(Indonesian Version) One Last Shot – Part 18

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Beberapa hari kemudian Eungi baru menyadari bahwa ia memesan tiket kereta ke sebuah kota kecil bernama Hallstat di bagian barat negara Austria sebagai lokasi pilihan untuk melarikan diri dari kenyataan. Keadaan wanita itu tidak lebih baik dari sebelumnya, namun setidaknya ia merasa sedikit lebih tenang di sini, paling tidak tempat ini bukan Paris. Lokasi yang tidak sengaja dipilihnya memiliki pemandangan yang sangat cantik, dengan sebuah danau besar yang dikelilingi rumah-rumah tradisional khas Eropa, jalan-jalan berbatu bata yang sempit juga memberikan kesan perdesaan hangat di tengah kelamnya dunia Eungi sekarang. Ironis, kota ini terlalu indah untuk menyesuaikan atmospher hati Eungi yang hancur berantakan.

Minggu-minggu awal pelariannya mungkin bisa dikatakan sebagai momen perang dilemma terbesar dalam kepala Eungi. Ia bisa saja langsung memesan tiket pulang ke Seoul, melabrak Kyuhyun serta menuntut penjelasan pada pria itu, kemudian mengizinkan pria itu menghancurkan hatinya lebih parah lagi.

Tapi ia takut.

Eungi takut pria itu bahkan tidak sudi untuk melihatnya, ia cukup mengenal karakter Kyuhyun yang bisa berubah menjadi sangat dingin pada wanita-wanita yang masih ngotot mengejarnya—Eungi benar-benar tidak siap menerima kenyataan yang lebih pahit dari sekarang seandainya Kyuhyun menghiraukannya seperti itu.

Di sisi lain, wanita itu berharap Kyuhyun mencarinya. Ia tahu keahlian terpendam yang dimiliki pria itu dalam hal meretas data, Eungi berharap Kyuhyun bisa menemukannya di tempat ini menggunakan bakat kotornya itu. Meskipun pada kenyataannya, Eungi telah menutupi jejak pelariannya dengan sangat sempurna. Ia mencegah penggunaan kartu kredit dan hanya bergantung pada sejumlah uang cash yang disimpannya agar keberadaannya tidak bisa diretas. Dilemma. Ia ingin Kyuhyun mencarinya namun pada saat bersamaan ia tidak ingin ditemukan siapa pun.

Tentu saja skenario itu hanya akan berhasil jika Kyuhyun memang mencarinya—sesuatu yang semakin hari, semakin diragukan oleh Eungi.

Seminggu setelah tiba di Halstatt, Eungi memutuskan untuk mencari apartemen rental yang bisa digunakannya dalam tiga bulan ke depan, ia berniat menghabiskan seluruh sisa izin tinggalnya di EU, melarikan diri dari sumber masalahnya dan bersembunyi saja di kota kecil ini, karena ia masih terlalu pengecut untuk kembali ke Seoul.

Wanita itu juga tidak henti memeriksa ponselnya, menanti sebuah telepon yang ia tahu tidak akan pernah datang. Lalu saat ia sudah mulai putus asa, Eungi membungkus seluruh barang-barangnya ke dalam koper untuk kembali ke Seoul—dan lagi-lagi nyalinya ciut begitu ia siap memesan tiket pulang. Sisa-sisa harga diri dalam Eungi menuntut agar wanita itu tidak merendahkan dirinya untuk mengejar Kyuhyun—karena pria itu memilih meningalkannya, itu sudah cukup menyampaikan keputusan dan perasaan Kyuhyun kepadanya.

Hari-hari Eungi pun berjalan konstan. Setiap pagi ia akan terbangun dengan segudang kebencian pada Kyuhyun, ia bisa membuat daftar kalimat apa saja yang akan ia lontarkan pada pria itu seandainya mereka bertemu lagi suatu hari. Namun saat kegelapan malam tiba, Eungi akan mulai menangis kembali karena ia merindukan Kyuhyun, Eungi akan mencari pembenaran untuk memaafkan sikap Kyuhyun, ia akan mulai menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada pria itu, ia akan menyesali waktu yang ia sia-siakan untuk tidak mengabdikan diri pada Kyuhyun selayaknya pria itu menyerahkan seluruh cintanya pada Eungi. Biasanya pada malam-malam ini, Eungi akan memilih untuk tidur sambil mengenakan kaos Kyuhyun yang tidak sengaja terbawa olehnya, sekedar untuk menghirup sisa-sisa kehadiran pria itu yang masih bisa dinikmatinya.

Bulan pertama adalah masa di mana Eungi sepenuhnya menyerahkan kewarasan akalnya pada alcohol, ia melupakan seluruh proyek penelitiannya, melupakan proyek bukunya, bahkan ambisinya untuk kuliah lagi. Ia hanya menggantungkan hidupnya pada botol-botol wine di dalam apartemen. Saat itu Eungi nyaris tidak lagi mampu membedakan antara siang dan malam, ia menutup gordennya seharian untuk mengunci diri dalam kegelapan, menu sarapan wanita itu akan selalu melibatkan Vodka dan ia akan tertidur dengan sebotol wine di tangannya.

Wanita itu benar-benar tidak peduli akan dirinya, ia merasa seperti orang sekarat yang dibunuh perlahan dan bohong sekali kalau Eungi menyangkal pikiran-pikiran buruk untuk mengakhiri hidupnya tidak pernah terlintas—jika bukan karena hutang morilnya pada Siwon, Eungi pasti sudah menghabisi nyawanya sendiri.

