(Indonesian Version) One Last Shot – Part 14

 

Author: Ssihobitt

Category: Romance, NC-21, Chaptered

Cast: Cha Eungi, Choi Siwon, Cho Kyuhyun

 

 

Mereka sudah tiba di kota keramat itu sejak dua hari yang lalu, namun Cha Eungi masih belum berani menapakkan kaki untuk keluar dari apartemen sewaan mereka yang terletak agak jauh dari pusat kota. Wanita itu benar-benar masih ketakutan dan trauma untuk menghampuri pusat atraksi bagi turis di kota Paris dan sepanjang perjalan dari bandara menuju apartemen sewaan mereka, ia hanya menutup mata sambil menyender pada Kyuhyun.

Trauma telah membuatnya menjadi semakin ciut dengan tujuannya datang ke sini, bagaimana mungkin ia bisa mulai menulis jika tangannya selalu bergetar hebat setiap kali ia baru mau mengetik? Dan suasana Paris yang terlihat mencekam di mata Eungi tidak membantu keadaannya sama sekali. Karena ia menolak untuk keluar, maka Kyuhyun sekarang harus merangkap menjadi bodyguard Eungi sekaligus tukang pengantar makanan. Mereka menemukan tempat makan asia tidak jauh dari tempat tinggal sewaan dan selama dua hari ini pula, Kyuhyun sudah bolak-balik untuk memenuhi kebutuhan perut mereka.

Eungi tidak pernah meremehkan dan berpikir bahwa menghapus traumanya akan menjadi hal yang mudah, namun ia juga tidak menduga hal itu akan sesulit ini. Di satu sisi ia merasa berdosa pada Kyuhyun, ia telah mengajak pria itu untuk ikut ke dalam sisi hidupnya yang kelam, dan buruknya lagi ia juga tidak menyiapkan rencana apapun untuk memulai perjalanan yang seharusnya menyembuhkan mentalnya ini. Kyuhyun sendiri tidak mau bicara banyak mengenai progres Eungi, ia percaya wanita itu pasti membutuhkan waktunya sendiri untuk membaik dan memaksakan keadaan jelas bukan solusi yang tepat—apalagi mengingat wajah Eungi yang terus murung sejak mereka mendarat di Charles de Gaulle.

Pada sore hari itu, mereka hanya menghabiskan waktu bersama layaknya waktu-waktu yang mereka habiskan di Seoul. Wanita itu tetap melakukan kesehariannya, membaca buku dan koran, memantau berita dari laptopnya dan menonton TV lokal dengan bahasa Perancis yang familiar di telinganya. Kyuhyun mencoba bersabar dengan kelakuan Eungi yang sejujurnya mulai membuatnya jengkel—ia ingin wanita itu berhenti menyangkal ketakutannya, dan jika memang perjalanan ini masih terlalu berat untuk dilakukan, maka pria itu akan dengan senang hati membawa Eungi pulang.

Memang ini ide Kyuhyun, memang ia pun bersumpah untuk mendampingi Eungi dan ia menekankan pada dirinya sendiri bahwa ia harus sabar menantikan kemajuan proses dari kekasihnya. Ia juga tidak keberatan dengan fakta keduanya sedang berlibur di Eropa sekarang, tapi berlibur di Eropa dengan beban mental yang harus ditanggung keduanya seperti sekarang jelas bukan situasi yang menyenangkan.

605eeb3f04c751646f328d46683faffb

gambar milik Park Seul

Saat Kyuhyun kembali dari membeli keperluan harian, ia menemukan Eungi sedang duduk di lantai sambil termenung. Pandangannya diarahkan pada jendela besar yang memandang jauh ke pusat kota, sinar mentari sore membuat kulit putihnya bersinar jingga, membuat gurat kekhawatiran di wajah Eungi semakin ketara.

Wanita itu menyadari tatapan kekasihnya yang memperhatikannya dari jauh, ia menoleh dan tersenyum lemah padanya. Bukannya ia tidak sadar bahwa Kyuhyun sudah mulai gusar dengan kegiatan mereka yang tidak jauh-jauh dari berdiam diri di kamar, ia hanya memohon tambahan waktu untuk menuntaskan masalahnya—dan ia sungguh berterima kasih atas pengertian Kyuhyun.

Pria itu memutuskan untuk ikut duduk di samping Eungi, ia meniru posisi wanita itu yang memeluk lututnya sambil memandang kosong ke kejauhan sambil mencoba menciptakan suasana nyaman di tengah ketegangan yang sudah menghantui mereka sejak keduanya mendarat di Paris. Eungi menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun, menghirup aroma maskulin pria itu yang semakin hari membuatnya ketergantungan, mencoba mencari ketenangan dari sosok Kyuhyun yanga da di sampingnya.

“Maafkan aku, Kyu.” Bisiknya. “Kukira aku punya rencana yang matang, tapi nyaliku langsung ciut saat kita tiba di sini.”

“Tidak apa..”

“Ini masalah, Kyu. Hanya karena kau tidak mengutarakan isi hatimu, bukan berarti aku tidak menyadari bahwa kelakuanku ini mulai membuatmu jengkel.” Ia menggeser duduknya untuk mendekap Kyuhyun.

