(Indonesian Version) One Last Shot – Part 16

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

Kyuhyun sudah memanjakannya dengan beragam pilihan menu sarapan keesokan harinya ketika Eungi terbangun, sepertinya pria itu sanggup bangun pagi-pagi sekali hanya untuk berjalan ke toko roti terdekat agar kekasihnya tidak kelaparan saat terbangun—terutama setelah malam melelahkan yang mereka lalui bersama. Eungi menarik pakaian yang ada paling dekat dengannya dan segera mengenakan kemeja Kyuhyun untuk menutupi tubuh polosnya sebelum ia bergabung dengan pria itu ke dapur.

“Kau bangun jam berapa tadi? Apa ini juga termasuk perlakuan spesialmu untukku?” Eungi memeluk Kyuhyun manja sambil mengecup pipinya.

“Ng.” Kyuhyun menarik kursi agar Eungi duduk.

Pria itu masih tidak percaya rangkaian obrolan malam kemarin yang menuntunnya hingga momen ini, melihat Eungi hanya berbalut kemeja putihnya yang kebesaran, Kyuhyun harus menelan ludahnya sendiri karena kemejanya tipis dan ia masih bisa melihat seluruh lekuk dan tonjolan tubuhnya dengan jelas.

tumblr_nhrns4e52y1u5taugo3_1280

gambar milik Park Seul

“Kyu, memangapa kau memandangiku seperti itu? Apa ada yang aneh dengan diriku?” Eungi menyadari rahang Kyuhyun yang sedikit ternganga sementara matanya terfokus pada dada Eungi. “Aku hanya mengambil pakaian yang paling dekat ranjang kita.”

“Terlihat sempurna sekali kau mengenakan itu.” Kyuhyun berdeham. “Seluruh bajuku nampak lebih bagus kalau kau yang mengenakannya.” Ia mencium puncak kepala Eungi dan ikut duduk di sebrangnya.

Eungi tersipu akan perlakuan spesial yang Kyuhyun berikan padanya, ia tahu seberapa besar usaha pria ini untuk membuatnya terkesan dan pagi ini ia benar-benar merasa seperti ratu di dalam dunia Kyuhyun. Eungi memilih French toast yang dibeli Kyuhyun dan segera menyapukan selai hazelnut di atas permukaan rotinya. Ia baru sadar bahwa ia sangat lapar setelah menggigit rotinya, jelas saja ia kelaparan, semalam mereka bukannya makan malam namun justru ‘berolahraga’ beberapa babak.

Semalam, setelah keduanya benar-benar lelah, Eungi mendapatkan ilham. Ketika wanita itu menyandarkan diri di dalam dekapan Kyuhyun, ia merasa seolah memperolah kekuatan yang ia butuhkan, nyali yang selama ini hilang dari dirinya telah kembali dan  untung saja ia masih merasa demikian pagi hari ini. Sepertinya ia tahu harus memulai perjalanan ini dari mana, namun ia ragu untuk mendiskusikannya dengan Kyuhyun. Pria itu masih tampak bahagia dan Eungi tidak sampai hati harus merusak kebahagiaannya dengan acara penyembuhan trauma.

“Noona, kau bengong. Apa yang kau pikirkan?” Kyuhyun menyadari tautan pada kedua alis Eungi.

Wanita itu menggelengkan kepalanya, masih mempertimbangkan pilihannya.

“Aish, kau tidak berniat membodohiku dengan bilang kalau tidak ada apa-apa, kan? Kau itu tidak pandai berbohong.” Kyuhyun meraih roti di depannya dan mulai mengunyah porsi sarapannya yang kedua.

Baiklah, kalau kau memang ingin aku jujur. Eungi menetapkan keputusannya.

“Kyu,” Ia menelan habis rotinya sebelum lanjut bicara, “Kurasa hari ini aku siap keluar dari apartemen ini.”

Pria itu menelan isi mulutnya dengan santai sebelum menjawab. “Baiklah, apa kau tahu mau memulai perjalan kita dari mana?”

“Kurasa aku sudah menemukan rute yang tepat.” Eungi melipat kedua lengannya di atas meja. “Tapi apa kau akan baikk-baik saja? Apa kau yakin mau menemaniku? Kau bisa bilang yang sejujurnya, Kyu dan aku tidak akan memaksamu. Kita bisa diam saja di tempat ini.”

“Noona, kita tidak terbang ribuan kilometer ke Paris hanya untuk bermanjaan di kamar dan bercinta, bukan?” Ia terkekeh, mencoba terdengar sedikit ceria meskipun di dalam hati ia merasa sedikit kesal. “Kita pergi ke sini agar kau sembuh, agar trauma yang kau alami lebih cepat teratasi, jadi jelas aku akan tetap mendampingimu, seperti janjiku. Mari kita sarapan yang banyak, kemudian mandi dan segera pergi—ke manapun kau mau.”

“Benarkah?”

Kyuhyun memaksakan senyum di wajahnya. “Ng, aku pun mulai bosan kalau hanya diam di apartemen ini saja.”