Wanita itu juga bisa tiba-tiba menangis dan meraung sejadi-jadinya hanya karena mengingat Kyuhyun. Eungi merindukan pria itu, ia sangat merindukan keberadaan Kyuhyun dan ketidakmampuannya untuk menggapai pria itu membuatnya semakin sengsara. Ia tidak bisa menyalahkan Kyuhyun sepenuhnya, ia pun memiliki andil yang besar dalam kasus hilangnya Kyuhyun dari hidupnya.

Eungi sadar seberapa besar usaha pria itu untuk berubah dan menyesuaikan diri ke dalam hubungan serius mereka, ia paham Kyuhyun selalu mencoba memberikan Eungi yang terbaik ketika hati Eungi masih terbagi di antara dua pria. Dan satu hal yang membuat Eungi selalu takut untuk menyusul Kyuhyun ke Seoul adalah—ia tahu, bahwa Kyuhyun memiliki alasan yang kuat dan tepat untuk mencampakkannya.

Tapi Eungi juga berusaha. Eungi ingin Kyuhyun tahu bahwa ia juga berusaha. Wanita itu mencoba membayangkan masa depan mereka bersama dan ia benar-benar jatuh cinta pada pria itu dalam perjalan mengobati lukanya.

Selain kesedihan yang merudungi hatinya, Eungi juga marah. Marah karena ia terlalu lemah untuk melawan serbuan kenangannya dengan Siwon, marah karena ia terbuai dengan kenyamanan yang diberikan Kyuhyun, marah karena Kyuhyun tidak bertahan sedikit lebih lama di sisinya. Tapi ia paling marah pada dirinya sendiri, karena meskipun pria itu telah mencampakkannya, ia masih merindukan dan mencintai Kyuhyun..

Orang waras mana yang masih mau mengenang pria yang sudah mematahkan hatinya? Kalau Eungi masih normal, ia seharusnya sudah melupakan Kyuhyun, bukannya justru mengenang setiap momen manis mereka dalam benaknya. Seharusnya ia sudah menghapus seluruh foto-foto mereka, tapi wanita itu tidak pernah bisa melakukannya. Foto-foto itu adalah bukti nyata bahwa Kyuhyun pernah ada dalam hidupnya, bahwa Kyuhyun pernah mencintainya dan Eungi akan menyimpan semua itu sampai akhir hayatnya.

Selain itu Eungi pun masih berharap Kyuhyun akan memberikannya penjelasan sebelum benar-benar mengakhiri hubungan mereka, ia ingin percaya pada Kyuhyun yang dikenalnya sebagai pria lembut yang terjebak dengan stereotip jelek, dan ia percaya Kyuhyun masih punya hati nurani untuk memberikan penjelasan.

Pada bulan kedua, Eungi memasuki stage denial. Wanita itu akan mencari alasan untuk menyemangati dirinya sendiri, melantur kepada bayangannya di cermin sambil berkata kalau ia tidak membutuhkan siapa-siapa dalam hidupnya untuk membuat dirinya bahagia. Ia mengurangi konsumsi alkohol hariannya dan mulai menghabiskan waktunya untuk menonton sitcom lama. Ia menikmati metode ini sebagai cara untuk menangis dan tertawa tanpa harus terlihat seperti orang yang menyedihkan.

Bulan ketiga merupakan waktu ketika Eungi mengumpulkan keberanian untuk mencari tahu tentang pria yang telah mencampakkannya. Dengan sisa-sisa akses ke dalam portal kampus yang masih dimilikinya, Eungi memeriksa apakah Kyuhyun terdaftar pada kelas-kelas di semester yang tengah berlangsung sekarang, ia juga memeriksa jumlah beban SKS yang diambilnya serta memantau apakah pria itu datang ke seluruh kelasnya—agar ia bisa mendapatkan gelar sarjana dengan segera, seperti janjinya pada Eungi. Rasa campur aduk menguasai hati Eungi saat disadarinya Kyuhyun menepati janji untuk berkomitmen mengejar kelulusannya. Pria itu bahkan belum pernah tercatat membolos pada satu mata kuliah pun sejak semester baru dimulai.

Jadi Kyuhyun telah menjalani hidupnya dengan normal seperti sedia kala, seperti saat sebelum Eungi muncul di dalam hidupnya. Dari pikiran sederhana itu, hati Eungi kembali merintih dan wanita itu segera mencari kenyamanan pada efek alkohol yang mengebalkan rasa pilunya.

Izin tinggal Eungi di EU habis pada bulan keempat dan ia memiliki dua pilihan: kembali ke Korea Selatan untuk menghadapi ketakutannya, atau pergi ke negara lain di luar wilayah EU untuk memperpanjang izin tinggalnya—Eungi yang pengecut memilih pilihan kedua.

Ia membereskan seluruh barangnya dan memesan tiket sekali jalan ke Edinburgh, UK. Lagi-lagi pilihan kota yang salah, Edinburgh adalah sebuah kota kuno yang memiliki kesan medival dan romantisme yang kuat. Curah hujan di kota ini juga cukup tinggi, menciptakan suasana musim dingin yang berkabut dan justru membuat Eungi semakin berharap ada sosok Kyuhyun di sampingnya untuk dipeluk. Yang terlintas dalam benak wanita itu setiap kali ia berjalan ke luar apartemen sewaannya adalah: ia harus mengajak Kyuhyun ke tempat ini dan Hallstatt suatu hari nanti, menunjukkan indahnya kota-kota lain untuk mereka jelajahi bersama—kemudian ia akan tersadar dan menelan getirnya kenyataan bahwa agenda itu tidak akan pernah terjadi.

