masa depan mereka seandainya Kyuhyun tetap payah seperti sekarang. Kyuhyun ingin menjadi pria-nya—pria yang mensuport Eungi secara emosional, secara lahir dan batin, dan juga mensuport secara finansial. Ia ingin Eungi memandangnya dengan bangga, ia ingin mengalahkan seluruh pria sebelum dirinya yang ada dalam hidup Eungi dan membuktikan padanya bahwa Kyuhyun-lah yang terbaik bagi Eungi. Tapi bagaimana mungkin ia bisa melakukan semua itu jika kepercayaan dirinya saja sudah semakin surut?

“Daripada kau marah-marah, lebih baik kau bersikap dewasa sekarang. Pulanglah dan ambil alih posisi ayahmu. Tunjukkan pada orang-orang itu bahwa keluarga kita masih memiliki keturunan yang pantas untuk meneruskan usaha keluarga, buktikan bahwa kau bukan anak pemalas yang hanya sibuk meniduri banyak wanita. Tunjukkan juga pada wanita itu bahwa kau memang bukan sekedar anak manja yang bergelimpangan uang hasil kerja keras ayahmu.”

Kyuhyun mengatupkan rahangnya kencang untuk menahan luapan amarah di dadanya, “Lalu apa yang bisa kulakukan kalau aku pulang, hah? Mengambil alih, katamu?” Ia tertawa sinis. “Tidak ada satu pun dari mereka yang percaya padaku, bagaimana mungkin mereka membiarkanku mengambil alih?!”

“Karena kita memegang 70 persen saham, jadi suara kita lebih mendominasi. Kalau aku bisa melakukannya, aku tidak akan menyusulmu ke sini, Kyuhyun-a. Untuk apa juga aku membuang waktuku menjemput anak tidak tahu diri sepertimu, lebih baik aku menjaga suamiku. Tapi faktanya, aku hanya istri kedua dan aku tidak punya kuasa dalam saham kampus—dan kau memiliki kuasa itu. Aku hanya memohon agar kau tidak membuang usaha keras ayahmu, hanya karena kau tidak mau berjuang untuknya.”

“Aku tidak menolak untuk berjuang baginya, Oemoni.” Balas Kyuhyun lebih tenang. “Aku akan terlihat seperti orang yang datang ke medan perang tanpa membawa senjata apapun. Dan Eungi—wanita itu punya nama, oemoni, dan ia berharga untukku—Eungi membutuhkanku. Ia membutuhkanku untuk menghadapi traumanya di kota ini dan aku tidak berhak memaksanya untuk kembali ke Seoul kalau urusannya belum tuntas.”

“Kalau begitu biarkan ia tinggal di sini, kau ikut pulang bersamaku untuk menjenguk ayahmu dan tunjukkan batang hidungmu di depan panel pemegang saham kampus. Setelah urusan itu selesai, kau bisa datang lagi ke sini dan menjemputnya.”

“Tidak semudah itu. Dan aku tidak akan meninggalkannya sendirian di kota yang mengerikan ini. Jika aku pulang, maka Eungi akan ikut pulang bersamaku.” Tegas Kyuhyun.

“Baiklah, kau urus saja hal ini dengannya. Jika memang ia peduli padamu, aku yakin ia akan mengerti dan segera menemanimu pulang untuk mendukungmu. Aku akan naik pesawat paling pagi ke Seoul besok jam 10, aku juga sudah menyiapkan tiket untukmu,” Wanita itu mengambil sebuah tiket dan menggesernya di atas meja ke arah Kyuhyun. “Ajak wanita itu bersamamu, dan jika kau mau aku berlutut memohon agar kau pulang, aku akan melakukannya Kyuhyun-a. Aku akan menelan harga diriku demi ayahmu.” Air mata kembali menetes dari pelupuknya.

Ibu tiri Kyuhyun meninggalkan lobi apartemen, membiarkan Kyuhyun merenung sendirian mengenai diskusi mereka barusan. Kepala pria itu sudah cukup penuh oleh spekulasi dan keraguan dari pengalamnnya hari ini dengan Eungi. Ia sudah cukup merasa seperti seorang pecundang dan hal terakhir yang dibutuhkannya sekarang adalah berita buruk tentang kondisi kesehatan ayahnya. Lebih lengkap lagi, bukan hanya nyawa ayahnya yang terancam, tapi juga seluruh aset dan kerja keras yang diusahakan pria itu seumur hidupnya. Kyuhyun benci karena harus mengakui ibu tirinya benar, ia tidak bisa membiarkan ayahnya kehilangan segalanya hanya karena ketidakmampuan Kyuhyun—ia akan berjuang untuk mempertahankannya.