“Aku.. well, sejujurnya aku hanya merasa semua ini sangat janggal.” Kyuhyun melingkarkan lengannya ke balik punggung Eungi untuk merangkulnya. “Dan aku serba salah, itu saja.”

“Sejujurnya, aku tidak tahu harus memulai ini dari mana.” Akunya. “Bagaimana mungkin aku mencari proses penyembuhan kalau aku sendiri tidak tahu harus memulai dari mana—aku bahkan tidak punya nyali untuk melangkahkan kaki keluar dari apartemen ini.”

“Noona, kota ini berkontribusi besar pada traumamu, apa yang harus kau lalui di sini tempo lalu itu bukan hal yang mudah. Jelas kau butuh waktu untuk membiasakan diri.”

Eungi menarik napas dalam-dalam sambil bergerak untuk mencari posisi yang lebih nyaman pada lekukan tubuh Kyuhyun, kemudian ia menyandarkan bagian belakang tubuhnya pada kekasihnya. Kyuhyun sendiri melebarkan kakinya, sehingga Eungi bisa duduk diantara kedua kakinya sambil pria itu memeluknya dari belakang dengan nyaman.

“Kyu, aku beberapa kali mencoba menulis draft untuk bukuku dan aku selalu merinding setiap kali memutar ulang kejadian itu di kepalaku.”

“Apa mengutarakannya terlebih dahulu akan lebih mudah? Ceritakan padaku perkembangan bukumu sejauh ini, noona.”

Eungi terkekeh, “Belum ada yang berguna. Hanya draft secara garis besar dan bab awal—bab yang belum melibatkan tragedi itu.”

“Boleh aku membacanya?”

Wanita itu menggeleng cepat.

Eungi tidak yakin apa yang sudah ditulisnya sejauh ini adalah cara yang layak baginya untuk memulai kisahnya, dan ia yakin seratus persen bahwa Kyuhyun akan membenci bab-bab awal di buku itu, karena seluruhnya adalah tentang Eungi dan Siwon. Eungi harus mengenalkan siapa sosok Siwon di dalam bukunya, ia ingin setidaknya pria yang telah mengorbankan nyawanya tetap hidup abadi dalam kisah yang ditulisnya.

Dengan alasan mendasar itu lah Eungi memutuskan bahwa Kyuhyun tidak boleh membaca bab awal bukunya—pria itu baru boleh membacanya jika buku itu sudah tuntas menjadi satu kesatuan cerita yang utuh, sehingga tidak ada salah paham. Eungi sadar bahwa pria yang kini mendekapnya akan sangat terluka jika ia membaca tentang kenangan Eungi dan Siwon. Kekasihnya sudah cukup minder dengan saingan terberatnya, tanpa perlu dibumbui lagi dengan cerita romantis antara Eungi dan mantan tunangannya. Wanita itu hanya ingin melindungi Kyuhyun dari keraguan hatinya sendiri, paling tidak itulah yang bisa dilakukannya sekarang bagi pria yang telah sabar mendampinginya, pria yang membuatnya merasa aman di dalam pelukannya, pria yang kini mengisi setiap relung hatinya.

“Kau boleh membaca buku itu kalau seluruh babnya sudah jadi, sekarang masih terlalu kacau.” Ujar Eungi sedikit berbohong. “Dan sejujurnya aku sudah kehilangan keberanianku untuk menulis ketika aku semakin mendekati bagian yang penting.”

“Apa bagian yang penting?”

“Pembantaian itu sendiri.” Eungi menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher Kyuhyun. “Entah mengapa, runutan kejadian menjadi kabur dalam ingatanku, sepertinya alam bawah sadarku benar-benar menolak untuk ingat-ingat kejadian itu.”

“Apa kau mau membicarakannya denganku?” Kyuhyun bingung sendiri dengan sarannya. Sesungguhnya jika Eungi benar-benar membutuhkan runutan kejadian detail, Kyuhyun bisa saja menunjukkan rekaman CCTV yang diretasnya dulu—tapi pria itu berharap agar tidak perlu bertindak sekejam itu pada Eungi.

“Apa kau akan baik-baik saja jika aku berbicara tentang hal ini?” Tanya Eungi ragu.

Try me.”

Eungi membalik duduknya agar ia menghadap Kyuhyun, ia bersila dan masih tetap memposisikan tubuh mungilnya diantara kedua kaki Kyuhyun yang terbuka. “Kalau kau tidak suka dengan yang kau dengar, hentikan omonganku kapan pun kau mau, oke?”

Kyuhyun ikut duduk bersila di hadapan Eungi, pria itu menarik napas dalam untuk mempersiapkan diri mendengar cerita memilukan yang akan diungkapkan kekasihnya.

“Kami makan malam bersama di restoran dekat hotel dan saat itu acara makan malam kami nyaris berakhir. Tiba-tiba terdengar suara decitan ban yang sangat memekakkan telinga yang berhasil menarik perhatian semua orang di dalam restoran itu.” Mulainya.

Kyuhyun menggenggam tangan Eungi sambil memainkan jemarinya diantara jemari wanita itu, ia mengukuhkan diri untuk mencoba tenang ketika mendengar kisah ini dari sudut pandang Eungi sebagai korban.