Bulan Desember tiba dan ia harus merayakan Natal sendirian—seperti yang sudah-sudah—di sebuah kota asing yang terlihat terlalu cantik saat salju menumpuk di jalan-jalan kecil berbatunya. Saat kebanyakan orang menghabiskan malam Natal di dalam rumah mereka yang hangat, bersama dengan orang-orang terkasih, Eungi justru memilih untuk berjalan-jalan sendirian di daerah Old Town untuk mengunjungi gereja berpintu merah yang terletak di dekat kastil Edinburgh, sekedar untuk mencari ketenangan. Sepulangnya dari gereja di malam Natal itu, Eungi memutuskan untuk pergi ke pub bawah apartemen sewaannya untuk meneguk Whiskey sebanyak yang ia mau sebelum menyeret langkahnya sendiri kembali ke kamarnya di tengah malam.

Enam bulan setelah Kyuhyun meninggalkannya merupakan batas waktu Eungi berhenti merasa terpuruk, ia bersumpah pada bayangan dirinya di cermin untuk memulai lembaran baru hidupnya. Fokus Eungi mulai kembali pada buku serta penelitiannya. Wanita itu berkeliling Edinburgh untuk mencari penerbit yang bersedia menerbitkan buku tetang terorisme yang digarapnya. Akhirnya, wanita itu kembali menemukan tujuan hidup baru setelah sebuah penerbit ternama di Edinburgh setuju untuk bekerja sama dengannya, perjanjian ini menuntut Eungi untuk kembali merapikan draft bukunya—yang sudah tidak pernah ia sentuh sejak malam Kyuhyun meninggalkannya.

Tahun baru ini juga sebuah momen kebangkitan bagi Eungi, karena akhirnya profesor yang sudah dianggap seperti ayahnya sendiri menghubungi Eungi, menawarkan posisi post-doktoral di kampus Eungi yang dulu. Dengan sopan Eungi memohon untuk diberi perpanjangan waktu, karena ia sedang dalam masa sabatikal dan profesornya dengan senang hati menunggu Eungi untuk kembali bergabung dengan penelitiannya di Delft, Belanda pada awal musim panas nanti—Agustus 2017.

Tekad Eungi untuk tetap tegar goyah saat lembaran kalender berubah menjadi bulan Februari, ia menyadari angka 3 yang dilingkari di kalendernya. Hari itu Kyuhyun berulang tahun dan seluruh benteng pertahanan Eungi lagi-lagi runtuh kerena kerinduannya akan pria itu kembali tidak terbendung. Eungi semakin benci pada dirinya sendiri, karena masih saja mengharapkan keajaiban yang tidak mungkin terjadi—yaitu Kyuhyun akan mencari keberadaannya dan datang menjemput Eungi. Wanita itu juga masih menyimpan seluruh foto kenangan mereka bersama dalam satu folder khusus di laptopnya, foto yang selalu melibatkan tangisan sedih setiap kali ia melihatnya. Eungi pernah mencintai seseorang sebelumnya, dan pria itu meninggal saat melindunginya. Kali keduanya mengalami perasaan jatuh cinta adalah bonus yang tidak pernah ia duga. Kyuhyun mungkin pria yang paling kejam dalam hidupnya, tapi fakta itu tidak merubah perasaaan Eungi padanya sedikit pun, ia masih tetap mencintai Kyuhyun seperti dulu—cinta yang tidak pernah sempat ia ungkapkan pada pria itu.

Ulang tahun Eungi datang di bulan berikutnya pada bulan ke-delapan dalam masa pelarian Eungi. Ia merayakannya dengan sederhana seperti cara ayahnya sejak dulu melakukan perayaan ulang tahunnya, dengan sebuah muffin coklat yang dilengkapi sebuah lilin kecil di atasnya. Dulu, hanya kue itu yang mampu dibeli ayahnya untuk merayakan ulang tahun Eungi dan meskipun kini Eungi tidak memiliki kesulitan keuangan, ia masih memilih merayakannya dengan cara lama untuk mengenang ayahnya.

Eungi keluar dari apartemen sewaannya dan memberli sebuah muffin coklat di toko roti favoritnya di Edinburgh, kemudian segera kembali pulang. Wanita itu menyalakan lilinnya, menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada dirinya sendiri dengan lirih dan terakhir, ia menutup matanya rapat-rapat untuk membisikkan harapannya—ia meminta kekuatan untuk melawan rasa kesepiannya, menminta kelapangan hati untuk memaafkan Kyuhyun, meminta akan kesempatan kedua dengan pria yang dicintainya, dan terakhir jika memang kisahnya dan Kyuhyun harus berakhir, Eungi berharap mendapatkan penjelasan dari pria itu suatu hari nanti.

Langkah hidupnya mulai tertata kembali pada bulan ke-sembilan setelah ia ditinggalkan. Eungi berhasil menyatukan seluruh draft bukunya dan wanita itu mulai kembali mendatangi perpustakaan lokal untuk mencari referensi dan sekedar menghabiskan waktu dengan cara yang lebih bermanfaat. Eungi pun mempersiapkan mentalnya untuk kembali ke Korea Selatan—hanya untuk mengambil surat-surat penting yang dibutuhkan untuk kepentingan mengurus visa belajar dan mengambil ijazah-ijazahnya yang masih ada di Seoul.