Sepeninggal ibu tirinya, Kyuhyun kembali teringat alasan utamanya keluar dari kamar apartemen mereka malam ini, ia melanjutkan peredebatan dalam hatinya sambil membeli makan malam untuk mereka berdua. Apakah akan berlebihan jika Kyuhyun meminta Eungi untuk pulang besok? Masalahnya, pria itu telah berjanji akan memberikan sebanyak-banyaknya waktu yang dibutuhkan Eungi, ia takut kekasihnya merasa diburu-buru jika Kyuhyun mengajaknya pulang. Di sisi lain, Kyuhyun yakin Eungi akan setuju pulang bersamanya jika ia tahu alasan sebenarnya. Wanita itu akan mendukung Kyuhyun layaknya Kyuhyun mendukungnya. Dengan pikiran itu, Kyuhyun memutuskan untuk membuka diskusi ini dengan Eungi setibanya di kamar mereka.

Wanita itu terduduk di sofa, kepalanya terkulai ke belakang dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Kedua tangannya masih berada di atas laptop yang terletak di atas pangkuannya. Sepertinya Cha Eungi terlalu lelah dan ketiduran saat mengerjakan sesuatu. Kyuhyun tersenyum pahit, kemudian memindahkan laptop dari pangkuan Eungi sebelum mengangkat tubuh mungil kekasihnya ke atas ranjang, menyelimutinya dan memberikan kecupan selamat malam pada wanita itu. Alih-alih membangunkan Eungi untuk berdiskusi, Kyuhyun memutuskan untuk membatalkan penerbangan pagi besok.  Ia bisa mendiskusikan masalahnya besok pagi ketika Eungi terbangun. Kyuhyun dan Eungi bisa mengambil penerbangan di malam hari saja, dan tidak terjebak dalam satu pesawat yang sama dengan ibu tirinya.

Kyuhyun kembali ke arah sofa, berniat untuk menyimpan pekerjaan Eungi dan mematikan laptopnya. Saat ia menekan space bar, layar laptop langsung menunjukkan draft yang sedang Eungi kerjakan sebelum ia ketiduran, dan ia tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.

Hal yang sampai detik ini masih disesali oleh Cho Kyuhyun—ia membaca draft buku Eungi.

 

“Ini bukanlah kisah cinta, tapi cerita buku ini menceritakan tentang seorang pria hebat yang pernah kucintai selain ayahku sendiri. Cerita ini berfungsi sebagai media bagiku untuk mengingat bahwa aku pernah dicintai dan bertapa mudahnya membalas cinta itu kepada pria yang telah mengorbankan banyak hal untuk hidupku.

Kisah kami dimulai dari pertemuan di sebuah konfrensi, saat itu aku adalah pembicara dan ia kurator seni dari karya-karya yang dipamerkan di seminar yang sama. Aku mengalami masalah dengan slide presentasiku yang hilang dan pria ini datang kepadaku untuk membukakan file yang terkunci, sehingga aku tidak perlu menulis ulang seluruh presentasiku. Pidatoku berjalan dengan baik dan lancar hari itu, dan ia kembali menyapaku setelah aku turun dari podium. Katanya, pidatoku membuka pikiran dan wawasannya, ia juga bergurau bahwa hobinya dengan mobil sport sangat bertolak belakang dengan isi pidatoku sebelumnya—yaitu tentang desain berkelanjutan.

Aku berterima kasih untuk pujiannya, sekaligus bantuanya yang telah menyelamatkan file presentasiku. Alih-alih menerima ucapanku, pria ini justru mengajakku untuk makan malam bersama. Aku terpesona oleh tuturnya yang santun, sikapnya yang sopan dan lembut, tapi yang paling membuatku tidak kuasa menolak ajakannya adalah senyuman di wajahnya yang terpancar sangat tulus.

Kami berbincang banyak saat makan malam, pria ini membuatku merasa seolah telah lama mengenalnya. Obrolan kami mengalir hingga tanpa sadar, kami adalah tamu terakhir yang harus diusir secara halus dari restoran saat itu. Masih terlalu banyak yang ingin kami diskusikan sehingga sebuah taman kecil di Kopenhagen menjadi tempat kami melanjutkan perbincangan yang terpotong. Tidak terasa matahari terbit begitu cepat, akhirnya, dengan sopan ia menawarkan untuk mengantarku ke hotel, agar aku bisa beristirahat.

