(Indonesian Version) One Last Shot – Part 17

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Perjalanan pulang mereka kembali ke apartemen dipenuhi dengan kesunyian yang sangat tidak nyaman. Lagi-lagi mereka menggunakan mode transportasi Metro kota Paris yang malam itu kebetulan dipenuhi sangat banyak orang. Kyuhyun harus berpegangan erat pada tiang yang bisa digapainya sementara tangannya satu lagi melingkar erat di seputar pinggang Eungi, menjaga agar wanita itu tidak terjatuh saat kereta bawah tanah berhenti. Eungi menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun di sepanjang perjalanan dan tetap bungkam hingga akhir perjalanan mereka. Wanita itu sedang sibuk menata perasaan dan pikirannya dari serangan memori yang menyerangnya tanpa ampun barusan.

Kyuhyun pun tidak kalah sibuk dengan pikirannya sendiri.

Pria itu mengutuk dirinya karena telah memiliki pikiran pendek untuk mundur dari hidup Eungi sekarang. Bagaimana mungkin ia sanggup melepaskan apa yang telah ia bangun dari nol bersama wanita ini, dan sangat mustahil baginya untuk meninggalkan satu-satunya wanita yang pernah dicintainya seorang diri. Kyuhyun sadar bahwa detik ia memutuskan untuk berada di sisi Eungi, adalah detik di mana ia harus bisa bersikap lebih dewasa, dan ia pun berjanji untuk menjadi sandaran bagi wanita itu. Pria itu tahu Eungi membutuhkannya dan Eungi juga telah meminta Kyuhyun untuk tetap berdiri di sampingnya, jadi tidak ada alasan bagi pria itu untuk meragukan Eungi bukan? Yang dibutuhkan wanita itu hanyalah waktu, dan Kyuhyun harus menjadi manusia berjiwa besar untuk memberi Eungi waktu sebanyak-banyaknya yang ia butuhkan.

Setelah malam panjang nan emosional yang melelahkan ini berakhir, mereka akhirnya tiba di apartemen sewaan, keduanya terlalu lelah dari kegiatan keliling kota mereka hari ini dan tidak sempat memikirkan apapun selain ‘pulang’ ke apartemen mereka yang lebih nyaman. Sebenarnya Eungi dan Kyuhyun hanya mengunjungi tiga tempat, namun tekanan mental yang mereka hadapi membuat liburan ini terkesan lebih seperti pekerjaan dengan deadline yang ketat ketimbang bersenang-senang. Setibanya mereka di dalam kamar, Eungi langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa, mengambil bantal kecil terdekat dan menutup wajahnya dengan bantal itu. Menikmati kegelapan dan ketenangan semu yang untuk sementara sangat dibutuhkannya.

“Noona, kau mau makan malam?” Kyuhyun ikut duduk di samping Eungi.

Wanita itu menggeser duduknya untuk bersandar pada dada Kyuhyun, mencari kenyamanan yang selalu ia rindukan dari pria itu. “Ng, aku tidak terlalu lapar sebenarnya, tapi lebih baik kita menyiapkan sesuatu bukan?”

Dengan ragu Kyuhyun melingkarkan lengannya pada bahu Eungi, ia masih harus berusaha menghapus pikiran kejam yang ada dalam kepalanya sejak tadi. Wanita inim asih membutuhkan Kyuhyun untuk menjadi sandarannya, dan ia harus kuat. Sayangnya, Eungi bukan satu-satunya orang yang membutuhkan kenyamanan malam ini, Kyuhyun pun butuh waktu untuk menenangkan dirinya, ia sejujurnya sangat mengharapkan Eungi sedikit lebih sensitif untuk menyadari bahwa ia bukan hanya ia yang terguncang hari ini. Kyuhyun membutuhkan pelukan wanita ini, membutuhkan kenyamanan yang bisa diberikan Eungi padanya—Ah, tidak, sesungguhnya pria itu hanya butuh mendengar satu pernyataan dari Eungi: bahwa wanita itu mencintainya dan tidak akan ada yang berubah dari hubungan mereka.

Ingin sekali rasanya Kyuhyun memasukkan seluruh barang mereka ke dalam koper dan segera pergi ke bandara untuk mengajak Eungi pulang. Wanita itu sudah menuntaskan perjalanan berkabungnya, dan Kyuhyun benar-benar hanya ingin pulang dari kota yang kini juga masuk ke jajaran ‘tempat yang tidak akan pernah kukunjungi’ baginya. Tapi ia tidak sampai hati memaksa Eungi untuk menuntaskan urusannya dengan tergesa-gesa, Kyuhyun sudah berjanji untuk mendampinginya dan meskipun ia pernah bilang bahwa jika semua menjadi terlalu berat untuknya, ia akan mengajak Eungi pulang; pria itu tidak bisa benar-benar melakukannya. Karena Eungi hanya membutuhkan waktu sedikit lagi dan Kyuhyun belum  mau menyerah pada pikiran-pikiran jahat dalam kepalanya.

“Kyu, aku sangat menghargai apa kau kau lakukan hari ini.” Ujar Eungi sambil menanamkan wajahnya pada dada Kyuhyun, “Aku tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa terima kasihku.”

Pria itu mengeratkan pelukan pada tubuh ringkih kekasihnya dan mengecup puncak kepala Eungi dengan sayang, menghirup aroma manis dari shampo yang digunakannya, menikmati kehangatan tubuh mereka yang berdekatan.

Momen khhidmat mereka terganggu oleh suara nyaring yang muncul dari perut Kyuhyun, mereka sarapan telat sekali pagi tadi, hanya makan sepotong sandwich di siang hari dan belum sempat mencari makanan dalam bentuk apapun sesudahnya—jelas saja perut pria itu memberontak.