Izin tinggalnya di UK habis pada bulan May 2017 dan dengan berat hati akhirnya wanita itu kembali ke Seoul. Ia tinggal selama dua minggu untuk urusan dokumen izin tinggal di Belanda dan selama itu pula ia selalu gelisah kalau-kalau ia berpapasan dengan Kyuhyun. Sebenarnya Eungi tahu, ia bisa menghampiri pria itu di apartemennya, atau menghampirinya di café tempat pria itu biasa menghabiskan waktu jika ingin pertemuan mereka terkesan seperti ‘kebetulan’ belaka, bahkan wanita itu masih bisa memantau perkembangan studi Kyuhyun melalui website portal kampus yang aksesnya masih ia miliki. Satu-satunya alasan yang menahan langkah Eungi untuk melakukan itu hanya karena ia tidak siap dengan penolakan dingin Kyuhyun nanti, sementara ia sendiri masih berusaha menyatukan kepingan hatinya yang masih hancur.

Eungi menghabiskan dua minggunya di Seoul dengan memandang kosong ke jendela rumahnya yang menghadap jalanan setiap malam, berharap Kyuhyun akan melewati depan rumahnya dan segera membunyikan bel untuk menemui Eungi. Tapi pria itu tidak pernah kelihatan batang hidungnya dan untuk kesekian kalinya, Eungi dikecewakan kembali oleh ekspektasinya yang berlebihan. Wanita itu belum mampu move on dari Kyuhyun, dan ia benci fakta itu. Kalau menuruti logika, untuk apa Eungi mengharapkan kehadiran seseorang yang sudah dengan keji meninggalkannya di negara asing seorang diri? Faktanya, melupakan kenangannya dengan Kyuhyun ternyata jauh lebih sulit ketimbang melupakan kenanganya dengan Siwon. Paling tidak, saat Siwon meninggalkannya, Eungi memang tidak butuh penjelasan apapun, berlawanan sekali dengan kondisinya bersama Kyuhyun.

Sebelas bulan setelah pria itu pergi, akhirnya Eungi sudah cukup sibuk untuk mulai bisa menyingkirkan pikirannya tentang Kyuhyun. Pada masa ini, ia terlalu sibuk bolak-balik antara Edinburgh dan Delft untuk membenahi urusan penulisan bukunya sekaligus menyempurnakan proposal post-doktoral yang sedang diajukannya. Akhirnya Eungi kembali bertemu dengan kawan-kawan lamanya di Belanda dan beban mentalnya sedikit berkurang karena ia tidak lagi merasa sebatang kara.

Genap setahun dari momen Kyuhyun mencampakkannya di Paris, Eungi berharap agar ia bisa benar-benar melupakan pria itu, meskipun tingkat keberhasilan Eungi untuk move on bisa dibilang nol besar. Wanita itu masih peduli, ia masih mencintainya dan juga masih ingin tahu hal-hal kecil tentang pria itu. Apakah Kyuhyun sudah mendapatkan kekasih baru sekarang? Berapa banyak wanita yang ia tiduri setelah Eungi? Apa pria itu pernah menyesal karena meninggalkannya? Pernahkan Kyuhyun mencari Eungi, sekali saja? Apakah pria itu sudah lulus sesuai janjinya?

Setidaknya satu dari sekian banyak pertanyaan Eungi terjawab saat ia memeriksa portal kampus Kyuhyun di Korea. Mata Eungi berbinar-binar bahagia karena terharu dan bangga saat melihat nama pria yang masih dicintainya itu terpampang dalam daftar wisudawan di musim panas tahun 2017. Eungi menghela napas lega, karena setidaknya pria itu masih bisa menjaga janjinya pada dirinya sendiri—untuk lulus dalam kurun waktu satu tahun.

Setelah lewat dari satu tahun, Eungi belajar untuk menerima kenyataan bahwa ia memang dicampakkan. Kadang wanita itu berhalusinasi, ia merasa seperti melihat sosok Kyuhyun di dalam kampusnya di Delft—yang kemungkinan besar memang mustahil. Kadang ia merasa seperti diikuti seseorang, tapi ketika Eungi berhenti untuk memeriksa keadaan sekitar, ia tidak pernah menemukan orang yang mencurigakan.

Bahkan suatu hari, Eungi pernah bermabuk-mabukan total sembari menghisap marijuana bersama kawan-kawannya di Amsterdam hingga ia tidak ingat bagaimana caranya bisa pulang ke Delft yang jaraknya dua jam perjalan kereta—dan Eungi bersumpah bahwa yang membawanya pulang malam itu adalah Kyuhyun. Bagaimana pun juga, ia terlalu mabuk untuk percaya pada kesaksiannya sendiri, maka Eungi hanya menganggap semua itu ilusi semata. Ilusi itu dijadikan Eungi sebagai tembok pertahanannya untuk menangkis rasa sedih yang masih terus datang setiap kali ia merindukan Kyuhyun.

Lalu pada bulan November di tahun itu, buku Eungi akhirnya terbit. Penerbit Eungi di Edinburgh ingin membuat peluncuran bukunya menjadi sebih sentimental dan dramatis, dan menetapkan untuk meluncurkan bukunya tepat dua tahun setelah peristiwa naas itu terjadi. Eungi pun harus rela melakukan book-reading di tempat yang paling dihindarinya—Paris.