“Aku ingat saat aku melihat senjata api dikeluarkan dari balik punggung pria bermasker, itu adalah pemandangan terakhir yang kulihat sebelum aku didorong ke lantai. Detik berikutnya aku mendengar tembakan senjata yang bertubi-tubi, suara kaca yang pecah juga ikut meramaikan teriakan histeris yang kudengar dari balik tubuhnya saat itu. Saat itu, rasanya bumi bergetar dan yang bisa kurasakan hanya bobot tubuhnya yang terus menekanku ke bawah, mencoba menyembunyikan tubuhku di balik tubuhnya yang lebar.” Eungi memejamkan matanya sembari memeras habis kenangan pahit dari memorinya.

Kyuhyun tidak yakin dengan emosinya sekarang. Ia menghargai usaha wanita ini yang semakin terbuka padanya dari hari ke hari, tapi pada saat yang bersamaan ia tetap merasa minder atas perlakuan Siwon yang terdengar sangat heroik—ia paham bahwa Eungi memang tidak pernah membandingkan mereka berdua, tapi semakin banyak ia mengenal sosok Siwon dari cerita Eungi, semakin insecure pula Kyuhyun dengan posisinya.

“Menurut kesaksian, katanya kejadian itu hanya berlangsung tiga menit saja, but it felt like eternity to me.” Eungi melanjutkan. “Aku kira saat penembakan itu berhenti, segalanya akan menjadi lebih baik, tapi ternyata aku salah besar. Saat bunyi senjata mesin berhenti, keheningan malam langsung mengambil alih—dan itu adalah kesunyian yang sangat mencekam. Aku menolehkan kelapaku untuk mengamati ruangan itu dan yang kulihat hanya genangan darah di seluruh permukaan lantai. Keluarga yang sebelumnya berteriak histeris di sampingku sudah tidak bersuara karena mereka semua sudah tewas, sementara pria yang melindungiku sedang berjuang mempertahankan napas terakhirnya.” Suara Eungi tercekat dan matanya mulai terasa panas.

Eungi menyingkirkan rambutnya ke sisi kanan bahunya sebelum ia menunjukkan pada Kyuhyun bekas luka yang menggores kulit putihnya dari arah bahu kiri hingga punggungnya.

“Luka ini adalah satu-satunya yang membekas di tubuhku dari kejadian itu.” Ujarnya lirih sambil meneteskan air mata. “Pria itu menjadi tamengku dan hanya luka dari pecahan kaca ini yang kuperoleh. Ia menghembuskan napas terakhirnya tidak lama kemudian, peluru-peluru yang membabi buta itu menembus paru-parunya dan beberapa organ vital lain—fakta bahwa ia masih sempat mengucapkan kata-kata terakhirnya untukku sudah merupakan keajaiban.”

Kyuhyun mengusap luka di bahu Eungi lembut, semakin detail cerita Eungi, semakin pilu juga hatinya.

“Tapi yang kuceritakan itu bukan bagian terburuk. Bagian terburuknya adalah ketika paramedis datang untuk memeriksa keadaan semua orang di situ. Mereka membawa korban luka keluar dari sana untuk melakukan pemeriksaan vital di ambulans, sedangkan mereka yang sudah tidak bernyawa segera dimasukkan ke dalam kantung mayat.”

Eungi menggigit bibirnya untuk melawan duka yang kembali datang, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya.

“Kantung mayat, Kyu.” Eungi mendengus sinis, “Mereka semua orang-orang dengan kisah dan pencapaian masing-masing, mereka pantas mendapatkan perpisahan yang lebih layak, mereka pantas dikebumikan dengan terhormat meskipun jiwa mereka sudah tidak lagi ada dalam jasad-jasad itu—tapi kantung mayat?! Pria itu baru saja menyelamatkan hidupku dan treatment terakhir yang diperolehnya adalah kantung terpal oranye lengkap dengan name-tag pada jempol kakinya.”

Kyuhyun menelan gumpalan yang ia rasakan pada kerongkongannya, entah mengapa ia juga ingin menangis mendengar jabaran dari Eungi.

“Seluruh korban yang terluka di bawa ke rumah sakit dan saat itu adalah masa aku berharap bisa hilang ditelan bumi. Suasana rumah sakit sangat ramai dan berisik oleh teriakan-teriakan histeris, seluruh ponsel di tempat itu berbunyi dan bahkan orang-orang yang selamat sebelumnya mulai tewas di rumah sakit karena kehabisan darah. Di rumah sakit juga aku baru mengetahui bahwa pembantaian itu tidak hanya terjadi di satu tempat, tapi di beberapa tempat ramai di Paris. Aku tidak ingat bagaimana caraku pulang keesokan harinya, sepertinya pegawai kedutaan membantuku tapi aku benar-benar tidak ingat karena aku dibius obat penghilang rasa sakit untuk jahitan luka di bahuku.”

Tubuh wanita itu mulai bergetar, ia telah berhasil mengumpulkan serpihan-serpihan memori yang dilupakannya. Bulan telah berlalu namun ia masih tetap ketakutan setiap kali gambaran kekacauan itu muncul. Sudah cukup ia kehilangan tunangannya malam itu, tapi kepiluan ratusan korban yang meraung histeris bersamaan di rumah sakit juga bukan memori yang ingin disimpannya.