Eungi mengangguk, ia mencoba mempelajari ekspresi Kyuhyun di hadapannya, mencoba mencari gurat penyangkalan atau dusta dari keceriaan yang pria itu tampilkan—tapi ia tidak bisa melihat ada sedikit keraguan pun di dalam air muka pria itu.

Yang ia tidak ketahui adalah fakta bahwa Kyuhyun seorang pembohong ulung. Pria itu sukses menunjukkan ekspresi yang Eungi inginkan sambil mendustai perasaan kesalnya sendiri. Pagi itu Kyuhyun memasang poker face terbaik untuk menyangkal kegundahan yang ia rasakan di dalam hatinya.

 

*

 

Kyuhyun paham setakut apa Eungi pada kota ini, detik mereka menapakkan kaki keluar dari apartment mereka, wanita itu langsung menggenggam erat tangan Kyuhyun dan tidak berniat melepasnya. Mereka menjelajah kota menggunakan Metro, karena Eungi benar-benar tidak percaya dengan mode transportasi seperti taxi yang bisa dipanggilnya di pinggir jalan, dan ia terlalu bosan menunggu datangnya bus yang akan membawanya ke tempat tujuan pertama.

Awalnya Eungi memilih jalur terjauh dalam perjalanan mereka. Dengan yakin, ia mengajak Kyuhyun untuk pergi ke sebuah gereja terkenal yang teletak di dataran yang lebih tinggi dari tengah pusat kota Paris. Wanita itu mengajak Kyuhyun turun saat mereka berada di stasiun Montmartre, dan pria itu hanya mengikutinya tanpa banyak tanya. Bagi Kyuhyun, ini adalah jalan yang harus Eungi lalui untuk mengobati luka di hatinya, dan ia akan memposisikan diri menjadi sandaran yang dibutuhkan wanita ini saja.

Eungi merangkul lengan Kyuhyun dengan protektif, menuntun langkah mereka untuk menapaki anak tangga yang mengantarkan mereka pada puncak Sacre-Coeur, lalu ia menunjuk satu undakan tangga dan menyarankan mereka untuk duduk di sana.

“Kau pasti bingung kenapa kuajak ke sini.” Tebak Eungi sambil membelai tangan Kyuhyun yang menggenggamnya erat.

Pria itu mengangguk, “Kau mau menjelaskan?”

“Kurasa aku harus menemukan keindahan dari kota ini terlebih dahulu, sebelum aku mengorek lukaku kembali.” Terangnya.

“Apa ini tempat favoritmu?”

Eungi tersenyum dan mengangguk semangat. “Dulu aku hanya bisa membaca tentang basillica-basillica yang tersebar di Eropa melalui buku-buku, saat aku mempelajari tentang era-era desain—well, kau tahu juga tentang hal itu bukan? Kita mempelajarinya pada kelas arsitektur dasar. Ada beberapa tempat yang membuatku benar-benar penasaran, namun mereka semua hanya ada di Eropa: Sacre-Coeur, Il Duomo di Firenze, Milano Duomo, St. Peter Basillica, Basillica di San Marco, dan banyak lagi.”

“Aku tidak menyangka kau menyukai arsitektur gereja.” Sahut Kyuhyun antusias.

“Dulu aku sangat tertarik, karena pada tahun-tahun awal aku tidak tahu harus memfokuskan  minatku pada bidang apa, jadi aku benar-benar terkesima dengan seluruh konstruksi kuno yang inovasinya melewati zaman mereka. Maksudku begini, sekarang kalau kita melihat bangunan kubah, pasti kita mengira itu mudah saja dibangun karena alat-alat zaman sekarang sudah memadai. Namun konstruksi kuno itu menggunakan teknik fisika dan keilmuan yang benar-benar inovatif, hingga bisa berdiri tegak tanpa kecanggihan mesin yang kita miliki sekarang.” Jelas Eungi panjang lebar. Wajah wanita itu berbinar-binar, menjelaskan pada Kyuhyun tentang kekagumannya yang membuat ia jatuh cinta pada bidang keilmuannya.

Pria itu menyengir sambil mengangguk setuju pada pendapat Eungi tentang kecanggihan inovasi yang dimiliki ilmuwan zaman dahulu.

“Dari dulu aku tidak pernah bermimpi untuk bisa melihat dunia di luar Korea Selatan—jelas aku tidak punya dana yang berlebih untuk berlibur, jadi aku mengubur harapan itu dalam-dalam. Sampai suatu hari aku mendapat tawaran beasiswa ke Belanda, dan tiba-tiba saja kesempatanku untuk melihat dunia menjadi terbuka lebar. Aku dibiayai oleh pemerintah Korea Selatan dan juga oleh kampusku di Belanda, jadi aku bisa menabung untuk mengunjungi negara tetangga.” Eungi lanjut menjelaskan kehidupannya saat ia melanjutkan kuliah masternya.

“Biar kutebak, pasti kota ini adalah kota pertama yang kau datangi?” Kyuhyun mengacak rambut Eungi, ia semakin tertarik mendengarkan cerita kekasihnya.