 

*

 

13 November 2017

Dua tahun sudah berlalu sejak tragedy tragis yang merenggut Siwon dari Eungi. Untuk mengenang kejadian itu, Eungi sekarang akan melakukan book-reading sekaligus peluncuran perdana bukunya di kota lokasi kejadian itu berlangsung. Takdir wanita itu sepertinya masih terus terseret-seret di seputar lingkaran setan kota ini yang baginya lebih nampak seperti humor semesta yang tidak lucu, padahal ia telah ratusan kali bersumpah untuk tidak menginjakkan kaki kembali ke Paris.

Eungi diantarkan oleh mobil yang diakomodasi oleh penerbitnya untuk melakukan book-reading di sebuah toko buku tua bernama ‘Shakespeare & Company’, merupakan salah satu toko buku yang menjual buku-buku terbitan berbahasa Inggris.  Mata Eungi sekilas mengagumi Notre Dame yang terlintas, mengindikasikan ia akan segera tiba pada tempat tujuannya. Mobil yang dinaikinya berbelok menyebrangi sungai Seine yang terkesan suram pada pagi musim dingin, berbelok ke kanan dan berhenti di depan sebuah bangunan bercat hijau dengan judul toko yang ditulis dengan warna kuning keemasan.

Awalnya penerbit Eungi menyarankan agar event ini dilaksanakan selama dua hari, tapi wanita itu langsung menolak mentah-mentah permintaan mereka—satu hari sudah cukup baginya untuk menghirup udara kota ini lagi. Eungi memaksa asisten yang dikirim untuknya dari Edinburgh untuk memesankan tiket kereta kembali ke Belanda pada hari yang sama, dan juga meminta mereka untuk tidak repot-repot memesankan hotel dan akomodasi lainnya karena ia tidak berniat membuang waktu di Paris.

Saat acara book-reading dimulai, Eungi sebenarnya takjub karena jumlah orang yang hadir melebihi ekspektasinya. Jelas saja ia heran, Eungi tidak pernah menyangkan bahwa buku memoar ini akan diminati banyak orang, apalagi karena ia menuliskannya dari sudut pandang orang pertama yang berhasil lolos dari maut di saat itu.

Eungi menghabiskan nyaris setengah hari untuk membacakan isi bukunya, dari satu bab ke bab lain, kembali menenggelamkan diri ke dalam peristiwa yang terjadi dua tahun silam. Isak tangisnya lolos ketika ia membacakan bagian tentang pembantaian sadis, begitu pula isak tangis mereka yang datang untuk mendengarkan kisahnya. Cha Eungi telah berhasil menggugah hati mereka yang datang hari itu, karena meskipun harus melalui trauma yang mendalam, wanita itu berhasil bangkit dari kesedihan dan keterpurukannya—bahkan sanggup menjadi orang yang lebih hebat dari sebelumnya.

Sesi tanya-jawab dilakukan setelah Eungi selesai membacakan bukunya, beberapa pembaca berebut untuk bertanya dan berinteraksi langsung dengannya. Salah seorang wanita paruh baya bangkit dari duduknya, bertanya dengan lirih apakah ia boleh memberi Eungi sebuah pelukan sekedar untuk menyemangati Eungi, untuk menyampaikan dengan cara yang paling nyata bahwa Eungi tidak harus menanggung kepedihannya seorang diri. Dengan senang hati Eungi menerima pelukan wanita itu, ia pun mengizinkan kerapuhan dirinya mengambil alih saat ia kembali terisak di pundak wanita yang memeluknya.

Pertanyaan berikutnya muncul dari seorang kakek, dengan suara parau pria itu bertanya bagaimana Eungi sanggup melanjutkan hidupnya seperti ini? Karena tragedi itu juga telah memakan nyawa anaknya dan kini si kakek kesulitan untuk menjalankan hidupnya tanpa merasa terpuruk. Eungi menghampiri sang kakek, memeluk pria gemuk itu dengan erat dan ikut menangisi kepedihan mereka. Ia berbisik pada sang kakek, bahwa kekuatan yang diperolehnya untuk melanjutkan hidup datang dari orang yang sangat spesial, orang yang selalu berdiri menjaga Eungi di sisinya. Eungi pun meminta agar sang kakek belajar untuk menerima kepedihannya, agar ia kembali bisa melihat dunia dengan sudut padang yang lebih cerah, agar kematian orang-orang terkasih mereka tidak sia-sia.

Ketika sesi tanya-jawab selesain, pembaca Eungi mulai mengantri untuk mendapatkan buku Eungi yang ditandatangani olehnya. Sepanjang acara, wanita itu telah menerima banyak sekali perlakuan hangat dari pembacanya, mereka menyemangati Eungi untuk terus berjuang, untuk tetap bahagia, karena momen saat para korban mulai terpuruk dalam kepedihan mereka, adalah momen saat teroris-teroris itu menang.

Antrian semakin pendek seiring matahari yang mulai terbenam. Asisten penerbit Eungi di sampingnya terus mengawasi jumlah orang-orang yang masih tersisa di antrian sambil menulis jumlah penjualan buku Eungi di hari pertama peluncurannya.

“Tinggal dua orang lagi, setelah ini kau bisa makan malam di Ritz kemudian pulang ke Belanda.” Ujar asistennya sambil melihat jam tangannya.