Sejak saat itu, pria ini selalu ada di sisiku. Bahkan ditengah padatnya jadwal kami, ia akan mengusahakan untuk datang pada seminar-seminarku aku pun akan berusaha untuk datang ke galery tempatnya mengkurasi karya. Akhirnya, kami membuat keputusan besar, kami melepaskan pekerjaan yang mengikat pada suatu tempat dan memutuskan menjadi pekerja freelance, agar waktu kami bersama semakin banyak tanpa terpisah jarak yang cukup jauh—saat itu aku baru menuntaskan studi doktoralku di Kopenhagen, dan ia tinggal di Milan. Rasanya seperti menjalani hidup dalam sebuah petualangan yang mendebarkan, kami pindah dari satu kota ke kota lainnya di Eropa, kami akan berkeliling hanya dengan sepasang koper di bagasi mobilnya. Ia membantuku dengan penelitianku dan aku pun membantu me-review karya-karya yang dikirimkan padanya. Tidak masalah bahwa kami terus berpindah tempat, karena prinsip hidup yang kami pegang adalah: my home is wherever my suitcase is, as long as you’re here with me, I know I’m home.

Layaknya pasangan normal, tentu kami juga bertengkar dan saling menyakiti, namun karena kami hanya memiliki satu sama lain, perdebatan kami biasanya cepat tidak berlangsung lama. Jika ia marah, yang perlu kulakukan adalah memasak makanan favoritnya, jika aku yang merajuk maka pria ini hanya perlu membelikan satu liter es krim ditambah dengan pelukan hangat untuk merayuku.

Kami mengetahui kekurangan satu sama lain, namun lebih memilih untuk melihat hal-hal kecil yang membuat tetap terpesona akan kehadiran masing-masing.

Aku mencintainya, karena sikap jantannya yang bisa menenangkan amarahku, aku mencintainya karena ia selalu mendukungku bahkan dalam keadaan sulitku, aku mencintainya untuk setiap sentuhan lembut yang merefleksikan ketulusan jiwanya, aku mencintainya karena ia hadir dalam hidupku, aku mencintainya untuk keindahan pria ini. Namun dari semua itu, aku paling mencintai hatinya.

Aku menyukai fakta bahwa aku terkadang bisa bersikap sedikit kekanakan jika kami tidak sedang mendiskusikan masalah pekerjaan. Ia juga tipe pria yang terlihat sempurna dalam balutan jas professional tapi juga tidak kalah menarik saat mengenakan piyama. Pria ini juga bisa membuatku merasa nyaman menjadi diriku sendiri yang tergolong anti-sosial, dan ia tidak ragu-ragu menarikku keluar dari sebuah acara jika dilihatnya aku mulai tidak nyaman.

Dari seluruh obrolan kami, ada satu hal yang selalu menjadi mimpi kami bersama, yaitu suatu hari kami akan memilih sebuah tempat untuk ditinggali, tempat yang akan kami jadikan rumah untuk selamanya. Kami mengkhayalkan sehebat apa rumah kami nanti, karena aku yang akan menggambarnya kemudian ia yang akan menghias rumah itu dengan karya-karya menakjubkan yang dilihatnya. Untuk menyempurnakan ambience di rumah masa depan itu, kami juga berencana mengadopsi dua ekor anjing, karena kami memiliki ketertarikan akan dua ras anjing yang berbeda. Kami pun berencana menamakan anjing-anjing itu Sherlock dan Watson.

siwon

Gambar milik Siwon

Orang sekitar kami selalu bilang bahwa aku dan dia adalah pasangan super, karena aku memiliki reputasi baik dalam masalah studi lingkungan dan ia adalah salah seorang kurator yang terkenal di Eropa serta salah seorang yang memegang gelar Doktor dalam ranahnya. Karena alasan itu, banyak yang mengira hubungan kami penuh dengan diskusi berat dan penelitian, padahal nyatanya kami menghabiskan banyak waktu luang utuk bermalas-malasan di depan sofa sambil menonton ulang acara televise favorit kami.

Jika ada waktu luang, kami juga melakukan petualangan keliling Eropa—di mana kami tinggal saat itu—menggunakan mobilnya. Pria ini paham sekali kekhawatiranku akan isu lingkungan, tapi ia berkata “ini satu-satunya hal yang tidak bisa kukalahkan untukmu,” saat ia membicarakan mobil Audi kebanggaannya. Aku belajar menyukai hobinya dan benar saja, pertama kali pria ini mengajakku mengebut di tengah pegunungan Alphen Perancis, mesin V8 itu menjadi guilty pleasure-ku. Aku bahagia, selama bisa menatap wajah kekanakannya yang terlihat nakal saat sedang mengebut, lengkap dengan cengiran lebar yang ia pamerkan untukku.