Eungi mengangguk dan tersenyum, “Aku hanya mampu membeli tiket pulang-pergi ke salah satu kota, antara Berlin atau Paris. Aku penaraan ingin melihat keduanya, tapi kuputuskan untuk mengunjungi Paris—karena pada saat itu aku masih sangat terkagum dengan gaya Art Nouveau yang tersebar di kota ini, ketimbang Bauhaus yang sangat ikonik di Jerman. Bisa kau bayangkan sesenang apa aku saat itu? Dulu aku hanya bermimpi untuk melihat bangunan-bangunan ini dan tiba-tiba saja aku bisa berdiri di hadapannya—benar-benar perasaan yang tidak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.”

Kyuhyun terkekeh, pria itu melingkarkan lengannya di sekitar bahu Eungi, menarik wanita itu untuk bersandar pada bahunya. “Aku masih tetap kagum, kau membalikkan nasib hidupmu dengan usahamu sendiri. Kau sangat sukses sekarang, noona. Sampai-sampai aku terkadang lupa bahwa masa kecilmu sangat keras.”

Eungi menyengir, “Well, masa kecilku memang keras, tapi tidak sampai pada titik aku menderita. Aku hanya tidak memiliki segala fasilitas dan kemudahan yang kumiliki sekarang.” Ia menyandarkan kepalanya lebih dekat pada lekukan leher Kyuhyun, menikmati aroma maskulin pria itu yang membuatnya nyaman.

Keduanya duduk diam, menikmati pemandangan indah kota Paris di kejauhan yang terlihat jelas dari lokasi mereka sekarang. Di bawah sana, mimpi buruk Eungi menunggu, dan wanita itu benar-benar butuh secercah kenangan manis akan kota ini sebelum ia menyambut sisi gelap yang selalu menghantui dirinya.

“Lihat di bawah sana, Kyu.” Ia menunjuk pada menara Eiffel yang ikonik. “Dulu aku adalah seseorang yang sangat mencintai kota ini, bagiku berkeliling di sini rasanya seperti berada dalam museum raksasa. Dari sudut pandang seorang arsitek, jelas kota ini menawarkan banyak sekali detil desain indah pada setiap bangunannya.”

“Aku setuju masalah itu, memang kota ini cantik jika kita hanya memandangnya secara objektif.” Kyuhyun mendukung pernyataan Eungi.

“Tapi sekarang aku ketakutan setengah mati pada kota ini. Yang bisa kupikirkan sekarang hanyalah kejahatan-kejahatan yang bersembunyi di balik pilar-pilar megah itu. Para penjahat yang siap beraksi untuk mencuri, menculik, dan entahlah mungkin membunuh orang demi kepentingan mereka. Bisa jadi propaganda jahat juga sedang berlangsung detik ini. Atau seseorang mungkin saja sedang disiksa di balik seluruh keindahan yang terpampang di hadapan kita. Paris-ku sudah berubah, Kyu. Aku membencinya sekarang.”

“Apa kau akan baik-baik saja, noona?” Kyuhyun mengeratkan rangkulannya pada bahu Eungi. “Kalau kau belum siap, mari kita kembali ke apartemen. Bahkan jika memang kau benar-benar ketakutan, sebaiknya kita pesan tiket kembali ke Seoul secepatnya.” Saran Kyuhyun.

Eungi menggelengkan kepalanya, kembali menyembunyikan wajah pada lekukan leher Kyuhyun. “Kyu, aku ingin menuntaskan semuanya hari ini, agar kita bisa segera pulang ke rumah. Semakin lama aku bernapas di kota ini, semakin sesak juga dadaku. Jadi aku akan membereskan semuanya sekarang dan secepatnya.”

“Baiklah, kalau itu keputusanmu.” Kyuhyun mengusap punggung Eungi lembut. “Aku akan tetap di sampingmu dan mendukung semua keputusanmu, noona.”

 

*

 

Kyuhyun dan Eungi sekarang berdiri di atas hamparan rumput hijau di tengah lapangan panjang Champ de Mars, tepat di belakang menara Eiffel. Di atas lapangan itu sudah banyak manusia berkumpul untuk menantikan light show yang selalu ditampikan pada pukul sepuluh malam, gerombolan orang ini banyak yang menghamparkan karpet piknik, mengeluarkan berbagai makanan dan minuman sembari berseda gurau menunggu momen yang dinantikan. Keceriaan yang ada pada orang-orang itu berbeda dengan ekspresi yang Eungi dan Kyuhyun miliki, keduanya hanya menatap kosong ke arah menara besi yang menjadi symbol kota Paris itu dalam diam.

Mereka tidak datang ke tempat ini untuk bersenang-senang, setelah dari Sacre Coeur, Eungi mengajak Kyuhyun makan siang sebelum mereka memulai perjalanan mendebarkan menembus rasa takut Eungi. Wanita itu menarik tangan Kyuhyun sampai ke lokasi spesifik di lapangan rumput itu, wanita itu berhenti melangkah untuk memandang rumput di bawah kakinya. Ia memejamkan kedua matanya, menghirup udah lembab musim panas yang khas ke dalam paru-parunya, sambil dalam hati mencoba menguatkan mentalnya untuk memandang ke menara Eiffel yang terkenal. Di spot inilah mereka dulu melakukan piknik kecil, di lokasi ini juga Choi Siwon mengeluarkan sebuah cincin untuk meminta Eungi sebagai pendamping hidupnya, dan di tempat inij uga Eungi bersumpah akan mencintai pria itu sepanjang hidup mereka.