Eungi tersenyum dan berbisik pada pria Skotland itu, bahwa ia tidak tertarik untuk tinggal lebih lama lagi dan meminta untuk mengantarkannya langsung ke Gare du Noord saja untuk mengejar keretanya. Perhatian Eungi kembali pada pembaca di depannya, dengan sopan ia menanyakan nama orang itu, menulisnya di halaman depan bukunya, dan mengucapkan terima kasih. Lalu ia menyapa pembeli terakhir bukunya di malam itu.

Seketika jantung Eungi rasanya meluncur bebas ke bawah rongga perutnya saat ia mengenali sosok yang selama ini dirindukannya.

 

*

 

Tidak banyak yang berubah dari penampilan pria itu, ia masih tetap karismatik seperti yang Eungi ingat, sorot matanya masih tajam dan menusuk seolah ia mampu menilik ke dalam pikiran Eungi, wajah tampannya masih tetap sama meskipun tersamarkan oleh ekspresi yang terlalu suram, aroma menenangkan yang selalu dirindukan Eungi juga sukses membuat wanita itu tercekat. Ia telah memimpikan momen ini selama setahun penuh—momen saat ia bertemu kembali dengan Cho Kyuhyun. Eungi memainkan scene ini ribuan kali dalam khayalannya dan ia selalu punya beberapa alternatif reaksi untuk diberikan pada Kyuhyun.

Dalam salah satu imajinasinya, Eungi membayangkan bahwa ia akan bersikap tenang saat bertemu dengan pria itu. Ia akan melenggang santai seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka, seolah Kyuhyun tidak pernah mematahkan hati Eungi. Dalam pertemuan versi pertama ini, Eungi membayangkan Kyuhyun akan mengejarnya sampai ia berkesempatan untuk menjelaskan alasan kepergiannya—kemudian Eungi akan bilang kalau ia tidak tertarik mendengar penjelasan apapun dari Kyuhyun.

Versi lainnya yang pernah terlintas dalam khayalan Eungi mewakilkan kerinduan wanita itu padanya. Dalam versi ini, Eungi menempatkan dirinya sebagai wanita romatis bodoh yang akan langsung menghambur ke dalam pelukan Kyuhyun—melupakan seluruh kesakitan yang pria itu tanamkan dalam dirinya dan tanpa berpikir panjang menerima Kyuhyun kembali ke dalam hidupnya.

Mimpi siang-bolong ke-tiga yang ada di kepala Eungi adalah versi yang lebih emosional. Ia membayangkan Kyuhyun akan berlutut di hadapannya, memohon pengampunan Eungi sembari ia menjelaskan alasan yang membuatnya pergi dari Eungi, kemudian Eungi akan memaafkan dan menerimanya kembali dalam hitungan detik.

Masih banyak eisode-episode reuni pertemuan mereka yang pernah terlintas dalam khayalan Eungi, tapi reaksinya hari ini tidak ada yang mendekati seluruh imajinasi liarnya.

Kenyataannya, Eungi sekarang dengan tenang mencoba mengatur debaran jantungnya sendiri, dengan sopan ia berbisik pada asisten di sampingnya, menanyakan apakah pria di hadapannya nyata atau ilusinya lagi. Eungi sudah terlalu banyak berhalusinasi akan kehadiran pria itu di sekitarnya akhir-akhir ini sehingga ia membutuhkan konfirmasi dari orang yang masih memiliki akal sehat. Asisten Eungi mengangguk sambil menyikut lengan Eungi pelan, menyuruh Eungi untuk melanjutkan kegiatan menandatangani buku untuk pengunjung terakhir di malam itu.

Eungi mengambil buku dari tangan Kyuhyun dan menandatanganinya dengan santai. Sesungguhnya tangannya sekarang sudah sebeku batu es, napasnya putus-putus karena tegang dan jantungnya siap melompat dari rongga dadanya kapan pun, tapi hebatnya, ekspresi wanita itu tetap datar. Hanya pupil mata yang membesar saja yang mengindikasikan kerisauan hatinya sekarang.

“Terima kasih karena telah hadir, sir. Ini adalah sesi terakhir dari acara kami.” Asisten Eungi bicara dengan nada diplomatis. Pria Skotland itu memandang heran pada penulisnya yang sekarang sedang melamun. “Miss Eungi, acara kita sudah selesai hari ini, mari kuantar ke stasiun. Kau yakin tidak mau makan malam dulu di Ritz? Kami sudah memesan satu meja untukmu.” Ia lanjut berbicara pada Eungi yang masih tertegun di sampingnya.

Akhirnya Eungi bangkit dari duduknya setelah sang asisten menepuk bahunya sambil membawa tas Eungi bersamanya, pria itu heran apa yang salah dengan penulisnya. Kalau Eungi diibaratkan sebuah mainan, ia berhenti berfungsi dengan tiba-tiba sekarang tanpa alasan yang jelas setelah melihat pria yang masih berdiri di hadapannya.

Kyuhyun masih terpaku berdiri di tempatnya, ia pun juga telah memimpikan tentang hari ini, hari di mana ia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk muncul di hadapan Eungi. Tapi apa yang terjadi sekarang jauh dari perkiraannya. Kyuhyun selalu mempersiapkan diri untuk menerima amarah Eungi, ia siap dengan berbagai caci-maki dan kemurkaan yang sanggup dituangkan wanita itu. Namun reaksi tenang Eungi yang diterimanya justru membuat Kyuhyun semakin bingung, karena ia malah tidak siap jika Eungi setenang ini.