Eungi terkekeh geli mendengar suara dari perut Kyuhyun. “Ayo kita beli makan malam.” Ujarnya sambil mencubit hidung Kyuhyun.

“Aku malas jalan.” Rengek Kyuhyun, “Aku sudah menyimpan nomor restoran asia di dekat sini, mereka menyediakan jasa delivery. Sebentar biar kutelpon.” Ia meraih kantung celana belakangnya untuk mengambil ponsel.

Pria itu menautkan alisnya keheranan sambil terus menepuk seluruh kantung yang ada di celananya. Seluruh kantongnya kosong, ia bahkan berusaha merogoh masing-masing kantung untuk memastikan.

“Ada apa Kyu?” Tanya Eungi heran setelah kekasihnya bergerak gelisah sambil mencari-cari sesuatu.

“Aneh sekali, perasaan aku menaruh ponselku di kantung.” Kyuhyun bangkit untuk mengambil jaket tipis yang digunakannya siang tadi, merogoh kantung jaketnya dengan cemas.

“Mungkin kau meninggalkannya di meja samping ranjang?” Eungi meyahut.

Kyuhyun menggelengkan kepalanya cepat, “Kita berfoto di Sacre Coeur menggunakan ponselku, aku yakin sekali aku membawanya hari ini. Tolong telepon nomor ponselku noona.”

“Oke.” Eungi mengambil ponsel dari tote-bag yang ia bawa hari ini dan segera menekan nomor yang sudah disimpan pada speed-dial nomor satunya. “Kyu, ponselmu tidak aktif.”

Kyuhyun menghela napas sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya. “Ugh, apa jangan-jangan dicopet.”

Eungi mengakat kedua bahunya bingung sambil terus mencoba menghubungi ponsel Kyuhyun. “Wow, kota ini benar-benar—bahkan pencurian ponsel di Seoul saja sudah tidak pernah terjadi! Semiskin apa kriminal-kriminal di Paris ini sebenarnya sampai ponsel saja dijadikan komoditas curian.”

Kyuhyun duduk kembali ke samping Eungi dengan ekpresi yang lebih kusut dari sebelumnya. “Aku benci Paris.” Ujarnya.

“Yeah, aku juga. Kita tidak akan kembali ke kota ini lagi dalam hidup kita!” Tambah Eungi menyetujui pernyataan Kyuhyun. “Apa banyak data penting di dalam ponselmu?”

“Foto-foto kita.” Balasnya singkat.

Eungi tersenyum dan memeluk Kyuhyun erat. “Aku juga menyimpan foto-foto kita di ponselku, aku bisa mentransfernya untukmu nanti setelah kita tiba di Seoul, ng?”

“Tapi aku tetap masih kesal.” Balas Kyuhyun jujur. Sepertinya mood-nya benar-benar hancur lebur hari ini.

Tiba-tiba Eungi ingat hal yang lebih penting dari ponsel, “Apa dompetmu masih ada? Bagaimana dengan seluruh ID-card mu, paspor, serta surat perjalanan?”

“Aku tidak membawa dompetku, hanya membawa beberapa lembar uang Euro di kantung depanku—uang itu juga masih selamat di situ. Paspor dan dompetku selalu kusimpan di dalam koper, aman bersama seluruh tanda pengenalku.” Jelasnya, “Hanya ponselku.”

“Maafkan aku.”

Kyuhyun terkekeh, “Hey, kau bukan orang yang mencurinya, mengapa kau harus minta maaf. Tidak apa-apa, aku bisa beli yang baru nanti, jangan lupa kirim foto-foto kita, ng?”

Eungi mengangguk.

“Aku akan keluar sebentar untuk beli makan malam, kau belum bosan dengan makanan dari restoran itu bukan?”

“Belum, apa perlu kutemani?” Tawar Eungi.

“Istirahatlah, noona. Aku akan kembali segera.” Pria itu mengacak rambut Eungi.

“Baiklah, sementara kau belanja, aku akan berendam dalam bath-up dengan nyaman.” Ia menyeringai nakal pada Kyuhyun, “Atau mungkin kau mau bergabung denganku?”

Jelas pria itu tergoda dengan tawaran menggiurkan dari Eungi, tapi malam ini bukan waktu yang tepat untuk memaksakan keintiman mereka. Eungi masih terlihat sedih, dan perasaan Kyuhyun sedang kacau—ia tidak mau memaksakan kondisi mereka dan menggunakan sex sebagai jalan keluar dari kegundahan yang sedang mereka alami.

“Kurasa malam ini kita harus menahan diri, noona.” Kyuhyun tersenyum hangat sebelum mengecup bibir Eungi lembut, tidak ingin terkesan seperti menolak Eungi mentah-mentah dan membuat wanita itu sedih. “Tapi aku akan mengingatkanmu mengenai rencana berendam bersama, kau hutang satu treatment padaku.” Tambahnya dengan cengiran lebar.

“Arraseo.” Wanita itu mengangguk lemah.

 

*

 

Eungi berjalan bolak-balik dengan gelisah dalam apartemen sewaan mereka, rasanya ia menghabiskan waktu cukup lama untuk berendam, namun Kyuhyun belum juga kembali dari membeli makanan. Wanita itu tidak terlalu mempermasalahkan, karena dalam hati membatin mungkin Kyuhyun butuh waktu untuk menenagkan pikirannya sendiri sekalian berjalan-jalan tanpa Eungi.

Karena wanita itu juga bisa melihat bahwa ia bukan satu-satunya orang yang terpengaruh dari rangkaian acara mereka hari ini. Ekspresi pria itu sangat murung dan Kyuhyun terlihat seperti sedang berpikir keras sepanjang perjalan pulang tadi.