Bagi Eungi, momen setelah pembantaian berakhir justru saat yang paling buruk.

Kyuhyun membiarkan Eungi menangis sepuas hatinya, hanya ketika wanita itu sudah tenang dan terdiam baru ia mulai bicara. “Noona, apa kau pernah mencoba konseling?” Ia sudah ingin sekali menanyakan hal ini sejak ia tahu apa yang menimpa Eungi dulu.

Eungi tertawa, ia tidak tahu apa yang lucu hingga membuatnya tertawa, tapi pertanyaan polos Kyuhyun menghiburnya sekarang, ia juga merasa lebih santai sekarang setelah menceritakan seluruhnya pada kekasihnya. “aku sudah melalukan konseling, tapi psikiaterku justru membuatku merasa semakin sakit jiwa—jadi aku keluar. Aku memilih yoga.”

“Apa yang lucu dari pertanyaanku?” Kyuhyun memanyunkan bibirnya kesal.

“Tidak ada, tapi aku terhibur dengan ide melakukan konseling—karena itu juga gagasan awalku ketika aku tiba di Seoul. Aku yakin cara itu bisa menyembuhkanku, tapi faktanya aku hanya ikut dua sesi dan tidak tahan dengan kekonyolan sesi yang kuikuti. Kau pasti terbayang kan cara psikiater menyuruhmu untuk rileks, berbaring kemudian menceritakan semua yang mengganggumu? Ugh! Cara itu tidak berguna untukku saat itu—terlalu cepat untuk mengenang semua itu, aku belum siap.”

“Apa kau sudah siap sekarang?”

Ia mengangguk, “Waktu menyembuhkanku, dan proses penyembuhanku semakin cepat setelah aku bertemu denganmu.” Eungi meletakkan telapak tangannya pada wajah Kyuhyun untuk membelai pipi pria itu. “Aku tidak tahu mantra apa yang kau lontarkan untukku, tapi aku benar-benar terpesona karena aku selalu merasa nyaman dan aman ketika di dekatmu. Aku benar-benar sudah tergantung padamu sekarang, Kyu—dan aku agak takut dengan hal itu.”

Pria itu justru menyeringai bodoh, “Apa kau sedang menggombaliku, Cha Eungi?”

Eungi menyengir lebar. “Tidak, tapi aku tahu memang kedengarannya seperti gombalan murahan. Aku tidak pintar dalam berurusan dengan lawan jenis, Kyu. Jadi kumohon maafkan dan maklumilah kekakuanku dan bahkan tidakkanku yang mungkin aneh di matamu. Aku bahkan tidak tahu cara mengungkapkan perasaanku padamu.” Ujarnya malu sambil menunduk untuk menyembunyikan rona di pipinya. “Sejujurnya aku merasa terintimidasi olehmu, karena kau sangat berpengalaman dengan wanita dan aku benar-benar tidak bisa membandingkan diriku dengan kalibermu.”

Kyuhyun bengong, sedikit terhibur dengan cara lugu Eungi yang baru menyatakan bahwa dirinya kurang berpengalaman dalam hal percintaan. Hatinya terasa tenang karena ia sadar bahwa ia bukan satu-satunya orang yang memiliki keresahan yang tidak masuk akal dalam hubungan ini, dan cara Eungi mengakui keresahannya justru membuat karisma wanita itu semakin bersinar di mata Kyuhyun.

“Intinya, semua yang kuceritakan tadi adalah hal yang bisa kuingat dari kejadian tragis itu.” Ia menghela napas panjang. “Aku sudah melakukan bagianku untuk cerita, sekarang tugasmu adalah mencari topik obrolan ringan dan menghapus bayangan buruk itu, agar aku bisa tidur nyenyak di Paris malam ini.”

Kyuhyun terkekeh, dalam kepalanya ia langsung mempertimbangkan beberapa pertanyaan yang sejak lama ingin ditanyakannya pada Eungi, “Aku sudah memendam pertanyaan ini cukup lama sebenarnya, aku penasaran dengan kekasih-kekasihmu sebelumku. Aku tidak pernah mendengar tentang yang lain, pasti ada kan yang lain?”

“Kau penasaran tentang masalah itu?” Eungi tertawa sambil menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya. Ia merasa lega karena Kyuhyun memilih topik yang ringan dan bisa mereka tertawakan bersama. “Aku tidak punya banyak pacar.”

“Tapi ada bukan? Beritahu aku, aku penasaran.”

“Baiklah, tapi sebagai gantinya, kau juga harus menceritakan tentang mantan kekasihmu.”

Noona, I do girls, I don’t do girlfriends.” Kyuhyun memutar bola matanya dengan wajah meledek, menikmati gurat cemburu di wajah Eungi yang sangat jelas. “Tapi aku akan menceritakan apa yang kau ingin ketahui—tapi jawab dulu pertanyaanku.”

Eungi bangkit dari lantai tempat mereka duduk sambil menarik tangan Kyuhyun untuk mengikutinya, memindahkan lokasi mereka pada sebuah sofa nyaman yang ada di tengah ruangan. Kyuhyun segera duduk sebelum dengan cepat meraih pinggang Eungi sambil melingkarkan lengannya, menarik wanita itu untuk duduk di pangkuannya. Wanita itu hanya tersenyum sambil mengalungkan lengannya pada leher Kyuhyun, mencari posisi yang nyaman sebelum mulai bercerita.