Wanita itu sudah berjalan mengikuti langkah asistennya menuju pintu depan toko. Akal sehat Kyuhyun kembali dan ia segera mempercepat langkah untuk menggapai Eungi, ia tidak tahu siapa pria Skotland di samping Eungi, tapi Kyuhyun yakin Eungi tidak memiliki hubungan khusus dengannya, dengan pikiran itu, Kyuhyun memberanikan diri untuk meraih lengan Eungi untuk membalikkan tubuh wanita itu agar menghapnya.

Eungi berputar sesuai keinginan Kyuhyun, wanita itu masih berusaha mempertahankan sikap cool-nya meskipun tangannya yang bergetar hebat dalam genggaman Kyuhyun tidak terlalu membantu aktingnya.

Miss Eungi, shall we?” Asisten Eungi menunjuk pada mobil yang sudah siap membawa Eungi ke stasiun.

Bibir Kyuhyun bergetar, pria itu berusaha keras mencari kata-kata untuk diutarakan pada Eungi tanpa membuat dirinya semakin terdengar seperti pria brengsek.

Eungi menyingkirkan tangan Kyuhyun yang menggenggamnya secara perlahan kemudian mengambil langkahnya untuk mendekati mobil yang masih menunggunya.

“Noona, kumohon jangan pergi.” Akhirnya pria itu bicara, mengutarakan kata-kata yang sangat ingin diucapkannya sejak lama.

Eungi memilih untuk mengacuhkan Kyuhyun dan tetap melangkah mengikuti asistennya.

Kyuhyun mempercepat langkahnya, menghalangi jalan Eungi menuju mobil dan mengejutkan dirinya sendiri ketika ia spontan berlutut di hadapan Eungi.

“Aku salah, noona.” Kyuhyun menggenggam buku Eungi di tangannya semakin erat untuk menahan air mata yang siap tumpah dari pelupuknya. “Aku tahu tindakanku keterlaluan saat aku pergi meninggalkanmu pagi itu, tapi aku bersumpah, aku kembali untukmu. Aku kembali selepas tengah hari dan kau sudah tidak di apartemen kita. Aku tidak pernah naik pesawat itu noona, aku kembali untuk menjemputmu pulang bersamaku, kumohon percayalah padaku. Jika kau tidak bisa memaafkanku, paling tidak percayalah kata-kataku.”

Wanita itu mengerahkan segenap tekadnya untuk tidak menitikkan air mata di depan Kyuhyun. Dulu ia selalu siap untuk memaki pria ini, menumpahkan kekecewaannya, baru kemudian memaafkannya. Tapi amarahnya justru meluap sekarang karena pernyataan yang baru keluar dari mulut Kyuhyun. Fakta bahwa pria itu kembali untuknya tidak membuat keadaan lebih baik—karena itu hanya mengkonfirmasi niatan awal Kyuhyun untuk meninggalkannya.

18

gambar milik Park Seul

Eungi menarik napas dalam dan kembali melangkah, melewati tubuh Kyuhyun yang masih berlutut. Ketika ia tiba di samping mobil yang siap membawanya, Eungi berbalik untuk menatap mata Kyuhyun yang masih mengikuti gerakannya. Wanita itu menilik langsung ke dalam manik mata pria itu, dan entah dari mana ia mendapatkan kekuatan untuk mengutarakan kalimat selanjutnya.

“Kau selalu memiliki keraguan bahwa dirimu kalah jantan dibandingkan dirinya, kurasa kau benar Kyuhyun-ssi.” Eungi berhenti sejenak sebelum menuntaskan kalimatnya. “Paling tidak, saat meninggalkanku, pria itu benar-benar tidak punya pilihan lain.”

 

 

 

 

Advertisements

89 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 18

  1. choky_1408 says:

    Sedih bgt, mereka harus berpisah kayak gitu. Kyuhyun emang keterlaluan sih, ninggalin Eungi tanpa jejak kayak gitu. Walaupun dia balik lagi tp bener kayak yg dikatakan Eungi, kalo Kyuhyun berniat ninggalin dia. Dan kenapa Kyuhyun nggak bisa menemukan Eungi dgn keahliannya? Secara, kalo emang dia bnr2 nyari pasti bakal ketemu
    Intinya, gw kecewa bgt sama Kyuhyun
    Fighting buat next post!!!

    Liked by 1 person

  2. Dufy says:

    Astaga… gak tahu harus koment apa.. 😧
    Kyuhyun yg ragu adalah wajar krn menurutku terkadang sisi kekanakannya masih banyak.. tapi Eungi sudah sering mengalami kesakitan pasti akan sangat sulit untuk disembuhkan..

    Liked by 1 person

  3. restucho says:

    jadi kyuhyun sakit hati juga sih gara2 eungi yang kamarin2 di paris, tp jadi eungi juga sakit hati juga, udah ditinggal siwon dengan tragis ehh giliran udah buka hati sama kyuhyun malah dikecewain tanpa ada penjelasan

    Liked by 1 person

  4. Sugaark says:

    Gantung selama setahun
    Sampe eungi kacau trus bangkit lagi
    Ternyata kyuhyun smpat kembali nyari eungi
    Mereka pisah gak ada penjelasan sama sekali dri kyuhyun
    Padahal eungi udah cinta sama kyuhyun
    Tapi untunglah kyuhyun kembali ke korea buay lanjutin kuliahnya buat nepatin janji kalau dia bakal lulus

    Liked by 1 person

  5. Aerin says:

    Meskipun hari itu KyuHyun kembali untuk menjemput EunGi, tetap saja niat awal KyuHyun meninggalkan EunGi sudah jelas.
    Aku harap ini menjadi tidak mudah untuk hubungan mereka kedepannya. Entahlah. Apapun alasan KyuHyun, dia bersalah.