Sejak pertama bertemu dengannya, aku tahu ia adalah orang yang selalu ingin menolong siapa pun yang kesulitan. Ia seorang lelaki jantan yang akan masuk ke dalam rumah yang kebakaran hanya untuk menyelamatkan anak kucing dan aku tahu ia akan merasa gelisah jika ia belum memberikan usaha terbaiknya untuk menolong orang lain. Dulu aku sangat terkesima dengan nilai heroik yang tertanam dalam dirinya, tidak pernah terpikir olehku bahwa tindakan heroiknya akan berbalik menyerang kami.

Suatu hari dalam rangkaian perjalanan yang tidak direncanakan, kami memutuskan untuk beristirahat di kota terdekat, yang saat itu adalah Paris. Kami sama-sama tertarik dengan keindahan gaya Art Nouveau yang bisa dinikmati pada banyak bangunan di kota itu, jadi kami memutuskan untuk tinggal lebih lama dan berkeliling kota dengan berjalan kaki layaknya turis.

Aku sama sekali tidak tahu bahwa pemberhentian kami di kota ini ternyata telah ia rencanakan dengan matang.

Pada tanggal 13 November 2015, pria ini mengajakku menjelajah dengan kapal turis mengarungi sungai Seine dan setelah tur berakhir, ia menyarankan untuk berpiknik di Champ de Mars, lapangan yang berada di belakang menara Eiffel. Kami berbincang banyak sekali, sepertinya kami tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan. Seluruh obrolan kami mengalir dan saat itu juga aku masih tetap merasa nyaman karena kehadirannya. Lagi-lagi ia membuatku kagum dengan kisahnya tentang lapangan tempat kami duduk, dengan mata berbinar-binar ia menggambarkan bunker-bunker rahasia di bawah lapangan ini digunakan untuk menyimpan karya seni berharga di Musse de Louvre pada masa perang dunia. Pria ini mengalihkan perhatianku dengan cara membicarakan bangunan-bangunan di sekitar kami, dan saat aku lengah, ia memintaku untuk menikahinya.

Kukira ia akan menjadi pria yang berlutut ketika melamar, aku kira ia akan menyiapkan banyak pidato murahan yang isinya tentang seberapa penting diriku dalam hidupnya, tapi ia kembali mengejutkanku. Ia tidak melakukan gestur klasik itu saat mengungkapkan pertanyaan yang penting, nyatanya, kami hanya duduk di atas rumput, dengan wine di tangan kami, tanpa balutan pakaian yang membuat kami sesak napas—sesederhana itu.

Aku ingat setiap detil momen itu, warna bajunya, wine yang kami nikmati, posisi matahari saat ia menyatakan “Eungi-ya, bukankah ini saatnya kita membangun rumah impian kita? Ingat rumah ramah lingkungan yang kau impikan, dilengkapi karya-karya seniman hebat di dalamnya? Lengkap dengan dua ekor anjing kita—Sherlock dan Watson?”

Aku tidak terlalu paham maksud perkataannya saat itu, tapi aku tersenyum karena jelas aku menginginkan rumah impian itu menjadi kenyataan. Ia adalah pria yang ingin kujadikan pendamping hidupku untuk selamanya, dan tanpa ragu, aku akan mengikuti ke mana pun ia melangkah.

“Jika kau tidak keberatan, aku ingin mengajakmu ke petualangan kita selanjutnya. Tapi kali ini kita tidak lagi berpindah dengan koper kita, aku ingin membangun rumah impian itu bersamamu dan jika kau mengizinkan, aku ingin menjadi pria yang mendampingi hidupmu dalam tempat itu.” Ia terdiam beberapa saat, untuk mengumpulkan keberaniannya, “Cha Eungi, maukah kau menikah denganku dan menjadikanku pria yang tumbuh tua bersamamu?”

Aku ingat seberapa bahagia perasaanku saat itu. Aku adalah seorang gadis yang tumbuh sebatang kara, tanpa suport dan wujud keluarga, jadi bayangan untuk membangun sebuah keluarga bersama pria ini jelas membuatku berbunga-bunga. Aku tidak memerlukan waktu lama untuk memberikan jawabanku—ya, aku bersedia.

Tentu saja aku bersedia. Ia adalah pria impianku dan terlebih lagi, ia pria pertama yang pernah kucintai. Aku benar-benar terhipnotis oleh pesonanya sejak hari pertama bertemu dan belum pernah pria ini membuatku bosan sepanjang aku mengenalnya. Ia adalah seseorang yang bisa kuajak bekerja sama untuk membuat rencana besar tapi juga cukup impulsif untuk membuat hidup kami tetap menarik. Momen ketika ia menanyakan pertanyaan keramat itu adalah momen saat aku percaya bahwa hidupku akan indah dan aku tidak akan pernah kesepian lagi, aku tidak perlu takut atau gelisah karena dalam hidupku, telah kudapatkan seorang pria yang tepat untuk menyongsongnya bersama.