Perasaan bersalah mulai merayap di hatinya, ia sadar bahwa saat ini sumpahnya pada Siwon telah dilanggar, dan seolah itu belum cukup, Eungi juga membawa pria yang kini telah mengambil alih posisi Siwon dalam hidupnya. Jika boleh jujur, ada bagian diri wanita itu yang ingin menyudahi perjalan ini, ia terlalu pengecut untuk menuntaskan semuanya dan Eungi tidak yakin ia kuat melawan serangan emosi yang merundungi dirinya. Namun ia ingin menuntaskan semua ini, ia harus menguatkan tekadnya untuk menutup lembaran pilu hidupnya—demi dirinya, demi Kyuhyun yang telah bersabar menunggunya.

“Apa cerita dari tempat ini, noona?” Kyuhyun memberanikan diri untuk bertanya. Pria itu bisa menebak jawabannya, tapi akan lebih melegakan jika ia mendengar sendiri dari mulut Eungi.

Eungi merubah genggaman tangannya pada Kyuhyun untuk menautkan jemari mereka lebih erat, menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu tanpa meminta Kyuhyun untuk duduk di hamparan rumput hijau di bawahnya—Ia tidak berniat berlama-lama di tempat ini.

“Pria itu melamarku di sini.” Jawab Eungi jujur.

“Ahh, I see.” Kyuhyun mengangguk, mencoba menelan bulat-bulat rasa kesalnya. “Sepertinya pria itu tipe gentleman klasik ya?” Kyuhyun menyembunyikan emosinya dengan cara berpura-pura tenang.

Eungi terkekeh pada reaksi Kyuhyun, pria ini sepertinya selalu tahu cara untuk mengeluarkan kata-kata sinis yang bisa menghiburnya. “Ng, dia memang tipe seperti itu.” Eungi mengangguk, kata-kata yang terlontar dari mulutnya kemudian lolos tanpa sempat ia pikirkan. “Jadi, kumohon jangan melamarku dengan cara cheesy seperti itu kalau suatu hari kau berniat meminangku.”

Kyuhyun tertawa, ia benar-benar tertawa lega karena permintaan konyol Eungi—dan pria itu juga senang karena Eungi telah mempertimbangkan hubungan mereka sampai pada tahap yang lebih serius. “Baiklah, akan kucamkan itu di kepalaku baik-baik, noona. Tidak ada menara Eiffel, tidak ada cliché, dan tidak perlu menggunakan romantisme yang berlebihan. Aku paham!”

“Dan tolong jangan berlutut! Aku benci gestur itu.” Tambah Eungi dengan cengiran lebar.

Kyuhyun mengangguk, “Aku catat permintaanmu baik-baik.”

Eungi melingkarkan lengannya diseputar tubuh Kyuhyun, berjinjit untuk mengecup pipi pria itu sambil membisikkan rasa terima kasihnya.

“Apa yang akan kita lakukan di sini?” Tanya Kyuhyun sambil memeluk Eungi balik.

“Aku akan meminta waktu sedikit untuk berkabung mengenangnya, jika kau tidak keberatan.” Ia mengangkat alisnya untuk meminta persetujuan dari Kyuhyun.

“Aku hanya satu langkah di belakangmu jika kau membutuhkanku, oke?” Kyuhyun melepas pelukannya dan mengambil satu langkah ke belakang Eungi. Memberikan wanita itu sedikit privasi yang dibutuhkannya.

Eungi menarik napas dalam dan mengambil waktunya untuk mengenang memori indah yang dimilikinya di tempat ini. Bagaimana pun sebuah kenangan hanya akan terus ada bagi mereka yang terus berusaha menjaga memorinya tetap hidup dan mereka yang ditinggalkan adalah orang-orang yang harus menjaga kenangan itu.

Dalam hati, Eungi terus menerus menyakinkan dirinya sendiri, bahwa apa yang dilakukannya sekarang adalah hal yang Siwon inginkan. Eungi tahu seberapa besar cinta Siwon pada dirinya, dan ia yakin pria itu hanya mengharapkan kebahagiaan Eungi—meskipun sekarang kebahagiaan wanita itu telah beralih pada keberadaan Kyuhyun dalam hidupnya.

Wanita itu menutup kedua kelopak matanya, dan bagai menonton sebuah film picisan, gambaran malam romantis itu terulang kembali di ingatannya.

Ia ingat mantel musim gugur bewarna hitam yang membalut kemeja biru gelap Siwon di malam itu. Detil dari makanan ringan yang mereka pilih, merek anggur yang mereka minum, bahkan pola pada tikar piknik yang mereka hamparkan di atas rumput kecoklatan di musim gugur itu. Eungi dapat mengingat jelas fitur-fitur pada wajah tampan mediang kekasihnya, matanya yang bulat yang dihiasi dengan sepasang alis tebal, hidungnya mancung yang terlihat sempurna jika dipadukan dengan bibir penuh Siwon, lesung pipi pria itu yang selalu membuat senyum indahnya terlihat semakin menawan—bagian yang Eungi paling sukai dari fitur wajahnya.