    Liked by 1 person

  6. imgyu says:

    eungi yang katanya lugu, kutu buku aja sampe se jatuh itu setelah ditinggal kyuhyun, euww kak gaada sudut pandang dr kyuhyun kah? Dari awal isinya eungi, pengen tau gimana kyuhyunnya juga. Aslinya setelah kyuhyun nongol dihadapan eungi pasti eungi pengen lari ke kyuhyun terus bersikap seperti nothing happens tp egonya diaaaaa

    Liked by 1 person

  7. Vinaly says:

    Sejujurnya kasian sama Kyuhyun 😦 tapi aku tetap untuk memilih perasaan wanita yang ditinggal begitu aja tanpa penjelasan. Nunggu setahun enggak gampang loh Kyu.

    Liked by 1 person

  8. Cho Sarang says:

    Rasanya aku ingin mengatakan ” mampus kau kyu “. Kan sudah ku bilang jangan meninggalkan eungi itu sama saja kau membunuhnya secara perlahan – lahan alangkah baiknya kau membunuhnya langsung karena sakitnya tak sesakit kau meninggalkannya. Jadi terima nasib dari perbuatanmu sendiri kyu.

    Liked by 1 person

  9. Barom yu says:

    Mau liat yang pov kyu*penasaranbinggow*
    Apa alasan kyu ninggalin eungi apa karena dia labil atau ada permasalahan lain yg muncul -.-

    Ya ampun seandainya kyu tau betapa kacau hidupnya eungi.. Kayaknya si tau tp dia gak berani mungkin? untuk bertemu eungi wkwkwk dasar kyu pengecut,, terima deh tuh kekecewaan eungi ><

    Dan baru sekarang kyu menampak kan batang hidung nya.. Duuh eonn jangan lama" ya marahan nya hihi :p kangen sm romance mereka

    Liked by 1 person

  10. Rinjani says:

    Part ini yaa ya ampun.. Bener-bener Eungi so daebak jalanin hidupnya. Iyalah lebih sakit ditinggal Kyu daripada Siwon, karna Siwon jelas ninggalinnya kenapa.
    Sumpah kalimat Eungi di akhir td bikin lgsg merinding yg kalah jantan dari Siwon.
    Tau ah rasanya lg gak pgn mihak Kyu lg pgn support Eungi kesel dan marah ke Kyu wkwk (sudut pandang aku sih thor)
    Fighting Eonni!!

    Liked by 1 person

  11. omiwirjh says:

    Bodoh habya itu kata buat kyuhyun. Dia se diri pernah bilang bahwa dia tidak mungkin meninggalkan wanita yang ia cintai. Tapi bukti ya kyuhyun malah ninggalin eungi. Itu hal terbodoh yang kyuhyun lakuin

    Liked by 1 person

  12. Yoon28 says:

    Nangis masa bacanya serius gatau kenapa gw mewek 😳 salah kyu. ngapain dia ninggalin eungi. Eungi jg salah ngapain masih inget2 siwon pdhl udh ada kyu. 😢 dan yg paling sedih ngeliat mereka berpisah.

    Liked by 1 person

  13. sweetrizzu says:

    Stlh Part8 ini jadi part favorit aku yg kedua..
    Aku puaaasss bgt sm keseluruhan isinya sampe terakhir. Ya ampun kak ini hebat sekali kak!!
    Bner” ngerasa peran Eungi merasuki diriku kak. Gimana dia linglung berat, dia nangis, gila-gilaannya, rindunya, doanya wkt dia ultah, sgla hal yg udah dia lalui slma hancur krn Kyuhyun..
    Dan reaksinya saat ktmu Kyuhyun di peluncuran buku, tepat bgt kak ya ampun kaaakkk….. AKU CINTA KAKAK!
    Terimakasih utk karya yg luar biasa ini kak :’)

    Liked by 1 person

  14. Afa hyerin says:

    Eungi benar kaya gitu kamu harus bangkit, aku yakin kamu bisa….
    Kyuhyun… Antara tega sama nggak tega kyuhyun.jadi kaya gitu…
    Hahj.. Nyesek baget baca eungi.. Aku jadi terasa hidup jadi eungi eonnie…

    Liked by 1 person

  15. Dyana says:

    Astaga, apa yg harus aku katakan…
    Kyuhyun… Aish, sudah ku duga kau akan bertidak bodoh sprti ini, dan kau bilang siangnya kau kembali? Duch… Itu bukanlah alasan yg tepat, bahkan berkali-kali kau berlutut minta maaf pun, itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang Eungi terima… Dia hancur karenamu, tp aku pikir Kyuhyun juga pasti hancur. Ah… Entahlah, emosiku bnr2 terkuras sekarang… Haha
    Lanjut ajalah ke part selanjutnya…

    Liked by 1 person

  16. OngkiAnaknyaHan says:

    aku sakit hati baca part ini
    aku gak kuat T,T
    gak tau sapa yg patut disalahin disini

    btw kak , aku komen kug gak masuk2 ya …. part sebelumnya ada komenan aku gak

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s