Aku masih ingat ia menyelipkan cincin itu dengan tangan yang bergetar, ia mencoba terlihat tenang tapi aku bisa melihat kecemasan dalam sorot matanya—membuatnya terlihat semakin mengangumkan di mataku. Kemudian pria ini menghadiahkanku sebuah ciuman manis, ciuman yang menterjemahkan isi hatinya yang bergejolak bahagia, sebuah ciuman yang pantas dikenang sepanjang masa.

Tuhan mengambilnya dariku beberapa jam kemudian.

Dalam satu hari, aku mendapatkan hari terbaik dan terburuk dalam hidupku sekaligus. Aku sudah lupa berapa kali aku mengutuk pada semesta, mempertanyakan takdirku yang terlihat terlalu kejam, tapi seiring berjalannya waktu aku memutuskan bahwa menuliskan kisah ini adalah cara untuk berdamai dengan kepedihan dan dukaku.

Buku ini bukan cerita cinta, namun aku menulisnya untuk menghormati pria yang sangat kucintai. Pria yang lebih pantas dikenali karena pencapaiannya, bukan sebagai korban dari propaganda keparat dunia, pria yang tidak pernah gagal mebuatku terpesona hingga akhir hayatnya, pria yang berjuang untukku sampai hembusan napas terakhirnya, dan pria yang sempat menyunggingkan senyum manisnya sebelum ia mengucapkan salam perpisahan yang terakhir.

Buku ini untuk Choi Siwon.”

 

Hati Kyuhyun serasa dicabik-cabik oleh bab pembuka buku Eungi. Ia membanting layar laptop dengan kasar, air mata pria itu sudah tidak terbendung lagi. Ia tahu, pria itu memang spesial untuk Eungi, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa tahta Choi Siwon setinggi itu di mata wanita yang dikaguminya. Cara Eungi mencurahkan hatinya untuk mendeskripsikan Siwon membuat Kyuhyun sadar seberapa besar rasa cinta yang masih disimpan wanita itu dan seberapa istimewa hubungan keduanya.

Ia hanyalah seorang pria tidak berguna yang bahkan tidak mampu menafkahi dirinya sendiri tanpa bantuan ayahnya. Sedangkan Siwon benar-benar kebalikan dari dirinya, pria itu memiliki pencapaian, mapan, cerdas, santun, dan tidak memerlukan banyak usaha untuk mencuri hati Eungi.

Dulu Kyuhyun hanya meragukan dirinya, tapi malam itu, ia marah. Akal sehatnya sudah dibuang entah ke mana, dan yang bisa dipikirkannya hanyalah “Eungi tidak akan merindukaku atau merasa kehilangan tanpaku disampingnya, karena aku tidak pernah memberikan impact apapun dalam hidupnya.”

Pria itu kemudian menghapus sisa-sisa air mata yang masih menggantung di pipinya, seberapa besar pun usahanya untuk berhenti menangis, air mata Kyuhyun tetap mengalir kembali. Perasaannya benar-benar hancur, tidak pernah disangka, bahwa saat hatinya dipermainkan dengan polos oleh wanita yang dicintainya ternyata benar-benar menyiksa. Kyuhyun berusaha mengatur napasnya dan tidak mengeluarkan suara bising, agar ia tidak membangunkan tidur lelap Eungi.

Seluruh rangkaian kejadian hari ini terlalu banyak untuk dihadapainya. Ia harus menyaksikan wanita yang dicintainya hancur saat mengenang mediang tunangannya, ia harus mendengar berita buruk tentang ayahnya, harga dirinya baru diinjak-injak oleh ibu tirinya tanpa ia bisa memberikan perlawanan, dan ujian terakhir muncul dalam wujud kenangan tertulis Eungi tentang Siwon.

Kepala Kyuhyun rasanya kosong, ia seperti orang yang sedang sadar namun tidak tahu apa yang dilakukannya. Ia membuka koper hanya untuk mengambil dokumen perjalannya. Saat itu Kyuhyun hanya berpikir bahwa, ia bisa menuntaskan urusannya di Seoul dan kembali pada Eungi keesokan paginya—tanpa mempertimbangkan jarak dan waktu antara Perancis dan Korea Selatan. Kyuhyun mengatur napasnya, menenangkan dirinya sendiri, sebelum ia memberikan kecupan selamat malam sekali lagi untuk Eungi. Kyuhyun berbisik pelan bahwa ia akan menghubungi Eungi besok pagi agar wanita ini tidak khawatir.