Kehangatan momen itu masih hinggap di hatinya, bagaimana mungkin ia bisa melupakan salah satu kenangan terbaik dalam hidupnya? Kala itu, matahari nyaris terbenam dan merefleksikan sinar jingga di atas langit kota Paris. Di tengah pemandangan menakjubkan itu, Choi Siwon tiba-tiba mengeluarkan benda lingkaran kecil bertahtakan berlian pada pusatnya. Rasa percaya diri dalam pembawaan pria itu, gurat kegelisahan di wajahnya, serta sinar gugup di matanya melengkapai suasana menegangkan saat pria itu mengutarakan kalimatnya. Eungi juga mengingat jelas senyum bahagia di wajah pria itu setelah ia mengenakan cincin pemberiannya pada jari manis tangan kirinya, serta ciuman hangat yang mereka lakukan sebagai ekspresi kebahagian setelahnya—rasanya semua itu baru terjadi kemarin dan kini seluruhnya lenyap tak bersisa.

Rasanya seperti ada sebuah tangan besar yang meremas hati Eungi saat ini, tubuhnya mulai bergetar karena menahan emosinya, namun wanita itu masih berjuang untuk melawan kegetiran yang menyerangnya. Yang ia tahu, ia tidak boleh hancur sekarang, ia tidak bisa lagi jatuh terpuruk pada memorinya, ia harus tetap kuat melawan traumanya—demi dirinya serta pria yang masih menunggunya dengan sabar di belakangnya.

Kyuhyun mengulurkan tanganya untuk merangkul bahu Eungi setelah wanita itu selesai berkabung, ia tidak bertanya dan hanya menurut saja ketika Eungi mengajaknya pergi dari tempat itu. Hati Kyuhyun pun sesak, ia tidak suka dengan kondisi mereka sekarang tapi ia lebih benci lagi melihat ekspresi yang ada di wajah wanita itu. Eungi terlihat persis seperti kali pertama Kyuhyun bertemu dengannya—ekspresinya muram dan tatapan matanya kosong. Jelas wanita itu tidak bisa membohongin Kyuhyun, bisa saja Eungi mencoba untuk terlihat kuat, tapi Kyuhyun tahu persis kegundahan dalam hati Eungi hanya dari indikasi tangannya yang kini  semakin bergetar dalam genggaman Kyuhyun.

Pria itu meremas bahu Eungi, mencoba memberikan dukungan tanpa berkata apapun. Tekad di wajah Eungi semakin terlihat, meskipun langkahnya sekarang terasa semakin berat ketika mereka keluar dari area Champ de Mars. Jelas sekali wanita itu mencoba untuk menuntaskan seluruh rencananya hari ini.

Dalam perjalanan mereka keluar dari lapangan itu, Eungi berhenti sebentar di toko souvenir. Ia membeli sebuket mawar merah dan Kyuhyun langsung paham ke mana tujuan mereka selanjutnya. Pria itu menarik napas dalam, kali ini ia harus benar-benar menguatkan hatinya—untuk menghadapi meltdown Eungi yang pasti akan muncul dan juga untuk tetap bertahan menjaga wanita itu bersamanya. Karena pria itu paham, pasti tempat tujuan mereka berikutnya merupakan bagian tersulit dari seluruh rangkaian perjalanan ini.

Tebakannya benar, Cha Eungi menuntun langkah mereka menuju Rue de la Charone untuk mengunjungi tempat di mana ia kehilangan segalanya. Mereka berbelok di sudut jalan itu, melangkah semakin dekat pada restoran yang menjadi saksi bisu lenyapnya harapan Eungi. Semakin dekat dengan lokasi itu, semakin erat pula genggaman tangan Eungi pada Kyuhyun. Pria itu bisa merasakan tangan Eungi yang semakin dingin dan basah oleh keringat, wanita itu juga sudah tidak bersusah payah menyembunyikan emosinya, ia menarik napas dalam berkali-kali sekedar untuk menenangkan hatinya.

“Maafkan aku, aku benar-benar gugup.” Ujar Eungi yang menyadari tatapan khawatir dari Kyuhyun.

“Aku paham, tidak apa, noona.” Pria itu menghentikan langkah mereka. Kyuhyun meletakkan kedua tangannya pada bahu Eungi, memutar tubuh wanita itu untuk menghadapnya kemudian memeluk Eungi untuk mengurangi tremor yang sedang dialami kekasihnya. “Ini adalah perang-mu, noona. Aku bisa mendukungmu, aku bisa mendampingimu, tapi aku tidak bisa menuntaskan ini untukmu. Maka, jika semua ini terasa terlalu berat, kita bisa kembali besok..”

“Tidak.” Jawab Eungi ngotot. “Aku bisa melihat restoran itu dari sini, aku sunggup tidak mampu melakukan ini lagi besok, Kyu. Kumohon.”

Kyuhyun mengeratkan pelukannya pada tubuh ringkih Eungi, menularkan sedikit kekuatan yang masih tersisa dalam tekadnya. “Fine, take your time.”