Eungi sangat bisa menerima fakta bahwa Kyuhyun sekarang mungkin sedang merasa sangat tidak nyaman karena sekapnya. Memang pria itu hanya diam saja tanpa mengutarakan pendapatnya, tapi Eungi tidak bodoh, ia bisa mengamati air muka Kyuhyun yang suram dan mood pria itu yang semakin malam semakin memburuk—dan sejujurnya Eungi takut menanyakan Kyuhyun mengenai perasaannya, karena khawatir pria itu justru tersinggung jika Eungi terkesan meragukannya.

Karena wanita itu tetap berusaha untuk berpikir positif, ia memutuskan untuk langsung mengenakan piyama tidurnya dan mengambil laptop dari laci di samping tempat tidur. Eungi tidak merasa lapar sama-sekali, luapan kesedihan yang ia rasakan hari ini sepertinya cukup membuatnya merasa muak menyentuh makanan dalam bentuk apapun. Saat ini, kepala Eungi hanya dipenuhi dengan berbagai asset memori baru untuk dituangkan ke dalam paragraf-paragraf ke dalam bukunya. Ia segera mencari posisi yang nyaman di sofa sebelum mulai serius menuangkan serpihan-serpihan memori yang belum sempat ia tulis sebelumnya.

Sesungguhnya, menulis ulang semua ini justru memaksa Eungi untuk mengenang lagi semua kenangan pahit itu, tapi ia bersumpah bahwa ini adalah kali terakhir dirinya akan masuk ke dalam lubang kesedihan ini—ia akan mencoba menuntaskan bagian paling sulit dari bukunya dan segera melupakan tragedi ini dan memulai lembaran baru hidupnya dengan pria yang telah setia menunggunya. Eungi pun bersumpah, bahwa ini adalah kali terakhir ia akan menangis untuk tunangannya yang telah wafat. Buku ini adalah persembahan terakhir dan cara yang menurut Eungi pantas serta terhormat untuk mengenang pria yang telah berjasa menyelamatkan dirinya.

Eungi menambahkan detil-detil yang diingat ke dalam draft bukunya, menghiraukan pedih dalam hatinya dan terus memaksakan diri untuk menuntaskan kisah pembantaian itu malam ini, memilih untuk menuangkan rasa sakitnya ke dalam kata-kata. Kata-kata yang suatu hari akan dibaca banyak orang, agar mereka paham tragedi yang terjadi, agar orang lain bisa memahami situasi mencekan itu dari sudut pandang orang pertama yang berhasil bertahan melaluinya.

Ia tahu, jika bukunya terbit nanti, tidak akan ada dampak yang signifikan bagi dunia, bukunya tidak akan menghentikan propaganda keparat yang berlangsung di dunia ini. Tapi paling tidak, buku ini bisa menjadi saksi bisu sejarah yang akan terus hidup, layaknya buku harian Anne Frank yang kini menjadi bukti dari sisa-sisa propaganda Nazi yang kejam.

Wanita itu terus mengetik, tidak mempedulikan beratnya kedua kelopak mata yang sudah menuntut untuk terpejam, tubuhnya sangat ingin direbahkan di atas ranjang yang nyaman, tapi semangatnya membara malam ini dan ia masih tetap memaksakan diri. Untuk sesaat, Eungi lupa bahwa Kyuhyun belum juga kembali dari membeli makan malam.

Kyuhyun kembali ke apartemen mereka lewat tengah malam. Ia tahu bahwa waktu yang digunakannya untuk membeli makan malam terlampau lama. Tapi perjalanan pendek yang seharusnya hanya memakan waktu sepuluh menit ternyata menjadi panjang karena ia baru saja bertemu dengan orang yang paling tidak ingin dilihatnya di Paris.

Pria itu mencoba untuk kembali pada Eungi secepat mungkin, ia lebih khawatir dengan kekasihnya ketimbang dengan berita yang baru diterima dari orang yang baru ditemuinya. Kyuhyun tidak mau sampai Eungi merasa kesepian selama ia pergi membeli makan, pria itu paham tingkat protektif dan kekhawatiran Eungi pada dirinya sangat tinggi dan ia tidak mau kekasihnya gelisah.

Dengan mood yang semakin rusak, Kyuhyun meletakkan makan malam mereka yang sudah dingin. Pria itu baru saja selesai melakukan perbincangan yang cukup menghabiskan waktu dengan orang yang tidak disukainya, perbincangan mereka pun sukses menambah daftar buruk dalam harinya. Sepertinya malam itu Kyuhyun benar-benar membutuhkan Eungi, ia berharap bisa menuangkan kegundahannya pada Eungi setibanya di kamar mereka, tapi ternyata wanita itu sudah tertidur dengan posisi yang tidak nyaman di atas sofa.

Kyuhyun tersenyum pahit melihat kekasihnya yang tertidur sambil menyandar di sofa, kepalanya lunglai ke belakang dan mulutnya sedikit terbuka, jemari Eungi masih berada di atas keyboard laptop yang terbuka di pangkuannya.

“Aish, Cha Eungi. Bisa-bisanya kau tertidur dengan laptop di hadapanmu. Dasar kutu buku.” Kyuhyun berdecak pelan sambil memindahkan laptop dari pangkuan Eungi.

Pria itu menggendong Eungi dengan mudah dan memindahkan tubuh kekasihnya ke atas ranjang mereka, menutupi tubuhnya dengan selimut sebelum memberikan ciuman selamat malam pada kekasihnya. Ia mengambil napas dalam, mencoba fokus pada wajah polos Eungi yang terlelap di hadapannya, mencari kenyamanan yang sangat ia butuhkan malam ini.