“Hmm, harus kumulai dari mana kira-kira?”

“Pacar pertamamu, atau mungkin cinta pertamamu.” Usul Kyuhyun.

“Ayahku adalah cinta pertamaku, tidak aka nada yang merubah posisi itu.” Jawab Eungi, “Tapi biar kutanya padamu, menurutmu aku tipe gadis seperti apa saat duduk di bangku sekolah?” Eungi menyisir rambut yang menutupi wajahnya ke samping.

“Kutu buku, kuper, dan galak.” Jawab Kyuhyun meledek.

Eungi mengangguk, “Lihat kan? Aku sangat mudah ditebak! Jadi karena point-point itu jelas aku tidak memiliki pacar saat SMA—lagipula lelaki usia itu lebih mencari gadis-gadis popular yang sexy, jauh sekali dari penampakkanku. Mereka juga tahu kalau aku tinggal di panti sosial, jadi pasti tidak ada lelaki SMA yang mau terlibat dengan gadis dingin yang bermasalah sepertiku.” Eungi menertawakan masa lalunya sendiri.

“Kalau kita pergi ke sekolah yang sama, pasti aku mendekatimu. Karena gadis-gadis sexy terlalu umum dan aku tidak terlalu suka mereka. Aku justru lebih menyukai gadis dengan masalah—lebih menantang.” Ia mengagkat alisnya untuk menggoda Eungi sambil mencubit hidung wanita itu.

Eungi hanya memutar bola matanya, “Kurasa penampilanku semakin membaik setelah aku masuk kuliah. Antara itu, atau memang karena departemen arsitektur hanya memiliki sedikit sekali kaum hawa dalam satu angkatan, jadi beberapa lelaki memang mendekatiku.”

“Lalu siapa yang kau pilih?” cecar Kyuhyun.

“Pacar pertamaku adalah seniorku, dan lelaki itu jelas bukan patokan yang bagus sebagai pacar pertama.”

“Karena?”

“Dia lelaki yang kasar dan tukang memaksa. Awalnya dia manis sekali padaku, tapi ketika kami mulai dekat, dia mulai memaksa untuk melakukan hal-hal yang membuatku tidak nyaman. Dia mencuri ciuman pertamaku ketika dia sedang mabuk dan terus-terusan membuatku merasa ketakutan. Hebatnya lagi, setelah kami berpacaran sekitar satu bulan, dia menuntut untuk berhubungan intim denganku—dan jelas aku menolak. Bagiku, pria yang tepat tidak akan memaksa dengan kasar. Jadi aku langsung mengakhiri hubungan malam itu juga.” Jelasnya dengan santai.

Eungi terdengar santai, tapi tidak dengan Kyuhyun. Untuk pertama kali, ia akhirnya merasakan emosi lain saat mendengarkan kisah Eungi—ia marah.

“Apa dia memaksa menyentuhmu?”

Eungi menggelengkan kepalanya, “Meskipun aku terlihat ringkih, aku ini lebih kuat dari yang kau kira Kyu. Memang dia mengancam dan menyudutkanku setelah hubungan kami berakhir, tapi untung saja dia terkena pasal perusakan properti kampus dan menerima hukuman skorsing cukup lama. Si bodoh itu merusak patung pendiri kampus.” Eungi terkikik geli, “Karma is a bitch, right?”

Kyuhyun ikut tertawa dan mengangguk setuju. “Aku tidak suka dengan pacar pertamamu. Kau tahu? Bagaimana jika kau beritahu aku nama si bodoh itu dan aku akan memberinya pelajaran?”

Eungi tergoda dengan ide kekanakan Kyuhyun, tapi ia menahan dirinya. “Tidak perlu, orang itu tidak cukup penting untuk kau temui.”

“Oke, lanjutkan ceritamu pada pacar berikutnya yang kau miliki.”

Eungi meringis dan menutup wajah untuk menyembunyikan ekspresi tersipu, “Jangan meledekku, pacar keduaku—sebenarnya tidak bisa dibilang pacarku karena tidak ada status yang jelas antara kami, tapi aku sangat terikat secara emosional, aku mengaguminya, dan menganggapnya seperti kekasihku.”

“Hmm?”

“Pria berikutnya yang mengisi hatiku adalah profesorku.” Ujarnya dengan cengiran lebar.

Kyuhyun tertawa lepas, pria itu langsung mengangkat kedua tangannya ke atas kepala seperti pemain sepak bola yang baru menghasilkan goal. “Oh yeah! Aku bukan satu-satunya mahasiswa yang mengencani dosenku!”

“Pria itu membuatku terpesona pada kecerdasannya dan perilakunya yang sangat santun, ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku ingin terus membuktikan diri menjadi yang terbaik di matanya dan kurasa aku lulus dengan predikat summa cum-laude juga karena ambisiku untuk membuatnya bangga padaku.” Jelas Eungi.

“Apa kau juga bermanjaan dengan profesormu seperti aku bermanjaan dengan profesorku?” Ia menarik Eungi lebih dekat untuk mengecup pipinya, menunjukkan maksud dari kata ‘bermanjaan’ yang di sebutkan.