Pria itu tidak ingin Eungi menyaksikan dirinya yang sedang kalut. Malam itu, Kyuhyun juga terlalu murka untuk mengingat fakta bahwa ponselnya dicuri beberapa jam sebelumnya, ponselnya hilang beserta seluruh kontak yanga da di dalamnya—termasuk kontak Eungi.

Maka malam itu Kyuhyun pergi, ia membawa dirinya ke bandara, menunggu hingga fajar datang. Ibu tirinya sudah menanti kehadiran Kyuhyun dan pria itu hanya mengikuti langkah nyonya Cho saja, tanpa mau berpikir lebih lama. Ia menjalani semua proses imigrasi hingga akhirnya ia duduk manis di dalam pesawat yang akan membawanya ke Seoul. Baru saat itu, akal sehatnya berputar, ia baru ingat bahwa ia tidak bisa menghubungi Eungi tanpa ponselnya dan ia pun tidak meninggalkan pesan apapun untuk wanita itu. Kyuhyun membayangkan wajah bingung Eungi saat wanita itu terbangun tanpa Kyuhyun di sampingnya dan tiba-tiba saja gambaran Eungi yang kalut karena ditinggalkan tanpa pesan oleh Kyuhyun menghantuinya.

Pramugari baru saja akan menutup pintu pesawat saat Kyuhyun membuat kehebohan, ia ngotot untuk dibiarkan keluar dari pesawat itu sambil terus berkata “Aku melupakan sesuatu, aku harus keluar sekarang.” Akhirnya security bandara mengamankannya, dan akibat ulah anehnya, Kyuhyun harus diiterogasi terlebih dahulu oleh pihak keamanan bandara.

Setelah polisi bandara yakin bahwa ia tidak membawa apapun yang mencurigakan, Kyuhyun akhirnya diizinkan untuk pergi. Ia segera memanggil taxi untuk membawanya kepada Eungi dan tiba di tempat itu lewat tengah hari.

Momen ia menapakkan kaki di kamar mereka, Cho Kyuhyun langsung menyadari bahwa Eungi telah pergi. Tempat itu terlalu sunyi, makanan yang semalam dibelinya masih tak tersentuh dan absennya koper Eungi dari dalam lemari juga menunjukkan wanita itu telah pergi. Tapi yang membuat hatinya pilu adalah kondisi barang-barang Kyuhyun yang sekarang tersebar di lantai kamar. Cha Eungi pasti menghabiskan banyak waktu untuk mencari dokumen penting Kyuhyun sebelum ia menyimpulkan tetang kepergiannya.

 

Kyuhyun masih menatap pada kegelapan malam di depannya, sambil sesekali melirik untuk memeriksa posisi tidur Eungi yang tidak nyaman. Inilah yang dilakukannya belakangan ini, menjadi bayangan wanita itu tanpa Eungi menyadari kehadirannya. Saat Eungi pergi, Kyuhyun mencoba seluruh metode yang ia ketahui untuk mencari jejaknya, sambil juga mempertahankan posisi ayahnya dalam panel kampus untuk sementara di Seoul.

Awalnya Kyuhyun berniat mencari jejak Eungi melalui rekam jejak paspornya, tapi wanita itu tidak penah meninggalkan EU dalam tiga bulan pertama, maka tidak ada rekam jejaknya di pihak imigrasi. Kyuhyun menyewa seorang detektif untuk melacak Eungi dengan cara apapun dan orang sewaannya pun menyerah karena Eungi tidak pernah menggesek kartu kreditnya di mana-mana.

Tiga bulan awal hidupnya tanpa Eungi mungkin saat-saat Kyuhyun berharap ada 48 jam dalam sehari, agar ia sempat mengerjakan seluruh tugas kuliahnya demi kelulusan di tahun mendatang, ia harus mengurus bisnis ayahnya dan ia masih tetap mencari Eungi.

Lega sekali rasanya ketika detektif sewaannya memberi info bahwa Eungi pergi meningalkan kota Wina dan paspornya terekam pada data imigrasi di Edinburgh. Fakta kalau wanita itu masih bernapas sudah membuat Kyuhyun mengucap syukur ribuan kali, tapi pria itu tidak berhenti di situ. Ia segera memesan tiket ke Edinburgh untuk mencari Eungi di kota itu—sayangnya, hingga akhir waktu liburnya, Kyuhyun masih tidak berhasil menemukan wanita dicintainya.

Harapan Kyuhyun untuk menemui Eungi datang lagi ketika detektif sewaannya menelpon Kyuhyun, menginformasikan bahwa wanita yang dicarinya telah kembali ke Seoul. Detektif itu juga sudah memantau rumah Eungi di Mapo-gu dan mengkonfirmasi bahwa lampu rumahnya sudah kembali menyala. Saat itu Kyuhyun sedang sibuk melakukan penelitian tugas akhirnya di Jepang dan baru bisa kembali satu minggu kemudian. Setibanya di Incheon ia langsung meluncur ke rumah Eungi, namun saat bel dibunyikan, wanita itu telah pergi lagi.