Rasanya Kyuhyun siap meledak. Hari ini ia harus menapak melewati jalan kenangan Eungi dan Siwon, hari ini ia harus bersikap dewasa dan menyembunyikan keresahannya, hari ini ia juga harus menghadapi bentuk kejahatan kota Paris dalam wujud pencopet yang mencuri ponselnya. Seolah semua itu belum cukup membuat harinya buruk, ia juga harus bertemu dengan seseorang yang sukses membuat dirinya merasa seperti sampah.

Ia membutuhkan Eungi malam ini.

Ia ingin wanita itu mendekapnya, ia ingin wanita itu mengutarakan kata-kata yang membuatnya nyaman, sekali ini ia ingin berlindung pada Eungi, ia ingin melihat dirinya melalui kacamata Eungi yang selalu menempatkannya di tempat yang tinggi. Namun Kyuhyun pun tidak tega mengganggu tidur lelap wanita ini. Pria itu menghela napas panjang, mengecup kening Eungi sekali lagi sebelum ia beranjak untuk membereskan pekerjaan Eungi dalam laptopnya—setidaknya ia harus menekan ctrl+S pada apapun yang sedang digarap wanita itu, sebelum Eungi teriak histeris besok pagi karena pekerjaannya hilang belum tersimpan.

Layar laptop langsung menyala saat Kyuhyun menekan space bar, niat awalnya yang hanya ingin menutup berubah saat ia menyadari apa yang sedang dikerjakan Eungi barusan. Kesabaran pria itu habis saat ia membaca draft yang tertulis di laptop Eungi. Kyuhyun paham bahwa ia tidak seharusnya menginvasi privasi Eungi seperti ini, dan sekarang ia paham mengapa Eungi bersikeras melarang Kyuhyun untuk membaca draft awal bukunya.

Malam itu, sisa-sisa akal sehat yang masih melekat pada Kyuhyun lenyap.

 

*

 

Awalnya Eungi tertegun keheranan, karena ia membuka mata keesokan paginya dalam posisi sudah berbaring nyaman di atas ranjang, lengkap dengan selimut menutupi tubuhnya, padahal ia tidak ingat berjalan dari sofa menuju ranjangnya. Wanita itu langsung tersenyum simpul, pasti Kyuhyun yang menggendongnya semalam. Ia menguap sambil menggeliat panjang sebelum bangkit dari posisi tidurnya, langsung mencari-cari sosok Kyuhyun di dalam ruangan mereka.

Ia beranjak dari ranjangnya untuk berjalan menuju dapur kecil di apartemen itu dan menyadari beberapa bungkus makanan yang sepertinya Kyuhyun beli semalam. Pasti pria itu kembali malam sekali kemarin sampai Eungi ketiduran, Eungi berdecak kesal, seharusnya ia sanggup menunggu pria itu kembali bukannya malah tertidur, tapi tubuhnya sangat letih kemarin dan ia berharap Kyuhyun bisa memaklumi keteledorannya kali ini.

Eungi berjalan ke arah kamar mandi, mengetuk pintunya kalau-kalau Kyuhyun ternyata di dalam, tapi ternyata ruangan itu kosong. Ia memeriksa pintu utama apartemen sewaan mereka dan menyadari bahwa sepatu Kyuhyun tidak ada—pasti pria itu sedang mencari sarapan pagi untuk mereka seperti biasa, batin Eungi

Cha Eungi menarik napas dalam sambil menyengir konyol, bagaimana mungkin pria itu bisa memutar-balikkan dunia Eungi seperti ini. Ia benar-benar merasa seperti orang yang sedang jatuh cinta pagi ini. Tidak melihat Kyuhyun hanya beberpa jam saja sudah menimbulkan rasa rindu yang membuatnya resah sekarang, nampaknya wanita ini tidak bisa berlama-lama terpisah dari kekasihnya. Eungi sedikit murung karena Kyuhyun tidak ada di sampingnya pagi ini saat ia terbangun, wanita itu ingin memeluk kekasihnya erat, ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama pria-nya, ia ingin membanjiri Kyuhyun dengan ciuman selamat pagi dan sekali saja Eungi ingin menukar perannya sebagai orang yang menyiapkan sarapan bagi mereka di kota ini. Wanita itu tertawa sendiri pada gambaran yang melintas dalam kepalanya, merasa bahwa kerinduannya akan pria itu terkesan konyol sekali, padahal Kyuhyun tidak pergi ke mana-mana.

Alih-alih menghayal yang aneh, Eungi memilih untuk meracik kopi untuk mereka berdua dan sambil menunggu Kyuhyun kembali, ia membuka buku second-hand yang kemarin sempat dibelinya saat berjalan ke Sacre Coeur. Niatnya ia hanya ingin melihat bab awal pada buku itu, tapi kebiasaannya yang terlalu asik sediri ketika membaca membuat Eungi lupa waktu dan justru menghabiskan setengah buku itu dalam sekali baca. Ketika ia mengangkat wajah dari bukunya, waktu sudah menunjukkan nyaris tengah hari.

Sekarang Eungi mulai bingung, mengapa Kyuhyun masih belum kembali juga ke apartemen. Ia mulai cemas dan secara otomatis langsung menghubungi ponsel Kyuhyun untuk menanyakan keberadaannya—dan baru ingat bahwa ponsel pria itu telah dicuri malam sebelumnya. Wanita itu mulai khawatir dengan keberadaan Kyuhyun, pikiran buruk mulai melintas di kepalanya, ia takut Kyuhyun tersasar, atau lebih buruk lagi pria itu bisa saja diculik.