Eungi menggeleng. “Tidak ada interaksi fisik. Aku sebenarnya yakin bahwa beliau juga menyukaiku, hanya saja jarak usia kami terlampua jauh, enam belas tahun! Lagipula, beliau melangsungkan pernikahan tepat setelah aku lulus—yang juga menjadi alasanku menerima beasiswa S2 ke Belanda agar aku bisa menjauh dari pesonanya.”

“Lihat kan? Memang memiliki perasaan spesial pada profesormu itu wajar! Apalagi kalau profesornya seperti kekasihku ini.” Kyuhyun membelai punggung Eungi sambil meledek wanita itu habis-habisan. “Jadi, setelah si profesor?”

“Setelah Profesor itu aku tidak punya waktu untuk berkencan, aku terlalu terpaku dengan kuliah masterku dan setelah menyelesaikannya, aku pun langsung mendapatkan banyak tawaran untuk tahap doktoral. Hari-hariku habis untuk belajar dan mengajar, malam hariku kuhabiskan di dalam lab untuk menciptakan green panel yang kau tahu. Jadi bisa dibilang itu masa-masa ketika aku sangat cuek pada pria, beberapa memang mendekatiku dan menyatakan perasaan mereka, tapi aku tidak tertarik.” Terang Eungi merangkum masa kuliahnya sekaligus.

“Lalu kapan kau baru sadar bahwa kau membutuhkan sosok pria dalam hidupmu?”

“Ketika aku bertemu dengannya.” Jawab Eungi singkat sambil mengamati perubahan muka Kyuhyun.

Kepedihan yang sudah difalanya kembali merayap dalam hatinya setiap kali Eungi mulai membicarakan tentang Siwon.

“Pria itu charming dan sopan, dia pintar dan tahu cara menghadapi kecuekanku, dan dalam kasus ini dia ada dalam rentang usia yang tidak terpaut jauh denganku—tidak seperti si profesor.” Eungi menyadari sinar di mata Kyuhyun meredup, jadi ia memutuskan untuk berhenti. “Tapi aku tidak mau membicarakan tentangnya lagi, aku sudah bisa tertawa tadi saat bercerita tentang mantan-mantaku yang konyol, jadi sekarang giliranmu.”

Kyuhyun mengangguk, dalam hati berterima kasih karena Eungi menghargai perasaannya.

“Jadi? siapa pacar pertama seorang Cho Kyuhyun?”

Pria itu mendengus senang karena kilat cemburu yang terlintas dalam mata Eungi, ia paham sekali kalau Eungi mencoba untuk sok cool mengenai masa lalunya yang seorang playboy, sayangnya usaha wanita ini untuk menutupi rasa cemburunya bisa dibilang gagal total.

“Aku mulai berkencan saat SMA, kau bisa membayangkan wujudku saat menjadi siswa SMA?” Tanya Kyuhyun.

“Pati tidak jauh berbeda dari kau yang sekarang, tampan dan karismatik—tapi pasti sama menyebalkannya seperti hari pertama kau masuk ke kelasku.” Sahut Eungi sarkastis.

“Benar.” Ujarnya mengkonfirmasi, “Tapi aku adalah seorang juara olimpiade matematika yang memiliki kelakukan buruk.”

“Kau juara apa?”

“Aku jago matematika, aku tidak tahu kenapa bisa begitu, tapi pelajaran itu sangat mudah untukku.” Ia mengangkat bahunya sombong. “Jadi jelas itu magnet yang sempurna untuk gadis-gadis di usia itu. Bad boy dengan otak brilian—yang juga didukung oleh kekayaan ayahnya. Jadi berkencan sama sekali tidak sulit bagiku.”

“Ng, sudah kuduga.”

“Jadi kalau kau bertanya apa aku pernah punya kekasih yang serius, jawabanku adalah ‘tidak’, tapi aku memiliki satu gadis yang masih kuingat sampai sekarang—karena rasa bersalah. Kami berkencan sekitar tiga minggu dan saat itu merupakan hari-hari terakhir masa SMA, jadi kebanyakan waktu kami habiskan di luar sekolah untuk kursus persiapan kuliah hingga larut malam. Hingga suatu hari kami membolos dan kabur ke atap sekolah untuk bermesraan.”

Eungi menatap kakinya sambil menghindari pandangan Kyuhyun, ia tahu arah cerita ini berjalan. Walaupun ia sadar bahwa ia mengencani mantan playboy, ia masih belum bisa menghiraukan perasaan cemburu yang datang setiap kali Kyuhyun menceritakan kenakalannya dengan gadis-gadisnya sebelum Eungi. Rasa minder wanita itu selalu mengambil alih ketika mendengar cerita yang berkaitan dengan topik ini. Karena sepertinya gadis-gadis yang dimainkan kekasihnya ini memiliki tipe tertentu, mereka sexy, cantik dan paling tidak terlihat lebih berpengalaman dari Eungi untuk urusan ‘bercinta’—gadis-gadis yang sanggup memuaskan kebutuhan kekasihnya.