Kyuhyun menolak untuk menyerah dan ia kembali mendapat titik cerah saat ia iseng mengetikkan nama Eungi ke dalam search engine, ia menemukan nama wanita itu terdaftar sebagai mahasiswi post-doktoral di TU Delft, Belanda. Pria itu langsung bersorak senang, dalam hati menyelamati pencapaian Eungi yang akhirnya berhasil melaksanakan pendidikan lanjutannya pada kampus lamanya. Lalu Kyuhyun pun mulai membuat rencana hidup baru untuk dirinya sendiri—untuk mendapatkan besiswa S2 di institut yang sama dengan Eungi.

Jadi di sinilah ia sekarang, membuntuti Eungi tiga bulan terakhir tanpa memiliki keberanian untuk menyapa dan menjelaskan duduk salah paham mereka. Nyalinya selalu ciut setiap ia sudah di dekatnya dan seperti pengecut, Kyuhyun akan langsung bersembunyi jika Eungi mulai curiga ada yang mengikutinya.

Bagaimana pun juga, hari ini adalah kasus yang berbeda. Ia membaca sebuah artikel yang menyampaikan acara book-reading Eungi di Paris. Kyuhyun mengutuk kesialan wanita itu dengan kota keramat yang mereka benci, namun ia langsung memesan tiket kereta untuk menyusulnya. Ia harus mendampingi wanita kesayangannya, ia harus siap menjadi sandarannya kalau-kalau Eungi kembali hancur di kota itu, paling tidak, Kyuhyun hanya ingin menunjukkan support moril padanya.

Kisah mereka tidak pernah berakhir baginya, meskipun Kyuhyun tidak merasa ia pantas mendapatkan kesempatan kedua, ia masih berusaha menjaga janjinya—untuk mendampingi Eungi dalam kondisi apapun.

 

 

Advertisements

82 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 19

  1. Eunkyu says:

    Sblumnya udah negative thinking ma kyuhyun, s pi stlah baca part ini trnyata hnya karna miss komunikasi dan keslahpahman yg akhirnya buat mrka trsiksa smpe sgininya

    Liked by 1 person

  2. Aerin says:

    Perlu momentum yang benar-benar pas untuk membereskan kekacauan diantara mereka. Aku yakin itu akan membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama, tapi.. BERJUANGLAH!!

    Liked by 1 person

  3. imgyu says:

    oh-my-god!! Jadi selama ini kyuhyun enggak pergi dan ada dibelakang eungi. Dan kyuhyun pergi malam itu karna kondisi kesehatan ayahnya bukan karena dia mundur T.T

    Liked by 1 person

  4. Vinaly says:

    Owhh, ternyata itu alasannya tohh. Sorry Kyu, uda net’think deluan hihi XD
    Tp tetap aja kan, kau harus mengabari Eungi. Mengingat teknologi skrg uda canggih *ngeless 😛

    Liked by 1 person

  5. Cho Sarang says:

    Walaupun sudah tau alasan kyuhyun pergi aku tetap mengutuk dirinya. Bukankah dia bisa meninggalkan surat untuk eungi bukan malah meninggalkannya begitu saja. Jangan salahkan eungi bila dia berfikiran kalo kau mencampakkannya

    Liked by 1 person

  6. Barom yu says:

    Ya ampunn appa kyu sakit dan semalem kmren nemuin kyu itu eomma tirinya ><
    Dan kyu baca draft itu, jd ciut setelah tau keseluruhan ttg siwon dan dia mau nunjukki kalau dia pantes sm eungi tp??

    Tapi dia sempet gak naik pesawat n nyusul ke apart mereka dan eungi kaburr..
    Aturan tuan cho ninggalin memo jangan asal kabur bae huhuhu 😦
    Jd gak salah paham gini kan -.-

    Figthing deh kyu buat jelasin ke eungi sejelas-jelasnya.. Moga aja dia masih punya rasa cinta yg dalam, yg masih ada buat mu kyu
    Tu kan itu beneran kyu slalu ikutin eungi tp dia pengecut*pantes

    Liked by 1 person

  7. Hanreabin says:

    Gw tarik kata* klw gw benci kyuhyun.hehehheh..
    Ternyata ini toh alasannya dia ningalin eungi ..
    Kasihan juga kyuhyun, tp eunji terlanjut kecewa sm kyuhyun..