Dengan gusar wanita itu berjalan mondar-mandir di depan jendela besar apartemen sewaan mereka, fokus matanya ditujukan ke bawah, memantau jalanan untuk mencari-cari sosok Kyuhyun yang masih belum kelihatan. Saat kesabarannya habis, Eungi memutuskan untuk turun dan menunggu Kyuhyun di depan lobi masuk apartemen saja.

Wanita itu menunggu dengan resah selama kurang lebih satu jam, namun pria yang dinantinya masih belum juga muncul. Ia mulai mengoceh pada dirinya sendiri dengan panik sambil mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi pada Kyuhyun. Akhirnya penjaga pintu yang sejak tadi berdiri dalam diam menyaksikan kegelisahan Eungi merasa iba padanya, dan menanyakan alasan dari kebingungan wanita itu menggunakan kosa kata Bahasa Inggris seadanya.

Eungi menjelaskan padanya—dalam Bahasa Perancis yang lancar—bahwa ia menanti kekasihnya yang belum terlihat sejak ia membuka mata pagi ini. Eungi menjabarkan ciri-ciri Kyuhyun, tinggi tubuh pria itu, fitur wajahnya, jaket yang ia kenakan—berharap penjaga pintu itu sempat melihat sosok Kyuhyun pagi ini.

Penjang pintu hanya menggeleng, ia menjelaskan bahwa shift-nya dimulai saat fajar dan ia tidak melihat ada pria berparas asia dengan deskripsi yang Eungi sebutkan keluar dari apartemen ini.

Detak jantung Eungi mulai berdegup tidak beraturan. Jika pria ini tidak melihat Kyuhyun sejak fajar, maka Kyuhyun keluar sebelum shift penjaga pintu ini mulai—apa yang dilakukan pria itu pagi-pagi buta di kota ini?

Eungi semakin khawatir.

Kota Paris sudah memberinya banyak alasan untuk gelisah dan ia tidak rela membuang sedetik pun untuk menyerah pada kejahatan yang mungkin mengintai mereka di sini. Setelah memaksakan diri untuk tenang dan berpikir dengan waras, akhirnya Eungi mendapat sebuah ide brilian.

Wanita itu segera berlari ke kamar mereka untuk mencari ponselnya sendiri dan segera menelepon kedutaan Korea Selatan. Awalnya Eungi menjelaskan kisahnya dengan cepat sehingga membuat pegawai keduataan kebingungan. Tapi setelah ia mengulang kembali informasinya dengan perlahan, akhirnya pegawai kedutaan yang berbicara dengannya di telepon mulai paham duduk masalah Eungi. Seperti biasa, pegawai kedutaan meminta Eungi untuk tenang dan memintanya untuk memberikan data-data penting berkaitan dengan Kyuhyun, memberikan nomor ID Kyuhyun serta paspor untuk membantu kecepatan pelacakan mereka. Namun, mereka belum bisa berbuat banyak karena syarat untuk menyimpulkan seseorang ‘hilang’ adalah setelah keberadaannya tidak bisa dipastikan lewat dari 24 jam.

Eungi langsung mendebat syarat yang menurutnya konyol. Ia berargumentasi bahwa 24 jam bisa saja terlambat untuk melakukan pencarian—bahkan sebagai usaha paling putus asanya, Eungi mengambil contoh dari refrensi film-film penculikan yang pernah ditontonnya. Pegawai kedutaan yang berbicara dengan Eungi akhirnya menyerah pada celoteh tanpa henti dan argument Eungi dan akhirnya meminta dokumen perjalanan Kyuhyun untuk segera melacak keberadaan pria itu.

Eungi ingat kemarin Kyuhyun bilang bahwa seluruh dokumennya tersimpan rapi di dalam kopernya, jadi ia meminta sedikit waktu pada pegawai kedutaan dan meminta mereka untuk meneleponnya kembali lima menit ke depan.

Wanita itu menemukan koper hitam milik Kyuhyun, kuncinya terbuka maka ia bisa dengan leluasa mencari dokumen yang dibutuhkannya. Eungi mencoba mengingat kembali detil yang Kyuhyun katakan kemarin mengenai surat-surat perjalannya, pria itu jelas-jelas berkata bahwa semua ia simpan dalam kopernya—tapi setelah mengobrak-abrik seluruh isi koper Kyuhyun, Eungi benar-benar tidak bisa menemukan satu pun dokumen penting milik pria itu.

Ponselnya berbunyi kembali, pegawai kedutaan telah menelponnya balik sesuai janji. Mereka menanyakan tentang informasi penting yang ada dalam dokumen perjalanan kyuhyun dan Eungi kebingungan bagaimana cara menjelaskan bahwa seluruh dokumen pria itu hilang, padahal barang-barang lainnya masih ada di dalam  koper.

“A—aku, tidak bisa menemukan dokumennya.” Sura Eungi mulai bergetar, ia panik dan benar-benar kebingungan sekrang.

“Eungi-ssi, apa kau baik-baik saja?” Tanya pegawai kedutaan. “Kami akan membantumu untuk melihat rekam jejaknya segera. Bisa kau beri tahu kami info mendasar tentang pria ini? Tanggal lahir, nama lengkap dan alamatnya di Korea Selatan? Kami akan meneruskan informasi ini segera ke polisi dan petugas imigrasi.”

Eungi mengatur napasnya, mencoba mempertahankan sisa-sisa kewarasan dalam dirinya. Ia memberi tahu informasi umum tentang Kyuhyun dan menutup kembali telponnya sembari menunggu kabar dari kedutaan.

Tubuh wanita itu bergetar hebat karena ketakutan sekarang, ia membayangkan hal buruk terjadi pada Kyuhyun, namun bukan itu yang ia takuti sekarang.