“Saat itu kami masih muda dan memiliki rasa penasaran yang kuat, jadi sesi bermesraan kami menjadi semakin panas dan semua terjadi.” Lanjut Kyuhyun, “Kami menemukan kelas kosong dan, yah, itu terjadi. Hubungan intim pertamaku dan juga kali pertama baginya. Kalau aku melihat balik sekarang, kurasa gadis itu pantas mendapatkan perlakukan yang lebih baik, tapi aku justru mengambil kesempatanku seperti lelaki brengsek.

“Apa kau memaksanya?” Tanya Eungi penasaran.

“Tidak, aku tidak pernah memaksa gadis mana pun untuk bercinta denganku—aku tidak mau memaksa, aku masih tahu batas.” Ia membela dirinya. “Sebenarnya hari itu, dia yang memohon padaku untuk melakukannya, tapi entah mengapa aku justru merasa seperti pecundang setelah sesi panas itu selesai. Seminggu kemudian gadis itu memutuskan hubungannya denganku dan langsung mengencani teman sekelasku—jadi sampai sekarang aku kadang masih berpikir, siapa yang brengsek dalam cerita ini sebenarnya.”

“Gadis itu tentu saja.” Balas Eungi. “Setidaknya kau merasa bersalah.”

Kyuhyun tersenyum simpul dengan cara Eungi menghibur dirinya, “Aku tidak terlalu membuat list tentang gadis-gadis yang kukencani setelah dia.” Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari Eungi, merasa malu oleh kelakuannya sendiri. “Maafkan aku, noona. Kau sangat polos dan lugu, sedangkan aku hanyalah pria brengsek yang selalu membuat kekacauan. Kau memang lebih cocok bersama pria seperti dia, aku bahkan tidak mau membandingkan diriku dengannya.”

“Aish! Siapa yang minta kau membandingkan dirimu?!” Eungi mencubit hidung Kyuhyun gemas sebelum menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun. “Aku terpesona oleh dirimu Kyuhyun-a. Aku benci mengakui ini, tapi aku pun menyukai persona bad boy yang kau miliki—memang benar, itu magnet bagi para kaum hawa. Apalagi kau juga memiliki karisma yang dilengkapi dengan bakat dan kecerdasan yang terus membuatku kagum.”

Kyuhyun mendorong Eungi sedikit, “Noona, tatap aku ketika kau memujiku, karena itu menghiburku dan aku menikmati pemandangan pipimu yang merona ini.” Goda Kyuhyun sambil menyapukan ibu jarinya di wajah Eungi. “Jadi karakter bad boy-ku menarik untukmu?”

Eungi menggigit bibirnya dan menghindar tatapan Kyuhyun, sadar kalau wajahnya semakin panas semakin Kyuhyun menggodanya. “Awalnya kukira kau hanya tampan, tapi berotak kosong.”

“Ya, itu memang yang orang-orang pikirkan tentangku.” Ia memutar matanya bosan.

“Tapi gambarmu, konsepmu, bakatmu, oh aku tidak tahu lagi harus memujimu dari sisi apa lagi, Kyu. Aku benar-benar terpesona padamu di saat aku menyadari seluruh potensimu.” Ia tersenyum geli, “Dan sejujurnya, naksir dengan mahasiswaku sendiri juga memberikan sensasi seru ketika mengajar.”

“Aku setuju denganmu masalah itu.” Angguknya mantap.

“Tapi yang benar-benar mencuri hatiku adalah caramu menghadapiku saat aku di tengah kesulitan. Saat itu kau tidak tahu apa-apa tapi kau tetap mendampingiku dengan sabar, kau menyelamatkanku dari diriku sendiri—bahkan mengorbankan perasaanmu seperti sekarang hanya untuk membantuku sembuh.” Eungi membelai wajah Kyuhyun dengan jemarinya. “Kau membuatku mencicipi sedikit rasa nyaman yang bisa kau berikan, dan aku ketagihan dengan kehadiranmu sejak itu.”

“Well, kau mencuri hatiku saat kau memanggilku ‘nak’.” Kyuhyun mengakui kekalahannya. “Aku benar-benar benci sekali dengan panggilan itu dan aku hanya ingin membuktikan diri padamu sejak malam itu.”

“Dan kau berubah.” Eungi mendekat untuk mengecup ujung hidung Kyuhyun. “Kau berhenti menjadi orang yang menyebalkan kan berubah mengagumkan.”

“Dan yang membuat aku lebih kesal, aku justru jatuh cinta padamu!” Pria itu meletakkan tangannya di atas wajah kekasihnya, menahan agar jarak wajah mereka tetap dekat, “Aku sadar bahwa aku memang sangat mengagumimu, tapi malam itu di pantai, saat kau berinisiatif untuk menciumku sambil menunjukkan sisi terapuh dari dirimu, aku benar-benar jatuh cinta padamu.”

Eungi meringis, “Jadi kau lebih suka gadis dengan segudang masalah?” godanya sambil menyapukan hidung mereka.

Wanita ini berada dalam jarak yang sanagt dekat, dan Kyuhyun sudah tidak bisa menghindari pesonanya. “Aku menyukai tantangan, tapi bukan itu yang membuatku tetap di sampingmu.”

Eungi menggigit bibirnya, mencoba menahan keinginan untuk melumat bibir pria di depannya, “Lalu apa yang membuatmu masih di sini?”