    Liked by 1 person

  8. hyokwang says:

    ya ampun ternyata ibunya kyuhyun yg ketemu malem itu… knpa juga kyuhyun g bicara dulu sama eungi, kan kalau gini kyuhyun udah ngelanggar janjinya ke eungi…

    Liked by 1 person

  9. Rinjani says:

    GILAAA INI FF ALURNYAA YA AMPUN IH BIKIN PENASARAN BGT.
    Kebongkar daaah Kyuhyun napa ninggalin Eungi, tp tetep sih masih kesel ke Kyuhyun gak gentle ceritain ini semua ke Eungi, mungkin kalo cerita Eungi bakal nerima.
    And then gilaa itu sumpah yaaa yg untuk opening buku Eungi aku nangis bacanya yg dia cerita tentang Siwon 😭😭
    Ekspetasi Siwon di awal udh “WAW” banget dan di deskripsiin gitu makin aja we gabisa bayangin ih ya ampun pantes kaliyaa Eungi susah move on.
    Eonni fighting!!

    Liked by 1 person

  10. Yoon28 says:

    sekrang paham kenapa kyu plg ke seoul -walau sebenrnya sempet balik jemput eungi tp terlambat-

    Tp tetep, cara dia salah. dia bisa kan kasih tau eungi malam itu jg kl ayahnya sakit dan dia harus plg. Eungi jg pasti ngerti keadannya. Akhirnya malah rumit begini 😢

    Liked by 1 person

  11. ndy6262 says:

    Awalnya aku kecewa sama kyuhyun gara” dia ninggalin eungi gitu aja tanpa sebab
    Ternyata gegara kampusnya toh hahaha
    Aku bingung nge ekspersiin ibu tiri kyuhyun gimana dia itu sebenernya baik tapi penyampaiannya salah? Wkwkw ntahlah

    Liked by 1 person

  12. Zahra says:

    Untung tadi nahan emosi buat ga maki2 kyu-,- karena aku tau kyu ngelakuin itu pasti ada alasannya. Walaupun dihati kesel juga, secara dia cinta bgt sma eungi dan sangat mustahil kalo kyu ninggalin eungi hanya karena eungi belum bisa sembuh dari traumanya.

    Liked by 1 person

  13. Dewi N says:

    Well, ini full dari sisi Kyuhyun.
    Di part sebelum nya gue udah menghujat dia habis habisan 😅😅

    Emosi terkuras habis euyyyy.

    Eonnie, fighting!!!

    Like

  14. dayanaelf says:

    Salam kenal. Aku reader baru,,
    Selalu dan pasti yg bikin takjub itu, pemilihan kata utk bikin ff ini. Pilihan kata nya cerdas bgt, dan sll ngasi wawasan, T.O.P pokoknya,
    Dan jg g ketinggalan alur ff nya ‘ngena’ bgt dihati,
    Bikin mewek wktu baca alesan kyuhyun ninggalin eungi, jd g tega sm si kyu…
    Semoga eungu cpt tau alesan tsb yaa…

    Thanks author,

    Like

  15. sweetrizzu says:

    Bbrp rasa penasaranku terjawab di part ini..
    Uda tau alasan Kyuhyun prg malam itu tapi kok aku ttp ngerasa gak peduli ya sm dia?? Mgkn aku setuju sm yg di blg Eungi, setidaknya Kyuhyun msh punya pilihan lain, gak kyak Siwon… Aku ini tipe yg egois hahaha

    Baca draftnya Eungi bkin aku kangen bneran sm Siwon oppa pgen dia cpt” pulang wamil trus comeback huhu~ T_T

    Liked by 1 person

  16. Afa hyerin says:

    Aku serasa ditampar di part ini.. Kyu.. Alasanmu itu.. Hemmm…. Kamubharus membuat eungi percaya lagi ke kamu kyu… Buat kesedihannya menjadi kebahagiaan.. Ku nggak tega lihat eungi jadi kaya gitu…

    Liked by 1 person

  17. Dyana says:

    Wow, seharusnya aku curiga pas di part sebelumnya kyu bertemu orang yg tidak ingin dia temui, itu ternyata ibu tirinya, dan ceritanya ternyata cukup pelik… Aduhh… Ini karena keduanya sm2 gensi, gak ada yg berani buat melawan egonya untuk memulai lebih dulu, dan mereka malah berakhir terpisah dan saling nyakitin…
    Semoga part selanjutnya ada titik terang… Lanjut

    Liked by 1 person

  18. OngkiAnaknyaHan says:

    karna ini berawal dari kesalahpahaman yg tak berujung , jadinya malah runyam begini
    semoga mereka diberi pencerahan biar bisa bersatu lagi

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s