Hati kecilnya menyadari ada kejanggalan dari kejadian ini, namun Eungi menolak untuk berpsekulasi lebih jauh—ia tidak mau membuat asumsi yang akan menghancurkan dirinya sekarang. Meskipun sesungguhnya tidak sulit bagi Eungi untuk menyatukan seluruh kepingan puzzle yang tersebar di otaknya, wanita itu hanya tidak punya keberanian untuk menarik kesimpulan sadis yang mulai terlihat nyata.

Ia memutuskan untuk menyibukkan diri selama menunggu kabar dari kedutaan. Ia membersihkan seluruh apartemen mereka, melipat baju-bajunya dan baju Kyuhyun dengan rapi, ia mencuci seluruh piring yang ada di dapur dan baru dua jam kemudian ponselnya kembali berdering.

Eungi mengangkat dengan gugup, dan berita yang diterima sukses menghancurkan hatinya.

“Pria yang kau cari baik-baik saja, Eungi-ssi. Cho Kyuhyun terdaftar dalam nama penumpang pesawat yang telah lepas landas menuju Seoul pagi ini. Nama pria itu juga tercatat pada dokumen imigrasi, ia sudah meninggalkan Paris sekarang. Kuharap berita ini membuatmu tenang.” Jelas petugas kedutaan tanpa dosa.

Puzzle-puzzle yang Eungi hiraukan sebelumnya kini tersusun menjadi satu gambar rapi dalam otaknya. Asumsi yang sejak tadi ia coba sangkal menjadi kenyataan dan tiba-tiba saja ia lupa cara untuk bernapas.

Eungi mengucapkan terima kasih dengan singkat, menutup teleponnya dan menatap nanar pada koper Kyuhyun yang masih terbuka di dekatnya sebelum gravitasi menarik tubuhnya jatuh ke lantai.

Tangannya bergetar hebat, berapa kali ia mencoba berdiri namun seluruh tenaga yang ada pada dirinya lenyap. Ia tidak bisa berpikir sekarang, ia mencoba menerima berita itu dengan tenang namun hatinya terasa sangat sesak.

Mustahil rasanya untuk bisa tetap tenang setelah pihak kedutaan memberitakan bahwa Kyuhyun baru saja terbang meninggalkan Paris—Kyuhyun baru saja meninggalkannya.

Sebuah kalimat muncul dalam memori Eungi tanpa bisa dicegahnya, kalimat manis yang kini justru menyayat-nyayat hatinya dengan kejam:

“Noona, jika ini berlebihan untukmu, kau bisa melambaikan bendera putih dan detik itu juga aku akan membawamu pulang, oke? Aku akan mendampingimu sepanjang waktu. Dan kalau hal itu menjadi terlalu berlebihan untukku, aku juga akan melambaikan bendera putih padamu dan kita tetap akan kembali ke rumah—yang pasti, aku tidak akan pergi dari sisimu, kita akan selalu bersama menghadapi ini. Aku janji.”

Pria itu baru saja melambaikan bendera putih dan membawa dirinya untuk pulang, hanya saja ia lupa satu detil kecil, ia tidak membawa Eungi bersamanya.

 

*

 

Wanita itu terdampar di sebuah kota kecil yang ia sendiri tidak tahu persis di mana lokasinya hanya beberapa jam setelah ia menerima berita menyakitkan tadi. Sejujurnya ia lupa bagaimana caranya bisa tiba di sini, yang masih mampu diingatnya hanyalah bertapa singkatnya waktu yang diambil Eungi untuk membereskan seluruh pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam koper, ia juga ingat ketika ia memanggil taxi di pinggir jalan dan mengabaikan seluruh prinsipnya yang tidak mau menggunakan mode transportasi itu. Eungi ingat ia minta diantar ke Gare du Noord, stasiun kereta utama di kota Paris untuk membeli tiket sekali jalan ke mana pun—asalahkan kereta itu segera berangkat membawanya keluar dari Paris.

Lagi-lagi kota itu menorehkan luka dalam pada hati Eungi yang belum sembuh, serangan pertama mungkin masih mampu dilawannya, namun serangan kedua kali ini membuat wanita itu tidak lagi sanggup untuk menghirup udara kota yang benar-benar dibencinya sekarang.

Eungi membawa langkahnya keluar dari stasiun kecil tempat kereta tadi membawanya. Sisa-sisa tenanganya hanya kuat mengantarkan langkah Eungi sampai ke hotel terdekat dalam jarak pandangnya. Resepsionis hotel menyambutnya ramah dan memberikan Eungi kunci kamar agar Eungi bisa segera beristirahat. Wanita itu langsung membayar dengan uang cash yang ia bawa, menghindari segala bentuk pembayaran dengan kartu yang bisa membuat keberadaannya terlacak. Bellboy hotel membantu membawakan koper berukuran sedang yang ia bawa sekaligus menunjukkan kamar untuk Eungi, ia segera memberi tip pada pria yang masih muda itu dan langsung mengunci pintu kamarnya.

Ia sendirian lagi.

Detik ketika daun pintu tertutup rapat di balik punggungnya merupakan saat Eungi benar-benar menyadari kesendiriannya, tidak ada yang ia kenal di sini, kini Eungi kembali menjadi sebatang kara di kota kecil yang asing. Hanya dirinya dan kesunyian yang langsung memenuhi setiap inderanya—kesunyian yang menyakiti setiap relung hatinya. Eungi kebingungan harus berbuat apa, bahkan bernapas saja rasanya sangat sulit sekarang.