“Aku tahu kau membutuhkanku. Kau sangat membutuhkanku dalam hidupmu, namun terlalu gengsi untuk memintanya dariku.” Kyuhyun menyerah dan langsung menyapukan bibirnya pada bibir Eungi.

Wanita itu menerima ciuman lembut pria itu, namun semakin pria itu mendekapnya, semakin Eungi ingin lebih. Seperti biasa, permukaan kuliatnya bagai dialiri listrik pada tempat-tempat di mana Kyuhyun menyentuhnya dan Eungi sudah melupakan seluruh gengsi dan akal sehatnya, ia hanya ingin pria ini terus memperlakukannya dengan penuh gairah seperti sekarang.

Tanpa melepas tautan bibir mereka, Eungi perlahan merubah posisi duduknya. Dari pangkuan Kyuhyun, ia mengangkat tubuhnya untuk melebarkan kedua kakinya, mengapit paha Kyuhyun diantara kedua kaki jejangnya. Pria itu sudah memiliki banyak pengalaman untuk menebak ke mana arah kegiatan mereka ini akan berakhir, dan ia tidak mau menjadi pria yang jahat bagi Eungi—ia masih mencoba menggunakan akal sehatnya untuk menarik wajahnya menjauh dari wanita yang sekarang sudah mulai terengah kehabisan napas akibat lumatan panas Kyuhyun di bibirnya.

Eungi menatapnya nanar, alisnya bertaut dan raut wajahnya kecewa. Kyuhyun hanya memandangnya, sambil menyapukan ibu jarinya pada permukaan bibir Eungi yang lembab.

“Kyu, mengapa kau menarik dirimu dariku?” Rasa percaya diri wanita itu semakin merendah karena ia baru merasa ditolak mentah-mentah oleh kekasihnya sendiri. “Apa aku semembosankan itu untuk memenuhi seleramu akan wanita?”

Pria itu menggeleng lembut dengan senyum tulus di wajahnya, “Kau tidak tahu seberapa besar usahaku untuk menahan diri dari pesonamu, Eungi-ya.”

“Lalu mengapa kau berhenti?” Wanita itu mendekatkan kembali wajahnya pada Kyuhyun, napas keduanya semakin menderu. “Kau benar, aku membutuhkanmu.” Bisiknya lirih.

Kyuhyun langsung mengunci bibir Eungi dengan bibirnya, tangan kanannya diletakkan di balik tengkuk wanita itu sambil ibu jarinya menstimulasi kulit halus pada lehernya. Tangan kiri Kyuhyun menahan punggung Eungi dengan mantap ketika Eungi menghapus jarak antara panggul mereka. Keduanya tahu pasti ke mana kegiatan ini akan berlanjut dan tidak ada yang berusaha menghentikan luapan gairah ini.

 


Author’s note:

NC part akan diberikan pada chapter berikutnya yang di-schedule-kan lusa.

password?

Advertisements

135 thoughts on “(Indonesian Version) One Last Shot – Part 14

  1. Barom yu says:

    Couple ter sweet ^
    Makin hari makin lengket. . gak terpisahkan
    Wow wow eungi udah kecanduan sama kyu,, syukur deh itu artinya dia udah bisa nerima kyu sepenuhnya dan yah udah tutup buku sm siwon

    Eett itu mereka? Hahah dasar
    Ke paris kan mau nyembuhin luka eungi tp malah ckckck ><
    Eungi agresif juga yaw,, ketagihan bibir kyu keknya

    Liked by 1 person

  2. Song Yoo Ki says:

    Eyaaakk, beberapa part akhir2 ini sweet semua… Udh nempel trus aja mereka, haduhhhh momen sweet nya bikin senyum2 sendiri sampe bikin diabetes hehehe. Dan akhirnya Eungi bener2 menyerahkan dirinya ke Kyuhyun??

    Liked by 1 person

  3. nisaangel says:

    Sisain satu kayak kyu didunia nyata ini 😔😔😔😔 kenapa kyu disini sweet bangeeet… Cowo idaman sangaaaaat 😍😍😍😘😘😘😘😭😭😭😭 romantus sekali…

    Liked by 1 person

  4. Afa hyerin says:

    Haha.. Eungi jadi ke paris….
    Tp gappa lah.. Mereka jadi lebih saling terbuka lagi…. Huuaaaa…. Manisnya mereka………
    Eungibya.. Selalu ada kyuhyun disampingmu.. Segera lupakan siwon eoh….

    Liked by 1 person

  5. Dyana says:

    Aku hanya ingin meninggalkan jejak di part ini karena aku tidak bisa berkomentar tentang mereka, bagiku Eungi dan Kyuhyun mampu membuatku move-on dari Kyuhyun dan Sera… (Efek baca POR dan SA lebih dulu)
    Yupp…aku akan melangkah ke part selanjutnya….

    Liked by 1 person

  6. OngkiAnaknyaHan says:

    bagaimana cara menggambaran keserasian dan keromantisan mereka ?
    couple yang bener2 luar biasa
    yg baca aja seperti ngerasain atmosfirnya
    couple yg bikin iri readersnya

    kyuhyun yg begitu romantis dan perhatian , bahkan di saat eungi memuja mantan pacarnya
    meskipun sakit tetep sabar dan telaten ngebantuin eungi buat sembuh dari traumanya

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s