Eungi memisahkan tubuhnya dari pelukan Kyuhyun, menelan gumpalan yang ia rasakan pada kerongkongannya sambil menguatkan diri untuk melangkah mendekati restoran keramat itu. Ada monumen kecil yang di bangun di depan restoran, sebagai sebuah peringatan tentang pembantaian mengerikan yang pernah terjadi di sana. Pada monumen itu banyak yang meletakan foto atau barang kenangan dari orang-orang yang telah meregang nyawa di dalamnya. Kini, langkah Eungi terhenti tepat di depan monumen itu untuk meletakkan buket bunga yang dibeli sebelumnya.

Wanita itu melirik ke dalam restoran untuk mencari lokasi meja yang dulu mereka gunakan ketika menikmati makan malam terakhir. Tempat itu telah direnovasi dan kini terlihat persis sama seperti saat sebelum pembantaian itu terjadi, jika bukan karena monumen kecil yang ada di depannya, pasti tidak ada orang yang sadar bahwa tempat ini adalah salah satu titik pembantaian Paris terjadi. Tempat yang rusak dulu dengan mudahnya direnovasi, tapi hatinya masih saja tetap hancur hingga kini.

Lagi-lagi memori terputar dalam kepalanya, dari makan malam malam romantis yang berubah menjadi bencana. Tiba-tiba saja Eungi bisa mengingat dengan jelas seluruh rangkaian kejadian yang menimpanya, seolah selama ini tidak ada yang ia coba lupakan. Rasa takut merayapi nadinya, namun rasa bersalah kembali mengambil alih seketika ia teringat ekspresi Siwon saat berjuang mempertahankan napas terakhirnya. Bahkan ketika pria itu telah berlumuran darahnya sendiri, ia masih sempat memerintahkan Eungi untuk tetap selamat dan pria itu sanggup memberikan Eungi senyuman manis yang dikaguminya untuk terakhir kali.

Wanita itu menyerah, seluruh bobot tubuhnya kini jatuh dan ia berlutut di hadapan monumen kecil itu dengan pasrah, sudah cukup usahanya untuk terlihat kuat, wanita itu tidak lagi mampu melawan kepiluan dalam hatinya dan rasa bersalahnya tidak membuat keadaan lebih baik. Eungi menangis histeris dan mulai menarik perhatian orang-orang yang lewat di dekatnya—dan tidak ada yang perlu penjelasan dari pemandangan ini, monumen kecil tempatnya berlutut cukup menyampaikan deritanya.

“Mian oppa.” Ia berbisik di tengah tangisnya.

Ia mencoba berpegangan pada sesuatu untuk menguatkan diri, namun satu-satunya hal yang bisa diremasnya sekarang hanyalah buket mawar merah yang masih digenggangamnya. Sisa-sisa duri yang ada pada batang bunga itu menusuk beberapa bagian kulit tangannya, namun Eungi tidak peduli, perih tusukan duri itu tidak terasa apa-apa dibandingkan dengan sayatan dalam hatinya.

“Mian oppa.” Ia kembali berkata dengan suara yang lebih keras. “Aku tidak bisa membawa apapun untukmu.” Wanita itu memukul-mukul dadanya sendiri untuk melawan sesak yang dirasakannya. “Aku sangat menyesal.. karena hal itu.. terjadi padamu.. maafkan aku, oppa.” Ia mulai kehabisan napas saat pikirannya mulai meliar dan memikirkan berbagai kemungkinan indah yang bisa terjadi dalam hidup mereka jika pembantaian itu tidak pernah ada.

Eungi menengadahkan kepalanya ke langit, mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya dari mulutnya, berusaha keras untuk menuntaskan perang batinya sendiri. Ini adalah momen tersulit dari closure yang harus dilaluinya dan apa yang dikatakan Kyuhyun sebelumnya memang benar—pria itu bisa mendukung Eungi dengan segenap kemampuannya, namun tugas Eungi lah untuk mengakhiri siksaan batinnya. Dan wanita itu sedang memperjuangkan sisa-sisa kewarasannya, agar ia bisa melanjutkan lembaran hidup baru dengan pria yang masih tetap berdiri mendampinginya.

Bumi bagai bergetar di bawah kaki Kyuhyun, ia benar-benar tidak yakin sanggup menyaksikan kekasihnya meraung seperti itu lebih lama lagi. Jika saja ia yang memegang keputusan, maka Kyuhyun akan segera menarik tangan Eungi dan membawanya pergi dari tempat ini. Pria itu ingin menenangkannya, ingin mendekapnya, ingin membawanya ke tempat yang lebih aman, namun ia sendiri masih terlalu terguncang menyaksikan tangisan histeris Eungi yang tidak berhenti.

Menyaksikan betapa hancur wanita itu sekarang membuat Kyuhyun sadar, bahwa apa yang dimiliki Eungi dengan Siwon benar-benar berharga, bahwa pria itu masih tetap menduduki hati kekasihnya, bahwa Choi Siwon selamanya akan menjadi duri dalam hubungannya dengan Eungi—dan buruknya lagi, pria itu telah wafat dan hanya kenangan indah yang tersisa dalam ingatan Eungi.