Wanita itu masih mencoba mengatur deru napasnya yang semakin memburu, membawa langkahnya satu demi satu ke dalam kamarnya, mengarahkan dirinya menuju satu tempat yang sejak dulu selalu menjadi tempat perlindungannya. Tubuhnya ambruk ketika ia berhenti di depan meja yang ada di kamar itu, dengan seluruh tubuhnya yang bergetar, Eungi menggeser posisinya untuk bersembunyi ke kolong meja, menyesuaikan ukuran tubuhnya agar ia bisa bersembunyi dari kerasnya kenyataan yang baru menghantamnya.

Tangisnya tumpah seketika ia menyandarkan kepalanya pada permukaan kayu yang dingin di balik meja itu.

Air mata yang sejak siang tadi dibendungnya jatuh tanpa mampu ditahanya, dan tangisan histerisnya berubah menjadi raungan pilu ketika Eungi menyadari kejam takdir hidupnya, ia semakin histeris ketika ia menyadari bahwa ia benar-benar sendirian—tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu keberadaannya sekarang, bahkan Eungi pun tidak tahu ia sedang berada di mana sekarang. Tidak ada seorang pun bisa menemukannya di sini, dan belum tentu juga ada seorang pun yang mencarinya.

Eungi memeluk kedua lututnya dengan erat, masih mencoba melawan perih dalam hatinya tapi ia gagal melawan akal sehatnya dan ia mulai meraung putus asa. Ia pernah kehilangan orang yang dicintainya, namun pria itu datang menyelamatkan Eungi dari keterpurukannya sendiri. Kyuhyun melimpahkan Eungi dengan rasa aman dan nyaman yang membuatnya ketergantungan, dan pria itu mencabut seluruh kasih sayangnya tanpa peringatan. Eungi membutuhkan Kyuhyun seperti seorang pesakitan yang ketergantungan pada obat-obatan, namun pria itu telah membawa pergi sisa-sisa keyakinan Eungi ketika ia memutuskan untuk menyerah pada hubungan mereka.

Satu-satunya orang yang bisa membuat Eungi merasa lebih baik telah pergi, dan Eungi merasa semakin tersiksa sekarang karena ia sangat merindukannya—wanita itu benar-benar merindukan Kyuhyun, sampai-sampai ia tidak lagi peduli akan alasan pria itu meninggalkannya. Jika Kyuhyun muncul di hadapannya sekarang, Eungi akan menghambur ke dalam pelukannya, ia akan membanjiri wajah Kyuhyun dengan ciumannya, ia akan berlutut memohon pada Kyuhyun agar pria itu tetap berdidi di sampingnya, dan Eungi akan memeluk Kyuhyun erat agar pria itu tidak beranjak dari jarak pandangnya.

Ia menepuk-nepuk dadanya dengan kasar untuk menghilangkan rasa sakit yang semakin membuatnya sesak napas, seandainya saja bisa, Eungi ingin sekali meraih ke dalam hatinya dan menyobek-nyobeknya agar ia tidak perlu merasa kesakitan seperti sekarang. Rasanya ia seperti dibunuh secara perlahan dengan cara yang sadis.

Di mana kesalahan hubungan mereka? Apa yang telah ia lakukan hingga Kyuhyun tega mencampakkannya seperti ini?

Wanita itu menangis semakin keras, layaknya anak kecil yang benar-benar tidak tahu cara lain untuk mengungkapkan kepedihannya. Ia kehilangan seluruh tenaganya untuk tetap duduk tegak, perlahan tubuhnya merosot ke samping dan ia terbaring di atas lantai yang dingin. Tangannya kini memukul-mukul lantai di bawahnya sambil kakinya menghentak kaki meja yang sejak tadi menjadi tempat persembunyiannya. Puncak dari rangkaian emosi ini membuat Eungi mulai berteriak, karena ia tidak mampu menahan rasa sakit yang menyerangnya tanpa ampun.

Ia tidak sanggup.

Wanita itu tidak kuat menganggung rasa sakit ini, ia sedih, ia kesepian, dan hatinya hancur. Namun yang paling buruk dari semua ini adalah fakta kejam bahwa ia baru saja dicampakkan oleh pria yang dicintainya—ia baru dicampakkan tanpa penjelasan apa pun.

 

 

 

Advertisements

91 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 17

    • Cho Sarang says:

      Jujur… Aku sangat kecewa dengan kyuhyun. Aku sungguh tak menyangka kyuhyun akan benar – benar meninggalkan eungi. Bukankah dia sendiri yang berjanji akan pulang bersama tapi kenyataannya malah itu hanya omong kosong belaka

      Liked by 1 person

  1. choky_1408 says:

    Kayaknya Kyuhyun pergi gara2 baca draft buku Eungi deh, apalagi sebelumnya mood Kyuhyun juga udah hancur lebur. Tp gw masih penasaran, siapa orang yg ditemui Kyuhyun di Paris wkt beli makan malam?
    Agak kesel aja Kyuhyun ninggalin Eungi gitu aja, tanpa ngasih jejak apapun. Kasian sama Eungi, Paris bnr2 jadi kota yg bakal dia benci seumur hidupnya
    Fighting buat next post !!!