Kyuhyun paham bahwa Eungi sedang berjuang untuk memulai lembaran baru, tapi ia juga bisa melihat bahwa Eungi terlalu lemah dalam mengontrol perasaannya sendiri. Dari sudut pandang Kyuhyun, Eungi terlihat seperti wanita yang ingin melanjutkan hidupnya, namun juga tidak rela melepas cintanya pada pria yang telah tiada—dan lagi-lagi membuat Kyuhyun merasa seperti pecundang yang berperan sebagai pengganti sementara Siwon saja.

Dan pikiran itu menyakitkan bagi Kyuhyun.

Mungkin deskripsi rasa cemburu terlalu remeh jika digunakan untuk mengungkapkan perasaan pria itu. Kyuhyun marah—marah karena sikap Eungi yang terkesan plin-plan, marah karena kelemahan wanita itu terhadap emosinya sendiri, marah karena ia telah membiarkan dirinya sendiri untuk merasa nyaman dengan Eungi meskipun ia tahu beban yang dipikul wanita itu begitu berat—dan Kyuhyun marah pada dirinya sendiri karena meragukan Eungi detik ini.

Pria itu juga merasa malu—malu atas rasa marah yang ia miliki tadi, malu karena ketidakmampuannya untuk melindungi Eungi, malu atas rasa cemburunya pada pria yang telah meninggal.

Lalu emosi lain menyerangnya sekarang—keraguan.

Apa Kyuhyun akan pernah cukup bagi Eungi? Apakah wanita itu akan mencintainya seperti ia mencintai Siwon? Mampukah Kyuhyun bertahan? Mampukah ia menggantikan hebatnya Siwon dalam hidup Eungi? Mampukah Kyuhyun menjadi sandaran yang Eungi butuhkan? Apa tekadnya cukup kuat untuk terus mengejar bayangan Eungi? Bisakah ia menghadapi episode lain dari kerapuhan wanita itu?

Dan sebuah pertanyaan paling berbahaya melintas dalam benaknya sekarang—terlambatkah bagi dirinya untuk mundur dari semua kekacauan ini?

 

 

 

Advertisements

95 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 16

  1. choky_1408 says:

    Yahh kenapa Kyuhyun sampai kepikiran buat mundur setelah semua yg terjadi sama mereka berdua?
    Walaupun emang pasti rasanya nggak enak bgt jadi Kyuhyun, harus liat kekasihnya masih kebayang2 mantan tunangannya, tp setidaknya jgn mundur lah..
    Ff ini konflik utamanya emang ttng Kyuhyun yg nggak percaya diri dan Eungi yg msh terbayang2 sama Siwon
    Fighting buat next post !!!

    Like

  2. restucho says:

    aku sampe lupa udah baca sampe part berapa karna terakhir baca bulan november hahaha
    ahh seharusnya kyuhyun jangan berpikir buat mundur lagian eungi udah membuka hati lagi kan, kalau mundur gimana eunginya nanti? disaat eungi udah merasa nyaman masa kyuhyun mau mundur? huh

    Liked by 1 person

  3. Eunkyu says:

    Ahhhhhhhhh kyuhyun pisss jngan berpikir untk mndur, eungi cma btuh sedikit tmbahan waktu tuk mengikhlaskan siwon dan semua rasa sakitnya
    Kalo kmu jga milih mundur akan jdi apa eungi nanti?

    Liked by 1 person

  4. imgyu says:

    ini yang aku takutin, ketika eungi nyoba nyembuhin diri dari traumanya disisi lain kyuhyun malah terluka ngeliat itu. Jangan sampe kyuhyun mikir buat mundur dari eungi, tp kalo di posisi kyuhyun jg mungkin akan mikir gitu

    Liked by 1 person

  5. nulnul9 says:

    Kyuhyun mulai lagi deh merendahkan diri nya. Harusnya tuh kyuhyun ttp merasa pantas untk eungi, dia dan siwon berbeda, mereka masing2 punya hal yg membuat eungi merasa nyaman dg cara mereka sendiri.

    Ga sabar nunggu balasan email dg authornya, lompat k part ini dulu

    Liked by 1 person

  6. Cho Sarang says:

    Kau cukup bagi eungi kyu, dia akan mencintaimu melebihi rasa cintanya pada siwon, kau harus yakin kalau kau mampu bertahan,kau mampu menggantikan hebatnya siwon dalam hidup eungi bahkan mungkin saat ini sosok siwon telah tergantikan dengan dirimu hanya saja eungi belum menyadarinya karena rasa berkabungnya. Kau telah menjadi sandaran bagi eungi kyu, dan lau harus bertekad kuat untuk mengejar eungi,mendampingi dan menjaga eungi dalam kerapuhannya karena dia butuh kau untuk tempat bersandar dan tempatnya bergantung.

    Dan aku mohon jangan mundur,jangan meninggalkan eungi,itu sama saja kau menghancurkannya dan membunuhnya perlahan – lahan,lebih baik kau membunuhnya langsung karena itu takkan semenyakitkan kau meninggalkannya

    Like

  7. ona kyu says:

    yah Kyuhyun mulai ragu untuk meneruskan hubungan nya dengan Eungi. ketika melihat penderitaan yang dialami Eungi hingga Kyu menganggap dirinya tak mampu untuk menggantikan posisi Siwon di hati Eungi. ayo Kyu jangan nyerah dong.😭😭😭😭

    Liked by 1 person

  8. Barom yu says:

    Ya ampunn ga kuat liat eungi begitu
    Dan ga tega bayangin kyu bergejolak bersama batin nya ><
    Aishh kyu jangan berfikiran begitu! Ga mau kalian pisahh
    Udah sejauh ini kalian bertahan*salut salut sama perjuangan kyu yg tetap bertahan disamping eungi. Moga seperti inu seterusnya huhuhu -,-

    Liked by 1 person

  9. dubbyblue says:

    Part ini yg menurut ku paling masuk akal. Cinta eungi ke siwon besar, siwon meninggal krn melindungi eungo, jadi WAJAR ada tangisan sehisteris itu. Hahh~ tapi kyuhyun? Enggak mudah move on dari orang yg kita cintai apalagi dia meninggal krn kita. emosi deeeeeh ergh! kehadiran kyuhyun terlalu cepat di tengah-tengah siwon dan eungi. di liat dari sisi ku – si makhluk egois – aku bakalan kecewa kalo eungi cepat berpaling ke kyu dan ngelupain siwon hihihi

    Liked by 1 person

  10. Song Yoo Ki says:

    Konflik dlm hubungan Eungi dan Kyuhyun kayanya bakal dimulai, Kyuhyun mulai ragu sm Eungi, tp wajar sih kalo liat Eungi msh kyk gitu. Kyuhyun kuatkan cintamu, Eungi ikhlaskan mantanmu. Sejauh ini, chapter ini yg paling bikin mewek, kerasa bgt feel nya

    Liked by 1 person

  11. missluck says:

    Setelah semua suport yg Kyuhyun berikan kpd Eungi,
    Dan begitupun sebalik’a.
    Sekarang dia mengalami krisis kepercayaan diri kembali.
    Takut’a dia akan kembali lg pd Kyuhyun yg bersembunyi d balik sosok’a yg angkuh dingin mengintimidasi.
    Dan parah’a sikap’a trhdp Eungipun berubah.
    Mungkin lbih protektif dlm segala hal.

    Liked by 1 person

  12. Ika says:

    Cerita ini bagus, apa lagi casnya si kyuhyun aku suka 😀..
    Maaf di part2 sebelumnya nggak pernah ngasih komentar,,
    Tp untuk pasword eps 15 apakah ada petunjuk lain? Kare aku udah coba dengan kemungkinan jawaban tapi salah terus..

    Semangat untu author dalam berkarya

    Liked by 1 person

  13. Rinjani says:

    Anjir Kyu!!! Jgn tinggalin Eungi ini mah plisss bgt:(( rangkul Eungi sampe bisa ngilangin trauma nya.
    Eungii bisa dong yaaa ih ya ampun greget sumpah!!!!!
    KYUHYUN PARBANG LOE KALO SAMPE NINGGALIN EUNGI AWAS YHAAA
    FIghting eonni!!

    Liked by 1 person

  14. ladybook123 says:

    Yeay akhirnya ketwmu blog ini…
    Td malem aku marathon baca cerita ini di blog tetangga n penasaran bgt ama kelanjutannya…

    Coba nyari2 n ketemu deh….

    Aku numpang baca ya… n klo bs aku cb usahain buat tinggalin komen. (Tp biasanya selalu terlalu seru baca, jd tglin komennya di part terakhir.. hehehe)

    Liked by 1 person

  15. sweetrizzu says:

    Sudah cukup lama gk liat sifat pesimis Kyuhyun trus muncul di part ini rasanya sebel bgt!
    Terserah lo aja Kyu. Cowok” emg suka gitu, janji palsu!
    Semangat move on nya Eungi. Abis brhasil move on dr Siwon, siap” move on dr Kyuhyun.. Siapa yg tau klo dia ntr uda gk kuat lg jd org yg optimis~

    Liked by 1 person

  16. Afa hyerin says:

    Yahhh… Kyu kyu.. Kamu harus lebih sabr song menghadapi traumanya eungi.. Masa kamu mau menyerah sih.. Setelah kebahagiaanmu yang indah.. Ayo fighting kyu kyu

    Liked by 1 person

  17. Dyana says:

    Andwae Kyu, jgn ragu akan semuanya, kau pantas bersama Eungi, dia membutuhkanmu, jika kau berniat mundur gadis itu akan hancurr… Ttplah bertahan… Please…

    Liked by 1 person

  18. OngkiAnaknyaHan says:

    sambil nunggu dapet pw part 15 baca part 16 dulu
    kak baca emailku donk , pliss

    nah, kan makin berat hubungan mereka
    kemarin udah manis2an lho padahal
    semoga trauma eungi cepet sembuh , kan kesian kyuhyunnya
    diabaikan gitu sama eungi

    minal aidzin walfaidzin maaf lahir batin ya kak

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s