    Liked by 1 person

  2. restucho says:

    ketika kyuhyun merasa terlambat buat pergi, tapi akhirnya memilih pergi juga pasti ada alasan lain yang bikin dia buat menyerah, bisa jadi karna orang yang ditemui kyuhyun malem itu atau karna dia baca tulisan eungi

    Liked by 1 person

  3. chimuth says:

    rasanya ikut nyesek…. kyu kenapa sih? kenapa ngambil keputusan gegabah banget, apa yang di pikirin eungi jadi kenyataan, dari awal eungi gak mau kalo kyu baca buku yg belum selesai ditulis karena takut kyu salah paham, dan terbukti kyu beneran salah paham sma semua nya….

    terus siapa yg ditemui kyu, dan kenapa dia merasa seperti sampah…

    makin penasaran…

    Liked by 1 person

  4. amelse7en says:

    Kyu, mending kamu terjun aja di sungai han.. Jangan balik2 lagi ya.. Jangan nyesellllllll…

    Bete sama kyu tapi kasian juga sama dia.. Galau kan jadinya

    Liked by 1 person

  5. Eunkyu says:

    Kok rasanya sakit ya padhl eungi yg jadi cast utmanya
    Apa keprgian kyuhyun karna naskah yg diketik eungi??? Thu kan eungi kek kehlangan kompas hduonya krna keabsenan kyu

    Liked by 1 person

  6. Aerin says:

    Hah!! Rencana yang sangat buruk menjadi awal hancurnya hubungan mereka..
    Komunikasi yang sedikit buruk ditambah rasa percaya diri KyuHyun yang tipis menyempurnakan perpisahan. 😥 😥

    Liked by 1 person

  7. imgyu says:

    kyuhyun pasti butuh kepastian perasaanya dan eungi malah ga ngrespon perasaannya kyuhyun, mungkin itu yg ngebuat kyuhyun pergi? Dan juga mungkin ada alesan lain dr orang yg kyuhyun temui pas malem kyuhyun beli makanan. Tp ngeliat eungi nangis dikolong meja rasanya nyesek banget. dia nggak punya siapapun untuk mengadu ;;;((

    Liked by 1 person

  8. PinkyChoi says:

    Ya ampunnnn!!!! Konflik apa lg ini???
    Bs ngerasain apa yg eungi rasa..sakittt bgt!!
    Sumvahh ya thor feelnya dapeettt bgt,bnr2 nyeseeekkkk
    Konflik nya bkin ff ini terasa smkin hidup😍😍

    Liked by 1 person

  9. angelkim393 says:

    Y ampun knp kyuhyun pergi gtu j….p karna tulisannya eungi….akkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk kyuhyun tega bt sih m eungi….moga j eungi g milih buat bunuh diri….😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

    Liked by 1 person

  10. Barom yu says:

    Mood kyu emang udah jelek pas eungi ngeraung” di tambah ketemu seseorang? Siapakah?
    Dan juga baca draft buku eungi –,–
    Tp kenapa kyu?
    Sampe sejauh ini, dan siapa orang itu? Gk mungkin siwon kan??*aduhaposeiniaku*

    Berkaca-kaca ngeliat eungi seperti itu lagi
    Tapi mau gmn lagi*sedihsumpaheonn
    Penasaran sama nasib mereka ber dua

    Liked by 1 person

  11. Song Yoo Ki says:

    Tuh kan, makin ke sini makin bikin mewek.. Kyuhyun ketemu sapa di Paris? Apa yg Kyuhyun baca di laptop sampe akhirnya memutuskan buat ninggalin Eungi. Kebayang Eungi nangis gak karuan di hotel dan sekali lg merasa ditinggalkan.

    Liked by 1 person

  12. Rinjani says:

    ANJIR RASANYA INGIN BERKATA KASAR:((
    KYUHYUN PARBANG GILALOEEE NINGGALIN EUNGI
    PENASARAN SIAPA YG KYU MAKSUD KETEMU SAMA ORG DI PARIS YG BIKIN DIA JD MARAH.
    AH GREGET BANGET GILAAA
    FIGHTING EONNI!

    Liked by 1 person

  13. Yoon28 says:

    pengecut. Sialan. Ngapain dia nganak eungi ke paris kalo akhirnya bakal ditinggalin?!
    Lagipula eungi jg bilang jangan baca draftnya krn ini baru awal. Harusnya dia nunggu baca ceritanya kalo udh full. Biar kyu tau apa sbrnya isi buku itu huftt

    Liked by 1 person

  14. sweetrizzu says:

    Tuh kan bner, janji cowok itu janji palsu. Kalo ada cowok yg janji ke kita, langsung putusin aja g perlu nunggu sampe mrka nepatin atau ngingkarin janjinya. Palsu itu mah.
    Apa yg Kyuhyun baca sampe kewarasannya lenyap?? Emang sebanding sama usaha Eungi buat move on?? Trus dia jg ktmu sm siapa itu di Paris?? Ibunya atau mantannya atau siapa??
    Aku harap Eungi cuma akan maafkan Kyuhyun hari itu saja terus besoknya dia gak akan pernah maafin Kyuhyun..
    Udah tau dgn jelas seberapa bnyk penderitaan Eungi skrg kabur gitu aja. Mending lo gak prnh ada sama sekali, jd penderitaan Eungi gk semakin bertambah!
    *emosi berat*

    Liked by 1 person

  15. Afa hyerin says:

    Yaissshhh… Kyuhyun sungguh2 pengen tak lempar sendal…. Ya ampun otu kenangan.kyuhyun.. Itu kenangan…. Eungi tuh pengen move on… Kenapa kamu malah pergi sih…. Geregetan aku jadinya….
    Eungi astaga…pengen nangis aku.. Eungi sadar kamu jarus bisa lebih kuat lagi…

    Liked by 1 person

  16. Dyana says:

    Nyeseekk…
    Kyu… Knp kau meninggalkan Eungi, ya ampun ni anak minta di jambak kali ya, iya tau Eungi blum bisa lupain rasa sakitnya, tp itu bukan berarti dia tidak mencintaimu… Justru dia sedang memperjuangkan masa depannya bersamamu… Kan kasihan tu noona-mu ampe nangis di kolong meja, ya ampun semua kemanisan itu seolah tak berarti lagi, kyuhyun melupakan janji2 yg sudah dia buat…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s